KAMPH (23-24)

23 – Tragedi

Seminggu kemudian, suasana live music night di klub malam itu terasa jauh lebih padat dari biasanya. Sorak-sorai pengunjung memenuhi ruangan, meneriakkan nama LA Band dan Liam, lalu berubah menjadi gelombang histeria begitu band itu muncul di atas panggung dan mulai mengguncang malam itu. 

Valen muncul beberapa saat kemudian, masih mengenakan pakaian formal dari pesta Xander dan Abby. Begitu masuk, langkahnya sempat melambat karena terpukau melihat antusiasme penonton. LA Band benar-benar sedang membawakan lagu-lagu mereka dengan luar biasa malam itu.

Ia akhirnya memilih duduk di salah satu bar stool, berharap bisa menikmati suasana tanpa terlalu menarik perhatian. Namun Rain sudah lebih dulu menyadarinya.

“Udah selesai pestanya?” tanya Rain sambil menuangkan minuman ke gelas kosong, lalu menyodorkannya kepada Valen.

“Masih sesi makan-makan. Gue cabut duluan,” jawab Valen santai sebelum menyesap minumannya.

Rain mengangguk kecil, lalu bertanya, “Xander bilang bakal ke sini nggak?”

Valen hanya mengangkat bahu. “Mana tau. Gue udah nggak pernah ngomong lagi sama dia. Selain urusan kerjaan.”

Rain menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh kecil. “Gara-gara cewek. Klasik.”

Belum sempat Valen menanggapi, suara Liam terdengar dari atas panggung.

“Okay, guys! Next song ....” Liam sengaja menahan kalimatnya sejenak, membuat penonton semakin riuh. “Lagu baru yang, kalau bukan karena orang ini, lagu ini nggak bakal lahir.”

Seketika terdengar gemuruh antisipasi dari seluruh penjuru ruangan.

“Mr. Valen!”

Valen yang baru saja hendak menyesap minumannya langsung berhenti. Ia menoleh ke arah panggung dengan ekspresi tidak percaya, lalu meringis begitu menyadari apa yang sedang dilakukan Liam.

Liam sudah tersenyum lebar ke arah penonton. “Valen mana, Valen? Udah muncul belum?”

Beberapa orang di sekitar bar yang mengenali Valen langsung bersahutan sambil menunjuk ke arahnya.

“Ini, ini di sini!”

Valen akhirnya memutar tubuh ke arah panggung dan mengangkat tangan dengan lambaian canggung, seolah berharap Liam puas hanya dengan itu.

“There you are!” Liam langsung menunjuk ke arahnya. “Guys, kalau ngerasa baper sama liriknya, minta tanggung jawab ke beliau, ya. Okay?”

Penonton tertawa dan bersorak semakin keras.

“Drum roll!”

Begitu ketukan drum terdengar, lagu baru itu pun dimulai. Energinya langsung meledak memenuhi klub. Penonton yang sejak awal sudah antusias kini benar-benar pecah, ikut bernyanyi bersama Liam seolah lagu tersebut sudah mereka kenal sejak lama.

Valen hanya bisa menggerutu sambil menatap panggung. “Minta tanggung jawab. Seenaknya aja tuh anak.”

Ia kembali menyesap minumannya, tetapi kali ini senyum tipis mulai muncul di wajahnya. Ada rasa bangga yang sulit disembunyikan ketika melihat begitu banyak orang meneriakkan lirik yang dulu hanya ada di kepalanya.

Nada-nada yang kini memenuhi ruangan itu tadinya cuma lahir dari petikan gitar biasa. Sebuah melodi yang ia mainkan tanpa pernah membayangkan akan didengar ratusan orang, apalagi diteriakkan bersama seperti malam ini.

Tanpa sadar, Valen menyodorkan gelas kosongnya ke arah Rain. “Rain. Kali ini buat rayain diri gue sendiri.”

Rain tertawa kecil sambil menuangkan minuman lagi ke gelasnya. “Nice song, Valen. Nggak heran Liam lebih bersemangat akhir-akhir ini.”

Valen hanya tersenyum. Kali ini senyumnya lebih jelas, membawa kepuasan dan kebanggaan yang tidak perlu ia sembunyikan. Ia menenggak minumannya perlahan sambil kembali memandang panggung.

Dua lagu yang Valen ciptakan sudah digaungkan malam itu, dan penonton benar-benar hanyut dalam euforia. Liam pun terlihat tersenyum puas dari atas panggung, menikmati energi yang diberikan penonton kepadanya.

Sementara itu, Valen tetap di bar, membiarkan dirinya menikmati rasa bangga yang perlahan memenuhi dada.

Satu nomor lagu lagi dimainkan. Menjelang bagian akhir, Valen sempat melihat seseorang mendekati sisi panggung dan berdiri di sana, tampaknya sengaja menunggu sang frontman turun setelah pertunjukan.

Valen tidak terlalu memikirkannya. Ia kembali menikmati minumannya dan membiarkan waktu berjalan.

Sampai akhirnya Liam muncul di hadapannya.

Wajahnya terlihat lelah setelah tampil, tetapi matanya justru penuh energi. Ada excitement yang hampir tidak bisa disembunyikan, bercampur dengan kebanggaan yang membuat senyumnya semakin lebar. Orang yang tadi menunggu di dekat panggung juga berjalan bersamanya.

“Valen!”

Valen langsung tersenyum lebar dan turun dari bar stool. Begitu mereka berhadapan, ia menyambut Liam dengan bro-hug yang hangat.

“Keren banget lo tadi. Well done!”

Liam menepuk punggungnya sebelum melepaskan pelukan, lalu menoleh kepada pria yang bersamanya.

“Pak, kenalkan. Ini Valen. Songwriter dua lagu baru yang tadi kami bawakan.”

Kemudian ia menoleh kepada Valen dengan senyum penuh arti. “Valen, beliau dari Meridian Records. Beliau ingin bertemu dengan penulis lagu baru kita.”

Liam mengedipkan sebelah mata kepada Valen, seolah sengaja menikmati reaksi yang akan muncul.

Mata Valen langsung membulat. Ia menatap Liam beberapa detik, benar-benar tidak menyangka bahwa sebuah label rekaman sungguhan akan datang mencarinya.

Pria itu kemudian mengulurkan kartu namanya dengan sopan. “Salam kenal, Pak Valen.”

Valen segera menerimanya dan membalas dengan memberikan kartu namanya sendiri. “Senang bertemu dengan Anda.”

Sang produser baru saja hendak menyimpan kartu itu ketika pandangannya kembali tertuju pada wajah Valen.  Ia menatap Valen lebih lekat, lalu ekspresinya berubah menjadi takjub.

“Sebentar. Maaf, bukankah Anda CEO Orison Silver Light, perusahaan teknologi itu?”

Ia kembali melihat kartu nama Valen, pada nama dan jabatan yang tercetak di sana. “Wow. Benar rupanya!”

Valen hanya mengangkat alis. “Ya. Itu saya.”

Sang produser menggeleng pelan, masih terlihat takjub. “Tidak disangka Anda adalah sosok di balik lagu-lagu yang sungguh luar biasa ini. Saya bahkan sempat bertanya kepada tim, ini lagu lama atau baru.”

Valen tersenyum tipis, sementara Liam di sebelahnya terlihat semakin puas melihat percakapan itu berkembang.

Sang produser kemudian kembali menatap mereka berdua. “Kalau berkenan, saya ingin ngobrol lebih lanjut. Kira-kira kapan Bapak dan teman-teman punya waktu minggu depan?”

“Senin pukul dua belas saya bisa,” jawab Valen tanpa banyak berpikir.

“Saya juga,” timpal Liam cepat.

“Baik. Saya sesuaikan jadwal dengan tim kami.”

Percakapan itu masih berlangsung ketika Vladimir muncul di area bar. Begitu melihat Rain, ia mengangkat alis dan memberi gestur dengan dagunya ke arah Valen, Liam, dan pria asing yang sedang berbicara bersama mereka.

Rain segera mendekat dan berkata agak berbisik, “Kedengarannya produser label rekaman.”

Vladimir menatap ke arah mereka lagi, lalu matanya langsung membesar. “For real?”

Rain mengangguk.

Vladimir spontan tersenyum lebar, bahkan sampai hampir tertawa karena tidak percaya. “Woooaa! Akhirnya si Liam kenotice!”

Begitu produser dari Meridian Records itu pergi, Liam langsung merangkul Valen erat-erat. Valen sendiri masih sibuk meneliti kartu nama yang baru saja diberikan kepadanya, seolah dengan melihatnya sekali lagi ia bisa memastikan bahwa percakapan barusan benar-benar terjadi.

“Broooo! You know what that means, rightttt?!!!” seru Liam dengan wajah berbinar-binar.

Valen mengembuskan napas kecil, masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja mereka alami. “Bro, you deserve it.”

Liam menggeleng keras. “NO. YOU deserve it! WE deserve it!”

Ia begitu bersemangat sampai nyaris melompat di tempat. Setelah itu, ia menoleh kepada Rain dengan senyum lebar yang belum juga luntur. “Rain! Let's party tonightt!”

Vladimir yang sejak tadi ikut memperhatikan mereka langsung mengangkat gelasnya. “Congrats, Liam, Valen! Keren banget kolaborasi kalian berdua sih. Salut!”

 

Malam itu pun berubah menjadi perayaan kecil yang tidak direncanakan. Selama kurang lebih dua jam berikutnya, anggota LA Band bersama beberapa VVIP member ikut larut dalam suasana. Gelas-gelas terus terisi, tawa dan obrolan memenuhi area bar, sementara Liam beberapa kali masih membicarakan tawaran dari Meridian Records seolah takut momen itu akan terasa tidak nyata kalau ia berhenti membahasnya.

Sampai kemudian pintu klub terbuka.

Dylan masuk dengan wajah yang sama sekali tidak cocok dengan suasana pesta di dalam. Langkahnya berat, ekspresinya kusut, dan dari raut mukanya saja sudah terlihat bahwa malam ini jauh dari kata menyenangkan baginya.

Vladimir yang pertama kali menyadari kehadirannya langsung menghela napas. “Yah. Party's over.”

Liam dan Valen ikut menoleh. Keduanya saling bertukar pandang sebelum perlahan mengendurkan ekspresi gembira mereka. Mereka tahu, untuk sementara waktu, perayaan itu harus dihentikan. Dylan terlihat terlalu shock untuk membiarkan mereka terus berpesta di depannya.

Rain segera menyambut Dylan dengan segelas minuman bening yang sudah ia tahu sebagai minuman kesukaannya.

“Gimana?” tanyanya sambil menyerahkan gelas itu. “Lo beneran cuma stay di luar venue?”

Dylan menerima gelas tersebut dan mengangguk datar. “Sampai Abby sama ortunya naik mobil dan pulang.”

Vladimir menghampirinya, lalu menepuk-nepuk bahunya dengan penuh simpati. “Lo yang tegar, Lan. Terus mana Xander?”

Dylan menenggak minumannya sekali jalan sebelum menjawab dengan nada dingin. “Tau. Semoga mati.”

Ryan yang mendengar itu langsung menggeleng. “Jangan gitu, Lan.”

Dylan menoleh tajam kepadanya. “Lo semua di pihak gue atau Alexander keparat itu sih?”

Ryan mengangkat kedua tangannya, berusaha menengahi sebelum suasana benar-benar meledak. “Biar clear. Kita nggak berpihak ke siapa pun.”

Dylan mendengus kesal. “Ah, anjing.”

Belum sempat ada yang menanggapi, pintu klub kembali terbuka.

Xander muncul.

Ia masih mengenakan pakaian formal yang sama dari acara pertunangan tadi. Berbeda dari Dylan yang tampak kacau karena emosi, Xander justru terlihat terlalu tenang. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, seolah ia sudah menghabiskan seluruh energinya untuk menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.

Valen langsung memperhatikannya ketika Xander berjalan menuju sisi bar yang jauh dari Dylan dan memilih duduk di sana.

Rain, yang seolah tetap menjalankan tugasnya seperti biasa, menyodorkan segelas minuman berwarna hijau bening kepada Xander.

Xander menerimanya tanpa berkata apa-apa.

Musik masih terdengar dari speaker, tetapi suasana di antara mereka mendadak berubah. Ada keheningan yang terasa mencekam di tengah ruangan yang sebenarnya masih dipenuhi suara musik dan obrolan.

Valen terus memperhatikan Xander dari tempatnya.

Liam menyadari hal itu dan menyikut lengannya pelan. Ia kemudian mendekat sedikit dan berbisik, “Suasananya udah nggak enak banget ini. Mending balik ke studio aja, yuk.”

Valen menoleh kepadanya dan tersenyum sekilas. “Lanjut party?”

“Yoa!”

Valen melirik jam tangannya. Sudah lewat tengah malam. Ia mengangguk kecil sebelum berkata, “Sebentar aja gue. Kasian ninggalin anak gue kelamaan.”

“Atur!”

Mereka baru saja hendak bergerak ketika suara dering telepon tiba-tiba membelah keheningan.

Semua mata spontan tertuju kepada Xander.

Telepon itu miliknya.

Xander mengangkatnya dan langsung menjawab dengan suara yang terdengar biasa, meski ekspresinya masih datar.

“Papa? ... Iya, Pa, ada apa?”

Teman-teman VVIP yang sebelumnya sibuk dengan minuman masing-masing langsung memasang telinga. Tidak ada yang benar-benar berniat ikut campur, tetapi rasa penasaran membuat mereka otomatis memperhatikan.

Xander tiba-tiba terdiam. “Apa??”

Seketika perhatian semua orang semakin terpusat kepadanya.

Valen yang tadinya sudah bersiap pergi ikut menegakkan tubuh.

Xander menelan ludah. Wajahnya perlahan berubah, dan untuk pertama kalinya malam itu ketenangan di wajahnya benar-benar runtuh.

“A-apa maksudnya?? ....”

Ia mendengarkan suara di seberang telepon selama beberapa detik, lalu matanya membesar.

“Abby bunuh diri?!”

Vibes di dalam klub seketika merosot drastis.

Tidak ada yang lagi peduli pada musik yang masih mengalun di latar. Semua saling berpandangan, mencoba memahami apa yang baru saja mereka dengar.

Wajah Valen langsung pucat.

Xander sendiri terlihat seperti kehilangan seluruh warna di wajahnya.

“Hah ... Abby ....” Suaranya bergetar ketika akhirnya menjawab ayahnya. “I-iya, Pa. Saya segera ke sana!”

Ia langsung memutus sambungan telepon.

Belum sempat Xander berdiri tegak, orang-orang di sekitarnya sudah mengerubunginya.

“Xan, what happened?”

“Abby kenapa?”

“Dia di mana?”

Xander menatap mereka semua dengan mata yang masih kosong. Ia tampak kesulitan menyusun kata-kata, sampai akhirnya hanya mampu mengucapkannya dengan suara serak.

“Gue ... gue cabut dulu, guys.”

Ia berbalik, tetapi sebelum melangkah lebih jauh, ia berhenti sejenak.

“Abby ... Abby iris nadinya sendiri.”

Xander langsung beranjak pergi.

Dylan yang mendengar kalimat itu bahkan tidak berpikir dua kali. Ia segera menyusul Xander keluar dari klub.

Liam masih berdiri di tempatnya, menatap pintu yang baru saja dilewati keduanya dengan ekspresi shock. “Anjir .... What the hell happened?!”

Valen menoleh kepada Liam. Wajahnya masih pucat, tetapi sorot matanya sudah menunjukkan keputusan yang jelas.

“Gue susul Xander juga. Sorry, nggak bisa ikut lo party.”

Tanpa menunggu jawaban, Valen segera mengambil barang-barangnya dan bergegas keluar. Dari kejauhan, ia sempat melihat mobil Xander meninggalkan area klub, lalu langsung mengikuti dari belakang.

Mobil Dylan tampaknya juga bergerak tak lama setelah itu.

Malam yang beberapa menit lalu masih dipenuhi sorak-sorai kemenangan kini berubah menjadi perjalanan sunyi menuju sesuatu yang tidak seorang pun dari mereka siap hadapi.

 

24 – Rantai Itu Hanya Sejauh Keputusan

Di rumah sakit, suasana lorong emergency terasa jauh berbeda dari hiruk-pikuk klub beberapa waktu lalu. Lampu putih menyilaukan, aroma antiseptik memenuhi udara, dan suara langkah kaki para tenaga medis sesekali terdengar dari balik pintu ruang tindakan.

Valen melihat Dylan tidak langsung masuk. Pria itu justru mengikuti Xander dari kejauhan, lalu berhenti dan bersembunyi di balik dinding, seolah masih ingin mengetahui keadaan tanpa harus berhadapan langsung dengannya.

Valen tidak sempat memikirkan itu terlalu lama. Ia segera menyusul Xander dan menyejajari langkahnya. “Xan, kok bisa? Abby tadi baik-baik aja!”

Xander tidak menjawab. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya pucat dan kosong, seakan belum benar-benar mampu mencerna apa yang sedang terjadi.

Di depan ruang emergency, Andrew sudah berada di sana dengan wajah penuh kecemasan. Bernard juga tampak berdiri tidak jauh dari mereka, tetapi seperti biasa, ekspresinya lebih sulit dibaca. Ia hanya berdiri dan menunggu.

Yang paling mengenaskan justru kedua orang tua Abby. Mereka duduk bersebelahan di kursi lorong, saling merangkul sambil menangis, tubuh mereka sesekali bergetar karena tangisan yang tidak lagi bisa ditahan.

Xander akhirnya berhenti di depan Andrew.

“Pa ....” Suaranya terdengar serak. “Gimana Abby? D-dia selamat, kan?”

Andrew menggeleng pelan, wajahnya penuh prihatin. “Kita hanya bisa menunggu.”

Ia mengusap wajahnya sendiri, tampak kelelahan dan cemas. “Papa cari kopi dulu. Kamu kabari kalau dokter kasih kabar.”

Andrew kemudian pergi meninggalkan mereka.

Valen melihat Xander masih berdiri seperti orang kehilangan arah. Ia segera merangkulnya dan membimbingnya menuju kursi.

“Duduk dulu.”

Xander menurut tanpa protes.

Bernard yang sejak tadi berdiri di dekat sana mengangkat bahu kecil, seolah sudah mengambil keputusan untuk pergi. Namun sebelum benar-benar meninggalkan mereka, ia sempat menghampiri Valen yang masih merangkul Xander.

“Andrew salah memilih calon.”

Xander diam. Tatapannya tetap kosong ke depan.

Bernard melanjutkan dengan suara datar, bahkan tanpa menatap. “Perempuan seperti itu tidak cocok masuk keluarga ini.”

Valen langsung menoleh. “Pa ....”

“Baru diberi tekanan sedikit sudah memilih bunuh diri.” Bernard tetap tenang, seolah sedang membicarakan sebuah kesalahan bisnis. “Mentalnya terlalu rapuh. Lemah.”

Valen yang sejak tadi berusaha menahan emosinya akhirnya meledak. “PA! Papa lihat dulu kondisinya!”

Baru kali itu Bernard menoleh. Tatapannya tetap datar, nyaris tanpa emosi. “Saya sedang melihatnya.”

Valen terdiam sesaat, tidak percaya mendengar jawaban itu.

Bernard kemudian mengangkat telunjuknya di depan wajah Valen. “Ini pelajaran.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi justru itulah yang membuat perkataannya terasa semakin menusuk. “Untukmu nanti saya akan cari perempuan yang lebih tahan banting.”

Bernard menepuk pelan bahu Valen, seolah baru saja memberikan nasihat biasa. “Temani Alexander. Senin masuk kantor seperti biasa.”

Setelah itu Bernard pergi.

Lorong kembali sunyi.

Valen masih menatap punggung ayahnya yang semakin menjauh. Rahangnya mengeras, sementara ekspresi kecewa perlahan menggantikan kemarahan yang tadi meledak.

“... Papa nggak berubah sedikit pun.”

Ia akhirnya mengalihkan perhatian kembali kepada Xander. Valen membimbingnya agar duduk lebih nyaman.

“Duduk dulu, Xan. Gue cari air dulu buat lo. Lo di sini aja.”

Xander tidak bereaksi.

Valen pergi sebentar dan kembali tidak lama kemudian membawa sebotol air. Ia membuka tutupnya, lalu menyerahkannya kepada Xander. “Minum. Minum dulu.”

Xander menerima botol itu dengan gerakan lambat dan meneguk sedikit. Setelah itu ia hanya memegang botol tersebut di kedua tangannya.

Valen duduk di sampingnya.

Beberapa saat mereka hanya diam, membiarkan suara samar aktivitas rumah sakit mengisi lorong.

Sampai akhirnya Xander bicara dengan suara yang hampir seperti bisikan.

“Abby sering bujuk ....”

Valen menoleh kepadanya.

“Bujuk gue untuk batalkan ini semua.”

Valen menatap Xander dengan serius, tetapi tidak menyela.

“Gue cuekin ....” Xander berhenti sebentar, menarik napas yang terdengar berat. “Karena gue tahu itu nggak mungkin.”

Ia menunduk, jemarinya mencengkeram botol air. “Tapi kenapa dia malah senekat ini?”

Nada suaranya mulai pecah. Bingung, marah, kalut, dan cemas bercampur menjadi satu.

“Sedemikian alerginya Abby sama gue? Sampai milih kabur ke dunia lain?”

Valen tidak langsung menjawab.

Xander mengangkat wajahnya dan menatap kosong ke depan. “Gue monster?”

“Stop, Xan.” Valen segera menegaskan suaranya. “Jangan bikin skenario sendiri.”

“Kalau dia sampai nggak selamat ....” Xander menelan ludah. “Itu gara-gara gue?”

“Gue bilang cukup!”

Valen menatapnya tegas. Setelah emosinya mereda sedikit, suaranya berubah lebih lembut.

“Lo ... gue tahu lo shock. Tapi sekarang nggak ada cara lain selain lo doain keselamatan Abby.”

Xander akhirnya diam.

Mereka kembali menunggu. Waktu berjalan lambat di lorong rumah sakit yang dingin itu.

Sekitar pukul dua dini hari, seorang dokter keluar sebentar dari ruang emergency. Semua yang menunggu langsung menoleh, tetapi dokter hanya memberikan kabar singkat.

“Kondisi pasien masih kritis. Kami masih berusaha menstabilkan kondisinya.”

Tidak ada penjelasan panjang setelah itu. Tidak ada kepastian kapan Abby akan sadar, bahkan belum ada jaminan bahwa kondisinya akan segera membaik

Sekitar pukul dua lewat tiga puluh hingga mendekati pukul tiga, dokter kembali memanggil kedua orang tua Abby untuk berbicara. Pertemuan itu tidak berlangsung lama, tetapi ketika keduanya keluar dari ruang dokter, mereka langsung menghampiri Andrew dan berbicara dengan wajah yang masih penuh kecemasan.

Dari kejauhan, Xander memperhatikan mereka tanpa berkedip.

Kakinya terus bergerak gelisah, lututnya bergoyang tanpa henti karena ia tidak mampu menahan kecemasan yang semakin menumpuk.

Valen yang melihat itu segera meremas bahunya.

“Tenang dulu, Xan ...,” katanya pelan. “Semoga kabar baik.”

Tak lama kemudian, Andrew berjalan mendekati mereka.

Xander dan Valen langsung berdiri.

Keduanya menatap Andrew dengan penuh kecemasan, menunggu apa pun yang akan keluar dari mulut pria itu. 

Andrew berdiri di hadapan mereka dengan ekspresi yang aneh. Wajahnya tampak lelah, tetapi ada sesuatu yang membuat sorot matanya berbeda dari sebelumnya.

Xander langsung menangkap perubahan itu.”Alexander.”

“Gimana, Pa?” Xander segera bertanya, suaranya penuh kecemasan. “Abby gimana?”

Andrew tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa detik, seolah sedang mencari cara untuk menyampaikan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri masih sulit untuk percaya.

“Dokter bilang ....” Andrew menarik napas pelan. “Abby sedang hamil.”

Xander membeku. “... Apa?”

Valen yang berdiri di sampingnya ikut terdiam, matanya melebar.

Andrew menatap putranya dengan serius. “Itu anakmu?”

Xander semakin shock. “A-aku nggak tahu kalau ....”

“Kamu pernah?”

Xander terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab lirih. “... Ya.”

Valen mengusap rambutnya sendiri dengan frustrasi dan depresi. Ia lalu menatap Andrew. “Om ... dokter bilang apa lagi? Apa masa kritisnya udah lewat?”

Andrew menggeleng. “Dokter panggil orang tua Abby hanya untuk menanyakan soal kehamilan.”

Setelah mengatakan itu, Andrew menjauh lagi, meninggalkan kedua pria itu dengan kenyataan baru yang sama sekali tidak mereka duga.

Xander perlahan menjatuhkan dirinya ke kursi.

Valen kembali duduk di sampingnya. Kali ini ada dua hal yang memenuhi pikirannya sekaligus. Abby masih dalam kondisi kritis, dan sekarang mereka tahu ada seorang bayi yang juga sedang berjuang di dalam tubuh perempuan itu.

Atau setidaknya, begitu yang masih bisa mereka harapkan.

Pukul lima pagi, dokter kembali keluar dari ruang emergency.

Kali ini kabarnya sedikit lebih baik.

“Kami berhasil menyelamatkan nyawa Abby. Namun kehamilannya tidak dapat dipertahankan.”

Dokter berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Dan ... ada dua kantung janin.”

Valen menahan napas.

“Kondisinya mulai stabil, namun pasien masih belum sadar.”

Xander tidak bereaksi.

Valen yang berdiri beberapa meter di belakangnya justru langsung melihat perubahan pada wajah Xander. Wajah itu perlahan menjadi kosong.

Bukan sedih.

Kosong.

Xander berjalan kembali ke kursi lorong dan duduk perlahan. Kedua sikunya bertumpu di paha, sementara tangannya menutupi seluruh wajah.

Valen tidak mengatakan apa-apa.

Lima menit berlalu.

Lalu sepuluh menit.

Tidak ada suara dari Xander.

Akhirnya Valen duduk di sampingnya. Ia tidak mencoba menasihati, tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja, karena ia tahu tidak ada kalimat yang cukup untuk keadaan seperti ini.

Ia hanya hadir.

Beberapa saat kemudian, Xander akhirnya bersuara. Suaranya nyaris tidak terdengar. “Dia hamil.”

Valen menoleh kepadanya.

Xander tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar begitu hancur hingga lebih menyakitkan daripada tangisan. “Kembar.”

Valen terdiam.

Baru sekarang ia benar-benar menyadari bahwa yang hancur malam itu bukan cuma sebuah hubungan atau sebuah rencana pernikahan. Ada dua kehidupan yang bahkan belum sempat melihat dunia.

Xander menunduk semakin dalam. “Gue bunuh mereka.”

Valen langsung menoleh tajam. “Jangan ngomong begitu.”

Xander menggeleng pelan, seperti tidak mampu menghentikan pikirannya sendiri. “Kalau gue nggak iyain perjodohan ....”

Ia berhenti, menarik napas yang bergetar. “Kalau gue nggak egois ....”

Kedua tangannya kembali mengepal. “Kalau gue denger omongan lo ....”

Valen tidak membiarkannya melanjutkan. Ia mengambil botol air mineral, membuka tutupnya, lalu menaruhnya di samping Xander. “Minum.”

Xander tidak langsung bergerak.

Valen tetap membiarkan botol itu di sana.

Tidak ada lagi yang perlu dikatakan.

Sekitar pukul sebelas siang, Abby akhirnya sadar.

Namun Xander dan Valen masih menunggu di luar. Hanya kedua orang tua Abby yang diperbolehkan masuk menemuinya.

Tidak lama kemudian, mereka keluar kembali dan menghampiri Andrew.

Andrew terlihat sangat lelah ketika berjalan menuju Xander dan Valen.

“Kita bisa pulang sekarang,” katanya pelan. “Abby sudah sadar. Nggak perlu ditunggui lagi.”

Valen langsung bertanya, “Gimana Abby di dalam, Om?”

Xander berdiri sedikit lebih tegak. “Aku bisa jenguk?”

Andrew menggeleng. “Abby tidak ingin ditemui siapa pun.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan berat, “Dan itu ... termasuk kamu, Xander.”

Xander menunduk sedikit. “... Dia ngomong apa lagi?”

Andrew menatapnya beberapa saat sebelum menjawab. “Abby hanya berkata, dia nekat karena ... tidak ingin menikah denganmu.”

Xander kembali menunduk.

Sebenarnya ia sudah mencurigai alasan itu sejak awal. Namun mendengarnya secara langsung membuat dugaan yang selama ini ia tahan akhirnya menjadi kenyataan.

Andrew menghela napas panjang. “Maaf kamu harus mengalami ini, Xander. Papa menyesal.”

Ia kemudian menarik Xander ke dalam pelukannya.

Xander tidak membalas. Tubuhnya hanya diam di sana, seperti sudah terlalu lelah untuk memberikan respons apa pun.

Andrew akhirnya melepaskannya. “Ayo pulang.”

Valen memperhatikan Xander dari samping. Pria yang biasanya begitu dingin, percaya diri, dan sulit ditembus itu kini terlihat benar-benar kehilangan bentuk.

Untuk pertama kalinya, Xander terlihat manusia.

Valen tahu, bukan penolakan Abby yang membuatnya terpuruk sedalam ini. Bukan juga pertunangan yang gagal. Yang menghantamnya adalah kenyataan bahwa Abby nyaris kehilangan nyawanya dan dua janin di dalam rahimnya tidak berhasil diselamatkan.

Valen merangkul bahu Xander dengan ringan dan membantunya berjalan menuju mobil.

Sepanjang perjalanan menuju kondominium Xander, tidak satu pun dari mereka berbicara.

Xander hanya duduk diam dengan tatapan kosong mengarah ke luar jendela. Valen pun tidak mencoba memancing percakapan. Ia membiarkan sepupunya itu tenggelam dalam pikirannya sendiri, setidaknya sampai mereka tiba.

Begitu mobil berhenti di depan lobby kondominium, Valen pelan berkata, “Gue suruh orang nanti antarkan mobil lo ke sini.”

Xander hanya mengangguk.

“Rest.”

Tidak ada jawaban.

Xander membuka seatbelt, lalu meraih gagang pintu. Namun sebelum turun, ia berhenti.

“Val.”

Valen menoleh.

Xander tidak menatapnya. Ia hanya mengangguk dalam, seolah sedang mengumpulkan tenaga untuk mengatakan sesuatu yang sederhana.

“Makasih.”

Setelah itu, Xander membuka pintu dan turun dari mobil.

Valen hanya memandanginya dari balik kaca sampai sosok Xander menghilang ke dalam lobby.

 

Meski tubuhnya sudah lelah, Valen tetap tidak bisa terlelap. Ia masih berbaring di atas ranjang dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar. Pikirannya terus kembali pada kejadian yang baru saja terjadi, pada Xander yang ia tinggalkan di depan lobby dalam keadaan nyaris tidak bereaksi, dan pada Abby yang masih terbaring di rumah sakit.

Beberapa kali Valen meraih ponselnya, lalu mengurungkan niat.

Ia sebenarnya sedang bertengkar dengan dirinya sendiri. Ada satu nama yang terus muncul di kepalanya, tetapi menghubungi orang itu berarti membuka pintu yang selama ini sengaja ia biarkan tertutup.

Pada akhirnya, Valen menyerah.

Ia mengambil ponselnya, membuka tab chat Nadine, lalu menatap ruang percakapan itu beberapa detik sebelum akhirnya mengetik.

“Ada sesuatu terjadi pada Alexander. Kalau dia membutuhkan sandaran, aku pikir hanya kamu yang bisa memberikannya.”

Pesan itu langsung terbaca.

Tidak sampai beberapa detik kemudian, balasan Nadine muncul. “Apa yang terjadi? Bukannya semalam dia baru tunangan?”

Pesan kedua menyusul. “Dan kenapa kamu akhirnya kirim pesan?”

Valen terdiam di depan layar. Jarinya sempat bergerak di atas keyboard, tetapi tidak ada satu pun jawaban yang terasa tepat.

Ponselnya tiba-tiba berdering.

Nadine menelepon.

Valen hanya menatap nama yang muncul di layar tanpa mengangkatnya. Setelah beberapa detik, panggilan itu berhenti.

Tak lama kemudian, pesan baru masuk. “Tolong jawab.”

Valen akhirnya mengetik. “Biar dia sendiri yang cerita. Itu bukan hakku. Berjanjilah kamu yang temani dia.”

Balasan Nadine datang cepat. “Lalu apa motivasi kamu kirim pesan?”

Valen menatap pertanyaan itu cukup lama sebelum akhirnya menjawab. “Karena aku nggak tega lihat dia sendirian.”

Beberapa detik berlalu.

Lalu Nadine kembali mengetik. “Kenapa kamu selalu memikirkan orang lain?”

Valen mengembuskan napas pelan. “I'm not.”

Jawaban Nadine muncul hampir seketika. “You are.”

Valen berhenti.

Ia menatap dua kata itu lama sekali, lalu memikirkan sesuatu sebelum akhirnya mengetik lagi.

“Aku pernah bilang ke dia ... kalau dia terus kayak gitu, dia bakal nyakitin semua orang.”

Jarinya berhenti sebentar.

“Aku berharap aku salah.”

Setelah pesan itu terkirim, tidak ada balasan.

Valen kembali menatap layar dalam keheningan kamar.

Beberapa saat kemudian, ia mengetik lagi. “Nad, aku belum pantas berdiri di depanmu. Selama aku sendiri masih hidup dengan rantai yang belum berani aku putus.”

Pesan terkirim.

Hening.

Valen meletakkan ponsel di atas dadanya, tetapi matanya tetap tertuju pada layar.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya satu pesan masuk. “Rantai itu hanya sejauh keputusan.”

Valen membaca kalimat itu berulang kali. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya.

Ia kembali membuka keyboard dan mengetik perlahan.

“Aku tahu.”

Jarinya berhenti di atas tombol send.

Hanya tinggal satu sentuhan.

Valen menatap dua kata itu cukup lama, lalu entah kenapa menghapusnya.

Satu per satu huruf menghilang sampai ruang chat kembali kosong.

Ia mengunci layar, meletakkan ponsel di samping bantal, lalu kembali menatap langit-langit kamar.

Dan untuk kesekian kalinya setelah sekian lama, Valen mulai bertanya-tanya apakah rantai yang selama ini ia salahkan itu benar-benar sesuatu yang tidak bisa ia putuskan sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.