TC (30-34) | INA
30 - Red Sauce (1)
"Cantik ... Cantik ...," gumam Olivia Burgueno terkagum-kagum mencermati setiap mili detail gelang emas putih bertatahkan saphire yang tengah dipegangnya.
Ada kira-kira setengah jam lebih Olive menimbang-nimbang gelang seperti apa yang benar-benar diinginkannya. Hari itu tidak seperti biasa Olive berjalan-jalan dan berbelanja di Mall Bay Plaza di Brinx sambil mengajak anaknya, Christopher. Sementara Christopher asyik bermain-main di Billy Beez di lantai 3, Olive sibuk memborong kalung, gelang dan segala rupa perhiasan indah yang memang digilainya semenjak dahulu.
Menjadi istri seorang Roman Burgueno bukanlah perkara mudah, demikian anggapan Olive selama ini. Hari baru dimulai dengan quickie sebelum dan sesudah Roman pergi mandi. Lalu memastikan kepala pelayan sudah menyiapkan omelette dan bacon favorit Roman sudah siap tersaji di atas meja. Kegiatan berikutnya membawa Christopher ke playgroup hingga siang tiba. Sementara Christopher di sekolah, Olive kerap berjalan-jalan melepas penat di shopping center favoritnya. Setelah menjemput Christopher dari sekolah dan menidurkannya, Olive pergi ke salon atau spa, dengan telaten merawat setiap centi tubuhnya. Malam harinya, masih harus melayani Roman dengan nafsunya yang meledak-ledak dan tanpa foreplay.
Intinya, bisa dibilang Olive hanya memiliki waktu dari malam hingga pagi saja, waktu berkualitas yang bisa dihabiskannya bersama dengan Roman yang sangat dicintainya. Selain saat-saat itu, Roman seakan tidak bisa diganggu. Maka untuk membunuh rasa bosan dan kesepiannya, tidak mengherankan jika Olive mencari kesenangan di tempat lain, seperti berbelanja atau bersolek di salon.
Lama berselang, akhirnya Olive menjatuhkan pilihannya pada gelang emas putih berbatu emerald dan sapphire. Tapi rupanya Olive masih belum puas, Olive ingin mencari anting lagi dengan warna senada seperti gelang yang baru saja dibelinya itu. Tapi ... tunggu. Olive teringat bahwa ia harus menjemput Christopher di tempat bermain ... dan anak itu belum makan siang. Terdorong naluri keibuannya Olive pun keluar dari Swaravski tempatnya berbelanja perhiasan dan segera menuju ke lantai atas tempat bermain Christopher.
Langkah kakinya seketika terhenti ketika di depan tempat bermain ia melihat pengasuh Christopher berjalan menghampirinya dengan muka pucat pasi. Tidak ... tidak hanya pucat pasi. Olive melihat rasa bingung serta panik yang bercampur baur dari ekspresi wajah si pengasuh Christopher. Ada yang tidak beres .... Sekelebat pemikiran buruk langsung menghantuinya.
"Emma, ada apa? Mana Christopher?"
"Maaf! Maafkan saya, Nyonya ....," rintih si pengasuh Christopher sambil membungkukkan diri depan Olivia. "Saya lengah, Nyonya .... Maafkan saya ...!"
"Ada apa ini, Emma?? Lengah bagaimana maksudmu, katakan dengan jelas!" Olive mulai panik.
Rona wajah Emma si pengasuh semakin memucat seiring ucapannya yang terpatah-patah. "Saya ... sedang membelikan pop corn untuk Chris .... Tangan Chris saya pegang sejak awal ...! Sungguh, saya yakin Chris ada di samping saya ... Nyonya ... karena tangannya saya pegangi terus .... Tidak ada hitungan menit ketika saya membuka dompet untuk membayar .... Ketika saya menoleh, Chris ... Chris sudah tidak ada di samping saya! Saya langsung cari Chris, tapi sampai sekarang saya tidak bisa menemukannya, Nyonya .... Maafkan saya ...!"
"Itu mustahil!" pekik Olive. "Bagaimana bisa .... Masa dia bisa hilang di dalam ...!! Kamu yakin kamu sudah mencarinya dengan benar??"
Olive tanpa menunggu sahutan Emma si pengasuh langsung menerobos masuk ke dalam tempat bermain. Ada banyak orang di tempat bermain itu. Gerombolan anak sekolah, anak-anak kecil, serta orang dewasa yang menunggui anak-anak mereka bermain. Tidak seperti biasanya. Biasanya jika hari kerja seperti sekarang, tempat bermain itu tidak terlalu ramai. Tapi entah kenapa hari ini ratusan orang membuat sesak tempat itu. Pasti Christopher masih ada di sini! batin Olive. Dia pasti tersempil di antara sekian banyak orang yang memadati tempat ini!
Nyalang binar mata Olive memerhatikan satu per satu orang yang ada di situ, berharap bisa menemukan pangeran kecilnya. Dengan penuh harap bisa menemukan sang pangeran kecilnya terselip di antara kumpulan anak-anak yang asyik bermain mandi bola. Ia sangat yakin Christopher masih ada di dalam arena bermain, karena Olive tahu tempat ini aman! Masing-masing anak yang masuk dipasangi gelang dengan barcode dan nomor ID yang cocok dengan orang dewasa yang menemani mereka, dan anak-anak itu tidak bisa keluar dari tempat ini tanpa orang yang menemani mereka sejak awal!
Namun apa mau dikata, Olive tidak jua berhasil menemukan Christopher.
Olivia sudah mengitari dan menerobos kepadatan pengunjung tempat bermain itu sebanyak tiga kali, tapi tidak kunjung berhasil menemukan Christopher. Jantungnya berdebar dengan kencang, keringat dingin terus membasahi sekujur tubuh Olive. Wajahnya semakin memucat tatkala pihak keamanan shopping center yang akhirnya ikut turun tangan tidak berhasil juga menemukan Christophernya. Rasa takut dan khawatir semakin menyangat ... hingga ia tidak kuasa lagi menahan air mata yang menyeruak ingin keluar.
***
"Vodka, huh?" komentar Reeve singkat seraya memerhatikan Flav menuangkan vodka ke dalam gelasnya.
"Eh, ini favoritku sekarang," sahut Flav dengan cuek. "Kenapa? Kau tidak sanggup minum ini? Biar kuganti dengan susu strawberry!"
"Laknat kau."
Flav terbahak-bahak. "Siapa tahu kau sekarang berubah selera, Sinner!"
"Aku tidak seperti kau, gemar berubah selera. Kurasa kau seharusnya menjadi orang Ruzia, kau lebih cocok menjadi Ruzia daripada Iralia. Kau sama sekali tidak punya cita rasa seni tinggi seperti orang Iralia, kau tahu. Apalagi, lihat gayamu berpakaian! Sama sekali tidak mencerminkan nama Iraliamu."
Flav mendengus. "Lalu apa? Rupanya kau sekarang polisi fashion, eh? Atau polisi selera? Atau polisi mindset??"
Reeve menahan tawa. "Kalau kau bisa bicara seenak pusarmu, tentu aku juga bisa!"
"Hei, hei, aku bermaksud baik, kawan! Kan kau tahu, aku baru saja memborong dua liter susu strawberry demi menyambut kedatangan kawan kecil kita!"
"Aku tahu, aku tahu." Reeve melengos. "Lalu mana kawan kecil kita itu? Kau yakin orang suruhanmu bisa menjalankan perintah dengan baik?"
Flav tersenyum tak acuh.
"Aku akan sangat senang jika orang suruhanmu itu ternyata tertangkap basah dan langsung dihadapkan pada Roman. Oh, senang sekali! Sekarang kepalaku jadi taruhannya. Sudah kukatakan lebih baik kau saja yang bergerak, kau malah menyuruh orang lain! Kau ini tolol, kepala susu!"
"Kau yang tolol. Lihatlah ke belakang!"
Reeve menoleh ke arah yang dimaksud Flav, dan melihat Christopher Burgueno digendong oleh seorang anak buah Flav. Christopher dibaringkan di atas sofa, rupanya anak itu dibius hingga tertidur, lalu pria yang membawa Christopher segera meninggalkan Christopher bersama dengan Flav dan Reeve.
"Tidak ada yang perlu kau cemaskan! Orang tadi, dia cukup tolol karena membuat kesalahan fatal. Kubuat sulit posisinya, dan tepat seperti yang kuinginkan, dia mengemis padaku supaya nyawanya tidak kuhilangkan," ujar Flav lalu meneguk vodkanya hingga tandas.
"Kau tahu dengan pasti, aku ini orang yang murah hati! Jadi kuberi dia kesempatan hidup, tapi dia harus melakukan sesuatu yang berguna untukku. Yeah! Seperti yang kau lihat sekarang, siapa yang terbaring di sofa itu. Kawan kecil kita yang berharga ... Pangeran Burgueno." Flav mendekati Christopher yang masih tertidur, dan mengamati wajahnya.
Flav mengernyit jijik. "Dia mirip sekali dengan ayahnya!"
"Dengar, Stone. Aku tidak yakin dengan orangmu tadi," ujar Reeve dengan suara datar.
"Nyawanya tidak berharga. Itu urusan mudah. Biar nanti kubereskan."
Reeve mengangguk. "Itu bagus."
***
Tubuh mungil itu terempas ke atas sofa dengan keras. Olivia yang malang.
Begitu mendengar putranya hilang di mall, Roman tanpa bicara sepatah kata pun langsung mendaratkan pukulan ke pipi istrinya sendiri. Pukulan itu demikian kerasnya hingga Olive terpelanting tidak berdaya ... ia hanya bisa menangis memohon belas kasihan Roman.
"Apa saja kerjamu, perempuan murahan?!" Roman berteriak lantang. "Apa sulitnya menjaga satu orang anak kecil?! Aku bertanya padamu apa sukarnya menjaga Christopher??! Bagaimana dia bisa sampai hilang, hah??!"
"Aku tidak tahu ... Sayang, maafkan aku ...," rintih Olive terbata-bata menahan sakit.
"Aku BERTANYA padamu, APA yang kamu LAKUKAN ketika Christopher hilang??!"
".... Aku ... aku mencari gelang ... di toko perhiasan langgananku ...."
"Cari gelang?! Huh?! Kamu bilang kamu cari gelang?? Nyawa anakku kamu tukar dengan gelang rongsokan??!" semakin keras Roman berteriak, wajahnya semakin merah.
Pria itu sedemikian marahnya mengetahui nyawa Christopher dalam bahaya. Dia sudah mengerahkan tenaga untuk mencari keberadaan Christopher, walaupun Roman sendiri tidak yakin akan berhasil atau tidak.
"Maafkan aku, sayang .... Maaf ...."
"Dan kau di sini cuma bisa menangis, meminta maaf!! Apa gunanya maafmu sekarang?! Lalu apa yang kau dapat di toko perhiasan selain gelang??! Tidak sekalian kau seret kasir di toko perhiasan itu ke dalam toilet dan kau setubuhi dia, huh?!"
Olive bukan main terkejut mendengar perkataan Roman. "Roman, aku tidak-"
"Kau itu cuma perempuan murahan yang tidak bisa apa-apa!!" potong Roman. "Aku menyesal menikahimu!!"
"Dengar baik-baik." Dengan mata nyalang Roman mempertahankan tatapan dengan Olive, sambil mengacungkan jari telunjuk di depan wajah Olive. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu, kalau terjadi apa-apa pada Christopher," ujarnya dengan suara berat. "Kau dengar itu?? TIDAK AKAN!! TIDAK AKAN PERNAH!!!"
***
"Sudah dua hari kita sekap pangeran manja itu. Bagaimana kalau kita habisi sekarang?? Kepalaku sakit mendengarnya terus-terusan menangis!"
Reeve tidak mengacuhkan Flav. Memang benar, dari balik pintu terdengar sedu sedan Christopher. Suara yang mulai terbiasa di telinga Reeve, tapi juga membuatnya gundah.
"Memang apa lagi yang kita tunggu??" desak Flav. "Roman sudah stand by dengan pasukan pelacak teleponnya, kita tinggal lakukan hal itu, lalu selesai sudah!!"
Tidak mendapatkan respon dari lawan bicaranya, Flav menghela nafas kesal. "Jangan bilang kalau kau berubah pikiran. Keparat kau, Sinner!"
Reeve mendelik marah. "Aku sedang berusaha mencari apakah ada celah dalam tindakan kita nanti! Kau mau rencana ini gagal?!"
"Lalu katakan di mana celahnya??? Bukankah semua sudah sesuai dengan rencana kita?? Apa jangan-jangan celah yang kau maksud adalah celah keragu-raguan, huh, Sinner?!"
Reeve menggertakkan gigi, tapi tidak menyahut.
"Kalau begitu masuklah, temani si Chris! Minumlah susu bersamanya, lalu bebaskan dia! Tahu apa yang akan kau dapatkan, Reeve? Nol. Nol besar!" Flav mengangkat tangannya di depan muka Reeve dengan jari-jari membentuk huruf O.
Sudah tidak ada kata mundur, sama sekali tidak ada alasan yang bisa ditolerir untuk mundur. Segera selesaikan urusan ini! ujar Reeve dalam hati.
Reeve menghela nafas panjang. "Sudah kau siapkan barangnya?"
Flav tersenyum dengan menarik satu sudut bibirnya ke atas. "Sudah ada di dalam kamar, kusimpan dalam lemari, Bos."
"Oke. Kita lakukan sekarang," sahut Reeve seraya masuk ke dalam kamar tempat Christopher disekap.
31 - Red Sauce (2)
"Oke. Kita lakukan sekarang," sahut Reeve seraya masuk ke dalam kamar tempat Christopher disekap.
Dan di sanalah Christopher, meringkuk ketakutan di pojok ruangan. Tangan dan kakinya terikat erat, sementara mulutnya disumpal kain. Matanya yang coklat menatap Reeve dan Flav bergantian, seakan berharap Reeve dan Flav mau bermurah hati dan membebaskannya.
Entah sudah berapa lama dia ada di dalam ruangan itu, dibiarkan sendirian, menangis ketakutan dan menahan lapar. Orang-orang yang menyekapnya itu cuma memberinya minum susu dan air selama dia berada di sini. Dia sudah lelah menangis, dia sudah tidak kuat menahan lapar, dan dia sangat ingin bertemu kembali dengan ibu dan ayahnya. Mengapa orang-orang itu tega membiarkannya berada di sini?
Si kecil Christopher terkejut ketika menyadari salah seorang yang ada di hadapannya saat ini membawa sebilah kapak yang besar. Didengarnya si orang yang membawa kapak itu berkata, "Barang ini sudah kuasah hingga tajam. Kau pasti bisa menyelesaikannya dalam sekali tebas."
Kapak besar itu akan digunakan untuk membunuh dirinya!! Si kecil Christopher gemetaran tak terkendali. Dia menangis.
Reeve menghela nafas panjang. "Tutup mulut besarmu, Stone. Kita sudah menekan mentalnya selama berada di sini, tak perlu kau tambahkan lagi."
Flav terbahak-bahak. "Kau tahu apa yang menyenangkan? Melihat kawan kecil kita ini meringkuk ketakutan seperti kelinci yang sedang menunggu giliran untuk dikuliti!"
Flav mendekati Christopher yang semakin keras menangis. Suatu ketika dia terkejut, refleks mengangkat kakinya dan menjauhi Christopher. "Sialan! Bocah ini mengompol lagi!" Flav menoleh pada Reeve, berteriak, "Cepat bunuh anak ini, Sinner! Apa yang kau tunggu?!"
Untuk kesekian kalinya Reeve menghela nafas panjang. "Baringkan dia. Pegang kakinya," perintah Reeve dengan nada datar.
Flav seketika mematuhi perintah Reeve. Dipaksanya Christopher berbaring di lantai, lalu memegangi lutut Christopher.
Reeve memandangi tubuh mungil Chris yang sedari tadi meronta-ronta tanpa arti. Apalah daya seorang anak kecil yang belum genap lima tahun umurnya? Apa pantasnya seorang laki-laki dewasa seperti dirinya menghabisi seorang anak kecil yang tidak bisa apa-apa, dan tidak mengerti apa-apa?
Perbuatan yang memalukan ... seluruh keturunanmu kelak akan menyumpah serapahimu jika kau benar-benar melakukan hal yang keji itu. Percayakah kau dengan karma? Percayakah kau dengan hati nurani? Suara hati Reeve mengusik.
Tapi kehidupan memang sangat keras. Sebelum dirimu dimangsa, kau harus terlebih dahulu memangsa orang lain. Dan untuk memangsa orang lain bukan berarti hanya harus berurusan dengan sesama laki-laki dewasa, betul kan? Si kecil ini hanyalah alat! Alat untuk memangsa orang lain. Hanya sekali ini saja biarkan aku melenyapkan nyawa seorang anak kecil .... Percayalah nyawa anak ini tidak akan sia-sia. Dia akan langsung masuk ke surga dan dia akan membawa kebahagiaan bagiku karena rencanaku berjalan dengan baik dan lancar. Reeve membulatkan tekad.
"Apa yang kau tunggu, keparat?!" tegur Flav tidak sabar.
Reeve tersadar dari lamunan. Dia menarik nafas dalam, lalu mengangkat kapak itu tinggi-tinggi. Bilah besi kapak ini harus mendarat tepat di leher si bocah. Dalam sekali ayun. Dalam sekali tebas.
Persetan, ujar Reeve lagi pada dirinya sendiri. Aku sudah membunuh puluhan orang sebelum ini. Tidak pernah sekali pun aku ragu menarik pelatuk. Mengapa untuk membunuh anak kecil seperti ini aku selalu diliputi keraguan?! Pikirkan sekali lagi, keparat. Anak ini mati, dan kugulingkan bola panas pada Cavallo yang tidak tahu apa-apa, Roman pasti berang dan langsung menuntut kepala Cavallo terhidang di piringnya. Semua orang pasti akan mengutuk perbuatan Roman. Pasti! Dan kalau Roman tersingkir, siapa yang beruntung? Aku. Tentu saja aku! Dan semua itu bisa terwujud jika aku menghabisi anak kecil ini. Ayolah Reeve! Sudah sampai sini, masa kau mau mundur?!
Reeve memejamkan mata, menarik nafas sekali lagi ... lalu mengayunkan kapak itu tepat menembus leher Christopher.
Seketika ruangan itu dipenuhi dengan semburan cairan berwarna merah, menodai seluruh lantai, dinding, dan pakaian yang dikenakan Flav dan juga Reeve.
Reeve tersengal-sengal. Dilihatnya kepala si kecil sudah terpisah dari badannya, sinar matanya yang kini redup tak bernyawa terbuka lebar, melotot ketakutan. Si kecil Christopher sudah tewas dengan cara yang sangat mengerikan, di usianya yang belum genap berumur lima tahun.
***
Dalam sekejap Reeve sudah menginjakkan kaki di Old Westbary, dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa Roman depresi menunggu kabar dari si penculik Christopher yang tidak kunjung jua menghubungi dirinya.
"Reeve," panggil Roman. "Bagaimana urusanmu di Boffalo? Semua beres?"
Reeve menyunggingkan secercah senyum. "Semua beres, tidak ada yang perlu dikuatirkan. Kurasa sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu, Rome. Benarkah sampai sekarang penculik anakmu belum juga menghubungimu?"
Roman menghela nafas panjang. "Bisa kau lihat sendiri, kan?! Sampai saat ini aku masih menunggu sesuatu hal yang tidak pasti!" Nada suara Roman meninggi. "Aku bersumpah. Aku bersumpah, akan kucincang para keparat penculik itu dengan tanganku sendiri!! Aku bersumpah pada seluruh malaikat neraka!!!"
"Apa kau sudah mencoba mencari ke lapangan? Belum tentu juga penculik itu akan menelepon ke sini, kan?" Reeve mencoba memberi usul.
"Segala cara sudah kulakukan! Tanpa hasil!" teriak Roman lantang. "Semua ini gara-gara pelacur murahan yang lebih tertarik dengan gelang sapphirenya ketimbang mengurus anaknya sendiri!"
Reeve menggelengkan kepala. "Bukan saatnya menyalahkan pihak mana pun, Rome. Bagaimanapun ia istrimu, ibu dari anakmu. Olive juga pasti terguncang dan cemas mengetahui anaknya hilang," tegurnya.
"Lalu menurutmu apa yang harus kulakukan?! Aku sudah seperti budak belian yang cuma bisa menunggu takdir! Yang kuinginkan sekarang hanyalah, melihat seperti apa wajah para penculik anakku, lalu akan kubuat mereka menderita sampai mereka memohon-mohon kematian mereka padaku!!"
Seruan Roman terhenti ketika mendengar dering telepon. Air wajah Roman berubah pias. Dengan langkah lebar dia menjawab deringan telepon, sementara tim pelacak telepon pun siaga dengan peralatan mereka masing-masing.
"Halo," jawab Roman.
Terdengar suara dari seberang. "Sedang menunggu telepon dariku, Roman?"
Suara sengau yang aneh. Roman memperkirakan orang yang menelepon ini sengaja mengubah suaranya dengan berbagai cara. Sementara tim pelacak telepon berusaha secepat mungkin melacak dari mana line telepon tersambung.
"Rupanya kau. Baru sekarang kau berani menghubungiku, anjing kudisan?! Katakan apa maumu?! Mengapa kau culik anakku?!" seru Roman, yang langsung disambut tawa oleh si penelepon.
"Tidak ada maksud apa-apa! Aku hanya meminjam si kecil Christopher. Dia anak yang manis, lucu dan tampan."
"Jangan bercanda! Cepat katakan apa maumu, bajingan!!" maki Roman penuh emosi.
"Aku tidak ingin apa-apa darimu. Aku cuma ingin menyampaikan rasa prihatinku karena kuyakin saat ini ayahmu tidak bisa beristirahat dengan tenang di alam sana. Mengetahui kelakuan putranya yang sangat menyimpang selama ini. Mengapa kau tidak sedikit pun mewarisi kebijaksanaan dan kecerdasan ayahmu? Aku kecewa."
Bola mata Roman bergerak-gerak dengan cepat. Dari ujung mata dia melihat Reeve berjalan mendekati tim pelacak telepon dan berdiskusi dengan mereka. Dari ekspresi wajah Reeve, Roman menarik kesimpulan, tim pelacak sudah berhasil mendapatkan alamat dari mana si penculik menelepon.
"Masih ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Roman.
Terdengar tawa lagi dari si penculik. "Yeah. Kau tidak perlu kuatir, Roman. Aku pasti akan mengembalikan anakmu yang lucu dan pintar ini. Tapi karena satu dan lain hal, aku tidak bisa mengembalikannya secara utuh. Aku akan mencicilnya." Si penculik tertawa terbahak-bahak sebelum kemudian memutus sambungan telepon.
Tinggallah Roman pucat pasi menyadari kata-kata terakhir si penculik, '... tidak bisa mengembalikannya secara utuh ... akan mencicilnya ....'
Roman masih berusaha mengatur nafas dan debaran jantungnya yang terpacu kencang, ketika salah seorang capo masuk dan berkata, "Roman, penjaga pintu di depan menerima sebuah bungkusan yang dialamatkan padamu."
"Sudah kau periksa? Apa isinya?" tanya Reeve.
Namun Roman memberi perintah, "Bawa masuk bungkusan itu sekarang!"
Bungkusan itu cukup besar. Dilapisi kertas kado dan berhiaskan pita merah. Terlihat sebuah logo bakery ternama di pita tersebut. Semua orang mengira bungkusan itu berisi kue.
"Kue? Siapa yang mengirim kue padamu, Rome? Saat-saat seperti ini ...." Reeve tidak melanjutkan ucapannya, melihat Roman dengan tergesa-gesa merobek pita dan kertas pembungkus.
Dan ketika kado itu terbuka, terlihatlah sebuah kue tart yang berhiaskan tulisan Terima Kasih.
Saus merah terlihat mengalir dari lapisan terbawah kue tart itu.
Roman semakin tidak bisa mengatur debaran jantungnya .... Instingnya berkata ada yang tidak beres dengan kue tart itu. Sesuatu yang berhubungan dengan kata-kata terakhir si penculik Christopher tadi di telepon ....
Maka Roman dengan kasar menghancurkan kue tart itu dengan tangannya ... hanya untuk menemukan sebuah benda keras di dalam kue itu. Debar jantungnya semakin cepat terpacu. Tergesa dia menyingkirkan semua krim yang menempel pada benda keras yang tersembunyi dalam kue ... dan ketika dia melihat benda apa itu, semua orang yang berada di situ berdesis ngeri.
Mata Reeve terbelalak lebar menyadari benda yang disembunyikan di dalam kue itu tidak lain adalah kepala Christopher.
Lutut Roman terasa lemas. Terkikis habis sudah asanya selama ini. Anak laki-laki yang dibanggakannya selama ini. Anak laki-laki yang kepadanya ingin dia serahkan tampuk kepemimpinannya kelak. Anak laki-laki yang meneruskan garis keturunannya! Kini hanya tinggal kepala Christopher yang berada di tangannya. Tanpa anggota tubuh yang lain. Dan tanpa nyawa.
Sekian menit lamanya Roman berdiri terpekur di situ, menyesali segala macam hal yang bisa disesalinya. Dan semakin dia larut dalam kesedihan, semakin dia menyesal, semakin memuncak pula amarahnya.
Debaran jantung berpacu seiring dengan dengusan nafas menahan amarah yang menjadi-jadi. Matanya yang merah menatap nyalang hingga giginya bergemeletukan. Dengan nafas memburu Roman mendesis, "Di mana ... lokasi penelepon tadi?"
"Kensington Avenue, 38," sahut salah seorang tim pelacak.
Kontan terdengar gumaman-gumaman terkejut dari seluruh orang yang ada di ruangan itu. "Bukankah itu alamat Don Salvatore Cavallo??"
Terlihat kilatan di mata Roman.
"Reeve," panggil Roman. "Benarkah yang disebutkan tadi adalah alamat si tua keparat Cavallo?"
"Ya, Rome. Kau benar," jawab Reeve.
"Ini pasti permainan tiga sekawan Cavallo, Labruzzo dan Mueller." Roman bergumam tidak jelas. Tangannya mengepal dengan kuat. "Mueller!! Bisa-bisanya kau mempengaruhi banyak orang untuk menentangku!!"
Lalu Roman berseru keras pada semua orang yang ada di dalam ruangan, "BAWALAH KEPALA CAVALLO PADAKU!! ENYAHKAN SELURUH KELUARGANYA YANG TERSISA!! BERSIHKAN JUGA MUELLER DAN KELUARGANYA!! SIAPA YANG BERANI BERMAIN API DENGAN ROMAN AKAN TAHU APA AKIBATNYA!!!!"
"OH! Dan jangan lupa enyahkan sekalian Labruzzo dan SELURUH keluarganya!! Jangan sisakan satu orang pun dari antara mereka!!!" Roman berseru lantang sambil berjalan dengan langkah lebar.
"Reeve!! Ini tugas besarmu!! Aku tunggu hasil pekerjaan rumahmu ini maksimal dalam dua minggu ke depan!!!" Roman berseru keras sambil menunjuk wajah Reeve, lalu keluar dari ruangan.
Reeve hampir tidak bisa menahan senyum. Dia berkata pada dirinya sendiri, Sesuai dengan ekspektasi. Roman, kau sungguh mudah ditebak.
32 - White Lies
Reeve, dia baru saja sampai di rumah dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Kudengar ada kejadian mengerikan di rumah Burgueno?" tanyaku sambil menawarkannya segelas scotch.
Reeve menatapku. "Kau sudah dengar juga beritanya."
"Benarkah Christopher diculik? Lalu dipenggal kepalanya?"
Reeve menjawab pertanyaanku hanya dengan mengangguk.
"Demi Tuhan," sahutku. "Siapa orang tolol yang tega membunuh anak kecil?"
"Reeve ...!" panggil Camila yang tiba-tiba muncul.
"Hey Sayang," sahut Reeve sambil memberikan bibirnya untuk dikecup Camila.
"Aku kangen kamu," ujar Camila manja. Ia duduk di samping Reeve dan bersandar pada bahunya.
"Aku juga kangen kamu."
"Kalian sedang bicarakan apa?" tanya Camila sambil menatap aku dan Reeve bergantian.
"Anak Roman," jawabku singkat.
Wajah Camila langsung berubah cemas, "Ohh ... Reeve, benarkah kejadian mengerikan itu benar-benar terjadi? Aku tidak menangkap berita yang sebenarnya bagaimana ...."
Reeve menjawab, "Ya.. Christopher diculik sejak beberapa hari yang lalu. Roman stress, dan siang tadi, penculiknya baru menelepon setelah berhari-hari tidak memberi kabar. Entah si penculik bicara apa di telepon, tiba-tiba datang kiriman paket kilat. .... Yang ternyata berisi kepala Christopher." Reeve terdiam. Dia memejamkan mata. "Kepala Christopher! Aku shock juga melihat potongan tubuh ... anak sekecil itu ...."
Reeve menggelengkan kepala. "Bisa kalian bayangkan? Paket itu berisi kue tart berukuran besar, tapi di bagian bawah kue tart ada cairan merah seperti darah. .... Roman langsung menghancurkan kue itu, dan ternyata ... ternyata ada kepala Chris di dalam kue. Berlumuran krim bercampur darah kental! Geez, aku sering lihat mayat, tapi melihat kepala anak kecil?? Aku bisa bayangkan bagaimana hancurnya hati Roman!"
Lama kupandangi Reeve. Camila terlihat shock juga, ia menangis, mungkin merasakan kesedihan Olive.
"Ya Tuhan ... kejam sekali pembunuh itu ...!!" ujar Camila getir. "S-siapa sih pelakunya, Reeve?? Siapa yang tega membunuh anak kecil tidak berdosa ... apa motifnya??"
Reeve menghela nafas paanjang. "Motif, bisa ada 1000 macam alasan. Yang jelas, si penculik menelepon dari rumah Cavallo. Roman tanpa pikir panjang langsung mengutus para capo untuk mengenyahkan Cavallo, beserta seluruh keluarganya, Labruzzo, beserta seluruh keluarganya, juga Mueller, beserta seluruh keluarganya."
Reeve lagi-lagi menggelengkan kepala. "Roman yakin mereka ini sekongkol membunuh anaknya. Keparat, seharusnya dia tidak seperti itu. Seharusnya dia berpikir terlebih dahulu sebelum memberi perintah! Komisi pasti mengutuk cara brutalnya!! Aku tadi berusaha mencoba menjelaskan situasinya, dia tidak bisa memutuskan mereka harus mati begitu saja, tapi dia tidak peduli. Dia sepertinya sangat murka."
Reeve berkata lagi, "Stress juga memikirkan hal itu terus menerus. Kita lihat perkembangan nanti, kuharap aku bisa membujuk Roman untuk membatalkan perintahnya itu." Dia menyesap scotchnya. "Jadi, bagaimana Reeve, semua beres, kan?" tanyanya padaku.
"Yap."
"Ada hal apa yang harus kutahu?"
"Oh iya. Aku lupa meneleponmu kemarin." Aku baru ingat soal Corinna Galante. "Aku bertemu ibumu."
"Apa katamu?"
"Ibumu. Corinna Galante. Ia hidup sendiri di pinggiran kota. Menjanda. Tidak punya uang. Kasihan ibumu."
Reeve menatapku sambil mengernyitkan kening. "Kau yakin ia Corinna?"
"Reeve, aku memiliki memorimu di sini," kataku menunjuk kepala sendiri. "Aku tidak mungkin salah mengenali orang. Ia juga mengenaliku. Aku tidak mengatakan tentang kita berdua, yang ia tahu aku adalah kau, anaknya," ujarku. "Aku berencana akan mengiriminya uang setiap bulan, dan berjanji akan menyisihkan waktu untuk menengok .... Ingat dan penuhilah janji itu, ia ibumu sendiri."
"What the hell. Kenapa mama ada di sana?"
"Sebenarnya aku menawarkannya untuk tinggal bersama di sini, tapi ia menolak. Sepertinya ia ketakutan melihatku dikawal bodyguard." Aku tertawa sumbang. "Aku rasa sedikit banyak ia juga merasa bersalah."
Reeve tersenyum masam. "Penasaran juga lihat mukanya sekarang."
"Masih sama seperti 13 tahun yang lalu. Hanya lebih kurus."
Camila mengusap punggung Reeve, berusaha memberi kekuatan.
"Hell, bukan saatnya menjadi sentimental begini, haha," kata Reeve. "Kamu sendiri bagaimana, Cami? Bersenang-senang di sana?"
Senyum Camila merekah. "Tentu. Aku ketemu Kevin lho, Reeve! Dia rupanya sudah jadi bos preman di sana! Aku kaget juga .... Aku baru selesai belanja, dia tiba-tiba di belakangku dan ancam aku! Aku pikir ada begundal yang memang ingin mengerjaiku, tapi untunglah ternyata dia Kevin, bukan siapa-siapa! Anak itu kurang ajar memang. Masa dia tega membuat aku sport jantung! Dia sudah banyak berubah Reeve, semakin tinggi, tapi kurus ... pipinya tirus, tidak seperti waktu terakhir aku bertemu dia. Yang membuat dia berubah banyak ... sikapnya itu! Sudah tidak manja sama sekali ... malahan yang aku lihat dia jadi berkarakter. Berwibawa."
"Benarkah?" Reeve mengangkat alis. "Berarti tepat seperti yang aku bilang tempo hari, kan? Dia akan baik-baik saja, selama masih berdarah Sivily."
Camila mengangguk setuju. "Lalu aku dan Kevin mengobrol banyak .... Banyak hal! Dia cerita kenapa dia bisa ada di sana ... rupanya Kevin bentrok dengan papa! Dan papa mengusir Kevin ... jadilah Kevin berkelana seperti itu. Oh ya, dia juga titip salam sama kamu Reeve."
"Hmm."
Camila menegakkan tubuh. "Aku kangen kamu, Reeve ...," ujarnya sambil menatap mata Reeve. Jemarinya yang lentik mengusap perlahan bekas luka memanjang di pipi Reeve, lalu menggesekkan hidung Reeve dengan hidungnya sendiri. Reeve menyambut Camila hangat, dalam beberapa detik bibir mereka sudah saling bertaut.
Dan ... aku menjadi orang tolol di sini, menyaksikan mereka berdua asyik bercumbu, saling menggerayangi satu sama lain. Kulihat tangan Camila hinggap dengan manis di antara sela kaki Reeve, mengusap-usapnya penuh perasaan. Ah, Cami ... kenapa kamu melakukan ini padaku? Jengah menjadi penonton bermuka tolol, aku langsung mengangkat kaki dari ruangan itu.
Masih terbayang olehku penolakan-penolakan Camila selama kami berada di Boffallo. Terutama ketika aku sengaja membuatnya mabuk lalu merayunya. Bisa-bisanya ia mengenaliku lewat bekas luka yang tidak ada di pipiku, padahal saat itu ia sudah mabuk! Camila membangun pagar tinggi jika berurusan denganku. Tidak ingin ada kontak verbal, terlebih tidak ingin ada kontak fisik antara aku dengannya. Tapi kenapa Cami dengan begitu sengaja memperlihatkan kemesraannya dengan Reeve? Ayolah Cami, aku juga Reeve! Apa yang membedakan aku dengan Reeve selain bekas luka di pipi? Tidak ada bedanya sama sekali!
Aku menenangkan diri di bar, menghabiskan sebotol Jack Daniels sambil mengisap rokok. Berbagai macam jenis wanita bisa kutaklukkan dengan mudah, tapi kenapa Camila begitu sulit kuraih? Gadis itu benar-benar membuatku penasaran dan hampir membuatku gila.
Aku bermaksud pergi ke ruang kerja, sengaja kuambil jalan memutar karena malas melewati ruang TV, aku tahu mereka pasti tengah asyik memacu birahi di sana.
Tapi coba tebak apa yang kulihat begitu tiba di ruang kerja? Rupanya dua sejoli itu memutuskan pindah lokasi. Kulihat dengan jelas Camila duduk di atas pangkuan Reeve, tanpa pakaian, bermandi keringat. Pinggul Camila bergerak naik turun disertai dengan erangan-erangan suara binal Cami dan deru nafas si pejantan, Reeve. Dan indahnya lagi, mereka tidak menutup pintu ruang kerja.
Well. Ada baiknya aku minum lagi sekarang.
Lima belas menit kemudian Camila keluar dari ruang kerja. Wajahnya merah merona, sepertinya puas sekali wanita ini. Ia melihat aku tengah asyik minum di bar, lalu melempar senyum. "Hai, Reeve ...."
"Hmm," sahutku dingin.
Camila menuang soda dingin untuk dirinya sendiri.
"Cami?" panggilku. Ia menoleh, menatapku dengan pandangan mata bertanya. "Boleh aku minta sesuatu darimu?"
"Apa itu?"
"Tidur denganku, sekarang."
Kulihat keterkejutan di mata Camila. Ia tergagap. "Eng ... Reeve ...?"
"Kuminta kamu untuk berhubungan seks denganku, sekarang," kutatap Camila tepat di mata.
Camila seperti tidak bisa menemukan kata-kata untuk menjawabku.
"Camila milikku, bedebah." Sebuah suara membuatku kaget. Reeve.
"Oh, ini dia si pejantan. Kupikir kau masih tepar, Reeve," sahutku.
Reeve berdiri di hadapanku, menatapku tajam. Tanpa canggung sama sekali aku balas menatap matanya. "Apa maksudmu meminta pacarku untuk tidur denganmu? Kau pikir siapa kau ini?"
Aku tertawa. "Aku siapa? Pertanyaan itu seharusnya untukmu! Menurutmu, siapa aku?"
"Reeve, bangunlah! Jangan mimpi di siang bolong."
"Kalian sudahlah ...." Camila mencoba mencairkan suasana.
Reeve tanpa menoleh pada Camila, berkata, "Kamu segera masuk ke kamar sana, Cami. Istirahatlah. Aku mau bicara empat mata dulu dengan orang ini."
Camila patuh menuruti kata-kata Reeve.
Semakin lama aku merasa Reeve semakin merendahkanku. Direndahkan oleh diri sendiri? So damn sucks, man. Kulihat Reeve menuang segelas Jack Daniels, lalu menenggaknya hingga kandas.
"Dengar. Aku ingin mengadakan perjanjian denganmu, Reeve," kataku datar.
"Bisa kuterka apa itu," katanya sambil tertawa sinis.
"Bagus, kalau kau sudah tahu. Aku ingin kau membagi Camila denganku. Deal?"
"Hmm, jangan berharap Reeve. Cami milikku. Tidak akan pernah aku bagi dengan siapa pun."
"What the fuck, Reeve!" Nada suaraku meninggi. "Kau denganku, apa bedanya?? Aku juga ingin Cami, apa itu masalah buatmu? Apa masalahnya?? Kau dan aku adalah orang yang sama!!"
"Reeve." Reeve memanggil. "Jauhi Camila. Itu perjanjian yang bisa kutawarkan padamu. Paham?" ujarnya sambil berlalu dari hadapanku. "Ini peringatan halus dariku."
What the fuck is wrong with him?! Apa kepalanya terbentur?? Brengsek. Dalam sekejap moodku turun drastis. Lebih baik aku mencari hiburan lain!
***
Setelah menghabiskan waktu di bar bersama dengan bidadari-bidadari yang kutemui di sana, aku kembali ke rumah. Saat itu kira-kira pukul tiga pagi, semua orang pasti sudah lelap.
Well? Kata siapa? Lihat siapa yang berdiri di balkon sana. Reeve Galante. Keparat busuk yang membuat semua kekacauan ini.
Apa yang dilakukan keparat itu?
Reeve sepertinya tidak menyadari aku berjalan mendekatinya dan berdiri di belakangnya. Kulihat dia menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Christopher sudah tenang dan bahagia di surga. Kematian anak itu tidak sia-sia. Dia sudah bahagia di surga," gumam Reeve.
Apa yang barusan kudengar tadi?
"Dunia ini terlalu kejam untuk anak manis seperti Christopher. Apalagi jika memiliki ayah seperti Roman. Tidak ada tempat lain yang lebih layak selain surga untuk anak itu, sungguh, tidak ada tempat lain yang lebih layak. Cukuplah sudah, jangan kau selalu memikirkan anak itu, Reeve. Dia sudah bahagia di surga."
Reeve? Kau .... Kau yang memenggal kepala Christopher? Anak itu??
33 - No Mercy
Aku Anja Fohlberg.
Jessica Castellano tiba-tiba saja menghubungiku dan memberi kabar yang tidak mengenakkan. Ia mengatakan bahwa keluarga Labruzzo, Cavallo dan Mueller dalam bahaya. Ia mendapat kabar dari ayahnya, Don Maurice Castellano, bahwa Roman sepertinya sedang berulah lagi sekarang. Aku tidak begitu menangkap apa yang dibicarakan Jessica, tapi aku tahu, saat ini keadaannya genting. Maka aku langsung mengirim pesan pada Louis dan Pierre, dan tentunya Darren. Tapi Darren tidak membalas pesanku. Tak apalah, toh sekarang ini aku sedang dalam perjalanan kembali ke Parice. Dalam beberapa jam aku akan bisa bertemu dengan Darren dan memastikan dirinya baik-baik saja.
Pintu tidak terkunci ketika aku tiba di rumah. Oh, Darren sudah pulang ... tumben baru jam empat sore dia sudah pulang. Kutaruh koper dan tasku sembarangan di ruang tamu, dengan maksud ingin segera mencari Darren.
"Sayang ... di mana kamu?" panggilku.
Tiba di lantai atas, kubuka pintu kamar, dan ... dan kulihat Darren dalam keadaan setengah bugil sedang tidur berpelukan dengan wanita entah dari mana asalnya.
Darahku seakan langsung mendidih melihat pemandangan itu. Di kamarku ... di ranjangku, kamu main seks dengan cewek lain??? DARREN????
Darren terbangun, dia terlihat kaget dan gelagapan begitu menyadari ada aku di sini dan memergoki kelakuannya. "A-Anja ...??" gagapnya.
Sejenak aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa, terlalu banyak pikiran terlintas di benakku, aku tidak tahu pikiran mana yang harus kudengarkan saat ini juga! Aku merasa kepalaku berat sekali ... rasanya seperti ingin jatuh .... Aku berdiri di depan meja rias dan berpegangan pada tepi meja.
Kudengar wanita penggoda itu terbangun dari tidur nyenyaknya dan bergumam, "Emm ... Darren ... Ada apa sih?"
Darren tidak memedulikan pertanyaan si penggoda itu. Dari pantulan kaca rias kulihat Darren berjalan mendekatiku. "Sayang, kamu sudah pulang .... Kamu ... kamu jangan salah sangka dulu ya, biar aku jelaskan."
Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil botol parfumku yang berukuran paling besar dan melemparkannya ke arah Darren. Tepat mengenai dahi Darren, dia berseru kesakitan. Makan itu, bajingan busuk!
"Anja, kumohon, jangan marah-marah dululah." Darren masih berusaha mendekatiku. Luka di dahinya sepertinya tidak terlalu parah, tidak seperti luka yang dia goreskan di hatiku saat ini ... Tidak adil.
Eh, justru si penggoda yang histeris melihat Darren berdarah terkena sabetan botol parfum olehku.
Penggoda itu berteriak nyaring, "Kamu ini apa-apaan, kenapa kamu lukai Darren ...??" Penggoda itu sepertinya bermaksud mendekati Darren dan melihat lukanya.
Kulihat tubuh si penggoda yang baru saja dinikmati oleh kekasihku itu. Uh, sialan .... Wanita itu lebih sintal, dadanya lebih besar dari pada milikku, lekuk tubuhnya benar-benar seperti gitar. Jadi tipe yang kamu inginkan sebenarnya adalah yang seperti itu?
Kenapa kamu khianati aku, Darren???????? Cuma demi babi yang lebih berlemak dari aku??? Apa arti kebersamaan kita selama ini???
Aku membuka laci meja dan meraih revolver yang kusimpan di dalam laci, langsung saja kuarahkan revolver itu ke arah wanita itu, dan menarik pelatuknya. Dalam beberapa detik ruang kamarku diselimuti kabut tipis berwarna merah, dan kulihat wanita itu tergolek tak bernyawa di atas karpet .... Jangan pernah bermain api denganku, bitch!
Darren sepertinya sangat shock melihat perbuatanku. Dia tadi terhuyung hampir jatuh begitu melihat selingkuhannya itu menggelepar meregang nyawa .... Kenapa, Darren? Kamu sedih ia sudah menjadi seonggok mayat sekarang?
".... Anja .... Kamu ...." Muka Darren terlihat pucat pasi.
Aku tertawa sumbang, revolver masih erat dalam genggamanku. "Kenapa, Darren? Kamu patah hati melihat pacarmu itu sekarang cuma seonggok mayat tidak berguna?"
"A-Anja kamu gila .... Ini ... pembunuhan!!" seru Darren tertahan.
"Pembunuhan? Iya ... seperti pembunuhan yang barusan kamu lakukan padaku .... Kamu membunuh hatiku, Darren," sahutku lirih.
Darren terlihat gemetar. "Berikan pistol itu padaku ... Anja."
Kutatap Darren tajam-tajam. "Kenapa, Darren? Kenapa? Kenapa lakukan ini padaku? Berapa kali kamu khianati aku ...?" Tidak ada alasan bagiku untuk menahan air mata ini lebih lama lagi.
"Anja, dengarkan aku, ini sudah keterlaluan. Kamu sudah melakukan tindakan kriminal!"
"Kenapa perbuatan kamu tidak disebut tindakan kriminal juga??? Kenapa????" Aku terpekik. "Kamu calon suami aku, Darren .... Kamu calon suami aku ...."
".... Dan benda ini baru dipakai satu kali ...." Kuangkat revolver yang masih kugenggam, dan mengarahkannya pada Darren.
Darren semakin ketakutan. "Wow ... hati-hati dengan benda itu, Anja, ayolah. Kita ... kita kan bisa bicara baik-baik, ya ... Sayang?"
Aku tersenyum pada pengkhianat itu. "Terlambat ... Sayang."
Satu tarikan pelatuk ... dan tubuh Darren terpental ke belakang.
Kubiarkan revolver itu lolos dari genggamanku.
Aku jatuh terduduk di atas karpet, memandangi dua sosok mayat dengan tatapan kosong.
Apa yang harus kulakukan sekarang ....
***
Suara dering telpon mengagetkanku.
Aku beranjak bangun dan menuju ruang TV. Sekilas aku melirik jam, sudah jam 17.30 ... apa yang kulakukan selama satu jam tadi?
Kujawab panggilan telepon, "Ya, halo?"
Terdengar suara Pierre dari seberang. "Ah, Anja? Kamu sudah balik dari New Yord?"
"Mmm-hm."
"Kabarmu baik?"
"Mmm-hm."
"Haha, kayaknya kamu capek ya? Oke, bisa aku bicara dengan Darren? Aku mau tanya sesuatu. Dia sudah pulang, kan?"
".... Mmh ... Belum."
"Belum? Aneh, barusan aku telepon ke kantornya, katanya sudah pulang dari sore. Kutelepon ponselnya juga tidak aktif. Ke mana dia?"
Aku terdiam lama, lalu terisak.
Pierre ... Pierre ... tolong aku .....
"A-Anja?? Kamu kenapa? Kamu menangis?"
"Pierre ... aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang ...."
"Anja, kamu kenapa?? Apa yang terjadi?? .... Apa aku harus ke sana? Kamu mau aku ke sana? Iya? Kamu kenapa menangis, Nja??"
"Iya ... tolong jemput aku ... aku tidak mau di rumah ini lagi ... tolong, Pierre ...."
"Oke, oke, Oke. Oke aku jalan sekarang ya?? Kamu bertahan ya, tunggu aku." Pierre terdengar cemas.
"Tidak ... jangan sekarang. .... Bisa jemput empat jam dari sekarang? Yah, jemput aku jam 21.30 ya. Aku akan tunggu kamu di sini ...," pintaku, masih terisak.
"Oke ... oke. Oke. Tenanglah Nja, aku pasti datang."
***
Butuh perjuangan ekstra keras menyeret dua mayat ini turun ke bawah untuk kukubur. Akhirnya kuakali, keduanya kubungkus dengan karpet yang sudah banyak terkena noda darah mereka, lalu kubungkus lagi dengan seprai yang besar ... dan aku tinggal menyeretnya turun ke bawah. Seberat apa pun, aku harus bisa. Aku bisa menghabisi nyawa mereka, aku juga bisa membersihkan segala kekacauan di sini.
Sudah empat jam berlalu, mayat-mayat itu sudah terkubur jauh di dalam tanah. Semoga tidak ada yang curiga.
Untuk kesekian kalinya aku menelusuri seluruh isi rumah, mulai dari kamar, ruang TV, tangga, dan semua ruangan yang kulewati tadi ketika menyeret mayat Darren dan wanita itu. Sudah kupastikan tidak ada noda darah yang tertinggal, atau apa pun. Aku sudah menyemprotkan pengharum ruangan berkali-kali agar bau amis darah bisa hilang, terutama di kamarku. Aku juga sudah mandi, dan mengenyahkan pakaian yang kupakai tadi sewaktu menghabisi mereka. Aku juga sudah menghancurkan revolver yang tadi kupakai, kukuburkan bersama mayat-mayat itu.
Aku menunggu kedatangan Pierre di ruang tamu dengan perasaan gelisah. Rasa-rasanya aku masih bisa mendengar suara Darren di rumah ini. Rasanya aku melihat ada bayangan sosok Darren mondar mandir di belakangku ... aku takut.
Untunglah aku tidak perlu menunggu terlalu lama. Pierre langsung membawa aku pergi, bahkan sebelum dia sempat bertanya 'ada apa'.
"Kamu mau ke mana, Anja?" Adalah kata-kata pertama dari Pierre.
"Ke mana saja .... Mungkin lebih baik ke bandara saja, aku mau kembali ke New Yord ...."
"Apa? Tapi, apa tidak sebaiknya kamu bermalam dulu? Baru tadi sore kamu datang dari New Yord, kan?" tanya Pierre berusaha membujuk.
"Kita ke hotel saja. Terserah di mana," jawabku lirih.
"... Oke. Baik."
Aku diam lama, Pierre pun terdiam. Lalu tanyaku, "Apa aku mengganggu kalau aku ke apartemenmu, Pierre?"
Air muka Pierre sepertinya agak berubah. "Kamu mau ke tempatku? Tidak masalah sih."
"Ya sudah ... ke tempat kamu saja."
"Oke, Anja."
***
Pierre menyuguhkan cokelat hangat untukku. "Minumlah, setelah itu perasaanmu pasti akan jauh lebih baik," kata Pierre sambil tersenyum.
Pierre, kamu memang persis seperti cokelat yang hangat ... kamu manis, hangat, dan menenangkan pikiran. Tidak ada sahabat yang lebih baik lagi selain kamu. Apakah aku harus jujur sejujurnya padamu? .... Ah, tidak ... jangan.
Kuteguk cokelat perlahan-lahan. Pierre duduk tepat di sampingku, aku tahu dia tengah mengamatiku. Tentu dia penasaran ingin tahu ada kejadian apa yang membuatku jadi seperti ini. Oh, Pierre ... seandainya kamu tahu semua ....
"Aku ... aku memergoki Darren sedang tidur sama cewek," ujarku pelan.
Mata Pierre terbelalak tidak percaya.
"Aku memergokinya begitu aku baru sampai Parice tadi sore .... Aku pulang dari NY dan aku langsung memergoki dia seperti itu di kamarku. Memang kedatanganku tiba-tiba, karena ada hal penting yang harus kuselesaikan, makanya aku pulang ke Parice tanpa kasih kabar .... Aku shock, Pierre ... Darren selama ini tidak pernah macam-macam dan selalu baik padaku, kenapa dia begitu? .... Kenapa dia melukai hatiku seperti ini, apakah memang dia tidak serius denganku? Setelah aku memergoki Darren .... Darren dan cewek itu malah pergi meninggalkan aku sendiri .... "
Kulihat Pierre menggertakkan gigi. "Darren, ya Tuhan!! Siapa cewek itu, Nja? Apa kamu kenal?"
Aku menggeleng. "Entah dia siapa. Tapi badannya bagus, seperti gitar ...." Aku tertawa sumbang.
Pierre menghela nafas berat. "Aku bersumpah, Nja, aku akan cari Darren sampai ketemu dan akan kugantung orangnya!! Karena sudah membuatmu jadi seperti ini!!" serunya dengan suara tertahan.
Aku menatap Pierre. "Sudahlah. Tidak perlu, Pierre .... Kalau memang dia tidak bermaksud serius denganku, aku juga tidak mungkin memaksa. Aku ... aku pasti bisa bangkit."
Kurasakan tangan Pierre yang hangat melingkar di bahuku, dan menepuk-nepuk bahuku lembut. "Menangislah, tidak perlu malu."
"Menangis ... sudah tadi. Kenapa harus menangis lagi ...? Oh ya, Pierre ... kamu harus tahu, mungkin kamu dan keluargamu sekarang sedang dalam bahaya. Keluarga Louis dan Darren juga. Entah apa yang terjadi tapi temanku Jessica bilang kamu harus ekstra hati-hati."
"Oke. Lupakan dulu masalah itu, aku pasti akan baik-baik saja. Yang perlu dicemaskan adalah kamu, Nja."
Pierre benar-benar pria yang baik ... dengannya aku merasa aman dan nyaman. Kusandarkan kepalaku di bahunya, dan demi semua hal memuakkan yang terjadi hari ini, aku menangis tanpa suara ....
***
Aku terbangun ketika merasakan ada sesuatu yang hangat dan basah menyentuh bibirku. Kubuka mata, dan melihat wajah Pierre tepat di depan wajahku.
A-apa yang barusan itu? Apakah aku dicium ...? Oleh ...?
"Pierre??" seruku spontan sambil menegakkan tubuh.
Pierre tampak gugup. "Maaf, kamu jadi terbangun. Ini ... bukan maksudku, Nja."
"Kamu? Kenapa?"
Pierre terdiam. "Aku ... aku ingin menciummu, Anja. Izinkan aku."
"Hah?"
Pierre mendekatkan wajahnya lagi dengan wajahku, dan entah kenapa aku tidak bisa bergerak. Terasa hembusan nafas Pierre yang hangat, dan sejurus kemudian aku merasakan bibirnya mengecup ringan bibirku. Dia melakukannya sekali lagi.
Dan ketika hembusan nafasnya semakin bertambah berat .... Kudorong Pierre. "Kenapa, Pierre?"
"Sudah lama aku menyimpan perasaan padamu, Nja. Maafkan. Dan maaf, bukannya aku senang kamu dan Darren berpisah, tapi ... aku tidak bisa menyangkal kalau aku sekarang memiliki harapan besar untuk bisa mencintaimu sepenuhnya. Biarkan aku yang mengisi kekosongan hatimu, Anja. Aku tulus."
Aku menatap Pierre tepat di mata. Kenapa, Pierre? Kenapa mencintai orang seperti aku? Kenapa? Kamu tidak akan mencintai aku kalau kamu tahu kejadian yang sebenarnya?
Dan gejolak perasaan ini semakin membuatku muak. Kudorong Pierre jauh-jauh lalu aku bangkit berdiri, kutinggalkan Pierre tanpa berucap sepatah kata lagi.
Ada apa denganku? Terlalu terlenakah dengan kebaikan hati Pierre sampai aku tertidur dalam dekapannya??
Kupikir kita berteman, Pierre .... Segalanya akan jauh lebih mudah kalau kamu hanyalah sahabatku seperti sebelumnya!!
Bukannya aku tidak ingin dicintai oleh pria baik seperti kamu ... tapi aku tidak mau perasaan cintamu padaku berubah menjadi benci jika kamu tahu yang sebenarnya!!
Pierre, kenapa?
Maka kuputuskan akan langsung kembali ke New Yord malam itu juga. Aku tidak ingin menginjakkan kaki lagi di Frenchye .... Cukup sudah!
34 - Good Guy Daniel
Sore hari yang cerah, saat itu bulan Maret 2026.
Jeanna Mueller menyunggingkan senyum termanisnya padaku, lalu bersandar di bahuku dan memelukku erat-erat. Kubalas dengan melingkarkan tanganku di bahunya. Ah, aku selalu merasa damai dan tentram setiap kali menghirup aroma manis dari rambutnya tatkala ia bersandar di bahuku. Tak ada hal lain yang kuinginkan selain menghabiskan waktu berdua dengannya.
"Daniel." Ia memanggil.
"Ya, dear."
"Kamu dengar perkataan orang tuaku tempo hari. Minggu depan ulang tahun pernikahan mereka, dan kamu diundang makan malam. Kamu tidak lupa, kan?"
Aku tersenyum. "Yeah, aku ingat. Jam 7 malam di Four Seasons. Ya, kan?"
Jeanna tersenyum lagi. "Aku masih bingung harus pakai gaun apa."
"Kamu pakai apa pun tetap cantik, Sayang," rayuku.
"Gombal. Untuk acara minggu depan aku mau kamu yang pilihkan gaun untukku. Atau baiknya kita pergi belanja?"
"Terserah. Aku bisa bantu pilihkan lingerie kamu nanti," kataku sambil menyeringai.
Pipi Jeanna memerah. Spontan ia mencubit pinggangku, aku tertawa berderai-derai. Serangannya di pinggangku masih gencar, maka kurengkuh tubuhnya erat-erat, hingga ia terkunci dalam dekapanku. Jeanna tepat berada di atas tubuhku, ia menatap wajahku dengan pipi yang masih bersemu merah.
Aku tersenyum hangat, sambil menyibakkan sejumput rambut yang menutupi sebagian matanya. Ia membalas senyumku, dan semua orang dapat menerka apa yang kami lakukan setelahnya.
Dapat kurasakan bibir Jeanna yang lembut dan kenyal beradu denganku. Bibirnya begitu manis. Semanis ketika aku pertama kali mengecupnya beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku baru saja diterima di universitas dan Anja mengenalkan Jeanna padaku.
Jeanna, Pierre, Darren dan Louis, tepatnya. Saat itu mereka sedang berlibur di New Yord. Aku jatuh cinta pada Jeanna pada kali pertama berkenalan dengannya, dan senangnya perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Hubungan kami berlangsung intens dan lancar, untungnya.
Jeanna Mueller yang saat itu masih perawan.
Dan aku yang sudah tidak (lagi) perjaka. Agh. Kalau ingat saat-saat aku berhubungan seks dengan orang yang tidak kuinginkan, ingin marah rasanya. Yeah, aku melepaskan status -yang kata mereka memalukan itu-, dengan orang yang tidak kuinginkan.
Terima kasih kepada 'sahabat'ku Richard Owens. Dia yang mendorongku supaya lekas melepaskan status itu dengan salah seorang kakak kelas kami yang kutahu memang menaruh hati padaku, namun tidak kutanggapi. Setelah peristiwa itu, Richard yang semula paling keras meledekku 'biarawan', 'kuper', 'perjaka suci', dan sebutan lainnya, mulai diam dan tidak menggangguku lagi.
Sebenarnya yang aku inginkan adalah melepaskan status itu dengan pacar yang benar-benar kusayangi, bukan dengan cara yang seperti itu. Richard bilang, anggap saja saat itu adalah latihan buatku menghadapi wanita. Agar aku tidak kaku lagi saat benar-benar bertemu dengan wanita pujaanku. Dan memang benar, sih, aku tidak kaku saat pertama kali mencium dan merayu Jeanna ... mungkin sebaiknya aku harus berterima kasih pada Richard!
***
Lalu saat yang dinanti-nantikan keluarga Mueller pun tibalah. Jamuan makan malam mewah yang hanya mengundang segelintir kerabat.
Selain aku, ada Lucas Valachi, Salvatore Cavallo dan istri, Thierry Fohlberg, serta Luigi Labruzzo dan istri.
Louis sedang menemani tur Blueberry Candies sejak sebulan lalu hingga sekarang, sementara Darren entah di mana rimbanya.
Gadisku Jeanna tampil paling cantik pada acara malam ini dengan balutan gaun hijau muda. Aku yang memilih gaun hijau itu, tentu saja Jeanna menjadi yang tercantik! Jeanna pun senang dengan pilihanku, senyum manisnya seakan tidak pernah absen dari wajah cantiknya itu.
Kulihat Lucas sedang berbicara dengan Pierre, kugamit tangan Jeanna dan menghampiri mereka.
"Hey Dan!" sapa Pierre.
Lucas menyambutku dengan senyuman lebar.
"Apa yang kau lakukan pada Jeanna??" Pierre tiba-tiba berseru.
"Ada apa?"
"Lihat, cantik sekali adikku malam ini! Apa yang kau lakukan padanya?" Pierre maju dan mengecup pipi Jeanna.
Aku tersenyum simpul. "Hanya hal yang sepantasnya dilakukan seorang gentleman pada wanitanya."
Jeanna memprotes kakaknya. "Pierre, dari dulu aku memang cantik! Apa maksudmu hanya malam ini aku cantik!"
Pierre terkekeh. "Kau sudah bertemu papa mama? Mereka pasti senang melihatmu."
"Tentu sudah!"
"Nah kau sendiri, Lucas?" kataku. "Kemarin kau bilang akan membawa pacarmu kemari, mana dia?"
Lucas mengangkat alis. "Oh ya? Kapan aku bilang seperti itu?"
"Dan, kau jangan mengganggu Lucas yang sedang patah hati karena ditolak," sahut Pierre.
"Aku tidak ditolak! Sialan kau!" Lucas spontan protes. "Aku yang berubah pikiran dan tidak jadi mendekatinya. Ia tidak cukup pantas untukku."
"Kedengarannya sombong. Jangan berkata seperti itu pada Pierre, Lucas .... Kasihan kakakku, kan?" Jeanna mengedipkan sebelah matanya. "Dia sudah ratusan tahun hidup sendiri."
"Jeanna! Kau ini!" Pierre mengangkat tangannya seolah ingin menjitak kepala Jeanna. Jeanna spontan langsung berlindung di balik bahuku.
Aku dan Lucas terbahak. "Sudah ... sudah, kalian. Jeanna, kamu iseng sekali pada kakakmu yang jomblo ini. Hentikanlah!" ujarku masih sambil tertawa.
Pierre melotot padaku dengan ekspresi lucu, dan tawa kami semakin berderai.
"Lalu? Yang muda-muda, hanya kita saja yang datang? Mana Darren? Anja mana?" tanya Lucas.
Kulihat ekspresi muka Pierre berubah dalam sekejap.
"Pierre?"
"Ah." Pierre mencoba tersenyum. "Ada sesuatu yang buruk terjadi pada mereka berdua. Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Entah Darren berada di mana sekarang. Anja ... Anja di New Yord, kurasa ia tidak akan kembali lagi ke sini dalam waktu dekat."
"Pantas saja aku tidak pernah bisa menghubungi Darren," sahutku.
"Apa yang terjadi?" tanya Lucas lagi.
Pierre tersenyum kecut. "Anja memergoki Darren tidur dengan wanita lain. Bukannya menyadari kesalahannya, Darren malah pergi dengan wanita itu. Kasihan Anja."
Seperti yang sudah diduga. Darren memang player.
"Sampai sekarang aku belum bisa menemukan Darren. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri, suatu saat nanti jika kudapatkan Darren, akan kucekik dia dengan tanganku sendiri! Dia sudah berjanji tidak akan menyakiti Anja!" ujar Pierre dengan suara tertahan.
"Sabar, Pierre," sahutku. "Sebenarnya tanpa kau bertindak pun, karma pasti akan ambil bagian."
"Masalahnya adalah dia sudah berjanji padaku! Itu hal yang sangat patut diperhitungkan, karena sekarang keadaannya jadi seperti ini! Darren keparat!"
"Kami mengerti, bersabarlah dahulu." Lucas ganti menenangkan Pierre. "Tunggu Darren keluar dari persembunyiannya dulu. Begitu dia keluar kau juga jangan langsung menyerangnya, tunggu saat yang tepat. Pembalasan dendam akan lebih terasa manis jika dilakukan pada saat yang tepat."
Pierre benar-benar mencintai Anja. Bisa-bisanya dia memendam perasaan seperti itu selama ini? Temanku yang satu ini memang cukup unik. Well, tapi tidak seunik Darren yang lebih memilih pasangan selingkuhnya dari pada kekasihnya sendiri.
***
Acara makan malam keluarga Mueller pun berlangsung dengan mewah tapi santai. Obrolan-obrolan ringan terus mengalir tanpa henti. Yeah, memang antara keluarga Mueller, Cavallo, Labruzzo dan Fohlberg seakan sudah tidak ada batasan yang mengikat. Pertemanan mereka benar-benar seperti keluarga sejati, dan aku cukup beruntung bisa masuk ke dalam lingkup keluarga yang hangat ini. Kuharap aku bisa untuk seterusnya berada di sisi Jeanna.
Mungkin malam ini saat yang tepat untuk mengadakan janji temu dengan ayah Jeanna mengenai niatku melamar Jeanna. Yeah. Akan kusampaikan hal ini nanti begitu acara selesai.
Kurasa dewi fortuna berpihak padaku, ia memberikan momen yang sangat pas untukku agar bisa mendekati Francois secara pribadi. Saat itu Jeanna sedang asyik bersenda gurau dengan ibunya tak lama setelah para tamu beranjak pulang.
"Francois, bisa kita bicara sebentar?" tanyaku sopan.
Francois menoleh padaku dengan senyumannya yang hangat. "Tentu, Daniel. Ada apa?"
"Jika tidak mengganggumu, aku ingin mengajakmu minum teh. Mungkin besok? Atau akhir pekan? Kapan pun kau senggang," ujarku sambil tetap mempertahankan senyum simpatikku.
Francois lama menatapku. Dia lalu tersenyum dan menepuk bahuku, berkata, "Selalu ada waktu untukmu, Daniel. Besok sore kurasa waktu yang pas."
Aku bernafas lega. "Terima kasih, aku sangat menghargai perhatianmu, Francois."
"Ah." Francois menghentikan langkahnya. Dia melirik Jeanna yang berada di kejauhan. "Apakah putriku tahu soal ini?"
Aku tersenyum dan menggeleng. "Jeanna sama sekali tidak tahu rencanaku ini."
"Baiklah." Lagi-lagi Francois tersenyum. "Jika asumsiku tidak keliru, tentunya besok akan menjadi hari yang menegangkan bagimu, huh?"
Aku tersenyum canggung.
"Sampai jumpa lagi besok, Daniel."
"Daniel ...!" Jeanna berlari-lari kecil menghampiri kami. "Papa, Daniel, apa yang kalian bicarakan?" tanyanya.
"Bukan hal yang istimewa, Sayang," sahut Francois. "Sudah larut, kalian pulanglah. Tolong antarkan putri tercintaku ini sampai ke rumahnya dengan selamat, Daniel?"
Aku tersenyum. "Tentu, Francois. Sekali lagi selamat atas ulang tahun pernikahanmu, aku pun berharap suatu saat nanti bisa merayakan ulang tahun pernikahan perak sepertimu dengan wanita yang istimewa."
Francois tersenyum dan mengangguk.
Jeanna bergelayut di lenganku. "Siapa 'wanita yang istimewa'?"
"Tentu saja seseorang yang sangat spesial untukku."
"Memangnya siapa?"
"Kenapa kamu mau tahu sekali?" tanyaku usil sambil menatap binar mata Jeanna yang penuh dengan pertanyaan.
"Sebutkan namanyaa, Daniel ...." Jeanna masih merajuk.
Kami tiba di lobby, dan mendapati para tamu Mueller juga masih berada di situ, menunggu dijemput supir mereka masing-masing.
Tak lama tibalah mobil milik Cavallo. Cavallo beserta istrinya hendak masuk ke dalam mobil, tapi sejurus kemudian kudengar suara letusan senjata memberondong kami semua yang berada di situ.
Suasana langsung panik, kacau! Semua orang berteriak ketakutan! Refleks kutarik tangan Jeanna dan berlari mencari tempat perlindungan.
Kurasakan sebutir timah panas menembus kakiku, merobek dan membakar uratku tanpa ampun, aku terjerembap jatuh.
Jeanna semakin panik dan berteriak ngeri, ia berusaha membantuku bangun. Tidak! Kau harus lari dan selamatkan dirimu, Jeanna!
"Lari, Jeanna! Jangan hiraukan aku, larilah!" teriakku di sela ingar bingar rentetan senjata yang masih terjadi.
Dan apa yang kutakutkan terjadi.
Jeanna tersungkur rubuh menimpaku .... jantungku serasa berhenti seketika. Kulihat punggungnya sudah dipenuhi puluhan lubang menganga mengeluarkan darah kental.
Comments
Post a Comment