TC (26-29) | INA

26 - The New Don

Brengsek, Flav bisa-bisanya mendahuluiku! Dia sudah duduk nyaman di kursi Don, sementara aku? Sampai kapan aku terjebak di posisi orang nomor dua seperti ini? Kalau aku bisa menjadi nomor satu, kenapa aku harus puas menjadi nomor dua?

Awalnya aku sama sekali tidak curiga mengapa Flav tiba-tiba mengirim undangan pernikahan. Kupikir dia memang sudah dikejar jam biologis untuk segera berketurunan. Tapi rupanya aku lengah! Aku nyaris lupa Flav itu juga sama sepertiku, tidak suka anak-anak. Terlebih, tidak suka tangisan bayi. Bagaimana mungkin dia bisa semudah itu menyerah pada jam biologis? Dan jujur saja, aku benar-benar terpesona karena pada hari pernikahan Flav, Flav sama sekali tidak menunjukkan gelagat aneh. Justru dia terlihat sangat gembira menggandeng pengantinnya berjalan keluar dari gereja ... dan ketika pengantin wanita tewas tertembak, kulihat Flav sangat berduka. Memelas sekali melihatnya. Tapi tak lama setelah itu, kudengar kabar bahwa yang menggantikan posisi Andrea Garafallo sebagai kepala keluarga Provenzano adalah Flav Maranzano, aka Stone. Dan pada detik itulah aku paham apa yang sebenarnya terjadi di gereja tempo hari. Semua itu hanya akal-akalan Flav! Untuk bisa menduduki kursi sebagai Don Provenzano yang baru! Bahkan sekarang, nama keluarga Provenzano pun ikut diubah oleh Flav, mengikuti nama belakangnya sendiri, yakni Maranzano. Culas dan benar-benar licik, temanku yang satu ini.

Tidak beberapa lama aku tiba di rumah Flav. Dia dengan muka sumringah menyambut kedatanganku. Jelas, siapa yang tidak akan sumringah jika tujuannya sudah tercapai?? Aku pun ingin sesumringah itu. Aku harus putar otak ....

"Jadi? Senyaman apa kursimu sekarang, Stone?" Aku duduk bersandar di sofa sambil menyilangkan kaki.

"Oh!! Kau tidak akan paham rasanya, Reeve. Tidak akan!" Senyum lebar Flav jelas menunjukkan bahwa dia meremehkanku.

"Sombong sekali kau, tahi kucing. Lihat saja, aku juga akan segera duduk di atas kursi Don seperti kau," ujarku.

"Kalau begitu buktikan, Sinner. Jangan hanya bicara saja. Hahaha. Aku ingin lihat seberapa besar nyalimu!"

"Persiapkan dirimu untuk terkejut, Stone. Karena aku tidak akan mendapatkan keinginanku itu dengan cara yang mudah dan instan sepertimu." Aku menyunggingkan sebuah senyum licik.

Air muka Flav memerah. "Keparat, kau bilang instan?? Setelah semua yang kulalui selama ini kau bilang instan??" serunya marah. "Tutup mulutmu, anjing kudisan, kau tidak tahu apa-apa tentangku. Apa kau tahu sakit hati yang kurasakan karena tempo hari Cavallo tidak mau menunjukku menggantikannya??"

Cavallo. Rupanya Flav masih tidak terima perlakuan pendahulunya itu. "Hal itu masih kau pikirkan, Stone?" tanyaku kemudian.

"Tentu! Tentu masih kupikirkan! Tidak akan pernah pudar dari ingatanku, penghinaan macam apa yang dilakukan si tua bangka Cavallo! Seandainya saja dia dulu menunjukku, segalanya akan lain! Setidaknya aku akan tetap berstatus bujangan, bukan duda!"

Aku tersenyum geli. Sungguh lucu manusia satu ini. "Lalu?"

"Maksudmu?"

Kurasa aku bisa memanfaatkan kesempatan ini. "Kita berteman sejak kecil, Stone. Ingat?" tanyaku. "Aku dengan senang hati membantumu dalam hal ini. Apa kau tidak ingin membalas dendam atas penghinaan yang kau terima? Aku kenal kau, aku tahu pasti bagaimana kesalnya kau, dan aku yakin tidak mungkin kau bisa menahan sakit hatimu."

Flav menyunggingkan sudut bibirnya. "Bantuan macam apa yang kau tawarkan?"

"Apa yang kau inginkan?"

Senyum Flav menghilang, dia menggebrak meja. "Katanya kau mengenalku!!" 

"Kau ingin ....." Aku menggerakkan tangan di depan leherku, mengisyaratkan hilangnya nyawa seseorang. "Atau cukup peringatan biasa?" Aku menarik nafas panjang. "Aku bisa terka kau pasti menginginkan kepalanya," lanjutku.

Flav mendengus. "Yeah, kau benar-benar mengenalku."

"Oke, Stone. Kita sharing ide sekarang. Agaknya mustahil menyentuh dia secara langsung, kau pasti paham alasannya, kan?"

"Yeah. Itulah yang selama ini kupikirkan!"

"Yang perlu kau lakukan, adalah menyulut sepercik api dan menyiramnya dengan bensin, Stone. Dan biarkan api itu membesar dengan sendirinya," ujarku tenang.

Flav memandangku dengan bingung. "Jelaskan!" perintahnya.

Aku tersenyum. "Menurutmu siapa orang yang memiliki kepala paling panas dan temperamental, Stone?" tanyaku.

"Roman," jawabnya cepat.

Aku terkekeh. "Kau tidak merasa, ha?"

Flav memutar bola mata. "Aku bukan anak durhaka seperti Roman!"

"Yeah, mungkin kau benar. Tapi kau pun temperamental, Stone. Setelah Roman, peringkat keduanya adalah kau."

"Maksudmu sebenarnya apa, Sinner?? Aku tidak mengundangmu ke sini untuk mendengarkan itu semua!!" Flav berseru berang.

Aku tertawa lepas. "Benar kan, kau langsung marah! Oke oke, kuberitahu kau apa yang ada di kepalaku." Aku menarik nafas panjang. "Kita semua tahu, perangai Roman yang paling buruk. Kau sentil saja dia sedikit, lalu kau katakan padanya bahwa Cavallo pelakunya. Roman pasti meledak. Dan tindakan apa yang akan dia ambil selanjutnya, anggap itu bonus tontonan buatmu. Kau menangkap maksudku?"

"Sentil Roman? Maksudmu? Cepat Reeve, aku tidak suka menebak-nebak!"

"Yea ... misalnya, mengusik milik Roman. Kerjai Olive dengan menculiknya, atau apalah."

"Ah." Mata Flav menerawang. "Buat Roman, anaknya adalah segalanya. Bagaimana kalau culik Christopher?"

Flav benar. Christopher adalah permata bagi Roman. "Itu ide bagus," jawabku.

"Tapi apa yang kau dapat dengan menculik?? Kalau sandera kita lepaskan, dia pasti bisa cerita apa yang dia alami ke semua orang!" Flav berdecak. Dia terlihat berpikir sejenak. "Sekalian saja enyahkan anak itu. Roman pasti berang seberang-berangnya, Reeve," katanya.

Aku mengangguk setuju. "Lalu atur agar line telepon mengarah pada rumah Cavallo. Begitu Roman tahu siapa yang menculik anaknya .... Aku berani jamin, Stone, kau cuma tinggal duduk ongkang-ongkang kaki sambil menonton dari jauh, bagaimana Cavallo dihabisi."

Flav tersenyum puas.

Sangat mudah menghasut Flav.

Kalau rencana ini berjalan sesuai dengan harapanku, maka umur Roman pun tidak akan lama lagi. Minimal dia pasti akan menghilang dari peredaran dunia. Dan siapa yang diuntungkan dengan hilangnya Roman sebagai kepala keluarga Burgueno? Aku? Tentu, aku yang diuntungkan! Ini namanya simbiosis mutualisme. Bekerja sama, saling menguntungkan satu sama lain. Hitung-hitung aku membantu Flav. Semoga semua ini bisa berjalan dengan lancar.

"Jadi, kapan?" tanya Flav.

Aku mengangkat bahu. "Secepatnya. Akhir minggu ini klonku pergi ke Boffalo. Kalau bisa saat dia pergi, jadi tidak ada yang selalu ingin tahu dan ikut campur urusanku. Kebetulan Camila juga ikut ke sana, dia bosan di rumah sepertinya."

"Ada urusan apa?"

"Biasa, urusan kecil. Ada yang ingin ikut menanam saham dalam bisnis Roman. Roman mengutusku, dan aku menyuruh klonku untuk pergi."

"Kuperhatikan kau santai sekali, Sinner. Yang bekerja malah klonmu," ujar Flav sambil terbahak. "Rupanya itu tujuanmu mengcopy dirimu sendiri, eh?"

Aku menyeringai lebar. "Tentu saja! Aku juga jadi punya banyak waktu luang, termasuk untuk membantu menyelesaikan urusanmu, Stone."

"Benar. Dan aku yakin kau juga punya maksud terselubung dengan membantuku."

"Cerdas! Tapi kau tenang saja Stone, maksud terselubungku bukan sebuah hal yang akan merugikanmu," kataku meyakinkan.

"Kuharap begitu. Karena kalau kau memang merugikanku, aku tak akan sungkan padamu, tidak peduli sudah berapa puluh tahun kita saling mengenal!"

"Aku mengerti." Aku tersenyum penuh pengertian. "Aku tidak akan pernah bermain api denganmu, aku bisa jamin hal itu."

Flav mengangguk-angguk. Dia menuang martini untukku. "Kudengar selentingan kabar menarik dari Frenchye. Perdana Menteri Frenchye mengobrak-abrik bisnis pelelangan milik Burgueno di sana, benarkah? Bukankah Francois Mueller itu salah satu orang yang berada di belakang Burgueno selama ini?"

"Benar." Aku mengangguk. "Tapi itu terjadi hanya pada zaman kekuasaan Don Alphonse, ayah Roman. Mereka memang bekerja sama sejak dulu, dan tidak pernah ada masalah. Semenjak Roman berkuasa, Mueller kerap mencari masalah, itu yang membuat Roman semakin berang. Dia sedang fokus menyelesaikan masalah dengan Mueller sekarang ini, dan tidak ingin diganggu. Untungnya hanya Mueller yang bertingkah ... karena kalau Mauritio Fleiss ikut-ikutan bertingkah seperti Mueller, Burgueno bisa kehilangan pemasukan dari bisnis di Frenchye. Roman tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," terangku sambil menyesap martini.

Flav mengangkat alis. "Itu semua kembali pada Roman. Dia terlalu brutal dan licik. Tidak pernah ada seorang anak yang menusuk ayah kandungnya sendiri dari belakang!"

"Yeah, mungkin juga."


27 - Children of Those Retired Dons

Perlukah kuperkenalkan siapa diriku? 

Ayahku bernama Luigi Labruzzo, merasa familiar dengan nama itu?

Nama yang sering disebutkan jika kau sedang menghitung siapa saja kepala keluarga organisasi kejahatan di New Yord City. Yeah, ayahku adalah salah satu kepala keluarga yang cukup disegani! Yang walaupun umurnya masih paruh baya tapi tidak pernah gegabah dalam bertindak. Selalu bermain rapi seperti halnya Don Maurice Castellano, serta Don Salvatore Cavallo. 

Tapi kini ayah sudah resmi lepas dari kursi kebesarannya sebagai seorang Don. Mengapa? Simple, kurasa. Karena ayah lelah duduk terus menerus dalam jangka waktu lama ... hahaha! Aku bercanda. Ayah memang sudah sejak lama mengidamkan kehidupan yang indah dan damai, tanpa harus berjibaku dengan kekerasan dan pertumpahan darah lagi. Ayah sering berkata padaku, bahwa dia tidak ingin melihatku mengikuti jejaknya di dunia hitam. Maka dia dulu sengaja melamar seorang wanita yang berasal Frenchye, yakni ibuku, dan lalu lahirlah aku. Dengan darah campuran seperti ini otomatis aku tidak akan pernah bisa berkecimpung dalam dunianya, tidak peduli aku menginginkannya atau tidak.

Hmm. Jujur aku tidak terlalu peduli dengan cerita ayah. Selama aku bisa menikmati hidup yang indah ini, aku tidak mempermasalahkan apa pun. Hey, bukankah memang manusia itu dilahirkan untuk menikmati kehidupan yang indah ini? Itu sebabnya ayah mati-matian mencegah keturunannya menjadi seperti dirinya!

Ayah. Setidaknya dia masih menganggapku sebagai anak, dan aku masih menganggapnya sebagai ayahku. Karena pada kenyataannya, aku tumbuh besar tanpa kehadiran ayah. Ayah hanya sesekali pulang dan menemuiku di Parice, paling setiap tiga bulan sekali. Dia tidak pernah sekalipun mengajak atau mengizinkanku ikut dengannya pergi berbisnis di New Yord. Jadi aku seperti terkurung di Parice, setidaknya sampai aku menyelesaikan sekolahku. 

Sekarang aku tengah merintis karirku yang terbilang cukup oke, aku menikmati kehidupanku di sini. Sesekali aku iseng plesir ke New Yord tempat ayah bekerja, tapi ternyata di sana tidak ada yang membuatku tertarik. Mungkin karena aku sudah jatuh cinta dan sangat terikat pada tanah kelahiranku ini, jadi aku tidak melihat ada yang menarik dari kota itu. Dan apa pun yang kulakukan, sejauh apa pun aku bepergian, selalu Paricelah tempatku pulang. Lihat, betapa setianya diriku! Darren Labruzzo tidak pernah bermain-main dengan kesetiaan ... itu hal yang sudah pasti.

Nasib serupa juga dialami oleh salah satu teman akrabku, Louis Cavallo. Tanyakan padanya, kuyakin dia pasti juga akan bercerita sepertiku! Tentang ayah yang berbisnis di New Yord dan hanya sesekali pulang, dan bagaimana cita-cita sebenarnya ayah kami berdua yang hanya menginginkan kehidupan yang damai dan tenteram. Ayah Louis, yakni Don Cavallo, usianya terpaut cukup banyak dari ayahku. Walaupun mereka berdua berstatus sebagai kepala keluarga dari klan yang berseberangan, tapi mereka akrab. Hal yang cukup unik, karena setahuku dunia tempat mereka berkecimpung, penuh dengan intrik, tipu muslihat dan pengkhianatan demi kepentingan klannya masing-masing. Tapi mungkin juga keakraban Don Cavallo dan ayahku disebabkan oleh cara pandang mereka yang sejalan ... entahlah. Aku tidak ingin tahu lebih jauh, aku tidak pernah terlalu mempedulikan dunia ayah.

Aku juga tidak terlalu ambil pusing setiap kali ibu mengeluh padaku atas kecurigaannya pada ayah. Yeah, kecurigaan seorang istri pada suaminya, takut kalau-kalau ternyata di luar sana ayah memiliki istri lain. Atau istri-istri lain. Dan anak-anak lain selain aku. 

Diam-diam aku tertawa dalam hati setiap kali ibu mengeluhkan hal yang sama, berulang-ulang. Ibu, ayolah! Ayah adalah seorang pria sejati yang tidak mungkin hanya mengikrarkan dirinya lahir dan batin hanya padamu seorang! Kalian hanya bertemu sekitar empat kali dalam setahun, mustahil ayah bisa berpuasa selama tidak bertemu denganmu, Bu! Ayah pasti menafkahi istri lain, entah satu, dua, tiga, tapi pasti ada. Bagaimana ibu bisa memiliki harapan bahwa ayah tidak akan melakukan hal itu padanya? Tapi sudahlah, aku tidak ingin menjadikan ibuku sendiri sebagai bahan pergunjingan.

Dan ... aku tidak akan kaget jika suatu saat ayah memperkenalkanku pada anak-anaknya yang lain, yakni saudara-saudara tiriku. Yang membuatku agak penasaran adalah, anak-anak ayah itu, apakah campuran juga sepertiku, atau malahan ada yang meneruskan ras murni Iralia dalam darahnya? Entahlah! Hanya ayah yang tahu. Tak banyak yang kutahu. Yang kutahu dan kukuasai dengan pasti, hanyalah kerupawanan wajahku yang mampu memikat banyak wanita hanya dalam sekali helaan nafas! Oh ... maaf, aku bercanda lagi. Kau tahu aku tidak akan mungkin melakukan itu. Aku sudah memiliki kekasih, dan hanya pada dirinyalah aku menemukan cinta sejatiku. 

Anja ... Anja. Itulah nama kekasihku. Tidak ada seorang pun yang tahu betapa dalamnya rasa cintaku pada Anja kekasih hatiku!


Lalu siang itu aku, Louis Cavallo, Pierre Mueller, Lucas Valachi dan Daniel Spencer sedang berkumpul di apartemen Pierre. Bachelor Party. Lengkap dengan anggur berkualitas tinggi, stripper, dan kondom. Saatnya menikmati hidup! Ha! Aku berbohong mengenai stripper dan kondom. Pierre adalah makhluk berpenis yang tidak pernah sudi bermain kotor, walaupun sesekali. Buatku, bukan masalah besar jika sesekali kau bermain kotor. Variasi itu penting! Asal kau tahu bagaimana cara menjaga diri, itu sudah cukup.

"Papa akhirnya bisa menikmati hidup seperti yang diinginkannya sejak dulu," ujar Louis. "Bangun pagi, berolah raga, lalu minum kopi sambil membaca buku dan berjemur. Setelah makan pagi dia berkebun dan mengurusi tomat-tomatnya sampai jam makan siang tiba. Lalu tidur, istirahat. Senang melihatnya bisa sesantai itu. Mama pun senang bisa menghabiskan waktu berdua bersama dengannya."

"Tidak berencana memberikanmu seorang adik, huh?" Seringai lebar sirat ejekan kutujukan pada Louis.

Louis melotot. "Sudah menopause."

"Kalau begitu giliranmu memberikan cucu untuk ayahmu, Louis. Kurasa tinggal itu satu-satunya yang kurang dari kehidupannya sekarang." Lucas berkomentar sambil menopangkan kaki.

Louis mengangkat alis, menghela nafas. "Yaa ... kurasa belum saatnya. Belum ada tanda apa pun dari Celine."

"Kau sudah melakukan dengan benar belum? Jangan-jangan kau masuk ke lubang yang keliru selama ini, pantas saja gadismu belum memperlihatkan tanda apa pun!" seruku sambil tergelak. Pierre, Lucas dan Daniel tertawa ringan mendengar guyonanku.

Sementara lagi-lagi Louis melotot padaku. "Terserah apa katamu, Darren," sahutnya. 

Ah, dia memang tidak bisa diajak bercanda!

Tapi memang dari antara kami semua, hanya Louis yang paling serius. Jarang tersenyum, jarang tertawa, malahan aku sering merasa Louis tidak pernah tahu bagaimana caranya menikmati hidup! Juga dengan Pierre yang, kurasa jalan hidupnya terlalu lurus dan membosankan. Tidak seperti aku yang easy going, dan menikmati detik demi detik kehidupan yang kujalani! 

Lucas dan Daniel, dua orang yang bisa dibilang baru bergabung dalam kelompok kami. Mereka lebih paham bagaimana cara menikmati hidup. 

Lucas Valachi, dia orang Iralia yang besar di Amerida. Merupakan anak dari tangan kanan Roman Burgueno ... ah, kalian tentu tahu makhluk sejenis apa Roman Burgueno ini. Lucas muak dengan kehidupan dan lingkungan tempat ayahnya bekerja, lalu memutuskan menimba ilmu di sini. Mengapa dia muak? Sudah pasti karena track record Roman yang sangat luar biasa ... buruknya. Tidak seperti para tetua bos mafia, yakni seperti ayahku atau ayah Louis, Roman sebagai bos mafia terlalu mudah tersulut emosi, dan tidak pernah bisa menggunakan otaknya untuk berpikir. Kalau bosnya saja seperti itu, bagaimana bawahannya langsung? Yeah, Roscoe Valachi, ayah Lucas, entah mengapa selalu bertahan di bawah ketiak Roman. Kurasa kalau aku berada di posisi Lucas, aku juga akan melakukan hal yang sama. Pergi jauh dari lingkungan tempat tinggal ayahku sendiri.

Daniel Spencer. Bukan anak orang penting seperti kami. Juga bukan orang Iralia maupun orang Frenchye. Dia orang Amerida biasa yang ... yang biasa-biasa saja. Semenjak dia mengencani adik Pierre, dia jadi semakin sering bergabung dengan kelompok kami. Ah ... Iya. Dia juga bersekolah dan satu kelompok dengan Anja dan Flav. 

Kalau ingat Flav aku jadi ingat masa kecil kami yang riang gembira. Aku, Anja, Pierre, Louis, Flav, dan adik Flav, Antonella. Bermain air di danau, memanjat pohon, memancing, melakukan semua hal menyenangkan sampai puas. Masa-masa yang menyenangkan, paling tidak sampai kami berumur 10 tahun. Selepas usia 10, Flav dan Antonella hanya tinggal menjadi kenangan ... kudengar kabarnya, Flav kabur dari rumah, dan semenjak saat itu Flav maupun Antonella tidak pernah lagi datang berkunjung ke sini setiap liburan. Flav yang dulu kerap menjadi biang rusuh dalam kelompok kami, sekarang sudah menjadi 'biang rusuh' dalam arti lain, dalam lingkup dan level yang jauh berbeda. Kurasa saat ini dia bahkan tidak akan mengenali kami, teman-temannya semasa kecil dulu. Pun dengan kami yang tidak lagi berselera mencari kabar tentang Flav, setelah mengetahui Flav sudah menjelma menjadi seorang mafioso. Bahkan sekarang sudah menjadi seorang bos besar! Dengan perangai Flav yang seperti itu, aku tidak heran kalau mereka menyebut Flav sebagai Roman Burgueno kedua. Padahal ayah Louis, Salvatore Cavallo, sudah dengan sengaja menjauhkan tampuk kepemimpinan keluarga dari tangan buas Flav. Entah bagaimana ke depannya nasib keluarga yang sempat dipimpin Salvatore Cavallo itu. Ah. Sudahlah. Tidak ada hubungannya denganku.

Yeah ... walaupun sebenarnya Flav masih sepupu dengan Anja. Mungkin ada baiknya aku tidak terlalu apatis seperti ini? For old time's sake?

"Lalu bagaimana dengan ayahmu, Darren?" tanya Daniel tiba-tiba. "Apakah beliau sesantai ayah Louis?"

"Begitulah," jawabku. "Ayahku menghabiskan waktu dengan memancing. Kurasa memang itu hobinya sejak dulu. Tapi jujur, aku lebih senang ketika ayah masih memimpin klan. Terlihat punya 'power' yang tidak semua orang bisa miliki. Ayah juga royal padaku. Aku jadi punya banyak modal untuk bersenang-senang di klub."

"Kau masih rajin klubbing, eh?" tanya Pierre.

"Tentu! Bersenang-senang adalah kewajiban untukku!"

Pierre menggeleng-gelengkan kepala. "Dan kau masih bermain-main seperti dulu? Mendekati wanita paling hot di klub, lalu mengajaknya tidur?"

"Kau!" Aku menjentikkan jariku. "Memang benar-benar sahabat yang mengenalku luar dalam, Pierre. Jangan katakan apa pun pada Anja, oke? Kalau dia tahu, dia ngambek, aku yang bingung!" cerocosku sambil terbahak.

Kulihat Louis dan Daniel menggeleng-gelengkan kepala dan melengos. Heey, ada masalah apa?!

Pierre mencondongkan badannya ke arahku, lalu menatapku tepat di mata. "Dengar, Darren. Bukannya aku ingin ikut campur urusanmu, dan bukannya aku berusaha mengguruimu, tapi kurasa kau harus menghentikan hobimu yang satu itu."

"Ah! Kurasa aku tahu apa maksud perkataanmu," ujarku bosan.

"Kau tahu apa maksudku, maka berhentilah berbuat seperti itu. Kau tidak lihat cincin yang setiap hari melingkar di jarimu?"

"Ini hanya cincin!" sahutku sewot. 

"Maksud Pierre adalah," sahut Louis cepat. "Kau sudah berkomitmen dengan Anja, jangan malah mengkhianati gadis itu dan pergi menebar benih pada wanita-wanita lain! Cincin itu bentuk komitmenmu dengannya. Kau ini tolol, hal seperti itu saja mesti diberitahu?"

"Hmm." Aku menghela nafas panjang. "Mungkin sesekali ada baiknya aku mengajak Anja threesome." 

Sudah kuduga, Pierre dan Louis terpancing omonganku barusan. Haha, lihat, lihat! Wajah mereka seperti cacing kepanasan!

Lucas buru-buru menengahi, katanya, "Sudah, sudah. Darren, kita semua tahu kau hanya bercanda. Jangan macam-macam dengan Anja, atau Pierre akan mengejarmu sampai ke ujung dunia untuk menendang pantatmu."

Aku mengulum senyum sambil mengangkat tangan. "Oke. Oke. Kuturuti perkataanmu, asal kau berjanji padaku satu hal, Pierre."

Pierre menatapku dengan pandangan bertanya.

"Kau pasti selalu berpikir aku adalah keparat yang maniak, tapi aku sebenarnya sama sekali tidak seperti itu. Anja menempati prioritas utama dalam hidupku! Berapa tahun kami berhubungan, kau masih saja menyimpan perasaan terhadapnya? Teman macam apa kau? Segeralah move on, jangan berharap pada sesuatu yang kau tahu tidak mungkin!"

Pierre salah tingkah. "Sejauh aku tidak mengganggu hubungan kalian, kurasa tidak masalah. Tapi baiklah, kuturuti juga permintaanmu. Kuharap kau benar-benar menepati perkataanmu, Darren."

"Percayalah padaku, sobat! Aku berani jamin Anja kelak akan menjadi seorang istri yang sangat beruntung karena bersuamikan seorang pria sepertiku!" ujarku percaya diri.

"Baguslah, kuharap itu semua benar."

"Hey Pierre," panggil Daniel. "Benarkah ayahmu mengacak-acak bisnis Roman Burgueno di sini? Tidakkah itu berarti menabuh genderang perang dengan Roman?"

Wah ... pembicaraan mulai serius.

PIerre diam, tidak menjawab.

Malah Louis yang menyahut, "Tentu saja harus diacak-acak! Daniel, kau tidak tahu bisnis pelelangan macam apa yang dimiliki Roman itu? Bukan cuma sekedar pelelangan barang antik, tapi juga mereka melelang wanita-wanita muda!"

Mata Daniel membesar. "Kau bercanda ... melelang wanita??" tanyanya.

"Ya! Mereka menculik gadis-gadis untuk kemudian dilelang! Bisnis kotor seperti itu, amoral! Sudah sepantasnya Francois membereskan itu semua," terang Louis.

"Yang kukhawatirkan," sahut Lucas tenang. "Adalah Mauritio Fleiss tidak mendukung gerakan Francois, dan lebih memilih untuk menjilat pantat Roman. Jika seperti itu kejadiannya, ayahmu bermain sendiri, Pierre."

Pierre menggeleng. "Ayah tidak akan pernah bermain sendiri. Aku selalu di pihaknya," ucapnya pasti.

"Kau jangan anggap enteng Roman," kata Daniel.

"Aku tidak menganggap enteng siapa pun," jawab Pierre. "Buatku, barang siapa berdiri di pihak yang memperjuangkan kebenaran, tidak akan pernah ada kata sia-sia baginya. Semua yang diperjuangkannya pasti berhasil baik," lanjutnya.

Lucas, mengangguk, melebarkan senyumannya.

Ada yang ingin jadi pahlawan .... Aku mengangkat bahu sambil bersiul kecil, tidak perlu untuk berkomentar.

"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk ... pada kita semua," ujar Daniel. "Terlebih, aku tidak ingin terjadi apa pun pada Jeanna."

Pierre menepuk-nepuk bahu Daniel. "Jeanna pasti aman. Ada aku. Dan ada kau juga, yang pasti akan melakukan apa pun untuk melindungi adikku, kan?"

Daniel mengangguk, dan melempar senyum pada Pierre. "Tentu. Kau bisa percaya padaku."

Daniel. Jeanna. Setiap kali aku melihat pasangan ini, aku selalu bertanya-tanya dalam hati, seperti apa mereka di atas ranjang. Jeanna, jelas tipe wanita pasif. Daniel? Kurasa dia pasif juga. Bagaimana mungkin sesama insan pasif bisa membuat cinta yang bergairah?? Betapa membosankannya hubungan semacam itu, ya kan?

Ah. Tapi semua itu bukan urusanku.


28 - Reunion

Sore itu di Boffalo. Klon Reeve hendak pulang usai menyelesaikan urusannya di sebuah gedung pertemuan, dengan dikawal beberapa anak buahnya. Kira-kira 10 meter di depannya, terlihat seorang wanita setengah baya tampak kerepotan membawa barang belanjaannya. Wanita itu berjalan pincang, dengan mudah klon Reeve menduga wanita itu tidak akan kuat mengangkat banyak barang. Benarlah, wanita itu menjatuhkan barang belanjaannya.

Sebagai orang yang tidak pernah acuh, klon Reeve sebenarnya tidak ingin ambil peduli lebih jauh. Biar saja, ada orang-orang lain di sekitar wanita itu, kenapa harus dirinya yang membantu?

Tapi entah kenapa, klon Reeve membatalkan niatnya memasuki mobil, malahan langsung menghampiri wanita setengah baya itu yang sekarang tampak makin kerepotan memunguti barang belanjaannya yang terjatuh.

"Boleh saya bantu, Bu?" sapa klon Reeve sopan. Dia langsung berjongkok dan dengan cekatan memunguti barang belanjaan wanita itu. "Kenapa berbelanja sendirian, Bu? Anda hendak ke mana? Biar saya antarkan, Anda pasti repot harus berjalan jauh membawa semua barang ini." Klon Reeve agak sedikit terkejut menyadari sisi positif dari dirinya yang selama ini tidak pernah terkuak.

"Oh ... anak muda, terima kasih banyak, ya. Tapi saya masih kuat kok."

"Saya rasa barang belanjaan Anda ini sangat berat, jangan kuatir atau takut, Bu, saya tidak bermaksud jahat. Ini, barang belanjaan Anda," kata klon Reeve sambil menyerahkan kantung belanjaan kepada wanita setengah baya itu.

"Terima kasih, Nak." Wanita itu menengadah menatap wajah klon Reeve, dan seketika senyum di wajah wanita itu menghilang, berubah menjadi sorot wajah kebingungan. "K-kamu ...?"

Klon Reeve pun seakan terpaku begitu beradu pandang dengan wanita yang ada di depannya. Dia merasa sudah pernah mengenal wanita itu, berpuluh tahun sebelumnya. Dia merasa akrab dengan wajah wanita itu ... wajah yang familiar. Sepersekian detik kemudian klon Reeve menyadari bahwa wanita yang ada di depannya itu tak lain adalah ibu kandung Reeve Galante sendiri, ibunya.

".... Kamu ...." Wanita itu terbata. Tampaknya ia juga mengenali wajah klon Reeve. Wajah yang telah absen dalam hidupnya selama lebih dari 10 tahun. ".... Siapa namamu, Nak??" tanyanya gemetar sambil menggenggam pergelangan tangan Klon Reeve.

Klon Reeve berusaha menjaga ekspresi wajahnya yang masih terkejut. "Nama saya, Reeve Galante. Apakah Anda Ny. Corinna Galante?" Dia balik bertanya.

Wanita itu, yang memang benar bernama Corinna, berseru lirih. "Ohhh ... Reeve ... REEVE .... Benarkah ini kamu ...? Benarkah, apakah ini hanya khayalanku??" tanyanya sambil mengusap wajah dan rambut Klon Reeve.

Klon Reeve menepis pelan tangan Corinna dari wajahnya, lalu membantunya berdiri. "Kita cari tempat yang enak untuk ngobrol, Mama," ajaknya sambil merangkul Corinna dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Corinna, Klon Reeve sama sekali tidak berbicara, dia juga tidak menoleh ketika Corinna terus-terusan menatap wajahnya. Dia tahu sang ibu tengah memerhatikan dirinya, memerhatikan wajahnya dari samping. 

Corinna seakan tak puas memandangi mata, hidung, bibir, leher, rambut Reeve ... ia benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan putra satu-satunya yang menghilang selama lebih dari 10 tahun itu di sini. Ia begitu tidak sabar ingin melepaskan rindu pada anaknya itu. Ingin mencari tahu bagaimana kabarnya selama ini. Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Begitu banyak pertanyaan di kepalanya, namun tak satupun terucap.


Sesampainya di rumah Corinna, wanita itu langsung menyuruh Reeve duduk di ruang makan. "Ayo, Sayang, duduklah. Akan Mama buatkan teh untukmu. Kamu mau makan? Mau makan apa? Lebih baik Mama masak saja dulu sekarang, ya?"

Klon Reeve menahan tangan Corinna. "Kenapa Mama gugup? Relax Ma, kita masih punya banyak waktu."

"Ohh ... iya. Iya. Maafkan, Mama memang gugup ... mama gugup karena senang bisa bertemu lagi dengan kamu ...! Sebentar, ya?" Corinna mengambil 2 buah cangkir dan menuangkan teh ke dalam cangkir secara tergesa-gesa.

Menyadari kegugupan Corinna tidak juga berkurang, Klon Reeve turun tangan membantu sang ibu menuangkan teh. "Sudahlah Ma, biar aku saja. Mama duduklah."

"Baiklah ...." Corinna menarik kursi untuknya, lalu duduk. "Tapi, bagaimana dengan teman-temanmu itu? Mereka masih di luar, kenapa tidak kamu ajak masuk ke dalam, mereka juga pasti haus."

Klon Reeve menyuguhkan secangkir teh untuk Corinna, dan untuk dirinya sendiri. Dia menarik kursi di samping Corinna, lalu duduk. "Mereka tidak haus, Mama tidak perlu pikirkan mereka."

"Oh, begitukah?" Corinna menatap mata Reeve dalam-dalam.

Klon Reeve melemparkan sebuah senyuman.

Corinna membalas senyum Reeve dengan hangat. Ia tampak sedikit tenang sekarang.

"Jadi ... bagaimana kabar Mama?"

"Tidak, kamu harus jawab pertanyaan Mama dulu ... bagaimana kabar kamu? Ke mana saja kamu selama ini ...?" Corinna menggenggam tangan Klon Reeve.

"Seperti yang Mama bisa lihat, aku baik-baik saja. Mama sendiri, tadi kulihat Mama sepertinya kesulitan berjalan."

"Oh ... iya ... bukan masalah berarti, Reeve. Mungkin Mama cuma kecapekan. Mama juga baik-baik saja, kok."

"Lalu mana suami baru Mama? Kalian menikah, bukan?"

Corinna menghela nafas panjang. "Pernikahanku yang kedua ... tidak lebih baik dari pernikahanku dengan papamu," jawabnya lirih.

"Jadi Mama sekarang hidup sendiri?"

Corinna tersenyum. "Mama sudah terbiasa."

"Mama menyesali perceraian Mama dengan Papa?"

Corinna terdiam lama. "Bagaimana kabar papamu?"

Klon Reeve mengangkat bahu. "Terakhir bertemu dengannya ketika umurku 11 tahun, Ma."

Corinna lama menatap Reeve. Ia berusaha mencari tahu apa yang ada di dalam pikiran Reeve. ".... Kamu tentu sangat marah dan kecewa pada kami, ya ...? Kamu tidak tahan dengan kelakuan kami dulu ... makanya kamu pergi dari rumah? Sebegitu besarkah dosa Mama padamu ...?"

Klon Reeve terdiam.

"Maafkan Mama, Reeve ...?"

Klon Reeve menghela nafas panjang. "Itu sudah lama lewat. Kita cari pembicaraan lain? Bagaimana kalau Mama tinggal bersama denganku? Daripada Mama harus tinggal sendirian di rumah ini, tidak ada yang mengawasi dan menjaga Mama."

Corinna tersenyum. "Mama lebih baik di sini. Kamu tidak perlu kuatir, Mama masih bisa mengurus diri mama sendiri."

"Kenapa, Mama takut tinggal sama aku?"

"Tidak. Tapi Mama tahu kamu pasti punya kehidupan sendiri, Mama tidak ingin mengganggu kamu."

"Apa itu alasannya?"

".... Reeve ... apa kamu ........" Corinna tidak mampu menyelesaikan pertanyaannya.

"Apa?" Reeve menyesap tehnya.

Corinna menggeleng, urung melanjutkan. "By the way kamu kerja dimana sekarang, Reeve?" tanyanya.

"Aku biasa beredar di Manhatten, kalau Mama suatu saat mau mengunjungiku, aku akan berikan alamatku. Tapi mungkin sebaiknya Mama telepon dulu sebelum datang, aku agak sibuk belakangan ini, jadi harus atur waktu."

"Kamu kerja? Di mana, di bagian apa?"

Klon Reeve tersenyum. "Mama sudah tahu. Mama sudah tahu dari sejak kita pertama ketemu tadi. Yah, memang seperti itulah keadaannya."

Corinna tertegun.

"Ayolah Ma, jangan pandangi aku seperti itu. Mama harus lihat, betapa aku menikmati hidupku! Aku makmur sekarang, Mama tidak perlu kuatir, aku pasti akan baik-baik saja."

"Kamu menjadi anggota ... mafia .... Tidakkah kamu merasa takut, menjadi bagian dari mereka?" Corinna bertanya ragu.

"Untuk apa takut? Kalau takut, aku tidak akan bertahan selama ini, dan tidak akan mengaku padamu bahwa aku menikmati hidup," jawab Klon Reeve santai.

Corinna tidak tahu bagaimana harus merespon.

"Lalu, Mama yakin tidak ingin tinggal bersama denganku?" Klon Reeve bertanya sekali lagi.

Corinna tersenyum, menggeleng.

"Kalau begitu aku akan sering mampir ke sini, dan biayai hidup Mama. Jangan ditolak. Oke?"

Corinna hanya memandangi Reeve yang terus mengajaknya bicara. Dalam hati ia menangis, mengetahui anak kesayangannya yang baru saja bertemu setelah lebih dari 10 tahun berpisah, ternyata bukan orang biasa. Hal itu terjadi akibat ulahnya sendiri di masa lalu, ia menyadari. Ia berteriak memanggil nama Michael Galante, berharap Michael bisa mendengarnya dan tahu bagaimana keadaan Reeve sekarang. Buah hati mereka bukan lagi bocah laki-laki polos yang selalu haus akan kasih sayang kedua orang tuanya.


29 - Rayuan Sang Klon

Pada malam yang sama Camila baru saja selesai berbelanja di Tops Friendly Market, tak jauh dari Hampton Suites tempatnya menginap. Dengan santai dan tanpa firasat apa pun Camila memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil. Ia baru akan membuka kenop pintu depan ketika dirasakannya sebuah benda tumpul dan keras menekan punggungnya dari belakang. 

"Duduklah di jok belakang, Nona cantik. Biarkan aku yang menjadi supirmu malam ini." Terdengar suara berat seorang pria tepat di telinga Camila.

Camila menahan nafas. Dari sudut mata dan dari hembusan nafas yang menerpa pori-pori tengkuknya ia bisa memperkirakan hanya ada satu orang pria yang sedang mencoba mengintimidasinya.

Dengan gerak refleks ia mengayunkan tangan, namun pria asing itu tangkas menangkap tangannya. 

"Jangan macam-macam. Atau revolver yang menempel di punggungmu ini akan menyalak," bisiknya.

Detak jantung semakin cepat, dan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Tapi Camila tetap berupaya agar dapat berpikir dengan tenang. 

"Kurasa kau salah menjadikanku sebagai target ...." Camila menurunkan volume suaranya. "Aku yakin kau akan menyesal setelah mengetahui dengan siapa kau berurusan .... Lebih baik lepaskan aku sekarang."

Terdengar tawa membahana menanggapi gertakan Camila. "Memang kau bisa apa sekarang, ha? Kau lebih takut yang mana, Nona cantik? Dirampok? Diculik? Diperkosa? Atau dibunuh? Tenang saja, kalau kau mau bekerja sama, aku sama sekali tidak akan membuat kulitmu yang halus tergores sedikit pun!"

Di mana kau sekarang, Reeve brengsek!! Bukankah kau seharusnya menjagaku??? umpat Camila dalam hati.

"Infamita! Memalukan!" Camila memekik. "Kau cuma sampah tidak berguna yang hanya berani pada wanita yang lemah!"

Pria asing itu lantas terbahak, cengkeramannya mengendur, dan Camila melepaskan diri darinya. "Cami! Ini aku!" serunya.

Mendengar suara yang akrab di telinganya, dan mendengar pria itu memanggil namanya, Camila tanpa pikir panjang melepaskan topi yang dikenakan pria itu.

"Kevin!" pekik Camila girang sambil memeluk pria itu yang ternyata adalah sang adik tersayang.

"Hai, Cam. Kau kaget, ha?" Kevin membalas pelukan Camila dengan hangat.

"Dasar kau idiot!" Camila meninju perut Kevin. "Teganya kau berbuat seperti itu pada kakakmu!" serunya sambil meninju perut Kevin sekali lagi.

Kevin mengaduh. "Hei, sudah! Aku kan hanya bercanda! Aku ingin menguji seberapa kuat jantungmu!"

Camila melengos. "Adik durhaka!"

"Sudahlah." Kevin melontarkan senyum lebarnya yang hangat. "Apa yang kau lakukan di sini, Kak? Malam-malam, sendirian? Mana bodyguardmu? Tolol sekali dia membiarkanmu berkeliaran sendirian!"

"Reeve ada urusan bisnis di sini, dan aku hanya pergi untuk membeli tampon, entah kenapa malah bertemu denganmu. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?"

"Bagus kau bertemu denganku. Kalau kau ditemukan oleh yang lain, mungkin kau bakalan habis dirampok! Ayolah, masuk ke dalam mobil. Biar aku antar kau," ujar Kevin sambil melompat masuk ke dalam mobil Camila.

"Jadi, apa yang kau lakukan di sini, Kev?" tanya Camila saat sudah duduk di samping Kevin, membiarkan Kevin mengendarai mobilnya.

Kevin mendengus. "Menyambung hidup, tentu saja."

"Maksudmu?"

"Hei! Kau sendiri yang berkata padaku bahwa aku harus mengejar cita-cita, impian dan kehendakku sendiri!" jawab Kevin.

"Kau ... kabur dari rumah?"

Kevin tertawa sinis. "Wayne memergokiku sedang merayu pelacur di depan kasino. Dia langsung mengusirku dari rumah. Kebetulan! Aku juga sudah tidak betah berlindung di balik ketiak Jaksa Castellano!"

Camila menghela nafas panjang. "Tapi memang sudah saatnya kau keluar dari rumah, Kev. Hanya entah kenapa harus seperti itu kejadiannya," katanya.

"Tidak penting bagaimana kejadiannya, yang penting kurasa aku sekarang sudah berada di jalur yang benar. Tanyakan pada bodyguardmu, apakah ada lowongan kerja untukku?" Kevin bertanya sambil melirik sang kakak.

Camila terbelalak menatap Kevin.

"Kenapa? Apa salahnya?"

"Kalau kupikir ... jika memang jalan itu jalan hidupmu, kamu jangan sekali-kali masuk ke dalam kelompok Burgueno. Aku tidak ingin membahasnya, tapi kupikir lebih baik jangan ... untuk satu dan lain hal. Lupakah kau, kau masih punya hubungan darah dengan salah satu kepala keluarga? Paman Maurice. Kurasa dia akan dengan senang hati menyambutmu," tutur Camila.

"Oh. Kupikir dia akan menyangka aku sebagai mata-mata Wayne Castellano," sahut Kevin.

"Tentu saja tidak akan seperti itu kalau kau menceritakan semuanya, bodoh."

Kevin mengangkat bahu. "Lihat saja nanti, deh."

Beberapa saat lamanya Camila memandangi Kevin, meneliti wajah dan badan Kevin secara seksama. Kevin terlihat kurus, agak dekil, dengan berbagai bentuk luka goresan menghiasi di sana sini, tapi sinar mata Kevin yang hangat masih tetap sama seperti ketika Camila terakhir kali bersua dengannya.

"Aku tahu aku tampan! Tapi jangan memerhatikanku seperti itu terus, Cam," celetuk Kevin.

"Kau ini! Berapa kali kau mandi dalam sehari hah? Baumu busuk seperti mayat!" seru Camila, tangannya mendarat ringan di pipi Kevin.

"Aku tidak tahu bau mayat seperti apa," sahut Kevin, mengendus bau badannya sendiri. "Aku hanya melewatkan dua hari tidak mandi, jangan terlalu dibesar-besarkan, ah!"

"Siapa yang akan tertarik pada pria bau, tidak peduli setampan apa pun wajahnya! Jorok sekali kau ini, astaga! Jangan sebut kau adikku kalau kau masih sebau ini!"

"Oh, yeah, kalau aku sudah bergelimang harta aku janji aku akan mandi lima kali sehari dan pakai parfum paling mahal!"

"Sesukamulah! Lalu, ada kabar apa lagi darimu? Ah, tapi aku tidak ingin dengar cerita detail darimu mengenai apa yang kau lakukan sehari-hari," ujar Camila.

"Lalu apa yang bisa dibicarakan? Kau ini rewel sekali, tidak berubah!"

Camila memutar bola mata. "Hmm ... pacar? Ah ... Ashley, bagaimana kabar pacarmu Ashley?" tanyanya.

Kevin mendengus sinis. "Tuan Putri Ashley, mana mungkin mau bersanding dengan preman sepertiku? Dibandingkan mengurusi tuan putri seperti itu, lebih baik aku bersenang-senang dengan pelacur," jawabnya.

Camila terdiam. "Kau jadi sinis .... Bukankah dulu kamu naksir sekali pada gadis itu?"

"Ya. Tapi itu Kevin yang dulu, yang menjadi boneka tali Wayne Castellano. Sebelum aku sadar bahwa dunia ini sangat luas. Banyak hal yang bisa dipelajari, dan banyak wanita menarik yang bisa kutiduri. Aku sedang menjalani hidupku sendiri, dan aku menikmatinya!" celoteh Kevin bersemangat.

Suara dering ponsel Camila membuat keduanya terdiam. 

"Halo," Camila menjawab panggilan ponselnya.

"Di mana kamu sekarang, Camila?" Terdengar suara Klon Reeve dari seberang line telepon.

"Aku dalam perjalanan kembali ke hotel."

"Ah. Hati-hati di jalan."

"Ya, tentu."

Kevin mengerutkan kening melihat Camila menyimpan ponselnya kembali di dalam tas. "Sudah? Seperti itu saja obrolan kalian?" tanyanya penasaran.

Camila melirik Kevin. "Maksudnya?"

"Yeaa, obrolan kalian sama sekali tidak tampak seperti obrolan sepasang kekasih. Dingin sekali! Kalau kau tidak bahagia dengannya, putus saja!" komentar Kevin.

"Seenaknya saja kau bicara!" protes Camila. "Aku dan Reeve saling mencintai!"

"Lalu? Sama sekali tidak terlihat seperti itu."

Belakangan ini Camila memang menjaga jarak dari Klon Reeve. Sebab sedikit banyak ia merasa tidak nyaman dengan keberadaan kembaran Reeve yang tampaknya berminat mendekatinya. "Yang tadi bicara denganku bukan Reeve ... melainkan klonnya," jawabnya kemudian.

"Klon??" Kevin tidak menyangkal rasa terkejut yang dirasakannya. Setelah terdiam sekian lama dia berkata, "Luar biasa. Kau bisa threesome dengan Reeve dan klonnya, dong?"

Camila terperangah menatap Kevin.

"Itu akan jadi pengalaman yang luar biasa menyenangkan! Jarang-jarang ada kasus sepertimu, Cam! Dapat pacar double! Serius!"

Ocehan Kevin berubah menjadi teriak kesakitan karena Camila menjewer kuping Kevin kuat-kuat.

"Jangan salah ya! Aku tidak mungkin tidur dengan robot! Mengerikan!" protes Camila.

"Ah. Kalau aku jadi kau, kapan lagi ada kesempatan main dengan robot? Toh kurasa sensasinya sama seperti ketika kau menggunakan boneka seks ...." Kevin berteriak kesakitan lantaran Camila menjewernya sekali lagi.

"Hentikan Kev, aku tidak suka," ujar Camila.

"Oke ... oke!" Kevin terbahak-bahak.

Mereka pun tiba di depan hotel tempat Camila menginap. 

"Kau tahu, Kev? Kita harus tetap keep in touch, aku tidak ingin hilang kontak denganmu. Catat nomormu sekarang," pinta Camila seraya menyerahkan ponsel pada adiknya. 

Kevin tampak senang hati menuruti permintaan Camila. Dia menelepon nomor miliknya agar nomor Camila tertinggal di ponselnya, lalu mengembalikan ponsel tersebut.

"Hubungi aku sesering mungkin, oke? Thanks sudah antar aku sampai di sini." Camila menyunggingkan senyum manisnya pada Kevin.

Kevin membalas senyum Camila. "Tentu. Tentu. Aku juga senang bertemu lagi denganmu, Cam. Kamulah satu-satunya wanita dalam hidupku yang tidak akan tergantikan tempatnya oleh siapa pun," akunya.

Camila menatap Kevin dengan trenyuh. "Oh, Kevin ... kamu adik yang paling aku sayang," ujarnya sembari merenggangkan tangan dan membiarkan Kevin memeluknya dengan erat. 

Baru sedetik berselang Camila buru-buru menjauhkan diri dari Kevin. "Demi Tuhan, kau benar-benar bau! Mandilah!"

Kevin menyeringai lebar.


Klon Reeve mendengar Camila masuk ke dalam unit penthouse. "Kamu dari mana saja, Cami?" tanyanya.

Camila menjawab tanpa menoleh. "Belanja barang-barang keperluanku."

Klon Reeve mencegat langkah Camila. "Kan kamu bisa menyuruh orang-orangku untuk pergi berbelanja. Di luar sana rawan."

"Sudahlah! Aku juga ingin jalan-jalan sedikit ...."

Klon Reeve menghela nafas panjang. "Baiklah."

"Bisa menyingkir? Aku ingin masuk ke kamar."

Klon Reeve memberi jalan pada Camila tanpa banyak berkomentar. Semenjak hari pertama mereka menginap di unit yang sama, Camila seakan menjaga jarak dengannya. Ia selalu menjauh ketika Klon Reeve berusaha mendekatinya. 

Tapi semua itu akan berakhir sekarang. Camila harus bisa dia dekati, malam ini juga.

Camila baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut ketika didengarnya Klon Reeve memanggil namanya dari ruang tengah. Dengan sedikit enggan ia keluar dari kamar dan menjawab panggilan Klon Reeve. Entah kenapa sejak tiba di Boffalo, Camila merasa semakin tidak nyaman jika sedang bertatap muka dengan klon Reeve. Perasaan tidak nyaman yang timbul karena dalam sosok diri Klon Reeve terdapat fisik dan karakter Reeve Galante yang dicintainya, tapi dalam bentuk robot. Ia tidak mau jika suatu saat dirinya terbuai akan kemiripan si klon dengan kekasihnya membuatnya jadi lupa daratan dan membiarkan dirinya dijamah oleh sesuatu yang bukan manusia .... Membayangkannya saja membuat Camila bergidik. 

Sempat beberapa kali Camila mengadu pada Reeve bahwa ia tidak senang dengan keberadaan Klon Reeve, tapi Reeve tidak pernah menanggapinya dengan serius. Bagi Reeve, kehadiran klon dirinya sangat membantu kinerjanya, selain itu pula Reeve sudah membuang uang begitu banyak untuk menghadirkan sang klon. Rasanya agak tidak mungkin Reeve membuang begitu saja asistennya selama ini.

"Ada apa, Reeve?" tanya Camila begitu keluar dari kamar. Dilihatnya Klon Reeve sedang duduk santai di sofa, sambil memegang segelas cocktail.

Klon Reeve melempar senyum. "Minumlah bersamaku, Cami. Urusanku di sini sudah berhasil dengan sukses, aku ingin merayakannya walaupun kecil-kecilan."

"Urusanmu sudah selesai di sini? Lalu besok kita pulang?" Camila duduk di dekat klon Reeve.

"Besok boleh, kalau itu maumu. Kamu tidak ingin jalan-jalan kemana, mungkin? Aku bisa menemanimu kalau kamu mau."

"Ah. Aku bosan di sini. Aku pikir di sini menarik, tapi ternyata biasa saja. Jadi, lebih baik pulang saja. Ya?"

"Tentu, kita bisa pulang besok."

Klon Reeve mengambil segelas cocktail dan memberikannya pada Camila. "Ayo bersulang! Untuk kejayaan seratus tahun lamanya!"

Camila mengangkat gelasnya dan bersulang dengan Klon Reeve. "Untuk kejayaan seratus tahun," ulangnya.

Klon Reeve memerhatikan dengan seksama alkohol dalam gelas cocktail yang secara perlahan namun pasti tertelan oleh Camila. Klon Reeve tahu pasti Camila tidak kuat minum, dan Klon Reeve ingin memanfaatkan keadaan Camila yang seperti itu.

Dan benar saja, baru satu gelas cocktail tertelan oleh Camila, wajah gadis itu langsung memerah. Klon Reeve mendekati Camila, lalu menyingkirkan gelas cocktail dari tangannya. Dibelainya perlahan pipi dan leher Camila, terhirup aroma wangi segar dari rambut dan tubuh Camila .... Tentu saja, Camila baru saja selesai mandi, tubuhnya hanya terbalut selembar kimono handuk. Lekuk tubuh Camila yang menggairahkan terlihat mengintip-intip dari balik kimono, membuat Klon Reeve menelan ludah. Tidak akan disia-siakannya kesempatan yang terbuka lebar padanya saat ini!

Maka diraihnya bibir ranum Camila dengan bibirnya sendiri, dan sesuai harapannya, Camila meresponnya dengan positif. Mereka saling memagut untuk beberapa saat ... dan klon Reeve sudah merasa sampai ke ubun-ubun ketika saraf-saraf pada kulitnya bersentuhan dengan kulit halus Camila yang tersembunyi di balik kimono.

Dapat didengarnya Camila mendesah memanggil namanya, membuat klon Reeve semakin tidak ragu melancarkan rayuan mautnya. Camila membelai pipi Klon Reeve, hendak mengajaknya melakukan cumbuan panjang yang memabukkan lagi ... tapi ... Camila menyadari ada yang aneh dari pipi yang sedang dibelainya itu. 

Di manakah bekas luka memanjang di pipi yang biasanya Camila telusuri dengan jemarinya tatkala dirinya dan Reeve bercinta?

Bekas luka yang sudah menjadi ciri khas seorang Reeve Galante?

Sekali lagi dengan penuh perasaan Camila membelai pipi Klon Reeve, berharap dapat menemukan bekas luka yang dirindukan oleh tiap ujung saraf di jemari-jemari lentiknya.

Dan bekas luka itu memang tidak ada. 

Dan demi bekas luka yang tidak ada pada tempatnya, Camila mengumpulkan segenap kekuatan dan kesadarannya. Didorongnya Klon Reeve yang keheranan akan perubahan sikapnya, lalu berusaha bangkit berdiri, dan mengunci diri di dalam kamar.

Klon Reeve masih terpana tidak menyangka Camila benar-benar menolak dirinya. Dengan gemas dia menarik-narik rambut sambil melontarkan rentetan umpatan dan cacian. Padahal sudah tinggal sedikit lagi tujuannya tercapai! Apakah sedemikian besar alergi Camila pada dirinya??


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.