KAMPH (23-24)
23 – Tragedi
Seminggu
kemudian, suasana live music night di klub malam itu terasa jauh lebih padat
dari biasanya. Sorak-sorai pengunjung memenuhi ruangan, meneriakkan nama LA
Band dan Liam, lalu berubah menjadi gelombang histeria begitu band itu muncul
di atas panggung dan mulai mengguncang malam itu.
Valen
muncul beberapa saat kemudian, masih mengenakan pakaian formal dari pesta
Xander dan Abby. Begitu masuk, langkahnya sempat melambat karena terpukau
melihat antusiasme penonton. LA Band benar-benar sedang membawakan lagu-lagu
mereka dengan luar biasa malam itu.
Ia
akhirnya memilih duduk di salah satu bar stool, berharap bisa menikmati suasana
tanpa terlalu menarik perhatian. Namun Rain sudah lebih dulu menyadarinya.
“Udah
selesai pestanya?” tanya Rain sambil menuangkan minuman ke gelas kosong, lalu
menyodorkannya kepada Valen.
“Masih
sesi makan-makan. Gue cabut duluan,” jawab Valen santai sebelum menyesap
minumannya.
Rain
mengangguk kecil, lalu bertanya, “Xander bilang bakal ke sini nggak?”
Valen
hanya mengangkat bahu. “Mana tau. Gue udah nggak pernah ngomong lagi sama dia.
Selain urusan kerjaan.”
Rain
menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh kecil. “Gara-gara cewek. Klasik.”
Belum
sempat Valen menanggapi, suara Liam terdengar dari atas panggung.
“Okay,
guys! Next song ....” Liam sengaja menahan kalimatnya sejenak, membuat penonton
semakin riuh. “Lagu baru yang, kalau bukan karena orang ini, lagu ini nggak
bakal lahir.”
Seketika
terdengar gemuruh antisipasi dari seluruh penjuru ruangan.
“Mr.
Valen!”
Valen
yang baru saja hendak menyesap minumannya langsung berhenti. Ia menoleh ke arah
panggung dengan ekspresi tidak percaya, lalu meringis begitu menyadari apa yang
sedang dilakukan Liam.
Liam
sudah tersenyum lebar ke arah penonton. “Valen mana, Valen? Udah muncul belum?”
Beberapa
orang di sekitar bar yang mengenali Valen langsung bersahutan sambil menunjuk
ke arahnya.
“Ini,
ini di sini!”
Valen
akhirnya memutar tubuh ke arah panggung dan mengangkat tangan dengan lambaian
canggung, seolah berharap Liam puas hanya dengan itu.
“There
you are!” Liam langsung menunjuk ke arahnya. “Guys, kalau ngerasa baper sama
liriknya, minta tanggung jawab ke beliau, ya. Okay?”
Penonton
tertawa dan bersorak semakin keras.
“Drum
roll!”
Begitu
ketukan drum terdengar, lagu baru itu pun dimulai. Energinya langsung meledak
memenuhi klub. Penonton yang sejak awal sudah antusias kini benar-benar pecah,
ikut bernyanyi bersama Liam seolah lagu tersebut sudah mereka kenal sejak lama.
Valen
hanya bisa menggerutu sambil menatap panggung. “Minta tanggung jawab. Seenaknya
aja tuh anak.”
Ia
kembali menyesap minumannya, tetapi kali ini senyum tipis mulai muncul di
wajahnya. Ada rasa bangga yang sulit disembunyikan ketika melihat begitu banyak
orang meneriakkan lirik yang dulu hanya ada di kepalanya.
Nada-nada
yang kini memenuhi ruangan itu tadinya cuma lahir dari petikan gitar biasa.
Sebuah melodi yang ia mainkan tanpa pernah membayangkan akan didengar ratusan
orang, apalagi diteriakkan bersama seperti malam ini.
Tanpa
sadar, Valen menyodorkan gelas kosongnya ke arah Rain. “Rain. Kali ini buat
rayain diri gue sendiri.”
Rain
tertawa kecil sambil menuangkan minuman lagi ke gelasnya. “Nice song, Valen.
Nggak heran Liam lebih bersemangat akhir-akhir ini.”
Valen
hanya tersenyum. Kali ini senyumnya lebih jelas, membawa kepuasan dan
kebanggaan yang tidak perlu ia sembunyikan. Ia menenggak minumannya perlahan
sambil kembali memandang panggung.
Dua
lagu yang Valen ciptakan sudah digaungkan malam itu, dan penonton benar-benar
hanyut dalam euforia. Liam pun terlihat tersenyum puas dari atas panggung,
menikmati energi yang diberikan penonton kepadanya.
Sementara
itu, Valen tetap di bar, membiarkan dirinya menikmati rasa bangga yang perlahan
memenuhi dada.
Satu
nomor lagu lagi dimainkan. Menjelang bagian akhir, Valen sempat melihat
seseorang mendekati sisi panggung dan berdiri di sana, tampaknya sengaja
menunggu sang frontman turun setelah pertunjukan.
Valen
tidak terlalu memikirkannya. Ia kembali menikmati minumannya dan membiarkan
waktu berjalan.
Sampai
akhirnya Liam muncul di hadapannya.
Wajahnya
terlihat lelah setelah tampil, tetapi matanya justru penuh energi. Ada
excitement yang hampir tidak bisa disembunyikan, bercampur dengan kebanggaan
yang membuat senyumnya semakin lebar. Orang yang tadi menunggu di dekat
panggung juga berjalan bersamanya.
“Valen!”
Valen
langsung tersenyum lebar dan turun dari bar stool. Begitu mereka berhadapan, ia
menyambut Liam dengan bro-hug yang hangat.
“Keren
banget lo tadi. Well done!”
Liam
menepuk punggungnya sebelum melepaskan pelukan, lalu menoleh kepada pria yang
bersamanya.
“Pak,
kenalkan. Ini Valen. Songwriter dua lagu baru yang tadi kami bawakan.”
Kemudian
ia menoleh kepada Valen dengan senyum penuh arti. “Valen, beliau dari Meridian
Records. Beliau ingin bertemu dengan penulis lagu baru kita.”
Liam
mengedipkan sebelah mata kepada Valen, seolah sengaja menikmati reaksi yang
akan muncul.
Mata
Valen langsung membulat. Ia menatap Liam beberapa detik, benar-benar tidak
menyangka bahwa sebuah label rekaman sungguhan akan datang mencarinya.
Pria
itu kemudian mengulurkan kartu namanya dengan sopan. “Salam kenal, Pak Valen.”
Valen
segera menerimanya dan membalas dengan memberikan kartu namanya sendiri. “Senang
bertemu dengan Anda.”
Sang
produser baru saja hendak menyimpan kartu itu ketika pandangannya kembali
tertuju pada wajah Valen. Ia menatap Valen lebih lekat, lalu ekspresinya
berubah menjadi takjub.
“Sebentar.
Maaf, bukankah Anda CEO Orison Silver Light, perusahaan teknologi itu?”
Ia
kembali melihat kartu nama Valen, pada nama dan jabatan yang tercetak di sana. “Wow.
Benar rupanya!”
Valen
hanya mengangkat alis. “Ya. Itu saya.”
Sang
produser menggeleng pelan, masih terlihat takjub. “Tidak disangka Anda adalah
sosok di balik lagu-lagu yang sungguh luar biasa ini. Saya bahkan sempat
bertanya kepada tim, ini lagu lama atau baru.”
Valen
tersenyum tipis, sementara Liam di sebelahnya terlihat semakin puas melihat
percakapan itu berkembang.
Sang
produser kemudian kembali menatap mereka berdua. “Kalau berkenan, saya ingin
ngobrol lebih lanjut. Kira-kira kapan Bapak dan teman-teman punya waktu minggu
depan?”
“Senin
pukul dua belas saya bisa,” jawab Valen tanpa banyak berpikir.
“Saya
juga,” timpal Liam cepat.
“Baik.
Saya sesuaikan jadwal dengan tim kami.”
Percakapan
itu masih berlangsung ketika Vladimir muncul di area bar. Begitu melihat Rain,
ia mengangkat alis dan memberi gestur dengan dagunya ke arah Valen, Liam, dan
pria asing yang sedang berbicara bersama mereka.
Rain
segera mendekat dan berkata agak berbisik, “Kedengarannya produser label
rekaman.”
Vladimir
menatap ke arah mereka lagi, lalu matanya langsung membesar. “For real?”
Rain
mengangguk.
Vladimir
spontan tersenyum lebar, bahkan sampai hampir tertawa karena tidak percaya. “Woooaa!
Akhirnya si Liam kenotice!”
Begitu
produser dari Meridian Records itu pergi, Liam langsung merangkul Valen
erat-erat. Valen sendiri masih sibuk meneliti kartu nama yang baru saja
diberikan kepadanya, seolah dengan melihatnya sekali lagi ia bisa memastikan
bahwa percakapan barusan benar-benar terjadi.
“Broooo!
You know what that means, rightttt?!!!” seru Liam dengan wajah berbinar-binar.
Valen
mengembuskan napas kecil, masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru
saja mereka alami. “Bro, you deserve it.”
Liam
menggeleng keras. “NO. YOU deserve it! WE deserve it!”
Ia
begitu bersemangat sampai nyaris melompat di tempat. Setelah itu, ia menoleh
kepada Rain dengan senyum lebar yang belum juga luntur. “Rain! Let's party
tonightt!”
Vladimir
yang sejak tadi ikut memperhatikan mereka langsung mengangkat gelasnya. “Congrats,
Liam, Valen! Keren banget kolaborasi kalian berdua sih. Salut!”
Malam
itu pun berubah menjadi perayaan kecil yang tidak direncanakan. Selama kurang
lebih dua jam berikutnya, anggota LA Band bersama beberapa VVIP member ikut
larut dalam suasana. Gelas-gelas terus terisi, tawa dan obrolan memenuhi area
bar, sementara Liam beberapa kali masih membicarakan tawaran dari Meridian
Records seolah takut momen itu akan terasa tidak nyata kalau ia berhenti
membahasnya.
Sampai
kemudian pintu klub terbuka.
Dylan
masuk dengan wajah yang sama sekali tidak cocok dengan suasana pesta di dalam.
Langkahnya berat, ekspresinya kusut, dan dari raut mukanya saja sudah terlihat
bahwa malam ini jauh dari kata menyenangkan baginya.
Vladimir
yang pertama kali menyadari kehadirannya langsung menghela napas. “Yah. Party's
over.”
Liam
dan Valen ikut menoleh. Keduanya saling bertukar pandang sebelum perlahan
mengendurkan ekspresi gembira mereka. Mereka tahu, untuk sementara waktu,
perayaan itu harus dihentikan. Dylan terlihat terlalu shock untuk membiarkan
mereka terus berpesta di depannya.
Rain
segera menyambut Dylan dengan segelas minuman bening yang sudah ia tahu sebagai
minuman kesukaannya.
“Gimana?”
tanyanya sambil menyerahkan gelas itu. “Lo beneran cuma stay di luar venue?”
Dylan
menerima gelas tersebut dan mengangguk datar. “Sampai Abby sama ortunya naik
mobil dan pulang.”
Vladimir
menghampirinya, lalu menepuk-nepuk bahunya dengan penuh simpati. “Lo yang
tegar, Lan. Terus mana Xander?”
Dylan
menenggak minumannya sekali jalan sebelum menjawab dengan nada dingin. “Tau.
Semoga mati.”
Ryan
yang mendengar itu langsung menggeleng. “Jangan gitu, Lan.”
Dylan
menoleh tajam kepadanya. “Lo semua di pihak gue atau Alexander keparat itu sih?”
Ryan
mengangkat kedua tangannya, berusaha menengahi sebelum suasana benar-benar
meledak. “Biar clear. Kita nggak berpihak ke siapa pun.”
Dylan
mendengus kesal. “Ah, anjing.”
Belum
sempat ada yang menanggapi, pintu klub kembali terbuka.
Xander
muncul.
Ia
masih mengenakan pakaian formal yang sama dari acara pertunangan tadi. Berbeda
dari Dylan yang tampak kacau karena emosi, Xander justru terlihat terlalu
tenang. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, seolah ia sudah menghabiskan
seluruh energinya untuk menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.
Valen
langsung memperhatikannya ketika Xander berjalan menuju sisi bar yang jauh dari
Dylan dan memilih duduk di sana.
Rain,
yang seolah tetap menjalankan tugasnya seperti biasa, menyodorkan segelas
minuman berwarna hijau bening kepada Xander.
Xander
menerimanya tanpa berkata apa-apa.
Musik
masih terdengar dari speaker, tetapi suasana di antara mereka mendadak berubah.
Ada keheningan yang terasa mencekam di tengah ruangan yang sebenarnya masih
dipenuhi suara musik dan obrolan.
Valen
terus memperhatikan Xander dari tempatnya.
Liam
menyadari hal itu dan menyikut lengannya pelan. Ia kemudian mendekat sedikit
dan berbisik, “Suasananya udah nggak enak banget ini. Mending balik ke studio
aja, yuk.”
Valen
menoleh kepadanya dan tersenyum sekilas. “Lanjut party?”
“Yoa!”
Valen
melirik jam tangannya. Sudah lewat tengah malam. Ia mengangguk kecil sebelum
berkata, “Sebentar aja gue. Kasian ninggalin anak gue kelamaan.”
“Atur!”
Mereka
baru saja hendak bergerak ketika suara dering telepon tiba-tiba membelah
keheningan.
Semua
mata spontan tertuju kepada Xander.
Telepon
itu miliknya.
Xander
mengangkatnya dan langsung menjawab dengan suara yang terdengar biasa, meski
ekspresinya masih datar.
“Papa?
... Iya, Pa, ada apa?”
Teman-teman
VVIP yang sebelumnya sibuk dengan minuman masing-masing langsung memasang
telinga. Tidak ada yang benar-benar berniat ikut campur, tetapi rasa penasaran
membuat mereka otomatis memperhatikan.
Xander
tiba-tiba terdiam. “Apa??”
Seketika
perhatian semua orang semakin terpusat kepadanya.
Valen
yang tadinya sudah bersiap pergi ikut menegakkan tubuh.
Xander
menelan ludah. Wajahnya perlahan berubah, dan untuk pertama kalinya malam itu
ketenangan di wajahnya benar-benar runtuh.
“A-apa
maksudnya?? ....”
Ia
mendengarkan suara di seberang telepon selama beberapa detik, lalu matanya
membesar.
“Abby
bunuh diri?!”
Vibes
di dalam klub seketika merosot drastis.
Tidak
ada yang lagi peduli pada musik yang masih mengalun di latar. Semua saling
berpandangan, mencoba memahami apa yang baru saja mereka dengar.
Wajah
Valen langsung pucat.
Xander
sendiri terlihat seperti kehilangan seluruh warna di wajahnya.
“Hah
... Abby ....” Suaranya bergetar ketika akhirnya menjawab ayahnya. “I-iya, Pa.
Saya segera ke sana!”
Ia
langsung memutus sambungan telepon.
Belum
sempat Xander berdiri tegak, orang-orang di sekitarnya sudah mengerubunginya.
“Xan,
what happened?”
“Abby
kenapa?”
“Dia
di mana?”
Xander
menatap mereka semua dengan mata yang masih kosong. Ia tampak kesulitan
menyusun kata-kata, sampai akhirnya hanya mampu mengucapkannya dengan suara
serak.
“Gue
... gue cabut dulu, guys.”
Ia
berbalik, tetapi sebelum melangkah lebih jauh, ia berhenti sejenak.
“Abby
... Abby iris nadinya sendiri.”
Xander
langsung beranjak pergi.
Dylan
yang mendengar kalimat itu bahkan tidak berpikir dua kali. Ia segera menyusul
Xander keluar dari klub.
Liam
masih berdiri di tempatnya, menatap pintu yang baru saja dilewati keduanya
dengan ekspresi shock. “Anjir .... What the hell happened?!”
Valen
menoleh kepada Liam. Wajahnya masih pucat, tetapi sorot matanya sudah
menunjukkan keputusan yang jelas.
“Gue
susul Xander juga. Sorry, nggak bisa ikut lo party.”
Tanpa
menunggu jawaban, Valen segera mengambil barang-barangnya dan bergegas keluar.
Dari kejauhan, ia sempat melihat mobil Xander meninggalkan area klub, lalu
langsung mengikuti dari belakang.
Mobil
Dylan tampaknya juga bergerak tak lama setelah itu.
Malam
yang beberapa menit lalu masih dipenuhi sorak-sorai kemenangan kini berubah
menjadi perjalanan sunyi menuju sesuatu yang tidak seorang pun dari mereka siap
hadapi.
24 – Rantai Itu Hanya Sejauh Keputusan
Di
rumah sakit, suasana lorong emergency terasa jauh berbeda dari hiruk-pikuk klub
beberapa waktu lalu. Lampu putih menyilaukan, aroma antiseptik memenuhi udara,
dan suara langkah kaki para tenaga medis sesekali terdengar dari balik pintu
ruang tindakan.
Valen
melihat Dylan tidak langsung masuk. Pria itu justru mengikuti Xander dari
kejauhan, lalu berhenti dan bersembunyi di balik dinding, seolah masih ingin
mengetahui keadaan tanpa harus berhadapan langsung dengannya.
Valen
tidak sempat memikirkan itu terlalu lama. Ia segera menyusul Xander dan
menyejajari langkahnya. “Xan, kok bisa? Abby tadi baik-baik aja!”
Xander
tidak menjawab. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya pucat dan kosong, seakan
belum benar-benar mampu mencerna apa yang sedang terjadi.
Di
depan ruang emergency, Andrew sudah berada di sana dengan wajah penuh
kecemasan. Bernard juga tampak berdiri tidak jauh dari mereka, tetapi seperti
biasa, ekspresinya lebih sulit dibaca. Ia hanya berdiri dan menunggu.
Yang
paling mengenaskan justru kedua orang tua Abby. Mereka duduk bersebelahan di
kursi lorong, saling merangkul sambil menangis, tubuh mereka sesekali bergetar
karena tangisan yang tidak lagi bisa ditahan.
Xander
akhirnya berhenti di depan Andrew.
“Pa
....” Suaranya terdengar serak. “Gimana Abby? D-dia selamat, kan?”
Andrew
menggeleng pelan, wajahnya penuh prihatin. “Kita hanya bisa menunggu.”
Ia
mengusap wajahnya sendiri, tampak kelelahan dan cemas. “Papa cari kopi dulu.
Kamu kabari kalau dokter kasih kabar.”
Andrew
kemudian pergi meninggalkan mereka.
Valen
melihat Xander masih berdiri seperti orang kehilangan arah. Ia segera
merangkulnya dan membimbingnya menuju kursi.
“Duduk
dulu.”
Xander
menurut tanpa protes.
Bernard
yang sejak tadi berdiri di dekat sana mengangkat bahu kecil, seolah sudah
mengambil keputusan untuk pergi. Namun sebelum benar-benar meninggalkan mereka,
ia sempat menghampiri Valen yang masih merangkul Xander.
“Andrew
salah memilih calon.”
Xander
diam. Tatapannya tetap kosong ke depan.
Bernard
melanjutkan dengan suara datar, bahkan tanpa menatap. “Perempuan seperti itu
tidak cocok masuk keluarga ini.”
Valen
langsung menoleh. “Pa ....”
“Baru
diberi tekanan sedikit sudah memilih bunuh diri.” Bernard tetap tenang, seolah
sedang membicarakan sebuah kesalahan bisnis. “Mentalnya terlalu rapuh. Lemah.”
Valen
yang sejak tadi berusaha menahan emosinya akhirnya meledak. “PA! Papa lihat
dulu kondisinya!”
Baru
kali itu Bernard menoleh. Tatapannya tetap datar, nyaris tanpa emosi. “Saya
sedang melihatnya.”
Valen
terdiam sesaat, tidak percaya mendengar jawaban itu.
Bernard
kemudian mengangkat telunjuknya di depan wajah Valen. “Ini pelajaran.”
Nada
suaranya tetap tenang, tetapi justru itulah yang membuat perkataannya terasa
semakin menusuk. “Untukmu nanti saya akan cari perempuan yang lebih tahan
banting.”
Bernard
menepuk pelan bahu Valen, seolah baru saja memberikan nasihat biasa. “Temani
Alexander. Senin masuk kantor seperti biasa.”
Setelah
itu Bernard pergi.
Lorong
kembali sunyi.
Valen
masih menatap punggung ayahnya yang semakin menjauh. Rahangnya mengeras,
sementara ekspresi kecewa perlahan menggantikan kemarahan yang tadi meledak.
“...
Papa nggak berubah sedikit pun.”
Ia
akhirnya mengalihkan perhatian kembali kepada Xander. Valen membimbingnya agar
duduk lebih nyaman.
“Duduk
dulu, Xan. Gue cari air dulu buat lo. Lo di sini aja.”
Xander
tidak bereaksi.
Valen
pergi sebentar dan kembali tidak lama kemudian membawa sebotol air. Ia membuka
tutupnya, lalu menyerahkannya kepada Xander. “Minum. Minum dulu.”
Xander
menerima botol itu dengan gerakan lambat dan meneguk sedikit. Setelah itu ia
hanya memegang botol tersebut di kedua tangannya.
Valen
duduk di sampingnya.
Beberapa
saat mereka hanya diam, membiarkan suara samar aktivitas rumah sakit mengisi
lorong.
Sampai
akhirnya Xander bicara dengan suara yang hampir seperti bisikan.
“Abby
sering bujuk ....”
Valen
menoleh kepadanya.
“Bujuk
gue untuk batalkan ini semua.”
Valen
menatap Xander dengan serius, tetapi tidak menyela.
“Gue
cuekin ....” Xander berhenti sebentar, menarik napas yang terdengar berat. “Karena
gue tahu itu nggak mungkin.”
Ia
menunduk, jemarinya mencengkeram botol air. “Tapi kenapa dia malah senekat ini?”
Nada
suaranya mulai pecah. Bingung, marah, kalut, dan cemas bercampur menjadi satu.
“Sedemikian
alerginya Abby sama gue? Sampai milih kabur ke dunia lain?”
Valen
tidak langsung menjawab.
Xander
mengangkat wajahnya dan menatap kosong ke depan. “Gue monster?”
“Stop,
Xan.” Valen segera menegaskan suaranya. “Jangan bikin skenario sendiri.”
“Kalau
dia sampai nggak selamat ....” Xander menelan ludah. “Itu gara-gara gue?”
“Gue
bilang cukup!”
Valen
menatapnya tegas. Setelah emosinya mereda sedikit, suaranya berubah lebih
lembut.
“Lo
... gue tahu lo shock. Tapi sekarang nggak ada cara lain selain lo doain
keselamatan Abby.”
Xander
akhirnya diam.
Mereka
kembali menunggu. Waktu berjalan lambat di lorong rumah sakit yang dingin itu.
Sekitar
pukul dua dini hari, seorang dokter keluar sebentar dari ruang emergency. Semua
yang menunggu langsung menoleh, tetapi dokter hanya memberikan kabar singkat.
“Kondisi
pasien masih kritis. Kami masih berusaha menstabilkan kondisinya.”
Tidak
ada penjelasan panjang setelah itu. Tidak ada kepastian kapan Abby akan sadar,
bahkan belum ada jaminan bahwa kondisinya akan segera membaik
Sekitar
pukul dua lewat tiga puluh hingga mendekati pukul tiga, dokter kembali
memanggil kedua orang tua Abby untuk berbicara. Pertemuan itu tidak berlangsung
lama, tetapi ketika keduanya keluar dari ruang dokter, mereka langsung
menghampiri Andrew dan berbicara dengan wajah yang masih penuh kecemasan.
Dari
kejauhan, Xander memperhatikan mereka tanpa berkedip.
Kakinya
terus bergerak gelisah, lututnya bergoyang tanpa henti karena ia tidak mampu
menahan kecemasan yang semakin menumpuk.
Valen
yang melihat itu segera meremas bahunya.
“Tenang
dulu, Xan ...,” katanya pelan. “Semoga kabar baik.”
Tak
lama kemudian, Andrew berjalan mendekati mereka.
Xander
dan Valen langsung berdiri.
Keduanya
menatap Andrew dengan penuh kecemasan, menunggu apa pun yang akan keluar dari
mulut pria itu.
Andrew
berdiri di hadapan mereka dengan ekspresi yang aneh. Wajahnya tampak lelah,
tetapi ada sesuatu yang membuat sorot matanya berbeda dari sebelumnya.
Xander
langsung menangkap perubahan itu.”Alexander.”
“Gimana,
Pa?” Xander segera bertanya, suaranya penuh kecemasan. “Abby gimana?”
Andrew
tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa detik, seolah sedang mencari cara
untuk menyampaikan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri masih sulit untuk
percaya.
“Dokter
bilang ....” Andrew menarik napas pelan. “Abby sedang hamil.”
Xander
membeku. “... Apa?”
Valen
yang berdiri di sampingnya ikut terdiam, matanya melebar.
Andrew
menatap putranya dengan serius. “Itu anakmu?”
Xander
semakin shock. “A-aku nggak tahu kalau ....”
“Kamu
pernah?”
Xander
terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab lirih. “... Ya.”
Valen
mengusap rambutnya sendiri dengan frustrasi dan depresi. Ia lalu menatap
Andrew. “Om ... dokter bilang apa lagi? Apa masa kritisnya udah lewat?”
Andrew
menggeleng. “Dokter panggil orang tua Abby hanya untuk menanyakan soal
kehamilan.”
Setelah
mengatakan itu, Andrew menjauh lagi, meninggalkan kedua pria itu dengan
kenyataan baru yang sama sekali tidak mereka duga.
Xander
perlahan menjatuhkan dirinya ke kursi.
Valen
kembali duduk di sampingnya. Kali ini ada dua hal yang memenuhi pikirannya
sekaligus. Abby masih dalam kondisi kritis, dan sekarang mereka tahu ada
seorang bayi yang juga sedang berjuang di dalam tubuh perempuan itu.
Atau
setidaknya, begitu yang masih bisa mereka harapkan.
Pukul
lima pagi, dokter kembali keluar dari ruang emergency.
Kali
ini kabarnya sedikit lebih baik.
“Kami
berhasil menyelamatkan nyawa Abby. Namun kehamilannya tidak dapat
dipertahankan.”
Dokter
berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Dan ... ada dua kantung janin.”
Valen
menahan napas.
“Kondisinya
mulai stabil, namun pasien masih belum sadar.”
Xander
tidak bereaksi.
Valen
yang berdiri beberapa meter di belakangnya justru langsung melihat perubahan
pada wajah Xander. Wajah itu perlahan menjadi kosong.
Bukan
sedih.
Kosong.
Xander
berjalan kembali ke kursi lorong dan duduk perlahan. Kedua sikunya bertumpu di
paha, sementara tangannya menutupi seluruh wajah.
Valen
tidak mengatakan apa-apa.
Lima
menit berlalu.
Lalu
sepuluh menit.
Tidak
ada suara dari Xander.
Akhirnya
Valen duduk di sampingnya. Ia tidak mencoba menasihati, tidak mengatakan
semuanya akan baik-baik saja, karena ia tahu tidak ada kalimat yang cukup untuk
keadaan seperti ini.
Ia
hanya hadir.
Beberapa
saat kemudian, Xander akhirnya bersuara. Suaranya nyaris tidak terdengar. “Dia
hamil.”
Valen
menoleh kepadanya.
Xander
tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar begitu hancur hingga lebih menyakitkan
daripada tangisan. “Kembar.”
Valen
terdiam.
Baru
sekarang ia benar-benar menyadari bahwa yang hancur malam itu bukan cuma sebuah
hubungan atau sebuah rencana pernikahan. Ada dua kehidupan yang bahkan belum
sempat melihat dunia.
Xander
menunduk semakin dalam. “Gue bunuh mereka.”
Valen
langsung menoleh tajam. “Jangan ngomong begitu.”
Xander
menggeleng pelan, seperti tidak mampu menghentikan pikirannya sendiri. “Kalau
gue nggak iyain perjodohan ....”
Ia
berhenti, menarik napas yang bergetar. “Kalau gue nggak egois ....”
Kedua
tangannya kembali mengepal. “Kalau gue denger omongan lo ....”
Valen
tidak membiarkannya melanjutkan. Ia mengambil botol air mineral, membuka
tutupnya, lalu menaruhnya di samping Xander. “Minum.”
Xander
tidak langsung bergerak.
Valen
tetap membiarkan botol itu di sana.
Tidak
ada lagi yang perlu dikatakan.
Sekitar
pukul sebelas siang, Abby akhirnya sadar.
Namun
Xander dan Valen masih menunggu di luar. Hanya kedua orang tua Abby yang
diperbolehkan masuk menemuinya.
Tidak
lama kemudian, mereka keluar kembali dan menghampiri Andrew.
Andrew
terlihat sangat lelah ketika berjalan menuju Xander dan Valen.
“Kita
bisa pulang sekarang,” katanya pelan. “Abby sudah sadar. Nggak perlu ditunggui
lagi.”
Valen
langsung bertanya, “Gimana Abby di dalam, Om?”
Xander
berdiri sedikit lebih tegak. “Aku bisa jenguk?”
Andrew
menggeleng. “Abby tidak ingin ditemui siapa pun.”
Ia
berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan berat, “Dan itu ... termasuk kamu,
Xander.”
Xander
menunduk sedikit. “... Dia ngomong apa lagi?”
Andrew
menatapnya beberapa saat sebelum menjawab. “Abby hanya berkata, dia nekat
karena ... tidak ingin menikah denganmu.”
Xander
kembali menunduk.
Sebenarnya
ia sudah mencurigai alasan itu sejak awal. Namun mendengarnya secara langsung
membuat dugaan yang selama ini ia tahan akhirnya menjadi kenyataan.
Andrew
menghela napas panjang. “Maaf kamu harus mengalami ini, Xander. Papa menyesal.”
Ia
kemudian menarik Xander ke dalam pelukannya.
Xander
tidak membalas. Tubuhnya hanya diam di sana, seperti sudah terlalu lelah untuk
memberikan respons apa pun.
Andrew
akhirnya melepaskannya. “Ayo pulang.”
Valen
memperhatikan Xander dari samping. Pria yang biasanya begitu dingin, percaya
diri, dan sulit ditembus itu kini terlihat benar-benar kehilangan bentuk.
Untuk
pertama kalinya, Xander terlihat manusia.
Valen
tahu, bukan penolakan Abby yang membuatnya terpuruk sedalam ini. Bukan juga
pertunangan yang gagal. Yang menghantamnya adalah kenyataan bahwa Abby nyaris
kehilangan nyawanya dan dua janin di dalam rahimnya tidak berhasil
diselamatkan.
Valen
merangkul bahu Xander dengan ringan dan membantunya berjalan menuju mobil.
Sepanjang
perjalanan menuju kondominium Xander, tidak satu pun dari mereka berbicara.
Xander
hanya duduk diam dengan tatapan kosong mengarah ke luar jendela. Valen pun
tidak mencoba memancing percakapan. Ia membiarkan sepupunya itu tenggelam dalam
pikirannya sendiri, setidaknya sampai mereka tiba.
Begitu
mobil berhenti di depan lobby kondominium, Valen pelan berkata, “Gue suruh
orang nanti antarkan mobil lo ke sini.”
Xander
hanya mengangguk.
“Rest.”
Tidak
ada jawaban.
Xander
membuka seatbelt, lalu meraih gagang pintu. Namun sebelum turun, ia berhenti.
“Val.”
Valen
menoleh.
Xander
tidak menatapnya. Ia hanya mengangguk dalam, seolah sedang mengumpulkan tenaga
untuk mengatakan sesuatu yang sederhana.
“Makasih.”
Setelah
itu, Xander membuka pintu dan turun dari mobil.
Valen
hanya memandanginya dari balik kaca sampai sosok Xander menghilang ke dalam
lobby.
Meski
tubuhnya sudah lelah, Valen tetap tidak bisa terlelap. Ia masih berbaring di
atas ranjang dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar. Pikirannya terus
kembali pada kejadian yang baru saja terjadi, pada Xander yang ia tinggalkan di
depan lobby dalam keadaan nyaris tidak bereaksi, dan pada Abby yang masih
terbaring di rumah sakit.
Beberapa
kali Valen meraih ponselnya, lalu mengurungkan niat.
Ia
sebenarnya sedang bertengkar dengan dirinya sendiri. Ada satu nama yang terus
muncul di kepalanya, tetapi menghubungi orang itu berarti membuka pintu yang
selama ini sengaja ia biarkan tertutup.
Pada
akhirnya, Valen menyerah.
Ia
mengambil ponselnya, membuka tab chat Nadine, lalu menatap ruang percakapan itu
beberapa detik sebelum akhirnya mengetik.
“Ada
sesuatu terjadi pada Alexander. Kalau dia membutuhkan sandaran, aku pikir hanya
kamu yang bisa memberikannya.”
Pesan
itu langsung terbaca.
Tidak
sampai beberapa detik kemudian, balasan Nadine muncul. “Apa yang terjadi?
Bukannya semalam dia baru tunangan?”
Pesan
kedua menyusul. “Dan kenapa kamu akhirnya kirim pesan?”
Valen
terdiam di depan layar. Jarinya sempat bergerak di atas keyboard, tetapi tidak
ada satu pun jawaban yang terasa tepat.
Ponselnya
tiba-tiba berdering.
Nadine
menelepon.
Valen
hanya menatap nama yang muncul di layar tanpa mengangkatnya. Setelah beberapa
detik, panggilan itu berhenti.
Tak
lama kemudian, pesan baru masuk. “Tolong jawab.”
Valen
akhirnya mengetik. “Biar dia sendiri yang cerita. Itu bukan hakku. Berjanjilah
kamu yang temani dia.”
Balasan
Nadine datang cepat. “Lalu apa motivasi kamu kirim pesan?”
Valen
menatap pertanyaan itu cukup lama sebelum akhirnya menjawab. “Karena aku nggak
tega lihat dia sendirian.”
Beberapa
detik berlalu.
Lalu
Nadine kembali mengetik. “Kenapa kamu selalu memikirkan orang lain?”
Valen
mengembuskan napas pelan. “I'm not.”
Jawaban
Nadine muncul hampir seketika. “You are.”
Valen
berhenti.
Ia
menatap dua kata itu lama sekali, lalu memikirkan sesuatu sebelum akhirnya
mengetik lagi.
“Aku
pernah bilang ke dia ... kalau dia terus kayak gitu, dia bakal nyakitin semua
orang.”
Jarinya
berhenti sebentar.
“Aku
berharap aku salah.”
Setelah
pesan itu terkirim, tidak ada balasan.
Valen
kembali menatap layar dalam keheningan kamar.
Beberapa
saat kemudian, ia mengetik lagi. “Nad, aku belum pantas berdiri di depanmu.
Selama aku sendiri masih hidup dengan rantai yang belum berani aku putus.”
Pesan
terkirim.
Hening.
Valen
meletakkan ponsel di atas dadanya, tetapi matanya tetap tertuju pada layar.
Beberapa
menit berlalu sebelum akhirnya satu pesan masuk. “Rantai itu hanya sejauh
keputusan.”
Valen
membaca kalimat itu berulang kali. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya.
Ia
kembali membuka keyboard dan mengetik perlahan.
“Aku
tahu.”
Jarinya
berhenti di atas tombol send.
Hanya
tinggal satu sentuhan.
Valen
menatap dua kata itu cukup lama, lalu entah kenapa menghapusnya.
Satu
per satu huruf menghilang sampai ruang chat kembali kosong.
Ia
mengunci layar, meletakkan ponsel di samping bantal, lalu kembali menatap
langit-langit kamar.
Dan
untuk kesekian kalinya setelah sekian lama, Valen mulai bertanya-tanya apakah
rantai yang selama ini ia salahkan itu benar-benar sesuatu yang tidak bisa ia
putuskan sendiri.
Comments
Post a Comment