KAMPH (19-20)

19 – Apa Bahagia Memang Harus Sembunyi-Sembunyi?

Valen duduk di balkon kamarnya dengan notebook terbuka di pangkuan. Tangannya sibuk menulis sesuatu, sementara sesekali terdengar senandung pelan mengikuti melodi yang hanya ada di kepalanya.

“Hayo ngapain?”

Suara itu muncul tiba-tiba dari belakang hingga Valen refleks terlonjak.

“Amel! Lo mau bikin gue jantungan?!”

Amel hanya menyeringai sebelum mengambil kursi di sebelahnya. “Kirain lo ke mana. Prince lagi asyik main sama yang lain tuh di bawah.”

“I know.”

“Lo juga lagi asyik banget, kayaknya.” Amel melongok ke arah notebook di tangan Valen, tetapi sebelum sempat membaca apa pun, Valen buru-buru menutupinya. “Bikin lagu ya?”

Valen menggeser posisi duduknya, lalu menutup notebook itu rapat-rapat. “Jangan bilang-bilang, please.”

“Yaelah, kayak gak kenal gue aja. Kapan gue pernah cepu?”

Valen mengembuskan napas lega.

“Lo tuh emang berbakat,” lanjut Amel. “Suara lo bagus. Bisa nyanyi, bisa bikin lagu. Sayang aja bakat itu gak kepakai di sini.”

Valen hanya membalas dengan senyum getir.

“Terus, lagu itu buat apa? Lagi ada inspirasi?”

“Ya, salah satunya.” Valen mengangguk pelan. “Temennya Xander, si Liam, katanya minat denger demo gue. Ini masih lirik doang sih.”

“Eh, bagus dong.”

“Ya iseng-iseng aja.”

Amel mengangguk-angguk kecil. 

“Lo sendiri gimana? Semalem jadi first date sama calon suami lo?” tanya Valen kemudian. 

“Jadi.”

“Terus? Lo nge-feel?”

Amel mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke kursi. “Nggak tuh. Mana mungkin. Dia juga gak feel sama gue.”

Valen terdiam beberapa saat sebelum berkomentar, “Bakal jadi pernikahan yang membosankan.”

“Hmm.”

“Eh, aneh banget tuh cowok. Masa iya dia gak suka sama lo? Lo kurang cakep apa?”

“Orang dia sukanya laki-laki.” Amel menjawab datar, seolah itu fakta paling biasa di dunia.

“WHAT?!”

Amel mengangguk santai. “Gue dari awal juga udah dikasih tahu. Gue langsung protes dong ke bokap lo. Masa anaknya dijodohin sama laki-laki yang gak doyan perempuan? Gak make sense. Eh, bokap lo malah bilang gue pasti bisa bikin tuh cowok berubah orientasi.”

Valen mengernyit kesal. “WTF, Kak. Lo jangan mau. Kenapa orientasi orang jadi urusan lo coba?”

Amel memutar bola mata. “Lo kayak gak tau bokap lo aja.”

Valen mendengus gemas. “Pasti keluarga tuh cowok potensial banget bawa cuan buat Ghandy.”

“Exactly.”

“Gila ... bokap lo tuh emang ....” Valen menggeleng pelan, kehabisan kata. “Astaga, gue gak tau lagi mau ngomong apa. Terus gimana? Masa lo tetap nikah sama dia?”

“Ya biar aja.” Amel mengangkat bahu. “Gue sama dia nikah kan buat pencitraan doang. Dia mau pacaran sama siapa juga, EGP. Gue sendiri jadi bebas mau jalan sama siapa. Asal cara main dia pinter, no problem.”

Valen hanya menggeleng-geleng .

“Tapi ya ....” Amel tersenyum tipis. “Justru gue lega calon gue gak suka perempuan.”kepala

“He?”

“Jadi hati sama tubuh gue gak terbagi.”

Valen menatapnya bingung.

Amel malah tersenyum malu-malu. “Gue sebenarnya lima tahun ini punya pacar di luar sana. Jangan bilang-bilang ya.”

Valen balas menatapnya dengan ekspresi nyaris horor.

“Laki-laki biasa kok. Tapi dia cinta banget sama gue ... dan gue juga. Cuma dia yang bisa bikin gue ngerasa utuh.” Senyum Amel melembut saat mengingatnya. “Dia udah tau bentar lagi gue nikah, tapi gue sama dia bakal tetap lanjut. No matter what.”

“...Lima tahun?” Valen mengulang pelan. “Lima tahun, Mel?? Kok lo gak pernah cerita? Kok gak ketahuan bokap lo?”

Amel meliriknya dengan senyum usil. “Gue mainnya rapi. Main cantik. Emangnya lo, apa-apa ketahuan.”

Ia terkikik sendiri, sementara Valen langsung memasang wajah kesal.

“Selama ini dia gue sembunyiin di kondo gue. Jadi kalau kangen, tinggal ke sana. Kita gak pernah keluar bareng, jadi aman. Gak kedeteksi si Tom.”

Valen masih terdiam, berusaha mencerna semuanya.

“Kalau dibilang gue ngehidupin laki, ya bodo amat.” Amel mengangkat bahu ringan. “Dia yang bikin gue ngerasa hidup, kok.”

“Lo gak khawatir dia bakal punya pacar lain?”

Amel menggeleng mantap. “Enggak. Dia tuh memuja gue.”

Valen mendecak. “Kepedean.”

“Ih.” Amel tertawa kecil. “Ayo kapan-kapan gue kenalin. Lo bakal lihat sendiri dia setulus itu.”

Valen berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Ide bagus. Kenalin ke gue. Gimanapun juga, gue gak suka kakak gue dimanfaatin sama cowok yang siapa tau diam-diam punya agenda lain.”

Amel menyeringai lebar. “Baik banget sih adikku. Deal.”

“Terus?” Valen kembali bertanya. “Kalau suatu hari lo diminta kasih cucu gimana? Secara suami lo kan begitu. Jangan sampai malah lo yang hamil sama pacar backstreet lo.”

Amel kembali mengangkat bahu. “Lihat nanti. Yang jelas tuntutan itu gak bakal muncul dari bokap lo. Cucu yang dia nanti-nantiin cuma dari anak laki-laki.”

“Ya, bener sih ....” Valen mengembuskan napas panjang. “Tapi gue rasa lo malah pengen hamil dari pacar backstreet lo.”

Amel hanya membalas dengan senyum yang makin lebar. “Gue bakal happy banget kalau emang kejadian.”

 

Sabtu itu, Valen menemani Amelia menghadiri meeting dengan wedding organizer untuk membahas detail pernikahan. Dummy undangan sudah selesai dicetak dan kini berada di tangan Amel. 

Amel mengamatinya beberapa saat sebelum tersenyum tipis. “Bagus ya.”

“Bagus.” Valen ikut melihat undangan itu, lalu mendengus pelan. “Nama pasangan lo aja yang gak bagus. Gue gak percaya Eric beneran ada meeting dadakan sampai gak bisa datang.”

“Yee, ngegas.”

“Lo tuh ....” Valen menggeleng, makin terganggu oleh ketenangan Amel yang nyaris tanpa protes. “Lo yakin bakal nikahin dia? Emang lo bakal bahagia?”

Amel menoleh dan menatapnya sebentar. “Emang gue kelihatan bahagia?”

Keheningan singkat menggantung di antara mereka sebelum Amel kembali menatap undangan di tangannya.

“Hidup tuh lucu, Val. Gue cinta yang lain, Eric cinta yang lain, tapi gue sama Eric malah nikah.” Nada suaranya tenang, tetapi menyisakan getir yang sulit disembunyikan.

“Terus lo lagi yang ngurus semua urusan WO.” Valen mengembuskan napas panjang. “Mau-maunya lo dikerjain Bernard.”

“Anggap aja gue lagi main coba-cobain gaun di sini.” Amel terkekeh kecil. “Lo temenin gue fitting sama milih suvenir, kan?”

“Males.”

Amel langsung menoleh. “Dih?”

“Kalau lo nyambut pernikahan sama orang yang lo cinta, gue gak masalah nemenin. Tapi ini kan kebalikannya.” Valen menyandarkan tubuh ke kursi sambil menyilangkan tangan. “Males gue. Mending gue ketemu pacar lo duluan aja deh. Si Johan.”

“Hah?”

“Suruh Eric aja yang nemenin lo. Yang ribet harusnya berdua, bukan lo sendirian.” Senyum usil mulai muncul di wajah Valen. “Gue udah gak sabar pengen kenalan sama Johan. Pengen lihat cowok macam apa yang bikin lo bucin.”

“Lah, lo mau kenalan duluan? Gak sama gue?”

“Lo nyusul aja nanti.”

Amel terkekeh. “Emang lo gak canggung kenalan sendirian?”

Valen mengangkat sebelah alis. “Kenapa mesti canggung? Dia orang, kan? Normal, kan?”

“Ya kali aja mati gaya.”

Sebagai jawaban, Valen menadahkan telapak tangannya ke arah Amel. “Kartu akses kondo lo sini. Sekalian gue inspeksi mendadak. Kali aja dia lagi sama cewek.”

Amel langsung merengut. “Dia gak mungkin kayak gitu, ya. Seenaknya aja lo ngomong.”

Meski mengomel, tangannya tetap merogoh tas dan mengeluarkan kartu akses kondominiumnya. “Nih. Biar lo buktiin sendiri.”

Valen menyambut kartu itu dengan seringai jahil. “Ngebela banget. Ya udah, gue buktiin.”

 

Beberapa lama kemudian, Valen sudah tiba di depan pintu unit kondominium Amel. Ia membuka pintu menggunakan kartu akses, lalu melangkah masuk.

Unit itu terlihat rapi dan harum. Samar-samar terdengar suara musik dari dalam, membuat Valen otomatis memperlambat langkah. Begitu melewati foyer, ia bisa melihat ruang makan di balik partisi. Di atas meja, beberapa sajian sudah tertata dengan plating yang menarik. Dua set piring dan cutleries tersusun rapi di masing-masing sisi meja, sementara lilin menyala di tengah-tengahnya.

Valen mengerjapkan mata beberapa kali, jelas bingung. Ini disiapkan buat sambut Kak Amel? Serius? Ada cowok yang begini?

“Amel?”

Suara seorang cowok terdengar dari arah dapur. Bersamaan dengan itu, musik yang tadi mengalun samar tiba-tiba menghilang.

Valen langsung gelagapan.

“Amelia? Kok diem? Kamu, kan?”

Seorang cowok muncul dari arah dapur. Rambutnya gondrong sebahu, tubuhnya telanjang dada, hanya mengenakan celana pendek dan apron, sementara sebuah whisk masih berada di tangannya.

Valen langsung melongo.

Bukan cuma karena penampilannya, tapi juga karena baru sekarang ia menyadari kalau pacarnya Amel ternyata punya badan yang cukup atletis. Jelas anak gym.

Cowok itu juga tampak kaget melihat orang asing berdiri di ruang makannya. “Woi, lo siapa??”

Ia berjalan cepat menghampiri Valen, tetapi baru beberapa langkah, ekspresinya berubah ketika ia mulai mengenali wajah di depannya.

“Bentar. Lo ... Valen, bukan?”

Valen masih berusaha mencerna banyak hal sekaligus. Ia akhirnya berdeham kecil sebelum menjawab, “Iya. Gue Valen, adiknya Amel. Lo Johan?”

“Wah, bener!” Johan langsung terlihat lega. “Untung gue ngafalin wajah saudara-saudara Amel lewat foto. Dia cerita yang paling dekat sama dia itu namanya Valen. Jadi lo orangnya ....”

Ia menggoyang-goyangkan whisk yang masih berlumur adonan tepat di dekat wajah Valen.

Valen refleks meringis, bukan cuma karena takut terkena percikan adonan, tetapi juga karena tingkah Johan yang sama sekali tidak terduga.

Johan baru sadar apa yang dilakukannya. “Wah! Sorry, sorry! Gue lagi bikin kue tadi!” 

Ia buru-buru menaruh whisk di atas counter. Baru setelah itu ia menunduk dan menyadari penampilannya sendiri.

“Duh. Mana gue kayak gini lagi.” Ia menepuk dahinya pelan. “Bentar ya, gue pakai baju dulu.”

Johan kemudian setengah berlari menuju kamar.

Valen hanya berdiri bengong sambil menatap kepergiannya.

Selera Amel unik amat? Seriusan nih, gue nggak salah orang?

Dari dalam kamar, Johan tiba-tiba berteriak. “Kok lo di sini, Valen? Amel mana? Nggak sama lo?”

“Dia lagi meeting sama WO. Nanti nyusul ke sini.”

“Nah! Iya, dia bilang hari ini meeting sama WO!”

Johan keluar dari kamar beberapa saat kemudian, kali ini sudah berpakaian lengkap. Ia berjalan kembali ke ruang makan sambil melanjutkan ceritanya. “Nggak bilang kelar jam berapa, tapi katanya mau langsung ke sini. Makanya gue masakin kesukaan dia.”

Valen mengangkat alis, lalu melirik ke meja makan. Kali ini ia memperhatikan isi hidangan satu per satu. Setelah beberapa detik, ia baru sadar kalau hampir semuanya memang makanan kesukaan Amel.

“Ini lo yang masak?”

“Ya siapa lagi, lah?”

Valen mengangguk-angguk kecil. Oke. Johan tahu kesukaan Amel, checked. Johan bisa masak dan baking, checked. Bapak rumah tangga, checked.

Satu per satu kecurigaan yang tadi muncul di kepalanya mulai kehilangan bahan bakar.

“Amel nggak bilang bakal ada gue datang?”

“Itu! Dia nggak bilang sama sekali tuh kalau adiknya mau datang!”

Valen meringis, lalu melirik Johan dari atas ke bawah. “Makanya lo nggak pakai baju, karena ngira cuma Amel doang yang datang?”

Johan hanya nyengir tanpa merasa perlu menyangkal.

Valen menarik napas dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya sendiri seolah berusaha menghapus sesuatu dari ingatan. “Oke. Gue harus enyahkan bayangan adegan apa aja yang mungkin disaksikan tembok unit ini.”

Johan mengangguk-angguk penuh pengertian. “Bener. Jangan dibayangin. Pilihan tepat.”

Valen menatapnya datar selama beberapa detik, lalu memutuskan tidak menanggapi.

Johan justru sudah beralih topik. “Eh, mau minum? Minum apa? Teh, kopi, whiskey? Atau sirup?”

“Es teh manis. Ada balkon nggak di sini? Boleh smoking?”

“Boleh di balkon, tapi asapnya jangan sampai masuk, ya. Amel nggak suka.”

Johan langsung berjalan ke dapur untuk menyiapkan minuman.

Valen mengangguk pelan. Bagian itu setidaknya membuatnya sedikit mengakui bahwa Johan memang sudah mengenal Amel dengan baik. Ia tahu Amel benci asap rokok, sama seperti bagaimana Amel kadang akan memarahinya kalau mencium bau rokok dari pakaian Valen.

Valen kemudian berjalan menuju balkon dan mulai menyalakan rokok.

Tidak lama kemudian, Johan menyusul sambil membawa segelas es teh. Ia menaruh minuman itu di atas meja kecil di antara mereka sebelum duduk di salah satu kursi.

“Gue taruh sini minuman lo.”

“Thanks.”

Valen ikut duduk. Mereka kini hanya terpisah sebuah meja kecil. Ia menyeruput es tehnya dan langsung mengangguk kecil. Rasanya enak, segar, dan manisnya pas.

“Gue emang ditawarin Kak Amel buat kenalan sama lo. Rencananya sore ini, after meeting sama WO. Tadi gue sempat nemenin dia bentar. Cuma sempat lihat dummy undangan.” Valen kembali menyeruput tehnya sebelum melanjutkan dengan nada santai, “Dan gue males kalau harus nemenin fitting sama pilih suvenir segala. Apalagi gue tahu backstory calon suaminya itu. Jadi, ya ... gue duluan ke sini deh. Sekalian inspeksi mendadak.”

Ia melirik Johan dari sudut mata.

Johan mengangguk-angguk, tampaknya tidak terlalu terganggu dengan istilah itu. “Kenapa inspeksi mendadak segala?”

“Gue rasa wajar kalau ada kecurigaan tertentu setelah dengar keberadaan lo disembunyikan Amel di sini.”

Johan tertawa ringan. “Kecurigaan yang valid. Tapi lo tenang aja.”

Valen menatapnya beberapa saat. Ekspresi Johan tetap lempeng dan santai, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang merasa tertuduh atau perlu membela diri.

Valen akhirnya mengangguk-angguk lagi. “Oke. Lo kerja? Kegiatan lo apa aja? Atau di sini doang sehari-hari?”

“Kebetulan gue chef pastry, di bakery artisan nggak jauh dari sini. Dari subuh sampai siang kerja, sorenya nge-gym. Kalau lagi ada Amel, ya quality time berdua. Malemnya tidur. Normal.”

Johan menyandarkan tubuhnya dengan santai, lalu terkekeh kecil. “Ini juga tadi begitu pulang kerja gue langsung ngebut masak. Takut Amel keburu datang. Eh, nggak taunya masih nanti-nanti.”

“Chef pastry,” gumam Valen, seperti baru saja mencatat satu informasi penting. Entah kenapa, pikirannya langsung melayang pada Nadine dan cheesecake buatannya yang kurang manis, tetapi tetap enak itu.

Ia menoleh lagi pada Johan. “Pantesan lo pinter masak, ya. Lebih seneng masak atau pastry?”

“Dua-duanya punya tantangan masing-masing.” Johan berpikir sebentar, lalu tersenyum. “Tapi kalau harus milih... pastry, sih!”

Ia tertawa ringan, kemudian melirik Valen dengan tatapan penuh arti. “Maklum, doyan ngadon. If you know, you know.”

Mata Valen langsung membesar. Ia mengusap wajahnya pelan, seolah berharap bisa menghapus kalimat barusan dari kepalanya. “Oke. Too much info.”

Ia kembali mengisap rokoknya, sementara Johan hanya nyengir puas melihat reaksinya.

Setelah beberapa saat, Valen kembali membuka percakapan. “Lo kenal Amel gimana ceritanya? Lo nggak masalah dia bakal nikah sama orang lain?”

Johan yang tadinya santai perlahan terdiam. Senyumnya menghilang, dan wajahnya berubah lebih serius sebelum akhirnya ia menjawab.

“Dia dulu langganan jajan croissant di bakery tempat gue kerja. Belakangan gue baru tahu ternyata dia sengaja datang tiap hari cuma buat lihat gue.” Johan tersenyum tipis, seolah masih bisa mengingat masa itu dengan jelas. “Gue juga langsung suka sama kakak lo. Ya, gitulah. Tahu-tahu udah akrab. Udah intim.”

Valen langsung mendengus. “Lagi-lagi, too much info.”

Johan terkekeh kecil.

“Dia dari awal udah bilang kalau kami selamanya bakal backstreet.” Ia mengangkat bahu santai. “Kayak nama boyband.”

Valen menatapnya beberapa saat. “Lo nggak masalah?”

“Mau gue masalahin juga bakal dapat apa gue?” Johan menjawab tanpa ragu. “Yang ada gue sama Amel pisah. Gue nggak bisa kalau harus pisah dari Amel.”

Kali ini Johan tidak tertawa. Ia terdiam cukup lama, kemudian menundukkan wajahnya.

“Apapun yang terjadi di sistem keluarga lo yang eksentrik itu ....” Suaranya lebih pelan sekarang. “Gue nggak peduli. Asalkan gue masih bisa sama Amel.”

Valen tidak langsung menjawab.

Johan menarik napas sebelum melanjutkan, masih dengan pandangan tertuju ke lantai. “Gue sebenarnya udah berkali-kali ajak Amel pergi. Kawin lari.”

Valen mengernyit. “Terus?”

“Dia nggak mau.”

“Kenapa?”

“Katanya kalau dia kabur, Bernard bakal buru kepala gue duluan.”

Valen mendengus pasrah. “Seratus.”

Johan akhirnya mengangkat wajahnya lagi dan tersenyum kecil.

“Tapi dipikir-pikir lagi...” Ia mengangkat bahu. “Justru bagus calon suaminya Amel punya orientasi yang beda. Gue jadi nggak perlu kepikiran.”

Valen menatapnya lekat-lekat sebelum akhirnya bertanya, “Dan lo bakal terima aja selamanya bakal begini terus sama Amel? Nggak bakal resmi. Nggak bakal bisa keluar bareng bebas, misalnya jalan-jalan, piknik, atau semacamnya. For real?”

Johan mengangguk pelan. “Ya ...” Ia terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Habis mau gimana lagi?”

Valen ikut mengembuskan napas panjang sambil kembali mengisap rokoknya.

Johan menatap ke depan dengan ekspresi tenang. “Gue nggak minta banyak. Yang penting gue sama Amel tetap bersama.”

Valen menoleh padanya. “Lo cinta banget sama dia.”

Johan mengangguk pasti. Kali ini senyumnya muncul dengan sederhana, tanpa sedikit pun nada bercanda ketika ia menatap Valen.

“Dia satu-satunya orang yang gue cinta.” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Gue nggak punya siapa-siapa lagi selain Amel.”

Valen memperhatikannya beberapa detik, seperti sedang menilai apakah semua yang dikatakan Johan benar-benar datang dari hati. Sejauh yang bisa ia lihat, cowok itu terdengar jujur.

“Keluarga?”

Johan menggeleng. “Nggak ada. Udah kembali ke tanah semua.”

Valen terdiam. Ia mengangkat wajahnya menatap langit di atas balkon, lalu mengisap rokoknya untuk terakhir kali sebelum mematikannya di asbak.

Ada sesuatu dari cerita Johan yang terasa familiar. Bukan karena situasinya sama, melainkan karena ada beberapa bagian dari dirinya yang mengingatkan Valen pada Nadine.

Johan kembali bersuara. “Lo juga menderita dikekang keluarga eksentrik lo itu.”

Valen masih menatap ke depan. “Nggak usah ditanya.”

Samar-samar terdengar suara pintu unit terbuka dari dalam, disusul suara yang langsung membuat Johan menoleh.

“Jojoo?”

Wajah Johan seketika berubah cerah.

“Tuh, dia pulang!” serunya menjawab, lalu menoleh ke arah pintu balkon. “Di balkon, beb!”

Pintu balkon terbuka, dan Amel langsung muncul dengan wajah sumringah. “Jojo akuu!”

Tanpa ragu, Amel menghampiri Johan dan memeluknya. Johan yang masih duduk langsung membalas pelukan itu dengan santai, seolah kedatangan Amel adalah hal paling normal di dunia.

Beberapa detik kemudian, Amel baru menyadari keberadaan Valen.

“Eh, Valen.” Ia menoleh kepadanya sambil tetap berada dalam pelukan Johan. “Udah ngobrolnya sama Jojo?”

“Udah.”

Pandangan Amel kemudian jatuh ke asbak di atas meja. Seketika ekspresinya berubah.

“Ih, kan! Pasti Valen ngerokok!” Ia langsung menatap adiknya dengan kesal. “Bandel banget, sih, dibilangin!”

Johan yang masih dipeluk Amel buru-buru menyela.

“Jangan dimarahin, beb. Kasihan.” Ia menggerakkan dagunya ke arah Valen sambil nyengir. “Aku sama Valen sekarang sobat.”

Tatapannya sengaja diarahkan kepada Valen, seolah menuntut persetujuan. “Ya, kan, Val?”

Valen hanya mendengus geli.

Amel malah terkekeh. “Ehh, cepet amat udah punya sahabat baru aja?” Ia menatap Johan dengan ekspresi gemas. “Emang nih, kacian Jojoku suka kecepian, ya...”

Amel menunduk, lalu memainkan ujung hidung Johan dengan hidungnya sendiri. Keduanya kemudian asyik bercanda tanpa lagi memedulikan keberadaan Valen.

Valen yang melihat itu mulai merasa jengah. Ia akhirnya berdeham keras sebelum berdiri. “Guys, tahan dulu. Masih ada gue di sini.”

Amel dan Johan malah cekikikan.

Valen berkacak pinggang, lalu menatap keduanya dengan tatapan tidak percaya. “Apalagi tadi gue dapat suguhan pemandangan aneh pas pertama kali ketemu.” Ia menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi seolah sudah cukup menderita hari itu. “Better gue segera kabur dari sini. Kalian selamat bersenang-senang ngadon.”

Ia berjalan menuju pintu sambil melambaikan tangan. “See you again.”

“Bye, Val!” Johan melambaikan tangan balik. “Kapan-kapan main lagi ke sini, ya!”

Amel menoleh bingung. “Pemandangan aneh apaan, sih?”

Valen sudah tidak mendengar lagi. Pintu unit tertutup di belakangnya, meninggalkan suara Johan dan Amel yang masih samar terdengar.

Begitu keluar dari unit kondominium itu, pikiran Valen justru semakin ramai. Ia masuk ke lift dan berdiri diam di sudut, membiarkan pintu tertutup sementara pandangannya kosong menatap angka lantai yang terus berubah.

Gue lihat Amel bahagia banget.

Valen mengembuskan napas perlahan.

Gue nggak pernah lihat dia sebahagia itu.

Bayangan Amel yang tadi begitu lepas bersama Johan kembali muncul di kepalanya. Bahkan cara bicara Amel yang kekanak-kanakan kepada Johan pun terasa berbeda. Seolah semua sisi dirinya yang selama ini harus ia tahan di hadapan keluarga, justru bisa keluar begitu saja ketika bersama cowok itu.

Bahkan sampai pakai bahasa bayi sama Johan.

Sudut bibir Valen bergerak sedikit, hampir seperti senyum, tetapi segera menghilang.

Dia benar-benar mengikuti sistem, tapi mencari celah. Celah yang dia percaya nggak bakal ketahuan.

Lift terus turun.

Valen mengembuskan napas berat. Tanpa bisa dicegah, wajah Nadine kembali terbayang di benaknya.

Ia menatap pantulan dirinya sendiri di pintu lift yang mengilap. Apa untuk meraih cinta dan kebahagiaan memang harus sembunyi-sembunyi kalau lahir di keluarga ini?

 

20 – Yang Datang Setelahmu

Sejak berpisah dari Valen, Nadine menghindari Starbrew di lantai bawah kantornya. Beberapa kali ia dan Valen bersua di sana. Kenangannya terlalu menyedihkan untuk terus terbayang. 

Maka Nadine beralih ke kafe sebelahnya, ambience yang mirip, meski rasa kopinya tidak seenak kesukaannya di Starbrew. Tapi ia memilih minuman yang tidak terlalu enak daripada harus disiksa memori akan Valen. 

Seperti Senin sore itu. Nadine menghabiskan sorenya sambil santai merokok. Jemarinya terus menggulir layar sosmed, mencari hal yang menarik. Namun ikon notifikasi sosmednya yang menandakan ada puluhan komentar masuk tidak dia hiraukan. Malas. 

Jari Nadine berhenti di udara ketika matanya menangkap sebuah postingan Vania semalam.

Awalnya ia hanya melihat sekilas potongan video seseorang yang sedang bernyanyi solo di atas panggung. Namun panggung itu terasa begitu familiar baginya. Nadine langsung mengenalinya sebagai panggung klub Tunasmara.

Dan yang paling membuat napasnya seketika tercekat adalah sosok penyanyi di atas panggung itu.

Valen.

Mata Nadine membesar. Untuk beberapa detik ia bahkan lupa bernapas. Tangannya buru-buru mengaktifkan volume, lalu ia memasang earbud lebih rapat dan memutar video tersebut dari awal.

Suara Valen segera memenuhi telinganya.

Ia sedang menyanyikan sebuah lagu berjudul Missing U.

Nadine mengernyit pelan. Lagu itu terdengar asing. Ia tidak mengenal judulnya, dan sejauh yang ia tahu, lagu tersebut bukan lagu milik penyanyi terkenal mana pun.

Tangannya buru-buru bergerak membaca caption di bawah video, kemudian turun menelusuri komentar-komentar yang ditinggalkan orang-orang.

> Masih belum move on dari aksi panggungnya @ValentinoGhandy minggu lalu 😭😭 gila bangey sumpahhh. Suaranya dalem & bagus banget mo nangis 😭 Apalagi ini lagu yang lo bikin sendiri, Val?? Ohhhmeegottt. @NadineVG lo rugi banget sih kalau gak sampai resmi sama Valen. INI LAGU TUH BUAT LO ....

Nadine menahan napas. Matanya bergerak membaca balasan-balasan lainnya.

> Percaya gak percaya, gw nangis loh waktu nonton Valen perform nyanyi ini.

> Ih sama banget!! Dia bilang Miss You kayak beneran.

> Ini mana @ValentinoGhandy kok ga muncul? Klarif dong Valen ... Apa bener ini lagu buat Nadine?

Sisanya dipenuhi emoji hati, tangisan, dan wajah-wajah sedih.

Nadine terpaku di layar.

Kemudian, tanpa sadar, ia memutar video itu lagi.

Kali ini ia tidak membaca apa pun. Ia hanya mendengarkan.

Suara Valen yang khas kembali memenuhi earbud-nya. Ada sesuatu dalam cara Valen menyanyikan lagu itu yang membuat dada Nadine terasa sesak. Ia terdengar sungguh-sungguh menghayati setiap lirik, seolah bukan sekadar menyanyikan sebuah lagu, melainkan sedang menyampaikan sesuatu yang selama ini tidak mampu ia katakan secara langsung.

Bibir Nadine mulai bergetar. Air perlahan mengumpul di sudut matanya.

Dan tiba-tiba, suara Nadine dari masa lalu terdengar jelas di kepalanya.

“Kalau gitu bikinin aku lagu dong .... Bisa nggak?”

Lalu suara Valen yang dulu menjawabnya.

“Janji, yah. Aku tunggu.”

Nadine memejamkan mata.

Dulu, ia hanya mengatakannya sambil bercanda, atau setidaknya mengira permintaannya akan berakhir sebagai salah satu janji kecil yang terlupakan di antara begitu banyak hal yang pernah mereka lakukan bersama.

Ternyata tidak, Valen benar-benar menepati janjinya.

Hanya saja, lagu itu lahir setelah hubungan mereka kandas.

Tangan Nadine mulai gemetar. Dengan gerakan tergesa ia meraih ponselnya dan langsung menelepon Vania.

Tidak lama kemudian sambungan tersambung. “Haloo. Naad, lo tuh ke mana ajaa?”

Nadine berusaha menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. “Van ... gue baru lihat postingan lo.”

“Ehh! Iya! Lo emang baru tahu?” Vania terdengar kaget. “Si Fabi nggak kirim video Valen ke elo, yah?”

Nadine menunduk. “Ng ... nggak tuh.”

“Ih! Kirain Fabi udah kirim!” Vania langsung kembali bercerita dengan antusias. “Iyaa, itu Valen perform minggu lalu! Si Liam kasih tantangan, siapa yang berani maju dan nyanyi. Orang-orang malah pada tunjuk Valen. Surprisingly, Valen maju, dongg! Dia nyanyi deh!”

Nadine diam.

“Dan nyanyian dia bikin speechless semua orang!”

Satu tetes air mata jatuh dari mata Nadine.

Kemudian disusul satu lagi.

Ia buru-buru menunduk, lalu menyeka pipinya dengan ujung jari. Sesekali matanya melirik sekeliling kafe, memastikan tidak ada pengunjung lain yang memperhatikannya.

Vania masih terus bercerita.

“Liam sampai puji-puji Valen. Katanya dia nggak nyangka ada anak Ghandy yang bisa nyanyi dan bikin lagu.” Suara Vania terdengar semakin bersemangat. “Itu lagu ciptaan dia sendiri, Nad! Dia nggak bilang apa-apa, tapi kita semua di sini tahu lagu itu ditujukan buat siapa.”

Vania sengaja berhenti sebentar sebelum berseru, “Eloooo, sayang!”

Nadine menutup mulutnya dengan tangan. Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah juga.

“....”

Vania yang tadinya riang mendadak terdiam. “Nad?”

Nadine berusaha menarik napas, tetapi yang keluar justru suara isakan kecil. “....”

“Nad ... lo nangis, ya?”

“Nggak ...,” jawab Nadine tersendat. Ia buru-buru mengusap pipinya lagi. “Nggak kok.”

“Nad ....” Suara Vania terdengar lebih lembut kali ini. “Lo mending kawin lari sama dia.”

Nadine tertawa kecil di tengah tangisnya, tetapi suara itu justru terdengar semakin menyedihkan. “... nggak mungkin.”

“Ihhh! Gemes banget gue, sumpah!” Vania terdengar frustrasi. “Lo tuh sama dia kelihatan banget saling cinta. Masa nggak diperjuangkan, sih?”

Nadine menundukkan wajah lebih dalam. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang bahkan sulit ia beri nama.

“U-udah dulu, ya.” Ia berusaha membuat suaranya terdengar normal. “Gue masih di kantor ... dipanggil meeting.”

Padahal tidak ada meeting apa pun.

“Nad, tapi ....”

Nadine langsung mematikan sambungan sebelum Vania sempat menyelesaikan kalimatnya.

Ponsel itu ia letakkan di atas meja, lalu kedua tangannya segera menopang kepalanya. Beberapa lembar tisu diambil dengan tergesa untuk menyeka air mata yang terus keluar.

Ia membutuhkan beberapa menit sampai akhirnya tangisnya mereda.

Nadine menarik napas dalam-dalam, menahannya sebentar, lalu mengembuskannya perlahan. Ia mengulanginya beberapa kali sampai dadanya terasa sedikit lebih lega.

Setelah itu, ia menyandarkan tubuh ke kursi.

Tatapannya jatuh pada cangkir kopi di atas meja. Ia meraihnya, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan pelan.

Nadine kemudian mengambil rokok dan menyalakannya. Ujungnya menyala setelah ia menyulut api, lalu ia mengisapnya dalam-dalam.

Asap tipis keluar perlahan dari bibirnya.

Ia menatap kosong ke depan, membiarkan pikirannya kembali pada satu suara yang sejak tadi terus bergema di kepalanya.

Suara Valen.

Suara yang menyanyikan lagu yang pernah ia minta.

Lagu yang dulu ia tunggu.

Dan yang ternyata benar-benar dibuat untuknya.

 

Sebuah tangan kekar dan hangat tiba-tiba mendarat di bahu Nadine, membuatnya terlonjak kaget. Begitu menoleh, ia mendapati Xander berdiri di belakangnya.

“Eh ... lo.” Nadine buru-buru memperbaiki posisi duduknya, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

Xander menarik kursi di dekatnya, lalu meletakkan gelas kopi yang dibawanya di atas meja. Matanya sempat menyapu sekeliling kafe sebelum kembali pada Nadine.

“Biasanya di Starbrew, kan? Pindah?”

“Hm.”

Nadine enggan menatapnya. Ia justru menundukkan wajah, lalu mengisap rokok di sela jemarinya seolah asap yang mengepul bisa menjadi alasan untuk menghindari tatapan Xander.

“Di sana mengingatkan lo akan sesuatu?”

Nadine tidak menjawab. Ia membiarkan pertanyaan itu menggantung beberapa detik sebelum akhirnya bertanya balik, masih dengan pandangan tertuju pada meja.

“Lo lagi kebetulan lewat sini?”

“Biasanya gue akan jawab, ‘ya’.” Xander mengambil gelas kopinya, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali. “Tapi gue milih nggak.”

Nadine akhirnya melirik.

“Nggak. Gue nyari lo.”

Jawaban itu membuat Nadine terdiam. Untuk pertama kalinya sejak Xander datang, ia benar-benar menatap laki-laki itu.

Xander yang menangkap tatapan tersebut justru memperhatikan sesuatu yang sejak tadi berusaha Nadine sembunyikan. Matanya terlihat merah.

“Lo ....” Ia berhenti sejenak, memastikan penglihatannya tidak salah. “Habis nangis?”

Nadine spontan membuang muka. Ada kepanikan kecil yang melintas di wajahnya sebelum ia kembali mengisap rokok, seolah tindakan sederhana itu bisa mengalihkan perhatian Xander.

Namun Xander sudah mengerti.

Ia menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Tidak ada desakan, tidak ada pertanyaan lanjutan. Ia hanya membiarkan Nadine sibuk dengan rokoknya, sementara dirinya sendiri melakukan hal yang sama.

Beberapa saat mereka terdiam dalam asap rokok yang perlahan memenuhi ruang di antara keduanya.

“Capek juga, ternyata, pura-pura nggak peduli.”

Nadine mengangkat wajah sedikit, tetapi masih belum sanggup menatapnya.

“Kita jadi awkward selama lo sama Valen dekat,” lanjut Xander setelah beberapa detik. Nada suaranya terdengar lebih pelan. “Dan ... sorry. Sedikit banyak gue tahu apa yang terjadi di antara kalian.”

Nadine tetap diam.

“Gue nggak nyuruh lo cepet move on.”

Kali ini Nadine benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

“Tapi kalau lo butuh temen ngopi ....” Xander menoleh kepadanya, lalu memberi jeda sebelum melanjutkan, “kabarin.”

Nadine menggeleng pelan. Ada sesuatu yang berat di balik gerakan kecil itu.

“Bukan timing-nya, Xan.” Suaranya nyaris seperti bisikan. “Gue nggak tahu apa gue masih bisa temenan sama lo lagi.”

Xander terdiam.

Nadine menatap puntung rokok di tangannya, mengusap abunya perlahan sebelum akhirnya berkata, “Kalau gue berakhir pakai hati, lo nggak akan berkenan.”

Xander terlihat sedikit terkejut. Ia menatap Nadine cukup lama sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Iya.”

Hening kembali turun di antara mereka.

Namun kali ini Xander tidak membiarkannya terlalu lama.

“Dulu mungkin enggak.” Ia mengembuskan napas pelan, kemudian menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi. “Sekarang ... gue pengen coba.”

Nadine langsung menoleh. Tatapannya jelas menunjukkan ketidakpercayaan.

Xander menangkap reaksi itu, tetapi memilih melanjutkan.

“Lo tahu soal Valen nyanyi lagu buat lo?”

Nadine mengangguk pelan.

“Sejak gue jadi saksi kisah kalian,” ujar Xander, suaranya semakin tenang. “Sejak gue dengar sendiri deklarasi Valen di atas panggung, di depan publik.” Ia berhenti sebentar, menatap lurus ke depan. “Sejak malam itu, gue kepikiran.”

Nadine hanya diam, matanya tidak lepas dari wajah Xander.

“Gue nggak ingin selamanya diingat sebagai brengsek.”

Kalimat itu membuat Nadine benar-benar kehilangan kata-kata. Ia menatap Xander lama, mencoba mencerna ketulusan yang terasa asing dari laki-laki yang selama ini justru ia kenal lewat luka.

“Kalau masih ada kesempatan ....” Xander mengembuskan napas perlahan. “Gue pengen mulai dari nol. Sebagai temen biasa.”

Perasaan Nadine kembali berantakan.

Sebelum Valen masuk dan mengacak-acak hatinya, Xander sudah lebih dulu punya cara sendiri untuk membuatnya sesekali baper. Dan sekarang, ketika Nadine bahkan belum selesai membereskan luka dari hubungan yang baru saja kandas, laki-laki itu datang membawa tawaran untuk memulai semuanya dari awal.

Hening berlangsung cukup lama sampai akhirnya Nadine mengangkat wajah.

“Lo ....” Ia ragu sejenak, seolah pertanyaan berikutnya bahkan terasa memalukan untuk diucapkan. “Emang boleh temenan sama mantan PSK kayak gue?”

Xander tidak langsung menjawab. Ia mengisap rokoknya, lalu mengembuskan asap perlahan sebelum menoleh pada Nadine.

“Bernard bukan bokap gue.” Nada suaranya datar, tetapi tegas. “Dia nggak punya hak ngatur hidup gue.”

Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat dada Nadine terasa sedikit lebih ringan. Untuk pertama kalinya malam itu, secercah harapan muncul di antara semua kekacauan yang memenuhi kepalanya.

Xander kembali menatapnya. “Tapi itu semua kalau lo memang mengizinkan.”

Nadine terdiam lagi. Kali ini lebih lama.

Ia menunduk, menarik napas perlahan, lalu mengangkat wajahnya kembali. Setelah mempertimbangkan semuanya, Nadine akhirnya mengangguk kecil.

“Oke.” Bibirnya membentuk senyum tipis yang nyaris tidak terlihat. “Kita temenan ... dari awal lagi.”

Xander membalas dengan anggukan singkat. “Good.”

Dia bangkit dari kursinya, mengambil gelas kopi yang tinggal separuh. Setelah mengisap rokok terakhir, puntung itu dipadamkannya perlahan ke asbak.

“Weekend gue kosong,” ujarnya santai. “Kalau lo pengen ngopi lagi ... kabarin.”

Tanpa menunggu jawaban, Xander berbalik dan berjalan meninggalkan kafe.

Nadine hanya bisa memandangi punggungnya yang semakin jauh, dengan hati yang entah kenapa terasa sedikit lebih ringan sekaligus jauh lebih kacau. 

Saat sosok itu hampir mencapai pintu .... 

“Xan.”

Xander menoleh.

“Thanks.”

Xander hanya mengangguk sekali, lalu mendorong pintu kaca dan keluar.

Begitu berada di luar, langkahnya melambat.

Sudut bibirnya terangkat sangat tipis. Bukan senyum sinis, senyum menang, atau senyum penuh percaya diri yang selama ini selalu ia kenakan. Melainkan senyum kecil yang terasa asing, seolah bahkan wajahnya sendiri sedang belajar mengingat bagaimana rasanya benar-benar tersenyum.

Lalu ia kembali berjalan.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.