TDR (1-2) | INA

The Donna's Revenge 

Prolog Bayangan Tragedi 

Langit New Yord malam itu bermandikan cahaya neon yang menyilaukan, merangkum rahasia dan ambisi yang tersembunyi di balik gedung-gedung tinggi. Di kediaman keluarga Maranzano, Antonella duduk dengan tatapan kosong yang terpaku pada langit-langit yang kian gelap. Suara gemuruh angin di luar jendela seolah-olah mencerminkan kekacauan yang berkecamuk dalam dirinya.

Ketika kabar tragis tentang kecelakaan pesawat yang menimpa Flavio dan rombongan menyapanya, kilatan memori menusuk jiwanya seperti pisau tajam. Bayangan wajah kakaknya, penuh kehangatan dan kekuatan, kini hanya menyisakan rasa kekosongan yang dalam. Sudah 20 tahun berlalu, namun rasa kehilangan itu masih sama menyakitkan.

Namun, bukan hanya kesedihan yang mengisi pikirannya. Reeve, nama yang telah terpatri dalam ingatannya, muncul kembali dalam benaknya. Pria itu, dengan senyumnya yang menggoda dan mata yang penuh misteri, pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Namun sekarang, dia dihadapkan pada kebenaran pahit bahwa Reeve adalah dalang di balik segala penderitaan yang menimpa keluarga Maranzano.

Sementara itu, bayangan dua anak Flavio, Alvaro dan Fabrizia, mengalun manis di benaknya. Mereka, yang telah menjadi bagian hidupnya selama 20 tahun terakhir, menjadi titik terang di tengah gelapnya kehidupan. Mereka adalah alasan kuat baginya untuk bertahan, untuk terus melangkah maju meski dihantui oleh keraguan dan ketidakpastian. Dua amanah terakhir dari Flav itu tumbuh menjadi sosok yang kuat dan cerdas, tetapi bayang-bayang dendam masih menggelayut di relung hati Antonella. 

Hingga suatu hari, ketika udara dipenuhi aroma intrik dan kekuasaan, seorang pendukung setia keluarga Maranzano, seseorang yang dulu pernah menjadi kapten terpercaya keluarga Maranzano namun secara menakjubkan berhasil lolos dari perang mafia 20 tahun yang lalu, mendekati Antonella dengan tawaran yang sulit untuk ditolak. 

"Gantikanlah kedudukan Flav dalam keluarga ini, dan dengan begitu kamu bisa membalas dendam kakakmu pada mereka," kata pria itu, menggoda hasrat kesumat dalam diri Antonella.

Dalam keheningan yang menyelimuti ruang kerja itu, Antonella merenung dalam kebimbangan yang menyiksa. Apakah dia benar-benar sanggup mengambil alih kendali keluarga Maranzano yang Flavio tinggalkan? Apakah dia bisa menjadi pemimpin yang bijak, mampu menghadapi semua tantangan dan rintangan yang mungkin menghadang?

Pertanyaan-pertanyaan itu bergelayut di udara, menciptakan ketegangan yang tak terucapkan di ruangan itu. Dan di dalam diri Antonella, api keputusan berkobar membara, siap menyulut langkah-langkah yang akan membentuk takdirnya dan takdir keluarga Maranzano yang telah menjadi bagian hidupnya.

Pilihan itu menjadi pintu gerbang menuju kekuasaan, sebuah kesempatan untuk mengejar keadilan yang begitu lama ditunggu-tunggu. Dalam benak Antonella, berkecamuk tekad baru. Ia akan menjadi Donna, pemimpin keluarga Maranzano, dan menyongsong kebangkitan klan yang telah lama terlupakan.

Namun, langkahnya menuai kecaman dari para anggota Komisi Mafia New Yord, yang menolak kehadiran seorang perempuan dalam dunia mereka yang penuh intrik dan kekejaman. Dan di antara mereka, seorang Don muda, Kevin Castellano, diutus untuk mengakhiri ambisi Antonella.


Bab 1 – Tawanan Hati: Dendam Menjadi Cinta

Seorang pria berpenampilan necis memandangi Antonella dari balik kaca matanya, salah satu sudut bibirnya terangkat, kesan sinis dan merendahkan jelas menguar dari bahasa tubuhnya. 

Antonella menjaga gerak tubuhnya agar tetap tenang dan anggun, menyikapi perlakuan tamu tak diundang tersebut. Ia menyandarkan punggung di kursi berlengan, tetap mempertahankan pandangan matanya pada pria itu. 

Lawan bicara Antonella mengeluarkan selembar kartu nama dari sakunya, menaruhnya di atas meja, sembari berkata, "Donna Antonella, perkenalkan, saya tangan kanan Don Kevin Castellano, nama saya-"

"Tidak penting tahu siapa namamu," potong Antonella dengan nada dingin. "Katakan langsung to the point, apa yang membawamu ke sini?" Wanita semampai itu menyibakkan rambut hitamnya yang ikal sepunggung.

Pria tersebut tersenyum, mungkin maklum, mungkin menilai dalam hati, mungkin pula merasa geli. "Baiklah, saya tidak akan berlama-lama. Saya membawa pesan dari Don Castellano untuk meyakinkan Anda ... bahwa akan jauh, jauh lebih baik, bila Anda mundur dari kursi Don sekarang," ujarnya. 

Senyuman sinis di wajah oval Antonella menjadi respon ucapan orang itu. "Rupanya yang berniat mengambil alih area kekuasaan keluarga Maranzano adalah Don Castellano-mu itu?" sahutnya. 

"Tidak perlu saya bahas lebih dalam, Donna Antonella yang terhormat," kata pria itu. "Riwayat keluarga Maranzano sudah tamat sejak 20 tahun yang lalu! Bagaimana Anda bisa tiba-tiba muncul dan mengeklaim kembali area Maranzano?"

"Riwayat Maranzano sudah tamat? Narasi ngawur dari mana itu? Katakan pada Don-mu, sampai kapan pun saya adalah seorang Maranzano. Mendiang Don Flavio Maranzano memiliki legacy tak tergantikan, yaitu anak-anaknya, merekalah penerus keluarga ini," ujar Antonella tanpa menaikkan nada suaranya. "Tugas saya adalah mempersiapkan mereka."

"Mengapa Anda berkeras menjadikan anak-anak itu berkecimpung dalam dunia ini? Come to your senses, Donna. Anda adalah seorang wanita. Apakah tidak lebih baik Anda menikah, lalu diam saja di rumah, melayani suami? Bukankah memang seperti itu kodrat seorang wanita? Melayani suami, mengurus rumah, melahirkan dan membesarkan anak-anak."

Kilatan di bola mata Antonella menjadi penanda bahwa ia merasa tersinggung.

"Anak-anak mendiang kakak Anda, biarkan saja mereka menjadi anak-anak seperti umumnya. Tidak ada keharusan untuk Anda berbuat sejauh ini," sambung pria itu lagi.

Pintu ruangan terbuka tanpa suara, dari ujung mata Antonella menangkap kehadiran sosok pria muda bertubuh jangkung dengan alis tebal dan mata yang terlihat tajam. Alvaro, keponakannya, masuk dan bergabung bersama beberapa bawahan yang siaga menjaga dirinya.

"Itukah pesan dari Don Kevin Castellano yang terhormat? Katakan sejujurnya, apakah ini juga pesan dari Komisi New Yord? Take the woman out of business?" Antonella bertanya tanpa ragu sembari menatap tajam lawan bicaranya.

"Syukurlah, Anda mampu menangkap ini dengan jelas, saya tidak perlu berbincang panjang lebar," jawab utusan Don Castellano. "Terlebih lagi, apa yang bisa Anda perjuangkan di sini? Anggota keluarga Maranzano semakin hari semakin habis. Ada berapa banyak anggota Anda? Sedemikian tingginyakah, kepercayaan diri Anda? Sekali lagi saya tekankan, akan jauh lebih baik, untuk Anda, dan untuk keponakan Anda, agar menjauh dari bisnis ini. Biarkan kami, para kaum adam yang mengurus bisnis semacam ini."

Alva, sapaan akrab Alvaro Maranzano, mengerutkan alis mendengar penuturan tamu Antonella, dia menatap adik ayahnya itu dari kejauhan, menunggu reaksinya. 

"Wow, Komisi memang sangat menjunjung tinggi patriarki ya," ejek Antonella.

"Anda wanita yang menarik dan terhormat ... jangan kotori tangan lembut Anda dengan terlibat lebih jauh, Donna."

Antonella tidak berselera menjawab lagi. Ia hanya memandangi lawan bicaranya itu sambil terus tersenyum. "Apakah itu saja pesan yang harus Anda sampaikan?" tanyanya setelah beberapa lama terdiam. "Jika sudah tidak ada lagi, silakan, pintu keluar ada di sana."

Sang utusan menaikkan alis, menangkap dengan baik arti ucapan Donna Antonella Maranzano. "Saya pamit undur diri, Donna," pamitnya, namun gerak tubuhnya berhenti sesaat. "Oh, satu hal lagi. Jika dalam waktu seminggu ke depan kami tidak melihat itikad baik dari Anda, jangan harapkan respon yang baik. Bisa jadi Anda malah akan menemui masa-masa yang berat dan sulit .... Saya pribadi sangat tidak menyarankan hal itu. Solusinya, Anda menurut saja apa yang Komisi inginkan."

"Over my dead body," sahut Alva tanpa ragu.

Antonella memandang tajam ke arah Alva, lewat sorot mata menegur tindakan sang keponakan.

"Oh. Rupanya ini keponakan Anda?" Si utusan tampak terpukau menyadari keberadaan Alva. "Benar-benar mirip dengan mendiang Don Flavio. Besar harapan kami, semoga mendiang tidak menurunkan karakternya yang buas itu pada anaknya."

Mata Alva berkilat marah, jelas tampak tersinggung.

"Terima kasih atas kunjungan Anda, selamat tinggal," ujar Antonella, berharap pria itu segera angkat kaki.

Sang utusan melempar senyum sekali lagi pada Antonella, sebelum kemudian beranjak keluar dari ruangan.

"Bangsat! Kita nggak akan diam saja diinjak-injak seperti itu, kan, Tonie??" Alva berseru penuh emosi.

"Mind your language," tegur Antonella santai.

"Come on! Aku kan bukan anak kecil lagi, Tonie!" Alva tergopoh menghampiri sang tante yang merawatnya sejak bayi itu. "Ayo, katakan apa perintahmu buat kasih pelajaran orang tadi itu!"

"Tidak ada. Biarkan saja."

"Kok??" 

"Diamlah, Alva," ujar Antonella, masih dengan ketenangan yang tak berubah.

Alva melengos kesal. Ditariknya kursi lalu menghempaskan diri di sana. "Dia jelas-jelas merendahkan kamu, merendahkan kita semua, anggap enteng! Kalau kamu mau punya power seperti yang kamu inginkan, kamu harus bertindak!"

Antonella memandangi keponakan laki-lakinya yang temperamental itu dalam diam. Ia kemudian berkata pada para anak buah yang masih berjaga di sana, "Kalian keluarlah."

"Sekarang kamu malah suruh semua orang pergi!" kata Alva begitu anak buah Antonella meninggalkan ruangan. "Bukannya memberi instruksi apa pun untuk orang tadi!"

"Tidak perlu, Alva," sahut Antonella. "Kamu tuh ya, temperamen banget. Dia hanya menjalankan tugas."

"Lalu kamu akan diam saja diinjak seperti itu? Diancam segala?" Pria muda berwajah lonjong dan berdagu lancip itu memandangi Antonella lekat. Meski baru berusia 20 tahun, Alva sudah menjadi pemuda yang sangat menawan. Langkah Antonella yang memutuskan menerima tawaran menjadi pemimpin keluarga Maranzano membangkitkan semangat pemuda itu, dan mulai saat itu, Alva mendedikasikan dirinya untuk menjaga dan melindungi Antonella.

"Biarkan saja, kita lihat apa langkah mereka selanjutnya," jawab Antonella tidak memedulikan reaksi sang keponakan yang terlihat tidak setuju. "Lagipula apa untungnya menyerang orang tadi, yang ada malah kita dianggap menyulut perang dengan Komisi."

"Perang ya perang aja, bring it on!"

"Alvaro, don't be naive. Realistis dong, kamu lihat nggak kekuatan kita seberapa besar? Kamu malah bernafsu perang dengan anggota Komisi yang jauh lebih solid," tegur Antonella seraya menggelengkan kepalanya.

Alva berdecak keras.

"Kamu ingat kan, apa misi kita? Apa tujuanku menerima posisi setinggi ini?" 

Alva mengangguk perlahan. "Untuk membangun kekuatan. Membangun koneksi. Supaya bisa membalas kematian ayahku," jawabnya.

Antonella menyunggingkan sebuah senyuman manis menanggapi jawaban Alva. Wanita yang terpaut kurang lebih 20 tahun lebih tua dari Alva ini dianugerahi berkah penampilan yang awet muda. Kulitnya halus, kencang, tanpa ada satu pun kerutan di wajahnya, dan tanpa selembar uban menghiasi rambutnya yang lebat. Sepasang mata indah berwarna kecoklatan senantiasa bersinar di bawah bulu mata yang lentik, hidungnya tinggi lancip, bibir merahnya tipis namun memiliki bentuk sensual. Mereka yang belum mengenal siapa wanita ini, akan terkejut bila mengetahui berapa usia Antonella yang sebenarnya. 

"That's my boy," puji Antonella.

Berada di bawah tatapan dan senyum cantik sang tante kontan membuat Alva salah tingkah. Dia memalingkan wajah, menghindari berbalas pandang dengan lawan bicaranya. 

Aneh. 

Entah mengapa, beberapa tahun terakhir ini, Alva kerap memandang lain Antonella. Tante yang selalu memberikan perhatian, yang selalu menyayangi dan melindungi, yang selalu membuatkan masakan kesukaan, yang selalu berada di sisinya semenjak Alva mulai bisa mengingat. Tentu saja Alva sadar apa yang bergolak dalam hatinya terhadap Antonella adalah sesuatu yang salah, namun pemuda itu tidak sanggup menyangkal bahwa ada perasaan lain yang dia rasakan. Alva sebisa mungkin menekan perasaan itu, menghiraukan, bahkan menganggapnya tidak ada, demi menjaga hubungan yang selama ini telah terjalin dengan Antonella.

"Flav ... ayahmu itu ... he was the best brother in the world," ujar Antonella lirih, ekspresi wajahnya mengendur tiap kali teringat akan Flavio. "Dia selalu sayangi aku, lindungi aku. Saat itu ... kalau saja Flav nggak kirim aku ke Miani, mungkin aku juga bakalan celaka seperti Flav. Lihat kan, betapa Flav melindungiku bahkan sampai akhir hayatnya?" 

Mendengar suara Antonella bergetar, Alva spontan menoleh, mendapati wanita pujaannya itu tengah berupaya menahan tangis. "Tuh, kan, Tonie," tegur Alva. "Bukannya kemarin udah janji, yang kemarin adalah kali terakhir kamu menangisi ayahku? Kok nangis lagi!" 

"Aku tahu ... tapi ... tetap saja, kalau ingat Flav, aku nggak bisa nggak salahkan diriku sendiri. Gara-gara aku juga ... gara-gara ulahku jalin hubungan dengan pengkhianat itu .... Makanya Flav jadi ...," rintih Antonella.

Alva berdecak, merajuk, "Come on, now."

Sebenarnya Alva malas lagi-lagi harus menjadi penenang sekaligus penghibur, namun lantaran tidak memiliki pilihan lain, dia pun bangkit mendekati Antonella, menepuk-nepuk bahu wanita itu. "Kan udah kubilang, berhenti salahkan dirimu sendiri, Tonie. Kamu nggak salah," ujarnya lembut. 

"Gimana ceritanya nggak bersalah," sesal Antonella. "Aku deketin pengkhianat itu tanpa pernah nyangka kalau dia sebenarnya sedang mengumpulkan bukti perbuatan Flav .... Kalau aja aku tahu, aku nggak akan biarkan pengkhianat itu berbuat seenaknya! Malah aku bakal batal deketin dia .... Kenapa juga aku pernah punya rasa sama pengkhianat semacam dia ...!" 

"The same old story, over and over again," gumam Alva.

Antonella masih saja meracau, "Aku menyumbang sekian persen kesalahan ... perasaan bersalah ini makin double kalau ingat Flav lindungi aku sampai akhir. Dia benar-benar kakak yang paling baik ...."

"Makanya kamu ada di sini sekarang, Tonie. Kamu sebagai Donna, kamu punya influence, kesempatanmu untuk membalas dendam pada pengkhianat terbesar abad ini semakin terbuka lebar, kan?" Alva masih menepuk-nepuk bahu Antonella, sementara wanita itu mengangguk perlahan. 

"Kamu nggak perlu takut, Tonie," ujar Alva lagi. "Aku udah janji, dan aku sebagai laki-laki nggak akan mengingkari janji. Aku akan melindungi kamu, aku akan selalu mendukung, selalu berada di sisimu. Aku tangan kananmu."

Antonella akhirnya tersenyum, menghapus air matanya lalu mendangak, menatap sang keponakan yang semakin hari semakin beranjak dewasa. "Benar. Ada kamu tangan kananku. Ada Zia juga yang siap bantuin aku membalas kematian ayah kalian," sahutnya.

"Gantian kamu janji, jangan nangis lagi, Tonie. Kamu kepala keluarga, jangan tunjukkan sisi melankolis kamu, itu bakal jadi boomerang buatmu." Alva membelai ringan punggung Antonella.

"Baik. Aku berjanji." Antonella mengangguk sambil terus tersenyum. "Kamu dewasa melebihi umur, ya? Kamu punya temper mirip Flav, tapi, kadang bijak juga. Nurun dari siapa itu?" 

"Aku terpaksa menyesuaikan, tahu? Kenapa kamu nggak seperti Aunty Anja? Kenapa nggak seperti ibuku juga? Mereka nggak pernah nangis tiap membahas Flavio."

Antonella berpikir sejenak, lalu menjawab, "Mereka udah puas nangis waktu tragedi terjadi. Dan sekarang, mereka nggak ada kewajiban menyelam lagi menggali masa lalu saat tragedi terjadi, nggak seperti aku."

Alva mengangkat bahu.

"Hey. Kenapa kamu menyebut Anja, aunty? Aku aunty kamu juga, nggak kamu panggil begitu. Malah langsung nama."

Alva meringis. "Kan udah biasa begitu, aku nggak mau panggil kamu aunty. Lidahku kaku," kelitnya.

"Iya deh, apa sih yang nggak buat keponakanku tersayang," kata Antonella seraya merengkuh Alva, menyandarkan kepala di pinggang pemuda itu.

Alva tergerak ingin membalas pelukan Antonella, namun sesuatu menghentikan niatnya, dan lantas mengambil jarak. Dia tidak ingin menciptakan kesempatan yang bisa memicu sesuatu yang tidak pantas dia lakukan, yang mungkin bisa membuatnya gelap mata. 

"Oke. Kamu udah janji, jangan nangis lagi," kata Alva tegas seraya menjauh. "Mulai sekarang, pengamanan untukmu aku perketat. Siapa tahu orang tadi, atau siapa pun, mulai melakukan sesuatu yang mengancam keselamatanmu. Jangan bepergian sendirian, Tonie, ingat!" seru Alva lagi, jemari telunjuknya terangkat, mengarah pada sang tante.

Antonella terkekeh geli menanggapi kecerewetan Alva. "Siap, bodyguardku."


"Tidak ada itikad dari wanita itu untuk mundur?!" Don Trapani berseru marah saat mendengar penuturan Don Castellano yang menyampaikan hasil laporan kunjungan sang utusan. 

Saat itu empat kepala keluarga kejahatan terorganisasi New Yord tengah melakukan pertemuan rutin sekaligus membahas klan Maranzano yang hendak mereka singkirkan. Ada Don Kevin Castellano yang menguasai kawasan Manhatten, Don Francesco Trapani penguasa kawasan Little Iraly, Don Saverio Bellomo dari kawasan Clayton, serta Don Luciano Martinelli penguasa kawasan New Hersey.

"Benar," jawab Don Castellano datar sambil mengangguk. Kevin, nama kecilnya, merupakan seorang pria berusia awal 40-an yang masih terlihat muda dan energik. Kharisma sebagai kepala keluarga Castellano tampak jelas menguar dari aura tubuhnya. Kulitnya kecokelatan, rambut berpotongan pendek masai, dengan sorot mata tajam penuh ambisi. Satu tahi lalat yang menjadi ciri khas bertengger di pipi kiri, tepat di bawah matanya. Di antara empat kepala keluarga yang tengah berkumpul itu, Kevinlah yang termuda. Tiga Don yang lain berusia 60 tahun ke atas.

"Kurasa wanita itu sengaja menunggu kita bertindak, huh?" Don Bellomo mengangkat suara.

"Don Castellano, dengarkan," ujar Don Trapani seraya mencondongkan tubuh, jemari telunjuknya mengarah pada Kevin. "Kami tidak ingin berlama-lama membiarkan wanita itu berkuasa atas area Brookine. Take the woman out, itu prinsip yang kita sepakati selama ini! Tidak ada wanita bisa memiliki kedudukan setinggi itu, bahkan, tidak ada wanita yang diizinkan mencari kehidupan dari dunia ini. This kind of world belongs to men, not women!"

Kevin mengangguk singkat.

Don Trapani melanjutkan, "Anda tahu pasti apa yang harus Anda lakukan pada wanita itu. Sebagai gantinya, area Brookine menjadi kekuasaan Anda."

Kevin menahan senyumnya. Tentu saja imbalan menguasai satu area besar yang semula berada di bawah klan Maranzano adalah sesuatu yang menguntungkan. 

"Satu hal yang menjadi concern saya," sahut Kevin begitu teringat sesuatu. "Utusan saya memberi saksi bahwa Antonella Maranzano memiliki dua keponakan yang akan meneruskan klan. Satu di antaranya adalah pemuda yang semakin beranjak dewasa. Jika saya menyingkirkan Antonella, bukan tidak mungkin keponakannya akan bergerak membalaskan dendam."

"Meneruskan klan," sahut Don Martinelli sambil tertawa sinis.

"We're talking about Flavio's son. A son," ujar Kevin memberi penekanan. "DNA macam apa yang diwariskan orang seperti Flavio pada anak laki-lakinya? Kekuatan fisik, besar kemungkinan. Temperamental, besar kemungkinan. Berakal pendek, buas, liar, semua sifat negatif Flavio bisa saja menurun pada anak itu. Saya hanya khawatir, anak Flavio akan menjadi masalah di kemudian hari."

"Saya memiliki kekhawatiran yang sama," sahut Don Bellomo.

"Jangan sisakan satu pun Maranzano," ujar Don Trapani memutuskan. "Apakah kita mencapai kata sepakat?"

Semua mengangguk penuh semangat. Rona puas mewarnai tiap wajah para pelaku kejahatan yang berkumpul di sana, malam itu, seakan telah berhasil memenangkan sayembara bernilai fantastis.


Kevin duduk di sofa berlengan seraya mengangkat kaki, mengisap cerutu. Di tangannya terdapat beberapa lembar foto seorang wanita berpakaian resmi, yang diambil secara diam-diam. Sang tangan kanan yang tempo hari diutus menemui Antonella, Marco Rizzi, berdiri siaga di sampingnya.

Puas meneliti seperti apa wajah wanita dalam foto, Kevin mengangguk samar, lalu mengembalikan foto-foto tersebut pada Marco.

"Anak buah Tommy mengabarkan mereka sudah dalam perjalanan kemari bersama wanita itu, Don."

"Tumben Tommy lama sekali bergerak?" Kevin bertanya santai. "Cuma menangkap satu wanita lemah saja sampai berhari-hari."

"Mohon maaf, sandera kita kali ini tidak selemah yang selama ini kita kira, Don."

Kevin mengerutkan kening heran. "Apa maksudmu, Marco?"

Marco mengoreksi letak kaca matanya sebelum menjawab, "Antonella rupanya pandai membela diri. Tommy melaporkan anak buahnya dibuat agak kerepotan lantaran gerakannya yang lincah."

Kevin mengangguk-angguk.

"Tommy sukses menjebak dan membuat Antonella terpojok seperti itu saja sebenarnya merupakan prestasi tersendiri, mengingat pengawal Antonella selama ini siaga menjaganya 24 jam. Apalagi Alvaro, keponakannya itu, dia yang paling tangguh. Selusin anak buah Tommy dibuat terkapar oleh dia seorang. Saat ini pasti Alvaro tengah mencari keberadaan tantenya yang kita sandera. Makanya bisa saya katakan, menaklukkan klan satu ini memang pekerjaan rumah yang cukup menyita energi," tutur Marco.

"Setimpal dengan imbalannya, Marc," sahut Kevin. "Bagus sekali akhirnya Tommy bisa menangkap wanita itu. Biarkan tetap hidup, jangan diapa-apakan. Dengan menyandera Antonella, seharusnya anak-anak Flavio keluar semua, apalagi Alvaro .... Tidak percuma dia membawa DNA Flavio, eh? Dari ceritamu tadi, bisa kubayangkan seperti apa anak itu. Sebenarnya sayang, harus menyingkirkan pemuda berpotensi besar seperti anak itu, tapi ... apa mau dikata, turunan Maranzano tetaplah turunan Maranzano."

Seorang anak buah tiba-tiba menerobos masuk, melapor, "Don! Tommy dan sandera sudah tiba di basement."

"Nice," sahut Kevin sambil bangkit berdiri, merapikan jas, lalu mengayunkan langkah lebar menuju ruang bawah tanah. Tempat Kevin berada saat ini bukanlah kediamannya yang sebenarnya. Bangunan bekas gudang dan perkantoran ini hanya dialihfungsikan sebagai markas sementara anak buah Kevin selama ini.

Tiba di ruang bawah tanah, Kevin mendapati sesosok perempuan terkapar di lantai berdebu, tampak tak sadarkan diri dengan tangan terikat di belakang, kedua kaki terikat pula. Sejumput rambut yang panjang menutupi sebagian wajahnya, menempel terkena keringat.

"Boss," sapa seseorang bertubuh paling tinggi besar seraya mendekati dirinya. Dengan postur bongsor, wajah yang penuh kerut dan bekas luka, orang ini tampak menyeramkan. Dialah sosok yang paling Kevin andalkan bila menyangkut urusan fisik.

Kevin mengangguk. "Good job, Tommy. Kudengar kalian sempat dibuat kesulitan wanita ini dan keponakannya?"

"Benar. Kalau tidak ingat perintah Boss yang menginginkan wanita ini agar tetap hidup, barangkali sudah saya habisi saking kesalnya saya," jawab Tommy, terdengar nada gemas dari suaranya.

"Jangan dulu, Tom. Dia masih bermanfaat untuk kita," sahut Kevin sembari berjalan mendekati tawanan. "Wanita ini pingsan karena kalian pukul, atau?" tanyanya.

"Wanita itu kami lumpuhkan dengan chloroform, Boss. Menghemat tenaga. Nanti juga dia bangun sendiri," jawab Tommy, ekspresi heran terlukis di wajahnya saat menyadari sang Don muda berjongkok untuk menyingkirkan sejumlah rambut yang menempel di wajah wanita itu. 

Menyadari wajah tawanannya, Antonella, agak berbeda dari hasil foto yang dia lihat sebelumnya, Kevin menahan napas. Bola mata pria berusia matang itu tampak berbinar, meski sesaat. Dia mengulum senyum, lalu mengambil tempat di seberang Antonella, duduk di atas tumpukan peti-peti kosong. 

"Boss?" Tommy memanggil dengan nada heran.

"Kau beristirahatlah sana," saran Kevin. "Aku ingin menunggu sandera kita yang ternyata cantik ini bangun."

Tommy tersenyum maklum. "Baik, terima kasih, Boss. Anak buah saya biar saja stand by di sini, menemani Anda. Saya permisi dulu," pamitnya.

Antonella yang malang. Meski selama ini sudah dikawal tiga orang, ditambah Alvaro sebagai pengawal tertangguh, selama 24 jam, tetap saja ada celah yang membuatnya mengalami nasib seperti itu. Antonella masih ingat dengan jelas kejadian di hari itu. Puluhan motor dan mobil tiba-tiba menghadang mobilnya saat melaju di jalan Pinewood, mengepung mobil Antonella. Para pengendara berpenampilan serba hitam turun dari kendaraan masing-masing, lalu baku hantam pun terjadi antara para pengawalnya dan penghadang. 

Tiga pengawalnya roboh dengan sukses satu per satu, sementara Alvaro tampak dengan senang hati meladeni gerombolan penghadang. Namun, saking banyaknya lawan yang harus Alvaro hadapi, dia lengah, gagal memastikan keamanan Antonella. 

Beberapa orang berhasil membuka pintu mobil dan menarik tangan Antonella kuat-kuat. Antonella memberontak sekuat tenaga, menampar, menendang, menonjok, segala macam bentuk perlawanan ia lakukan, hingga suatu ketika seseorang membekap mulutnya, memaksa dirinya menghirup obat bius itu ... hingga kesadarannya menghilang.

Antonella perlahan membuka mata, terkejut.

Tak jauh dari kakinya, seorang lelaki tampan berjas hitam bercorak duduk di sana, kedua siku bertelekan pada lutut. Mata hitam pria itu memandangi Antonella sedari tadi, bibirnya menyunggingkan sebuah senyum penuh arti. 

"Selamat malam, Donna Maranzano," sapa Kevin.

Refleks Antonella mengangkat badan, namun dengan tangan terikat, geraknya terbatas. Ia menyadari tak hanya kedua tangannya saja yang terikat, kedua kakinya juga. Bertumpu pada siku, Antonella mengambil posisi duduk, menatap tajam pada pria tersebut. Segera saja ia meneliti situasi di sekitarnya, sebuah ruangan luas penuh barang rongsokan yang dipenuhi debu. Beberapa laki-laki berdiri menyebar di berbagai sudut, mengawasi dirinya. Ada sebuah jendela kecil tanpa kaca di pojok, satu-satunya ventilasi. Antonella segera tahu ia bisa saja keluar dari ruangan itu lewat sana, namun ada dua orang duduk di bawah jendela, juga mengawasi dirinya. 

Antonella berdecak pelan, menyadari ia tidak akan bisa lolos bila ikatan di tangan dan kakinya tidak dilepaskan, juga dengan adanya banyak orang di sana ... sepertinya keinginannya mustahil. Ia harus memutar otak.

Ia kembali menatap nyalang pria yang duduk di hadapannya itu. Wajah yang familiar, Antonella menyadari, terutama saat melihat sebentuk tahi lalat di pipi kiri pria itu, tepat di bawah mata.

Suara berat Kevin kembali mengisi udara lembab di dalam ruangan itu. "Salam kenal, Antonella. Kamu tahu siapa aku?" tanyanya.

Seketika ingatan Antonella pulih. Pria itu tidak lain adalah salah satu kepala keluarga kejahatan New Yord, berasal dari klan Castellano. 

Castellano. Nama keluarga yang fenomenal, terlebih pada masa perang mafia zaman dahulu.

"Kevin Castellano." Antonella menyahut parau. 

Kevin mengangguk, tetap menyunggingkan senyum. "Senangnya, kamu mengenaliku," timpalnya. 

"Huh." Antonella berdecak. "Kamu anak Wayne Castellano yang memberantas anggota mafia 20 tahun yang lalu. Lucu. Ayahmu sedemikian cinta keadilan, tapi anak laki-lakinya sendiri malah menjadi bos mafia? Bagaimana reaksinya mengetahui kamu jadi pemimpin para begundal? Aku penasaran."

Kevin melengos. "Nama itu sudah tidak pernah lagi saya ingat," sahutnya.

"Kakakku yang menjadi korban atas kelakuan ayahmu, tahu? Kalau saja ayahmu itu duduk diam dan tidak usil memberantas sesama Iralia, kakakku pasti masih sehat sampai sekarang," ujar Antonella tertahan. "Dan lagi, bukankah karena perang itu, justru anak perempuannya menghilang sampai sekarang? Apa yang Wayne dapatkan? Keadilan? Dengan menumbalkan anak-anaknya?"

Kekesalan yang Kevin rasakan nyata terlihat dari sorot matanya. Dia segera menyanggah, "Apa yang terjadi 20 tahun lalu bukanlah tanggung jawab saya, meskipun orang yang berada di balik itu semua adalah orang tua saya sendiri. Saya tidak ada andil sama sekali atas apa yang dia perbuat. Jauh sebelum perang mafia itu, saya sudah tidak lagi berhubungan dengan Wayne. Saya mengabdikan diri pada paman saya, Maurice Castellano, sejak saat itu. For your information."

"Ah." Antonella mengangguk. "Makanya kamu bisa jadi Don ... jabatan warisan."

Kevin bermaksud menyanggah, namun memilih diam. Dia semakin lekat memandangi sosok cantik di hadapannya. 

"Bukankah anak perempuan Maurice juga menjadi korban kecelakaan pesawat saat itu, berbarengan dengan kakakku?" tanya Antonella.

"Benar," jawab Kevin. "Tapi Tuhan melindungi Jessica, yang saat itu tengah mengandung. I guess she's saved by the baby."

"Jessica selamat??" Antonella terbelalak. "Tapi .... Tapi kalau dia memang selamat, lalu di mana dia? Kenapa namanya tetap tercantum di daftar korban kecelakaan itu?"

"Itu urusan Maurice, saya tidak berniat menjelaskan lebih lanjut. Yang jelas, Jessica selamat, anaknya juga. Makanya saya bilang, dia dilindungi Tuhan. Keajaiban memang nyata."

Antonella diam mencerna informasi yang berkelebatan di kepalanya.

"Hanya sayangnya tidak ada keajaiban untuk kakakmu Flavio dan pacarnya ... siapa, oh iya, Alyssa. Turut berduka, Antonella. Tapi jujur ya, justru dengan kepergian Flav, semua orang merasa lega. Kalau dia secara ajaib bisa selamat dari kejadian itu, tentu dia akan mengamuk dan secara brutal membunuhi orang lebih banyak lagi. He's one of a kind. Buas. Brutal. Maaf bila saya terlalu jujur mengutarakan ini," tutur Kevin.

Antonella menggelengkan kepala kuat-kuat. "Flav tidak seperti itu. Buatku, dialah kakak terbaik. Contoh kakak idaman yang selalu melindungi adiknya. Apa yang ayahmu lakukan itu adalah sebuah pengkhianatan terhadap sesama Iralia," cetusnya. 

"Yeah, mungkin. Bisa jadi," sahut Kevin tak acuh sambil mengangkat bahu, mulai merasa tidak tertarik melanjutkan pembicaraan mengenai Wayne Castellano.

"Lalu kenapa tiga keluarga lain selain Burgueno dan Maranzano luput dari serangan Wayne? Aku tidak habis pikir kalau ingat kalian semua hanya duduk santai menonton perang yang terjadi .... Padahal bukankah sasaran utama Wayne adalah Maurice Castellano? Kenapa luput?"

Kevin melengos panjang. "What's done is done, sweetheart," sahutnya.

"Kenapa kamu menolak cerita? Waktuku cukup panjang untuk mendengarkan ceritamu, toh, aku sedang jadi tawananmu."

"Kamu bertanya karena penasaran saja."

"Ya memang aku penasaran. Salah? Karena siapa pun bakal berpikir ini aneh. Apa jangan-jangan kalian, tiga keluarga berkomplot bersembunyi dan membiarkan keluarga Burgueno dan Maranzano hancur secara bersamaan?"

"Saya tidak harus menjawab apa pun."

"Mengelaklah terus. Aku nggak akan berhenti sampai mendapat jawaban atas kehancuran keluarga Maranzano."

"Antonella, cukup," sela Kevin tak sabar. "Sadarkah kamu, situasi macam apa yang sedang kamu alami ini? Mengapa masih meributkan hal yang sudah lama sekali berlalu? Cemaskan dirimu sendiri."

"Kenapa harus cemas? Orang-orangku pasti akan menjemputku sebentar lagi."

"Yeah." Kevin tersenyum, mengangguk. "Saya juga tidak sabar menunggu mereka," katanya. Dia lalu maju mendekati Antonella, berlutut sembari mempertahankan pandangan dengan wanita itu.

Kevin melanjutkan, "Dan selagi menunggu ...."

Antonella refleks merapat ke dinding, menjaga jarak. Ekspresi bingung sekaligus heran terpancar di wajahnya. "Mau apa kamu?" tanyanya gusar, jelas merasakan hawa tidak mengenakkan dari kelakuan Kevin. 

Saat jarak wajah keduanya semakin terpangkas habis, seringai Kevin terlukis di wajahnya. Senyuman yang  tampak menyebalkan di mata Antonella.

"Selagi menunggu, saya hanya ingin mengagumi keindahan ciptaan Tuhan dari dekat," bisik Kevin. Dengan penuh perhatian, jemarinya menyelipkan sejumput rambut Antonella ke belakang telinga wanita itu. Binar kagum nyata terpancar dari matanya. "Kamu wanita tercantik yang pernah saya lihat ...."

Mendengar ucapan serta tingkah laku Kevin, Antonella langsung paham. Sebuah skenario dengan cepat terangkai dalam benaknya, dan, bersamaan dengan itu, Antonella secara sengaja mengendurkan otot-otot di wajahnya. Dibalasnya tatapan Kevin dan menarik sudut bibirnya yang sensual, menghadiahkan pria itu sebuah senyuman paling manis. 

"Mmm. Setelah diperhatikan, kamu ternyata tampan," balas Antonella nyaris berbisik.

Kevin tersenyum senang. 

Antonella mendekatkan wajahnya dengan Kevin hingga puncak hidung mereka bersentuhan. "Aku penasaran ... apakah kamu seorang pejantan yang tangguh ...?" Dengan sengaja ia mendesah, berharap bisa semakin membakar gairah lawan bicaranya kali ini. 

"Pejantan Castellano terjamin tangguh," sahut Kevin dengan suara berat. 

"Mmm ...," desah Antonella, menggigit bibir. "Apa kamu ... tipe yang bisa membawaku melayang ... di langit ketujuh ...?"

Deru napas Kevin semakin berat, menjawab, "Kalau nggak dicoba, kamu nggak akan tahu."

"Menarik ...," balas Antonella. 

"Aku punya feeling, kamu bakal bikin aku terkapar pingsan ... meraih puncak ... berkali-kali ...." Jurus desahan Antonella lancarkan sekali lagi, kali ini lebih penuh penghayatan. 

Antonella tahu siasatnya akan berhasil, menyadari sinar mata Kevin memancarkan gelora nafsu yang kian membara. Ia lalu menggesek ringan ujung hidungnya dengan hidung Kevin, lirih berbisik, "Seandainya aja ... bisa kamu buktikan ...." 

"Aku buktikan sekarang juga," balas Kevin cepat, secepat gerak tangannya yang bermaksud menyentuh tubuh Antonella.

Namun Antonella justru menjauh, menggeleng kuat-kuat, menyisakan Kevin terbengong heran. 

"Kamu gila yah?" desis Antonella. "Ada banyak orang-orang kamu di sini, kamu bermaksud kasih pertunjukan gratis buat mereka??" 

Kevin seperti tersadar dari tindakan naifnya.

"Aku nggak bisa kalau ada orang lain di sini, Kevin ...." Antonella melancarkan jurus tatapan manja pada Kevin, bibir sensualnya berkerut merajuk.

Senyum Kevin terkembang sinis. Lalu, tanpa menoleh pada para bawahan yang berada di sana, dia berseru keras, "Kalian semua pergilah! Temani Tommy bos kalian dan jangan ada yang berani ke sini sebelum kuperintahkan!"

Dari berbagai penjuru ruangan, orang-orang Tommy menuruti titah Kevin tanpa banyak protes. Dalam sekejap ruangan itu kini sepi, hanya ada dua anak manusia yang tengah saling memancing gairah.

Bagus sekali, ujar Antonella dalam hati. Sekarang, taktik lainnya ....

Tanpa sabar Kevin maju hendak mencumbu Antonella, namun wanita itu sekali lagi berkelit. 

"Apa lagi? Kenapa sih?" Kevin tampak tidak terima.

"Kevin ... please lepasin ikatan di tanganku dulu dong .... Yang di kaki juga .... Gimana aku bisa merasakan kamu kalau kakiku rapat begini?"

Kevin terkekeh. "Fine," jawabnya enteng seraya melepas ikatan di kaki Antonella.

"Tanganku juga ...," rajuk Antonella usai kakinya terbebas dari ikatan. "Gimana caranya aku bisa manjain kamu, kalau tanganku nggak bisa gerak ...?"

"Manjain aku?" Kevin menuntut penjelasan lebih.

"Kamu tahulah ... mmm ...." Antonella maju, berbisik di telinga Kevin. "Emangnya kamu nggak mau aku pegang ... aku pijat ... aku kocok?" 

Kevin tertawa lepas. "Kamu mau langsung full experience rupanya, Antonella cantik?"

"Kenapa nggak ...? Aku tiba-tiba high ...," sahut Antonella, pura-pura merasa malu.

"Saya terpukau lho, jujur. Kamu terkena Stockholm Syndrome? Malah tertarik pada penculikmu sendiri?"

"Apa anehnya?" Antonella menyahut cepat. "Aku seorang Maranzano ... keturunan darah panas sekaligus penikmat tantangan .... Kalau kamu mau tahu, malahan aku dulu nekat melepas keperawananku dengan orang yang baru aku kenal selama lima menit pertama. Ehm. Bukan orang, sih. Tapi klon."

"Ah." Kevin mengangguk paham. "Masuk akal. Tapi tidak, Antonella. Saya tidak ingin bertaruh. Siapa tahu kamu malah memperdaya saya dan malah kabur. Melepas ikatan di kakimu saja sebenarnya sudah sebuah kesalahan. Apalagi jika saya melepas tanganmu juga."

Sialan, kepikiran juga orang ini, sungut Antonella dalam hati. 

"Please ... Kevin," rajuk Antonella. 

"Acara intim kita akan lebih panas kalau tanganmu tetap terikat," ujar Kevin, dengan genit mengedipkan sebelah matanya.

You wish! teriak Antonella lagi dalam hati. Penganut bondage juga orang ini! Ew! Dia pikir bisa memonopoli tubuhku sesuka hatinya?

"Sayang sekali ... kamu melewatkan kesempatan yang jelas-jelas aku berikan," sahut Antonella, sengaja memasang ekspresi sedih. "Beberapa nama yang pernah bersenang-senang denganku semuanya memuji keterampilan tanganku. Kamu pasti nggak nyangka, kan? Mereka bilang, tanganku kreatif. Apalagi kalau aku manjain lewat mulut juga ...." Ia balas mengedipkan sebelah mata pada Kevin, yang tampak terpukau mendengar ucapannya.

"Wah, menarik sekali," sahut Kevin. "Ternyata kamu memang berpengalaman."

"Aku seorang Maranzano, apa lagi yang kamu ragukan? Makanya ... please lepasin tanganku. Aku janji, nggak akan kabur."

Kevin memandangi Antonella, seolah ingin mencari kesungguhan pernyataan wanita itu.

"I swear," ujar Antonella, memahami maksud Kevin. "Aku nggak akan kabur. Coba kamu bayangkan ... kalau anak buahku keburu dateng ... pasti bakal ricuh di sini. Aku juga pasti langsung diamankan mereka. Apa kita akan ketemu lagi setelah itu? Aku ragu ...."

Kevin terdiam lama, tampak menimbang.

"Terus, apa kamu tega, membiarkan rasa penasaranku yang tiba-tiba melesak ini, mengambang begitu saja, terlupakan, tak tersalur?" Antonella menatap Kevin dengan pandangan sayu. "Mumpung ada kesempatan, Kevin .... Kamu beneran mau melewatkan aku? Rugi, lho. Kapan lagi ada seorang Maranzano terkena Stockholm Syndrome yang capable memuaskan semua imajinasi kamu?"

Secercah senyum menghiasi wajah Kevin. Jemarinya menjentik ringan ujung hidung Antonella. "Kamu sangat paham bagaimana merayuku," sahutnya. Maka dia pun memutar tubuh Antonella dan melepaskan ikatan di tangannya.

Antonella nyaris tidak sanggup menahan senyum kemenangannya. Segera setelah tangannya terbebas, ia bangkit berdiri, berhadapan dengan Kevin yang tersenyum penuh arti menyambutnya.

"Lihat, aku menepati janji, kan? Aku nggak kabur," kata Antonella membalas senyum Kevin.

"Cukup basa basinya," sahut Kevin seraya merengkuh tubuh langsing Antonella, tanpa sabar diraihnya bibir wanita itu dengan bibirnya sendiri. 

Antonella menyambut pagutan penuh nafsu Kevin dengan antusias, kedua tangannya melingkar di leher sang pejantan, meremas rambut pria itu gemas. Ia putuskan akan melayani Kevin sejenak, agar penculiknya itu semakin lengah. Dibiarkannya tangan kokoh Kevin merambah, merajalela di atas tubuhnya. Tangan itu begitu efisien, merangsek masuk ke dalam blouse Antonella, membelai, meremas apa yang ada di sana. Antonella menggigit bibir saat pria itu menyasar lehernya, menahan gejolak yang ia rasakan. Tentu saja ia tidak mengizinkan dirinya terhanyut cumbuan Kevin, yang mungkin akan mengaburkan akal sehatnya. Maka dengan sengaja ia mendesah manja, memanggili nama Kevin, yang nyata-nyata semakin mengobarkan gairah sang pejantan. Tanpa membuang waktu lagi gerakan tangannya perlahan turun, menyasar area sensitif Antonella. Tangan itu lagi-lagi merangsek masuk ke dalam pakaian, jemarinya bermain di sana. 

Terkejut, Antonella spontan terpekik lirih, menyadari betapa kreatif dan efisien Kevin merangsang area sensitifnya. Miliknya itu jelas-jelas mendamba, menuntut perlakuan yang lebih lagi dari tangan tak diundang yang kasar nan kokoh tersebut. Area istimewanya itu seolah enggan bekerja sama dengan perintah akal sehat, turut larut dalam gelora nafsu yang semakin melanda. Sekuat tenaga, Antonella mengarahkan perhatiannya kembali pada akal sehat agar menghiraukan lesakan hasrat, membuat napasnya tersengal-sengal.

Nggak. Nggak boleh, tegur Antonella pada dirinya sendiri dalam hati. Aku nggak boleh terpancing. Aku harus keluar dari sini!

Jika saja keadaan Antonella tidak segenting itu, barangkali ia tidak akan ragu menikmati kebersamaannya dengan pria tampan yang baru dikenalnya itu.

Pada saat yang sama, Antonella menyadari Kevin rupanya sudah siap di bawah sana. Meski masih tertutup garmen, ia bisa merasakan kerasnya benda itu, menempel agresif pada tubuhnya.

Ia menarik keluar tangan Kevin dari pakaiannya, membuat pria berambut hitam masai itu memandanginya dengan tatapan bertanya. 

"Don't you like it, sweetie ...?" tanya sang Don lembut.

Nada suara maskulin Kevin dalam dan berat, nyaris meruntuhkan iman Antonella. Sekali lagi, ia mengambil napas panjang, meredakan hasrat yang dirasakannya. 

Antonella lalu tersenyum pada Kevin. "Save the best for the last, Kev ...," katanya lirih.

Kevin mengangkat alis mendengar ucapan wanita yang telak merebut hatinya tersebut. "Nice," timpalnya.

Senyum indah Antonella masih terukir di wajahnya, matanya menatap sayu sang lawan. Ia mendekatkan wajah ke telinga Kevin, berbisik mesra, "Ini giliranku manjain kamu ... bersiap yaah?"

Tentu saja Kevin menyeringai senang. Dalam bayangannya, wanita itu akan segera berlutut di hadapannya, dan lalu .....

Namun bukannya merasakan sensasi penuh kenikmatan yang dia dambakan, suara benturan keras dibarengi rasa ngilu luar biasa yang tiba-tiba bersarang di antara kedua kakinya membuat Kevin lumpuh seketika, beringsut jatuh menggelosor ke lantai. Kejadiannya hanya sekelebat mata. Antonella tahu-tahu sudah berlari menjauh dari Kevin dan bersiap kabur lewat satu-satunya jendela. 

Sebelum melewati jendela, Antonella memandang sekilas pada Kevin yang tampak sangat mengenaskan, terbaring meringkuk di tengah ruangan, badannya gemetar hebat. Antonella meringis, menyadari seberapa besar rasa sakit yang pria itu alami.

Dari sela-sela matanya yang setengah terpicing, Kevin dapat melihat yang Antonella lakukan. 

"An ... to ... nella ...," panggil Kevin parau di tengah rasa nyeri hebat yang melandanya. Jangankan untuk berlari mendapatkan Antonella agar tidak melarikan diri, untuk berdiri saja dia tidak sanggup. Untuk sekedar berteriak agar para anak buahnya datang pun, Kevin tidak memiliki tenaga. Kekuatannya runtuh dalam sekejap, semua energinya terfokus pada area vital yang baru saja menerima peristiwa traumatis.

Antonella berseru penuh penyesalan, "Kevin, sorry ...!" 

Kevin hanya bisa pasrah memandangi Antonella yang sedang melewati jendela, lalu hilang dari pandangan. Sungguh, Kevin mengutuk diri lantaran telah lengah, hingga bisa-bisanya dimanfaatkan Antonella. Mana pernah dia menyangka, Antonella bakalan dengan teganya menendang area vital miliknya dengan lutut, sekuat tenaga! Kevin nyata-nyata telah dibuat lengah, diperdaya senyuman dan desahan manja wanita licik tersebut. 

Selain nyeri hebat yang harus ditanggungnya, bagaimana Kevin bisa melaporkan kejadian barusan pada anak buahnya tanpa membuat harga dirinya terjun bebas? Apa yang harus dia katakan?

Kevin mengerang panjang, sibuk merutuk dalam hati, Sialan ... perempuan licik tidak tahu diri! Bisa-bisanya kamu memperdayai aku? Aku?! Erggh! Lihat saja, Antonella .... Akan kucari kamu sampai ke ujung dunia! Aku pasti akan mendapatkan kamu utuh-utuh lalu kubunuh! PASTI! Tapi sebelum kubunuh, aku jadikan kamu objek pemuasku! Tidak ada kata maaf dan toleransi lagi buatmu, Antonella Maranzano!

Gelora emosi yang bercampur baur membuat napas Kevin tersengal. Murka, kecewa, kesal, gemas, sekaligus terangsang. Padahal kurasa kamu layak menjadi kekasihku .... Tapi lihat yang kamu perbuat ini! Lihat saja, akan kubuat kamu berteriak-teriak minta ampun padaku!


Bab 2 – Percikan Cinta Terlarang 

Melarikan diri dari ruangan bawah tanah tempatnya disekap bukanlah perkara mudah. Antonella harus berlari menembus area pekarangan yang dipenuhi pepohonan. Sesekali ia bersembunyi di balik batang pohon saat melihat anak buah Kevin tampak berpencar mencari keberadaan dirinya. 

Antonella memberanikan diri untuk terus bergerak, hingga akhirnya ia tiba di batas pekarangan. Suara deru kendaraan lalu lalang dari balik tembok tinggi membuatnya menghela napas lega. Spontan matanya memindai keadaan sekitar. Salah satu pohon di dekatnya memiliki dahan yang melintang, melewati tembok. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera mendekati pohon tersebut, berupaya keras memanjat. 

Antonella berhasil melewati tembok, kemudian melompat ke bawah. Ia mendarat di areal tanah kosong, hanya sekitar lima meter dari jalan besar, yang langsung ia kenali. Ini adalah jalan raya dari dan menuju bandara. Syukurlah, setidaknya Antonella tidak buta lokasi. Namun untuk bisa kembali ke kediaman Maranzano di Lattingtown, ia harus menyeberang untuk mencapai sisi jalan yang lain. Tidak ada jembatan penyeberangan, tidak ada tempat menyeberang, Antonella harus memotong laju kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi.

Tentu saja ia sadar hal ini berbahaya dan ilegal, namun, perasaan diburu adrenalin serta rasa takut bila anak buah Kevin berhasil menangkapnya, maka ia terpaksa nekat berlari menyeberang. Sebuah mobil hitam membunyikan klakson panjang pertanda terkejut melihat Antonella, bersamaan dengan itu, mobil berhenti tepat beberapa inchi dari Antonella yang tampak pasrah sekaligus takut.

"Hey! Kau mau bunuh diri?!" bentak seorang pria muda yang duduk di kursi depan, mengeluarkan kepalanya dari jendela.

"Maaf ...!" Antonella menyahut sebisanya sambil menutupi mata lantaran silau terkena lampu jauh mobil hitam tersebut. 

"A-Antonella?!" Pria muda yang tadi membentak tiba-tiba saja menyebut namanya. Spontan pria itu melompat keluar dari mobil, menghampiri.

Antonella membelalakkan mata saat menangkap sosok Alvaro mendekatinya. Anak itu spontan memeluk dirinya agresif.

"Tonie!! Aku mencari kamu ke mana-mana!!" seru Alva, terdengar nada lega sekaligus gembira dari suaranya. Dia melepas pelukan, menatap sang tante lekat dari atas sampai bawah, seolah mengecek bila ada sesuatu yang kurang dari Antonella.

"Alva .... Ya Tuhan, syukurlah bisa ketemu kamu!" balas Antonella tak kalah lega.

"Ayo masuk!" Tanpa sabar Alva menarik tangan Antonella masuk ke dalam mobil. 

Vincenzo Corti, satu-satunya kapten yang tersisa di struktur organisasi keluarga, duduk di kursi pengemudi. Pria yang beberapa tahun lebih tua dari Antonella itu mengamati saat sang Donna masuk dan mengambil tempat di jok belakang. 

"Antonella, Anda baik-baik saja??" tanya Vincenzo cemas.

Antonella menyunggingkan senyum menjawab pertanyaan Vincenzo. "Aku baik-baik saja. Nggak perlu cemas. Untung kamu berhasil mengerem tepat waktu!"

"Lekas jalan, Vincenzo," ujar Alva usai menutup pintu. Dia mengambil tempat di sebelah Antonella persis. 

"Hey, kenapa kau malah duduk di belakang?" tegur Vincenzo seraya mulai menjalankan mobil.

"Aku menemani Antonella," jawab Alva tak acuh. Kemudian dia berpaling pada Antonella. "Tonie, Tonie. Sungguh, aku lega melihatmu! Kemarin saat aku sadar telah lengah dan kehilangan kamu ... ugh!! Rasanya ingin mengamuk! Bisa-bisanya aku kecolongan! Udah jelas tugasku mengawal kamu, tapi malah bisa-bisanya aku gagal menjagamu! Malah kamu sampai harus disekap lama! Maafkan aku, Tonie, maaf," racau Alva. 

Antonella hendak menjawab, namun Alva kembali memberondong.

"Kamu nggak apa, kan? Kamu yakin, kamu nggak kenapa-kenapa?? Ada yang sakit? Ada ngerasa apa? Kita ke rumah sakit aja sekarang? Kamu diapain aja sama mereka? Mereka anak buah Kevin Castellano yang brengsek itu kan?? Kurang ajar banget beraninya mereka menyasar dan menyerang kamu!! Kamu diapain ajaa??" cecar Alva semakin menuntut jawaban.

"Alvaro, kalau kamu nggak kasih aku kesempatan ngomong, gimana aku bisa jawab pertanyaan kamu?" Antonella tak sanggup menahan geli menghadapi celotehan Alvaro yang tidak kunjung berhenti. 

"Eh." Alvaro baru menyadari kelakuannya.

"Sudah kubilang sejak lama, you need to learn how to shut your mouth up, Al," sela Vincenzo tanpa mengangkat pandangan dari jalanan, sementara Alva hanya merengut.

"Jadi ... iya, yang culik aku anak buah Kevin. Kevin sendiri juga ada tadi. Dia bilang ... nunggu kamu datang. Aku duga, dia juga nggak sabar mau habisi kamu karena kemarin kamu udah bikin mereka kerepotan pas mau tangkap aku," tutur Antonella pelan. 

Alva mendecih keras. "What a bastard! Aku penasaran mukanya seperti apa! Nggak sabar pengen nonjok!"

Antonella segera menukas, "Jangan cari mati ketemu dia ... dari jumlah aja, kita kalah jauh, nggak ada apa-apanya. Sebelum kamu bisa nonjok Kevin, kamu udah dihajar duluan sama pasukannya. Mereka banyakan, nggak hanya selusin dua lusin. Kamu bakal kewalahan sendiri."

"Kenapa malah bela dia, Tonie?" sungut Alva. "Tapi beneran, kamu nggak diapa-apakan?"

"I'm perfectly fine, Alva," jawab Antonella sambil tersenyum.

"Terus kamu bisa di tempat tadi, gimana ceritanya kamu bisa kabur?" 

Antonella sontak kebingungan sendiri. "Euh ...," gumamnya, berusaha merangkai cerita yang lebih bisa diterima. Tidak mungkin bukan, ia menceritakan bahwa tadi ia mempergunakan senjata femininnya untuk melumpuhkan Kevin Castellano?

"Aku berhasil melepaskan diri dari ikatan ... lalu kabur saat nggak ada yang melihat," lanjut Antonella. 

Alva mengangguk-angguk. "Untunglah kamu berhasil lepas, Tonie! Karena kalau nggak ... entahlah apa yang akan terjadi padamu! Kevin itu pasti cuma ingin kamu enyah dari bisnis, Tonie! Bukan hanya sekedar enyah, tapi juga sampai membunuh kamu!" serunya penuh emosi.

Antonella mengangguk. "Aku tahu."

"Nggak mungkin aku bakal diam saja! Aku bakal tuntut balas! Kalau dia mau main api, aku bakar sekalian!"

"Alvaro!" tegur Antonella. "Sudah kubilang, jangan cari mati dengan Kevin. Kamu kalah jumlah, kalah tenaga, kalah taktik pula. Sudah. Jangan pernah kepikiran untuk serang dia kecuali kamu sudah sekuat orang itu. Kamu tuh nggak ngerti-ngerti, dia itu Don Castellano. Tiga keluarga yang lain juga di belakang Kevin. Untuk sekarang ini, bisa dibilang dia nggak tersentuh, ingat itu."

Decakan Alvaro semakin keras. Dia beralih pada Vincenzo. "Menurutmu juga begitu, Vince?"

Vincenzo mengangguk. "Sayangnya, memang demikian, Al. Selagi kita belum mengumpulkan kekuatan ... ada baiknya kita korbankan harga diri kita sedikit, bersikap pro pada mereka," jawabnya.

"Kau ada saran apa, Vince?" tanya Antonella.

"Untuk sementara waktu, mungkin lebih baik kamu kembali ke Miani, Antonella. Untuk keselamatanmu sendiri. Kamu tetap bisa memantau dari kejauhan," jawab Vincenzo.

Alva mencecar, "Sementara waktu itu berapa lama? Kevin Castellano yang brengsek itu menyasar Antonella dan nggak mungkin bakal berhenti sebelum usahanya berhasil!"

"Setidaknya sampai situasi mendingin dulu," sahut Vincenzo.

Antonella mengangguk. "Ide yang bagus. Kamu bisa aku serahi tanggung jawab, Vince? Seperti sebelum ini?"

"Dengan senang hati, Tonie. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku sarankan agar kita video call setiap hari, supaya kamu tetap bisa update perkembangan internal kita dan juga situasi di sini nantinya," usul Vincenzo.

"Aku setuju. Kita balik lagi ke Miani, Alva. Segera siapkan segala sesuatunya. Jangan lupa kabari Zia," perintah Antonella.

Alva hanya mengangguk. "Oh iya. Aku belum kabari Zia. Zia cemas banget tahu kamu diculik, Tonie," ujarnya seraya mengambil ponsel lalu sibuk mengetik.

Antonella tersenyum. "Anak baik. Kamu berdua, Alva, Zia, keponakan kesayanganku ... jangan pernah berpikir untuk menjauhi aku ya? Kecuali kalian mau dendam Flav nggak terbalaskan ...."

"Itu tujuan aku dan Zia sejak awal mula, Tonie. Dan kami pasti membutuhkan kamu," sahut Alva. "Makanya, kamu juga harus jaga diri sebaik mungkin. Jangan sampai kamu kenapa-kenapa."

"Aww. So sweet," balas Antonella. "Tapi kamu juga harus ingat, Al, jangan cuma fokus jaga aku, meski memang karena itu tugasmu. Tapi please, jaga adik kamu juga, ya? Zia itu Princess Maranzano, harus dilindungi sebaik-baiknya."

"Hmm." Alva tampak fokus dengan ponselnya.

Antonella tersenyum maklum. Perhatiannya teralih pada barisan gedung pencakar langit dengan lampu-lampunya yang berkilauan. Tiba-tiba saja memori mengenai Kevin Castellano menyeruak di benaknya. 

Bukan memori perihal dirinya diculik. Bukan memori perihal horornya saat anak buah Kevin yang semuanya berbadan bongsor itu menarik tubuhnya keluar dari mobil lalu membiusnya. Namun memori yang terjadi baru saja antara dirinya dan Kevin. Adegan-adegan mendebarkan nan memacu hasrat, sebelum Antonella dengan kejamnya menendang selangkangan Kevin hingga dia rubuh tidak berdaya. Saat pria itu mencumbu bibir dan lehernya, saat dia dan tangannya yang kreatif itu menjelajah tubuh dan semua area sensitifnya ... Antonella tidak menyangkal bahwa ia menikmati kejadian tadi. Tentu saja, tubuhnya bereaksi positif pada perlakuan Kevin. Seandainya saja situasinya tidak rumit seperti sekarang, mungkin Antonella tidak akan ragu mendekati Kevin. Sebuncah rasa penasaran menyergapnya, ingin tahu seperti apa rasanya bila benda keras milik Kevin memasuki dan menjajah dirinya. 

Tapi bukannya Kevin udah punya istri? Ih, males banget sama suami orang. Kayak nggak ada laki-laki lain aja! Tapi ... tapi aku penasaran sih ..., batin Antonella. Dia kayaknya tipe ideal yang bisa puasin aku. Bener nggak, sih?

"Tonie? Kok mukamu merah? Kenapa? Demam?" 

Suara teguran Alva membuyarkan semua lamunan Antonella. "Eh. Oh. Nggak ... nggak kok. Nggak apa-apa," jawabnya tergagap. 

Alva mengernyit heran memandangi Antonella yang kini terlihat kikuk, menghindari beradu pandang dengannya. 


Mantan kepala keluarga Castellano, Maurice, yang kini tengah menikmati masa tua, menerima kunjungan rutin Kevin di rumahnya, sore itu. Meski telah pensiun, mantan Don berjulukan "The Angel Face" ini tetap memantau gerak Kevin, sesekali memberi saran dan nasihat untuknya. Sebagai orang yang telah "membentuk" Kevin dari yang semula pelaku kriminal kelas teri hingga berhasil menjelma menjadi sesosok kepala keluarga yang disegani, tentu saja Maurice tidak lantas lepas tanggung jawab atas keponakannya itu.

Sementara bagi Kevin, Maurice adalah satu-satunya yang paling bisa dipercaya. Sosok yang dia anggap seperti ayahnya sendiri.

"Dari wajahmu, bisa kuterka, kamu belum berhasil menunaikan tugas menyingkirkan wanita itu," ujar Maurice, menatap lekat sang keponakan yang duduk di hadapannya.

Kevin tersenyum getir. "Tebakan Uncle tepat," sahutnya dalam sekali helaan napas. 

"Kawasan Brookine adalah salah satu area yang sangat menjanjikan. Kau tidak termotivasi?"

"Tentu aku sangat termotivasi! Tapi mau bagaimana lagi? Sampai saat ini kami selalu gagal menyingkirkannya," jawab Kevin gusar. Sesaat dia teringat memori buruknya bersama Antonella, lalu berdecak pelan. Tindakan barbar wanita itu sempat membuatnya menjadi pesakitan, belum ditambah rasa malu saat menceritakan kronologi kejadian pada dokter pribadinya. 

"Kau dibuat kerepotan?" Maurice bertanya saat menangkap ekspresi masam Kevin.

Kevin menggoyangkan tangan di udara. "Nggak usah bahas itu, Uncle. Percayalah, hanya soal waktu. Aku pasti berhasil menyingkirkannya," katanya, merasa tak nyaman berada di bawah tatapan Maurice yang dirasa menghakimi.

Senyum di wajah sendu Maurice mengembang. Dia bersandar pada sofa, jemari kedua tangannya saling bertaut di atas perut, lalu katanya, "Aku percaya kau akan berhasil. Apa pun tujuanmu, apa pun langkah yang kau ambil, aku percaya, semua akan berjalan dengan lancar. Sebab aku sendiri yang mendidikmu."

Kevin membalas senyum sang paman. "Kau benar, Unc."

"Entah kenapa aku jadi ingat ...." Pandangan Maurice menerawang, menguak tabir memori yang terjadi kurang lebih 20 tahun lalu. "Saat aku dan Wayne, ayahmu itu, bertemu pasca perang usai. Kau ingat? Kau mengawalku waktu itu. Puas sekali saat aku menyaksikan wajah Wayne pucat pasi menyadari kau bersamaku," tuturnya.

Kevin mengangguk. Masih sambil tersenyum dia menyahut, "Ya, Unc. Aku ingat saat-saat itu. Mata Wayne seperti akan lepas begitu melihatku!"

Maurice balas mengangguk. "Aku bangga-banggakan kamu di hadapannya. Aku bilang, akan mewariskan kursi don padamu ... dan ekspresinya ... wah, campur aduk kurasa. Apa dia tidak pernah menghubungimu setelah itu? Atau mungkin sebelumnya?" 

Kevin menggeleng singkat. "Nope. Setelah aku melarikan diri dari rumah, aku dan dia sama sekali nggak pernah berhubungan. Bahkan hingga sekarang ini," jawabnya. 

Dia menghela napas panjang. "Kurasa dia kena mental, Unc. Salahnya sendiri, dia terlalu mengekangku. Membatasi mimpi-mimpiku. Membuatku hilang respek padanya bahkan sejak aku masih sekolah. Kalau dipikir, memang ironis. Aku justru menjadi apa yang dia takuti sejak dulu. Dia gencar memberantas mafia, tapi anak laki-laki satu-satunya malahan menjadi mafioso. Ironis. Bisa jadi bahan dongeng yang bagus buat cucu-cucuku kelak," ungkapnya seraya terkekeh. "Sampai sekarang nggak ada terobosan baru lagi dari Wayne? Aku sudah membayangkan bakal terlibat perang jilid dua dengan ayahku sendiri."

Gelengan kepala Maurice menjawab pertanyaan Kevin. "Seperti yang kau katakan, Wayne kena mental. Tak ada pergerakan apa-apa darinya, dia sudah meredup ... bukan lagi sebuah ancaman, Kev. Wayne Castellano sudah tamat riwayatnya, bisa kupastikan itu. Bayanganku, dia menghabiskan sisa umurnya dengan nelangsa, mungkin sakit-sakitan. Bagaimana tidak? Dia kehilanganmu, dan kehilangan Camila sekaligus. Kukatakan padanya, obsesinya menghancurkan sesama Sivily harus dibayar mahal dengan kehilangan dua anak sekaligus, maka wajar saja kalau dia patah arang," ujarnya.

"Aneh. Aku tidak merasakan apa-apa mendengar dia jatuh seperti itu," sahut Kevin.

"Mungkin karena dia telah meninggalkan jejak memori yang buruk di hidupmu, maka kau mati rasa. Dengan kata lain, apa yang terjadi pada keluarga Wayne adalah hasil dari ulahnya sendiri selama ini."

"Kau benar, Unc."

"Pada saat itu, aku sendiri pun tengah dirundung duka karena putriku jadi korban kecelakaan pesawat Flavio. Aku sempat hancur, marah pada dunia, terlebih, marah pada si bajingan Flav yang beraninya menyeret anakku. Namun dalam hati, aku selalu merasa Jessica masih hidup! Aku selalu yakin bahwa aku belum kehilangan Jessy. Untunglah, aku mendengarkan intuisiku itu, yang membuatku gigih mencari keberadaannya di Leighryn .... Tuhan telah sangat baik melindungi putri dan cucuku ...," tutur Maurice penuh haru.

Kevin terdiam sejenak. "Jessy masih belum bersedia kembali ke New Yord, Unc?" tanyanya.

Maurice menggeleng lemah, menghela napas. "Pasca aku berhasil menemukan keberadaan Jessy, tak terhitung banyaknya usahaku membujuk Jessy agar kembali pulang ke rumah. Tapi anak itu keras kepala. Ah. Mungkin bukan keras kepala ... kurasa dia hanya trauma. Setelah kupikir lagi, wajar bila Jessy trauma dengan kejadian 20 tahun lalu. Sedang hamil besar, terseret peristiwa semacam itu yang nyaris merenggut nyawa. Wajar Jessy trauma ... dengan statusku sebagai kepala keluarga Castellano. Mungkin dia hanya ingin lepas dari bayang-bayang nama Castellano. Aku tidak berhasil membujuknya untuk pulang. Jadi ... dengan berat hati aku membiarkannya menempuh hidup baru di sana, berdua dengan cucuku. Sebab yang paling penting buatku sekarang adalah agar Jessy dan cucuku tetap selamat, sehat dan berbahagia. Itu saja."

"Aku bisa memahami ... kau tidak bersalah, Unc. Jessy juga tidak bersalah karena memilih hidup baru di Leighryn," sahut Kevin setelah beberapa saat terdiam. "Apa kalian masih berhubungan sampai sekarang?"

"Tidak." Maurice menggeleng lagi. "Aku bebaskan anak itu. Kalau dia memang ingin menghubungiku, ia tahu dengan pasti bahwa ia bisa lakukan itu kapan saja."

"Sayang sekali," gumam Kevin. "Kau tidak penasaran dengan cucumu? Dia pasti sudah dewasa sekarang. Siapa namanya, Unc?"

"Tebak," jawab Maurice, lalu tertawa sumbang. "Jessy memberinya nama seperti nama suaminya. Denver."

Kevin mendengus geli. "Jessy. Seperti nggak ada nama lain saja."

"Biarlah. Sesukanya," sahut Maurice. "Namun yang kadang masih mengganggu pikiranku sampai saat ini ... sebenarnya di mana Camila?"

Kevin tersentak mendengar nama Camila disebut, namun refleks menjaga ekspresi wajahnya. 

Maurice melanjutkan, "Saat aku masih di posisimu, aku juga sekalian mengutus orang untuk melacak keberadaan Camila. Bukan untuk kuadukan pada Wayne, mana mungkin. Aku tentu cemas juga dengan kakakmu itu. Di mana dia sekarang? Apa kau tidak pernah kepikiran mencarinya? Atau kau mengetahui sesuatu?"

Kevin mengangkat bahu. "I have no idea, Unc. Menghilangnya Camila bersamaan dengan menghilangnya Reeve Galante yang melegenda itu. Aku yakin Camila pasti ikut Reeve kemana pun dia pergi. Kalau ingin menemukan Camila, harus temukan Reeve terlebih dahulu. Itu menurutku."

"Kau tidak penasaran ingin mencarinya?"

"Semua pihak mencari orang itu sampai ke ujung dunia, tanpa hasil. Kenapa aku harus repot?" Kevin menarik napas dalam-dalam. "Lagipula, tiap teringat Camila, aku pasti ingat Reeve juga. Reeve, si pengkhianat itu, adalah iparku? Rasanya malas sekali mengakuinya. Aku tidak ada hubungan dengan pengkhianat semacam Reeve."

Maurice mengangguk paham. "Sayang sekali, Camila malah mendukung pengkhianat ...." 

Sesaat Maurice tersadar akan sesuatu. "Ah. Wanita yang kau buru itu ... siapa namanya?"

"Antonella Maranzano," jawab Kevin. Alisnya terangkat, penasaran menunggu alasan mengapa topik pembicaraan mereka kembali pada Antonella.

"Perempuan itu baru muncul setelah 20 tahun berlalu. Tiba-tiba memperkenalkan diri sebagai penerus Flavio. Kenapa harus menunggu selama 20 tahun? Ke mana saja selama ini? Aku yakin pasti ada alasan di balik keputusannya mengambil alih posisi Flavio," tutur Maurice, keningnya berkerut dalam. 

Kevin menyadari ucapan sang paman ada benarnya. "Benar juga ... kira-kira apa alasannya, Unc?"

"God knows." Maurice mengangkat bahu. "Kemungkinan selalu ada. Bisa jadi Antonella membutuhkan koneksi dan kekuatan untuk bisa menelusuri kembali peristiwa yang lalu ... untuk membalas dendam kematian Flavio pada Reeve. Reeve itu pengkhianat terbesar, ada sekian banyak orang yang menyimpan dendam padanya. Bisa jadi, wanita itu juga."

Kevin tampak mencerna teori yang baru saja didengarnya. 

"Aku hanya menerka," imbuh Maurice. "Kalau kau dibuat kesulitan menghadapi Antonella, mungkin kau bisa ubah taktikmu. Lakukan pendekatan dengan cara lain, dengan begitu kau bisa dengan mudah melenyapkannya."

Kevin mengangguk. "Teorimu masuk akal, Unc, terima kasih. Aku akan diskusikan ini dengan orang-orangku," ujarnya.


"Haii, guyys! Aku sekarang udah balik ke Miani, loh!" 

Di pinggir pantai Miani, seorang gadis muda dengan semangat yang membara berlari kecil sambil menyiarkan langsung pengalamannya melalui ponsel. Wajahnya bersemu kemerahan, dengan mata hitam yang menyala, hidung mancung, dan senyum manis di bibir tipisnya. Rambut gelapnya yang ikal berkibar di udara, mengikuti irama angin laut. 

Ia adalah Fabrizia Maranzano, atau yang lebih dikenal sebagai Zia, seorang influencer media sosial dengan pengikut setengah juta orang. Zia terbilang rajin mengunggah video setiap hari, dan beberapa kali dalam seminggu ia melakukan siaran langsung. Banyak yang menggemari dan setia menunggu kemunculan Zia, sebab selain memiliki paras cantik, ia pandai membawa diri, luwes berinteraksi dengan semua pengikutnya.

"Kalian tahu nggak, sih? Aku tuh sukaaa banget liburan di pantai kayak gini! Apalagi pas matahari terbenam, duhh, cantiknyaaa! Nih, guys, lihat deh!" Zia mengarahkan lensa agar menangkap pemandangan yang ia saksikan. Semburat awan jingga mewarnai langit yang bersinar keemasan, mengiringi sang surya kembali ke peraduan di batas horizon. 

"Cantik, kann?" Zia berseru antusias sembari mengarahkan kembali lensa pada dirinya. 

Pipi Zia semakin merona saat menyadari untaian komentar yang masuk rata-rata menulis, "Lebih cantikan kamu, Zia!"

"Aduh ... apa sih, komennya bikin aku malu aja dehh," rajuk Zia.

"Stop it!" 

Zia tersentak kaget saat ponsel yang dipegangnya direnggut paksa oleh seseorang. Matanya terbelalak tak percaya, orang itu, Alvaro, dengan sengaja mematikan koneksi siaran langsung Zia. 

"Alvaaa!! Kok malah dimatiin?" protes Zia, tangannya gesit merebut kembali miliknya.

"Stop, jangan terusin! Udah aku bilang berkali-kali, Zia, kamu tuh nggak pernah dengerin? Jangan live! Jangan share kamu lagi di mana ke semua orang!" hardik Alva, berkacak pinggang memelototi adiknya itu.

Zia merengut. "Emang kenapa, sih? Followerku bakal nanyain aku kalau nggak tiap hari update!" balasnya.

Decakan dan teguran Alva tidak menyurutkan niat Zia. Tanpa menunggu izin, ia kembali melanjutkan siaran langsung.

"Guyys! Maaf ya, tiba-tiba koneksinya diputus!"

Mata Alva membelalak lebar menyadari betapa nekat dan keras kepalanya Zia. 

"Tadi kakak aku yang matiin sambungan internet. Kayaknya dia jealous sih, nggak punya follower. Hihihi. Nih, orangnyaa!" Zia sengaja mengarahkan lensa agar wajahnya dan Alva berada dalam satu frame. "Say hi ke dia dong, guys! Ada yang mau kenalan mungkin?" 

Terkejut, Alva refleks menutup wajahnya dengan tangan, beringsut menjauh. "Apa sih, Zia?!"

Zia menjulurkan lidah pada Alva, lalu kembali menyapa audiensnya. 

Meski kesal lantaran dibawa paksa Zia masuk ke video siaran langsungnya, namun ada satu hal yang Alva wajib sampaikan pada adiknya itu. Alva pun mengurungkan niat kembali ke kamar hotel.

Tidak lama kemudian, saat siaran langsung Zia usai, Alva tidak membuang waktu lebih lama lagi. Dia mendekati adik seayahnya itu, berkata, "Please. Aku harus gimana yakinin kamu, Zia, nge-live itu bahaya!"

Zia berdecak. "Apa sih, Alva ... bahayanya apa?" balasnya tak acuh.

"Kamu nggak ingat kalau kemarin Tonie diculik? Kondisi kita itu lagi jadi buron, Zia, kita lagi dicari-cari! Apalagi Tonie! Kamu mau Tonie kenapa-kenapa? Kamu mau terseret masalah gara-gara kamu live kasih liat kamu lagi di mana, dan dengan begitu, orang-orang yang mencari kita bakalan tahu posisi kita? Kamu tuh nggak ngerti sama sekali apa gimana, sih? Mereka itu bukan orang baik! Mereka incar nyawa Tonie, dan mungkin incar nyawa kita juga! Masa hal genting seperti ini aja kamu mesti dijelasin kayak begini, sih?!" desak Alva.

Mendapati ekspresi Alva yang terlihat cemas bercampur paranoid menggelitik Zia. Ia terkekeh.

"Woi! Siapa yang suruh ketawa?!" 

Zia semakin merasa geli. Semenjak bayi, Alva dan Zia selalu bersama-sama. Belajar bersama, tumbuh besar bersama. Tidak heran bila Zia hafal semua ekspresi wajah Alva baik dalam emosi positif maupun negatif. 

Kini, di usia dewasa, keadaan yang ada menuntut Alva untuk bersikap lebih tegas, galak sekaligus berani, pandai membaca situasi dan penuh perhitungan. Perubahan sikap yang kompleks ini belum membuat Zia terbiasa.

"Alvaa ... beneran deh, kamu tuh nggak pantes marah-marah ke aku. Aku liat kamu malah jadi gemes, kamunya ngambekan gitu," ledek Zia.

Alva melongo persis seperti ikan mas koki yang terlempar keluar dari akuarium, mendengar komentar Zia tentang dirinya.

"Udah, kamu tuh nggak usah parno!" ujar Zia santai. "Kamu nggak pernah liat username aku? Aku mana pernah sebutin kalau aku Maranzano ...," katanya lagi seraya memperlihatkan bio profilnya di media sosial.

Alva membaca sekilas bio Zia. Memang benar yang dikatakan Zia.

"Nggak ada Maranzanonya sama sekali, kan? Aku dikenal dengan nama 'Zia' aja di dunia maya. Aku juga tahulah, posisi kita tuh nggak enak ... nggak bisa hidup tenang. Aku juga jaga-jaga kalii," tutur Zia.

Kelegaan mewarnai wajah Alva mendengar penuturan Zia. "Ohh. Bilang dong dari awal. Aku udah parno, takut keberadaan kita terlacak!" 

"Aman, aman."

Alva menarik ucapan sesaat kemudian. "Tapi buat jaga-jaga, mending kamu hapus aja deh akun kamu. Mana tahu mereka terus bisa tahu nama kamu, nama panggilan kamu."

"Ih! Gila, masa hapus akun??" Zia nyaris berteriak. "Nggak! Capek-capek aku bikin persona sampai followerku 500.000. Nggak bakal aku hapus."

"Zia, dengerin."

"Aduh, Al, kamu tuh kuno amat, sih? Harus banget aku ajarin?" Zia menarik napas dalam sebelum menyampaikan pendapatnya. "Nih ya ... tujuan terbesar kita, menyasar pengkhianat yang bikin papa kita tewas, kan? Kamu pernah mikir nggak, kalau pengkhianat itu sekarang ini pasti udah punya anak. Anaknya bisa jadi seumuran kita, atau lebih muda. Apa yang anak-anak seumuran kita lakukan? Main ponsel. Main sosial media. Aku jadi seleb di sosmed itu bukan cuma pengen terkenal, tapi juga mancing siapa tahu ada anak pengkhianat itu yang jadi follower aku. Bisa jadi, kan?"

Alva mengerjap-ngerjapkan mata, seolah baru tersadarkan kemungkinan semacam itu.

"Bener, kan? Kalau, kalau anaknya laki-laki, pas banget, aku bisa sebar charm aku di sosmed, pancing dia muncul. Kalau anaknya perempuan? Yah, yang aku share kebanyakan kan, review alat kosmetik! Nggak mungkin cewek nggak tertarik buat dandan. Cakupan aku luas, Alva. Jadi jangan remehin aku terus," imbuh Zia menutup penjelasan.

"A-aku nggak main sosmed soalnya ...," aku Alva pelan.

Zia mengangguk pasti. "Iya! Kamu nggak gerak di sosmed, tapi kan kamu gerak di dunia nyata. Kamu yang cari orang itu, literally, cari secara fisik. Sementara aku, aku gerilya lewat dunia maya. Tonie juga setuju sama aku, kok. Emang Tonie nggak pernah bahas ini sama kamu?" tanyanya.

Alva menggeleng pelan.

"Nah. Now you know ...."

"Hmmm. Sorry," gumam Alva kemudian.

Zia tersenyum manis. "It's alright! Aku maklum sih, kamu itu meski cuma beberapa hari lebih tua dari aku, tapi cara pikirnya kayak generasi baby boomer. Nggak paham perkembangan zaman," ejeknya.

Alva melengos gemas. Dia bergerak cepat merangkul Zia, lalu mengacak-acak rambut adiknya itu dengan tangannya yang lain. "Puas ya, ledekin terus!" serunya.

"Awww, rambut akuu, Alvaaa! Nanti kusut!" 

Alva tertawa lepas. Masih sambil merangkul Zia, mereka berjalan santai menuju hotel. 

Diam-diam, Zia memandangi pemuda yang merangkulnya itu dengan tatapan kagum. Semakin hari, Alva terlihat semakin mempesona. Maskulinitas Alva benar-benar membuat pemuda ini menjadi magnet kaum hawa. Garis dahi, hidung, bibir dan dagu yang sempurna, dipadankan dengan garis rahang yang tegas dan kuat, belum lagi perawakannya yang tinggi atletis, hasil dari latihan intens setiap hari. 

Tidak heran banyak wanita yang sering bermain mata dengannya, yang tidak pernah sekalipun Alva tanggapi. Hanya yang menjadi masalah sekarang, bahkan sampai Fabrizia, adiknya sendiri, juga menaruh hati pada Alvaro.

Namun Zia tidak pernah mengakui bahwa dirinya menaruh hati pada Alva. Tidak ada seorang pun yang tahu, hanya Zia. Yang ia tahu, ia memang sering mendapati dirinya tengah menatap Alva penuh kagum, seperti saat ini. 

Zia! Astaga! Kok lagi-lagi ngeliatin Alva kayak gitu sihh?? Nggak ... nggak mungkin kan .... Nggak mungkinlah, aku punya rasa sama Alva. Nggak mungkin, dan nggak boleh! Haram! Tapi kenapa sih ... kenapa kok Alva makin hari makin .... Uurrgh. 

Zia menggeram dalam hati, gelombang perasaan bingung serta kalut menyelubungi dirinya.

Apa ini sifat yang aku warisi dari orang tuaku? Kalau diingat lagi, papa dan mama sebenarnya saudara sepupu. Mereka masih satu kakek .... Masa iya, sih? Aku mewarisi darah kecenderungan suka sama saudara sendiri?? Ini malah lebih parah. Alva kan kakakku sendiri!! Uuuhh! Aku nggak boleh piara perasaan semacam ini, harus aku singkirkan!


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.