KAMPH (17-18)
Bab 17 – Cara Paling Kejam Untuk Mencintai
Jumat
malam kembali membawa Valen ke kebiasaan lamanya. Ia duduk sendirian di bar
Klub Tunasmara, ditemani gelas demi gelas minuman. Beberapa orang yang
mengenalnya sempat menyapa, namun hanya dibalas dengan senyum tipis. Cukup
sopan agar tidak dianggap angkuh, tanpa memberi ruang untuk mengobrol.
Di
sisi lain ruangan, Xander juga berada di sana. Ia sengaja memilih tempat yang
cukup jauh sehingga bisa mengamati Valen tanpa menarik perhatian.
Sementara
itu, Fabiola dan Vania baru saja mengambil minuman di bar.
“Lho,
itu si Valen,” ujar Fabiola pelan.
Vania
mengikuti arah pandangan Fabiola. “Eh, bener! Kasih tahu Nadine, gih. Dia kan
minta dikabarin kalau kita ketemu Valen.”
Ucapan
itu membuat telinga Xander langsung menangkap percakapan mereka. Potongan
informasi itu semakin menguatkan dugaannya. Hubungan Valen dan Nadine rupanya
jauh lebih rumit daripada sekadar soal siapa yang meninggalkan siapa.
“Ternyata
si Valen sama aja,” gerutu Vania. “Udah bikin Nadine percaya sepenuhnya,
ujung-ujungnya malah ghosting. Cowok kalau udah dapet yang dimau emang suka
kurang ajar.”
Fabiola
baru menyadari ada Xander berdiri tak jauh dari mereka. “Ssst.”
Diam-diam
ia mengambil foto candid Valen, lalu langsung mengirimkannya kepada Nadine.
“Done.
Yuk balik ke lounge.”
Mereka
pun pergi sambil membawa minuman masing-masing.
Valen
masih termenung di depan gelas ketiganya. Saat ia mengangkat kepala, napasnya
langsung tertahan.
Nadine
berdiri beberapa meter di depannya.
Wajah
Valen seketika berubah tegang. Tanpa berpikir panjang, ia segera berbalik dan
meninggalkan bar.
“Valen!”
Nadine
langsung mengejarnya.
Xander
ikut bergerak dari kejauhan, menjaga jarak sambil diam-diam mengikuti mereka.
Valen
mempercepat langkah. Suara Nadine yang terus memanggil namanya terdengar jelas
di belakang, namun ia justru berjalan semakin cepat. Sayangnya, kerumunan orang
yang sedang mengantre masuk membuat lajunya terhambat.
Begitu
akhirnya sampai di parkiran dan membuka pintu mobilnya, sebuah tangan lebih
dulu menahan lengannya.
“Valen!”
Suara
Nadine bergetar karena kelelahan sekaligus menahan emosi. “Kamu kenapa sih?”
Valen
mengembuskan napas kasar. Dengan satu hentakan, ia melepaskan tangan Nadine
dari lengannya, lalu berbalik menghadap perempuan itu. Tatapannya sedingin
batu. “Lo yang kenapa?”
Nadine
menatapnya bingung. “Maksudnya ...?”
“Ngapain
lo ngejar gue? Telepon terus. Obsesi banget sama gue. Creep.”
Nadine
terpaku. Matanya perlahan dipenuhi air. “Kok gitu? Kamu yang ... kamu yang
ghosting aku.”
Valen
terkekeh sinis. “Ghosting? Emang apa gunanya ghosting cewek kayak lo?”
Nadine
hanya bisa menatapnya tak percaya.
“Gue
bilang sekali aja. Setelah ini berhenti kejar gue.” Nada Valen tetap datar. “Lo
jangan kepedean. Lo pikir gue serius sama lo? Huh?”
Keheningan
menggantung beberapa detik.
“Gue
cuma eksperimen aja sama lo,” lanjutnya. “Lumayan. Ternyata lo gampang banget
dikelabuhi.”
Air
mata Nadine akhirnya jatuh. “Cuma ... eksperimen?” Suaranya bergetar. “Jadi
selama ini kamu cuma akting?”
Valen
hanya menyilangkan tangan di depan dada. Wajahnya tetap dingin, nyaris tanpa
celah.
“Aku
pikir kamu punya hati .... Terus yang kamu lakuin buat bikin aku damai sama
masa laluku, juga cuma akting aja?”
Senyum
sinis kembali terbit di bibir Valen. “Siapa yang bilang gue punya hati?”
“Kamu
... ternyata sama aja kayak cowok Ghandy yang lain?”
“Ya
gue memang Ghandy. Bukannya udah jelas dari nama gue?”
Nadine
menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis. “Puas udah mainin aku?”
Valen
mendecak pelan. “Gue tertarik sama lo cuma karena lo cantik. Kalau gue mau
perempuan, di klub juga banyak. Buat gue, lo cuma boneka.”
Kalimat
terakhir itu terdengar berbeda. Sangat tipis, namun cukup jelas. Ada patahan
kecil yang gagal ia sembunyikan.
Nadine
menangkapnya.
Ia
menatap Valen lama sekali. Mata laki-laki itu memang dingin, namun jauh di
balik tatapan tersebut ada luka yang begitu jelas hingga sulit disembunyikan.
Kalau
semua ucapan tadi benar-benar berasal dari hatinya, seharusnya tidak akan ada
keretakan sekecil itu.
Ingatan
Nadine langsung melompat pada pesan terakhir yang pernah dikirim Valen sebelum
menghilang.
Barusan
menghadap Bernard.
Pesan
itu langsung dihapus beberapa detik kemudian.
Saat
itu ia mengira Valen salah kirim.
Sekarang
semuanya terasa masuk akal.
Pesan
itu bukan salah kirim. Itu adalah reaksi spontan Valen sesaat setelah dipanggil
Bernard dan dipaksa menjauh darinya.
Valen
menangkap perubahan di mata Nadine. Ia tahu perempuan itu mulai menyusun
kepingan-kepingan yang selama ini berserakan.
Cepat-cepat
ia membalikkan badan, membelakangi Nadine. “Udah jelas, kan? Jangan kejar gue
lagi.”
Nadine
menggeleng pelan. “Kamu sempat kirim pesan tentang Bernard ... lalu langsung
kamu hapus. Itu pesan terakhir yang kamu kirim ke aku.” Air matanya kembali
mengalir. “Kamu sengaja ghosting supaya aku benci sama kamu. Iya, kan? Itu kamu
sengaja, kan? Kamu lebih milih aku ngebenci kamu daripada bilang yang
sebenarnya ....”
Punggung
Valen menegang.
“Aku
yakin. Kamu gak mungkin tiba-tiba berubah jadi orang seperti ini. Setelah semua
yang kamu lakukan ... gak mungkin kamu begini.”
“Kata
siapa?” jawab Valen tanpa menoleh. “Lo benci atau enggak juga bukan urusan gue.”
“Papa
kamu yang nyuruh kamu jauhin aku, kan?”
Valen
tetap diam.
“Makanya
kamu berusaha bikin aku benci sama kamu.”
“Lo
masih aja kegeeran.”
“Udah,
cukup!” Nadine melangkah maju, lalu memeluk Valen dari belakang.
“Gak
usah bohong lagi, Valen ....” Isaknya pecah. “Aku tahu. Walaupun kamu gak
ngomong, aku tahu. Jadi jangan nyakitin diri kamu sendiri dengan bohong terus
....”
Valen
membeku. Pelukan itu terasa begitu hangat hingga seluruh benteng yang susah
payah ia bangun mulai retak.
Matanya
memerah.
Di
balik gelapnya parkiran, air mata akhirnya lolos tanpa bisa ia tahan.
Nadine
terus menangis di punggungnya. “Aku harusnya marah karena kamu segitu mudahnya
disetir papa kamu. Tapi aku gak bisa .... Aku sadar diri aku pernah jadi apa
.... Aku ngerti.”
Nadine
masih terisak. “Aku gak akan minta kamu tetap sama aku. Aku tahu kamu terpaksa.”
Bahu
Valen mulai bergetar.
“Mungkin
kita memang belum berjodoh,” lanjut Nadine lirih. “Gak apa-apa. Aku bisa
nerima. Kamu juga harus bisa nerima keadaan ini.”
Ia
menarik napas panjang sebelum kembali berkata, “Makasih buat semuanya, Valen
.... Setidaknya karena kamu, aku jadi tahu kalau aku juga pantas dicintai.”
Nadine
merasakan getaran halus di bahu laki-laki itu semakin jelas. “Kamu pasti kuat
menghadapi semua ini. Walaupun aku gak ada di samping kamu ... aku yakin kamu
bakal sanggup. Aku juga akan berusaha kuat.”
Valen
menundukkan kepala semakin dalam.
Dengan
suara yang nyaris hilang ditelan malam, ia akhirnya berbisik, “... Makasih,
Nad.”
Di
balik pohon yang cukup besar, Xander menyaksikan semuanya tanpa bersuara. Tak
ada niat untuk muncul atau ikut campur. Setelah memastikan percakapan mereka
benar-benar usai, ia perlahan berbalik dan melangkah kembali menuju klub,
membiarkan Valen dan Nadine menyelesaikan perpisahan mereka dengan cara mereka
sendiri.
Sepanjang
langkahnya, kepalanya dipenuhi berbagai pikiran yang saling bertabrakan.
Di
satu sisi, ia nyaris mencibir dalam hati melihat betapa dramatisnya perpisahan
dua orang itu. Menurutnya, segala sesuatu selalu bisa diselesaikan dengan cara
yang lebih sederhana daripada saling menyakiti demi alasan yang dianggap mulia.
Di
sisi lain, ia sadar keadaan telah berubah. Hubungan Valen dan Nadine
benar-benar telah berakhir. Itu berarti jalan yang selama ini tertutup kini
terbuka di hadapannya.
Namun
kesadaran itu justru membuatnya ragu.
Nadine
tidak sedang membutuhkan laki-laki yang penuh ambisi atau pandai menyusun
strategi. Yang dibutuhkan perempuan itu hanyalah seseorang yang tulus. Xander
mendadak bertanya pada dirinya sendiri apakah ia memiliki ketulusan semacam
itu, atau semua yang ia lakukan selama ini selalu didorong oleh kepentingan dan
perhitungan.
Bayangan
Valen yang mati-matian memaksa dirinya tampil tanpa hati juga terus
menghantuinya. Xander tetap tidak menyukai cara itu, tetapi kini ia mengerti
alasan di balik setiap kata kejam yang diucapkan Valen. Laki-laki itu sengaja
memilih menjadi orang jahat di mata Nadine agar perempuan itu mampu
melepaskannya.
Lalu
pikirannya kembali berhenti pada satu kenyataan lain yang sejak dulu
mengusiknya.
Nadine
pernah terseret ke dunia gelap.
Terlepas
dari apa pun penyebabnya, kenyataan itu tetap membuatnya menyayangkan jalan
hidup yang pernah dilalui perempuan tersebut.
Sebulan
kemudian, Valen masih berada di kantor Orison Silver Light ketika malam sudah
lewat jauh. Jarum jam sudah menunjukkan sekitar pukul sembilan, tetapi ia masih
duduk di balik meja kerjanya yang hampir tak terlihat karena tumpukan dokumen
dan cahaya laptop yang tak berhenti menyala. Dari luar, ia tampak seperti
seseorang yang hanya fokus bekerja. Dari dalam, pikirannya tidak benar-benar
diam sejak lama.
Ketukan
terdengar di pintu, lalu sekretarisnya masuk sambil membawa berkas yang
sebelumnya diminta. Ia meletakkannya di meja dengan hati-hati. Wajah perempuan
itu jelas terlihat lelah.
“Pak
Valen, ini dokumen yang Bapak minta.”
Valen
tidak mengangkat kepala, matanya tetap pada layar. “Trims. Taruh saja di situ.”
Selly
ragu sebentar, lalu menguatkan suara. “Apakah ada lagi yang Bapak perlukan?”
Valen
melirik sekilas ke arloji di tangannya, lalu kembali ke laptop. “Gak ada. Kamu
pulang saja. Sudah malam.”
“Baik,
terima kasih, Pak. Saya pamit pulang.”
Begitu
pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Valen tetap di posisinya, seolah tidak
menyadari orang lain sudah pergi sejak tadi.
Tak
lama kemudian ponselnya bergetar. Valen berhenti dari aktivitasnya, menatap
layar sebentar sebelum memasang earbud dan mengangkat panggilan itu dengan
gerakan yang nyaris tanpa jeda.
“Halo.”
Suara
Amelia langsung terdengar, cepat seperti sudah menunggu dari tadi. “Belom
pulang?”
Valen
bersandar pelan di kursinya. “Bentar lagi.”
“Lo
belakangan ini kayaknya pulang malem mulu. Sibuk amat?”
Ada
jeda singkat di sisi Valen, sebelum ia menjawab tanpa mengubah nada. “Hm.”
Di
seberang, Amel menghela napas kecil, seperti sudah menduga jawaban itu akan
kembali muncul. “Prince nyariin lo terus, gue bingung mau jawab apa lagi selain
bilang papa lagi kerja.”
Valen
menatap layar laptop yang masih menyala di depannya, lalu menjawab sambil
sedikit menggeser posisi duduknya. “Ya emang lagi kerja. Dia udah tidur? Udah
makan?”
“Makan
udah.” Suara Amel terdengar lebih pelan sejenak, lalu lanjut lagi, “Tapi
barusan gue cek masih dibacain cerita sama nanny. Susah tidur kayaknya tuh
anak. Lo pulang napa?”
Valen
terdiam sebentar, tangannya mengetuk pelan sisi meja tanpa sadar. “Ya bentar
lagi.”
“Lo
hindarin bokap, bukan?”
Pertanyaan
itu membuat Valen berhenti sepenuhnya. Matanya sedikit naik, lalu kembali
turun. “Kenapa gitu?”
“Keliatan
jelas, Dek.”
Valen
tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain di ruangan,
seperti sedang mencari alasan yang tidak perlu diucapkan. “Tolong lo temenin
Prince tidur deh.”
Amel
langsung mendengus kecil, campuran kesal dan pasrah. “Yeeee. Malah ganti topik.
Eh gue lama-lama jadi emaknya Prince beneran. Untung tuh anak keponakan
kesayangan gue.”
Valen
tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. “Kan emang Aunty Amelia yg paling luar
biasa.”
“Rayuan
lo gak mempan.” Amel terdengar menyandarkan diri, mungkin di sofa atau kursi,
suaranya jadi sedikit lebih santai. “Lo bagi waktu deh. Gak bisa gini terus.
Gue udah denger rumor kalau calon laki gue udah ditentukan. Kalau gue udah
nikah, keluar dari rumah, Prince sama siapa?”
Valen
mengusap pelipisnya sebentar, lalu menjawab singkat. “Ya.”
“ ‘Ya’
apa?” Amel langsung menyambar, suaranya naik sedikit. “Ih, gak jelas. Udah ah.
Pulang lo.”
Sebelum
Valen sempat menambahkan apa pun, sambungan sudah terputus.
Valen
melepas earbudnya pelan, lalu kembali ke layar laptop. Setelah beberapa menit
terakhir pekerjaan selesai, ia bersandar di kursi, meregangkan punggungnya yang
terasa kaku.
Ponselnya
ia ambil lagi. Tidak banyak yang menarik di sana, hanya percakapan kerja yang
terus bertambah. Ia menggulir tanpa benar-benar membaca sampai jarinya berhenti
di satu nama.
Nadine.
Ia
membuka percakapan itu. Seluruh layar dipenuhi pesan dari Nadine, semuanya satu
arah, sementara tidak ada balasan dari dirinya. Sejenak ia hanya menatapnya,
diam. Lalu ia ingat bagaimana semuanya dimulai, ketika ia mencoba membuat
Nadine menjauh dengan sengaja menghilang dari hidupnya.
Satu
pesan yang pernah terkirim tanpa ia rencanakan kembali terlintas di kepalanya,
pesan tentang dirinya yang baru saja menghadap Bernard. Saat itu ia sempat
panik, langsung menghapusnya, namun Nadine ternyata sempat membacanya. Sejak
saat itu, Nadine tampaknya menganggap semua sikap dinginnya hanya bagian dari
sandiwara yang ia mainkan. Dan itu memang benar.
Jarinya
sempat bergerak di atas layar, seolah ingin mengetik sesuatu, lalu berhenti. Ia
mencoba lagi, tetapi kembali menghapusnya. Pada akhirnya ia meletakkan ponsel
itu di meja, membiarkan layar padam.
Apa
pun yang ia lakukan untuk menyibukkan diri, termasuk menekan
karyawan-karyawannya dengan beban kerja yang lebih berat dari biasanya, tidak
benar-benar berhasil meredam pikirannya sendiri. Rasa rindu itu tetap ada,
bahkan terasa semakin kuat.
Matanya
kemudian beralih ke sudut ruangan, ke sebuah tas gitar yang sudah beberapa
waktu ia tinggalkan di kantor. Ia bangkit, mengambilnya, lalu duduk di sofa. Di
dalamnya, selain gitar, ada beberapa lembar kertas berisi coretan lirik dan
chord yang pernah ia tulis di sela-sela pikirannya yang berantakan.
Tanpa
banyak kata, ia mulai memainkan gitar itu lagi di tengah sunyi, membiarkan
waktu berjalan sampai jauh melewati tengah malam.
18 – Rindu yang Tak Bisa Pulang
Setiap
bulan, Klub Tunasmara menggelar acara Live Music Night. LA Band yang digawangi
Liam sebagai salah satu VVIP Member, menjadi penampil utama hampir setiap
bulan, namun setiap beberapa bulan sekali slot tersebut diberikan kepada band
indie pilihan sebagai bentuk dukungan terhadap musisi lokal.
Seperti
malam ini.
Lampu
panggung masih hangat ketika Liam akhirnya mundur setengah langkah dari
mikrofon. Ia mengangkat botol air, meneguk panjang, lalu menyapu pandang ke
kerumunan yang masih riuh.
“Gue
udah habis.” Suara Liam terdengar serak, tapi ada senyum kecil di ujungnya. “Tapi
kalian belum.”
Sorakan
langsung meledak lagi, ada yang meneriakkan nama LA Band, ada yang masih minta
encore. Liam mengangkat tangan, menenangkan.
“Encore
gue terakhir udah tadi. Sekarang .…” Ia melirik ke arah bar, lalu ke kerumunan.
“Gue kasih panggung ini ke siapa aja yang berani.”
Kerumunan
sempat bingung satu detik, lalu pecah lagi jadi teriakan-teriakan iseng,
dorongan, tawa, seolah itu cuma candaan manis dari seorang frontman yang lagi
capek tapi masih mau bermain.
Di
sisi bar, Valen duduk seperti biasa. Tidak menonton terlalu fokus, tapi juga
tidak benar-benar pergi. Gelasnya hampir kosong. Lampu klub yang remang membuat
wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, mata yang seperti selalu menyimpan
sesuatu yang tidak selesai.
Beberapa
orang di sekitarnya mulai saling pandang.
“Valen
aja!” Seseorang berteriak dari kerumunan kecil yang mengenalnya.
Yang
lain langsung ikut.
“Valen
kan dulu main musik!”
“Gue
belum pernah denger dia nyanyi sih .…”
“Ya
justru itu!”
Dorongan
mulai datang dari beberapa arah. Awalnya bercanda, lalu berubah jadi serius.
Dua orang menarik pelan lengannya. Seseorang dari bar mengangguk ke arahnya
seolah berkata: coba saja.
Valen
mengangkat tangan sedikit, menolak. “Gue nggak manggung lagi,” katanya pelan.
Suaranya
hampir tenggelam di musik sisa dari band. Tapi orang-orang yang dekat dengannya
sudah terlanjur antusias.
“Sekali
aja, Val!”
“Liam
aja udah nyuruh!”
Valen
menggeleng lagi. Lebih pelan kali ini.
Matanya
sempat naik ke panggung.
Liam
masih di sana. Berdiri santai di dekat monitor speaker, minum, memperhatikan
keributan itu seperti seseorang yang baru saja melempar kunci ke udara dan
menunggu siapa yang menangkapnya.
Pandangan
mereka bertemu sekilas. Tidak ada tekanan di wajah Liam, hanya rasa penasaran.
Valen
mengalihkan mata.
Seharusnya
dia tetap duduk di tempatnya. Namun entah kenapa, tubuhnya bergerak duluan
sebelum pikirannya selesai berdebat.
Ia
berdiri.
Seseorang
langsung bersorak, seperti sudah menang taruhan kecil yang tidak diumumkan. Ada
tepuk tangan yang belum rapi, masih setengah tidak percaya.
Valen
berjalan pelan ke arah panggung. Langkahnya tidak seperti orang yang siap
tampil. Lebih seperti orang yang sedang lupa kenapa dia setuju.
Liam
menyambutnya di sisi panggung, mencondongkan badan sedikit. “Wih, saudaranya
Xander. Serius?” tanya Liam, setengah tersenyum.
Valen
tidak menjawab. Hanya mengangkat bahu kecil. “Gue nggak janji bagus,” gumamnya
akhirnya.
“Di
sini nggak ada yang lagi ujian.” Liam tertawa pendek. “Lo mau nyanyi lagu apa?
Silakan kalau mau briefing anak band gue sebentar.”
Valen
menggeleng. “Gue nyanyi lagu ciptaan gue sendiri. Ada gitar?”
Liam
mengangkat alis, seolah tak percaya dengan yang barusan dia dengar. “Mantap.
Gue gak sangka ada Ghandy yang bisa bikin lagu sendiri.” Ia menepuk bahu Valen
sekali, lalu menyerahkan gitar akustik yang ada di samping panggung.
Valen
menerima gitar itu. Beratnya terasa familiar.
Lampu
panggung bergeser, sedikit meredup dari warna ramai ke satu fokus hangat di
tengah.
Valen
duduk di stool.
Tidak
ada band, pun tidak ada backing. Hanya dia seorang.
Kerumunan
mulai pelan. Bahkan yang tadi berisik ikut diam tanpa sadar.
Jari
Valen menyentuh senar. Cek nada sekali. Dua kali.
Hening.
Lalu
ia mulai bermain.
Nada
pertama terdengar sederhana. Namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat ruangan
terasa lebih sempit ... lebih dekat.
Valen
menunduk sedikit, seolah tidak ingin melihat terlalu banyak orang. Lalu dia
bernyanyi.
Suaranya
tidak meledak, justru tenang dan berat, serak-basah, seperti suara yang terlalu
lama dipendam di tenggorokan yang tidak benar-benar sembuh.
“Every
moment is filled with your presence ... I don't know how many times I've
thought of you. Thinking about the memories of you and me. The memories that
have gone by. Thinking about those lonely nights. They are all because of you
... All the emotions I have for you ... Have slowly become a part of my life.
You are the one I miss. You are the one I want to rely on. From the moment you
walked into my life. I have never been able to forget you.”
Kalimat
itu keluar pelan, tapi jelas. Beberapa orang di depan panggung langsung
berhenti bergerak.
Valen
melanjutkan, jari-jarinya mengalir di gitar akustik seperti ingatan yang sudah
terlalu sering diputar ulang.
“I
won't tell you ... About the relationship between you and me. I won't say how
much I miss you. I won't even tell you ... How much I want you. Even though I
know ... That we can never be together. I still think of you.”
Di
bar, beberapa gelas berhenti di tengah jalan ke mulut. Di lantai dansa,
orang-orang mulai saling melihat, lalu diam.
Liam
yang tadi santai sekarang berdiri lebih tegak, satu tangannya masih memegang
botol air, tapi tidak diminum lagi.
Valen
tetap tidak menatap kerumunan. Matanya hanya sesekali turun ke gitar, seperti
satu-satunya hal yang masih bisa dia kontrol.
“I'll
be missing you, I miss you ... Thinking of you makes me want to cry. How can I
not miss you? I'll be missing you, missing you ... Until the day I see you
again”
Suara
itu sedikit pecah di ujung kalimat, tapi justru di situ sesuatu terasa lebih
nyata. Lampu di atasnya hangat, tapi wajahnya tetap seperti bayangan yang tidak
sepenuhnya tersentuh cahaya.
“Missing
you …” Kali ini lebih pelan dan lebih jujur.
Dan
seluruh klub, tanpa ada yang menyuruh, tiba-tiba seperti lupa cara berisik.
Di
akhir bait, Valen tidak langsung berhenti. Ia menahan satu detik tambahan di
senar terakhir. Seperti takut hening setelahnya akan lebih berat dari lagu itu
sendiri.
Senar
terakhir Valen masih bergetar pelan di udara ketika ia akhirnya mengangkat
tangannya dari gitar.
Hening
itu tidak langsung pecah. Seolah semua orang di dalam klub butuh satu detik
ekstra untuk memastikan mereka benar-benar sudah selesai mendengar sesuatu.
Valen
masih duduk. Kepala sedikit menunduk. Tidak ada gestur minta tepuk tangan,
tidak ada senyum kemenangan. Hanya napas pelan yang mencoba kembali normal.
Lalu
baru suara pertama muncul. Tepuk tangan yang pelan, berasal dari satu sudut
dekat panggung. Lalu menyebar seperti gelombang yang tidak bisa lagi ditahan.
Dan
tiba-tiba klub itu hidup lagi, tapi dengan cara yang berbeda dari sebelumnya,
seperti apresiasi yang agak bingung kenapa hati mereka terasa ikut berat.
Liam
berdiri di sisi panggung. Ia tidak langsung ikut tepuk tangan. Tangannya masih
menggantung di udara, matanya terpaku pada Valen.
Liam
menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil. Seperti senyum orang yang baru
mengerti sesuatu. “... Gila,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar bahkan
oleh dirinya sendiri.
Ia
melangkah naik ke panggung, mendekati Valen.
Kerumunan
masih bertepuk tangan, beberapa bersiul, tapi tidak ada yang mencoba memecah
momen itu jadi keramaian lagi.
Liam
berdiri di belakang Valen sebentar, lalu mencondongkan badan sedikit. “Lo
bilang nggak janji bagus,” katanya pelan.
Valen
hanya mengangkat bahu kecil, masih tidak banyak bicara. Jari-jarinya perlahan
melepas posisi di senar, seperti baru sadar tangannya masih di sana.
Liam
tertawa pendek, tapi kali ini ada sesuatu yang lebih serius di dalamnya. “Kalau
ini nggak bagus,” Liam menggeleng kecil, “gue harus redefinisi semua yang gue
sebut ‘bagus’.”
Valen
tidak menjawab.
Liam
menatap kerumunan lagi. Dan di sana, ia melihat sesuatu yang jarang terjadi di
klub malam. Orang-orang tidak sibuk sendiri. Beberapa masih diam, seperti baru
keluar dari pikiran masing-masing. Ada yang memegang ponsel, menekan rekam
sedari tadi. Ada yang baru sadar mereka tidak bersorak keras-keras seperti
biasanya.
Mungkin
memang begitulah bila sebuah lagu jatuh di tempat yang tepat. Tunasmara selalu
dipenuhi orang-orang yang datang membawa kisah yang nyaris serupa. Cinta yang
kandas, lamaran yang gagal, pesan yang tak pernah dibalas, atau nama yang masih
sulit dihapus dari kepala. Mereka biasa menertawakannya di balik dentuman musik
dan gelas-gelas yang saling beradu. Namun beberapa menit barusan, tak ada yang
bisa bersembunyi di balik itu.
Beberapa
justru saling berkata pelan:
“Siapa
dia tadi?”
“Gue
kira dia cuma sepupunya Xander .…”
“Suara
dia … aneh ya, tapi bagus banget.”
“Lagunya
tadi bikin merinding sih.”
“Nyelekit
banget, asli.”
Seseorang
di dekat bar masih menatap panggung, lalu berkata setengah tidak percaya. “Dia
tadi bilang ‘I miss you’ ... kayak beneran.”
Alexander
yang duduk di sisi bar sejak awal dan mengamati semua yang terjadi, kini makin
terpaku di kursinya. Tentu saja dia tahu, lagu yang dinyanyikan Valen barusan
ditujukan pada Nadine, meski Valen tak mengatakannya.
Dalam
benaknya berlarian pemikiran 'Seperti itukah yang disebut cinta?'. Namun tiap
kali kata cinta tercetus, ia buru-buru mengoreksi pikirannya sendiri. Seolah
satu kata itu adalah kuman haram yang wajib dibasmi.
Tapi
pemikiran itu terus menerus mengganggunya.
Franco
menepuk bahu Xander dari belakang, lalu merangkulnya. “Damn. Baru sekarang gue
dengar adek gue nyanyi. Lo lihat tadi?”
Xander
hanya mengangguk singkat.
Amelia
yang datang bersama Franco mengangguk antusias. “Itu tadi ... keren banget sih.
Pantesan Valen pernah mau kejar cita-cita jadi musisi. Berbakat gitu!”
“Cita-cita
anak Ghandy itu hanya boleh seluas istana Ghandy dan semua bisnisnya.” Franco
menyahut datar, seolah sedang mengungkapkan hal paling normal sedunia.
“Ih
... padahal Valen potensial loh ....” Amel menyambung dengan ekspresi
murung.
Di
area lounge tempat geng feminis biasa berkumpul, Fabiola menurunkan ponselnya
perlahan setelah tadi merekam sebagian besar performance Valen. Wajahnya
menyimpan sesuatu yang tampak berat untuk dituangkan dalam kata-kata.
Vania
yang duduk di sebelahnya, menggeleng-gelengkan kepalanya karena kagum. “Berarti
benar kata Nadine ... Valen tuh beda. Dia sengaja nge-ghosting cuma biar Nadine
benci. Tapi buktinya, tuh, bucin banget.”
“Lo
mau kirim video itu ke Nadine, Fab?” Seseorang bertanya.
“Hmm.”
Fabiola termenung sesaat. “Gak usah aja kali yah. Kalau Nadine jadi resmi sama
Valen, dia gak bisa main lagi sama kita di sini.”
Liam
kembali menatap Valen, kali ini lebih lama. “Lo sering di sini?” tanya Liam
akhirnya, nada suaranya lebih rendah.
Valen
mengangguk pelan.
“Sering
minum juga?”
Valen
menghela napas kecil, hampir seperti tertawa tanpa suara. “… iya.”
Liam
mengangguk, seperti menghubungkan titik-titik yang tidak ingin ia simpulkan
terlalu cepat. “Harusnya gue dari dulu suruh lo naik panggung,” katanya
akhirnya.
Valen
menatapnya sekilas. “Gue juga nggak kepikiran gue bakal naik.”
Liam
tersenyum tipis. “Yang kayak gini … biasanya nggak direncanain.”
Ia
menepuk bahu Valen sekali, lalu berdiri tegak lagi, menghadap crowd. Dan untuk
pertama kalinya malam itu, Liam tidak terlihat seperti orang yang ingin
menguasai panggung. Lebih seperti orang yang baru saja sadar panggungnya bisa
berubah kapan saja, kalau orang yang tepat berdiri di sana.
Tak
lama Liam mentraktir Valen di bar, sebagai hadiah lantaran sudah menyumbang
lagu.
“Itu
tadi lagu ciptaan lo sendiri? Lo yang nulis sendiri, dari scratch?” Liam
bertanya sekali lagi memastikan, usai menenggak minumannya.
“Yes.”
Valen mengangguk, menyesap minuman.
“Anjir.”
Liam masih tampak terkesima. Lirik lagu yang Valen ciptakan itu masih terngiang
di benaknya. Lirik yang sederhana, namun 'ngena'. Seperti lagu yang terasa
ditulis oleh orang yang benar-benar pernah kehilangan.
“Lo
keren banget, Valen.” Rhea, second vocalist LA Band mengajak Valen toast. “Lo
dah biasa manggung?”
Valen
menyambut ajakan toast. “Dulu. Udah lama banget.”
“Oooh.
Gue pernah dengar cerita tentang lo dari Xander. Lo yang pernah kabur dari
rumah karena mau serius nge-band itu ya?” MJ, drummer band, menimbrung.
Valen
tersenyum hambar. “Begitulah. Tapi urung.”
“Gak
mau nge-band lagi, Val?” tanya Rhea.
Valen
menggeleng. “Musik diharamkan di keluarga gue.”
“Whaaaaaat.”
Rhea nyaris lupa berkedip.
Xander
muncul, menimbrung mereka. “Cepet akrab kalian.”
Liam
meninju ringan bahu Xander. “Lo gak pernah bilang punya saudara yang expert
musik.”
Xander
mengangkat alis. “Gue belom bilang?”
Rhea
masih menatap Valen dengan pandangan penasaran. “Jadi bermusik cuma sekedar
hobi? Gak mau diseriusin aja? Lebih pilih kursi direktur empuk di kantor ber-AC
ya?”
Xander
menatap Valen.
Valen
balas menatap Xander. Lalu menjawab pertanyaan Rhea. “Gue rasa emang seharusnya
demikian.”
“Yaaaelah,
sayang banget.”
“Tapi
lo masih bisa nyambi bikin lagu, kan?” Liam mencari celah. “Coba lo kirim ke
gue. Penasaran aja pengen lihat.”
Valen
mengangkat alis. Tangannya ringan mengambil ponsel lalu scrolling galeri
fotonya. Ada beberapa foto kertas bertuliskan lirik-lirik lagu yang pernah dia
buat selama ini. Dia mengunjukkannya pada Liam.
Liam
menerima ponsel Valen dan mencermati isinya. Rhea dan MJ ikutan mengintip dari
balik bahu Liam.
“Anjir
....” Liam berdesis pelan.
Ia
lanjut membaca lembar berikutnya.
“Anjir.”
“Kenapa
sih anjir mulu?” protes MJ yang ikut mengintip dari belakang.
Liam
menoleh. “Karena ini bagus, goblok.”
Rhea
merebut ponsel dari tangannya lalu membaca beberapa foto berikutnya.
Beberapa
detik kemudian, perempuan itu mengangkat kepala. “Seriusan, Val. Lo nyimpen
beginian sendirian?”
Valen
mengernyit bingung. “Memangnya kenapa?”
“Karena
lirik-lirik lo hidup.” Rhea mengembalikan ponsel itu. “Ada banyak orang bisa
bikin kalimat puitis. Tapi gak banyak yang bisa bikin orang percaya sama
kalimatnya.”
Valen
hanya melongo.
Liam
langsung maju sedikit di kursinya. “Oke. Sekarang kita bahas hal penting.”
“Apaan?”
“Gue
pengen dengar lagu-lagu ini.”
“Buat
apa?”
“Karena
gue curiga sebagian dari ini bisa jadi lagu yang sangat bagus. Lo demoin ke
kita.”
“Terus?”
“Kalau
ada yang cocok, kita garap bareng.”
“Buat
LA Band?”
“Iya.”
Liam menyeringai. “Anggap aja kita sama-sama eksperimen. Siapa tahu suatu hari
lagu-lagu ini bisa nyeret kita ke tempat yang lebih jauh dari klub ini.”
“Lo
terlalu pede,” kata Valen kemudian.
“Boleh
dong mimpi.”
“Mentang-mentang
mimpi gratis.”
“Nah,
makanya gue punya banyak.”
Xander
menggeleng, senyum sinis terbit di bibirnya. “Lo lupa, Val? Mimpi itu buat
orang yang lagi tidur. Bangun. Bidang ini bukan jalan lo.”
Valen
menatap Xander tak bersuara.
Liam
memutar bola mata sebelum mendorong bahu Xander menjauh. “Ini meeting LA Band.
Yang gak berkepentingan harap menyingkir.”
Xander
langsung mengangkat kedua tangan seolah menyerah. “Wow, santai. Gue cuma mau
ngingetin si Valen.” Tatapannya beralih ke Valen, lalu ia menggeleng pelan. “Not
it.”
Setelah
melempar peringatan singkat itu, Xander berbalik dan menjauh.
“Jangan
dengerin dia,” kata Liam tanpa ragu.
Valen
hanya membalas dengan senyum kecut.
“Lo
tau?” Liam melanjutkan. “Banyak produser bilang, kalau sebuah lagu cuma pakai
gitar sama vokal aja udah tetap bagus, berarti fondasinya memang kuat. Kayak
lagu lo tadi di panggung.”
“Hmmm.”
Valen mengangguk tipis, masih mencerna ucapan itu.
“Makanya
gue jadi kepo sama lagu-lagu lain yang ada di kepala lo.” Liam menatapnya
lurus, kali ini dengan nada yang lebih serius. “Lo mau, kan, kasih gue denger?”
Valen
terdiam beberapa detik untuk berpikir, lalu akhirnya mengangguk. “Oke. Kasih
gue waktu.”
“Deal.”
Senyum
puas langsung muncul di wajah Liam ketika ia menepuk-nepuk bahu Valen, seolah
baru saja mendapatkan jawaban yang memang sudah ia harapkan sejak awal.
Comments
Post a Comment