TC (23-25) | INA

23 - The Don and The Donna

Januari 2025.

Hari-hari yang membosankan sebagai seorang sottocapo keluarga Provenzano kulalui tanpa gairah. Masih terbayang di benakku ketika Salvatore Cavallo tidak menunjukku sebagai penggantinya, melainkan si tua bangka Antonio Garafallo. Apa yang dia lihat dari Garafallo?? Dia lebih tua dan lebih kolot ketimbang Cavallo, dan karena tua dia juga jadi lemah! Keluarga Provenzano bisa hancur jika dipimpin oleh Garafallo! Kenapa Cavallo tidak menunjukku sebagai penggantinya?? Kurang dekat apa aku dan Cavallo? Kurang percaya apa dia padaku? Aku anak dari teman baiknya, aku juga selalu berprestasi sebaik mungkin di depannya, aku mampu menunjukkan kalau aku adalah aset berharga bagi keutuhan keluarga, tapi apa?? Cavallo benar-benar membuatku gila!

Dan sekarang aku terpaksa menuruti segala perintah si tua Garafallo. Dia bukan tipe pemimpin yang baik, jauh berbeda dari Cavallo. Garafallo tidak pernah mengacuhkan konflik-konflik kecil yang menurutku, bisa menjadi konflik besar jika didiamkan. Walaupun aku tahu aku adalah tipe orang yang seradak seruduk, tapi aku tetap bisa memberikan pandangan yang logis mengenai sebab akibat. Sayangnya Garafallo tidak pernah mendengarkanku. Mungkin menurutnya orang muda sepertiku tidak layak berkomentar. Haha! Fuck! Mengurus kemaluan sendiri saja tidak becus, bagaimana mau mengurus kelangsungan hidup klan Provenzano??

Tapi kurasa kepemimpinannya memang tidak akan bertahan lama. Sudah sejak lama Garafallo mengidap penyakit kronis, dan kini dia berada di ambang maut. Aku sengaja mengunjungi si tua Garafallo setiap hari di rumah sakit dan menungguinya, aku ingin menyaksikan sendiri malaikat maut datang dan menjemputnya, dan setelahnya aku bisa menduduki kursi keramat seorang Don. TIdak ada hal lain yang kuinginkan di dunia ini selain kursi Don! Uang yang melimpah ruah! Dan wanita-wanita cantik yang bisa melayaniku pagi siang sore dan malam! 

Harta! Tahta! Wanita! Bukankah semua manusia memiliki keinginan dan tujuan yang sama? Aku akan sangat senang jika aku bisa menunjukkan pada semua orang bahwa hanya aku sajalah yang cukup beruntung bisa mendapatkan harta-tahta-wanita di usia yang masih sangat muda, sementara mereka semua, tidak akan mungkin bisa meraih kesuksesan yang sama sepertiku!

Andrea Garafallo, putri satu-satunya Garafallo, adalah salah satu cewek berbokong bulat terbaik yang pernah kutemui. Wajahnya manis, tapi pelit senyum. Dengan instingku yang luar biasa, aku yakin dia masih perawan, melihat dari caranya memperlakukan laki-laki. Ada perawan tolol yang bisa kukerjai nih! Begitu pikirku begitu baru mengenalnya. Dan Andrea tidak pernah menunjukkan sikap penolakan terhadapku. Ya! Tentu saja! Siapa yang berani menolak seorang Flav Maranzano?! Gadis ini tolol karena kolot, sampai seumur itu masih tetap perawan. Apa gunanya menjaga keperawanan, eh? Tapi gadis ini cukup pintar untuk tidak memberiku lampu merah. Kau memilih langkah yang tepat, Sayang, akan kubuat kau terkapar di ranjang hingga tidak bisa bangun lagi!

Dan rencanaku berjalan dengan mulus. Sekarang ini aku sedang berada di atas perut Andrea ; memompanya turun naik, gerakan berputar, kiri-kanan. Sesekali kupasang tempo cepat dan mengentak-entak, sesekali aku slow down. Entah sudah berapa lama kukerjai gadis ini, dan Andrea terlihat sudah kehabisan nafas. Ia melenguh, memohon-mohon padaku supaya aku berhenti. Tampaknya kamu sudah kewalahan, Andrea? Yea, inilah aku! Kau baru tahu seperti apa Flav Maranzano kan, sweetie? Dengan stamina dan kemampuan yang luar biasa! Aku tidak akan berhenti secepat dan semudah itu. Bertahanlah setengah jam lagi. Hahaha. Dan aku terus memompanya tanpa henti, tanpa memedulikan teriakannya yang sudah kewalahan menghadapiku.

Aku tersentak kaget ketika telepon Andrea tiba-tiba berdering dengan keras. FUCK! Aku paling benci diinterupsi oleh suara telepon!

"Kau tidak mematikan ponselmu ya?" tanyaku.

Andrea menggeleng lemah. Nafasnya memburu, bahkan ia sampai tidak bisa menjawab pertanyaanku, kurasa ia benar-benar sudah kehabisan tenaga. Oke, kamu beruntung kali ini Andrea, kamu diselamatkan oleh telepon.

".... Aku harus jawab telepon itu .... Siapa tahu penting," kata Andrea sambil terengah, tangannya terjulur ke atas meja di samping ranjang.

Aku mendahuluinya mengambil ponsel, dan menjawab panggilan itu. "Yeah. Halo."

Andrea terlihat tidak menyangka aku berani menjawab telepon untuknya. Ia seperti hendak protes, tapi kabar yang kudengar dari seberang line telepon membuatku ternganga. 

"Don tampaknya memasuki masa kritis lagi. Dokter memperkirakan dia tidak akan bertahan sampai besok. Bisakah kau antarkan Nona Andrea sekarang? Don mengatakan ingin bertemu dengannya."

Cesare Navarra, penasihat keluarga yang menelepon. Orang ini kelihatannya sangat mencemaskan Don. Don sudah tua, sudah saatnya mati, biarkan saja! Keluarga ini sudah saatnya regenerasi, kau tahu?

"Baik, kami segera ke sana," jawabku singkat sambil memutus hubungan telepon.

"Apa ...? Siapa yang menelepon? Ada apa?" tanya Andrea bertubi-tubi, masih dengan nafas tersengal.

"Ayahmu memintamu datang ke rumah sakit sekarang," jawabku santai. 

"Papa? Kalau begitu ayo, kita harus segera ...." Andrea hendak bangun, tapi langsung kutahan.

"Tidak. Aku belum selesai denganmu."

Yang benar saja. Tidak pernah ada dalam kamusku, klimaks yang tertunda seperti ini! 

"Apa ... Flav, sudah dong. Kan bisa dilanjut lagi nanti ...," rintih Andrea tak berdaya. Ia melenguh ketika kumulai lagi seranganku ke kiri-kanan, turun naik dengan tempo cepat.

"Sebentar lagi, Sayang. Tidak baik meninggalkan seorang pria dalam keadaan tidak terpuaskan," bisikku tepat di telinga Andrea. 

".... Cukup, Flav ... sakit ...." Lagi-lagi Andrea merintih.

Sakit? Dasar perawan. Seharusnya kau beruntung bisa bertemu dan memadu birahi dengan pejantan sepertiku! Aku, Flav Maranzano!


Dan memang, ketika kami berdua pergi ke rumah sakit menjenguk Don Antonio Garafallo, kuperhatikan Andrea seperti berusaha menahan rasa sakit di antara kedua kakinya. Haha! Perawan harus belajar banyak dariku! Selalu ada cara untuk memancing bagaimana agar seorang wanita tidak lagi malu-malu ataupun pasif di ranjang. Selalu ada cara untuk membuat bakat binal alami yang dimiliki wanita bisa terpancing keluar sehingga tanpa ada keraguan apa pun bisa mengekspresikan secara leluasa gairah terpendam yang dimilikinya! Tanyakan semua itu padaku! Akulah penakluk wanita sejati!

Kami berdua akhirnya tiba di kamar rawat Don Antonio, dan ternyata di dalam sudah menunggu Cesare Navarra, consiglieri keluarga, dan beberapa capo lain. Huh? Mereka rupanya ingin mengucapkan salam perpisahan secara resmi pada Don?

Kulihat Don yang terbaring lemah. Tidak terlihat lagi semangat hidup yang biasanya tersirat dari sinar mata tuanya. Orang tua ini benar-benar sudah tiba di penghujung maut. Aku menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, berharap kalau-kalau aku berhasil menangkap sosok malaikat pencabut nyawa di pojok ruangan ini. Haha, tidak, aku bercanda. Aku tidak bisa melihat hal-hal semacam itu. Sebenarnya aku penasaran juga sih bagaimana bentuk malaikat pencabut nyawa itu. Setelah sekian lusin nyawa orang kuhilangkan, tapi selama ini aku tidak pernah sekalipun melihat sosoknya. 

Mengapa aku penasaran, katamu? Well, kalau aku berhasil bertemu dengan makhluk itu, aku akan membuatnya supaya dia jauh-jauh dariku. Jangan pernah mendatangiku dan mengambil nyawaku ... tidak, jangan pernah! Sekalipun jangan! Dia baru boleh mencabut nyawaku jika aku sudah menguasai seluruh isi dunia! Dan setidaknya umurku harus di atas 90 tahun, baru dia boleh menjemputku kembali ke surga. Ha! Tidak logis. Tapi kuakui aku memang sering berpikiran seperti itu. 

Kudengar kau tertawa? Huh? Baiklah, akan kupastikan kau akan menyesal telah menertawakan seorang Flav Maranzano.

Don Antonio menyambut kedatangan Andrea dengan hangat. Sedari tadi digenggamnya tangan Andrea erat-erat. Senyum tersungging di wajahnya, ketika menghapus air mata yang mengalir di pipi putri kesayangannya itu. Aku mendengus. Antonio, Antonio, sekeras apapun usahamu melindungi putrimu dari terkaman serangga dan para buaya, kuberi tahu, kau sudah kecolongan. Putrimu sudah bertekuk lutut di hadapanku, sama seperti betina-betina murahan lain yang bisa dengan mudah kudapatkan. Putri kesayanganmu itu pun sudah kudapatkan seutuhnya. Dan mungkin, saat ini putrimu tengah mengandung dari benihku .... Oh, maaf, koreksi. Aku tidak ingin memiliki anak. Aku mendapatkan putrimu, ditambah sebentar lagi kau mati, dan mewariskan kursimu padaku. Oh, ini benar-benar hal yang paling kutunggu seumur hidupku!

"Apakah kalian semua sudah lengkap?" Don Antonio bertanya pada kami semua yang ada di sekeliling ranjangnya, sambil meneliti wajah kami satu per satu. "Bagus ... kalian sudah berkumpul semua," katanya lemah. 

"Don, apa yang ingin Anda sampaikan pada kami semua?" Cesare bertanya.

"Seperti yang kalian bisa lihat sendiri ... umurku tidak akan lama lagi. Jadi sekarang ini, aku ingin kalian menjadi saksi ...." Don Antonio mengangkat tangan kanannya dan menumpangkan tangannya di atas kepala Andrea. 

Apa .... Apa-apaan si tua bangka ini?

"Bahwa aku mengangkat kau, putriku, Andrea. Untuk menjadi pewaris kedudukanku dalam keluarga Provenzano," kata Don Antonio lagi.

BANGSAT!!! DIA BILANG APA TADI??

BISA APA MEMANGNYA PEREMPUAN?? APA YANG IA BISA SAMPAI KAU BISA-BISANYA MEWARISKAN KEDUDUKANMU PADA ANDREA??

Antonio, kau benar-benar ingin membuat keluarga ini hancur??!

B-Bagaimana dia bisa membuat keputusan seperti itu??

Arrrghh!! Ini gila! GILA!

....

Tunggu.

Kulihat Cesare, dan para capo lain tidak berekspresi aneh, seakan tidak kaget mendengar keputusan Don Antonio. Apa-apaan ini?!

Tenang, Flav. Tarik nafas dalam-dalam. Jaga perubahan ekspresi wajahmu!

Kendalikan dirimu, Flav!

"Aku sangat menyayangi kalian .... Kau Cesare, Stone, Mike, Tony, Lefty. Kalianlah keluargaku ... aku sangat menghargai setiap waktu yang pernah kuhabiskan bersama-sama dengan kalian. Kalianlah anak buah dan pendampingku yang sangat setia. Aku berterima kasih atas kesetiaan kalian. Aku akan selalu mengingat kalian bahkan jika aku mati nanti. Maka, kuharap kalian bisa menerima dan mengikrarkan janji setia kalian juga pada putriku Andrea. Dialah yang sekarang akan memimpin keluarga ini," ujar Don Antonio, wajah tuanya menyunggingkan sebuah senyum perpisahan.

FUCK. FUCK! FUCK!!!!

Don Antonio berkata lagi, "Andrea sudah kudidik selama ini agar ia bisa menjadi penerusku. Ia sangat cerdas. Jangan kalian remehkan hanya karena ia seorang wanita! Aku sangat yakin ia bisa menjadi kepala keluarga Provenzano yang baik ... dan bahkan aku yakin ia bisa menjadi jauh lebih baik dariku! Kuharap kalian bisa menerima putriku dan menjaganya dengan baik. Ini perintah terakhir dariku."

FUCK!!!!!!!!!!!!!!!!


24 - Rencana Terhadap Donna Garafallo

Keputusan Antonio Garafallo keparat saat menjelang kematiannya itu memang kontroversial! Terbukti semua orang juga mempertanyakan mengapa Antonio mengangkat seorang wanita sebagai kepala keluarga Provenzano! Mereka semua munafik ... walaupun mereka sendiri kebingungan mengapa Antonio mengangkat Andrea sebagai kepala keluarga, tapi mereka mengatakan bahwa keputusan Antonio keparat itu harus dihormati! Mereka gila, kan??

Sudah cukup aku dibuat gila oleh Cavallo, sekarang Garafallo ikut-ikutan ingin membuatku gila karena keputusannya yang irasional!! Mengapa mereka berdua seperti sengaja menjauhkan tampuk kepemimpinan mereka padaku?! Mengapa?? Apa aku pernah berbuat salah pada para tetua bangka itu?? Aku tidak habis pikir ... dunia serasa runtuh seketika!


Andrea.

Seandainya saja aku bisa menyingkirkan wanita itu.

Flav, kau jangan gila. Lihat sekelilingmu, tidak ada satupun yang menginginkan Andrea celaka, bahkan lecet sedikitpun. Apa sebenarnya yang mereka lihat dari perempuan tolol itu? Kursi Don hanya diperuntukkan bagi pria! Bukan wanita! Andrea sangat sangat sangat tidak pantas memimpin keluarga Provenzano. Ini mainan laki-laki, perempuan seharusnya memasak di dapur dan melahirkan anak! Rasanya gemas sekali memikirkan hal itu! 

Tapi kau harus tetap tenang, Flav. Bersikaplah seperti seorang pro! Kau harus tunjukkan bahwa kau tetaplah seorang wakil kepala Provenzano yang tangguh. Satu-satunya yang bisa diandalkan dan bisa dipercaya oleh pemimpinmu sekarang, Donna Andrea Garafallo. Kau bisa lihat sendiri Andrea sangat bergantung padamu, dalam mengurusi segala persoalan dalam keluarga, dan dalam urusan ranjang. Apa pernah barang sedetik ia jauh darimu? Ia sudah terbius padamu, dan tidak bisa lepas darimu! Manfaatkan hal itu sebaik-baiknya!

Maksudmu aku harus mengawininya?

Tentu saja, tolol. Kalau kau benar menginginkan kursi Don, berkorbanlah sedikit! 

Kuhisap dalam-dalam rokokku sambil memandangi langit senja yang kemerahan. Sudah sekitar satu jam aku berdiri di sini, memutar otak bagaimana caranya agar aku bisa meraih tujuanku selama ini. Tapi kupikir ide mengawini Andrea tidak buruk. Kalau aku bosan dengannya, aku bisa membunuhnya diam-diam. Buat kematiannya tampak seperti murni kecelakaan. Tanpa perlu menjadi tersangka.. Bisakah?

Harus bisa.

Aku harus bisa.

Lalu bagaimana agar Andrea mau kunikahi?

Andrea tipe wanita yang tidak suka seradak seruduk seperti kau, Flav. Ia tipe yang senang dimanja, senang yang romantis. Yeah, tipikal wanita membosankan dan mengagungkan yang namanya cinta. Buai ia dengan kata cinta sebanyak-banyaknya. Buat ia mabuk akan keromantisanmu. Buat ia mencintaimu lebih daripada cinta pada dirinya sendiri. Dengan begitu segalanya akan mudah! Percayalah padaku.

Aku menarik nafas panjang. Huh, itu urusan mudah!

Yeah, kau harus bisa, bangsat! Ini pertaruhan hidup matimu!

***

Andrea terlihat terkejut ketika membuka kado kecil dariku. Matanya berbinar menatapku, senyum tersungging di wajahnya. 

"Flav? Ini indah sekali ... ini untuk aku?" tanyanya tidak percaya.

"Tentu saja, Sayang. Untuk wanita yang sangat spesial dalam hidupku," sahutku. Aku mengambil kalung itu dari kotaknya, lalu memasangkannya di leher Andrea.

Pipi Andrea terlihat bersemu merah tatkala kupasangkan kalung di lehernya. Kemarin aku sudah memberinya kejutan sebuket mawar merah muda plus coklat kesukaannya. Reaksinya? Dia senang sekali diberi perhatian seperti itu. Sementara aku sebisa mungkin menahan rasa mual karena harus bersikap menjijikkan seperti itu. Yeah. Tapi sekali lagi kubulatkan niatku. Demi kursi Don. 

"Kamu cantik sekali dengan kalung ini, Andrea," pujiku. 

Andrea tersipu malu.

Dan memang Andrea terlihat cantik. Untuk apa aku keluar uang banyak untuk sampah seperti itu kalau tidak bisa membuat incaranku terlihat cantik? Kalung emas putih dengan liontin berbentuk tetesan air yang bertatahkan berlian yang berkilau ... tampak sangat indah bersatu dengan kulit Andrea yang bersih. Kukecup dada Andrea tepat dimana liontin tergantung, sambil perlahan melepas blazernya. Kamu pasti sangat cantik jika 'hanya' mengenakan kalung ini sebagai penutup tubuhmu, Andrea. Haha. 

Dan segera kumulai lagi cumbu rayuku yang terbukti langsung membuat Andrea bergairah dan membalasku dengan penuh hasrat. Selama berurusan dengan wanita ini, aku terpaksa bersikap ekstra romantis walaupun sebenarnya aku tidak suka yang seperti itu. Aku suka seks spontan. Aku suka bermain keras, dengan segala macam atributnya seperti cambuk, gesper, atau rantai. Yang aku suka seks yang ekspresif, tidak malu-malu dan tidak munafik. Tapi sekali lagi, semua ini demi kursi Don yang kuidam-idamkan sejak ribuan tahun yang lalu!

***

Tak terasa saat itu sudah bulan Desember 2025. 

Aku sedang bersantai dan menikmati tequilla favoritku. Melarikan diri sejenak dari kepungan manusia munafik di sekitarku. Aku yakin mereka tidak pernah merasa senang dengan kepemimpinan Donna Andrea Garafallo. Bahkan semenjak Andrea ditunjuk menjadi kepala keluarga oleh ayahnya sendiri, aku yakin mereka ini sebenarnya tidak merasa sreg pada pilihan Don Antonio. Tapi memang dasar mereka berjiwa penjilat! Mereka tetap memenuhi perintah Antonio keparat itu dan mengangkat Andrea sebagai kepala keluarga! 

Tidak, aku tidak bisa melupakan kejadian-kejadian tidak menyenangkan ini! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah lupa, pada penghinaan Salvatore Cavallo, dan juga pada penghinaan Antonio Garafallo. Aku menolak melupakan semua penghinaan mereka padaku! Dan aku bersungguh-sungguh mengutuk para manusia di sekitarku yang sudah bertingkah munafik. Mereka tidak suka dengan Andrea tapi tetap mencium kakinya. Ha! Tingkah mereka membuatku jadi kesulitan untuk bergerak, untuk mengambil langkah yang lebih jauh! 

Kenapa aku masih saja memusingkan hal itu? Bukankah aku tadi ingin bersantai? 

Kuambil majalah terbaru dari rak di sampingku, dan membolak balik halaman dengan tidak berselera. Berselera sih, jika aku tiba pada halaman dengan gambar wanita cantik berpakaian minim. Wanita ... oh, wanita. Makhluk cantik yang memiliki lekukan-lekukan indah pada tubuhnya. Surga dunia terdapat pada tiap lekuk tubuh wanita! Siapa yang berani menyangkal kata-kataku?

Gerakan tanganku yang sedang membolak balik halaman seketika terhenti saat melihat foto yang membangkitkan seleraku terpampang sebesar dua halaman full. Iklan pakaian dalam wanita, Vittoria's Secret. OH ... DAMN. Model Vittoria ini benar-benar .... Ia berpose menggelinjang dengan sangat anggun, dapat kulihat dengan jelas lekuk tubuhnya yang menggairahkan dan membuat rasa penasaranku naik sampai ke ubun-ubun. Kulitnya yang bersih dan mulus, berpadu padan dengan renda dan tali temali bra dan panty yang dikenakannya .... Tanpa terasa air liurku menitik. Lihat, rambutnya yang tergerai indah, lihat, matanya yang menatapku sayu, lihat, bibir itu! Bibir yang menantangku! Payudara yang indah serta kakinya yang jenjang itu, lihat, mereka meledekku! Damn! Siapa pun wanita ini, aku harus menemukannya!! 

Aku belum selesai berimajinasi liar dengan model Vittoria ini, dari kejauhan kudengar suara yang akrab di telingaku memanggil namaku. Ah. Pasti Andrea. Aku menengadah, dan benar saja. Kulihat Andrea berlari-lari kecil menghampiriku, wajahnya ceria seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan baru oleh ayahnya. Ah bukan. Ceria seperti gadis perawan yang baru saja mengalami orgasmenya yang pertama kali ... dan langsung merasa ketagihan bercinta. Mau apa lagi perempuan ini? Apakah lima ronde masih kurang?

"Flaav ...!" seru Andrea sambil menghambur ke pelukanku.

"Wah wah ... ada apa ini? Masih kangen padaku?"

"Umm. Aku bawa kabar gembira .... Coba tebak apa itu," kata Andrea menyusupkan kepalanya di dadaku.

"Apa?"

"Tebak sajaaa!" rajuknya manja.

Memang bukan main manja perempuan satu ini. "Hmm, kamu beli lingerie baru?"

"Bukan! Uhh, kamu pikirannya selalu ke arah itu!"

"Lalu apa? Kamu menang lotre?" sahutku asal.

Andrea terkekeh, menjawab, "Semacam itu!" 

Aku menatapnya bingung.

Ia menengadah, balas menatapku dengan matanya yang berbinar. "Aku hamil! Kita akan punya bayi, Flav ...!"

Hah?

"Kamu hamil? Sungguh?" tanyaku tidak percaya.

Andrea mengangguk dengan antusias. Ia lalu memperlihatkan hasil testpack yang ternyata sedari tadi dipegangnya. "Positif, Flav ...! Senangnya!" seru Andrea riang.

Ugh. Perutku mual mendengarnya. Aku tidak ingin punya bayi.

"Kenapa, Sayang? Kamu tidak terlihat senang," tegur Andrea.

Aku tersentak. Tolol kau, Flav. Teruskan sandiwaramu! Spontan kuubah raut wajahku. "Oh, tidak. Kata siapa aku tidak senang? Aku hanya kaget saja! Tentu aku senang mendengar kabar kehamilanmu, Andrea."

Andrea sumringah. Ia memelukku dengan erat. "Aku juga senang, Flav .... Senaaaang sekali!" 

Apa sih yang tidak membuatmu senang? Kuberi perhatian berlebih, senang. Kumanja, senang. Kuperawani, senang. Kuberi multiorgasme, bukan main senang. Sekarang kuhamili, senang juga. Perempuan yang naif.

"Nikahi aku, Flav," bisik Andrea. "Aku tidak ingin bayiku lahir tanpa ayah. Kamu mau, kan ...?"

Nah, sekarang minta kunikahi.

Tolol kau, Flav. Ini kan memang tujuanmu sejak awal! Lupakah kau?! Teruskan! Kabulkan keinginannya! Berkorbanlah sedikit! 

Baiklah. Akan kunikahi perempuan ini. Tapi aku harus memutar otak bagaimana cara agar nanti bisa lepas darinya.  

"Tentu, Andrea. Kita segera menikah," jawabku.


25 - And The Bride Is Gone

Kau ingat nama salah satu capo klan Provenzano? Lefty. Nama aslinya Gaspare Cenni, kuberi tahu kau. Dipanggil dengan nama Lefty karena memang kekuatannya yang paling besar berada di tangan kirinya. Dia salah satu capo yang paling baik dan setia. Membawahi 15 anak buah yang kinerjanya cukup lumayan. Kelompok Lefty adalah salah satu kelompok yang disegani, kau tahu? Karena anak buah yang dulu bergerak langsung di bawah perintahku semasa aku masih menjadi capo, mereka semua kini menjadi anak buah Lefty. Ditambah lagi, ada dua serdadu berprestasi mencolok yang bergabung dengan kelompok Lefty. Bukan rahasia lagi kalau dua serdadu itu saling tikam dari belakang, demi mendapat nama yang bagus di depan para dewan keluarga Provenzano. 

Aku akan mendongeng sedikit tentang dua serdadu ini, atau yang biasa kami sebut, sgarrista.

Satu serdadu bernama Fabio Trezza, entah apa yang salah dengan orang ini. Setiap kali aku melihatnya, aku selalu merasa orang ini seperti aku di masa lalu. Dan aku muak melihatnya! Namun meskipun dia membuatku muak, tapi prestasinya memang patut diacungi jempol. Aku sendiri tidak bisa menyangkal kalau dia memang cerdik dan sadis sebagai seorang thugges. Dia hampir selalu menggunakan kekuatan tangan untuk menghabisi nyawa musuh. Hampir selalu membenturkan kepala lawannya sampai pecah pada tembok. Dan rapi. Dan tanpa jejak. Dan temperamental. Lihat kan? Aku juga seperti itu dulu! Persis! Tercium dari baunya, kurasa dia menyimpan ambisi yang besar. Ambisius. Poin apalagi yang menyatakan bahwa dia mirip denganku? Maka dari itu aku tidak pernah suka pada orang yang bernama Fabio Trezza ini! Bagaimana kalau suatu saat dia menjadi pemberontak juga sepertiku? Ha! Tidak akan pernah kubiarkan hal itu terjadi!

Lalu satu serdadu lagi bernama Gaetano 'Tom' D'avella. Dia tidak lebih baik dari Fabio Trezza, tapi juga tidak lebih buruk. Poin plusnya di mataku hanyalah, orang ini tidak seperti Fabio, yang kerap mengingatkanku pada diriku sendiri. Singkat kata, Tom tidak pernah membuatku merasa terancam karena kehadirannya.

Ada dua serdadu berprestasi yang saling tikam dalam kelompok Lefty. Sia-sia sekali, pikirku. Baiknya cukup satu serdadu saja, bukan? Dua, terlalu banyak. 

Maka dari itu aku mulai melakukan pendekatan pada Fabio Trezza. Ini kali kedua aku mengajaknya minum bersama. Kurasa dia menyimpan rasa heran yang cukup besar mengapa aku tiba-tiba memberikan perhatianku padanya, tapi dia menikmatinya, tentu saja. Banyak keuntungan yang bisa kau dapatkan jika kau bisa akrab dengan atasanmu, tentu kau tahu itu, kan?

"Hey, Stone! Thanks, seminggu ini aku bisa tidur dengan sangat nyenyak!" ujarnya riang.

"Yeah? Sudah kukatakan bukan, kau pasti bisa tidur dengan nyenyak jika ditemani oleh mereka!"

Fabio menyeringai lebar. Seminggu ini aku mengirimkan padanya tiga wanita cantik dari rumah bordil langgananku. Tentu saja orang ini pasti akan tidur nyenyak!

"Kau tahu? Kau itu seperti aku," ujarku sambil menyesap tequilla. "Belakangan ini kulihat kau seperti tidak bersemangat. Maka untuk membangkitkan kembali semangatmu, sengaja kukirimkan gadis-gadis itu padamu. Baguslah kalau kau suka!"

"Aku suka. Sangat suka! Aku tak sangka kau ternyata peduli padaku! Woah. Suatu kehormatan besar buatku!" Fabio berujar antusias sambil memandangiku.

"Sekali lagi, karena kau mirip denganku. Aku ribuan kali lebih mendukung kau menjadi capo, ketimbang sainganmu, Tom D'avella itu," ujarku sok kalem.

Fabio terbahak. "Beruntungnya aku, didukung langsung oleh bos!"

"Aku bersungguh-sungguh." Kupelankan nada suaraku. "Aku memang ingin menjadikanmu capo. Kau tahu aku dengan mudah bisa melakukan itu, bukan? Aku tahu kau adalah seorang yang tangguh dan kuat, dan aku ingin kita bisa bekerja sama nantinya. Aku yakin, kau dan aku, suatu saat nanti pasti bisa meraih segala yang kita inginkan bersama-sama. Pernahkah kau berpikiran ke arah sana?"

Fabio tidak menjawab, tapi aku tahu, dia merasa tersanjung dengan yang kukatakan.

"Dan aku berharap semoga kau tidak menolak ajakanku," lanjutku menambahkan.

"Kesempatan emas seperti ini ... katakan padaku, orang tolol mana yang berani menolaknya?"

Aku tersenyum. Kutepuk bahu Fabio. "Kau memang sangat menyenangkan. Aku senang mengetahui kau ada di pihakku!"

"Demikian juga denganku, Bos."

Kukeluarkan sepasang anak kunci dari dalam saku celanaku, dan menyerahkannya pada Fabio. "Itu kunci apartemenku di Brinx. Sudah lama sekali tidak kuhuni. Daripada menjadi sarang laba-laba, lebih baik kau saja yang tempati," ujarku.

Fabio mengangkat alis, tersenyum lebar. "Woah. Kejutan lagi. Thanks, Stone!"


Segalanya berjalan lancar seturut kehendakku! Dewi Fortuna masih setia berlutut di hadapanku, semua jadi terlihat mudah! Termasuk ketika aku dengan sukses mempengaruhi Fabio dan memintanya untuk melakukan sesuatu untukku, di hari pernikahanku dengan Andrea Garafallo awal Januari tahun depan. Tidak sulit mempengaruhinya! Cukup janjikan bahwa dia bisa membangun regime sendiri dan menjadi kapten / capo, Fabio langsung menurut padaku bagai kerbau yang dicucuk hidungnya! Ahh. Aku jadi tidak sabar menunggu hari pernikahanku dengan Donna Andrea Garafallo!

***

Hari besarku itu pun tibalah. Kupandangi pantulan diriku di depan cermin, dan tak henti-hentinya aku mengagumi ketampanan sosok yang ada di balik cermin itu. Ini hari besarku. Yeah. Jika semuanya berjalan lancar, tak pelak AKU-lah yang akan duduk di kursi kepala keluarga Provenzano! Ya! Aku! Hal yang sudah kutunggu-tunggu semenjak ribuan tahun yang lalu! Semoga Fabio si anak bau kencur itu becus menjalankan tugasnya. Karena kalau tidak ... ah. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Aku sudah berdiri di depan altar, berhadapan dengan pastur yang akan menikahkan aku dengan Andrea. Sekalipun aku tidak pernah pergi ke gereja. Terakhir kali menginjakkan kaki di gereja adalah ketika aku masih berlindung di balik ketiak Gianni Maranzano. Untuk apa ke gereja? Pentingkah? Memang Tuhan itu ada? Setahuku dia tidak pernah ada.

Iringan organ terdengar syahdu, para tamu undangan serentak berdiri dan menghadap pintu masuk gereja. Aku membalikkan badan, dan melihat pengantinku melangkah ke arahku dengan anggun. Senyum yang indah berpoles lipstik berwarna pastel. Wajah yang cerah berseri-seri menyambut hari yang paling membahagiakan untuknya. Rambutnya yang lebat dan indah berhiaskan tiara bertatahkan berlian. Entah kenapa hari ini Andrea terlihat sangat berbeda. Aura yang dimilikinya membuatku terpesona dan sampai kehilangan kata-kata seperti ini. Apalagi jika teringat, di balik gaun satinnya itu sudah terajut sebuah kehidupan bagi makhluk kecil yang berasal dari benihku sendiri. Ah. Benarkah keputusanku ini? 

ARGH!

Apa yang kau lakukan, Stone?!

Bagaimana bisa kau terlena dan menjadi lemah, lembek seperti itu?!

Lupakah kau apa tujuanmu sejak awal mula?!

Kau terlalu lama bermain-main dengan wanita ini, maka otakmu menjadi kacau! Segeralah sadar, bajingan!

....

FUCK! Oke! Maafkan aku! Aku tidak akan begitu lagi! Well, rupanya aku masih memiliki sisi kemanusiaan, eh? Kupikir aku sudah kehilangan sisi itu. Haha. Baiklah, bulatkan tekad. Aku sudah tidak bisa mundur lagi, kan?

Ritual sakramen berjalan dengan lancar, dalam sekejap aku pun resmi menjadi suami sah Andrea Garafallo. Oh, bukan, sekarang namanya menjadi Ny. Andrea Maranzano. Segera kuberikan kecupan yang paling hangat di bibir Andrea ketika pastur sudah mengesahkan kami menjadi sepasang suami istri. Biarlah, ini kecupan terakhir yang pantas Andrea terima. Maafkan aku, Andrea. Aku terpaksa melakukan ini semua. Seandainya saja ayahmu dulu tidak bermain-main dengan ego-ku, aku berani jamin saat ini kamu pasti masih bersenang-senang menikmati kehidupan yang indah ini.

Andrea tersenyum lembut sambil menatapku. Matanya berbinar-binar memancarkan kebahagiaan yang aku tidak berani jabarkan. Apakah semembahagiakan ini, jika menikah dengan orang yang kau cintai? Eh? Apa kataku tadi? Cinta? Bukankah itu makanan anjing? Haha.

Kugenggam tangan Andrea dan kami pun melangkah keluar dari gereja, disambut sorakan dan taburan bunga dari para tamu. Aku masih harus berakting di sini, pasang wajah sebahagia mungkin, Flav! Dari sudut mata kulihat Reeve datang bersama dengan Camila, di sebelah mereka kulihat juga Denver dan Jessica. Ha! Mereka datang juga! Kawan-kawan setiaku. Kulambaikan tanganku pada mereka, Reeve dan Denver membalasku dengan seringai lebar. Kalian akan menjadi saksi atas apa yang akan terjadi hari ini, Reeve, Denver. Terutama kau, Reeve! Kau pasti akan langsung gigit jari melihatku dengan gemilang menduduki kursi kepemimpinan Provenzano. Sementara kau? Ha! Teruslah mencium kaki Roman Burgeno!

Aku dan Andrea sudah keluar dari gedung gereja, aku berhenti melangkah, dan melambaikan tanganku pada para tamu yang juga menunggu di luar. Sekalian kuberi kesempatan pada para fotografer untuk mengabadikan poseku bersanding dengan pengantin wanita yang cantik ini. Kurengkuh erat Andrea, dan kukecup bibirnya yang ranum ... makin ramai terdengar sorakan dari para tamu undangan. Aku dan Andrea tersenyum lebar, berpose, sebuah kecupan sekali lagi .... Kurasa aktingku cukup hebat. Setelah ini aku akan pergi mencari pekerjaan di Hollawood. 

Dan ketika aku mengecup Andrea untuk yang ketiga kalinya, pada saat itulah terdengar suara letusan, satu kali, dua kali. Dan pada saat yang sama tubuh Andrea terentak di pelukanku, disertai dengan darah yang langsung mengucur dengan deras, kontras menodai gaun putihnya yang indah. Suara sorakan para tamu seketika berubah menjadi teriakan ketakutan. Para pengawal keluarga Provenzano secara refleks langsung turut mengeluarkan senjata api mereka dan mulai menembak ke arah asalnya tembakan yang mengenai Andrea.

Wajahku memucat, menyadari Andrea sudah tidak bernyawa lagi di pelukanku. Pun ketika kulihat tanganku penuh dengan darah Andrea yang masih mengalir dengan deras dari tubuhnya. 

"Tidak ...!" ujarku dengan getir dan terbata. "Andrea ... Sayang ...?? Sayang???" 

Sebuah tangisan, serta bahu yang gemetar menahan rasa duka yang mendalam, kupeluk erat tubuh Andrea yang lambat laun mendingin.

Aku cocok menjadi bintang film, kan? Air mata ini asli! Sungguh! Bukan dari ekstrak bawang merah!

***

Dan yeah, tepat seperti yang kuduga dan kuharapkan! Tidak ada seorang pun yang tahu siasat licik yang kujalankan pada Andrea! Dan mereka pun akhirnya mempercayakan posisi kepala keluarga kepadaku. Inilah yang memang sudah layak dan sepantasnya kuterima! Hal pertama yang kulakukan setelah statusku berubah menjadi kepala keluarga adalah, mengubah nama klan ini dari Provenzano, menjadi Maranzano, mengikuti nama belakangku. Rumah seluas 3 ha di Lattingtown yang sebelumnya ditempati Garafallo pun menjadi milikku. Sedikit renovasi kulakukan, menyesuaikannya dengan seleraku sendiri. Ahh. Tak ada yang bisa melawanku sekarang. Akulah Don Maranzano!

Tunggu. Tadi apa kubilang? Tidak ada seorang pun yang tahu siasat licikku pada Andrea? Maaf, aku lupa. Ada seorang yang mengetahui perbuatanku, dialah Fabio Trezza, serdadu yang kupercaya untuk menembak Andrea dari jarak jauh. Bagaimana patuhnya dia padaku, dan bagaimana licin dirinya sehingga tidak ada seorang pun yang bisa menangkap, atau bahkan mencurigai dirinya atas kejadian yang menimpa sang Donna Andrea. Sebenarnya manusia ini terlalu berharga untuk dibunuh. Mungkin seperti yang pernah kukatakan, dia bisa menjadi partner kerjaku yang baik. Tapi aku tidak percaya hal itu. Dialah Fabio Trezza, satu-satunya orang yang tahu kebusukanku. Aku tidak mungkin membiarkan orang ini hidup terlalu lama. Dia bisa mengancam posisi dan keselamatanku!

Maka kudatangi Fabio malam itu di Brinx, di dalam apartemen milikku yang waktu itu sudah kuberikan padanya. Tidak sulit mengelabuinya, berhubung dia sudah sangat percaya padaku. Dia bahkan menyambut kedatanganku dengan sangat hangat, apalagi aku berkilah ingin merayakan keberhasilan kami. Dua botol gin kesukaannya serta sedikit cemilan, cukuplah. Kuberikan obat tidur pada minuman yang akan Fabio tenggak, dan segalanya terlihat mudah. 

Segera setelah dia pulas tertidur, kuambil senjata api milik Fabio, lalu menembak pelipisnya. Kuatur agar senjata itu berada di tangan Fabio yang telah tewas, sehingga semua orang akan mengira Fabio menembak dirinya sendiri. Sebenarnya aku lebih suka bila aku menghabisinya dengan tangan kosong. Seperti membenturkan kepalanya ke tembok, ke lantai, atau apa pun. Agar aku bisa menunjukkan padanya, siapakah Stone Killer sejati itu. Tapi pikiran itu segera kuhapus, mempertimbangkan bahwa nantinya akan sulit bagiku membuat kejadian itu seolah bunuh diri. Inilah jalan yang terbaik. Maaf Fabio, ini murni bisnis! Terima kasih telah membuatku bisa menjadi Don seperti sekarang ini. Beristirahatlah dalam damai.


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.