TC (20-22) | INA
20 - Bibit Cinta Segitiga
Reeve tengah mengembuskan asap rokoknya ketika didengarnya pintu diketuk. Salah seorang bawahannya kemudian masuk ke dalam ruangannya dan memberitahu, ada seorang wanita bernama Camila Castellano datang menemuinya. Reeve mengerutkan kening. Janji kencannya dengan Camila masih beberapa jam lagi, ada angin apa Camila tiba-tiba datang ke tempatnya? Reeve kemudian menyuruh bawahannya itu untuk mempersilahkan Camila masuk.
Beberapa menit kemudian, wanita cantik yang sedang didekati Reeve itu pun masuk ke dalam ruangannya. Reeve bangkit berdiri untuk menyambut sang wanita yang saat ini tersenyum manis padanya, "Hey, Reeve ...!" sapanya hangat sambil mengecup kedua pipi Reeve mesra.
"Hai, cantik," balas Reeve. "Ada apa, kamu sudah tidak sabar ingin berkencan denganku, ya?" guraunya.
Camila tertawa ringan. "Mungkin juga. Yang aku tahu, aku begitu bahagia ketika kencan denganmu tempo hari. Kamu berhasil membuatku terus teringat padamu. Mm ... kurasa aku benar-benar jatuh cinta padamu, Reeve ...," ujarnya sambil tersenyum manis, tangannya diletakkan di atas bahu Reeve.
Reeve balas tersenyum, menyadari tangan Camila yang ada di atas bahunya. "Kalau aku tidak salah ingat, ada seorang wanita cantik yang menolakku, demi ayahnya. Apa sekarang kamu sudah memilih kebebasanmu, ketimbang kesetiaanmu pada keluargamu sendiri?"
"Reeve, jangan bodoh. Kamu tahu kamu menginginkanku, dan kamu tahu aku menginginkanmu. Buat apa percakapan tidak penting ini?"
Reeve mengangkat alis. "Untuk meyakinkanku bahwa kamu benar-benar menginginkanku," jawabnya sambil tersenyum.
Camila tanpa menjawab, langsung meraih bibir Reeve dengan bibirnya sendiri dan mengulumnya penuh hasrat. Dapat dirasakannya Reeve membalas yang dilakukannya tanpa ragu, lebih berhasrat dan bergairah. Mereka terus bercumbu penuh gairah, masing-masing merasakan hasrat yang menyala-nyala, yang tidak dapat mereka tahan lagi. Dan ketika mereka berdua menjatuhkan diri di atas sofa, mereka masih saling asyik mencumbu, sementara tangan Reeve yang bebas mulai menelusuri setiap jengkal tubuh Camila.
Suatu ketika Klon Reeve masuk ke dalam ruangan dan melihat adegan primer yang tengah dilakukan pribadi aslinya itu. Yang sedang in action saat itu malahan tidak menyadari kehadiran orang ketiga yang melihat apa yang sedang mereka lakukan, saking asyiknya. Klon Reeve terdiam, namun dadanya bergemuruh, mendapati wanita yang sebenarnya ingin dia miliki juga, tengah bercinta dengan dirinya, di mana pada saat yang bersamaan dia tidak merasa tengah memilikinya. Tentu saja, sebab yang sedang memiliki Camila saat ini adalah Reeve yang asli, sementara dirinya hanyalah klon. Terasa aneh baginya, sebab sebagai seorang 'Reeve', seharusnya dia juga berhak memiliki Camila. Tapi kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala, dan langsung pergi dari ruangan itu, sebelum dia melihat prosesi yang lebih intim yang tidak ingin dia lihat.
Reeve mengenakan kembali kemejanya seusai bercinta. Sementara Camila, masih belum berpakaian, mendekatinya dan memeluknya dari belakang. "Bagaimana, kamu sudah yakin sekarang?" bisik Camila tepat di telinga Reeve, sesekali bibirnya mendarat ringan di leher pria itu.
Reeve tersenyum. "Aku yakin. Semakin yakin bahwa kamu memang wanita ekspresif yang tidak malu-malu menunjukkan perasaanmu. Dan aku sangat menyukai wanita seperti kamu."
"Hmm ... aku ini cewek keberapa buat kamu sih?"
Reeve tersenyum, menjawab, "Buat apa percakapan tidak penting ini?"
"Jadi aku tidak boleh tahu?"
"Cami." Reeve menatap mata Camila dalam-dalam. "Sampai kapan kamu mau tinggal bersama dengan orang tua kamu? Kamu tidak ingin hidup mandiri, lepas dari mereka?"
Camila terdiam sesaat sebelum menjawab, "Bukannya tidak ingin, tapi ... adikku Kevin, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian ...."
"Kevin?"
"Ya. Dia itu terlalu dikekang oleh papa. Dia tidak bebas bergaul, tidak bebas melakukan apa-apa. Hampir setiap hari bertengkar dengan papa, seringnya karena masalah kecil. Papa terlalu overprotected padanya, papa takut kalau Kevin mengikuti jejak Paman Maurice ... itu ketakutan terbesarnya. Jadi Kevin dipaksanya ambil kuliah hukum, agar Kevin bisa menjadi seperti papa. Apa pun papa lakukan agar Kevin tidak berlaku macam-macam." Camila menghela nafas. "Padahal aku tahu, Kevin tidak pernah berminat pada dunia hukum. Dia itu anak manis, sewaktu dia masih SMA dia aktif bermain basket dan menjadi anggota band di sekolahnya. Mungkin dia tertarik pada dunia musik, entahlah, tapi dia dipaksa mengambil kuliah hukum. Sejak saat itu rasanya aku tidak pernah lihat dia ceria lagi, tidak pernah lagi main band dengan teman-temannya itu. Papa begitu keras mendidiknya. Mama tidak bisa berbuat apa-apa, padahal sebenarnya Kevin berhak memiliki kehidupannya sendiri. Aku kasihan padanya, Reeve .... Dia selalu mencari-cari aku, apalagi kalau dia sedang bertengkar dengan papa. Kehadiran aku di rumah sepertinya menjadi obat buat dia. Aku tidak bisa tinggalkan Kevin."
Reeve mengerutkan kening, heran. Dengusan geli lolos dari bibirnya. "Lalu sampai kapan kamu memanjakan Kevin?" tanyanya.
Camila menatap Reeve bingung.
Reeve tertawa ringan. "Ayolah, Cami! Umur Kevin sudah berapa? 18 tahun. Dia tidak bisa berbuat apa-apa? Dia itu tidak lemah, kamu dan keluargamulah yang membuatnya terlihat lemah. Oke, dia sering bertengkar papamu karena perbedaan pandangan. Hubungan mereka sudah rusak sejak papamu memutuskan untuk mendidiknya dengan keras, dan mengekangnya untuk melakukan apa pun yang tidak berguna. Tapi kamu mesti ingat satu hal Cami, Kevin bukan bocah 5 tahun, yang harus selalu menuruti apa kata orang tuanya. Dia sudah dewasa sekarang, dia tahu apa yang bisa membuatnya senang, dia tahu apa yang bisa membuatnya hidup! Kalau dia tidak tahan dengan orang tuanya, untuk apa dia bertahan di rumah? Dia bisa pergi, umurnya sudah cukup untuk tidak lagi tinggal dengan orang tua. Dan ada jutaan pekerjaan yang bisa dilakukannya di luar sana agar dia bisa menyambung hidup. Biaarkan dia menjadi mandiri. Tapi karena ada kamu yang memanjakannya, dia tidak akan pernah pergi dari rumah karena tahu ada yang melindunginya. Dan kamu sendiri pun tidak akan pernah pergi dari rumah karena merasa harus terus melindungi adikmu. Lalu sampai kapan akan seperti itu terus?"
Camila memandangi Reeve tak percaya. ".... Tapi dia kan adik aku, Reeve! Masa kamu mau bilang aku harus tinggalkan dia ... sementara dia butuh aku?"
"Makanya kubilang, kamu terlalu memanjakan dia."
"Dia adik aku satu-satunya, kamu tidak mengerti." Camila bersikeras.
"Aku mengerti. Tapi kalau seperti itu terus, Kevin tidak akan pernah menemukan apa tujuan hidupnya. Kamu mau seperti itu? Digelayuti terus oleh adikmu sampai kamu tidak punya kesempatan untuk mencari kebahagiaan, dan menikmati kehidupanmu sendiri? Biarkan Kevin tersiksa sebentar, aku jamin dia akan baik-baik saja. Dia masih berdarah Sivily, kan? Tenanglah," tutur Reeve penuh keyakinan.
"Tapi ....."
"Nah, kamu segera pindahlah ke sini, kita tinggal bersama."
Camila terdiam.
21 - When The Good's Gone Bad
"Hey, apa yang kau lamunkan??" tegur Kevin ketika bermain ke kamar Camila, sore itu. Kevin, pemuda berhidung mancung, beralis tebal dengan tahi lalat di bawah mata itu adalah adik Camila satu-satunya. Pembawaannya riang, bersemangat, mirip seperti Camila.
Camila yang tengah menopang dagu hanya bergumam tidak jelas.
"Ngomong-ngomong kau benar berpacaran dengan Galante?" Kevin menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang Camila.
".... Yeah."
Kevin tertawa ringan, "Coba papa tahu. Mungkin kau bakal dipingit."
"O ya?"
"Ya jelaslah. Lihat saja, papa mana mungkin mengizinkanmu! Sudah cukup dia melihat bagaimana anak Ivander, si Olivia itu, berhubungan dengan bos besar Burgueno. Sampai ke ujung lapisan neraka pasti papa akan berusaha membuat kau putus dengan Galante. Taruhan, kalau berani."
Camila menghela nafas. Dia berbalik badan dan menatap Kevin. "Whatever will be, will be. Kamu sendiri, bagaimana ceritamu? Jadi mendekati gadis di kampusmu? Siapa namanya? Oh iya ... Ashley."
"Ha ha. Yaa, on progress," jawab Kevin tidak acuh.
"Terus, kamu masih mau melanjutkan kuliah?"
"Pertanyaan aneh. Kau sendiri sudah tahu bagaimana jawabannya."
Camila terdiam. Ia membulatkan tekad dalam hati lalu berujar, "Dengar, Kev. Kamu sudah harus mempertimbangkan, apa yang sebenarnya kamu inginkan dalam hidupmu. Kalau kamu tidak senang kuliah hukum, tidak perlu kamu lanjutkan. Kamu berhak untuk bersenang-senang, Kevin, jangan seperti ini."
"Maksudmu?"
"Ya ... itu maksudku, jangan karena kamu takut pada papa, kamu menjadi boneka papa, yang bisa dibentuk sesuai keinginan papa. Kamu punya kehendak dan mimpimu sendiri. Nah, kejarlah itu," ujar Camila.
"Siapa yang takut pada papa???" sahut Kevin, tampak tidak terima.
"Kevin, dengarkan aku-"
Kevin terburu memotong, "Aku tidak takut, Cami. Lagipula ... kenapa tiba-tiba kau bicara seperti ini, sih? Aneh kau! Sekali lagi kukatakan ya ... aku, tidak pernah takut pada papa!"
Camila lagi-lagi menghela nafas dan memandangi Kevin. "Kev... kamu jangan marah ya. Aku berencana pergi dari rumah. Kupikir sudah terlalu tua untukku terus tinggal di sini. Kamu tidak apa-apa, kan?"
Kevin terdiam. ".... Kok tiba-tiba?"
Camila tersenyum. "Reeve mengajakku tinggal di rumahnya."
Kevin langsung meradang, dia melompat bangun. "Oh!! Jadi kau menjadikan laki-laki itu sebagai alasan supaya kau bisa pergi dari rumah?? Kenapa juga tiba-tiba kau bisa dekat dengan dia? Apa tidak ada orang lain??"
"Kok kamu malah marah-marah?" balas Camila setengah berteriak.
"Ya jelaslah aku marah! Toh aku juga belum tahu persis laki-laki macam apa yang sedang mendekati kau itu! Sehebat apa sih dia sampai kau mau tinggal dengannya??"
Camila menatap Kevin bingung. "Dia teman sekolahku, sudah sejak dulu aku menyukainya, memangnya kenapa kalau sekarang aku berpacaran dengan Reeve? Kenapa malah kamu yang sewot? Memangnya kamu yang rugi?"
"Ah, kau tolol, Cam!!! Aku yakin kau bakalan menyesal!!"
"Kalau kamu tidak suka dengan pacarku ya sudah itu urusanmu!! Pikirkan urusanmu sendiri, aku tidak akan selalu ada setiap saat buat kamu Kev, aku punya kehidupanku sendiri! Jangan manja dong!!" seru Camila.
Kevin melengos pergi, dan membanting pintu kamar Camila.
***
Dan tiga hari berselang, Kevin mendapati kamar Camila telah kosong. Dibukanya lemari pakaian Camila, tidak ada satupun pakaian Camila yang tertinggal. Kevin meninju pintu lemari pakaian Camila, lalu menarik nafas panjang.
Reeve Galante sudah merusak kakakku, katanya dalam hati. Selama ini mana pernah dia pergi dari rumah? Sejak berhubungan dengan laki-laki itu Camila berubah, dan sekarang benar-benar pergi dari rumah .... Entah apa maksud si Galante itu. SIALAN!
Kepergian Camila rupanya membuat Kevin terguncang. Selama ini dia selalu berlindung dan menjadikan Camila tempat mengadu. Ayah yang otoriter, kehidupannya yang membosankan, kuliahnya di jurusan hukum yang sama sekali tidak dia minati, pergaulannya yang tidak bebas karena selalu dikekang oleh ayahnya, semua itu membuat Kevin depresi. Ditambah dengan kepergian Camila, Kevin merasa tidak ada lagi yang bisa mendengarkan keluh kesahnya, dan juga menghiburnya seperti Camila. Sebenarnya saat itu Kevin tengah menjalin hubungan dengan salah seorang gadis di kampusnya. Gadis manis yang berasal dari keluarga baik-baik, namun sifatnya manja dan cengeng. Gadis itu bernama Ashley. Walaupun Kevin menyayangi gadis itu, tapi Kevin merasa Ashley bukan tempat yang cocok untuknya mengadu. Hanya Camila satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya.
Kesepian yang melanda Kevin membuatnya mengambil keputusan untuk tidak lagi menuruti kata-kata ayahnya. Benar ucapan Camila saat itu, mau sampai kapan dia menjadi boneka yang bisa dibentuk oleh ayahnya sesuai keinginannya? Dia juga memiliki kehendak dan keinginannya sendiri. Termasuk untuk mulai rutin menenggak alkohol, membeli beberapa gram heroin dan menikmatinya. Dia pun mulai keranjingan berjudi.
Kelakuannya yang tiba-tiba berubah 180 derajat ini membuatnya sering bertengkar dengan Ashley. Ashley tidak menginginkan Kevin menjadi begundal, ia hanya menginginkan Kevin yang manis seperti yang ia kenal sebelumnya. Namun Kevin tampaknya tidak tertarik menjadi Kevin yang lemah seperti dulu. Dan hubungan mereka pun terpaksa kandas di tengah jalan, membuat Kevin semakin fokus menekuni dunia judi yang baru dikenalnya itu.
Tidak pernah sekalipun disadari oleh Wayne Castellano, bahwa putranya semata wayang yang sangat dia banggakan dan dia lindungi, berjudi setiap malam di Seneca Niagara Casino, kasino terkenal di New Yord. Dia juga tidak pernah tahu Kevin mulai gemar mengencani wanita-wanita malam yang dia temui di kasino itu. Yang Wayne tahu hanyalah, Kevin tidak pernah melewatkan kelasnya, selalu pulang tepat waktu, dan selepas makan malam Kevin masuk ke kamarnya untuk belajar. Wayne percaya penuh pada Kevin, dan dia mendukung Kevin menyelesaikan kuliahnya.
Wayne, yang kini 'bermain' sendiri dalam mengungkap kejahatan terorganisasi di New Yord, memutuskan untuk mempertaruhkan nyawa dengan memasang alat penyadap di rumah para pentolan dan bos Mafia. Keluarga Burgueno masuk ke dalam daftar yang paling atas. Menyusul berikutnya keluarga Castellano, 'klan'nya sendiri. Sudah sejak lama Wayne memimpikan bisa menghancurkan Maurice. Wayne tahu impiannya itu hampir berhasil dia raih, setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa mereka berhasil menyusup dan memasang alat penyadap di rumah Giorgio Restagno ; rumah Roman Burgueno ; dan yang terakhir di rumah Maurice Castellano. Wayne begitu puas, rasanya tidak ada hal lain yang bisa menandingi rasa puasnya mengetahui dia kini bisa mendapat akses langsung mendapatkan bukti-bukti kejahatan keluarga-keluarga Mafia itu, dan berharap bisa sesegera mungkin menjebloskan mereka semua ke dalam penjara.
***
Maurice Castellano membangun istananya yang megah di atas tanah seluas 4 hektare. Ada dua bangunan mansion di atas tanah seluas itu, yang satu untuk ditinggalinya, sementara yang satu lagi untuk putrinya semata wayang, Jessica, kelak di kemudian hari. Kedua bangunan mewah bergaya arsitektur Romawi itu dikelilingi tembok setinggi 12 meter, lengkap dengan kawat berduri serta kamera pengawas di setiap sudutnya. Berpuluh orang berjaga di sekeliling rumahnya, hingga bisa dipastikan tidak ada seekor tikus pun bisa menembus komplek perumahan Castellano.
Namun Jumat siang itu, setelah Maurice kedatangan tiga orang tamu yang mengaku sebagai petugas pajak, Maurice merasakan ada yang tidak beres. Entah apa, tapi ketika orang-orang petugas pajak itu menginjakkan kaki di rumahnya, insting liar Maurice seketika muncul dan mengganggu pikirannya. Ada yang mencurigakan dari orang-orang tersebut. Dan tanpa menunggu waktu lama, dia memerintahkan seluruh pegawainya untuk menyelidiki setiap sudut rumah dan mencari benda apa pun yang mencurigakan.
Tepat seperti yang sudah diduganya, di dalam rumahnya ditemukan setidaknya ada lima alat penyadap yang diinstal di perabotan rumahnya. Alat itu sekecil ujung kuku, perlu kejelian dan ketelitian ekstra menyisir seluruh isi rumah Maurice hanya untuk mencari alat-alat penyadap berukuran mini itu. Belum lagi alat-alat penyadap yang juga ditemukan di rumah consigileri dan para capo Castellano, benar-benar hal yang membuang waktu dan sangat beresiko apabila tidak segera ditemukan dan dihancurkan.
Dengan gemas Maurice meremukkan alat penyadap itu dengan jemarinya. Dalam benaknya langsung terbayang wajah Wayne, kakaknya yang licik, tengah tersenyum senang karena berhasil menembus pertahanan komplek perumahan Maurice. Sudah puluhan tahun Wayne berusaha menjatuhkan Maurice, dan Maurice selalu bisa berkelit menghindari perangkap Wayne. Pun dengan Maurice yang selalu memutar otak agar Wayne berhenti mengganggu kehidupan dan bisnisnya. Kalau memungkinkan lebih baik Wayne mengikuti jejak Ivander yang dipecat dari jabatannya karena kelalaiannya sendiri.
Namun Maurice tahu, Wayne itu seperti tidak tersentuh. Hampir seluruh aspek dalam kehidupannya bisa terbilang sempurna. Wayne tidak pernah mabuk, tidak pernah berjudi, tidak pernah berhutang, tidak pernah bermain wanita ... sehingga membuat Maurice kebingungan bagaimana harus menjatuhkan Wayne sebagaimana dia dulu membantu keluarga Burgueno menjatuhkan Ivander Campbell.
Maurice tersenyum. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas, dan matanya yang sendu menatap tajam ke depan, ekspresi wajahnya yang biasanya terlihat lemah kini menjadi lebih berbahaya. Don Maurice Castellano, The Angel Face. Orang yang tidak mengenalnya dan mengetahui reputasinya, tidak akan pernah bisa menyangka bahwa di balik pribadinya yang ramah, hangat namun berwajah sendu itu, orang ini mampu menembak kepala musuh tanpa perubahan ekspresi pada wajahnya. Don Maurice kerap terlihat sebagai ayah dan kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab, namun di balik semuanya itu dia menyembunyikan keberingasan dan kekejiannya ... yang hanya dia tunjukkan pada saat dia murka.
Dan kini, dengan perasaan gemas bercampur murka karena merasa telah kecolongan, Don Maurice memerintahkan consiglierinya untuk mengatur jadwal meeting dengan tiga kepala keluarga lainnya, yakni Don Giorgio Restagno, Don Antonio Garafallo dan Don Gianluigi Castillo.
22 - Perseteruan Dua Castellano
"Terima kasih kepada Don Castellano yang berinisiatif mengadakan pertemuan penting ini, kita semua tahu kita harus secepatnya membahas perilaku kotor Roman Burgueno. Susu dibalas tuba, anak-anak muda zaman sekarang memang tidak mengerti berterima kasih! Saya ingin tahu bagaimana pendapat Anda semua terhadap hal ini." Don Castillo Si Mata Satu membuka suara.
Maurice Castellano tersenyum. "Saya tahu, hal itu juga akan kita bahas nanti. Oleh sebab itu saya juga sengaja tidak mengundang Burgueno ke sini, biarlah dia sibuk mengeruk keuntungan bisnis klon bagi dirinya sendiri. Kita sebagai tetua harus bisa lebih bijaksana menghadapi anak itu," katanya.
Maurice menggeser kursi, lalu berdiri. "Dan maafkan saya karena mengatur pertemuan ini begitu mendadak, karena saya hanya ingin memperingatkan kalian agar ekstra waspada," ujarnya lagi. Perubahan mimik serius di wajahnya memancing rasa penasaran para Don yang lain.
Maurice menarik nafas panjang sebelum melanjutkan. "Jaksa Castellano yang terhormat itu," katanya sambil tersenyum sinis. "Dia merencanakan sesuatu dan sudah memulai perang dengan kita. Tadi pagi saya kedatangan beberapa kawan yang mencurigakan, mereka mengaku agen pajak. Mereka mendata kekayaan saya, dan karena saya curiga pada tindak tanduk mereka, saya langsung memeriksa seluruh isi rumah. Kalian tahu apa yang saya temukan? Lusinan alat penyadap dipasang di sekeliling rumah saya."
Maurice menyebar serpihan-serpihan alat penyadap itu di atas meja, tiga Don lainnya membelalakkan mata karena terkejut. "Wayne Castellano keparat itu sudah berani. Dia berhasil menembus penjagaan rumah dengan mudahnya, maka saya anjurkan pada Anda-Anda semua di sini, sepulang dari sini, segeralah periksa seluruh isi rumah Anda. Saya tidak tahu pasti berapa jumlah penyadap yang mereka pasang. Perkiraan saya, masih ada lebih banyak lagi dari ini. Kita tidak boleh lengah."
Ketiga Don lain mengangguk-angguk. Mereka sangat menginginkan agar Wayne Castellano enyah dan tidak lagi mengganggu ketentraman hidup mereka. Tapi seperti yang sudah-sudah, mereka kerap kehabisan ide bagaimana cara menyingkirkan Wayne. Seandainya saja mereka bisa melenyapkan Wayne dengan mudah, tanpa ada resiko yang berarti.
Yang tidak dikatakan Maurice kepada para Don yang lain hanyalah, dia berencana sebisa mungkin menekan bisnis-bisnis haramnya agar tidak terlalu kentara. Dia tidak ingin lagi kecolongan oleh Wayne, yang bisa mendakwanya karena melakukan usaha ilegal. Walaupun Maurice tahu itu hampir mustahil dilakukan, tapi Maurice adalah orang yang selalu berhati-hati dalam bertindak, dia tidak akan pernah memberikan umpan kepada Wayne agar Wayne bisa tertawa lebar sambil berkacak pinggang di atas tanah kuburannya kelak.
"Saya tidak peduli betapapun sulitnya, tidak ada seorang pun manusia yang tidak memiliki kelemahan. Kita harus segera menemukan kelemahannya, apa pun itu, lalu hancurkan dia. Kita tidak punya banyak waktu lagi." Don Restagno mengangkat suara. "Dan yang paling penting, jangan lupa pada apa yang telah Burgueno perbuat pada kita di sini. Kita semua membantunya! Membantunya menjalankan bisnis kloning haramnya agar bisa berjalan seperti sekarang ini! Dia juga berjanji akan memberikan setidaknya masing-masing 15% pada kita, tapi apa? Anak itu benar-benar pintar berkelit dan mengelak dari janjinya sendiri. Pencari masalah. Sedari dulu aku memang sudah tidak menyukainya, apalagi dengan keadaan seperti ini!"
"Saya setuju dengan Anda, Restagno," sahut Don Castillo. "Saya juga bersyukur atas sikap kooperatif Castellano yang tidak sungkan meluangkan waktunya untuk repot-repot memberi tahu kami mengenai Wayne Castellano. Padahal jika Anda mau, Anda bisa saja membiarkan rumah kami diacak-acak Wayne Castellano dan mungkin tidak akan menyadari mainan-mainan kecil yang dipasang oleh Wayne di rumah kami. Tentunya hal itu bisa menguntungkan Anda, Castellano."
Ucapan Don Castillo memancing tawa para Don yang lain.
"Mengenai Roman Burgueno, saya yakin jaksa Wayne Castellano juga pasti memasukkan nama Roman Burgueno ke dalam daftarnya. Jadi kupikir, biarkan saja Roman tidak tahu menahu mengenai hal ini, jika dia lengah, itu kesalahannya sendiri. Kita juga tidak mempunyai kewajiban untuk memperingatkannya, bukan? Toh, dia sudah bersikap tidak menghormati kita. Itu pendapat saya," ucap Don Castillo kalem.
Don Garafallo menyambung, "Well, saya tidak mungkin tidak setuju pada Anda, Don Castillo. The Old Salvatore Cavallo pun tidak pernah menyukai Roman Burgueno, bagaimanapun akrabnya beliau dengan almarhum Alphonse Burgueno, Rest In Peace. Setidaknya generasi Burgueno terdahulu jauh lebih baik daripada sekarang."
***
Wayne Castellano tengah mengemudi pulang, sekitar jam 12 malam itu, dengan suasana hati yang ceria. Dia tidak bisa membayangkan berapa banyak bukti yang bisa dia kumpulkan untuk menjebloskan para pentolan Mafia ke dalam penjara dan memastikan mereka membusuk di dalam penjara. Dia meyakini diri sendiri bahwa dirinya lebih cerdik daripada adiknya, Maurice Castellano. Dia tidak tahu Maurice sebenarnya sudah menemukan mainan-mainan yang dipasangnya, juga dengan tindakan Maurice yang memperingatkan ketiga Don lainnya.
Selepas jalan Buffalo Avenue, Wayne berbelok ke arah yang berlawanan dengan jalan pulangnya. Dia ingin mampir sebentar dan membelikan sesuatu untuk istrinya yang menunggu di rumah. Sang istri yang sudah selama lebih dari 20 tahun ini menghabiskan hidup bersama dengannya, dengan setia mendukungnya, menyemangatinya, dan memberikannya dua anak. Anaknya yang sulung, Camila, memutuskan untuk belajar hidup mandiri, dan sepertinya istri Wayne merasa kehilangan ... Wayne bermaksud menghiburnya sedikit.
Ketika melewati komplek kasino Seneca Niagara, Wayne berdecak, menyadari bahwa masih banyak sekali orang-orang tolol yang mau menghamburkan uang yang sudah susah payah didapat di atas meja judi. Dia tidak pernah mengerti bagaimana bisa orang mengalami kecanduan judi, sementara seharusnya orang yang berjudi tahu limit finansialnya. Berjudi sampai melampaui batas finansial, lalu berhutang, dan hutang itu bertumpuk semakin banyak, hingga tidak bisa melunasinya ... apakah ada masa depan untuk orang semacam itu?
Wayne pun tidak habis pikir, para wanita yang dengan mudahnya menjual tubuhnya untuk menghibur para penjudi laknat itu. Tidak bisakah para wanita itu mencari pekerjaan lain yang lebih layak? Yang lebih bisa dibanggakan oleh anaknya kelak, jika wanita itu punya anak? Hanya untuk mendapat beberapa lembar dollar mereka merayu dan menjanjikan kepuasan birahi. Bagi Wayne profesi para wanita itu menjijikkan.
Namun apa yang dilihat Wayne ketika melewati kasino itu? Matanya membelalak lebar ketika melihat sosok yang sangat dikenalnya, keluar dari gedung kasino sambil berangkulan dengan wanita berambut pirang, bertubuh sintal dan berpakaian minim. Mereka asyik memagut satu sama lain di tepi jalan. Sosok itu, adalah sosok Kevin, anak laki-lakinya. Seketika Wayne meradang, mukanya merah menahan amarah yang meluap-luap. Tidak pernah sekalipun Wayne mengajarkan pada Kevin tentang judi, tidak pernah mengenalkannya pada wanita malam, pergaulan dan kehidupan Kevin pun dia yang kontrol!! Bagaimana mungkin Kevin bisa keluar dari kasino sambil merangkul pelacur??
Tanpa pikir panjang Wayne memarkir mobilnya lalu melompat turun. Diterjangnya Kevin lalu mencengkeram kerah bajunya, menyeretnya masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bukan main marahnya Wayne. Wayne sendiri masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas.
Kevin sama sekali tidak menyangka ayahnya melintas di situ dan memergoki perbuatannya. Tapi Kevin tidak ambil peduli. Dia mengusap rambutnya yang masai. "Urusanku dengan gadis tadi belum selesai, Pa, kenapa Papa tiba-tiba datang dan menggangguku?" ujarnya cuek.
"KAMU SADAR APA YANG KAMU LAKUKAN?? KURASA KAMU MABUK, HA?? DENGAN PENAMPILAN SEPERTI ITU, KELUAR DARI TEMPAT JUDI, MENCIUM PELACUR, AKU TIDAK MENYEKOLAHKANMU DI SEKOLAH HUKUM UNTUK MENJADI KEPARAT SEPERTI INI!!!" Wayne berteriak penuh emosi.
Kevin mendengus. "Aku tidak pernah minta disekolahkan. Apalagi mengambil hukum. Berjudi masih lebih baik." Kevin tertawa seolah meremehkan.
Terlihat kilatan di mata Wayne.
Setibanya di rumah, Wayne langsung menghajar Kevin habis-habisan, tidak diberinya kesempatan pada Kevin untuk melawan. Jangankan melawan, untuk sekedar membela diri pun Kevin tidak bisa. Istri Wayne, Anne, histeris begitu melihat kekerasan yang terjadi di dalam rumahnya. Wayne terkadang memang menggunakan kekerasan untuk mendidik Kevin, tapi tidak pernah dilihatnya sampai seperti itu. Anne berteriak ngeri melihat darah bermuncratan dari hidung dan mulut Kevin, dan tanpa pikir panjang dia menarik tangan Wayne agar berhenti.
"Stop, Wayne! Stop!! Kamu mau membunuh Kevin??!!" teriak Anne.
Wayne dengan nafas tersengal dan wajah yang berkerut-kerut saking murkanya, menuding Kevin yang terduduk tidak berdaya di lantai. "Kamu tahu apa yang anakmu ini lakukan di luar sana??!! Dia berjudi!! Dia mabuk-mabukan seperti pecundang!! Dia juga bermain seks dengan pelacur!!! Aku memergokinya sendiri!! Tanya sendiri pada anakmu ini apa alasannya!! Tidak pernah aku mengajarinya seperti itu!!!"
Anne shock mendengar kata-kata Wayne, tapi juga iba melihat keadaan putranya yang berdarah-darah. "Kevin ... apa benar begitu?"
Kevin mengusap darah di sudut mulutnya dengan punggung tangan. "Itu semua karena aku muak menuruti semua perintahmu, Wayne," katanya sambil meludah.
Wayne tersulut emosi lagi, hampir dia menghajar Kevin lagi, tapi sang istri menahannya. "Wayne!! Stop!! Cukup!!" teriak Anne. "Tenangkan dirimu dulu, dengarkan Kevin dengan kepala dingin ... kumohon. Kurasa Kevin mabuk, makanya dia berkata melantur. Sabarlah ... kumohon ...."
"Sudahlah, Ma! Aku tidak cukup mabuk seperti yang Mama kira," kata Kevin. "Aku memang tidak pernah nyaman di sini. Selalu harus menuruti kata-kata Papa! Aku harus begini. Aku harus begitu. Aku tidak boleh begini, aku tidak boleh begitu! Aku ini manusia juga, aku bukan binatang yang bisa dikendalikan sesuai kemauan kalian! Sudah sampai sini batas kesabaranku, maka aku begini."
"OH! Bagus!! Jujur! Bagus itu!" Wayne berteriak. "Lalu kamu mau jadi apa ha?? Mau jadi penjudi?? Ha?? Pengedar narkoba?? Pemabuk?? Mucikari??"
"Yeah. Mungkin. Pekerjaan itu menyenangkan. Ketimbang harus menjadi orang munafik." Seketika Kevin merasakan tangan ayahnya mendarat tepat menghantam tulang pipinya. Terasa seperti sesuatu meledak di dalam kepalanya. Dapat dirasakannya serpihan-serpihan tulang bercampur dengan darah di dalam mulutnya. Perasaan sedingin es dan kebencian hebat menguasai dirinya, namun Kevin tidak menunjukkannya.
"PERGI KAU DARI RUMAHKU!!! ANAK KEPARAT!!!"
"Yeah, great. Kau sendiri kan, yang mengusirku? Dengan senang hati aku akan pergi."
"BAGUS!! JANGAN PERNAH BERPIKIR KAU BISA KEMBALI KE SINI!! ENTAH APA YANG MERACUNIMU SAMPAI KAU BISA MEMBERONTAK SEPERTI INI!! TERSERAH KAMU MAU JADI APA, AKU TIDAK AKAN PERNAH PEDULI LAGI!! PERGI KAU!!!!"
"Itu lebih bagus. Hal itu yang kutunggu-tunggu sejak dulu. Goodbye Mom, take care of yourself," ujar Kevin sambil bangkit berdiri, melepaskan cengkeraman tangan ibunya yang berusaha menahannya pergi. Rasa iba menyergap hatinya melihat sang ibu bercucuran air mata membelanya sedemikian rupa. Tapi semua itu harus berhenti saat ini juga. Kevin menguatkan hati dan membulatkan tekad. Bagaimanapun seorang pria Sivily seperti dirinya tidak mungkin terus berlindung pada orang tua. Apalagi membiarkan kehidupannya dikontrol sedemikian rupa. Dan yang bisa mengubah takdirnya tak lain adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Dia kini mengerti apa maksud ucapan Camila kakaknya tempo hari, dan dia berharap suatu saat nanti bisa bersua kembali dengan Camila.
Comments
Post a Comment