KAMPH (25-26)

25 – Behind Closed Doors  

Pertemuan pertama dengan Meridian Records berlangsung pada Senin siang. Belum ada kontrak yang dibicarakan secara detail, apalagi ditandatangani. Pertemuan ini lebih terasa seperti sesi penjajakan, kesempatan bagi kedua pihak untuk saling mengenal sebelum menentukan apakah kerja sama tersebut memang layak dilanjutkan.

Di ruang meeting itu hadir produser yang sebelumnya menemui mereka di klub, seorang A&R yang bertugas mencari dan mengembangkan talent, Head of A&R, serta satu perwakilan dari sisi business dan legal.

Setelah percakapan pembuka dan basa-basi ringan, suasana mulai terasa lebih santai.

“Kami sudah mengikuti perkembangan LA Band,” ujar salah satu perwakilan Meridian. “Dua lagu baru yang kalian bawakan minggu lalu cukup menarik perhatian kami.”

Liam mengangguk, sementara beberapa anggota band lainnya saling melirik dengan senyum kecil.

“Kami penasaran,” lanjutnya, “boleh diceritakan proses kreatifnya?”

Liam pun mulai menjelaskan bagaimana aransemen kedua lagu itu dibangun, dari struktur awal sampai bagaimana mereka mengubah beberapa bagian agar energi lagunya lebih cocok dibawakan live. Rhea ikut menambahkan cerita tentang proses latihan mereka, termasuk bagaimana seluruh anggota band harus beradaptasi dengan karakter dua lagu baru tersebut sebelum akhirnya siap dimainkan di depan penonton.

Tim Meridian mendengarkan dengan serius, sesekali mengajukan pertanyaan kecil tentang proses produksi dan dinamika band.

Setelah pembicaraan cukup panjang, salah satu perwakilan Meridian akhirnya bersandar sedikit di kursinya. “Terus terang, kami tertarik bekerja sama.”

Liam dan anggota LA Band lainnya saling bertukar pandang.

“Tapi kami ingin tahu terlebih dahulu,” lanjutnya, “LA Band sendiri ingin tetap indie, atau punya target untuk masuk ke pasar nasional?”

Liam menoleh kepada teman-temannya. Tatapan mereka bertemu satu sama lain, lalu satu per satu mengangguk.

“Tentu kami ingin go national,” jawab Liam mantap.

Perwakilan Meridian tersenyum. “Keinginan yang realistis. Kami pun optimis, sebab kalian ini potensial, lho.”

Percakapan kemudian beralih ke hal yang lebih serius. “Lalu, siapa pemilik hak cipta lagu-lagu yang kalian bawakan?”

Liam menjawab tanpa ragu. “Semua lagu ciptaan Valen tetap milik Valen.”

Tangannya bergerak memberi gestur ke arah Valen.

“Namun ada beberapa lagu yang hak ciptanya memang ada di LA Band.”

Valen mengangguk sebagai tanda setuju. Ia sempat berpikir sejenak sebelum ikut berbicara. “Dan untuk lagu yang saya ciptakan, saya ingin tetap dibuat anonim.”

Beberapa orang di meja meeting langsung memperhatikannya lebih serius.

“Biar hanya inisial saya, VG, yang tertulis. Dan apabila pembicaraan ini berujung ke hasil yang sama-sama kita harapkan, saya berharap Meridian Records juga menjaga kerahasiaan identitas saya.”

Salah satu perwakilan Meridian mengangguk, tetapi kemudian mengajukan pertanyaan lanjutan. “Apakah itu berarti Mas Valen juga tidak ingin terlibat dalam material promosi? Itu bisa berbentuk sesi foto, rekaman video, sampai klip musik.”

Valen mengangguk yakin. “Ya. Saya hanya di balik layar.”

Liam yang duduk di sebelahnya langsung menjawil lengannya pelan. “Lo yakin? Lo good looking, bisa jadi magnet banyak cewek.”

Valen hanya tersenyum tipis dan menggeleng. “Sorry, bukan apa-apa. Gue nggak terlalu nyaman disorot.”

“Alright.” Liam mengangkat kedua tangannya, menyerah tanpa perlu berdebat.

Perwakilan Meridian kembali mengangguk. “Baik. Kami hormati keputusan Anda semua.”

Suasana kembali cair. Salah satu perwakilan kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Valen. “Mas Valen, sudah berapa lama menulis lagu?”

Valen terdiam sebentar, seperti harus mengingat kembali sesuatu yang sudah begitu lama menjadi bagian dari hidupnya. “... Sejak SMP.”

Jawaban sederhana itu langsung membuat beberapa orang di meja meeting saling berpandangan.

Liam bahkan menoleh kepada Valen dengan ekspresi yang seolah mengatakan bahwa ia sendiri belum pernah mendengar jawaban itu diucapkan sesederhana tadi.

Valen hanya mengangkat bahu kecil, tidak merasa ada sesuatu yang istimewa dari jawabannya.

Sementara di sisi lain meja, tim Meridian mulai melihat sosok di hadapan mereka dengan perspektif yang sedikit berbeda. Bukan sekadar seorang CEO perusahaan teknologi yang kebetulan menulis dua lagu bagus.

Mereka mungkin sedang berhadapan dengan seorang songwriter yang sudah membangun dunianya sendiri jauh sebelum siapa pun di ruangan itu mengenal namanya.


Malam minggu berikutnya, bar kembali ramai. Di salah satu sudut, Nadine dan geng feminisnya tengah asyik “mendiskusikan” tragedi Abby dan Xander. Rain sesekali ikut menimpali dari balik bar, sementara Liam dan Dylan stand by tidak jauh dari mereka, lebih banyak mendengarkan daripada ikut berkomentar.

Nadine sendiri sudah cukup lama diam. Ia masih merasa miris setiap kali memikirkan kejadian itu. Jadi, ini rupanya yang dimaksud Valen ketika mengatakan sesuatu telah terjadi pada Alexander.

Sekarang, semuanya terasa masuk akal. Pantas saja Xander tidak membaca pesan-pesannya.

Nadine tanpa sadar kembali memikirkan pria itu. Apa yang sedang Xander rasakan sekarang? Di mana dia? Dan bagaimana keadaannya setelah semua yang terjadi?

Fabiola yang sejak tadi ikut berpikir akhirnya mengambil kesimpulan sendiri. “Kalau hamil sih ... nggak heran kalau si A jadi lebih sensitif. Kalau dalam keadaan normal aja katanya sensitif, apalagi kalau sedang hamil?”

“Lagian sih kenapa bisa bunting segala,” timpal salah satu dari mereka.

“Mana tahu, lho, kalau si A ternyata sering ke sini buat mantau kelakuan Xander. Pada nyadar nggak?”

Rain yang sedang mengelap gelas mendadak teringat sesuatu.

“Waktu itu pernah ada cewek yang aneh,” katanya sambil mengernyit. “Gue inget karena gue perhatiin dia datang sendirian. Duduk di meja sana sendirian juga. Rambutnya keriting gitu sih, tapi gue rasa rambut palsu. Terus pakai kacamata hitam pula. Apa jangan-jangan dia?”

“Gue nggak kaget sih kalau si A emang beneran pernah ke sini. Pastilah buat cari tahu Xander sebenarnya ngapain aja.” Salah satu dari mereka lalu menoleh kepada Nadine dengan ekspresi jahil. “Tuh, lo, Nad. Xander saban minggu kan pasti cari lo buat mesum. Mana tahu yang Abby lihat itu lo sama Xander lagi asik-asikan.”

Nadine langsung mengangkat kepala.

“Hah? Kok gara-gara gue?” Ia menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tidak percaya. “Eh, yang senang-senang sama Xander kan nggak cuma gue doang, ya. Lo-lo pada juga, kan?”

Fabiola mendengus. “Kayaknya mesti dibikin aturan baru di Tunasmara. Orang baperan dan sensitif dilarang masuk. Kudu orang yang kuat mental buat main di sini.”

“Ya masing-masing punya andil, tuh,” sahut yang lain. “Bagus kalau pada sadar kalau kelakuan kalian bisa bikin anak orang bunuh diri.”

“Dih, ya makanya anak Tunasmara juga harap tahu diri. Kalau udah punya gandengan, jangan malah ke sini.”

Rain ikut menyahut dari belakang bar. “Kan udah jelas ada aturannya. Klub Tunasmara nggak bertanggung jawab kalau orang non-jomblo jadi diputusin sama pasangannya cuma karena main di sini. Berlaku buat semuanya, apalagi buat si dedengkot satu itu.”

Ia berhenti sebentar, lalu ekspresinya berubah lebih serius. “Tapi ... ini masalahnya udah menyangkut nyawa. Nggak etis juga gue ngomong begini. Jadi nggak enak gue juga.”

Seseorang kemudian melirik Dylan. “Tuh, Lan. Mantan cewek lo kenapa sih sensitif amat orangnya?”

Dylan hanya mengangkat alis. Ia malas menjawab dan kembali diam.

“Udahlah, udah. Jangan lempar-lemparan kesalahan,” ujar yang lain. “Semuanya punya peran masing-masing. Suruh siapa mesum melulu.”

“Emang beda, ya, antara orang yang bisa menikmati hidup sama orang yang serius. Hidupnya kaku kayak kanebo kering.”

Obrolan kembali riuh, sampai seseorang tiba-tiba bertanya, “Ngomong-ngomong, ke mana orang yang kita bicarain ini? Udah lama nggak kelihatan.”

Rain yang kebetulan sedang menoleh ke arah pintu langsung berhenti bergerak. “Sssh.”

Semua ikut melihat ke arah yang sama.

“Tuh orangnya datang. Panjang umur.”

Obrolan langsung terputus.

Dylan menegakkan badan begitu melihat Xander baru saja memasuki klub. Di belakangnya, Valen ikut muncul.

Nadine pun refleks menegakkan tubuh. Matanya langsung tertuju pada Xander, lalu berpindah kepada Valen yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.

“Datang juga akhirnya,” gumam Dylan. Ia langsung berdiri. “Biang kerok harus dikasih pelajaran.”

Liam yang menangkap gelagat itu seketika ikut bangkit. “Oi, Lan. Dylan, mau apa lo?”

Dylan tidak menggubris. Ia terus berjalan sampai akhirnya berdiri tepat di depan Xander, menghadangnya dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat. “Baru berani nongolin muka lo sekarang?”

Xander berhenti. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap Dylan dengan wajah datar. “Gue nggak ada urusan sama lo. Minggir.”

Ia hendak melewati Dylan, tetapi Dylan langsung mendorongnya keras. “Gue yang ada urusan sama lo.”

Dylan maju selangkah, emosinya semakin terlihat. “Lo pikir lo bisa seenaknya melenggang bebas tanpa ngerasa bersalah sedikit pun?”

Valen segera mendekat, mencoba mengambil posisi di antara mereka. “Dylan, jangan kebawa emosi.”

Namun Dylan justru mendorong Valen dengan keras sampai pria itu terhuyung beberapa langkah. “Lo nggak usah ikut campur!”

Valen terpana sesaat. Ia tahu Dylan sedang marah, tetapi baru kali ini ia merasakan sendiri seberapa besar tenaga yang bisa keluar ketika amarah anak itu benar-benar lepas kendali.

Xander menatap Dylan dengan sorot mata yang mulai mengeras. “Lebih baik lo diam karena lo nggak tahu apa yang terjadi sebenarnya.”

Dylan tertawa pendek, tetapi sama sekali tidak ada humor di dalamnya. “Lo bilang gue nggak tahu?”

Ia melangkah semakin dekat. “Lo salah besar, bung. Gue mantau dari awal mula sampai sekarang. Gue tahu SEMUA perbuatan lo ke Abby yang bikin Abby jadi nekad.”

Xander menatapnya dingin. “Lalu mau lo apa?”

“Nih, lo makan tuh!”

Dylan langsung melayangkan pukulan keras yang telak mengenai wajah Xander. Belum sempat Xander sepenuhnya bereaksi, pukulan berikutnya menghantam perutnya.

Suasana klub seketika pecah. Para wanita yang sejak tadi hanya menonton langsung berseru kaget, beberapa bahkan mundur karena ngeri melihat amarah Dylan yang sudah tidak terkendali.

Xander terhuyung, tetapi ia segera membalas.

Satu pukulan telak membuat Dylan ikut terhuyung beberapa langkah. Alih-alih mundur, anak muda itu justru semakin terpancing. 

Ia kembali menerjang, mencengkeram kerah Xander dengan kedua tangannya hingga wajah mereka kini berhadapan dalam jarak dekat. “Lo itu nggak ada sadarnya kalau lo udah bikin anak orang menderita?”

Suara Dylan menggema di tengah keributan. “Semua ini gara-gara lo, Xan!”

Cengkeramannya semakin erat. “Lo bilang lo terpaksa menerima perjodohan karena jelas lo takut miskin!”

Xander menatapnya tanpa menjawab.

“Kalau lo emang berniat nikahin Abby, harusnya lo bisa bersikap baik sedikit sama dia!” Dylan berteriak, suaranya mulai bergetar karena emosi. “Apa lo nggak bisa sedikit aja berbaik hati sama Abby?”

Napasnya memburu. “Bukannya malah ambil kesempatan dan bikin dia berharap sama lo, lalu lo hancurkan harapannya dengan bilang kalau lo nggak bisa kasih dia cinta!”

Dylan menatap Xander seolah ingin memastikan setiap kata benar-benar masuk ke kepalanya. “Lo pikir gue nggak tahu?”

Cengkeramannya pada kerah Xander semakin kuat. “Gue tahu semua, Xan!”

Ia nyaris berteriak sekarang. “Gue tahu bahkan sampai Abby bersusah payah bujuk orang tuanya buat batalin semua ini, meskipun akhirnya nggak berhasil. Dia juga udah minta ke lo supaya lo mau batalin, kan?”

Xander terdiam.

“Tapi lu tolak keinginan dia!” Suara Dylan pecah. “Lo bikin dia semakin hopeless dan akhirnya dia malah berbuat sejauh itu!”

Ia menatap Xander dengan mata yang memerah karena marah sekaligus frustrasi. “Lo sadar nggak sih apa yang udah lo lakuin?”

“Heh! Kalau lo emang peduli banget sama dia, jangan cuma gede bacot!” Xander balas berteriak. 

Emosinya yang sejak tadi ditahan akhirnya ikut meledak. “Lo itu sama aja, pengecut! Cuma bisa berlindung di balik nama besar keluarga lo dan nggak berani bertindak! She was your girlfriend in the first place, lalu kenapa lo juga diam aja?!”

Kalimat itu justru membuat Dylan semakin kalap.

Ia kembali menghantam Xander bertubi-tubi, nyaris tanpa memberi celah sedikit pun bagi Xander untuk membalas. Beberapa orang langsung berusaha menarik tubuh Dylan dari belakang, tetapi amarahnya sudah terlanjur menguasai dirinya.

“Kalau lo punya sedikit hati, lo nggak bakalan kasih Abby harapan palsu!” Satu pukulan kembali mendarat. “Apa untungnya lo bikin anak orang berharap sama lo?!”

Beberapa orang akhirnya ikut turun tangan untuk memisahkan mereka. Namun Dylan terus meronta dan berusaha menerjang Xander, sementara Xander sendiri juga belum sepenuhnya mundur. Situasi baru benar-benar bisa dikendalikan setelah seseorang berinisiatif memanggil security klub untuk membantu memisahkan keduanya.

Ryan dan beberapa VVIP member lainnya datang ketika situasi mulai mereda. Mereka segera membawa Dylan dan Xander ke lantai atas agar keduanya tidak kembali terlibat perkelahian, sementara anggota lainnya ikut menyusul.

Setelah mereka pergi, suasana di bar masih menyisakan ketegangan yang terlalu pekat. Musik tetap mengalun, tetapi beberapa orang masih sibuk mencerna apa yang baru saja terjadi.

Valen duduk di salah satu stool dengan ekspresi yang belum sepenuhnya lepas dari ketegangan. Ia memberi isyarat kepada bartender untuk menuangkan minuman, lalu menatap gelasnya tanpa benar-benar meminumnya.

Di sisi lain, Nadine kembali duduk di stool tempatnya tadi.

Beberapa saat kemudian, mata mereka bertemu di udara meski jarak fisik keduanya cukup jauh.

Nadine buru-buru menundukkan kepala.

Valen pun berpura-pura sibuk dengan minumannya.

Lima belas menit berlalu sebelum para VVIP member kembali turun ke bar. Rain segera mengambil tempatnya lagi di balik counter, sementara yang lain kembali berpencar dan menempati stool masing-masing. Perlahan, suasana yang sempat mencekam mulai kembali seperti biasa, meski bekas keributan tadi masih terasa samar di udara.

Xander baru menyusul turun beberapa saat kemudian.

Ia mendapati suasana di bawah sudah kembali normal. Dylan dan yang lain bahkan sudah kembali menikmati “racun” alkohol sambil mengobrol ringan, seolah pertengkaran beberapa puluh menit lalu sudah cukup mereka tinggalkan di lantai atas.

Xander berhenti sejenak di dekat pintu. 

Ia belum memutuskan apakah ingin ikut meracuni diri malam itu atau lebih baik langsung pulang. Ulu hatinya masih terasa nyeri akibat pukulan Dylan, dan tubuhnya juga tidak benar-benar menginginkan tambahan alkohol.

Sampai pandangannya bertemu dengan Nadine. Perempuan itu terlihat cemas saat melihat kondisi wajahnya.

Entah kenapa, melihat ekspresi Nadine justru membuat Xander kehilangan keinginan untuk minum. Ia berjalan menghampirinya.

“Ada waktu, Nad?”

Nadine menatap wajah Xander beberapa detik.

Ada sesuatu dalam ekspresi pria itu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tetapi Nadine seolah langsung mengerti. Xander tidak datang untuk bermesum ria seperti biasanya. Kali ini, ia benar-benar sedang mencari seseorang untuk diajak bicara.

Nadine akhirnya mengangguk. “Tentu ....”

Ia turun dari kursi bar.

Tanpa banyak bicara, Nadine menggandeng tangan Xander dan mengajaknya pergi. Keduanya berjalan meninggalkan bar tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka, bahkan jika sebagian dari mereka mungkin langsung berasumsi bahwa mereka akan melakukan hal yang sama seperti biasanya.

Dari tempatnya, Valen memperhatikan mereka sampai keduanya menghilang dari pandangan.

Senyum tipis muncul di wajahnya. Setidaknya Nadine mendengarkan sarannya kemarin. Ia benar-benar datang sebagai sandaran untuk Xander.

Namun suasana tenang itu tidak berlangsung lama.

“Ganas amat si Xander,” komentar Fabiola sambil kembali menyesap minumannya. “Baru juga kebukti hamilin cewek, udah mau tidurin cewek lainnya lagi aja.”

“Gue nggak heran sih dengernya.”

“Susah sih, hyper.”

“Tapi ada kemajuan si Xander. Ternyata bisa juga nggak pakai pengaman.” Ia berhenti sejenak, lalu mengangkat alis. “Eh ... itu kemajuan atau kemunduran?”

“Paling bentar lagi Nadine hamil juga.”

Fabiola langsung mendengus. “Deuh. Gue maki-maki si Nadine kalau sampai missed minum pil.”

Telinga Valen mulai terasa gatal mendengar komentar-komentar itu. Ia menahan diri beberapa detik, tetapi akhirnya meletakkan gelasnya dan bicara sedikit lebih keras, sengaja agar semua orang di sekitar mereka mendengar.

“Xander sedang nggak ada drive ke sana. Sama sekali.”

Obrolan langsung mereda.

“Dia cuma butuh teman ngobrol.”

Valen menatap mereka satu per satu dengan ekspresi tegas. “Kalau kalian nggak ada kontribusi buat bantu Xander bangkit lagi, jauh lebih baik jaga ucapan.”

Kalimat itu langsung membuat semuanya bungkam.

Beberapa orang saling melirik, tetapi tidak ada yang berani membalas.

Liam yang duduk tidak jauh dari Valen kemudian menepuk punggungnya pelan. “Slow, bro.”

Ia mengambil tempat di stool sebelah Valen. “Anyway, lo kok tadi bareng Xander?”

Valen menyesap minumannya sebelum menjawab, “Karena kalau gue nggak bujuk, dia nggak bakal ke mana-mana. Seminggu ini aja dia kayak mayat hidup di kantor.”

Ia mengembuskan napas. “Tadinya mau gue ajak minum, biar lupain dikit. Tapi ternyata dia lebih tertarik cari sandaran lain.”

Liam langsung menangkap maksudnya. “Nadine.”

Valen hanya mengangguk.

Liam terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Heran gue kenapa lo malah biarin mereka makin dekat. Another level of bromance.”

Tiba-tiba ekspresinya berubah seperti baru mendapatkan ide besar. “Heh. Bagus juga tuh jadi judul.”

Valen menoleh.

“Ntar di liriknya kudu ada, 'Bros before hoes, that's how the story goes. Through the highs and lows. Bros before hoes, everybody knows.'“

Liam semakin bersemangat sendiri. “Cadas nggak tuh?”

Valen mendengus geli. “Garap gih.”

“Siap.”

Liam kembali menyandarkan tubuhnya, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Senin besok meeting lagi sama Meridian, jangan lupa.”

“Gak bakal lupa.” Valen meliriknya. “Pakai baju agak rapian. Ingetin yang lain juga.”

Liam mengernyit. “Kemarin nggak rapi, toh?”

“Kurang proper.”

Liam langsung mengeluh. “Hadeh, gue nggak betah lagi pakai jas.”

“Meeting legal soalnya,” jawab Valen tenang. “Pakai jas bikin kesan kita juga serius menyambut kerja sama dengan mereka.”

Liam akhirnya mengangkat tangan tanda menyerah. “Siap, Bos.”

Valen hanya tersenyum tipis, lalu kembali menyeruput minumannya. Malam itu, setidaknya untuk beberapa jam ke depan, mereka memilih kembali ke obrolan ringan dan membiarkan drama Xander serta Abby berhenti sejenak di luar meja mereka.


26 – Tell Me 

Legal Meeting, Meridian Records. 

Pertemuan kedua dengan Meridian Records berlangsung jauh lebih formal dibandingkan pertemuan pertama. Kali ini pembahasannya sudah masuk ke tahap legal, termasuk kontrak distribusi, hak cipta, royalti, lisensi, kewajiban label, sampai berbagai klausul yang harus dipahami kedua belah pihak sebelum tanda tangan.

Pengacara dari pihak label menjelaskan isi kontrak cukup panjang lebar. Liam yang sejak tadi berusaha mengikuti pembahasan mulai menggaruk kepalanya sendiri ketika penjelasan masuk ke pasal-pasal yang semakin teknis.

Valen justru terlihat tenang.

Ia mengambil salinan kontrak yang ada di hadapannya, lalu mulai membaca. Tidak seperti Liam yang membolak-balik halaman dengan ekspresi semakin bingung, Valen bergerak cepat dari satu pasal ke pasal berikutnya. Matanya menyapu halaman dengan teliti, sesekali berhenti pada bagian tertentu sebelum kembali melanjutkan.

Lima menit kemudian, ia menutup kontraknya. “Pasal 14 sebaiknya direvisi.”

Semua kepala di meja meeting langsung menoleh kepadanya.

Liam bahkan sampai mengangkat alis.

Pengacara Meridian terlihat sedikit terkejut, tetapi tetap mempertahankan ekspresi profesionalnya. “... Boleh saya tahu bagian mana?”

Valen membuka kembali kontraknya dan menunjuk salah satu bagian. “Royalti sinkronisasi di klausul ini bertentangan dengan definisi lisensi di pasal sebelumnya.”

Ia kemudian membalik beberapa halaman. “Lalu di pasal 18, label berkewajiban menjaga kerahasiaan identitas pencipta lagu yang menggunakan nama pena. Sebaiknya ditambahkan, kecuali atas persetujuan tertulis dari pencipta.”

Ruangan mendadak sunyi.

Pengacara Meridian membaca kembali bagian yang ditunjuk Valen, sementara Head of A&R ikut mencondongkan tubuh untuk melihat dokumen tersebut.

Di sisi lain meja, Liam perlahan mendekat kepada Rhea dan berbisik, “Untung songwriter kita CEO.”

Rhea menahan senyum sambil ikut berbisik, “Ini sih makanan dia sehari-hari.”

Valen sempat melirik mereka, tetapi memilih tidak menanggapi. Ia kembali berdiskusi dengan pihak legal mengenai beberapa klausul lain sampai akhirnya semua poin yang dianggap perlu diperjelas atau disesuaikan mencapai kesepakatan bersama.


Setelah proses negosiasi selesai, LA Band akhirnya menandatangani kontrak dengan Meridian Records.

Bagi mereka, itu bukan sekadar tanda tangan di atas kertas. Itu adalah langkah pertama menuju sesuatu yang selama ini hanya berani mereka bayangkan.

Beberapa waktu setelah kontrak resmi berjalan, LA Band kembali masuk studio untuk merekam ulang materi mereka dengan standar produksi yang lebih besar. Album perdana mereka akhirnya lahir dari proses tersebut, membawa dua lagu yang sebelumnya sudah mencuri perhatian sekaligus memperkenalkan materi-materi baru kepada pendengar yang lebih luas.

Lagu ketiga ciptaan Valen juga masuk ke dalam album dan kemudian dipilih sebagai salah satu single.

Dari dua belas lagu yang ada di album perdana itu, enam di antaranya merupakan karya Valen sebagai songwriter.

Namun seperti yang sudah disepakati sejak awal, nama Valen tidak muncul di depan publik. Yang tercantum hanya dua huruf sederhana: VG.

Sementara LA Band mulai tumbuh jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Ketika salah satu music video mereka dirilis, kanal resmi LA Band kembali mengalami lonjakan besar. Jumlah subscriber menembus 250 ribu, sementara video tersebut mengumpulkan sekitar 2 juta views dan 140 ribu likes.

Angka-angka itu terus bergerak naik. Bagi para anggota LA Band, angka tersebut adalah bukti bahwa kerja keras mereka akhirnya mulai dilihat.

Sementara bagi Valen, ada kepuasan yang jauh lebih sederhana. Orang-orang mulai menyanyikan lagu-lagu yang dulu hanya ada di kepalanya. Mereka tidak tahu siapa VG, dan Valen memang tidak ingin mereka tahu.


Siang itu Valen sedang makan siang santai di sebuah restoran hotel bersama tiga kakaknya, Sonny, Fredo, dan Michael. Ketiganya lebih banyak membicarakan urusan bisnis ringan yang sebenarnya tidak terlalu menarik perhatiannya. Valen hanya sesekali mendengarkan sambil mengangguk, sementara fokus utamanya justru tertuju pada ponsel di tangannya.

Satu earbud terpasang di telinga sebelah, memutar MV terbaru LA Band yang sedang ia tonton. Sesekali Valen tersenyum sendiri membaca komentar para penonton, terutama ketika melihat orang-orang mulai membahas lirik dan bagian lagu yang ia tulis.

Jumlah views-nya juga terus bergerak naik. Hampir menembus 2,5 juta. Ada rasa bangga yang sulit ia sembunyikan.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Liam.

“Baru kelar wawancara sama media-media nih. Lo berkali-kali ditanyain. Gue cuma bilang, 'temen lama.' Kadang gue pengen seret lo supaya go public.”

Valen tersenyum kecil. Ia langsung membalas. “Itu melanggar kontrak.” Ia menambahkan emoji senyum sinis.

Balasan Liam datang hampir seketika.

“Padahal kalau lo sampai go public, gue yakin fans makin nambah! Biar aja bapak ajaib lo itu kebakaran jenggot.”

Valen mendengus geli sebelum mengetik lagi. “Udah gue bilang, gue nggak nyaman jadi highlight.”

Beberapa detik kemudian, Liam mengirim pesan baru.

“Tapi boleh nggak gue request?”

Valen mengernyit. “Apa?”

“Di album berikutnya, lagu lo yang Tell Me itu lo aja yang nyanyi. Karakter suara lo lebih masuk dibanding gue atau Rhea.”

Valen langsung menatap layar lebih lama. “Hah?”

Liam kembali membalas. “Jangan ada MV. Gue tahu lo nggak suka disorot. Tapi suara lo kudu keluar di satu lagu itu.”

“Gak lah, gila. Gue bilang di balik layar aja.”

“Gini ya. Gue udah coba nyanyiin. Rhea juga udah.”

Pesan berikutnya masuk.

“Tetap nggak dapet. Lagu itu ... suara yang gue dengar dari awal ya suara lo. Gue udah bilang ke label. Mereka juga setuju setelah bandingkan tiga suara kita.”

Valen mengusap dagunya sambil membaca pesan itu. “Gak. Lo aja.”

“Kenapa sih?”

“Kan gue bukan penyanyi.”

“Justru itu.”

Valen terdiam.

Pesan Liam kembali masuk. “Lo yang nulis. Lo yang ngerti napas lagu ini.”

Kali ini Valen tidak langsung menjawab. Ia menatap layar cukup lama, seolah sedang membayangkan dirinya sendiri menyanyikan lagu yang selama ini hanya ia ciptakan dari balik layar.

Akhirnya ia mengetik singkat. “Gue pikir dulu.”

“Valen.”

Suara Fredo membuat perhatiannya kembali ke meja makan. Valen melepas earbud dari telinganya dan menatap kakaknya.

“Oh. Gimana?”

Fredo menatapnya beberapa detik sebelum bertanya, “Kita semua bertanya-tanya, apa lo ada kontak lagi sama Xander? Di luar urusan Orison.”

Valen langsung menggeleng. “Gak tuh.”

Fredo menghela napas. “Gue terakhir ketemu, dia selalu menghindar kalau gue tanya soal pribadi. Chat nggak dibales. Anehnya, cuma balas kalau topiknya soal kerjaan.”

Valen kemudian melirik Sonny dan Michael. “Sonny sama Michael juga?”

Michael mengangguk. “Gue ajak minum, dia nggak bales. Nggak biasanya banget.”

Fredo kembali menatap Valen. “Lo kapan terakhir ketemu atau ngobrol sama dia? Selain urusan kerjaan.”

Valen terdiam sebentar. “Seminggu setelah kejadian Abby.”

Fredo mengangguk pelan. Ia bersandar di kursinya sambil menatap Valen dengan ekspresi serius. “Dia emang berubah setelah kejadian itu. Lo saksi hidup, Val. Emang dia sehancur itu?”

Valen tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap meja beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat pandangan kepada kakaknya. “Menurut lo?”

Ia menggeleng pelan, lalu menarik napas. “Lo semua punya anak. Bayangin aja.”

Sonny yang sejak tadi hanya diam akhirnya bergerak sedikit di kursinya. Ia masih bersandar dengan kedua tangan terlipat di dada, membiarkan ketiga adiknya berbicara tanpa menyela.

Michael justru terlihat belum sepenuhnya memahami. “Masalahnya dia kan selama ini nggak pernah mau. Denger. Nggak pernah mau punya anak.”

Ia mengangkat alis, mencoba mencari logika dari situasi tersebut. “Tapi tiba-tiba dapat surprise borongan dari si Abby. Bukannya justru harusnya dia ngerasa lega nggak jadi punya anak?”

Valen menoleh kepadanya. “Calon anak-anaknya itu gugur karena tindakan nekat, dan bisa dibilang ... Xander penyebab itu terjadi.”

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Siapa yang nggak shock?”

Michael masih tampak berpikir. “Kalau selama ini dia memang nggak mau punya anak, kenapa sekarang malah ....”

“Orang bisa berubah,” potong Valen tenang. “Kadang kita baru tahu seberapa besar sesuatu berarti setelah kita kehilangan kemungkinan untuk memilikinya.”

Meja makan itu kembali hening beberapa saat.

Fredo mengangguk pelan. “Ya. Gue paham sih.”

Michael masih belum puas. “Nggak, gue nggak paham. Terus dia selama ini ngapain? Ngedekem doang di kondo?”

Valen menggeleng kecil. “Dia memulihkan diri.”

Jawabannya sederhana, tetapi cukup untuk membuat Michael berhenti bertanya.

Sonny yang sejak tadi menyimak akhirnya kembali membuka pembicaraan. “Masalah lainnya, yang gue dengar dia sekarang malah berhubungan sama ... siapa namanya, Mike? Yang lo bilang mantan PSK?”

Michael menjawab singkat tanpa banyak ekspresi. “Nadine.”

“Nadine.” Sonny mengangguk, seolah baru ingat. “Yang pernah lo pacarin juga kan, Val?”

Valen mengangguk kecil.

“Nah, Bernard ngamuk. Lebih ngamuk lagi karena kali ini nggak berhasil memengaruhi Andrew.” Sonny mengusap dagunya sambil berpikir. “Andrew kelihatannya sekarang nggak tega kalau harus ngatur hidup Xander sebegitunya, mungkin gara-gara kasus Abby.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Gue cuma concern. Dari sekian banyak perempuan, kenapa harus si Nadine ini?”

Valen menatap kakaknya dengan tenang. “Gue rasa karena Nadine capable menjadi tempat bersandar.”

Fredo yang sejak tadi mendengarkan langsung menoleh. “Lo nggak masalah dengan itu?”

Valen tersenyum kecut. Ada sesuatu yang getir dalam ekspresinya sebelum akhirnya ia menjawab, “Gue pernah bilang ke Xander, kalau dia berniat serius, gue bakal mundur. Karena ini memang pertama kalinya dia punya hubungan serius. Gue cuma memenuhi omongan itu.”

Ia mengangkat bahu kecil. “Selain karena gue juga masih dalam kontrol Bernard.”

Sonny bersandar di kursinya sambil mengangkat alis. “Sebagus apa sih tuh cewek? Sampai bisa bikin Alexander ikut bucin.”

Michael mendengus sinis. “Jadi ... pada akhirnya si Xander kena virus afeksi?”

Ia terkekeh, terdengar meremehkan. “Penilaian gue ke dia berubah drastis. Bagus sih. Setidaknya akibatnya dia batal jadi Bernard versi 2.0.”

Michael kembali tertawa kecil. “Cinta. Cinta tahi kucing.”

Valen langsung menatap Michael cukup lama.

Ada sesuatu dari kalimat itu yang membuatnya teringat masa lalu kakaknya. Michael pernah percaya pada cinta juga. Pernah menjalani hubungan dengan Fabiola, pernah membiarkan dirinya terikat, lalu keluar dari hubungan itu dengan kekecewaan yang sepertinya tidak pernah benar-benar ia sembuhkan.

Mungkin itu sebabnya Michael menjadi seperti sekarang.

Mati rasa. Sinis. Dan selalu punya dorongan untuk mengendalikan orang lain sebelum orang lain sempat menyakitinya lebih dulu.

Valen akhirnya bersuara. “Getir amat lo.”

Michael mengangkat alis.

“Lo masih kepikiran Fabi, ya?”

Ekspresi Michael langsung berubah sepersekian detik. Ia terlihat terkejut, bahkan sedikit panik, sebelum buru-buru memasang kembali wajah tenangnya. “Siapa tuh?”

Valen hampir tersenyum. “Mantan tercinta, kan?”

Sonny spontan menoleh kepada Michael dengan ekspresi tidak percaya. “Emang iya?”

Michael mendengus meremehkan, seolah pertanyaan itu bahkan terlalu konyol untuk dijawab. “Omong kosong paling menjijikkan yang gue dengar hari ini.”

Valen tahu Michael berbohong. Lebih dari itu, ia tahu Michael juga tahu bahwa dirinya sedang berbohong.

Hanya saja, kakaknya itu tidak mau kembali menjadi manusia yang bisa merasakan terlalu banyak. Ia masih punya hati, Valen tahu itu. Tetapi Michael memilih mengurungnya sendiri, lalu bertahun-tahun membangun dinding di sekelilingnya sampai hampir tidak ada orang yang bisa menyentuh bagian itu lagi.

Valen menatapnya beberapa saat sebelum berkata pelan, “Lo tuh capek, ya ....”

Michael langsung menatapnya dengan ekspresi jijik. “Freak.”

Valen tidak membalas.

Justru jawaban itu semakin menguatkan dugaannya. Michael bukan seseorang yang sejak lahir menjadi seperti ini. Ia dibentuk. Sedikit demi sedikit, luka demi luka, sampai akhirnya menjadi seseorang yang bahkan mungkin tidak lagi tahu bagaimana caranya kembali. Dan Valen tahu siapa yang paling berperan dalam proses itu.

Bernard.

Fredo akhirnya menghela napas dan mencoba mengembalikan percakapan ke arah yang lebih ringan. “Udahlah, guys. Kita kasih waktu Xander buat memulihkan diri. Nanti kalau dia udah berhasil move on, pasti dia mau hang out lagi sama kita.”

Ia tersenyum tipis. “Semoga.”

Yang lain tidak menjawab.

Valen kembali menunduk, membiarkan pikirannya berjalan sendiri.

Kalau gue menyerah mempertahankan hati ....

Pandangannya tanpa sadar jatuh kepada Michael.

Bisa jadi gue berakhir seperti dia.

Pikiran itu membuat Valen terdiam cukup lama. Ia kemudian kembali memikirkan sesuatu yang jauh lebih personal.

Gue cinta musik.

Tatapannya beralih kepada ponsel yang masih tergeletak di meja. Percakapannya dengan Liam masih terbuka di sana.

Gue sayang Nadine.

Valen mengembuskan napas perlahan.

Lagu Tell Me mendadak terasa berbeda di kepalanya. Lagu itu bukan sekadar lagu yang ia tulis. Ada bagian dirinya di dalamnya, tentang sesuatu yang ia rasakan tetapi selama ini hanya berani ia ungkapkan melalui musik.

Dan mungkin justru karena itulah Liam terus memintanya menyanyikan lagu tersebut.

Lagu Tell Me adalah representasi itu. Mungkin ... baiknya gue penuhi permintaan Liam.


Di studio Meridian Records, akhirnya Valen berdiri di depan pintu ruang rekaman dengan ekspresi yang masih menyimpan keraguan. Setelah sekian lama, dia memang setuju menyanyikan Tell Me, tetapi sebagian dirinya masih bertanya-tanya apakah benar dia orang yang tepat untuk membawakan lagu itu.

Liam yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya mendekat, lalu menyenggol lengannya pelan. “Ragu, bro?”

Valen mengembuskan napas, masih menatap ke arah ruang rekaman. “Bukan ide bagus.”

Liam langsung memasang wajah gemas. “Tinggal nyanyi kayak di workshop kita kemarin, anjir.”

“Bukan itu.” Valen akhirnya menoleh. Nada suaranya terdengar lebih serius ketika dia melanjutkan, “Liam, lo lebih pro. Lebih teknis. Lebih pengalaman.”

Liam terdiam sesaat, lalu menggeleng kecil. “Mungkin iya. Tapi ada satu yang gue nggak punya, sementara lo punya.”

Valen menoleh penuh tanya.

“Emosi mentah.”

Tatapan Valen menetap pada Liam, seolah menunggu penjelasan lebih lanjut.

“Yes, secara teknik gue bisa nyanyiin lagu ini,” ujar Liam. “Tapi gue nggak pernah ngalamin hidup yang bikin lagu ini lahir.”

Liam kemudian menepuk dada Valen pelan. “Lo yang pernah.”

Valen tidak langsung menjawab. Dia hanya terdiam, menelan sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokan sebelum akhirnya menarik napas dalam-dalam.

“Sebenernya ....” Valen tersenyum tipis, bukan kepada siapa pun, lebih seperti kepada kenangan yang tiba-tiba muncul di kepalanya. “Masuk dapur rekaman studio resmi pernah jadi sebatas impian yang nggak tercapai buat gue.”

Dia berhenti sejenak, lalu melirik ke arah ruang rekaman dengan senyum kecil yang sulit disembunyikan.

“Tapi sekarang, di saat gue udah nggak terlalu kepengen disorot, rupanya gue malah dikasih kesempatan.” Valen kemudian menoleh kepada Liam, kali ini dengan senyum yang benar-benar tulus. “Ini semua berkat lo. Thanks.”

Liam langsung menggeleng, seolah tidak mau menerima sedikit pun kredit itu. “Lo yang bikin semua ini terjadi. Seandainya lo nggak naik ke panggung waktu gue kasih challenge di klub, lo nggak bakal ada di sini.”

Valen menatapnya beberapa detik, kemudian tersenyum dan mengangguk setuju. Setelah itu, dia akhirnya melangkah masuk ke ruang rekaman.

Di balik kaca studio, seluruh anggota band ikut memperhatikan ketika Valen mulai mengambil posisi di depan mikrofon.

MJ yang sejak tadi mendengarkan sambil manggut-manggut mengikuti alunan lagu akhirnya berkomentar, “Karakter vokalnya emang khas, ya. Suara Valen tuh kayak ada timbre-nya sendiri. Hangat, rendah, agak serak.”

Liam mengangguk setuju tanpa mengalihkan pandangan dari Valen. “Gue dengarnya ada kesan laki-laki yang lebih banyak memendam daripada bercerita. That's so Valen.”

Rhea yang berdiri di samping mereka menyipitkan mata, lalu melirik Liam dengan ekspresi penuh kecurigaan. “Gue curiga sejak lama ... Tell Me itu buat Nadine, ya?”

Liam hanya tersenyum kecil. “Menurut lo?”

Rhea tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali tertuju pada Valen yang sedang bernyanyi di balik kaca.

“Dari lima puluh lagu yang pernah dia kasih ke gue,” lanjut Liam pelan, “yang paling jujur, ya ini.”

Rhea menghela napas, lalu tersenyum tidak percaya. “Romantis banget sih, Valen. Asli.”

Liam terkekeh kecil. “Love language dia adalah ini.”

Senyum Rhea perlahan menghilang. Dia menatap Valen dengan ekspresi prihatin sebelum berkata, “Sayang banget ... malah Nadine makin serius sama Xander.”

Liam tidak menjawab.

Di balik kaca, Valen justru tampak semakin fokus. Matanya terpejam sesekali, suaranya mengalir lebih dalam setiap kali memasuki bagian emosional lagu. Seolah semua hal yang selama ini tidak pernah sanggup dia ucapkan akhirnya menemukan jalannya sendiri melalui Tell Me.

Mungkin memang begitu seharusnya lagu itu dinyanyikan. Bukan sekadar dengan suara yang bagus, tetapi dengan sesuatu yang pernah benar-benar dirasakan.


Tell Me akhirnya dirilis tanpa video musik, hanya mengandalkan audio dan nama kredit yang sederhana: Written by VG, Vocal by VG.

Tidak ada wajah sama sekali. Namun justru karena itu, rasa penasaran publik semakin besar.

Tanpa diduga, lagu tersebut meledak dan menembus tiga juta views. Kolom komentar dipenuhi pertanyaan yang sama.

Siapa VG?

Tidak ada satu pun yang tahu.

VG tidak pernah muncul dalam wawancara, tidak pernah terlihat dalam foto promosi, bahkan tidak pernah sekalipun tampil bersama LA Band di depan publik. Meski begitu, ada satu hal mulai disepakati banyak orang, yaitu kolaborasi LA Band feat. VG adalah salah satu hidden gem paling menarik yang mereka temukan.

Suara baru yang terasa berbeda, karakter vokal yang hangat dan khas, serta lagu yang terdengar terlalu jujur untuk sekadar menjadi lagu biasa.

Dan semakin sedikit informasi tentang VG yang mereka dapatkan, semakin besar pula rasa penasaran mereka.

Sementara itu, orang yang menjadi pusat misteri tersebut tetap memilih berdiri jauh dari sorotan, seolah tiga juta views bukanlah alasan untuk mengubah keputusan yang sudah lama dia buat.

Valen hanya ingin lagunya didengar.

Bukan dirinya. 


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.