KAMPH (35)
Bab 35 – CHECKMATE – 85 Trillion Is Worth More Than a Marriage
“The Nesia Business Excellence Council is honored to inform you that you have been selected as a finalist for the 2026 Business Leader of the Year Award.”
Demikian isi surat fisik premium yang kini dibaca Valen sambil tersenyum tipis. Surat resmi itu baru tiba di mejanya hari ini, sehari setelah ia menerima panggilan pribadi dari Ketua Dewan NBEA, Nesia Business Excellence Awards, yang mengabarkan hal serupa.
Nesia Business Excellence Awards merupakan ajang tahunan yang mempertemukan regulator, investor, dan pelaku industri untuk memberikan penghargaan kepada perusahaan serta pemimpin yang dinilai paling berpengaruh dalam transformasi bisnis nasional.
Nama Ghandy dan Orison sendiri bukanlah nama asing dalam daftar finalis maupun nominee setiap tahunnya. Namun tahun ini, giliran Valen dan Orison Silver Light yang berada di posisi tersebut.
Valen melipat kembali surat itu dengan rapi dan masih mempertahankan senyum tipis di wajahnya. Ia duduk di bangku belakang mobil ayahnya, sementara kendaraan tersebut melaju tenang menuju venue meeting yang akan mereka hadiri.
Pertemuan kali ini bukan pertemuan biasa. Mereka akan bertemu calon investor dari Aramian. Sebagai negara penghasil minyak terbesar di dunia, Aramian dikenal sebagai negeri dengan kekayaan yang nyaris tak mengenal batas. Para elite dan keluarga konglomeratnya hidup dalam kemewahan yang bahkan bagi orang-orang kaya sekalipun terasa berlebihan.
Jika kesepakatan itu berhasil, proyek senilai 85 triliun tersebut akan menjadi proyek terbesar sepanjang sejarah Orison Silver Light.
Bernard baru saja mengakhiri panggilan telepon ketika matanya melirik kepada Valen. “Apa itu?”
Valen menoleh. “Dari penyelenggara awards.”
Bernard mengangkat alis, lalu membuka tablet miliknya tanpa menoleh pada Valen. “Kamu masuk nominasi?”
“Ya. Individu dan kantor.”
Mata Bernard masih tertuju pada layar. “Individu. Business Leader of the Year?”
Valen mengangguk.
Bernard terdiam sebentar sebelum berkata, “Menarik. Alexander juga nominee.”
Valen kembali mengangguk. “Bukan hal aneh.”
Hening sejenak memenuhi kabin.
Bernard kemudian menggeser layar dan bertanya seolah pembicaraan sebelumnya tidak pernah terjadi. “Bagaimana pertemuanmu dengan Vanessa?”
“Lancar. Tidak ada kendala berarti.”
Ujung bibir Bernard sedikit terangkat. “Kalau begitu, tetapkan tanggal saja sekarang untuk pesta pertunangan.”
Jari-jarinya masih bergerak di layar tablet, sementara matanya sibuk menelusuri kalender.
“Saya sibuk di tanggal ini sampai ini ...,” gumamnya lebih kepada dirinya sendiri. “Ini bukan tanggal bagus ....”
Beberapa detik kemudian, Bernard menemukan tanggal yang menurutnya tepat. “Oke. Tanggal 11 November saja.”
Valen menoleh. “11 November tanggal awards.”
Bernard berhenti sejenak, baru menyadari benturannya. “Oh, ya.”
Ia kembali melihat kalender. “Kalau begitu besoknya. Tanggal 12.”
Valen mengangguk kecil, tetapi masih menyimpan satu pertanyaan. “Tidak perlu didiskusikan dengan Om Mahendra?”
Bernard bahkan tidak mengangkat wajah dari tabletnya. “Dia ikut apa kata saya.”
“Okay.”
Valen kemudian memalingkan wajah ke jendela. Pemandangan kota bergerak perlahan di luar sana, sementara sebuah senyum tipis terbit di bibirnya. Ada sesuatu yang sulit dibaca dari ekspresi itu, seolah ia baru saja mendapatkan satu kepastian yang selama ini memang sedang ia tunggu.
Namun tiba-tiba, suara dari radio mobil berubah.
Sejak tadi radio menyiarkan acara berita, tetapi kini terdengar intro sebuah lagu.
Valen langsung mengenali intro lagu tersebut. Kepalanya sedikit menoleh ke arah dashboard, lalu matanya bergerak kepada ayahnya.
Supir yang menyadari perubahan suasana itu buru-buru hendak mengganti channel. “Maaf, Pak. Saya ganti.”
Tangannya baru saja hendak menekan tombol ketika suara Bernard terdengar tenang dari kursinya.
“Biarkan.”
Supir langsung menarik tangannya kembali.
Radio kembali mengisi kabin yang sebelumnya sunyi.
Valen menatap lurus ke luar jendela. Tangannya perlahan mengepal di atas paha. Ia hafal setiap kata dalam lagu itu. Sebab setiap kata di dalamnya adalah miliknya.
Kata-kata yang ia tulis sendiri, dan nada yang ia ciptakan sendiri. Sebuah lagu yang lahir dari dirinya sebagai VG.
Valen berusaha mempertahankan ekspresi datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun rahangnya sedikit mengeras ketika lagu itu terus mengalun.
Di depan, sang supir melirik lewat spion. Ia melihat Valen.
Beberapa detik kemudian, matanya kembali ke jalan.
Lagu masih mengalun.
Supir kembali mencuri pandang melalui spion.
Kali ini Valen menyadarinya. Tatapan mereka bertemu. Sang supir langsung mengalihkan pandangan dan pura-pura semakin fokus pada jalan di depan.
Valen tidak mengatakan apa-apa.
Lima belas detik berlalu. Lagu masih terdengar.
Dan sekali lagi, Valen memergoki sang supir mencuri pandang ke arahnya. Valen mulai merasa tidak nyaman.
Ini supir ngenalin suara gue? Sialan. Semoga Bernard gak ngenalin ....
Ia menelan ludah sambil tetap menatap keluar jendela.
Kenapa juga tiba-tiba dia mau dengar lagu?!
Valen tidak berani menoleh kepada ayahnya.
Sementara di sebelahnya, Bernard tetap diam. Tidak menunjukkan reaksi apa pun. Entah memang tidak mengenali lagu tersebut, atau justru terlalu mengenalinya untuk menunjukkan reaksi.
Lagu akhirnya selesai.
Suara penyiar segera masuk mengisi kabin. “Itu dia, Tell Me dari LA Band featuring VG. Sampai hari ini identitas VG masih jadi misteri ....”
Valen refleks melirik kepada Bernard.
Ayahnya masih duduk tenang sambil membaca tablet yang berisi laporan bisnis, seolah lagu tadi tidak pernah benar-benar menarik perhatiannya.
Valen menelan ludah, lalu mencoba terdengar santai. “Tumben Papa dengar lagu.”
Bernard bahkan tidak mengangkat kepala. “Suaranya tidak berisik.”
Valen diam, menunggu. Apakah beliau sadar?
Namun Bernard tetap sibuk membaca laporan di tangannya. Beberapa detik kemudian, tanpa mengubah ekspresi, ia menambahkan, “Tidak bikin telinga sakit.”
Valen hampir membuka mulut. Bibirnya bahkan sempat bergerak. “Pa ....”
Namun ia mengurungkan niatnya.
Entah kenapa, dua komentar sederhana itu terasa seperti sesuatu yang jauh lebih besar.
Dalam bahasa Bernard, itu mungkin sudah setara dengan standing ovation. Yang paling tragis sekaligus ironis, Valen mengerti bahasa tersebut. Makanya ia diam.
Ia tahu sepertinya itu pujian. Hanya saja Bernard tidak pernah tahu bahwa pujian itu akhirnya sampai kepada orang yang tepat.
Bernard menyimpan tabletnya, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. “Ini mega deal yang bisa mengubah masa depan Silver Light.”
Valen ikut menatap ke depan.
Bernard melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. “Kalau pembicaraan mulai keluar jalur, saya yang ambil alih.”
“Baik.” Valen mengangguk.
Namun di dalam kepalanya, kalimat lain justru mulai tersusun.
Ini kesempatan gue untuk membuktikan sesuatu ke orang ini.
Dua belas tahun menjadi CEO. Revenue tumbuh stabil, perusahaan sehat, kerja sama terus bertambah. Deal terbesar yang pernah gue bawa sejauh ini nilainya 18 triliun.
Namun buat Bernard, semua itu memang kewajiban. Sesuatu yang memang seharusnya dilakukan seorang Ghandy.
Tapi kalau gue berhasil deal dengan investor Aramian ini, gue akan melampaui semua rekor gue sendiri.
Gue wajib closing that deal.
Valen menatap lurus ke depan.
Gue kasih lo semua yang lo mau, Bernard.
Lihat apakah lo akan terpuruk saat gue berseru, checkmate.
Meeting dimulai.
Investor mulai melemparkan pertanyaan demi pertanyaan, sebagian besar berkutat pada angka, proyeksi, risiko, dan strategi ekspansi. Valen menjawab semuanya dengan tenang, sesekali menggeser slide presentasi untuk memperkuat penjelasannya.
Percakapan berjalan lancar sampai salah satu investor melontarkan pertanyaan yang jauh lebih sulit.
Valen terdiam sepersekian detik.
Bernard yang duduk di sebelahnya mulai bergerak, bersiap mengambil alih pembicaraan.
“Pak.” Valen menahannya.
Bernard menoleh.
“Izinkan saya.”
Hening sesaat.
Bernard menatap Valen, lalu akhirnya mengangguk.
Valen kembali menghadap para investor. Kali ini ia tidak menjawab dengan angka.
Ia berbicara tentang visi. Tentang bagaimana proyek tersebut bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan kesempatan menciptakan ekosistem baru yang dapat bertahan jauh setelah angka investasi awal habis dibicarakan. Tentang bagaimana Orison Silver Light tidak sekadar mencari modal, tetapi partner yang memiliki visi jangka panjang yang sama.
Nada bicaranya tetap tenang. Tidak ada usaha untuk terlihat paling pintar di ruangan. Ia hanya berbicara seolah benar-benar memahami apa yang sedang ia tawarkan.
Perlahan, ekspresi para investor berubah. Salah satu dari mereka yang sejak tadi bersandar kini mulai duduk lebih tegak.
Pertanyaan yang awalnya terdengar seperti interogasi berubah menjadi diskusi.
Diskusi berkembang menjadi negosiasi.
Satu jam berlalu.
Kemudian dua jam.
Hingga akhirnya, pria yang sejak awal menjadi perwakilan utama investor itu berdiri dari kursinya. Ia mengulurkan tangan kepada Valen. “Congratulations.”
Valen berdiri dan menyambut uluran tangannya.
Deal.
Begitu keluar dari ruang meeting, Valen dan Bernard sama-sama berdiam diri.
Mereka masuk lift tanpa berbicara.
Keluar dari gedung, masuk ke mobil, tetap tidak ada satu pun dari mereka yang membuka percakapan.
Sepuluh menit berlalu sejak mobil mulai melaju ... barulah Bernard bersuara.
“Bagus.”
Hanya satu kata. Datar, singkat.
Namun Valen tahu persis arti kata itu dalam kamus ayahnya. Aku bangga.
Valen hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Ia tidak menjawab.
Di dalam hati, ada sesuatu yang terasa jauh lebih besar daripada sekadar kemenangan bisnis. See? Gue seorang bisa bawa 85 triliun ke hadapan lo. Hampir menyamai value sebuah pernikahan politik.
Selama ini lo berpikir anak bisa dipakai untuk menikah demi bisnis.
Hari ini gue membuktikan bahwa gue bisa menghasilkan nilai hampir sebesar itu tanpa menjual hidup gue.
Valen kemudian menoleh ke luar jendela. Matahari sore mulai turun, memantulkan cahaya keemasan di gedung-gedung kota.
Senyum tipis yang muncul di bibirnya kali ini terasa lebih sinis.
Tinggal award itu.
Seandainya ada satu saja trofi yang gue bawa pulang, gue bisa pergi dengan kepala tegak.
Namun kalau ternyata gue gak menang pun ... ya sudah.
Valen kembali menatap pantulan dirinya di kaca jendela.
Biar dia menikmati mega deal 85 triliun ini.
Karena setelah semua ini, Valen tahu satu hal. Ia sudah tidak perlu membuktikan bahwa dirinya pantas menjadi seorang Ghandy. Yang perlu ia buktikan sekarang adalah bahwa ia bisa berdiri sebagai dirinya sendiri.
Sore itu, Valen mendatangi kondominium Amelia.
Ia sudah duduk santai di sofa ketika Amelia masih sibuk menyisir rambut di hadapannya. Penampilan perempuan itu bahkan belum sepenuhnya rapi, sementara di dapur Johan terlihat sibuk menyiapkan minuman untuk mereka.
Valen menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menyeringai iseng. “Gue harap gue mengganggu.”
Amel melirik galak sambil terus menyisir rambut. “Kok tahu gue di sini?”
Valen mengangkat bahu. “Rumah lo kosong. ART lo bilang laki lo belum pulang, lo juga pergi dari pagi. Lo bisa di mana lagi selain di sini?”
Amel mendengus. “Kalau tahu ganggu, buruan ngomong. Lo butuh apa?”
Valen baru hendak menjawab ketika Johan muncul dari dapur membawa nampan berisi tiga minuman. Valen melirik sekilas kepada Johan, kemudian kembali memandang Amel.
“Gue mau minta bantuan.”
Amel mengambil salah satu gelas dari nampan. “Bantuan apaan?”
Valen menarik napas pendek, lalu berkata dengan nada yang begitu tenang seolah hendak membicarakan rencana makan malam.
“Malam sebelum pertunangan gue sama Vanessa Mahendra, gue buang nama Ghandy.”
Comments
Post a Comment