TC (13-16) | INA

13 - And Their Childhood Friends

Jessica Castellano membukakan pintu rumahnya ketika mendengar bel pintu berdering beberapa kali, sore hari yang cerah itu. Gadis muda berwajah lembut dan berambut ikal itu terpekik senang tatkala melihat siapa yang bertandang ke rumahnya. Si tamu itu pun terlihat begitu gembira bisa bertemu kembali dengan Jessica.

"Anja ...! Apa kabarmu ... aku kangen!" sapa Jessica riang sambil memeluk erat tamunya.

Sang tamu, Anja Fohlberg, membalas pelukan Jessica hangat. "Aku baik-baik, Jess! Iya aku juga kangen, bagaimana kabarmu?"

"Baik. Ayo masuk! Sungguh aku senang kamu datang, Nja!" Jessica dengan ramah mengajak masuk Anja dan menyuguhinya minuman.  "Kamu itu betah banget sih di Parice? Tidak kembali lagi ke sini, bosan ya, dengan New Yord?"

Anja tertawa ringan. "Ah, kamu ada-ada saja. Ini buktinya aku sekarang di New Yord?"

"Iya, kan baru sekarang, toh? Ah, ya pastilah kamu betah di Parice, ada kerjaan, ada pacar pula. Ada keluarga juga di sana. Bodohnya aku, masa menanyakan kamu betah atau tidak di sana," celoteh Jessica riang.

"Yaa ... puji Tuhan."

"Lalu bagaimana jadinya Nja, kapan rencanamu menikah?" tanya Jessica begitu mengajak tamunya duduk di ruang keluarga.

"Ah, Jess ... itu sih masih lama sepertinya. Aku belum siap. Dia apa lagi."

"Lho, kalian kan sudah tinggal bareng, tinggal selangkah lagi. Apa tidak ada rencana itu?"

Anja menghela  nafas. "Aku sih ingin ... walaupun belum begitu siap. Tapi aku tidak yakin, kurasa Darren sama sekali belum siap. Kamu sendiri? Sudah makmur sekali sepertinya nih, barengan sama Denver. Dia belum pulang?"

"Belum. Dia sih selalu pulang malam ... apa lagi setelah dapat pekerjaan sampingan."

"He? Ada sampingan? Kerja keras banget, kayaknya sudah ada rencana nikah, nih?" tanya Anja. Wanita berwajah tirus itu menaikturunkan alis dengan maksud menggoda.

Jessica tersipu malu. "Rencana sih ada .... Tapi masih nanti, secepatnya setelah aku lulus kuliah."

"Waah ... senangnya! Memang kamu dan Denver tuh, yaa, dari sejak junior high school sampai sekarang awet! Selalu menempel seperti perangko," komentar Anja usil.

Jessica tergelak. "Enak saja perangko! Memang sebegitu lengketnya apa, aku dan dia? Dan lagi pula tidak seawet itu kok, aku dan Denver kan sempat putus-nyambung tidak jelas, dulu."

"Yaa, tetap saja kamu berdua akhirnya jadi, kan? Awet, berarti. Terus? Dia ada pekerjaan sampingan apa?"

Jessica hendak menjawab ketika mendengar pintu depan terbuka, dan suara Denver yang memanggil namanya. "Eh, dia sudah pulang tuh," kata Jessica.

"Jessy, ada tamu ya?" tanya Denver. Dia berjalan ke ruang tengah dan mendapati Jessica sedang bersama seorang wanita blasteran yang tampak familiar baginya. Wanita berambut cokelat sepunggung itu tersenyum menatap Denver.

"Denv, kok tumben pulang cepat?" sambut Jessica. Ia bangkit berdiri, menghampiri Denver untuk mengecup bibirnya dan membantu melepaskan jas dan membawakan tasnya. "Kok bengong begitu, sih? Lupa yaa, dengan teman lama? Hayoo, baru tidak bertemu beberapa lama sudah lupa begitu. Ih, tidak sopan," kata Jessica.

Anja terkekeh. Ia bangkit berdiri dan menghampiri Denver. "Aah, Denver, kamu benar-benar lupa denganku?" sapanya sambil mengecup pipi Denver.

"Anja?"

"Jahatnya, aku dilupakan!"

Denver menyeringai. "Sorry, aku pangling sih. Kamu bukannya di Parice?"

"Iya, lagi kangen sama New Yord, jadi pulang sebentar. Sekalian ingin ajak reunian the gank ... kangen rasanya, dan yang bisa kutemui sekarang baru Jessica dan kamu. Sebenarnya yang lain ada di mana sih?"

"Well, kan sudah terpencar semua, agaknya sulit kalau kamu mau mengadakan reuni," balas Denver.

"Yaa, Black Blossom kan sudah pasti susah ditemui, mereka sibuk. Ditambah lagi Annette yang selalu ikut kemana Lee dan Black Blossom pergi. Camila, dia sibuk kuliah, Daniel juga tidak bisa diganggu tuh sepertinya. Paling sesekali aku bertemu dengan Daniel di Parice, dia kan sekarang pacaran dengan Jeanna Mueller. Alyssa, ah, megamodel sepertinya mana bisa diganggu waktunya? Reeve, Flav, entah di mana rimbanya. Wajah mereka pun aku sampai lupa. Heran, padahal Flav sepupuku sendiri! Dan Olive, yang menghilang juga. Tidak ada kabar, tidak bisa dihubungi ... ya, Jess?" celoteh Anja.

Denver terdiam memandangi Anja yang terlihat clueless dan penasaran di mana teman-temannya berada itu. "Ada. Kalau kamu mencari Olive, ia ada di rumah Burgueno. Apa kamu belum dengar kalau Olive berpacaran dengan bos Burgueno yang sekarang? Reeve, dia juga ada, menjadi wakil Burgueno. Sementara sepupumu, dia ada di Lottingtown, kapten klan Provenzano," ujarnya.

Anja terbelalak mendengar penuturan Denver. "Kamu serius, Denv? Flav ... Flav ...? Dia capo??"

Denver mengangguk.

"Kamu sering bertemu dia??"

"Tidak juga. Sesekali aku, Reeve dan dia janjian minum kopi. Itu saja."

"Aah, kok tidak ada yang mengabariku? Kok Flav tidak mencariku, dia tidak merindukanku? Dia menghindari keluarganya ya?" tanya Anja memasang mimik sedih.

"Lho ... aku tidak tahu, Nja. Mending kamu yang datangi dia. Tapi kalau kamu ingin ke rumah Flav, maaf aku tidak bisa menemani. Kalau ke rumah Burgueno boleh kutemani. Dekat dari sini, kok. Besok, mau?" tawar Denver.

Anja menghela nafas. "Nanti dulu deh, biarkan aku menenangkan diri dulu. Aku masih shock mendengar Flav ternyata sudah jadi capo," katanya. "Terus, apa, Reeve jadi sottocapo ...? Lalu Olive jadi permaisuri Burgueno?"

Denver tergelak. "Kata-kata yang bagus! Permaisuri Burgueno. Oke, nanti kusampaikan julukan baru itu pada Olive. Sudah ah, pokoknya kamu pikir-pikir dulu, Nja. Santai saja, kamu masih lama di sini, kan? Aku mau mandi dulu. Oke?" kata Denver sambil menepuk bahu Anja dan beranjak pergi.

Jessica duduk lagi di samping Anja yang masih terlihat kaget. "Kaget?"

Anja menoleh. "Ha? Ya iyalah ... Flav, a 'made man'? Dia kan sepupu yang manis, mana ada jahat-jahatnya? Ya kan, Jess?"

Jessica mendengus. "Kalau kubilang Flav itu sejak kecil juga sudah kelihatan wataknya, kamu pasti tidak percaya. Secara kamu itu saudaranya, ya pasti yang kelihatan di matamu adalah sisi baik Flav saja."

"Tidak ah ... Flav itu anak baik."

"Kalau Reeve? Kamu tidak kaget? Sudah menyangka dia memang akan jadi 'made man' juga suatu hari?"

"Reeve, aku juga kaget sih ... ahh, entahlah aku bingung! Kamu, sudah pernah ketemu Reeve dan Flav dong! Kok tidak memberitahuku, sih?"

"Ih, belum! Jangan menuduh dong. Aku saja belum pernah bertemu dengan Olive, cuma sekadar titip salam. Aku belum pernah bertemu dengan Reeve dan Flav!"

"Kok ...? Kan dekat ke rumah Burgueno?"

"Ah, untuk apa. Malas rasanya, menjejakkan kaki ke rumah seorang Don seperti itu. Mengingatkan aku pada ayahku."

Anja menatap Jessica. "Aneh kamu .... Ya sudah ah, aku mau ikut Denver ke rumah Burgueno. Tapi omong-omong, kenapa dia tampaknya tahu betul, dia kok jadi bisa sering bersama Reeve dan Flav?"

Jessica terdiam sejenak. "Pekerjaan sampingan yang kubilang tadi .... Denver itu sejak dulu punya hobi yang aneh, yaitu mengoleksi senjata. Dari koleksinya itu dia belajar sendiri, cara kerja senjata api, mekanisme dan segala macamnya, hingga bisa merakit sendiri. Dan siapa yang sangka kegiatan itu malah jadi hobi baru buat dia. Aku saja bingung, apa sih yang menyenangkan dari merakit senjata seperti itu? Tapi rupanya karyanya itu dia jual. Aku tahu, ini ilegal. Dia juga tahu. Tapi hasilnya lumayan! Dari yang modalnya tidak begitu besar, bisa dia rakit sendiri, dan dia jual dengan harga tinggi. Toh untuk apa pula dia simpan sendiri, kan? Dan memang hasil rakitan dia itu ampuh, setahuku banyak yang memesan pada Denver. Dan suatu saat, Roman, si bos Burgueno baru, menawarkan kontrak dengan Denver untuk terus suplai senjata pada klan Burgueno. Yaa, kontrak itu bernilai tinggi, kenapa tidak? Dan sampai sekaranglah, Denver berhubungan dengan Burgueno. Jadi jangan heran kalau dia bisa bertemu Olive yang jadi pacar Roman. Dan bisa bertemu dengan Reeve, wakilnya Roman. Dan bisa bertemu juga dengan Flav, yang katanya jadi dekat dengan Reeve," tuturnya panjang lebar.

Anja terdiam lama.

"Tapi ya, setelah dia ada kontrak dengan Roman, aku merasa dia jadi lebih pendiam sekarang. Dia tidak sering cerita-cerita lagi padaku, tentang pekerjaan dia. Yah, mungkin agar apa yang ada dalam keluarga Burgueno itu tidak bocor ke luar ya. Aku juga bingung sendiri, kenapa kok Denver jadi terlibat jauh begini, ya, dengan tindakan kriminal?"

"Dan kamu masih mau terus sama Denver?"

Jessica tersentak kaget. "Kamu ngomong apa sih! Ya iyalah, aku akan terus sama Denver! Tidak ada alasan kenapa aku harus meninggalkan dia!"

Sontak Anja merasa tak enak hati. "Sorry, jangan tersinggung," ujarnya.


Anja bersandar di jok kelas eksekutif dalam perjalanan pulangnya menuju Parice, dua hari kemudian. Pikirannya menerawang, teringat kejadian sebelumnya ketika ia baru mengetahui kabar terbaru dari teman-teman semasa sekolah yang selama ini menghilang dari peredaran dunia. 

Flav, salah satu anggota gank semasa sekolah sekaligus sepupunya, kini rupanya sudah menjadi seorang caporegime yang mengabdi pada keluarga Provenzano di Brookine. Anja ingin sekali menemui Flav, tapi ia hanya sempat memperoleh nomor Flav dari Denver, dan berencana menghubungi Flav setibanya ia di Parice. 

Reeve, anggota gank yang menghilang sejak belum genap berumur 12 tahun, kini ditengarai sudah menjadi wakil kepala keluarga Burgueno, yang biasa disebut dengan istilah sottocapo. 

Sementara Olive, gadis manis anak kesayangan seorang jaksa federal yang menjadi musuh bagi tiap keluarga New Yord, kini sudah menjadi 'permaisuri' kerajaan Burgueno.

Kemarin Anja pergi bersama Denver ke rumah Burgueno, dan ia bertemu dengan Olive dan juga Reeve, yang tengah berada di situ. Sekian lamanya ia menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang dengan Olive dan Reeve. Ia mendapat kesan, Olive tidak merasa menyesal telah menyerahkan dirinya pada seorang kepala keluarga kejahatan semacam Roman Burgueno. Begitu pula dengan Reeve, yang tampak menikmati sekali posisi dan kenyamanan yang didapatkannya sebagai seorang wakil kepala keluarga kejahatan. Disaksikannya sendiri, betapa kini Reeve telah hidup dengan mapan. Di usianya yang baru mencapai 20 tahun, Reeve telah memiliki kehidupan yang sempurna. Rumah, mobil, supir dan pengawal pribadi, bisnis-bisnis bernilai jutaan dolar di seantero New Yord, Los Aneles dan Las Vesas. Uang dan penghidupan yang 75% berasal dari uang kotor, namun Reeve tampak tidak mempermasalahkan hal itu. 

Tentu saja, pikir Anja, siapa yang tidak berminat dengan kehidupan penuh dengan gelimang harta seperti itu, soal sah atau tidak, soal dosa atau tidak, itu masih urusan nanti.

Kalau wakilnya saja makmur seperti itu, Anja membayangkan, kekayaan Roman Burgueno sebagai kepala keluarga tentu jauh di atas Reeve. Roman yang masih muda, tampan, serta kaya secara finansial membuatnya tidak mungkin ditolak oleh setiap wanita, termasuk Olive, yang berkat keberuntungannya, telah diangkat secara resmi menjadi permaisuri kerajaan Burgueno. Hmm ....

Keuntungan yang didapat dari berbagai bisnis kotor seperti yang dilakoni para mafioso ini memang menjadi magnet bagi semua orang yang mendambakan kemakmuran finansial, dan hanya orang waras yang bisa dengan jelas melihat bahwa bisnis kotor hanya akan menghasilkan uang kotor dan karma buruk, di samping kemungkinan menghuni sel penjara. Berarti para mafioso ini orang tidak waras? Anja bertanya pada dirinya sendiri. 

Bagaimana dengan Flav? Dia juga sudah menjadi mafioso! Anja menghela nafas panjang. 

Yea ... well ... itu berarti dia memang sudah termasuk tidak waras. Oh Flav, apa yang membuatmu jadi seperti ini, kenapa kau berkecimpung di dunia kotor seperti itu? Sebagai mafioso yang sudah mapan dan makmur sepertinya ... tidak heran kalau dia sudah 'basah' luar dalam, sudah bisa disebut kriminal sejati. Kriminal kerah putih yang bukan tidak mungkin sulit untuk didakwa atas apa yang telah dia perbuat.

Hmmh .... Anja menarik nafas panjang. 

Ia dan kawan-kawannya itu satu sekolah dan bergaul akrab semenjak mereka sama-sama duduk di kelas tiga. Pergaulan yang akrab, mereka menemukan kecocokan bergaul satu sama lain, bersenda gurau, berkelompok membentuk grup belajar bersama. Singkat kata, mereka tumbuh besar bersama dari tahun ke tahun. The gank, begitu mereka menyebut pergaulan kelompok mereka selama ini. Gank yang memiliki banyak anggota, 14 orang, penuh dengan perbedaan kepribadian dan sifat, namun pada dasarnya mereka memang sudah cocok bergaul satu sama lain sehingga perbedaan yang terkadang mereka temui itu tidak memecah persahabatan mereka.


14 - And Their Gang

Ada Flavio Maranzano, sepupu Anja, dialah yang paling tua dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Kelahiran Mei 2001, teman yang asyik dan ramai, banyak bicara namun sudah memiliki sifat sarkasme sejak kecil. Dia tiba-tiba menghilang dari peredaran dunia ketika the gank masih duduk di kelas 7. Tidak hadir di sekolah, tidak lagi terdengar kabar darinya. Dan sebagai sepupu, kabar yang didengar Anja hanyalah bahwa Flav memang pergi dari rumah sejak bertengkar hebat dengan ayahnya. Sejak saat itu dia tidak pernah terdengar lagi kabarnya.

Reeve Galante, kelahiran Agustus 2001. Dialah yang paling pertama menghilang dari peredaran dunia. Bulan Februari tahun 2013 dia tiba-tiba tidak hadir di kelas dan tidak ada kabar pada hari-hari berikutnya. Tidak ada yang pernah tahu kemana dan apa penyebab kepergian Reeve, sebab Reeve memang tidak pernah menceritakan masalah pribadi yang dialaminya. Hanya Reeve dan Flav yang menghilang, bagaimanapun Anja bersyukur, paling tidak teman-temannya yang lain tidak ikut menghilang tanpa kabar seperti Reeve dan Flav itu. Dan kini ia lebih bersyukur lagi, karena akhirnya bisa bertemu dengan dua orang yang hilang itu, karena akhirnya bisa keep in touch lagi dengan mereka, yang secepatnya akan ia beritakan pada anggota the gank yang lain, bahwa Reeve dan Flav sudah 'ketemu'.

Kemudian ada Denver Granville, pemuda yang manis dan kreatif, yang berpacaran dengan Jessica Castellano sejak kelas 9. Yang tidak pernah disangka, kini mencari nafkah dengan menjalin persahabatan dengan salah satu keluarga mafia terbesar di New Yord City. Menjadi seorang armorer. Sejauh yang Anja tahu, Denver semasa sekolah adalah sosok anteng yang tidak banyak bicara, tidak pernah banyak tingkah namun mempunyai pemikiran mendalam yang cerdas dan kreatif. Anja hanya menyayangkan, jika Denver menjadi akrab dengan Reeve dan Flav, bukan tidak mungkin Denver yang manis itu akan berubah tabiatnya. Bukan tidak mungkin bakat darah hitam yang mengalir di tubuh Reeve dan Flav akan mengalir pula dalam diri Denver.

Ada lagi Daniel Spencer. Tipe teman yang ideal, tanpa cela, mempunyai jiwa sosial yang tinggi, setia kawan dan selalu peduli pada orang lain, terutama pada teman-temannya. Menyibukkan diri dengan kuliah dan bekerja, namun masih bisa menyempatkan waktu terbang ke Parice untuk menemui pacarnya, Jeanna Mueller, yang tidak lain adalah teman masa kecil Anja pula.

Olivia Campbell, melalui masa kecil dan masa sekolah dengan sempurna, dengan keluarga dan ayah yang sangat memanjakannya. Putri sulung Ivander Campbell, jaksa federal NYC ini tak pernah hidup berkekurangan satu apa pun, namun kemudian ia jatuh cinta pada Roman Burgueno, ahli waris kerajaan Burgueno, organisasi kejahatan yang sudah sejak lama berperang dengan Ivander Campbell. Cinta itu membuatnya buta, dan meninggalkan rumah ayahnya yang nyaman demi bersatu dengan sang pujaan hati. Anja heran dengan keputusan yang diambil Olive, kenapa ia bisa cinta mati pada orang yang berperangai buruk seperti Roman. Ya, Anja tahu betapa kelebihan fisik dan penampilan Roman bisa membius wanita mana pun, kemampuan finansial pun tidak usah diragukan lagi. Namun perangai dan emosional Roman yang meledak-ledak bisa menjadi boomerang bagi siapa pun yang berada di sisinya.

Camila Castellano, gadis tomboi yang ekspresif dan lincah. Ia adalah putri sulung jaksa Wayne Castellano, yang bekerja sama dengan jaksa Ivander Campbell dalam memberantas keluarga mafia di New Yord. Dengan latar belakang yang hampir sama dengan Olivia, Camila tumbuh dalam perlindungan seorang ayah yang keras dan selalu menerapkan bahwa La Cosa Nostra, istilah mafia New Yord, hanyalah sekumpulan sampah masyarakat yang penuh dosa, tidak sepatutnya diterima dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, dan sekaligus juga tidak sepatutnya diterima bahkan oleh neraka sekalipun. Harga diri yang dijunjung tinggi oleh jaksa Wayne Castellano sebagai orang Iralia membuatnya sangat membenci La Cosa Nostra, dia tidak ingin semua orang non-Iralia menganggap semua orang Iralia mempunyai hubungan dengan organisasi keparat bernama mafia itu. Di mana itu berarti bahwa dia menabuhkan genderang perang terhadap adiknya sendiri, Maurice Castellano, yang justru menjadi seorang kepala keluarga kejahatan terorganisasi Fontana, salah satu dari lima keluarga di New Yord. Kakak beradik Castellano ini memang terbilang unik, mereka saling 'baku hantam', saling mencari kesalahan masing-masing agar bisa mengirim salah satu dari mereka membusuk di penjara, atau minimal, membusuk di liang lahat. Mereka seakan tidak ingat bahwa darah yang mengalir dalam tubuh mereka adalah sama, hanya obsesi yang menciptakan jurang perbedaan dari antara mereka. Yang satu terobsesi pada harta kekuasaan dan uang, tidak peduli pada hukum dan moralitas, sementara yang satu terobsesi menyingkirkan orang-orang jahat seperti itu.

Sementara putri dari Maurice Castellano, adalah Jessica Castellano, yang juga merupakan salah satu anggota the gank. Berbeda dengan sepupunya Camila, Jessica lebih feminin, ia merupakan gadis manis yang selalu menjaga sikap dan tutur katanya. Ia benar-benar menonjolkan sisi kewanitaannya yang lembut dan keibuan, dan tetap seperti itulah ia sekarang. Tinggal bersama dengan kekasih sejak kecilnya, Denver, dan bersamanya mengusahakan hidup yang tenteram dan bahagia. Setidaknya itulah yang diharapkan olehnya.

Alyssa Griffiths, cantik, anggun dan memesona semenjak kecil, kini sudah menjelma menjadi mega model internasional yang disanjung dan dipuja banyak orang. Kehidupan yang terlihat sempurna, dengan kebutuhan finansial yang lebih dari cukup, kondominium mewah di tengah kota dan setumpuk kontrak yang bernilai tujuh digit dollar. Ia pun terlihat sangat menikmati pekerjaan yang ada di tangannya. Tidak pernah mengeluh dan selalu optimistis, setidaknya itulah Alyssa yang Anja kenal sejak berteman dengannya.

Kemudian ada Annette Jones dan Andrew Jones, mereka adalah sepasang saudara kembar yang akrab dan kompak. Andrew, yang sekarang berpacaran dengan adik Alyssa Griffiths, Sara Griffiths, merupakan pria outgoing yang menyenangkan. Andrew dan teman-teman gank yang lain, Richard, Lee dan Addo sama-sama memiliki ketertarikan pada dunia musik, dan mereka membentuk band ketika high school. Dan mereka terbukti berbakat dan jenius. Lagu yang mereka ciptakan menarik perhatian seorang produser musik kenamaan yang langsung merekrut mereka untuk mempatenkan band mereka dan menandatangani kontrak dengan perusahaan musik terkemuka miliknya. Jadilah mereka grup band yang punya nama, Black Blossom. Penjualan album pertama mereka tidak terlalu sukses, begitu pula dengan album kedua mereka. Mungkin merasa termotivasi, mereka menciptakan banyak lagu-lagu baru lagi yang ternyata meledak di pasaran. Album ketiga mereka pun terjual satu juta keping dalam satu minggu setelah dipasarkan. Mereka berhasil, dan berkah itu berlanjut ketika mereka mendapatkan empat grammy music awards sekaligus pada awal tahun. Kini mereka sudah tidak bisa diganggu, super sibuk dengan jadwal tur di mana-mana, dan rasanya mustahil meminta mereka untuk reuni dengan kawan-kawan lama, Anja berpendapat.

Richard Owens, gitaris dan backing vocal Black Blossom, sudah sejak dulu terlihat bakat nakalnya sebagai seorang lelaki. Dia gemar bermain perempuan, namun sepertinya saat ini bakat itu sudah tidak begitu terlihat lagi. Sempat berpacaran dengan Karsten Salisbury, anggota band Blueberry Candies yang satu label rekaman dengan Black Blossom. Setelah Blueberry Candies tidak satu dapur rekaman lagi dengan Black Blossom, mereka putus, dan kini Richard berhubungan dengan Vanessa Burgueno, adik Roman Burgueno. Tidak seperti Roman yang emosional dan durhaka, Vanessa merupakan gadis manis yang hormat dan sayang pada orang tuanya, tidak peduli orang tuanya itu adalah seorang bos mafia. Setelah kematian ayahnya, hubungan Vanessa dan Roman yang memang sudah buruk sejak awalnya, semakin bertambah buruk. Vanessa yakin Romanlah yang berada di balik kematian ayah mereka, dan Vanessa bersumpah, tidak akan pernah memaafkan Roman sampai kapanpun. Richard yang simpati pada Vanessa, jatuh cinta padanya dan mereka pun berpacaran. Richard yang termasuk golongan pembenci La Cosa Nostra, menganggap Vanessa adalah perkecualian. Meskipun ia adalah anak dari bos mafia besar, tapi sikap dan perangai Vanessa jauh dari perangai keji para mafioso lain, dan itulah yang membuatnya jatuh cinta padanya dan mendukung rencananya memberantas La Cosa Nostra.

Sang lead vocal Black Blossom, Lee Greenwald, pemuda tampan yang menjadi pujaan gadis-gadis penggemar Black Blossom, merupakan sosok yang paling kalem dari antara anggota Black Blossom, dan bahkan dari semua anggota the gank. Pembawaannya yang kalem dan tenang menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi Annette Jones, yang terbius akan pesonanya, dan Lee pun merespon gadis itu positif.

Anggota Black Blossom yang terakhir, si drummer, Addo Dalbert. Pemuda urakan yang easy going, ceria, terbuka, tapi cerewet dan cenderung childish. Dia berpacaran dengan adik Olivia Campbell, Rachel Campbell. Seperti hubungan Vanessa-Roman yang buruk, hubungan kakak beradik Rachel-Olivia pun sama buruknya. Tidak seperti Olivia yang egois dan naif, Rachel yang lebih muda dari Olivia justru lebih dewasa dan dapat berpikir jernih. Sifat Rachel yang dewasa, merupakan partner yang cocok bagi Addo yang childish.

Yang terakhir, tentu ada Anja sendiri. Anja Fohlberg, lahir dari ayah seorang Frenchye dan ibu Iralia-Frenchye membuatnya memiliki 1/4 darah Iralia dan 3/4 darah Frenchye dalam tubuhnya. Berbeda dengan sepupunya Flav Maranzano, yang memiliki darah Iralia 100% dalam tubuhnya. Ia kini tinggal di Parice, dekat dengan orangtuanya dan berkonsentrasi pada karirnya yang cukup menjanjikan. Berpacaran dan memutuskan tinggal bersama dengan sahabat semasa kecilnya, Darren Labruzzo, membuatnya sudah memiliki semua yang dibutuhkan oleh semua manusia sebagai makhluk sosial. Anja jadi teringat, ketika ia masih berumur empat tahun, ia sering main ke Frenchye, berlibur bersama Flav, Antonella adik Flav, dan bermain-main sepuasnya dengan teman-teman Frenchyenya yang menyenangkan.

Ada Pierre Mueller dan adiknya Jeanna Mueller, anak-anak dari Francois Mueller, seorang politikus Frenchye terkemuka, yang memiliki hubungan yang akrab dengan Don Burgueno saat itu, Don Alphonse Burgueno. Ada satu bisnis penting yang mengikat antara Don Alphonse dan Mueller, Mueller menjanjikan bisnis-bisnis pelelangan yang dimiliki keluarga Burgueno di Frenchye tidak akan terusik, selama Don Alphonse bisa menjadikannya Perdana Menteri. Francois Mueller pun menjadi Perdana Menteri Frenchye, akhirnya, mendukung kinerja sang presiden, Mauritio Fleiss, yang juga bersahabat dengan sang Don. Namun beberapa tahun kemudian, ketika Don Alphonse mangkat dan Roman menggantikan kedudukannya, Mueller benar-benar merasa kehilangan. Dia merasa tidak ada untungnya lagi masih menjalin persahabatan dengan keluarga Burgueno, selama orang seperti Roman masih berkuasa. Mueller sangat tidak menyukai orang seperti Roman, yang selalu bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu, tidak seperti ayahnya yang sangat bijak dan cerdas. Ada kemungkinan Mueller akan berpaling dari Burgueno, dan menjalin persahabatan lagi entah dengan Don dari klan mana. Tapi, ini semua hanya kabar burung, hanya isu belaka, tidak pernah ada yang bisa membuktikan bahwa apa yang dilakukan Francois Mueller dan Mauritio Fleiss sebagai kepala pemerintahan Frenchye itu benar adanya. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan Francois Mueller, yang Anja tahu, Pierre dan Jeanna adalah teman-teman yang ramai dan cocok dengannya, hingga kini mereka tetap akrab dan bersahabat. Pierre, pemuda rendah hati, pengalah, sabar dan kalem yang mungkin sekalem Lee Greenwald, teman ganknya di New Yord. Setali tiga uang dengan Pierre, Jeanna pun demikian. Ia kini berpacaran dengan Daniel Spencer dan tampaknya akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius lagi.

Ada lagi Louis Cavallo, putra semata wayang Don Salvatore Cavallo, pemimpin keluarga Provenzano, yang kini merupakan tempat Flav mengabdi. Louis, yang merupakan blasteran Iralia-Frenchye, tinggal di Parice sejak kecil bersama dengan ibunya. Walaupun sang ayah menghabiskan sebagian besar waktunya di New Yord, tapi Louis terbilang sangat jarang ke New Yord. Seumur hidup dia baru melihat patung Liberte secara langsung sebanyak lima kali. Dia sudah betah hidup berdua dengan ibunya di Parice, terpisah jauh dari ayahnya yang hanya menafkahi keluarganya dalam hal materiil saja. Yang Louis tahu, ayahnya memang tidak ingin melihat keturunannya mengikuti jejaknya sebagai mafioso, dia hanya ingin keluarganya hidup dengan damai. Dan Louis tahu, dalam beberapa tahun ke depan, ayahnya akan pensiun dari jabatannya yang tinggi itu dan berkumpul kembali dengan ibu dan dirinya di Parice. Louis yang kritis, setia kawan, namun serius dan kaku ini menemukan pujaan hatinya ketika berkenalan dengan salah satu anggota Blueberry Candies, Celine Creighton, di sebuah pesta amal yang diselenggarakan ayah Pierre.

Darren Labruzzo, pacar Anja sendiri. Seperti Louis Cavallo yang merupakan blasteran Iralia-Frenchye, begitu juga dengan Darren. Ayahnya, Don Luigi Labruzzo, merupakan pemimpin keluarga Labruzzo di New Yord. Sang Don juga berpikiran sama seperti Don Salvatore Cavallo, dia tidak ingin anaknya mengikuti jejaknya dan oleh karena itu Don Luigi Labruzzo menikahi seorang wanita Frenchye dan Darren pun lahir. Darren yang hangat, humoris dan ekspresif inilah yang menjadi tambatan hati Anja. Mereka bahkan kini hidup serumah.

Kawanan Frenchye inilah yang menjadi teman-teman Anja dan Flav tumbuh besar. Seiring berlalunya waktu, bertambah satu anggota lagi, namanya Lucas Valachi. Dia juga merupakan anak seorang mafioso, namun Lucas berdarah Iralia 100%. Ayahnya, Roscoe Valachi, merupakan consigliere terpercaya Don Roman Burgueno. Lucas yang memang berperangai kasar dan keras hati, muak melihat gelimang harta kotor di rumah ayahnya, dan Lucas pun memutuskan untuk kuliah di Frenchye, sekaligus mencari suasana baru. Dan dia pun mendapatkannya, dia mendapatkan teman-teman yang menyenangkan dan bersahabat dengan Pierre, Louis, Darren dan juga Jeanna.

Anja lagi-lagi menarik nafas. Perjalanan kembali ke Parice kali ini terasa begitu panjang baginya. Merasa bosan, ia mengambil majalah dan membolak balik halaman dengan tidak berselera. Pandangannya seketika tertuju pada artikel Blueberry Candies yang dalam artikel itu tengah berpose begitu cantik dan menggoda. 

Hmm, mereka ini benar-benar cantik ... punya sex appeal yang bagus dan menjadi magnet berdaya tarik besar buat para cowok, ujar Anja dalam hati. Bagaimana caranya agar punya sex appeal seperti mereka ini ya?

Blueberry Candies, grup musik wanita yang terdiri dari tiga orang, ada Frea Shaffer, Celine Creighton dan Karsten Salisbury.

Celine, pacar Louis, adalah orang Eastland yang kalem dan bermata sendu. Ia memiliki suara yang paling tinggi dibandingkan Frea dan Karsten. Sementara Karsten, mantan pacar Richard, ia juga orang Eastland, namun ialah yang paling seksi dan paling berani menampilkan sensualitas dirinya. Tipe yang ekspresif dan ambisius, membuat para pria pecundang semakin terlihat payah dan patut merasa minder. Hanya dengan sekali melihatnya, mudah diterka bahwa wanita ini berhak mendapatkan pria terbaik dan bukan sembarang orang.

Bitch kelas atas, ujar Anja dalam hati. Saking cantik dan sensualnya mereka, hampir bisa dibilang kalau mereka tampak seperti 'bitch' ... tapi kelas eksekutif, dan untungnya mereka bisa nyanyi. 

Ah, ada-ada saja, ini pasti cuma akunya saja yang iri pada mereka karena tidak bisa secantik mereka. Anja ... Anja ... harusnya kamu bersyukur, kamu sudah punya kehidupan yang menjanjikan. Karir, rumah, pacar .... Ah, Darren, kapan kamu ada rencana menikah sih, apa kamu tidak ada maksud melamarku? 

Anja sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga tak lama ia pun terlelap.


15 - Calon Putra Mahkota

Old Westbary. Kediaman keluarga Burgueno.

Roman Burgueno duduk di belakang meja kerjanya, mengangkat kaki, sementara Reeve duduk di hadapannya seraya menyesap scotch. Dia menghela nafas panjang sambil tersenyum, berkata, "Inilah yang kuinginkan sejak dulu. Duduk santai di kursi ini, mengawasi dan memberi perintah pada kalian semua. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menjadi boss besar, kan?" Mata hitamnya yang tajam melirik Reeve dan mendapati wakilnya itu tersenyum.

"You deserve it, Boss," jawab Reeve.

"Aku berhak! Tentu! Siapa yang bilang aku tidak berhak duduk di kursi Don seperti ini. Dan kau, jangan pernah terbersit di pikiranmu yang licik itu, ya, untuk menusukku dari belakang. Kau sudah menusuk mentormu sendiri dari belakang, kau berkhianat padanya. Tapi jangan pernah coba-coba untuk bermain api denganku, huh, sottocapo? Aku masih punya ribuan capo lain yang bisa kutunjuk sebagai penggantimu jika suatu saat kau bermain kotor," ujar Roman dingin sambil menatap mata Reeve dalam-dalam. Rambutnya agak gondrong dan masai, dagunya dibiarkan ditumbuhi janggut sehingga tampak kasar, dia menyukai tampilan yang berantakan seperti itu. Dan saat ini, garis wajahnya yang tegas dan tajam membuatnya tampak berbahaya.

Reeve menanggapi ultimatum terselubung Roman dengan tenang. Dia menjaga agar ekspresi wajahnya tidak berubah sedikit pun, walaupun sebenarnya dia merasa sedikit tersinggung juga dengan ucapan Roman. "Rome," katanya. "Kalau menurutmu aku selicik itu, untuk apa aku mesti merepotkan diri menyingkirkan Renato, kenapa aku tidak langsung menyerangmu? Itu karena aku respek padamu. Dan aku percaya bahwa keluarga ini bisa berjalan lebih baik dengan kau sebagai pimpinannya. Aku percaya padamu, dan kalau kau tidak percaya atau tidak ingin percaya padaku, lebih baik gantikan saja aku sekarang. Tidak masalah, semua ini demi keluarga ini, bukan? Sebab agar bisa menjalankan roda pemerintahan dengan baik, seorang pemimpin dan wakilnya ... dan penasihatnya, tentu, harus saling mempercayai satu sama lain. Jika tidak, tidak mungkin keluarga ini bisa berjalan sebagaimana mestinya."

Roman menatap Reeve lama, terdiam. "Ah. Kau anak buahku yang baik. Dengan berani membidik kepala ayahku dan menghancurkannya dalam satu langkah, dan membuatku bisa duduk di sini sekarang. Tentu, aku harus percaya padamu, dan aku percaya padamu." 

"Honeeey ...!" panggil Olive yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam ruang kerja dan menyela percakapan Roman dan Reeve.

Roman berdecak, sedikit kesal. "Aku sudah bilang berkali-kali agar ketuk pintu dulu sebelum masuk, Olive!"

"Ah, Sayaang ... begitu saja marah. Aku kangen sama kamu, lagi ingin peluk kamu!" katanya sambil menghampiri Roman dan duduk di pangkuannya. Penuh gairah ia menyapu bibir kasar Roman dengan bibirnya sendiri dan mereka pun asyik bercumbu tanpa menghiraukan Reeve yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala tanda maklum dan lebih memilih mengalihkan pandangan. "Nggg ... Sayang, ada sesuatu yang harus aku kasih tahu kamu," kata Olive kemudian.

Roman tidak menyahut, dia malah mengecupi bibir Olive, memancing Olive agar kembali bercumbu dengannya.

"Romee ... ntar dulu!" protes Olive.

"Apa sih?"

"Ini, lihat. Hasil dari dokter." Olive menyodorkan secarik kertas berisi hasil tes laboratorium pada Roman.

"Apa ini? Dari dokter? Kamu dari dokter? Ada apa, kamu sakit?"

"Lihat saja dulu, Sayang, jangan cerewet."

Roman meneliti hasil tes itu secara cepat dan seketika dia langsung paham. "Hah, kamu hamil, Live?" tanyanya tidak percaya.

Olive, tersenyum lebar, mengangguk. "Iya. Kamu senang tidak?"

Reeve yang mendengar hal itu langsung menoleh pada Olive dan Roman.

Roman menghela nafas. "Well ... tentu, tentu."

"Kok nada suaranya begitu ...! Kamu tidak senang! Kamu tidak senang aku hamil ya, Rome ... kenapa ...?"

"Olive, Sayang, aku senang, kok. Aku hanya kaget, seumur ini sudah akan punya anak."

"Tidak apa-apa! Sah-sah saja, kok. Kenapa mesti kaget? Tapi kamu senang, kan ...?"

"Iya, Sayang, tentu aku senang. Kalau kamu senang aku ikut senang."

Olive tersenyum lebar. "Oke! Kalau begitu aku mau siapkan makan malam untuk kalian. Tunggu ya!" katanya sambil turun dari pangkuan Roman. Ia berhenti ketika Reeve tersenyum lebar padanya.

"Well, Olive, ini berita bagus! Kudoakan semoga anak kalian laki-laki, yang bisa meneruskan keluarga ini," kata Reeve, sementara Roman tersenyum mendengarnya.

"Mmmm ... Reeve ... thank you so much," sahut Olive sambil membungkuk dan memberikan kedua pipinya untuk dikecup Reeve.

Roman menghela nafas panjang ketika Olive sudah keluar dari ruangan. "Sebentar lagi dia akan jadi ibu-ibu. Huh, aku tak akan bisa memanjakannya sebagai pacar lagi," gerutunya.

"Ada sisi baik dari semua ini, Rome. Bayangkan jika kamu sudah memiliki anak laki-laki yang sehat, yang kuat, maskulin dan cerdas. Putra mahkota," sahut Reeve santai.

Roman tersenyum.

***

"Camila ...!" sapa suara di seberang line telepon.

Camila Castellano, yang hafal dengan suara wanita yang saat ini meneleponnya, langsung menyahut, "Olive?"

"Hai, dear! Apa kabar?"

"Olive! Ya ampun ... kamu itu kemana saja?"

"Ah, ada. Tidak kemana-mana kok. Ini kamu sedang ada di mana?"

"Biasa ... di rumah."

"Kamu main ke tempatku dong, Cami ... aku merindukanmu!" pinta Olive bersemangat.

"Memangnya kamu sekarang ada di mana sih ...? Kamu itu aneh ya, tiba-tiba menghilang tidak ada kabar, eh sekarang tahu-tahu nongol. Kamu di mana sekarang?"

"Ada ... nanti kuberi kamu alamat rumahku, biar kamu bisa main ke sini. Jadi kamu ada waktu kapan nih?"

"Mm ... kapan saja bisa kok. Besok saja, aku juga kangen kamu, Live. Gila, kamu jangan menghilang lagi tidak ada kabar begitu ah, seperti Reeve dan Flav saja. Harus tetap keep in touch ...!"

Terdengar Olive tertawa ringan. "Iya iyaa ... aku mengerti. Tapi by the way, kalau kamu kangen Reeve, kamu bisa dengan mudah menemuinya, kok. Penasaran tidak, Dia seperti apa sekarang? Dulu kan bukannya kamu jatuh cinta padanya?"

"He? Bisa bertemu dengannya? Memang dia ada di mana sekarang, Live? Kamu tahu dia di mana?"

Olive tergelak lagi. "Tuh kan, benar! Jadi kamu masih menyimpan rasa cinta?"

Camila tersenyum. "Ah, dasar. Itu kan cerita lama. Tapi kalau diingat-ingat, dulu memang aku ... terpesona pada Reeve. Dia manis, cute, kan. Tapi aku baru mau mendekati Reeve, dia sudah keburu hilang! Memang benar Live, kamu sudah pernah bertemu dengannya?"

"Hmm ... bukan pernah lagi, Cami. Aku setiap hari bertemu dengan Reeve. Yea ... well ... kalau menurut kamu Reeve dulu cute, memang dia cute. Dan sekarang dia makin cute lho! Makin ganteng. Sudah matang lah pokoknya. Siap petik!"

Camila tergelak. "Dasar kamu. Sungguh, dia seperti itu sekarang? Kok kamu bisa ketemu sama dia setiap hari? Ah, aku jadi penasaran!"

"Yaa ... makanya, kamu segera ke sini, ya! Nanti aku ceritakan semua yang kamu ingin tahu."

"Okee."


16 - Camila

Camila dalam perjalanan menuju rumah Olive, keesokan harinya, seraya berharap-harap cemas bisakah dirinya bertemu lagi dengan Reeve, teman satu gank yang sempat memesonanya. Ia tersenyum, teringat kenangan masa sekolah yang dihabiskannya bersama dengan teman-teman gank, dan juga Reeve. Ketika akan menginjak masa-masa puber remaja, Camila merasakan ketertarikan tersendiri terhadap Reeve. Ia yang sebelumnya hanya menganggapnya sebagai sobat, merasa ada yang lain tatkala pandangan matanya dan mata Reeve saling beradu, dan ia menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta pada pemuda itu. Namun apa mau dikata, ia tak bisa mendekati Reeve, lantaran pada saat itu Reeve sudah menghilang dan tak pernah terdengar kabar lagi darinya.

Camila, gadis 19 tahun yang lincah dan penuh semangat. Seorang gadis cantik yang berambut hitam ikal sepunggung. Kulitnya yang kemerahan menjadikannya tampak semakin cantik, terutama warna matanya yang cokelat tua, hampir hitam, yang tampak gelap karena dilindungi bulu mata yang tebal dan panjang. Camila Castellano, lahir dari sebuah keluarga Iralia sederhana yang menjunjung tinggi hukum dan moral, ayahnya, Wayne Castellano, merupakan seorang jaksa kenamaan yang gigih memberantas dunia kejahatan bawah tanah. Sehingga tidak heran ia dan adik laki-lakinya, Kevin, tumbuh dalam didikan seorang ayah yang tegas dan keras, yang jelas-jelas memproteksi anak-anaknya dari pengaruh dunia luar yang keras.

Camila sendiri, beranggapan bahwa ayahnya terlalu keras berusaha untuk sesuatu yang sia-sia. Ia menjalani hidupnya dengan bebas, melakukan apa pun yang ia suka, selama itu tidak melanggar hukum. Ia tahu pasti bahwa sebenarnya yang paling dikhawatirkan ayahnya itu justru adiknya, Kevin. Ayahnya sangat takut Kevin akan terjerumus dalam dunia hitam dan mencari nafkah secara tak halal melalui dunia hitam. Karena, sebagai pemuda Iralia yang mewarisi darah Castellano, bukan tidak mungkin darah hitam yang mengalir dalam diri kakek Castellano mengalir pula dalam diri Kevin, seperti yang mengalir pula dalam diri sang paman, Don Maurice Castellano.

Dalam keparanoidan sang ayah terhadap anak laki-lakinya itu, Kevin tumbuh menjadi pemuda yang terlalu dikekang. Pergaulannya dibatasi, kebebasannya pun seakan terenggut. Mungkin oleh sebab itu Kevin jadi sangat bergantung pada Camila, yang selalu berperan menjadi penghibur bagi sang adik. Camila selalu ada ketika Kevin membutuhkannya, dan mereka saling menyayangi. Yang Camila sayangkan, justru perlakuan dari sang ayah. Jika Wayne terus menerus mengekang kebebasan Kevin seperti itu, bukannya itu malah memancing sifat pemberontak Kevin? Bukan tidak mungkin Kevin nantinya akan kabur dari rumah sebelum waktunya dan malah menjerumuskan diri dalam dunia yang dilaknati oleh Wayne. Tapi Camila berharap itu tidak pernah terjadi. Setidaknya saat ini, Kevin masih ada dalam rumah bersama orang tua mereka, dan dia terlihat baik-baik saja.

Taksi yang mengantarnya menuju rumah Olive pun berhenti di depan sebuah bangunan yang dikelilingi tembok setinggi 10 meter, dan Camila dapat melihat ada banyak penjaga yang berdiri di sekeliling rumah dan di pintu-pintu masuk. Camila tidak dapat menaksir berapa luas bangunan itu, setidaknya lebih dari empat hektare.

Geez, apa ini? tanya Camila dalam hati. Sudah sebegitu suksesnyakah, Olive, sampai bisa membangun rumah berpenjagaan ketat seperti ini? Seperti menjaga rumah presiden saja.

Maka ia pun segera membayar taksi dan turun. Melangkahkan kaki menuju pintu masuk dan baru menyadari papan nama yang ada di sisi pintu masuk. Papan nama itu bertuliskan nama yang tidak asing baginya, yang ditulis dengan huruf-huruf kapital, BURGUENO.

Camila terperangah. Burgueno? Itu kan nama bos mafia yang juga dimusuhi papa dan jaksa Campbell, ayah Olive sendiri? Apa benar Olive tinggal di sini? Mustahil!

Seorang penjaga berjalan mendekati Camila yang masih terpaku, berdiri di depan pintu tanpa melakukan apa-apa. Camila terkejut ketika penjaga itu menegurnya dan menanyakan keperluannya.

"Ehh." Camila terbata. "Benarkah ini rumah Olivia Campbell?"

Penjaga itu segera menjawab, "Nyonya Olivia? Benar, ia tinggal di sini. Anda tamunya?"

"Ya, saya Camila Castellano."

Beberapa belas menit kemudian Camila sudah duduk di ruang tamu yang penuh dengan sentuhan gaya Romawi. Perapian besar di salah satu sisi ruangan, tak lupa lukisan-lukisan berukuran besar turut menghiasi ruangan itu.

"Cami," panggil seseorang.

Camila menoleh, dan mendapati Olive tengah tersenyum lebar padanya, dan yang paling menarik perhatian ialah perut Olive yang membuncit, Camila baru menyadari bahwa Olive sedang hamil. "Olive ...!" sahut Camila hangat, dan mereka pun berpelukan melepas kerinduan.

Camila melepaskan pelukan, "Olive, Olive! Ya Tuhan, kenapa kamu bisa ada di dalam istana Burgueno begini, dan kenapa kamu sudah hamil? Kamu ... kamu ... jangan katakan kamu pacaran sama Roman Burgueno, Live."

Olive menyeringai. "Dia memang pacarku! Dan ini, keturunannya," jawabnya sambil mengusap perutnya.

"Oh My ...." Camila kehilangan kata-kata. "Apa reaksi ayahmu kalau tahu kamu ada di sini, Olive?"

Olive mengangkat bahu sambil duduk di sofa. "Ah! Apa peduliku! Ini hidupku, aku tinggal bersama dan bahagia dengan orang yang kucintai, kenapa tidak boleh?"

"Tapi ...." Camila duduk di samping Olive.

"Ah, dasar kamu, kita sama-sama anak jaksa sih. Aku tahu persis apa yang ada di dalam pikiranmu itu, Cami. Tapi sudahlah! Jangan rusak suasana reuni kita ini dengan pembicaraan itu, please."

Camila menghela nafas, lalu tersenyum. "Oke, aku turut senang kalau kamu senang, Live. Bagaimana, bayimu cowok atau cewek? Sudah berapa bulan sih?"

"Jalan enam, dan ini, tentu saja ini Roman Junior," jawab Olive tersenyum lebar.

"Waaah ... sebentar lagi dong! Well, sebenarnya bagaimana ceritanya sih, kamu bisa pacaran dengan Roman?"

Olive tersenyum, tidak menjawab. "Bagaimana kalau ... kamu kupertemukan dengan Reeve. Katanya kangen?"

"Oh, dia ada di sini sekarang?"

"Ya iyalah, setiap hari juga di sini. Dia kan wakilnya Roman, harus stand by terus dong."

Camila terdiam. "Wakil ... Roman? Ma-maksudmu ... Reeve itu ...?"

Olive tersenyum penuh arti. "Menurutmu?"

"Olive?" panggil seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang tamu dan menyela percakapan Olive dan Camila.

Dan Camila, pada saat itulah melihat seorang pemuda yang sangat tampan dan berpenampilan necis, tinggi, tidak terlalu kurus tapi juga tidak gemuk, berambut hitam sebahu, dan ada sebentuk luka memanjang di pipi kanannya. Wajah pemuda itu langsung dengan mudah dikenalinya sebagai Reeve Galante. Pemuda itu pun terpana melihat Camila. "... Reeve ...?" panggilnya tidak yakin.

Pemuda itu, Reeve, tersenyum dan membalas sapaan Camila. "Cami. Apa kabar?"

Camila bangkit berdiri dan mendekati Reeve untuk memeluknya, melepaskan rasa kangen. "Reeve! Ya ampuun. Kamu kemana saja ...? The gank kehilangan kamu banget, tahu??"

Reeve membalas pelukan Camila dengan hangat. "Cami, lama tidak bertemu. Coba lihat, sudah secantik apa kamu sekarang," katanya sambil melepaskan pelukan dan meneliti wajah cantik Camila yang saat ini bersemu merah. Reeve berdecak. "Benar-benar cantik. Kamu membuatku jatuh hati, Cami."

"Huu, dasar perayu," sahut Olive mengganggu reuni pribadi Reeve dan Camila.

Dan dalam beberapa jenak mereka bertiga pun larut dalam obrolan penuh kangen, mengingat kenangan-kenangan masa lalu yang mereka alami bersama. Terlihat jelas Camila benar-benar memerhatikan Reeve, teman semasa sekolah, yang kini telah menjadi pria yang begitu memesona dirinya. Pun dengan Reeve yang tertarik akan Camila. Walaupun Camila tidak begitu sesuai dengan tipe wanita yang selama ini diinginkan Reeve, namun entah kenapa, Reeve tidak bisa membohongi perasaannya kalau dia sangat tertarik dan menginginkan wanita bertubuh semampai itu.

"Naah, jadi, giliranmu sekarang cerita, Reeve, kenapa kamu bisa ada di Burgueno, apa kamu sengaja melamar di keluarga ini? Lihat, kita sering barengan tapi hal yang satu ini tidak pernah kamu ceritakan  padaku," tanya Olive sekaligus merajuk.

Reeve tersenyum. "Kenapa harus cerita? Itu bukan cerita yang baik. Tidak pantas diceritakan."

"Kenapa tidak, Reeve? Habis kamu menghilang sih ... jadi kan wajar kalau aku dan Olive ingin tahu, kenapa kamu bisa sampai di sini. Alasan kamu menghilang juga kita tidak tahu," sambung Camila.

Lagi-lagi Reeve tersenyum, tapi kali ini senyuman jahil. "Perhatian sekali. Apa itu artinya aku punya harapan yang cukup besar untuk mendekatimu?"

Camila mengangkat alis. "Yaa ... tidak ada yang melarang juga sih. Tidak masalah," jawabnya santai, sementara Olive cuma mesam-mesem menyaksikan tingkah kedua temannya.

Reeve mengangguk. "Well, itu bagus. Nah, karena kalian ingin tahu kenapa aku bisa ada di sini ... well, aku tahu, maksud kalian tentu, kenapa aku bisa jadi seperti sekarang ini, bukan? Yaah, aku sudah akrab dengan dunia ini sejak kabur dari rumah. Itu saja. Untuk bertahan hidup itu adalah sebuah persoalan menang atau kalah. Aku ingin terus hidup, banyak yang ingin kulakukan di dunia ini, jadi aku terus berusaha untuk selalu menang, apa pun caranya. Dan inilah yang kudapat. Persoalan apakah yang kumakan itu uang kotor atau bersih, what the fuck, apa itu bisa membuat seseorang mati? Tidak sama sekali. Toh manusia yang makan uang bersih juga mengeluarkan kotoran yang bahkan lebih menjijikkan daripada uang-uang kotor yang mereka permasalahkan itu. Tidak ada bedanya, kan, mau makan dari uang bersih atau kotor? Dan tidak masalah, aku puas dengan keadaanku ini. Ya setidaknya untuk sekarang ini."

Baru kali itu, seingat Olive, Reeve berbicara panjang lebar. Menyatakan pandangannya terhadap dunia, dari kacamata seorang Reeve Galante. Olive terdiam mendengar penuturan Reeve, sementara Camila terpesona menyadari betapa tegar dan kerasnya Reeve menghadapi kehidupannya. Kehidupan yang sangat keras, tak ada kata ampunan bagi seorang pecundang. Bagi Reeve kemenangan adalah mutlak, jika ingin terus hidup di dunia ini.

"Lalu, alasanmu kabur dari rumah, Reeve?" tanya Olive.

Reeve tertawa sinis. "Orang tuaku gila. Mereka sama-sama main gila, berselingkuh tepat di depan hidungku, anak mereka sendiri yang baru mau menginjak remaja. Mereka cerai, dan aku menolak memilih harus ikut dengan siapa. Dan aku melarikan diri. Itu saja. Tidak ada alasan lain. Dalam pikiran seorang Reeve kecil yang masih 11 tahun, perbuatan bejat mereka itu begitu melukaiku."


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.