KAMPH (31-32)
Bab 31 – The Outcast
Bel pintu berbunyi.
Keduanya sontak tersadar.
Nadine membuka mata lebar-lebar.
Valen menghela napas panjang. “Serius?”
Nadine segera mundur, sementara Valen melepaskan pelukannya. Mereka sama-sama terdiam beberapa detik, seperti baru saja ditarik paksa kembali ke dunia nyata.
“Vicky pulang?”
“N-nggak tahu ....” Nadine buru-buru mengambil tisu untuk menghapus sisa krim di pipinya, kemudian memberikan selembar lagi kepada Valen.
Valen menerima tisu itu sambil masih terlihat sedikit linglung.
Nadine merapikan rambut dan apron-nya sekilas sebelum berjalan menuju pintu.
Bel kembali berbunyi.
Dia menarik napas, lalu membuka pintu. Seorang pria berdiri di depan unit.
Usianya sekitar lima puluh lima sampai enam puluh tahun. Rambutnya tertata rapi, mengenakan jas yang juga sama rapinya. Sikapnya sopan, tenang, dan sama sekali tidak menunjukkan kesan seperti seseorang yang datang tanpa tujuan.
Pria itu menatap Nadine dengan sopan sebelum akhirnya bertanya, “Maaf. Apa benar ini tempat tinggal Nadine Gunawan?”
Sikap Nadine seketika berubah waspada. Namun, semakin dia memperhatikan wajah tamunya, semakin muncul perasaan bahwa wajah itu tidak sepenuhnya asing. Rasanya seperti seseorang yang beberapa kali pernah dia lihat di televisi.
“Iya. Bapak siapa?”
Pria itu tersenyum ramah. “Luciano Asvathama.”
Mata Nadine membulat.
Luciano Asvathama. Nama itu terlalu besar untuk tiba-tiba muncul di depan pintu apartemennya. Seorang konglomerat yang selama ini hanya dia kenal dari berita bisnis kini berdiri di hadapannya, di malam yang sama ketika dia baru saja hampir ....
Pikiran Nadine semakin buyar.
Dengan nada yang teramat tenang, Luciano melanjutkan, “Saya ingin bicara tentang ayahmu.”
“A-ayahku?”
Dari belakang, Valen yang sejak tadi penasaran akhirnya mendekat untuk melihat siapa tamu mereka. Begitu melihat pria itu, langkahnya terhenti.
“Om Luciano?”
Nadine langsung menoleh. “Kalian kenal?”
Valen masih tampak kaget. “...Iya.”
Nadine menatap Valen, lalu kembali kepada Luciano. Suasana yang beberapa menit lalu begitu ringan mendadak berubah total.
Luciano justru tersenyum ketika menyadari keberadaan Valen. “Bagus, ada kamu juga di sini, Valentino.”
Dia kemudian kembali menatap Nadine dengan senyum sopan yang tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya. “Boleh saya masuk?”
Nadine masih terlihat bingung, tetapi akhirnya bergeser dari pintu dan mempersilakannya. “Silakan ....”
Luciano masuk ke dalam apartemen.
Beberapa menit kemudian, mereka duduk di ruang tengah dalam suasana yang terasa canggung. Nadine duduk di sofa berhadapan dengan Luciano, sementara Valen mengambil inisiatif menyuguhkan minuman sebelum akhirnya duduk di samping Nadine.
Luciano memperhatikan keduanya sejenak sebelum mulai bicara.
“Jadi, Nadine .... Saya mengenal ayahmu. Saya ke sini untuk berkenalan sekaligus menjaga silaturahmi.”
Dia memasukkan tangan ke dalam saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto seorang laki-laki muda.
Luciano meletakkannya di atas meja, dan Nadine langsung mengambilnya. Jarinya perlahan menyentuh tepi foto, sementara matanya meneliti wajah laki-laki di dalamnya.
Valen sedikit mendekat dan berbisik, “Itu papa kamu?”
Nadine mengangguk pelan.
Dia masih memandangi foto tersebut ketika bertanya, “Dari mana ... Bapak kenal ayah saya?”
“Itu cerita yang panjang.”
Luciano menyandarkan tubuhnya ke sofa. Beberapa kancing jasnya dia longgarkan, seolah sedang bersiap menceritakan sesuatu yang tidak mungkin disampaikan dalam satu atau dua kalimat.
“Tidak ada maksud untuk membicarakan hal yang kurang baik tentang leluhur. Saya hanya ingin meluruskan kembali sejarah yang sudah dikubur terlalu lama.”
Valen dan Nadine sama-sama diam. Keduanya tanpa sadar memusatkan perhatian penuh kepada Luciano.
“Mendiang ibu saya, Yulia Gunawan, memiliki seorang anak sebelum menikah dengan ayah saya, Hendra Asvathama.”
Nadine perlahan mengangkat wajah.
“Anak itu adalah Yudhistira.” Luciano berhenti sebentar. “Oleh keluarga, Yudhistira dianggap sebagai adik Yulia. Ketika dia sudah besar, dan saya baru lahir, Yudhistira akhirnya mengetahui rahasia tersebut.”
Tatapan Luciano menerawang. “Dia marah. Sangat marah. Dan akhirnya pergi dari rumah.”
Nadine hanya bisa menatapnya.
Luciano melanjutkan dengan suara yang lebih berat. “Ibu saya mencarinya sejak saat itu, tetapi tidak pernah berhasil menemukan keberadaannya.”
Dia menarik napas panjang. “Hingga akhirnya, menjelang wafat, sekitar sebulan lalu, ibu memberikan wasiat kepada saya untuk mencari keberadaan kakak saya yang hilang itu.”
Luciano tersenyum tipis, tetapi kesedihan jelas terlihat di matanya. “Kakak yang bahkan tidak pernah sempat saya kenal.”
Nadine menunduk sedikit.
“Ibu juga menitipkan pesan maaf untuknya.”
Mata Nadine mulai berkaca-kaca.
“Sejak saat itu saya berusaha mencari keberadaan Yudhistira Gunawan. Sayangnya, beliau sudah meninggal dunia.”
Luciano terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Maka kemudian saya mencari jejak keberadaan keturunan beliau.”
Dia mengalihkan pandangan kepada Nadine. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke apartemen itu, senyumnya terasa begitu personal. “Dan sampailah saya di sini.”
Hening. Nadine bahkan tidak tahu harus berkata apa.
Luciano kemudian mengambil selembar kertas lain dari dalam map yang dibawanya dan meletakkannya di atas meja.
Akta kelahiran asli Yudhistira Gunawan.
Nadine menatap dokumen itu beberapa detik sebelum tangannya bergerak mengambilnya. Jemarinya gemetar ketika dia membaca setiap bagian yang tertera di sana.
Nama ayahnya.
Tanggal lahirnya.
Data yang selama ini tidak pernah dia tahu.
Luciano mengamatinya dengan tenang. “Kelihatannya Mas Yudhistira tidak pernah cerita apa-apa soal masa lalunya, kan?”
Nadine menggeleng lemah.
Valen yang sejak tadi menyimak dengan saksama akhirnya bersuara. “Jadi ... Om Luciano adalah paman Nadine?”
Luciano mengangguk.
Valen mengembuskan napas pendek. “Oh my God.”
Luciano kembali menatap Nadine. Kali ini tatapannya dipenuhi keprihatinan. “Aku menyesal, Nadine.”
Nadine masih memegang akta tersebut.
“Seandainya aku tahu sejak lama perihal Mas Yudhistira .... Seandainya sejak awal aku tahu keberadaanmu ....” Luciano berhenti, seolah berat untuk melanjutkan. “Aku tidak akan membiarkan kamu mengalami masa-masa sulit itu sendirian.”
Dia menatap Nadine dengan sungguh-sungguh. “Maafkan.”
Valen memperhatikan Luciano dengan saksama, seolah memastikan bahwa pria itu benar-benar memahami apa yang sedang dia katakan dan bukan sekadar mengucapkan permintaan maaf karena rasa bersalah.
Luciano menangkap tatapan itu dan mengangguk pelan. “Aku tahu semuanya.”
Dia menarik napas panjang. “Mas Yudhistira mungkin memang kurang memahami bagaimana menjaga dan memperlakukan anak-anaknya.”
Nadine perlahan mengembalikan akta kelahiran itu ke atas meja. Setelah itu dia membuang muka.
Luciano tidak memaksanya menatap. “Atas nama Mas Yudhistira, aku meminta maaf.”
Nadine menunduk. Air matanya akhirnya jatuh tanpa suara.
Valen yang duduk di sebelahnya segera meraih tangan Nadine dan menggenggamnya erat. Nadine membalas genggaman itu, seolah baru sekarang ada seseorang yang memberinya ruang untuk benar-benar merasakan semua luka yang selama ini dia tahan.
“Papa ....” Suaranya bergetar.
Dia mencoba menarik napas, tetapi isak kecil tetap lolos. “Papa ngebiarin Mama usir aku ....”
Air mata semakin deras. “Papa nggak bela aku.”
Luciano mengangguk pelan. Tidak ada usaha untuk membela Yudhistira. “Aku tahu.”
Suaranya rendah dan tenang. “Kamu diperlakukan tidak adil.”
Nadine menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam tangis.
“Papamu ... gagal menjadi ayahmu.” Luciano membiarkan kalimat itu menggantung sejenak. “Kamu sangat berhak marah.”
Nadine terus menangis, tetapi perlahan napasnya mulai lebih teratur.
Luciano tidak mendesaknya untuk memaafkan. “Kamu nggak harus memaafkan beliau jika memang terlalu berat untukmu.”
Ruangan kembali sunyi.
Kali ini bukan karena tidak ada yang ingin berbicara, melainkan karena semua orang tahu ada luka yang tidak mungkin diselesaikan hanya dengan beberapa kalimat.
Nadine menunduk sambil terus menggenggam tangan Valen.
Isaknya perlahan mereda, meski air mata masih mengalir di pipinya. Akhirnya, Nadine mendapatkan sesuatu yang selama ini tidak pernah dia tahu ternyata dia butuhkan. Seseorang yang datang bukan untuk meminta dia melupakan masa lalu, melainkan untuk mengakui bahwa apa yang terjadi padanya memang salah.
Valen perlahan mendekatkan cangkir teh ke tangan Nadine. “Minum dulu ....”
Nadine menerima cangkir itu dan meneguk tehnya sedikit demi sedikit. Tangannya masih agak gemetar, tetapi napasnya mulai lebih teratur.
Luciano memperhatikan Nadine beberapa saat sebelum akhirnya bersandar di sofa. “Aku pribadi sangat menyayangkan tindakan Mas Yudhistira.”
Tatapannya kemudian beralih kepada Valen. “Valen mungkin tahu, anak-anak saya semuanya perempuan. Jadi ketika menyadari kenyataan bahwa keponakan saya di luar sana ternyata semenderita itu ....”
Luciano menghela napas panjang. “Rasanya ... saya merasa tidak berguna sebagai seorang paman.”
Nadine menunduk lagi.
Luciano tersenyum tipis. “Aku hanya berharap, setelah ini kita bisa menjalin silaturahmi seperti selayaknya paman dan keponakan.”
Valen melirik Nadine, ingin melihat reaksinya. Bagaimanapun, fakta bahwa seorang Luciano Asvathama ternyata adalah pamannya bisa menjadi privilege luar biasa bagi seseorang dalam posisi Nadine.
Luciano mengambil cangkir tehnya sendiri dan meneguknya.
Nadine perlahan mengangkat wajah. Tatapannya masih menyimpan keraguan ketika bertemu dengan mata Luciano.
Pria itu justru melemparkan senyum hangat kepadanya.
Nadine menarik napas pelan. “Aku punya kakak.”
Luciano mengangguk. “Aku sudah bertemu kakakmu dua hari lalu. Narendra sepakat untuk menjaga silaturahmi.”
Nadine langsung melotot. “Mas Narendra nggak bilang apa-apa.”
Luciano tersenyum kecil. “Dia bilang ... sebaiknya aku bicara langsung denganmu.”
Nadine kembali terdiam, seolah masih berusaha mencerna terlalu banyak informasi yang datang sekaligus.
Valen pun tidak jauh berbeda. Dia masih shock dengan kenyataan bahwa Nadine ternyata memiliki keluarga besar yang sama sekali tidak pernah dia ketahui.
Luciano kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Valen. “Valentino Ghandy ....”
Valen menoleh. “Ya, Om?”
Luciano tersenyum kecil sebelum bertanya, “Ayahmu tidak pernah cerita apa pun tentang keluarga Nadine?”
Valen mengerjapkan mata. “Cerita apa?”
Luciano diam beberapa detik. “Begitu, ya ....”
Valen semakin bingung. “Maksudnya gimana, Om?”
Luciano hanya menjawab, “Tanya ayahmu.”
Valen terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat pikirannya langsung bekerja.
Kenapa Om Luciano ngomong begitu? Berarti memang ada sesuatu yang Bernard tahu.
Sesuatu tentang keluarga Nadine yang selama ini tidak pernah diceritakan kepadanya.
Luciano kembali menatap Nadine. “Gimana, Nadine?
Nadine menunduk sejenak, lalu akhirnya mengangkat wajah.
Luciano tersenyum. “Kalau mau, kamu bisa datang kapan pun ke rumah. Kenalan dengan sepupu-sepupumu.” Dia terkekeh kecil. “Nyalon bareng, mungkin.”
Nadine sempat bengong, lalu tersenyum tipis. “Baiklah.”
“Bagus sekali.”
Luciano bangkit dari sofa. Dia kemudian mendekati Nadine dan merentangkan kedua tangannya, menawarkan pelukan.
Nadine sempat ragu sepersekian detik sebelum akhirnya ikut berdiri dan membiarkan dirinya dipeluk.
Luciano memeluknya dengan hangat. “Selamat datang kembali di keluarga besarmu, keponakanku.”
Nadine memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, panggilan itu terasa begitu asing sekaligus menghangatkan.
Tidak lama kemudian, Luciano pamit dan meninggalkan apartemen.
Nadine masih berdiri di tempatnya, mematung sambil memandangi pintu yang baru saja tertutup, seolah sebagian pikirannya masih tertinggal di balik pintu itu.
Valen perlahan mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Nadine.
Nadine menoleh sebentar. “...Itu tadi ... mimpi?”
“Bukan.” Valen berdiri di belakangnya, lalu merengkuh pinggang Nadine dengan kedua tangan.
“Itu tadi momen ketika semesta membuka jalan lebar buat kamu.” Pelukannya mengerat.
“Reuni lagi sama om kamu, setelah selama ini kamu buta sama sekali soal keberadaan keluarga besar.” Valen tersenyum kecil. “Seneng nggak?”
Nadine menyandarkan punggungnya ke dada Valen. “Nggak tahu. Bingung ... campur aduk.”
Dia kemudian terkekeh pelan. “Baru kali ini ada om-om tajir yang ngaku adalah om beneran.” Nadine menggeleng kecil. “Kayaknya aku nggak mau panggil dia om. Kesannya kayak gimana gitu.”
Valen tertawa. “Panggil uncle. Atau sekalian aja panggil paman, biar terdengar otentik.”
Nadine tertawa kecil. “Go tradisional banget, ya.”
Valen tersenyum. “Kalau udah bisa ketawa lagi, lega rasanya.”
Nadine terdiam sejenak. “Valen.”
“Ya?”
“Kalau kamu aku suruh pulang ... nggak marah, kan?”
“Nggak.” Valen melepaskan sedikit pelukannya dan menatap sisi wajah Nadine. “Kamu butuh waktu sendirian?”
Nadine mengangguk. “Selain itu ....” Dia menahan senyum. “Kalau kamu peluk terus kayak gini, aku jadi kedistract.”
Valen langsung melepaskan pelukannya. “Anggap aja ini barusan sesi pengisian daya.” Dia menyeringai. “Supaya kamu tetap bisa jadi Nadine yang biasa.”
Nadine berbalik menghadapnya. “Emang aku bakal jadi Nadine yang kayak apa?”
“Versi superpower.”
Nadine terkekeh. “Bukannya bagus jadi Wonder Woman?”
“Versi Wonder Woman kamu, kamu kasih waktu istirahat juga.” Valen menatapnya lembut. “Ingat nggak? Aku pernah bilang, kamu nggak harus selalu kuat.”
Senyum Nadine perlahan muncul. Dia menatap Valen cukup lama.
Sementara itu, pikiran Valen justru berbelok ke arah lain. Nadine adalah keponakan Luciano Asvathama. Seharusnya itu bisa menjadi value tersendiri dalam penilaian Bernard Yang Agung itu.
Valen terdiam. Namun beberapa detik kemudian, dia mengoreksi pikirannya sendiri.
Enggak.
Enggak. Kalau gue berpikir seperti itu, artinya gue ikut jadi pemain di aturan yang Bernard buat.
Dia mengembuskan napas pelan. Enggak. Nilai seseorang nggak ditentukan oleh nama keluarganya.
Pikirannya kembali kepada percakapan tadi.
Valen menatap Nadine sejenak. Selain itu ... tadi Om Luciano bilang aku harus tanya Bernard. Gue tanya malam ini juga.
Dia kembali memusatkan perhatian kepada Nadine. “Kamu beneran nggak mau aku temenin?”
Nadine menggeleng sambil tersenyum. “Beneran.”
Dia menatap Valen dengan ekspresi yang jauh lebih ringan dibanding beberapa menit sebelumnya. “Next time, ya. Kita saling godain lagi.”
“Dengan senang hati,” sahut Valen sambil tersenyum lebar.
Dia mengambil tangan Nadine, lalu mengecupnya lembut sebelum melepaskannya.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling tersenyum.
Kemudian Valen berbalik dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Nadine dengan perasaan yang masih campur aduk, tetapi sedikit lebih hangat daripada sebelumnya.
Bab 32 – The Life I Choose
Begitu sampai di rumah Ghandy, Valen langsung menuju ruangan Bernard tanpa banyak basa-basi.
Dia menemukan ayahnya sedang duduk di balik meja, satu tangan memijat pelipis sementara tangan lainnya memegang botol minyak angin. Entah kenapa, malam itu wajah Bernard terlihat lebih tirus dari biasanya.
Begitu mendengar pintu terbuka, Bernard mengangkat pandangan. “Valen. Ada apa?”
Dia menutup botol minyak angin dan meletakkannya di atas meja.
Valen sempat memperhatikan wajah ayahnya beberapa detik. “Papa sakit?”
Begitu pertanyaan itu keluar, Valen langsung menyesalinya sendiri. Ngapain peduli?
Entah kenapa reaksi spontannya justru kepedulian. Padahal minyak angin memang sudah seperti sahabat kebanyakan orang berumur.
Bernard tidak menunjukkan reaksi apa pun terhadap pertanyaan itu. “Duduklah. Ada masalah apa?”
Valen menarik kursi di seberang meja dan duduk.
Dia tidak membuang waktu dan langsung bertanya, “Papa dulu udah habis-habisan selidiki Nadine. Ada hal lain yang Papa ketahui soal dia? Tentang keluarganya?”
Bernard tetap tenang. “Ya.”
Valen menatapnya. “Terus kenapa Papa nggak pernah bilang?”
“Karena itu tidak penting.”
“Buatku penting.”
Bernard akhirnya mengangkat wajah dan menatap putranya lebih tajam. “Beraninya kamu masih menemui perempuan itu?”
Valen mendecak pelan. Dia sudah menduga percakapan ini akan kembali ke sana.
“Saya tidak akan mengulang perkataan saya tempo hari,” lanjut Bernard, suaranya mulai mengeras.
Valen menahan napas sejenak sebelum menjawab, “Kalau memang soal masa lalu kelam Nadine yang menjadi titik permasalahan, seharusnya Om Andrew juga melarang Alexander berhubungan dengannya.”
Bernard tidak menjawab.
Valen terus menatapnya. “Tapi tidak. Justru sekarang saya yakin hal itu bukan cuma karena Papa nggak punya hak mengontrol Xander.”
Dia sedikit condong ke depan. “Ada hal lain, kan?”
Raut wajah Bernard berubah. Kesabarannya mulai menipis. “Perintah saya kurang jelas?”
“Pa ....”
Valen berhenti sebentar, lalu menatap ayahnya dengan lebih serius. “Sekali saja. Jawab saya.”
Bernard terdiam cukup lama.
Tatapannya kepada Valen berubah dingin, seolah dia sedang menimbang apakah putranya memang perlu diberi jawaban atau justru harus segera dihentikan.
Akhirnya Bernard berkata, “Baik.” Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Nadine adalah perempuan yang tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini.”
Valen mengerutkan kening.
Jawaban itu justru membuatnya semakin bingung. Kalimat yang terdengar seperti keputusan yang jauh lebih besar daripada sekadar keberatan terhadap masa lalu perempuan tersebut. Seolah Bernard mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Valen.
Namun sebelum Valen sempat bertanya lagi, Bernard sudah menutup percakapan. “Ini terakhir kalinya saya mendengar nama perempuan itu.”
Tatapannya tidak bergeser sedikit pun. “Pergilah.”
Keesokan harinya, Valen datang sendiri menemui Luciano Asvathama di kantornya.
Begitu Valen masuk ke ruangannya, Luciano langsung menyambut dengan senyum tipis yang sulit ditebak. “Valentino ... what a surprise.”
Valen hanya membalas dengan anggukan kecil. Setelah Luciano duduk, ia ikut mengambil tempat di sofa di hadapan pria itu. Kali ini, tidak ada basa-basi. Tatapannya serius, nyaris mendesak.
“Om ... maaf, saya langsung saja ke intinya. Saya ingin tahu semuanya.”
Luciano menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, “Kamu sudah bicara dengan ayahmu?”
“Sudah.”
“Lalu?”
Valen menarik napas pelan. “Papa tidak mau mendengar lagi nama Nadine. Dia menegaskan Nadine tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga.”
Luciano menghela napas panjang, seolah jawaban itu sama sekali tidak mengejutkannya. “Aku sudah menduga.”
Valen langsung menatapnya penuh rasa ingin tahu. Ada begitu banyak pertanyaan yang sejak kemarin berputar di kepalanya, dan kini ia merasa Luciano sedang memegang potongan terakhir dari teka-teki itu.
Namun, alih-alih langsung menjawab, Luciano justru bertanya, “Kamu tahu siapa nama kakek buyutmu?”
Valen sempat terdiam, jelas tidak menyangka pertanyaan itu akan menjadi awal pembicaraan mereka. Ia mencoba mengingat sesuatu yang pernah dilihatnya di Orison Golden. Di ruang rapat utama, ada sebuah lukisan besar pendiri dinasti yang selama ini hanya ia kenal sebagai bagian dari sejarah keluarga. Di bawah lukisan itu tercetak sebuah nama dan sebuah kalimat yang sejak dulu terasa seperti semboyan keluarga. Kalimat tersebut berbunyi: “Nama keluarga dibangun seumur hidup, tetapi bisa hancur dalam satu keputusan.”
Eduard Ghandy, 1902–1981.
“Eduard Ghandy,” jawab Valen akhirnya.
Luciano mengangguk pelan. “Benar.”
Ia menyandarkan tubuhnya, kemudian melanjutkan dengan suara tenang, seolah sedang menceritakan sejarah keluarga yang sudah ia hafal di luar kepala. “Dari garis keturunan selir ketiga Eduard, leluhurmu itu memiliki cucu bernama Anisa Ghandy.”
Valen tetap diam. Tatapannya terkunci pada Luciano, mencoba memahami ke mana arah pembicaraan itu.
“Anisa kawin lari,” lanjut Luciano. “Dan itu membuat keluarganya marah besar. Anisa kemudian dicoret dari silsilah keluarga.”
Valen mengernyit. “Oke ... lalu?”
Luciano menatapnya lurus. “Anisa kawin lari dengan kakak saya, Mas Yudhistira.”
Untuk sesaat, Valen hanya terpaku. Seolah otaknya menolak menyusun hubungan antara nama-nama yang baru saja didengarnya.
“Gak ....” Suaranya tercekat. Ia menggeleng pelan, kemudian menatap Luciano dengan mata yang mulai membesar. “Gak mungkin ....”
Luciano hanya mengangguk, kali ini dengan ekspresi yang benar-benar serius. “Kamu dan Nadine adalah sepupu tingkat dua. Masih kerabat, namun tidak masalah jika kalian menikah.”
Valen menelan ludah. Wajahnya masih menunjukkan ketidakpercayaan ketika ia memastikan kembali apa yang baru saja didengarnya. “Kakek buyut Nadine ... Eduard Ghandy? Kakek buyutku juga?”
Luciano mengangguk.
“Gak mungkin ...,” gumam Valen lagi, lebih kepada dirinya sendiri.
“Nadine adalah hasil persatuan dua keluarga hebat,” ujar Luciano. “Namun, dia berstatus outcast. Selama puluhan tahun, cerita ini dikubur sedemikian rupa. Itu kenyataannya.”
Ia mengangkat bahu ringan, seolah fakta sebesar itu tidak lagi memiliki daya kejut baginya.
Sementara Valen masih terpaku. Pikirannya bergerak cepat, menghubungkan semua hal yang selama ini terasa ganjil, semua sikap ayahnya, semua larangan yang tidak pernah masuk akal, hingga hubungan keluarga yang selama ini tidak pernah dibicarakan.
“Bernard tahu semua,” lanjut Luciano. “Tapi kelihatannya dia kukuh menganggap garis keturunan dari Anisa Ghandy itu tidak pernah exist.”
Valen perlahan mengangkat wajahnya. Sebuah kesimpulan mulai terbentuk di kepalanya. “...Makanya Andrew Ghandy gak pernah melarang Xander pacari Nadine.” Ia berhenti sejenak, masih mencoba memastikan dugaannya sendiri. “Karena Andrew gak sependapat dengan Bernard.”
“Ya,” jawab Luciano. “Kurang lebih.”
Valen kembali terdiam. Namun kali ini, bukan karena kehabisan kata-kata. Justru sebaliknya, terlalu banyak hal yang tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya.
Papa tahu.
Papa tahu soal hubungan Nadine dengan keluarga Asvathama. Papa juga tahu tentang hubungan Nadine dengan Ghandy. Tapi selama ini, dia tidak pernah mengatakan apa-apa.
Valen menatap kosong ke satu titik, pikirannya mulai menyusun kemungkinan yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan restu.
Papa sengaja melakukan itu.
Mungkin sejak awal, papa ingin melihat apakah gue akan memilih cinta atau tunduk pada keinginannya.
Jadi selama ini gue sedang diajak bermain di papan catur yang jauh lebih besar?
Luciano memperhatikan Valen yang tampak begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya memecah keheningan. “Nadine dan Narendra belum tahu soal ini.”
Valen mengangkat wajah dan menatapnya.
Luciano membalas tatapan itu dengan tenang. “Bukan hak saya untuk mengungkapkannya pada Nadine. Ini seharusnya tugas Bernard ... atau Andrew.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap Valen lebih dalam. “Atau kamu, Ghandy.”
Valen menyetir kembali ke kantornya dengan tatapan kosong. Bahkan ketika melewati lobby, langkahnya terasa seperti tidak benar-benar menapak di lantai. Kepalanya masih dipenuhi fakta-fakta yang baru saja ia dengar, seolah dalam dua hari berturut-turut, satu demi satu rahasia keluarga besar Nadine sengaja dibongkar di hadapannya.
Kalau gue ceritakan ini ke Nadine ... apa gak malah bikin dia makin antipati sama gue sebagai Ghandy?
Valen berjalan masuk ke lift sambil menatap lurus ke depan, tetapi pikirannya terus berputar.
Ke mana aja keluarga Ghandy selama ini? Sampai gak tahu ada cabang keluarganya sendiri yang struggle sampai berada di titik terendah hidup?
Ia mengembuskan napas pelan.
Ya emang gak tahu. Mau gimana? Gak bakal tahu kalau aja Om Luciano gak gerak dan selidiki semuanya.
Begitu pintu lift menutup, Valen bersandar sebentar pada dinding. Pikirannya kembali pada Nadine.
Tapi Nadine sekarang juga pasti masih menata napasnya gara-gara shock therapy Om Luciano kemarin. Bukan timing.
Ia memejamkan mata sejenak, lalu kembali teringat pada satu hal yang sejak tadi paling mengganjal pikirannya.
Yang bikin gue gak habis pikir justru respons Yang Mulia Bernard.
Kenapa dia alergi banget sama Anisa Ghandy, ibunya Nadine? Cuma gara-gara kawin lari?
Aneh banget.
Seharusnya yang berhak marah besar adalah orang tua Anisa. Itu pun, seiring waktu, mestinya mereka bisa melunak. Tapi bahkan sampai akhir hayat Anisa, gak pernah ada rekonsiliasi dengan keluarganya.
Valen mengernyit. Ia mencoba mencari kemungkinan lain, tetapi tidak menemukan satu pun yang terasa masuk akal.
Gak ada alasan lain yang terpikir sama gue ... selain filosofi itu. Afeksi melemahkan logika.
Mungkin filosofi itu memang mendarah daging sebegitu kuatnya sejak era Eduard Ghandy.
Valen membuka mata ketika lift berhenti di salah satu lantai, tetapi ia tidak keluar. Pikirannya justru semakin dalam menggali sejarah keluarganya sendiri.
Sebentar.
Ini memang mendarah daging sebegitu kuatnya.
Yudhistira dan Anisa mengusir Nadine beserta cucunya yang baru lahir. Setelah itu, mereka langsung move on. Gak pernah mencari lagi anak dan cucunya sendiri. Seolah keberadaan Nadine dan Vicky adalah semacam kuman yang harus disingkirkan dari kehidupan mereka.
Valen menelan ludah.
Yudhistira mungkin menjadi dingin karena trauma masa kecilnya. Ketidakmampuannya menjaga keluarga, mungkin. Atau jangan-jangan, tanpa sadar, dia justru mengulang pola traumanya sendiri kepada anaknya.
Tapi Anisa?
Pure heartless.
Sesederhana itu.
Karena dia membawa cara berpikir Ghandy.
Valen menundukkan kepala, lalu mengembuskan napas kasar. Damn.
Tiba-tiba sebuah kesadaran lain menghantamnya lebih keras. I carry that DNA.
Bukan sekadar nama keluarga. Bukan sekadar sejarah. Ada sesuatu dalam dirinya yang mungkin diwariskan jauh lebih dalam daripada yang selama ini ia sadari.
Gue gak mau piara filosofi sadis itu.
Gue gak mau jadi heartless seperti leluhur-leluhur gue. Apalagi seperti Bernard.
Valen mengangkat wajahnya perlahan.
Gue memutuskan rantai Ghandy berarti gue menolak mematirasakan hati yang gue punya.
Ia terdiam sejenak, kemudian sudut bibirnya bergerak tipis, bukan karena bahagia, melainkan karena akhirnya ia tahu apa yang harus dilakukan.
Gue memutuskan rantai Ghandy berarti ... gue udah duga. Gue memang harus buang lagi nama Ghandy.
Untuk yang kedua kalinya.
Dan kali ini ... never look back.
Valen tanpa sadar menatap pantulan dirinya sendiri di cermin lift. Di dadanya, pin monogram Gh yang dihubungkan oleh rantai menangkap pantulan cahaya. Tatapannya jatuh pada benda kecil itu cukup lama, seolah baru sekarang ia benar-benar memahami maknanya.
Rantai.
Lucu. Selama ini dia mengira itu sekadar simbol keluarga. Padahal mungkin memang itu yang harus dilakukan.
Diputus.
Valen menatap pantulannya sendiri dan berkata dalam hati, Rantai ini memang harus diputus.
Kemudian pikirannya beralih kepada satu orang yang sejak tadi menjadi pusat dari semua kekacauan ini.
Bernard. Lo ajak gue main catur?
Fine.
Tatapan Valen berubah. Ada ketenangan baru di sana, tetapi juga sesuatu yang jauh lebih keras.
Di sisa waktu ini, gue akan menjadi Ghandy seperti yang lo harapkan.
Gue bikin lo bangga. Sebangga-bangganya sama gue.
Bukan untuk validasi. Melainkan supaya setelah semuanya selesai, lo kecewa karena gue akan buang lagi nama lo.
Valen menarik napas dalam-dalam. Lalu gue fokus di dunia musik ... sebagai VG.
Tangannya perlahan mengepal kuat di sisi tubuhnya. Sebuah tanda bahwa keputusan itu sudah dibuat dan tidak akan ia tarik kembali.
Baru setelah itu Valen menyadari sesuatu.
Ia melirik panel lift, pintu lift sudah tertutup kembali. Ternyata sejak tadi lift yang dinaikinya sudah sampai di lantai tujuan, bahkan sudah sempat terbuka dan menutup lagi tanpa ia sadari.
Valen terkekeh kecil, kemudian menekan tombol buka pintu. Begitu pintu terbuka, ia melangkah keluar dengan langkah yang jauh lebih mantap.
Kali ini, Valen tahu persis ke mana ia akan pergi, dan apa yang harus ia lakukan.
Liam duduk santai di teras studio dengan rokok masih menyala di bibirnya. Satu tangannya memegang ponsel, ibu jarinya sibuk scrolling tanpa sedikit pun menunjukkan tanda-tanda tertarik pada apa pun di sekitarnya.
Valen berdiri di sampingnya sambil mengembuskan napas panjang. Setelah beberapa saat, ia akhirnya berkata, “Cerita tadi cuma ada di sini, oke? Jangan ada yang tahu. Bahkan ke Xander gue ngerasa gak sreg buat spill.”
Liam tidak bereaksi. Matanya masih terpaku pada layar ponsel.
Valen menoleh, lalu menyenggol lengannya. “Liam.”
“Heh!” Liam akhirnya menoleh dan buru-buru melepas rokok dari bibirnya. “Oh, sorry. Apaan tadi?”
Valen memutar bola mata, jelas mulai kesal. “Keep this story for yourself only. Jangan ceritakan ke siapa pun. Siapa pun.” Ia menatap Liam serius. “Gue cerita karena sekadar butuh telinga doang.”
Liam langsung mengangkat tangannya dan membentuk gestur oke dengan jarinya. “Beres.”
Namun sesaat kemudian, senyum jahil muncul di wajahnya. “Tapi sejujurnya, kaget juga sih. Cewek kesayangan lo itu rupanya bukan kaleng-kaleng. Asvathama sama Ghandy diraup sekaligus!”
Valen mendengus pelan. “Punya darah Ghandy bukan hal yang membanggakan.”
Liam malah terkekeh. “Lo tenang aja! Lo sama Nadine bukan inses.” Ia buru-buru mengangkat ponselnya dan memperlihatkan layar kepada Valen. “Nih, gue sengaja searching buat lo. Sepupu tingkat dua masih boleh nikah. Aman!”
Mata Valen langsung membesar, sementara pipinya sedikit bersemu karena topik yang dibawa Liam.
“Anjir, itu gue juga udah tahu.” Valen mendorong ringan ponsel Liam menjauh. “Bukan itu yang bikin pikiran gue berat.”
Liam memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik sebelum akhirnya menepuk bahu Valen. Kali ini nada suaranya berubah lebih serius.
“Denger gue, bro. Bakat lo tuh terlalu sayang buat disia-siakan.” Tangannya masih bertengger di bahu Valen ketika ia melanjutkan, “Lo udah benar balik lagi ke musik. Dan royalti-royalti yang udah lo terima? Itu bukti nyatanya.”
Valen terdiam, kemudian perlahan tersenyum. Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya kembali kokoh.
Liam ikut tersenyum melihat perubahan ekspresi Valen. “Jadi, gak usah ragu kalau lo mau kabur dari bapak ajaib lo itu. Dan jangan rendah diri mulu.”
Ia menepuk-nepuk bahu Valen cukup keras sampai tubuh Valen sedikit terdorong ke depan. “Udah, percaya sama diri lo sendiri.”
Sebelum Valen sempat menjawab, suara Rhea tiba-tiba terdengar dari arah pintu studio. “Guyss! Kok gak pada makan, sih?”
Keduanya menoleh bersamaan.
Rhea berdiri di ambang pintu sambil menunjuk ke arah dua cup Cup Mie yang tergeletak di meja. “Cup Mie lo berdua udah pada melar tuh!”
Liam langsung menepuk dahinya. “Astaga! Sampai lupa lo bikinin Cup Mie!”
“Ya makanya, udah yuk makan!” Rhea menggeleng sambil tertawa kecil. “Biar bisa cepetan mulai latihan.”
Liam berdiri dan menepuk lengan Valen. “Yok, Val.”
Valen mengangguk dan akhirnya ikut menyusul. Mereka bertiga masuk kembali ke dalam studio, meninggalkan obrolan berat tadi untuk sementara.
Hari itu, LA Band memang sedang mempersiapkan album ketiga mereka. Bagi Valen, mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kembali latihan musik.
Comments
Post a Comment