KAMPH (33-34)
Bab 33 – Calon Pilihan Keluarga Ghandy
Nadine sedang duduk sendirian di sebuah kafe di lantai bawah kantornya. Secangkir kopi ada di hadapannya, tetapi sejak tadi perhatiannya justru tertuju pada selembar kertas yang ia pegang. Ia masih termenung, seolah belum benar-benar bisa menerima apa yang tertulis di sana.
Valen datang menghampiri dari belakang, lalu menyentuh ringan bahunya. “Hai.”
Nadine sedikit terkejut dan langsung menoleh. “Eh. Hai, Val.” Suaranya terdengar datar, tidak seperti biasanya.
Valen menarik kursi di hadapannya lalu duduk. Ia memperhatikan wajah Nadine sejenak sebelum bertanya, “Kok murung?”
Nadine menggeleng kecil, kemudian tersenyum tipis sambil menyodorkan kertas yang sejak tadi ia pegang. “Masih kaget sama nominal sebanyak ini.”
Valen melirik sekilas. Begitu melihat deretan angka 0 yang tertera di sana, ia langsung tahu. “Dari Om Luciano?”
Nadine mengangguk.
“Itu angka yang wajar.”
Nadine langsung mengangkat alis. “Hah?”
Valen menahan senyum. “Angka segitu paling total uang jajan anak-anaknya selama dua bulan.”
Nadine melotot beberapa detik sebelum akhirnya meringis. “Oh iya ... anaknya sembilan, ya.”
Valen terkekeh kecil. “Udah jadi kenalan sama mereka?”
“Sabtu besok.” Nadine menghela napas panjang. “Mau janjian brunch di mal. Tiba-tiba punya sepupu sembilan ... Oh my God.”
Valen mengingat-ingat sebentar. “Seingatku, yang paling muda mungkin sekitar usia dua puluh satu. Yang tertua masih sepantaran kamu, paling.”
Nadine terdiam, kemudian menatap Valen dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. “Kayak apa sih anak-anaknya? Cantik-cantik?”
“Lumayan.”
Nadine langsung memicingkan mata.
Valen tersenyum santai. “Masih cantikan kamu.”
“Ihh.”
“Beneran.”
Nadine menahan senyum, lalu kembali bersandar di kursinya. “Nona-nona muda semua dong, ya. Jadi ajang adu cantik gak, nih?”
“Ya ....” Valen mengangkat bahu. “Yang jelas, kalau kalian main di mal, minimal semua mata tertuju pada kalian.”
Nadine meringis membayangkannya. “Tipenya princess elegan gitu? Atau ada yang suka clubbing juga?”
“Kurang tahu.” Valen kembali mengangkat bahu. “Bisa jadi beberapa suka.”
Ia kemudian melirik Nadine dengan senyum iseng. “Kamu mau ajak mereka clubbing?”
“Main ke Tunasmara mungkin seru ....” Nadine sempat terlihat antusias sebelum mendadak mengingat sesuatu. Ekspresinya langsung berubah. “Eh. Jangan deh. Nanti ketemu mantan.”
Senyum Valen seketika menjadi hambar. Ia memilih tidak mengomentari bagian itu dan mengalihkan pembicaraan. “Anyway, mau diapain uangnya? Om Luciano bilang apa?”
Nadine memainkan ujung kertas itu sebelum menjawab, “Hmm ... dia bilang buat pegangan aku. Atau buat buka usaha. Terserah, katanya.”
“Nah, kan.” Valen tersenyum. “Kayaknya jadi, nih, seriusin hobimu bikin kue.”
Nadine mengangkat bahu. “Belum yakin.”
“Kok?”
“Aku keep aja dulu uangnya. Aku masukin deposito atau instrumen investasi lain.” Ia berhenti sejenak, lalu dengan lebih mantap melanjutkan, “Sementara itu, aku belajar pelan-pelan.”
Valen mengangguk-angguk setuju.
“Aku juga tertarik mau ikut workshop baking,” lanjut Nadine.
“Good.”
Nadine tersenyum kecil. “Aku putusin gak terburu-buru. Takut aku habisin uang itu cuma karena lagi semangat. Aku bilang gitu ke Paman Luci, dan dia bilang bagus. Katanya, berarti aku udah mulai berpikir kayak orang yang akan mengelola bisnis.”
Valen yang sejak tadi mendengarkan akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Ia terkekeh pelan sambil menundukkan kepala.
Nadine langsung mengernyit. “Kenapa?”
“Sorry.” Valen masih tersenyum. “Kamu jadi panggil dia Paman Luciano?”
Nadine ikut menyeringai. “Ya daripada om? Dia mah literally om ketemu gede buatku.”
Valen kembali terkekeh. “Si Om oke-oke aja?”
“Semula dia bengong.” Nadine tertawa kecil mengingat reaksinya. “Tapi gak lama paham. Dia juga gak mau dianggap om-om senang.”
Valen masih tersenyum ketika tiba-tiba teringat sesuatu. “Kamu mau aku kenalin sama pastry chef? Biar bisa brainstorming soal bisnis.”
Nadine mengangkat wajahnya. “Teman kamu?”
Valen mengangguk.
“Boleh deh, kapan-kapan.” Nadine tersenyum tipis. “Kalau kakiku udah berasa kuat untuk mulai coba.”
Valen mengangguk santai. “Oke. Tinggal bilang aja nanti.”
Nadine mengangguk, lalu terdiam sebentar sebelum tiba-tiba teringat sesuatu. “Eh ... anak-anaknya Paman Luci itu, apa saudara kandung semua?”
Valen mengangkat alis. Senyum penuh arti perlahan muncul di wajahnya. “Istri satu, selir delapan.”
Nadine melotot. Ekspresinya berubah gemas sekaligus tidak percaya. “Ih! Udah kuduga. Ternyata doyan piara selir juga.” Ia menggeleng-geleng kecil. “Apa itu kebiasaan para konglo kayak kalian?”
Valen hanya diam menatapnya.
Nadine menghela napas, lalu tiba-tiba kembali menatap Valen dengan ekspresi yang lebih memohon. “Kamu mau ikutan gak? Meet up bareng anak-anak Paman Luci?”
Valen mengangkat alis. “Hah?”
“Mau yaa?” Nadine sengaja memasang tatapan memelas, seolah berharap tatapan itu cukup untuk membuat Valen tidak mungkin menolak.
Valen terdiam.
Gawat.
Sabtu ... Sabtu kan gue ketemuan sama Vanessa Mahendra.
Nadine masih menunggunya menjawab.
“Seenggaknya kamu kan lebih dulu kenal mereka,” lanjut Nadine, berusaha meyakinkan. “Biar ada yang nemenin aku. Aku berasa dikeroyok, tahu.”
Valen tersenyum tipis, tetapi akhirnya menggeleng.
“Sorry. Bukannya gak mau.” Ia memilih kata-katanya hati-hati. “Sabtu ini kebetulan aku ada jadwal meeting.”
Nadine langsung terlihat kecewa. “Sabtu masih kerja?”
“Ini exceptional.” Valen menjelaskan sambil mengangkat bahu. “Yang meeting sama aku biasanya di luar negeri. Baru Sabtu ini dia ada waktu.”
Nadine hanya mendesah galau. Jelas ia masih berharap Valen berubah pikiran.
“Kamu pasti bisa, deh. Langsung akrab sama mereka.”
Valen menatapnya beberapa saat. Ia sebenarnya ingin sekali mengatakan yang sebenarnya.
Sabtu nanti bukan sekadar meeting. Ia akan bertemu Vanessa Mahendra, perempuan yang namanya perlahan mulai dikaitkan dengan masa depannya sendiri.
Namun Valen menahan semuanya. Ia menggigit bibir sebentar, menekan dorongan untuk bicara. Belum sekarang.
Ponselnya tiba-tiba berdering.
Valen refleks merogoh saku dan melihat layar. Matanya langsung membesar ketika melihat nama investigator yang muncul di sana.
Ada sesuatu dalam ekspresinya yang berubah seketika.
“Sebentar ya,” katanya kepada Nadine.
Valen bangkit dari kursinya, lalu berjalan menjauh beberapa meter sebelum menerima panggilan itu.
Nadine hanya bisa memperhatikannya dari meja. Suara Valen terdengar samar dan tidak cukup jelas untuk ia pahami. Ia hanya sempat menangkap beberapa potong jawaban seperti, “Ya ...”, “Oke ...”, dan “Baik, sampai ketemu.”
Beberapa menit kemudian, Valen kembali ke meja.
Namun kali ini wajahnya sudah berbeda. Senyum yang tadi sempat muncul ketika mereka bercanda menghilang. Ada kegelisahan yang jelas terlihat di matanya.
Nadine langsung menyadarinya. “Everything's okay?”
Valen menarik napas pelan sebelum menjawab, “Nad ... aku harus kembali ke kantor. Gak apa, ya?”
Nadine mengangguk meski jelas masih berat hati. “Oke ....” Ia menatap wajah Valen beberapa detik, lalu bertanya lagi, “Tapi semuanya baik-baik aja, kan?”
Valen berusaha memberikan senyum untuk menenangkannya. “Gak perlu cemas. Urusan kerjaan.”
Nadine akhirnya ikut tersenyum, sedikit lebih lega. Pengalaman masa lalu membuat setiap telepon penting yang diterima Valen selalu menimbulkan kecemasan tersendiri dalam dirinya.
“Ya udah. Hati-hati di jalan.”
Valen mengangguk sebelum beranjak pergi.
Beberapa jam kemudian, di kantor Orison Silver Light, malam sudah larut.
Sebagian besar ruangan telah gelap, tetapi lampu di ruang kerja Valen masih menyala.
Valen duduk sendirian di balik meja, menopang dahinya dengan satu tangan. Di hadapannya, beberapa foto dan surat lama berserakan. Kertas-kertas itu sudah termakan usia, sebagian warnanya memudar dan tepinya mulai menguning.
Ada foto seorang anak laki-laki kecil.
Ada foto anak yang sama bersama seorang perempuan.
Foto anak kecil itu adalah dirinya sendiri.
Tangannya kemudian mengambil salah satu surat yang paling usang. Tulisan di sana sudah sedikit pudar, tetapi masih dapat dibaca.
“Valen, jagoan Mama.
Baik-baik ya kamu di rumah Papa. Maafkan Mama gak berdaya mempertahankan kamu. Siapalah Mama?
Maafkan Mama gak penuhi janji Mama untuk berkunjung. Papamu ingin kamu putus hubungan sama Mama. Dan lagi-lagi, Mama gak bisa menentang.
Semoga kamu mengerti.
Mama pilih hidup sendiri jauh dari kamu. Mama gak mau ganggu kamu. Tapi namamu selalu Mama sebut dalam doa Mama tiap malam agar kamu selalu berbahagia.
Hiduplah sesuai kata hati.
Mama sayang Valen.”
Jari Valen perlahan mengerat di sisi surat itu.
Suara investigator tadi kembali terngiang di kepalanya. “Maya Gani hidup bertahun-tahun dalam kesederhanaan. Tidak pernah menikah, tidak ada keluarga lain.”
Valen memejamkan mata.
“Meninggal karena sakit beberapa bulan lalu.”
Napasnya mulai terasa berat.
Kemudian suara itu kembali terdengar dalam ingatannya.
“Kami mendapatkan komentar dari tetangga Maya Gani. Dia selalu bilang anaknya pasti sudah menjadi orang hebat.”
Valen membuka mata perlahan.
Tatapannya jatuh kembali pada foto perempuan yang selama bertahun-tahun hanya ia kenal sebagai sosok dalam ingatan masa kecilnya.
“Mama ....” Suaranya nyaris tidak terdengar.
Seketika matanya memerah. Ia terisak singkat, lalu buru-buru menarik napas panjang dan menyeka air mata yang mulai jatuh. Setelah itu, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, tetapi justru semakin sulit menahan perasaan yang sejak tadi ia tekan.
“Seandainya gue cari Mama sejak lama ....” Suaranya bergetar. “Mungkin masih ada kesempatan buat ketemu.”
Valen menundukkan kepala. Tangannya mengepal kuat di atas meja.
“Kenapa baru sekarang gue cari Mama?”
Pertanyaan itu menggantung di ruangan yang sunyi.
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas Valen yang semakin berat.
Beberapa detik kemudian, air matanya kembali mengalir tanpa izin. Kali ini ia tidak lagi berusaha menyekanya. Ia hanya duduk di sana, memandangi foto ibunya dalam diam, dengan satu kesadaran pahit yang tidak mungkin lagi diubah.
Ia terlambat.
Sabtu itu, di sebuah mal.
Sudah sepuluh menit Valen duduk di sebuah restoran, menunggu orang yang seharusnya datang menemuinya. Sejak tadi lututnya terus bergoyang di bawah meja. Ia tidak gugup. Ia hanya tidak sabar ingin hari ini segera berganti dan seluruh urusan ini cepat selesai.
Hingga akhirnya, orang yang ditunggunya muncul.
Vanessa Mahendra datang dengan perawakan tinggi dan langsing, mengenakan barang-barang branded dari ujung kepala sampai kaki. Dagunya terangkat hampir sepanjang waktu, dan cara berjalannya memancarkan keyakinan seseorang yang terbiasa menjadi pusat perhatian.
Valen bahkan langsung tahu siapa perempuan itu sejak Vanessa baru melewati pintu masuk restoran.
Ia mengembuskan napas panjang ketika melihat cara Vanessa berjalan menuju mejanya, diikuti seorang waiter yang siap membantunya.
“Ini sih cocoknya sama Michael ...,” gumam Valen pelan.
Vanessa akhirnya tiba di depan mejanya. Valen langsung berdiri untuk menyambut.
“Valentino Ghandy?”
Valen mengangguk sopan. “Kamu pasti Vanessa Mahendra.”
Ia mengulurkan tangan.
Vanessa membalas jabatan tangannya, tetapi sekadarnya saja. Jemarinya hanya menempel sebentar sebelum ia segera melirik waiter yang sudah menarikkan kursi untuknya. Tanpa banyak bicara, Vanessa duduk dan menunggu Valen kembali mengambil tempat di hadapannya.
Valen ikut duduk, lalu berbicara sebentar kepada waiter untuk memastikan pesanan mereka. Setelah pesanan dicatat dan waiter pergi, Vanessa justru sibuk memperhatikan keadaan restoran.
Restoran itu memang tidak penuh. Beberapa meja masih kosong, sementara beberapa lainnya ditempati pengunjung.
Vanessa mendecih pelan. “Kenapa gak booking full, sih?”
Valen menatapnya.
Vanessa menyandarkan tubuhnya dengan ekspresi tidak puas. “Kenapa kamu gak booking satu restoran? Aku gak terbiasa makan bareng orang asing.”
Valen melirik sekeliling sebentar sebelum kembali menatapnya. “Restoran ini masih punya kursi kosong.”
Vanessa mengangkat alis. “That's not my point.”
“Aku tahu.”
“Kalau keluarga Mahendra reservasi, biasanya satu lantai.”
Valen hanya mengangguk pelan, sama sekali tidak terlihat terkesan. “Menurutku, restoran dibuat untuk orang makan,” katanya tenang. “Bukan dipamerkan kalau kita mampu menyewanya.”
Vanessa langsung melotot. Nada bicaranya berubah sedikit tersinggung. “Jadi menurutmu itu flexing?”
“Sort of.” Valen mengangkat bahu. “Kupikir lebih baik uangnya dipakai buat hal lain.”
Vanessa menatapnya dengan ekspresi menantang. “Misalnya?”
“Bayar makanan.”
Vanessa menatap Valen beberapa detik, seolah sedang memastikan pria di hadapannya benar-benar serius. “Kamu CEO, kan? Kok pelit amat?”
Valen menahan napas sejenak.
Beneran. Michael bakal cocok sama perempuan ini.
Namun beberapa detik kemudian, muncul kemungkinan lain di kepalanya.
Atau jangan-jangan mereka malah saling bunuh di hari ketiga.
Valen akhirnya hanya tersenyum tipis. “Well, saya gak bertanggung jawab atas asumsi orang lain pada saya.”
Vanessa mendecih. “Dih.”
Valen memilih tidak menanggapi. Ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi, lalu berkata, “Bagaimana kalau kita bahas topik yang lain?”
Vanessa mengembuskan napas malas. “Go on.”
Valen berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangkat topik yang sejak awal memang menjadi alasan mereka duduk bersama.
“Hmm ... bagaimana pendapatmu tentang perjodohan kita?”
Vanessa langsung menatapnya.
“Jujur, ya.” Ia berhenti sejenak, seolah sengaja ingin memastikan kalimat berikutnya terdengar jelas. “Dari kesan pertama aja, aku udah gak suka kamu.”
Valen terdiam.
Vanessa melanjutkan dengan santai, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak luar biasa. “Tapi kita tetap nikah.”
Valen masih menatapnya tanpa berkata-kata.
Vanessa sedikit memiringkan kepala. “Problem?”
Valen akhirnya tersenyum tipis dan menggeleng. “Okay.”
Ia berhenti sebentar, lalu mengalihkan pembicaraan ke pertanyaan yang jauh lebih penting untuk masa depan mereka. “Lalu ... bagaimana pendapatmu tentang anak-anak?”
Vanessa menatapnya.
Valen melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. “Kamu suka anak kecil?”
Vanessa menatap Valen beberapa detik, lalu tiba-tiba seperti teringat sesuatu. “Oh. Right. Kamu udah punya anak.”
Ia menghela napas panjang.
Valen hanya membalas dengan senyum hambar.
“Aku gak suka anak kecil,” lanjut Vanessa tanpa basa-basi. “Setelah kita nikah, anak kamu dipegang nanny dua puluh empat jam. Aku gak mau ada urusan.”
Valen mengernyitkan kening, tetapi belum sempat mengatakan apa-apa ketika Vanessa kembali melanjutkan, “Lalu kalau kita nanti punya anak, aku juga tetap gak mau urus. Iih. Dengar bayi nangis aja bikin pusing.”
Valen terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertanya dengan nada hati-hati. “Seenggaknya, kamu tetap bersedia hamil dan melahirkan. Benar?”
Vanessa langsung menggeleng cepat. “Sewa surrogate mother aja, kenapa sih? Nanti badanku rusak.”
Valen menghela napas dalam-dalam. Kalau sifat bisa mengeluarkan suara, cewek ini baru saja membunyikan alarm kebakaran.
Sebelum Valen sempat mengatakan sesuatu, Vanessa malah beralih topik. “Gantian aku yang nanya. Kamu biasanya naik jet pribadi, kan?”
“Kalau jauh.”
“Kalau dekat?”
“Mobil.” Valen menjawab santai. “Kalau walking distance, ya jalan.”
Vanessa menatapnya dengan ekspresi horor. Tangannya bahkan hampir terangkat untuk melakukan facepalm, tetapi ia mengurungkan niat itu dan buru-buru mencari topik lain.
“Papa bilang nilai kerja sama Mahendra Group bisa tambah seratus dua puluh triliun.”
Valen mengangguk sopan. “Lumayan.”
Vanessa mengernyit. “...Lumayan?”
“Iya.”
“Kamu tahu itu seratus dua puluh triliun?”
“Aku tahu.”
“Terus?”
Valen berpikir sebentar sebelum menjawab dengan tenang. “Tetap gak bisa beli appetite.”
Vanessa terdiam.
“Ya emang appetite gak bisa dibeli ...,” gumamnya sambil akhirnya benar-benar melakukan facepalm. Ia menggeleng tidak percaya. “Aneh banget sih kamu tuh?”
“Mungkin.” Valen tetap santai. “Anggap saja itu kelemahanku.”
Vanessa mengamati Valen beberapa saat, lalu bertanya, “Hmm. Terus menurutmu kelemahanku apa?”
Kali ini Valen benar-benar berpikir. Ia menyesap air terlebih dahulu sebelum menjawab, “Kamu mau jawaban sopan atau jujur?”
Vanessa justru terlihat tertarik. “Jujur.”
Valen meletakkan gelasnya perlahan. “Kamu terlalu terbiasa jadi orang paling penting di ruangan.”
Hening sejenak.
Vanessa menatap Valen tanpa berkedip, seolah tidak menyangka pria itu akan benar-benar mengatakannya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya sudut bibir Vanessa terangkat membentuk senyum kecil. “Berani juga.”
Mungkin selama ini orang-orang di sekitarnya terlalu terbiasa menjilat dan mengiyakan apa pun yang ia katakan. Setidaknya, pria di hadapannya tidak melakukannya.
Sementara itu, brunch Nadine bersama sembilan anak Luciano Asvathama ternyata berjalan jauh lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan.
Setelah selesai brunch, mereka bahkan sempat pergi ke salon dan menghabiskan waktu bersama sebelum akhirnya berpencar. Nadine yang sejak awal sudah cemas akan merasa seperti orang asing justru mendapatkan sambutan yang hangat. Gadis-gadis muda itu ternyata ramah, terbuka, dan sama sekali tidak membuatnya merasa sedang berada di tengah keluarga yang baru dikenalnya.
Ketika akhirnya berpamitan, Nadine menyusuri deretan outlet di dalam mal dengan hati yang jauh lebih ringan. Ia bahkan mulai merasa excited dengan kenyataan bahwa dirinya sekarang punya sembilan sepupu baru yang ternyata cukup friendly.
Namun ketika melewati sebuah restoran, entah kenapa langkah Nadine melambat.
Sesuatu membuatnya menoleh.
Dan dalam satu detik, wajahnya berubah pucat. Di balik kaca restoran itu, dari kejauhan, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
“Valen?”
Nadine terpaku.
Ia refleks melihat jam, kemudian kembali menatap ke arah restoran. “Katanya meeting ...?”
Posisi Nadine kebetulan cukup terlindungi oleh deretan tanaman hias di sekitar restoran, sehingga Valen sama sekali tidak menyadari keberadaannya.
Dari tempatnya berdiri, Nadine hanya bisa melihat Valen duduk berhadapan dengan seorang perempuan cantik.
Mereka makan berdua.
Berbicara santai.
Dan pada satu titik, perempuan itu tersenyum.
Nadine tidak mendengar satu pun percakapan mereka. Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Tidak tahu siapa perempuan itu. Tidak tahu bahwa pertemuan tersebut sama sekali tidak berjalan seperti yang mungkin terlihat dari luar.
Yang ia tahu hanya apa yang tertangkap matanya.
Dan entah kenapa, senyum perempuan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada seharusnya.
“Itu bukan senyum seorang kolega bisnis ...,” gumam Nadine pelan.
Dadanya terasa sesak.
Potongan-potongan percakapan lama yang pernah ia dengar mendadak bermunculan di kepalanya. Tentang keluarga. Tentang perjodohan. Tentang pilihan yang mungkin sudah dibuat jauh sebelum dirinya masuk ke dalam kehidupan Valen.
Nadine kembali menatap perempuan itu.
Kemudian pikirannya sampai pada satu kesimpulan yang membuat wajahnya semakin pucat.
Jadi ... diakah calon pilihan keluarga Ghandy?
Bab 34 – I Won’t Wait for You
Nadine duduk di sofa sambil memeluk kedua kakinya. Tayangan televisi di depannya hanya menjadi background noise yang tidak benar-benar ia dengarkan. Pikirannya masih kembali pada pemandangan di restoran tadi siang.
Di kamar, Vicky sibuk sendiri. Dari balik pintu yang tertutup, samar-samar terdengar musik diputar non stop.
Jadi dia pun udah dijodohkan .... Nadine menundukkan kepala, dagunya bertumpu di lutut.
Kenapa sih gak bilang?
Ingatan tentang beberapa percakapan mereka kembali muncul. Valen pernah terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi pada akhirnya mengurungkan niat. Waktu itu Nadine tidak terlalu memikirkannya.
Sekarang semuanya terasa berbeda. Mungkin memang itu yang sebenarnya ingin dia katakan waktu itu. Mungkin dia belum berani mengaku.
Bel tiba-tiba berbunyi.
Nadine tersentak kecil. Ia perlahan bangkit dari sofa, lalu menyeret langkah menuju pintu. Sebelum membukanya, ia mengintip lewat lubang pintu.
Nadine langsung membeku.
Valen. Ia berdiri di luar sambil membawa dua kantong belanjaan.
Nadine sempat ragu cukup lama sebelum akhirnya membuka pintu.
“Hai.” Valen langsung tersenyum hangat begitu pintu terbuka.
Nadine berusaha membalas senyum itu meski wajahnya terasa kaku. “Halo.”
Ia bergeser, mempersilakan Valen masuk.
Valen melangkah ke dalam lalu duduk di sofa, sementara Nadine berjalan ke dapur untuk mengambilkan minum. Beberapa saat kemudian, ia kembali membawa secangkir teh dan meletakkannya di meja.
Nadine kemudian duduk di sofa yang sama, tetapi tanpa sadar mengambil jarak cukup jauh dari Valen.
Valen tidak terlalu menyadarinya. “Gimana tadi ketemuan sama Asvathama girls? Seru?”
Nadine mengangguk. “Seru. Mereka welcome sama aku.”
“Good to hear that.” Valen tersenyum lega.
Nadine hanya diam.
Beberapa detik kemudian, ia memberanikan diri bertanya, “Emm ... gimana keadaanmu?”
Valen menoleh.
“Kemarin kamu bilang soal mama kamu ....” Nadine berhenti sebentar, mencari cara yang tepat untuk mengatakannya. “Kamu gak apa-apa?”
Valen tersenyum tipis dan mengangguk. “Mamaku udah gak ada,” katanya pelan. “Tapi kenangan kami akan terus hidup di sini.”
Ia menunjuk hatinya sendiri. “Itu yang harus aku embrace. Selain itu, foto-foto lama yang aku terima juga jadi obat rindu.”
Nadine menatapnya dengan lembut. “Boleh aku lihat?”
Valen menggeleng kecil. “Wah, aku gak bawa. Next time aku kasih lihat, ya.”
Nadine tersenyum tipis. “Dari ceritamu ... aku bisa bayangkan mamamu pasti cantik.”
Valen mengangguk pelan.
“Oh iya.” Ia baru teringat sesuatu. “Vicky mana?”
“Ada di kamar. Mau aku panggilkan?”
Valen justru mengambil salah satu shopping bag berukuran besar dan menyerahkannya kepada Nadine.
“Aku beliin sepatu buat Vicky. Cobain dulu, ya. Kalau ukurannya gak pas, langsung bilang ke aku biar aku tukar.”
Nadine menerima kantong itu dengan bingung. “Oh ... kamu repot-repot banget?”
“Sekalian belanja.”
Nadine membuka shopping bag tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah kotak sepatu dari brand ternama. Belum sempat ia berkata apa-apa, Valen sudah mengambil satu shopping bag lain yang ukurannya jauh lebih kecil.
“Yang ini buatmu.” Ia menyerahkannya sambil tersenyum.
Nadine menatap kantong itu, lalu menatap Valen dengan bingung.
“Buka dong.”
Nadine akhirnya mengeluarkan isinya. Sebuah kotak beludru biru tipis dengan emboss logo toko perhiasan ternama.
Napas Nadine tertahan.
Perlahan ia membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian yang berkilauan terkena cahaya ruangan.
Valen masih tersenyum ketika berkata, “Semoga suka, ya.”
Nadine tidak menjawab.
Ia menatap kalung itu cukup lama, kemudian perlahan menutup kembali kotaknya. Setelah itu, ia meletakkannya di atas meja dan mendorongnya kembali ke arah Valen.
“A-aku gak bisa terima ini ....” Nadine menelan ludah. “Maaf.”
Senyum Valen menghilang. “Kamu gak suka, ya?”
Nadine menggeleng cepat. “Bukan itu.”
Ia menatap kotak perhiasan tersebut, bukan wajah Valen. “Aku ... aku gak tahu kenapa kamu masih kasih aku hadiah.”
Valen terdiam. Ia menatap Nadine dengan bingung. “Emangnya kenapa?”
Nadine tidak menjawab. Ia justru tiba-tiba bangkit. “Sebentar, ya.”
Sebelum Valen sempat bertanya, Nadine sudah berjalan masuk ke kamar, meninggalkannya sendirian di sofa.
Valen hanya bisa menatap ke arah kamar dengan dahi berkerut.
Tidak lama kemudian, Nadine kembali.
Kali ini ia membawa beberapa barang sekaligus. Satu kotak beludru lain dengan logo toko perhiasan ternama yang berisi gelang, satu kotak berbentuk kubus dengan logo toko arloji, serta sebuah tas branded.
Semuanya ia letakkan di atas meja.
Barulah Nadine kembali duduk.
Valen menatap barang-barang itu dengan kebingungan yang semakin besar. Ia mengenali semuanya. Hadiah-hadiah yang pernah ia berikan kepada Nadine ketika mereka masih sering berkencan dulu.
Tatapan Valen perlahan beralih kepada Nadine, jelas meminta penjelasan.
Nadine menarik napas dalam-dalam. “...Maaf, ya.”
Ia mendorong semua barang itu sedikit lebih dekat kepada Valen. “Aku kembalikan semuanya yang dari kamu.”
Valen terlihat terpana. “K-kenapa?” Suaranya terdengar kehilangan arah. “Kamu kok tiba-tiba jadi ....”
Nadine memotongnya pelan. “Aku udah tahu.”
Valen mengernyit. “Huh?”
“Kamu dijodohkan?”
Valen tersentak, wajahnya seketika pucat.
Nadine memperhatikan perubahan ekspresinya dan seolah mendapatkan jawaban dari sana.
“Aku lihat kamu,” katanya pelan. “Makan berdua sama perempuan cantik. Yang kata kamu meeting.”
Valen tidak menjawab.
“Aku tahu kamu.” Suara Nadine mulai bergetar. “Kalau beneran meeting, kamu pasti sama Selly. Tapi ini berdua aja.”
Valen menelan ludah.
Nadine mencoba mempertahankan suaranya agar tetap tenang.
“Kalian senyum ....” Ia tersenyum kecil, tetapi senyum itu terasa begitu getir. “Terlihat serasi.”
Valen semakin tidak mampu berkata-kata.
“Kenapa gak bilang, sih?”
Valen menundukkan kepala.
“Aku ....” Ia menarik napas, lalu akhirnya berkata dengan suara rendah. “Belum sanggup cerita. Maaf.”
Nadine memaksakan senyum. “Terus kapan kamu sanggup bilang?”
Valen diam.
Tatapan Nadine perlahan turun ke tangannya sendiri.
“Aku udah duga,” gumamnya lirih. “Makanya aku gak berharap banyak sama kamu sejak kita dekat lagi.”
Kalimat itu menghantam Valen jauh lebih keras daripada kemarahan apa pun.
Nadine tertawa kecil, tetapi yang keluar justru terdengar seperti tawa sumbang. “Aku malah sempat mikir naif.”
Valen mengangkat wajah.
“Aku pikir nilaiku berubah sedikit di mata papamu setelah background keluarga aku diungkap Paman Luci.” Nadine menggeleng pelan. “Naif banget akunya.”
Ia tertawa kecil lagi, kali ini dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Lagi-lagi berharap.”
Valen langsung menggeleng cepat. “Nilai seseorang gak ditentukan nama keluarganya.”
“Oh, begitu?” Nadine menatapnya. “Nilaiku tetap jelek karena masa lalu kelam aku, ya?”
“Maksud aku bukan gitu.”
“Terus?”
Nadine menatapnya lurus. Kali ini ia tidak lagi berusaha menyembunyikan luka di wajahnya. “Terus kamu ngapain masih bawain aku kalung berlian?”
Valen terdiam.
“Kamu masih mau lanjut sama aku?” Suara Nadine mulai pecah. “Gimana ceritanya? Kamu bentar lagi nikah sama orang lain.”
Valen membuka mulut, tetapi tidak ada satu pun jawaban yang berhasil keluar.
Nadine menggeleng kecil, semakin frustrasi melihatnya. “Aku gak ngerti sama kamu.”
Ia mengusap cepat sudut matanya sebelum air mata benar-benar jatuh. “Kamu sering bilang aku harus cari orang yang menomorsatukan aku.”
Nadine menatap Valen dengan kecewa yang jauh lebih dalam daripada sekadar cemburu. “Bacot doang, tahu gak?”
“Nad, dengar dulu.”
“Sekarang bilang, rencana kamu apa?” Nadine menatap Valen dengan mata yang masih penuh air mata. “Apa kamu juga kayak Xander? Yang menerima dijodohkan tapi tetap lanjut sama aku? Kamu mau jadikan aku boneka juga?”
Suaranya pecah di ujung kalimat.
“Kalian semua tuh sama aja,” lanjutnya tersendat sambil menangis. “Egois akut. Selalu lihat orang sebagai barang!”
Valen yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya sedikit tersinggung. “Kamu bisa dengar aku dulu gak?”
“Gak usah!” Nadine langsung menggeleng. “Aku tahu siasat kamu. Ngebacot lagi ini itu, bikin aku percaya, lalu nanti aku dijatuhkan lagi.”
Ia mengusap air mata dengan kasar. “Kamu gak pernah bisa ambil keputusan. Makanya kamu mau ambil semua pilihan. Kamu gak perlu kasih berlian, aku sekarang bisa beli sendiri kalau aku mau.” Tatapannya jatuh pada kotak perhiasan di atas meja. “Tujuanmu flexing doang, pasti. Atau kamu pikir berlian kamu bakal bikin aku mau jadi boneka di tengah pernikahan kamu?”
Rahang Valen mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuh, gemetar menahan marah.
Namun ia tidak membalas.
Ia tahu, kalau sekarang ia hanya melemparkan kata-kata untuk memenangkan perdebatan, semuanya akan semakin buruk. Yang Nadine butuhkan bukan janji atau penjelasan kosong. Ia butuh aksi.
Nadine kembali menangis, tetapi kali ini suaranya terdengar lebih tegas.
“Kamu pernah berusaha bikin aku benci kamu. Good job.” Ia menarik napas yang tersendat. “Kamu berhasil sekarang.”
Ia menatap Valen dengan mata merah. “Lebih baik aku benci kamu daripada aku harus terus ketar-ketir, bingung bakal jadi apa akunya.”
Nadine mengusap wajahnya. “Aku gak akan jadi boneka. Siapa pun.”
Valen mengangguk kaku. Suaranya terdengar datar ketika akhirnya menjawab, “Setidaknya salah satu misiku berhasil.”
Nadine terdiam.
“Misi bikin kamu punya niat teguh yang gak akan jadi boneka siapa pun.” Valen menatapnya sebentar. “Well done.”
Nadine membeku. Rahangnya mengencang, sementara air mata yang tadi sempat mengalir kini mengering sendiri sebelum sempat ia seka. Ia sengaja memalingkan wajah, tidak ingin lagi melihat Valen.
Valen menatapnya beberapa detik.
Kemudian tiba-tiba ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. “Nggak, nggak, nggak ....”
Ia mengusap wajah berkali-kali sambil menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Setelah beberapa kali mencoba menenangkan diri, ia menggeleng.
“Nggak. Bukan itu yang harus disampaikan.”
Valen kembali menarik napas dalam-dalam, menahannya beberapa detik, lalu mengembuskannya.
Nadine akhirnya melirik.
Setelah beberapa lama, keadaan kembali hening.
Valen menatap Nadine yang masih terlihat kacau. “Oke. Kita sama-sama emosi.”
Ia meraih cangkir teh yang tadi diletakkan Nadine di meja. Namun bukannya meminumnya sendiri, Valen justru menyodorkannya kepada Nadine.
“...Minum dulu biar tenang.”
Nadine menatap cangkir itu. “Itu kan teh kamu.”
“Minum.”
Nadine meliriknya dengan kesal, tetapi akhirnya menurut. Ia mengambil cangkir tersebut dan menyesapnya perlahan. Kehangatan teh menjalar sampai ke jemarinya, sedikit membantu tubuhnya yang sejak tadi tegang.
Valen menunggu sampai Nadine selesai meneguk sebelum akhirnya berbicara.
“Nad ... aku tahu. Aku paham banget kamu sedih, marah, kecewa karena aku gak juga ambil keputusan.”
Nadine tetap diam.
“Aku paham,” lanjut Valen. “Dan aku minta maaf karena itu. Hubungan kita jadi gak jelas begini. Kamu kehilangan harapan berkali-kali. Mungkin lama-lama kamu jadi apatis.”
Ia menatap Nadine dengan serius. “Semua perasaan kamu valid.”
Nadine masih tidak menjawab.
“Tapi jujur ....” Valen berhenti sejenak. “Aku juga tersinggung kamu punya pikiran sejelek itu ke aku.”
Nadine perlahan menundukkan kepala. “...Maaf.”
Valen mengangguk kecil.
“Yang bisa aku katakan sekarang ....” Ia menarik napas. “Aku masih ... maksudku, aku sedang mengusahakan sesuatu.”
Nadine langsung mengangkat wajahnya. “Apa?”
“Belum bisa aku ceritakan.”
“Kenapa?”
Valen terdiam sejenak sebelum menjawab, “Karena aku gak tahu usahaku akan berhasil atau malah ... gagal.”
Nadine kembali menunduk.
“Bisa dibilang aku sedang main catur sama Bernard,” lanjut Valen. “Aku cuma gak mau kamu ikut masuk ke permainan itu.”
Nadine menghela napas pelan. “Kamu selalu begini.”
Valen mengernyit. “Maksudnya?”
“Aku jadi gak tahu kamu sebenarnya melindungiku ....” Nadine menatapnya dengan mata yang masih basah. “Atau malah menyingkirkanku.”
Valen langsung menggeleng. “Nad ... kalau aku ajak kamu masuk, aku gak bisa jamin kamu gak akan ikut terluka.”
Nadine terdiam sebentar sebelum menjawab dengan suara lirih. “Valen ... aku udah terluka.”
Kalimat itu membuat Valen terdiam.
“Justru karena aku tahu luka-luka kamu,” katanya kemudian. “Aku takut lukamu bisa bertambah.”
Nadine tidak menjawab. Ia hanya menatap Valen lama sekali.
Valen pun membalas tatapan itu.
Hening membentang di antara mereka, tetapi kali ini tidak terasa setajam sebelumnya.
Setelah beberapa saat, Nadine akhirnya bertanya dengan suara pelan. “Kamu ... udah ambil keputusan, ya?”
Valen tidak menjawab.
“Aku ngerasanya gitu.” Nadine terus menatapnya, seolah sedang membaca sesuatu dari wajah pria itu. “Apa benar?”
Valen masih diam.
“Makanya kamu bilang sedang mengusahakan sesuatu?”
Valen tetap tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak mengaku, namun ia juga tidak menyangkal.
Anehnya, hening kali ini justru terasa lebih nyaman.
Nadine perlahan memahami arti diam itu. Berarti memang iya. Valen sudah mengambil keputusan.
Hanya saja, keputusan itu masih berupa sebuah jalan yang belum diketahui ujungnya. Apakah akan berakhir dengan keberhasilan atau kegagalan, itu yang belum bisa Valen pastikan kepadanya.
Nadine menarik napas panjang. “Baiklah.”
Valen menatapnya.
“Aku gak akan nanya lagi.”
Valen tetap diam.
Nadine menatap cangkir teh di tangannya sebelum melanjutkan dengan suara lebih pelan. “Aku juga gak akan nunggu.”
Valen menundukkan kepala.
“...Bukan karena aku berhenti sayang.” Nadine terdiam beberapa saat. “Tapi karena aku juga harus lanjut hidup.”
Valen mengangguk pelan. Ia tahu dirinya tidak punya hak meminta Nadine menunggu. “Itu yang seharusnya kamu lakukan.”
Hening kembali memenuhi ruangan.
Beberapa detik kemudian, Valen akhirnya berkata dengan suara rendah. “Kalau suatu hari nanti aku datang ....”
Nadine mengangkat wajah.
Suara Valen perlahan menguat. “...aku akan datang tanpa rantai.”
Nadine tersenyum getir. “Deal.”
Ia menarik napas pelan. “Datanglah karena semuanya sudah selesai.”
Valen mengangguk. “Ya.
Mereka kembali terdiam selama beberapa detik.
Kemudian Valen berdiri. “Jaga dirimu.”
Tatapannya sempat jatuh pada barang-barang yang tadi ia belikan dan kini masih tergeletak di atas meja. “Simpan semua ini.”
Nadine tidak menjawab.
Valen mengambil langkah menuju pintu, lalu pergi meninggalkan apartemen Nadine.
Comments
Post a Comment