KAMPH (27-28)
27 – What I Never Said
Sore itu, Nadine masih terjebak macet di dalam mobil. Radio menyala pelan, sekadar untuk mengusir kesunyian yang sejak tadi terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Tangannya meraih ponsel dan membuka chat dengan Xander. Pesan terakhir dari laki-laki itu dikirim semalam.
Nad.
Hanya satu panggilan nama, tanpa penjelasan apa pun, dan Nadine memang tidak pernah membalasnya. Kalau ditarik sedikit ke atas, jejak percakapan mereka justru semakin terasa menyakitkan. Ada deretan missed calls dari Xander yang datang setelah panggilan-panggilan tak terjawab dari Nadine sendiri, sama banyaknya, seolah keduanya sempat sama-sama berusaha mencari satu sama lain sebelum akhirnya menyerah pada diam.
Nadine menatap layar cukup lama sampai akhirnya mengembuskan napas dalam-dalam. Wajahnya terlihat sedih sekaligus kecewa, bukan hanya kepada Xander, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Jempolnya bergerak membuka pengaturan kontak, lalu berhenti beberapa detik di pilihan yang sebenarnya sudah dia tahu akan dipilih.
Block this number.
Setelah menekan pilihan itu, Nadine meletakkan ponselnya begitu saja di jok sebelah. Dia mengalihkan pandangan ke luar jendela, berusaha mencari apa pun yang bisa mengalihkan pikirannya dari rasa sesak yang belum juga pergi.
Suara penyiar radio tiba-tiba terdengar lebih jelas di tengah kemacetan.
“Ndra, lo ikutan tren TikTak yang lipsync lagu ini nggak? Yang orang-orang pura-pura jadi VG itu?”
Nadine yang tadinya melamun langsung mengulurkan tangan dan membesarkan volume radio.
Penyiar kedua tertawa sebelum menjawab dengan percaya diri. “Gue rasa nggak perlu lah gue cari validasi. Soalnya sebenernya emang gue yang nyanyi. Gue si VG! Diam-diam aja, ya!”
Penyiar pertama langsung menyambar, “Lo nyanyi Balonku aja fals!”
Tawa mereka pecah bersamaan.
Nadine tanpa sadar tersenyum tipis, tetapi penyiar kedua segera melanjutkan dengan nada yang lebih serius. “Tapi serius, gue ngerti sih kenapa orang-orang kepo. Dari dulu gue kira VG ini cewek.”
“Nah, gue malah dari awal yakin cowok.”
“Karena?”
“Nggak tahu. Feeling aja. Suaranya tuh ... kayak orang yang banyak nyimpen sesuatu.”
“Nah, itu! Gue juga ngerasa begitu. Makanya lagu-lagunya LA Band tuh kadang suka ....”
“Nohok?”
“Nohok.”
Nadine kembali bersandar di kursinya. Entah kenapa, percakapan itu mulai menarik perhatiannya lebih dari yang seharusnya.
Penyiar pertama kemudian berkata, “Oke, daripada kita makin sotoy dan malah bikin teori konspirasi sendiri, mending langsung kita dengerin. Ini dia lagu terbaru LA Band featuring VG, Tell Me.”
Nadine mengerutkan alis.
“VG?” gumamnya pelan. “Kayak inisial gue.”
Beberapa detik kemudian, intro Tell Me mulai mengalun dari radio.
Nadine langsung membeku.
Tangannya refleks mengecilkan volume AC, lalu menaikkan volume radio sampai suara musik memenuhi seluruh kabin. Dia tidak lagi memperhatikan kemacetan di sekelilingnya. Tatapannya lurus ke depan, tetapi seluruh fokusnya tertuju pada suara yang perlahan memenuhi mobil.
Suara itu ....
Nggak.
Nadine menggeleng kecil, seolah bisa memaksa pikirannya berhenti sampai di sana.
Nggak mungkin.
Namun semakin lagu berjalan, semakin sulit baginya untuk menyangkal sesuatu yang terasa begitu familiar.
Sampai pada satu bagian tertentu, suara napas penyanyi itu terdengar jelas di sela vokalnya.
Nadine langsung terdiam.
Napas itu.
Ada sesuatu di sana yang membuat dadanya seketika sesak. Ingatannya melompat pada malam di kondominium Valen, pada jarak sedekat itu, pada suara napas yang pernah dia dengar tanpa musik, tanpa mikrofon, tanpa apa pun yang bisa menjadi alasan untuk menyangkalnya.
Mobil di depannya mulai bergerak.
Nadine tidak menyadarinya.
Padahal jalan di depannya sudah agak lowong, tetapi kakinya tetap diam sampai suara klakson mobil dari belakang membuatnya tersentak.
Nadine buru-buru menginjak gas dan memajukan mobil beberapa meter. Matanya tetap terpaku ke depan, tetapi pikirannya sudah berada di tempat lain.
“... Valen?” Nama itu keluar hampir seperti bisikan.
Dia menelan ludah, lalu mencoba mencari alasan untuk membantah kesimpulannya sendiri.
Bisa saja bukan dia.
Banyak penyanyi punya suara rendah. Banyak orang punya warna vokal serupa. Napas yang terdengar jelas di rekaman juga bukan bukti apa-apa.
Tapi kenapa terasa sedekat ini?
Kenapa setiap detail kecil dari suara itu seperti menarik satu demi satu kenangan yang selama ini berusaha dia kubur?
Nadine menggeleng lagi, kali ini lebih keras. “Nggak mungkin ....”
Namun bagian dirinya yang paling jujur sudah tahu jawabannya.
Lagu itu berakhir.
Tanpa berpikir panjang, Nadine membelokkan mobil ke area parkir sebuah restoran cepat saji. Begitu mobil berhenti, dia langsung mengambil ponsel, membuka VouTube, lalu mencari lagu baru LA Band.
Tell Me.
Dia menekan play.
Dan mendengarkannya lagi.
Lalu sekali lagi.
Nadine tidak melakukan apa-apa selain duduk diam di balik kemudi, membiarkan lagu itu berulang kali memenuhi kabin. Semakin sering didengar, semakin jelas sesuatu yang tadinya hanya berupa dugaan berubah menjadi keyakinan.
“Ini benar Valen ....”
Suara Nadine bergetar.
Dia kembali memperhatikan liriknya, terutama bagian yang sejak tadi terasa terlalu personal untuk dianggap kebetulan.
“Tell me where your smile went.
Tell me where you go when you drift away.
Tell me where your heart went, when your light was spent.
Tell me what the shadows know that you never say.”
Nadine memejamkan mata.
“Tell me all the words you’re still afraid to speak … I’ll make sure you’re not alone.
You don’t have to weather every storm on your own.
No, you don’t have to hide the tears you’ve kept inside.
Just let them fall, and I’ll stay by your side.”
Dadanya terasa semakin sesak.
“Val ...,” bisiknya, nyaris tidak terdengar. “Ini buat aku?”
Bibirnya tergigit pelan. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh, membasahi kedua pipinya tanpa sempat dia usap.
Tell Me kembali masuk ke bagian awal.
Nadine mengambil ponselnya dan membuka ruang obrolannya dengan Valen.
Jarinya mulai mengetik.
Berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Sampai akhirnya sebuah kalimat berhasil dia tulis. Hanya satu pesan, tetapi jempolnya menggantung lama tepat di atas tombol send.
Nadine membaca pesan itu berulang-ulang.
Sekali.
Dua kali.
Entah untuk memastikan kalimatnya benar, atau justru untuk mencari alasan terakhir agar tidak mengirimkannya.
Akhirnya dia mengerang kesal, buru-buru menghapus seluruh pesan itu, lalu mengunci ponselnya dan melemparkannya ke jok sebelah.
“Ah, sial ....”
Nadine menyandarkan kepala ke kursi dan memejamkan mata.
Di dalam kepalanya, ada kalimat-kalimat yang tidak pernah berhasil menemukan jalan keluar.
Valen ... kalau kamu tahu, aku gagal sama Xander.
Udah berulang kali aku coba. Aku benar-benar udah berusaha.
Tapi rasanya terlalu sakit.
Aku nggak bisa lagi sama dia.
For good.
Nadine membuka mata perlahan. Pandangannya jatuh pada langit di balik kaca depan yang mulai berubah warna, jingga sore perlahan tenggelam menuju biru gelap.
Val ... apakah jurang pemisah antara kita terlalu mustahil?
Dia menarik napas panjang, tetapi kali ini napas itu terasa jauh lebih berat.
Kamu sedang apa sekarang?
Nadine terus menatap langit yang berangsur gelap di ufuk barat, sementara Tell Me masih berputar untuk kesekian kalinya di dalam mobil.
Sementara itu, Valen masih berada di ruang meeting direksi, meskipun matahari di luar jendela sudah mulai tenggelam. Agenda pembahasan kuartal belum juga selesai ketika Bernard pamit keluar sebentar dari ruangan, meninggalkan Valen sendirian bersama laptop dan tumpukan catatan di hadapannya.
Beberapa detik kemudian, ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan dari Liam masuk bersama dua tautan TikTak.
Liam: Bro, ini versi KW lo yang ke-47 😂 Paling vibe lo keknya.
Valen membuka tautan pertama.
Sebuah video menampilkan seorang pria brewokan dengan jaket hitam yang sedang lipsync Tell Me dengan ekspresi penuh penghayatan.
Tulisan di layar berbunyi:
POV: lo VG singing Tell Me.
Kolom komentarnya bahkan lebih absurd.
“Fix ini VG.”
Valen menatap layar beberapa detik, lalu menghela napas pendek sebelum membalas.
Valen: 😅 Brewokan tuh image lo, bukan gue.
Valen beralih pada link kedua yang Liam kirimkan.
Liam: Netizen makin liar, njir. Ini ada yang kompilasi teori-teori ngawur tentang VG. Ngakak parahhh!
Valen membuka videonya.
Satu demi satu teori muncul di layar.
“VG itu sebenarnya vokalis band negeri sakura.”
“VG itu anak pemilik label.”
“VG sebenarnya AI.”
Valen hanya menatap layar dengan ekspresi datar.
Setelah beberapa detik, dia mengetik balasan.
Valen: Tell me kenapa jadi bola liar gini?
Balasan Liam datang hampir seketika.
Liam: Karena lo fenomenal. Lo baca nggak, ada lumayan banyak komen yang minta band featuring VG lagi. Mereka pengen denger lo nyanyi lagi, bro!
Valen menggeleng-gelengkan kepala, tetapi kali ini dia tidak membalas.
Pesan berikutnya masuk.
Liam: Orang Meridian sempat nanya, apa reveal lo aja biar makin ngedongkrak penjualan. Gue bilang jangan. Lagi seru-serunya.
Jari Valen langsung bergerak.
Valen: Mau seru atau nggak, please jangan ada wacana reveal-reveal-an.
Beberapa detik kemudian, Liam membalas.
Liam: Tenang. I know you lah.
Valen akhirnya meletakkan ponselnya.
Namun belum sempat kembali ke catatan meeting, sebuah notifikasi lain muncul di layar. Kali ini bukan dari Liam.
Royalti masuk.
Nominalnya memang jauh dari gaji yang biasa dia terima sebagai CEO, bahkan mungkin tidak akan berarti banyak jika dibandingkan dengan angka-angka yang selama ini berseliweran di ruang direksi.
Tetapi Valen tetap menatap layar itu cukup lama.
Untuk pertama kalinya, ada sejumlah uang yang masuk kepadanya bukan karena jabatan, nama keluarga, dan terlebih, bukan karena posisi yang diwariskan kepadanya.
Uang itu datang dari sesuatu yang dia kerjakan karena cinta.
Senyum tipis muncul di wajahnya. Lalu dia segera kembali membuka chat Liam.
Valen: Royalti pertama gue masuk.
Balasan Liam langsung muncul bersama emoji nyengir lebar.
Liam: Yesss!! Sekarang traktir.
Valen tersenyum kecil.
Valen: Gak banyak.
Liam: Tetap. Itu duit paling jujur yang pernah lo dapet.
Senyum Valen tertahan beberapa detik lebih lama kali ini. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa tepat sasaran.
Akhirnya dia mengunci ponselnya, menarik napas, lalu kembali mengalihkan perhatian pada laptop di hadapannya. Target kuartal perusahaan kembali memenuhi layar, lengkap dengan angka, proyeksi, dan berbagai agenda yang harus diselesaikan.
Seolah beberapa menit sebelumnya dia tidak sedang menjadi VG. Seolah Tell Me bukan sesuatu yang baru saja memberinya pengalaman paling personal dalam hidupnya.
Pintu ruangan kemudian terbuka.
Bernard masuk dengan senyum lebar, ponsel masih menempel di telinganya. Dia mengakhiri sambungan telepon sebelum berjalan kembali ke meja, lalu duduk di ujungnya dengan ekspresi puas.
“Valen, persiapkan dirimu.”
Valen mengangkat wajah dari laptop dan menatap ayahnya dengan tatapan bertanya.
Bernard menyandarkan tubuhnya dengan santai. “Sabtu besok kamu perkenalan dengan Vanessa Mahendra. Kasih kesan pertama yang baik.”
Mata Valen langsung melebar.
Perjodohan.
Tentu saja.
Bernard melanjutkan seolah baru saja menyampaikan agenda meeting biasa. “Tadinya saya sarankan besok, tapi Vanessa rupanya di Tokiya seminggu ini. Baru lowong Sabtu.”
Valen bersandar ke kursinya, lalu tersenyum sinis. “Udah ketemu jodoh buat saya rupanya.”
“Anak Richard Mahendra pasti tahan banting,” jawab Bernard tenang. “Dan Mahendra Group sangat prospektif.”
Valen menggeleng pelan. “Kenapa Michael dan Franco dilewatkan? Seharusnya belum giliran saya.”
Bernard menatapnya tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. “Mumpung ketemu yang cocok. Aliansi dengan Mahendra Group akan meningkatkan valuasi Orison Group sedikitnya seratus dua puluh triliun dalam sepuluh tahun.”
Rahang Valen mengeras. “Kalau saya bisa membawa seratus dua puluh triliun ke hadapanmu, agenda itu bisa batal?”
Bernard tertawa pendek, terdengar hampir mengejek. “Pertanyaan apa itu?”
Dia kemudian kembali fokus pada tab di laptopnya, seolah percakapan mengenai masa depan putranya barusan tidak lebih dari pembahasan strategi bisnis.
“Oh ya. Saya dapat laporan soal Prince.”
Valen terdiam.
“Prince sebulan ini les piano,” lanjut Bernard.
Nada bicara Valen seketika berubah defensif. “Musik melatih disiplin, konsentrasi, dan kreativitas. Gak ada ruginya.”
Bernard mendengus sinis. “Hmh. Pastikan itu tidak berubah menjadi cita-citanya.”
Valen menahan napas, lalu menjawab dengan suara yang lebih terkendali. “Saya cuma ingin dia mengenal banyak hal. Biar nanti kalau memilih, dia benar-benar memilih.”
“Useless.”
Satu kata itu cukup membuat Valen menegang.
“Saya ayahnya,” katanya, kali ini lebih tegas. “Izinkan saya mengambil keputusan yang tidak merugikan siapa pun.”
Bernard meliriknya dengan tatapan tidak suka, kemudian dengan nada datar menjawab, “Silakan. Selama tujuan akhirnya tetap sama. Prince meneruskan dinasti.”
Valen tidak menyahut.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada seluruh meeting sejak sore tadi.
Bernard memandang putranya sebentar, seolah sedang mengamati sesuatu yang tidak dia sukai. “Jangan sampai dia tumbuh seperti kamu.”
Valen menatap ayahnya.
Ada rasa muak yang perlahan naik ke tenggorokannya. Bagi Bernard, semua manusia seolah memiliki nilai sejauh mereka bisa menjadi aset, memperbesar pengaruh, atau meneruskan sesuatu yang sudah dibangun sebelumnya. Bahkan anak sendiri tidak benar-benar dilihat sebagai anak, melainkan sebagai pewaris sebuah dinasti.
Valen ingin mengatakan banyak hal.
Tentang bagaimana seseorang seharusnya tidak dipaksa menjalani hidup yang bukan pilihannya.
Tentang bagaimana Prince berhak menentukan dirinya sendiri.
Tentang bagaimana dirinya sendiri sudah cukup lama hidup sebagai seseorang yang selalu ditentukan oleh orang lain.
Namun semua kata itu berhenti di tenggorokannya.
Bernard kembali membuka catatan meeting. “Kita lanjutkan meeting tadi.”
Valen menelan seluruh kalimat yang hampir keluar dari mulutnya. Dia kembali menatap layar laptop, tetapi angka-angka di sana sudah tidak lagi terbaca dengan jelas.
Dongkol, marah, dan benci bercokol di dadanya, bercampur dengan rasa lelah yang sudah terlalu lama dia kenal.
Di luar jendela, cahaya terakhir matahari perlahan menghilang. Dan di ruangan itu, Valen kembali menjadi putra seorang pewaris dinasti, bukan laki-laki yang beberapa menit sebelumnya baru saja menerima royalti pertama dari lagu yang dia nyanyikan dengan sepenuh hati.
28 – Pertemuan yang Tak Terduga
Sesampainya di rumah, Valen duduk menemani Prince makan sambil menyuapi anak itu sedikit demi sedikit. Prince makan dengan lahap sampai tidak menyisakan apa pun di piringnya. Setelah selesai, dia buru-buru meraih tas berbentuk kodok yang tadi dibawanya dari sekolah, lalu mengobrak-abrik isinya dengan antusias sebelum menemukan sesuatu yang rupanya ingin sekali dia tunjukkan.
“Papa, Papa, lihat deh!”
Valen yang sedang membereskan piring langsung menoleh. Prince menyodorkan sebuah stiker bergambar bintang, dan Valen menerimanya sambil mengangkat alis penasaran.
“Wah, apa ini, Prince?”
“Itu tadi dikasih sama Kak Iki!”
Valen tersenyum kecil. “Ooo ... Kakak yang sering kamu ceritakan itu?”
Prince langsung mengangguk cepat. “He-eh! Kak Iki bilang Plince hebat, bisa main Twinkle Little Stal!”
Cara Prince mengucapkannya dengan penuh semangat membuat Valen ikut tersenyum. Dia menatap anaknya sejenak sebelum bertanya, “Kamu bisa main satu lagu penuh?”
Prince mengangguk dengan wajah bangga, dadanya bahkan sedikit membusung.
“Wah!” Valen langsung mengangkat tangannya untuk mengajak tos. “Hebatnya jagoan Papa!”
Telapak tangan kecil Prince menyambut tos itu dengan penuh semangat. Dia tertawa kesenangan, lalu tanpa aba-aba langsung melompat ke pelukan Valen.
“Papa, Kak Iki dibawa pulang ke lumah bial bisa main telus sama Plince!”
Valen tertawa sambil memeluk tubuh kecil itu erat. “Nggak bisa dong, Sayang. Kak Iki kamu kan pasti udah punya rumah juga.”
Prince langsung mengangkat wajahnya dengan ekspresi kecewa. “Yahh ... Kak Iki baik loh, Paa. Plince sayang Kak Iki.”
Valen terdiam sebentar, lalu tanpa sadar tersenyum. Dari cerita Prince selama beberapa waktu terakhir, nama Kak Iki memang semakin sering muncul. Entah siapa sebenarnya kakak yang satu itu sampai berhasil membuat Prince begitu menyukainya.
Rasa penasaran Valen pun semakin besar.
“Eh,” katanya sambil mengusap rambut Prince, “Papa jadi pengen ketemu sama Kak Iki itu. Besok Papa jemput kamu di sekolah, ya.”
Mata Prince langsung berbinar.
“Yeeeeeyyyy!” Dia memeluk leher Valen semakin erat. “Iya, Pa! Jemput ya! Kak Iki diajak pulang juga!”
Valen hanya bisa nyengir gemas sambil menggeleng kecil. Rupanya, urusan bertemu Kak Iki sudah sekaligus berkembang menjadi agenda membawa pulang seorang kakak yang sama sekali belum pernah dia kenal.
Besok sorenya, Valen sudah tiba di sebuah musical school untuk toddler. Suasana lobby ramai oleh suara anak-anak kecil yang berlarian ke sana kemari, sementara beberapa orang tua sibuk menunggu di kursi dekat ruang kelas.
Valen langsung menuju kelas Prince.
Begitu sampai di depan pintu, langkahnya melambat ketika melihat Prince sedang bermain hompimpa dengan seorang remaja laki-laki yang kira-kira berusia tujuh belas tahun. Keduanya tampak akrab. Prince tertawa lepas setiap kali permainan itu dimulai lagi, sementara si remaja ikut tertawa sambil meladeni tingkahnya.
Valen memperhatikan mereka beberapa saat.
Itu kakak yang dekat sama Prince?
Dia mengamati remaja itu dari jauh. Penampilannya sederhana, wajahnya terlihat ramah, dan cara dia memperlakukan Prince juga cukup hangat.
Hmm. Oke. Kelihatannya anak baik.
Valen kemudian memanggil, “Prince.”
Prince yang sedang asyik bermain langsung menoleh. Begitu melihat ayahnya, wajahnya seketika berbinar.
“Papaaa!”
Dia berlari menghambur ke arah Valen, dan Valen langsung menyambutnya sambil mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongan.
“Heh, jagoan Papa!” Valen tertawa sambil mencium rambutnya. “Gimana? Seru hari ini?”
Prince mengangguk antusias, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. Dia menoleh ke arah remaja yang tadi bermain bersamanya.
“Papaa, ini Kak Iki!”
Remaja itu ikut berjalan mendekat dengan senyum sopan. “Sore, Om.”
Valen memperhatikannya lebih dekat. Entah kenapa, ada sesuatu dari wajah dan pembawaannya yang terasa familiar, meskipun dia belum bisa menjelaskan apa.
“Oh, jadi kamu kakak yang diceritakan terus sama anak saya?” tanya Valen sambil tersenyum.
Remaja itu nyengir kecil. “Kelihatannya begitu, Om.”
“Berarti cepat akrab, ya.”
“Saya memang senang anak kecil, Om. Kebetulan Prince langsung nempel sama saya.”
Valen mengangguk-angguk. Dari caranya berbicara dan memperlakukan Prince, kesan pertamanya terhadap remaja ini semakin baik.
“Kamu di sini kerja?”
Remaja itu mengangguk. “Iya, Om. Part time, sebagai studio assistant.”
“Masih sekolah? Kelas berapa?”
“Masih, Om. Kelas dua belas.”
“Oh, sebentar lagi lulus, dong.” Valen tampak tertarik. “Mau lanjut kuliah atau gimana?”
“Rencananya lanjut, Om. Makanya saya ambil kerja part time juga.”
Valen mengangguk lagi. “Bagus. Bagus. Semoga lancar semuanya, ya.”
Namun Prince yang sejak tadi nyaman berada di pelukan ayahnya mulai gelisah. Tangannya menarik sedikit kerah baju Valen sambil menunjuk ke arah remaja itu.
“Papa ... ajak Kak Iki ....”
Valen langsung tertawa kecil. “Prince, nggak bisa, Sayang. Kak Iki kan punya rumah sendiri.”
Remaja itu tampak bingung mendengar permintaan Prince yang begitu serius.
Valen akhirnya menjelaskan sambil tertawa ringan. “Maaf, ya. Anak saya minta kamu ikut pulang biar bisa main terus katanya.”
Remaja itu langsung tertawa gemas melihat ekspresi Prince.
Valen kembali membujuk anaknya. “Nanti papa mamanya Kak Iki nyariin.”
Remaja itu tersenyum meyakinkan pada Prince. “Besok kita main lagi, Prince. Nggak apa-apa, ya? Kakak nggak ikut dulu?”
Prince masih tampak belum rela, tetapi sebelum sempat menjawab, terdengar suara seorang perempuan dari belakang Valen.
“Vicky.”
Remaja itu langsung menoleh. “Mama.”
Valen yang mendengar panggilan itu sempat mengernyit.
Vicky?
Ada sesuatu dari suara perempuan tersebut yang membuat dadanya tiba-tiba terasa tidak nyaman. Familiar. Terlalu familiar.
Dia perlahan memutar badan.
Dan seketika seluruh pikirannya berhenti.
Nadine.
Valen membeku.
Perempuan yang berdiri beberapa langkah di belakangnya juga tidak kalah terkejut. Mata Nadine langsung membulat begitu melihat siapa yang berdiri di depan putranya.
Bibirnya sedikit terbuka sebelum sebuah nama keluar dalam desisan nyaris tidak percaya. “Valen ....”
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun yang tahu harus berkata apa.
Valen akhirnya berhasil menemukan suaranya.
“Kamu ....” Dia masih tampak seperti sedang memastikan bahwa apa yang dilihatnya benar-benar nyata. “Kok di sini?”
Nadine menelan ludah, lalu menjawab dengan suara yang berusaha terdengar biasa. “...Jemput anakku.”
Pandangan Nadine kemudian turun ke anak kecil yang sedang berada di gendongan Valen.
Dan saat melihat wajah Prince, ekspresinya berubah sedikit. Dia langsung mengenalinya.
Valen sendiri sedang sibuk menyusun potongan-potongan puzzle yang mendadak berserakan di kepalanya. Pandangannya berpindah dari Vicky yang tampak bingung, lalu kepada Nadine, kemudian kembali lagi kepada Vicky.
“Ini anak kamu?”
“Iya.”
Nadine mendekat, lalu menggandeng tangan Vicky.
Dia menatap Prince dengan senyum tipis yang masih menyimpan sisa keterkejutan. “Ini pasti Prince, ya? Halo, Prince.”
Prince yang masih berada di pelukan Valen tersenyum polos. “Haloo.”
Vicky memandang ibunya, kemudian beralih kepada Valen. “Mama kenal Om ini?”
Nadine tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, seolah masih membutuhkan beberapa detik untuk mencerna kenyataan bahwa setelah sekian lama, pertemuan mereka ternyata terjadi dengan cara yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan.
Sementara itu, Valen akhirnya seperti menemukan kepingan terakhir dari puzzle-nya.
“Astaga ....” Dia menatap Prince dengan ekspresi takjub, lalu kembali menatap Vicky. “Prince, kamu sebut-sebut Kak Iki, Kak Iki itu ternyata maksudnya Kak Vicky?”
Prince mengangguk polos.
Nadine yang masih sedikit shock akhirnya tidak bisa menahan tawa kecil. Situasinya terlalu absurd untuk tidak membuatnya geli.
Vicky menggaruk kepalanya pelan sebelum akhirnya menjelaskan, “Iya, Om. Nama saya sebenarnya Vicky.”
Valen tertawa ringan, masih antara takjub dan bingung.
“Vicky ....” Dia mengulang nama itu seolah baru sekarang mengerti kenapa wajah remaja tadi terasa familiar. “Pantas kamu mengingatkan saya sama seseorang.”
Valen kemudian menoleh kepada Nadine. “Vicky mirip kamu, ya, Nad.”
Nadine hanya tersenyum tipis. “Iya.”
Valen masih menatap Nadine cukup lama. Ada dorongan yang semakin kuat dalam dirinya untuk mengajak perempuan itu bicara, sekadar beberapa menit saja, tetapi sebelum pikiran lain sempat muncul untuk menghentikannya, kalimat itu sudah lebih dulu keluar.
“Ngobrol sebentar bisa?”
Nadine menatapnya, seolah sempat mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Valen kemudian melirik ke arah Vicky dan Prince. “Aku pinjam Vicky sebentar untuk temani Prince. Boleh?”
Nadine kembali mengangguk.
“Vicky, tolong jagain Prince sebentar, ya?”
Valen menurunkan Prince dari gendongannya. Remaja itu sempat terlihat bingung, tetapi kemudian mengangguk.
“Eh, iya ... oke, Om.” Vicky langsung menggandeng tangan Prince.
Namun Prince malah menatap ayahnya dengan wajah penasaran. “Papa mau ke mana?”
“Sebentar, ya, Nak.” Valen mengusap kepala anaknya. “Papa ada urusan dulu sama Tante.”
Nadine ikut mendekati Vicky dan berpesan pelan, “Kamu di sini aja, ya, Vic.”
Setelah memastikan Prince dan Vicky tetap bersama, Valen dan Nadine berjalan menjauh dari anak-anak. Mereka terus melangkah sampai dirasa cukup jauh untuk berbicara tanpa terdengar oleh siapa pun.
Begitu berhenti, Valen berbalik menghadap Nadine.
Ada senyum kecil yang muncul di wajahnya, meskipun sorot matanya menyimpan jauh lebih banyak hal. “Gimana kabarmu?”
Nadine menatapnya beberapa detik. “Baik-baik aja ....” Dia lalu tersenyum tipis. “Kamu sehat, kan?”
Tatapannya tertahan pada wajah Valen sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Ada kerinduan yang tidak berhasil dia sembunyikan sepenuhnya.
“Sehat.” Valen mengangguk kecil, lalu mencoba mencairkan suasana. “Anyway, aku nggak sangka ketemu sama kamu di sini. Tiap hari jemput Vicky?”
“Iya.” Nadine terkekeh ringan. “Meski anaknya nggak terlalu suka dijemput. Aku belum izinin dia bawa motor soalnya.”
Valen mengangguk-angguk, memahami alasan itu.
“Kamu juga tiap hari jemput Prince?”
“Nggak. Seringnya aku minta tolong nanny dan supir.” Valen melirik ke arah Prince yang sedang bermain dengan Vicky. “Ini karena aku kepo aja pengen lihat Kak Iki yang sering anakku ceritakan.”
Dia terdiam sebentar sebelum menambahkan, “Kalau aja sejak kemarin aku ke sini, mungkin udah ketemu sama kamu, ya.”
Nadine hanya tersenyum canggung.
Ada jeda singkat sebelum Valen akhirnya menanyakan sesuatu yang sejak tadi sebenarnya sudah ada di pikirannya.
“Gimana kamu sama Xander? Lancar?”
Senyum Nadine perlahan menghilang.
“Oh ....” Dia menatap Valen sejenak. “Kamu belum tahu, ya?”
Valen langsung mengernyit. “Tahu apa? Kenapa?”
Nadine menarik napas sebelum akhirnya pelan berkata, “Aku sama Xander ... udah selesai. Untuk selamanya.”
Mata Valen membesar.
“Lho ... tapi ....” Dia tampak kesulitan menyusun pertanyaan. “Kok?”
Nadine menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Gak ketemu sama dia?”
“Ketemu.” Valen mengangguk. “Ketemu, tiap minggu juga ketemu. Tapi Xander sekarang tertutup. Nggak ada obrolan apa-apa selain urusan kerja.”
Nadine terdiam.
Valen memperhatikannya, lalu bertanya lebih hati-hati. “...Kenapa kalian pisah?”
Nadine menarik napas panjang. “Intinya ... dia masih belum bisa komitmen.”
Valen tidak langsung menjawab.
“Aku udah berkali-kali kasih dia kesempatan,” lanjut Nadine, suaranya semakin pelan. “Sampai akhirnya aku nggak sanggup lagi. Karena terlalu sakit.”
Valen mendecakkan lidah, jelas menahan kesal. “Xander, tolol ....”
Nadine justru tersenyum tipis, meskipun tidak ada kebahagiaan di sana. “Tapi udah lewat. Sekarang aku punya metode baru buat menjalani hidup.”
Valen menatapnya bingung. “Metode baru?”
Nadine mengangguk kecil. “Gak mengizinkan diri untuk berharap.”
Alis Valen langsung mengerut. “Itu bukan metode baru. Itu metode lama kamu.”
Nadine terdiam.
Dia membuang muka, berusaha menghindari tatapan Valen. Namun matanya mulai berkaca-kaca, dan air bening perlahan berkumpul di sudut matanya.
Valen memperhatikan perubahan itu. “Dia berapa kali sakiti kamu?”
Nadine menggeleng pelan. “Gak usah dibahas ....”
“Nadine.”
Nada suara Valen membuat Nadine akhirnya menatapnya lagi.
Dia menarik napas panjang, seolah berusaha mencari cara paling aman untuk menjelaskan semuanya.
“Mungkin kali ini giliran kamu temani dia.” Suaranya mulai bergetar. “Saat kami berpisah, a-aku rasa dia lebih hancur daripada saat tragedi Abby ....”
Valen terdiam.
Dia menatap Nadine dengan sorot mata yang perlahan berubah lembut. “...Tapi kamu terlalu sakit untuk mempercayainya lagi?”
Nadine hanya mengangguk pelan.
Valen mengembuskan napas berat. “Bukannya melindungi kamu, malah dia sakiti. Terlalu.”
Nadine menundukkan kepala sedikit. “Sudahlah, Valen. Emang ini jalannya.”
Valen tidak menjawab.
Dia hanya menatap Nadine lama, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi untuk pertama kalinya dia sadar bahwa tidak semua luka bisa diselesaikan dengan kalimat yang tepat.
Nadine menarik napas perlahan dan berusaha menenangkan diri. Setelah beberapa saat, napasnya mulai lebih teratur, meskipun dia masih belum sanggup menatap Valen.
Valen memperhatikannya dengan khawatir. “Kamu nggak apa?”
Nadine mengusap sudut matanya cepat-cepat, lalu memaksakan senyum kecil. “I'll be fine ....”
Valen hanya mendengus pelan, nyaris seperti orang yang gemas sekaligus frustrasi menghadapi semua keadaan ini.
Tentu saja Nadine akan mengatakan itu.
Selalu begitu. Seolah selama dia mengatakan I'll be fine, maka semua yang menyakitinya otomatis akan menjadi lebih ringan.
Padahal Valen tahu, dari dulu, Nadine adalah orang yang paling pandai meyakinkan orang lain bahwa dirinya baik-baik saja ketika sebenarnya tidak.
Setelah beberapa saat, Nadine akhirnya kembali menatap Valen. Ekspresinya sudah jauh lebih tenang, bahkan senyum kecil mulai muncul di wajahnya lagi.
“Anyway, congrats, ya. Lagu yang kamu nyanyiin makin viral.”
Valen langsung menatapnya dengan sorot mata yang berubah. Ada keterkejutan sekaligus rasa tidak percaya yang begitu jelas sampai Nadine terkekeh kecil.
“Kok ... kamu tahu?”
“Kamu pikir aku nggak ngenalin suaramu?” Nadine menjawab santai, seolah pertanyaan itu justru lucu.
Valen terdiam.
Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya. Ada rasa lega yang sulit disembunyikan, bahkan sedikit rasa syukur karena ternyata di antara jutaan orang yang mendengar suara VG, Nadine tetap bisa mengenalinya.
“Setelah yang kamu nyanyikan selama ini ....” Nadine tersenyum lalu melanjutkan, “ She's The One, Missing You ... nggak mungkin aku nggak ngenalin kamu.”
Dia menatap Valen tepat di mata. “VG.”
Valen langsung tersenyum malu. Dia menundukkan kepala sebentar, seolah mendadak tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Kamu juga tahu soal Missing You.”
Nadine mengangguk.
Valen kembali mengangkat wajahnya. Kali ini tatapannya penuh rasa syukur. Selama ini dia tidak pernah benar-benar tahu apakah lagu-lagu yang diam-diam dia tulis dan nyanyikan untuk Nadine akan pernah sampai kepada perempuan itu.
Sekarang dia tahu.
Semuanya sampai.
“Makasih,” ucap Valen pelan. “Kamu kenal suaraku.”
Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, seolah kalimat berikutnya jauh lebih sulit untuk diucapkan. “Lagu-lagu itu ... untuk kamu.”
Pipi Nadine langsung memerah. Dia menunduk, berusaha menyembunyikan senyum yang mulai muncul. “Aku cuma minta satu.”
Valen mengangkat alis. “Apa?”
“Kamu bikin lagu lebih dari satu.”
Valen tersenyum. “Karena banyak yang nggak tersampaikan.”
Kalimat sederhana itu membuat dada Nadine terasa hangat.
Ada begitu banyak hal yang selama ini tidak pernah berhasil mereka katakan secara langsung. Namun ternyata Valen menemukan cara lain untuk mengatakannya, satu lagu demi satu lagu.
Momen itu terputus ketika terdengar suara Vicky dari belakang mereka.
“Om, Mama.”
Keduanya serempak menoleh.
Vicky berdiri sambil menggendong Prince yang kini sudah terlihat mengantuk. “Prince kayaknya udah capek.”
Prince mengusap matanya dan menguap lebar.
Valen langsung melangkah mendekat dan mengambil anaknya dari gendongan Vicky. “Oh, kasihan anak Papa udah ngantuk?”
Prince hanya menyandarkan kepala ke bahu ayahnya, terlalu mengantuk untuk menjawab.
Nadine ikut mendekat. Tangannya menyentuh tangan kecil Prince dengan lembut, lalu tersenyum hangat melihat anak itu yang sudah hampir terlelap.
Valen menatap jam tangannya sebelum kembali memandang Nadine.
“Aku pulang duluan kalau gitu.” Dia tersenyum kecil. “Nad, lanjut lagi lewat WA, ya.”
Nadine tidak bisa menahan senyum mendengar ucapan itu. Ada sedikit kegembiraan yang spontan muncul di wajahnya.
“OK. Hati-hati, ya.”
Dia melambaikan tangan kepada Valen dan Prince. Bahkan Prince yang sudah mengantuk masih sempat mengangkat tangan kecilnya, seolah belum rela benar-benar mengakhiri pertemuan itu.
Setelah Valen pergi, Vicky memperhatikan ibunya yang masih menatap ke arah laki-laki itu. Ada sesuatu dari ekspresi Nadine yang membuat Vicky mengangkat alis.
“Itu siapa sebenarnya, Ma?” tanyanya penasaran. “Pacar?”
Nadine akhirnya mengalihkan pandangan. “...Rumit.”
Dia kemudian menggandeng tangan Vicky. “Ayo pulang, yuk.”
Mereka mulai berjalan menuju mobil.
Vicky masih belum puas. “Dia lebih baik dari Om Xander yang kemarin?”
Nadine tidak menjawab.
Vicky menoleh kepada ibunya, lalu melanjutkan dengan nada serius. “Aku nggak suka, ya, kalau Mama dimainin lagi kayak yang Om Xander lakuin. Orang tadi juga bisa aja seperti itu.”
Nadine tetap diam.
Dia membuka kunci mobil ketika mereka sudah sampai di parkiran, tetapi Vicky masih belum menyerah.
“Makanya aku heran, kenapa sih Mama nggak balikan aja sama Papa? Mumpung Papa juga belum nikah sampai sekarang.”
Nadine langsung menggeleng yakin. “Papamu? Big no.”
Dia membuka pintu mobil, seolah pernyataan itu sudah cukup untuk mengakhiri pembicaraan.
Vicky hanya terdiam.
Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah murung. Dia tidak membantah lagi dan akhirnya masuk ke dalam mobil.
Nadine menyusul dari sisi lain tanpa menyadari bahwa putranya masih memikirkan jawabannya.
Bagi Nadine, kembali kepada ayah Vicky adalah sesuatu yang bahkan tidak perlu dipertimbangkan. Namun bagi Vicky, entah kenapa, jawaban itu justru terdengar seperti sesuatu yang jauh lebih menyedihkan daripada sekadar Big no.
Comments
Post a Comment