KAMPH (8)

Bab 8 – Kecupan Pertama

Valen seolah bisa membaca isi pikirannya. “Sama lo beda,” katanya pelan.

Nadine menoleh.

“Makanya dari awal gue minta izin buat jadi teman lo. Karena gue nggak pernah punya niat menawarkan lo kontrak untuk melahirkan anak gue berikutnya.”

Ketegangan di dada Nadine sedikit mengendur.

Meski begitu, cerita yang baru saja ia dengar tetap terasa sulit diterima akal sehat.

“Ya tetap aja...” Nadine menggeleng pelan. “Apa yang lo lakukan itu...”

“Salah.” Valen menyela dengan cepat. “I'm well aware of that.”

Ia menatap ke depan, memperhatikan beberapa orang yang sedang berolahraga di kejauhan. “Gue sadar gue memperlakukan perempuan seperti alat untuk mencapai tujuan. Gue tahu itu salah.”

Nada suaranya tenang, tanpa berusaha membela diri. “Tapi saat itu gue merasa nggak punya pilihan lain. Bernard bahkan pernah mengancam bakal nyuruh gue tes kesuburan kalau gue belum membuktikan diri.”

Nadine mengernyit. “Tes kesuburan?”

Valen mengangguk. “Kalau hasilnya mandul, gue aman. Masalahnya kalau hasilnya subur.”

“Apa yang bakal terjadi?”

“Sanksi kerja tanpa gaji.”

“Astaga...” Nadine benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa. “Sampai segitunya?”

“Segitunya.” Valen tersenyum hambar. “Dia sangat serius soal dinasti.”

Ia mengembuskan napas panjang. “Bahkan setelah Prince lahir, tekanan itu nggak berhenti. Tetap aja tambah lagi, tambah lagi, tambah lagi. Lama-lama gue mulai merasa memang cuma itu fungsi gue dalam keluarga ini. Breeder."

Sunyi sejenak.

“Tapi sekarang?” tanya Nadine. “Lo ada rencana cari perempuan lain buat punya anak lagi?”

Valen langsung menggeleng. “Capek.”

Jawaban itu keluar begitu spontan hingga membuat Nadine hampir tertawa. “Capek?”

“Iya.” Valen menyandarkan kepala ke bangku. “Capek menjalani hidup yang bukan pilihan gue sendiri. Capek melakukan sesuatu yang bertentangan sama prinsip gue.”

Ia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan. “Dan jujur aja, berhubungan intim tanpa ada perasaan apa-apa itu draining banget.”

Nadine menatapnya. “Lo masih percaya cinta ya.”

Valen tersenyum kecil. “Masih.”

“Padahal Xander sering bilang afeksi cuma bikin logika melemah.”

“Kalau itu biar jadi pendapat dia.”

Nada suara Valen terdengar mantap. 

“Gue masih percaya cinta. Gue masih berharap suatu hari bisa ketemu orang yang tepat. Mau segigih apa pun Bernard mencoba mencuci otak gue, itu nggak akan mengubah siapa gue sebenarnya.”

Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka sesaat.

Valen menoleh ke arah Nadine. “Makanya gue bilang gue salut sama lo.”

Nadine mengangkat alis.

“Karena lo berhasil membangun hidup lo sendiri. Sementara gue...” Ia tersenyum tipis. “Gue menukar  kebebasan yang pernah gue punya demi rasa aman.”

Pandangannya menerawang jauh, seolah melihat masa lalu yang hanya bisa dikenang dari kejauhan.

Nadine memperhatikannya beberapa saat. “Tapi lo memang beda dari Ghandy lain yang pernah gue kenal.”

“Hm?”

“Bedanya tuh jauh banget.” Nadine tersenyum. “Gue yakin kalau suatu hari semua embel-embel keluarga itu hilang dan lo harus mulai dari nol, lo tetap bisa berdiri lagi.”

Valen terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa menghantam sesuatu dalam dirinya.

Ia menoleh dan tersenyum tulus. “Thanks.”

Nadine membalas senyumnya. “Jadi...” katanya kemudian sambil menyipitkan mata penuh rasa ingin tahu. “Kapan terakhir kali lo jatuh cinta?”

Valen tampak berpikir sejenak. “Sebelum sekarang... udah lama banget.”

“Seberapa lama?”

“Waktu gue umur sembilan belas tahun, lagi berani-beraninya berontak."

Nadine langsung menatapnya tak percaya. “Buset. Itu udah berabad-abad lalu.”

Valen tertawa.

“Tunggu.” Nadine mendadak menyadari sesuatu. “Maksud lo apa, sebelum sekarang?”

Valen memalingkan wajah sambil menyunggingkan senyum miring.

“Valen.”

Tak ada jawaban.

“Oi, Valen?”

Senyumnya malah semakin lebar. “Rahasia.”


"Tante..." "Om..."

Suara kecil itu memotong obrolan mereka.

Valen dan Nadine menoleh bersamaan. Seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun berdiri tak jauh dari bangku mereka. Wajahnya terlihat kebingungan, pipinya memerah karena lelah, dan beberapa helai rambut menempel di dahinya yang berkeringat.

“Bisa tolongin Dea nggak...?” tanyanya pelan.

Naluri keibuan Nadine langsung aktif.

“Eh, kenapa, Sayang?” Nadine berjongkok agar sejajar dengan tinggi anak itu. “Kamu nyasar?”

“Papa mamanya mana?” tanya Valen ikut memperhatikan.

Dea menggeleng cepat. “Papa sama Mama di rumah. Lagi jagain adik yang sakit.” Ia menunjuk sesuatu di kejauhan. “Mereka nyuruh Dea beli balon kesukaan adik, tapi balonnya nyangkut...”

Anak itu lalu mengangkat tangan, menunjuk ke arah pagar tinggi di dekat area food court. Di ujung teralis pagar, seutas tali balon tersangkut dan bergoyang pelan tertiup angin.

“Terus Dea pengen balonnya diambilin?” tanya Nadine lembut.

Dea mengangguk dengan ekspresi cemas.

“Beli lagi aja,” usul Valen. “Om yang bayarin.”

“Tapi itu balon buat adik...” jawab Dea lirih.

Nadine menoleh ke arah Valen. “Ambilin aja, sih.”

Valen mendongak ke arah pagar. “Hah? Manjat?”

“Ya gampang itu dipanjat.”

“Tinggi.”

“Kasihan tuh anak.”

Valen kembali memandang pagar tersebut. Sebenarnya bukan tidak mungkin dipanjat, hanya saja pijakan pertamanya cukup tinggi. Setelah memperkirakan beberapa detik, ia menyapu pandangan ke sekitar dan menemukan bangku pendek dekat food court.

Kayaknya bisa dipakai.

“Gue pinjam bangku itu dulu sebentar.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan cepat ke arah food court.

Namun saat kembali beberapa menit kemudian sambil membawa bangku pinjaman, langkahnya langsung terhenti.

“Lho...”

Matanya membelalak. Nadine sudah setengah jalan memanjat pagar.

“Nad!”

Valen hampir menjatuhkan bangku yang dibawanya.

“Nad, kok malah lo yang naik? Hati-hati!”

Nadine yang sudah hampir mencapai ujung pagar menoleh sekilas. “Tadi balonnya hampir lepas. Takut keburu terbang lebih tinggi, jadi gue langsung naik.”

Valen mengusap wajahnya frustrasi.

Tentu saja.

Tentu saja perempuan ini memilih memanjat sendiri daripada menunggu dua menit. 

Meski cemas, ia tetap berdiri tepat di bawah, berjaga kalau-kalau sesuatu terjadi.

Dan dari posisi itu...

Valen langsung memalingkan wajah.

Gagal.

Dua detik kemudian matanya kembali naik.

Sial.

Seketika ia sadar bahwa semesta sedang memberinya pemandangan yang sama sekali tidak membantu ketenangan batinnya.

Indahnya ciptaan-Mu, Tuhan.

Valen langsung mengutuk dirinya sendiri.

Fokus, goblok.

Di atas sana, Nadine akhirnya berhasil melepaskan kaitan tali balon.

“Dapet!”

Ia mengulurkan balon itu ke bawah.

Valen segera menyambutnya lalu menyerahkannya kepada Dea yang langsung tersenyum lebar.

“Makasih, Om! Makasih, Tante!”

Sebelum mereka sempat membalas, anak itu sudah berlari pergi sambil memeluk erat balonnya.

Valen tersenyum melihat punggung kecil itu menjauh.

Setelah memastikan Dea aman, ia kembali mendongak. “Bisa turun?”

“Bisa.”

“Pelan-pelan aja.”

Nadine mulai menuruni pagar satu per satu. Awalnya semua berjalan lancar sampai ia mencapai pijakan terakhir.

Kakinya menginjak bagian teralis yang licin.

Dan selip.

“Eh!”

“Nadine!”

Dalam sepersekian detik berikutnya, keseimbangannya hilang.

Refleks Valen bergerak maju.

Tubuh Nadine jatuh tepat ke arahnya.

Bruk.

Mereka berdua ambruk ke tanah.

Beberapa detik berlalu dalam keadaan kacau dan membingungkan.

Saat Valen membuka mata, hal pertama yang ia sadari adalah dirinya menjadi bantalan hidup.

Hal kedua yang ia sadari membuat otaknya berhenti bekerja.

Nadine terbaring di atas tubuhnya.

Sangat dekat.

Terlalu dekat.

“Ngggh... aduh.” Nadine meringis sebelum buru-buru mengangkat tubuh bagian atasnya. “Sorry! Sorry!”

Area dari milik Nadine yang sejak tadi membuatnya gagal fokus, kini tersaji eksklusif, menempel pada Valen. 

Valen mengerang pelan. Entah karena benturan barusan atau karena alasan lain yang jauh lebih menyiksa.

Jantungnya berdetak terlalu cepat. Tangannya tanpa sadar masih menahan lengan atas Nadine. 

“Lo nggak apa-apa?” tanyanya dengan suara yang terdengar lebih rendah dari biasanya.

“Nggak...” Nadine menggeleng cepat. “Gue aman. Justru lo gimana? Ada yang sakit?”

Valen menggeleng. Namun pandangannya tidak beralih ke mana-mana.

Tetap tertahan pada wajah Nadine yang hanya berjarak beberapa senti darinya.

Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka terasa menghilang.

Yang tersisa hanya tatapan itu.

Nadine yang semula fokus memeriksa keadaan Valen perlahan menyadari posisi mereka. Dan juga menyadari bahwa Valen belum melepaskan pegangannya.

Panas menjalar ke wajahnya.

“Ehm...” Nadine berdeham pelan. “Kita mau gini terus?”

Baru saat itulah Valen seperti tersadar. Cengkeramannya langsung mengendur.

“Oh.”

Nadine segera berdiri dan membersihkan debu yang menempel di pakaiannya.

Valen ikut bangkit beberapa detik kemudian. Ia menepuk-nepuk celananya, berusaha terlihat normal meski ekspresinya kini jauh lebih serius dari biasanya.

“Lo yakin nggak ada yang sakit?” tanya Nadine sekali lagi.

“I’m fine.” Jawabannya singkat.

“Sorry ya. Gue nggak sengaja.”

“It’s alright.”

Kali ini Valen bahkan tidak berani menatap matanya terlalu lama. Ada jeda canggung yang tiba-tiba muncul di antara mereka.

Valen memasukkan kedua tangan ke saku celana sebelum berkata, “Udahan yuk. Pulang.”

Tanpa menunggu respons, ia mulai melangkah lebih dulu.

Nadine memperhatikannya sesaat. Biasanya Valen selalu berjalan santai di sampingnya. Sekarang pria itu justru berjalan cepat beberapa langkah di depan, seolah sedang berusaha menjaga jarak.

Atau mungkin... Sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Nadine mempercepat langkah hingga sejajar dengan Valen. “Kok diem, Val?”

Valen melirik sekilas ke arahnya. “Apa? Nggak.”

“Marah?”

“Nggak juga. Kenapa gue mesti marah?”

Nadine menyipitkan mata, memperhatikannya beberapa detik sebelum senyum jahil perlahan muncul di wajahnya.

“Atau...” Ia menahan tawa. “Sebenernya lo gugup ya gara-gara kejadian tadi?”

Tebakan itu tepat sasaran. Wajah Valen langsung memerah. Warnanya bahkan nyaris menyerupai kepiting rebus.

“Apaan sih?” balasnya cepat sambil mengalihkan pandangan.

Nadine tak bisa menahan tawanya. “Ya ampun, lo lucu banget.”

Valen memilih diam. Ia berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang, meski jantungnya masih berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.

“Rupanya emang lo anomali...” gumam Nadine sambil menggeleng geli.

Kali ini Valen menoleh.

Nadine balas menatapnya dengan santai. “Serius deh, Val.” Senyum isengnya belum hilang. “Just say the word. Gue nggak ke mana-mana. Apa sih yang nggak bisa lo dapetin?”

Langkah Valen langsung terhenti. Matanya terpaku pada Nadine.

Tatapan itu bertahan beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Dan dari cara Nadine membalas pandangannya, Valen tahu perempuan itu tidak sedang bercanda.

Kenapa mesti ragu, Val?

Suara di kepalanya berbisik.

Dia jelas-jelas nyodorin diri. Langsung bungkus, bawa pulang. Gampang. Biasa juga gitu. Kenapa lo harus gugup dan nahan diri segala? 

Namun pikiran lain segera menyela.

Kalau gue lakukan itu, apa bedanya gue sama Xander? Sama laki-laki lain yang cuma datang untuk mengambil apa yang mereka mau?

Suara pertama tertawa sinis.

Emang lo beda?

Lo tetap laki-laki dari keluarga berdarah panas yang sama.

Lo tumbuh di lingkungan yang sama.

Valen mengembuskan napas perlahan.

Tatapannya masih tertahan pada Nadine.

Perempuan ini sudah melalui terlalu banyak hal dalam hidupnya. Terlalu banyak orang yang datang hanya untuk mengambil.

Dan untuk pertama kalinya, Valen sadar bahwa ia tidak ingin menjadi salah satu dari mereka.

No. Gue gak mau ikutan jadi sosok yang cuma mau seks dari dia... 

Raut wajahnya yang sempat menegang perlahan melunak. Senyum kecil muncul di bibirnya.

Nadine yang sedari tadi menunggu justru tampak bingung melihat perubahan ekspresi itu. “Kenapa?”

Valen menggeleng pelan. “Karena gue nggak mau melukai hati lo demi nafsu sesaat.”

Suasana di sekitar mereka seolah mendadak sunyi.

Nadine membeku.

Kalimat itu sederhana. Diucapkan tanpa rayuan, tanpa nada dramatis, tanpa usaha untuk terlihat romantis. Namun justru karena itulah kalimat tersebut menghantam begitu dalam.

Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, ada seorang pria yang terang-terangan mengatakan bahwa dirinya tidak ingin mengambil keuntungan darinya. Dan alasannya bukan karena tidak bisa atau tidak tertarik. Melainkan karena ia memilih untuk tidak melakukannya.

Setelah puluhan pria yang pernah datang dan pergi dalam hidupnya, baru kali ini Nadine mendengar sesuatu seperti itu.

Dadanya menghangat.

Matanya ikut memanas. 

Nadine merasa seperti coklat yang dipanaskan dan meleleh. 

Sebelum Valen sempat menyadari perubahan ekspresinya, pria itu sudah lebih dulu membuang muka dan mendengus pelan, seolah baru saja menyelesaikan perdebatan panjang dengan dirinya sendiri.

Oke. Gue berhasil jaga diri. Good job. Sekarang pulang sebelum makin goblok, katanya dalam hati.

“Yuk pulang.” Ia berbalik dan mulai berjalan lagi.

Kali ini langkahnya lebih pelan, memberi ruang bagi Nadine untuk berjalan di sampingnya.

Namun air mata yang sempat tertahan akhirnya jatuh juga. Nadine segera menunduk, menyeka sudut matanya sambil berusaha menata perasaannya sendiri.

Sisa perjalanan menuju area parkir berlalu dalam keheningan yang aneh. Tidak canggung, tapi juga tidak benar-benar nyaman. Hanya dipenuhi terlalu banyak hal yang belum terucapkan.

Sesampainya di depan mobil Nadine, Valen akhirnya menoleh lagi.

Baru saat itulah ia menyadari sesuatu. “Eh. Mata lo kenapa merah?”

Nadine refleks mengusap sudut matanya. “Oh, nggak apa-apa. Tadi sempat kelilipan pas lewat bawah pohon gede itu.”

Valen tampak menerima alasan tersebut tanpa curiga. “Oh.”

Ia mengangguk pelan. “Oke. Kapan-kapan kalau mau ajak lari lagi, kabarin aja. Atau kalau mau nongkrong di kantor kayak kemarin juga boleh.”

Nadine tersenyum. “Oke.”

“See you, Nad.”

Nadine mendongak dan mencari mata pria itu.

Untuk beberapa detik, tatapan mereka bertemu.

“See you...” balasnya pelan.

Sebelum Valen sempat bereaksi, Nadine berjinjit sedikit dan mendaratkan kecupan singkat di pipinya.

Waktu seolah berhenti.

Valen membeku di tempat.

Sementara Nadine yang juga terkejut dengan keberaniannya sendiri langsung mundur satu langkah.

Pipinya memerah. Ia nyengir kecil, lalu buru-buru membuka pintu mobil. “Bye!”

Pintu mobil segera menutup.

Valen masih berdiri di tempat yang sama. Masih mematung, memproses apa yang baru saja terjadi.

Lalu perlahan, sangat perlahan, senyum muncul di wajahnya. Kalau ada orang yang melihat saat itu, mereka pasti tahu satu hal.

Valen sedang sangat, sangat bahagia.


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.