KAMPH (13-14)
Bab 13 – Trauma Masa Lalu
Setelah kencan yang ditutup dengan lagu She's the One dan ciuman pertama mereka, Nadine mengirim pesan pada Valen keesokan paginya.
Nadine: Aku ganggu gak di kantor? Pengen mampir, boleh?
Valen: Boleh banget. Lagi gak begitu sibuk sih. Tumben. Kangen ya?
Nadine: Geer 😛 Aku tadi pagi bikin cake. Mau bagi ke kamu sekalian minta pendapat.
Valen: Serius? Kamu bisa baking?
Nadine: Bisa dong.
Valen: Pasti enak sih.
Nadine: Kan belum dicoba. Vicky bilang kurang manis, jadi aku mau cari pendapat lain.
Valen tersenyum sendiri membaca pesannya.
Valen: Kalau makannya sambil liatin kamu, dijamin makin manis sih.
Nadine: Valen ih.
Valen: Cuma bilang fakta. 😘 Mau ke sini jam berapa? Sekalian lunch?
Nadine: Aku ada meeting habis makan siang. Jadi pagian aja ya? Kalau bisa aku langsung otw.
Valen: Ditunggu. Kebetulan Xander lagi inspeksi di sini, tapi paling sebentar lagi juga balik ke kantornya.
Balasan Nadine baru muncul beberapa detik kemudian.
Nadine: Oh ....
Lalu satu pesan lagi.
Nadine: Kalian udah baikan?
Valen: Not really. Ini murni urusan bisnis, gak bahas apa-apa di luar itu. Untung sekarang dia udah gak kayak kemarin.
Nadine: Okay deh. Aku otw.
Tak lama kemudian Nadine melangkah memasuki lobi Orison Silver Light yang luas dan didominasi warna putih keabu-abuan. Sejak turun dari mobil, ada rasa canggung yang terus mengikutinya. Pikirannya dipenuhi kemungkinan bertemu Xander di gedung itu.
Untung saja kekhawatirannya sepertinya tidak terjadi.
Saat ia baru menghampiri meja resepsionis, Valen muncul dari arah toilet.
"Nad."
Nadine langsung menoleh. Begitu melihat Valen, senyum lega spontan menghiasi wajahnya. "Hai."
"Yuk, ke ruangan aku." Valen merangkul ringan punggungnya sambil mengarahkan langkah ke area lift.
"Nih, buat kamu." Nadine menyerahkan paper bag yang dibawanya. "Isinya cake."
"Asyik."
"Butuh penilaian objektif ya."
"Wah ... susah."
"Kamu ih." Nadine mendengus geli. "Atau aku cuma mampir bentar terus langsung balik aja. Jadi kamu cobain cakenya nanti, pas aku udah gak ada. Lebih objektif, kan?"
Mereka berjalan berdampingan menuju lift.
"Kalau gitu makannya bisa sorean nanti."
Nadine merengut lucu. "Aku beneran cuma mau lihat ruangan CEO Orison Silver Light. Gak ada agenda lain."
"Yakin?" Valen mengedipkan sebelah mata sambil menekan tombol lift.
"Genit banget, ih." Nadine mencubit pelan pinggangnya. "Ini di kantor ya, Pak CEO. Tolong deh."
Belum sempat Valen membalas, suara gagang pel yang terjatuh memecah keheningan.
Keduanya menoleh bersamaan. Di ujung lorong, tak jauh dari area lift, seorang petugas kebersihan membungkuk mengambil gagang pel yang terlepas dari tangannya. Setelah itu pria itu kembali mengepel lantai seolah tak terjadi apa-apa.
Namun napas Nadine langsung tercekat. Matanya membesar. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Suara-suara dirinya saat masih kecil bergema di dalam kepalanya, semakin lama semakin keras. 'Mas ... Sakit ...'
Petugas kebersihan itu berjalan melewati mereka sambil terus menundukkan kepala. Ia sempat membungkukkan badan sedikit sebagai bentuk sopan santun sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya, sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang menatapnya tanpa berkedip.
Tatapan Nadine terus mengikuti pria itu hingga sosoknya semakin jauh.
"Nad?" Valen yang sejak tadi mengobrol akhirnya menyadari perubahan ekspresi Nadine. "Kamu kenapa?"
Pintu lift terbuka di depan mereka, tetapi Nadine tetap bergeming.
"I ... itu ...." Suaranya bergetar. "Yang tadi ...."
"OB itu?" Valen ikut menoleh ke belakang. "Kenapa? Kamu kenal?"
Nadine mengangkat wajah. Matanya mulai dipenuhi air bening. "Dimas Nugraha ...," bisiknya pelan. "Supir yang dulu kerja di keluarga aku ...."
Tangannya refleks meraih lengan Valen.
"Supir yang ...."
Kalimat itu tidak selesai.
Valen langsung mengerti. Wajahnya berubah pucat. "Kamu serius?" Suaranya ikut melemah. "Itu orangnya? Dia??"
Nadine mengusap wajahnya yang mulai basah. "Oh, Tuhan ...." Napasnya memburu. "Aku kira ... aku gak bakal lihat dia lagi seumur hidup."
Valen memegang lengannya dengan hati-hati. "Nad ... coba tenang dulu."
Nadine memalingkan wajah, berusaha menahan kepanikan yang tiba-tiba menyerbu.
"Maaf ...," katanya lirih. "Aku balik ke kantor aja sekarang. Maaf ya, jadi gak bisa mampir."
"Nad." Valen menahan tangannya sebelum wanita itu sempat melangkah pergi. "Naik dulu ke atas. Tenangin diri sebentar. Aku temenin."
Nadine menggeleng cepat. "Gak ... aku pulang aja. K-kamu cobain kuenya ya. Bye ...."
"Aku antar. Kamu jangan nyetir sendiri dalam keadaan kayak gini."
"Aku mau sendirian!" Suara Nadine tiba-tiba meninggi. "Ngerti gak sih??"
Valen terdiam.
Nadine sendiri langsung tersadar telah membentaknya. "... Maaf, Valen."
Tanpa berani menatap wajah pria itu lagi, ia segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan gedung.
Valen hanya bisa memandangi punggungnya yang semakin menjauh.
Lalu ingatannya kembali pada sosok petugas kebersihan tadi. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal kuat.
Ia segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi sekretarisnya. "Selly, tolong ke HR sekarang. Minta data karyawan OB yang namanya Dimas Nugraha."
"..."
"Iya, kirim langsung ke saya."
"..."
"Kalau ditanya buat apa, bilang aja saya lagi meninjau riwayat karyawan yang masa kerjanya paling lama."
"..."
"CV-nya aja cukup."
"..."
"Usahain secepatnya ya."
Telepon ditutup.
"Valen."
Suara itu membuatnya menoleh. Xander baru keluar dari lift sambil membawa segelas kopi.
"Bukannya lo udah balik?"
"Tadi beli kopi dulu di bawah." Xander mengangkat gelas kopinya sebentar lalu hendak berjalan pergi. "Gue duluan ya."
Dengan cepat Valen menimbang sesuatu, sebelum akhirnya memanggil, "Xander."
Langkah Xander berhenti. "Apa?"
"Lo masih bisa menyelidiki orang, kan?"
Xander mengernyit. "Tumben."
Tatapannya berpindah ke wajah Valen yang terlihat jauh lebih tegang daripada beberapa menit sebelumnya. "Siapa?"
Beberapa menit kemudian mereka sudah duduk berdampingan di sofa lobi.
Suasananya jauh lebih sunyi dibanding biasanya.
Valen mengusap wajahnya kasar sambil mengembuskan napas panjang. "Anj– ...," desisnya. "Gue gak nyangka udah memperkerjakan orang kayak gitu. Dia selama ini kerja di sini ... dan gue sama sekali gak tahu!"
Xander belum berkomentar. Ia masih mencerna penjelasan singkat yang baru saja didengarnya.
"Gue ngerasa gagal lindungi Nadine ...," racau Valen lirih.
"Nama lengkap."
Valen menoleh. Harapannya bangkit. "Lo mau bantu selidiki?"
"Nama." Xander sudah membuka ponselnya.
Pada saat yang sama ponsel Valen ikut bergetar. Pesan dari Selly akhirnya masuk.
Valen membuka lampiran CV itu sekilas. "Dimas Pratama Nugraha."
Xander langsung mengetik beberapa pesan. "Done."
Ia mengunci layar ponselnya. "Tunggu laporan dari orang gue."
Situasi hening sesaat.
Valen masih tampak geram. Rahangnya mengeras sementara jemarinya mengetuk lututnya dengan gelisah.
“Bisa-bisanya ada orang tega sama anak umur tiga belas tahun.” Ia mengembuskan napas kasar sambil menggeleng. “Gila. Gila.”
Xander yang duduk di sebelahnya tetap tenang. “Kesempatannya ada. Niatnya juga ada.”
“Yang bikin gue makin nggak habis pikir ....” Valen mengusap wajahnya frustrasi. “Orang tuanya. Sampai nggak tahu anak perempuan mereka jadi korban laki-laki. Dewasa sebelum waktunya.”
Xander menyandarkan tubuh ke kursinya. “Itu bukti kalau nggak semua orang pantas jadi orang tua.”
Valen memandangnya beberapa saat dengan dahi berkerut. “Lo tenang amat.” Tatapannya menyipit penuh tanda tanya. “Sebenarnya lo terganggu nggak sih denger fakta barusan?”
Xander menatap balik tanpa banyak perubahan ekspresi. “Bukannya gue udah turun tangan?”
“Maksud gue ....”
Kalimat Valen menggantung. Ia mengembuskan napas sebelum akhirnya bertanya terus terang. “Lo lakuin semua ini karena rasa kemanusiaan ... atau karena korbannya Nadine?”
Tatapan Xander bergeser ke arah lain. Ia berdiri sambil merapikan jasnya, seolah sengaja menghindari pertanyaan itu. “Gue ada meeting.”
Ia melangkah menuju pintu keluar. “Gue kabarin secepatnya kalau udah ada hasil.”
Di ruangannya, Valen duduk sendirian sambil memandangi cheesecake buatan Nadine yang terletak di hadapannya.
Pikirannya masih terus berputar. Bayangan wajah Nadine saat melihat Dimas tadi masih terlintas jelas. Ekspresi kaget, tubuh yang mendadak membeku, dan luka lama yang selama ini ia simpan sendiri kembali terbuka dalam waktu singkat.
Namun Valen mengingat janjinya untuk memberikan penilaian yang objektif.
Karena itu, untuk sementara ia menyingkirkan dulu kemarahannya terhadap Dimas, memisahkan emosi pribadi dari tugas yang sudah ia sanggupi. Ia menarik napas panjang, lalu mengambil sendok dan mulai mencicipi cheesecake itu dengan lebih tenang.
Bukan sebagai seseorang yang sedang berusaha menghibur Nadine, melainkan sebagai orang yang benar-benar ingin memberi pendapat jujur.
Setelah beberapa suapan dan yakin dengan penilaiannya, Valen mengambil cangkir kopi di sampingnya, meneguk sedikit, lalu meraih ponselnya.
Ia segera menghubungi Nadine.
Ada rasa lega saat panggilannya diangkat. Bahkan suara Nadine yang terdengar dari seberang membuat dadanya sedikit lebih ringan. Setidaknya, nada bicaranya sudah terdengar lebih normal.
“Halo?”
“Gimana keadaanmu, Nadine?”
“Aman kok. Aku nggak apa-apa.”
Valen masih belum sepenuhnya percaya. “Beneran?”
Nadine tertawa kecil. “Tugas kantor ternyata pengalih perhatian yang mujarab.”
Valen tersenyum tipis, tetapi rasa khawatirnya belum hilang. “Aku tahu kamu pasti shock. Aku juga shock, Nad. Apalagi ternyata orang itu selama ini ada di sekitar aku.”
Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan. “Maaf ya.”
“Kamu nggak salah.” Suara Nadine terdengar lembut. “Kamu kan nggak tahu.”
“Tapi kamu beneran udah nggak apa-apa?” Valen menggenggam ponselnya sedikit lebih erat. “Aku cemas sama kamu, Nad.”
“Iya. Beneran.”
Valen mengembuskan napas pelan, mencoba percaya pada jawabannya. “Kalau kamu kepikiran lagi, telepon aku ya.”
Suaranya melembut. “Aku cuma pengen nemenin kamu, supaya kamu nggak harus sendirian menghadapi semua ini.”
Nadine terdiam sejenak. “Mm ....”
“Kamu terlalu lama kuat sendirian.” Valen menatap kosong ke meja kerjanya. “Ada saatnya kamu butuh bahu dan kehadiran seseorang buat bantu kamu melewati semuanya.”
Beberapa detik hanya ada suara napas dari seberang.
Lalu Nadine berkata pelan, “... Aku nangis lagi nih.”
Valen langsung duduk lebih tegak. “Tuh kan. Aku ke sana ya?”
Nadine buru-buru tertawa kecil, meskipun masih terdengar ada sisa isakan. “Gara-gara kamu terlalu baik.”
Valen ikut tersenyum.
“Kenapa sih kamu baik sama aku?”
Pertanyaan itu membuat Valen terdiam sebentar.
Ia tersenyum tipis sebelum menjawab, “Kayaknya udah jelas alasannya.”
Lalu, seperti biasa, ia mencoba mencairkan suasana. “Tapi aku harus mulai curiga nih.”
“Hm? Kenapa?”
“Biasanya kalau ada cewek bilang, 'kamu terlalu baik sama aku', justru ujung-ujungnya si cowok ditolak atau diputusin.”
Nadine terbahak. “Lebay. Nggak semua cewek begitu, ya.”
Tawanya terdengar lebih ringan. “Aku malah bakal hukum diri sendiri kalau sampai bisa-bisanya aku biarin kamu lepas.”
Valen tersenyum lebar. “Gitu? Emang aku burung?”
Nadine membalas tanpa pikir panjang. “Kamu sendiri yang bilang rumah kamu itu sangkar emas. Berarti kamu burung dong.”
Valen tertawa kecil. “Benar juga sih.”
Untuk pertama kalinya sejak kejadian tadi, Valen merasa lega mendengar Nadine tertawa. “Kamu udah bisa ketawa lagi, aku lega banget.”
Ia melirik cheesecake di meja. “Oh iya, aku udah makan cheesecake kamu nih. Masih butuh review nggak?”
Nadine langsung berubah antusias. “Eh iya! Butuh banget. Jadi gimana?”
Valen mengambil sendok lagi sambil berpikir. “Aku harus tanya dulu. Kue ini pertama kali kamu bikin?”
“Iya ....” Nadine terdengar sedikit ragu. “Kenapa? Se-nggak enak itu ya?”
“Bukan.” Valen langsung menjawab. “Justru kebalikannya.”
Ia menyuap sedikit lagi cheesecake itu sebelum melanjutkan, “Teksturnya lembut. Cream cheese-nya terasa, tapi nggak menutupi rasa lain.”
“Oh ....” Nadine terdengar lega. “Syukur deh.”
“Cuma ....”
Belum sempat Valen menyelesaikan kalimatnya, Nadine langsung menyela. “Tuh kan. Ada 'cuma'-nya.”
Valen tertawa kecil. “Aku harus setuju sama Vicky.”
“Nah, kan.”
“Kurang manis.”
Nadine langsung terdiam.
“Tapi bukan berarti nggak enak ya.” Valen buru-buru menjelaskan. “Kalau aku pribadi malah suka yang nggak terlalu manis. Ini bisa habis dalam waktu singkat.”
Ia melihat potongan cheesecake di depannya. “Tapi kalau suatu hari kamu mau jual ini, mungkin sebagian orang bakal merasa kurang manis. Tinggal tambah sedikit gula aja. Mungkin sekitar lima sampai sepuluh persen.”
“Wah ....” Nadine terdengar puas. “Ini masukan yang aku tunggu.”
Ia tertawa kecil. “Meski sebenarnya aku nggak ada niatan jualan sih. Baking cuma hobi.”
“Kenapa nggak?” Valen menjawab santai. “Kalau kamu menikmati baking, bakal lebih memuaskan kalau suatu saat hobi itu juga bisa menghasilkan cuan, kan?”
Nadine terdiam sebentar. “Aku pertimbangkan deh.”
Lalu ia tertawa ringan. “Kamu tuh memang Ghandy banget ya. Dikit-dikit cuan.”
Valen hanya bisa tersenyum malu sekaligus membenarkan. “Apa boleh buat. Mindset-nya memang dibentuk begitu.”
“Iya deh.” Nadine terkekeh. “Makasih review-nya, Valen.”
“Sama-sama.”
Setelah itu, percakapan mereka perlahan mengalir ke berbagai hal lain. Di tengah hari yang seharusnya terasa berat, keduanya justru menemukan sedikit ruang untuk bernapas dan kembali tertawa bersama.
Keesokan harinya.
Selly, sekretaris Valen membukakan pintu ruang CEO saat Xander datang membawa sebuah map cokelat tebal.
“Silakan, Pak.”
Xander mengangguk singkat sebelum melangkah masuk.
“Xan.” Valen langsung berdiri dari kursinya. “Gimana?”
Tanpa banyak basa-basi, Xander meletakkan map itu di atas meja, lalu duduk santai di kursi depan Valen. Ia menyandarkan tubuh sambil menyilangkan kaki.
Valen buru-buru membuka map itu. Di dalamnya tersusun rapi salinan KTP, riwayat pekerjaan, daftar keluarga, data utang, hingga beberapa foto. “Cepat amat lo dapet semua.”
“Ngapain lama-lama?”
Valen mulai membaca cepat lembar demi lembar.
“Belum pernah menikah ... kerja serabutan ....”
Matanya berhenti di satu halaman. “Nah, ini dia.”
Jarinya mengetuk baris yang baru dibacanya. “Tahun 1996, Dimas bekerja di keluarga Gunawan sebagai sopir tanpa gaji buat melunasi utang orang tuanya.”
Ia membalik halaman berikutnya. “Tahun 1997 ... dia kabur dari rumah Gunawan tanpa pamit.”
Valen langsung mengepalkan tangan. “Ini pasti habis ngerjain Nadine.”
Nada suaranya berubah semakin keras. “Udah ngerusak anak orang ... kabur lagi. Ngilang begitu aja.”
Xander hanya memperhatikan reaksinya tanpa menyela.
“Bangsat.”
Valen membanting map itu ke meja.
“Bangsat!”
Ia mengepalkan kedua tangan sampai buku-buku jarinya memutih. “Tangan gue gatel banget pengen hajar dia.”
“Jangan.”
Valen langsung menoleh. “Hah? Kenapa? Lo nggak lihat kelakuannya?”
“Kalau lo kasih dia pelajaran, yang rugi siapa?”
Valen mengernyit. “Siapa?”
“Nadine.” Xander menjawab tanpa ragu. “Orang kayak Dimas justru bisa playing victim. Dia bakal bikin dirinya seolah-olah korban.”
Valen mendecakkan lidah. “Fine. Gue pecat dia hari ini.”
“Terus alasannya apa?”
Valen menjawab cepat. “Dia udah hancurin hidup Nadine.”
“Itu alasan pribadi.” Xander mencondongkan badan sedikit. “Lo CEO. Kalau lo pecat dia tanpa dasar yang sah, besok dia bisa gugat perusahaan.”
“Orang macam dia nggak punya kekuatan buat itu.”
Xander hanya mengembuskan napas pendek sambil menggeleng pelan. “Jangan remehin orang yang lagi terdesak. Kadang mereka justru nekat.”
Valen mengusap tengkuknya frustrasi. “Terus gue harus diem aja?”
“Gue nggak bilang diem.” Xander tetap berbicara dengan nada datar. “Gue bilang cari cara yang benar.”
Valen menghela napas panjang. “Jadi apa rencana lo?”
Xander terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Kita bikin dia menghadapi sesuatu yang selama ini berhasil dia hindari.”
Valen menatapnya menunggu kelanjutan.
Xander membalas tatapan itu dengan ekspresi tenang. “Panggil Nadine.”
Valen langsung menggeleng. “Dia nggak bakal mau.”
“Udah dicoba?”
Valen mendengus pelan. “Lo tuh nggak lihat reaksi dia kemarin. Dia nge-freeze cuma gara-gara lihat Dimas. Gimana kalau dipertemukan langsung?”
Ia menggeleng lagi. “Lagipula sekarang dia udah baik-baik aja. Kenapa malah harus gue suruh datang ketemu orang yang bikin hidupnya hancur?”
“Karena dia belum selesai.” Jawaban Xander terdengar mantap. “Lo bujuk dia.”
Valen masih diam.
“Biar cewek lo itu nggak hidup seumur hidup tanpa closure.”
Ucapan itu membuat Valen tertegun. Ia menimbang kata-kata Xander dalam hati dan perlahan menyadari ada benarnya juga.
Sudut bibirnya terangkat tipis. “Lo ngerti juga soal closure?”
Xander mendecak pelan. “Telepon sekarang.”
Ia bangkit dari kursinya. “Atau lebih bagus, jemput langsung.”
Valen masih memandangnya.
“Gue yang panggil Dimas.” Xander merapikan jasnya sekali lagi sebelum melanjutkan, “Nanti lo sama Nadine langsung ke ruang meeting direksi.”
Bab 14 – Confronting the Monster
Lift mulai bergerak naik dalam keheningan.
Begitu pintunya menutup, Nadine refleks menggenggam lengan Valen lebih erat. Jemarinya dingin, tubuhnya sedikit gemetar. Kepalanya dipenuhi potongan-potongan kenangan yang selama ini berusaha ia kubur. Wajah Dimas, suara tawanya, rasa sakit yang dulu membuatnya menangis sendirian. Semua itu datang bersamaan, seolah kejadian bertahun-tahun lalu baru saja terulang.
Valen tidak mengatakan apa-apa. Pandangannya jatuh pada wajah Nadine yang semakin pucat, dan dadanya ikut terasa sesak. Selama ini ia tahu Nadine menyimpan luka, tetapi melihat sendiri bagaimana trauma itu masih mengendalikan tubuhnya membuat hatinya terasa diremas.
Lift akhirnya berhenti di lantai dua puluh delapan.
Pintu terbuka perlahan, tetapi Nadine tidak langsung melangkah keluar. Kakinya seperti tertanam di tempat. "...Kayaknya ini bukan ide bagus, Val."
Valen menggenggam tangannya dengan hangat. "Kalau kamu berubah pikiran, kita pulang."
Nadine tetap diam. Pintu lift terus terbuka karena sejak tadi Valen menahan tombol open.
"Waktu aku tanya tadi, kamu memang bilang mau ketemu dia. Tapi kalau sekarang kamu merasa belum siap, itu juga gak apa-apa. Kita balik ke kantormu."
Ia meremas pelan tangan Nadine sebelum melanjutkan. "Aku cuma gak mau kamu memutuskan karena rasa takut. Apa pun pilihanmu, aku akan ikut."
Nadine masih menatap lantai lift tanpa bersuara.
Valen mengembuskan napas pelan. "Tadi aku merasa ... kamu pengen menemui dia demi little Nadine yang dulu gak punya kesempatan buat membela dirinya sendiri. Kalau itu masih yang kamu inginkan, aku ada di sampingmu. Kalau sekarang kamu memilih pulang, aku juga ikut."
Tatapan Nadine perlahan beralih ke pintu lift yang masih terbuka. Dadanya terasa semakin sesak, sementara lututnya nyaris kehilangan tenaga.
"...Aku takut."
"Aku tahu."
Nadine memejamkan mata sesaat, lalu menarik napas panjang. "...Tapi aku tetap mau ketemu dia."
Dengan langkah yang masih ragu, ia akhirnya keluar dari lift.
Valen langsung menyusul di sampingnya. Lengannya merangkul punggung Nadine dengan lembut, seolah ingin mengingatkan bahwa ia tidak sedang menghadapi semuanya sendirian.
Di depan ruang meeting, Xander sudah menunggu. Ia bersandar di dinding dengan kedua tangan menyilang di dada.
Begitu melihat Valen dan Nadine berjalan berdampingan, dengan tangan Valen yang masih merangkul Nadine, rahangnya refleks mengeras. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha menyembunyikan reaksinya.
Valen menghampiri. "Dia udah di dalam?"
Xander mengangguk. "Udah. Dari tadi kelihatannya bingung ... sama takut."
Senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya terdengar lebih sinis daripada puas.
Valen menatapnya curiga. "Lo belum ngomong apa-apa, kan?"
"Belum. Tenang."
Valen menghela napas pendek. "Berarti dia takut karena dipanggil petinggi."
"You said it."
Xander mendorong pintu ruang meeting sedikit, memberi isyarat agar mereka masuk. "Yuk. Kita selesain sekarang."
Namun sebelum Valen sempat melangkah, Nadine kembali mencengkeram lengannya lebih erat. Itu seperti keraguan terakhir yang menahannya di depan pintu.
Valen menoleh, lalu mengusap lembut punggung tangan Nadine. "Kamu gak sendirian. Ada aku. Ada Xander."
Nadine menatap Valen, lalu bergantian menatap Xander. Sorot matanya dipenuhi ketakutan yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.
Xander ikut memandangnya.
Selama ini ia mengenal Nadine sebagai perempuan yang mandiri, tangguh, dan selalu terlihat mempesona. Sosok yang tidak pernah membiarkan siapa pun melihat kelemahannya.
Namun perempuan yang berdiri di hadapannya saat ini berbeda.
Yang ia lihat adalah little Nadine. Gadis tiga belas tahun yang pernah dihancurkan oleh seseorang yang seharusnya melindunginya, dan sampai hari ini masih membawa ketakutan itu ke mana-mana.
Kesadaran itu membuat dada Xander terasa berat. Ia menundukkan kepala sejenak, menahan dorongan untuk maju, memeluk Nadine, lalu mengatakan bahwa semuanya sudah berakhir.
Valen kembali menggenggam telapak tangan Nadine, kali ini lebih erat. "Pegang tanganku terus. Aku janji gak akan ngelepasin. Kamu aman, Nad."
Nadine mengangguk pelan.
Xander sebenarnya berniat tetap diam, tetapi kalimat itu keluar begitu saja sebelum sempat ia tahan. "Kalau nanti lo pengen nampar dia berkali-kali, lakuin aja."
Nadine menoleh menatapnya.
"Semua marah yang selama ini lo pendam, keluarin. Lo berhak."
Tatapan Nadine bergetar beberapa detik sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.
Mereka bertiga akhirnya memasuki ruang meeting yang hari itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Xander melangkah paling depan. Di belakangnya menyusul Valen dan Nadine yang masih menggenggam erat tangan pria itu.
Dimas yang sejak tadi duduk sambil mengusap kedua lengannya spontan menegakkan badan begitu melihat dua CEO Orison masuk bersamaan. Wajahnya langsung tegang.
Namun saat pandangannya jatuh pada Nadine, ekspresinya berubah.
Matanya membesar.
Ada sesuatu yang terasa begitu familiar pada wajah perempuan itu, tetapi pikirannya langsung menolak kemungkinan tersebut. Mustahil ia mengenal perempuan secantik itu. Pakaiannya elegan, pembawaannya berkelas, dan ia datang berdampingan dengan salah satu petinggi perusahaan.
Mustahil.
Saat Valen mengajaknya duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Dimas, Nadine menggeleng pelan. Tubuhnya menegang, lalu ia memilih berdiri di dekat dinding dengan jarak sejauh mungkin dari pria itu.
Valen tidak memaksanya. Selama Nadine masih mau berada di ruangan ini, itu sudah lebih dari cukup.
Sementara itu, Xander mengambil kursi tepat di hadapan Dimas. Ia menyandarkan tubuh dengan tenang, menyilangkan kaki, sementara sorot matanya tetap tajam.
"Dimas Pratama Nugraha."
Suara Xander terdengar datar. "Sudah berapa lama Anda bekerja di sini?"
"Delapan ... delapan tahun, Pak."
"Kalau begitu saya anggap Anda cukup mengenal saya. Dan juga Pak Valen."
Dimas buru-buru mengangguk. "Iya, Pak. Bapak Alexander Ghandy, CEO Orison Platinum ... dan Pak Valen atasan saya."
"Bagus." Xander mengangguk tipis. "Hari ini saya hanya menjadi saksi."
Dimas mengernyit bingung.
Xander memiringkan kepala sedikit ke arah Valen, memberi isyarat agar sepupunya itu mulai berbicara.
Valen yang sejak tadi berdiri di sisi Nadine memasukkan satu tangan ke dalam saku. Tangan satunya lagi tetap menggenggam tangan Nadine yang mulai berkeringat. "Kalau wanita di sebelah saya ini ... apa Anda juga merasa familiar?"
Dimas kembali memandang Nadine, kali ini lebih lama.
Nadine menundukkan wajah dan menghindari tatapan itu.
Setelah beberapa detik, Dimas menggeleng. "Saya ... gak kenal, Pak."
Valen menghela napas pelan. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah foto lama, lalu menyerahkannya kepada Xander.
Xander menerima ponsel itu dan menggesernya ke hadapan Dimas. "Perhatikan baik-baik."
Di layar tampak seorang gadis SMP berusia sekitar tiga belas tahun.
"Itu foto beliau waktu masih SMP."
Raut wajah Dimas langsung berubah. Matanya bergantian menatap foto itu dan wajah Nadine yang kini berdiri beberapa meter darinya.
Warna wajahnya perlahan memucat. "E-enggak ... saya gak kenal."
Di sisi ruangan, tubuh Nadine kembali bergetar.
Valen ikut menegang. Rahangnya mengeras, tetapi ia tetap diam.
Xander masih duduk tenang. "Coba pikir lagi."
Ponsel itu tetap dibiarkannya di atas meja dengan layar yang masih menyala.
"Saya benar-benar gak kenal, Pak." Suara Dimas mulai bergetar. "Sebenarnya ... ada apa, Pak?"
Tanpa banyak bicara, Xander menggeser sebuah map ke hadapannya. Di dalamnya terdapat salinan data lama Dimas saat masih bekerja sebagai sopir keluarga Gunawan, lengkap dengan alamat dan riwayat pekerjaannya selama ini.
"Setelah melihat ini ...." Suara Xander tetap tenang. "Anda masih mau bilang tidak kenal wanita itu?"
Dimas menelan ludah berkali-kali. Kepalanya perlahan tertunduk.
Valen akhirnya angkat bicara. "Saya rasa Anda gak mungkin lupa sama gadis tiga belas tahun yang pernah Anda hancurkan."
Tubuh Dimas semakin gemetar.
Ia mengangguk pelan. "...Non Nadine."
Ruangan itu mendadak terasa semakin sunyi.
Valen menatapnya tanpa berkedip. "Kabur tanpa tanggung jawab, padahal merusak anak orang? Anda laki-laki atau bukan?!"
Nada suaranya tetap rendah, tetapi kemarahannya terasa jelas.
Xander mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar Valen menahan emosinya.
Lalu ia kembali mengalihkan perhatian kepada Dimas. "Sejak hari itu, mantan nona majikan Anda menjalani hidup yang sangat berat. Apa Anda tahu itu?"
Dimas terus menunduk. "Maaf ...."
Xander menggeleng pelan. "Jangan minta maaf ke saya."
Ia melirik ke arah Nadine. "Orang yang pantas menerima permintaan maaf Anda ada di sana."
Dimas tampak ragu beberapa saat sebelum akhirnya berdiri.
Lututnya terlihat sedikit gemetar saat melangkah mendekati Nadine.
Melihat pria itu bergerak, Nadine spontan mundur sampai punggungnya menyentuh dinding.
Dimas menghentikan langkahnya dan menjaga jarak.
"...Non Nadine." Suaranya nyaris tak terdengar.
"Maaf. Saya salah."
Nadine tidak menjawab.
"Saya memang pengecut. Saya kabur karena takut menghadapi akibatnya."
Ruangan kembali sunyi.
"Saya tahu ... hidup Non mungkin hancur karena saya."
Tetap tidak ada jawaban.
Valen menoleh kepada Nadine. Tatapannya seolah berkata bahwa apa pun yang ingin ia lakukan, ia akan mendukungnya.
Mau berbicara, atau diam. Bahkan kalau ingin menampar pria itu, semuanya adalah hak Nadine.
Nadine menelan ludah pelan. Tatapannya masih mengarah ke lantai ketika akhirnya ia berbicara. Suaranya berusaha terdengar tegas, meski getarannya tetap sulit disembunyikan.
"Minta maaf itu hak kamu."
Ia menarik napas pendek. "Memaafkan atau enggak ... itu hak aku."
Dimas hanya mampu menunduk semakin dalam.
"Permintaan maafmu gak akan bisa mengembalikan masa kecilku."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Beberapa detik kemudian, Nadine mengangkat wajah untuk pertama kalinya.
Tatapannya masih basah, tetapi kali ini tidak lagi dipenuhi rasa takut. "Tapi mulai hari ini ... aku gak akan hidup di bawah bayang-bayang kamu lagi."
Dimas mengangguk pelan berkali-kali.
Sementara itu, Nadine perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Valen.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik dan keluar dari ruang meeting.
Valen langsung hendak menyusul, tetapi ia berhenti sejenak di depan Dimas. "Kamu beruntung baru bertemu saya sekarang."
Tatapannya dingin. "Dua puluh tahun yang lalu, saya pasti sudah menyeret kamu ke pengadilan."
Dimas meneguk ludah. "Pak ... saya ...."
Pandangan pria itu sempat jatuh pada seragam OB yang dikenakannya sebelum kembali menunduk. "Kalau Bapak mau memberhentikan saya ... saya terima."
"Saya belum bicara soal pekerjaan kamu."
Suara Valen tetap tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat Dimas semakin gelisah.
"Lihat saya."
Pelan-pelan Dimas mengangkat wajahnya.
Valen menatapnya lurus. "Kalau hari ini Nadine memilih pergi tanpa menuntut apa pun, itu terjadi karena dia memiliki hati yang jauh lebih besar daripada kamu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Valen berbalik meninggalkan ruangan untuk menyusul Nadine.
Di ruangan Valen. Selly meletakkan dua cangkir cokelat panas di atas meja sebelum menoleh kepada Valen.
"Thanks, Sel."
Selly membalas dengan anggukan kecil, lalu keluar sambil menutup pintu perlahan, menyisakan keheningan yang terasa nyaman.
Valen mengambil kedua cangkir itu dan menghampiri Nadine yang masih berdiri di depan jendela besar. Tatapannya lurus ke luar, mengikuti garis langit yang dipenuhi gedung-gedung tinggi.
"Minum dulu." Ia menyodorkan salah satu cangkir.
"Makasih ...."
Nadine menerimanya, lalu menyeruput sedikit demi sedikit. Hangatnya cokelat memenuhi mulutnya, tetapi belum sanggup mengusir sesak yang masih tertinggal.
Valen ikut meneguk minumannya pelan sebelum bertanya, "Gimana?"
Nadine menggeleng pelan. "Aku nggak ngerasa lebih baik." Ia kembali menyesap cokelatnya.
"Nggak apa-apa," jawab Valen tenang.
Hening sejenak.
"Aku nggak tahu keputusan ini benar atau enggak."
"Nggak harus benar. Yang penting tadi itu keputusanmu."
Nadine mengangguk pelan. Jemarinya menghangat di permukaan cangkir. "Dia ternyata udah tua."
Valen meliriknya sekilas tanpa berkata apa-apa.
Nadine mengembuskan napas pendek, lalu terkekeh pelan, seolah merasa lucu dengan kenyataan yang baru disadarinya. "Aku pernah takut sama monster itu. Padahal tadi aja dia nggak berani natap aku."
Senyum tipis terbit di wajah Valen. "Lega nggak? Tadi kamu sempat takut, sempat gamang. Ternyata yang ketakutan malah dia."
Sudut bibir Nadine ikut terangkat. "Ya ... akhirnya aku bisa bela inner child aku."
Ia menghabiskan sisa cokelat di dalam cangkir, lalu tertawa kecil. "Masa gabung di geng feminis tapi nggak bisa bela dirinya sendiri."
Valen ikut tersenyum. Ia mengambil cangkir kosong dari tangan Nadine, lalu meletakkannya berdampingan dengan cangkir miliknya di meja dekat jendela.
Nadine memandang ke luar lagi. "Aku tadi out of character banget ya? Ketakutan kayak little girl yang nggak bisa apa-apa."
Valen melangkah mendekat. Dari belakang, ia melingkarkan kedua lengannya dengan lembut di bahu Nadine.
"Kamu nggak harus kuat terus. Little Nadine itu nggak pernah benar-benar pergi. Dia cuma nunggu sampai akhirnya merasa cukup aman buat muncul ... dan hari ini kamu berani banget berdiri di depan orang yang pernah bikin dia ketakutan."
Nadine terdiam.
Pelan-pelan ia mengangkat tangannya, menyentuh lengan Valen yang memeluk bahunya, lalu menyandarkan tubuhnya dengan tenang ke dalam pelukan itu.
Valen mengecup puncak kepalanya singkat. Aroma manis sampo dari rambut Nadine membuatnya memejamkan mata sesaat.
"Aku yakin little Nadine sedang bangga sama kamu."
Nadine mengangguk pelan. "I feel her."
Keheningan itu bertahan beberapa detik sebelum suara ketukan terdengar tiga kali dari balik pintu.
Valen melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangan. "Masuk."
Pintu terbuka, memperlihatkan Xander yang melangkah masuk sambil mengangkat sebelah alis. "Gue harap gue ngeganggu."
"Sangat," sahut Valen tanpa ragu, lalu terkekeh pelan.
"Gue cuma mau ambil tab."
Xander mengambil tabletnya yang tertinggal di atas meja Valen. Sambil mengecek layarnya, ia berkata santai tanpa mengangkat kepala.
"Tadi di depan lift bawah, kedengeran banyak spekulasi liar soal OB yang masuk ruang meeting direksi."
Valen mengangkat alis. "Bentar. Mereka berani gosip depan lo?"
"Begitu lihat gue, langsung hening."
Valen mendengus geli sambil menggeleng. "Yaudah. Biarin aja mereka gosip."
Ia melirik arlojinya. "Eh, udah lewat jam makan siang. Laper nggak? Lunch bertiga, yuk. Gue yang traktir."
"Boleh aja," jawab Xander. Kali ini ia menoleh kepada Nadine. "Kalau Nadine nggak keberatan."
Valen memandang Xander dengan ekspresi heran sekaligus geli. Belakangan ini, sepupunya itu semakin sering bersikap di luar kebiasaannya setiap kali menyangkut Nadine.
Ia lalu menoleh kepada perempuan itu. "Mau kan, Nad? Makan dulu, habis itu aku antar pulang."
Nadine membalas dengan senyum tipis dan anggukan kecil. "Ayo."
"Great."
Valen meraih ponselnya dari meja. "Kalian tunggu sebentar di sini, ya. Gue mau beresin urusan sama Selly dulu. Nggak lama."
Setelah itu ia keluar dari ruangan, meninggalkan Nadine dan Xander di dalam dengan keheningan yang kali ini terasa jauh lebih ringan.
Valen berhenti di depan meja sekretarisnya.
"Saya ada urusan, harus pulang sekarang. Ada lagi yang perlu saya tanda tangani hari ini?"
Selly segera mengambil map yang sudah ia siapkan sejak siang. "Ada beberapa, Pak. Yang ini persetujuan vendor, yang ini kontrak kerja sama, lalu dua dokumen dari divisi legal."
Valen membalik halaman demi halaman, membubuhkan tanda tangannya tanpa banyak bicara.
Selly menunggu sampai map terakhir kembali ke tangannya.
"Oh ya, Pak ...."
Ujung pena Valen terangkat sedikit. "Ya?"
"Tadi HR menghubungi saya. Mereka minta nanti access card lantai direksi milik Mas Dimas ditarik dan diserahkan ke mereka kalau proses administrasinya sudah selesai."
Valen mengangkat pandangannya.
"Katanya ... Mas Dimas sudah mengajukan surat resign."
Jemari Valen yang masih memegang pena berhenti bergerak. "Resign?"
"Iya, Pak. Alasannya pribadi." Selly merapikan map di tangannya. "Sebenarnya ini urusan HR. Mereka cuma minta saya bantu koordinasi soal access card. Tapi ... mengingat tadi pagi Bapak sempat mengajak Mas Dimas ke ruang meeting direksi, saya rasa informasi ini perlu Bapak tahu."
Alis Valen terangkat. Sesaat kemudian, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Thanks, Sel. Informasi ini memang saya butuhkan."
Selly mengangguk. Rasa penasarannya sudah sampai di ujung lidah. Ia ingin sekali bertanya apa yang sebenarnya terjadi di ruang rapat tadi pagi. Namun, nalurinya sebagai sekretaris jauh lebih kuat daripada rasa ingin tahunya.
Maka ia memilih diam, memperhatikan punggung Valen yang melangkah kembali ke ruangannya. Langkah pria itu tampak jauh lebih ringan dibanding saat keluar beberapa menit sebelumnya.
Begitu pintu terbuka, pandangan Valen langsung menangkap dua orang yang ditinggalkannya.
Xander duduk santai di sofa dengan satu kaki menyilang, matanya terpaku pada tablet di tangan. Sementara Nadine masih berdiri di depan jendela, memandang ke luar.
Ruangan itu terasa terlalu sunyi.
"Kaku amat kalian berdua."
Valen menutup pintu di belakangnya.
Xander hanya melirik sekilas, ekspresinya seolah mempertanyakan kenapa Valen merasa perlu mengomentari suasana.
Valen terkekeh pelan sebelum berkata, "Anyway ... Dimas resign. Alasannya pribadi."
Kepala Xander langsung terangkat.
Nadine pun spontan berbalik. Matanya membesar menatap Valen.
"HR baru saja menghubungi Selly buat koordinasi kartu akses yang masih dipegang Dimas. Selly yang kasih tahu."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Beberapa detik berlalu sebelum Xander akhirnya bersuara. "Bagus."
Ia menyandarkan punggungnya lagi ke sofa. "Setidaknya keputusan itu datang dari dia sendiri."
Valen mengangguk pelan. "Berarti rasa bersalahnya akhirnya nyusul juga."
"Untung masih punya rasa bersalah."
Valen mengalihkan pandangannya kepada Nadine. Kali ini senyumnya jauh lebih hangat. "Buatku ... ini kemenangan buatmu, Nad."
Nadine menatapnya tanpa berkedip.
"Kamu nggak perlu melakukan apa-apa lagi. Dia yang memilih pergi."
Ucapan itu menggantung sejenak sebelum Valen melanjutkan dengan suara lembut.
"Sekarang kamu bisa lanjut hidup."
Perlahan, senyum lebar mengembang di wajah Nadine. Senyum yang sejak pagi belum pernah benar-benar muncul. "Kok aku seneng, yah?"
Valen ikut tersenyum. "Nah ... senyum khas Nadine balik lagi."
Ada kelegaan yang begitu jelas di wajahnya hingga Nadine ikut tertawa kecil.
"What a relief."
Valen mengulurkan tangan ke arahnya. "Ayo. Katanya mau makan."
Tanpa ragu, Nadine menyambut uluran tangan itu.
Xander memperhatikan keduanya sesaat. Senyum tipis terukir di wajahnya. Sulit ditebak apakah itu senyum lega, getir, atau mungkin sedikit dari keduanya.
Ia memasukkan tabletnya ke dalam tas, lalu menyusul mereka keluar dari ruangan.
Comments
Post a Comment