KAMPH (15-16)

Bab 15 – The Night Everything Felt Right

Dengan kasar Bernard menghempaskan setumpuk dokumen ke atas meja. Napasnya terhela berat berkali-kali, wajahnya muram, seakan tengah dirundung suatu permasalahan yang pelik. 

"Beristirahatlah dulu sebentar, Bos," saran Tom yang berdiri siaga di sebelahnya. "Sudah sekian lama perhatian Bos tercurah pada masalah yang satu itu, dan kini telah ada titik terangnya. Anda juga harus memikirkan kesehatan."

Bukannya mengindahkan saran si anak buah, Bernard malah memberi perintah. "Segera siapkan laporan anak-anak selama saya absen memantau. Berapa lama itu? Tiga bulan?"

"Empat bulan lebih lima hari, Bos," jawab Tom lugas. 

"Ya. Kapan bisa siap? Minggu sore sudah bisa saya dapatkan?"

"Laporan akan siap di hari Minggu siang."

"Ok." Bernard mengangguk puas. "Kita lihat seberapa merah nilai anak-anak tanpa pantauan .... Sesekali harus dikerjai seperti ini, huh, Tom? Supaya ketahuan siapa saja yang patut saya beri perhatian lebih."

Tom mengangguk takzim.


Sementara itu, di salah satu unit kondominium di tengah kota, Valen dan Nadine duduk berdampingan di sofa. Semangkuk popcorn bertengger di paha mereka berdua sebagai teman menonton, meski pada kenyataannya perhatian mereka jauh lebih banyak tersita oleh obrolan yang mengalir dan tawa yang sesekali pecah daripada acara di televisi.

Ini baru pertama kalinya Nadine menghabiskan waktu di apartemen Valen. Alasannya sederhana, setidaknya begitu kata Valen. Cuaca sedang terlalu panas, jadi lebih enak diam di rumah yang sejuk daripada keluar.

Valen mengambil beberapa butir popcorn sebelum melirik Nadine. "Eh, aku masih nunggu revisi cheesecake kamu kemarin, lho."

Nadine mengangkat alis sambil menoleh. "Cheesecake yang kurang manis itu? Oh, kamu nungguin?"

"Iyalah." Valen mengangguk santai. "Pengen tahu gimana rasanya kalau udah kamu tambah lima sampai sepuluh persen gula. Udah kepikiran belum buat buka bisnis?"

Nadine langsung manyun lucu. "Aku kan nggak kayak kamu. Mentalku masih tempe kalau ditanya bangun bisnis sendiri."

"Kan aku bisa bantu."

Nadine hanya mengangkat bahu. "Masih sirami pohon niat dulu. Lima belas persen niat aja belum ada."

"Itu lebih baik daripada nggak ada sama sekali."

Nadine tersenyum kecil, lalu menunjuk Valen dengan sebutir popcorn. "Eh, aku juga masih nunggu lagu yang kamu janjiin buat aku."

Valen menyeringai. "Berarti kita sama-sama masih utang, ya?"

"Bener."

Mereka kembali tertawa pelan sebelum suasana perlahan mengendap.

Valen memecah keheningan lebih dulu. "Ngomong-ngomong, hari Selasa kemarin waktu di ruanganku ...."

Nadine mengangkat alis, menunggu kalimat itu selesai.

"Aku sempat ninggalin kamu sama Xander berdua. Xander ada ngajak ngobrol apa?"

"Hah?" Nadine tampak berpikir sejenak sebelum menggeleng. "Nggak ada. Nggak ngobrol apa-apa."

"Sama sekali?"

"Iya." Nadine menggeleng lagi. "Begitu kamu keluar, dia langsung duduk terus sibuk sama tabletnya. Ya udah, aku ngelamun lagi sambil lihat pemandangan di luar."

Valen hanya terdiam.

"Emang kenapa?" tanya Nadine.

"Nggak." Valen mengembuskan napas pelan. "Kalian kayak bukan temen lagi. Waktu kita makan bareng juga minim interaksi."

Nadine ikut diam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pelan. "Ya gimana ya ... kaku sih. Awkward." Ia menoleh ke Valen. "Tapi kok kamu malah pengen aku temenan lagi sama dia? Nggak bakal overthinking? Aku sama dia FWB bertahun-tahun, lho."

Valen menggeleng perlahan. "Nggak pengen kalian temenan lagi, sebenarnya. Tapi ... aku juga nggak pengen lihat kalian nggak temenan. Entahlah, bingung."

Nadine tersenyum tipis penuh pengertian. "Udah aja kayak sekarang. Nggak apa-apa. Saling jaga jarak udah yang paling benar." Ia menghela napas ringan. "Toh kemarin dia berperan besar buat closure aku. Itu bentuk kepeduliannya sebagai teman, dan aku apresiasi sepenuhnya. Tapi buat akrab lagi, mending jangan."

"Kenapa?"

Nadine mengulum senyum geli. "Takut listriknya masih nyamber."

Valen yang baru saja meneguk minum hampir tersedak. "Listrik?"

"Iya." Nadine tampak heran melihat reaksinya. "Kenapa?"

"Maksud kamu ..." Valen berdeham kecil sambil menahan senyum. "Respon saraf dan hormon kalian?"

Nadine mengangguk polos. "Nyamber, kan. Kayak listrik."

Valen menggeleng sambil tertawa pelan. "Aku bisa bayangin ... kalian pasangan yang hot, ya. Pada masanya."

Wajah Nadine langsung berubah canggung. "Kenapa jadi ngomongin Xander, sih?"

"Oke." Valen mengangkat kedua tangan menyerah. "Ganti topik."

Keheningan kembali mengambil alih. Yang terdengar hanya suara televisi yang terus menyala di depan mereka.

Tak lama kemudian muncul breaking news yang menampilkan Luciano Asvathama, salah satu taipan pemilik Asvathama Group, sedang menyerahkan bantuan bagi para korban bencana.

Nadine menunjuk layar televisi.

"Orang itu ... sekaya keluarga kamu, kan?"

Valen ikut melirik televisi. "Om Luciano? Ya, kurang lebih."

"Pernah kerja bareng dia?"

"Papaku, iya. Aku belum." Valen menoleh lagi. "Kenapa?"

"Kepo aja." Nadine memperhatikan sosok Luciano di layar. "Orangnya kelihatan baik. Beda dari ..." Ia menghentikan ucapannya sendiri. "Eh, nggak jadi."

Valen tertawa kecil karena langsung mengerti. "Dari papaku?" Ia menggeleng geli. "Iya sih. Kalau dibandingin memang kayak bumi sama langit."

Nadine ikut terkekeh.

"Tau nggak, anaknya sembilan. Dan semuanya perempuan."

"Buset."

"Yang aku lihat, dia manjain semua princess-nya."

"Lucky ...."

Percakapan kembali melambat. Nadine menyodorkan mangkuk popcorn yang kini tinggal setengah sebagai isyarat menawarkan lagi, tetapi Valen menggeleng sambil tersenyum. Nadine pun meletakkannya di atas meja sebelum kembali menyandarkan tubuh di sofa.

Valen menatapnya beberapa detik. "Boleh aku nanya sesuatu?"

"Apa?"

"Kamu masih inget waktu di GBK?"

Nadine mengerling sambil terkekeh. "Yang mana? Aku kalah lari?"

Valen menggeleng.

"Si anak perempuan itu? Dea dan balonnya?"

Gelengan lain.

"Atau ...." Nadine mulai tersenyum jahil. "Soal kamu nggak fokus lari karena ngelihatin aku?"

Valen langsung salah tingkah. "Kok tahu aku nggak fokus?"

Nadine tertawa makin lebar. "Come on. Itu obvious banget."

Valen menepuk dahinya sendiri. "Sial. Nggak, bukan itu."

"Terus yang mana?" Nadine terus menggoda. "Aku cium pipi kamu terus kamu nolak mandi setelahnya?"

Valen menyeringai malu. "Sebelumnya."

"Oh ...." Nadine berpikir sejenak. "Aku jatuh nimpa kamu?"

"Setelahnya."

"Yang aku ditolak itu?"

Kali ini Valen mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya."

"Masih ingat." Nadine memiringkan kepala penasaran. "Kenapa?"

Valen memandangnya cukup lama, seolah sedang mencari keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang sudah lama tersimpan.

"Waktu itu ..." Suaranya terdengar lebih pelan. "Aku sebenarnya takut."

"Takut apa?"

"Takut ternyata aku cuma pengen kamu karena aku lagi jatuh hati."

Nadine terdiam.

Valen menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. "Sekarang perasaannya beda."

"Bedanya?"

Senyum hangat perlahan muncul di wajah Valen. "Kalau besok pagi kamu bangun di sebelahku ...." Matanya tidak pernah lepas dari mata Nadine. "Aku nggak ingin pergi."

Nadine masih diam, tetapi sorot matanya mulai bergetar.

"Entah sejak kapan ..." lanjut Valen lirih, "memilih menghabiskan hidup sama kamu jadi impian aku."

"Kamu yakin ...?" bisik Nadine nyaris tak terdengar.

Valen mengangguk mantap. "Aku cuma bisa berharap ... kamu juga punya impian yang sama."

Nadine mengangguk pelan sambil menundukkan kepala. Senyum yang muncul di wajahnya begitu lembut, sementara debar jantungnya terasa semakin sulit dikendalikan. Perlahan ia bergeser mendekat, mengangkat tangan, lalu mengusap pipi Valen dengan penuh kasih.

"Kalau gitu ..." bisiknya pelan, "kali ini bukan pintu kesempatan."

Valen mengernyit bingung.

"Ini undangan."

Senyum Valen langsung melebar. Ia menggenggam tangan Nadine yang masih menempel di pipinya, mengecup punggung tangan itu dengan penuh rasa syukur.

"Makasih."

Dengan tangan satunya, ia menarik tubuh Nadine semakin dekat hingga hanya tersisa sejengkal jarak di antara wajah mereka. Tatapan keduanya saling mengunci, sementara senyum kecil tak berhenti menghiasi bibir masing-masing.

"Apa ini bakal jadi momen bersejarah kita?" tanyanya dengan suara yang semakin rendah dan hangat. Ia kemudian meletakkan tangan Nadine perlahan di bahunya.

Nadine terkekeh pelan. Wajahnya ikut maju hingga napas mereka saling bersentuhan. "Nanti bikin prasasti."

Ia memiringkan kepala, lalu menyambut bibir Valen dengan beberapa kecupan ringan yang penuh rasa sayang.

Saat bibir mereka berpisah, Valen tidak langsung bergerak. Ia hanya memandangi Nadine seolah ingin menghafal setiap detail wajah perempuan di hadapannya. Senyum Nadine yang begitu indah membuat dadanya dipenuhi kehangatan yang sulit dijelaskan.

Pelan-pelan Valen menempelkan dahinya ke dahi Nadine hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. "Masih perlu deklarasi cinta nggak, nih?" bisiknya dengan suara rendah.

Nadine tersenyum tanpa mengalihkan pandangan.

"Aku bisa lihat dari mata kamu." Ia balas berbisik. "Aku perlu nggak?"

Valen terkekeh pelan. "Aku juga lihat dari mata kamu."

Kali ini ia kembali mengecup bibir Nadine. Ciumannya jauh lebih dalam, lebih lama, dan tak lagi dipenuhi keraguan. Nadine membalas tanpa ragu, membiarkan keduanya perlahan tenggelam dalam momen yang sejak lama sama-sama mereka tunggu.


Di Minggu pagi menjelang siang, Bernard tampak fokus membaca setumpuk dokumen berisi laporan pergaulan kelima belas anaknya. Sebagian besar tidak bertingkah macam-macam, tidak menyulut emosi Bernard. Lain halnya dengan ....

"Track record Tuan Valen yang mungkin patut Anda cermati, Bos," ujar Tom yang siaga berdiri di samping Bernard. "Beliau banyak melakukan hal yang minus," lanjutnya.

Bernard menggeleng-gelengkan kepala, di tangannya terdapat dokumen laporan Valen, yang acap kali membuatnya mengerutkan kening pertanda tidak berkenan. Dia melempar dokumen yang diperlengkapi dengan secarik foto itu. Foto Valen tengah jalan berdua dengan seorang wanita berambut ikal cokelat, wajahnya agak tersamar lantaran sudut pengambilan foto yang kurang bagus. Di bawah foto itu tertera pula penjelasan bahwa wanita itu bernama Nadine, seorang janda beranak satu dan dulu pernah berprofesi sebagai wanita panggilan.

"Lihat ini," kata Bernard dingin seraya menunjuk foto tersebut. "Dan Valentino serius dengan perempuan semacam ini?"

"Tuan Valen terpantau hampir setiap sore berkunjung ke kantor Ibu Nadine tersebut, menghabiskan waktu hingga malam di sana." Hening sejenak, lalu Tom melanjutkan, "Setiap malam minggu mereka mengadakan janji temu di beberapa tempat publik."

"Hm."

"Hari selasa lalu, Tuan Valen malahan membawa wanita itu ke kantor. Sumber di sana melaporkan bahwa kelihatannya ada polemik antara wanita itu dan seorang OB yang tak lama langsung resign. Tuan Alexander ikut terlibat. Tapi tak ada yang tahu cerita sebenarnya."

"Sangat serius," simpul Bernard sambil tersenyum dingin. 

Bernard membalik dokumen selanjutnya yang berisi rangkuman kehidupan Nadine. "Dicerai ... menjual diri ... kuliah ... kerja ...," gumamnya datar seolah tengah membaca sesuatu yang tidak bernilai. 

"Ayahnya seorang lintah darat bernama Yudhistira ... Gunawan?" Bernard mengerutkan alis sesaat, lalu melanjutkan. 

"Ibunya bernama Anisa ...." Bernard terpaku saat melihat foto wajah wanita yang bernama Anisa tersebut. 

"Mohon maaf, Bos, nama keluarga Anisa belum berhasil kami dapatkan," ujar Tom memecah keheningan. 

"Aku tahu. Dan itu tidak penting." Bernard meletakkan dokumen di atas meja. 

Tom memandang bosnya dengan tatapan heran, namun memilih tidak bertanya lebih lanjut. 

"Di mana Valentino sekarang? Di ranjang PSK itu? Panggil dia pulang," kata Bernard memberi perintah. Hawa yang sangat dingin menguar dari mata pria berwajah bengis tersebut. 


Sementara itu ....

Nadine masih tertidur menyamping, tubuhnya terbungkus selimut hangat. Dari belakang, lengan Valen melingkar santai di atas pinggangnya. Mereka berbagi selimut, berbagi keheningan, dan tanpa sadar tetap saling mendekap bahkan saat sama-sama terlelap.

Sinar matahari yang menyelinap melalui celah gorden perlahan menyapu wajah Nadine hingga membuatnya mengerjapkan mata. Sesaat ia tampak bingung melihat langit-langit kamar yang asing. Baru ketika menoleh ke belakang dan mendapati Valen masih tertidur di sana, senyum kecil langsung mengembang di bibirnya.

Pelan-pelan ia membalikkan badan hingga kini menghadap Valen.

Di saat yang hampir bersamaan, Valen ikut membuka mata.

"Pagi, Valen ...," sapa Nadine lembut.

Begitu menyadari perempuan yang kini berada di ranjangnya sedang menatapnya sambil tersenyum, Valen ikut tersenyum malu.

"... Pagi."

Nadine masih memandanginya dengan senyum jahil yang belum juga hilang. "Nyenyak tidurnya?"

"Banget."

Valen mengubah posisi menjadi telentang sambil mengucek matanya yang masih berat. Nadine justru semakin mendekat, memeluk pinggangnya dan menyandarkan kepala di bahunya dengan nyaman.

"Aku nggak pernah sebahagia ini ...."

Valen menempelkan pipinya di puncak kepala Nadine, membiarkan kalimat itu meresap sebelum menjawab pelan. "Aku juga."

Beberapa detik berlalu dalam diam yang sama sekali tidak canggung.

"Katanya orang-orang benar, ya," gumam Nadine kemudian. "Kalau melakukannya dengan cinta memang indah banget."

"Iya." Valen mengusap perlahan lengan Nadine yang memeluknya. "Dan rasanya juga nggak draining kalau dibanding tanpa feeling apa-apa."

Pelukannya mengerat tanpa sadar. "Malah ...." Ia tersenyum sendiri. "Rasanya jadi bersemangat."

Nadine terkekeh pelan, bahagia mendengar pengakuan itu.

Valen meliriknya dengan senyum usil. "Ngomong-ngomong ... semalam kita berapa ronde, ya?"

Pipi Nadine langsung bersemu merah. "Nggak ngitung."

"Oke." Valen mengangguk mantap seolah membuat keputusan penting. "Next time kita hitung bareng-bareng."

"Genitnyaa nggak ilang-ilang."

Sambil tertawa, Nadine mencubit pelan pinggang Valen sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur. "Yuk bangun. Sekarang jam berapa, sih?"

Valen mengulurkan tangan ke nakas, meraih jam digital, lalu menyipitkan mata melihat angkanya. "Anjir ... jam sebelas."

"Jam sebelas?!" Nadine langsung duduk tegak. "Ya ampun! Aku kan belum siapin makan buat Vicky!"

Ia buru-buru turun dari ranjang, tetapi Valen sempat menahan tangannya. "Relaks. Seumur dia pasti kalau lapar udah jajan duluan."

Nadine menggeleng cepat. "Tetap aja kasihan. Nanti siang dia mau tanding basket. Masa aku biarin dia cuma jajan di luar?"

Valen akhirnya melepaskan tangannya dan hanya bisa memperhatikan Nadine yang mulai sibuk mencari pakaiannya.

"Dasar emak-emak ...," gumamnya geli sambil ikut bangun dan mulai berpakaian.

Nadine yang sedang merapikan rambut langsung menoleh.

"Kan emang emak-emak." Ia terkekeh. "Kamu sendiri kok santai? Prince gimana?"

"Ada banyak babysitter." Valen memasang jam tangannya. "Aku juga udah nitip ke Kak Amel buat bantu jagain."

"Enak ya, saudaranya banyak."

Valen tertawa kecil.

"Enak nggak enak." Ia mengangkat bahu. "Ada yang nyambung, ada juga yang hobinya cari ribut. Ya kayak si you-know-who."

"Oh ...."


Tak lama kemudian mereka sudah berada di dalam mobil, melaju menuju apartemen Nadine.

Di tengah perjalanan, Nadine kembali melirik Valen. "Ngomong-ngomong, dari empat belas saudara, yang paling nyambung sama kamu siapa aja? Yang rese masih ada selain si you-know-who?"

Valen tertawa pelan.

"Ada." Ia mulai menghitung dengan jarinya. "Dari tujuh kakak, yang waktu kecil paling sering bikin aku jengkel sekaligus doyan ngebully itu Sonny, si you-know-who, sama Franco. Yang paling nyambung sama aku cuma Fredo."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalau adik-adik laki-laki sama semua saudara perempuan sih aman. We're cool."

Tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu. "Xander juga dulu lumayan nyambung sama aku. Tapi sejak kamu sama dia udahan, hubungan kami jadi agak renggang."

Nadine menunduk sedikit. "Maaf ya ... gara-gara aku."

Valen langsung tertawa kecil sambil mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Nadine.

"Nggak usah minta maaf." Jemarinya mengusap punggung tangan Nadine pelan. "Nggak perlu ngerasa nggak enak juga. Xander itu cuma kesentil egonya. Terakhir ketemu kan dia udah biasa lagi. Santai."

Mobil perlahan memasuki area lobi apartemen dan berhenti di depan pintu masuk.

"Aku nggak mampir, ya." Valen tersenyum jahil. "Nanti Vicky malah kaget lihat om-om nggak dikenal."

Nadine tertawa ringan. "Iya. Nanti aku pelan-pelan cerita ke dia."

"Deal."

Nadine memandang Valen beberapa detik sebelum senyum hangat kembali menghiasi wajahnya. "Makasih ya, Valen. Aku happy banget."

Valen balas menatapnya dengan sorot mata yang sama hangatnya. "Aku lebih dari sekadar happy."

Tanpa banyak kata lagi, mereka saling mendekat dan berbagi kecupan singkat yang lembut sebelum Nadine membuka pintu mobil.

Valen tetap duduk di balik kemudi, memperhatikan Nadine berjalan menaiki anak tangga menuju lobi. Tepat sebelum masuk ke dalam gedung, Nadine menoleh ke belakang, melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.

Valen membalas lambaian itu dengan senyum yang tak kalah lebar. Setelah memastikan Nadine benar-benar masuk ke dalam, barulah ia menginjak pedal gas perlahan dan meninggalkan pelataran apartemen dengan hati yang terasa ringan.


Belum juga mobilnya melaju jauh dari apartemen Nadine, ponsel Valen tiba-tiba berdering. Sekilas ia melirik layar yang menyala, lalu keningnya langsung berkerut saat melihat nama Tom tertera di sana.

Tanpa membuang waktu, ia memasang earbud sebelum menerima panggilan itu. "Halo."

Suara laki-laki yang tenang segera terdengar dari seberang. "Tuan Valen, kehadiran Anda ditunggu Tuan Bernard sekarang."

Kalimat itu seketika membuat hati Valen mencelos.

Selama ini, urusan dengan Bernard hampir selalu berkaitan dengan laporan bisnis atau keputusan perusahaan. Namun, satu hal yang pasti, ayahnya tidak pernah membahas pekerjaan pada hari Minggu. Hari libur adalah pengecualian yang selalu Bernard patuhi.

Kalau begitu, hanya ada dua kemungkinan.

Pertama, Bernard ingin menghabiskan waktu bersamanya dan sekadar mengobrol santai. Kemungkinan itu nyaris mustahil.

Yang kedua jauh lebih masuk akal, sekaligus jauh lebih mengkhawatirkan. Ada sesuatu yang mendesak, dan entah mengapa dirinya menjadi orang yang harus hadir.

Firasat buruk itu semakin menguat karena yang menghubunginya bukan Bernard sendiri, melainkan Tom, ajudan kepercayaan ayahnya.

Valen menggenggam kemudi sedikit lebih erat, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski detak jantungnya mulai berpacu. "Ada masalah apa, Tom?"

Alih-alih menjawab, suara di seberang tetap terdengar datar. "Apakah satu jam dari sekarang Anda bisa sampai di sini?"

Valen mendecih pelan.

Kebiasaan Tom memang tidak pernah berubah. Kalau mendapat pertanyaan, ia hampir selalu membalas dengan pertanyaan lain.

"Ya." Valen mengembuskan napas perlahan. "Paling lambat sejam lagi."

"Baik. Terima kasih."

Sambungan telepon langsung terputus.

Keheningan kembali memenuhi kabin mobil. Valen menatap jalan di depannya, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan. Semakin ia mencoba menebak alasan Bernard memanggilnya, semakin banyak skenario buruk bermunculan, dan tak satu pun berhasil membuat dadanya terasa lebih ringan.


Bab 16 – The Day Everything Changed

Tidak lama kemudian, Valen sudah tiba di ruang kerja Bernard, duduk menunggu kedatangan sang ayah. Kakinya tidak berhenti bergoyang sedari tadi, jelas merasa gugup. Apa pula tujuan Bernard memanggilnya di hari Minggu seperti ini? Dan mengapa perasaannya sungguh tidak enak? 

Sungguh, Valen sangat berharap tujuan Bernard kali ini memang membahas pekerjaan, bukan hal yang lain. Terutama, bukan mengenai fakta dirinya tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita yang pastinya tidak akan mendapat restu Bernard.

Suara pintu dibuka membuatnya menegakkan tubuh. Valen menengok ke belakang, dan, itu dia Bernard. Masih tetap seperti dulu, tidak ada yang berubah dari penampilan pria itu, seakan tidak tersentuh usia. Bernard melangkah lebar menuju meja kerjanya di mana Valen telah duduk di sana menunggu. Wajahnya datar. 

Bernard duduk di kursi kebesarannya, menatap Valen lalu mengangkat sudut bibirnya ke atas. Kesan culas dan menyeramkan menguar. "Dari mana saja kamu?" tanyanya dengan suara berat dan dalam.

Valen mengoreksi posisi duduknya. "Euh. Hang out. Dengan teman," jawabnya gelisah.

"Teman." Bernard mendengus kasar, senyum culasnya semakin menjadi. "Oke, Valen. Saya sedang malas basa-basi denganmu," katanya lagi.

Valen tidak menyahut, menunggu perkataan lanjutan dari Bernard. Debaran jantung semakin menguat.

Bernard mengambil sebuah dokumen lalu membukanya, mengunjukkannya pada Valen. Itu adalah laporan Valen lengkap dengan fotonya tengah bersama dengan Nadine. 

Wajah Valen memucat. Rupanya Bernard masih tetap memantau pergerakan dirinya! Mengapa tidak pernah terpikirkan olehnya? 

"Kamu tentu tahu mengapa saya memperlihatkan laporan ini," ujar Bernard.

Gamang, Valen mengangguk pelan. 

"Apa yang ada di otak kecilmu itu, Valen? Bisa-bisanya dekat dengan seorang wanita murahan seperti itu?"

"Dia bukan wanita murahan," koreksi Valen cepat-cepat.

"Lalu apa sebutannya?" sembur Bernard. "Wanita berkelas? Tidak ada wanita berkelas yang sengaja menawarkan jasa memuaskan kebutuhan seksual orang lain dengan sebuah imbalan berupa uang. Tidak ada wanita berkelas yang mengumbar tubuhnya untuk dijamah orang asing setiap malam. Tidak ada wanita berkelas yang sengaja memakai pakaian minim tiap malam, di pinggir jalan raya. Wanita semacam itu apa lagi sebutannya selain murahan?"

"Dia sudah tidak lagi seperti itu ...," sahut Valen, mati-matian menjaga agar nada suaranya tidak terdengar bergetar. "Dia sudah lama insyaf!"

"Kamu sendiri mengakuinya," ujar Bernard. "Katamu dia sudah tidak lagi ..., berarti memang dia pernah menjadi wanita murahan. Sekali murahan, tetap murahan, Valen. Melacurkan diri seperti itu ... alangkah nista."

"Dia sudah lama insyaf!" ulang Valen lebih keras. "Dia sekarang adalah seorang wanita karir yang terhormat, sangat tidak adil jika dia harus terus mendapat penghakiman dari banyak orang mentang-mentang masa lalunya kelam seperti itu! Dia sukses sekarang, punya karir yang cukup bagus, semua itu karena usahanya sendiri," tandasnya.

"Tentu, tentu," sindir Bernard. "Lalu bagaimana dia bisa berubah memiliki karir yang bagus? Atas usaha sendiri? Mungkin maksudnya, atas usahanya menjual jasa seksual? Dia dapat banyak uang dari situ, hingga bisa menabung, lalu menggunakan uang hasil lendir itu untuk berkuliah atau investasi skill lainnya yang membuat dia bisa mencapai posisinya yang sekarang?" terka Bernard tajam. 

Valen membeku.

"Penghasilan dari bisnis lendir tetaplah uang haram, Valen. Dalam tubuhnya mengalir darah haram ... bukan wanita baik-baik. Tidak jelas asal usulnya pula. Saya bukan menjelekkan bisnis haram mengingat saya juga mengatur beberapa bisnis yang juga haram. Saya hanya tidak ingin melihat keturunan saya terlibat dengan orang yang terjun langsung ke dunia haram semacam itu. Mengatur dari balik layar is okay, tapi untuk terjun langsung, tidak."

"Anda memang munafik," gumam Valen.

"Saya tidak bicara tentang moral. Saya hanya peduli pada status, reputasi, posisi, value. Kau pikir kolega kita di luar sana akan berpikir apa jika ada mantan PSK menjadi menantu saya? Tolong jangan bikin saya menganggapmu sebodoh itu. Perempuan semacam itu adalah bentuk investasi tidak layak yang tidak seharusnya kau dekati."

Dada Valen berdebar kencang. Rahangnya mengeras. Ingin rasanya dia berteriak di depan wajah lelaki itu, lalu membanting pintu. Namun dia masih menahan diri. 

Bernard masih melanjutkan, "Dan keterlibatanmu dengan orang itu, lagi-lagi atas dasar afeksi. Kamu hafal bagaimana pandangan saya terhadap afeksi."

Valen memejamkan mata kuat-kuat. Berharap ini hanya mimpi buruk. 

"Papa," panggil Valen pelan, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri. Dia menguatkan hati, mengangkat wajahnya. "Aku mohon. Sejak kehadirannya...Baru kali ini aku merasa kembali hidup."

"Hidupmu hanya di sini. Di Orison Silver Light. Dan siapa tahu kamu mendapat giliran memimpin Orison Golden nanti saat saya dan Andrew pensiun."

Hening yang mencekam. 

"Ini benar-benar lampu merah untukmu, Valen. Jauhi perempuan itu mulai detik ini."

Valen merasa lemas seketika. Vonis telah dijatuhkan.

"Bukannya kamu selama ini sudah bisa mengikuti cara main saya? Bukankah kamu selama ini selalu menemukan wanita yang lolos standar saya sehingga kamu bisa berteman? Dan mungkin memiliki anak dengan teman kamu itu? Lalu wanita yang sekarang ini ... lampu merah, Valen. Saya sediakan waktu khusus untuk menegurmu lantaran saya marah padamu, mengapa kamu bisa-bisanya dekat dengan seorang wanita yang pernah menjadi pelacur," ungkap Bernard.

Valen diam dan menundukkan kepala. Betapa dia tidak berkenan dengan sebutan kasar Bernard terhadap Nadine. "Pa, tolong jangan sebut dia serendah itu," katanya menahan geram. 

"Memang dia rendah. Dan mengapa kamu lengah? Mengapa kamu dekati mantan pelacur, mau cari apa kamu? Cari penyakit? Untuk kesekian kalinya kamu terlibat afeksi! Lagi lagi dan lagi, kamu tidak menggunakan akal sehatmu dan malah lebih mengutamakan hati.” Tatapan Bernard tetap dingin, nyaris tanpa emosi. 

“Apa kamu sudah lupa apa yang terjadi padamu lantaran kamu ngeyel mengejar afeksi?”

Kalimat itu membuat Valen tak mampu mengangkat kepala.

Beberapa saat kemudian Bernard mengalihkan pandangannya ke sebuah papan besar yang berdiri tak jauh dari tempat mereka. "Lihat itu."

Valen perlahan mengangkat wajah, mengikuti arah tatapan ayahnya.

Di sana berdiri sesuatu yang sejak kecil selalu disebut saudara-saudaranya sebagai The Board.

Sekilas bentuknya memang menyerupai papan silsilah keluarga, tetapi susunannya jauh lebih mirip bagan organisasi sebuah perusahaan. Nama sang pendiri berada paling atas, lalu bercabang menjadi setiap garis keturunan berikutnya. Jalur pewaris utama ditandai dengan garis yang lebih tebal, sementara cabang keluarga yang dianggap gagal diarsir abu-abu seolah tidak lagi memiliki masa depan. Nama para penerus yang masih diperhitungkan diberi lingkaran emas.

Foto dan nama Valen masih terpajang di sana, berdampingan dengan saudara-saudaranya.

Namun, yang paling mengerikan justru bukan nama-nama yang masih ada.

Di beberapa titik tampak bekas pin yang dibiarkan kosong, pertanda bahwa pernah ada seseorang di sana sebelum akhirnya dicabut. Ruang kosong itu seolah menjadi pengingat bahwa seseorang pernah menjadi bagian dari keluarga ini, lalu dihapus dari dinasti mereka. Entah karena gagal, dibuang, atau dianggap tidak lagi layak.

Bekas itu terasa jauh lebih menyeramkan daripada sekadar menghilangkan nama mereka tanpa jejak.

Selain silsilah keluarga, The Board juga berfungsi sebagai papan prestasi sekaligus papan hukuman, tempat nilai seseorang ditentukan berdasarkan manfaatnya bagi dinasti. Melihatnya saja sudah cukup untuk menyadarkan siapa pun bahwa, bagi Bernard, keluarga bukanlah sekumpulan orang yang dicintai, melainkan sebuah garis keturunan yang harus dijaga apa pun caranya.

"Namamu ..." suara Bernard memecah keheningan, "... pernah satu kali saya cabut dari papan itu."

Kepala Valen kembali tertunduk.

"Kamu lupa ini adalah kesempatan terakhirmu?"

Valen hanya mampu menggeleng pelan.

"Bagus." Bernard menarik napas panjang, lalu menatap putranya tanpa sedikit pun nada iba. "Berarti kamu masih ingat."

Sesaat ia membiarkan keheningan menggantung di antara mereka sebelum melanjutkan dengan suara yang sama datarnya.

"Kalau begitu, tentunya kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang."

Tatapannya tetap terpaku pada Valen.

"Pergilah."

Valen memang ingin segera angkat kaki dari hadapan Bernard. Bertemu dengan kepala keluarga satu itu memang seringkali menguras habis energinya. Dengan gontai dia melangkah keluar dari ruangan itu.

Bukan hanya hatinya yang sengaja dipatahkan oleh Bernard, tapi juga semangatnya .... 


Di sebuah gelanggang olahraga, tribun stadion basket sudah dipenuhi penonton. Sorak-sorai menggema dari berbagai sudut, menyambut pertandingan antara tim basket SMA Pratama Arunika melawan SMA Adikara Bangsa.

Nadine baru saja kembali ke tribun setelah mengantar Vicky ke ruang ganti. Melihat suasana yang begitu ramai, ia tersenyum kecil. Rasanya sayang kalau momen seperti ini tidak diabadikan, apalagi ia telah terbiasa berbagi hal-hal kecil dengan Valen.

Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kunci layar, lalu mulai menggeser ikon-ikon aplikasi untuk mencari kamera. Namun, sebelum sempat membukanya, sebuah notifikasi WhatApp muncul di bagian atas layar.

Valen: Barusan aku menghadap Bernard.

Napas Nadine seolah terhenti.

Matanya langsung membulat, sementara rasa tidak enak yang sejak tadi tidak pernah benar-benar hilang mendadak menyeruak lagi.

Tanpa berpikir panjang, ia segera membuka aplikasi WhatApp. Begitu masuk ke ruang obrolan mereka, ia langsung menyadari ada sesuatu yang aneh. Pesan yang baru saja muncul di notifikasi itu sudah tidak ada.

Sebagai gantinya, hanya tertulis kalimat singkat.

This message was deleted.

Nadine menatap layar beberapa detik. Dihapus ...?

Kenapa?

Bukankah tadi jelas tertulis, Barusan aku menghadap Bernard.

Dadanya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin ia percayai. Namun, ia buru-buru menepis pikiran itu.

Mungkin salah kirim.

Bisa saja Valen sebenarnya ingin mengirim pesan itu ke salah satu saudaranya, lalu buru-buru menghapusnya.

Dengan keyakinan yang bahkan tidak terdengar meyakinkan di kepalanya sendiri, Nadine mulai mengetik.

Nadine: Haai. Kok dihapus?

Pesan terkirim.

Lima menit berlalu.

Belum juga centang biru.

Tepat saat itu, kedua tim memasuki lapangan. Sorakan penonton langsung membahana, membuat seluruh stadion bergemuruh menyambut para pemain yang berbaris di tengah arena.

Nadine berusaha mengalihkan pikirannya. Ia mengangkat ponsel, memotret barisan kedua tim, lalu mengirimkan hasil fotonya kepada Valen.

Nadine: Lagi nonton basket nih. Tebak yang mana Vicky.

Pesan itu ikut terkirim.

Sepanjang pertandingan berlangsung, Nadine tetap bersorak setiap kali Vicky dan timnya mencetak poin. Ia tersenyum, bertepuk tangan, bahkan beberapa kali berdiri mengikuti riuhnya penonton.

Namun, di sela-sela semua itu, tangannya berkali-kali meraih ponsel. Sesekali ia menyalakan layar, mengecek ruang obrolannya dengan Valen, lalu kembali menguncinya saat mendapati kedua pesannya masih berstatus centang dua.

Begitu lagi.

Dan lagi.

Hingga peluit panjang akhirnya berbunyi, mengakhiri pertandingan yang dimenangkan oleh tim sekolah Vicky, tak ada satu pun balasan dari Valen.

Bahkan kedua pesan itu masih belum berubah menjadi centang biru.


Seminggu kemudian.

Fredo dan Valen makan siang bersama di restoran salah satu hotel bintang lima setelah menghadiri meeting yang lokasinya tak jauh dari sana.

Dengan sengaja Fredo memilih area outdoor. Saat waiter mengantar mereka ke meja, ia melirik Valen sambil memasukkan tangan ke saku celana.

"Meeting tadi bikin kepala gue ruwet. Butuh nikotin sedikit. Gak apa, kan? Lo masih ngerokok gak sih?"

Valen mengangguk pelan, nyaris seperti robot. "Masih. Santai."

Begitu duduk, Fredo langsung menyalakan rokok dan menyandarkan tubuh dengan santai di kursinya. Sambil mengembuskan asap, matanya diam-diam mengamati Valen yang duduk kaku, memandang entah ke mana. Tatapan itu mengarah ke deretan tanaman yang menghiasi sisi luar restoran, tetapi saat Fredo ikut mengikuti arah pandangnya, ia sama sekali tidak menemukan apa pun yang menarik di sana.

Ia mendecak pelan, lalu melempar bungkus rokok ke dekat tangan Valen. "Ambil tuh. Bengong."

Valen menundukkan kepala, menatap bungkus rokok itu beberapa saat sebelum mengambil sebatang. Gerakannya lambat dan kaku. Setelah menyulut api, ia mengisap rokoknya dalam diam.

Semakin lama melihatnya, semakin terganggu pula Fredo.

"Lo belakangan ini kenapa sih? Rasanya bengong mulu."

Valen hanya mengisap rokoknya, mengembuskan asap perlahan, lalu kembali mengisap tanpa memberi jawaban.

Fredo menggeleng. "Untung lo cuma begini kalau lagi gak kerja. Coba aja tadi pas meeting lo kayak gini. Bernard bisa ngamuk setengah mati. Apalagi belakangan bokap lo itu makin gampang meledak."

Valen mendengus pelan. Senyum sinis tipis muncul di sudut bibirnya ketika ia mengetukkan abu rokok ke asbak. "Gue masih berfungsi."

"... You should sih." Fredo mengernyit. "Lo kenapa?"

"Nothing."

Jawabannya terdengar datar. Ia mengisap rokok lebih dalam, seolah ingin menelan habis semua pertanyaan itu bersama kepulan asap.

Fredo mengembuskan napas panjang. "Lo harus buru-buru nikah deh kayaknya. Bokap lo udah nyiapin calon buat lo belum sih?"

Valen hanya mengangkat bahu. "Who cares."

Fredo baru hendak menimpali ketika sebuah suara menyela dari belakang mereka.

"Hei, guys."

Xander muncul sambil tersenyum tipis.

"Hei, sini lo," panggil Fredo, lalu menoleh pada Valen. "Eh, gue ajak Xander juga. Lo berdua udah gak ada beef lagi, kan?"

"Nothing to worry about," jawab Xander santai. Ia menarik kursi, duduk, lalu melonggarkan dasinya sebelum menepuk pelan bahu Valen.

"Hei," sahut Valen datar tanpa repot menoleh.

Percakapan mereka terputus ketika waitress datang mengantarkan pesanan. Setelah semua hidangan tersusun rapi di atas meja dan waitress pergi, Fredo baru kembali membuka suara.

"Xan, lo liat tuh sepupu lo. Belakangan jadi begini. Gue tanya kenapa juga gak pernah dijawab."

Xander mengalihkan pandangan pada Valen. "Lo kenapa, Val?"

Valen bergantian melirik Xander dan Fredo dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. "Apanya yang kenapa? I said nothing."

"Lagi berantem sama Nadine?"

Ada sesuatu yang berkedip singkat di mata Valen. Ia tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengambil pisau dan mulai memotong steak di piringnya dengan sangat teliti, seolah itu jauh lebih penting daripada pertanyaan tadi.

"Nadine?" Fredo langsung menoleh penasaran. "Oh ... cewek yang kabarnya lagi deket sama lo itu? Udah jadian belum sih? Si Michael ngebacot terus soal Nadine. Emangnya bener yang dia omongin?"

"Mungkin." Jawaban itu keluar begitu saja, nyaris tanpa nada, sebelum Valen mulai menyuapkan potongan steak ke mulutnya.

Alih-alih ikut makan, Xander justru terus memperhatikan wajah sepupunya. Ada yang terasa sangat tidak biasa. "Gue pikir lo bucin banget sama Nadine."

Kali ini Valen langsung menyahut, lebih cepat dari sebelumnya. Nada suaranya terdengar jelas menyimpan kekesalan. "She's not mine, alright."

Tatapannya beralih ke Xander. "You go ahead, kalau masih minat dengan aktivitas itu."

Xander terdiam sesaat. Baru sekarang ia benar-benar menangkap sesuatu yang selama ini tidak terlihat. Ada luka yang samar, tetapi nyata, di balik mata Valen.

"... Lo ditolak?" gumamnya pelan, lalu menggeleng sendiri. "Gak mungkin."

Valen meletakkan garpu dan pisau di tepi piring, lalu menatap Xander tanpa ekspresi. "Sekali lagi nama itu disebut, gue pulang duluan."

Suasana meja langsung berubah canggung.

Xander dan Fredo saling melempar pandang. Keduanya sama-sama menyadari ada sesuatu yang tidak beres, tetapi tak satu pun memilih mengungkitnya lagi.

Tepat saat keheningan itu menggantung, ponsel Valen yang tergeletak di atas meja bergetar panjang.

Tanpa sengaja, mata Xander dan Fredo sama-sama jatuh ke layar.

Nadine.

Nama itu terpampang jelas.

Namun alih-alih mengangkat panggilan, Valen hanya menekan tombol kunci hingga layar kembali gelap.

Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar lagi.

Nadine menelepon untuk kedua kalinya.

Valen kembali mematikan layar.

Tak lama berselang, panggilan ketiga masuk.

Kali ini pun hasilnya sama.

Dengan rahang yang semakin mengeras setiap kali ponsel itu bergetar, Valen terus memilih menguncinya tanpa sekalipun menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan, tetapi luka yang berusaha ia sembunyikan justru semakin kentara.

Xander dan Fredo kembali saling bertukar pandang. Rasa curiga mereka kini jauh lebih besar daripada sebelumnya. Meski begitu, keduanya tetap memilih diam, memutuskan tidak ikut campur.


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.