KAMPH (29-30)

 Bab 29 – If There’s A Chance

Setelah menyuapi Prince makan dan menemaninya sampai benar-benar lelap, Valen kembali keluar rumah. Tujuannya Klub Tunasmara, namun kali ini bukan untuk minum-minum. 

Sepanjang perjalanan, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.

Apa dia ada di klub? Apa weekdays pun dia masih ke sana?

Begitu tiba di area klub, Valen sempat ragu untuk memarkir mobil. Namun, sebelum memutuskan, pandangannya justru tertarik pada sebuah bangunan di seberang klub.

Sebuah rumah baru berdiri megah di sana.

Bangunan tiga lantai itu tampak modern dan maskulin, dengan lampu-lampu yang menerangi fasadnya sehingga terlihat semakin mencolok di malam hari. Valen mengernyit, lalu perlahan teringat bahwa beberapa bulan lalu, saat terakhir kali dia datang ke klub, area tersebut masih tertutup. Saat itu, dia hanya sempat menyadari bahwa ada sebuah bangunan yang sedang didirikan di sana.

Ingatan lain tiba-tiba menyusul.

Beberapa bulan lalu, ketika Valen dan LA Band merayakan launching album perdana mereka, Liam sempat mengundangnya ke sebuah acara syukuran kecil. Katanya, rumah geng Tunasmara akhirnya selesai dibangun dan sudah siap ditempati oleh semua anggota VVIP.

Saat itu Valen menolak halus.

Jadi, rupanya rumah yang selama ini mereka bicarakan adalah bangunan yang sekarang berdiri tepat di seberang klub.

Geng VVIP itu ternyata memutuskan untuk membangun sebuah rumah sebagai basecamp kedua, seolah tempat berkumpul mereka di klub saja masih belum cukup.

Valen menghela napas pelan sambil memperhatikan rumah tersebut.

Mungkin Xander ada di sana.

Tanpa banyak pertimbangan, dia kembali menjalankan mobil, keluar dari pekarangan klub, lalu berhenti di sisi trotoar yang tidak jauh dari rumah itu.

Baru saja tangannya mematikan mesin, ponselnya bergetar.

Pesan baru masuk ke grup LA Band.

Rhea: Besok siang jadi bedah lagu baru kita ya genggss!

Felix: Sejak om maestro kolab, kita jadi super produktif 😎

Valen tersenyum sekilas, lalu bergumam sendiri, “Om maestro.”

Tak lama kemudian, dia mengetik balasan.

Valen: Gue bukan om lo pada 😅 btw, ada orang yang tau siapa VG. 

Balasan Rhea muncul hampir seketika.

Rhea: Hah?? Siapeeee?

Valen: Nadine.

Liam: 😂 gue kirain siapa. Gak masuk itungan lah dia.

Rhea: Iya! Secara dia pasti hafal suara lo. Dari suara biasa sampai suara yang paling ahem.

Valen langsung terdiam.

Valen: 😳

Felix malah ikut masuk dengan polosnya.

Felix: Suara ahem itu apa? Jelasin plis gue masih polos.

Dalam hitungan detik, grup itu berubah menjadi arena keributan. Satu per satu anggota LA Band bersahutan menggoda Valen, membuat wajahnya semakin panas hanya dengan membaca pesan-pesan mereka.

Lalu Liam mengirim satu pesan yang sukses membuat Valen berhenti menggulir layar.

Liam: Bentar. Lo sm Nadine ketemuan lagi nih ceritanya? 😏

Valen membaca semuanya dengan wajah memerah. Namun sebelum sempat membalas, sebuah sedan hitam melintas di depannya dan langsung berbelok masuk ke pekarangan rumah tersebut.

Perhatiannya seketika teralihkan.

Valen mengunci ponselnya, mengesampingkan keributan di grup, lalu mengamati mobil itu dari balik kaca depan. Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari dalamnya.

Valen langsung mengenalinya.

Xander.

Pria itu mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek, membawa tas gym di satu tangan dan segelas kopi di tangan lainnya. Penampilannya begitu santai, seolah baru selesai berolahraga dan sama sekali tidak menyangka akan menemukan seseorang menunggunya di depan rumah.

Valen buru-buru keluar dari mobil dan berjalan cepat menghampirinya.

“Xander!”

Xander yang baru beberapa langkah menuju teras menoleh. Begitu melihat Valen, keningnya langsung berkerut. “Lo ngapain?”

Alih-alih langsung menjawab, Valen sempat melirik sedan yang baru saja diparkir Xander.

“Mobil baru?”

Xander mengikuti arah pandangannya, lalu singkat menjawab, “Yeah.”

Valen kembali menatap Xander. Baru saat itu dia menyadari sesuatu. Mobil lama Xander pasti menyimpan terlalu banyak memori yang mungkin tidak ingin terus dia bawa, entah tentang Nadine ataupun Abby. Jadi, mengganti mobil sebenarnya cukup masuk akal.

Namun Valen tidak datang untuk membicarakan mobil. “Gue mau ngomong.”

Xander hanya berbalik dan menaiki undakan menuju teras. “Bahas di kantor aja besok.”

Valen langsung mengikutinya. “Di kantor lo gak akan respon apa pun selain urusan kerjaan.”

“Itu lo udah tau.”

“Gue sedang gak minat bahas kerjaan.”

“Well, too bad.” Xander membuka pintu rumah tanpa menoleh. “Gue gak minat bahas apa pun selain kerjaan.”

Valen mempercepat langkahnya dan sempat menahan lengan Xander sebelum pria itu masuk sepenuhnya. “Gue mau pastikan sesuatu, dan itu sangat melibatkan lo. Make time.”

Xander menoleh sekilas dengan ekspresi datar. “Pulang sana.”

“Lima menit.”

“Gak.”

“Dua menit.”

Xander mendecak pelan, seolah sudah terlalu lelah untuk terus berdebat. “...Whatever.”

Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah.

Interiornya jauh berbeda dari suasana klub yang biasa menjadi markas mereka. Rumah itu didominasi gaya modern minimalis dengan berbagai tone abu-abu yang membuat keseluruhan ruangan terasa maskulin, dingin, tetapi tetap elegan.

Di ruang tengah, hanya Ryan yang terlihat sedang rebahan di sofa sambil memainkan ponsel. Televisi menyala dengan volume rendah, sekadar menjadi suara latar di tengah suasana rumah yang tenang.

Valen mengangkat tangan sedikit sebagai sapaan. “Yo.”

Ryan hanya melirik sekilas dan membalas dengan anggukan santai.

Tanpa berhenti, Valen mengikuti Xander menaiki tangga menuju lantai dua. Begitu sampai, Xander berjalan menuju kamarnya, membuka pintu, lalu masuk lebih dulu.

Valen menyusul di belakangnya.

Begitu masuk ke kamar dan Xander menutup pintu di belakang mereka, Valen akhirnya bertanya, “Lo sekarang tinggal di sini?”

Xander tidak langsung menjawab. Dia melempar tas gym-nya begitu saja ke lantai, lalu menjatuhkan diri ke bean bag di sudut kamar sambil membawa kopinya.

“Lo mau nanya apa?” tanyanya santai sebelum menyesap kopi.

Valen sempat melakukan scanning singkat terhadap kamar itu. Secara keseluruhan, tidak ada yang aneh. Kamar seorang laki-laki pada umumnya, hanya saja ada sebuah punching bag berukuran besar di salah satu pojok.

Pandangan Valen kembali kepada Xander. Dia lalu duduk di bean bag yang berada di sebelahnya.

“Gue ketemu Nadine.”

“Oh ya?” Xander menyesap kopinya lagi. “Good.”

Valen memperhatikan wajahnya beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, “Lo ... udah selesai sama dia?”

Xander kembali minum kopi tanpa memberi jawaban.

“Apa yang terjadi?” Valen mengejar.

Xander menurunkan gelas dari bibirnya, tetapi tatapannya tetap kosong. “Does it matter?”

Valen tidak menjawab. Dia hanya terus memandangi Xander, menunggu pria itu mengatakan sesuatu.

Hening yang panjang pun memenuhi kamar.

Akhirnya Valen bertanya lagi, kali ini lebih pelan. “Ada potensi lagi ke depannya?”

Xander mengembuskan napas, lalu tubuhnya perlahan merosot semakin dalam ke bean bag. “...Kayaknya nggak.”

Dia menatap gelas kopi di tangannya sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.

“Dia pantas dapat orang yang lebih baik. Dan jelas itu bukan gue.”

Valen tetap diam.

Xander tersenyum tipis, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan di sana.

“...Kesalahan-kesalahan gue fatal. Wajar dia mundur.”

Valen tidak tahu harus menjawab apa.

Xander terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Puncaknya ... gue janji mau temui kakaknya dan lamar dia.”

Dia berhenti. Jemarinya mengerat di sekeliling gelas kopi, lalu dia kembali menyesapnya seolah butuh waktu untuk mengucapkan bagian berikutnya.

“Tapi malam sebelumnya ....”

Xander menunduk. “...gue mabuk.”

Hening kembali turun.

“Bangun-bangun ada perempuan lain.”

Kali ini Xander tidak langsung melanjutkan. Tatapannya kosong ke depan, seolah kejadian itu masih terlalu jelas di kepalanya. “Dan Nadine lihat itu semua.”

Valen mengembuskan napas berat, lalu menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke bean bag.

Xander tertawa kecil. Suaranya terdengar sumbang dan pahit. “I hate myself.”

“Lo self-sabotage ....” Valen berkata pelan.

“Mungkin.”

Mereka kembali diam.

Beberapa detik kemudian, Xander terkekeh pelan sambil menggeleng. “Seenggaknya, gue akhirnya senasib sama anak-anak VVIP lain, punya pengalaman jelek soal asmara.”

Pandangan Valen perlahan beralih ke punching bag di pojok kamar.

Benda itu tampak seperti sudah lama digunakan. Kulit sintetisnya penuh bekas pukulan, bahkan ada bagian yang sobek dan kemudian ditambal kembali. Entah kenapa, Valen langsung yakin benda itu telah menjadi saksi dari terlalu banyak malam ketika Xander melampiaskan kemarahan dan frustrasinya sampai tangannya sendiri tidak lagi sanggup memukul.

Mungkin ada malam-malam ketika Xander terus menghajarnya sekuat tenaga, berkali-kali, sampai tubuhnya kehabisan tenaga dan akhirnya hanya bisa terduduk di lantai.

Valen kembali menatap pria di sebelahnya.

Xander sudah menegakkan tubuhnya sedikit.

“Jadi biarkan cuma soal bisnis yang jadi topik mulai sekarang.” Nada suaranya kembali datar, seolah sedang membuat sebuah keputusan yang tidak bisa ditawar. “Bilangin ke abang-abang lo yang lain juga.”

Dia menyesap kopinya sekali lagi. “Seenggaknya, di Orison gue berguna.”

Valen mendengus pasrah. “Temen-temen VVIP lo tau soal ini?”

“Hanya Ryan.”

Valen mengangguk pelan. Entah kenapa jawaban itu tidak mengejutkannya.

Dia bangkit dari bean bag dan bersiap kembali.

“Val.”

Valen berhenti dan menoleh.

Xander ikut berdiri, tetapi tidak memandangnya. Tatapannya justru tertuju ke luar jendela kamar.

“Jangan ulangi kesalahan gue.”

Valen terdiam.

Xander masih menatap ke luar. “Kalau ada kesempatan ....”

Dia berhenti cukup lama sebelum melanjutkan, “...jangan lo sia-siakan.”

Valen memandang punggungnya dengan pikiran yang berantakan. “...Nama calon gue udah keluar.”

Xander langsung menoleh. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya, tetapi dia hanya membutuhkan waktu sedetik untuk mencerna maksud Valen. “Itu berarti lo harus segera memutuskan.”

“I know.”

“Dan pesan gue tetap sama.”

Valen mengangguk pelan.

Dia tahu Xander benar. Hanya saja, mengetahui apa yang harus dilakukan dan benar-benar mampu melakukannya adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Apalagi Valen sendiri masih belum punya bayangan bagaimana caranya memutus rantai Ghandy yang sudah terlanjur mengikat hidupnya.

Tatapannya kembali jatuh kepada Xander.

Untuk pertama kalinya malam itu, Valen melihat dengan jelas betapa terluka pria itu sebenarnya. Xander masih berusaha menutupinya sekeras mungkin dengan sikap dingin, nada datar, dan kebiasaan mendorong siapa pun yang mencoba mendekat.

Namun malam ini dia tidak melakukan itu.

Mungkin karena itulah Valen akhirnya maju.

Dia mendekati Xander dan memeluknya ringan.

Tubuh Xander langsung menegang karena kaget. “Apaan??”

Valen tidak menjawab. Dia tetap memeluknya, dan beberapa detik berlalu tanpa Xander benar-benar berusaha melepaskan diri.

“...Jijik,” gumam Xander.

Valen tahu itu bukan penolakan sungguhan.

Untuk sekali ini, Xander tidak mendorong semua orang pergi. Dia hanya masih belum pandai menerima kasih sayang ketika seseorang memberikannya secara langsung.

Valen menepuk-nepuk bahunya beberapa kali sebelum akhirnya melepaskan pelukan.

“Take care.”

Tanpa menunggu respons, Valen berbalik dan keluar dari kamar.

Namun begitu melewati ruang tengah, langkahnya kembali terhenti.

Ryan masih rebahan di sofa dengan ponsel di tangan. Bahkan dia tidak mengangkat kepala ketika berkata, “Dia udah gak mukul punching bag lagi.”

Valen menoleh.

Ryan masih menatap layar ponselnya. “Sekarang dia cuma duduk di kamar.”

Valen terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Setelah itu, dia melanjutkan langkah dan pergi dari rumah tersebut dengan pikiran yang jauh lebih kalut daripada ketika dia datang.


Bab 30 – Untuk Malam Ini Saja

Suatu sore, Valen dan Nadine janjian untuk ngopi.

Seharusnya pertemuan itu menjadi kesempatan sederhana untuk melepas penat. Namun sejak berangkat, Valen sudah merasa sedikit restless. Besok ada agenda yang paling tidak ingin dia hadapi, yaitu perkenalan dengan Vanessa Mahendra.

Perjodohan.

Memikirkan satu kata itu saja sudah cukup membuat kepalanya penuh. Namun begitu bertemu Nadine dan melihat senyum hangat yang menyambutnya, Valen berusaha menyingkirkan semua kecemasan tersebut untuk sementara.

Sayangnya, sore itu justru lebih banyak diwarnai diam.

Nadine beberapa kali tersenyum, tetapi sebenarnya dia sedang menjaga dirinya sendiri agar tidak menaruh harapan terlalu jauh pada laki-laki yang duduk di hadapannya. Sementara Valen sibuk dengan pikirannya sendiri, terutama tentang agenda esok hari yang semakin dekat.

Mereka sempat beberapa kali mencoba mencari topik, tetapi selalu berakhir dengan percakapan singkat.

Sampai akhirnya Valen teringat sesuatu.

“Vicky bilang ... dia kerja part time buat nanti kuliah?”

Nadine mengangkat wajah. “Vicky bilang begitu?”

Valen mengangguk. “Memang rencananya dia mau masuk ke mana? Ambil apa?”

“Dia mau ambil Manajemen Bisnis di Universitas Cakrawala Persada.”

“Oh.” Valen mengangguk kecil. “Universitas bagus tuh.”

Nadine ikut mengangguk. “Papanya janji biayain full sampai selesai.”

Valen yang semula santai langsung terbelalak. “Oh iya ....” Dia tampak bingung sesaat sebelum akhirnya berkata, “Kita ... kamu nggak pernah bahas soal papanya Vicky.”

“Iya, ya.” Nadine mengaduk minumannya dengan santai. “Lupa. Nggak penting soalnya.”

Valen menatapnya.

Nadine tidak terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu yang berat. Nada suaranya datar, seolah yang hendak diceritakannya hanyalah detail kecil dari kehidupan yang sudah lama berlalu.

“Namanya Nicky.”

Dia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Waktu aku diusir dari rumah, aku langsung ke rumah Nicky. Minta bantuan.”

Senyumnya menghilang sedikit. “Aku bawa-bawa bayi masih merah, panas-panasan. Tapi Nicky usir aku juga.”

Valen tidak berkata apa-apa.

“Kayaknya waktu itu dia semarah itu sama aku karena aku nikahnya sama yang lain.” Nadine mengangkat bahu kecil. “Aku bilang Vicky anaknya, tapi dia nggak percaya. Dan dia nggak mau tes apa pun buat buktiin.”

Jarinya masih memainkan sendok kecil di dalam cangkir.

“Padahal aku cuma berharap, seenggaknya dia bantu buat susu Vicky.”

Nadine tersenyum tipis, namun getir. “Tapi ... nope.”

Valen tetap diam.

“Jadi ya udah. Aku nggak bisa harapkan dia sama sekali. Aku berusaha sendiri.”

Dia menarik napas pelan sebelum melanjutkan, “Ehh, belasan tahun kemudian, dia tiba-tiba muncul lagi di hidupku. Bilang menyesal karena udah ngusir aku waktu itu. Minta maaf. Dan minta dikenalkan ke anaknya.”

Valen akhirnya bertanya, “Kamu pertemukan mereka?”

Nadine mengangkat bahu. “Nicky punya hak. Vicky juga berhak kenal papa kandungnya siapa.” Tatapannya menerawang ke depan. “Jadi meski dongkol dan benci sama Nicky, aku biarkan mereka bertemu.”

Ada senyum kecil yang perlahan muncul di wajahnya. “Yang aku nggak sangka ... Vicky sambut Nicky hangat sekali waktu mereka pertama bertemu.”

Nadine tertawa kecil, tetapi matanya terlihat sedikit berkaca-kaca saat mengenang momen itu. “Sempat bikin aku terharu juga.”

Valen ikut tersenyum. “Kebayang ....”

“Nicky juga sempat ada maksud dekati aku lagi.” Nadine menggeleng pelan. “Tapi aku udah kadung ilfeel sejak lama sama dia.”

Valen mengangguk-angguk, memahami.

“Sampai sekarang, Vicky masih suka ketemuan sama papanya. Entah di mana.” Nadine menyeruput minumannya sebelum melanjutkan. “Nicky bilang dia yang mau biayai kuliah Vicky nanti.”

Dia terkekeh ringan. “Soal Vicky kerja part time ... yah, paling cuma biar dia punya uang jajan lebih.”

Valen tersenyum. “Bagus, dong. Artinya udah mandiri.”

“Mandiri, ya ....” Nadine ikut tersenyum. “Kok kayak berasa jauh sama aku.”

Dia memandang ke arah lain, lalu tertawa kecil. “Makin gede, makin kerasa .... Wah, aku nggak bisa lagi mau peluk-peluk, cium, gendong. Nggak kayak waktu dia masih kecil.”

Valen tertawa. “Ya iyalah. Kan kamu kasih makan terus.”

Nadine ikut tertawa.

“Udah gitu ....” Dia tersenyum. “...kitanya juga tambah tua.”

Valen masih tersenyum ketika bertanya, “Nicky udah berkeluarga?”

Nadine menggeleng. “Dia belum pernah nikah.”

“Really?”

“Iya. Makanya Vicky kayak punya misi jodohin aku sama papanya itu.”

Valen mendadak termenung.

“Ya namanya anak, ya ...,” katanya akhirnya. “Siapa yang nggak mau lihat orang tuanya bersatu.”

“Vicky bakal kecewa karena aku nggak akan mau.”

Valen tidak langsung menjawab.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Dia merogoh saku dan melihat layar. Begitu melihat nama pengirimnya, leher Valen seketika terasa kaku.

Bernard.

Dia membuka pesannya.

Bernard: Agendamu besok diundur. Vanessa extend di Tokiya sampai minggu depan.

Valen mengembuskan napas lega yang nyaris tidak terdengar. Untuk malam ini, setidaknya kecemasan itu bisa menghilang. Meski hanya sementara.

Namun belum sempat Valen benar-benar menenangkan diri, pesan berikutnya masuk. Bernard mengirim sebuah foto.

Bernard: Ini calonmu. Cantik.

Valen menatap foto tersebut.

Vanessa memang cantik. Namun dari sekilas foto saja, dia sudah bisa menangkap kesan perempuan sosialita yang hidupnya dipenuhi shopping, salon, dan hit the club.

Valen mendecak pelan.

Cantik, iya.

Berminat? Sama sekali tidak.

Dia mengetik balasan singkat.

Valen: Ya, Pa.

Setelah itu dia mengunci layar dan meletakkan ponselnya kembali di meja.

Nadine yang sejak tadi menyeruput minuman diam-diam memperhatikan perubahan wajah Valen. Tatapannya sempat mengikuti gerakan tangan Valen ketika menyimpan ponsel, lalu kembali ke wajah laki-laki itu yang sejak tadi terlihat terlalu serius.

Begitu Valen mengangkat pandangan, pelan Nadine bertanya, “Semuanya baik-baik aja?”

Valen langsung memberikan senyum kecil. “Iya.”

Nadine tidak langsung percaya.

Dia menatap Valen beberapa detik, seolah mencoba mencari sesuatu di balik jawaban singkat itu. Namun akhirnya dia hanya menunduk dan kembali mengaduk minumannya.

Valen pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun di bawah meja, tangannya mengepal kuat. Dia ingin bercerita soal Vanessa.

Ingin mengatakan bahwa besok seharusnya dia bertemu perempuan yang sudah dipilihkan keluarganya untuk menjadi calon istrinya. Ingin mengatakan bahwa dia sama sekali tidak menginginkan perjodohan itu.

Namun bahkan untuk dirinya sendiri, Valen belum tahu apa yang sebenarnya akan dia lakukan. Jadi bagaimana mungkin dia mengatakannya kepada Nadine? 

Nadine menyeruput minumannya sebelum membuka topik baru. “Kamu sekarang kolab terus sama Liam dan kawan-kawan, ya?”

Senyum Valen kali ini muncul dengan tulus. “Iya. Aku nulis lagu untuk sebagian isi track album mereka.”

“Wahhh.”

“Aku pilih tetap anonim, dengan cuma mencantumkan inisial VG.” Valen tersenyum kecil, lalu menyandarkan tubuhnya dengan lebih santai. “Biarlah image VG itu songwriter, sementara Valentino Ghandy ... yah, salah satu dari boneka Bernard.”

Nadine terdiam sejenak.

“...Aku semula bingung dengar VG, VG di radio. Soalnya aku kan VG juga.” Dia tertawa ringan.

Valen ikut tertawa. “Inisial kita sama, ya. Bedanya kamu ada tambahan di depan.”

“Tapi kamu hebat, sih. Tiba-tiba udah jadi songwriter.” Nadine tampak benar-benar terkesan. “Dapat royalti, dong?”

Valen mengangguk sambil tersenyum. “Nggak banyak. Tapi ada.”

Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih reflektif. “Liam bilang, royalti itu hasilku yang paling jujur. Dipikir-pikir bener juga sih. Itu hasil dari otakku, kreativitas aku. Bukan dari jabatan CEO atau warisan nama.”

Nadine mengangguk setuju.

“Setuju. Liam bener banget.” Dia tersenyum kepada Valen. “Tuh, udah ada bukti kamu bisa, kan? Tanpa ada embel-embel Ghandy.”

Valen menatap Nadine cukup lama. Dia tahu persis maksud di balik kalimat itu.

Senyum tipis muncul di wajahnya. “Kamu benar.”

Hening sejenak.

Valen menundukkan pandangan ke cangkirnya, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu.

“Nad ....”

“Hm?” Nadine menatapnya.

“Aku mau cerita.”

“Apa?” Nadine meneguk minumannya sambil tetap memperhatikan wajah Valen.

Valen membuka mulut. Namun tidak ada kata yang keluar.

Nadine menunggu.

Beberapa detik berlalu. Valen tetap diam, bibirnya seolah terkunci. Pada akhirnya dia hanya menggeleng pasrah.

“Nggak jadi .... Nothing.”

Alis Nadine mengerut samar. Dia semakin yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikan Valen.

“Kalau ada yang mau disampaikan ....” Nadine meletakkan gelasnya dan menatapnya lebih serius. “Bilang aja. Udah kebaca dari tadi.”

Valen masih diam.

Alih-alih menjawab, dia justru mengubah arah pembicaraan. “Anyway, gimana revisi cheesecake kamu?”

Nadine mengerjapkan mata, jelas tidak menyangka Valen akan menagih hal itu lagi. “Eh?”

Dia sedikit kesal karena Valen kembali mengalihkan topik, tetapi akhirnya memilih tidak memperpanjangnya.

Valen malah nyengir. “Kalau dipikir-pikir, aku udah bikin lagu buat kamu. Utangmu belum lunas, ya.”

Nadine tersenyum tipis. “Benar. Aku masih punya utang.”

“Next ketemuan, jangan lupa bawa.”

Senyum Nadine perlahan menghilang.

Next ketemuan.

Dia tidak tahu apakah masih akan ada kesempatan untuk bertemu Valen lagi besok. Atau lusa. Atau bahkan minggu depan.

Tidak ada yang bisa memastikan.

Ada keinginan untuk menanyakan langsung apakah besok akan berbeda. Apakah sesuatu akan berubah setelah malam ini. Namun seperti Valen beberapa saat lalu, mulut Nadine pun mendadak terkunci.

Valen menangkap perubahan kecil itu. Dia bisa merasakan kekalutan yang Nadine coba sembunyikan, sehingga pandangannya turun kembali.

Beberapa detik kemudian, Nadine justru berkata, “Sekarang aja.”

Valen mengangkat wajah dengan ekspresi bingung. “Hah?”

Nadine tersenyum. “Kamu main ke tempatku. Aku bikinin cheesecake baru. Nggak lama, kok.”

Mata Valen langsung berbinar. “Lama juga nggak apa-apa.”

Dia nyengir lebar sampai terlihat seperti bocah yang baru dijanjikan makanan favoritnya.

Nadine memanyunkan bibirnya, geli melihat reaksinya. “Senang amat. Hanya makan cheesecake, loh.”

“Oh, iya ....” Valen mendadak teringat sesuatu. “Ada Vicky, ya.”

Nadine langsung menangkap perubahan ekspresi di wajahnya. “Hayo, mikir apa?”

Valen hanya cengar-cengir seperti bocah ketahuan punya pikiran aneh.


Tak lama kemudian, mereka meninggalkan kedai kopi.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen Nadine, Valen terlihat jauh lebih ringan daripada ketika mereka pertama kali bertemu sore itu. Bahkan ketika mobil diparkirkan di basement apartemen, ada semacam antusiasme polos yang sulit dia sembunyikan.

Untuk pertama kalinya, dia akan berkunjung ke tempat Nadine.

Dan entah kenapa, hal sesederhana itu terasa seperti sesuatu yang patut ditunggu.

Beberapa menit kemudian, Valen berdiri di depan pintu apartemen Nadine, menunggu dengan senyum yang nyaris tidak bisa disembunyikan ketika menunggu Nadine membuka pintu.

Begitu masuk ke unit apartemennya, Nadine langsung berseru, “Mama pulang!”

Tidak ada jawaban. Apartemen itu justru gelap dan sunyi.

Nadine mengernyit sambil meraba dinding mencari saklar. “Kok gelap gini? Vickyy?”

Satu per satu lampu menyala, memperlihatkan interior apartemen yang compact, tetapi terasa hangat dan nyaman. Valen ikut masuk di belakangnya sambil melakukan scanning singkat terhadap ruangan. Aroma parfum Nadine yang samar menyambut hidungnya, membuat suasana tempat itu terasa semakin personal.

Nadine buru-buru memeriksa kamar Vicky. Beberapa saat kemudian dia kembali ke ruang tengah dengan ekspresi bingung. “Aneh. Vicky kok belum pulang, ya? Main ke mana?”

Valen yang sejak tadi memperhatikan sekeliling menunjuk sesuatu di kulkas. “Mungkin dia ninggalin ini tadi.”

Nadine mendekat, lalu mengambil post-it yang tertempel di pintu kulkas.

Tulisan tangan Vicky terbaca jelas.

Ma, aku nginep di rumah Boy. Gak bisa WA Mama, pulsa abis :( Isiin please. Bye Ma.

Valen ikut mengintip dari belakang bahu Nadine dan membaca pesan itu.

“Duuh, tuh anak.”

Nadine menggeleng-geleng kecil, tetapi tangannya sudah sibuk membuka mobile banking untuk mengisi pulsa Vicky. Setelah transaksi selesai, dia langsung mengirim pesan WhatApp untuk memastikan anaknya baik-baik saja.

Sementara itu, setelah menyadari bahwa malam itu hanya akan ada mereka berdua di dalam apartemen, Valen menahan senyum yang semakin sulit disembunyikan.

Valen berusaha memasang wajah sebodoh mungkin. Padahal dalam hati dia sudah menyeringai lebar. Vicky ... makasih ya. Kamu sangat pengertian sama Om.

Nadine sempat meliriknya. Sekali lihat saja, dia langsung tahu Valen sedang memikirkan hal yang sama.

Pikiran Nadine pun tanpa izin melayang kembali pada momen pertama mereka di kondo Valen. Wajahnya seketika memerah.

Dia buru-buru berdeham, berusaha mengusir bayangan yang tidak seharusnya muncul sekarang, lalu mengalihkan perhatian dengan sibuk membuka belanjaan yang mereka bawa tadi.

Blazer yang dikenakannya dilepas, kemudian dia mengambil apron dan memasangnya di tubuh.

Valen memperhatikannya dari sisi kitchen counter. “Jadi ....” Dia berdiri sambil menumpukan kedua tangannya di meja, lalu mengangkat alis beberapa kali dengan senyum jahil. “Hanya ada kita berdua di sini?”

Nadine langsung salah tingkah.

Dia pura-pura terlalu sibuk menata bahan makanan. “Hanya makan cheesecake. Terus kamu pulang.”

“Gak mau.” Valen menyeringai.

Nadine meliriknya dengan tatapan sok galak, meski pipinya justru semakin merah.

Valen malah terlihat semakin senang melihat reaksinya. “Kalau lagi kayak gitu, kamu kok makin cantik.”

“Valennn!” Nadine langsung menoleh dengan wajah merah. “Aku gak jadi bikinin cheesecake, nih.”

Valen tertawa puas.

Meski ketidakpastian tentang hari esok masih membayanginya, Nadine akhirnya memutuskan untuk berhenti memikirkannya malam ini. Dia ingin menikmati setiap detik yang masih bisa mereka miliki. Siapa tahu besok semuanya sudah berbeda. Siapa tahu besok akan ada air mata lagi.

Tapi malam ini seharusnya hanya ada tawa dan kebersamaan.

Valen mendekat ke sisi Nadine. “Aku bantuin boleh?”

Nadine menyerahkan mangkuk berisi cream cheese dan gula halus beserta mixer kepadanya. “Nih, kocok.”

Valen menerima mixer itu dengan ekspresi puas. “Pilihan yang tepat ...,” katanya sambil mulai mengocok adonan. “Laki biasanya pinter kalau soal ngocok.”

Nadine langsung menatapnya tidak percaya. “Astagaa, kamu ih. Iseng mulu!”

“Tapi seneng, kan, diisengin?”

“Nggak.” Nadine pura-pura tidak peduli dan kembali sibuk menimbang bahan-bahan lain.

Valen terkekeh. “Bohong. Tuh, wajahnya merah.”

“Mana? Gak ada.”

Valen tiba-tiba mencolek sedikit krim dari mangkuk, lalu dengan sengaja mengoleskannya ke pipi Nadine. “Ini merah pipinya.”

Nadine terpekik kaget. “Valeeen!”

Dia tidak bisa menahan tawa melihat wajah jahil Valen. Sebagai balasan, Nadine mengambil sedikit krim dan mencolekkannya ke hidung Valen.

Valen langsung tertawa. 

Nadine ikut terkekeh, lalu mencubit perutnya gemas. “Bocil paling usil!”

Valen spontan menangkap tangan Nadine. Gerakan itu membuat tawa Nadine terhenti.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Senyum Valen perlahan memudar, menyisakan tatapan yang sulit dibaca.

Nadine menelan ludah. “Apa?”

Valen menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”

“Kalau nggak apa-apa, kenapa lihatnya begitu?”

Valen tersenyum tipis. “Karena kamu cantik kalau lagi ketawa.”

Nadine langsung mengalihkan wajah. “Mulai lagi.”

Valen terkekeh, tetapi tangannya belum melepaskan tangan Nadine.

Beberapa detik kemudian, Nadine pelan berkata, “Jangan bikin aku terbiasa.”

Senyum Valen menghilang. “Apa?”

Nadine menatap tangan mereka. “Sama kamu.”

Hening.

“Aku takut nanti ....” Nadine berhenti. Dia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

Tidak perlu.

Valen tahu. Dia juga tahu dirinya tidak punya jawaban yang bisa membuat ketakutan itu hilang. Maka Valen menurunkan nada suaranya. “Aku nggak akan minta kamu percaya sama aku,” katanya pelan.

Nadine mengangkat wajah.

Valen menatapnya lama. “Jadi jangan.”

Dada Nadine terasa sesak. “Jangan percaya?”

Valen mengangguk kecil. “Kalau kamu belum bisa.”

Nadine tersenyum getir. “Kamu nyuruh aku jangan percaya, tapi masih pegang tangan aku.”

Valen menunduk melihat jemari mereka yang bertaut. “Aku tahu.”

“Terus?”

Valen mengangkat bahu kecil. “Untuk malam ini ... biarin aja.”

Nadine tertawa pelan, meski matanya mulai terasa panas. “Kamu selalu punya jawaban yang nyebelin.”

“Daripada kasih jawaban yang belum tentu bisa aku tepati.”

Nadine terdiam. Kalimat itu membuatnya kembali menatap Valen. Ada sesuatu dalam sorot mata laki-laki itu. Sesuatu yang seolah ingin dikatakannya, tetapi dia tahan.

Nadine tidak memaksanya. Mungkin malam ini memang bukan malam untuk bertanya tentang besok.

Dia mengangkat tangannya yang bebas dan menyentuh dada Valen. “Kalau begitu ....”

Valen menatapnya.

“Jangan ngomongin besok.”

Untuk beberapa detik, Valen hanya diam. Lalu senyum kecil muncul di wajahnya. “Oke.”

Nadine tersenyum. “Untuk malam ini aja.”

“Untuk malam ini aja.” Valen mengangkat tangannya, menyentuh pipi Nadine yang masih menyisakan sedikit krim.

Kali ini tidak ada candaan, juga tidak ada godaan. Hanya sentuhan yang begitu hati-hati, seolah keduanya sama-sama sadar bahwa mereka sedang menyimpan sesuatu yang mungkin tidak bisa mereka bawa ke hari esok.

Nadine memejamkan mata sesaat.

Ketika membukanya lagi, Valen sudah jauh lebih dekat.

“Kalau besok semuanya berubah ...,” bisiknya.

Valen tidak menjawab.

Nadine tersenyum tipis, getir. “Ya udah.”

Tangannya mencengkeram sedikit bagian depan kemeja Valen. “Berarti malam ini pernah ada.”

Valen menatapnya lama. Lalu perlahan menarik Nadine mendekat. “Jangan bikin aku susah pergi.”

Nadine tertawa kecil. “Siapa juga yang nyuruh pergi?”

Jarak di antara mereka semakin menipis. Napas mereka mulai bercampur.

Tinggal sedikit lagi—


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.