TC (17-19) | INA
17 - Cassanovas
"Camila?"
"Reeve!" sahut suara di seberang line telepon. "Hey, Reeve, ada apa?"
Reeve tersenyum menyadari suara Camila yang dipenuhi antusiasme. "Semangat sekali menjawab teleponku, rupanya aku boleh berharap banyak jika suatu saat mengajakmu kencan ya?"
"Ah, dasar cassanova, sorry ya, rayuanmu tidak ampuh untukku."
"Oh ya? Masa sih? Bukannya setahuku, dulu tuh kamu sempat menyimpan rasa terhadapku ya? Apa perasaan itu tidak datang lagi setelah kita bertemu kembali?"
Lama tak terdengar jawaban dari seberang. Reeve langsung bisa menyimpulkan Camila pasti terkejut atas apa yang baru saja dia katakan. Reeve berkata lagi, "Ayolah, aku memang tahu, kok. Kamu itu cewek ekspresif, aku bisa dengan mudah membaca apa yang tersirat dari matamu. Dan itu alasanku terpesona padamu. Bukankah kamu juga terpesona padaku, sewaktu kita bertemu lagi tempo hari?"
"Reeve, kamu itu ya ...."
"Bukankah begitu?" potong Reeve tanpa menunggu Camila selesai bicara.
Camila terdiam sejenak. Lalu katanya, "Kalaupun aku masih menyimpan rasa padamu, Reeve, aku juga harus berpikir ribuan kali untuk berhubungan denganmu! Kamu sendiri kan tahu siapa aku, dan siapa kamu .... Maksudku, bukan gimana-gimana, tapi kalau aku berhubungan denganmu, sama saja aku mengkhianati ayahku sendiri!"
"Hmmm .... daddy's girl ... kamu pasti anak kesayangan papa kamu."
"Reeve, aku serius!"
"Begini, anak baik, namamu siapa?"
"Apaan, sih?"
"Jawab saja, siapa namamu?"
"Ya tentu Camila Castellano!"
"Oke, Camila Castellano, berapa umurmu sekarang?"
Camila terdengar mendesah kesal. "Tentu saja 19 tahun! Apa sih maksudmu?"
"Dan umur 19 tahun adalah umur dewasa, bukan? Kamu setuju tidak, kalau aku bilang umur 16 tahun ke atas sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri? Tidak tergantung lagi pada orang tua."
Tidak terdengar jawaban dari Camila. Ia mendesah lagi. "Oke, aku tahu maksudmu apa. Tapi beliau ayahku sendiri, masa aku berhubungan dengan orang yang seharusnya dijebloskan ayahku ke dalam penjara! Itu tidak mungkin!"
Reeve mengangkat alis. "Ya kalau begitu katakan pada ayahmu supaya aku tidak masuk dalam targetnya," katanya sambil tertawa ringan mendengar kelakarnya sendiri.
"Oh, Reeve ... kamu tidak mengerti juga."
Reeve menghela nafas panjang. "Begini, Camila sayang. Cara pandang dan sikapmu yang seperti ini justru membuatku berpikir bahwa kamu menunggu ayahmu memilihkan jodoh yang tepat untukmu. Siapa yang tahu siapa calon yang dipilihkan ayahmu untuk kamu, mungkinkah dia gendut, chubby, jauh dari kata maskulin, penakut dan tidak bisa memuaskanmu. Dan kamu sama sekali tidak suka sama dia. Apa kamu mau seperti itu, Cami, kembali ke zaman purbakala seperti itu? Kamu punya kemauan, kehendakmu sendiri, dan yang terpenting kamu punya kebebasan! Kebebasan untuk memilih dengan siapa kamu mau berkencan. Singkat kata, kencanilah sebanyak mungkin pria yang kamu suka, sebelum jam biologismu berdetak dan menuntutmu untuk berkembang biak." Reeve tergelak. "Serius, aku tidak bercanda."
"Reeve ... tapi ...."
"Sekarang jujur saja deh, aku menginginkanmu, Cami. Aku ingin lebih dari sekedar teman denganmu. Aku ingin memilikimu. Aku pun yakin kamu punya keinginan yang sama sepertiku, tapi ternyata tidak semudah itu. Dan sekarang, keputusan ada di tanganmu. Kalau kamu memang ingin membahagiakan orang tuamu, tapi kamu kehilangan secret admirer junior high schoolmu ini ... oke, aku akan menjauh. Aku juga tidak mau memancing ayahmu untuk menyeretku ke balik jeruji. Tapi kalau kamu memutuskan untuk menuruti keinginan dan kebebasan masa mudamu, well, aku ada di sini."
Camila terdiam, tidak tahu harus berkata apa. "Kamu tidak tahu seperti apa aku dulu, Reeve. Saat masih didera gejolak masa remaja. Aku sangat menginginkanmu, tapi kamu kemana? Kamu hilang dari hadapanku begitu saja, tidak ada kabar .... Kamu bisa bayangkan seperti apa perasaanku? Sekarang, kamu tiba-tiba muncul di hadapanku, menyatakan diri available untukku, tapi dalam keadaan yang membuatku dilema! Aku bingung harus bagaimana ...."
"Oke, bagaimana kalau kita sudahi percakapan yang membingungkan ini. Kamu bingung, aku juga bingung." Reeve menghela nafas. "Tapi bagaimana kalau akhir pekan ini kita jalan? Tidak dalam status apa-apa, ini cuma sekedar hangout biasa antar teman. Hal seperti itu bukan masalah untukmu, kan?"
Terdengar Camila menarik nafas panjang, "Oke ... aku setuju."
Reeve tersenyum. "Thanks, Cantik." Reeve baru mau bangkit berdiri ketika didengarnya pintu diketuk, dan suara yang sangat dikenalnya menyapanya dari luar.
"Reeve?"
"Masuk saja, Reeve!" sahutnya, dan seketika masuklah kembaran Reeve, yakni klonnya. Klon yang selama ini jarang dia bawa keluar untuk dipublikasikan, karena Reeve menganggap keadaan belum cukup aman, duo jaksa musuh abadi Burgueno masih menjaga jalanan dengan ketat, mereka mengerahkan seluruh pasukannya untuk berjaga 24 jam sehari.
Klon Reeve langsung duduk mengangkat kaki di depan Reeve, sikap dan gayanya persis 100% dengan Reeve asli. "Ada hal penting," katanya singkat.
"Apa?" jawab Reeve tak acuh.
"Don Salvatore Cavallo dan Don Luigi Labruzzo, mereka sudah off. Sudah keluar dari bisnis. Rupanya mereka sudah menyadari bahwa mereka sudah terlalu tua untuk mengurusi bisnis di New Yord ini."
"A-ha. Aku sudah dengar rencana mereka pensiun. Tak kusangka secepat ini. Lalu? Don Labruzzo berikutnya? Si 'Mata Satu' Castillo?"
"Yap." Klon Reeve menyulut rokok dengan pemantik sambil mengangguk.
"Don Provenzano? Oh, shit, jangan katakan orang itu si Flav!"
Klon Reeve tertawa mengejek. Dihembuskannya asap rokok perlahan. "Tadinya kupikir begitu. Tapi tidak, Salvatore Cavallo menunjuk wakilnya, Antonio Garafallo, untuk meneruskan kepemimpinannya. Surprised, huh, Garafallo justru lebih tua dan lebih kolot dari Cavallo, tapi Cavallo justru memilihnya. Mungkin dia saking tidak punya kandidat lain."
Reeve terbengong sejenak. "Aneh, katanya Cavallo sudah menganggap Flav seperti anak sendiri?"
"Well, jangan tolol, Reeve. Kau sendiri tahu seperti apa karakter Flav. Sebelas dua belas seperti Roman. Dan Cavallo, dia tua dan kolot, tapi pintar. Dia mengerti Flav tidak mungkin bisa memegang tampuk kepemimpinan dengan karakter brutal seperti itu."
Reeve mengangkat alis. Dia menyandarkan punggungnya sambil tersenyum membayangkan ekspresi wajah Flav menghadapi kenyataan itu. "Hmm ... bisa kubayangkan, tentu Flav tengah mengamuk sekarang."
"Sedang apa kau tadi?"
"Urusan pribadi."
"Pribadimu, pribadiku."
Reeve merasa gusar seketika. "Ah, taik, apa semua yang kulakukan harus kuceritakan juga padamu?? Kalau aku sedang mengerjai cewek, juga harus kulaporkan padamu, begitu? Berharap saja kau!"
"Well, tidak masalah, kau tidak mau cerita padaku, aku sendiri juga jengah sih mendengar cerita anehmu. Tapi rasanya dulu pernah ada yang mengatakan padaku agar kita masing-masing saling mengetahui apa yang sedang dikerjakan. Agar tidak ricuh dan rancu ... whatever, kau sendiri yang menerapkan peraturan itu," balas Klon Reeve.
"Ya ya ya." Reeve mengalah. "Aku sedang mendekati Camila, temen geng kita dulu. Kau ingat dia?"
"Camila?"
"Yea, Camila. Anak jaksa Castellano."
Klon Reeve tersenyum mengejek. "Kau main api rupanya."
"Hmm, entah kenapa kuyakin Camila tidak seperti ayahnya yang kolot itu. Aku yakin bisa menaklukkannya. Dan Camila, man, ia sangat cantik sekarang. Kau mau lihat fotonya?" Reeve mencari foto Camila di ponselnya dan menunjukkannya pada klon. "There you go."
Klon Reeve mengamati foto Camila yang sedang berpose bersama Reeve dan Olive, dan dia pun tampaknya terpesona dengan kecantikan Camila. "Ooh," komentarnya singkat.
"Bagaimana pendapatmu, Camila cantik kan?"
"Ya, sangat. Tapi tumben kau berniat mengerjai tipe seperti Camila, biasanya yang kau incar kan tipe seronok," kelakar klon.
Reeve melengos. "Daripada mengurusiku, lebih baik beri aku kabar baik lainnya. Bagaimana dengan pengintaian kita terhadap ayah Olive? Orang kita sudah menemukan bukti baru? Memang, Olive hanya bisa memberikan clue bahwa Ivander sering berada di Brookine, tapi kurasa satu clue itu saja sudah cukup untuk ditindaklanjuti. Bukan begitu, Reeve?"
Lagi-lagi Klon Reeve tersenyum penuh percaya diri. "Bukti yang kita butuhkan sudah ada di tangan, tinggal kita kirimkan pada mereka," jawabnya.
"Benarkah?? Great!" Reeve tidak bisa menahan senyum puasnya. "Apa yang kau dapat?"
"Semua. Foto-foto orang itu keluar dari rumah gundiknya, checked. Anak buah Flav setia mengintai di sana. Foto orang itu berlibur dengan gundik? Checked. Orang dari Fontana yang mengirimkan itu pada kita. Kau butuh apa lagi? Foto mereka sedang lunch bersama di suatu tempat? Checked. Orang itu terbukti lengah selama ini, banyak sekali yang bisa kita dapatkan," jawab Klon Reeve, senyum percaya diri menghiasi wajahnya.
"Good job," puji Reeve. "Roscoe bakal sumringah mendengar ini ... apalagi Roman."
Klon Reeve mengangguk setuju. "Akhirnya salah satu tugas kita berkurang. Mungkin kau ingin sekalian menyelidiki partner Ivander, Wayne Castellano, makanya kau mendekati Camila?"
"Hmm." Reeve bergumam. "Kalau memang ada clue skandal mengenai Wayne itu ... kenapa tidak? Kita lihat nanti. Yang jelas, saat ini riwayat Ivander sudah tamat."
"Benar," sahut Klon Reeve. "Do you want me to take care of it? Aku tanyakan mengenai Wayne pada Camila."
"No need to rush."
"You need to. Kalau bisa membunuh dua nyamuk dalam sekali tepuk, kenapa tidak?"
Reeve mengangguk singkat. "Kau benar," sahutnya. Sesaat dia sibuk dengan ponselnya, lalu berkata, "Sudah kukirim nomor Camila padamu. Tanyakan yang penting-penting saja, tapi jangan terlalu kentara kau sedang mencari tahu. Aku sedang berusaha mendapatkan Cami, you know. Juga jangan malah melenceng kemana-mana. Aku tidak mau kau malah mengambil hatinya."
"Sure thing."
Klon Reeve tidak membuang waktu. Dia segera menghubungi Camila lewat panggilan video.
"Halo ...." Panggilan video terhubung, menampilkan sebentuk wajah manis yang terlihat bingung.
"Hai, Camila. Senang bertemu denganmu," sapa Klon Reeve sambil tersenyum hangat.
"Reeve?"
Klon Reeve mengangguk. "Yeah. Aku klonnya, tepatnya. Thanks kamu bersedia menjawab panggilanku."
"Klon ... aduh, sumpah, aku kaget begitu tahu kalau Reeve punya klon. Waktu kamu kirim pesan memperkenalkan diri kamu, aku pikir Reeve sendiri yang kirim pesan, aku pikir dia sedang mengerjaiku."
"Reeve tidak akan berbuat seiseng itu padamu, Cami," jawab Klon Reeve.
"Sumpah, kamu mirip banget sama Reeve," ujar Camila, ia tidak menyembunyikan ekspresi kagum yang nyata menguar dari wajahnya.
"Tentu. Kalau tidak mirip, tidak akan disebut kloning, kan?"
"Kamu nggak ada bedanya dari Reeve!"
"Ada," jawab Klon Reeve cepat. "Reeve mempertahankan luka codet panjang di pipinya, sementara aku tidak. Wajahku mulus," katanya seraya terkekeh.
Camila terdiam sesaat, memerhatikan wajah Klon Reeve. Ia semakin takjub saat menyadari bahwa memang yang tengah berbicara dengannya tidak memiliki luka di wajah. "Benar! Kamu nggak punya codet!"
"Aku yakin kamu nggak akan merekam pembicaraan kita ini dan malah mengunjukkannya pada ayahmu, bukan begitu?" Klon Reeve menyunggingkan senyum percaya diri. "Demi persahabatan kita sejak masih sekolah."
Camila membalas senyum Klon Reeve, menggeleng. "Aku bukan tipe usil yang senang melaporkan segala sesuatu," katanya.
"Sudah kuduga. Makanya aku tidak ragu berkenalan denganmu."
"You should be," sahut Camila, tertawa ringan.
Suara tawa yang renyah dan keindahan paras Camila saat tertawa membuat sesuatu dalam diri Klon Reeve berdesir.
"Aku tuh seneng banget ketemu teman lama, nggak peduli dia seorang klon atau bukan. Kan kamu sebenarnya adalah Reeve sendiri! Reeve jadi ada dua, wah, aku kagum, lho!" Camila berujar antusias.
Klon Reeve semakin terbius pesona Camila.
"Jadi, ada keperluan apa, Reeve? Baru tadi aku ngobrol sama Reeve," kata Camila.
"Reeve yang asli hanya fokus merebut hatimu, bisa dibilang begitu. Dia lupa bahwa dia tetap harus menyesuaikan segala sesuatunya," sahut Klon Reeve. "Singkat kata, anggap saja aku sekretaris pribadi Reeve. Aku wajib mencocokkan jadwal Reeve bertemu denganmu, dengan jadwal ayahmu agar tidak malah bentrok, dan berakhir tidak baik."
"Ahh." Camila cepat menyadari maksud lawan bicaranya. "Tentu kamu melindungi Reeve."
"Kami saling menjaga."
"Gimana kalau ternyata aku punya maksud licik, dan malah menyerahkan Reeve pada papaku?"
Klon Reeve lagi-lagi tersenyum penuh keyakinan. "Aku dan Reeve memiliki keyakinan tersendiri bahwa kamu tidak berada di pihak ayahmu. Kamu ragu dan dilema untuk dekat dengan Reeve murni karena kamu takut akan pandangan orang lain, yang mungkin akan menilaimu tidak memandang ayahmu sendiri. Bisa dibilang, kadar kedekatan kamu dan Wayne ... yea ... paling tidak, hanya berkisar 20%. Apakah mendekati?"
Camila melongo takjub. "Kok kamu ... kok kalian tahu?"
"Kita kenal sejak kecil."
"Kalian tahu aku banget."
"Tidak ada untungnya kamu mengumpankan kami pada ayahmu. Terlebih, sosok Reeve spesial buatmu, kan?"
Camila tidak menjawab.
"Jadi, Camila, apa kira-kira ayahmu akan berada di sekitar Kafe Marlon di Jalan Weasley hari Sabtu atau Minggu nanti?"
"Uhm." Camila tampak berpikir sejenak. "Papaku nggak pernah kemana-mana tiap akhir pekan, hanya di rumah. Kecuali sedang ada kasus urgent yang nggak bisa ditunda."
Klon Reeve mendapat satu kesimpulan. "Suami yang baik, ya."
"Benar, orang tuaku masih rukun, meski nggak mesra-mesra banget. Tapi hubungan mereka terlihat hangat selama ini."
"Apakah mereka berdua rutin mengobrol berdua saja?"
"Iya. Tiap hari. Kalau akhir pekan, papa dan mama biasanya sibuk berkebun di pagi hari. Siang harinya bersantai, makan siang bareng. Dilanjutkan dinner berdua saja di luar. Itu yang aku saksikan, sih. Papaku manis, kan? Aku juga ingin memiliki suami yang seperti papaku itu kelak." Camila tersenyum-senyum sendiri.
"Nice." Klon Reeve menyahut sekenanya. Kepalanya sedikit pening menyadari Wayne merupakan suami yang setia dan berdedikasi, tidak pernah keluyuran di waktu senggang. Bagaimana mencari kekurangan satu orang Iralia itu?
"Aku tahu papaku seperti apa. Aku kagum padanya. Tapi juga aku menyimpan kekesalan tersendiri ... yang bikin aku males dekat sama dia. Tapi meski aku males, dia tetap papaku, dia adalah orang yang nggak boleh aku khianati," ujar Camila berharap lawan bicaranya segera menangkap apa maksudnya.
Klon Reeve tersenyum. "Sayangnya, ayahmu itu sudah menjadi milik ibumu. Bukankah ini saatnya kamu mencari pria yang mampu memberimu cinta seperti yang kamu dambakan, yang manis seperti ayahmu?"
"Ummm."
"Reeve Galante adalah pria yang cocok untukmu," ujar Klon Reeve seraya mengedipkan sebelah mata.
Tawa Camila lepas membahana. "Sudah aku duga! Pasti ujung-ujungnya bakal promosiin diri! Kamuu bisaan aja deh, Reeve!"
Klon Reeve tersenyum menanggapi Camila. Wanita yang lovable itu benar-benar sesuai dengan kriteria yang diimpikannya. Tapi pembicaraan mereka sore hari itu tidak sepatutnya berlangsung terlalu lama, Klon Reeve harus segera menyudahi. "It's nice chating with you, sweetheart. Apa aku boleh telepon lagi kapan-kapan?" tanyanya.
"Anytime!"
18 - Skandal
Ada satu hal yang membuat Ivander Campbell, seorang jaksa federal kenamaan di distrik Eastern New Yord, sangat mencintai pasangan sehidup sematinya, Sandra. Setiap pagi selama dua puluh tahun lebih pernikahan mereka, Sandra tidak pernah absen mengecup keningnya sebagai sapaan selamat pagi, serta tak lupa menyuguhi Ivander bacon dan telur kesukaannya, lengkap dengan segelas jus apel murni.
Bagi Ivander kecupan selamat pagi dan sarapan kesukaannya yang selalu terhidang itu merupakan penyemangatnya dalam seharian beraktifitas. Bergelut di kantor penuh tumpukan berkas berserakan di meja dan di lantai, hampir 15 jam sehari, 6 hari dalam seminggu. Berkonsentrasi penuh pada kasus yang ada di tangannya saat ini, kasus yang tidak sembarang orang bisa terlibat di dalamnya. Yakni mengumpulkan serpihan demi serpihan jejak yang ditinggalkan para kriminal kerah putih saat menjalankan aksi mereka. Semua itu berhasil digarapnya bersama dengan partner sejatinya, Wayne Castellano, sebagai sesama Senior Litigation Counsel di Divisi Kriminal kantor U.S. Attorney, dan mereka berdua menaruh harapan besar suatu saat nanti mereka bisa menyeret seluruh pentolan kriminal kerah putih itu ke dalam penjara.
Kedua jaksa federal itu merupakan tokoh pembela publik yang paling disegani di seluruh kantor US Attorney di seluruh distrik. Prestasi mereka, keunggulan dan kecakapan mereka dalam mengusut setiap kasus besar, serta bagaimana cara mereka menjatuhkan para tersangka dengan cara yang elegan namun penuh logika dan perhitungan membuat kedua jaksa ini dipercaya untuk mengemban tugas mencari bukti kejahatan yang bisa dipergunakan untuk mengirim para tersangka kriminal terorganisasi di New Yord ke dalam penjara. Dan obyek yang mereka kejar tak lain tentu saja, lima keluarga kejahatan yang masih merajai New Yord dari berpuluh tahun lalu hingga sekarang ini. Keluarga kejahatan terorganisir yang selalu rapi dalam menutupi bangkai, kelihaian serta kelicikan para kriminal itu dalam menyogok aparat pemerintah maupun penegak hukum dalam skala kecil maupun skala besar, sungguh sangat cukup alasan bagi duo jaksa Campbell dan Castellano ini untuk tetap gigih mengejar dan memperjuangkan keadilan.
Sepintas tak ada cacat pada kegigihan duo jaksa Campbell dan Castellano ini, dan semua orang yang tahu sepak terjang mereka, pasti meyakini cepat atau lambat misi mereka berdua untuk menuntaskan kejahatan terorganisasi sampai ke akar-akarnya akan tercapai dengan gemilang. Namun benarkah seperti itu kenyataannya?
Ivander Campbell, pria paruh baya yang tiap hari berhadapan dengan pekerjaan yang menguras otak ini memiliki penampilan yang menarik bagi orang seusianya. Badannya tegap berisi, berdada bidang dan lengan berotot. Rambutnya menipis karena tua, namun memiliki sorot mata yang tajam dan bibir tipis yang mengerucut seperti busur. Ivander memang dianugerahi daya pikat yang menawan hati bahkan semenjak dia masih remaja. Sandra sang istri, selama lebih dari dua puluh tahun ini mengaku tidak pernah merasa kecewa akan Ivander yang selalu romantis namun juga liar saat bercinta, dan segala keinginan dan fantasi Sandra selalu terpenuhi oleh Ivander. Sandra tahu, cinta Ivander memang hanya untuk dirinya. Sandra tahu, Ivander memang pasangan sehidup semati yang memang sudah digariskan untuk menjadi jodohnya, bahkan hingga kedua anak gadis mereka sudah tumbuh dewasa sekarang ini, Ivander masih tetap romantis seperti saat mereka masih menjadi sepasang pengantin baru. Yang Sandra tidak tahu, Ivander sebenarnya hanya menghabiskan 5 hari dalam seminggu untuk bekerja. Ia tidak pernah tahu, bahwa selama ini Ivander ternyata memelihara seorang wanita simpanan yang rutin dikunjunginya setiap Sabtu. Sandra hanya tahu waktu luang Ivander hanya tersedia pada hari Minggu, hari di mana mereka berdua menghabiskan hari bersama-sama sambil mengobrol, dan Sandra hanya tahu Ivander merupakan pria idaman yang kuat dan tangguh, karena Ivander tidak pernah menolak Sandra bahkan ketika Ivander sudah lelah bekerja seharian.
Kekasih gelap Ivander tidak secantik Sandra, namun memiliki kemolekan yang membuat Ivander mustahil berpaling. Umurnya kira-kira separuh umur Ivander. Sudah hampir satu tahun ini Ivander rutin mengunjungi sang kekasih setiap Sabtu, menghabiskan waktunya seharian penuh di rumah sang kekasih. Betapapun Ivander menyadari, bahwa keberadaan Sandra sebagai istri sebenarnya sudah lebih dari cukup, namun Ivander tetap tak kuasa menolak tatkala sang kekasih mulai merayu dan menggigiti cuping telinganya dengan manja.
Wayne yang tahu kelakuan Ivander, sudah bosan menasihati Ivander agar segera berhenti dan kembali pada pelukan istri resminya di rumah. Wayne sangat mencemaskan terjadinya skandal, dan dia merasa Ivander hampir tidak bisa diberi pengertian olehnya mengenai hal itu. Karena tidak hanya sekarang ini saja, sebelumnya Ivander juga sering bermain api. Membawa wanita muda lain bermalam di hotel bersamanya, merayu pramugari favorit, bermain mata dengan para wanita pengacara muda yang berseliweran di kantor. Sejujurnya Wayne sudah muak melihat Ivander yang bukan main genit terhadap wanita. Bahkan mulut Wayne sudah sampai berbusa saking terlalu seringnya memarahi dan menasihati Ivander, hingga pada suatu titik Wayne jenuh memedulikan tingkah laku Ivander, dan mulai bersikap tak acuh pada apa yang dikerjakan Ivander. Dia hanya bisa memberikan Ivander peringatan bahwa segalanya tidak akan pernah sama lagi jika skandal Ivander itu sampai terkuak dan terpublikasi. Namun bagi Ivander, semua nasihat dan peringatan Wayne hanya masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanannya. Dia sangat yakin akan kelihaian dan inteligensi yang dimilikinya, dan dia sangat yakin tidak akan ada seorang pun yang mengetahui rahasianya selama ini.
Tapi benarkah keyakinan Ivander Campbell?
Senin pagi itu, ketika Wayne baru saja menyeduh kopi hitam dan duduk menghadap meja kerjanya, sekretaris masuk dan membawakannya amplop coklat tebal.
"Apa itu, Dianne?" tanya Wayne tak acuh.
"Dokumen yang dialamatkan padamu, Wayne. Tak ada nama pengirimnya. Aneh, karena resepsionis mengatakan ada dua amplop lain yang sama persis seperti ini. Dialamatkan pada kepala divisi kriminal, dan satu lagi pada pimpinan. Bagaimana menurutmu Wayne?" jawab Dianne si sekretaris.
Wayne mengernyitkan kening, lalu menerima amplop itu dari sang sekretaris. Perutnya serasa diaduk ketika pertama kali mengintip isi dalam amplop, yang berisi puluhan lembar foto, dan Wayne langsung mengenali siapa yang ada di dalam foto-foto itu. Ivander Campbell.
"What the hell ... apa ini?" Dengan kasar Wayne mengeluarkan seluruh foto dari dalam amplop. Ada sekiranya tiga puluh foto Ivander tengah bersama dengan wanita simpanannya. Foto-foto yang, Wayne berasumsi, pasti ada yang memata-matai Ivander selama ini dan mengambil foto sebagai bukti perselingkuhan yang dilakukan Ivander. Ada foto Ivander tengah berciuman dengan wanita itu di depan sebuah rumah di pinggiran kota, ada foto Ivander tengah berlibur bersama pacarnya itu di Miani, ada foto mereka berdua tengah berkendara, tengah menikmati santapan di sebuah kafe, dan masih banyak lagi.
Wayne menggelengkan kepala berkali-kali. Ivander telah tertangkap basah. Oleh entah siapa. Dan hal seperti ini pasti akan langsung menjadi skandal dan aib besar bagi biro. Wayne bisa membayangkan hal apa yang akan menimpa Ivander sebagai konsekuensi atas perbuatannya ini. Dan Wayne terduduk lemas.
19 - One Man Show
Dan benarlah perkiraan Wayne. Ivander Campbell dipecat dari biro. Skandal yang dibuatnya memicu banyak omongan miring tentang dirinya. Seakan belum cukup dengan pemecatan yang diterimanya, Ivander juga harus rela menandatangani surat cerai yang diajukan oleh Sandra, istri tercintanya yang terluka sedemikian dalam karena perbuatannya. Kini Sandra telah tahu semua belang Ivander, semua kebusukan Ivander, dan Sandra merasa ngeri bagaimana Ivander bisa dengan lihainya membagi tubuh dan waktunya antara pekerjaan, istri, dan wanita simpanannya! Sandra sangat sakit hati, dan ia memutuskan untuk berpisah dengan Ivander.
Kejutan bagi Ivander belum selesai sampai di situ. Kabar terakhir yang didengarnya dari salah satu anak buahnya di biro, adalah Olivia Campbell kini sedang mengandung anak Roman Burgueno. Olivia! Putri sulung yang menjadi kebanggaannya selama ini! Ivander sama sekali tidak pernah menyangka, selama dia bergelut mencari bukti-bukti kejahatan Burgueno, ternyata secara diam-diam Olivia malah menyerahkan dirinya pada Burgueno! Bahkan saat ini tengah mengandung keturunan Burgueno!!
Pada titik itulah Ivander merasakan kekalahan telak yang terlampau pahit. Kehilangan pekerjaan, dicap jelek oleh semua orang, ditinggalkan oleh istri, dikhianati oleh putri kesayangannya .... Ivander meredup dan menjadi layu, kini dia tidak lagi dianggap berbahaya oleh kelima keluarga La Cosa Nostra, yang dengan begitu gemilang telah berhasil memecah kekompakan Ivander dan Wayne Castellano. Yeah, jaksa yang berperang dengan mereka telah berkurang satu, dan hanya menyisakan seorang Wayne Castellano. Siapalah Wayne, apa yang bisa dia lakukan sendirian? La Cosa Nostra melenggang dengan bebas, tidak ada yang akan menghalangi sepak terjang mereka lagi.
Setidaknya itulah yang lima keluarga La Cosa Nostra sangka. Mereka belum menyadari karakter seorang Wayne Castellano yang sesungguhnya. Wayne Castellano adalah seorang pria tangguh yang sangat mencintai keadilan. Niat serta tekadnya luar biasa besar, yang membuatnya berani mengambil keputusan keluar dari perlindungan sang ayah, dan memilih untuk menabuh genderang perang dengan ayah dan seluruh keluarganya dengan menempuh studi hukum. Dia dibesarkan dalam lingkungan yang kental akan tradisi 'kekeluargaan' ala mafia Sivily, dan dari sejak kecil Wayne tidak pernah menyukai hal itu. Baginya, pekerjaan ayahnya dan para kerabat ayahnya adalah hal yang sangat tidak pantas dan tidak berperikemanusiaan. Dia menyaksikan sendiri secara sembunyi-sembunyi, bagaimana sang ayah dengan mudahnya mencetuskan perintah untuk mengakhiri hidup seseorang, dan bagaimana sang ayah mempermainkan hukum dan para pemerintah federal sesuka hatinya. Sang ayah pun dianggapnya sebagai pribadi yang munafik, yang rutin pergi mengikuti misa setiap Minggu, bertingkah layaknya seperti ayah dan suami yang bertanggung jawab, padahal sebenarnya sang ayah menanggung -entah berapa banyak- nyawa di pundaknya. Wayne muak, dan semakin muak ketika ayahnya meminta dirinya untuk menjadi pengganti posisinya kelak.
Dari situlah Wayne kemudian memberontak. Dia pergi dari rumah, dan memulai kehidupannya dari nol besar. Tidak peduli bagaimana caranya sang ayah berusaha membujuknya kembali, tapi Wayne tetap teguh pada pendiriannya. Puluhan kali masa sulit dialaminya, namun Wayne tetap bertahan, bahkan Wayne bisa masuk ke perguruan tinggi ternama dan mengambil studi hukum yang dengan sukses ditempuhnya dengan gemilang. Semua atas hasil keringatnya sendiri.
Wayne memulai karirnya sebagai Assistant District Attorney di Manhatten, yang bertanggung jawab atas investigasi dan penuntutan terhadap kejahatan kriminal. Selama tiga tahun dia merintis karir di situ, di tempat di mana dia pertama kalinya mengadili pelanggaran hukum ringan di Pengadilan Pidana New Yord City dan akhirnya mengadili tindak pidana berat di Mahkamah Agung New Yord City. Kemudian dia melamar posisi sebagai bagian dari U.S. Attorney Office, kantor kejaksaan yang memiliki reputasi yang paling unggul, di mana kejahatan-kejahatan kerah putih yang lebih canggih diadili. Wayne ditempatkan di U.S. Attorney Office di New Yord bagian Timur, dan di situlah karir Wayne semakin meroket, hingga akhirnya dia menjabat sebagai Senior Litigation Counsel di Divisi Kriminal. Karir yang menjanjikan, sesuai dengan gairah yang dimilikinya dan keinginannya untuk memberantas kriminalitas, serta untuk membersihkan anggapan banyak orang yang menyangka bahwa semua orang Iralia seperti dirinya hanyalah 'pelacur' yang hidup dari uang kotor. Baginya, menjadi seorang jaksa federal pemberantas mafia adalah satu-satunya jalan untuk membersihkan anggapan itu.
Wayne selalu memiliki perasaan yang tidak bisa dideskripsikan, menyadari bahwa dirinya sudah, sedang, dan akan selalu melakukan sesuatu yang positif untuk masyarakat. Bagi Wayne, ini adalah pekerjaan terbaik dalam profesi legal. Tidak ada posisi lain yang akan memberi kebanggaan, kepercayaan diri, kejujuran, tantangan untuk mencocokkan akal terhadap juri dan hakim, serta kepuasan dari mengejar dan menghukum para kriminal yang sudah mencelakakan rakyat sipil. Semua itu adalah tantangan bagi Wayne ; mengetahui sebuah kejahatan telah terjadi, mempercayai bahwa dia tahu siapa yang melakukannya, mengumpulkan bukti untuk membuktikannya, dan memuaskan juri dengan membawa cukup bukti hingga tanpa ada keraguan bisa menjamin keputusan bersalah terhadap terdakwa.
Dan saat ini, pasca pemecatan partnernya dari biro, Wayne terpaksa bekerja sendirian. Dia menyadari dirinya dan Ivander telah lengah sehingga bisa-bisanya skandal Ivander terkuak dan menyebabkan Ivander diberhentikan dengan tidak hormat. Sedikit banyak Wayne menyalahkan Ivander, ya, karena Wayne sudah terlampau sering menasihati Ivander yang nyata-nyata tidak pernah mendengarkan nasihatnya. Sekarang akibatnya Ivander tidak bisa lagi mendampingi dirinya mencari-cari bukti kejahatan baru yang melibatkan anggota keluarga kejahatan terorganisasi New Yord. Bisakah Wayne bekerja sendirian di tengah tekanan itu? Dia seribu persen yakin, saat ini tentu para pentolan mafia yang diburunya tengah menertawakan kondisinya saat ini. Dan mereka pasti kini memandangnya sebelah mata!
Tapi aku tidak akan gentar dan aku tidak akan pernah menyerah, begitu tekad Wayne. Akan tiba saatnya Wayne Castellano tersenyum puas dan bangga melihat para cecunguk keparat itu menderita dari balik jeruji besi, dan tidak akan ada keringanan pada vonis mereka nanti.
Salah satu kasus besar yang saat ini dihadapinya adalah, operasi penyelidikan terhadap bisnis kloning manusia yang dijalankan oleh salah satu keluarga, Burgueno. Wayne belum mendapat cukup bukti untuk menyeret Roman Burgueno dan para punggawanya dengan tuduhan telah melakukan praktik ilegal yang jelas melanggar undang-undang dan norma kemanusiaan. Beberapa saat yang lalu tim Wayne pernah memergoki salah seorang Senator bernama Anthony Emerson, keluar dari kantornya sementara pada saat yang sama sang Senator juga terlihat sedang berada di rumahnya, sedang bersantai di kebun mengenakan celana pendek. Kabar yang bagus, yang membuat Wayne semakin getol mengumpulkan bukti lebih banyak lagi terhadap Senator Anthony Emerson -sebagai salah satu 'klien' Roman Burgueno-, dan berharap bisa meringkus Senator Emerson lengkap dengan bukti, dan membuat sang senator bicara banyak mengenai bisnis kloning.
Akan berhasilkah tugas Wayne Castellano?
Comments
Post a Comment