TC (9-12) | INA

9 - Bakat Pengkhianat

Malam telah semakin larut. Di jalan utama, kendaraan semakin jarang berseliweran. Kota besar penuh lampu nan gemerlap itu telah memasuki waktu untuk beristirahat. Tampaknya sebagian besar orang telah memasuki peraduan, namun tidak dengan Reeve.

Di sebuah apartemen, Reeve tengah mengamati tubuh seorang pria yang sama bongsor seperti Renato. Tubuh itu tak sadarkan diri berkat pengaruh bius. Tak berdaya. Tanpa buang waktu lagi, Reeve menarik tangan pria itu, membuatnya seolah tengah memegang revolver dengan telunjuk tepat di pelatuk. Reeve menyarangkan moncong revolver di dalam mulut pria itu lalu melepaskan tembakan. Sontak cairan merah beserta isi kepala pria itu mengotori sofa dan bantal yang menyangga tubuhnya, yang kini terkulai tanpa nyawa. 

Renato muncul dari arah dapur sembari mengusap tangannya dengan sapu tangan. "Thanks, Sinner. Aku senang kini Bonetti sleeps with the fishes. Ayo segera pergi, aku sudah menghapus jejak keberadaanku," ujarnya. "Kau juga, hapus jejakmu."

"Tidak perlu," jawab Reeve santai sambil mengangkat tangan, menunjukkan bahwa dia mengenakan sarung tangan sedari tadi. "Aku mengenakan sarung tangan, lagi pula aku tidak menyentuh apa-apa selain mayat ini," katanya lagi.

Renato mengangguk. "Baiklah. Kau memang selalu cerdas dan penuh perhitungan. Ayo!" 

Maka mentor dan anak buah itu pun segera pergi dari sana. Senyum riang menghiasi wajah Renato selama perjalanan pulang, Reeve tersenyum maklum menyadari hal itu. 

Mungkin ini terakhir kalinya aku membantumu dan membuatmu senang, Renato. Nikmatilah, ujar Reeve dalam hati.

"Kau tak ingin mampir?" tanya Renato begitu tiba di depan rumahnya. "Istriku membawakan banyak sekali pasta tadi siang. Siapa tahu kau berminat," lanjutnya. 

Reeve tersenyum, menggeleng. "Thanks, Renato. Aku tidak lapar," jawabnya.

"Begitu?" Renato melepaskan seat belt yang melingkari perut tambunnya. "Kalau kau berubah pikiran dan ingin makan, datang saja. Tapi kalau aku sudah tidur, kau tahu di mana kunci cadangan, kan?"

Lagi-lagi Reeve tersenyum. "Tentu. Terima kasih, sekali lagi," katanya.

"Ah. Tidak usah sungkan padaku. Kau sudah kuanggap keluarga sendiri, kau tahu itu."

Sikap Renato memang selalu hangat pada Reeve. Adalah hal yang lumrah Renato memercayakan semua hal pada Reeve. Sudah kesekian kalinya Reeve mengunjungi rumahnya dan Renato selalu menyambut kedatangan Reeve dengan banyak sajian. Wakil kepala itu sangat paham Reeve tidak pernah mengisi perutnya dengan santapan rumahan, dia nyaris seperti pengganti ayah bagi Reeve.

"Kau selalu memanjakanku, Renato," ujar Reeve.

"Aku tahulah bagaimana kehidupan pria lajang sepertimu. Tidak ada yang mengurus, tidak ada yang memasak untukmu. Meski aku pisah rumah dengan istriku, tapi dia tetap rutin memasakkan sesuatu untukku. Tidak ada salahnya aku berbagi dengan orang kepercayaanku," kata Renato sambil tersenyum.

Reeve tidak menyahut.

"Jadi, kalau kau nanti lapar, datanglah. Ok?" kata Renato lagi sebelum turun dari mobil.

Reeve mengendurkan otot wajah, selesai sudah senyum basa basinya begitu Renato masuk ke dalam rumah. Dia segera menginjak gas, mengarah menuju rumah Burgueno.

Beruntung baginya, Roman masih ada di dalam ruang kerjanya begitu Reeve tiba. 

"Reeve? Apa yang kau lakukan di sini?" Roman menyambut kedatangan Reeve tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponsel yang dipegangnya.

"Roman, bisa kita bicara sebentar?" tanya Reeve. Dia menatap sekilas beberapa pengawal yang berjaga di dalam ruangan. "Privat," imbuhnya lagi.

Roman mengangkat wajah, memandangi sang lawan bicara. "Tinggalkan kami," titahnya pada para pengawal.

Roman terus memandangi gerak tubuh Reeve begitu para pengawal pergi dan menutup pintu. Kelihatannya pemuda bercodet itu hendak menyampaikan sesuatu yang penting padanya. 

"Duduklah," kata Roman. "Ada apa? Langsung to the point."

Reeve mengambil tempat di seberang Roman, duduk bersandar menyilangkan kaki. "Rome. Kau tahu apa yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini? Ini berkaitan dengan Olive, pacarmu," ujarnya kemudian.

"Olive?" Kening Roman berkerut. "Apa yang kau pikirkan? Aku tidak ingin dengar kau berminat padanya."

"Tidak. Bukan itu," jawab Reeve cepat. "Aku tidak pernah kepikiran untuk bermain api denganmu, Rome. Tidak juga kepikiran untuk merebut kekasihmu. Sama sekali tidak. Yang memberatkan pikiranku adalah ...." Reeve menarik nafas panjang. "Olive pernah digoda dan dirayu oleh salah satu orang kepercayaanmu. Aku saksi mata."

Roman memandangi Reeve dengan tatapan tajam.

"Tentu Olive tidak merespon, kau tidak perlu ragukan temanku itu. Yang harus kau lakukan adalah menindak si pelaku yang menggoda Olive." Reeve memelankan nada suaranya. "Dan aku sungguh tidak enak hati padamu, karena orang ini ... tidak lain adalah mentorku sendiri."

Lama sekali tidak ada yang bersuara. Roman sama sekali tidak mengangkat pandangan dari obyek yang duduk di hadapannya itu. Pula dengan Reeve yang balas memandangi dirinya.

Roman semakin yakin apa yang ada di dalam kepala Reeve.

"Aku tahu," jawab Roman memecah keheningan. "Sudah berapa kali aku memergoki orang itu bermain mata pada Olive, dan kini kau yang saksikan sendiri dia merayu Olive? Nice. Dia semakin berani."

"Kau membiarkan??"

"Menurutmu apa yang harus kulakukan?" Roman balik bertanya. "Aku tahu kau punya maksud terselubung, Reeve, dapat kulihat dari matamu. Kau bersedia menyelesaikan masalah ini untukku?"

Senyum Reeve terkembang. Licik. "Aku bersedia," jawabnya pasti.

"Kau menginginkan posisinya, bukan?" tanya Roman santai.

"Kau tahu segalanya," jawab Reeve setengah takjub. "Kupikir aku memiliki hak yang lebih besar untuk menjadi wakilmu dibandingkan orang itu. Yang menarik pelatuk, aku. Orang itu hanya bisa memerintah. Dan sekarang, dia berani mengusik milikmu. Kalau kau biarkan, akan seberani apa orang itu nantinya?"

Roman mengangguk lalu berkata, "Aku setuju denganmu. Lakukan yang harus kau lakukan."


Berbekal izin Roman yang membuat Reeve dilanda euphoria itu, dia segera melesat kembali menuju rumah Renato. Renato tinggal seorang diri, di sebuah rumah yang letaknya agak terpencil dan dikelilingi banyak pepohonan. Jarak antara rumah Renato dan rumah lain juga tidak terlalu dekat, merupakan lokasi yang sempurna bagi Reeve melancarkan aksinya malam itu. 

Malam ini, Reeve memutuskan, akan menyelesaikan semuanya sekaligus. 

Rumah Renato terlihat gelap, tidak terlihat adanya nyala lampu di dalam. 

Renato pasti sudah tidur. Perfect, ujar Reeve dalam hati seraya mematikan mesin mobil.

Reeve menahan gerak tubuhnya sejenak, ada sebersit perasaan ragu yang tiba-tiba menderanya. Sebenarnya dia mentor yang telah berjasa banyak buatku. Mengangkat kasta dan derajatku dari yang hanya sekedar kriminal jalanan, lusuh, tidak menarik, menjadi seorang kapten seperti ini. Keadaan finansialku juga jauh lebih baik sekarang, aku bisa makan enak, merawat diri, memanjakan ego. Dia telah sangat berjasa. Mengapa aku harus memangsanya? Reeve bertanya-tanya dalam hati.

Reeve menggelengkan kepala, terkekeh. Suara hatinya yang lain berkata menyanggah, Ini adalah dunia di mana orang saling memangsa. Kalau bukan dirimu yang dimangsa, kaulah yang harus memangsa. Sesimple itu, Reeve. Kau sudah dapat izin dari kepala keluarga, kenapa kau harus ragu?

Tidak ada kata ragu. Tidak boleh ada. Aku sudah sampai di sini, tidak ada kata mundur.

Usai memantapkan niat, Reeve mengenakan sarung tangan lalu melompat turun dari mobil, memasuki pekarangan rumah Renato. Diambilnya kunci cadangan dari bawah pot tanaman yang terletak di dekat pintu, lalu memutar anak kunci. 

Keadaan di dalam rumah gelap, tidak terdengar suara apa pun. Reeve melangkah masuk dengan hati-hati, tanpa menimbulkan suara. Dia segera menuju kamar Renato, membuka pintu perlahan, melongokkan kepalanya ke dalam. Renato terlihat pulas tertidur di atas ranjang, suara dengkurannya dapat Reeve tangkap. Renato tidak terbangun sedikit pun. 

Masih dengan penuh kehati-hatian agar mangsa tidak terbangun, Reeve menghampiri sang mentor yang tidak tahu apa-apa tersebut seraya mengambil revolver dari saku jasnya. Sedikit cahaya dari lampu tidur menampakkan sosok Renato yang tertidur sampai menganga. 

Pulas sekali babi ini tidur. Dia telah lengah selama ini, tidak pernah sekalipun meragukanku. Rupanya tidak hanya Tonio yang berkhianat padamu, Renato, tapi aku juga. Sesungguhnya tidak pernah terbersit olehku bahwa aku juga bisa terjangkit virus bernama khianat. Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak pernah bermaksud mengkhianatimu. Maafkan, tapi ini harus kulakukan, ujar Reeve dalam hati. 

Reeve mendekatkan moncong revolver tepat di dahi Renato, di antara kedua matanya. Renato masih tidak terbangun. 

It's just for business, Renato. Aku sungguh berterima kasih atas jasamu padaku selama ini. Selamat tinggal.

Reeve menarik nafas panjang, lalu menarik pelatuk.

Reeve tersenyum, melihat tubuh bongsor Gravano tergolek tidak bernyawa, dengan darah segar mengalir dan menodai sarung bantal di bawahnya. 

Terima kasih sekali lagi. Berkatmu, aku bisa menggantikan posisimu sebagai wakil Roman. Beristirahatlah dalam damai, ujarnya lagi dalam hati. Kemudian Reeve pun segera meninggalkan rumah Renato tanpa ada bekas kehadirannya di situ.


10 - Klon Reeve

Laboratorium pusat pengembangan kloning.

Reeve Galante berdiri di depan sebuah inkubator raksasa dan memerhatikan sebuah tubuh telanjang, bakal tubuhnya kelak, di dalam inkubator, tengah diproses secara fisik agar semakin mirip dengan ciri-ciri fisik tubuhnya sendiri. Setelah tahapan ini, tubuh klon akan dikeluarkan dari inkubator dan hal yang paling penting dari sebuah proses kloning akan dilakukan, yakni transfer memori. Reeve tersenyum geli membayangkan nanti dia akan duduk bersampingan dengan tubuh telanjang di depannya itu, tubuh yang semakin lama semakin tampak mirip dengan ciri-ciri fisik yang juga dimilikinya, lalu menyerahkan seluruh isi otaknya pada benda tidak bernyawa yang berdenyut seperti layaknya manusia itu. Seluruh sifat, kebusukan, pengalaman-pengalaman dan memori-memorinya akan segera ditransfer pada benda itu melalui sebuah helm elektronik.

Damn, pikir Reeve. Lima ratus ribu dollar kupertaruhkan dalam sebuah helm berkabel keparat itu? Jika gagal, hilanglah semua. Uangku, hasil copy-anku. Semuanya. Semoga saja para keparat tua itu tidak melakukan kesalahan terhadap bisnis yang disokong klan Burgueno ini.

Reeve masih asyik berbincang dengan dirinya sendiri. Tapi sungguh, jujur aku tidak bisa membayangkan bagaimana transfer memori itu terjadi. Oke, Spindler dan Franglen menjamin kerahasiaan dan tidak membuat tampilan visual terhadap apa yang sedang diransfer, demi melindungi privasi setiap orang. Tapi bagaimana bisa tubuh buatan seperti ini menyerap semua isi otakku? Keahlian-keahlianku, sekaligus sifatku. Pengalaman, dan juga memori, seperti ....


Januari 2012.

Reeve Galante, bocah tampan berusia 11 tahun yang akan memasuki masa-masa pencarian jati diri, masa-masa yang rentan, tertegun tidak menyangka melihat kedua orang tuanya saling membawa pacar masing-masing ke dalam rumah. Melihat kedua orang tuanya saling memaki, saling memukul demi membela pacar masing-masing. Keadaan yang terasa begitu menekan bagi seorang bocah yang akan memasuki usia akil balig, yang pada kenyatannya, berlangsung cukup lama.

Hingga pada akhirnya kedua orang tuanya itu, Michael dan Corinna Galante, memutuskan untuk berpisah dan bersatu dengan pacar mereka masing-masing. Reeve yang merasa terguncang menyaksikan tingkah kedua orang tuanya, memutuskan untuk tidak memilih salah satu dari mereka. Dia membiarkan mereka berpisah, namun dia tidak memilih untuk ikut dengan salah satu dari mereka. Reeve lebih memilih untuk mencari jalan hidupnya sendiri.

Membiarkan dirinya luntang lantung, berkelana tak tentu arah di jalanan New Yord yang membeku, sebeku hatinya saat itu. Mengais, mencari segala macam cara untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Yang mengantarkannya menjadi salah seorang anggota kelompok kriminil jalan. Merampok, mengutil, mencuri, membobol ATM hingga pembajakan kecil-kecilan. Segala hal buruk, yang membuatnya menjadi seorang kriminil, dilakukannya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hingga pada akhirnya, dia bergabung dengan sekelompok pencuri mobil, yang mempreteli mobil-mobil itu dan menjadikannya uang. Sebagai seorang remaja yang bahkan belum genap berusia 16 tahun, bakat Reeve dalam bersosialisasi, memimpin dan merancang strategi jitu untuk mendatangkan banyak uang sudah terlihat jelas. Yang cukup membuat sang pemimpin kelompok yang sesungguhnya menjadi agak khawatir dengan bakat kepemimpinan dan kecerdasan Reeve. Yang di kemudian hari membantu seorang Renato Gravano, yang ingin menjadikan Reeve sebagai salah seorang 'made man'.

Dan Reeve, merasa sangat bersyukur bisa direkrut langsung menjadi soldier atau sgarrista, walaupun untuk itu dia harus memenangkan pertarungan dari dalam dirinya sendiri, dan memenuhi perintah keluarga Burgueno untuk menghilangkan nyawa salah seorang musuh keluarga. Pembunuhannya yang pertama, yang membuatnya justru semakin kuat, dan merasa bahwa dirinya bisa dengan mudah memutuskan apakah seseorang berhak hidup atau mati. Dan yang menjadikannya haus darah.

Reeve haus darah. Benar. Semangatnya selalu terpacu tiap kali mendapat tugas melenyapkan nyawa seseorang. Baginya, tugas semacam itu adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya patut dan layak dihormati. Dan memang benar, dirinya ditakuti, namanya semakin dikenal sebagai sang pengampun dosa. Sin Forgiver. 

Sebagai anak yang kabur dari rumah, luntang lantung tak tentu arah, bergelut dengan kondisi ekonomi di tengah kerasnya New Yord, namun kemudian bisa berdiri tegak nan kokoh dengan jabatan kapten keluarga mafia terbesar di belakang namanya ... sungguh, pencapaian Reeve terbilang luar biasa. 

Namun menjadi seorang capo yang mengendalikan regime-nya sendiri, rupanya belumlah cukup bagi Reeve. Dia menginginkan yang lebih lagi. Dia menginginkan jabatan yang setingkat lebih tinggi; yakni jabatan sottocapo, jabatan underboss yang diduduki oleh Renato Gravano, sang mentor. Setelah bertemu secara tidak sengaja dengan teman lamanya, Flav 'Stone' Maranzano, Reeve memiliki ide untuk mengikuti jejak Flav yang merebut kursi mentornya sendiri. 

Maka di sinilah dia berada. Di hari barunya sebagai seorang wakil kepala keluarga kejahatan Burgueno, dia memutuskan akan membuat klon dirinya sendiri.

Segala masa lalu dan kebusukanku akan diketahui pula oleh boneka tidak bernyawa ini. Siapa yang bisa bertanggung jawab jika suatu saat boneka ini malah menjebloskanku ke dalam penjara? pikir Reeve, masih asyik memerhatikan proses kloning bagi dirinya sendiri.

Ah, tidak, itu tidak mungkin terjadi. Nonsense! Reeve meyakinkan diri. Klon ini akan menjadi diriku sendiri. Dengan otak, sifat dan perilaku sepertiku. Tidak mungkin aku memiliki pikiran busuk dengan menjebloskan diriku sendiri ke dalam penjara. Meski aku telah berkhianat pada Don Alphonse dan Renato, tapi aku tidak mungkin berkhianat pada diriku sendiri. Tidak mungkin itu terjadi. Orang yang paling kupercayai di dunia ini adalah diriku sendiri. Tidak ada yang lain.


Selang beberapa jam kemudian, Reeve keluar dari laboratorium pusat dan bermobil kembali menuju rumahnya dengan ditemani kembarannya, hasil kloningannya sendiri. Agak canggung dia begitu berhadapan langsung dengan sang klon yang baru saja 'lahir'. 

Reeve melirik klon yang duduk di sebelahnya itu dari pantulan spion. "Aku mesti membiasakan diri memanggilmu dengan namaku sendiri," ujarnya memecah keheningan.

"Yang biasanya aku hanya melihat bayanganku dari pantulan kaca, kini bayangan itu berubah jadi sosok yang berwujud, dan bisa berkomunikasi juga denganku! Hanya saja perbedaannya, aku tidak bisa tahu apa yang bayanganku itu pikirkan. Seperti kau juga, tidak bisa membaca pikiranku. Hanya memori yang telah terjadi, sebatas tadi pagi, yang bisa kau akses," tutur Reeve.

Klon Reeve menyunggingkan secercah senyuman. "Koreksi. Aku bukan bayanganmu. Aku dirimu sendiri," jawabnya. 

"Wow. Rupanya kau sombong, ya?"

"Sama sepertimu. Mungkin kau lupa, kau pun seorang yang sombong," balas Klon Reeve.

Reeve tergelak puas. "Mahakarya ciptaan duo jenius Spindler dan Franglen memang tidak mengecewakan. Kurasa aku menyukaimu. Jangan membuatku kecewa, Reeve. Kita berdua adalah sottocapo klan Burgueno yang tidak terkalahkan. Sin Forgiver ada dua orang! Seluruh isi kota New Yord akan berada di tangan kita berdua mulai saat ini. Bagaimana pendapatmu?"

"I like that. Memang itulah tujuan kita," jawab Klon Reeve santai, membuat Reeve semakin sumringah.



11 - Salmon Trauma

Restoran Iralia - Amerida, New Yord.

Empat orang pria muda berpenampilan necis yang telah menjadi langganan tetap restoran itu duduk di salah satu bangku strategis, tampak asyik mengobrol dan bergurau. Mereka menyambut kehadiran pramusaji yang menyajikan steak ikan salmon, spaghetti dan pasta pesanan mereka.

Flav 'Stone Killer' Maranzano, salah satu dari empat pria itu, mendapatkan lasagna favoritnya dan hendak menyantapnya ketika melihat salah seorang temannya tengah menyantap steak salmon. Flav mengerutkan kening secara spontan melihat potongan ikan salmon yang dengan nikmatnya disantap oleh temannya itu. Terbayang langsung di benaknya kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya enggan mengonsumsi ikan salmon.

"Hey," tegurnya. Suaranya yang berat dan dalam serta wajahnya yang terlihat serius membuat ketiga temannya serentak menoleh ke arahnya. Namun kemudian Flav menyeringai. "Bagaimana kau bisa menyantap salmon yang mungkin sudah tercemari darah kotor mayat Magaddino?" kelakarnya, disambut gelak tawa teman-temannya.

"Kau masih terkena sindrom 'salmon trauma', Stone?"

Yang lain menimpali. "Stone terlalu jijik membayangkan ribuan salmon beku yang menjadi tempat tidur Magaddino sebelum dia mati. Mau hidup atau mati, Magaddino selalu membayangimu, huh Stone?" ejeknya.

"Mungkin ini balasan Magaddino dari alam sana; mengutuk Stone agar tidak bisa memakan salmon lagi. Mungkin juga Magaddino tidak ingin salmon-salmonnya dimakan Stone!" sambung yang lain lagi seraya terbahak. "Kasihan kau, Stone!"

Flav tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. "Hey, sopanlah sedikit padaku, kalian anak buah yang terlalu akrab dengan bos dan terlalu blak-blakan!"

"Ya ... ya ... sikap 'bos'-nya keluar lagi."

"Apa kau tidak tahu, kalau kau lebih menyenangkan tanpa embel-embel status bos?"

"Huh, aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu! Yang kutahu memang posisi inilah yang berhak kudapatkan, karena siapa yang tahu kapan Don Salvatore Cavallo akan menunjukku sebagai penggantinya?" ujar Flav membual.

"Instan sekali! Kau pikir Don Cavallo akan semudah itu mempercayaimu?"

"Terserah apa kata kalian. Tapi asal kalian tahu, aku orang yang berambisi besar. Apa pun akan kulakukan untuk memenuhi ambisiku! Mungkin tidak dengan cara yang sama seperti saat aku menduduki jabatan Magaddino; untuk menghadapi para bos besar harus menggunakan ini," ujar Flav seraya menempelkan telunjuknya ke dahi. 

"Dengan cara legal atau ilegal, penuh intrik atau tanpa intrik, aku jamin suatu saat nanti akan menduduki kursi Don sejati! Sekarang terserah pada kalian, meyakiniku dan menjadi anak buahku yang setia, atau meninggalkanku dan bergabung dengan kubu regime lain." Flav mengangkat bahu, melanjutkan, "Sungguh, itu bukan masalah besar buatku."

"Heey ... Stone, kenapa bicara seperti itu? Ayolah, kita percaya dan kita akan selalu setia mengikutimu. Oke?" sahut anak buah Flav yang menyantap ikan salmon. Lalu katanya lagi seraya mengiris steak dan menyuguhkannya pada Flav. "Nih, cobalah! Ini salmon terenak yang pernah kumakan, dan dijamin tidak ada rasa darah Magaddino."

Flav memerhatikan potongan salmon itu di atas piringnya. Dan lagi-lagi, begitu melihat daging salmon itu, Flav teringat kejadian tepat satu minggu yang lalu, ketika ....

***

Sore itu seperti biasa, Flav mengunjungi mentornya, Frank Magaddino, yang tak lain merupakan salah satu caporegime kuat klan Provenzano. Kunjungan rutin harian saat di mana Flav memberikan laporan secara berkala atas beberapa bisnis milik Magaddino yang dipercayakan kepada Flav sebagai anak buah kesayangannya. Tapi rupanya Magaddino telah lengah selama ini, hingga kurang peka dan waspada terhadap apa yang ada di benak anak muda yang dianggapnya seperti anak sendiri itu.

Sambil memerhatikan acara reality show favoritnya di televisi, Magaddino mengisap cerutu. Sementara Flav di belakangnya tengah mengambil dua kaleng soda dari lemari es. Suasana rumah saat itu sepi, hanya ada dirinya dan Flav, sementara istrinya tengah menengok adiknya yang sakit. "Bagaimana, lancar? Tidak ada masalah berarti, kan?" tanyanya.

"Tentu. Semua aman terkendali. Tidak perlu meragukanku, Bos," jawab Flav seraya menyuguhkan sekaleng soda pada Magaddino.

"Ah, aku tahu aku memang tidak boleh meragukanmu, kamulah yang paling kupercayai."

Flav menatap wajah tirus Magaddino tanpa bersuara. Diperhatikannya rambut sang mentor yang mulai menipis karena tua, lalu bertanya, "Apa aku cukup pantas untuk menjadi capo sepertimu?"

Magaddino tertawa. "Nanti dulu, Flav, tidak secepat itu. Kupikir kau belum cukup mampu untuk mengendalikan sebuah regime baru. Tidak hanya otot yang dibutuhkan untuk menjadi seorang capo, tapi juga otak. Kulihat kau masih ceroboh dan mudah terpancing emosi, itu tidak baik, untuk menjadi seorang atasan dibutuhkan kemampuan berpikir panjang, tapi juga cepat. Tidak asal seruduk sana sini. Kau harus buktikan kemajuanmu dalam bersikap sebelum kupromosikan pada Don dan dewan keluarga. Oke?"

Flav tidak bersuara. Dia terlalu tersinggung untuk merespons jawaban negatif sang mentor, namun juga terlalu senang karena saat ini dilihatnya Magaddino tengah meneguk soda yang diberikannya.

Dan dalam sekejap, Magaddino merasa lemas dan mengantuk. Naluri liarnya pun seketika terjaga. Ditatapnya Flav dengan pandangan penuh kecurigaan. "Kau ...?"

Flav tersenyum. Senyum meremehkan seolah mengatakan, akulah pemenangnya, dan kau hanyalah pecundang sejati. Dia berkata, "Kurasa aku sudah cukup pantas untuk menggantikan posisimu, mentor. Terima kasih sudah mendidikku selama ini."

Tanpa membuang waktu lagi Flav membawa Magaddino yang tidak sadarkan diri ke pabrik pengalengan ikan salmon milik Magaddino sendiri yang tidak jauh dari rumahnya. Segera Flav mengurung dan mengunci Magaddino di gudang pabrik tempat salmon dibekukan. Tidak lupa diturunkannya temperatur suhu ruang gudang agar Magaddino cepat menemui ajalnya.

Lalu dengan melenggang santai dia pergi dari pabrik. Akses yang langsung dan bebas, tanpa ada yang menaruh curiga padanya, karena Magaddino juga terkadang menyerahkan pengelolaan pabrik pada Flav, sehingga bisa dibilang Flav adalah salah satu pemilik pabrik pengalengan ikan salmon itu. Setelah Magaddino ditemukan tewas, Flav yakin pabrik ini akan menjadi miliknya 100%. Dan kini, setelah meninggalkan mentornya kedinginan di gudang ikan, dia kembali ke rumah Magaddino. Membersihkan bekas-bekas kehadirannya, lalu pulang ke rumahnya.

***

Dan seminggu kemudian, Flav dan teman-temannya tengah menikmati santapan di restoran favorit. Flav yang sampai tadi masih teringat kenangan masa lalu, akhirnya tersenyum dan mengangkat bahu, lalu melahap potongan steak salmon yang diamatinya sejak tadi dan menikmati rasanya.

"Hhm, yeah, steak ini enak. Tidak ada rasa mayat," katanya sambil terkekeh, sementara teman-temannya menanggapinya dengan gelak tawa.

"Akhirnya, Magaddino sudah merelakan salmonnya untuk kau makan, ya!"

"Whatever, guys!"

"Kalian dengar kabar? Renato Gravano mati tadi pagi," kata salah seorang.

"Ya, aku sudah dengar beritanya. Kenapa orang itu? Ada yang memenggal kepalanya?"

Flav menatap anak buahnya itu. "Renato Gravano? Orang Burgueno itu kan? Kapan, aku baru dengar?"

"Tadi pagi, kubilang, Bos. Entah siapa yang menghabisinya, dia ditemukan sudah mati di rumahnya. Kalau ini merupakan perang antara Burgueno dan Sciacchitano, tentu mereka sudah baku hantam saat ini, atau minimal mencari siapa yang menghabisi tangan kanan Don Burgueno itu. Tapi tidak terjadi apa-apa, kan? Di luar tenang dan damai, jadi kemungkinan ini cuma masalah intern Burgueno. Baguslah, perang tidak baik untuk bisnis. Kau setuju, Bos?"

Flav terdiam sesaat, di pikirannya terlintas prasangka mengenai kematian Renato Gravano. Dia kemudian tersenyum sinis, bertanya, "Lalu siapa penggantinya?"

"They called him ... Sin Forgiver, or mostly Sinner. Reeve Galante, anak buah kesayangan Renato."


12 - Stone Killer

Flav mengangkat alis. Prasangkanya tepat. Siapa lagi yang berani membunuh seorang wakil kepala keluarga kejahatan seperti Gravano, selain orang dalam? Dan siapa lagi yang bisa mengambil keuntungan secara instan dari kematian Gravano, selain orang terdekatnya? 

Orang itu tidak lain adalah Reeve. Sebagai orang terdekat Gravano, Reeve dapat dengan mudah mencari-cari kesalahan Gravano dan melaporkannya pada Roman. Roman yang emosional dan mudah terhasut, tentu dengan mudahnya memberikan izin melenyapkan nyawa wakilnya sendiri pada si pelapor, yakni Reeve. 

Semuanya masuk akal, tidak ada yang tidak mungkin. "Sin Forgiver? Menjijikkan sekali julukan itu, apa dia sangka dirinya tuhan atau semacamnya?" 

***

Flav tidak pernah merasa betah di rumahnya sendiri. Meski rumah yang ditempatinya itu nyaman, namun terasa begitu sepi dan kosong, hanya ada dirinya sendiri dan bayangannya di rumah itu. Setiap kali Flav tidak membawa teman wanita ke rumah, Flav kerap teringat kenangan masa lalu. Kenangan masa kecil yang kadang melenakannya dan membuatnya merasa ingin kembali pada saat di mana dirinya masih seorang bocah innocent, anak sulung pengusaha tekstil Gianni Maranzano.

Flavio Maranzano lahir dari sebuah keluarga Sivily yang berimigrasi ke New Yord. Ayahnya, Gianni Maranzano merupakan pewaris perusahaan tekstil Iralia yang telah turun temurun diwariskan pada seluruh keluarga Maranzano. Perusahaan Iralia berprofit besar yang membuat banyak keluarga Mafia di New Yord, Chicage bahkan San Fransisqo berminat menjadikan perusahaan Maranzano sebagai salah satu bisnis caplokan. Namun tawaran apa pun yang datang pada Maranzano, tak ada satu pun yang disetujui. Maranzano menjaga bisnisnya tetap bersih dari unsur-unsur tangan hitam.

Gianni Maranzano, hidup dengan nyaman dan tenteram bersama istrinya yang setia, dan dua anak yang menjadi curahan kasih sayangnya. Anaknya yang sulung laki-laki, Flavio, terang-terangan mengatakan padanya bahwa dia tidak suka dengan nama Flavio. Dia memaksa semua keluarganya, juga teman-temannya untuk memanggilnya Flav. Kelak dialah yang akan meneruskan perusahaan Maranzano, namun bukannya mendidiknya agar pantas mewarisi perusahaan, Gianni malahan memanjakan dan menuruti segala keinginan Flavio sehingga Flavio tumbuh menjadi anak yang egois.

Sementara putrinya yang cantik, Antonella, tiga tahun di bawah Flav, tumbuh menjadi gadis tomboi saking akrabnya dengan sang kakak. Bukannya tidak senang melihat keakraban anak-anaknya, namun Gianni ingin Antonella menjadi anak gadis yang lebih senang bermain boneka di dalam rumah ketimbang berlarian di bawah terik matahari dan panjat-panjatan pohon. Namun tampaknya keinginan itu sulit terpenuhi lantaran teman bermain Antonella dan Flav juga seorang gadis tomboi yang tidak lain adalah sepupu mereka sendiri, Anja Fohlberg. Keponakan Gianni Maranzano yang blasteran Iralia - Frenchye ini pun sangat akrab dengan Flav dan Antonella, sehingga tidak heran mereka senang bermain bersama.

Flav, Antonella, dan Anja, tiga serangkai yang kompak. Dan kawanan bocah ini akan bertambah jumlahnya apabila mereka tengah liburan ke Frenchye, kampung halaman ayah Anja. Di sana akan ada lagi Pierre dan Jeana Mueller, putra dan putri seorang politikus Frenchye Francois Mueller; Darren Labruzzo, tinggal di Parice, jauh dari sang ayah yang merupakan salah satu bos besar Mafia New Yord, Don Luigi Labruzzo; dan Louis Cavallo, yang juga terpisah jauh dari sang ayah, Don Salvatore Cavallo, salah satu bos besar Mafia New Yord juga seperti Labruzzo. Don Cavallo dan Don Labruzzo, dua orang pemimpin berkharisma yang berpikiran serupa, tidak ingin anak-anak mereka menjadi seorang mafioso seperti yang mereka lakukan. Maka mereka sama-sama menikahi orang Frenchye, lalu lahirlah Darren dan juga Louis. Dengan campuran darah non-Iralia seperti itu, otomatis Darren dan Louis tidak bisa berkecimpung dalam dunia tangan hitam yang menyesatkan.

Flav sering tersenyum-senyum sendiri jika tengah mengingat-ingat kenangan masa kecilnya yang indah dan menyenangkan itu. Tidak ada yang lebih menyenangkan baginya selain mengenang masa kanak-kanak yang dihabiskannya bersama teman-teman terbaiknya. Bahkan hingga kini Flav seakan masih bisa merasakan hembusan angin di pedalaman Frenchye utara, aroma rumput yang segar, dan suara canda tawa riang darinya dan teman-temannya. Dan selalu, Flav teringat, pada saat-saat yang membahagiakan dan tanpa beban itu ayahnya merupakan sosok ayah sempurna yang selalu memanjakan dirinya. Flav sangat menyayangi ayahnya pada saat itu.

Namun keadaan berubah pada saat Flav menginjak usia akil balig. Ayahnya, Gianni mengatakan, sudah waktunya bagi Flav untuk dididik secara khusus dengan mulai ikut ambil bagian dalam bisnis tekstil Maranzano. Tapi Flav menolak. Dia tidak ingin menjadi penerus perusahaan, dia hanya ingin menjalani hidupnya sendiri. 

Gianni tidak menerima penolakan Flav, dibujuknya Flav terus menerus, hingga pada satu titik, Gianni seolah memaksakan kehendak pada Flav dan fisik pun ikut bicara. Flav semakin tidak terima diperlakukan seperti itu. Ditantangnya ayahnya, bahkan jika perlu, duel dengan ayahnya pun dilakoninya. 

Hal itu tidak bertahan lama, sebab Flav yang tidak tahan terus tinggal di dalam rumah yang penuh tekanan batin itu akhirnya memutuskan pergi dari rumah. Entah kemana, Flav muda membiarkan dirinya berkelana tak tentu arah, menaiki bus demi bus yang akhirnya membawanya ke Chicage dan bergaul dengan preman-preman di sana.

Di sana Flav melakukan berbagai tindak kriminal; mencuri, merampok, hingga membobol mesin ATM, yang menjadi rutinitas sehari-harinya. Status sebagai kriminil jalanan dilakoninya hingga dia berumur 16 tahun. 

Dia lalu memutuskan untuk hijrah kembali ke New Yord, kampung halamannya, hendak mencari peruntungannya dan nasibnya sendiri. Walaupun dia tahu banyak kerabat dan keluarga yang sebenarnya mencari-cari keberadaan dirinya di New Yord, tapi niat untuk kembali begitu besar. Toh dia kini sudah berusia 16 tahun, keluarganya tidak mungkin lagi mencari dirinya untuk memaksanya pulang kembali ke rumah, karena dia sudah cukup umur untuk tidak lagi menumpang di rumah orang tuanya.

Maka dia pun kembali, dan yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana agar dia bisa mengusahakan penghidupan yang layak bagi dirinya, tidak masalah dia harus menjadi kriminil seumur hidup. 

Ada dua orang yang langsung terlintas di benaknya demi mewujudkan keinginan tersebut. Dua orang yang punya nama, kehormatan dan reputasi, dua orang Don dari dua klan berbeda. Don Salvatore Cavallo dari klan Provenzano, dan Don Luigi Labruzzo dari klan Labruzzo. Dua orang Don yang merupakan ayah dari sahabat-sahabatnya semasa kecil, dan itulah yang membuatnya memberanikan diri untuk menemui salah satu dari kedua orang itu.

Klan Labruzzo, penguasa kawasan New Hersey, penguasa bisnis-bisnis restaurant, supermarket dan beberapa jaringan perjudian. Flav langsung bisa menyimpulkan klan ini tidak  begitu kaya, dia tidak akan melamar menjadi anggota klan Labruzzo ini.

Sementara klan Provenzano, yang beroperasi di kawasan Brookine, menguasai jaringan perhotelan dan real estate terbesar di Amerida, memonopoli pembangunan industri di negara-negara bagian, dan tentu saja, bisnis-bisnis pelacuran yang mendatangkan banyak profit. Berbekal hal itu, Flav membulatkan tekad untuk pergi ke Brookine dan menemui sang kepala keluarga. Apakah dia akan ditolak mentah-mentah begitu tiba di sana, atau Don Salvatore Cavallo tidak ingin mengingat siapa dirinya lagi, tidak diperhitungkan olehnya. Dia hanya ingin mencoba.

Benar saja, Don Salvatore Cavallo menerima kedatangannya dengan dingin. Dia malahan mengungkit-ungkit perihal perginya Flav dari rumahnya dan menghilang entah kemana. Don pun bercerita bahwa ayah Flav, Gianni, yang juga merupakan teman dekatnya, langsung drop kesehatannya semenjak Flav pergi. Hingga akhirnya Tuhan memanggil Gianni untuk selamanya, tanpa pernah diberi kesempatan untuk bertemu dengan anaknya lagi.

Sementara Flav, tanpa rasa menyesal, bersalah ataupun kehilangan, membuang muka ketika Don Cavallo menceritakan semua hal itu padanya. Semua perkataan Don Cavallo terdengar seperti sebuah kritikan yang ditujukan padanya. Maka Flav hanya bisa diam tak berkomentar sepatah kata pun. Begitu sang Don selesai berbicara, Flav memberanikan diri untuk menyatakan maksud dan tujuannya datang ke situ. Dia ingin melamar menjadi salah satu anggota klan, dia menyatakan dirinya bersedia mengikuti semua aturan main dan memulai karirnya dari nol, dari seorang yang berstatus rekanan hingga bisa menjadi seorang yang 'jadi' bagi keluarga.

Don Cavallo terlihat sedikit terkejut mendengar permintaan Flav, namun dia tidak heran. Dia sudah menyangka bakat alami Flav yang bengis semenjak dia mengenal Flav kecil yang sering bermain-main dengan putranya sendiri, Louis. Setelah terdiam beberapa lama, Don Cavallo mengangkat bahu, dan menunjuk salah seorang caporegime yang menurutnya cukup tegas dan keras untuk mendidik 'anak-anak baru' seperti Flav itu. Dia ingin Flav mendapat gemblengan yang keras dari sang caporegime yang akan menjadi mentornya. Dia ingin Flav tidak asal niat mencalonkan dirinya menjadi seseorang yang 'jadi' dalam keluarga. Dan caporegime terpilih itu adalah, Frank Magaddino.

Frank Magaddino langsung tertarik dengan karakter dan sifat Flav yang terlihat tak acuh, to the point dan sarkas, mengingatkannya pada dirinya sendiri sewaktu masih seumur Flav. Berdasarkan hal itu, Magaddino langsung menyanggupi permintaan Don Cavallo yang menginginkan Flav digembleng keras sebagai seorang rekanan keluarga.

Seiring berlalunya waktu, Flav membuktikan diri bahwa dia memang mumpuni, sangat dapat dipercaya dan diandalkan. Terutama setelah Magaddino memberinya tugas sepele, membereskan salah seorang preman jalanan yang mencari masalah dengan keponakan Magaddino. 

Flav tanpa banyak tanya lagi langsung menjalankan tugas yang diberikan padanya. Itulah tugas pembunuhannya yang pertama, namun Flav menjalankan tugas itu dengan penuh rencana, tidak terlihat bahwa dia hendak melakukan pembunuhan untuk yang pertama kalinya. Setelah menyusun rencana, Flav dan seorang prajurit kepercayaan Magaddino menyelinap masuk ke apartemen sempit si target. Mereka melakukan sedikit intimidasi, lalu kemudian Flav dengan tenang, tanpa emosi, menghancurkan tengkorak target dengan membenturkannya ke dinding. Mayat si target pun langsung dibuang ke tengah rawa. 

Prajurit Magaddino yang menjadi saksi dan pengawas pekerjaan Flav sendiri merasa kaget, betapa tenangnya Flav menunaikan tugas pembunuhannya yang pertama. Flav siap sejak awal, bahkan dia memakai sarung tangan agar sidik jarinya tidak ada di dalam tempat kejadian perkara. Dan prajurit inilah yang menyampaikan 'dingin' dan 'keras'nya Flav saat membunuh, pada Frank Magaddino. Magaddino hanya tersenyum, seakan sudah bisa menerka bahwa memang itulah seorang Flav Maranzano.

Di kemudian hari, terbukti bahwa Flav memang selalu seperti itu saat membunuh. Dia rapi, bengis, dan dingin. Langsung menggunakan kekuatan ototnya untuk menghancurkan tengkorak kepala setiap lawannya. Begitu pun setelah dia dilantik menjadi prajurit, seorang yang 'jadi' pada keluarga Provenzano. Dan karena kebiasaannya itulah, Flav pun diberi predikat 'Stone Killer'. 'Stone Killer' itu sendiri maksudnya adalah seorang pembunuh bayaran profesional yang sadis dan brutal, namun di kalangan teman-temannya, predikat 'Stone Killer' yang diberikan pada Flav berarti bahwa Flav adalah seorang pembunuh yang selalu memakai batu untuk menghancurkan kepala lawan. Sementara Flav? Flav senang mendapat predikat dingin itu, dan dia bangga memperkenalkan dirinya dengan predikat 'Stone Killer' di tengah-tengah namanya.

Magaddino pun bangga memiliki anak buah yang cerdas, cepat tanggap dan bisa diandalkan seperti Flav. Tidak heran Magaddino kerap memberinya tugas-tugas, lantaran untuk mengetahui sejauh mana Flav bisa diandalkan. Flav berhasil membuktikan pada sang mentor bahwa dirinya layak menjadi anak buah kesayangan, bahkan dia berhak mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Namun Magaddino menolak mempromosikan Flav untuk membangun regime sendiri, dan membuat Flav yang diburu nafsu kekuasaan membunuhnya dengan membekukannya di lemari pendingin ikan salmon di pabrik ....

Lamunan Flav terhenti begitu ponselnya berdering nyaring. Nomor tak dikenal terbaca di layar, Flav mengerutkan kening. Dijawabnya telepon itu. 

"Apa kabar, Flav?" sapa suara di seberang.

Merasa belum pernah mendengar suara orang yang meneleponnya, Flav mengerutkan kening. "Siapa ini?"

"Astaga, kau tidak menyimpan nomorku? Ini Reeve."

"Oh! Kau rupanya. Haha. Maaf, aku lupa menyimpan. Ada angin apa, nih?"

Terdengar tawa Reeve di seberang. "Tidak ada maksud apa-apa, cuma mau ajak kau hang out. Ada yang merindukanmu, namanya Denver Granville. Dia penasaran ingin lihat seperti apa mukamu sekarang. Kubilang saja, kau persis orang yang punya hormon berlebihan dengan pagi siang sore malam cewek terus. Bisa dia bayangkan sendiri seperti apa kau sekarang," katanya masih sambil tertawa.

Flav tertular tawa Reeve. "Sialan kau Reeve. Kapan?" tanyanya.

"Dia mengajak sarapan bareng besok di kafe Marlon, sebelah club tempat kita kemarin ketemu," jawab Reeve.

"Ah. Alright." Flav sedikit banyak menyimpan rasa penasaran seperti apa rupa Denver sekarang setelah sekian tahun tidak bersua.

Didengarnya Reeve berkata, "Huh, seandainya status kita tidak seperti ini, reuni macam begini tentu menyenangkan, huh? Asal tidak ada bakat backstabber saja dari kau, for old time's sake."

Flav mendengus. "Aku tidak pernah punya bakat terpuji itu. Justru aku yang harus waspada denganmu, kau tahu, masih untung Burgueno dan Provenzano jarang ada slack."

"Aku tak akan berbuat aneh-aneh dengan teman lama, selama teman lama itu tidak cari masalah denganku terlebih dahulu. Karena aku terlalu menghargai masa-masa menyenangkan menghabiskan waktu bersama kau dan the gank."

Jawaban Reeve memancing senyum di wajah Flav. "Well, tentu saja, ini murni reuni. Perlu ditekankan juga sepertinya, tak akan pernah ada 'ini hanya bisnis' antara kita selama reuni. Agree?"

"Sure, Bro! I'll see you tomorrow."


"Flav!" panggil seseorang tatkala Flav masuk ke dalam kafe yang disebutkan Reeve semalam. Dia menoleh, mendapati Reeve dan seorang pemuda lain yang tampak familiar baginya melambaikan tangan dan tersenyum lebar padanya. Flav membalas senyum mereka dan datang menghampiri.

Pemuda yang bersama Reeve, bangkit berdiri dan menyapa Flav dengan hangat. Dia hanya seorang pemuda keturunan asli Amerida, dengan tinggi rata-rata, berkulit pucat kemerahan dan berwajah tirus. Rambut cokelatnya yang jatuh menutupi matanya tidak membuatnya tampak gemulai, dia memiliki rahang kokoh yang menegaskan maskulinitasnya. Namun satu hal terpenting yang membuatnya mudah dikenali adalah, tahi lalat yang berada di sisi kanan lehernya, yang tampak tidak malu-malu menunjukkan dirinya pada seluruh dunia, dan Flav yang melihat tahi lalat itu langsung dengan mudah meyakini bahwa pemuda ini adalah benar-benar teman ganknya semasa sekolah dulu, Denver Granville.

"Hey, Denver!" balasnya hangat seraya membalas pelukan Denver. "Man, tidak pernah dengar kabar tentangmu, begitu ada kabar, kau ternyata sudah 'jadi' juga ya!" serunya.

Denver tergelak. "Harusnya itu yang kukatakan padamu! Ah, ayo, duduklah! Aku dan Reeve sudah pesan makanan, kau mau sarapan apa, Flav? Biar kutraktir," tawarnya semangat.

"Wah, ditraktir nih ceritanya?" kata Flav seraya menarik kursi bagi dirinya sendiri. "Hey, Reeve," sapanya pada Reeve yang duduk di sebelahnya.

"Hey, man," balas Reeve hangat.

Flav tidak sanggup menahan senyum penuh arti saat memandangi Reeve. Dia berujar, "Kudengar ada yang baru saja diangkat jadi sottocapo, huh? I bet you got that fuckin' idea from me, right, Sinner?"

Reeve mengangkat alis menatap Flav. Dilihatnya Denver pun kini menatapnya dan menunggu jawaban darinya. "Guys, apa yang sudah gampang ditebak, tidak perlu dibahas, kan? I deserve it."

Flav terkekeh, menepuk bahu Reeve. "Nah, maksudku, Reeve, harusnya yang traktir-traktir itu kau, kan kau baru saja menikmati posisi baru?"

Denver tergelak. "Sudahlah, hari ini biar aku yang traktir! Aku senang bisa bertemu lagi dengan kalian! Tahu tidak, setelah bertahun-tahun tidak ada kabar dari kalian, bagai menghilang ditelan bumi .... Well, the gank benar-benar kehilangan kalian berdua."


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.