KAMPH (21-22)
21 – Jangan Jadikan Dia Rahasiamu
Beberapa
minggu kemudian, Valen berada di studio musik milik Liam dengan wajah yang jauh
lebih bersemangat daripada biasanya. Ia baru saja selesai memutar lagu kelima
dari rangkaian lagu yang ia ciptakan sendiri, sementara Liam dan yang lain
masih menikmati sisa-sisa musik yang menggantung di udara.
Begitu
lagu berakhir, Liam hanya bersandar di kursinya sambil menatap Valen beberapa
detik, seolah masih mencerna apa yang baru saja mereka dengarkan.
“Lu
nulis semua ini sendiri?”
“Iya.”
Liam
mengembuskan napas pendek, lalu menggeleng tak percaya. “... Bangsat.”
Rhea
langsung meledak tertawa.
“Emang!
Bangsat banget lo tuh, JE-NI-US!” serunya puas. “Lo kasih kita lima lagu,
semuanya gue kasih nilai seratus dari sepuluh!”
MJ
ikut mengangguk sambil menunjuk ke arah dua lagu terakhir. “Dua lagu terakhir
cocok banget sama gaya vokal lo, Rhe.”
“Spot
on,” sahut Valen. “Gue emang ngebayangin ini Rhea yang nyanyi.”
Felix
yang sejak tadi menyandarkan gitarnya di paha langsung nyeletuk, “Pastiin Liam
nggak ikut nyanyi. Ntar nggak jadi masterpiece lagi.”
Liam
cuma nyengir lebar, sama sekali tidak tersinggung. Malah matanya terlihat
semakin berbinar ketika ia menatap Valen. “Lu sadar nggak kalau lima lagu ini
bisa jadi EP?”
Valen
mengerjapkan mata. “Hah?”
“Lu
nggak sadar kalau ini bisa dijual?”
Valen
memasang wajah polos. “Emang ada yang mau beli?”
Seketika
studio pecah oleh tawa.
Valen
langsung menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, lalu tersenyum malu
karena baru sadar betapa polosnya pertanyaan tadi.
Liam
bahkan sampai menepuk pahanya sendiri.
“Ya
ampun, Val.” Ia masih tertawa ketika akhirnya berhasil bicara. “Lu tiap hari
urusin bisnis miliaran, tapi nggak ngeh sama bakat sendiri?”
“Asli,”
timpal Rhea sambil terkekeh puas. “Si Valen ternyata polos banget soal musik.”
“Ya
gimana, ya ....” Valen mengangkat kedua tangannya sedikit, seolah menyerah. “Gue
kan nggak pernah mikirin sampai sejauh itu.”
Liam
yang tadinya bercanda perlahan berubah serius. Ia menatap Valen sambil menunjuk
laptop di depannya.
“Val,
gue kasih tahu, ya. Lagu-lagu ini sayang banget ....” Ia sengaja berhenti,
memastikan semua orang mendengarkan. “Sekali lagi, SAYANG BANGET kalau cuma
jadi voice memo.”
Valen
terdiam.
“Boleh
nggak kita coba bawain satu?”
Mata
Valen berkedip beberapa kali, seolah ia tidak yakin dengan apa yang baru saja
ditawarkan kepadanya. Perlahan, senyum muncul di wajahnya sebelum ia
mengangguk.
“Boleh.”
Suaranya terdengar tulus. “It’s an honor to me. Thanks, Liam.”
“Nice!”
Liam langsung kembali bersemangat. Ia menepuk tangannya sekali. “Lo pada pilih
lagu yang mana, guys? Gue bebas, ya. Gue suka semuanya sampai nggak bisa milih.”
“Lagu
kelima aja,” jawab MJ.
Yang
lain langsung mengangguk setuju.
“Deal.”
Liam
segera memutar lagu kelima sekali lagi. Kali ini ia tidak sekadar mendengarkan.
Begitu intro berjalan, kepalanya mulai mengangguk mengikuti ketukan sambil
sesekali menunjuk bagian-bagian tertentu di layar.
“Verse
pertama bagus,” katanya setelah beberapa saat. “Masuk drum di sini.”
MJ
langsung memperhatikan bagian yang ditunjuk.
“Bridge-nya
kepanjangan,” lanjut Liam. “Coba chorus naik setengah nada?”
Valen
yang duduk di dekatnya langsung menoleh. “Lah, bisa, ya?”
Felix
sudah lebih dulu mengambil gitar dan menyandarkannya ke tubuh. “Cobain langsung
aja, nggak sih?”
Liam
mengangguk. “Fan, coba, Fan.”
Fandy
segera mengambil bass-nya dan memasang posisi. Ia memetik senar perlahan,
mencari nada yang tepat sebelum akhirnya menemukan groove yang mereka butuhkan.
“Dung
... dung ... dung ...”
Liam
langsung mengangkat kepala. “Nah!”
MJ
ikut masuk dengan drumnya. Ketukannya masih sederhana, sekadar memberi napas
pada bagian yang sedang mereka bangun.
“Tak
... tak ... dum. Dum.”
“Jangan
penuh,” kata Liam sambil mengangkat satu tangan.
MJ
mengangguk. “Santai aja?”
“Iya.
Biar kosongnya kerasa.”
Rhea
mulai ikut mencari harmoni vokal sambil mendengarkan permainan mereka. “Kalau
gue ambil third?”
Liam
menoleh. “Coba.”
Rhea
masuk perlahan.
Dan
entah sejak kapan, lagu yang selama ini hanya hidup sebagai rekaman kasar di
ponsel Valen mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata.
Valen
yang tadinya hanya duduk mendengarkan kini tidak bergerak. Matanya terpaku pada
mereka satu per satu.
Fandy
dengan bass-nya, Felix dengan gitar, MJ yang mulai menemukan pola drum, Rhea
yang menyusun harmoni vokal, dan Liam yang terus membedah setiap bagian lagu
dengan telinga seorang musisi.
Sedikit
demi sedikit, potongan-potongan suara itu menyatu.
Untuk
pertama kalinya, Valen mendengar lagunya bukan sebagai sesuatu yang hanya
berputar di dalam kepalanya, melainkan sebagai lagu yang benar-benar hidup.
Bulu
kuduknya meremang.
Ada
rasa bangga yang perlahan memenuhi dadanya, tetapi bersamaan dengan itu muncul
sesuatu yang jauh lebih berat. Haru, mungkin. Atau penyesalan yang selama ini
tidak pernah ia beri nama.
Ternyata
ia bisa menciptakan semua ini.
Selama
ini ia hanya tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk mengasahnya.
Atau
mungkin, lebih tepatnya, ia terlalu lama membiarkan tekanan, tuntutan, dan
hidup yang sudah ditentukan untuknya membuat bakat itu terkubur begitu saja.
Valen
menelan ludah, lalu menunduk sedikit agar tidak ada yang melihat matanya yang
mulai berkaca-kaca.
Ia
tidak mengatakan apa-apa.
Ia
hanya duduk di sana dan mendengarkan.
Malam
semakin larut, tetapi tidak seorang pun tampak berniat berhenti. Mereka terus
membedah lagu itu, mengulang bagian yang sama, mencoba aransemen berbeda,
mengubah tempo, mencari harmoni, lalu tertawa ketika salah satu dari mereka
melakukan kesalahan.
Dan
di tengah kesibukan lima musisi yang sedang menghidupkan sebuah lagu, Valen
hanya bisa diam, membiarkan dirinya menikmati perasaan asing yang memenuhi
dadanya.
Untuk
pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa sedang melakukan sesuatu yang
benar-benar miliknya sendiri.
Jam
sudah menunjuk ke arah angka 10 dan 3 ketika Liam tiba-tiba bertanya, “Besok
pagi workshop bisa gak?”
“Gas!”
jawab MJ spontan.
Rhea
yang masih terpaku pada hasil lagu mereka mengangkat wajah. “Fresh banget sih
ini lagu. Lo jadi backingin gue, kan? Yang pas di chorus?”
“Jadi,”
jawab Liam mantap. “Butuh suara ngebass di sana. Kecuali lo bisa tumbuhin jakun
dalam semalam.”
Band
langsung pecah tertawa. Valen yang sejak tadi ikut menyimak hanya ikut
tersenyum kecil.
“Kalau
gue tumbuh jakun, lo yang kudu ketar-ketir, Liam,” balas Rhea sambil terkekeh. “Gue
lebih gantenglah dari lo.”
Tawa
kembali pecah, lebih ramai dari sebelumnya.
Di
tengah keributan itu, Valen bangkit dan mengambil bungkusan HokBen enam porsi
yang sejak tadi teronggok di pojokan. “Guys. Makasih udah bikin lagu di kepala
gue makin keliatan bentuknya. Nih, dinner dulu. Pada laper pasti.”
Seketika
sambutan riuh terdengar dari seisi ruangan.
“Yaelah,
Val, lo repot amat?” Liam geleng-geleng kepala. “Justru harusnya gue yang
traktir lo, kali.”
“Next
time.”
Rhea
langsung membantu Valen membagikan enam set meal lengkap dengan ocha ke yang
lain. Begitu menerima makanannya, ia tersenyum lebar.
“Eh,
tengkyu loh, Valen! Gue tadi sempat kepikiran kira-kira stok Pop Mie di dapur
cukup gak buat semua. Eh, taunya lo udah beliin HokBen!”
Ucapan
terima kasih segera menyusul dari anggota band yang lain.
“Dengan
senang hati, guys,” jawab Valen sambil tersenyum. Ia kemudian ikut membuka
makanannya dan menikmati suasana ketika yang lain mulai makan dengan lahap.
Beberapa
saat kemudian, Rhea bangkit dan berjalan menuju dapur. “Ada yang mau kopi buat
after dinner?”
Beberapa
tangan langsung terangkat di udara, sebagian bahkan masih sambil mengunyah.
Valen ikut mengangkat tangan.
Tak
lama kemudian, Rhea kembali membawa beberapa cangkir kopi. Setelah
membagikannya satu per satu, ia ikut duduk dan melanjutkan makan. Sambil
bersandar santai dengan kedua kaki diangkat, Rhea mulai scrolling HP, sesekali
menyuap makanannya tanpa benar-benar mengalihkan perhatian dari layar.
Tiba-tiba
matanya membesar sedikit. “Eh. Si Xander sama Nadine jadian?”
Suapan
Valen berhenti di udara. Tubuhnya seolah ikut membeku selama beberapa detik.
“Sejak
kapan?” tanya Liam sambil menyeruput ocha.
“Lah,
mana gue tahu?” Rhea masih menatap layar. “Kan lo ce es-nya Xander.”
“Maksud
gue, sejak kapan Xander bisa pacaran serius?”
Rhea
akhirnya mengangkat HP-nya dan menunjukkan layar kepada Liam. Story Nadine
menampilkan foto dirinya dan Xander sedang menonton bioskop, tangan mereka
saling menggenggam mesra. Dari keterangan waktu yang tertera, foto itu diambil
siang tadi.
Liam
mengangkat alis. “Kemajuan si Xander. Alamat didepak dari grup VVIP, sih. Ryan
udah tahu belum tuh?”
Baru
setelah itu pandangannya jatuh pada Valen. Ekspresinya seketika berubah seperti
orang yang baru sadar telah menginjak ranjau.
“Weh!
Ada Valen juga. Lo malah kasih lihat ginian.”
Valen
buru-buru memasang wajah seolah tak terjadi apa-apa. “Apa?”
Rhea,
yang sama sekali tidak merasa ada masalah, kembali menunjukkan layar HP-nya. “Ini.
Xander sama Nadine nonton bioskop sambil pegangan tangan mesra. Ini tadi siang,
sih, kalau lihat jamnya. Emang lo belum move on, Val?”
“Oh.”
Valen mengalihkan pandangan kembali ke makanannya. “Santai. Mereka emang cocok.”
Liam
menatapnya penuh curiga, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia kembali makan
sambil sesekali melirik Valen dari sudut mata.
Valen
berusaha melanjutkan makan seolah semuanya baik-baik saja. Namun ketika
tangannya hendak meraih kopi, jarinya justru menyenggol gelas. Gelas itu jatuh
dan kopi tumpah ke lantai.
“Eh!”
Rhea
refleks mengangkat kedua kakinya agar tidak terkena tumpahan. “Waduh!”
“Sorry!
Sorry, Rhea.” Valen langsung berdiri dan hendak keluar mengambil pel.
“Udah,
gue aja.” Rhea ikut bangkit dan segera berjalan keluar mengambil pel.
Liam
memperhatikan Valen dengan tatapan yang sulit disembunyikan. “Gak santai banget
sih keliatannya ...,” katanya sambil menyeruput ocha.
Valen
tahu persis apa maksudnya. Ia hanya mendengus kesal dan memilih diam. Selera
makannya pun mendadak hilang.
Setelah
menghabiskan makanannya, Liam meletakkan kotaknya di meja lalu mendekati Valen.
“Jadi bahan bakar yang bagus buat bikin lagu broken heart lainnya,” ujarnya
sambil menepuk bahu Valen. “Ditunggu.”
“Sialan
lo.”
Valen
melotot kesal ketika Liam kembali ke kursinya dengan cengiran puas. Setelah
itu, pikirannya perlahan hanyut entah ke mana. Ia masih memegang sumpit dan
sesekali mengacak-acak salad di dalam kotak makannya, tetapi tidak ada satu pun
yang benar-benar masuk ke mulut.
Ia
bahkan tidak menyadari ketika Rhea kembali masuk dan membersihkan tumpahan
kopi. Ia juga tidak sadar ketika Rhea membuatkan kopi baru untuknya.
“Nih.”
Suara Rhea akhirnya membuat Valen tersadar. “Jangan ditumpahin kali ini.”
Valen
menoleh dan baru menyadari cangkir kopi baru yang sudah ada di dekat tangannya.
“Lho. Astaga, Rhe. Gak usah bikinin lagi. Gue jadi gak enak.”
“Lo
butuh itu. Biar hidup.”
Valen
menatap Rhea beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Lo selalu kayak
gini? Ngasuh empat bocah tua ini?” Ia menunjuk anggota LA Band dengan dagunya.
Rhea
menghela napas pasrah. “Apa boleh buat. Kalau gak ada gue, udah pada busung
lapar anak-anak ini.”
Valen
terkekeh. “Lucu juga lo, ya. Belum nikah tapi udah punya naluri keibuan yang
kuat.”
Ucapannya
terhenti ketika ia menangkap tatapan Liam yang sedang mengarah pada Rhea. Ada
sesuatu dalam tatapan itu yang terasa familiar bagi Valen, meski Liam sendiri
tidak mengatakan apa-apa.
“Bukan
mau gue,” jawab Rhea enteng.
“Mommy
bersama,” celetuk MJ sambil nyengir.
Felix
langsung menyambar, “Kok gue ngeres dengernya. Mana mommy bersama, gak bisa
dicolek dikit.” Ia sengaja mengecilkan suara seperti sedang berbisik, tetapi
volume suaranya justru dibuat semakin keras. “Galak banget, bro!”
Rhea
langsung melancarkan lirikan judes ke arahnya.
“Tuh!
Liat!” Felix menunjuk Rhea sambil tertawa.
Liam
ikut nyengir. “Jangan ganggu Rhea. Gue kick yang berani.”
Valen
hanya manggut-manggut kecil sambil memperhatikan dinamika kelima orang di
hadapannya. Sedikit demi sedikit, ia mulai memahami pola hubungan di antara
mereka, terutama sesuatu yang tampaknya berkembang diam-diam antara Rhea dan
Liam.
Ia
akhirnya memutuskan untuk berhenti makan. Kotak makan yang isinya masih tersisa
ditaruh di bawah kursi. Baru saja ia hendak bersandar, HP-nya berbunyi karena
ada pesan masuk dari grup keluarga.
Valen
mengambil HP tersebut dan membuka pesannya.
Ekspresinya
yang semula santai perlahan berubah serius. Matanya bergerak cepat membaca isi
pesan itu, lalu berhenti pada satu bagian yang membuat wajahnya seketika pucat.
“Gak mungkin ...,” desisnya.
“Kenapa
lo?” Pertanyaan Rhea membuat Valen mengangkat wajah. Liam ikut menatapnya,
menunggu penjelasan tanpa mendesak.
“Xander
dijodohkan.”
“Hah?”
Liam langsung mengernyit. “Sama Nadine?”
Valen
menggeleng. “Bukan. Xander dijodohkan sama anak dari kolega Andrew Ghandy.”
Ruangan
seketika hening. Valen menundukkan pandangan pada HP-nya, lalu mengembuskan
napas pelan sebelum melanjutkan, “Om Andrew selama ini santai sama pergaulan
Xander. Kenapa tiba-tiba malah jodohin?”
“Jangan-jangan
gara-gara ketahuan jalan sama Nadine?” Rhea menduga.
“Gue
rasa juga begitu.” Valen mengangguk pelan. “Bernard tahu, lalu manas-manasin
Andrew buat jodohin Xander.”
Keheningan
kembali turun.
“Gue
gak percaya Xander mau dijodohkan,” kata Liam akhirnya.
“Kalau
Bernard udah ikut campur ....” Valen berhenti sejenak, seolah menyusun
pikirannya sendiri. “Segala taktik digunakan buat bikin Xander gak punya
pilihan. Gue cuma gak sangka aja Om Andrew kemakan Bernard.”
“Kalau
gitu kasian amat si Nadine,” ujar Rhea, nadanya mulai prihatin. “Baru tadi
bikin story lagi jalan sama Xander.”
Valen
tidak langsung menjawab. Tatapannya kosong beberapa saat, pikirannya jelas
tertarik pada nama yang baru saja disebut Rhea.
“Anak
VVIP bisa pada shock ini sih,” gumam Liam.
“Jangan
disebarin dulu.” Valen segera menatap mereka satu per satu. “Biar di sini dulu
aja, please.”
“Ups.”
Liam mengangkat kedua tangan, lalu membuat gestur mengunci mulut. Setelah itu
ia memberi isyarat kepada yang lain agar ikut tutup mulut.
Namun
Valen sudah terlihat gelisah. Ia mengusap wajahnya sebentar, lalu berdiri. “Gue
keganggu, asli. Gue telepon dulu, deh.”
“Nadine?”
“Xander.”
Rhea
terkekeh kecil. “Padahal telepon Nadine aja sih. Kali balikan.”
Valen
hanya menghela napas panjang sebagai jawaban. Ia kemudian menjauh beberapa
langkah dari yang lain dan mulai menelepon Xander.
Panggilannya
tersambung tidak lama kemudian.
“Not
a good time.” Suara Xander terdengar datar, tetapi jelas menyimpan kejengkelan.
“Cepetan.”
“Gue
udah denger.”
“Congratulations.”
Nada Xander terdengar getir. “Sekarang semua orang juga udah tahu. Thanks to
your lovely daddy.”
“Dia?”
Valen langsung menangkap maksudnya. “Dia pasti manas-manasin bokap lo, ya.”
“You
know it so well.”
Valen
mengembuskan napas pendek. “Lo tahu siapa calon lo?”
“Does
it matter?”
“Terus
Nadine gimana?” Valen mulai kehilangan kesabarannya. “Baru tadi gue kaget
denger kabar lo sama dia jalan bareng. Dia udah tahu?”
Di
seberang sana terdengar helaan napas berat. “Belom. Gue lagi cari jalan.”
Valen
langsung naik darah. “Cari jalan apaan? Lo pikir Nadine itu cadangan? Dia bukan
ruang tunggu, anjir. Lo mau gantung hidup dia gitu aja?”
“Lo
pikir gue mau jadinya kayak gini?!” Suara Xander ikut meninggi. “Kalau gue
nolak, semuanya hancur! Andrew juga bakal kena!”
“Lo
masih mikirin perusaha—”
“Gue
mikirin bokap gue!”
Valen
terdiam. Ia memijat keningnya dengan satu tangan, berusaha menahan pusing yang
mulai berdenyut di kepala.
Beberapa
detik kemudian, suara Xander terdengar lebih rendah. Datar, tetapi kali ini
seperti orang yang sudah mengambil keputusan.
“Biar
lo seneng. Gue gak bakal ninggalin Nadine.”
Valen
sedikit mengendur. Ada rasa lega yang muncul begitu saja, meskipun di saat yang
sama ia masih belum mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
“Walaupun
nanti gue tetap nikah.”
Valen
membeku.
Pikirannya
seketika melompat pada sesuatu yang pernah ia lihat sendiri, pada pola hubungan
Amelia, Johan, dan Eric yang begitu jelas meninggalkan luka. Amarahnya kembali
meledak.
“Lo
denger gak sih omongan lo sendiri?” Suaranya meninggi. “Lo mau bikin Nadine
jadi selingkuhan seumur hidup? Setelah semua yang dia alami?!”
“Lo
tuh dari tadi cuma nuntut gue tanpa solusi—”
“Lo
bakal hancurin hidup semua orang, Xan!”
Valen
terengah menahan emosi. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, sementara suaranya
berusaha ia paksa tetap terkendali. “Lo denger gue. Lo terima perjodohan itu,
berarti lo lepas Nadine. Titik.”
Xander
mendengus. “Lo siapa ngatur gue?”
“Gue
gak bakal diam aja kalau lo jadikan Nadine cuma barang.”
“Lo
bisa apa?” balas Xander tajam. “Perjuangkan Nadine juga gak bisa.”
Valen
sudah hampir memaki, tetapi ia menahan kata-kata yang nyaris lolos dari
mulutnya. Setelah menarik napas panjang, ia berkata lebih pelan, “Lebih baik
Nadine single, bebas, daripada hidup nunggu laki-laki yang gak pernah bisa
milih dia.”
Ia
berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang jauh lebih berat. “Kalau
lo emang punya hati, lo gak akan biarkan penderitaan Nadine berlanjut. Dia
selama ini diperlakukan sebagai boneka. Itu lukanya yang jelas banget. Lo
pernah mikir gak sih?”
Tidak
ada jawaban.
Yang
terdengar hanya helaan napas Xander yang berat dari seberang sana.
Lalu
sambungan terputus.
“Halo?”
Valen refleks menatap layar HP-nya. “Xander?”
Baru
setelah beberapa detik ia sadar panggilannya sudah berakhir.
“Anjing!”
Valen
menurunkan HP-nya dengan frustrasi. Namun pikirannya belum selesai. Tatapannya
jatuh pada nama Nadine yang masih tersimpan di daftar chat.
Ia
membuka ruang obrolan mereka.
Jempolnya
sudah berada tepat di atas tombol call, hanya berjarak beberapa sentimeter dari
keputusan yang mungkin akan mengubah semuanya.
Tetapi
ia tidak menekannya.
Jempol
itu tetap menggantung di udara cukup lama, sementara pikirannya bertarung
dengan dorongan untuk menelepon Nadine dan sesuatu yang jauh lebih kuat yang
terus mengingatkannya bahwa ia sudah tidak punya tempat di antara mereka.
Bukan hak gue lagi ....
Akhirnya,
Valen menarik napas panjang dan menekan tombol back.
Layar
chat Nadine kembali tertutup, menyisakan Valen yang berdiri diam dengan HP
masih tergenggam erat di tangannya.
22 – Tapi Dia Tetap Datang
Tiga
bulan kemudian, di klub Tunasmara, Valen duduk merenung di depan gelasnya yang
keempat. Riuh musik dan percakapan orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak
mengganggunya. Ia seperti berada di ruangnya sendiri, tenggelam dalam pikiran
yang tidak kunjung selesai.
Beberapa
anak VVIP muncul di bar dan langsung menghampiri Ryan yang sedang minum tak
jauh dari tempat Valen duduk.
“Yan!”
Vladimir menepuk bahu Ryan. “Gimana tuh? Hilang deh satu member.”
Ryan
hanya memutar-mutarkan gelasnya, malas memberikan tanggapan.
Rain,
yang kebetulan sedang tidak terlalu banyak pesanan, akhirnya bisa ikut
nimbrung. “Gue masih gak sangka bahkan Xander pun gak lolos dari agenda
perjodohan.”
“Sekarang
di mana si Xander?” tanya Liam.
“Lagi
penjajakan sama calonnya.”
Vladimir
menggeleng-gelengkan kepala. “Yang bikin gue masih gak habis pikir, kenapa juga
kebetulan calonnya itu mantan terindahnya si Dylan, coba? Abby kan tipe
sensitif banget. Mana bisa sih dia sama Xander?”
“Gawat
dong,” sahut Liam. “Bisa gontok-gontokan tuh Xander sama Dylan?”
“Lo
gak lihat ekspresi muka si Dylan begitu tahu?” Vladimir tertawa tak percaya. “Beuh!”
“Gue
harap batal, deh,” kata Rain. “Dengan alasan apa pun.”
Ryan
menyeruput minumannya sebelum berkata, “Gue mendingan lihat Xander keluar dari
VVIP karena resmi sama si Nadine daripada karena dia nikah gara-gara
perjodohan.”
“Gue
mendingan Xander gak nikah,” timpal Rain dengan serius. “Secara dia panutan
gue.”
Obrolan
mereka terhenti sesaat ketika Nadine muncul dari pintu masuk.
Seperti
biasa, ia datang dengan penampilan cantik dan pembawaan tenang. Langkahnya
santai ketika ia berjalan menuju lounge, tempat geng feminis biasa berkumpul.
Valen
yang semula bersandar langsung menegakkan tubuh. Tatapannya otomatis mengikuti
Nadine.
Liam
juga menyadari kehadirannya. “Lah, tuh Nadine.” Ia menoleh ke arah Valen sambil
menyeringai. “Tuh kesayangan lo, Val. Samperin.”
Valen
hanya membalas dengan senyum kecut.
Liam
lalu kembali menatap anggota VVIP yang lain. “Kirain dia broken heart dan gak
mau main sini lagi?”
“Masih
lanjut kok sama Xander,” jawab Rain.
Kening
Valen langsung berkerut. “Maksudnya ... masih lanjut? Tapi dia udah tahu soal
perjodohan?”
“Udah
tahu sejak lama malah.” Rain mengangkat bahu. “Tapi tetap nempel sama Xander.
Jadi, ya ... masih lanjut.”
“Puas-puasin
have fun mumpung janur kuning belum melengkung, you know,” ujar Vladimir sambil
terkekeh.
Ryan
justru terdengar lebih serius. “Setelah nanti nikah pun, keliatannya Xander
bakal tetap jalan sama Nadine.”
Ekspresi
Valen semakin sulit dibaca. Ada kaget, kecewa, marah, sekaligus sesuatu yang
tidak ingin ia akui sendiri.
“Gak
gitulah.” Liam langsung menyela. “Pilih satu, maruk amat. Apa kabar Dylan kalau
tahu Abby diperlakukan demikian? Apa kabar Valen? Dia bisa memantik
perselisihan di sana-sini.”
Ryan
menoleh kepadanya. “Ya gimana? Yang mengalami aja gak punya solusi. Lo punya?”
Liam
mendecakkan lidah. “Bokapnya si Valen sih yang emang jadi biang keladi
semuanya.” Ia menoleh ke Valen. “Bokap lo gak bisa dipensiunin aja gitu?”
Valen
akhirnya tersenyum getir. “Itu impian semua anak-anak Ghandy.”
Namun
semakin lama ia duduk di sana, semakin terasa sesak menyimpan semua kegundahan
itu sendirian. Ia mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari kursinya.
“Gotta
go.”
Valen
berjalan meninggalkan bar dan mengarah ke lounge tempat geng feminis berkumpul.
Begitu
melihat Valen mendekat, beberapa cewek di sana langsung saling melirik dengan
ekspresi tertahan. Ada yang bahkan buru-buru menjawil Nadine, membuat Nadine
menoleh dengan wajah bingung.
“Hai,
girls,” sapa Valen dengan senyum basa-basi.
“Hai,
Valenn,” jawab Vania antusias. “Kapan nyanyi lagi?”
Valen
masih mempertahankan senyum sopannya. “Next time, ya, kalau ada kesempatan.”
“Adain
dong. Gue jadi ngefans, tahu, sama lo.”
“Wah,
makasih, Van.” Valen tertawa kecil sebelum mengalihkan perhatian pada seluruh
geng. “Anyway, girls, gue pinjem Nadine sebentar, ya?”
“Oh,
silakan, silakan!”
“Bawa
pulang aja sekalian!”
Beberapa
suara langsung bersahutan, membuat yang lain tertawa.
Valen
kemudian menoleh pada Nadine. “Nad, bisa bicara sebentar?”
Nadine
terlihat bingung. Ada kegelisahan yang langsung muncul di wajahnya, tetapi ia
berusaha menyembunyikannya dengan menghindari kontak mata dengan Valen. Setelah
beberapa detik, ia akhirnya bangkit dan mengikuti Valen.
Valen
berjalan lebih dulu, membawa mereka menjauh dari suara musik dan keramaian
menuju sebuah sudut koridor yang cukup sepi di luar area nightclub.
Begitu
sampai, ia berhenti dan berbalik menghadap Nadine. “Apa kabar, Nad?”
Nadine
sengaja berdiri sedikit menyerong, seolah posisi itu bisa membantunya
menghindari tatapan Valen. “Baik. Ada apa, ya?”
Valen
memperhatikan sikapnya sejenak sebelum menarik napas dalam.
“Oke,
langsung ke intinya aja.”
Ia
terdiam sebentar, seolah sedang memilih kata-kata yang paling tepat.
“Aku
....” Valen menelan ludah. “Aku udah dengar soal rencana kamu dan Xander ke
depannya.”
Nadine
terdiam.
Bukan
hanya isi perkataan Valen yang membuatnya gugup. Ia juga menangkap satu hal
kecil yang terasa jauh lebih mengganggu. Valen memilih menggunakan “aku” dan “kamu”,
bukan “gue” dan “lo” seperti ketika mereka terakhir bertemu, saat semuanya
berakhir di antara mereka.
Valen
menunggu beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, “Dan kamu setuju itu?”
Nadine
masih tidak menatapnya. “Iya,” jawabnya pelan.
Ia
akhirnya mengangkat wajah sedikit, meski hanya sebentar. “Kenapa?”
“Nad.”
Valen
menarik napas lagi, kali ini lebih dalam, seolah sedang berusaha menahan
sesuatu yang terus mendesak keluar dari dadanya. “Jangan.”
“Yang
jalanin kan aku.”
“Justru
karena kamu yang jalanin,” sela Valen cepat. “Makanya aku ngomong.”
Nadine
terdiam.
“Kamu
berhak dapat orang yang menomorsatukan kamu,” lanjut Valen, suaranya mulai
bergetar oleh emosi yang sejak tadi ia tahan. “Kenapa kamu malah kasih jalan
buat dia menomorduakan kamu?”
Nadine
menundukkan kepala. “Emang siapa yang bisa menomorsatukan aku?”
Valen
menatapnya lekat-lekat. “Kamu cuma bakal nunggu orang yang gak pernah milih
kamu.”
“Iya.”
Suara Nadine terdengar lirih. “Kayak kamu.”
Valen
terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk. “Ya. Kayak aku.”
Ia
mengembuskan napas panjang sebelum melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih
lembut. “Tapi aku bebaskan kamu. Aku ingin kamu bahagia meski tanpa aku.
Bukannya malah jadi nomor dua hanya demi Xander.”
Nadine
mendesah, lalu menatap lantai cukup lama. “Dari dulu juga hasil akhirnya selalu
seperti ini ...,” katanya akhirnya. “Aku gak heran.”
Ia
berhenti sejenak, seolah ada sesuatu yang terlalu berat untuk dikeluarkan
sekaligus.
“Aku
bahkan gak tahu bahagia itu seperti apa. Pernah sekali waktu bahagia ....”
Bibirnya membentuk senyum tipis yang nyaris tidak terlihat. “Tapi mungkin itu
cuma mimpi.”
Kalimat
itu menghantam Valen lebih keras daripada yang ia duga.
Dadanya
terasa nyeri ketika ia menyadari apa yang mungkin dimaksud Nadine. Ingatannya
seketika kembali pada beberapa bulan lalu, pada satu malam ketika mereka sempat
memiliki sesuatu yang terasa seperti kebahagiaan sebelum semuanya kembali
direnggut keadaan.
Untuk
sesaat, Valen ingin maju. Ingin menarik Nadine ke dalam pelukannya, memeluknya
erat, lalu membawanya pergi dari semua kebodohan ini.
Namun
kakinya seperti terkunci di tempat.
“Kamu
bilang kamu gak heran kalau hasil akhirnya selalu seperti ini,” ujar Valen
akhirnya, berusaha mengembalikan suaranya pada ketenangan. “Bukannya ... ini
justru bisa jadi kesempatan kamu buat memutus siklus?”
Nadine
tidak menjawab.
“Sekali
aja ....” Valen menelan ludah. “Pilih sesuatu yang gak bikin kamu terluka.”
Untuk
pertama kalinya sejak mereka keluar dari lounge, Nadine mengangkat wajah dan
menatap langsung ke matanya.
“Kenapa
kamu ngomong gini?”
Valen
terdiam.
“Kamu
kan jelas gak milih aku karena tekanan,” lanjut Nadine. Matanya mulai
berkaca-kaca. “Apa hak kamu ngomong gini?”
Valen
tidak mampu menjawab.
“Apa
pedulimu aku nomor satu atau dua?”
“Apa
aku harus punya alasan untuk peduli?”
Nadine
terdiam. Napasnya mulai tidak stabil, dan ketika akhirnya berbicara, suaranya
bergetar. “Kalau kamu peduli, kamu gak biarkan air mataku habis karena terseret
sistem keluargamu.”
Rahang
Valen mengeras. Dadanya bergemuruh mendengar kalimat itu.
Ia
ingin sekali meraih Nadine. Tangannya bahkan sudah mengepal kuat di sisi
tubuhnya, menahan dorongan untuk menarik perempuan itu ke dalam pelukannya dan
membawa dia lari dari semua omong kosong yang telah menghancurkan mereka.
Namun
ia tetap tidak bergerak.
“Aku
gak menyesal pernah mencintaimu ....” Suara Nadine semakin lirih. “Tapi tolong
jangan bikin aku nangis lagi mulai sekarang.”
Valen
menatapnya tanpa berkedip.
“Soal
Xander menjadikan aku selingkuhan ....” Nadine menelan ludah, berusaha
mempertahankan suaranya agar tidak pecah. “Boneka ....”
Ia
menarik napas pendek. “Dia mungkin gak bakal pernah milih aku.”
Nadine
terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang jauh lebih tenang. “Tapi
dia tetap datang.”
Kalimat
itu terasa seperti sesuatu yang ditusukkan tepat ke dada Valen.
Ia
tahu apa yang sebenarnya sedang Nadine katakan tanpa perlu dijelaskan. Selama
ini Xander tetap datang, sementara dirinya tidak. Valen bahkan nyaris mengutuk
dirinya sendiri karena merasa begitu lemah, karena tidak pernah benar-benar
mampu memberontak terhadap Bernard dan semua sistem yang mengikat hidupnya.
Namun
bukannya diam, ia justru kembali melawan.
“Meski
kamu hidup dalam kepalsuan?” tanya Valen. “Kamu dinomorduakan, disembunyikan,
terus berhati-hati supaya gak mengundang skandal dengan laki orang. Itu hidup
macam apa?”
Nadine
langsung terpukul. Air matanya yang sejak tadi hanya menggenang akhirnya jatuh.
“A-aku
udah bilang ....” Suaranya pecah. “Jangan bikin aku nangis lagi.”
Valen
terdiam.
“Kenapa
kamu tega banget sama aku, sih?” Nadine menatapnya dengan mata basah. “Kalau
kamu sepeduli itu, tunjukkan! Jangan cuma ngomong doang!”
Valen
membeku. Ia membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Untuk
pertama kalinya, ia benar-benar tidak punya jawaban.
Tubuhnya
bahkan bergerak maju setengah langkah, seolah nalurinya ingin mengejar Nadine,
tetapi langkah itu berhenti di tengah jalan. Ada sesuatu yang kembali
menahannya. Ketakutan, kewajiban, atau mungkin sekadar ketidakmampuan untuk
melepaskan hidup yang selama ini ia jalani.
Nadine
melihat itu, dan sepertinya ia sudah mendapatkan jawabannya.
“Gak
bisa, kan?” katanya lirih. “Gak sanggup, kan?”
Senyum
getir muncul di wajahnya meski air mata masih membasahi pipi. “Urus urusanmu
sendiri. Kita jalan masing-masing.”
Tanpa
menunggu jawaban, Nadine berbalik dan pergi, meninggalkan Valen sendirian di
sudut koridor.
Valen
tetap berdiri di sana cukup lama.
Ia
tidak mengejar maupun memanggil.
Benaknya
justru memutar ulang semua kejadian manis bersama Nadine, satu demi satu,
seolah ingatannya sengaja memilih saat-saat yang paling tidak ia butuhkan
sekarang.
Sungguh
tidak membantu.
Valen
akhirnya menarik napas dalam-dalam dan memaksa dirinya mengatur kembali napas
yang sejak tadi berantakan.
Nadine
benar.
Ia
terlalu sibuk meluruskan apa yang menurutnya salah. Terlalu sibuk menyuruh
Nadine keluar dari lingkaran yang menyakitinya, seolah dirinya sendiri sudah
berhasil keluar dari sana.
Padahal
tidak.
Ia
masih hidup di lingkaran yang sama, tunduk pada aturan yang sama, serta masih
membiarkan Bernard menentukan batas hidupnya.
Valen
menundukkan kepala. Apa gue sanggup berdiri di kaki sendiri?
Pertanyaan
itu terasa jauh lebih menakutkan daripada apa pun yang baru saja ia dengar dari
Nadine.
Apa gue cuma bernilai selama gue memakai topeng CEO Orison Silver Light?
Untuk
pertama kalinya malam itu, Valen tidak sedang memikirkan bagaimana
menyelamatkan Nadine.
Ia
sedang mempertanyakan apakah dirinya sendiri mampu diselamatkan.
“U
okay?”
Suara
yang tiba-tiba muncul membuat Valen tersentak. Ia mengangkat wajah dan
mendapati Liam berdiri beberapa langkah darinya.
Tatapan
Valen kosong selama beberapa detik, seolah ia perlu waktu untuk kembali
menyadari di mana dirinya berada.
Liam
memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ekspresinya tidak lagi bercanda
seperti sebelumnya.
“Sorry,
ya,” katanya pelan. “Gue gak sengaja denger obrolan kalian.”
Valen
hanya menatapnya. “....”
Tak
lama kemudian, keduanya sudah berpindah ke studio Liam. Mereka duduk santai
sambil minum kopi dan merokok, dengan suasana yang jauh lebih tenang
dibandingkan klub tadi.
“Jadi,
apa rencana lo selanjutnya?” tanya Liam sambil mengembuskan asap rokok ke
udara.
Valen
tersenyum sekilas, entah kepada siapa. “Bikin lagu.”
“Damn!”
Liam langsung menepuk pahanya sendiri. “Sumpah, gak gue duga jawaban lo tuh.”
“Lo
pikir gue bakal jawab apa?”
“Ya
apa kek. Nekat kawin lari kek, benturin kepala Xander biar sadar kek, atau
bekuin bapak lo yang ajaib itu di freezer.”
Valen
menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh. “Setelah dibiasakan rutin bikin
lagu ... nagih, sih. Gue aja lupa dulu pernah ngerasa sehidup ini kalau lagi
bikin lagu.”
Liam
tersenyum kecil, lalu menepuk bahu Valen beberapa kali. “Keliatannya bakal
banyak lagu keluar dari kepala lo.”
“Gue
juga curiga begitu.”
Liam
kemudian merogoh HP dari sakunya dan membuka aplikasi video VouTube. Beberapa detik kemudian,
ia membuka channel LA Band lalu menyodorkan layarnya kepada Valen.
“Lo
pernah perhatiin pertumbuhan channel LA Band gak sih?”
“Huh?”
“Sejak
kita rilis dua lagu lo ....” Liam menunjuk angka-angka di layar. “Subscriber
naik banyak. Views, likes, bengkak!”
Valen
menatap layar dengan ekspresi yang berubah perlahan. Ia sama sekali tidak
menyangka.
Tanpa
berkata apa-apa, ia merebut HP Liam dan mulai scrolling sendiri.
“Gue
inget banget,” lanjut Liam, “sebelum upload lagu pertama dari lo, subscriber
kita tuh sekitar delapan belas ribuan sekian. Lagu pertama muncul, langsung
empat puluh ribuan. Lagu kedua? Sekarang sembilan puluh ribu!”
Ia
menunjuk layar dengan penuh semangat. “Lihat tuh. Lagu kedua views-nya udah
delapan ratus ribu.”
Valen
terdiam cukup lama. Matanya berhenti pada angka yang tertera di layar.
“...Likes
lima puluh lima ribu,” desisnya, masih tidak percaya.
Liam
sampai terkekeh melihat ekspresinya. “Shock amat muka lo.”
“Ini
yang ngelikes orang beneran?”
“Ya
iyalah, anjir!” Liam langsung mencibir. “Sialan lo, organik ini! Baca aja
komen-komennya. Pujian natural semua.”
Valen
membuka kolom komentar.
Liam
benar.
Satu
demi satu komentar yang muncul berisi respons positif terhadap lagu mereka. Ada
yang memuji aransemen, vokal, lirik, bahkan ada yang mengaku memutar lagu
tersebut berulang kali.
Valen
membaca semuanya dalam diam.
Ada
sesuatu yang membuat tengkuknya merinding.
Semua
itu berangkat dari gitarnya sendiri.
Sesuatu
yang dulu bahkan tidak pernah ia bayangkan akan didengar orang lain, sekarang
ternyata sudah sampai ke ribuan, bahkan ratusan ribu orang.
“Minggu
depan jadwal manggung,” ujar Liam, wajahnya mulai menunjukkan kebanggaan. “Dan
kita bakal masukin playlist dua lagu ini. Lo lihat sendiri gimana reaksi crowd
nanti.”
Valen
masih menatap layar.
“Lagu
lo bagus, Valen,” kata Liam lagi. “Gue kudu bilang berapa kali?”
“Skill
lo yang bikin lagu jadi bagus.”
Liam
mendecakkan lidah, gemas. “Jangan rendah diri terus bisa gak sih?”
Valen
tidak menjawab.
Ia
justru kembali scrolling sampai membuka bagian deskripsi salah satu video.
Matanya berhenti pada satu baris kecil yang tertera di sana.
Songwriter:
Valentino Ghandy
Valen
mengerutkan alis. Ia lalu menunjukkan layar itu kepada Liam. “Bisa revisi ini
gak? Jangan nama lengkap gue.”
Liam
langsung mengambil HP tersebut dari tangannya. “Lho? Kenapa? Jadi tulis apa?”
Valen
mengangkat bahu. “Hmm.”
Ia
berpikir sebentar.
“Valen
aja?” Liam menawarkan. “Atau gue tulis ‘Valen Doang’.”
Valen
tertawa kecil. “Inisial aja. V.G.”
Liam
langsung mulai mengedit bagian deskripsi tersebut.
Valen
memperhatikan layar dengan sedikit gelisah. “Lo nih gak koordinasi dulu. Keburu
dilihat banyak orang.”
“Ya
sekarang udah gue ganti.” Liam menyelesaikan editannya, lalu menunjukkan
kembali layar HP. “Next lagu ketiga bakal lebih meledak lagi, pasti. Nama lo
seterusnya VG, ya? Confirm?”
“Yes.”
Liam
mengangguk puas, tetapi beberapa detik kemudian alisnya berkerut saat
memperhatikan dua huruf itu.
“VG
bukannya inisial si Nadine juga?”
Valen
mengembuskan napas gemas. Entah kenapa, bahkan setelah semua rangkaian
percakapan malam ini, topik Nadine tetap berhasil muncul lagi.
“Ya
emang nama dia.”
Liam
menoleh. “Seriusan?”
“Nadine
Virginia Gunawan.”
“Damn.”
Liam langsung menyeringai lebar. “Dari inisial aja kalian udah jodoh! Kawin
lari aja udah, sih.”
Valen
memicingkan mata ke arahnya, jelas sebal.
“Lo
sendiri?” balasnya. “Mau sampai kapan backstreet sama Rhea?”
Liam
yang saat itu sedang minum langsung tersedak dan menyemburkan minumannya. “Siapa
yang bilang??”
Ia
buru-buru menyeka mulutnya sambil menatap Valen dengan ekspresi tidak percaya,
seolah baru saja dituduh melakukan kejahatan besar.
Valen
menyeringai. “Lo berhasil sembunyi-sembunyi dari anak-anak band dan anak-anak
VVIP. Tapi sayangnya ....” Ia sengaja berhenti sebentar, menikmati ekspresi
Liam yang mulai waspada. “Gue pernah gak sengaja. Sekali lagi, gak sengaja, ya.
Pergokin lo sama Rhea di control room.”
Liam
langsung kelihatan panik dan canggung.
“Gue
langsung balik badan, tenang,” lanjut Valen santai. “Gue juga ogah nyaksiin
yang lebih vulgar.”
Liam
semakin salah tingkah.
“Lo
punya rumah gede malah milih main di control room, Liam ....” Valen
menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa kecil. “Liam.”
“Enggak,
ya.” Liam buru-buru mengangkat tangan, merasa perlu mengklarifikasi. “Gue sama
Rhea gak pernah sampai main beneran.”
“Lah?”
Wajah
Liam langsung memerah. Ia menggaruk belakang lehernya, jelas malu setengah mati
sebelum akhirnya bergumam, “Rhea ... masih V.”
Valen
menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Sumpah,”
lanjut Liam, yang tampaknya merasa harus menjelaskan diri meski semakin membuat
situasi canggung. “Tuh anak masih V. Gue aja beberapa kali kudu nahan diri biar
dia gak rusak sama gue. Yang ... yang lo lihat itu mungkin emang gue lagi
sekadar cipokan doang. Gak ngegaspol, asli. Gak pernah.”
Valen
hanya mengangguk-angguk pelan. “Ah.”
Liam
akhirnya mulai sedikit tenang setelah kepanikannya mereda. Ia mengambil kopinya
lagi dan bersandar santai.
“Gue
backstreet biar gue bisa tetap netral sama anak band yang lain juga. Gak
condong sebelah.”
“Dan
lo sembunyi-sembunyi dari VVIP karena lo kadung tanam saham di klub?”
Liam
melirik Valen, lalu tertawa ringan. “Lo tahu kenapa gue iya-iain tanda tangan
kontrak dengan aturan VVIP Member dilarang pacaran, apalagi menikah? Bahkan
sampai setorin miliaran di sana?”
Valen
menunggu.
“Karena
gue diam-diam mau ngamatin berapa lama mereka bertahan dengan prinsip absurd
itu.”
Valen
langsung mengangguk-angguk dengan senyum penuh persetujuan.
“Lihat,
kan?” Liam menunjuk ke arah Valen dengan ekspresi puas. “Udah mulai berguguran
satu per satu. Dimulai dari Alexander, yang paling bossy.”
“I
see.” Valen tertawa kecil. “Jadi lo gabung jadi VVIP demi tontonan menarik.”
Liam
mengangguk mantap.
“Mungkin
gak cuma lo yang punya pikiran demikian, ya?” Valen melanjutkan. “Bisa jadi
yang lain juga.”
“Gue
mau geer. Kayaknya cuma gue, sih.” Liam menyandarkan punggungnya lagi. “Yang
lain gue perhatiin punya backstory yang bikin trauma sama hubungan asmara.
Makanya mereka kasih nama Tuna Asmara, right?”
Ia
terkekeh sendiri. “Makanya gue tuh kepo pengen lihat siapa aja yang dapet
giliran ditendang dari member.”
Liam
tiba-tiba menatap Valen dengan ekspresi waspada, lalu buru-buru menambahkan, “Lo
tahu kartu gue nih. Jangan spill ke mereka, awas lo.”
Valen
tertawa ringan. “Santai. Ngapain juga gue spill?”
Ia
mengangkat bahu, lalu menatap kosong ke depan.
“Gue
cuma peduli sama lagu-lagu gue yang akhirnya utuh di tangan lo. Dan sama ....”
Valen berhenti, seperti baru sadar dirinya hampir mengatakan sesuatu yang
seharusnya tidak perlu keluar. “Nggak. Gak jadi.”
Liam
langsung menyambar tanpa memberi kesempatan. “Sama Nadine.”
Valen
menoleh tajam. “Sialan lo.”
Liam
terbahak puas melihat reaksinya.
“Berarti
umur Xander sebagai member tinggal seminggu lagi, ya?” Valen mengalihkan
pembicaraan. “Minggu depan pesta pertunangan dia sama Abby.”
“Oh,
ya?” Liam mengangkat alis. “Wah, berarti Xander ngelewatin aksi panggung LA
Band. Lo juga dong? Kan lo harus datang ke pesta?”
“Setor
muka doang cukup. Udahnya langsung ke klub.”
“Good.”
Liam meneguk sisa kopinya sebelum meletakkan cangkir kembali di meja.
Ia
terdiam sejenak, lalu seperti baru teringat sesuatu.
“Lo
sadar gak sih? Si Xander tuh tiba-tiba ada kemajuan dengan akhirnya buang label
heartless-nya dan jalan sama Nadine. Itu gara-gara lagu lo waktu pertama
manggung di klub.”
Valen
yang tadinya santai langsung menoleh. “Huh?”
“Gue
perhatiin emang gitu.” Liam mengusap dagunya sambil berpikir. “Lagu lo tuh
pembawa perubahan. Lo harus sadar itu.”
Ia
menghela napas, lalu menambahkan dengan nada lebih berat, “Cuma emang sayang
aja, akhirnya dia malah dijodohkan sama orang lain.”
Valen
terdiam lama.
Pandangannya
jatuh ke meja, tetapi pikirannya seolah bergerak jauh ke tempat lain. Beberapa
detik kemudian, ia meraih notes kecil yang biasa dibawanya dan membuka salah
satu halaman kosong.
Tanpa
mengatakan apa-apa, Valen mulai menulis.
Liam
memperhatikannya sebentar sebelum terkekeh. “Songwriter gue tiba-tiba dapet
ilham, rupanya.”
Valen
tidak menjawab. Ia sudah sepenuhnya terkunci pada apa yang sedang ditulisnya,
seolah suara dan keberadaan Liam perlahan menghilang dari sekeliling.
Liam
akhirnya bangkit dari kursinya. Sebelum pergi, ia menepuk bahu Valen dengan
santai. “Take your time, maestro.”
Setelah
itu Liam meninggalkan studio, membiarkan Valen tetap tenggelam bersama notes
kecilnya dan sesuatu yang perlahan mulai mengambil bentuk di kepalanya.
Comments
Post a Comment