KAMPH (1-2)

Bab 1 – Kau Tidak Akan Mampu Bertahan Hidup Tanpa Saya

Kediaman Ghandy, Javaria, 2021.

Ruang jamuan makan yang luas itu dipenuhi dua puluh anggota generasi muda keluarga Ghandy. Lima belas di antaranya adalah anak-anak Bernard Ghandy, sementara lima lainnya merupakan keponakan-keponakannya. Duduk mengelilingi meja panjang yang sanggup menampung puluhan orang, mereka menghadirkan pemandangan yang nyaris seragam. Baik laki-laki maupun perempuan, semuanya memiliki kemiripan yang sulit diabaikan, seolah garis keturunan keluarga itu dicetak dari pola yang sama.

Di antara mereka, beberapa anak kecil duduk dengan gelisah di kursi masing-masing. Cucu-cucu Bernard itu tampak berusaha menahan diri untuk tidak berlarian mengelilingi ruangan. Perhatian mereka berkali-kali tertarik pada sebuah kue tart raksasa yang bertengger di tengah meja, dihiasi lapisan krim dan dekorasi mewah yang membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan.

Suasana yang memenuhi ruangan terasa aneh. Tidak hangat, tetapi juga tidak dingin. Percakapan berlangsung dalam nada rendah, nyaris berbisik, seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa suara yang terlalu keras dapat meruntuhkan rumah besar yang megah bak pusat perbelanjaan pribadi itu.

Valentino Ghandy duduk tenang di salah satu sisi meja dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Wajah ovalnya yang teduh dipertegas oleh fitur-fitur yang halus dan rapi, sementara rambut hitam bergaya messy fringe jatuh natural di dahinya. Di sampingnya, Prince yang baru berusia dua tahun duduk di high chair dengan ekspresi semakin tidak sabar.

Begitu anak itu mulai merengek sambil menunjuk kue di tengah meja, Valentino langsung membungkuk sedikit.

"Sabar dulu, ya," ujarnya lembut sambil mengusap kepala putranya. "Nanti kalau Opa datang, baru boleh makan."

Prince mengerucutkan bibirnya, jelas tidak puas dengan jawaban itu, tetapi akhirnya bersandar kembali ke kursinya.

Di ujung meja, Santino Ghandy yang lebih dikenal sebagai Sonny mengangkat pandangan dari layar ponselnya. "Papa sama Om Andrew udah masuk gerbang."

Suaranya datar seperti biasa, tetapi kalimat itu langsung menarik perhatian semua orang.

"Lho?" Michael mengernyit heran sambil menyugar rambut pendeknya ke belakang. "Mereka barengan?"

Alexander yang duduk tak jauh darinya mengangguk santai. "Bokap gue tadi pagi nyusul Bernard meeting."

Sekilas, wajah Alexander memang mengingatkan banyak orang pada Michael. Keduanya sama-sama memiliki wajah oval dengan rahang tegas, tulang pipi yang halus, dan sorot mata tajam yang selalu terlihat fokus. Tak sedikit orang luar yang mengira Alexander adalah salah satu dari lima belas anak Bernard, bukan keponakannya sendiri.

"Tumben," komentar Fredo sambil menaikkan alis, menatap Alexander. "Biasanya lo yang diajak meeting berdua sama Bernard, kan?"

"Yeah." Michael bersandar ke kursinya sambil melipat tangan. "Xander si anak emas Bernard, padahal cuma keponakan."

Tatapan sinis yang ia lemparkan membuat Alexander mendengus pelan. "Masih aja?" balasnya sambil menoleh. "Capek nggak sih ngungkit itu terus?"

Michael tertawa pendek tanpa humor. "Gue cuma ngomong fakta."

"Childish." Alexander menggeleng pelan sebelum kembali memalingkan wajah, seolah tidak tertarik memperpanjang percakapan.

Melihat percikan pertengkaran yang mulai muncul, Connie yang duduk beberapa kursi dari mereka buru-buru menyela. Tubuhnya memang paling mungil di antara saudara-saudaranya, tetapi suaranya sering kali menjadi yang paling terdengar.

"Guys, come on." Ia menghela napas panjang. "Lo berdua biasanya akur. Kenapa hari ini tiba-tiba saling sinis?"

Fredo justru terkekeh. "Biasa. Michael iri aja."

"Siapa yang iri?" Michael langsung menoleh tajam.

"Ya lo, terlalu sensitif,” sahut Xander.

“Lo lebih nyenengin kalau diam,” balas Michael tanpa ragu.

Alexander hanya memutar bola mata.

Di tengah keributan kecil itu, Valentino tetap diam. Mata sendunya mengamati pertukaran sindiran yang sudah terlalu sering ia saksikan selama bertahun-tahun. Baginya, perdebatan itu tidak lebih dari rutinitas keluarga yang berulang.

Tiba-tiba Irene yang berdiri dekat jendela menoleh ke arah pintu masuk. "Mereka datang."

Kalimat sederhana itu langsung membungkam seluruh ruangan.

Dalam hitungan detik, semua orang berdiri dari kursi masing-masing. Anak-anak kecil yang tadinya hampir kehilangan kesabaran pun ikut menegakkan badan, sementara perhatian seluruh penghuni ruangan tertuju ke arah pintu utama.

Beberapa saat kemudian, dua sosok pria berusia lebih dari setengah abad memasuki ruangan.

"Selamat ulang tahun!"

Suara itu bergema serempak, diiringi letusan confetti yang memenuhi udara dengan serpihan warna-warni.

Bernard Ghandy berhenti beberapa langkah dari pintu. Senyum tipis terukir di wajahnya, tetapi ekspresi itu lebih menyerupai seorang penguasa yang sedang menyaksikan sesuatu yang sepele dibanding seorang pria yang baru saja mendapat kejutan ulang tahun.

Sorot matanya menyapu seluruh ruangan, mengamati anak-anak, cucu-cucu, serta keponakan-keponakannya yang berusaha menampilkan wajah paling ceria.

Di sampingnya, Andrew tersenyum hangat sebelum menepuk bahu sang adik. "Selamat bertambah usia, Ben."

Bernard hanya mengangguk tipis. Pandangannya kemudian beralih ke meja panjang yang dipenuhi hidangan dan sebuah kue tart besar di tengahnya.

"Jadi ini yang kalian sebut kejutan untuk saya?"

Nada suaranya tenang, tetapi cukup untuk membuat beberapa orang menahan napas.

"Saya kira saya akan mendapat kabar baik atau semacamnya."

Connie menjadi orang pertama yang melangkah maju sambil membawa sebuah kotak hadiah berukuran sedang.

"Papa, lihat deh." Senyumnya melebar saat berdiri di hadapan Bernard. "Semuanya hadir. Nggak ada yang absen satu pun demi ulang tahun Papa. Jadi Papa harus sehat terus dan panjang umur, ya."

Ia mengecup kedua pipi ayahnya dengan penuh semangat sebelum menyerahkan hadiah tersebut.

Setelah itu, putri-putri Bernard bergantian maju. Satu per satu mereka memberikan hadiah, pelukan, dan ucapan selamat ulang tahun. Disusul para cucu yang dengan antusias menyerahkan gambar, kartu buatan tangan, atau sekadar memeluk kaki sang kakek.

Giliran para putra datang belakangan.

Valentino sengaja mengambil antrean paling akhir. Sambil menggendong Prince di satu lengan dan membawa hadiah kecil di tangan satunya, ia membiarkan saudara-saudaranya maju lebih dulu.

Bernard membuka hadiah demi hadiah dengan ekspresi yang sulit ditebak. Beberapa hanya mendapat anggukan tipis, beberapa lainnya mendapat komentar seperlunya.

Namun senyum puas mulai tampak ketika ia membuka hadiah dari Sonny.

Di dalam kotak itu terdapat sebuah test pack dengan dua garis merah yang jelas. Beberapa orang langsung tertawa kecil.

Belum sempat komentar keluar, Bernard membuka hadiah berikutnya dari Franco.

Isi kotak itu ternyata sama. Dua garis merah.

"Nah," ujar Bernard sambil mengangkat kedua benda itu. "Ini baru kejutan yang menyenangkan."

Sonny menyunggingkan senyum tipis yang nyaris terlihat arogan.

Franco jauh lebih terbuka. Ia langsung menyeringai lebar seperti anak kecil yang baru mendapat nilai sempurna. "Tentu dong, Pa."

Bernard menoleh pada putra sulungnya. "Ini anakmu yang ke-berapa, Santino?"

"Yang kelima."

"Dan kamu, Fransisco?"

"Yang ketiga."

Bernard mengangguk pelan. "Luar biasa." Nada suaranya terdengar benar-benar puas. "Belum juga saya temukan jodoh yang cocok untukmu, sudah menyumbang tiga cucu untuk saya."

Dada Franco langsung mengembang bangga.

Dari tempatnya berdiri, Valentino hanya memandangi pemandangan itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Sebagian besar saudara laki-lakinya bahkan belum menikah, termasuk dirinya. Namun jumlah cucu Bernard terus bertambah setiap tahun seperti proyek keluarga yang tak pernah berhenti berjalan.

Di depannya, Antonio menoleh sedikit ke belakang. "Sialan si Franco," bisiknya. "Ngeduluin."

Valen mengangkat sebelah alis. "Lo lagi kompetisi sama Franco?"

Antonio mengangkat bahu. "Hidup itu kompetisi."

Lalu matanya melirik Prince yang berada dalam gendongan Valen. "Lo serius cuma berhenti di satu?"

Mario yang berdiri di depan Antonio langsung menoleh. “Jangan komporin Valen."

"Kenapa?"

"Kalau dia nggak mau punya banyak anak ya jangan dipaksa."

Antonio terkekeh pelan. "Itu bukti kalau lo worth sebagai anak Ghandy."

Mario memutar bola mata.

"Hei, Mar." Antonio menyeringai. "Gue penasaran sampai kapan lo tahan tekanan bokap soal cucu."

Mario memilih tidak menjawab.

Antonio kembali menoleh pada Valen. "Gue rasa hari ini lo bakal kena sindir lagi. Jujur aja, cuma nyumbang satu tuh kesannya nggak niat."

Valen mendengus pelan. Kalau saja Antonio tahu, memang tidak pernah ada niat itu sejak awal.

"Apa boleh buat," jawabnya santai. "Gue agak mandul."

Antonio langsung tertawa tertahan.

Antrean bergerak maju.

Tak lama kemudian, giliran Valen tiba. Ia melangkah mendekati Bernard sambil menggendong Prince yang mulai menguap karena bosan.

Bernard menerima hadiah itu. Dia membuka dan melihat isinya sekilas, lalu mengangkat pandangan ke wajah putranya. Hanya beberapa detik, namun cukup untuk membuat Valen tahu bahwa hadiah itu tidak meninggalkan kesan apa pun.

Tatapan Bernard kemudian beralih kepada Prince.

"Prince sudah dua tahun, ya?"

"Iya, Pa."

"Hm." Bernard mengangguk pelan. "Lalu yang berikutnya mana?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Pertanyaan yang ringan dan sederhana, setidaknya menurut persepsi Bernard, namun seketika membuat udara di sekitar mereka terasa berubah.

Valen tidak langsung menjawab.

"Saya tanya, yang berikutnya mana?" Suara Bernard sedikit lebih rendah kali ini.

Di sekitar mereka, beberapa orang mulai mengalihkan pandangan. Sebagian pura-pura sibuk bermain ponsel. Sebagian lagi diam.

Bernard tetap menatap putranya. "Seumurmu saya sudah punya lima belas anak."

Valen merasakan rahangnya mulai mengencang.

"Lihat saudara-saudaramu. Ada yang sudah tiga. Ada yang empat." Tatapan Bernard tidak bergeser sedikit pun. "Kamu belum menambah lagi. Enrico dan Mario malah sama sekali belum berkontribusi."

Matanya menyapu dua nama yang disebut. "Kapan?"

Mario dan Enrico refleks menundukkan kepala, berharap tidak ikut terseret lebih jauh.

Valen menarik napas pelan. "Diusahakan, Pa."

Prince yang berada dalam gendongannya hanya memandang bergantian dari wajah kakeknya ke wajah ayahnya tanpa mengerti apa yang sedang terjadi.

Bernard menggeleng perlahan. Ekspresi kecewa itu jauh lebih mengganggu daripada kemarahan. "Apa kebiasaan burukmu masih ada?"

Valen membeku.

"Kamu masih lemah?" lanjut Bernard. "Masih sering pakai hati?"

Ruangan yang tadi ramai mendadak terasa sunyi.

"Berapa kali harus saya tanamkan di kepala kecilmu itu?" Suara Bernard terdengar semakin tajam. "Gunakan otak. Bukan hati."

Jantung Valen mulai berdetak lebih keras.

"Kau pikir dunia akan mengampunimu hanya karena kau punya perasaan?"

Tak ada yang menyela, bahkan tak ada yang berani bergerak seujung jari pun.

"Kau hanya sejengkal dari kehidupan yang pernah kau jalani dulu."

Valen langsung menundukkan pandangan ke arah Prince. Sebelum kalimat berikutnya keluar, tangannya bergerak cepat menutupi telinga anak itu.

"Kau mau kembali ke jalanan?" lanjut Bernard tanpa peduli. "Makan debu aspal seperti dulu?"

Napas Valen tercekat.

"Kau kotor. Hina. Rendah."

Setiap kata jatuh seperti palu.

"Hanya bisa berlutut di depan orang yang mau repot mengasihanimu."

Ruangan terasa semakin sesak.

"Apakah itu yang kau inginkan?"

Tak ada yang berani membuka suara.

Fredo sedari tadi hanya menunduk menatap lantai. Connie menggigit bibir bawahnya sampai pucat. Antonio mengembuskan napas panjang seolah sudah menduga semua ini akan terjadi. Alexander berdiri diam dengan rahang mengeras.

Sementara di sudut lain, Michael dan Sonny saling bertukar pandang sebelum senyum puas sama-sama muncul di wajah mereka.

Andrew akhirnya maju selangkah. "Sudahlah, Bernard." Tangannya menyentuh lengan sang adik. "Hari ini ulang tahunmu."

Bernard menoleh sekilas, lalu kembali menatap Valen untuk terakhir kalinya. "Kau camkan baik-baik kata-kata saya."

Nada suaranya tenang. Terlalu tenang dengan cara yang mengerikan, yang membuat bulu kuduk siapa pun akan menegang.

"Kau tidak akan mampu bertahan hidup tanpa saya."

Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan berjalan menuju meja makan.

Ketegangan yang menggantung di ruangan ikut bergerak bersamanya.

Para putri Bernard segera mengelilinginya, menggiring suasana kembali ceria sambil mengajak memotong kue dan memulai pesta.

Orang-orang mulai bergerak lagi, disusul percakapan yang kembali terdengar. Tawa kembali muncul pelan-pelan, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi.

Valen berdiri beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berbalik.

Ia tidak ikut ke meja makan.

Dengan Prince yang masih berada dalam gendongannya, ia berjalan keluar dari ruang jamuan dan kembali ke kamarnya.

Baru setelah pintu kamar tertutup di belakang mereka, ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan.

Prince menatapnya bingung. "Papa ...."

Valen mengangkat kepala.

"Kita nggak jadi makan?" tanya anak itu dengan logat cadelnya. "Plince lapal."

Seketika sesuatu dalam diri Valen melunak. Semua emosi yang sedari tadi bergolak langsung tersingkir begitu bertemu sepasang mata polos itu.

Ia melempar senyum lembut pada bocah itu. "Tetap makan."

Prince langsung berbinar. "Benelan?"

"Iya." Valen mengacak rambutnya pelan. "Papa ambilin makanan. Kita makan di sini aja sambil main."

"Yeay!"

Valen tertawa kecil. Ia menurunkan Prince ke atas karpet yang masih dipenuhi mainan. Anak itu segera sibuk memilih mobil-mobilan favoritnya tanpa tahu apa yang baru saja terjadi di lantai bawah.

Sementara itu, Valen mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ia mengirim pesan singkat kepada salah satu pelayan untuk membawakan makanan dan sepotong kue ke kamarnya.

Setelah pesan terkirim, layar ponsel perlahan meredup.

Pantulan wajahnya sendiri muncul di sana. Namun yang terbayang di kepalanya bukan wajahnya, melainkan wajah Bernard.

Suara dingin dan tajam pria itu masih menggema di kepalanya.

Makan debu aspal seperti dulu.

Rahang Valen kembali mengeras.

Kali ini lebih kuat daripada sebelumnya.


Bab 2 – Pemberontakan Valen Edisi Pertama

Sepuluh tahun yang lalu.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi saat Valentino berusaha mengangkat bobot tubuhnya pada untaian tali yang menjuntai dari balkon kamarnya. 

Nggak segampang waktu turun tadi, batin Valentino. Napasnya terengah-engah, sudah separuh jalan. Energi gue udah kepake duluan tadi. Anj*r, sampe ngap-ngapan banget ini! Gravitasi, ayo kerja sama, jangan terlalu ngotot narik gue!

Usahanya membuahkan hasil. Dia akhirnya sampai juga di balkon kamarnya di lantai tiga. Helaan napas lega lolos dari mulutnya. Cepat-cepat dia bereskan tali dan lainnya, lalu bermaksud masuk ke dalam kamar.

Gue berhasil menyelinap pergi dengan sukses malam ini! What a night! ujarnya dalam hati, merasa puas dan senang.

Namun begitu dia membuka pintu dan menyibakkan gorden ….

Sosok lima laki-laki berbadan besar dan tegap memenuhi bayangan di bola mata Valen. Kakinya terasa lemas seketika, pun wajahnya pucat pasi, menyadari para pengawal Bernard telah menunggu di dalam kamarnya. Tatapan mata mereka dingin dan kosong menyambut dirinya.

Valen kepergok telah melarikan diri diam-diam.

"Ka-kalian ... kenapa bisa ada di sini?" Valen terbata.

"Tidak sia-sia saya meminta mereka untuk menunggumu semalaman suntuk," sahut seseorang yang sangat familiar di telinga Valen. "Mereka hanya ingin menyambut kepulanganmu."

Derap jantung Valen semakin terpacu, saat melihat Bernard muncul dari balik kelima orang itu. 

Anj*ng ... gue pikir gue sukses kabur …. Ternyata malah ..., batin Valen penuh sesal.

Bernard mengisap cerutunya penuh nikmat, sebuah senyuman culas terukir di wajah bengis pria itu. "Have fun?" tanyanya sambil menatap Valen penuh arti.

"P-papa," panggil Valen terbata. "Tolong .... Jangan ambil kebebasanku."

"Kau tahu?" Bernard berjalan mendekati Valen sambil terus mempertahankan kontak mata. "Saat ini Sonny, Michael, Xander, Fredo dan Franco sedang saya berikan tugas spesial dan saya meminta laporan dari mereka besok pagi-pagi sekali. Mereka tidak tidur malam ini! Sementara kau, malah pergi manggung dan bersenang-senang dengan pacarmu? Tidakkah kau punya sedikit rasa malu, Valentino? Tidakkah kau punya sedikit harga diri sebagai seorang Ghandy? Dan malah berhubungan dengan perempuan yang tidak jelas asal usulnya?" cecarnya tajam.

Sedari tadi Valen berusaha menghindari tatapan Bernard yang menembus begitu tajam padanya.

"Aku penasaran. Katakan padaku, kau pakai kondom tidak?" 

Valen menelan ludah. Susah payah dia menganggukkan kepala sebagai jawaban.

"Good. Setidaknya sel otakmu masih berfungsi sedikit. Saya tidak akan terima cucu yang berasal dari perempuan jelata yang tidak jelas itu."

"Tidak jelas ...," gumam Valen. Entah kekuatan dari mana, Valen balas menatap ayahnya. 

"Jelas atau tidak, itu hanya asumsi Papa semata! Kenapa anakmu yang lain bisa bebas berhubungan dengan pilihan mereka masing-masing sementara aku nggak boleh?? Fredo, misalnya! Dia sebentar lagi akan punya anak dengan pacarnya, kan? Siapa perempuan itu, memangnya dapat restu Papa juga??"

Lagi-lagi Bernard tersenyum culas. "Kau pikir aku tidak mengenali siapa-siapa saja yang anak-anakku kencani? Baiklah, akan kujelaskan sejelas-jelasnya agar kau paham. Sonny dan Roberta akan segera memberiku cucu, dan itu bagus sekali, seorang cucu yang lahir dari pernikahan yang sah, yang berasal dari dua keluarga yang setaraf. Sonny juga menghamili salah satu teman semasa kuliahnya, dan itu juga bagus, karena saya sudah melakukan background checking pada temannya itu. Tidak ada masalah sama sekali. Lalu Fredo. Perempuan yang dia hamili bukan pacarnya, dan saya juga tidak mempermasalahkan itu sebab perempuan itu cukup layak untuk melahirkan cucu Ghandy. Dia bebas melakukan apa pun yang dia mau pada perempuan yang disukainya, selama perempuan itu saya anggap layak untuk melahirkan anaknya. Meski tentunya tidak cukup layak untuk disandingkan dengan Fredo di pelaminan," tuturnya panjang.

Mendengar itu Valen merasa segenap otot di wajahnya semakin menegang. Dia pun tidak menyadari tangannya mengepal kuat-kuat. 

Jadi di mata orang ini, ada penilaian berbeda terhadap perempuan yang anaknya dekati. Ada yang dinilai cukup layak untuk melahirkan keturunan, dan ada yang dinilai sangat layak untuk dijadikan menantu? Lelucon macam apa ini?! teriaknya dalam hati.

Bernard terus tersenyum, dapat dia lihat Valen tampaknya sudah mulai mengerti yang dia utarakan. Bagaimana caranya mendidik anak, serta cara main yang berlaku di keluarga Ghandy. 

Pria itu pun melanjutkan, "Lalu Michael. Saya tahu latar belakang semua perempuan yang pernah dipacarinya, dia terhitung gemar berpacaran selama ini. Dan saya tidak akan mempermasalahkan jika ada dari mereka yang sampai mengandung anak Michael. Sama seperti Sonny dan Fredo, Michael bebas bersenang-senang dengan perempuan yang dia mau, selagi perempuan itu layak. Dan sikap saya ini berlaku bagi kalian semua, tidak ada yang saya beda-bedakan. Kenapa saya keras melarangmu berhubungan dengan anggota bandmu dan melarangmu berpacaran dengan perempuan itu? Kau tentu tahu jawabannya. Karena perempuan itu tidak lolos dari standar kelayakan yang saya tetapkan."

"Jadi anak-anakmu bebas berhubungan dengan siapa pun, asal kau nilai layak? Lalu yang akan anak-anakmu nikahi, adalah perempuan dari kasta tertinggi yang setaraf dengan harga diri keluarga Ghandy?" Valen mendesis menahan emosi.

"Kau cepat paham," puji Bernard. 

"Dan meskipun sudah menikah, kau tetap membiarkan anak-anakmu bebas berhubungan dengan wanita lain asal dinilai layak?"

"Kurang lebih seperti itu," jawab Bernard sembari menghela napas panjang. "Bukankah aku sudah memberikan kebebasan absolut pada kalian, hanya dengan satu syarat, harus sesuai standar dariku? Seharusnya kau bersyukur diberi kebebasan semacam itu," ujarnya.

"Kenapa ada perbedaan standar untuk perempuan yang boleh dipacari dan untuk yang nantinya dinikahi?"

"Soal pernikahan, itu urusan saya. Sudah saya tetapkan jodoh kalian masing-masing. Tentu kau juga sudah bisa memperkirakan sendiri, kriteria perempuan macam apa yang layak kujadikan menantu."

"Yang bisa membawa cuan untuk bisnis sialanmu," jawab Valen.

Bernard mengernyit tidak suka, tapi malas memperpanjang. "Terserah bagaimana kau menyebutkannya, tapi, yah, kira-kira begitulah. Jadi, kau sudah paham semuanya, kan?" 

"Aku paham," jawab Valen. "Semakin paham dan semakin mengenal kebusukan seorang Bernard Ghandy yang terhormat."

Valen berupaya keras mengatur napas dan menjaga suaranya agar tidak terdengar bergetar. Dia kemudian berkata, "Anda ini sebenarnya manusia atau bukan? Manusia yang memiliki hati nurani tidak akan mengekang anak untuk mencari kebahagiaannya sendiri! Seorang ayah yang sejati tidak akan mendikte anaknya agar sesuai dengan keinginannya! Anak bukanlah boneka orang tua! Setidaknya, sekali saja, bisakah Anda bersikap seperti layaknya seorang ayah? Tugas seorang ayah adalah membimbing agar anak tidak salah jalan! Kalau anakmu berselingkuh dari pasangan resminya, Anda seharusnya menegur dan menasihati! Kalau anakmu sembarangan menghamili anak orang lain, Anda seharusnya mengajarkannya tanggung jawab! Bukannya malah membiarkan, dengan dalih perempuan yang anakmu hamili itu dinilai layak untuk memberikanmu keturunan! Seharusnya mereka dinikahkan! Dan itu, yang Anda sebut memberikan kebebasan untuk anak? Bukannya membimbing ke jalan yang benar, Anda malah menjerumuskan!"

Bernard memandangi Valen sambil tersenyum dan mengangguk-angguk. "Kau sangat benar. Benar, benar sekali," ujarnya. "Tugasku adalah membimbing anakku ke jalan yang benar. Jalan yang kurestui."

Valen terperangah.

"Segala titah dan ucapanku adalah jalan yang benar," sambung Bernard.

"Anda …." Valen tampak kehilangan kata-kata. "Anda sebenarnya memahami maksudku, tapi Anda bisa-bisanya ...."

"Sudahlah, Valen, saya sudah cukup banyak memberikanmu nasihat. Sekarang saya minta, berjanjilah padaku untuk memutuskan pacarmu itu dan tidak lagi bertemu dengan kelompok band murahan itu. Kalau kau berjanji, aku tidak akan lagi mengingat semua sikapmu yang tidak berkenan buatku selama ini. Semuanya akan kuanggap clear, dan kau bisa mulai mengejar ketertinggalanmu dari saudara-saudaramu," ujar Bernard.

Valen bergeming.

"Ayo, berjanjilah," desak Bernard.

Bernard merasa yakin, Valen akan menerima perintahnya dan menjadi anak yang penurut. Namun ....

"Tidak," desis Valen.

Satu kata 'tidak' yang terucap dari mulut Valen membuat kening Bernard semakin berkerut dalam. Wajahnya menegang.

"Tidak akan," ucap Valen tegas. 

"Aku berhak memilih jalan hidupku sendiri! Aku berhak memacari Valentina, karena hanya dia yang aku cintai sepenuh hati! Aku berhak mengejar impianku menjadi musisi! Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi aku, termasuk Anda, Papa."

"Pikirkan baik-baik sebelum kau mengucapkan sesuatu," sahut Bernard datar. "Harus berapa kali kubilang, jalan hidupmu itu di sini! Bukan di tempat lain, bukan di dunia musik yang penuh omong kosong itu!"

Valen membuang muka.

"Dan lagi ... apa katamu tadi? Cinta? Apa itu cinta? Cinta adalah omong kosong terbesar di dunia ini! Buka matamu! Bagaimana kau bisa selemah itu dan tertipu pada yang disebut cinta?" Bernard mendengus kasar. "Cinta. Afeksi. Tidak heran kau tidak bisa berpikir, karena seperti yang sering kukatakan, afeksi hanya akan melemahkan logika seseorang! Come on, Valen, ayo logislah! Kuminta sekali lagi, putuskan pacarmu."

"Tidak akan," sahut Valen mantap. "Anda punya pandangan sendiri pada afeksi, dan aku juga punya pandangan yang berbeda. Anda tidak bisa memaksaku. Ini keputusanku."

Bernard menghela napas panjang. "Rupanya kau sudah memutuskan demikian," simpulnya. 

"Ya."

"Baik. Kita lihat seteguh apa kau memegang keputusan dan niatmu itu," ujar Bernard akhirnya. "By the way. Valen, kau paham hukum sebab akibat? Setiap tindakan yang kau lakukan, akan ada konsekuensi yang harus kau tanggung. Kau paham itu?"

Valen, merasa bingung mengapa tiba-tiba sang ayah bertanya demikian. Dia mengangguk ragu.

"Kau sudah berani menentang perintahku untuk tetap tinggal di kamar dan malah kabur malam ini. Kurasa sedikit hadiah dariku akan membantu sel otakmu kembali ke tempatnya semula, agar kau bisa berpikir dengan benar."

Semakin bingung, Valen memandangi sang ayah.

Bernard mundur beberapa langkah dan membiarkan kelima pengawalnya maju mendekati Valen. 

Dalam sepersekian detik, Valen langsung tanggap, paham apa yang akan terjadi padanya sesaat lagi. 

"Tolong sadarkan anak saya, jangan sungkan."

Perkataan Bernard barusan menjadi aba-aba bagi para pengawal berbadan besar itu, kelimanya semakin maju mendekati Valen.

Dalam satu gerakan cepat, dua orang memiting tangan Valen bahkan sebelum Valen sempat bereaksi. Disusul satu bogeman keras yang bersarang di wajah Valen. Suara kulit dan tulang saling beradu menggema kencang di ruangan itu. Pukulan kedua, lebih keras lagi, bersarang di ulu hati Valen, membuatnya terbatuk. Darah segar mengalir dari hidung dan mulut pemuda itu. Tak hanya bogeman yang dilayangkan para pengawal, kaki mereka turut menendangi sang tuan muda. Valen hanya bisa pasrah menerima kuatnya tendangan serta pukulan lima pria itu, darah terus bermuncratan dari mulutnya, tiap kali sesuatu menghantam dirinya.

Bernard dengan dingin menyaksikan itu semua sambil asyik mengisap cerutu. Suara pukulan serta tendangan bertubi-tubi, berpadu dengan suara erangan Valen menjadi musik di telinganya. Sesekali terdengar suara gemeretak, entah tulang atau gigi yang hancur.

Selama sekian belas menit hukuman fisik itu berlangsung. Bernard melihat sang anak telah lemas, wajahnya hancur dipenuhi darah. Mungkin seharusnya Valen sudah sejak tadi tersungkur tidak berdaya jika saja badannya tidak ditahan oleh pengawal.

"Cukup," titah Bernard menghentikan aksi para pengawal. Kelima pria itu segera mundur, membiarkan Valen tergolek lemah di lantai. 

Napas Valen tinggal satu-satu, dia gemetar menahan rasa sakit di sekujur tubuh. Dia berusaha untuk bangun, namun apa daya, dia tak sanggup. Dari ujung matanya yang terasa sangat panas, terlihat ujung sepatu Bernard di dekatnya.

"Kau masih belum berubah pikiran?" Bernard bertanya pada sosok pesakitan yang tersungkur di dekat kakinya itu.

Tidak ada jawaban.

"Kau sadar? Aku tidak akan pernah segan pada anakku sendiri," ujar Bernard. "Semua ini demi kebaikanmu, Valentino. Suatu saat, kau akan berterima kasih padaku karena telah kudidik dan aku 'paksa' untuk tetap berada di jalan yang benar. Ini kan, yang kau mau? Agar aku membimbing anakku supaya tidak salah langkah? Pikirkan baik-baik kejadian hari ini. Besok pagi, aku berharap kau datang padaku untuk membawakanku kabar gembira. Kau tahu maksudku."

Usai berkata demikian Bernard bermaksud meninggalkan Valen, namun suara Valen menahan langkahnya.

Dengan susah payah Valen berkata, "A-aku ... tidak akan ... menurutimu."

Bernard menggelengkan kepalanya. "Bukan itu yang ingin kudengar," sahutnya dari balik punggung. "Pukulan tadi kurang keras untukmu? Baiklah. Kuberikan shock therapy spesial untukmu, Valen. Rekeningmu beku mulai saat ini."

Valen terperanjat. Bagaimana pun dia ingin bergerak, ingin membalas perkataan Bernard, tapi luka-luka di badannya menghalangi niatnya.

"Tom, urus rekening anak itu. Pastikan kau memblokir juga semua kartunya," ujar Bernard pada tangan kanannya sembari beranjak dari kamar Valen, diikuti oleh semua pengawal yang tadi menghajar Valen.

Valen mengerang. Rasanya tak sanggup lagi .... 


Keesokan harinya, Valen berdiri di depan ruang kerja Bernard sambil menahan nyeri yang masih menjalar di sekujur tubuhnya. Sebagian dirinya ingin berbalik dan kembali ke kamar, tetapi ia memaksa diri untuk tetap menunggu. Dari balik pintu tertutup itu, ia tahu Bernard sedang mengadakan rapat bersama Sonny, Fredo, Michael, dan Alexander. Untungnya, penantiannya tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja terbuka dan keempat saudaranya keluar satu per satu. Langkah mereka sontak terhenti ketika mendapati Valen berdiri di sana. 

"Heh. Ngapain lo, Valen?" Michael lebih dulu bertanya.

"Bokap lo ada di dalem, kan?" tanya Valen datar.

"Ada. Lagi terima telepon penting," jawab Fredo.

"Ohh. Akhirnya lo mau janji ke papa kalau lo bakalan nurut dan jadi anak baik, heh?" tanya Sonny. "Begitu dong, jadi anak baik nggak ada ruginya."

"Kata siapa?" Valen cepat menyahut. "Sebaliknya. Gue justru mau perjuangkan kebebasan gue."

Jawaban Valen membuat wajah keempat saudaranya ikut menegang. 

"Valen ... maksud lo gimana?" Xander mencoba memperjelas yang dia dengar.

"Gue disuruh putus sama cewek gue, dan disuruh menjauhi band gue, disuruh mulai terjun ke bisnis sialan Ghandy, semuanya itu cuma demi ego manusia satu itu. Lo pikir gue bakalan mau nurutin semua keinginannya?? No way," ujar Valen.

"Woi! Fasilitas lo udah dicabut semua, lo jadi tahanan rumah kayak begini, masih aja keras kepala??" sentak Michael.

"Gue tanya, lo bisa apa sih, Valen? Jangan bikin gue dan yang lain makin yakin kalau lo nggak lebih dari sampah masyarakat," ujar Sonny.

"Masyarakat? Masyarakat Ghandy? Keluarga yang minus norma." Valen tertawa sinis. "Nggak ada yang bisa merenggut satu-satunya yang gue punya. Yaitu kebebasan. Gue nggak masalah buang nama Ghandy! Untuk apa pertahankan nama Ghandy kalau gue harus terus jadi boneka Bernard?"

"Tolol!!" maki Sonny marah.

"Valen. Lo pikir baik-baik deh ...," ujar Xander hendak memegang bahu Valen.

Valen menyentak kasar. "Gue udah pikirin semuanya baik-baik," ujarnya ketus.

"Tolol lo nggak ada obatnya, heh, Valen?" sahut Michael. "Lo cuma harus nurut apa kata Bernard. Apa susahnya??"

"Kalau lo semua bersedia terus jadi bonekanya Bernard, silakan! Gue nggak ada hak larang-larang! Tapi lo semua nggak bakalan bisa larang gue mempertahankan kebebasan gue," ujar Valen. 

"Lo udah tahu semua resiko yang bakal lo terima, Valen?" tanya Fredo, berusaha bersikap tenang, meski sebenarnya sama-sama merasakan emosi seperti yang lain. "Lo udah sadar apa akibatnya? Lo bilang lo nggak masalah buang nama Ghandy? Lo itu udah terbiasa hidup enak ... hidup nyaman nggak berkekurangan apa pun. Kalau lo buang nama Ghandy, lo bakal melarat di luar sana."

"Gue nggak akan melarat karena gue yakin gue bisa berdiri di atas kaki gue sendiri. Nggak kayak lo semua, bergantung pada harta," sahut Valen.

"Realistis ajalah," ujar Fredo lagi. "Lo itu dibawa kesini karena memang tempat lo di sini ... sebagai imbalannya, lo cuma harus ikuti cara main yang ada. Lo harus nurut pada papa. Jangan naif, Valen."

"Fredo tumben banyak omong," komentar Valen. 

"Gue begini karena gue peduli akan nasib lo nanti kalau lo beneran nekad," jawab Fredo. "Gue diam bukan berarti gue cuci tangan atas apa yang terjadi di depan muka gue."

"Bener kata Fredo, Valen," sambung Xander. "Lo bakalan tinggal di mana kalau lo sampai nekad? Jangan naiflah!"

"Sudahlah, guys," potong Sonny. "Kalau emang itu maunya si Valen, biarin aja. Seperti kata Mickey, memang benar kalau kualitas anak selir itu nggak bagus. Jadi nggak heran kalau Valen bersikap ceroboh dan tolol kayak gini. Udahlah. Biarin aja, biar dia rasakan sendiri akibatnya."

"Bener juga sih," sahut Michael. "Lagian ... kalau lo nolak nama Ghandy, itu berarti lo udah nggak punya hak lagi atas warisan papa. Itu berarti semua jatah dia bakal pindah ke kita-kita yang nurut! Ya nggak, Sonny?" 

"Itu maksud gue, Mickey."

Michael tertawa lebar sembari melakukan tos dengan Sonny.

Valen tersenyum sinis. "Sudah diduga, motif kalian memang murni uang, uang, uang. Sama seperti bokap lo, hanya fokus pada cuan," komentarnya.

"Terserah apa kata lo, Valen!"

"Valen, please," ujar Xander. "Lo bakalan blangsak di luar sana."

"Gue nggak bakalan blangsak. Gue berani bertekad, karena gue tahu apa yang bakal gue lakukan untuk mempertahankan hidup dan kebebasan gue," jawab Valen.

"Gue yakin palingan juga si Valen nggak bakalan tahan lama hidup blangsak," sahut Michael. "Lagian jadi orang nggak realis amat! Lo ikhlas nih ya, bagian warisan lo dicabut? Gue sih dengan ikhlas terima bagian lo …."

"Silakan. Lakukan apa yang lo suka dengan bagian gue. Anyway, gue rasa interogasinya cukup. Gue mau ketemu dulu sama biang masalah," ujar Valen, sembari berjalan melewati empat saudaranya lalu masuk ke dalam ruang kerja Bernard.

Hanya Xander dan Fredo yang memandangi punggung Valen dengan tatapan sesal, sementara Michael dan Sonny tersenyum puas.

"Lo berdua kenapa culas banget ke adek lo sendiri?" Xander yang menegur.

"Alaaa ... Xander, diem deh. Dia itu cuma anak selir," sahut Sonny.

"Meski bukan adek kandung lo, tapi dia udah belasan tahun tinggal di sini, tinggal bareng kalian. Hidup seatap, makan di meja yang sama …. Dia adek lo, yang sering lo bully tanpa alasan. Seenggaknya, ke saudara sendiri, bisa nggak sih bersikap selayaknya saudara?" ujar Xander.

Michael tidak menyahut, sementara Sonny sinis memandangi Xander.

"Xander, percuma lo ngomong ke mereka," tegur Fredo. "Gue nggak heran Valen kebelet pergi dari sini. Udah sejak dulu dibully, sekarang ditekan Bernard juga, wajar aja dia pengen bebas. Ini baru Valen. Entah gimana adek-adek lain yang sering mereka bully juga."

***

Bernard menyunggingkan sebuah senyuman puas usai menjawab panggilan telepon. Bisa diterka, apa yang dia kehendaki lagi-lagi terlaksana tanpa halangan berarti. 

Dia berniat untuk kembali ke kamar saat Valen menerobos masuk ke dalam ruangannya.

"Valen," panggil Bernard. "Sudah gagah lagi, kamu? Sudah sembuh rupanya."

"Ada yang ingin saya ungkapkan," ujar Valen tanpa menjawab sapaan Bernard.

"Katakan apa itu. Saya berharap kamu sudah bisa berjanji akan menuruti apa kata saya."

"Berharaplah terus, orang tua," sahut Valen sinis. "Mulai detik ini, saya buang nama Ghandy."

Kerutan di wajah Bernard semakin kentara usai Valen berkata demikian padanya. Jelas sekali, Bernard tidak pernah membayangkan ada salah seorang anaknya yang secara frontal mengungkapkan hal seperti itu padanya. Membuang nama Ghandy? Itu berarti semua fasilitas hidup yang terjamin juga ditolak.

"Saya membuang nama Ghandy," ulang Valen, menyangka ayahnya tidak mendengar perkataannya dengan jelas. "Saya pergi dari rumah ini," imbuhnya.

"Kamu sudah gila?" Tiga kata itu menjadi reaksi pertama Bernard.

"Saya gila apabila tetap bertahan di sini. Penjara beton yang indah, tapi dingin dan tidak manusiawi," jawab Valen. 

"Apa katamu?"

"Saya menolak menjadi bonekamu, Bernard. Saya menolak menyerahkan satu-satunya yang saya punya, yaitu kebebasan." Valen terdengar begitu mantap saat mengatakan itu pada sang ayah. Tidak terdengar sedikit pun getaran dalam nada suaranya, pertanda tekad dan kemauannya sudah sangat kuat. Telah teguh pendiriannya.

"Kau ...." Bernard tampaknya kehabisan kata-kata.

Sekian lama tidak ada yang bersuara.

"Kau sudah kuat rupanya, huh?" Bernard berujar datar. "Percaya dirimu cukup tinggi? Kau bisa hidup di luar sana sendirian, setelah selama ini kuberikan kau kemewahan?"

"Aku bisa. Apa pun yang bisa kubayangkan, aku bisa mewujudkannya. Aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Aku tidak butuh semua kemewahanmu. Aku tidak butuh kekayaanmu, Bernard. Semua materi yang kau agung-agungkan itu hanya sampah. Sampah. Silakan Anda ambil mobil, bekukan rekeningku, toh itu semua memang berasal darimu. Anda silakan lakukan apa pun, hanya satu hal yang Anda tidak bisa lakukan. Yaitu mengambil kebebasanku."

Semakin yakin Bernard, keteguhan Valen kali ini bukanlah main-main. Sorot mata itu yang biasanya terkesan lemah, kini terlihat tajam menusuk, Bernard tidak menemukan sedikit pun keraguan ataupun rasa takut maupun segan di dalamnya. Anaknya itu benar-benar serius memberontak dan menolak nama belakang Ghandy! 

Bernard mengatur napasnya yang terburu menahan gejolak amarah yang siap meledak. Sekian banyak pemikiran berlomba memenuhi kepalanya.

Tanpa melepaskan pandangannya pada Valen, Bernard menekan satu tombol telepon yang ada di atas meja. Dalam sekejap saja lima pengawal berbadan bongsor yang kemarin menghabisi Valen sudah muncul di ruangan itu. Lima pengawal yang sering disebut Franco sebagai 'boyband genderuwo'.

Valen menegangkan tubuh, seluruh sel di tubuhnya seakan tahu juga dan serentak kompak bersiap menyambut serangan apa pun yang sekiranya akan dia terima. Bernard belum bosan bermain fisik, rupanya, Valen sungguh menyadari itu. Mungkin Bernard bermaksud memukuli dirinya sampai dia mengiyakan keinginan Bernard. Tapi Valen telah bertekad, tidak akan pernah lagi mengiyakan Bernard. Sekalipun dia harus meregang nyawa lantaran pemaksaan yang Bernard lakukan, Valen tidak akan menuruti si ayah. Tidak akan! 

Valen mengepalkan kedua tangannya. Dia berdiri tegak di situ, siap dengan yang akan terjadi.

"Pegangi tangannya," ujar Bernard dingin, beku seperti tatapan matanya yang terasa menusuk jiwa. 

Bersamaan dengan perintah itu, dua pengawal sigap memegangi lengan Valen kuat-kuat, memaksanya berdiri. Dengan posisi seperti itu, area tubuhnya yang rentan terbuka lebar, seakan memberi kesempatan bagus bagi siapa pun yang berniat melukainya.

Bernard maju selangkah demi selangkah, tatapannya tajam tertuju pada mata Valen. "Pelajaran kemarin kurang memberikan impact untukmu, rupanya. Baiklah. Kuberikan kau kesempatan untuk menarik ucapanmu tadi," katanya. 

Valen, tanpa keraguan, balas memandangi Bernard yang semakin mendekat padanya. "Tidak akan," jawabnya.

"Valentino, tarik ucapanmu," titah Bernard. Tangannya terkepal, siap memukul.

"Tidak akan pernah!!" seru Valen. "Kau mau apa, old man? Memukulku? Silakan! Pukul sampai kau puas!!"

Dan tinju Bernard langsung mendarat di wajah Valen sebagai jawaban. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Darah mengalir dari ujung bibir Valen, tapi Valen tetap berdiam.

"Kubesarkan kau untuk menjadi penerusku, bukannya untuk membangkang seperti ini," desis Bernard tepat di depan wajah Valen. "Tarik ucapanmu, dan saya anggap ini tidak pernah terjadi."

"Kenapa berhenti? Hah?" Tawa Valen getir meremehkan. "Kalau belum puas memukul, silakan, jangan ragu!"

Empat. Lima. Enam pukulan sudah mendarat dengan sukses membuat wajah Valen yang dari awalnya masih lebam, kini semakin membengkak. 

"Meski kau pukuli aku sampai mati pun .... Aku menolak menjadi bonekamu, old man," ujar Valen. "Begitukah? Kau besarkan aku hanya untuk kemudian mati di tanganmu? Itu keinginanmu? Kalau memang iya, silakan! Ambil nyawaku sekarang! Katamu kau seorang tuhan, kan?! Aku pun penasaran bagaimana reaksimu nanti, setelah dengan sengaja menghabisi nyawa anakmu sendiri. Darah anakmu akan mengotori tanganmu dan jiwanya akan menghantuimu sepanjang sisa umurmu!"

Ketegangan di wajah Bernard perlahan memudar. "Kau benar," sahutnya. "I don't kill a son. Meski unworthy sekalipun."

Dengan gerakan kepala, Bernard menyuruh pengawal melepaskan cengkeraman mereka pada Valen. Valen agaknya tidak menyangka Bernard akan melepaskannya. Padahal dia sudah siap apabila memang harus mati di tangan Bernard, tapi dia ternyata malah melepaskannya. 

"Kau menolak menarik ucapanmu," ujar Bernard. "Itu berarti mulai berlaku hari ini?"

"Ya," jawab Valen cepat. "Aku bukan lagi Ghandy. Aku adalah orang yang bebas dan merdeka!"

"Kau akan menyesal, Valen. Kau akan sangat, sangat, sangat menyesal telah dengan sengaja membuang keluargamu sendiri. Dan saat kau didera penyesalan itu, kau akan sadar, pintu rumah ini tidak akan pernah lagi terbuka untukmu," ujar Bernard.

"Aku tidak akan pernah kembali," jawab Valen, kemudian berbalik badan dan segera angkat kaki dari ruang kerja Bernard.



Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.