KAMPH (5-7)
Bab 5 – Tuduhan Kejam
"Iya ... iya bener. Lo cewek yang waktu itu."
Michael bergumam pada dirinya sendiri, matanya menajam seolah sedang menyusun kepingan ingatan yang tercecer. Ia mengamati wajah di hadapannya dengan saksama, memastikan bahwa ia tidak sedang keliru. Lalu ia mengangguk kecil, seakan menemukan jawaban yang ia cari sejak tadi.
"Bener. Gue yakin. Lo yang jual mahal waktu itu."
Valen segera mengangkat tangan, menyela sebelum suasana makin tidak terkendali. “Sebentar. Maksud lo apa ngomong kayak gitu?”
Dari sudut ruangan, Xander sudah ikut mendekat, wajahnya menunjukkan rasa ingin tahu yang mulai berubah menjadi kewaspadaan.
“Lo gak tahu, Val?” Michael menunjuk lurus ke arah Nadine. “Cewek ini pelacur.”
Kalimat itu jatuh seperti benda berat yang menghantam lantai. Seketika suasana berubah tegang, udara terasa mengeras.
“Apaan sih lo, Mike? Jangan asal nuduh!” Suara Valen meninggi.
“Gue gak nuduh,” sahut Michael tenang, justru dengan keyakinan yang terasa lebih mengganggu.
“Bro, lo udah mabok sebelum minum?” Xander menyela dengan nada datar, berusaha tetap rasional. “Lo bisa kena pasal pencemaran nama baik.”
Michael mendengus pelan, seolah semua itu tidak berarti. "Gue ngomong fakta. Dia jualan di pinggir jalan. Gue inget banget soalnya itu satu-satunya kejadian gue ditolak sama cewek murahan. Udah gue tawarin sejuta, udah lumayan mahal untuk standar waktu itu, tapi dia malah nolak. Sombongnya gak ada obat."
Valen terdiam. Xander ikut membeku, wajahnya mengeras.
Sementara itu, wajah Nadine perlahan kehilangan warna. Bibirnya menegang, dan air mulai berkumpul di sudut matanya.
“Kesalahan gue juga sih,” lanjut Michael sambil mendengus kecil. “Ngapain juga gue nawar cewek di pinggir jalan? Banyak pelacur high class yang bisa gue dapatkan dalam sekali kedip, tapi malah nawar dia. Cakep, sih. Sayang, sok jual mahal." Michael melirik Nadine. "Bener, kan, Nadine? Lo udah ingat sekarang?"
Suasana tegang. Hawa menggigit dari pendingin ruangan semakin menusuk.
"Sekarang lo mainnya di tempat yang cukup high class ya," kata Michael sambil menyilangkan tangan di depan dada, menyapu pandangan ke seluruh isi ruangan. "Dapet klien banyak dong di sini? Rata-rata punya duit lho, sasaran empuk banget buat lo."
Xander mengernyit.
Valen menatap nyalang pada Michael.
Michael rupanya belum selesai. "Tapi kenapa harus di sini, masalahnya? Ini bisnis milik saudara gue, Xander dan kawan-kawannya. Jangan sampai nama baik klub ini rusak gara-gara ada PSK keliaran di sini."
"Cukup, Michael!"
Suara Valen terdengar lebih dalam, lebih tajam dari sebelumnya. Ia melangkah maju, menahan dirinya sendiri agar tidak kehilangan kendali. "Apa untungnya lo permalukan perempuan di depan banyak orang?!
"Wow." Michael mengangkat alis, tersenyum miring. "Segitunya bela PSK, Valen? Naksir?"
Tatapannya kemudian beralih pada Nadine, penuh penilaian yang menyakitkan. "Gue dengar si Nadine ini juga deket banget sama Xander. Mungkin lo emang punya tujuan tersendiri mendekati anak-anak Ghandy ya, Nad? Ya wajar sih. Buat cewek kayak lo, dapetin anak Ghandy pasti kayak ketiban durian runtuh. Tapi Ghandy dari kalangan keluarga yang terhormat dan bermartabat, apa pantas berhubungan dengan wanita yang seperti lo ini? Lo bisa memahami hal itu, kan? Sebagai seorang Ghandy, gue punya beban moril dan tanggung jawab untuk menjauhkan saudara-saudara gue dari pengaruh buruk yang lo bawa."
"Anj .... Lo tuh ......" Valen kehilangan kata-kata. Valen tampak kebingungan bagaimana harus mengusir sang kakak yang keterlaluan itu. Hawa tidak mengenakkan makin jelas terasa, semua orang yang menjadi saksi tampaknya ikut tegang menunggu kelanjutan adegan.
Ditatap sedemikian rupa dengan berbagai asumsi dari semua yang menjadi saksi mata, Nadine rasanya ingin menghilang seketika. Saat pandangan matanya yang berembun itu bertemu dengan mata Xander, pria itu malah mengalihkan pandangan. Itu saja sudah lebih dari cukup.
Nadine tahu, dia harus membela dirinya sendiri. Meski dadanya berdebar tak keruan, dan air di sudut matanya sudah akan tumpah sesaat lagi, tapi dia tetap harus bisa meluruskan tuduhan kejam tersebut.
"Gue nggak ... nggak jualan di sini." Akhirnya Nadine bersuara. Patah-patah, penuh getaran menahan emosi. "Gue nggak cari klien apa pun di sini ... sama sekali nggak .... Bisa cek CCTV buat cari tahu gue bohong atau enggak .... Bisa tanya semua pengunjung laki-laki di sini .... Apa ada yang pernah bayar jasa gue? Gak akan ada yang bisa bilang gue pernah terima bayaran untuk hal kayak gitu, karena itu gak pernah terjadi.”
Hening kembali turun, lebih dalam dari sebelumnya.
Ia menelan ludah, mencoba menjaga suaranya tetap stabil.
"Gue udah tobat sejak lama. Gue mandiri sekarang, dengan usaha gue sendiri. Bersih. Gak berasal dari rezeki haram. Gue di sini murni cari hiburan. Minum, ngedance. Bukan cari klien ... apalagi berniat menjebak anak dari keluarga yang bermartabat dan terhormat. Dan gue juga rutin medical check up ... jadi buat siapa pun yang merasa pernah have fun sama gue, gak usah khawatir."
Xander sedikit goyah. Dia tahu betul perkataan Nadine barusan ditujukan padanya.
"Yah. Memang, gue mantan PSK. Kalau di antara kalian ada yang nggak berkenan dekat-dekat dengan mantan PSK seperti gue, ya sudah, jauhi saja, jangan ragu. Gue nggak akan keberatan dijauhi ... itu pilihan kalian, gue nggak mungkin memaksa. Gue nggak mau berteman dengan unsur keterpaksaan di dalamnya. Gue juga nggak mau habiskan waktu meladeni orang yang gemar memandang rendah orang lain, apa pun alasannya."
Suasana di sekitar sekumpulan orang yang menjadi saksi pengakuan Nadine masih terasa tegang, tidak ada yang bersuara. Masing-masing sibuk dengan pemikirannya sendiri. Beberapa menaruh simpati pada Nadine, beberapa sibuk mencari kata-kata pedas untuk melabeli Nadine. Beberapa sibuk berkelana di alam pikirannya sendiri, menerka-nerka apa kiranya yang menjadi awal mula kisah Nadine terjun ke dunia gelap? Beberapa mengangkat bahu ringan, seolah berkata ‘ya terus kenapa?’.
Nadine benar-benar merasa dipermalukan. Sungguh merasa terhina. Mengapa ada orang yang sampai hati mengonfrontasinya di depan publik? Apa tidak ada cara lain?
Malu. Sakit hatinya. Perih. Seperti mengorek luka lama hingga kembali terbuka, lalu dibanjur air cuka. Beruntunglah Nadine masih sanggup berdiri tegar menghadapi tragedi ini, bahkan bisa mengklarifikasi semuanya dengan jelas pada semua yang menjadi saksi. Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya ia tengah berupaya sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah. Berada di bawah sekian banyak pasang mata yang memandangi dirinya, menghakiminya, tentu tidaklah membuatnya merasa nyaman.
Nadine tersenyum tipis, lebih mirip usaha terakhir untuk bertahan.
"Lo tuh gak berubah ya? Dulu waktu lo nawar gue, lo juga ngerendahin dan hina-hina gue. Mungkin emang udah karakter yang gak bakal bisa berubah. Selamanya," katanya lirih.
Ia melanjutkan, "Anyway. Lo nggak pernah tahu jalan hidup seseorang. Apa saja yang terjadi, apa saja yang menempanya, apa saja yang dihadapinya. Struggle macam apa yang harus dia lalui. Lo nggak pernah tahu. Dan karena ketidaktahuan lo itu, please, jangan lantas malah membuat lo merasa berhak menghakimi orang itu. Apa gunanya lo bersikap congkak seperti itu? Lo merasa berhak menilai rendah seseorang? Merasa berhak menginjak orang, menjadikannya keset welcome? Apa hidup lo yang paling sempurna?"
Yang diajak bicara tidak menyahut.
"If you don't have something nice to say, don't say anything at all. Kata-kata yang jahat dan kejam bisa membunuh seseorang, Michael," ujar Nadine menutup pidatonya malam itu.
Setelah itu ia berbalik, melangkah pergi tanpa menunggu jawaban. Ia melewati mereka satu per satu, menahan diri agar tidak runtuh di depan semua orang yang masih menatapnya.
Di belakang, Xander tetap diam, terpaku dalam kebingungan yang sulit ia jelaskan.
Sementara Valen sama shocknya, namun tak berselang lama kakinya melangkah lebar, nyaris berlari, menyusul wanita cantik yang baru saja menerima perlakuan tidak menyenangkan dari Michael, si kakak brengsek nan angkuh yang sering membuat Valen merasa jengah karena kesombongannya.
Valen melangkah keluar, turun ke cafe di lantai satu, lalu berlari ke area parkiran. Itu dia. Valen menangkap sosok seseorang dari kejauhan. Nadine. Ia tampak terburu membuka kunci mobil. Valen mempercepat langkah, menyusul.
"Nadine," panggil Valen saat jaraknya dengan Nadine hanya sekira sepuluh meter.
Suara itu membuat Nadine menoleh. Ada keterkejutan yang jelas di wajahnya ketika melihat Valen menyusul sampai sejauh ini.
“Valen ….” Suaranya lirih, hampir pecah.
Valen berhenti beberapa langkah darinya.
Intuisi Valen mengatakan wanita di hadapannya ini akan segera larut dalam emosi beberapa saat lagi, bisa jadi akan menangis tersedu. Nadine tampak kuat dan tangguh di luar, namun Valen yakin, di balik topeng tangguh itu, Nadine adalah sosok yang rapuh.
Dipermalukan di depan sekian orang, ditelanjangi masa lalunya, siapa yang tidak akan tersinggung? Jumlah saksi mata kejadian tadi sudah lebih dari cukup untuk membuat semua pengunjung reguler klub mendengar semua yang terjadi. Dengan kata lain, masa lalu wanita ini yang kurang baik, sudah pasti akan segera tersebar luas. Wanita selalu memiliki perasaan yang rapuh dan lembut. Kejadian dipermalukan seperti itu tidak mungkin tidak memberikan efek padanya. Kemungkinan besar ia akan menangis sebagai reaksi pertama. Pastinya demikian juga dengan Nadine .... Setidaknya itulah yang diyakini oleh Valen.
"Kok ... lo ke sini? Ngapain?" Nadine menguatkan diri untuk melontarkan pertanyaan basa basi.
Untuk sesaat Valen hanya menatap, seolah memastikan apa yang dilihatnya benar-benar ada di hadapannya. Lalu ia berbicara dengan suara yang lebih tenang dari sebelumnya.
“Apa pun yang orang bilang barusan, gue gak akan nge-judge lo.”
Langkahnya maju perlahan, hati-hati, seperti takut membuat jarak itu semakin rapuh. “Lo gak perlu nahan semuanya sendiri. Kalau lo mau nangis, nangis aja.”
Kalimat itu cukup untuk meruntuhkan pertahanan yang sejak tadi Nadine jaga.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi, satu per satu mengalir membasahi pipinya. Ia menunduk sejenak, mencoba mengendalikan napasnya yang berantakan, lalu tanpa banyak kata ia melangkah maju dan bersandar di bahu Valen.
Bab 6 – Sebuah Tawaran
"Thanks ya, Valen," kata Nadine sembari menyesap tehnya. Wajahnya sudah lebih tenang. Ia dan Valen tengah duduk berdua di sebuah kafe yang memang melayani pelanggan hingga 24 jam.
"No need, Nadine. Gue dengan senang hati menemani," sahut Valen, tersenyum hangat.
Nadine memandangi lawan bicaranya itu dalam diam. Mengapa Valen tiba-tiba memutuskan menyusul dirinya tadi? Bahkan Xander saja tidak berbuat apa-apa. Mungkinkah Valen memang sengaja berbuat demikian karena memiliki maksud menjalin hubungan yang lebih?
Tapi .... Nadine menggelengkan kepala. Valen adalah seorang Ghandy. Keluarga sombong yang, katanya, bermartabat. Nadine segera menepis pengharapan terlalu jauh itu demi kebaikannya sendiri. Jangan dibiasakan berharap pada orang lain, demikian tekadnya.
"Ada apa?" Valen menyadari tingkah aneh Nadine.
Nadine spontan menggeleng, terkekeh. "Nggak. Nggak ada apa-apa," sahutnya.
"Gue minta maaf karena si Mike tadi berbuat keterlaluan. Seharusnya bisa gue cegah, tapi ... tapi malahan gue nggak bisa berbuat banyak," ujar Valen penuh sesal. "Maafkan."
"Nggak perlu minta maaf, Valen," sahut Nadine sambil tersenyum. "Bukan salah lo ... lo nggak ada sangkut pautnya," lanjutnya.
"Ngomong-ngomong, kenapa lo santai banget? Apa lo nggak kepo terkait gue pernah jadi PSK?"
Valen mengangguk. "Kepo," akunya. "Tapi gue nggak akan memulai duluan. Kalau lo sudah siap cerita dan siap mempercayai gue, gue pasti akan pinjamkan telinga."
"Dan lo nggak akan judge?"
"Siapalah gue bisa-bisanya nge-judge orang?"
"Mmmhm." Nadine menyahut tidak jelas.
"Gue juga pernah blangsak. Yang gue bilang gue pernah miskin semiskin-miskinnya. Itu gue sungguh sampai bener-bener nggak punya apa-apa. Bener-bener blas, Nad, pegangan gue cuma angin," ujar Valen.
Nadine memandangi Valen dengan tatapan membelalak.
"Uang sepeser pun nggak ada. Jadi yaa ... bisa dibilang cuma pegang angin. Sungguhan."
"Begitu?" Nadine tampak prihatin. "Mirip yah ... dengan gue. Dulu gue diusir dari rumah juga cuma berbekal angin ...."
"Nah. Karena kita punya kisah yang hampir mirip, gue nggak mungkin judge lo. Gue tahulah gimana beratnya hidup di kota metropolitan ini. Dengan segudang permasalahan ditambah orang-orangnya yang individualis, egois ... congkak. Kita bisa saling mengerti. Bisa saling paham," tutur Valen sambil terus menyunggingkan senyuman yang hangat.
"Kita bisa berteman, kan? Nadine?"
Nadine membalas senyuman hangat itu, ragu untuk menjawab. "Sebelum gue menjawab ... memangnya nggak apa, lo hang out begini sama gue? Bahkan minta temenan? Bukannya menurut Michael tadi ... gue bakal kasih pengaruh buruk jika dekat-dekat dengan anak Ghandy," katanya lirih.
"Duh!" Valen tampak gemas. "Jangan dipikirkan omongan Michael tadi. Lupakan. Gue temenin lo karena gue mau. Gue menawarkan persahabatan karena keinginan sendiri. Apalah pengaruh buruk. Apalah keluarga bermartabat? Martabat tahi kucing," maki Valen tertahan.
"Omongan Michael tadi murni omong kosong, bullshit belaka, Nad. Jangan dijadikan beban pikiran. Ok?" Valen meneguk teh dalam cangkirnya perlahan. Berbincang panjang lebar cepat membuatnya haus.
"Tapi sejujurnya gue puas melihatnya bungkam begitu lo tegur," lanjut Valen. "Dia memang harus ditegasi supaya nggak keterusan menindas orang. Dan lo, meski lo baru saja diperlakukan seperti itu, tapi tetap bisa memberi teguran ...."
“Lo hebat, Nad,” kata Valen tulus. “Gue salut sama lo.”
Nadine hanya tersenyum tipis, lalu menghela napas pelan. “Michael itu gak berubah dari dulu.”
Kalimat itu membuat Valen menatapnya lebih serius, menunggu lanjutan yang tampaknya tidak akan ringan.
“Waktu itu,” lanjut Nadine, suaranya sedikit melambat, seperti sedang menarik kembali ingatan yang tidak ingin ia sentuh, “dia tiba-tiba turun dari mobil, terus nawar tarif gue .…”
Pandangan Valen semakin fokus, sepenuhnya mendengarkan.
---
Malam itu jalanan masih hidup meski sudah larut. Lampu-lampu kendaraan berbaris seperti aliran cahaya yang tak putus, sementara Nadine berdiri di tepi trotoar dengan sikap yang sudah terlalu sering ia pakai untuk bertahan di dunia yang keras.
Dress merah yang ia kenakan tampak mencolok di bawah lampu jalan, sederhana tapi cukup untuk menarik perhatian. Ia sudah terbiasa dengan tatapan orang-orang yang lewat, sebagian penasaran, sebagian lain penuh penilaian, sebagian lagi terlalu terang untuk disangkal. Semua itu sudah menjadi bagian dari ritme hidupnya.
Malam itu sebuah mobil sport merah berhenti tepat di depannya.
Senyum refleks muncul di wajah Nadine. Mobil seperti itu hampir selalu berarti satu hal. Calon klien yang berani membayar lebih dari biasanya.
Pintu mobil terbuka. Seorang pria muda turun.
Tampan, rapi, dan punya aura percaya diri yang langsung terasa bahkan sebelum ia bicara. Nadine sempat menilai cepat, kebiasaan lama yang sudah otomatis bekerja di kepalanya.
Pria itu mendekat, lalu tersenyum sambil menatapnya dari atas ke bawah tanpa berusaha menyembunyikan niatnya.
“Gak nyangka ada yang sebagus ini di sini,” ucapnya santai.
Senyum Nadine tetap terjaga, profesional seperti biasa.
Namun detik berikutnya, jarak di antara mereka tiba-tiba dilanggar. Tangan pria itu bergerak terlalu cepat, terlalu percaya diri, menyentuh tanpa izin.
Nadine langsung mundur, refleks. Senyum yang tadi terpasang rapi runtuh seketika, berganti keterkejutan yang sulit ia sembunyikan.
Pria itu justru tersenyum miring, seolah reaksi itu hanya bagian dari permainan. “Kayaknya lo kuat buat diajak yang lebih seru.”
Nadine menelan ludah, berusaha menstabilkan napasnya. Situasi seperti ini bukan hal baru, tapi tetap saja selalu meninggalkan rasa yang sama, tidak nyaman dan menekan.
Ia mencoba kembali ke jalur yang ia kenal, ke percakapan yang bisa ia kendalikan. “Tiga juta aja, Mas.”
Pria itu mengangkat alis, lalu tertawa kecil, seolah angka itu hanya candaan.
“Gue pengen yang gak biasa,” katanya kemudian, nadanya berubah lebih rendah. “Lo keliatannya cocok buat yang ekstrem. Lo pernah dengar ***** *****?"
Satu istilah yang ia sebut membuat ekspresi Nadine berubah. Ia langsung mengerti arah pembicaraan itu, dan untuk sesaat dunia terasa mengerut di sekelilingnya.
Ia mencoba menolak dengan halus, tapi pria itu sudah lebih dulu memotong, menawarkan angka lain dengan santai, seolah sedang menawar barang.
"Satu juta. Bersih buat lo."
Kesadaran Nadine seolah baru kembali ke tubuhnya. "Lo gila? Satu miliar pun gue gak bakal deal kalau requestnya kayak gitu!"
"Siapa yang mau bayar lo satu miliar? Artis lo? Ngarep. Ayo, langsung gas."
“Enggak.” Suara Nadine akhirnya keluar lebih tegas. “Gue gak bakal mau. Pergi aja.”
Namun pria itu tidak langsung mundur. Justru semakin mendekat, mendorong batas yang tidak seharusnya dilewati.
Reaksi Nadine datang cepat. Satu pukulan melayang, tepat mengenai wajah pria itu.
Ruang di antara mereka langsung berubah tegang.
Pria itu terdiam sesaat, seakan tidak percaya, lalu ekspresinya mengeras. Ia meludah ke samping, amarahnya naik tanpa filter.
“Sok suci banget lo,” ucapnya tajam. “Lo cuma lon*e rendahan di pinggir jalan. Dikasih satu juta nolak. Tolol."
Tanpa menunggu jawaban, ia kembali ke mobilnya, menutup pintu dengan keras, lalu pergi meninggalkan jalanan malam itu.
---
Kembali ke masa kini, wajah Valen berubah sepenuhnya setelah mendengar cerita itu. Ada rasa malu yang sulit ia sembunyikan, seperti baru saja menyadari sesuatu tentang orang yang berhubungan darah dengannya yang tidak pernah ingin ia akui.
Lalu emosi lain menyusul, lebih tajam dan lebih gelap.
“Sejak kapan dia … emang dia punya fetish ekstrem kayak gitu?” Suara Valen terdengar lebih seperti gumaman untuk dirinya sendiri.
Nadine menyesap tehnya dengan tenang, meski suasana di sekelilingnya tidak lagi tenang.
“Gila!!!” Valen mengacak rambutnya, frustrasi yang tidak tertahan.
Nadine menghela napas pelan. “Udah lewat. Gue juga nolak waktu itu.”
"Nad. Astaga. Astaga." Valen masih meracau. "ASTAGA. Gue ... gue bener-bener minta maaf, lo harus mengalami hal itu ...."
"Udah pun kehidupan lo berat ... malah dapet calon klien bernama Michael Ghandy yang ternyata punya fetish ekstrem .... Oh, my God."
Nadine menggeser cangkir ke arah Valen, memberi isyarat agar ia tenang. “Lo gak perlu minta maaf. Gak ada yang bisa ngontrol hal kayak gitu.”
Valen meneguk teh itu sedikit, seperti mencoba menenangkan pikirannya sendiri, tapi jelas tidak berhasil sepenuhnya.
“Kenapa harus lo yang ketemu dia waktu itu …,” gumamnya lagi, lebih pada dirinya sendiri.
Valen mengusap wajahnya, tampak makin frustrasi. Ruangan itu sempat hening beberapa detik sebelum Valen menghela napas panjang, pikirannya makin terseret ke arah yang lebih gelap. Benaknya sibuk menghubungkan berbagai macam hal.
“Ada hal yang gue ngerti sekarang,” katanya pelan. “Cara dia ngerendahin orang itu gak muncul tiba-tiba. Itu kebiasaan lama. Turunan dari bapaknya.”
Nama itu keluar dengan nada yang lebih dingin.
“Yang Mulia Bernard.”
Nadine tidak langsung merespons, hanya diam.
“Kalau pun ada hal yang lebih buruk,” lanjut Valen, matanya menerawang, “gue harap itu gak nyebar ke semua anaknya. Tapi dari yang gue lihat, Michael, Sonny, sama Xander … semuanya kebawa tabiat yang sama ... gemar merendahkan.”
Valen menggeleng. "Meski hanya keponakan, tapi Xander ikut mewarisi sifat Bernard."
“Xander …,” ulang Nadine lirih, nyaris tanpa suara.
"Dia nggak ... dia nggak punya fetish yang aneh-aneh seperti Michael, kan?"
Nadine menggeleng pelan. "Dia normal."
"Lega mendengarnya." Valen menganggukkan kepala, lalu melanjutkan, "Beberapa dari kami mengakui bahwa Xander terlihat seperti kopian Bernard. Mirip dari segi fisik - well, menurut rumor, fisik Bernard pada zaman dulu persis seperti Xander sekarang. Juga mirip cara berpikirnya, cara bicaranya, sikapnya pada orang lain. Yang membedakan hanya pandangan mereka soal berketurunan. Bernard tipe yang gemar beranak, udah jelas itu, sementara Xander? Kita sama-sama tahu dia nggak ada pemikiran ke arah sana," tutur Valen.
Menyadari sang lawan bicara tidak lagi antusias menanggapi ocehannya, Valen ikut terdiam. Dipandanginya Nadine, berusaha menyelami apa yang ada dalam benak wanita itu.
"Lo ... kepikiran Xander?" terka Valen, diikuti sentakan kaget Nadine.
"Euh." Nadine berdeham. "Nggak. Nggak juga sih," jawabnya pelan.
Lagi-lagi suasana mendadak senyap. Mungkin topik mengenai Xander memang menyita perhatian Nadine.
Maka Valen mengangkat suara. "Menurut si bartender klub ... lo adalah teman favorit Xander."
Nadine mengulas sebuah senyum kaku, bingung bagaimana harus menjawab.
"Lo sungguhan favorit Xander. Gue siap jadi saksi. Lo ingat waktu Xander ajak gue pergi? Dia labrak gue, larang gue deketin lo," ujar Valen, terkekeh.
"Eh? Beneran?"
"Bener. Dia nggak terima gue dekat-dekat sama lo. Makanya gue paham, lo memang beneran favorit buat dia."
"Favorit ...." Nadine tersenyum getir. "Udah nggak jadi favorit lagi, pastinya. Dia bahkan nggak mau lihat wajah gue begitu tahu gue ternyata mantan PSK," ujar Nadine, matanya menerawang teringat kejadian tadi.
Gantian Valen yang terdiam mendengarkan.
"Nggak heran sih, dan gue nggak akan salahkan Xander kalau dia jadi jaga jarak .... Tapi tetap aja ... rasanya sakit."
Valen termenung, memandangi lawan bicaranya. Pandangan mata wanita itu masih menerawang, ada sorot kecewa terpancar di sana. Ditambah senyumnya yang terkesan dipaksakan, getir terasa. Dari reaksi dan air muka Nadine yang seperti itu, Valen tahu bahwa ia memang terluka. Bukan hal yang aneh apabila Valen menarik kesimpulan bahwa Nadine sebenarnya menaruh rasa tertentu terhadap Xander. Perubahan sikap Xander pada Nadine yang selama ini memanjakannya, pastilah memberikan efek yang cukup besar pada wanita itu.
"Eh." Nadine tergesa menggoyangkan tangan di udara. "Bukan maksudnya gue sakit gimana gitu. Gue nggak ada rasa apa-apa pada Xander. Sebisa mungkin gue nggak biarkan ada feeling ikut campur ... you know, dia pemuja no baper club. Gue nggak cinta dia. Gue ngerasa sakit karena tahu bakal kehilangan salah satu teman yang selama ini akrab .... Lo paham, kan? Jangan salah sangka," ujarnya memberikan klarifikasi tanpa diminta.
Itu hanya sekedar alasan, demikian yang langsung terbersit dalam benak Valen. Jika tidak ada rasa yang lebih dari sekedar teman, mata bening itu tentu tidak akan menyorotkan sinar kekecewaan.
Nadine masih memberi alasan. "Sama kayak kalau karena suatu hal kita kehilangan sahabat, Valen, lo pernah alami itu? Rasanya juga sama sakit, kan? Sakit yang sama seperti kalau sedang broken heart, patah hati karena cinta. Gue kehilangan teman, dan gue broken heart karena hal itu. Nggak bakal ada lagi yang sambut gue kalau main ke klub .... Gue nggak akan salahkan dia, sungguh. Bukan salahnya dan juga bukan salah gue. Ini terkait pilihan seseorang. Hanya aja, karena kehilangan itulah, gue jadi agak merasa kecewa ...."
"Hilang satu tumbuh seribu," sahut Valen lembut. "Lo kehilangan Xander, tapi kita jadi dekat."
Senyum Nadine kembali terulas, kali ini tanpa paksaan.
"Oh ya, gue juga belum dengar jawaban lo dari tadi. Kita bisa berteman, kan, Nadine?"
Nadine mengangguk sambil terus tersenyum manis. "Tentu. Kita udah ngobrol panjang lebar begini, apa artinya kalau bukan berteman? Gue seneng kok ngobrol sama lo, Valen," ujarnya.
"Thanks. Gue juga senang berbincang sama lo," balas Valen hangat.
Bab 7 – Can’t Take His Eyes Off Her
Tengah malam itu, Valen meringkuk di bangku halte pinggir jalan, memeluk tubuhnya sendiri seerat mungkin untuk menahan angin yang semakin menggigit. Perutnya sudah kosong selama berhari-hari. Ia berharap rasa lapar itu bisa dikalahkan dengan tidur, namun harapan tersebut sia-sia. Semakin ia memejamkan mata, semakin sadar dirinya betapa kosong dan lemahnya tubuh yang ia miliki.
Berkali-kali terlintas keinginan untuk pulang.
Seandainya ia berada di rumah sekarang, tentu ia sedang berbaring di atas ranjang empuk dengan suhu ruangan yang nyaman, berselimut hangat, dan perut kenyang.
Namun pulang berarti menyerahkan kebebasannya.
Pikirannya kembali pada hari ketika koper berisi seluruh uang tabungannya menghilang. Bersamaan dengan itu, Valentina dan teman-teman bandnya pun lenyap tanpa jejak. Tidak sulit menyimpulkan apa yang terjadi. Mereka berkomplot, menjatuhkannya ke titik terendah yang mungkin bisa dicapai seseorang.
Yang masih sulit ia pahami adalah alasannya. Bagaimana mungkin kepercayaan sebesar itu, cinta yang ia berikan dengan tulus, dibalas dengan pengkhianatan sedemikian kejam?
Seperti biasa, pertanyaan itu tidak menghasilkan jawaban apa pun. Yang muncul justru rentetan caci maki untuk dirinya sendiri.
Bodoh. Terlalu percaya. Terlalu mudah dibohongi. Sekarang, apa yang bisa gue lakukan?
Suara dua perempuan yang duduk di ujung halte mengalihkan perhatiannya.
"Udah dapet berapa klien lo?"
"Baru tiga. Lo?"
"Jangan ditanya. Dari lima yang booking, cuma satu yang bayar lunas. Sisanya pada ngebon. Belom potongan buat mami."
"Makanya. Mami juga nggak tegas. Harusnya yang kayak gitu diblacklist."
Valen membuka mata sedikit tanpa mengubah posisi tubuhnya.
Dua perempuan berpakaian minim tampak duduk sambil merokok dan mengobrol santai.
Tidak sulit menebak pekerjaan mereka.
PSK.
Anehnya, alih-alih memandang rendah, Valen justru merasa ada sesuatu yang membuat dirinya berempati.
Mereka sama-sama sedang berjuang bertahan hidup.
Kalau perempuan terdesak ekonomi, setidaknya masih ada sesuatu yang bisa mereka tawarkan kepada lelaki hidung belang, pikirnya getir. Tinggal berharap bertemu pelanggan yang mau membayar mahal.
Kalau gue? Jadi gigolo? Cari tante-tante kaya?
Valen langsung meringis sendiri. Astaga. Serendah itu kah pikiran gue sekarang? Boleh miskin, tapi jangan sampai kehilangan harga diri.
Dua perempuan itu kembali berbisik.
"Liat tuh. Ada tunawisma."
"Biarin aja. Lagi tidur kayaknya."
Valen memilih tetap diam dan berpura-pura tidak mendengar.
"Rasanya makin banyak orang miskin sekarang."
"Iya. Yang miskin makin miskin, yang kaya makin kaya."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Yang kaya makin kaya. Seperti keluarga Ghandy.
Kerajaan bisnis yang seolah tak pernah kehabisan uang.
Tapi apa gunanya kekayaan kalau hidup tanpa kebebasan? Kalian pilih hidup yang seperti itu?
—
Bertahun-tahun kemudian, kenangan itu kembali muncul di kepala Valen saat ia berbaring di atas ranjang kamarnya.
Sejak mengenal Nadine, potongan-potongan memori masa gelandangnya sering muncul tanpa diundang.
Malam itu ia teringat pada dua perempuan di halte. Teringat percakapan mereka tentang pelanggan yang tidak membayar, tentang potongan mami, tentang perjuangan mempertahankan hidup dari hari ke hari.
Mungkin dulu Nadine juga pernah mengalami hal yang sama. Kesulitan yang tidak bisa diajak kompromi. Ketakutan yang harus ditanggung sendirian. Hari-hari panjang ketika pertolongan tak kunjung datang dan satu-satunya pilihan adalah tetap berdiri meski nyaris tumbang.
Namun Nadine berhasil melewatinya. Ia keluar dari dunia itu, membangun kariernya sendiri, membesarkan anaknya, dan menjadi perempuan mandiri yang tidak lagi bergantung pada siapa pun.
Semakin dipikirkan, semakin besar rasa kagum Valen terhadapnya.
Sedangkan dirinya? Pada akhirnya ia menyerah pada keadaan. Ia menukar kebebasan dengan rasa aman.
Mungkin ayahnya benar. Mungkin ia memang tidak mampu bertahan hidup tanpa Bernard.
Pikirannya melayang pada dua versi dirinya yang terasa begitu berbeda. Valen yang tidur kelaparan di halte, bebas menentukan jalan hidupnya sendiri. Dan Valen yang sekarang berbaring di atas kasur empuk, hidup nyaman dalam sangkar emas bernama keluarga Ghandy.
Apa gue memang nggak mampu berdiri di atas kaki sendiri?
Apa gue bakal terjebak di sini selamanya?
Bunyi notifikasi ponsel mematahkan lamunannya.
Valen mengambil ponsel yang tergeletak di samping bantal.
Ada dua pesan masuk. Pesan pertama berasal dari sekretarisnya, dikirim sekitar tiga puluh menit lalu. Isinya pengingat bahwa besok pukul sepuluh pagi ia harus menghadiri rapat dengan para pemegang saham.
Valen membalas singkat lalu hendak meletakkan ponselnya kembali.
Namun matanya menangkap nama pengirim pesan kedua.
Nadine.
Seketika sudut bibirnya terangkat.
Nadine: Hai. Udah tidur?
Semangat yang tadi tenggelam entah ke mana langsung muncul kembali.
Valen: Baru mau tidur. Lo?
Nadine: Sama. Lagi rebahan aja.
Beberapa detik kemudian pesan berikutnya muncul.
Nadine: Besok sibuk nggak? Mau lunch bareng?
Valen menghela napas kecil.
Besok ada rapat penting yang kemungkinan besar baru selesai lewat jam makan siang. Timing-nya benar-benar tidak membantu.
Valen: Besok gue meeting sampai sore 🙁 Ngopi aja mau nggak? Habis pulang kerja.
Nadine: Ayoo.
Valen: Di Kafe Tunasmara aja? Hazelnut coffee-nya enak.
Tiga titik “typing...” muncul cukup lama.
Nadine: Mmm .... tempat lain aja deh. Gue kayaknya masih enggan ke Tunasmara lagi. Meski cuma ke kafenya. Lo paham kan 🥺
Valen langsung mengerti.
Valen: Oh. Sorry. Gue nggak kepikiran sampai sana.
Nadine: It's okay.
Valen: Starbrew bawah kantor lo aja. Gue traktir.
Nadine: Padahal gue yang ngajak.
Valen: Justru gue seneng diajak sama lo.
Balasan Nadine datang hampir seketika.
Nadine: Gitu ya? Kalau diajak hal lain seneng juga nggak?
Jantung Valen langsung berdebar. Pipinya ikut menghangat. Anj*r. Jawab apa? Kenapa gue kayak bocah SMP yang baru pertama kali naksir orang?
Valen: Tergantung 😏 Kita ngomongin apa nih?
Nadine: Street feeding. Lari di GBK. Yoga suka gak?
Valen memejamkan mata sesaat. Oke. Pikiran gue yang murni. Murni kotor.
Valen: Lari di GBK sambil street feeding boleh juga.
Nadine: Nice. Dapet agenda weekend ☺ Daripada hedon di club, bosen ah. Trauma juga sebenarnya.
Senyum di wajah Valen perlahan memudar.
Valen: Michael wajib minta maaf ke lo. Biar gue tegur.
Nadine: No need. Beneran. Gue nggak mau lo sama Michael malah jadi renggang.
Valen mendengus pelan.
Valen: Dari dulu juga renggang. Dia tetap wajib dibogem.
Nadine: Ga mau ngomongin saudara lo lagi plis 🥺
Valen: Sorry. Oke. Jadi weekend kita lari di GBK.
Nadine: Tanding ya. Pengen tau lo kuat lari apa nggak 😏
Dan malam itu, percakapan mereka terus berlanjut hingga larut, tanpa keduanya sadar bahwa waktu sudah bergerak jauh melewati tengah malam.
Sinar matahari sore yang keemasan menyelimuti stadion yang dikelilingi deretan pepohonan rindang, menciptakan suasana yang terasa hampir tak nyata. Rupanya banyak orang memiliki agenda yang sama dengan Valen di sore menjelang malam Minggu itu. Mereka berlari mengelilingi lintasan stadion dengan ritme masing-masing. Ada yang berlari sendirian sambil menikmati waktu pribadi, ada yang datang berpasangan, dan ada pula yang bergerak dalam kelompok-kelompok kecil sambil sesekali bercakap di sela langkah. Pemandangan itu menghadirkan energi yang menular dan membuat Valen semakin bersemangat untuk ikut bergabung.
Dia sendiri sudah datang dengan persiapan lengkap. Kaos, celana, dan sepatu lari berwarna gelap sudah dikenakan. Soft flask berisi air elektrolit tersimpan rapi, GPS watch terpasang di pergelangan tangan, dan handuk kecil pun sudah siap dibawa.
Hanya satu yang masih kurang.
Teman larinya.
Valen baru saja mengeluarkan ponsel dan berniat mengirim pesan untuk menanyakan keberadaan Nadine ketika sebuah tepukan ringan mendarat di bahunya dari belakang.
"Valen, udah lama?"
Senyum spontan langsung muncul di wajahnya saat menoleh.
Akhirnya yang ditunggu datang juga.
Nadine berdiri di sana dengan pakaian olahraga berwarna biru langit yang membuatnya tampak segar di bawah cahaya sore. Rambutnya diikat ke belakang dengan sederhana, sementara sport bra dan celana pendek ketat senada membentuk siluet tubuh yang atletis tanpa terlihat berlebihan. Penampilannya tidak mencolok, tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya sulit diabaikan.
Dan itu saja sudah cukup membuat darah Valen berdesir.
Selama beberapa detik, dia hampir kehilangan kata-kata. Beruntung kesadarannya segera menyusul sebelum dirinya terlihat terlalu terpana.
"Hai, Nad. Gue baru dateng juga kok," jawabnya sambil tersenyum.
Tatapannya masih tertahan pada wanita di hadapannya, seakan belum selesai mencerna pemandangan yang baru saja muncul.
"You look good."
Nadine terkekeh ringan. “Thanks. Lo juga kelihatannya udah siap. Yuk?”
Mereka mulai dengan lari santai mengelilingi stadion sebagai pemanasan. Namun entah kenapa, Valen kesulitan menjaga fokusnya sore itu. Berkali-kali ia berusaha mengarahkan perhatian pada lintasan di depan, menghitung ritme langkah dan mengatur napas, tetapi pandangannya tetap saja tertarik kembali kepada Nadine.
Padahal Nadine tidak melakukan apa-apa yang berlebihan. Ia hanya berlari seperti biasa, rambutnya terikat rapi, gerakannya ringan dan natural. Namun justru itu yang membuat Valen makin sulit mengabaikannya.
Sepanjang beberapa putaran, ia lebih sering menunduk atau memandang lurus ke depan, memaksa dirinya berkonsentrasi pada kecepatan dan detak jantungnya sendiri sebelum adrenalin yang muncul karena alasan lain benar-benar mengacaukan semuanya.
Ketika mereka memutuskan adu lari seratus meter, Nadine membungkuk untuk meletakkan penanda sebagai garis finis. Sekilas pandangan Valen kembali melenceng ke arah yang seharusnya tidak menjadi pusat perhatiannya.
Damn, umpat Valen dalam hati. Ia langsung memalingkan wajah dan mencari apa pun yang bisa dijadikan pengalih.
Tak lama kemudian Nadine menghampirinya dengan senyum lebar. “Udah jelas ya batasnya? Yuk, siap-siap lo kalah.”
Valen tersenyum miring. “Gue terbiasa lari dari kenyataan. Kayaknya lo yang bakal kalah.”
“Lah gue, dulu lari-lari dikejar satpol PP waktu mangkal.” Nadine menyeringai.
“Lawan yang sepadan.” Valen mengangguk penuh pengertian.
Mereka mengambil posisi. Setelah hitungan mundur singkat, keduanya langsung melesat.
Valen berhasil menyentuh garis finis lebih dulu, meski selisihnya tipis. Nadine tiba beberapa saat kemudian sambil tertawa terengah-engah.
Valen ikut tertawa sembari mengatur napas. “See? Lari dari kenyataan lebih cepat.”
Nadine membungkuk sambil bertumpu pada lututnya. “Oke deh. Satpol PP-nya kurang galak hari ini.”
Dan untuk kesekian kalinya, mata Valen kembali mendarat di tempat yang salah.
Ia segera mengalihkan pandangan. “Istirahat dulu yuk. Tadi gue lihat ada banyak kucing di sekitar sana.”
Ajakan itu keluar sedikit terlalu cepat, seolah ia memang sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.
Di bawah pohon rindang dekat stadion, mereka menghabiskan waktu memberi makan beberapa kucing liar yang berkeliaran di sekitar area tersebut. Setelahnya, keduanya duduk berdampingan di bangku taman. Valen meneguk minuman yang dibawanya, sementara Nadine menyeka keringat di leher dan dahinya dengan handuk kecil. Orang-orang berlalu-lalang di sekitar mereka, menciptakan keramaian yang nyaman tanpa terasa mengganggu.
“Lo sering lari di sini?” tanya Valen setelah beberapa saat.
“Kadang, kalau ada temannya,” jawab Nadine.
“Gue nggak terlalu rutin lari. Biasanya lebih sering renang.”
“Nge-gym enggak?”
Valen menggeleng. “Nggak terlalu suka. Yang doyan nge-gym si Xander.”
“Jelas sih.” Nadine mengangguk-angguk. “Badannya bagus.”
Valen menahan senyum tipis.
“Kalau gue paling lari sama yoga,” lanjut Nadine. “Makanya kemarin gue ajak yoga. Lo belum pernah, kan?”
Valen nyengir. “Gue takut pusing kalau yoga sama lo.”
“Hah?” Nadine langsung menoleh. “Kok pusing?”
Sial. Gue keceplosan, umpat Valen dalam hati.
Otak Valen bekerja cepat mencari alasan. “Pusing. Belum makan.”
Nadine mengerutkan kening sebelum akhirnya tertawa kecil. “Ya makan dululah. Ih, aneh.”
Sambil berkata begitu, ia mendorong pelan bahu Valen.
Valen hanya ikut tertawa, meski dalam hati ia tahu penyebab pusing yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan makanan.
“Weekend gini, lo nggak ada agenda sama anak?” tanya Valen, mencari topik lain.
“Kebetulan hari ini enggak.” Nadine menyandarkan tubuhnya ke bangku. “Vicky ada kegiatan ekskul sampai sore, habis itu mau main sama teman-temannya.”
“Anak lo udah gede ya. Umurnya berapa sekarang?”
“Enam belas.”
Valen mengangkat alis. “Wow, udah SMA. Sorry kalau terlalu kepo, berarti lo nikah muda?”
Nadine mengerling ke arahnya sambil tersenyum tipis. “Oh, sekarang sesi spill masa lalu?” Ia terkekeh pelan. “Deal.”
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Gue lulus SMA dalam keadaan hamil di luar nikah.”
Valen yang tadinya santai langsung terdiam.
“Waktu itu gue nekat menjebak satu cowok yang pernah one night stand sama gue. Gue bilang dia ayah dari anak yang gue kandung. Akhirnya dia terpaksa nikahin gue.”
Nada suara Nadine terdengar tenang, seolah sedang menceritakan kisah orang lain.
“Pas Vicky lahir, suami gue langsung minta tes DNA. Hasilnya keluar. Vicky bukan anak dia.”
Nadine menunduk sesaat. “Gue langsung dicerai.”
Valen hanya bisa menatapnya.
“Bokap nyokap gue murka.” Senyum kecil muncul di bibir Nadine, meski tidak mengandung kebahagiaan sedikit pun. “Mereka ngusir gue waktu Vicky bahkan belum genap empat puluh hari.”
Ia mengembuskan napas perlahan. “Jadilah gue homeless sambil gendong bayi yang masih merah.”
Valen merasa dadanya ikut sesak mendengar cerita itu.
“Makanya gue sempat jual diri,” lanjut Nadine tanpa berusaha memperhalus kenyataan. “Desakan ekonomi waktu itu terlalu berat. Orang tua gue nggak pernah nyariin. Nggak ada yang nolong juga. Jadi ya ... gue bertahan sendiri.”
“Ya Tuhan …,” desis Valen pelan.
Untuk beberapa saat, hanya suara orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar stadion yang terdengar. Beberapa anak tampak bermain di sekitar food court. Seorang pedagang balon berdiri tak jauh dari sana.
Valen memandang Nadine lama sebelum akhirnya berkata, “Tapi lo berhasil keluar dari semua itu. Bahkan sekarang lo bisa berdiri sendiri dan ngurus hidup lo dengan baik. Jujur aja, gue makin salut sama lo, Nad.”
Nadine tersenyum masam. “Gue bisa keluar dari masa itu pun sebenarnya karena faktor keberuntungan juga.”
Valen menoleh, menunggu penjelasan.
“Waktu masih kerja di dunia itu, gue pernah ketemu satu klien yang baik banget.” Pandangan Nadine menerawang ke kejauhan. “Dia jadi langganan ketemuan sama gue. Duitnya banyak, royal banget. Dari cara hidup dan nama keluarganya, gue curiga dia berasal dari keluarga konglomerat.”
“Dia cerita soal keluarganya?”
“Enggak. Cuma kadang gue lihat nama keluarganya muncul di artikel bisnis. Kayaknya dia memang senang ditemani gue. Hubungan kami lama, sampai nyaris serius.”
Nadine tertawa kecil, lalu menggeleng. “Ya tapi kenyataannya tetap aja beda dunia. Dia anak konglomerat yang hidupnya di atas awan, sementara gue masih berkubang di bawah.”
Valen mendengarkan tanpa menyela.
“Pas kami berpisah, dia nangis.” Senyum Nadine kali ini terlihat lebih lembut. “Dia bilang mau lanjut studi ke luar negeri.”
“Terus?”
“Berkat dia yang selalu royal, gue bisa nabung. Gue pakai uang itu buat kuliah lagi, pindah ke tempat tinggal yang lebih layak, dan mulai bangun hidup dari awal.” Nadine menghela napas. “Kalau dipikir-pikir, dia pahlawan gue pada masa itu.”
Valen mencerna cerita tersebut beberapa saat. “Lo masih ingat namanya?”
Nadine mengangguk mantap. “Gerald Cokroatmodjo.”
Valen membeku sepersekian detik.
“Lo kenal?” tanya Nadine.
Valen segera menggeleng. “Kenal sih enggak. Gue cuma tahu keluarga Cokroatmodjo. Setahu gue anaknya ada tiga dan semuanya inisialnya G. Kayaknya memang ada yang namanya Gerald. Kalau nggak salah dia pernah ambil S2 di luar negeri.”
“Berarti valid ya,” kata Nadine sambil terkekeh. “Gerald yang gue kenal memang circle konglo.”
“Setelah itu nggak pernah ketemu lagi?”
Nadine menggeleng. “Enggak pernah. Setelah perpisahan ya udah. Hilang begitu aja.”
Valen mengangguk pelan. “Kalau menurut gue, kehadiran Gerald waktu itu semacam batu loncatan yang dikasih semesta buat lo. Dia mungkin membantu membuka jalan, tapi yang jalanin semuanya tetap lo sendiri.” Tatapannya penuh ketulusan. “Lo yang kerja keras sampai bisa ada di titik ini.”
Nadine tersenyum dan mengangguk. “Tekad buat kasih kehidupan yang lebih baik buat anak gue yang bikin gue kuat.”
Valen ikut mengangguk. Kekaguman di matanya terlihat jelas dan sama sekali tidak berusaha ia sembunyikan.
“Nah.” Nadine menyikut lengannya pelan. “Sekarang giliran lo yang spill.”
“Hm?”
“Yang kemarin. Kenapa lo bilang kehadiran Prince jadi bukti kalau lo nggak mandul?” Nadine menatapnya penuh rasa ingin tahu. “Makin dipikir, makin absurd kedengarannya.”
Valen tersenyum getir. “Semakin lo kenal keluarga Ghandy, semakin lo bakal yakin kalau keluarga ini memang absurd. Bernard, bokap gue, hidup dengan satu obsesi besar, yaitu membangun dinastinya sendiri.”
Nadine mengernyit.
“Makanya dia punya lima belas anak. Dan buat anak-anak lelakinya, dia punya tuntutan yang sama. Kami harus menyumbang sebanyak mungkin cucu. Mau masih lajang, sudah menikah, punya pasangan atau enggak, itu nggak penting buat dia. Yang penting garis keturunan Ghandy terus bertambah.”
Bola mata Nadine membesar.
Valen melanjutkan sambil menyandarkan punggung ke bangku. “Sejauh ini yang sudah menikah lewat perjodohan baru Sonny dan Fredo. Michael harusnya giliran berikutnya, cuma Bernard belum ketemu kandidat yang cocok. Sonny punya tiga anak dari pernikahan dan dua anak lain di luar itu. Fredo punya dua anak dari pernikahan dan satu tambahan. Michael belum menikah, tapi sudah punya dua anak.”
Ia menghela napas pendek. “Gue sendiri belum menikah dan sudah punya satu anak. Tetap aja gue terus didesak buat nambah lagi.”
Nadine hanya bisa menatapnya.
“Bernard itu patriarki garis keras,” lanjut Valen. “Kadang gue merasa dia punya obsesi untuk tetap hidup bahkan setelah mati. Selama nama Ghandy terus ada di generasi berikutnya, dia merasa dirinya nggak akan pernah benar-benar hilang.”
Suara Valen terdengar datar, seolah sudah terlalu sering memikirkan hal itu.
“Makanya dia nggak cuma memastikan keturunannya terus bertambah. Dia juga membentuk kami sesuai versinya sendiri. Sedikit demi sedikit, dia mencoba menciptakan salinan dirinya.”
Nadine masih terdiam.
“There you go,” kata Valen sambil mengangkat bahu. “Lo bisa lihat hasilnya di Xander dan Michael.”
“Tapi ….” Nadine akhirnya menemukan suaranya. “Xander selama ini justru selalu main aman, kok. Gue nggak pernah lihat dia punya kecenderungan jadi ... breeder seperti yang lo ceritain.”
Valen terkekeh pelan. “Itu salah satu hal yang paling disayangkan Bernard dari Xander. Dalam banyak hal, Xander memang seperti Bernard versi muda. Tapi soal keluarga, mereka bertolak belakang.”
“Gimana maksudnya?”
“Xander malah sering bilang keluarga Ghandy sudah terlalu banyak.” Valen menggeleng sambil tersenyum tipis. “Kalau bisa milih, dia mungkin lebih suka jumlah kami berkurang daripada bertambah.”
Nadine spontan tertawa kecil. “Jadi sebenarnya Michael yang paling mirip Bernard?”
“Jauh lebih mirip.” Valen mengangguk. “Untungnya Xander cuma keponakan. Bernard nggak punya kuasa penuh buat mengatur dia.”
Setelah beberapa saat mencerna semua informasi itu, Nadine kembali bertanya. “Terus ... ibunya anak lo gimana?”
Valen terdiam sejenak sebelum menjawab. “Dia nggak punya hubungan apa-apa dengan gue selain pernah melahirkan anak gue.”
Nadine menunggu.
“Waktu itu gue mendekati perempuan yang menurut gue cocok dan minim drama. Gue bikin semacam kesepakatan. Dia mengandung, melahirkan, lalu setelah semuanya selesai dia bebas menjalani hidupnya sendiri.”
Perut Nadine mendadak terasa tidak nyaman. Entah kenapa, sebuah dugaan melintas begitu saja di kepalanya.
Jangan-jangan ... Valen mendekatinya dengan tujuan yang sama.
Comments
Post a Comment