TC (5-8) | INA

5 - Meeting With The Dons

Ruang meeting dengan meja panjang untuk sepuluh orang telah terisi semuanya. Deretan pria paruh baya berpenampilan rapi dengan jas dan dasi, semuanya didominasi warna gelap. 

Roman duduk berdampingan dengan Renato dan Roscoe, Reeve dia ajak pula, duduk di belakangnya, tidak jauh. Reeve menyadari ekspresi bingung semua yang hadir lantaran absennya Don penguasa Little Iraly, Don Alphonse Burgueno. Hanya penerus Don Alphonse yakni Roman yang berada di sana bersama mereka, itu pun dengan wajah yang hancur penuh lebam.

Reeve sedari tadi mengamati jejeran penguasa dunia bawah yang berkumpul, menghafal nama dan wajah yang tertangkap inderanya. Sebagian sudah Reeve kenali dengan mudah.

Para kepala keluarga kejahatan terorganisasi New Yord itu hadir dengan wakil dan penasihatnya masing-masing. Mereka adalah: 

Don Luigi Labruzzo dari klan Labruzzo penguasa kawasan New Hersey, yang datang bersama wakilnya yang terkenal karena hanya memiliki satu mata, Gianluigi Castillo.

Don Salvatore Cavallo dari klan Provenzano, yang beroperasi di kawasan Brookine, yang paling akrab dengan Don Alphonse Burgueno. Wakilnya, Antonio Garafallo, berumur jauh lebih tua, bahkan mungkin yang paling senior di antara semua mafioso yang berkumpul di sana.

Don Giorgio Restagno, penguasa kawasan Clayton, datang bersama wakilnya Saverio Bellomo.

Don Maurice Castellano, penguasa daerah Manhatten, dan wakilnya, Vincent Santora. Don Maurice Castellano yang memiliki julukan "The Angel Face" adalah sosok yang unik. Berwajah sendu seolah tidak memiliki kekuatan, padahal siapa pun tahu, di balik wajah sendu itu diam-diam tersimpan kekuatan dan nyali yang membuat orang lain gentar. Wajah sendu miliknya terlihat mirip dengan seorang jaksa yang gencar memburu para anggota mafia, yakni Wayne Castellano. Maurice dan Wayne memang berbagi darah yang sama. Memiliki orang tua yang sama, wajah yang tidak terlalu jauh berbeda, hanya saja memiliki pandangan serta profesi yang bertolak belakang. 

Tempo hari saat Reeve berhasil mengingat siapa Ivander Campbell dan hubungannya dengan teman semasa sekolahnya, Olivia, dia juga otomatis menyadari bahwa jaksa Wayne Castellano tidak lain juga adalah ayah dari temannya yang lain, Camila. Putri dari Don Maurice Castellano adalah temannya juga, Jessica. Betapa hidup itu memang sempit, Reeve tersenyum dalam hati. Tanpa disangka banyak nama yang pernah mengisi hari-hari masa kecilnya dulu, kini mencuat lagi ke permukaan. Bagaimana kabar Camila dan Jessica? 

Roman bangkit berdiri, rupanya dia memutuskan untuk segera memulai pertemuan. Baru kali itu Reeve melihat Roman berpakaian rapi dengan jas dan dasi. Sangat wajar jika Roman memerhatikan penampilannya malam ini, sebab ini kesempatan pertama Roman memimpin pertemuan dengan para pemimpin yang lain, dia tentu ingin memberikan kesan yang baik di mata semua yang hadir. Dia terlihat gagah meski ekspresinya berbahaya, auranya memancarkan kharisma yang berbeda dari pendahulunya. Sedikit disayangkan wajah rupawannya itu agak ternoda akibat lebam.

"Selamat malam, para Don yang terhormat. Saya sangat berterima kasih karena Anda semua telah menyempatkan diri untuk datang meskipun undangannya terlampau mendadak, saya minta maaf untuk itu. Saya sangat memahami Anda semua super sibuk, bisa meluangkan waktu seperti ini, betapa saya sangat menghargainya," ujar Roman tenang dan jelas. Dia menyapukan pandangan ke seluruh peserta pertemuan. "Sebelumnya saya meminta maaf juga lantaran penampilan saya kurang prima malam ini, Anda bisa melihat dengan jelas saya tidak dalam kondisi yang baik-baik saja."

"Sebenarnya apa arti pertemuan yang sangat mendadak ini, Roman?" Don Castellano mengangkat suara. "Di mana Don Burgueno?"

Roman menyunggingkan senyum yang terkesan licik. "Sebelum saya menjawab pertanyaan Anda, Don Castellano .... Saya ingin bertanya, apa pendapat Anda sekalian terhadap ayah saya, Don Alphonse Burgueno?"

Don Cavallo duluan menjawab, "Seorang Don yang bijaksana, sosok yang dihormati oleh banyak orang."

"Beliau teman yang setia. Ayah yang menyayangi anak-anaknya, tanpa memanjakan berlebihan. Kau putranya, seharusnya kau yang paling tahu mengenai itu," sahut Don Restagno.

"Tidak juga." Roman masih menyunggingkan senyum licik. "Itu hanya topeng yang dia kenakan di depan publik. Di balik keistimewaan sifatnya yang bijaksana, dihormati ... kalian sendiri tahu bagaimana sang Don sebenarnya," ujarnya.

"Sebentar. Apa sebenarnya maksudmu, Roman?" Don Labruzzo menyela. "Mengapa kau mengumpulkan kami di sini untuk membicarakan ayahmu?"

"Karena aku ingin menyamakan pandangan," jawab Roman mantap. "Bukankah Don Burgueno selama ini terlalu tamak? Ingin menguasai segala bisnis terbaik, dan menyisakan yang tak seberapa nilainya untuk kalian?" Roman menatap mata para sang Don di sana satu per satu. "Tanpa perlu kusebutkan nama ... bukankah masing-masing dari kalian sempat slack dengan ayahku? Secara tamak dan culas dia merekayasa agar dia bisa memonopoli sektor bisnis yang sebenarnya adalah hak kalian. Pengelolaan bisnis kasino. Hiburan malam. Jaringan perhotelan. Supermarket. Masih banyak yang bisa disebutkan, tapi aku diburu waktu. Dia yang mendapatkan semuanya, sementara kalian? Hanya mendapat ampas."

Tersinggung, Don Cavallo bangkit berdiri tanpa sepatah kata pun, bermaksud meninggalkan ruangan.

"Don Salvatore Cavallo," panggil Roman menahan gerak langkah sang Don. "Bukankah Don Alphonse mendatangi dan menjerat Anda dengan pesona dan kharismanya, membuat Anda akhirnya luluh dan percaya bahwa dia bermaksud baik? Bahkan menawarkan persahabatan dengan Anda? Tentu saja dia harus bersahabat dengan Anda, dia harus dekat dengan Anda agar Anda tidak menganggapnya manipulatif. Kurasa dia sekalian mempraktekkan kutipan terkenal 'Keep your friends close, but your enemies closer'. Tidakkah hal ini mengusik Anda? Cobalah pikirkan baik-baik. Dan hal ini berlaku juga untuk para Don yang lain."

Roman tahu dia berhasil mempersuasi Don Cavallo, sebab pria tua itu berdiri mematung di sana. Semua yang berada di sekeliling meja pun sama-sama berwajah tegang, tapi tidak ada yang membantah. Kecap yang dijual Roman telak menohok, para Don nyata-nyata terpelatuk.

"Itulah dosa Don Alphonse. Kalian yang memutuskan sendiri benar atau tidak perkataanku barusan. Dan ...." Roman berhenti sejenak, menarik nafas. "Ada satu dosa besar lagi yang baru-baru ini sang Don lakukan," katanya.

Semua mata memandang Roman, vibrasi tegang menguar di antara mereka.

"Kalian tentu tahu perihal mendiang Don Angelo Granoche yang memprakarsai pengembangan kloning manusia untuk dijadikan bisnis masa depan. Sayangnya Don wafat terlalu cepat, bahkan sebelum bisa menyaksikan sendiri sudah sejauh apa perkembangan kloning sekarang," tutur Roman, memulai dongengnya. "Para ilmuwan di sana mendatangi Don Alphonse untuk mengadakan kontrak baru ... tapi Don menolak. Ya. Don Alphonse menolak melanjutkan warisan Don Angelo Granoche hanya karena bisnis kloning mengganggu keimanannya. Para ilmuwan itu juga bercerita bahwa ada kelompok mobster dari Ruzia yang mendatangi mereka dan menunjukkan ketertarikan pada bisnis kloning."

Diam-diam Reeve mengernyit heran. Narasi dari mana itu?

"Tapi para ilmuwan itu masih memiliki martabat. Mereka tidak  melupakan pengorbanan mendiang Don Angelo Granoche terhadap laboratorium mereka. Maka mereka maju dan mendatangi Don Alphonse, sebagai penerus Don Granoche. Mereka menawarkan bisnis itu padanya. Tapi seperti yang kubilang tadi, ayahku menolak mereka mentah-mentah! Dia seperti membiarkan para ilmuwan itu mengadakan kontrak baru dengan mobster dari Ruzia!"

Terdengar geremangan di antara mereka yang mendengarkan.

"Kalian bisa bayangkan? Bisnis masa depan, bisnis yang bernilai jutaan dolar, lenyap begitu saja dan jatuh ke tangan mobster! Di mana harga diri kita sebagai orang Iralia? Keok dari Ruzia? Itukah?"

Geremangan semakin jelas terdengar, ditambah ekspresi para Don yang semakin menegang, tidak sedap dipandang.

"Tapi aku mencegah itu semua terjadi, para gentlemen yang terhormat. Aku maju memberanikan diri untuk mengadakan kontrak dengan para ilmuwan itu. Ya. Bisnis itu aman di tanganku sekarang. Tidak perlu jatuh ke tangan para mobster." Roman lagi-lagi menarik nafas panjang. "Oleh karena aku teken kontrak di belakang ayahku, jelas dia murka padaku. Murka dan bahkan mengusirku. Memang, aku tahu aku salah karena telah by pass kebijakan Don Alphonse, tapi apa yang kulakukan tidak lain adalah untuk mengamankan bisnis itu dari tangan mobster. Apakah itu salah?"

Reeve melengos pelan. Rupanya Roman teliti sekali merancang sebuah dongeng yang hebat. Reeve menyaksikan sendiri para Don itu termakan dongeng Roman.

Roman masih melanjutkan, "Aku tahu aku tidak salah. Pun kuharap para Don sekalian bisa menyetujui bahwa aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Niat Don Alphonse yang membiarkan bisnis kloning itu jatuh ke tangan mobster, bagiku itu perbuatan jahat. Dia tidak mau tahu, dia hanya ingin menyingkirkan bisnis yang dinilainya tidak bermoral itu jauh-jauh! Apa yang harus kita lakukan terhadapnya?"

"Jadi apa rencanamu, Roman?" Don Maurice Castellano angkat bicara.

"Bagaimana kita bisa mengubah pendirian ayahku yang keras kepala itu?" Roman menggeleng. "Tidak akan bisa. Selamanya dia hanya akan menjadi pengganggu. Aku memohon restu para Don sekalian, agar aku diizinkan menyingkirkannya. Once and for all."

Desis tak percaya terdengar di sekeliling meja. 

"Kau ... ingin menyingkirkan ayahmu? Menyingkirkan ayahmu sendiri?" tanya Don Restagno memperjelas.

"Tak ada cara lain!" jawab Roman cepat. "Aku bersedia menanggung sendiri dosa semacam itu, asalkan bisnis kloning itu tetap berjalan dengan lancar. Apabila Anda semua merestuiku ... biarkan aku bersumpah akan membagi keuntungan bersih bisnis kloning itu sama rata. Masing-masing akan mendapatkan 15%. Asal kalian tahu ... meski bisnis itu baru berjalan sebentar, tapi kami telah memiliki ratusan calon klien, dan itu bertambah setiap harinya. Per kepala dihargai 500.000 dolar, berapa omzet yang akan diterima? Don semua di sini adalah pria yang terpelajar dan jenius, tentu mudah sekali mengalikan angka itu, bukan? Terbayangkah berapa banyak yang akan didapatkan?"

"Jadi, kami masing-masing akan mendapatkan 15% asalkan merestuimu menyingkirkan Don Burgueno?" Don Labruzzo bertanya dengan suara dalam dan berat.

"Benar." Roman mengangguk seraya tersenyum. "Merupakan pendapatan pasif yang cukup tinggi untuk kalian, bukan?"

Roman gila, batin Reeve. Dia menjual nyawa ayahnya sendiri dan menjanjikan profit untuk semua yang mendukungnya. Belum lagi tadi dia sudah berhasil brainwash dan trigger kenangan buruk akan Don Alphonse. Aku tidak yakin dia akan berhasil.

"Aku setuju." Don Restagno adalah Don pertama yang memberikan restu, membuat mata Reeve nyaris mencuat keluar.

***

"Kupercayakan misi kali ini padamu," ujar Roman pada Reeve begitu tiba di kediaman Renato untuk melanjutkan diskusi. Ekspresi gembira bukan kepalang nyata terlihat dari raut wajahnya sejak pertemuan dengan anggota Komisi mencapai kesepakatan bersama.

"Aku??" Reeve membelalak.

"Tentu saja kau. Masa aku? Renato selalu membanggakanmu yang berkembang sangat pesat, terutama skillmu menggunakan senjata api. Apalagi kudengar kau sekarang memiliki julukan baru, Sin Forgiver? Selalu mengeksekusi lawan berdasarkan dosa yang diperbuatnya. Keren. Wahai, sang pengampun dosa ... ampunilah dosa ayahku dan segera kirim dia ke akhirat," gurau Roman, yang hanya ditanggapi tatapan aneh Reeve.

"Sebenarnya aku tidak setuju," sahut Roscoe. "Ini bukan main-main, target kita ayahmu sendiri, orang besar."

"Aku tahu kau akan tidak setuju," balas Roman. "Tapi coba pikirkan, yang dia tahu adalah aku, kau, dan Renato bergabung membelot. Apa dia tahu keterlibatan Reeve? Aku ragu dia tahu soal Reeve. Dia akan lengah dengan keberadaan Reeve, tidak akan curiga bila Reeve mendekatinya. Misal Reeve memutuskan meracuninya atau apalah, dia tidak akan waspada."

Renato mengangguk. "Roman benar. Tidak mungkin aku atau Roscoe yang bertindak. Butuh prajurit bernyali dan bermental baja. Prajuritmu? Dilihat dari berbagai faktor, masing-masing memiliki kelemahan yang aku sendiri ragu. Anak buahku, Tonio? Oh, jangan sebut dia. Dia bertingkah dan memberontak padaku, Reeve bahkan tengah kutugasi untuk mencari keberadaan anak itu. Yang tersisa hanya Reeve. Kita berikan kesempatan padanya," tuturnya.

"Well, jika memang demikian," gumam Roscoe sambil mengangkat bahu. 

"Jadi, Reeve? Kau siap? Buktikan kalau kau sanggup," kata Renato pada Reeve.

Ini adalah sebuah kesempatan sangat istimewa bagi Reeve untuk menunjukkan kapasitasnya. Sebuah peluang membuktikan dirinya bahwa dia layak dipandang dan disegani. Maka terdorong akan hal itu, Reeve pun mengangguk. "Aku sanggup," jawabnya.

Roman maju dan menepuk bahu Reeve. "Katakan apa rencanamu, Reeve. Dengan cara apa kau akan menunaikan tugas besar itu?"

Sebuah senyuman penuh arti tersungging di bibir Reeve, sorot culas terpancar dari matanya kala memandangi Roman.

***

Minggu pagi itu Reeve telah siaga di rooftop sebuah bangunan apartemen lima lantai. Sebuah gereja berarsitektur megah dengan 20 anak tangga menjulang tepat sebelum pintu masuk berdiri kokoh di seberang bangunan apartemen, Reeve dapat melihat dengan leluasa gereja dua lantai tersebut. Di dalamnya masih berlangsung misa mingguan,  Reeve sudah memastikan Don Alphonse Burgueno ada di sana, berkat pengintaian yang dilakukannya semenjak mentari terbit. Tinggal menunggu kapan sang Don, sasarannya, keluar dari sana dan pada saat itulah, senapan di tangannya akan menyalak.

Reeve memantik api pada sebatang rokok yang menempel di bibirnya, mengisapnya perlahan. Tidak pernah dia duga jalan hidup akan membawanya sejauh ini. Tapi tidak ada kata mundur, eksekusi harus berjalan sesuai perintah.

Pintu gereja di seberang terbuka, para jemaat keluar dari sana tanpa terburu-buru, Reeve semakin bersiaga. Matanya yang tajam membidik, menunggu sasarannya muncul. 

Reeve mengisap rokoknya dalam-dalam. Betapa asupan nikotin mampu membuatnya tenang. Bukan hal aneh jika dia sedikit banyak merasa gelisah pada tugas besarnya kali ini. Bukan, bukan karena ini pengalaman pertamanya. Namun karena yang dia bidik saat ini adalah sang kepala keluarga, pemilik kedudukan tertinggi dalam klan Burgueno. Meski Don Alphonse sendiri yang menahbiskannya menjadi seorang 'made man', yang menyambutnya dengan kecupan saat menyambutnya masuk ke dalam keluarga, yang baik dan hangat sikapnya bagaikan seorang ayah, namun bagaimanapun Reeve sependapat dengan Roman, bahwa sang Don sudah terlalu tua dan kolot, sampai bisa-bisanya menolak bisnis masa depan dengan keuntungan yang melimpah.

Ini akan menjadi hal yang luar biasa bagi Reeve, yakni membunuh seorang kepala keluarga kejahatan. Akan menjadi portfolio yang bagus. Reeve menyunggingkan senyuman licik.

Kemunculan sang Don tertangkap olehnya. Rupanya Don Alphonse bersama dengan Vanessa, mereka akan menuruni tangga sembari bercakap-cakap. Ekspresi santai, cenderung ceria terlihat dari keduanya. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi sesaat lagi.

Persetan, kepala keluarga atau bukan, yang penting dapat imbalan yang setimpal, batin Reeve. Segeralah selesaikan urusan ini! Reeve membidik kepala sang Don, bersiap menarik pelatuk.

Namun, jemarinya terhenti saat sang obyek dihampiri seorang laki-laki yang menutupi sosok obyek. Reeve berdecak. Terpaksa memanjangkan sabar, menunggu hingga orang itu, siapa pun itu, menjauh dari obyek. Tak lama orang itu terlihat mencium tangan Don dengan penuh hormat, lalu menjauh. 

Ini saatnya.

Tanpa keraguan Reeve menarik pelatuk senapannya. Dua kali. Dan sang Don pun roboh tidak berdaya, jatuh terguling di tangga, diiringi teriakan histeris Vanessa dan orang-orang yang melihat kejadian itu.

***

Rencana Roman menyingkirkan keberadaan ayahnya sukses dengan gemilang. Otomatis dia pun menggantikan kedudukan sang ayah. Menjadi Don Burgueno yang baru, dia menyingkirkan semua anak buah ayahnya dan mengisi posisi yang kosong dengan sekutu-sekutunya.

Kekuasaan triumvirat dikuasai olehnya, Roscoe dan Renato. Renato dia tunjuk sebagai sottocapo atau underboss. Sementara Roscoe ditunjuknya sebagai sang penasihat, consigliere, sekaligus pengacara keluarga Burgueno. Sementara Reeve Galante, sang eksekutor yang dipercayainya, pun naik pangkat menjadi seorang caporegime.



6 - In The Club

Dari salah satu ruang VIP sebuah nightclub eksklusif di tengah kota New Yord, Reeve memerhatikan ratusan anak muda sebayanya memadati dance floor, asyik bergoyang mengikuti entakan musik trance racikan seorang disc jockey paling ternama di seluruh Amerida. Dia masih asyik memerhatikan suasana di crowd sambil menyesap scotch dan tidak memedulikan panggilan teman-temannya yang duduk agak jauh di belakangnya.

Dari informasi yang dia dapatkan, Tonio Gallo sering berkunjung ke club ini. Reeve yang masih mengemban tugas mencari Tonio memanfaatkan kesempatan itu untuk sekalian bersenang-senang dengan teman-teman dan PSK langganannya.

Tonio Gallo. Reeve berulang kali menghela nafas kasar mengingat bagaimana dulu saat dia berkenalan dengan Tonio. Tonio tidak terlihat memiliki kecenderungan berkhianat, tapi kenyataan berbanding terbalik. 

Reeve ingat saat amarah Renato terpancing begitu mengetahui Tonio ada hubungan dengan seseorang dari keluarga lain, ditambah, Tonio semakin sering mangkir dan lalai melaksanakan tugasnya sebagai seorang capo. Renato wajar merasa marah dan kecewa, dia yang membawa Tonio masuk, namun Tonio malah bertindak demikian. 

Reeve akan menyelesaikan persoalan Tonio malam ini juga. Demi keutuhan keluarga Burgueno. Juga demi membalaskan dendam Renato.

Renato.

Senyum licik terulas di bibir Reeve. Mengapa masih harus melayani Renato seperti itu? Tidak perlu bersikap terlalu loyal pada underboss berbadan bongsor tersebut, Reeve mengingatkan dirinya sendiri. Toh Renato juga ternyata melakukan ulah yang tak pantas. 

Reeve ingat kejadian malam sebelumnya, usai mengadakan pertemuan rutin mingguan dengan para atasannya. Saat itu Roman terburu keluar dari ruangan, tidak menyadari Olivia tak lama masuk ke dalam dan mencari dirinya. Bukannya memberi jawaban di mana Roman, Renato malahan bersikap genit dan menggoda wanita itu. Betapa santainya Renato, bersikap demikian pada wanita yang dimiliki kepala keluarga di depan dirinya, Roscoe dan beberapa capo lain. 

Barangkali Renato merasa berhak bertindak semaunya. Itu bukan hal yang patut dicontoh, Reeve meyakini itu.

Reeve merasakan seseorang datang mendekat, dan tepat seperti dugaannya, Nina, PSK langganannya mendekati dirinya dan menggelayut mesra di lehernya. Gadis itu merajuk manja, "Apa yang kamu lakukan di sini, Sayang?"

Bukannya menanggapi, Reeve malah memerhatikan gadis yang berada dalam dekapannya itu. Gadis itu begitu cantik dan polos, dan terutama Reeve menyukai bibir si gadis yang ranum, berwarna merah merekah. Reeve membungkuk dan meraih bibir si gadis dengan bibirnya sendiri, lalu mengulumnya dan melumatnya hingga gadis itu kehabisan nafas.

Gadis itu mendangak, menatap Reeve sambil tersenyum dan menggigit bibir, hingga tampak malu-malu, seperti seorang perawan yang baru saja dicium oleh kekasihnya. Reeve tahu betul, wajah polos Nina bak perawan itu hanyalah cover, anugerah alam padanya, padahal Nina adalah seorang wanita muda berpengalaman yang sangat piawai melayani kebutuhan seks para konsumennya.

Maka Reeve menanggapi gadis itu dengan mencumbunya sekali lagi, dan membiarkan gadis itu mengecupi lehernya dan mengusap dadanya yang bidang dari balik kemejanya. Sementara mata Reeve masih terus mengawasi suasana di dance floor, yang terletak satu tingkat dari lantai ruang VIP. Dan seketika itu dia melihat seorang pria muda keluar dari kerumunan crowd dan turun dari dance floor, sambil menggandeng seorang wanita. Ada sesuatu dari diri pria muda itu yang membuat Reeve tidak bisa melepaskan perhatian daripadanya.

Nina yang masih sibuk membangkitkan gairah Reeve berkata, "Reeve ... ayo kita segera ke tempatmu dan selesaikan ini ...."

Lagi-lagi Reeve tidak menjawab. Dia masih asyik memerhatikan pria muda itu yang kini duduk di bar bersama dengan pacarnya sambil meneguk tequilla. Tanpa alasan dia merasa familiar dengan pemuda itu, dan yakin pernah mengenalnya, bahkan mungkin pernah akrab dengannya, entah kapan, suatu waktu dalam 19 tahun hidupnya di dunia ini. Pemuda itu terlihat tengah bermesraan dengan pacarnya, sebelum kemudian beberapa pemuda lain menghampiri dan menyapanya sejenak. Pemuda yang tinggi tegap, kira-kira sebaya dengannya, dan memiliki ketampanan khas Iralia dengan rambut hitam panjang yang diikat ke belakang.

Reeve yakin, orang itu berdarah Iralia pula seperti dirinya. Namun itu saja tidak cukup membuatnya teringat siapa pemuda yang membuatnya penasaran itu. Ingatannya seakan berubah menjadi tumpul.

Reeve masih berupaya keras untuk mengingat, ketika Nina yang sedari tadi mencurahkan perhatian padanya memprotes karena sikap cuek Reeve. "Reeve! Kenapa kamu cuek sekali, sih!" ketusnya.

Lagi-lagi tidak mendapat jawaban dari Reeve, Nina memandang mata Reeve dan mengikuti arah pandangan Reeve. Ia menoleh ke arah bar, dan melihat pemuda yang sedari tadi diperhatikan oleh Reeve. "Oh ... rupanya kamu memerhatikan orang itu? Laki-laki yang rambutnya dikuncir itu, kan? Atau kamu malah memerhatikan perempuan yang bersamanya?" tanyanya seraya menyelidik. "Kan masih lebih cantik aku, Reeve," lanjutnya manja.

"Kamu kenal?" tanya Reeve.

"Siapa, perempuan itu?"

"Bukan, yang laki-laki."

"Mmh ...." Nina mengangguk. "Ya kenal baik sih tidak. Yang kutahu dia lumayan sering ke sini dan sesekali kutemani. Namanya Stone, teman-temannya biasa memanggilnya begitu."

"Stone? Batu? Nama yang cukup norak."

"Stone Killer, julukannya. Orang bilang dia tidak ragu menggunakan kekuatan tangannya untuk .... Yaah, kamu tahulah .... Sama kan seperti kamu. Kamu punya julukan Sin Forgiver, sang pengampun dosa. Aku rasa memang orang-orang dari kalangan kalian senang sekali memberi label atau julukan sebagai pengganti nama asli."

'Kalangan' yang dimaksud Nina merujuk pada para mafioso yang sering ia layani selama ini. Demikian juga dengan Reeve Galante. Reeve yang saat ini telah memiliki jabatan capo atau kapten semakin terkenal karena gayanya yang khas saat mengeksekusi lawan. Reeve nyaris tidak pernah langsung menarik pelatuk dan menewaskan musuh, kecuali saat-saat tertentu yang dianggap spesial, seperti saat dia melenyapkan nyawa Don Alphonse Burgueno. Dia selalu mengikat kaki dan tangan lawannya, lalu dengan penuh kuasa dia berbicara pada sang lawan; mendapatkan informasi yang benar-benar diinginkannya, atau sekedar untuk membuat si lawan merasa menyesal telah bermain api dengannya. Setelah itu dia memutuskan bahwa orang ini bersalah, lalu mengeksekusi terlebih dahulu salah satu anggota tubuh lawan yang membuat si lawan ini bersalah ... atau lebih tepatnya, melakukan dosa terhadap keutuhan keluarga Burgueno.

Pernah suatu ketika, Reeve mendapat mandat untuk membereskan seorang rekanan keluarga yang berbuat kurang ajar pada salah seorang pacar Renato Gravano, mentor sekaligus atasan Reeve. Setelah menemukan si rekanan, Reeve mengikat tangan dan kakinya, lalu memaksanya berbaring di dalam sebuah peti mati. Dengan tenangnya Reeve mengatakan pada si rekanan bahwa yang membuat dirinya bersalah tidak lain adalah tangan, ujarnya seraya menghancurkan tangan si rekanan dengan pistol; alat vital, ujarnya lagi seraya menembak kemaluan si rekanan; dan, tanpa menghiraukan teriak kesakitan orang itu, Reeve menghancurkan kedua bola matanya dalam dua kali tarikan pelatuk seraya berkata bahwa faktor paling utama yang membuat orang ini sesat adalah kedua matanya yang cabul itu. Sebelum kemudian dia menghanyutkan peti mati berisi mayat rekanan itu di tengah laut.

Reeve Galante selalu bertindak bagaikan seorang tuhan tatkala tengah mengeksekusi lawan. Dia kerap menerapkan ayat dalam tiga injil yang menyatakan bahwa: "Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah atau buanglah itu, karena lebih baik bagimu untuk masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang daripada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu daripada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua."

Entah setan apa yang merasukinya, hingga bisa-bisanya Reeve memosisikan dirinya sebagai tuhan yang menghakimi, dan juga mengeksekusi orang-orang yang 'berdosa' terhadap keluarga Burgueno. Tapi itulah yang membuatnya ditakuti dan dihormati, dan juga menjadikannya orang kepercayaan Don Roman Burgueno, sang kepala keluarga.

Ciri khasnya ini membuatnya dijuluki 'Sin Forgiver', atau 'Sang Pengampun Dosa'. Namun, banyak di antara rekannya yang malas memanggilnya 'Sin Forgiver' lantaran terlalu panjang dan tidak praktis, maka mereka membuat panggilan lainnya untuk Reeve, yaitu 'Sinner', yang berarti 'Pendosa'. Arti yang sangat bertolak belakang dengan julukan Reeve sebenarnya, namun rekan-rekannya lebih tertarik memanggilnya 'Sinner' lantaran lebih praktis dan juga sebagai salah satu bentuk gurauan pada Reeve. Reeve sendiri tidak ambil pusing dengan nama-nama julukannya itu. Baginya, dia adalah seorang Reeve Galante, mafioso Burgueno yang handal dan terpercaya, yang kini menempati posisi sebagai seorang capo yang telah memiliki anak buah, seorang caporegime.

Reeve mendengus geli mendengar komentar Nina. "So what?" 

"Tapi di antara kalian semua, memang cuma nama julukan kamu yang membuatku kagum. Keren. Apa sih yang membuatmu memilih nama Sin Forgiver?" Nina meletakkan tangannya di atas bahu Reeve, menggelayut manja.

"Well. Anggap saja aku malaikat pencabut nyawa yang bertugas memberikan kesempatan pada korbannya untuk bertobat."

Nina terkekeh. Ia hendak merayu Reeve lagi namun urung saat pria itu bertanya lagi.

"Kamu tahu siapa nama asli si Stone itu?"

"Kenapa sih kamu penasaran sekali sama Stone?" Nina merajuk. 

"Karena sepertinya aku mengenalnya."

"Benarkah? Well .... Kalau tidak salah sih, nama aslinya Flav Maranzano."

Reeve tersentak begitu mendengar nama itu, dan seketika ingatannya pun pulih.



7 - Reuni Para Mafiosi

Flav 'Stone Killer' Maranzano, meneguk tequillanya hingga tandas, lalu menyapukan pandangannya ke sekitar. Mata hitamnya yang bersorot tajam dan tegas tampak berkelana mencari wanita yang menarik, yang main mata dengannya, dan yang jelas, bisa diajaknya tidur malam ini juga. 

Suatu ketika dia melihat sesosok pemuda berperawakan langsing berjalan ke arahnya. Pemuda itu berambut hitam sebahu, lengkap dengan sebuah codet di pipi kanan. Saat dia melihat wajah pemuda itu, Flav merasa familiar dan yakin dia pernah bertemu dengan pemuda itu. Flav berusaha mengingat, tapi tidak berhasil.

Reeve Galante duduk bersebelahan dengan pemuda yang menurut Nina tadi bernama Flav Maranzano, aka Stone. Pemuda itu tengah menghabiskan tequilla-nya, entah gelas yang keberapa, seraya mengamati orang-orang yang lalu lalang di sekitar mereka, namun Reeve dapat merasakan kewaspadaan plus keingintahuan pemuda itu terhadap dirinya.

Reeve memesan scotch pada bartender dan menyesapnya seteguk. Tanpa menoleh dia bertanya pada pemuda itu, "Flavio Maranzano?"

Walaupun pemuda itu tetap diam dan tidak mengubah posisi duduknya, Reeve tahu pemuda itu terkejut mendengarnya menyebutkan nama itu. 

Pemuda itu pun, tanpa menoleh, dengan nada datar menjawab, "Tidak ada yang memanggilku Flavio."

Reeve tertawa ringan. "Aku tahu. Saking bencinya kau dengan nama Flavio, kau sampai memaksa teman-temanmu untuk memanggilmu Flav. Dan rupanya sekarang kau berjulukan 'Stone Killer', huh, Stone?"

Pemuda itu, Flav, menoleh pada Reeve seraya mengernyit. "Siapa kau?"

Reeve pun menoleh pada Flav sambil tersenyum lebar. "Ini aku, sobat! Reeve Galante! Ah, aku yakin kau pasti lupa denganku," ujarnya riang seraya merangkul Flav.

Langsung berkelebatan di benak Flav memori masa sekolahnya dulu, ketika mendengar pemuda bercodet itu menyebutkan namanya. Kini Flav ingat, dia memang pernah mengenal pemuda itu, dan bahkan pernah akrab dengannya. 

"Reeve!" serunya bersemangat sambil memeluk Reeve, melepas rindu untuk beberapa jenak. "Man, apa yang kau lakukan di sini! Apa kabar??"

Reeve tersenyum lebar. "Baik. Lama tidak bertemu, hampir saja aku tidak mengenalimu!"

"Yaa, aku juga tadi tidak bisa mengenalimu, apalagi ada hiasan permanen di wajahmu! Sudah jadi bos preman, huh?"

Yang ditanya tidak langsung menjawab. Reeve tersenyum simpul. "Seorang bos preman levelnya hanyalah mengurusi sampah," jawabnya enteng.

"Oh? Apa kau memanfaatkan darah Sivilymu untuk sesuatu yang kita kagumi sejak dulu?"

"Ya. Tepat seperti yang kau katakan. Dan kau, tentu kau  memanfaatkan darah Sivily milikmu, kan?"

"Kenapa aku harus menyia-nyiakannya?" jawab Flav cepat, dan mereka berdua tergelak.

"Oke ... kalau begitu kita berdua sudah bukan lagi Flav dan Reeve polos yang hanya bisa mengagumi La Cosa Nostra dari jauh. Lalu apa peranmu?" Reeve menyesap scotch. "Aku beruntung, dulu, ketika aku masih menjadi pekerja kasar. Renato Gravano, capo klan Burgueno tertarik dan langsung merekrutku menjadi sgarrista, padahal aku sama sekali belum mengajukan diri untuk mengabdi. Aku tidak pernah menyangka Gravano ternyata sudah memerhatikanku sejak lama dan menilaiku pantas untuk masuk ke dalam keluarga. Dia mentor yang paling kuhormati."

"Kau langsung diangkat menjadi soldier?! Beruntung sekali! Aku berjuang keras dari bawah, gontok-gontokan dengan pesaing-pesaingku. Kemudian aku menjadi soldier, di bawah komando langsung Frank Magaddino, kau tahu orang itu? Capo klan Provenzano! Dan ... baru dua hari yang lalu aku menggantikan kedudukannya." Flav terdiam sejenak, lalu tersenyum sambil mengangkat bahu.

"Yeah, aku dengar berita kematiannya, mati beku di bawah tumpukan ikan salmon di gudang pabrik pengalengan ikannya sendiri. Magaddino benar-benar 'tidur dengan ikan-ikan'. Siapa pun yang melakukan itu, orang itu pastinya orang yang gampang tersinggung sampai-sampai mengartikan perumpamaan klasik itu secara harfiah," kata Reeve seraya menatap Flav, memerhatikan ekspresi wajahnya.

Flav tersenyum dingin, tidak menjawab.

"Jadi, ada alasannya kau memutuskan bergabung dengan klan Provenzano. Tentu karena Salvatore Cavallo itu akrab denganmu, kan?"

"Tentu saja!" Flav menjawab cepat. "Cavallo sudah menganggapku seperti anak sendiri, dia dekat dengan ayahku, sementara aku pun pernah bersahabat dengan anaknya, Louis. Lalu kenapa aku harus melamar pada klan lain, jika Cavallo memercayaiku dan kemungkinan besar dia akan menyerahkan kedudukannya padaku?" lanjutnya  sombong.

"Culas!" Reeve meninju bahu Flav. "Ini baru Flav yang kukenal! Sialan, beruntung sekali kau!" serunya lagi, disambut tawa renyah Flav. "Memang apa kabar ayahmu, Flav? Kalau tidak salah, dulu kau dipaksa ayahmu untuk meneruskan usahanya? Terus bagaimana kelanjutannya?"

Flav mendengus. "Bagaimana kelanjutannya? Tidak ada! Saat itu kuputuskan untuk mengikuti jejakmu, menghilang dari peredaran dunia dan 'bertapa' menjadi seseorang yang bisa kau lihat sekarang ini. Usaha warisan ayah dikelola adikku, Antonella, aku tahu dari Cavallo. Dan ayahku, sudah mati tiga tahun yang lalu. Cavallo mengabarkan itu dengan nada seolah menyalahkanku, tapi apa peduliku?"

"Sudahlah, toh sekarang kau sudah menentukan jalan hidupmu sendiri. Yang kau miliki seutuhnya dan kau nikmati. Untuk itu kita hidup, kan? Apalagi, ini New Yord. Jaringan organisasi terbesar dan terkuat di seluruh Amerida Serikat; tidakkah kau bangga dengan hal itu? Provenzano menguasai jaringan perhotelan dan real estate terbesar di AS; juga memonopoli pembangunan industri di negara-negara bagian; belum lagi bisnis eksklusif Provenzano dengan Frenchye, wow, bayangkan berapa keuntungannya. Uang, tidak ada yang lebih istimewa selain uang. Kau setuju?" Reeve tersenyum, mengamati ekspresi wajah Flav yang juga tengah tersenyum.

"Semua yang sudah kuraih ini memuaskanku, sekaligus membangkitkan gairahku. Untuk apa aku mundur? Oh ya, bisnis eksklusif yang kau singgung tadi, buatku itu bisnis masa depan yang menjanjikan. Aku sangat berharap suatu saat nanti aku yang akan menghandle semua bisnis itu. Sebab Cavallo, dia tidak lagi bersemangat menjalani semua yang dimilikinya, tidak seperti dulu! Sialan, Cavallo semakin tua semakin lemah!"

"Kalau begitu kau lakukan saja revolusi ala kau sendiri. Gulingkan Don tuamu itu! Kudukung kau 100%."

Flav melengos. "Kenapa tidak kau saja? Lalu kuasailah semua tambang emas Burgueno: sebagai penguasa bisnis perjudian; penguasa jaringan peredaran kokain yang terbesar; dan yang terutama, penguasa bisnis kloning manusia. Kudengar keuntungan bersih bisnis itu sangat, sangat manis! Kau membuatku ingin merebut bisnis itu," candanya seraya tergelak.

"Heey, langkahi dulu mayatku," sahut Reeve cepat, sambil tertawa pula. "Well, aku tidak akan berkhianat pada Burgueno."

Flav tersenyum mengejek. "Kau takut sama anak durhaka itu, heh?!"

"Flav, aku masih ingin hidup dan bersenang-senang, oke, aku tidak akan main-main dengan orang itu."

"Kalau kau terus tunduk pada Roman Burgueno, mustahil kau bisa meraih kedudukan yang lebih tinggi."

Reeve menatap Flav dan tersenyum penuh percaya diri. "Suatu saat, kuyakin, aku akan menguasai seluruh New Yord. Terutama bisnis masa depan kami yang menjanjikan. Jadi tidak hanya nuklirmu saja, Flav."

"Oh, ya kita lihat saja nanti," sahut Flav. "Omong-omong, aku masih tidak paham sejak kapan sebenarnya penelitian kloning itu berjalan, bagaimana mereka bisa membuat robot klon itu seperti manusia biasa? Sampai bisa menggaet banyak customer."

"Yeah, rupanya banyak orang yang berminat membuat klon. Bahkan seorang senator pun ikut tertarik dengan bisnis ini. Sebenarnya, penelitian dan pengembangan kloning manusia sudah ada sejak 25 tahun yang lalu. Tercetus oleh Don Granoche, pendahulu Burgueno. Ilmuwan-ilmuwan yang terkait setuju dan bekerjasama dengan Don Granoche. Sang Don menyuplai modal begitu besar, dengan harapan akan menyaksikan sendiri bisnis barunya itu lancar. Tapi maut sudah keburu menjemputnya. 25 tahun kemudian ketika perkembangan kloning mereka sudah hampir selesai, mereka menawarkan kerja sama dengan Don Alphonse Burgueno, sebagai penerus Don Granoche."

"Alphonse menolak," sahut Flav.

"Ya. Dia menolak bisnis kloning. Tapi Roman bernafsu sekali dan teken kontrak dengan mereka tanpa sepengetahuan Don Burgueno. Ketika ulahnya ketahuan, Roman membujuk Komisi Tinggi untuk mengizinkannya melenyapkan ayahnya sendiri. Dan terjadilah."

Flav mendengus. "Setidaknya aku tidak durhaka seperti Roman."

"Kau itu, versi yang lebih baik dari Roman. Dengan kata lain kau sama saja seperti dia, tapi tidak senekad dan sebrutal itu."

"Bajingan. Kau sendiri merasa benar??" Flav menggeram, sementara Reeve hanya terkekeh. 

"Jadi Roman langsung menduduki kursi ayahnya. Damn. Culas dan licik!" ujar Flav.

"Dia bahkan menendang keluar semua tangan kanan dan bawahan Alphonse dan mengisi posisi yang kosong dengan sekutu-sekutunya. Roscoe Valachi sebagai penasihat, dan Renato Gravano sebagai wakil; berikut capo-capo lainnya termasuk aku. Tapi aku bersyukur, sebab kalau Gravano tetap di posisinya semula sebelum Roman berkuasa, aku tidak akan menjadi seperti ini," sahut Reeve.

"Kau yang paling culas."

Reeve tidak mengacuhkan Flav. "Bukankah memang sudah saatnya generasi muda berkuasa dan menggeser para kakek tua berkumis yang mulai tidak bisa diharapkan? Nah, kau  mulailah revolusi di klanmu. Kau tahu sendiri Salvatore Cavallo seperti apa, apalagi wakilnya, Antonio Garafallo, kurasa dia tipikal yang sama seperti Cavallo. Kolot."

"Kau mau melihatku dihancurkan Komisi?"

"Tentu tidak. Tapi, kalau kau berani mengeksekusi mentormu sendiri, kenapa tidak kau mulai revolusi itu?"

Flav menatap Reeve beberapa jenak, kemudian tersenyum menahan tawa. "Bagaimana kau tahu?"

"Mudah diterka, sobat." Reeve merangkul bahu Flav. "Dan cukup memberiku pencerahan untuk langkahku selanjutnya."

"Apa pun itu. Oh ya, kau tahu bagaimana kabar teman-teman kita dulu? Jujur, aku sering teringat mereka."

Reeve tersenyum. "Aku pun masih sering teringat the gank. Aku tidak tahu kabar mereka semua, tapi kutahu kabar Olive, kau ingat dia?"

"Olive? Oh, Campbell? Anak kesayangan musuh abadi La Cosa Nostra, Ivander Campbell?"

"Yap. Ditinggalkannya rumah nyaman ayahnya dan memilih tinggal bersama Roman Burgueno."

"Serius?! Huh, bahkan putri seorang jaksa federal kenamaan seperti Campbell pun tergila-gila pada mafioso! Sesuatu yang paling dibenci oleh jaksa laknat seperti dia. Dan Olive, dia memang cukup gila dan nekat, untuk main-main dengan sesuatu yang belum pernah dikenalnya!" Flav meneguk minumannya. "Lalu siapa lagi yang kau dengar kabarnya? Anja, bagaimana? Dia sepupuku sendiri tapi aku bahkan tidak tahu bagaimana kabarnya!"

Reeve menggeleng. "Aku tidak tahu kabar Anja. .... Ah, kudengar kabar tentang Denver. Dia rupanya menjelma menjadi seorang ahli perakit senjata api konstruksi. Roman tertarik karena senjata rakitannya sangat ampuh dan mematikan. Dan yang terutama, berperedam suara. Roman teken kontrak dengan Denver untuk terus menyuplai pasokan senjata pada kami."

Flav mengangkat alis. "Denver? Cukup mengejutkan. Aku tidak pernah membayangkan dia terlibat dengan mafia."

Reeve tertawa ringan. "Yaah, dia berbisnis dengan mafia atau tidak, tetap saja dia punya hubungan dengan La Cosa Nostra. Sebab kudengar dia memacari Jessica. Kau ingat? Anak bos klan Fontana, Jessica Castellano."

"Jessica Castellano?" sahut Flav terkejut. "Jadi mereka pacaran? Huh, hebat juga, Denver berhasil menaklukkan putri salah satu bos mafia besar di New Yord. Kalau tahu begitu lebih baik aku saja yang mendapatkan Jessy, agar bisa mengincar kursi kepemimpinan Maurice Castellano."

"Memang kau culas. Tapi untuk apalah, Flav, klan Fontana yang dipimpin Maurice tidak lebih kaya dibanding klan Provenzano dan Burgueno. Termasuk juga, klan Sciacchitano dan Labruzzo, mereka tidak lebih kaya dibandingkan dengan Burgueno dan Provenzano. Kau sudah beruntung bisa menjadi letnan Provenzano," tutur Reeve. 

Flav tersenyum. "Benar juga. Lalu, bagaimana kabar yang lain? Camila ... lalu siapa lagi cewek-cewek itu?"

"Aly, Annette. Aku tidak tahu sama sekali kabar mereka. Cuma Olive. Kenapa, kau ingin bertemu dengan mereka dan bermaksud tebar pesona, heh?"

Flav menyeringai. "Aku berani jamin, mereka sekarang sudah menjadi cewek-cewek cantik yang menggairahkan. Dan aku penasaran, siapa di antara mereka yang paling hebat."

Reeve menahan tawa. "Jadi kau ingin meniduri mereka lalu menilai siapa yang paling hebat? Kalau sudah ketemu yang paling hebat, lalu apa maumu? Mau kau nikahi, heh? Kau pikir mereka juga menginginkanmu?"

"Wow, jangan salah, man! Aku berani bertaruh mereka mau kuajak tidur!"

"Yaa, aku juga berani bertaruh, mereka akan lebih tergila-gila padaku, karena hanya aku yang bisa membuat mereka terpuaskan." Reeve sesumbar sambil tersenyum mengejek.

"Kita lihat saja nanti."

"Kemudian mereka bakalan komplain, merasa tidak terima diperlakukan sebagai boneka seks. Padahal bukannya mereka memang boneka-boneka cantik yang bertugas menemani kita tidur?"

"Yeah, itulah cewek. Rewel. Dan harus selalu dinomorsatukan!"

"Walaupun begitu tetap saja kita tidak akan pernah bisa berpaling dari mereka. Mereka makhluk yang rumit, tapi sekaligus juga makhluk yang kita butuhkan setiap malam."

Flav tergelak. "Hanya setiap malam buatmu? Kasihan! Aku, aku tidak kenal pagi siang sore malam. Itu berarti aku jauh lebih profesional darimu, kan?" bualnya.

Reeve mencibir. "Apa bagusnya punya testosteron berlebih seperti itu?"

"Taik, kau hanya iri!" sahut Flav, sementara Reeve tertawa geli. "Lalu yang lain? Daniel? Kemarin kulihat di TV ada satu band yang anggotanya mirip dengan Lee, Richard, Addo dan Andrew. Apa kabarnya mereka? Jangan bilang yang kulihat itu benar-benar mereka."

"Itu pasti benar mereka. Nama bandnya Black Blossom, kan? Olive yang bercerita padaku. Addo, Richard, Lee dan Andrew sudah sukses menjadi entertainer, dan sudah menelurkan tiga album."

"Yaa, tepat itu dia. Kulihat mereka sewaktu menonton siaran langsung Music Award, dan mereka membawa pulang empat trofi sekaligus. Tidak pernah kusangka! Bisa sukses juga hanya dengan menjadi boyband!"

"Mereka band beraliran rock dan kuakui lagu-lagu yang mereka ciptakan cukup enak didengar. Bisa-bisanya kau baru ngeh tentang Black Blossom, kau persis seperti orang gua yang baru mengenal peradaban dunia," ejek Reeve ketika kemudian dia melihat dua orang anak buahnya yang berdiri di kejauhan memberikan tanda padanya. 

"Aku harus pergi," pamitnya seraya menepuk bahu Flav.

"Mau ke mana kau?"

Reeve berbisik, "Arah jam empat ada beberapa yang wajib dicicipi. Kau sedang mencari teman tidur, kan? Sampai ketemu."

Flav menoleh ke arah yang disebutkan Reeve, dan dia melihat empat wanita cantik yang seketika membangkitkan gairahnya. 

Wow, seleranya oke juga! pikirnya. Dan Flav tersenyum menyadari beberapa dari mereka sesekali mencuri pandang ke arahnya.



8 - Grazie,Tonio

Sangat menyenangkan bisa berjumpa lagi dengan sahabat lama setelah sekian tahun tidak bertemu. Itulah yang dirasakan oleh Reeve saat ini. Meski berlangsung singkat, pertemuannya kembali dengan Flav membuat suasana hatinya berubah. Namun secercah kabut penyesalan juga dirasakannya, menyadari tidak akan ada lagi momen-momen 'reuni' seperti tadi, penuh dengan obrolan ringan dan canda tawa. Suatu saat, Reeve merasa yakin, entah cepat atau lambat, akan bersua lagi dengan Flav Maranzano dalam kondisi yang jauh berbeda, saling menghancurkan dan menjatuhkan. Meskipun dalam beberapa waktu terakhir tidak ada perselisihan dan permasalahan apa pun di antara keluarga Burgueno dan Provenzano, suatu saat api bisa saja kembali berkobar, begitu juga dengan tiga keluarga yang lain.

Reuni telah usai. Saatnya kembali bekerja. 

Maka Reeve berjalan dengan langkah lebar menuju suatu tempat. Beberapa anak buahnya yang setia mengekor di belakang. "Tanpa perlawanan?" Reeve bertanya tanpa menoleh.

Salah seorang anak buah Reeve dengan lugas menjawab, "Tanpa perlawanan sama sekali, Bos. Dia sedang dimabuk alky dan seks."

Reeve mencibir. "Manusia tolol," gumamnya.

Mereka tiba di sebuah ruangan serupa gudang di bawah tanah yang rupanya beralih fungsi sementara menjadi tempat penyekapan. Di tengah ruangan seseorang duduk di atas kursi, tidak mampu bergerak. Tangannya terikat erat di belakang, pun dengan kakinya. Tiga orang anak buah Reeve yang lain mengelilingi orang itu, mengawasi dengan ketat. Dialah Tonio Gallo, orang yang Reeve cari selama ini.

Tonio menatap Reeve penuh kebencian bercampur rasa takut mengetahui bahwa saat ini hidupnya bergantung sepenuhnya pada keputusan Reeve. Sebagai seorang eksekutor, sekaligus sesama capo yang sebelumnya dia hormati.

"Jadi?" Reeve berdiri tepat di depan Tonio seraya tersenyum licik.

"Bagaimana kalian bisa menemukanku di sini?"

Reeve mendengus. "Jadi rupanya belum kau tanamkan di otak kecilmu, apa yang disebut dengan jaringan kekuasaan, huh? Dan itu artinya kau pun tidak menyadari seberapa luas tangan gurita klan Burgueno. Apa seperti ini, tingkah laku seorang capo? Sama sekali bukan hal yang patut ditiru oleh para prajurit apalagi oleh para rekanan." Reeve bersedekap.

"Hah, lalu apa kau pikir kau itu seorang caporegime yang baik? Caporegime taik! Tanya saja pada para anak buahmu yang ada di sini." Tonio menunjuk anak buah Reeve dengan dagunya. "Pasti mereka setuju denganku. Kau itu cuma caporegime tai anjing!"

Salah seorang anak buah Reeve spontan menempelkan moncong senapan di pelipis Tonio, sementara Tonio memejamkan mata dan menarik nafas.

"Hey!" tegur Reeve. "Turunkan senapan itu!!" Anak buah Reeve dengan patuh menuruti perintahnya. 

"Biarkan orang ini bicara. Setiap orang punya hak untuk bicara," lanjut Reeve lagi.

"Cih, jangan bertingkah sok humanis! Percuma saja kau menahanku di sini, Sinner, sebab apa pun yang akan kau lakukan, aku tidak akan membuka mulut. Bunuh aku, cepat, kalau itu membuatmu puas. Tapi kau tidak akan pernah tahu pada siapa aku menjual informasi tentang Renato Gravano, sottocapo kita yang agung! Dan kau tidak akan pernah tahu apa yang mereka rencanakan!" Ada getaran dalam seruan Tonio, mungkin dia sebenarnya merasa takut.

Reeve tersenyum. "Apa menurutmu, aku sebrutal itu dalam menghilangkan nyawa orang? Kuberitahu kau, aku tipe pemilih. Bagaimanapun kau adalah salah seorang mafioso Burgueno yang sangat bisa diandalkan, sebelum kemudian kau bentrok dengan Renato Gravano, dan menjadikanmu seperti ini. Kau ingat saat kita pertama bertemu? Aku menjadikanmu sosok kakak, role model yang kuhormati. Sungguh, aku tidak punya maksud membunuhmu, Tonio, menurutku bakatmu terlalu istimewa untuk disia-siakan. Jadi katakan saja pada siapa kau jual informasi Renato, agar kita bisa segera menindaklanjuti orang-orang yang memiliki rencana licik pada Renato. Dan kau, kau akan bebas! Sebebas burung di angkasa. Apa lagi, di antara kita tidak ada dendam pribadi. Benar? Untuk apa aku mengotori tanganku dengan darahmu? Think about it," tuturnya kalem.

Tonio terdiam.

Reeve memandangi Tonio berjenak sembari tersenyum. "Bagaimana? Jika kau berjanji akan mengatakannya, akan kulepaskan ikatanmu," ujarnya.

"Oke, lepaskan dulu ikatanku," pinta Tonio.

Reeve memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan ikatan Tonio, dan mereka mematuhinya meski menyimpan keheranan. 

"Jadi, dengan siapa kau jual informasi Renato? Klan Sciacchitano? Provenzano? Fontana? Atau malah Labruzzo?" tanya Reeve tidak sabar sementara Tonio memijat pergelangan tangannya yang kebas akibat ikatan.

"Luigi Bonetti. Caporegime Sciacchitano. Kau tahu dia, kan? Dia musuh bebuyutan Renato. Dia berencana membunuh Renato besok malam," jawab Tonio seraya hendak bangkit berdiri.

"Grazie, Tonio." Reeve mencengkeram bahu Tonio kuat-kuat dan mendudukkannya kembali di kursi. Sementara tanpa diperintah, anak buah Reeve mengikat kembali tangan Tonio.

Tonio yang terkejut mengernyitkan kening menatap Reeve, lalu memahami segalanya dalam sepersekian detik. "Kau lebih busuk dari pada babi," desisnya menahan murka karena telah diperdaya.

"Dan kau hanyalah seonggok daging penuh ulat yang bermulut besar," balas Reeve seraya dengan tenang memasukkan moncong revolver ke dalam mulut Tonio dan menghancurkan pipinya. Seakan tidak mendengar teriakan Tonio yang kesakitan, Reeve tersenyum dingin, meletakkan kembali revolver di atas meja lalu mengambil sebilah gunting tajam. "Dan apa kau masih bisa bermulut besar dan menjual informasi pada musuh, jika lidahmu terpotong, Tonio?" Reeve memberi isyarat pada anak buahnya untuk menarik keluar lidah Tonio. Tonio memberontak sebisa mungkin, berusaha berkelit walaupun dia sendiri tahu bahwa hal itu sia-sia.

"Sinner!"

Reeve yang baru saja hendak memutilasi Tonio, menoleh dan mendapati Renato berdiri di ambang pintu mengawasinya.

"Apa yang kau lakukan, asyik bermain-main dengan tikus kecil keparat itu? Tinggalkan dia segera dan ikut aku! Ada yang harus kuurus," perintah Renato dengan nada datar seraya berbalik badan dan menjauh.

Reeve melengos kesal sembari melepas sarung tangan. Sebenarnya dia belum puas 'bermain' dengan sasarannya kali itu, namun tidak mungkin pula baginya tidak mengindahkan perintah sang mentor.

"Bereskan tikus ini segera. Buang ke tengah laut dan pastikan pekerjaan kalian bersih." Reeve memberi perintah pada anak buahnya sebelum kemudian mengikuti Renato, menyejajari langkahnya. "Luigi Bonetti bermaksud mencelakakanmu besok malam," lapornya.

Renato mendengus. "Bonetti. Si banci. Rupanya dia. Masih penasaran ingin menyingkirkanku, ya? Kalau kau benar menghormatiku dan menyayangiku, Sinner, tentu kau tidak akan membiarkan dia mendekatiku, kan?" tanyanya tanpa menoleh pada Reeve.

Reeve tersenyum. "Renato, aku bukanlah anak buahmu yang patut kauragukan. Bisa kau lihat dan buktikan sendiri loyalitasku pada keluarga dan padamu, sebagai mentorku. Kau tidak perlu mengkhawatirkan Bonetti. Aku sudah memiliki rencana padanya, tentu kalau kau tidak berkeberatan, aku memintamu untuk mengubah sedikit agendamu besok malam."

"No prob! Jelaskan rencanamu nanti di mobil." Renato melemparkan kunci mobil Avdi Allroadnya yang langsung dengan sigap ditangkap oleh Reeve. "You drive," ujarnya lagi seraya melompat masuk ke dalam mobil.


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.