KAMPH (3-4)
Bab 3 – Menukar Kebebasan Demi Rasa Aman
Namun tekad kuat yang dimiliki Valen ternyata tidak diiringi oleh lingkungan pertemanan yang layak dipercaya. Sekitar enam bulan setelah memutuskan hidup mandiri, orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai sahabat justru menjadi alasan kejatuhannya. Rekan-rekan satu band yang selama bertahun-tahun menemaninya bermusik bersekongkol dengan Valentina, kekasih yang paling ia percaya, lalu membawa kabur seluruh uang tabungan yang ia simpan untuk bertahan hidup. Dari jumlah yang seharusnya cukup untuk menjadi bekal berbulan-bulan, yang tersisa di tangannya hanya sekitar lima ratus ribu rupiah.
Sejak saat itu, hidupnya seakan runtuh satu demi satu. Ia diusir dari kamar kos karena tak mampu membayar sewa, kehilangan pekerjaannya sebagai waiter di sebuah kafe, dan setelahnya terus gagal mendapatkan pekerjaan baru meskipun telah berulang kali mencoba. Uang yang tersisa habis jauh lebih cepat daripada yang ia perkirakan, sementara kesempatan untuk bangkit seolah menjauh setiap kali ia berusaha meraihnya.
Hari demi hari berlalu dalam rutinitas yang melelahkan. Valen berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari pekerjaan, membawa harapan yang semakin menipis di setiap langkahnya. Namun entah mengapa, semua pintu yang ia datangi seperti sepakat untuk menolaknya. Tidak ada yang memberinya kesempatan kedua.
Lambat laun, ia kehilangan segalanya. Tidak ada lagi uang yang bisa diandalkan, tidak ada tempat tinggal untuk pulang, dan sering kali tidak ada makanan maupun minuman yang cukup untuk membuatnya bertahan sepanjang hari. Trotoar-trotoar kota metropolitan itu menjadi saksi bisu perjuangannya, menyaksikan langkah-langkah yang terus bergerak meski tubuhnya semakin lemah diterpa panas terik maupun hujan.
Hingga pada suatu hari, ketika rasa lapar yang menggerogoti perutnya sudah tak lagi sanggup ia abaikan, Valen akhirnya mengambil keputusan yang selama ini mati-matian ia hindari.
Ia memutuskan untuk pulang.
Valen tertatih melanjutkan perjalanan masuk lebih jauh ke dalam komplek Palmwood Hills. Palmwood Hills adalah komplek perumahan eksklusif yang berada di dalam komplek perumahan mewah yang terkenal di seantero Javaria lantaran harga propertinya yang mencium langit. Rumah Ghandy yang berada di komplek dalam komplek tentulah lebih dari sekedar mencium langit, sudah jauh di atas itu. Tak teraih. Tidaklah mengherankan bila penghuni rumah Ghandy memiliki sikap yang arogan terhadap orang lain.
Tadi saat melewati pos penjagaan di depan komplek, satpam yang bertugas sempat mengusirnya mengira dia gembel yang tersasar. Namun Valen yang telah mengenal satpam tersebut, menyapa dengan hangat dan berkilah bahwa penampilannya hari ini hanya cosplay. Tentu saja satpam tersebut percaya. Siapa yang bakal menduga anak konglomerat akan berpenampilan seperti gembel?
Cosplay. Valen terkekeh getir. Bisa juga dia mendapat alasan yang bagus tanpa direncanakan. Seandainya saja yang menempel di tubuhnya saat ini memanglah hanya sebuah kostum belaka ....
Beberapa puluh meter dari pos penjagaan tadi, tiba jugalah Valen di 'istana' Ghandy. Bangunan sebesar mall berpagar tinggi itu masih tetap sama. Hawa arogan kental sekali terasa di penjara serupa istana ini.
Sedang apa orang-orang di dalam ini? Ada semuakah, lengkap? Biangnya heartless ada juga di dalam? Atau belum pulang? Valen membatin dalam hati.
Entah gimana reaksi semua saudara gue begitu lihat gue seperti ini ... ada baiknya gue jangan menyapa mereka dulu selagi penampilan gue kayak begini. Seenggaknya, gue harus mandi dulu.
Tapi ... itu juga kalau gue diizinkan masuk sama biangnya heartless. Bernard. Inilah saat penentuannya .... Apakah gue diizinkan balik ... atau ditendang keluar dan terlarang menginjakkan kaki lagi di sini? Di-blacklist kah, gue? Atau gue mendapat kemurahan hati dan boleh tinggal lagi di sini?
Inilah saat penentuan lo, Valen. Bersiaplah.
Maka Valen berjalan dengan gamang menuju gerbang masuk. Empat satpam yang menjaga rumah Ghandy serempak keluar dari pos menyambut kedatangannya. Kenalkah mereka dengan Valen, salah satu tuan muda mereka?
"Hei!! Kenapa bisa ada gembel masuk?!"
"Pergi sana!! Gembel!"
Seruan keras nan garang para satpam itu menciutkan nyali Valen. Langkahnya terhenti. Mereka tidak mengenalinya!
"Apa saja sih kerja satpam-satpam di gerbang depan?! Kok bisa ada gembel dibiarkan masuk?!"
"Fatal ini, bos! Nanti kita laporkan ke pengelola!"
"Heh, gembel! Enyah kamu! Berani-beraninya ke sini! Mau merampok ya?!" Satpam berbadan paling bongsor mendekati Valen dengan langkah lebar, mendorong bahunya kuat-kuat.
"B-bukan! Saya-"
Seruan Valen tidak mereka dengar. Tiga satpam lainnya kini telah berhadapan dengannya sambil terus berteriak mengusir. "Nggak usah banyak alasan, gembel! Pasti mau mencuri, kan?!"
"Ini saya! Saya, Valen!" Valen berseru sekeras yang dia mampu.
"Valen Valen! Valen gundulmu!"
Satu satpam menangkap sesuatu di kejauhan, mobil hitam berlogo trisula melaju pelan mendekat.
"Tuan besar pulang!" serunya, yang sontak membuat ketiga satpam lainnya panik, lantaran tengah mengonfrontasi seorang gembel tak diundang. Dua dari antara mereka segera sigap membukakan pintu gerbang rumah menyambut kehadiran sang tuan besar.
"Heh! Sudah sana pergi! Bikin sepet mata saja!!" Satpam paling bongsor kembali mendorong Valen, lebih kuat dari yang tadi, membuat Valen kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Valen terlalu lemas untuk kembali berdiri, ditambah, seluruh otot tubuhnya seakan lumpuh seketika begitu mobil milik Bernard lewat di sampingnya. Dari balik kaca jendela mobil berfilm, Valen dapat melihat siluet wajah Bernard di sana. Wajah itu tampaknya menyadari keberadaan Valen, namun ekspresi wajah itu tak mampu Valen lihat.
Meski masih berada di dalam mobil, aura kehadiran Bernard sudah sangat kental terasa. Aura yang menekan dan mengintimidasi. Valen masih belum mampu untuk bergerak, saking kuatnya aura milik Bernard. Dengan aura semacam itu, tidak heran bila Bernard Ghandy terkenal di kalangan para pebisnis ulung sebagai "Godfather" bertangan besi. Sejenak Valen menyadari, betapa berani dan bernyali dirinya dulu, sampai bisa berdiri tegar tengkuk di hadapan Bernard, menyulut api perang dengannya, hingga pada akhirnya berbuat lancang dengan membuang nama Ghandy.
Apakah dirinya layak mendapatkan kesempatan kedua dari seorang Bernard Ghandy?
Valen berkecil hati. Kemungkinan besar Bernard tidak akan memberikannya kesempatan kedua, jika diingat betapa lancang perbuatan Valen saat itu pada Bernard.
Tentu Bernard akan menyuruh para satpam garang itu untuk menyeretnya keluar, kembali mencium debu aspal jalanan. Valen menundukkan kepala.
Tidak dia sangka, mobil hitam berlogo trisula itu berhenti tepat sebelum memasuki gerbang rumah. Pintu penumpang terbuka dari dalam, lalu keluarlah sosok yang nyaris satu tahun ini absen dari hidup Valen.
Bernard masih sama seperti yang terakhir Valen lihat. Wajah pria itu masih saja terlihat bengis, badannya pun masih tegap, gagah melangkah, mendekati dirinya. Long coat yang dikenakannya berkibar seiring dengan langkah. Anggun. Berwibawa. Namun menusuk jiwa.
"Maaf, Tuan Bernard, kami tadi sedang mengusir gembel itu-"
Ujaran satpam mengambang di udara begitu tangan Bernard terangkat, pertanda tidak ingin mendengar apa pun dari mereka. Bernard terus melangkah maju mendekati Valen, sementara Valen, susah payah memaksa tubuhnya untuk bergerak. Bukan untuk kembali berdiri, melainkan langsung berlutut, menundukkan kepalanya di hadapan Bernard.
Saat indra penglihatan Valen menangkap ujung sepatu Bernard di dekat lututnya, Valen lirih berujar, "Maaf. S-saya ... minta maaf."
Tidak terdengar sahutan apa pun dari pemilik sepatu itu, Valen masih belum berani mengangkat wajah. Tanpa dia ketahui, secercah senyum menyiratkan kepuasan terukir di bibir Bernard.
"Bangunlah, Valen," ujar Bernard kemudian dengan dingin. "Ayo masuk."
Meski diucapkan dengan nada dingin, namun ajakan itu memberikan kelegaan luar biasa di hati Valen. Dia bangkit berdiri, lalu mengikuti langkah Bernard yang mendahuluinya masuk ke pekarangan rumah. Tidak dia hiraukan ekspresi campur baur para satpam garang yang tadi berniat mengusirnya, lantaran gagal mengenali dirinya sebagai anak dari tuan besar mereka. Mereka berempat hanya menunduk segan, saat Valen melewati mereka.
Bernard terus melangkah menuju teras rumah, tidak sekalipun dia menoleh, memastikan apakah Valen benar mengikutinya atau tidak. Dia tidak merasa hal itu perlu, lantaran yakin bahwa memang Valen benar mengikutinya, keadaan diri Valen sudah sangat memprihatinkan. Ada secercah rasa sesal menyusup dalam diri, menyadari rupanya selama beberapa waktu ini, Valen berkeliaran luntang lantung di jalanan, tanpa sanggup memenuhi kebutuhan dasarnya. Seorang turunan yang berasal darinya, sampai hidup luntang lantung? Sungguh tidak ada hal tersebut dalam kamus Bernard. Namun, menimbang segala perbuatan Valen di masa lalu, Bernard merasa yang dialami Valen adalah sebuah bentuk hukuman yang cocok untuknya. Cocok untuk meluruskan kembali cara berpikir anak itu.
Dua daun pintu berukuran tinggi dan penuh ukiran dibukakan oleh para asisten begitu Bernard menginjakkan kaki di teras. Bernard melangkah masuk, baru kemudian dia menoleh pada Valen. Valen tampak ragu mengikutinya masuk.
"Masuklah," ujar Bernard, tangannya membuat gestur mengajak.
Valen melangkah masuk ke dalam rumah perlahan. Takut. Ragu. Seperti anak domba yang tengah diantar ke pembantaian.
Saat Valen sudah berdiri di hadapannya, barulah Bernard memberi perintah. "Naik ke kamarmu dan bersihkan tubuhmu. Akan kusuruh pelayan menyiapkan makanan untukmu. Setelah kau makan, langsung temui saya di ruang kerja. Mengerti?"
Valen mengangguk pelan. Dia baru mau melangkah saat mendengar suara seorang wanita tua memanggilnya dengan antusias.
"Valen! Tuan Muda Valen!!"
Ternyata Nenek Marni, kepala pelayan.
"Nek Marni," sahut Valen.
Nenek Marni menyongsong kehadiran Valen dengan hangat. Tanpa keraguan ia bermaksud memeluk Valen saat Bernard berujar, "Bi Marni, tolong siapkan makanan untuk Valen sekarang."
"Ahh. Baik. Baik, Tuan Bernard," jawab Nenek Marni patuh. Ia melempar senyuman hangat pada Valen. "Senang lihat Tuan Muda kembali ke rumah .... Selamat datang. Saya akan siapkan makanan dulu," ujarnya sebelum berlalu dari hadapan ayah dan anak itu.
Yang menyambut kehadiran Valen dengan hangat baru Nenek Marni seorang. Tentu saja, mana bisa dia mengharapkan ada perlakuan hangat dari Bernard demi menyambut dirinya, Bernard bukan tipe manusia yang hangat, sudah jelas itu. Valen segera berjalan menuju tangga, bermaksud ke kamarnya di lantai tiga.
Saat tiba di lantai dua, Valen melihat saudara-saudaranya tengah berkumpul di ruang keluarga, beberapa asyik bermain biliar, beberapa mengobrol, beberapa membaca buku. Valen tidak berminat menyapa mereka semua, bahkan, Valen tidak ingin mengabsen lengkapkah jumlah saudaranya yang sedang berkumpul itu. Dia hiraukan lusinan mata yang memandanginya dengan tatapan heran bercampur terkejut, dia menaiki tangga tanpa menoleh. Tentu semua saudaranya kaget melihat kedatangannya. Terlebih, keadaannya sangat mengenaskan, tidak untuk dilihat siapa pun.
Pakaian yang kotor, compang camping robek di sana sini akibat kerasnya jalanan Javaria, kaki yang dilapisi tebalnya debu dan kotoran, wajah yang sama kotor, janggut, kumis, serta rambutnya yang gondrong semrawut semakin menambah nilai minus penampilannya saat ini. Sesungguhnya dia berharap tidak perlu bertemu dengan semua saudaranya pada saat ini, sesungguhnya dia berharap keadaan rumah tengah kosong, para penghuninya disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Namun, mengapa mereka malahan tengah berkumpul di hari dia kembali ke rumah?
Valen tetap melangkah naik, meski tatapan mata para saudaranya itu terasa sangat jelas tertuju pada tiap gerak langkahnya. Setelah melihat kedatangannya, Valen yakin, mereka semua pasti akan berbisik satu sama lain membahas dirinya. Valen enggan ambil peduli.
Akhirnya Valen tiba di kamarnya. Aroma parfum yang begitu dikenalnya langsung menyambut saat ia membuka pintu. Semua masih rapi seperti saat ia tinggalkan, membuat rasa rindu pada tempat itu menghangat di dadanya.
Tanpa membuang waktu, Valen segera masuk ke kamar mandi. Air hangat dari shower membasahi tubuhnya, membuatnya mendesah lega. Setelah berhari-hari tidak merasakan mandi yang layak, akhirnya ia bisa kembali menikmati segarnya air yang membersihkan seluruh tubuhnya. Berkali-kali ia menggosok badan, menyingkirkan kotoran yang menempel selama ini.
Selesai mandi, tubuhnya terasa bersih, segar, dan jauh lebih nyaman. Meski kulitnya kini sedikit lebih gelap karena matahari dan tubuhnya tampak lebih kurus, Valen tersenyum puas melihat pantulannya di cermin. Setelah bercukur dan berpakaian rapi, ia merasa kembali menjadi dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Nenek Marni datang ke kamarnya membawa makan siang. Mata Valen langsung berbinar melihat berbagai hidangan yang tersaji di atas meja. Ia makan dengan lahap hingga tak tersisa sedikit pun.
Saat Nenek Marni menyinggung kesulitannya selama pergi dari rumah, Valen menceritakan bagaimana ia pernah hanya makan sekali sehari, bahkan kadang hanya nasi putih. Pengalaman itu membuatnya sadar betapa berharganya makanan.
“Sekarang aku jadi lebih menghargai makanan, Nek,” katanya. “Nggak akan pernah lagi aku buang-buang makanan.”
Usai menghabiskan makan siang, Valen keluar kamar dan langsung berpapasan dengan Mario.
“Kak Valen!” seru Mario sambil memeluknya erat.
Valen tersenyum dan membalas pelukan adiknya. Mario tampak sangat lega melihatnya kembali.
“Seneng banget bisa lihat Kakak lagi,” ujar Mario.
“Nanti kita ngobrol, ya. Sekarang gue harus ketemu Papa dulu,” jawab Valen.
Meski terlihat khawatir, Mario akhirnya mengangguk. Setelah menepuk bahu adiknya, Valen pun melangkah menuju ruang kerja Bernard.
Pengawal Bernard sigap membukakan pintu untuk Valen, mempersilakannya masuk. Bahkan Valen tidak perlu repot mengetuk pintu, pertanda kehadirannya memang sudah ditunggu oleh penghuni ruangan itu.
Bernard, baru saja usai berbicara melalui ponsel, tersenyum dingin menyambut kehadiran Valen. "Valen. Sudah segar? Duduklah," perintahnya.
Valen menarik kursi di hadapan Bernard, lalu duduk. Disadarinya lututnya gemetar, dia menangkupkan tangan di atas lutut, mencoba meredakan gemetar yang dia rasakan. Tak heran bila Valen gugup. Ini saatnya Valen menyerahkan diri seutuhnya pada Bernard, dan membuang semua kebebasan, mimpi dan cita-citanya.
"Sudah makan?" tanya Bernard.
Valen mengangguk. "Ya. Sudah," jawabnya pelan.
Senyum dingin Bernard berubah menjadi senyum maklum, seakan memahami rasa gugup yang mendera anak kedelapannya itu. "Well. Saya senang, kamu akhirnya pulang, Valen. Akhirnya kamu gunakan otakmu," ujarnya membuka percakapan.
Valen menelan saliva. "P-Papa," panggilnya ragu. Benarkah boleh memanggilnya dengan sebutan 'papa' lagi? Kalau diingat, saat Valen menabuh genderang perang pada Bernard, dia tidak lagi menyebut orang itu demikian. Lagi-lagi Valen menelan ludah, merangkai kata. "Saya sangat berterima kasih ... Papa mau menerima saya kembali."
Bernard mengangkat alisnya, mengangguk-angguk.
"Tapi juga saya sedikit heran .... Bukankah Papa waktu itu mengatakan, bahwa pintu rumah ini sudah tertutup untuk saya?"
"Yahh. Well." Bernard menghela napas panjang. "Tidak usah kamu hiraukan soal itu. Saya mengatakan itu lantaran emosi semata. Toh sekarang, kamu sudah kembali, dan saya tidak mengusir kamu, kan?"
Valen mengangguk canggung. "Iya. Maka dari itu ... saya benar-benar berterima kasih. Saya ... saya sudah menyadari semua kesalahan saya di masa lalu."
"Oh ya?"
"Saya salah. Saya keliru. Saya sudah berbuat sangat naif, dan saya sudah kurang ajar pada Papa. Saya bersalah, maka dari itu dengan rendah hati saya memohon maaf .... Maafkan saya, Pa. Perkataan Papa memang benar. Anda selalu benar. Saya yang terlalu polos dan lugu sampai bisa-bisanya tidak menyadari bahwa yang Papa katakan adalah kebenaran. Andalah kebenaran itu. Saya ... saya baru menyadarinya sekarang. Dan mulai saat ini, saya berjanji, tidak akan lagi membangkang pada Papa. Saya akan menuruti semua perkataan Papa," tutur Valen.
Bernard lagi-lagi tersenyum. Keadaan hening sejenak, lalu dia bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi, Valen?"
Bingung, Valen memandangi Bernard dengan tatapan bertanya. "Bukankah Papa selalu tahu apa yang dialami anak-anaknya?"
"Benar. Tapi saat kamu pergi, saya menarik semua pengawasan terhadap kamu. Jadi tidak aneh kan, kalau saya tidak tahu apa yang menimpamu?"
Valen menghela napas panjang. "S-saya dirampok. Ditipu habis-habisan, tepatnya. Pacar dan teman-teman saya memperdayai saya, dan mengambil semua uang tabungan saya ... sampai saya benar-benar tidak mengantongi uang sepeser pun ...," jawabnya. "Diusir dari kost ... dipecat dari tempat kerja ... saya luntang lantung nggak keruan. Menahan lapar. Menahan dinginnya malam. Terbakar panas matahari. Cari-cari pekerjaan di sana sini, nihil semua."
Bernard memerhatikan dengan seksama penuturan Valen. "Berapa yang mereka ambil darimu?"
"D-dua ... dua miliar."
Bernard melengos kasar. "Yah. Kita anggap uang sejumlah itu sebagai mahar yang harus dibayar untuk mendidik kamu, dan membuat kamu kembali ke jalan yang benar. Saya tidak berminat membantu kamu kalau kamu berencana melaporkan penipuan itu pada polisi. Tidak. Saya malas meributkan recehan seperti itu, buang-buang waktu."
Valen merinding. Uang, sejumlah dua miliar, dianggap recehan oleh Bernard. Padahal uang sebanyak itu sebenarnya bisa dia manfaatkan untuk biaya hidup selama bertahun-tahun, bila hidup sehemat mungkin! Malahan, bila berani mengambil resiko, uang sebesar itu bisa dia putarkan agar bertambah jumlahnya! Tapi bagi Bernard, itu hanya recehan?
"Tapi kalau kamu mau melaporkan kejadian itu, silakan saja, saya tidak melarang. Hanya saja, saya tidak akan membantu. Terserah," lanjut Bernard lagi.
Valen menggeleng pelan setelah lama berpikir. "Saya pikir ... saya rasa Papa benar. Uang itu dianggap mahar untuk menampar wajah saya dan menyadarkan saya kembali."
"Agreed." Bernard mengangguk. "Jadi ... kamu akan menuruti apa kata saya, setelah ini?"
Saatnya berserah diri pada 'yang kuasa'. Valen, ucapkan selamat tinggal pada kebebasan dan semua mimpi, batin Valen dalam hati.
Dia lalu menjawab ayahnya, "Ya, Papa. Saya akan menurut ... saya bisa ikuti cara main Papa."
"Bagus sekali," sahut Bernard. "Seandainya saja, kamu tidak berlaku di luar batas seperti itu, tentu kamu tidak perlu mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Tapi ya sudahlah, toh sekarang kamu sudah kembali dan mengatakan akan patuh pada saya. Dan sebagai jaminan bahwa kamu tidak akan berulah lagi di masa depan, saya hanya akan memberikan kamu satu kesempatan." Bernard mengangkat satu telunjuk. "Satu. Satu kesempatan terakhir, untuk kamu membuktikan keseriusanmu," tegasnya, sengaja mengulang kata satu sebagai penekanan.
Valen mengangguk takzim, dia paham betul arti perkataan Bernard. Jika di kemudian hari dia berulah lagi, tentu Bernard tidak akan bersikap semurah hati ini lagi. Mungkin namanya akan benar-benar dicoret dari daftar kartu keluarga. "Baik. Baik, Pa, saya tidak akan mengecewakan Papa lagi. Saya akan mempergunakan satu kesempatan terakhir ini sebaik-baiknya," jawabnya.
"Oke. Good. Saya bangga padamu, Valentino."
Tentu saja bangga. Yang hilang telah kembali, lengkap dengan bayaran atau mahar yang terbilang lumayan banget. Inilah jalan yang emang diperuntukkan bagi gue, berserah diri pada tuhan kecil yang berkuasa di seantero lingkungan Ghandy. Terima saja ... gue memang dilahirkan hanya untuk menjadi penerus. Arti kehidupan gue ini nggak lebih sebagai pesuruh Bernard! Hanya untuk menjadi penyembah si tuhan kecil ini, si 'god wannabe' ini! Passion, mimpi, apa itu? Buang jauh-jauh karena itu semua nggak ada artinya! Yang lain udah pernah peringatkan gue hal yang sama persis, tapi gue nggak dengarkan saking naifnya gue. Ternyata inilah maksud dari 'buang saja mimpimu'. Gue memang nyata-nyata membuang mimpi ....
"Kalau kamu sudah fit kembali seperti semula, kamu bisa kembali ke kampus lagi. Ah, jangan lupa, kita tetapkan di hari Selasa dan Jumat, sepulang kuliah, kamu ke Orison Golden dan bertemu saya. Oke? Sudah saatnya kamu mengejar ketertinggalanmu mempelajari segala seluk beluk bisnis Ghandy. Saudaramu yang lain sudah jauh lebih maju, jangan mau ketinggalan terlalu jauh, Valen," ujar Bernard.
Valen hanya mengangguk. "Selasa dan Jumat?"
"Weekdays, di hari Selasa dan Jumat. Di saat weekend, saya akan berikan pekerjaan rumah untuk diselesaikan. Tapi tidak akan setiap weekend, tenang saja, hanya sesekali. Saya juga paham kamu butuh liburan saat akhir pekan tiba," terang Bernard.
Dan dimulailah kehidupan gue di penjara ini ... lengkap dengan semua jadwal yang sudah diatur dan ditetapkan sedemikian rupa oleh 'yang maha berkuasa'.
Bab 4 – Antara Dua Ghandy dan Mantan PSK
Malam itu, suara riuh tawa dari ruang keluarga di bawah masih sayup terdengar. Pesta belum usai, rupanya. Kemeriahan di bawah berbanding terbalik dengan yang terjadi di kamar Valen.
Tenang, damai, seolah berada di dunia sendiri. Namun justru itu keadaan ideal bagi Valen. Jauh dari keriuhan dan omong kosong budaya keluarga Ghandy.
Usai membacakan cerita untuk Prince hingga anak itu lelap tertidur, Valen tersenyum. Wajah pangeran kesayangannya itu tampak damai. Pria itu selalu betah berlama-lama memandangi wajah tidur anaknya, sebagai sosok yang bisa membawakan kedamaian dalam hatinya.
Tidak pernah sekalipun Valen menyesali keberadaan sang buah hati, lantaran dia memang pada akhirnya menginginkan kehadirannya. Semula memang Valen mengusahakan kehadirannya dengan alasan agar terhindar dari tekanan berlebihan dari Bernard, namun setelah kelahiran Prince, rasa cinta yang dalam menyelubungi seluruh relung hatinya, seiring dengan tumbuhnya naluri kebapakan yang dia miliki. Valen bangga menjadi seorang ayah, itulah yang dia rasakan sekarang.
Valen pun telah bertekad sejak jauh hari, akan merawat serta melindungi Prince sepenuh hati. Dia akan mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya utuh, pada Prince. Tidak akan Valen biarkan Prince tumbuh besar dengan merasakan apa yang selama ini dia rasakan, kekurangan kasih sayang dari seorang ayah yang bertangan besi seperti Bernard. Valen akan menjadi seorang ayah yang baik bagi Prince, yang bisa dibanggakan oleh anak itu kelak. Meski Valen tahu, ada sebuah kekosongan besar yang melingkupi tumbuh kembang anak itu ... namun Valen akan melaksanakan bagiannya sebaik mungkin. Suatu hari nanti, Valen berharap akan dijodohkan dengan wanita yang baik, yang sanggup berperan sebagai ibu penyayang yang menerima kehadiran Prince sepenuh hati.
Valen hanya bisa berharap. Kenyataannya, dia tidak tahu wanita seperti apa yang kelak akan menjadi istrinya, lantaran semua itu bergantung sepenuhnya di tangan Bernard. Bisa jadi, Valen dinikahkan dengan wanita yang kurang suka anak-anak, atau wanita yang tidak berkenan dengan Prince, atau wanita yang ... entahlah, Valen sungguh tidak memiliki bayangan akan hal itu.
Sungguh ideal jika Valen mencari jodohnya sendiri. Yang berkenan di hatinya, yang sesuai standar yang diinginkannya, yang memiliki kasih sayang berlebih agar Prince bisa mendapatkan perhatian dari seorang ibu. Namun semua itu tampaknya hanyalah mimpi. Valen wajib menuruti apa pun yang menjadi titah dan keputusan Bernard. Wajib. Valen tidak lagi berniat membangkang lagi dari Bernard, lantaran dia tahu, dia tidak bisa hidup tanpa restu Bernard. Garis hidupnya telah digariskan oleh tuhan kecil satu itu.
Namun meski hidup layak di bawah restu Bernard, tetap saja Valen merasa kosong dalam hati. Dia sangat ingin menikah. Ingin bersatu dengan wanita yang dia cintai dan yang tulus mencintainya. Ingin membangun rumah tangga bersama dengan wanita pilihannya, menjadi orang tua yang baik bagi Prince dan anak-anak yang kelak akan lahir dari antara mereka berdua. Keinginan yang sangat wajar dan normal, yang diinginkan pula oleh semua orang di dunia ini. Apakah itu hanyalah sebuah mimpi yang tak seharusnya Valen harapkan? Demi menjaga restu Bernard? Tiap kali terusik akan pemikiran ini, Valen selalu merasakan kegalauan berlebih.
Maka untuk melupakan rasa galaunya, juga untuk menghilangkan penat dan stress akan tanggung jawabnya di kantor, Valen mulai sering berkunjung ke sebuah klub malam yang didirikan oleh Xander sang sepupu. Klub malam bernama Tunasmara Club, yang hanya diperuntukkan khusus bagi para single alias jomblo, bagi mereka yang tidak atau belum memiliki pasangan resmi. Klub malam itu kerap dijadikan bahan ledekan oleh sebagian saudara-saudaranya yang telah menikah, namun semua itu tidak dihiraukan oleh Xander. Sementara Valen, merasa keberadaan klub itu sebagai sesuatu yang brilian, tidak pernah ada klub yang secara khusus hanya menerima pengunjung yang masih jomblo. Bahkan, para pendirinya, yakni para VVIP Member, telah diangkat sumpah atau kaul tidak akan pernah menikah seumur hidup. Apabila menikah, maka seluruh saham yang orang itu tanamkan akan hangus seluruhnya. Sebuah aturan yang cukup keras, membuat semua orang sepakat akan keseriusan para VVIP Member ini dalam menjalankan usaha klub malam.
Dan Valen, ini kesekian kalinya dia duduk di bangku bar klub Tunasmara, menikmati minuman alkohol sembari menggalaukan hidup.
"Sendirian aja? Nggak bareng Xander, Valen?" tanya bartender yang bernama Rain, sembari menyuguhkan segelas minuman berwarna cokelat keemasan untuknya. Rain si bartender juga sebagai pemegang saham sama seperti Xander, meski begitu, tetap dengan senang hati melayani pengunjung minum-minum sembari mencurahkan kegalauan. Dia berfungsi sebagai 'tempat sampah' semua orang yang menyimpan beban berat kehidupan.
Valen menggeleng. "Emang kapan pernah gue bareng dia," sahutnya.
Rain terkekeh. "Tiap lo ke sini, seringnya barengan Xander atau Franco. Tuh, abang lo yang lain, Michael, juga akhirnya main ke sini."
"Oh ya?" Valen mengangkat alis. "Mickey ngapain ikut-ikutan main ke sini? Ya elah. Males juga kalau di sini pun masih harus lihat mukanya."
"Selama statusnya jomblo, nggak ada larangan untuk main ke Tunasmara, Valen," jawab Rain.
Valen meneguk minumannya, tidak menjawab.
"Oi, Valen," panggil seorang pemuda seumuran Rain, Vladimir namanya. "Jangan banyak-banyak minum. Lo kalau mabok jadi cengeng soalnya," lanjutnya sambil terkekeh.
"Sorry ya, gue nggak cengeng," sahut Valen cepat.
"Cengeng!" Vlad menyambar tak kalah cepat. "Semua orang di sini saksi mata, broo! Atau perlu gue buka nih rekaman cctv? Tiap kali lo minum sampai mabok, wihhh, lo pasti galauin bapak lo yang ajaib itu. Lo galauin kenapa nasib lo ditentukan sama dia. Nggak bisa meraih cita-cita lo lah, nggak bisa bebas pacaran sama cewek yang lo mau lah, pokoknya semua rahasia hidup lo tuh udah jadi bahan obrolan semua orang, tahu? Xander aja malu lihat lo terbuka banget kayak buku!"
Valen enggan menyahut, terlihat wajahnya bersemu merah.
"Gilaa ... Rain, lo bisa nggak sih, bayangin gimana rasanya? Guee itu ditakdirkan untuk menyembah tuhan yang bertahta di istana Ghandy," ujar Vlad, menirukan gaya Valen tatkala mabuk. Tangannya menggenggam gelasnya yang kosong, berpura-pura meneguk isinya. "Gue lahir cuma buat jadi keset Ghandy. Cita-cita, apa itu? Ke laut!! Bahkan gue nggak bisa mencari cinta, mencari pasangan hidup yang gue kehendaki sendiriii! Bisa bayangin nggak, heh, Rain? Pasangan hidup untuk gue aja menunggu takdir dari yang maha esa! ... Benernya kalau dipikir, bisa aja kalau gue mau cari cewek yang gue sukaa, yang gue cintai, gue pacarin. Tapi cewek pilihan gue itu belum tentu lolos dari saringan Bernard! Iya kalau lolos, gue bisa puas-puasin pacaran sebelum akhirnya dijodohkan. Kalau nggak lolos, ya gigit jari doang guenyaa! Belom lagi, emang ada cewek yang mau gue pacarin kalau dia tahu hubungan itu nggak bakal sampai mana-mana? Gueee hopeless, Rain. Hopeleesss!"
Vlad tampak fasih sekali menirukan gaya Valen.
"Terus udahnya lo taruh kepala di meja, nangis deh. Huhuhuhuhu," lanjut Vlad melakukan yang dia sebutkan sebagai jurus terakhir.
Valen, meski merasa malu, akhirnya ikut tertawa, tak kuasa lagi menahan rasa geli menyaksikan tingkah konyol Vlad yang tampaknya sangat akurat menirukan dirinya. Rain pun turut larut terbawa candaan Vlad.
"Sialan lo, Vlad. Gue nggak seperti itu," sanggah Valen di sela-sela tawa.
"Lo seperti itu! Tiap mabok, itu-ituuuu melulu yang lo galauin! Nih makanya gue sampai hafal dialog lo!" Vlad berkeras. "Asli, gue baru pernah liat ada juga tipe Ghandy yang cengeng."
"Kasar bener lo, Vlad," sahut Rain. "Maksud lo, tipe yang melankolis, kan?" koreksinya.
"Iyaaa! Itu!"
"Tahu amat," seloroh Valen malas, lalu kembali menikmati minumannya.
"Makanya gue ingetin duluan, Valen, jangan kebanyakan minum sampai mabok, kalo nggak-"
Ucapan Vlad terhenti saat matanya menangkap sekelompok wanita muda masuk ke klub. "Wihhh, geng feminazi lengkap nih," ujarnya sambil memandangi kagum penampilan para wanita itu.
Valen ikut menikmati pemandangan indah keberadaan para wanita cantik itu, yang luwes menyapa Vlad dan yang lain. Mereka semua sungguh sedap dipandang, meski gaya dan penampilannya berani, namun tidak menimbulkan kesan murahan. Valen baru mengenal beberapa dari para wanita yang disebut Vlad sebagai geng feminazi, sebutan lain untuk kelompok feminis di kalangan klub Tunasmara.
Vlad rupanya sudah curi start duluan dengan mengikuti para wanita itu, bermaksud bergabung bersama mereka.
Valen terpancing untuk mengikuti Vlad juga saat pandangan matanya tertumbuk pada seorang wanita berambut ikal kecokelatan yang melempar senyum padanya, berjalan mendekat. Wanita itu mengenakan dress berwarna salmon dengan belahan dada rendah, ketat memeluk tubuhnya yang berlekuk indah. Wanita yang sangat menawan, Valen ingat wajah itu. Valen tahu Valen pernah melihat wajah wanita itu di suatu tempat, di suatu waktu. Tapi di mana? Kapan?
Otot dan ingatan Valen masih lumpuh, saat wanita itu berdiri di samping Valen, berkata pada Rain. "Rain, pesan yang biasa yah. Tiga sazerac, tiga roberta, tiga cosmopolitan."
Valen meneliti tiap bentuk dan detail wajah wanita itu dari samping. Benar-benar lekuk wajah yang sempurna. Alis mata indah, bulu matanya lentik lebat, ada sebentuk lensa lunak berwarna menempel di kornea mata wanita itu. Hidung bangir, bibirnya tebal dan penuh, terpoles kosmetik berwarna merah darah. Rambutnya yang lebat, jatuh menjuntai di leher dan bahunya yang terbuka. Valen semakin yakin pernah menjumpai wanita ini sebelumnya.
"Oke. Di meja kalian yang biasa, kan?" Rain menanggapi.
"Yoa! Anterin yaa!"
Usai memesan, wanita itu berbalik badan hendak menyusul teman-temannya. Semerbak harum parfum yang dikenakan wanita itu tertangkap indera Valen ... dan seketika ingatan Valen pun pulih.
Wanita itu pernah menghuni kamar kontrakan sebelum Valen pindah ke kontrakan tersebut.
Benar. Wanita itu adalah penghuni sebelum Valen, yang hanya sempat bertemu sekali seumur hidup, yaitu saat wanita itu tengah pindahan. Valen ingat ada main mata antara mereka berdua ... yang membuat rasa penasaran Valen terpancing. Dan aroma parfum itu ... masih sama seperti yang Valen hirup saat itu.
Benar, ia adalah wanita yang saat itu. Valen ingat, saat itu adalah kali pertama dia berpikiran cabul pada orang lain pada pertemuan pertama. Terdorong rasa penasaran yang langsung melesak memuncak, Valen berniat menyusul wanita itu. Tapi, sesuatu menahan gerak tubuhnya.
"Rain," panggil Valen. "Itu tadi siapa?"
Rain memandangi Valen heran. "Belum kenal ya?"
"Kalau udah kenal, apa gue bakal nanya?"
Rain terkekeh. "Dia salah satu dari geng feminis."
Valen menjelajah ingatannya. "Gue baru kenal sama Fabiola, Pamela dan ... siapa itu. Vania. Emang belum semuanya sih ...."
"Ya kenalan gih sama semuanya, tuh mumpung kayaknya lagi lengkap," ujar Rain sambil menunjuk keberadaan meja geng feminis di kejauhan dengan gerakan dagunya. "Yang barusan tadi, namanya Nadine."
Nadine, ulang Valen dalam hati.
Valen mengangguk-angguk.
"Eh, wait, Valen," ujar Rain saat menyadari Valen hendak beranjak. "Gue saranin mending lo deketin yang lain, jangan si Nadine."
"Huh?" Valen mengangkat alis keheranan. "Kenapa? Udah punya laki? Kata lo di sini khusus single."
"Nadine single. Tapi dia kesayangan si Xander, sepupu lo," jawab Rain.
"Xander?? Kesayangan??" Valen membelalakkan mata, jelas terkejut sekaligus geli menyadari ternyata Xander diam-diam memiliki favoritnya sendiri, setelah sekian lama selalu berkoar bahwa dia tidak punya, bahkan tidak pernah punya, seorang kekasih. Rupanya ini kisah Xander yang pertama kali Valen dengar. "Serius lo, Rain? Baru sekarang ini gue denger, Xander punya pacar?"
"Bukan pacar," jawab Rain sambil menggeleng. "Lo kan tahu, VVIP Member dilarang pacaran. Si Nadine itu friends with benefits favorit si Xander."
"Ah. FWB favorit," ulang Valen. "Ya pantes sih. Cakep gitu tuh cewek."
"Gue kasih tahu aja, dari pada lo sama Xander jadi slack. Soalnya Xander pernah kasih warning ke anak-anak yang lain supaya jangan beraninya deketin Nadine."
"Xander main monopoli ya?" Valen mengulum senyum. "Nggak terima favoritnya berbagi perhatian dengan yang lain. Padahal dari pada terus terusan jadi FWB, nggak bakal sampai kemana-mana, mending seriusin aja."
"Itu bukan cara Xander sih, setahu gue," sahut Rain. "Dia nggak bakal serius sama satu cewek."
"Ya ya ya, gue paham banget, nggak heran kalau Xander. So, mending gue deketin Nadine aja, siapa tahu dia berpaling ke gue," ujar Valen, seringai usil terukir di wajahnya, seraya beranjak menuju kumpulan kelompok feminis yang kabarnya menjadi legenda di kalangan Tunasmara.
"Hai girls, boleh gabung?" Valen dengan penuh percaya diri tampil di hadapan para wanita molek itu yang menyambutnya dengan senyum dan sapaan ramah. Vlad duduk di tengah-tengah kumpulan wanita itu, bak raja minyak.
"Udah pada kenal belom sih, sama Valen?" Vlad bertanya.
"Sebagian besar belum," jawab Valen. "Kenalin dong, Vlad."
"Oke! Girls, ini namanya Valen, sepupunya si Xander. Adeknya Franco. Nah Valen, kenalin. Fabiola, Pamela, Aileen, Angie, Selena, Vania, Devi, Giselle, terus yang terakhir Nadine," ujarnya mengabsen kehadiran kelompok feminis.
"Iyaa! Gue sih udah kenalan sama Valen," sahut Fabiola, si pemimpin pasukan. "Ayo sini gabung, Valen! Biar makin rame!"
Valen pun menuruti undangan Fabiola, lalu mengambil tempat di sebelah Nadine, incarannya malam ini. Tak lupa dia melempar senyum pada Nadine, yang dibalas Nadine sama hangat.
"Hai Nadine, ketemu lagi ya?" Valen membuka percakapan.
"He?" Nadine memandangi Valen bingung. "Emang kita pernah ketemu sebelumnya? ... Oh, jangan-jangan yang tadi di bar? Ya elah ... masa itu masuk hitungan?" Nadine terkekeh.
Valen tersenyum, menggeleng. "Nope. Sebelum ini emang pernah ketemu, kok," sahutnya.
Bola mata Nadine membesar mendengar ujaran Valen, membuat Valen semakin merasakan tajamnya panah cupid menembus hatinya. "Ahh. Dasar cowok. Basi ih," ujar Nadine kemudian. "Biasanya cowok seneng banget ngeklaim pernah ketemu di mana sama cewek, padahal cuma bisa-bisanya cowok aja."
Valen tertawa ringan. "Gue nggak salahkan lo, kalau lo berpikir begitu. Yang lo omongkan emang bener sih, banyak cowok yang modus .... Tapi asli, klaim gue kali ini no bullshit, Nad," sanggahnya.
"No bullshit," ulang Nadine kegelian. "Prove it, then."
"Ingat bu Ratna? Lo pernah tinggal di kontrakan bu Ratna, kan?"
Mata Nadine semakin membulat memandangi pria di sampingnya itu, pancaran matanya jelas menyimpan rasa heran yang besar. "Lho ... dari mana lo tahu soal itu?" tanyanya bingung.
Valen tersenyum. "Gue penghuni kamar kontrakan bu Ratna setelah lo, Nad. Inget waktu lo keluar dari sana? Gue yang dateng bareng sama cewek ...."
Nadine mengangguk-angguk, tampak telah berhasil mengingat, bibirnya membentuk huruf O pertanda ia mulai memahami perilaku Valen padanya. "Ooh. Jadi ... jadi, yang waktu itu papasan sama gue di depan kontrakan, lo yah?"
Valen mengangguk sebagai jawaban.
"Iyaaa! Gue inget banget, lo waktu itu sama cewek. Cewek lo galak, judes, nggak terima lo ngeliatin gue. Ya kan? Kita ... kita sempat liat-liatan, kan?" Nadine tampak antusias.
"Betul. That was me," sahut Valen.
"Aaaa! Nggak nyangka yah! Padahal cuma sekilas ketemu, tapi kok lo bisa inget gue sih, Valen? Lagian juga kita cuma sekedar lewat aja, meski liat-liatan ... nggak kenalan, nggak ada apa-apa selain itu! Ingatan lo bagus juga yaa, Valen?"
Valen mengulum senyum.
Gimana bisa nggak ingat? Gue auto mikir cabul waktu pertama kali melihat lo, Nad. Gue mengalami lust at first sight with you.
Tentu bukan itu yang keluar dari mulut Valen. "Gimana gue bisa lupa, pernah tatap-tatapan sama cewek yang secantik lo. Serius. Lo cewek paling cakep yang pernah gue lihat, Nadine," katanya.
"Ih ... lo jangan bikin gue terbang," sahut Nadine tersipu, mendorong pelan lengan Valen demi menutupi rasa malu tapi maunya itu.
"Gue cuma menyampaikan fakta ...," kata Valen, belum berniat menghentikan rayuannya.
Seorang pramusaji membawakan sejumlah minuman yang tadi Nadine pesan, obrolan keduanya pun menggantung di udara.
"Cheers," ujar Nadine mengajak Valen bersulang.
Valen menempelkan bibir gelas miliknya dengan gelas berisi minuman merah milik Nadine.
"Terus, kenapa kok, lo bisa tinggal di kontrakan bu Ratna? Lo kan anak Ghandy?" Nadine tiba-tiba mengalihkan pembicaraan usai meneguk minumannya.
Valen melengos pelan. "Nggak tahu lo pernah dengar cerita ini apa nggak. Gue pernah miskin semiskin-miskinnya lantaran pernah memberontak pada Bernard demi mengejar impian gue jadi musisi. Gue bisa ngontrak di bekas tempat lo, waktu itu, itu hitungannya gue masih pegang sejumlah uang, lho. Beda ceritanya setelah beberapa bulan di sana ... tapi gue lagi nggak minat ceritakan soal itu ke lo. Udah lama lewat, Nad," tuturnya sambil melempar senyuman menawan pada Nadine. "Yang paling penting adalah saat ini. Kan? Kita bisa ketemu lagi setelah sekian lama ... dan akhirnya saling tahu nama. Gue udah nggak penasaran lagi siapa nama lo ... paling-paling, penasaran sama nomer lo. Boleh minta?"
Nadine tertawa lepas. "Astagaa! Gue tadi udah siap-siap pasang ekspresi prihatin, kirain lo mau cerita dongeng masa lalu ... malah ujungnya minta nomer hp! Bisaan ajaa lo, Valen," katanya. Ia mengambil ponsel miliknya dari dalam tas kecil yang dibawanya, lalu menyerahkan benda pipih itu pada Valen. "Nih, lo call nomer lo aja di sini ...."
Valen menurut, jemarinya terampil menari di atas layar, menekan serangkaian nomor.
Saat akan mengembalikan benda pipih itu, dia tak sengaja melihat wallpaper yang terpasang di sana. Nadine dan anak remaja laki-laki berfoto bersama dengan senyum lebar.
"Itu ... siapa?"
Nadine mengikuti arah pandangan Valen lalu tersenyum. "Anak gue, Vicky," jawabnya tenang.
Valen mengerjap. "Oh, lo udah punya anak."
"Single anak satu. Lo sendiri, Val?"
"Lho, sama dong kita. Gue juga. Anak gue juga laki-laki, masih 2 tahun."
"Lagi lucu-lucunya dongg? Terus, tapi lo pernah nikah?"
Valen tertawa sumbang. "Pernikahan diatur oleh kepala keluarga. Ditimbang bibit bebet bobot sampai mendetail, dan wajib membawa cuan buat bisnis. Jadi no, gue belum pernah menikah. Anak itu lahir karena ... yah, buat pembuktian kalau gue nggak mandul."
Nadine tak sanggup berkata-kata.
"Ini topik berat yang cenderung menjengkelkan. Better ganti topik."
"Oke …. Berarti lo utang cerita ini. Barter nanti gue juga spill kisah gue."
"Deal."
Tak ada yang bersuara selama beberapa saat.
Valen menyadari rupanya sejak tadi Nadine memerhatikan dirinya. "Ada yang aneh?" tanyanya seraya tersenyum.
Nadine menggeleng, balas tersenyum. Ia balas memandang Valen, mendapati bayangan dirinya di dalam bola mata yang tampak teduh. Alis mata Valen yang tebal semakin menambah kesan teduh di wajah yang kerap tersenyum hangat itu. "Lo beda yah, dari saudara-saudara lo," simpul Nadine.
"Beda? Tentu. Semua orang punya karakteristik dan ciri khas masing-masing," sahut Valen sekenanya.
"Xander tipenya ambisius, perfeksionis, gila kerja. Franco tipe yang lebih slengean, nakal, liar. Kalau lo, Valen, sendu-sendu melankolis gitu. Kenapa bisa sebeda itu ya saudaraan?"
"Bakal membosankan kalau semua bersifat mirip. Udah pun wajahnya mirip, sifatnya juga. Bosenin, kan? Mana jumlahnya ngelebihin jumlah jari tangan pula."
Nadine terkekeh geli. "Bener. Bener banget," jawabnya. Ia menenggak habis minuman merahnya, lalu mengambil lagi segelas. "Cheers lagi, Valen ... kok diem aja nggak minum?" Nadine mengangkat gelasnya.
Valen menyambut gelas Nadine dengan gelasnya sendiri. Cocktail dalam gelas Nadine setidaknya berisi lima campuran minuman keras, yakni gin, vodka, brandy, blackberry liquor, dan absinthe. Sementara yang Valen minum, juga campuran lima minuman keras berbeda, meski tampilannya menyerupai es teh. "Doyan minum, Sis?"
"Biar cepet panas ... mau ajojing. Tuh liat, yang lain udah pada ngefloor," jawab Nadine sambil menunjuk sebagian besar kelompok feminis yang bersamanya sudah tidak ada lagi di tempat duduknya.
Valen hanya memandangi Nadine yang terus meneguk minumannya, sesekali berdecak kagum memuji keindahan paras wanita itu. Entah mengapa Valen sejenak merasa iri dengan yang meluncur ke dalam leher jenjang Nadine.
"Valen."
Mendengar namanya dipanggil, Valen menoleh dan mendapati Xander berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Hai, Xand!" sapa Nadine hangat. "Baru sampai?"
"Hei, Nad," balas Xander singkat. Namun perhatian pria itu tak bertahan lama pada Nadine. Matanya yang tajam segera beralih kepada Valen, lalu dengan nada datar yang sulit ditebak, dia berkata, "Ikut gue sebentar, Val."
Tanpa menunggu jawaban, Xander memasukkan kedua tangan ke saku celananya dan langsung melangkah pergi.
Valen mengernyit bingung. Setelah melirik sekilas ke arah Nadine, dia mengangkat bahu kecil. "I'll be right back," pamitnya sebelum bangkit dan menyusul Xander.
Pria itu berjalan beberapa meter di depan dengan langkah tegap dan mantap. Begitu melewati pintu masuk night club, dia berbelok ke sebuah lorong samping yang jauh lebih sepi dari area utama.
Meski terus bertanya-tanya dalam hati, Valen tetap mengikuti sampai akhirnya Xander berhenti dan berbalik menghadapnya. Ekspresinya kini jauh dari ramah. Dengan gerakan santai, dia mengeluarkan sebatang rokok, menyelipkannya di bibir, lalu menyalakan ujungnya.
"Lo ngajak gue sebat di sini?" tanya Valen. "Di dalem juga bisa."
Xander mengembuskan asap tipis sebelum bertanya, "Siapa yang suruh lo deketin Nadine?"
Valen terbelalak sesaat. Rupanya Xander langsung terusik melihat dirinya berbincang dengan perempuan itu. Kesadaran tersebut justru membuatnya geli hingga senyum lebar terbit di wajahnya.
"Deketin gimana?" sahutnya santai. "Gue cuma kenalan doang. Problem?"
"Gue kenal lo dari kecil." Tatapan Xander mengeras. "Lo pikir lo beda dari semua laki-laki Ghandy? Agenda lo kebaca jelas."
Valen mengangguk pelan seolah menerima tuduhan itu tanpa keberatan. "Bagus," katanya. "Jadi nggak perlu banyak bacot. Pertanyaannya sekarang, ada masalahkah?"
"Eh, denger ya." Nada suara Xander turun beberapa tingkat, membuat ancamannya terdengar lebih nyata. "Lo bebas main sama siapa aja yang lo mau. Yang satu ini jangan."
"Emang Nadine siapa lo, Xan?" tanya Valen, sengaja menekankan setiap kata untuk memancing reaksi.
"Bukan urusan lo," jawab Xander cepat.
Terlalu cepat.
Seolah sadar akan hal itu, dia segera menambahkan, "Gue cuma bakal bilang sekali. Gue nggak mau lihat lo masih deketin Nadine. Got it?"
Valen menggeleng ringan sambil mengangkat bahu.
"Warning lo nggak kena." Senyumnya makin lebar. "Faktanya, Nadine single, gue juga single. Apa yang salah kalau single mendekati single? Kecuali lo emang berniat serius sama Nadine, gue bakal mundur. Beneran."
Dia berhenti sejenak, menikmati perubahan ekspresi di wajah sepupunya.
"Soalnya baru kali ini gue lihat ada cewek yang lo seriusin. Sebagai saudara yang baik, gue bakal dukung lo dan nggak akan tikung."
"Tapi ..." lanjutnya sambil menyeringai, "ngeliat karakter lo yang kayak gini, rasanya kata serius nggak pernah masuk kamus hidup lo. Jadi gue nggak lihat ada masalah kalau gue deketin Nadine. Siapa tahu kami cocok dan lanjut ke hubungan yang lebih serius. Kalau memang begitu, justru lo yang harus menjauh, Xander."
Wajah Xander semakin memerah menahan amarah, sementara Valen tampak semakin menikmati situasi itu.
"Kita tanding aja secara fair, Xan," ujarnya ringan. "Lihat siapa yang berhasil dapetin Nadine."
"Lo cari mainan lo yang lain, Valen." Rahang Xander mengeras. "Yang ini punya gue. Lo nggak paham juga?"
Valen mengangkat alis.
"Lo main monopoli, nih?" Dia terkekeh pelan. "Gue jadi makin penasaran. Lo marah karena gue deketin mainan lo, atau diam-diam lo cemburu?"
Tatapan Xander langsung berubah lebih tajam.
"Come on, Xan. Nggak perlu jealous segitunya. Hubungan lo sama Nadine kasual, kan? Dalam hubungan kasual nggak ada ruang buat cemburu. Lo yang paling ngerti soal itu."
Xander membuka mulut, hendak membalas, tetapi tak ada kata yang keluar.
Dia ingin menyumpah serapah, ingin membantah, ingin menghapus seringai menjengkelkan di wajah Valen. Masalahnya, apa pun yang dia katakan saat ini hanya akan memperkuat dugaan bahwa dirinya memang cemburu. Sementara bagi Xander, perasaan itu sendiri adalah sesuatu yang selama ini dia anggap tak boleh ada.
Pada akhirnya dia memilih diam.
Melihat ekspresi Xander yang kacau untuk pertama kalinya, Valen nyaris tertawa. Butuh usaha cukup besar untuk menahan diri.
"Kalau cuma itu yang mau lo sampaikan, gue rasa udah cukup." Dia melangkah mundur. "Gue mau balik deketin Nadine lagi."
Senyumnya melebar sebelum dia menambahkan, "Don't get jealous, alright, cousin? See you later."
Setelah itu Valen berbalik dan meninggalkan Xander sendirian di lorong tersebut.
Selama mengenal sepupunya, Valen selalu melihat Xander sebagai sosok yang logis, realistis, berorientasi bisnis, dan terutama sangat bangga dengan citranya sebagai seseorang yang tidak melibatkan perasaan.
Heartless.
Julukan itu begitu melekat pada Xander hingga mengingatkan Valen pada Bernard Ghandy. Namun malam ini dia melihat sesuatu yang berbeda. Di balik topeng dingin yang selalu dikenakan pria itu, rupanya masih ada ego seorang laki-laki yang tak terima ketika seseorang yang dianggap miliknya didekati orang lain.
Dan entah kenapa, fakta bahwa dia berhasil membuat Xander kehilangan kata-kata terasa sangat memuaskan.
Saat kembali ke meja tempat geng feminis tadi berkumpul, Valen mendapati Michael sudah lebih dulu bergabung dengan mereka. Dari kejauhan pria itu tampak sedang asyik berkenalan sambil menebar pesona seperti biasa.
Valen langsung mendecak pelan.
Tanpa membuang waktu, dia mempercepat langkah. Setidaknya dia harus sampai di sana sebelum Michael sempat menyebutkan namanya.
"Lo kan ...." Di depan Nadine, Michael tampak seperti kehilangan kata-kata, telunjuknya mengayun di udara seolah sedang berusaha menggali memorinya.
Nadine hanya mengangkat alis, memasang senyum awkward menunggu Michael selesai mengutarakan isi pikirannya.
"Kita pernah ketemu." Michael semakin yakin.
Nadine nyengir geli. "Apa ini cara cowok-cowok Ghandy kenalan sama cewek?"
Valen meringis dalam hati. Pengalamannya dengan Nadine beberapa tahun lalu memang sungguh kejadian. Tapi Michael? Valen meragukannya.
Michael menggeleng yakin. "Gue pernah tawar lo sejuta, tapi lo kukuh minta tiga juta. Malah beraninya minta satu miliar."
Senyum di wajah Nadine menghilang.
Beberapa pasang telinga yang mendengar ucapan itu sontak mengalihkan perhatian.
Comments
Post a Comment