KAMPH (11-12)
Bab 11 – Love Me For A Reason
Ruang rapat lantai empat puluh dua Orison Golden biasanya sunyi dengan cara yang nyaman.
Hari itu tidak.
Valen berdiri di depan layar presentasi, remote di tangan. "... dan berdasarkan proyeksi pertumbuhan kebutuhan komputasi regional, fasilitas tahap pertama diperkirakan mencapai break-even dalam tujuh tahun."
Slide berganti, grafik dan angka memenuhi layar.
Di ujung meja, Andrew membaca dokumen yang dibagikan sejak awal rapat. Bernard duduk di sebelahnya. Fredo dan Michael ada di sisi kiri meja, sementara Xander duduk sendirian di sisi kanan.
Valen melanjutkan penjelasannya. "Jika ekspansi dilakukan bertahap, risiko eksposur modal bisa ditekan sampai tiga puluh persen."
Hening sesaat.
Lalu Xander berbicara. "Tujuh tahun terlalu optimistis," katanya datar.
Valen mengangguk. "Kami sudah menggunakan skenario konservatif."
"Konservatif menurut siapa?"
Valen menoleh. Sedikit terkejut, tetapi belum menganggapnya aneh. "Konsultan eksternal dan tim risiko internal."
Xander membalik halaman laporan tanpa mengangkat kepala. "Tim yang sama yang membuat proyeksi pasar tahun lalu?"
"Ya."
"Proyeksi yang meleset hampir dua belas persen?"
Beberapa kepala terangkat.
Valen menahan diri. "Itu terjadi karena perubahan regulasi yang tidak terprediksi."
"Aku tahu." Xander akhirnya mengangkat pandangan. "Tetap saja meleset."
Ruangan kembali sunyi. Namun situasi masih dalam batas normal, masih sekadar perdebatan bisnis.
Valen menarik napas pelan. "Karena itu kami memasukkan margin koreksi tambahan tahun ini."
Xander menyandarkan tubuh ke kursinya. Tatapannya tidak berpindah dari Valen. "Menurutku masalahnya bukan di margin koreksinya."
"Kalau begitu?"
"Kamu terlalu percaya pasar akan mengikuti visi yang kamu jual."
Kalimat itu menggantung di udara, membuat Michael berhenti menulis dan Fredo mengerutkan kening.
Valen berkedip sekali. "... Aku kurang paham."
Senyum tipis muncul di sudut bibir Xander. Senyum yang tidak ramah namun juga tidak berkesan sinis. Sesuatu di antaranya. "Ya," katanya pelan. "Aku juga tidak heran."
Alis Valen terangkat. Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, ia benar-benar kehilangan benang.
Andrew menurunkan dokumen yang dibacanya.
Bernard menoleh perlahan ke arah Xander. "Xander."
Satu kata yang berupa peringatan halus biasanya cukup. Biasanya. Namun kali ini Xander hanya membuka halaman berikutnya.
"Silver Light selalu mendapat toleransi yang jauh lebih besar dibanding unit lain," kata Xander kemudian.
Kalimat itu membuat Fredo mengangkat kepala. Michael bahkan langsung menatap Bernard. Karena semua orang tahu itu tidak benar. Justru Silver Light terkenal karena setiap proyeknya diaudit berlapis sebelum disetujui.
Valen mengernyit. "Dari mana kesimpulan itu?"
"Tidak penting."
"Tentu penting kalau dipakai untuk menolak proposal."
Xander mengangkat bahu. "Kalau menurutmu begitu."
Ada sesuatu yang salah di sini.
Valen mengenal Xander hampir sepanjang hidupnya. Mereka tumbuh dalam keluarga yang sama. Berdebat soal bisnis adalah hal biasa.
Namun kali ini berbeda. Xander tidak sedang menguliti proposal. Dia sedang menguliti dirinya. Dengan alasan yang tidak Valen ketahui.
Ia menekan remote, slide sebelumnya muncul.
"Kita bisa kembali ke angka jika itu masalahnya."
"Tidak." Xander langsung menyela. "Angka bukan masalahnya."
Hening.
Valen menatapnya. "Apa maksudmu?"
Jari-jari Xander mengetuk meja sekali. Dua kali. Kemudian berhenti. "Aku mempertanyakan penilaiannya."
"Penilaian terhadap proyek?"
Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Tatapan yang berkesan terlalu dingin.
Lalu Xander berkata, "Kalau kamu mau mengartikannya begitu."
Tidak ada yang berbicara.
Andrew perlahan melepas kacamatanya.
Michael menoleh ke Fredo. Fredo membalas tatapan itu dengan ekspresi yang sama bingungnya. Karena sekarang mereka semua merasakannya.
Xander tidak sedang membahas proyek. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya sedang ia bahas.
Valen berdiri diam di depan layar. Darah mulai berdesir di pelipisnya, tetapi ia memaksa suaranya tetap tenang. "Kalau ada masalah pribadi, kita bisa bicarakan setelah rapat."
Mata Xander langsung mengeras dalam sepersekian detik. Namun Bernard menangkapnya, dan itu membuat perutnya mengencang. Sebab sejak kecil ia mengenal keponakannya itu. Ekspresi seperti itu hanya muncul ketika Xander sedang marah … atau terluka.
"Ini bukan masalah pribadi." Jawaban Xander terdengar hampir dingin. Kalau didengarkan baik-baik, ada sesuatu yang retak di bawahnya.
Valen menghela napas. "Kalau begitu aku benar-benar tidak mengerti."
Xander menatapnya lama. Begitu lama sampai suasana ruang rapat terasa sesak.
Lalu, dengan suara rendah yang nyaris seperti gumaman, ia berkata, "Itulah masalahnya."
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Bernard merasa ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada proyek lima belas triliun yang sedang mereka bahas.
Karena apa pun yang sedang terjadi pada Xander, jelas tidak ada hubungannya dengan bisnis.
Valen mempercepat langkahnya menyusul Xander yang berjalan menuju lift. "Hei."
Xander tidak berhenti. Ia tetap melangkah dengan kedua tangan di saku celana. "Apa?"
"Gue salah apa?"
Pertanyaan itu keluar tanpa basa-basi. Valen sudah terlalu kesal untuk berputar-putar, dan lebih dari itu, ia benar-benar tidak mengerti apa yang baru saja terjadi di ruang meeting.
Xander menekan tombol lift. "Gak ada."
Valen mendengus pelan. "Kalau gak ada, kenapa tadi begitu?"
Xander melirik sekilas. "Begitu bagaimana?"
"Jangan pura-pura."
Pojok bibir Xander terangkat. Ia mengeluarkan tawa pendek yang terdengar lebih dingin daripada lucu. "Mungkin lo lagi terlalu sensitif."
Jawaban itu langsung membuat rahang Valen mengeras, karena dia tahu itu omong kosong. "Gue kenal lo lebih dari dua puluh tahun, Xan."
Tatapan Xander tetap lurus ke depan.
Valen melanjutkan sebelum pria itu sempat memotong. "Dan gue juga tahu kapan lo lagi nyerang seseorang."
Keheningan sesaat mengendap di antara mereka.
"Lagian, lo bahkan gak lihat slide terakhir gue."
Kalimat itu tepat sasaran. Kali itu ekspresi Xander berubah tipis.
Karena memang benar. Selama presentasi berlangsung, perhatiannya lebih banyak tertuju pada Valen daripada proposal yang sedang dipresentasikan. Ia terlalu sibuk mencari-cari celah untuk menyerang sampai bahkan tidak menyadari kapan presentasi itu berakhir.
Hanya sepersekian detik, namun cukup bagi Valen untuk menangkapnya.
"Apa ini karena Nadine?"
Tatapan mereka bertemu.
Ada sesuatu yang berkilat di mata Xander sebelum pria itu berhasil menyembunyikannya lagi.
Valen melihatnya, dan justru semakin bingung karenanya.
"For real, Xan?" Nada suaranya naik sedikit. "Lo bawa urusan itu ke bisnis?"
Ia menggeleng tak percaya. "You're so out of character, you know that."
Tepat saat itu lift tiba. Pintunya terbuka perlahan.
Xander melangkah masuk tanpa tergesa, sementara Valen tetap berdiri di luar.
Beberapa detik Valen menatap punggung Xander dalam diam.
Lalu Xander berbalik menghadapnya dan menyunggingkan senyum miring yang membuat Valen semakin kesal. "Lo tahu betul gue gak pernah kehilangan akal sehat cuma gara-gara perempuan."
Senyumnya bertahan. "So ...."
Pintu lift mulai menutup. "Try again."
Sebelum Valen sempat membalas, pintu lift telah tertutup rapat, meninggalkannya sendirian di koridor bersama semakin banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Oh. Jadi memang karena Nadine, ujar Valen dalam hati. Mungkin di antara mereka terjadi sesuatu. Gue harus pastikan.
Valen tergesa-gesa mengambil sebatang rokok dari bungkusnya lalu melemparkannya ke atas meja. Lemparannya cukup keras meski tidak disengaja, cukup untuk membuat Nadine yang sedang menatap ke jalanan depan coffee shop menoleh.
Ia memandangi pria yang duduk di hadapannya itu. Valen menyalakan rokoknya, lalu mengisap dalam-dalam seolah berusaha menelan sesuatu yang mengganjal di dada. Wajah yang biasanya sendu kini terlihat tegang. Garis rahangnya mengeras, matanya menyimpan amarah yang tampak tinggal menunggu waktu untuk meledak.
"Bad day?" tanya Nadine lembut.
Valen mengembuskan asap perlahan sebelum menjawab, "Gue dikuliti Xander di ruang meeting."
Nadine langsung mengernyit. "Hah?"
"Kalau yang dia kritik proposal gue sih masih masuk akal." Valen menggeleng pelan sambil terkekeh hambar. "Masalahnya yang diserang malah gue. Personal banget. Aneh aja rasanya. Gak biasanya Xander kayak begitu.”
Nadine terdiam. Ada firasat yang membuatnya curiga perubahan sikap Xander mungkin ada hubungannya dengan pertemuan terakhir mereka.
Valen mengetukkan abu rokok ke asbak, lalu mengangkat pandangan. Matanya mencari mata Nadine. "Ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?"
Pertanyaan itu membuat Nadine membeku sejenak. Bola matanya membesar sebelum ia buru-buru menunduk.
"Jadi?" desak Valen.
Nadine mengembuskan napas panjang. "Gue bilang ke dia kalau gue gak bisa lagi jadi FWB-nya."
Raut wajah Valen berubah. Ketertarikan langsung muncul di matanya. "Oh ya?"
Hening sejenak menggantung di antara mereka.
"Kalau boleh tahu, kenapa?" tanyanya lagi.
Nadine memainkan ujung gelasnya sebelum menjawab, "Karena rasanya udah cukup. Bertahun-tahun gue jalanin hubungan kayak gitu sama dia. Dari awal pun gue tahu hubungan itu gak akan ke mana-mana, tapi tetap gue lanjutkan. Jadi kemarin gue akhirnya ambil keputusan."
Informasi itu datang seperti angin yang tiba-tiba menyingkirkan awan gelap dari atas kepala Valen.
Jadi mereka udah selesai.
Tanpa sadar senyum mulai muncul di wajahnya.
Kalau dipikir-pikir, masuk akal juga. Mungkin karena kecewa Nadine pergi, Xander melampiaskan emosinya ke gue tadi siang.
"Gimana reaksi Xander?" tanyanya.
Nadine melirik sekilas sebelum kembali menunduk. "Kayaknya dia marah. Dia cuma bilang, 'good for you', habis itu langsung pergi."
Tentu saja ia belum berani mengungkap alasan sebenarnya.
Valen mengangguk pelan. "Dia memang marah. Tadi siang buktinya gue yang kena semprot."
Kini senyumnya tak lagi bisa disembunyikan. Ia menyandarkan punggung ke kursi dan menghela napas lega. "Okay. Mystery solved."
Nadine hanya menggeleng kecil melihat reaksinya.
"Tapi gue juga agak kaget sih," lanjut Valen. "Gue kira Xander itu kesayangan lo."
Nadine mengangkat alis. "Kesimpulan dari mana?"
"Waktu kita ngobrol soal dia setelah lo kena shock therapy dari Michael, lo kelihatan terluka." Suara Valen melunak. "Makanya gue pikir lo memang ada rasa sama dia, walaupun waktu itu lo langsung klarifikasi."
Tatapan Nadine menerawang sesaat. "Dulu memang ada," akunya pelan. "Lo ternyata peka juga."
"Sedikit."
Keheningan kembali turun.
Nadine menimbang-nimbang dalam hati. Haruskah ia mengatakan semuanya sekarang? Tapi kalau bukan sekarang, mungkin ia tak akan pernah punya keberanian yang sama lagi.
Akhirnya ia mengangkat kepala. "Itu karena selama ini gue belum pernah lihat bukti nyata kalau ada seseorang yang memperlakukan gue sebagai manusia … bukan barang."
Ekspresi Valen perlahan berubah serius. "Maksudnya?"
"Seumur hidup, cowok-cowok yang deket sama gue cuma ngincer satu hal. Begitu mereka selesai atau gak butuh lagi, gue dilupakan. Rasanya kayak boneka yang dipakai lalu disimpan lagi di gudang."
Nadine tersenyum tipis, meski senyum itu tak sampai ke matanya.
"Xander juga begitu. Kadang gue heran kenapa dulu sempat suka sama dia."
Valen tidak menyela. Ia menunggu.
"Lalu ada seseorang yang datang. Kelihatannya tertarik sama gue. Dia tahu gue gak bakal nolak kalau dia mau lebih jauh, jadi gue buka pintu kesempatan itu."
Jantung Valen mulai berdetak lebih cepat karena arah cerita itu terasa semakin familiar.
"Tapi dia memilih mundur."
Nadine menatapnya. "Dia bilang gak mau bikin hati gue terluka cuma demi memuaskan nafsu sesaat."
Valen terpaku.
Kini tak ada lagi ruang untuk salah paham. Nadine sedang bercerita tentang dirinya.
"Nad ...."
"Lo gak tahu," potong Nadine sambil tersenyum kecil, "waktu itu gue jalan di belakang lo sambil nangis terharu."
Ingatan Valen langsung kembali ke hari di stadion beberapa minggu lalu. Potongan-potongan yang selama ini terasa acak mendadak menyatu dengan sempurna.
"Jadi waktu gue nanya kenapa mata lo merah ...."
Nadine mengangguk. "Makanya gue cium lo waktu itu. Itu ucapan terima kasih." Ia tertawa pelan, sedikit malu. "Karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang lihat gue sebagai manusia."
Tatapan mereka bertemu.
"Sejak hari itu, lo gak pernah benar-benar pergi dari kepala gue."
Valen yang biasanya tenang mendadak kehilangan kemampuan merangkai kata. Senyum di wajahnya semakin lebar meski ia berusaha menahannya.
Nadine menunduk sebentar sebelum melanjutkan. "Itulah kenapa gue bilang ke Xander kalau ada seseorang yang bisa nyentuh hati gue tanpa perlu nyentuh gue sama sekali. Dan itu pertama kalinya terjadi dalam hidup gue."
Kini giliran Nadine yang tersipu setelah mengatakannya keras-keras.
Suasana mendadak terasa hangat sekaligus canggung.
Lalu, demi menyelamatkan dirinya sendiri dari rasa malu yang mulai berlebihan, Nadine menyeringai jahil. "Ngomong-ngomong, gue harap lo beneran mandi setelah hari itu."
Valen tertegun sepersekian detik sebelum akhirnya tertawa.
Tawa itu ringan, lepas, dan penuh kebahagiaan yang tak lagi bisa disembunyikan. Di seberangnya, Nadine ikut tersenyum sambil menunduk, sementara rona merah di pipinya semakin jelas terlihat.
"Berarti mulai sekarang ...." Valen menatap Nadine sambil tersenyum.
Nadine langsung menyipitkan mata curiga. "Apa?"
"Gue boleh geer?"
Nadine tertawa. "Lo dari tadi juga udah geer."
"Ya gimana." Valen mengangkat kedua tangan pasrah. "Baru kali ini ada cewek bilang gue gak pernah pergi dari kepalanya."
"Pede banget."
"Karena emang kedengerannya menjanjikan."
Nadine menggeleng sambil tertawa kecil.
Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandangi.
Aneh. Padahal tidak ada yang benar-benar berubah, namun rasanya seperti semuanya berubah.
Valen memutar gelas kopinya pelan. "Nad," panggilnya.
"Hm?"
"Kalau gue ngajak lo jalan ...."
"Kan udah sering."
"Bukan. Maksud gue ...." Valen berdeham kecil. "Jalan yang niat."
Nadine menatapnya.
Valen mendadak merasa gugup. Perasaan yang biasanya tidak pernah muncul saat meeting miliaran rupiah atau lebih, justru datang sekarang.
"Gue gak jago soal beginian."
Nadine tersenyum. "Kelihatan."
"Sial."
Nadine tertawa. "Tapi lanjut."
Valen menghela napas. "Let’s do this properly."
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Nadine terlihat benar-benar kehilangan kata-kata. "Properly?" ulangnya pelan.
Valen mengangguk. "Iya."
Tatapan mereka kembali bertemu dan bertahan lebih lama dari biasanya. Tak ada lagi candaan yang bisa mengalihkan arah pembicaraan, tak ada topeng yang perlu dipertahankan. Setelah semua yang baru saja terucap, keduanya sama-sama tahu bahwa mereka sedang berdiri di hadapan sesuatu yang terlalu besar untuk diabaikan.
"Aku pengen kenal kamu lebih jauh."
Kalimat sederhana itu membuat jantung Nadine berdebar lebih keras daripada pengakuan cinta mana pun. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya ada seseorang yang ingin mengenalnya sebelum memilikinya.
Di tengah keheningan itu, lagu yang diputar coffee shop berganti.
Valen samar mengenali melodinya. Lagu lama. Boyzone, Love Me For A Reason.
Nadine juga tampaknya menyadari lagu yang sama. Sudut bibirnya terangkat kecil. "Random banget playlist di sini," gumamnya.
Valen terkekeh pelan.
Lagu itu terus mengalun di latar belakang, seolah sengaja mengejek mereka berdua yang sejak tadi berputar-putar menghindari hal yang sudah jelas.
Nadine menunduk sambil tersenyum malu. Sedangkan Valen mendadak merasa semesta sedang berpihak padanya hari itu.
Bab 12 – She’s The One
Kencan Nadine dan Valen nyaris tak pernah berlangsung di tempat-tempat mewah. Tidak ada restoran bintang lima, tidak ada meja reservasi dengan lilin di tengahnya. Entah kenapa, mereka selalu berakhir di tempat-tempat sederhana yang justru terasa hangat.
Malam itu mereka duduk di taman kota yang ramai oleh gerobak makanan dan pengunjung lain. Lampu-lampu taman memantulkan cahaya kekuningan di atas paving yang masih menyimpan sisa panas siang hari. Dari deretan penjual nasi goreng, Valen memesan mie goreng, sementara Nadine memilih mie rebus.
Saat mereka selesai makan, Valen menatap keramaian di depan mereka beberapa saat sebelum akhirnya bersuara.
"Nad. Kecewa ya?"
Nadine menoleh bingung. "Hah? Kenapa?"
"Aku nggak pernah ngajak dinner di restoran mahal. Malah ngajaknya ke kaki lima terus."
Nadine terkekeh pelan."Kenapa juga harus kecewa?"
Raut wajah Valen langsung terlihat lebih ringan. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, seolah respons itu jauh lebih baik daripada yang ia bayangkan.
"Mau di mana pun," lanjut Nadine santai, "yang penting sama kamu."
Valen menyeringai. "Ciee."
"Dih, dasar bocil."
Tawa mereka bertemu di tengah malam yang ramai. Nadine menggeleng-geleng kecil sebelum melanjutkan. "Aku tuh masih nggak nyangka, tahu. Kamu ternyata lebih muda tiga tahun dari aku. Sok tua banget sih."
Valen hanya nyengir.
"Serius. Waktu aku bilang kamu pasti seumuran Xander, bukannya dibantah, malah diiyain." Ia kembali tertawa melihat ekspresi tak berdosa di wajah Valen.
"Baru sekarang kelihatan bocilnya."
"Masa iya?"
Nadine mengangkat alis. "Nggak percaya?"
"Nggak." Valen menyandarkan tubuhnya ke kursi plastik. "Malah bagus kan kalau aku lebih muda."
"Kenapa emangnya?"
"Jadi aku nggak perlu malu kalau mau manja-manjaan sama kamu."
"Ihhh." Tanpa pikir panjang Nadine mencubit gemas lengan Valen. "Emang kalau kamu lebih tua bakal malu?"
Valen berpura-pura berpikir keras sambil menggaruk belakang kepala. "Hmm ... kayaknya nggak juga sih."
"Nah kan."
"Tapi malu-maluin masih mungkin."
Nadine langsung terbahak. Suaranya terdengar renyah di tengah hiruk-pikuk taman.
Di sela tawanya, perhatian Valen tiba-tiba teralihkan.
Tak jauh dari sana, seorang pria yang tampak seperti gelandangan mondar-mandir di antara gerobak makanan. Tatapannya terus berpindah dari satu meja ke meja lain. Cara pria itu memperhatikan orang-orang yang sedang makan membuat Valen mengenali sesuatu yang sangat familiar.
Lapar.
Lapar yang bukan sekadar ingin ngemil.
Lapar yang menusuk sampai ke tulang.
Seketika ingatannya melayang ke masa lalu.
"Sebentar ya." Valen berdiri sebelum Nadine sempat bertanya.
Ia menghampiri penjual, berbicara singkat, lalu menunjuk ke arah pria itu. Tak lama kemudian, penjual menyerahkan dua bungkus makanan kepada si gelandangan.
Dengan heran Nadine memperhatikan semuanya dari tempat duduknya. Namun kemudian ia mengerti.
Pria itu menerima bungkusan tersebut dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya berkali-kali mengucapkan terima kasih. Valen bahkan sempat berdiri beberapa menit di sampingnya, mengatakan sesuatu yang tak bisa Nadine dengar.
Baru setelah itu ia kembali.
Nadine menyambutnya dengan senyum kecil. "Baik banget sih."
Valen hanya membalas dengan senyum tipis.
"Kamu ingat masa lalu ya?"
Pertanyaan itu membuat Valen menghela napas pendek. "Pernah ada di posisi orang itu. Gimana aku nggak tergerak."
Nadine mengangguk pelan. "Pantesan kamu ngajaknya ke kaki lima terus."
"Hah?" Valen tertawa.
"Jangan-jangan sekalian nunggu ada kasus kayak gini."
"Ya nggak gitu juga."
"Tapi kalau di restoran mahal memang nggak bakal ketemu beginian."
"Nah, itu."
Mereka sama-sama tertawa sebentar sebelum wajah Nadine kembali serius. "Dulu kamu ... separah itu?"
Valen terdiam sejenak, seolah sedang memilah kenangan mana yang layak diceritakan. "Seminggu penuh nggak makan."
Mata Nadine langsung membelalak. "Serius?"
Valen mengangguk. "Bertahan cuma pakai air. Itu pun dari botol bekas orang."
Nadine kehilangan kata-kata.
"Kadang nggak minum. Nggak mandi juga. Penampilan makin berantakan setiap hari. Orang lihat aja udah males, apalagi mau ngasih kerjaan." Ia mengucapkannya dengan terlalu tenang. "Sampai gak tertahankan lagi ... makanya aku nyerah."
Justru ketenangan itu yang membuat dada Nadine terasa sesak. "Berat banget …," gumamnya lirih. "Itu tahun berapa sih?"
"Hmm ... sekitar 2007 atau 2008. Aku lupa tepatnya."
Nadine menghitung cepat dalam kepala. "Oh."
"Apa?"
"Tahun segitu aku udah kuliah. Udah nggak mangkal lagi."
Valen langsung menangkap arah pikirannya. "Kenapa? Lagi ngebayangin kemungkinan kita pernah ketemu di jalan waktu itu?"
Nadine tertawa kecil. "Kalaupun pernah ketemu, emangnya aku bisa apa? Kamu bisa apa?"
"Siapa tahu."
Ia menggeleng sebelum kembali bertanya. "Itu kamu langsung se-nggak punya itu setelah keluar dari rumah?"
Valen terkekeh. "Nggak juga."
"Terus?"
"Aku sebenarnya bawa bekal uang tunai buat bertahan hidup."
Nadine mengangguk. "Berapa?"
"Dua miliar."
Nadine sampai lupa berkedip. "Hah?!"
Valen tertawa melihat reaksinya. "Bekalku dibawa kabur pacarku waktu itu."
Beberapa detik Nadine hanya menatapnya. "Loh?!"
"Habis semuanya."
"Astaga ...."
Mendadak ia teringat sesuatu. "Tunggu. Pacarmu yang waktu itu sama kamu pas lagi pindahan ke kontrakan Bu Ratna?"
Valen mengangguk. "Yep."
Nadine masih terlihat tidak percaya. "Parah banget."
"Aku memang salah pilih pacar." Valen tersenyum tipis. "Salah pilih teman juga. Mereka kerja sama."
Nadine terdiam.
Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa kehilangan sebanyak itu dalam waktu yang begitu singkat.
"Sempat nggak percaya sama hubungan serius lagi," lanjut Valen. "Lumayan trauma. Takut ketemu orang manipulatif lagi."
Ia menoleh ke arah Nadine. "Tapi sekarang aku yakin sama pilihanku."
Satu kedipan mata menyusul kalimat itu.
Nadine menahan senyum, tetapi matanya meredup sedikit. "Meski ... masa lalu aku rusak?"
Valen menghela napas pelan. "Kamu insecure lagi?"
"Masa lalu aku yang pernah mangkal di jalan. Yang pernah jadi selingkuhan orang."
Valen menatapnya beberapa detik sebelum menjawab, "Nad, justru semua yang pernah kamu lewati itu yang bikin kamu jadi orang seperti sekarang."
Nadine diam mendengarkan.
"Kita tangguh karena bertahan. Karena terus jalan meski dihantam badai berkali-kali."
Suara taman tetap ramai di sekitar mereka, tetapi entah kenapa kalimat itu terasa begitu jelas.
Valen tersenyum kecil. "Dan nggak ada seorang pun yang nggak layak dicintai."
Mata Nadine menghangat. Senyum haru perlahan muncul di wajahnya. "Tuh kan."
"Hm?"
“Apa yang kubilang. Kamu itu sebenarnya lebih tua dari aku, tahu,” ujar Nadine sambil menyunggingkan senyum jahil.
Valen langsung tertawa keras. “Ya udah deh, iya.”
Obrolan mereka terhenti sejenak. Keduanya sama-sama memandangi taman yang semakin ramai. Orang-orang terus berdatangan, ada yang mengantre jajanan kaki lima, ada yang sekadar duduk mengobrol menikmati malam.
“Nad.”
Nadine menoleh begitu mendengar namanya dipanggil.
Valen menatapnya sebentar sebelum berkata pelan, “Pengen kenalan sama anak kamu.”
Mata Nadine langsung membulat dengan ekspresi lucu. “Beneran?”
“Ya beneran.” Valen tersenyum tipis. “Aku juga pengen kenalin Prince ke kamu.”
“Wah ... yuk! Kita atur waktunya dulu. Aku tanya Vicky dia bisanya kapan. Maklum, anak SMA punya acaranya sendiri.”
Valen mengangguk sambil terkekeh kecil. “Paham banget.”
Hening kembali menyelinap di antara mereka. Setelah beberapa saat, Valen kembali membuka suara.
“Dan ... aku juga pengen kenalan sama keluargamu yang lain. Kamu nggak pernah cerita.”
Senyum di wajah Nadine perlahan memudar. Ia mengembuskan napas pelan sebelum menjawab, “Aku cuma punya satu abang. Itu pun kami jarang ketemu. Paling cuma pas hari besar buat silaturahmi.”
“Kamu punya kakak?” Valen tampak sedikit terkejut. “Waktu kamu lagi susah dulu, apa nggak pernah minta bantuan dia?”
Nadine hanya mengangkat bahu.
“Beda umur kami jauh. Waktu aku lima tahun, dia udah dewasa dan pergi dari rumah. Habis itu ya hilang aja. Kami baru ketemu lagi beberapa tahun belakangan.”
“Oh ....” Valen mengangguk pelan, meski dalam hati muncul pikiran getir.
Gak ada gunanya jadi kakak.
Ia terdiam sesaat sebelum kembali bertanya dengan lebih hati-hati.
“Kalau ... orang tuamu? Sejak kamu diusir ... kamu pernah ketemu lagi sama mereka?”
Nadine menggeleng, tatapannya langsung meredup. “Sama sekali nggak,” jawabnya.
Suaranya terdengar datar, tetapi justru terasa jauh lebih berat. “Terakhir ketemu mereka ya hari aku diusir itu. Setelahnya mereka nggak pernah peduli lagi. Tiba-tiba aku cuma dapat kabar kalau mereka kecelakaan dan meninggal berdua.” Ia tersenyum hambar. “Bahkan sampai sekarang aku belum pernah ke makam mereka. Gimana ya ... lukanya masih membekas.”
“Aku ngerti perasaan kamu.” Suara Valen ikut melembut. “Pasti sakit hati banget.”
Nadine mengangguk kecil.
“Nggak cuma karena diusir.” Suaranya semakin lirih. “Aku bahkan nggak pernah ingat mereka benar-benar memperhatikan aku sejak kecil. Mereka sibuk sama dunia mereka sendiri. Yang kutahu, almarhum papa itu rentenir. Mereka berdua cuma sibuk hitung uang. Nggak peduli anaknya lagi sakit atau butuh diajarin berhitung.”
Valen hanya terdiam.
“Apalagi ....” Nadine menunduk sebentar. “Mereka juga nggak pernah tahu kalau waktu aku masih tiga belas tahun ... aku jadi korban grooming sopir keluarga.”
“Hah?”
Kepala Nadine mengangguk pelan. “Aku nggak pernah dapat perhatian dari orang tuaku. Tahu-tahu sopir pedo itu yang kasih perhatian ke aku. Ya aku nempel sama dia.” Bibirnya melengkung getir. “Dia manfaatin itu.”
Valen menatapnya dengan wajah yang semakin pucat. “Orang tuamu nggak tahu?”
“Nggak.” Nadine menggeleng. “Mereka bahkan nggak curiga.”
“Ya Tuhan ....” Suara Valen tercekat. “Kamu masih ... tiga belas tahun?”
Nadine tetap diam.
“Maaf ....” Valen menelan ludah. “Kamu ... dipaksa?”
Lama sekali Nadine tidak menjawab.
Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Dulu ... kamu nggak ngadu ke orang tuamu?”
“Aku diancam buat diam.” Jawaban itu keluar begitu lirih hingga nyaris tertiup angin malam. “Besoknya dia langsung kabur dari rumah.”
“Anj– ....”
Rahang Valen mengeras. “Bangsat!”
“Dulu aku pengen banget ngadu ke orang tuaku,” lanjut Nadine pelan. “Biar mereka tahu. Biar mereka yang cari orang itu sampai ketemu.”
Ia menggeleng pelan. “Tapi aku nggak berani ngomong. Aku takut malah dikira aku yang genit. Dia soalnya pernah bilang kalau semua ini salahku karena aku kegenitan.”
“Itu keterlaluan.” Valen menggeleng keras. “Kamu kan nggak seperti yang dia bilang.”
Nadine tersenyum tipis, meski matanya tetap muram.
“Nggak tahu ya. Mungkin di mata orang kayak dia, aku memang kelihatan genit. Badanku waktu umur tiga belas tahun udah kebentuk. Mungkin itu yang dia maksud.” Ia mengangkat bahu pelan. “Padahal pertumbuhan tubuhku kan di luar kendaliku.”
“Orang itu wajib dipidana.”
Nadine tertawa getir. “Dikasusin sekarang? Ya kali. Orangnya aja nggak tahu di mana. Mungkin udah mati.”
Ia mendongak sebentar ke langit malam. “Semoga udah mati.”
Valen memandangnya dengan sorot mata yang penuh iba. “Dan kamu hadapi semua itu sendirian ....”
“Makanya aku bilang aku rusak.” Nadine tersenyum pahit. “Aku udah rusak sejak itu. Makanya waktu SMA aku jadi liar. Sekalinya dapat perhatian orang tua ya karena aku hamil duluan.”
Ia terkekeh hambar. “Eh, terus diusir.”
Valen sampai kehilangan kata-kata.
“Maaf ya, Nad.” Ia mengembuskan napas panjang. “Aku benar-benar kesel sama orang tuamu. Kok bisa ada orang tua kayak begitu?”
Nadine menoleh kepadanya, lalu tersenyum tipis. “Kalau orang tuaku seperti itu, papa kamu juga unik, kan? Ngontrol dan ngekang anak-anaknya demi kepentingannya sendiri.”
Valen mendengus pelan. “Ternyata kita sama-sama punya orang tua yang ... ya begitulah.”
Tiba-tiba ia kembali teringat sesuatu.
“Sebentar. Waktu kamu diusir, kamu nggak pergi ke rumah keluarga yang lain? Om, tante, atau kakek nenek?”
Nadine mengangkat bahu. “Aku bahkan nggak pernah tahu siapa keluarga besarku.”
“Hah?”
“Beneran.” Nadine terkekeh kecil, meski terdengar sinis. “Orang tuaku nggak pernah sekalipun nyebutin siapa orang tua mereka atau saudara-saudara mereka. Sama sekali nggak pernah. Apalagi ngajak aku berkunjung.”
Ia memandang keramaian taman sejenak.
“Jadi waktu teman-teman sekolah cerita habis liburan di rumah nenek, aku cuma bisa bengong. Aku nggak pernah punya pengalaman begitu.”
Valen mencerna pengakuan itu cukup lama. “Aneh ...,” gumamnya. “Kenapa bisa begitu?”
Nadine mengangkat bahu lagi. “Mana kutahu? Mau tanya ke orang tuaku?” Ia tertawa sinis. “Kayak mereka bisa jawab.”
Keheningan kembali turun di antara mereka.
Tak lama kemudian Nadine justru balik bertanya. “Nah, kalau mama kamu? Sebentar ... kamu lima belas bersaudara itu saudara kandung semua?”
Valen menggeleng. “Yang saudara kandung cuma empat anak tertua. Sonny, Fredo, Connie, sama Michael.”
Ia menarik napas sebelum melanjutkan. “Sisanya ... anak-anak hasil Bernard tebar benih di sana sini.”
Nadine sampai terdiam beberapa detik.
“Sebelas ....” Angka itu lolos begitu saja dari bibirnya.
“Aku dibesarkan Mama sampai umur delapan tahun,” lanjut Valen. “Habis itu aku dibawa ke sangkar emas bernama Istana Ghandy.”
Tatapannya ikut menerawang. “Mamaku menghilang. Nggak pernah ada kabar lagi setelah itu.”
Nadine hanya mendengarkan.
“Nasib sepuluh saudaraku yang lain juga sama. Tiba-tiba datang ke Istana Ghandy. Semua diserahkan sama ibu masing-masing.”
Valen tersenyum tipis tanpa kehangatan. “Nggak susah nebak. Para perempuan itu, termasuk mamaku, pasti dapat imbalan dari Bernard. Bahkan mungkin diwajibkan putus komunikasi sama anak-anak mereka.”
Nadine menggeleng pelan. “Bernard Ghandy itu memang ... astaga.”
“Yang jelas,” kata Valen mantap, “aku nggak akan besarkan Prince dengan cara seperti itu.”
Nadine langsung mengangguk setuju. “Aku juga. Aku nggak akan bikin Vicky ngerasain hidup seperti yang dulu aku alami.”
Valen tersenyum tipis. “Luka ini biar berhenti di kita.”
Nadine membalas tatapannya. Mereka saling tersenyum dalam diam, seolah mengerti janji yang baru saja mereka ucapkan.
Beberapa detik kemudian Valen menepuk lututnya pelan. “Udah selesai makannya?”
Nadine menyesap sisa es jeruknya sebelum mengangguk. “Mmh, iya.”
“Yuk, balik ke mobil.” Valen berdiri lebih dulu sambil mengulurkan tangan. “Aku kan janji mau kasih sesuatu.”
Nadine menyambut uluran tangan itu dan ikut berdiri. “Mau kasih apa sih? Kenapa nggak dibawa aja tadi ke sini?”
Valen hanya tersenyum misterius sambil menggenggam tangannya pelan “Lihat nanti.”
Usai Valen membayar makanan mereka, keduanya bergandengan tangan menuju mobil Valen yang diparkir tak jauh dari taman. Begitu sampai, Valen membuka bagasi dan mengeluarkan sebuah tas panjang berwarna hitam.
Nadine mengernyit bingung.
“Itu apa?”
Valen hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Ia malah mengajak Nadine duduk di bangku taman yang berada tepat di belakang mobil. Setelah keduanya duduk, Valen membuka resleting tas itu dan mengeluarkan sebuah gitar akustik, lalu mengambil posisi seolah sudah siap memainkan sesuatu.
“Kamu mau main gitar di sini?” Nadine menatapnya tidak percaya. “Seriusan?”
Valen terkekeh pelan sambil menyesuaikan posisi gitar di pangkuannya.
“Memangnya mau main di mana lagi? Paling banter aku cuma latihan di apartemen. Itu juga jarang bisa stay di sana.”
“Oh? Kenapa?”
“Soalnya yang belum nikah belum boleh keluar dari rumah.” Valen tersenyum hambar. “Kalau lagi kangen main gitar, baru aku diam-diam pergi ke apartemen.”
Nadine terdiam beberapa saat sebelum memandangnya dengan sorot mata yang melembut. “Papa kamu segitu bencinya lihat kamu punya minat di musik, ya?”
Valen hanya mengangkat bahu. “Yang penting buat dia cuma kerajaan bisnis dan cuan.”
Nadine tidak tahu harus menjawab apa. Semakin lama mengenal Valen, semakin banyak sisi hidup pria itu yang ternyata tidak seindah yang terlihat dari luar.
Valen menoleh kepadanya, lalu tersenyum kecil. “Sekarang ...,” katanya pelan. “Aku mau nyanyiin sesuatu buat kamu.”
Nadine langsung berkedip beberapa kali. “Eh ... beneran? Buat aku?”
Valen mengangguk. Ia menarik napas pendek sebelum berkata dengan nada formal yang sengaja dibuat berlebihan. “Semoga Nona Nadine Virginia Gunawan berkenan menerima persembahan lagu ini.”
Nadine langsung tertawa kecil.
Valen mulai memetik senar gitarnya. Nada pembuka yang lembut mengalun di tengah ramainya taman malam, lalu tak lama kemudian suaranya ikut memenuhi udara.
Baru kali itu Nadine mendengar Valen bernyanyi.
Suaranya berat, dalam, dengan serak basah yang hangat. Setiap nada terdengar tepat tanpa sedikit pun fals, sementara jemarinya berpindah dari satu kunci ke kunci lain dengan begitu luwes. Cara memetik senarnya pun rapi dan penuh rasa, seperti seseorang yang sudah sangat lama bersahabat dengan gitar.
Beberapa orang yang melintas otomatis menoleh ke arah mereka. Ada yang sempat mengira Valen sedang mengamen dan hampir mengeluarkan uang receh, tetapi niat itu langsung mereka urungkan. Penampilan Valen yang rapi dan gitar yang dimainkannya membuatnya sama sekali tidak terlihat seperti pengamen.
Valen mengangkat wajah sedikit, lalu menyanyikan bagian penutup lagu itu.
“If there's somebody calling me on ... She's the one ...”
Nadine hanya bisa memandanginya tanpa berkedip. Ia benar-benar terpukau.
Bukan hanya karena suara Valen yang indah dan permainan gitarnya yang luar biasa, tetapi juga karena lirik lagu yang dipilihnya terasa seperti ungkapan perasaan yang selama ini tak pernah diucapkan langsung. Tanpa sadar, hatinya kembali menghangat.
Begitu lagu berakhir, keheningan sesaat menyelimuti mereka.
Nadine tersenyum lebar. “Suara kamu bagus banget. Asli. Pinter juga main gitarnya.” Ia menggeleng pelan, masih takjub. “Kamu tuh berbakat, Val.”
“Trims.” Valen terkekeh kecil sambil memasukkan gitar kembali ke dalam tas. “Aku juga ngerasa begitu. Tapi ya ... situasinya nggak memungkinkan.”
Nadine masih menatapnya penuh rasa penasaran.
“Terus ... kenapa pilih lagu tadi?”
Valen menghentikan gerakannya sejenak. Tatapannya bertemu dengan mata Nadine yang masih berbinar karena terharu.
“Gak tahu.” Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Kepikiran aja.”
Ia berdiri sambil mengangkat tas gitar. “Yuk.”
Nadine ikut berdiri, lalu mencubit pelan lengan Valen. “Boong.”
Valen menoleh sambil menyeringai.
“Aku udah geer, loh.”
Senyum Valen justru makin lebar, tetapi ia tetap memilih diam.
Sesampainya di mobil, Valen mengembalikan gitar ke bagasi sebelum keduanya masuk ke dalam. Begitu pintu mobil tertutup, Nadine langsung menoleh kepadanya dengan mata berbinar.
“Kalau gitu ... bikinin aku lagu dong.”
Valen menoleh. “Bikinin lagu?”
Nadine mengangguk antusias. “Bisa, nggak?”
Valen berpikir beberapa detik sebelum akhirnya menganggukkan kepala. “Boleh. Kasih aku waktu, ya.”
“Janji?”
“Janji.”
“Aku tunggu.”
Valen tersenyum kecil sambil meraih kunci mobil dan bersiap menyalakan mesin.
Namun sebelum tangannya sempat memutar kontak, Nadine tiba-tiba memajukan tubuhnya dan mengecup lembut pipi Valen.
“Makasih ...,” bisiknya sambil tersenyum malu. “Udah nyanyi buat aku.”
Valen sempat membeku beberapa detik. Sudut bibirnya berusaha tetap tenang, tetapi senyum lebarnya nyaris tak bisa disembunyikan. Ia menoleh ke arah Nadine sambil mengangkat sebelah alis.
“Pipi aja nih?”
Nadine langsung terkekeh ringan. “Maunya gimana?”
Valen tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Nadine lekat, membuat senyum di wajah wanita itu perlahan memudar menjadi gugup.
Tatapan mereka saling bertemu.
Tanpa perlu sepatah kata pun, keduanya sama-sama bergerak pelan, saling mendekat sedikit demi sedikit, seolah seluruh dunia di luar mobil menghilang dan hanya menyisakan mereka berdua.
Comments
Post a Comment