TC (1-4) | INA
The Clone
1 - Omerta, the Code of Silence
New Yord City, 2017.
Reeve Galante melangkah keluar dari dalam elevator begitu benda itu membawanya ke lantai 18. Sepatu hitam mengilat di kakinya terasa kaku, tidak nyaman untuk melangkah. Celana panjang hitam, jas hitam lengkap dengan sebentuk dasi berwarna gelap di dalamnya berpadu dengan kemeja krem polos. Semua yang membalut tubuhnya malam itu telah tergosok ekstra licin, rapi dan bersih. Ini kali pertama dia berpenampilan rapi setelah sekian lama masa bodoh dengan yang menempel di tubuhnya.
Penampilannya saat ini tampak senada dengan warna interior Red Season Hotel tempat dirinya diundang oleh seseorang yang berjasa padanya. Karpet empuk bercorak merah hitam menghiasi seluruh lantai, wallpaper tanpa motif dengan dua warna yang senada dengan karpet. Beberapa lampu hias menempel di sisi kiri kanan koridor tidak terlalu membantu pencahayaan. Temaram.
Di ujung koridor, beberapa pria berpenampilan serba hitam berkumpul di depan pintu besar berukir. Nyaris dari semua pria itu mengenakan kacamata hitam, berdiri dengan kaku sambil memandangi kedatangan Reeve dengan ekspresi sangar.
Di bawah tatapan pria-pria berwajah tidak bersahabat itu, tidak heran perasaan gugupnya mencuat. Namun Reeve segera mengendalikan dirinya sendiri. Untuk apa merasa gugup? Dia tidak melakukan kesalahan. Tidak akan Reeve biarkan vibrasi negatif yang menguar dari orang-orang berpenampilan serba hitam itu menulari dirinya.
Reeve mengangkat dagu, menegakkan punggung, melangkah dengan pasti, tenang, tidak terburu-buru. Dia putuskan untuk tidak mengumbar senyum pada semua yang memandangi. Selain karena itu bukan gayanya, juga karena dia yakin tempat ini bukan tempat yang cocok untuk memasang wajah ramah maupun ceria.
Dia biarkan wajah mudanya kaku tanpa ekspresi, matanya hitam menatap tajam ke depan. Sebentuk luka codet panjang menghiasi tulang pipi kanan, sekilas terlihat mengerikan. Luka bekas perseteruan yang terjadi tak lama sebelum ini, tampaknya menjadi luka permanen yang harus dia terima sebagai bagian dari wajahnya. Rambutnya gondrong di bawah telinga, yang biasanya tampil masai, spesial malam ini licin dan rapi berkat gel rambut berkualitas tinggi.
"Reeve," panggil seseorang.
Reeve menoleh, menyunggingkan senyum sekilas. "Hai, Renato," sapa Reeve.
"Senang melihatmu," ujar pria bernama Renato tersebut sambil menepuk-nepuk bahu Reeve. Renato Gravano, pria paruh baya bertubuh bongsor dan berkepala plontos, tersenyum hangat menyambut kedatangan Reeve, bawahan yang dia jaminkan pada para petinggi.
Renato teringat beberapa tahun lalu saat dia 'menemukan' Reeve Galante yang masih baru awal menginjak masa remaja, yang bergabung dengan kelompok perampok mini market di Philadew, pinggiran kota. Renato diam-diam menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, betapa bocah ingusan itu bisa merangkai strategi brilian dan memimpin operasi dengan licin, berhasil dengan gemilang tanpa kuatir terlacak keberadaannya oleh pihak berwajib. Bocah bernama Reeve itu secara alamiah menjelma menjadi pemimpin kelompok yang sebenarnya, meski mungkin bocah itu tidak menyadarinya.
Ketertarikan tak beralasan yang Renato rasakan terhadap Reeve remaja membuatnya terus mengintai semua pergerakan Reeve, menilainya dalam hati, hingga dia memutuskan bahwa bocah itu layak diberikan status. Terlebih saat Renato mengungkap identitas Reeve, si bocah yang ternyata memiliki darah asli pedalaman Sivily, Renato semakin merasa yakin akan keputusannya memberikan status. Sebuah status yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang Sivily, dengan keuntungan tak terbatas, tak terhingga, dengan jenjang yang jelas dan adil. Sebuah status yang membutuhkan keberanian tiap orang yang terlibat untuk bisa survive sampai akhir.
"Renato," panggil Reeve. Ada kesan canggung terlihat dari senyum tipisnya. "Aku sungguh tidak tahu bagaimana bisa mengucap terima kasih padamu. Tanpa Anda, aku hanya akan terus berada di jalanan, entah sampai kapan," ujarnya dengan suara berat.
Renato membalas senyum Reeve.
Beberapa bulan sebelumnya Renato mendatangi pemimpin kelompok Reeve, seorang pemuda keturunan Irlande, meminta agar kelompok itu menyiapkan untuknya 20 mobil mewah dari showroom ternama di seluruh penjuru kota. Renato memberi penekanan pada pemuda Irlande itu agar Reeve dibiarkan memimpin, dan pemuda itu dilarang ikut campur.
Hasil operasi pencurian 20 mobil mewah yang dikepalai oleh Reeve malam itu sungguh membuat Renato terpukau. Bagaimana tidak, hanya dalam tiga jam saja Reeve bisa menyelesaikan tugasnya dengan mulus. Renato yang terpuaskan itu kemudian membawa nama Reeve pada para petinggi agar menyetujui rencananya untuk menjadikan Reeve sebagai bagian dari mereka.
"Aku hanya bertindak sesuai kenyataan. Kau tangguh, cerdik, dan bisa menyelesaikan semua tugas dariku sebagai pembuktian. Kau berhak mendapatkan ini semua," sahut Renato tenang.
"Ya. Aku ... aku sendiri masih belum percaya aku bisa mendapatkan ini semua pasca menyelesaikan tugasmu yang terakhir itu. Saat itu adalah pertama kalinya aku bertindak sejauh itu," ujar Reeve.
Reeve merujuk pada perbuatannya beberapa hari yang lalu, yakni melenyapkan nyawa seseorang yang menjadi musuh keluarga. Semua yang akan diinisiasi masuk ke dalam keluarga, haruslah dengan sebuah pembuktian bahwa dia layak, dengan cara menyingkirkan lawan. Membunuh.
"Segala sesuatu selalu ada yang pertama kalinya," kata Renato bijak. "Kau akan segera terbiasa. Kau punya nyali. Dan kau punya darah Sivily yang berharga itu. Mungkin kau hanya masih terlalu muda untuk mencerna ini semua, tapi, tenang saja. Seiring berjalannya waktu, aku yakin kau akan segera menjadi mafioso yang tangguh."
Reeve tersenyum menanggapi pria bongsor berwajah penuh kerutan di hadapannya itu. "Bukankah menurutmu aku memang masih terlalu muda?"
Renato segera teringat saat dia mereferensikan Reeve pada para petinggi keluarga untuk diberikan status. Steffano Dossena sang wakil kepala keluarga, juga Roberto Consigli sang penasihat keluarga, keduanya sama-sama mengerutkan kening pertanda tak berkenan begitu Renato menyebutkan umur Reeve. 16 tahun.
"Kau bercanda, Renato," ujar Steffano saat itu.
Roberto ikut berkomentar, "Belum cukup umur. Masih anak-anak. Aku pikir dengan omong besarmu itu, si Reeve yang kau maksud itu sudah dewasa. Ternyata malah anak labil."
"Ini tidak baik. Bisa runyam bila kau berkeras memasukkan anak kecil ke dalam keluarga kita," timpal Steffano lagi.
Renato mengernyit. Matanya melirik sang bos, Don Alphonse Burgueno yang hanya duduk diam di kursi kebesarannya. Bos keluarga kejahatan terorganisasi Burgueno yang menjadi salah satu klan kelompok terkuat di seantero New Yord. Rambutnya tipis, nyaris putih semuanya. Ratusan kerutan di wajah membuat pipinya tampak turun, namun itu tidak mengurangi kharisma yang terpancar dari sorot matanya yang terlihat kalem itu. Orang biasa yang tidak mengetahui siapa sesungguhnya Alphonse Burgueno akan segera merasa respek dan kagum akan kepandaian dan hangat sikapnya, namun, bagi yang mengetahui, siapa pun tidak akan berani berbuat sesuatu yang bisa memancing kemarahan sang Don.
"Dia memang masih 16 tahun, lalu kenapa?" Renato mencoba sekali lagi mempersuasi. "Sikap dan cara berpikirnya jauh lebih dewasa, sama sekali tidak terlihat perangai anak 16 tahun di sana. Lagipula dalam dua tahun dia cukup umur. Kenapa tidak kita berikan tempat untuknya belajar selagi dia masih semuda itu?"
"Belajar." Roberto terkekeh sinis. "Apa kau pikir keluarga kita sebuah sekolah atau universitas?"
"Dia akan menjadi hebat, aku yakin hanya dengan melihat kemampuannya. Aku sudah mengintainya beberapa tahun ini, bisa kubuktikan dia tanpa cela. Hanya satu ujian lagi untuknya, dan kalau dia berhasil melakukannya, aku tahu dialah orang yang tepat," ujar Renato penuh penekanan.
"Kelihatannya kau begitu kukuh menjadikan anak itu 'made man'," sahut Steffano.
"Benar. Aku bersedia menjaminnya. Biarkan aku yang menjadi mentor," jawab Renato.
Roberto masih saja tersenyum sinis. "Bagaimana kalau keyakinanmu keliru semua?"
Renato berdecak. Dia akhirnya beralih pada Don Alphonse, lalu bertanya, "Don, apakah kau juga tidak setuju denganku?"
Don Alphonse menaikkan alis. "Untuk urusan kecil seperti ini saja diperdebatkan," sahutnya. Dia menghela nafas panjang sebelum berkata pada Steffano dan Roberto, "Renato terlihat yakin, dan lagipula dia yang menjamin anak itu. Biarkan saja, Stef, Rob. Toh anak itu hanya butuh dua tahun untuk cukup umur."
Renato tidak menahan senyum puasnya mendengar jawaban Don Alphonse saat itu.
Kini, dia berkata pada Reeve, "Tidak disarankan menolak tawaran menjadi serdadu, Reeve. Kau akan menjadi 'made man' dan menjadi bagian dari keluarga Burgueno selamanya."
Reeve mengangguk, tersenyum.
"Ini anak baru yang kau ceritakan itu, Renato?" Sebuah suara menginterupsi obrolan keduanya. Si pemilik suara berperawakan kurus kering, tidak terlalu tinggi. Giginya agak tonggos, gemar tertawa. Sekilas dia tampak humoris, namun kesan tersebut lenyap berkat sorot mata yang tajam dan menusuk.
"Tonio," panggil Renato. "Reeve, kenalkan ini Tonio Gallo, dia lebih duluan diinisiasi darimu, dan aku juga yang membawanya. Tonio, benar, ini Reeve Galante yang kuceritakan. Kalian berdua bekerja samalah," katanya pada dua anak muda tersebut. Senyum di wajah bulatnya terkembang menyaksikan dua 'anak'nya saling berkenalan dan terlihat cocok.
"Sudah, ayo kau segera masuk, Reeve. Don pasti sudah menunggumu di dalam," ujar Renato lagi sambil mendorong pelan bahu Reeve.
Reeve menurut. Dia melewati beberapa orang berpakaian serba hitam lainnya yang sejak tadi terus memerhatikan dirinya. Dua dari mereka membukakan pintu, mempersilakannya masuk.
Di dalam, ruangan ekstra lapang dengan interior senada seperti di koridor. Beragam furnitur keemasan serta lampu gantung menambah kesan mewah. Don Alphonse terlihat duduk di ujung meja panjang, diapit pengawal. Beberapa orang lainnya, beragam usia, sebagian duduk dan ada pula yang berdiri, tengah berdiskusi. Semuanya sontak menghentikan aktivitas begitu Reeve melangkah masuk, diikuti Renato dan Tonio.
Tidak dipungkiri bahwa Reevelah yang paling muda di antara kawanan yang ada di dalam ruangan itu. Satu-satunya yang berada di bawah umur.
Pemuda lainnya, yang kira-kira terpaut tiga tahun dari Reeve, memandangi gerak tubuh Reeve dengan tatapan seolah meremehkan. Postur pemuda ini tinggi jangkung, mungkin sama tingginya seperti Reeve. Rambutnya pendek acak-acakan seolah tidak pernah terkena sisir. Mata hitam tajam, hidung yang tinggi, garis rahang yang tegas, keras, serta janggut tipis-tipis memberi kesan berbahaya dari raut wajahnya. Penampilannya, agak tidak acuh. Jas tidak dikancing, tanpa dasi, dua kancing teratas kemejanya tidak dikaitkan. Penampilannya berbanding terbalik dengan semua orang yang berkumpul malam itu.
Pemuda berwajah berbahaya itu bernama Roman Burgueno, anak laki-laki Don Alphonse Burgueno.
Reeve merasakan tekanan yang semakin menjadi begitu memasuki ruangan, pandangan semua pria di ruangan ini jauh lebih menekan dibandingkan para punggawa yang berjaga di depan pintu. Wajar kegugupan kembali menderanya. Namun, dia menguatkan hati. Reeve dengan mantap melangkah mendekati sang Don yang kini ikut berdiri menyambut kedatangannya. Senyum hangat terkembang di wajahnya yang ramah, persis seperti seorang ayah yang menyambut anaknya pulang.
"Kau rupanya, yang bernama Reeve Galante," ujar Don Alphonse.
"Benar, Don," jawab Reeve sesopan mungkin.
Don Alphonse mengangguk-angguk memandangi Reeve dari atas sampai bawah. Dia meletakkan kedua tangannya di lengan Reeve, meremasnya hangat. Senyum yang sama hangat masih terukir di wajah ramah itu.
"Kau tahu, Reeve? Tidak ada yang lebih penting bagi seorang pria selain keluarganya. Para pria ini, para pria terhormat ini, mereka juga adalah keluargaku. La famiglia Burgueno. Sekarang aku mengundangmu untuk lahir kembali, sebagai bagian dari keluarga ini. Kita tidak bersumpah dengan darah. Darah tertumpah. Kata-kata akan abadi. Apa yang lahir dalam keluarga ini mati di sini. Dan apa yang mati di sini tidak pernah terucapkan," ujar Don Alphonse.
Reeve mengangguk hormat. "Ya, Godfather," jawabnya.
Don Alphonse maju mengecup kedua pipi Reeve. Lalu katanya lagi, "Sekarang kau adalah salah satu dari kami yang telah memenuhi syarat. Gli uomini qualificat, pria yang berkualitas. Silakan perkenalkan dirimu pada semua saudaramu."
Reeve tak mampu membendung senyum senangnya, ada sirat bangga di sana. Don Alphonse melepaskan Reeve, membiarkan dirinya dihampiri oleh semua yang menyaksikan. Semua mengucapkan selamat, lengkap dengan pelukan. Di sana Reeve berkenalan dengan Steffano Dossena, juga Roberto Consigli yang terlihat sebaya dengan sang Don sendiri.
"Kau tahu siapa aku?" Roman bertanya dengan nada congkak begitu Reeve berhadapan dengannya.
Tentu saja Reeve tahu. Pada saat Renato menghubunginya dan menyatakan maksud terhadapnya, Reeve tidak membuang waktu dan mencari semua informasi mengenai keluarga Burgueno. Dari semua informasi yang dia dapatkan, tentu saja ada nama Roman di sana, sebagai pewaris tunggal Don Alphonse Burgueno. Dan kini dia berhadapan langsung dengannya.
"Aku tahu," jawab Reeve mantap. Tidak dia biarkan kesombongan sikap Roman menggerus kepercayaan dirinya. "Roman, keturunan Don Alphonse."
"Good." Roman maju memeluk Reeve sejenak. "Selamat datang di keluarga ini."
"Terima kasih."
"Dengar, kau harus paham akan hal ini." Tiba-tiba mimik serius terpancar di wajah Roman.
Reeve memasang telinga, menunggu lanjutan percakapan Roman.
Roman berujar, "La cosa nostra, hal yang kita miliki, bukanlah hal terkait bisnis semata. Ini adalah kehormatan. Kau masuk hidup-hidup, dan kalau kau keluar, kau mati. Dan ingat, bukan keheningan yang membuatmu tetap hidup. Melainkan kesetiaan. Sampai di sini paham?"
Menjadi anggota keluarga mafia adalah sebuah kehormatan. Tentu saja Reeve paham. Dia tidak boleh bertindak seenaknya pada siapa pun anggota keluarga. Terlebih, dia tidak boleh berpaling, berpindah, atau lebih buruknya lagi, 'bernyanyi' di hadapan yang berwajib dan membeberkan isi perut keluarga. Kematian akan menjadi satu-satunya hal yang menunggunya apabila dia berbuat demikian. Tentu saja Reeve tidak akan pernah melakukan itu. Bahkan, sekedar kepikiran pun tidak akan pernah. Dia tahu ini semua sejak awal.
"Kau setuju, kan?" Roman mendesak adanya respon.
Reeve mengangguk. "Aku setuju. Kau tenang saja, Roman, mulai saat ini aku mengabdikan hidupku pada keluarga ini, dan kau bisa pegang ucapanku. Aku tidak akan bertindak tak terpuji," jawabnya.
Roman mengangguk puas, lalu menepuk bahu Reeve sebelum beranjak.
"Gentlemen," ujar Steffano lantang, menginterupsi kegiatan semua yang ada di dalam ruangan. "Tamu kita sudah ada di lantai dasar, sedang menuju lantai ini. Harap yang tidak berkepentingan segera meninggalkan ruangan."
Reeve mencerna dalam sepersekian detik, lalu paham bahwa dirinya termasuk yang 'tidak berkepentingan'. Dengan sadar diri dia bermaksud keluar ruangan. Tonio mendekati dan merangkul dirinya, berjalan menyejajari langkah sambil tertawa ringan. "Kita nggak berkepentingan, Reeve, ayo keluar," ajaknya.
Reeve mendapati beberapa orang ikut keluar, sementara yang tetap tinggal di dalam mulai mengambil tempat di sekeliling meja panjang. "Rupanya mereka ada agenda meeting setelah ini?" tanya Reeve memastikan.
"Benar. Dan yang kudengar, meeting kali ini adalah sesuatu yang WOW. Aku belum tahu apa itu, apa kau penasaran?" Tonio memancing.
"Kalau memang harus kita ketahui, pasti kita akan tahu," sahut Reeve santai.
Renato menghadang kedua pemuda itu di ambang pintu. "Reeve, Tonio," panggilnya. "Aku akan meeting sekarang, kalian tunggulah di luar, ok?"
"Ah. Ok," jawab Tonio, sementara Reeve hanya mengangguk.
"Don akan meeting dengan siapa? Siapa tamu kita kali ini?" tanya Tonio.
Renato terlihat ragu sejenak, namun kemudian menjawab, "For your own records, mereka adalah ilmuwan yang ingin bekerja sama dengan keluarga kita."
"Ilmuwan??" Tonio membelalakkan mata, bibirnya membentuk huruf O sempurna menunjukkan keterkejutan yang tidak dia tutupi. "Sejak kapan la cosa nostra berhubungan dengan sains??"
Renato berdecak. "Anak muda. Inilah sebabnya mengapa aku tidak begitu berminat memiliki anak buah, dan sejauh ini hanya memiliki dua, tidak seperti capo yang lain. Para ilmuwan itu dulu bekerja sama dengan mendiang Don yang sebelumnya, dan sekarang bermaksud memperpanjang kerja sama dengan kita. Kalau kau penasaran, cari tahu sendiri dari mereka yang seumuran denganku. Mereka akan paham apa maksudku."
Usai berkata demikian, Renato meninggalkan Tonio dan Reeve di luar ruangan dalam keadaan bingung.
Reeve menyaksikan pintu elevator di ujung koridor terbuka, dari dalam keluarlah dua pria berjas putih panjang. Keduanya sama-sama berperawakan tinggi, dengan raut wajah serius dari balik kacamata. Warna putih yang dominan di rambut mereka menandakan umur mereka sudah tidak lagi muda. Keduanya melangkah dengan kaku dan tergesa.
"Itu tamu kita," ujar Reeve sambil menunjuk keberadaan para ilmuwan itu dengan dagunya. Para penjaga pintu membukakan pintu untuk mereka.
"Ah. Kayaknya aku tahu," kata Tonio. "Ini terkait bisnis kloning manusia."
Reeve sontak memandangi lawan bicaranya dengan tatapan heran. "Gimana?"
2 - Human Clone
Sebagai caporegime yang paling loyal dan dipercaya oleh sang Don, Renato Gravano selalu terlibat dalam rapat intern keluarga. Caporegime berhidung besar tersebut selalu siap sedia dalam keadaan apa pun ketika dirinya diperlukan. Seperti malam ini, Don Alphonse Burgueno kedatangan dua orang tamu, ilmuwan-ilmuwan yang sempat menjalin hubungan bisnis dengan Don yang sebelumnya, Don Angelo Granoche. Don Alphonse Burgueno yakin, para ilmuwan ini datang dengan maksud menjalin hubungan bisnis dengannya, sebagai penerus Don Angelo Granoche. Don Alphonse akan menerima dengan senang hati tawaran bisnis apa pun, legal maupun ilegal, namun tidak untuk bisnis yang satu ini. Bisnis kloning manusia.
Bagi Don Alphonse yang religius, yang selalu menerimakan sakramen tobat sesaat setelah dia mendapati dirinya berdosa, kloning manusia tidak sesuai dengan moral agama. Manusia diciptakan oleh Tuhan, dan hanya Tuhan yang berhak mengatur semuanya. Baginya tidak etis jika manusia menciptakan kopi dirinya sendiri, hanya untuk kepentingan pribadi.
Para ilmuwan itu sudah datang, Prof. Dr. Nicholas Spindler dan wakilnya, Prof. Dr. Reinhard Franglen. Renato teringat ketika dulu dia masih berpangkat prajurit, ketika Don Angelo Granoche masih hidup, dia sering mendapat tugas mengawal Don Granoche setiap melakukan kunjungan ke laboratorium pusat pengembangan kloning hewan yang rupanya dijadikan kedok untuk menutupi bisnis rahasia Don Granoche dengan para ilmuwan di laboratorium itu, yakni penelitian dan pengembangan kloning manusia. Renato menyaksikan sendiri perkembangan yang signifikan yang dihasilkan berkat kepandaian para ilmuwan yang terkait. Mereka mampu menciptakan seluruh organ-organ tubuh yang ada pada manusia sehingga dapat berfungsi selayaknya organ asli manusia, di mana organ-organ itu akan dicangkokkan pada tubuh buatan, tubuh yang akan disesuaikan dengan kondisi fisik dan lahiriah calon pemesan klon. Itulah perkembangan terakhir yang diketahui Renato, beberapa saat sebelum Don Granoche mangkat.
Saat ini, Don Alphonse memintanya untuk mengikuti pertemuan dengan para ilmuwan itu. Dan isu yang didengarnya adalah, para ilmuwan itu telah berhasil menyelesaikan proyek kloning manusia. Kabarnya mereka telah menciptakan alat untuk mentransfer memori, sehingga semua hal yang ada di kepala si pemesan klon bisa dikopi seluruhnya untuk kemudian ditransfer pada otak klon. Maka jadilah seorang kopi manusia. Robot, yang memiliki semua sifat, kelebihan dan kekurangan, kemampuan, dan juga memori seperti yang dimiliki sang pemesan klon.
Renato menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Roman menyimak presentasi proposal yang dibawakan oleh Prof. Dr. Reinhard Franglen dengan bersemangat dan mata yang berbinar-binar.
Tentu, Renato berujar dalam hati, bocah ini tergiur dengan jutaan dolar yang bisa dihasilkan jika bisnis ini menjadi milik Burgueno.
Sementara sang Don sendiri tampak tidak tertarik.
Franglen, ilmuwan berperawakan tinggi dan kurus yang pandai berbicara itu adalah orang kedua dalam proyek kloning manusia, sementara sang ketua proyek, Prof. Dr.Nicholas Spindler, hanya duduk diam dan membiarkan wakilnya terus berpresentasi.
Presentasi usai. Renato melihat ekspresi wajah datar Roberto dan Steffano seolah tidak terkesan, namun dia bisa menerka kedua orang ini pun tertarik pada bisnis kloning itu dari kilatan mata mereka. Sementara Roman menatap ayahnya dengan pandangan tidak sabar.
"Tidak." Don Alphonse berkata singkat, namun cukup membelalakkan mata Roberto dan Steffano yang terkejut, lebih-lebih Roman.
"Aku hargai kalian yang menjadikanku sebagai orang pertama yang kalian tawari bisnis ini, namun aku harus menolaknya. Aku tidak mau menjalankan bisnis itu," ujar Don Alphonse melanjutkan.
Spindler yang bertubuh jangkung namun bungkuk menatap Don Alphonse dengan kedua mata abu-abunya yang pucat. "Godfather," ujarnya dengan suara serak. "Anda kami jadikan orang pertama yang kami tawari bisnis ini karena kami tahu, Anda adalah orang kepercayaan mendiang Don Angelo Granoche. Kami membutuhkan back up politik dan keamanan yang terjamin dari Anda, Godfather."
Roberto sang consigliere atau penasihat, mendekatkan wajah pada sang Don dan hendak membisikkan sesuatu, namun Don Alphonse menampiknya dan tidak memberikan kesempatan Roberto berbicara.
"Jawabanku tetap, tidak," ujar Don Alphonse datar. Dari pancaran mata serta pembawaannya yang anggun memancarkan pesona kharismatik yang membuat Franglen dan Spindler tahu bahwa itulah jawaban akhir sang Don. Pada detik yang sama mereka sadar harus segera mengundurkan diri.
"Itulah jawaban akhirku. Aku ucapkan selamat atas usaha kalian ini. Kuharap kalian sukses, selama tidak bersinggungan dengan teritori Burgueno." Don Alphonse bangkit berdiri dan menjabat tangan Spindler dan Franglen yang tampak kecewa.
"Bisa-bisanya Papa menolak bisnis miliaran dolar dan membiarkan empat keluarga lain saling memperebutkan bisnis yang seharusnya menjadi milik kita?!!" protes Roman setengah berteriak setelah kedua ilmuwan itu menghilang di balik pintu.
"Roman, kau tidak tahu apa yang kau bicarakan," sahut Don Alphonse tenang seraya menyesap segelas whiskey.
"Tidak tahu apa yang kubicarakan! Hah! Yang kutahu adalah, Papa membiarkan bisnis masa depan yang menjanjikan itu lewat di depan hidung Papa begitu saja! Coba tanya Roberto. Menurutmu siapa yang salah dari antara aku dan Papa, Consigliere?" tanya Roman seraya menghampiri Roberto.
Roberto terdiam sejenak, menimbang. "Menurutku, apa yang menjadi keputusan Don adalah yang terbaik," jawabnya.
Renato melirik Roberto, keningnya berkerut keheranan. Roberto bermain aman atau berusaha mencuri hati Don, tidak punya pendirian, ujarnya dalam hati.
Roman memicingkan mata, memandang Roberto dengan jijik. "Kau memang tidak pernah mau memihakku, Consigliere," katanya.
Dia kemudian berpaling pada Renato. "Menurutmu, Renato?"
Renato mengambil nafas panjang. "Menurutku, bisnis kloning adalah bisnis masa depan bernilai jutaan dolar. Tidak ada alasan bagi empat keluarga lain untuk menolak bisnis itu," jawabnya.
"Jadi menurutmu, aku salah, Renato?" tanya Don Alphonse datar seraya menatap Renato.
Ditatap demikian membuat Renato salah tingkah. "Dengan segala hormat, saya tidak bermaksud seperti itu, Don. Hanya ... bukankah yang Anda inginkan adalah memiliki aset-aset bisnis terbesar, dan menjadikan keluarga kita adalah keluarga yang terkuat?"
Don Alphonse menghela nafas. "Kukatakan pada kalian semua. Aku tidak salah mengambil keputusan. Keputusanku selalu benar dan tidak bisa diganggu gugat. Sekarang pergilah kalian, banyak yang harus kalian urus," ujarnya menutup pertemuan malam itu.
Roberto, Steffano, Renato dan para kapten lain segera beranjak, namun ketika Roman hendak pergi, Don Alphonse berkata, "Jangan selalu kau turuti nafsumu terhadap uang, Rome, kau tetap harus gunakan akal sehat. Bila tidak, itu akan menjadi boomerang untukmu."
Roman melirik ayahnya dengan jengkel. "Oh ya? Akan kubuktikan suatu saat nanti, omonganmu tidak selalu benar, dan apa untungnya menjadi seorang Don yang religius? Apa gunanya sakramen-sakramen tobat yang setiap minggu kau terima, sementara kau sendiri hidup dari uang-uang kotor. Tahu apa istilahnya? Munafik," ujarnya sambil berlalu dari hadapan sang Don yang hanya menggeleng-gelengkan kepala, sudah terbiasa menghadapi kata-kata kasar dan sifat Roman yang manja dan kepala batu tersebut.
Dengan ekspresi wajah yang tidak sedap dipandang, Roman keluar dari ruangan sambil mengentakkan kaki. Moodnya malam ini hancur lebur, hanya gara-gara sang ayah memilih untuk taat pada agama. Dia mendapati Renato tengah berbincang dengan Reeve dan Tonio.
"Renato!" panggil Roman lantang, tangannya memberi isyarat agar Renato segera menghampirinya.
Capo tersebut segera meninggalkan anak buahnya dan tergopoh menghampiri Roman.
"Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya, Renato!" keluh Roman dengan suara tertahan.
Renato memandangi anak bos besarnya itu dengan maklum. Dia menggiring Roman agar menjauh, agar yang dia katakan tidak malah terdengar oleh yang lain. "Itulah keputusan Don, Kita harus menghormatinya," ujarnya.
"Keputusan TOLOL! Dia itu ... kolot! Tidak inovatif! Dia harus sadar bahwa zaman sudah berubah! Dia menolak perubahan apa pun yang bertentangan dengan kepercayaannya, padahal perubahan itu bisa membawa kejayaan pada kita semua!! Apa jadinya keluarga ini jika terus menerus dipimpin oleh seorang kolot seperti dia!" seru Roman berapi-api.
"Yah, walaupun kita berdua tidak setuju dengan keputusannya, tapi kita tetap harus menghormatinya. Lagipula dia ayahmu sendiri. Berhentilah berkata seperti itu," sahut Renato.
Roman menghentikan langkahnya dan menatap Renato dengan mata hitamnya yang tajam. Pada saat tengah dilanda emosi seperti itu, ekspresi wajah Roman menjadi jauh lebih berbahaya. "Ayahku sendiri! Ya, ayah yang tidak pernah mau mendengarkan perkataan anaknya! Ayah yang diktator! Yang tidak pernah memperhatikan anak laki-lakinya, yang lebih mengistimewakan anak perempuannya yang murahan itu! Aku, sudah dewasa, aku ingin menjalani hidupku sendiri, tapi apa? Dia menahanku! Lalu kuminta dia untuk mempercayakan ... untuk mengajariku menjadi seorang kepala keluarga sepertinya, tapi kau tahu apa yang dikatakannya? Dia bilang aku tidak pantas! Aku tidak pantas menggantikan kedudukannya, lalu untuk apa dia menahanku dan tidak membiarkanku keluar dari rumah?! Keparat!"
Berulang kali Roman menghela nafas dengan kesal, lalu katanya lagi, "Dengar, Renato. Tiba-tiba terlintas ide di benakku. Ide yang penuh dengan resiko. Tapi juga bisa menjadi jaminan kesejahteraanku. Dan kau, tentunya, jika kau bersedia mendukungku dan berada di pihakku seutuhnya."
Renato tersenyum menatap Roman. "Aku tertarik. Apa rencanamu?"
"Kau bersedia melakukan apa pun untuk itu?"
"Selama itu bisa menjadi jaminan masa depanku," jawab Renato mantap.
Tersungging senyum penuh percaya diri di wajah Roman. "Aku senang kau berada di pihakku," ujarnya seraya merangkul Renato.
3 - Rencana Menjegal Musuh
Siang itu Reeve mengemudi SUV mewah dengan kaca berlapis anti peluru, meluncur dengan tenang di jalan bebas hambatan. Di sampingnya, Renato fokus berbalas pesan melalui ponsel sambil merokok. Sementara di kursi belakang, Roman duduk sambil menyilangkan kaki, matanya memandang keluar jendela, hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Roscoe sudah tiba di sana," ujar Renato memecah keheningan di dalam mobil. "Dia menunggu kedatangan kita."
Reeve segera menangkap siapa Roscoe yang dimaksud Renato. Dia adalah Roscoe Valachi, seorang capo sama seperti Renato.
"Roscoe," gumam Roman. "Aku masih tidak menyangka seorang yang terlihat kolot seperti dia, seorang sarjana hukum pula, lebih memilih berdiri di pihakku ketimbang Don tua satu itu."
"Jangan kau hakimi seseorang dari covernya, Rome," sahut Renato sambil terkekeh. "Memang dia terlihat kolot, tapi sebenarnya open minded. Kau tidak tahu, Roscoe mengaku padaku bahwa saat pertemuan itu, Roscoe nyaris beku di tempat saking tidak terima penolakan ayahmu. Sebenarnya aku juga bisa menaksir bahwa baik Roberto maupun Steffano sama-sama tertarik pada kloning, tapi mereka lebih memilih mendukung ayahmu."
"Haha." Roman tertawa sumbang. "Jadi, yang terjamin kolot hanyalah ayahku. I don't get it. Really, I don't get it. Kenapa yang disebut ayahku itu bisa sedemikian kolotnya. Realistis sajalah, prospek bisnis itu menjanjikan. Hanya dengan mengenyampingkan keyakinan atau agama sebentar, masa depan yang lebih terjamin bisa diraih," ujarnya sambil menggelengkan kepala. "Dan aku jadi tidak perlu bermain kucing-kucingan dengannya seperti sekarang ini. Dasar manusia tolol."
"Sekesal apa pun kau," sahut Renato. "Setidaknya jangan ucapkan kata-kata kasar seperti itu pada orang yang telah menghadirkanmu ke dunia."
"Kau ini anak yang baik dan berbakti pada ayahmu, huh, Renato? Sepertinya kau selalu terpelatuk jika aku mengatai ayahku tolol. Yang kumaki kan ayahku, bukan ayahmu," balas Roman.
Renato menjawab, "Kau akan tahu rasanya saat nanti punya anak. Tidak ada seorang pun orang tua yang ingin mendengar makian indah dari keturunannya sendiri."
"Idiot. Dia mana dengar makianku? Aku maki dia setiap hari setiap saat, dia tidak mendengar. Kecuali aku berteriak langsung di telinganya," sahut Roman tidak mau kalah. "Kau sendiri, Reeve? Apa kau tipe yang berbakti pada ayahmu juga?"
Reeve tidak langsung menjawab. Lewat kaca spion diliriknya Roman yang tengah memandangi dirinya, menunggu jawabannya. "Aku? Aku tidak punya ayah," jawabnya enteng.
"Ibumu perawan maria?" Roman bertanya sinis.
"Tidak punya ibu," jawab Reeve cepat. "Aku lahir dari batu, anggap saja begitu."
Renato melirik anak buah favoritnya itu. Dia tahu ada sesuatu terjadi di masa lalu anak itu, berkat penyelidikan yang dilakukannya saat baru mengenal Reeve. Namun dia memilih tidak berkomentar.
Tak lama tiba jugalah mereka di sebuah bangunan bercat dominan putih, di atas lahan berhektar-hektar luasnya. Inilah laboratorium pengembangan kloning yang menjadikan kloning hewan sebagai kamuflase. Di balik layar, ada usaha menciptakan kloning manusia sebagai 'the next big thing'.
Reeve memarkirkan mobil tepat di samping mobil yang serupa jenisnya. Seorang pria sebaya Renato telah menunggu di sana. Orang itu melambaikan tangan menyambut kehadiran mereka.
"Itu Roscoe," kata Renato sambil melepas sabuk pengaman. "Ayo segera selesaikan ini, Rome. Kau yakin mereka tidak akan menolakmu, kan?"
"I'm gonna make an offer they can't refuse," sahut Roman enteng.
***
Bisnis sembunyi-sembunyi Roman berjalan mulus, banyak orang yang tertarik dan ingin mengkopi dirinya sendiri. Pebisnis kelas kakap hingga politikus yang bergelimang uang hasil korupsi menyambut baik bisnis kloning manusia.
Baru tiga tahun berjalan, di pertengahan musim gugur tahun 2020 bisnis itu mulai tercium oleh dua orang jaksa federal kenamaan New Yord, Ivander Campbell serta rekannya, Wayne Castellano. Dua orang jaksa federal yang terkenal karena kekompakan mereka dan kegigihan mereka dalam memberantas La Cosa Nostra. Banyak anggota-anggota mafia yang telah berhasil mereka jebloskan ke dalam penjara. Anggota-anggota mafia dari lima keluarga New Yord yang cenderung tidak berhati-hati dalam melakukan kewajibannya, dan meninggalkan bau, dengan segera ditindaklanjuti oleh duo jaksa tersebut.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Rome," ucap Renato usai menerima panggilan telepon.
Saat itu Renato, Roscoe dan Roman tengah berkumpul membicarakan sepak terjang Campbell dan Castellano. Reeve juga ada di sana, berdiri siaga di pojok ruangan.
Renato melanjutkan, "Aku mendapat info dari orangku, dua keparat itu saat ini tengah membuntuti salah satu klien kita. Ini percobaan mereka yang kesekian kalinya!"
"Benar. Klien-klien kita yang lain, yang mengadu bahwa mereka diikuti para keparat itu, mereka bisa menjaga diri dan tidak pernah muncul di publik bersamaan dengan klon masing-masing. Tapi rupanya para keparat itu gigih juga," sahut Roscoe, capo yang kerap tampil flamboyan. Jenggot lebatnya tidak pernah absen menghiasi wajah pria itu.
"Pertanyaannya, mau sampai kapan kita dikerjai seperti ini?" Renato berseru tertahan. "Kita harus melakukan sesuatu, Rome!"
Roman mengangguk. "Kita harus memperketat pengawasan. Kerahkan lebih banyak lagi rekanan kalian untuk mengawasi segala pergerakan Campbell dan Castellano itu, sedetail mungkin! Bagus jika kemudian kalian bisa menemukan kelemahan mereka, lalu kita serang habis-habisan," ujarnya tegas.
"Kita pecah kekompakan mereka berdua, itu satu-satunya jalan. Cukup temukan kelemahan salah satu dari mereka, habisi karirnya, dengan begitu dua orang itu tidak akan lagi menjadi pengganggu. Bisa apa seorang diri?" Roscoe ikut mengutarakan pendapatnya.
"Setuju." Baik Roman dan Renato sama-sama mengangguk.
"Tapi bagaimana menemukan kelemahan salah satu dari mereka? Hanya dengan mengawasi saja kurasa tidak akan cukup waktu. Kita harus selesaikan semua ini sesegera mungkin," timpal Renato.
"Kita dipermainkan," celetuk Reeve tiba-tiba, membuat ketiga atasannya menoleh.
"Hanya mengandalkan segelintir rekanan dari sedikit capo dan serdadu yang memihakmu, Roman, lama kelamaan kita akan kelimpungan. Inilah akibat kita bertindak secara sembunyi-sembunyi di balik punggung Don Alphonse. Kalau kita come clean, kita akan aman lantaran punya back up dari seluruh punggawa keluarga," ujar Reeve.
Renato mengernyit tidak suka, dari tatapannya seolah menyiratkan bahwa belum sepantasnya Reeve memberi pendapat dan ikut campur.
Roman melengos. "Kau tahu caranya mengubah pikiran kolot Don-mu yang tersayang itu? Tahu?" tanyanya dengan nada tinggi.
Reeve diam, tidak mampu memberikan jawaban.
"Lihat! Kalau kau tidak punya solusi, lebih baik tutup mulutmu dan jaga pintu itu!" seru Roman kesal.
Reeve merengut, namun tidak membantah. Sebenarnya sejak mendengar bisnis ilegal kloning tengah dicurigai pihak luar, Reeve merasa familiar dengan nama Ivander Campbell dan Wayne Castellano. Dua nama yang mengusik memorinya, nama-nama yang tidak asing di telinganya.
"Apakah ada yang memiliki riwayat hidup atau biodata kedua orang itu?" Reeve memberanikan diri bertanya.
Roman memutar bola mata, sementara Renato berdecak. Capo yang berjasa pada Reeve itu memberi isyarat dengan tangannya agar Reeve mendekat. Dia mengambil satu map dari tumpukan dokumen di atas meja, membanting dokumen itu saat Reeve tiba di depannya.
"Baca sendiri. Ini riwayat Ivander Campbell. Apa yang kau mau cari tahu? Hanya sekedar penasaran?" tanya Renato galak sembari memandangi Reeve yang tengah meneliti isi dokumen.
Reeve menemukan sesuatu. Matanya membelalak lebar, bersamaan dengan itu memori yang semula berkabut di benaknya berangsur pulih.
"Apa yang kau temukan, kid?"
"Di sini tertulis Ivander memiliki dua orang putri. Olivia dan Rachel," jawab Reeve, matanya masih belum lepas dari dokumen yang dipegangnya.
"Memang kenapa?"
Reeve memandangi Renato, tersenyum. "Aku kenal dengan Olivia, anaknya yang sulung. Dia teman sekolahku. Kalau kalian mau, aku bisa dekati Olivia ... dari situ peluang menemukan kelemahan Ivander akan lebih besar," katanya yakin.
Tiga atasan Reeve terdiam. Sejenak ketiganya merasa konyol mengapa ide semacam itu tidak terpikirkan sama sekali.
"Wah." Renato merespon kaku. "Tidak kusangka kau pernah sekolah?" tanyanya sekedar berguyon.
"Hei, itu ide yang bagus," sahut Roscoe. "Reeve, kau yakin kau kenal dengan Olivia itu?"
"Tentu," jawab Reeve sambil melempar senyum pada Roscoe. Pemuda yang baru beberapa minggu lalu genap berumur 19 tahun itu menyugar rambutnya yang gondrong sembari melanjutkan, "Kurasa bukan hal yang sulit mendekati temanku itu, aku kenal dia sejak kelas satu sampai kelas delapan. Sekarang kami sudah sama-sama lebih dewasa, Olive juga pasti akan menyambut baik lawan jenis yang mendekatinya."
"Kau cukup menarik, aku yakin kau bisa mendekati anak perempuan Ivander," kata Roscoe, mengangguk-angguk setuju.
Reeve mengeluarkan ponsel dari dalam saku, tanpa buang waktu membuka aplikasi media sosial miliknya. Tentu saja dalam media sosial itu Reeve tidak mencantumkan profesinya yang sebenarnya. Media sosial miliknya hanya dia pergunakan untuk berinteraksi dengan teman-teman lamanya, namun dia nyaris jarang aktif di sana, membuat daftar temannya baru ada segelintir akun.
"Kau memangnya menyimpan nomor anak perempuan Ivander?" Renato bertanya, terheran mengapa sepertinya Reeve mantap sekali menghubungi yang tengah dibicarakan.
"Tidak." Reeve menggeleng. "Sebagai langkah pertama aku harus mencarinya di media sosial."
"He?"
Tawa sinis Roman terdengar. "Dasar om-om generasi baby boomer. Zaman sekarang semua orang pasti memiliki akun di setidaknya satu media sosial. Mungkin kau harus ikut membuat satu akun, supaya tidak terlalu jauh tertinggal," ledeknya.
"Ya. Ya. Benar itu. Anak lelakiku Lucas juga aktif sekali bermain media sosial .... Ternyata berguna, ya?" Roscoe memberi pendapat.
"Ada, nih," kata Reeve begitu menemukan akun bernama Olivia Campbell. Terlihat foto seorang gadis berambut brunette tengah tersenyum manis di profilnya. Reeve mengunjukkan foto tersebut pada ketiga atasannya.
Roman yang ternyata sudah berdiri di samping Reeve, melongok isi ponselnya. Sinar mata pemuda yang cenderung berangasan tersebut menyiratkan sesuatu begitu melihat foto Olivia.
"Wajahnya masih sama seperti yang terakhir kuingat," ujar Reeve. "Hanya terlihat lebih dewasa saja. Aku yakin ini dia."
"Ivander bisa memiliki putri secantik ini?" Renato bergumam sementara Reeve menggulir layar ponselnya, menunjukkan beberapa foto yang lain.
"Mirip ayahnya, huh?" Roscoe menaikkan alisnya.
"Segera tambahkan teman, Reeve. Ajak dia bicara!" Roman terdengar bersemangat.
"Oh. Siap, Rome," jawab Reeve, sigap menuruti perintah.
"Kau basa basilah dulu dengannya. Minta nomornya. Ajak ketemuan, sesegera mungkin. Pertemukan aku dengannya juga."
Ucapan Roman membuat Reeve memandanginya heran.
"Kurasa lebih baik aku saja yang dekati temanmu itu. Dia cantik," kata Roman santai.
"Yaa ... kenapa tidak," sahut Reeve.
"Sebentar," sergah Roscoe. "Kita belum tahu bagaimana cara Ivander mendidik. Apakah mengekang? Atau membebaskan putrinya? Kalau dia tipe mengekang, dalam waktu singkat Ivander akan segera menemukan siapa yang berteman dengan Olivia, yaitu kau, Rome. Kau hanya akan menyerahkan dirimu pada Ivander, titik. Kurasa lebih baik Reeve saja, dia masih belum terlalu dikenal di luar sana."
"Benar. Lagipula entah Ivander tipe mengekang atau membebaskan, akan lebih baik kalau kau jauh-jauh dari keluarga Campbell," sahut Renato.
Roscoe mengangguk, katanya, "Kau juga hanya akan menyulut pertengkaran dengan ayahmu sendiri. Jangan main api semacam itu, Rome. Terkadang keberadaan perempuan justru bisa menghancurkanmu."
Roman mengernyit tidak berkenan mendengar nasihat Renato dan Roscoe, tapi memilih diam.
"Olive sedang online, dia cepat sekali membalasku," ujar Reeve mengalihkan topik, jemarinya lincah bergerak di atas layar ponsel, mengetikkan sesuatu.
"Dia mengenalimu?" Renato menyahut.
Reeve mengangguk. "Tentu. Dia excited melihatku ternyata aktif di media sosial. Sepertinya mudah ... lihat, sudah kudapatkan nomornya dan dia setuju bertemu denganku besok," katanya, senyum puas terukir di wajahnya sambil memperlihatkan isi percakapannya dengan Olivia Campbell.
***
Meski kemarin Renato dan Roscoe sudah memberi peringatan padanya, namun Roman diam-diam mengikuti Reeve yang akan mengadakan janji temu dengan Olivia. Entah kenapa begitu melihat foto Olivia, rasa penasaran Roman terpancing. Seperti kesempatan-kesempatan yang telah lalu, Roman kerap berhasil menggaet wanita incarannya dengan mengandalkan pesonanya, dan kini, dia bermaksud melakukan hal yang sama.
Dari dalam mobil di depan sebuah cafe berkonsep terbuka dapat dilihatnya Reeve menyambut kedatangan seorang gadis muda berambut sebahu, wajahnya persis seperti di foto. Olivia. Postur tubuh Olivia langsing semampai, mengenakan dress bercorak floral selutut dipadankan dengan high heel berwarna kulit. Gadis yang menawan, Roman tersenyum penuh arti. Tidak mungkin dia lewatkan kesempatan mengenal Olivia lebih jauh.
Reeve juga terlihat ceria bertemu kembali dengan teman lamanya. Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu, Roman enggan mengambil peduli. Roman segera bergegas keluar dari mobil, bermaksud menghampiri keduanya sebelum Reeve mengeluarkan pesona yang dimilikinya untuk memikat Olivia. Roman tidak boleh terlambat menginterupsi.
"Hei, Reeve!" Roman tanpa sungkan menyela Reeve dan Olive yang masih belum selesai melepas rindu.
Tentu, Reeve terlihat terkejut melihat Roman, namun dia segera menguasai diri. "Lho. Hei, Rome? Kau di sini?" sapanya.
"Yeah. Aku kebetulan lewat dan melihatmu di sini. Kau sedang kencan rupanya, eh? Agendamu penuh juga," ujar Roman santai.
"Oh. Hahaha." Reeve tertawa canggung. "Bukan, bukan kencan. Hanya reuni biasa. Olive, kenalkan, dia Roman Burgueno. Rome, ini temanku semasa sekolah, namanya Olive," ujarnya memperkenalkan satu sama lain. Reeve tahu dengan pasti bahwa Roman bukannya 'kebetulan lewat', melainkan memang sengaja mengikuti dirinya agar bisa berkenalan dengan Olivia. Hal ini diperkuat dengan penampilan Roman yang tampak lebih rapi dan stylish sore ini, tidak seperti biasanya. Anak Don yang satu itu rupanya menyimpan rasa penasaran yang cukup besar.
Roman spontan mengukir senyuman indahnya yang menawan, saat menjabat tangan Olivia sambil menyebutkan namanya. Di lain pihak, ada semburat samar warna merah di pipi Olivia, yang juga balas tersenyum menyebutkan namanya. Misi memikat Olivia dengan pesona, Roman berhasil melakukannya nyaris tanpa usaha yang berlebih.
"Eh. Sorry. Tadi siapa nama belakang kamu?" Olivia bertanya begitu Roman duduk bergabung.
Roman melirik Reeve sekilas, yang ternyata juga tengah menatapnya. Dia menjawab, "Burgueno."
"Ah. Burgueno ... Burgueno yang ...." Olivia tampak ragu menuntaskan ucapannya. Ia menggeleng samar, lalu mengalihkan topik. "Jadi kamu juga orang Iralia seperti Reeve?"
Roman tersenyum hangat, mengangguk. "Benar, Sayang. Pria Iralia terkenal akan karakternya yang romantis dan tak segan memanjakan wanita yang dipujanya, menjadikannya nomor satu dalam hidupnya ... adalah orang yang saat ini berbicara denganmu," ujarnya kalem, matanya tak lepas dari sosok muda dan cantik di hadapannya itu.
Rona wajah Olivia spontan semakin berwarna, ditambah senyum yang malu-malu itu, Roman semakin yakin bisa mendapatkan wanita itu dengan mudah.
Reeve menahan senyum sebisa mungkin sedari tadi. Dia berkomentar, "Wah, rupanya aku hanya menjadi nyamuk di sini."
4 - Amarah Sang Don
Don Alphonse merasa sudah dua minggu ini tidak lagi melihat keberadaan Roman di rumah. Putra sulungnya itu memang terkadang menghilang, tidak pulang berhari-hari, namun tidak pernah lebih dari seminggu. Don Alphonse tidak pernah merasa keberatan lantaran dia juga pernah muda, ada saat-saat di mana gejolak tertentu khas anak muda meluap, yang membuat pria muda mana pun bakalan lupa untuk pulang. Tapi ini sudah dua minggu, wanita mana yang membuat Roman sebetah itu hingga enggan mengingat rumah?
"Kau tahu di mana anakku?" Don Alphonse bertanya pada Steffano yang sedang berada di ruangannya.
Steffano terlihat bingung.
"Sudah dua minggu ini dia tidak terlihat, mungkin kau melihatnya," imbuh Don Alphonse.
"Maaf, Don, saya tidak melihat Roman akhir-akhir ini," jawab Steffano.
Suara ketukan disusul pintu terbuka mengalihkan perhatian Don Alphonse. Seorang gadis berparas manis dan berambut ikal muncul dari balik pintu membawa secangkir minuman di atas nampan.
"Papa, aku mengganggu? Aku bawakan teh sore untukmu," ujar gadis tersebut sambil tersenyum.
"Vanessa," panggil Don Alphonse seraya tersenyum hangat. "Kemarilah."
Gadis itu, Vanessa Burgueno, melangkah masuk setelah dipersilakan. Ia terpaut tiga tahun lebih muda dari Roman. Perangainya manis, lembut dan penurut, jauh berbeda bila dibandingkan dengan sang kakak. Tipe anak perempuan idaman setiap orang tua. Postur tubuhnya yang sekal menjadi daya pikat, Don Alphonse kerap merasa cemas kalau-kalau ada pemuda tak layak yang berhasil menjerat putri kesayangannya itu, dan mengambil kesempatan darinya.
Vanessa menaruh minuman di atas meja kerja. "Silakan diminum, Pa. Jangan terlalu keras bekerja," pesannya.
Don Alphonse mengangguk. "Terima kasih, Sayang."
"Ah. Apakah Om Steffano juga ingin kubuatkan minuman?" tawar Vanessa pada wakil ayahnya itu.
Steffano menggeleng sambil tersenyum. "Terima kasih, Sweetie. Aku tidak terlalu haus," jawabnya.
Don Alphonse bertanya, "Vanessa, kamu tahu di mana Roman? Kenapa Papa tidak pernah melihatnya dua minggu ini?"
Vanessa menggeleng pelan. "Mm, aku nggak tahu, Pa .... Roman memang nggak pernah pulang lagi."
Don Alphonse berdecak. "Apa dia tidak memberi kabar padamu?"
Vanessa tersenyum miris, jawabnya, "Mana mungkin, Pa? Roman nggak pernah anggap aku ada, kok."
Jawaban Vanessa terdengar getir. Memang, kedua kakak beradik itu tidak pernah akur sejak kecil. Roman kerap bersikap kasar tanpa alasan pada sang adik. Hal itu juga yang menambah beban pikiran Don Alphonse terlebih semenjak ibu kedua anak itu meninggal dunia.
"Ah. Maafkan. Kakakmu itu memang ya .... Sering sekali membuat kepala Papa sakit," ujar Don Alphonse penuh sesal.
"Kau mau aku kerahkan orang untuk mencarinya? Bukannya mendoakan, tapi barangkali terjadi sesuatu padanya di luar sana? Semoga anak itu baik-baik saja." Steffano menawarkan maksud baiknya.
Don Alphonse mengangguk. "Boleh. Aku minta tolong, Stef."
***
Dua hari kemudian Steffano mendatangi Don Alphonse dengan raut wajah tegang.
"Stef, ada apa? Kenapa wajahmu pucat begitu?" Don Alphonse menyambut Steffano dengan pertanyaan. "Anak buahmu berhasil mendapatkan informasi di mana anakku?"
"Don, kau harus mendengar ini dan segera bertindak," ujar Steffano, nyaris tersengal. "Segera. Bertindak. Anakmu itu ...."
Don Alphonse merasakan gelagat yang patut membuatnya kuatir. "Ada apa? Katakan!"
Steffano terlihat kesulitan mengatur nafas seraya merangkai kata dalam benaknya. Ini adalah hal mengerikan yang mungkin akan menjadi bencana di kemudian hari. Sepenting itu.
"Roman ... dia terpantau tinggal bersama dengan seorang gadis, putri dari Ivander Campbell," tutur Steffano perlahan.
Kening Don Alphonse berkerut dalam mendengar informasi itu. "Anak Campbell. Mau apa anak itu?? Cari mati??" serunya tertahan.
"Don. Persiapkan dirimu. Ini bukan hanya sekedar hubungan antara Roman dan putri Campbell."
"Maksudmu??"
"Roman diam-diam bekerja sama dengan Renato dan Roscoe. Mereka bertiga teken kontrak di belakang kita dengan Spindler dan Franglen, mengatasnamakan dirimu," ujar Steffano. Tentu saja dia menyadari informasi yang baru saja meluncur dari mulutnya itu adalah hal yang pasti akan memancing kemarahan sang Don. Don Alphonse yang memiliki julukan Don berkepala dingin, tenang dan jarang terpancing emosi, bagaimana dia akan bereaksi mendengar hal itu? Steffano bersiap menyaksikan reaksi sang Don.
"Apa katamu??!"
Pekik kemarahan sang Don menggema di seluruh ruangan. Bersamaan dengan itu pula raut wajah yang biasanya santai dan lempeng, berubah tegang, merah menahan murka yang menjadi-jadi.
Merasa tertipu dan dipermainkan oleh putranya yang merendahkan martabat keluarga, jelas Don Alphonse murka. Berbekal informasi yang didapatkan Steffano, Don Alphonse bergegas menuju sebuah apartemen mewah di tengah kota tempat Roman menghabiskan waktu selama ini.
Steffano dan Roberto ikut bersamanya, berjaga-jaga mencegah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi lantaran baru sekali ini Don Alphonse terlihat semurka itu.
"Kau yakin dia di sini?" tanya Don Alphonse datar, begitu mereka tiba di depan pintu unit yang disinyalir tempat tinggal Roman.
"Benar, Don," jawab Steffano.
"Don, demi Tuhan, jangan terlampau terbawa emosi," ujar Roberto memperingatkan.
"Jangan ikut campur!!" Don Alphonse meledak. "Ini urusanku dengan anak yang tidak tahu adat itu!!"
Roberto terdiam, sia-sia dia memperingatkan.
"Dobrak pintunya!!" titah Don Alphonse pada para pengawalnya.
Dua pengawal bertubuh kekar sigap melaksanakan perintah. Hanya dengan sekali usaha, pintu terbuka dengan mudah. Yang berada di dalam, yang tengah bersantai menonton televisi, terlonjak kaget begitu pintu didobrak. Mereka lebih kaget lagi saat melihat siapa yang menerobos masuk.
"P-papa?" gumam Roman tidak menyangka keberadaannya terendus oleh sang ayah.
Don Alphonse menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Roman berduaan dengan anak salah satu musuhnya, namun bukan itu yang paling memancing amarahnya. Kenyataan bahwa Roman tidak mengindahkan keputusannya dan malahan melakukan bisnis yang tidak dia restui, bahkan menggunakan namanya ... Don Alphonse tahu hanya ada satu cara memutar balik keadaan.
Tanpa basa basi lagi kepala keluarga kejahatan terorganisasi itu maju dan menerjang Roman dengan kekuatan penuh. Meski sudah tidak lagi muda, namun kekuatannya masih utuh. Pukulan bertubi-tubi dia sarangkan di wajah sang anak, tanpa ada perlawanan berarti. Bobot tubuhnya menindih, membuat obyeknya kali itu pasrah tidak berdaya.
Olivia berulang kali memekik panik, meminta Don Alphonse agar berhenti, namun Don tetap menginjak gas, semakin dalam, semakin bernafsu memukuli anaknya.
"Kubesarkan kau baik-baik, tapi ini caramu membalasku, dengan menjadi pengkhianat?! Kau tahu apa yang lebih busuk dari sampah? Pengkhianat!" seru Don Alphonse, masih terus memukuli Roman.
"Stop!! Stop, please!" Olivia menangis histeris sembari berusaha menahan gerak tangan sang Don, namun apalah daya, orang tua itu masih terbakar emosi.
"Please, lakukan sesuatu, please!" Gantian Olivia memohon pada Roberto dan Steffano yang hanya berdiri terdiam di dekat pintu.
Tidak melihat adanya pergerakan dari mereka, Olivia berlutut menjatuhkan diri di sisi Roman sambil mencengkeram lengan Don Alphonse. "Sudah, cukup! Cukup, kumohon ...," pintanya memelas, menatap sang Don dengan matanya yang merah dan dibanjiri air mata. "Please ... jangan pukuli Roman lagi ...."
Melihat gadis berambut brunette sebahu itu, yang mengingatkan Don Alphonse pada wajah ayah gadis itu, membuatnya semakin emosi. Namun ditahannya emosi itu, lalu melepaskan Roman dan bangkit berdiri. Dipandanginya terus sang anak yang terduduk di lantai, mengusap darah di mulutnya. Kondisi yang mengenaskan, Roman tampak semakin tidak berdaya. Kehilangan taji.
Don Alphonse meludah. "Kau benar-benar membuatku kecewa, Roman," katanya. "Teken kontrak di belakangku! Lancang sekali! Pacaran dengan anak musuhku! Kau luar biasa, Roman! Padahal aku berharap banyak padamu, dan ingin menjadikanmu penerusku, tapi lihat kelakuanmu! Bertindak seenak perutmu sendiri! Cukup sudah! Aku batal menjadikanmu penerus! Terserah apa yang mau kau lakukan sekarang, jangan pernah kembali lagi ke rumah! Mengerti?! Anjing pengkhianat sepertimu tidak layak mendapat maaf dariku!" serunya lagi sebelum kemudian beranjak pergi diikuti semua yang datang bersamanya.
Sepeninggal ayahnya, Roman masih saja terduduk di lantai, merasakan amarah dan kebencian yang menjadi-jadi terhadap orang tua itu. Ayahnya telah begitu tega mempermalukan dirinya di depan sang kekasih! Tega mengatakan hal yang menyakitkan itu padanya?
"Roman ... Sayang, kamu nggak apa ...?"
Pertanyaan berulang-ulang Olivia tidak Roman dengarkan. Dia merasa semakin tidak berdaya melihat wajah Olivia yang basah karena air mata, memandanginya dengan cemas.
Muak lantaran merasa tidak berdaya di depan seorang wanita, Roman langsung bangkit berdiri tanpa memedulikan luka di sekujur tubuh dan wajahnya, lalu bergegas meninggalkan Olivia sendirian.
Amarah dalam hati yang begitu menggelora berubah menjadi dendam. Tanpa buang waktu Roman menghubungi Renato dan Roscoe sekaligus. Panggilannya segera terjawab.
"Siapa di antara kalian yang membocorkan rahasia bisnis kloning pada ayahku?!" tanya Roman lantang tanpa mau repot menjawab sapaan 'halo' dari keduanya.
"He? Apa maksudmu?" Renato bertanya balik.
"Tidak ada yang berbuat demikian. Apa Don Alphonse sudah tahu mengenai hal itu?" Roscoe merespon.
Roman membentak, "Menurutmu?! Dia menghajarku habis-habisan! Dari mana dia tahu soal itu?? Dari mana dia tahu tempatku tinggal selama ini?? Dari mana dia tahu aku pacaran dengan Olive?? Tentu dari kalian!"
"Hei, kiddo, berhenti menyalahkan kami!" sahut Renato.
"Sudah kubilang tidak ada yang mengadu pada ayahmu! Tentu Don menyelidikimu atas inisiatifnya sendiri!" seru Roscoe.
"Roscoe, kalau Don benar menyelidiki ... itu artinya dia juga tahu keterlibatan kita." Renato terdengar cemas.
"Damn! Sekarang keadaannya malah semakin memburuk!" umpat Roscoe.
"Kurasa ini justru salahmu sendiri, Rome," kata Renato. "Sudah berapa kali kami memperingatkanmu agar menjauh dari putri Campbell, tapi kau malah memacarinya! Kurasa kau tidak pulang ke rumah selama ini, kan? Makanya Don mencarimu, sekalian menyelidikimu! Benar kan, kataku?"
"Beraninya kau menyalahkanku! Ini salah kalian kenapa orang ayahku bisa leluasa menyelidiki aku, seharusnya kalian tahu pergerakan mereka! Kalian tidak berguna!" Roman berseru penuh emosi.
"Makanya sudah kubilang kalau perempuan bisa menjatuhkan laki-laki, ini yang kumaksud!" sahut Roscoe.
"Ya! Bukannya mencari kelemahan si Campbell tapi kau malah memacari anaknya dan bersenang-senang terus dengannya! Kuharap kau puas, anak muda!" balas Renato.
"Lancang!" bentak Roman.
"Sudahlah! Hentikan saling menyalahkan!" Roscoe menengahi. "Ini bukan saatnya adu ego, tenangkan diri kalian! Tenangkan dirimu, Rome, tarik nafaslah yang panjang. Kita diskusikan bagaimana menghadapi kondisi yang terlanjur seperti ini."
Roman menuruti perkataan Roscoe. Lalu tak lama sesuatu terlintas dalam benaknya. "Roscoe, Renato. Sekarang kuminta kalian untuk mengatur pertemuan dengan para Komisi," katanya.
Komisi yang dimaksud oleh Roman adalah persekutuan lima keluarga kejahatan terorganisasi di seantero New Yord. Para kepala keluarga dari masing-masing klan tiap tahun selalu mengadakan pertemuan rutin membahas perkembangan terakhir dunia hitam. Dalam pertemuan rutin itu mereka juga selalu memperbaharui perjanjian untuk tidak saling mengusik demi terciptanya kedamaian di antara para keluarga. Tidak ada yang menginginkan situasi panas akibat perang antar keluarga terjadi terus menerus.
"K-komisi?" Renato terbata. "Apa hubungan Komisi dengan kejadian ini, huh?"
"Lakukan saja perintahku!" seru Roman. "Sudah saatnya generasi berganti."
"Roman! Apa yang kau pikirkan?" Roscoe berharap dia telah salah mendengar perintah.
"Kumpulkan mereka, secepatnya! Undang empat kepala keluarga itu, tapi jangan ikut sertakan ayahku. Aku yang akan maju menggantikannya," kata Roman yakin.
"Hei, kau tidak bisa begitu! Kau bukan kepala keluarga!"
Semakin yakin, Roman menjawab, "AKU kepala keluarga yang baru."
Comments
Post a Comment