KAMPH (9-10)
Bab 9 - Saling Salting
Valen telah duduk sendirian di bar klub Tunasmara. Di hadapannya, segelas minuman berwarna emas baru berkurang separuh. Pria berwajah sendu itu menyesap minumannya lalu kembali melamun, hanyut dalam pikirannya sendiri.
Sepanjang sore menjelang malam tadi, suasana hatinya berbunga-bunga. Namun saat pemikiran tertentu merayap, senyum dan bunga itu raib tanpa jejak.
"Mana Nadine?"
Sebuah suara membuyarkan lamunan Valen. Dia menoleh, mendapati Xander berdiri di sampingnya membawa gelas berisi cairan bening. Sekeping potongan lemon terselip di bibir gelas itu.
"Kenapa nanya gue?" Valen balik bertanya.
Xander mengambil tempat di samping Valen. "Bukannya sama lo? Terakhir gue lihat lo nyusulin dia," ujarnya dengan nada datar.
Valen menyunggingkan senyum sinis. "Jadi, mau apa lo cari Nadine lagi? Dia ada di tempat yang aman," jawabnya.
Xander mengangguk paham.
"Mungkin Nadine nggak akan ke sini lagi," kata Valen. "Kehilangan?"
"Kenapa nggak ke sini lagi?" Kening Xander berkerut.
"Menurut lo?"
"Jawab."
Valen melengos. "Tentu karena trauma udah dipermalukan di depan publik. Terlebih, dia juga nggak mau di-judge sama lo atas masa lalunya."
"Gue nggak pernah nge-judge," sanggah Xander cepat.
"Oh. Tapi menurut Nadine, lo langsung buang muka begitu tahu dia ternyata mantan PSK. Jadi dia beranggapan lo nggak sudi dekat-dekat lagi dengannya," timpal Valen.
Xander menggelengkan kepala. "Gue nggak bermaksud nge-judge. Apa dia menyangka demikian?"
"Menurut lo gimana?"
"Itu reaksi gue pertama kalilah, wajar kalau gue shock .... Shock karena gue nggak pernah menyangka," kata Xander membela diri.
Valen berujar, "Dan yang menyusul dia pasca dipermalukan, yang temani dia, adalah gue, bukan lo sebagai teman favoritnya. Jadi kalau gue sekarang dekat sama dia dan punya rencana serius ke depannya, harap lo tahu diri, ya."
Xander termenung.
Tidak ada yang bersuara selain riuh pengunjung klub asyik dengan urusan masing-masing
"Lo ... bakal seriusin Nadine?" tanya Xander memastikan.
Valen melirik lawan bicaranya itu. "Keberatan?"
"Masa lalu Nadine berat ... gue yakin lo nggak bakal dapet izin dari bokap lo. Meski yang dilakukan Michael itu salah, tapi yang dia sampaikan ada benarnya. Jangan ulangi kesalahan yang dulu, Valen, demi yang lo sebut cinta, sampai berani menantang bokap lo," ujar Xander.
"Nah. Itulah yang disebut judge," sambar Valen. "Masa lalu ya udah berlalu, nggak untuk diungkit. Benar rupanya, lo di pihak Michael mempermalukan Nadine."
Xander terburu menyanggah, "Bukan, maksud gue ...."
Valen tidak berniat memberikan Xander kesempatan menyelesaikan ucapannya. "Dia berbuat demikian karena terpaksa oleh keadaan. Ada alasan di balik itu semua, mungkin lo belum pernah dengar alasan itu dari Nadine, lantaran selama ini terlalu sibuk beradu nafsu. Padahal bonding time, ngobrol dari hati ke hati pun perlu!" katanya sedikit terbawa emosi. Dia teringat sesuatu, lalu segera mengoreksi perkataannya barusan dengan sinis, "Oh, gue lupa, lo nggak punya hati."
Xander tetap bersikap tenang menghadapi emosi Valen yang mulai terpancing. "Oke. Gue cuma mau peringatkan lo agar tetap realistis, Valen," katanya. "Bagaimanapun keadaan dia waktu itu, tapi dia pernah jualan tubuh, itu kenyataan. Lo bermaksud serius dengannya, gue sarankan jangan, karena lo nggak bakal sampai kemana-mana kalau lanjut sama dia. Harusnya lo sadar seperti apa Bernard. Mana mungkin restu turun!"
Valen berdecak keras.
"Got it?" desak Xander, mulai tidak sabar.
Valen enggan menyahut. Malah tangannya terulur ke arah Xander. "Minta rokok," katanya.
Takjub, Xander memandangi Valen. "Kirain udah nggak pernah ngebul lagi," komentarnya. Dia mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantik api dari saku, lalu menyerahkannya pada Valen.
Tergesa Valen mengambil sebatang, lalu memantik api. Tiap tarikan racun dia nikmati dalam-dalam.
Hening sejenak di antara mereka. Valen masih fokus dengan yang dia hisap, sementara Xander menikmati minumannya.
"Gue rasa lo minum sendirian, plus ngebul begini, karena emang lo galau soal itu, kan?" terka Xander tepat, diikuti anggukan kepala Valen.
"Ya jelaslah lo pasti bakal galau. Hubungan lo sama Nadine jelas nggak mungkin. Mau gimana lagi, masa lalunya jadi rekam jejak yang kelam, bikin siapa pun mundur." Xander menarik nafas panjang. "Saran aja. Kalau lo masih penasaran sama Nadine ... ya udah have fun sama dia, asal jangan pake hati. Jangan sampai lo main hati. Jangan sampai lo jadi bucin."
"Saran buat jadi brengsek ya?" sindir Valen, jemarinya menekan puntung rokok hingga bara api padam.
"Gue cuma mengingatkan agar lo nggak bucin. Lo kebiasaan bucin! Lama-lama gue kesel liat orang bucin," sungut Xander. Dia teringat sesuatu. "Beneran, jangan sampe lo bucin, Valen. Gue jadi ingat temen gue. Temen kuliah dan temen seasrama. Dulu dia sempat ngaku ke gue lagi baper sama cewek ... yang ternyata PSK. Wah, langsung gue marahin tuh anak, bikin dia jadi eling."
Valen menunggu kelanjutan cerita.
"Apalagi, dia anak anggota 9 Kings juga. Mana mungkin anggota 9 Kings punya menantu seorang PSK? Bisa hancur image mereka. Dampaknya bakal ke bisnis mereka juga. Damagenya nggak bakal bisa kebayang," tutur Xander serius.
Kening Valen berkerut. "Ada anak 9 Kings juga yang pernah bucin sama PSK?" tanyanya memastikan.
Xander mengangguk.
"PSK sedang naik daun apa gimana? Belakangan sering banget denger kata PSK," komentar Valen bingung.
"Makanya Valen, sebelum lo terlalu jauh berhubungan sama Nadine, ya udah, tetapkan batasan aja. Jangan sampai lo main hati," pesan Xander. "Kalau udah main hati kayak si Gerald temen gue itu, bakalan ada drama terjadi."
Mata Valen memicing begitu mendengar nama yang disebut. "Gerald?" ulangnya.
"Iya. Temen gue," ujar Xander sambil mengangguk.
"Anak anggota 9 Kings. Cokroatmodjo?" terka Valen.
"Lah. Kenal?" Xander bingung sekaligus penasaran kenal di mana Valen dengan Gerald. Seingatnya, dia tidak pernah memperkenalkan teman-teman lamanya pada Valen. Pun, cakupan bisnis klan Ghandy dengan klan Cokroatmodjo tidak pernah bersinggungan, jadi nyaris tidak ada kesempatan bagi Valen untuk bisa berkenalan dengan Gerald.
"Nadine yang kenal," jawab Valen kalem.
"Hah?"
Valen berujar, "Nadine pernah cerita ... dulu waktu masih jadi PSK, pernah dekat dengan anak konglomerat. Namanya Gerald Cokroatmodjo." Dia menggeleng-gelengkan kepala lantaran takjub. "Dan ternyata dia temen lo? Anj*r!"
Xander tampak mencerna informasi. "Jadi maksud lo ... PSK yang bucin sama si Gerald ... adalah Nadine?"
"Tepat."
"Damn!"
"Dunia sempit ya," komentar Valen. "Kelihatannya Nadine laku di kalangan generasi penerus 9 Kings. Untuk sekarang ini seenggaknya udah ada tiga orang generasi penerus yang dibikin galau sama dia."
"Gue nggak galau gara-gara Nadine, ya," koreksi Xander cepat.
"Galau nggak ... mungkin belum. Yang jelas, kepikiran, kan?" Valen tersenyum mengejek. "Buktinya lo merasa shock gara-gara dia, dan nanyain rencana keseriusan gue terhadap Nadine."
"Terserah anggapan lo apa."
"Gue kasihan sebenarnya sama Nadine. Dulu ditolak oleh Gerald lantaran statusnya. Sekarang ... duh, gue nggak mau jadi sosok yang menjauh dari Nadine hanya karena identitas masa lalunya yang masih aja melekat," keluh Valen.
"Agak sulit memang kalau punya identitas semacam itu. Pandangan tiap orang itu beda-beda, lho. Nggak semua orang bisa terima cewek dengan masa lalu seperti itu. Makanya gue bilang, Valen, lo nggak dalam posisi yang mengenakkan untuk bawa serius hubungan itu. Mending diakhiri."
"Lo sendiri? Beneran bakal menjauhi Nadine karena statusnya?"
Xander menyunggingkan senyum yang terkesan licik. "Mungkin nggak. Gue masih belum puas dengan Nadine," jawabnya.
"Lo emang aslinya brengsek, sih," sahut Valen. "Kita lihat aja seberapa lama lo tahan bermain-main. Nggak tahu kenapa gue punya feeling lo bakal kena virus cinta juga berkat Nadine."
"Virus apa itu? Gue kebal."
Valen memandangi sepupunya itu tak bersuara, lalu menggeleng maklum.
"Xander," panggil Rain si bartender yang tiba-tiba mendekat. "Ada keributan di sana," katanya sambil menunjuk sesuatu di kejauhan.
"He?" Xander spontan menoleh ke arah yang ditunjuk, demikian juga dengan Valen yang ikut penasaran.
"Sepintas tadi gue lihat kayaknya Michael terlibat. Sama Fabiola juga," ujar Rain menerangkan.
"Mike. Ngapain lagi sih??" sungut Xander.
"Better lo lihat deh, saudara lo itu. Sekarang malah ributnya sama pentolan geng feminis. Bakal rame pasti," saran Rain.
Valen berdecak. "Minggu lalu permalukan Nadine, sekarang ribut sama yang lain."
"Ayo Valen," ajak Xander segera beranjak.
"Kenapa gue harus ikutan?" gumam Valen enggan menyusul.
"Susulin gih, abang lo itu," saran Rain.
Valen mendengus kesal, namun memaksa diri bergerak, berjalan mendekat area lounge, tempat kejadian yang dimaksud Rain.
Begitu Valen tiba, suara Fabiola, wanita cantik berpenampilan berani itu terdengar melengking tinggi.
"Emangnya kenapa kalau pernah jual diri?! Orang udah tobat! Udah nggak begitu lagi! Apa masalahnya??"
"Fabi, jangan teriak-teriak," sahut Michael pelan, seakan tak bertenaga.
"HARUS! Semua orang udah tahu soal itu gara-gara lo! Sekalian gue teriak-teriak supaya orang bisa mikir! Dia pernah begitu, ya udah! Kan udah tobat! Toh dia juga nggak jualan di sini! Apa ada yang pernah lihat dia buka-bukaan, cari klien di sini?! Kan nggak! Ada yang pernah pakai dan bayar jasa dia selama dia hang out di sini? Nggak! Secara dia udah tobat! Emangnya nggak boleh, orang yang udah tobat, bersenang-senang di sini?!" Fabiola semakin dalam menginjak gas. Ia berpaling pada Ryan, pemuda blasteran sahabat Xander. "Yan! Lo owner dan founder klub! Apa ada aturan yang melarang seorang mantan PSK main ke sini?!"
Ryan kikuk tiba-tiba diseret oleh Fabiola. Dia menggeleng. "Nggak ada, sih," jawabnya.
"Tuh! Yang punya klub aja nggak masalahin masa lalu orang yang main ke sini! Lo siapa, Miki, beraninya nge-judge temen gue?!"
"Ma-maksud gue tuh ...."
Fabiola terburu memotong. "Apa! Mau berkelit apa lo! Beraninya lo senggol geng gue! Itu artinya lo cari ribut sama gue!"
"Fabi, tenang," kata Ryan berusaha menenangkan sebisa mungkin.
Xander mendengus gemas. "Fabi itu mantan terindahnya si Michael. Sekarang kena dia dilabrak mantan," katanya nyaris berbisik pada Valen.
Valen membelalakkan mata, lalu tersenyum miring. "Oh. Jadi Mike juga punya mantan terindah?"
Tidak ada sahutan lagi dari Xander, lantaran dia keburu maju, sengaja mengambil tempat di antara Michael dan Fabiola.
"Cukup, Mike, Fabi!" tegur Xander. "Jangan diperpanjang!"
"Jangan ikut campur, Xan!" Fabiola menyalak. "Lo bilangin tuh ke saudara lo! Dia bajingan!"
"Gue harus ikut campur meski sebenarnya gue enggan," sahut Xander. "Pesan lo udah didengar dengan baik oleh Michael, kok. Benar, Mike? Jadi udah ya, tenang semuanya."
"Ih!! Gue nggak bakal berhenti teriak sebelum si Miki ini janji bakal minta maaf ke Nadine! Enak aja geng gue disenggol! Dipermalukan kayak gitu di depan orang banyak! Siapa yang nggak bakal ngamuk kalau temen feminis gue diinjak-injak sama pejantan buluk macem lo, Miki!" Fiona kembali histeris. "Nggak boleh ada yang berani usik geng feminis atau gue bakal bikin keributan terus di sini!"
"Iya, Fabi," ujar Ryan. "Tenang dong, Say. Kami janji deh, nggak bakal ada yang boleh gangguin geng kalian."
"Good! Nah, mana janji lo, Miki?? Lo minta maaf ke Nadine! Seandainya gue yang di posisi Nadine, sih, cih! Mau lo minta maaf sambil sujud juga, nggak bakalan gue maafin!"
Michael diam-diam meringis.
"Ayo! Lo nggak berani minta maaf?!"
Xander menyikut Michael, ikut mendesak.
Michael akhirnya membuka suara. "Oke. Maaf, Fabi," ujarnya. "Maaf gue udah singgung temen geng lo .... Euh. Gue juga bakal cari waktu baik untuk minta maaf secara proper ke Nadine. Gue tahu gue salah."
"Janji?!"
Michael mengangkat jemarinya membentuk huruf V. "Janji."
"Semua yang di sini saksi mata, ya!" Fabiola menuding semua mata yang menyaksikan keributan malam ini. "Kalau sampai dalam seminggu ke depan gue dapat laporan kalo lo belum minta maaf ke Nadine, wah, gue perpanjang nih urusan!"
"Janji, gue bakal minta maaf," ulang Michael meyakinkan.
"Nah. Udah settle semua? Udah puas ya, Fabi," ujar Xander. "Bubarin ya."
"Balik minum-minum yuk, Fab," ajak Ryan. "Bills on me, deh. Biar lo senang sedikit."
Setelah sekian menit berteriak-teriak memarahi anak orang, akhirnya senyum indah terukir di wajah Fabiola. "Oke. Iyan emang paling bisaan bikin cewek seneng," ujarnya riang, lengannya segera menggelayut di lengan Ryan.
Xander menarik napas lega.
Michael bukan main lega, akhirnya lolos dari gigitan singa betina kelaparan.
"Baru tahu rasa lo, kena semprot pentolan feminazi," omel Xander, tangannya mendorong pelan bahu Michael, mengajaknya kembali ke bar.
Tiba di bar, Michael disambut ocehan dari Vladimir. "Lo emang bego, Mike, nyasar geng feminazi. Lo nggak tahu apa, kami-kami aja, geng VVIP, nggak ada yang bisa berkutik kalau feminazi muncul. Ngomel, labrak pakai busungin dada," kata Vladimir sambil memeragakan gaya para wanita jika tengah membusungkan dada. Kedua tangannya mengerucut pula di depan dada, dengan jarak sekian centi, mengisyaratkan para wanita itu memiliki ukuran berlebih. "Lo bayangin aja tipe-tipe Fabiola dikalikan 10, gimana cowok-cowok nggak pusing dilabrak kayak gitu? Mau ditangkap pakai tangan pun, nggak mungkin, yang ada mereka makin ngamuk! Jadi apa yang bisa kita lakuin selain diam dimarahi? Makanyaa, nggak pernah ada yang berani sama geng feminazi ... demi keselamatan bersama!" cerocosnya bernafsu.
Michael meringis. "Gitu ya?"
"Minum," ajak Xander sambil menggeser sajian cocktail yang baru saja diracik oleh Rain.
"Fabi bener-bener nggak ada rasa apa-apa ke gue, ya?" Michael memasang wajah sedih usai minum seteguk. "Gila, ngegas banget ngomelin gue."
"Here we go again, bakat bucin Mickey Mouse kambuh," gerutu Xander.
Valen hanya menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan semua yang terjadi. Ternyata Michael juga memiliki sisi bucin yang diharamkan di budaya keluarga. Padahal senang mengumbar diri bahwa dia adalah copycat Bernard nomor satu. Terbukti, tidak semua orang sempurna. Selain itu, cerita Nadine kemarin tentang sisi gelap Michael... masih membuat bulu romanya meremang. Tapi dia juga sadar, perkataan Nadine benar. Yang dimiliki Michael bukan sesuatu yang bisa diatasi hanya lewat verbal. Sisi psikologis kakaknya itu sudah terlanjur kena. Ini bukan ranah yang mudah.
Valen menggeleng. Rasanya malas memusatkan perhatian berlebihan pada Michael Ghandy. Banyak hal yang lebih berharga.
Ponsel Nadine bergetar saat ia baru saja merebahkan diri di sofa.
Nama Valen muncul di layar. Entah kenapa, hanya melihat nama itu saja sudah cukup membuat sudut bibirnya terangkat.
Pesan pertama langsung masuk.
Valen: Fabiola brutal labrak Michael di klub, nuntut Michael minta maaf ke lo dalam seminggu ke depan. See, bukan gue lho yang tegur Michael. Tapi Fabi, sobat lo sendiri.
Belum sempat Nadine membalas, satu pesan lagi menyusul.
Valen: Gak bermaksud rusak suasana nih 😋 tapi ini breaking news yang lo wajib tahu.
Nadine terkekeh pelan. Jari-jarinya segera bergerak di atas layar.
Nadine: Makasih breaking news nya 😅 Oke ... Gue juga harus say thanks ke Fabi. Emang sih, cuma dia saksi hidup yang tahu semua kisah kelam gue di masa lalu.
Balasan dari Valen datang hampir seketika.
Valen: Yes, you should thank her.
Nadine membaca ulang pesan sebelumnya sambil membayangkan ekspresi Fabiola saat marah.
Nadine: Dia ngelabrak brutal?
Valen: Brutal. Teriak-teriak bikin keributan. Semua VVIP Member aja dibikin diam kok.
Valen berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
Valen: Tapi gak heran sih. Aura Fabi tuh ... gimana ya jelasinnya 😅 mengintimidasi meski penampilannya cantik.
Nadine langsung tertawa.
Nadine: Itu emang gaya Fabi sih 🤭
Jarinya sempat menggantung di atas keyboard. Lalu, sebelum sempat berubah pikiran, ia mengetik pertanyaan lain.
Nadine: Eh ... kalau gue gimana di mata lo? Apa gue mengintimidasi juga? 😳 nggak kan?
Pesan terkirim, dan seketika Nadine menyesal. Ya ampun. Ngapain nanya begitu? Ia bahkan sempat mempertimbangkan menghapus pesan tersebut sebelum Valen membacanya.
Terlambat. Tanda centang biru sudah muncul.
Beberapa detik kemudian, balasan Valen masuk.
Valen: Sama sekali nggak.
Nadine membaca lanjutannya.
Valen: Lo tuh menyimpan kesedihan di mata lo, meski bibir lo tersenyum.
Senyumnya perlahan memudar.
Valen: Ternyata ... ya emang kisah lo bener-bener menguras air mata sih.
Nadine spontan menegakkan badan.
Nadine: 😱 Keliatan yah ada kesedihan di mata gue?? Oh noo ....
Valen tertawa sendiri saat membaca respons panik itu.
Valen: You can't fake it.
Lalu ia mengganti topik sebelum Nadine keburu overthinking.
Valen: Btw, lo lagi ngapain?
Nadine: Nonton dracin.
Valen: Oh.
Beberapa detik kemudian muncul pesan baru.
Valen: Kirain lagi inget-inget yang lo lakuin tadi sebelum pulang 😝
Mata Nadine langsung membesar.
Nadine: Valenn 😭
Ia bisa membayangkan pria itu sedang tersenyum puas di balik layar.
Dan tebakannya benar. Valen memang sedang tersenyum.
Valen: Gue gak bakal mandi-mandi deh jadinya.
Nadine: Jorok.
Valen: Yah, habis sayang kalau yang habis kena bibir lo kesapu air ...
Nadine menjatuhkan wajahnya ke bantal sambil mengerang pelan. Cowok ini kenapa sih?
Nadine: Genit 😭 Masa gara-gara dicium sampai gak mau mandi sih.
Valen: Beneran.
Valen sengaja memberi jeda beberapa detik.
Valen: Artinya apa coba?
Nadine langsung menutup wajah dengan satu tangan.
Salting.
Benar-benar salting.
Nadine: Ga tau gue salting.
Valen tertawa kecil.
Valen: Kita kompak ya? Tadi lo enjoy banget bikin gue salting. Sekarang gantian gue ngebales 😂
Pipi Nadine mulai terasa hangat. Untung mereka cuma chat. Kalau ngobrol langsung, mungkin dia sudah kabur entah ke mana.
Nadine: Inget umur ih. Udah bapak-bapak. Udah om-om. Masih aja gampang salting 😏
Valen menggeleng geli membaca pesan itu.
Valen: Lo sendiri juga ya. Udah ibu-ibu tapi saltingan.
Dan untuk beberapa saat berikutnya, senyum tak juga pergi dari wajah keduanya, meski mereka sedang berada di tempat yang berbeda.
Balasan Nadine muncul.
Nadine: Minimal gue masih lebih muda dari lo.
Valen: Emang iya? Emang lo lahir tahun berapa? Anak lo aja dah gede gitu.
Nadine: Pasti gue lebih muda lah. Lo paling seumuran Xander.
Valen terkekeh.
Valen: Mentang-mentang muda.
Nadine: Fakta.
Valen: Mentang-mentang cantik.
Nadine: 👀 Siapa bilang gue cantik?
Valen menatap layar ponselnya beberapa detik. Lalu mengetik tanpa banyak berpikir.
Valen: Semua orang yang matanya masih berfungsi.
Beberapa saat tak ada balasan.
Valen tersenyum sendiri.
Valen: Nad?
Valen: Nadine?
Masih sepi.
Valen: Halo?
Balasan akhirnya muncul.
Nadine: Gue mendadak gak mau ngobrol sama lo.
Valen tertawa pelan.
Valen: Kenapa?
Nadine: Karena lo bikin gue salting lagi.
Senyum Valen makin lebar.
Valen: Good.
Nadine: Rese.
Valen: Sleep well, Nad.
Titik-titik mengetik muncul beberapa saat.
Lalu menghilang.
Muncul lagi.
Menghilang lagi. Seolah Nadine sedang menimbang sesuatu.
Akhirnya sebuah pesan masuk.
Nadine: You too, Val 😊
Valen menatap pesan itu cukup lama.
Lama sekali, sampai layar ponselnya meredup sendiri.
Di tengah hiruk-pikuk klub yang masih ramai, untuk pertama kalinya malam itu, pikirannya tidak lagi dipenuhi oleh Bernard, risiko masa lalu Nadine, ataupun kemungkinan buruk yang menunggu di depan.
Yang tersisa hanya senyum kecil yang sulit dihapus dari wajahnya, dan satu kesadaran yang mulai tumbuh pelan-pelan.
Sial.
Gue makin suka sama dia.
Bab 10 - Akhir dari Sebuah FWB
Sore itu, Nadine sudah lebih dulu tiba di coffee shop dan memilih duduk di area outdoor. Sambil menunggu, ia memainkan ponselnya dan kembali membuka beberapa foto yang baru dikirim Valen siang tadi.
Di layar tampak Prince Ghandy yang sedang duduk di lantai, serius menyusun huruf-huruf warna-warni. Pipi bocah itu terlihat semakin gembil saat tersenyum bangga pada hasil karyanya sendiri.
Nadine ikut tersenyum.
Ia menggeser ke foto berikutnya, lalu foto setelahnya, tanpa sadar mengulanginya beberapa kali.
Dasar bocah lucu.
Sebuah notifikasi baru muncul.
Valen: Lima menit lagi sampai.
"Oh."
Refleks, Nadine meletakkan ponsel di atas meja lalu membuka tasnya. Ia mengeluarkan bedak dan lipstik, memperbaiki riasan yang sebenarnya sudah baik-baik saja.
Tetap saja. Ada seseorang yang belakangan ini terlalu sering memenuhi pikirannya.
"Kok nggak pernah main lagi ke klub?"
Suara berat yang muncul dari belakang membuat Nadine nyaris menjatuhkan lipstiknya.
Ia menoleh cepat. "Xander?"
Keterkejutan di wajahnya tidak berhasil disembunyikan.
Tanpa menunggu undangan, Xander menarik kursi di hadapannya dan duduk santai sambil membawa secangkir kopi.
"Kok lo di sini?"
Xander mengangkat bahu. "Kebetulan lewat." Nada suaranya terdengar datar seperti biasa. "Jadi sekalian mampir."
Nadine sama sekali tidak percaya itu kebetulan.
Xander meneguk kopinya sebelum kembali bertanya, "Gue dengar lo nggak akan pernah datang lagi. Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Lagi nggak nyaman aja."
"Karena Michael?"
Nadine langsung membuang pandangan.
Reaksi itu sudah cukup menjawab.
Xander menghela napas pendek. "Dia udah minta maaf?"
"Udah."
"Terus?"
"Ngirim satu hampers gede isi cokelat premium." Nadine mendecih pelan. "Ada kartu permintaan maaf juga."
"Lo apain?"
"Gue buang."
Xander mengangguk kecil, seolah memang sudah menduga jawaban itu. "Berarti dia nggak datang sendiri."
"Mengingat sifatnya, kayaknya susah."
Sudut bibir Xander bergerak tipis. Mereka sama-sama tahu Michael bukan tipe orang yang pandai mengakui kesalahan secara langsung.
Keheningan singkat muncul di antara mereka.
Xander memperhatikan Nadine selama beberapa saat. Sementara Nadine justru tampak lebih tertarik pada jalanan di depan coffee shop daripada menatap balik ke arahnya.
"Klub jadi membosankan sejak lo nggak ada,” ujar Xander memecah keheningan.
Nadine terkekeh kecil. "Oh ya?"
Ia mengira Xander akan berhenti sampai di sana. Ternyata tidak.
"Gue nggak biasa nyari orang."
Nadine akhirnya menoleh. "Lalu?"
Tatapan Xander bertemu dengan matanya. "Tapi gue ada di sini. Balik lagi, Nad."
"Buat apa?"
"Karena gue minta."
Nadine menahan napas. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Anyway ... Dia datang sendiri. Nyari gue. Xander, nyari gue? Am I that big of a deal?
Pikiran itu muncul begitu saja. Xander selama ini selalu terlihat seperti orang yang menunggu dunia datang kepadanya, bukan sebaliknya. Tapi sekarang dia duduk di hadapannya, mencari dirinya.
Semburat merah perlahan muncul di pipi Nadine. Like ... Seriously?
Ia memperhatikan Xander yang kini justru terlihat sibuk sendiri membuka tempat rokoknya.
Aneh. Pria itu tampak sedikit lebih kaku dari biasanya. Sedikit lebih frustrasi, namun juga pada saat yang sama, sedikit lebih manusiawi.
"Lo nggak masalah sama masa lalu gue?" tanya Nadine akhirnya.
Xander menyalakan rokoknya.
Ia menghirup dalam-dalam sebelum mengembuskan asap ke udara. "Gue nggak pernah terlalu peduli sama masa lalu orang."
Nadine menunggu.
"Yang gue tahu ...." Xander menatapnya sekilas. "Lo mandiri. Lo tahu cara bertahan hidup. Lo tahu cara menikmati hidup."
Ia mengetuk abu rokok ke asbak. "Dan ternyata kehadiran lo bikin tempat itu jauh lebih seru dari yang gue kira."
Untuk pertama kalinya sejak kedatangannya, Nadine benar-benar kehilangan jawaban.
Sementara itu, seseorang yang baru tiba beberapa menit lalu berdiri tak jauh dari sana.
Valen.
Awalnya ia hanya berniat menghampiri meja mereka. Namun langkahnya terhenti saat mendengar sebagian percakapan tadi.
Tanpa sadar rahangnya mengeras. Jari-jarinya mengepal. Setelah beberapa detik berdiri di tempat, ia akhirnya memutuskan mendekat.
"Hei."
Suara Valen membuat keduanya menoleh.
"Ada Xander juga di sini? Kalian janjian?" Nada suaranya terdengar santai, seolah tidak mendengar apa pun.
"Hai, Val." Senyum Nadine langsung berubah hangat. "Akhirnya sampai juga."
Xander tidak menyahut. Tatapannya mengikuti Valen yang berjalan mendekat dan menarik kursi.
Valen juga tidak mengalihkan pandangan dari Xander. Ada ketegangan tipis yang langsung memenuhi udara di antara keduanya.
Saat Valen duduk, Xander mematikan rokoknya lalu berdiri. "Oke. Gue balik duluan."
Xander melirik sekilas. "Nadine, siap-siap. Nanti malam gue jemput."
"He?" Nadine mengernyit bingung. "Nanti malam ke mana?"
Valen langsung berdiri menghadang sebelum Xander sempat menjawab. "Sorry."
Tatapannya terkunci pada pria yang lebih tua itu. "Nadine udah ada agenda sama gue."
"Oh ya?" Xander mengangkat alis. "Ke mana?"
"Nggak perlu tahu."
Untuk sesaat, suasana di sekitar mereka terasa membeku.
Tinggi mereka hampir sama. Aura yang mereka bawa sangat berbeda.
Xander berdiri tenang dengan rasa percaya diri yang nyaris arogan. Sementara Valen terlihat lebih terkendali, tetapi ketegasannya sama sekali tidak kalah.
Nadine yang menyadari perubahan suasana itu ikut berdiri.
"Guys ...." Ia memandang bergantian ke arah keduanya. "Kok jadi begini?"
Tak satu pun menjawab.
"Dia kapok datang ke tempat lo karena trauma." Suara Valen rendah. "Tapi lo masih mau bawa dia ke sana lagi?"
Xander menatapnya tanpa ekspresi. "Dia aman kalau sama gue."
"Masalahnya bukan itu."
"Oh ya?" Tatapan Xander mulai mengeras.
"Dia nggak tertarik, Xander."
Senyum tipis muncul di wajah Xander. "Kata siapa?" Ia mendengus pelan. "Kata lo?"
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia melirik ke arah Nadine. "Biarkan dia yang memilih."
Rahang Valen langsung mengencang.
Sementara Xander hanya tersenyum samar, seolah baru saja menemukan sesuatu yang menarik. "Bye."
Dan tanpa menunggu respons siapa pun, ia berbalik lalu melangkah pergi.
Tunasmara Nightclub, akhir pekan berikutnya.
"Lihat siapa yang gue bawa." Xander mendorong lembut punggung Nadine saat mereka memasuki lounge tempat geng feminis dan beberapa VVIP member sedang berkumpul.
Seketika sorakan menyambut kedatangan Nadine.
"Hai, guys," sapa Nadine sambil tersenyum.
"Welcome back, sistaa!"
"Nah gitu dong, jangan kapok main ke sini!"
"Udah lama kita gak lihat lo!"
Berbagai sambutan antusias saling bersahutan hingga membuat Nadine tak bisa menahan tawa kecil.
"Lihat kan?" kata Xander di sampingnya. "Semua nyariin lo."
Nadine mengangguk sambil tersenyum tipis. Lalu ia mendekat sedikit dan berbisik, "Saudara lo yang satu itu dijamin gak datang, kan?"
Xander mengangkat sebelah alis.
"Valen? Gue dengar anaknya lagi demam. Gak mungkin ke sini."
Nadine menggeleng cepat. "Bukan. Yang mirip lo."
"Oh." Xander terkekeh pelan. "Michael? Tenang aja. Dia lagi sibuk."
"Oke. Gue pegang omongan lo."
Xander mendengus geli sebelum menoleh pada orang-orang yang memenuhi lounge. "Guys, satu pengumuman."
Semua langsung memperhatikannya.
"Gak ada yang boleh ganggu cewek ini."
Beberapa orang langsung bersiul menggoda.
Xander mengabaikannya. "Ganggu dalam bentuk apa pun. Mau VVIP, saudara gue, atau siapa pun. Kalau ada yang macam-macam, lapor ke gue."
Nadine langsung mengernyit. Protektif amat. Meski begitu, diam-diam ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa tersanjung.
Saat Xander pergi untuk mengurus hal lain, Nadine mengambil tempat di antara teman-temannya.
Vladimir langsung menyambar kesempatan. "Juara banget emang Nadine. Bisa bikin Raja Jaim kehilangan jaimnya."
"Serius," sambung seseorang. "Gue gak pernah lihat Xander deklarasi terbuka kayak gitu."
"Kalau itu bukan feeling, gue gak tahu lagi namanya apa."
Sorakan cie-cie pun kembali menggema.
Nadine hanya bisa tersipu sambil menggeleng.
Jangan kepedean, Nad. Jangan mulai halu. Ia buru-buru menahan pikirannya sendiri sebelum melangkah terlalu jauh.
"Xander gak bakal main hati." Ryan menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Atau dia hilang saham di sini.”
Tepat seperti yang gue pikir, batin Nadine. Selain itu, gue juga tahu dia heartless.
"Abangku yang beda bapak lain ibu," sahut Vladimir sambil merangkul Ryan. "Gue gak bilang Xander main hati. Gue cuma bilang jaimnya hilang, dan penyebabnya ya Nadine."
"Nah itu lebih masuk akal," sahut beberapa orang.
Dante yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut bersuara. "Xander makin gak asik."
"Kenapa?" tanya Nadine.
"Soalnya gue jadi gak bisa gangguin lo." Ia mengedipkan sebelah mata.
Nadine langsung tertawa. "Ya ampun, Dante. Masih aja? Lagian di sofa ini banyak yang lebih cantik dari gue."
"Percuma," sahut Vladimir. "Nadine udah dari dulu bilang gak tertarik sama yang lebih muda. Ya kan, Nad? Lo tuh kemudaan buat dia, Dante."
Dante langsung memasang wajah tidak terima. "Diskriminasi usia."
Tawa langsung pecah di sekitar mereka.
Fabiola yang sedari tadi menikmati tontonan itu tiba-tiba menyipitkan mata. "Eh bentar. Valen bukannya seumuran Dante?"
Nadine berkedip.
Fabiola melanjutkan dengan ekspresi penuh kemenangan. "Valen tahun '87 kan? Berarti lebih muda dari lo juga, Nad!”
"Nah!" Dante langsung menunjuk Fabiola. "Akhirnya ada yang membela gue."
"Padahal tiap hari lo update story sama Valen," lanjut Fabiola sambil terkikik. "Nempel mulu tuh."
Nadine mengerjapkan mata. Entah baru sadar, atau baru tahu. "D-dia ...." Nadine berusaha mencari alasan. "Umurnya menipu. Gak kayak lebih muda."
Sekelilingnya langsung bersorak.
"Alesaaaan."
"Ketahuan."
"Udah kena panah cinta nih."
Nadine menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tolonglah.
Vladimir mengusap dagunya seolah sedang menganalisis masalah negara. "Kayaknya bakal seru nih, ke depannya."
"Apanya?" tanya Ryan.
"Alexander Ghandy versus Valentino Ghandy."
"Oh." Ryan langsung mengangguk mantap. "Gue pegang Valen."
Ia lalu menoleh pada Nadine. "Sorry, Nad. No offense. Ini topik yang sangat layak dijadikan taruhan."
"Xander lah," sahut Vladimir. "Lo gak pegang Xander karena gak mau dia ditendang dari member doang, kan. Ngakuu."
Ryan menyeringai. "Fitnah."
Suasana semakin ramai karena semua mulai mengajukan tebakan masing-masing.
Nadine hanya bisa memandang mereka dengan ekspresi putus asa sekaligus geli.
Padahal belum tentu juga salah satu dari mereka bakal jadi pasangan gue.
"Siapa yang ngasih izin nama gue dipakai buat taruhan?"
Suara berat Xander tiba-tiba muncul dari belakang.
Lounge langsung sunyi.
Vladimir refleks menyikut Ryan. "Mampus lo, Yan."
Ryan malah mengangkat kedua tangannya dengan santai. "Sorry, Bro. Kebawa suasana."
Xander menggeleng pelan. Kadang-kadang dia merasa teman-temannya memiliki terlalu banyak waktu luang. Tangannya menyilang di depan dada sementara dagunya bergerak menunjuk ke arah dance floor.
"Dante. Vlad."
Keduanya langsung siaga.
"Lo berdua frontman, kan?"
"Iya."
"Mingle sana. Cuma ada Erwan sama Dylan di floor. Zach kerja. Rain kerja. VVIP di sini tugasnya bikin crowd hidup, bukan nongkrong sambil tebar pesona."
Vladimir langsung berdiri tegak. "Siap salah, Bos. Segera laksanakan, Bos."
Sebelum Xander sempat menambah omelan, Vladimir sudah menyeret Dante pergi. Dante sendiri masih tampak kesal karena ikut terseret dalam hukuman massal tersebut.
Tatapan Xander kemudian beralih pada Ryan. Ryan hanya mengangkat bahu lempeng dengan wajah datar seolah berkata, Ya terus kenapa?
Xander mendengus pelan sambil memutar bola mata. "Titip klub, Yan," katanya kemudian.
Ryan langsung menangkap nada itu. "Mau ke mana?"
Xander tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia menoleh pada Nadine, meraih pergelangan tangannya, lalu menariknya berdiri.
Nadine bahkan tidak sempat bertanya sebelum dibawa pergi.
Begitu keduanya menghilang dari lounge, semua orang yang tertinggal langsung saling bertukar pandang. Tatapan penuh arti, yang merasa tahu persis apa yang sedang terjadi.
Fabiola menahan tawa. "Jaimnya memang mulai berkurang."
"Lumayan banyak malah," sahut seseorang.
"Tapi level bosnya masih di langit."
Kali ini Ryan mengangguk dengan sangat khidmat. "Sangat setuju."
Dan seperti biasa, tidak ada satu pun orang di lounge itu yang menyadari bahwa hidup punya rencana lain yang jauh lebih rumit daripada semua teori mereka malam itu.
Pesona yang sama. Tubuh yang sama. Aroma yang sama. Suara napas yang sama.
Biasanya Nadine mudah mengikuti permainan Xander dan bahkan terkadang ia yang menguasai permainan. Ia adalah mainan Xander dan Xander adalah mainannya, seperti biasa.
Namun malam itu perhatian Nadine terpecah. Ia tidak menikmati sepenuhnya. Gerakan tubuhnya sepenuhnya autopilot, sementara pikirannya melayang ke berbagai masa di dalam hidupnya.
Ke berbagai nama yang pernah membuatnya yakin, bahwa ia hanyalah boneka seks belaka.
Dimas, orang yang pernah melakukan child-grooming padanya saat ia berusia 13 tahun.
David. Louis. Pacar-pacar pertamanya saat SMA.
Nicky, ayah kandung dari anaknya.
Puluhan lelaki hidung belang yang membayar jasanya. Nadine tak pernah mengingat nama mereka.
Gerald, yang juga adalah batu loncatan buatnya.
Adrian, mantan bosnya dulu.
Lalu Alexander, yang saat ini sibuk di atas tubuhnya.
Nadine berkata dalam hati, Kenapa gue harus kegeeran waktu Xander minta gue balik main ke klub? Tentu dia kehilangan. Tentu dia kangen gue. Tapi bukan kangenin gue sebagai manusia. Dia kangen boneka seksnya yang piawai manjain egonya...
Hingga aktivitas mereka usai, Xander tak sekalipun menyadari bahwa Nadine tak sepenuhnya bersamanya tadi. Dengan wajah lempeng dia duduk bersandar di sofa, mengisap rokok.
Nadine yang baru keluar dari kamar mandi, sudah kembali berpakaian, duduk menyilangkan kaki tak jauh dari Xander. Ia menerima tawaran rokok Xander.
Satu tarikan racun. Dua. Tiga.
Nadine semakin yakin akan keputusannya.
"Xander, maaf ya." Tiga kata itu menjadi pemecah keheningan di antara mereka.
Xander menatap Nadine heran.
"Gue gak bisa lagi jadi FWB lo," ujar Nadine yakin.
Xander mengerjap. Disangkanya dia salah dengar. "Maksudnya?"
"Ini gak bisa gue lanjutin. Yang barusan tadi ... adalah yang terakhir," kata Nadine sambil menatap Xander.
"Kok?"
Nadine mengisap rokok dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. "Selama ini gue mematikan rasa. Seperti kesepakatan kita, no strings attached. Gue gak pakai hati selama sama lo, dan rasanya gue udah did a good job."
Xander semakin serius menatap Nadine.
Nadine melanjutkan, "Tapi belum lama ini gue dikasih lihat ... masih ada yang capable melihat gue sebagai manusia. Bukan melihat gue sebagai FWB. Bukan sebagai teman favorit. Bukan guling favorit. Bukan boneka favorit. Bukan barang... Manusia."
Xander masih tak yakin kemana arah pembicaraan ini.
"Bersamaan dengan itu, rasanya prinsip-prinsip gue selama jadi Nadine yang lo tahu tuh kayak menguap begitu aja. Dan gue terharu masih ada yang bisa lihat gue sebagai manusia. Manusia utuh. Dia bahkan menolak saat gue bukakan pintu kesempatan buat dia. Katanya, dia gak mau menyakiti hati gue hanya karena nafsu sesaat."
Xander menunduk, memijat kening. Valen nolak? Valentino Ghandy?? Bullshit.
"Gue pernah cerita soal mantan suami gue kan, si Tommy? Selain KDRT, dia juga siksa gue secara mental. Dia bilang gue jamban berjalan. Dia bilang gue pantas jadi pelacur. Creepy, yang dia bilang checked semua," ujar Nadine getir. "Sebagian besar laki-laki yang dekat sama gue emang anggap gue jamban berjalan. Cuma datang kalau kebelet."
"Tapi orang ini beda banget. Dia bikin gue merasa dilihat sebagai manusia. Dan di situ, hati gue yang selama ini mati suri ... kayak kembali berfungsi. Dia sentuh hati gue bahkan tanpa pernah sentuh apa pun di gue secara fisik."
Nadine menghela napas panjang. "Karena hati gue kembali berfungsi .... Makanya gue rasa gue gak bisa lagi lanjut hedon sama lo, Xander. Sorry kalau bikin lo kecewa. Tapi gue yakin lo bakal dapat pengganti yang lebih dari gue, secepatnya."
Xander tak berkata apa-apa. Dia hanya mendengus saat menduga sesuatu.
Hingga akhirnya Xander bertanya, "Valen menyentuh hati lo bahkan tanpa sentuhan fisik, itu yang mau lo bilang?"
Nadine menunduk dan mengangguk. "Ya."
Hela napas Xander terdengar kasar. Rahangnya mengencang, dan tanpa menoleh pada Nadine, dia berkata datar. "Well. Good for you. Good for Valen."
Xander langsung bangun dan berjalan melewati Nadine, lalu keluar dari kamar, meninggalkan Nadine sendirian. Tak ada kata-kata lain darinya, selain yang telah terucap.
Meski ada rasa tak enak pada Xander, namun kini Nadine tersenyum. Akhirnya ia bisa sepenuhnya fokus memelihara benih cinta yang baru saja mulai bertumbuh.
Comments
Post a Comment