TDR (12-14) | INA
Bab 12 – Revenge Plan
"Kenapa kamu menolak temani Zia, sih? Kan, kamu bisa sekalian kenalan dengan Benjamin," tegur Antonella. Saat itu Antonella, Alva dan Max baru saja tiba di kamar hotel tak jauh dari pusat ibu kota Sivily, Patermo.
Tak ada jawaban dari Alva, malahan Max yang menyahut, "Aku tadi sukarela menawarkan temani Zia, tapi malah kamu larang, Tonie. Zia juga nggak mau kutemani."
"Max, Max," panggil Antonella seraya terkekeh.
Ia duduk santai di sofa, menyilangkan kaki. "Zia itu sedang dalam proses mendekati Benjamin. Gimana kalau Benjamin malah menjauh dari Zia lantaran melihat Zia ditemani sama kamu. Kamu bakal disangka pacarnya Zia. Kalau Alva, baru oke, kan kakaknya. Kamu, yang seperti ini saja harus dijelaskan," tuturnya.
"Right," gumam Max seraya menghempaskan bobot tubuhnya di sofa lain tak jauh dari Antonella.
Alva menyelipkan uang tip ke tangan bellboy yang menurunkan koper-koper mereka, lalu menutup pintu. "Alright. Ini kunci kamarmu," ujarnya datar sembari menyerahkan selembar kartu pada Max. "Sana enyah."
"Alva, kok ngusir, sih?" tegur Antonella.
"Capek. Aku mau duduk dulu di sini," sahut Max tak acuh.
"Istirahat langsung di kamarmu," timpal Alva cepat. "Kita nggak ada agenda untuk hari ini kan, Tonie?"
Antonella menggeleng. "Paling nanti malam kita cari makan di luar, atau di sini juga oke. Bebas."
"Kau sendiri nggak langsung ke kamarmu," cetus Max, menatap Alva penuh arti. "Berharap sesuatu ya?"
Alva melotot mendengar ucapan Max, spontan cemas apakah Max mengetahui isi hatinya. "Apaan? Ngomong apa?" balasnya galak.
Max tersenyum meremehkan, sinis memandangi Alva. "Aku pawang di sini, jangan ngarep bisa macem-macem."
Mata Alva semakin tampak hendak keluar dari rongganya. Anj*!! Dia tahu?! Kok bisa?? umpatnya dalam hati.
"Nggak jelas banget. Macem-macem apa sih?! Aku dan Antonella juga biasa ngobrol, duduk bareng," kilah Alva tergesa.
Seringai Max terkesan meremehkan. "Come on, kita sama-sama laki-laki. Kau tahu, kau ini seperti buku yang terbuka, gampang dibaca."
"Kau-"
"Kalian ini kenapa sih?!" tegur Antonella dengan suara tinggi. "Bisa nggak kalian akur, sehari aja? Tiap hari ada aja yang diributkan, entah apa yang kalian ributkan! Nggak bisa anteng sedikit?!"
Teguran tegas Antonella ampuh membuat mulut Alva dan Max terkatup rapat, menyisakan situasi tegang yang menguar dari kedua pasang mata yang saling menatap nyalang.
"Bisa akur nggak?!" cecar Antonella menuntut jawaban.
Tidak ada yang berani mengangkat suara.
"Kita udah sampai di Sivily, sebentar lagi akan menjalankan misi utama. Apakah pertengkaran kalian bisa membantu kesuksesan misi kita, huh?" Antonella mencoba menyadarkan kedua pemuda yang kerap perang urat syaraf di hadapannya tersebut. "Jawab!"
Alva menggeleng perlahan, enggan mengabaikan teguran Antonella. Meski sering bersikap lembut padanya, Antonella tetap memancarkan kharisma seorang pemimpin yang tak bisa diabaikan.
"Bisa akur??" Antonella kukuh memaksa keduanya berdamai.
Max melirik Alva, demikian pula sebaliknya.
"Terpaksa damai dulu," ujar Alva pada Max, masih saling bertatapan dengan pemuda brewokan itu.
"Oke. Gencatan senjata," sahut Max akhirnya, mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Alva.
"Good," puji Antonella sambil mengangguk. "Kalau setelah ini kalian masih saja bertengkar, lebih baik pulang dan batalkan saja rencana balas dendam. Kalian, bertiga dengan Zia, harus akur supaya bisa kerja sama. Paham?"
"Yeah. Maaf, Tonie," sahut Alva.
Max bangkit berdiri dan berkata, "Fine, aku akan istirahat di kamar." Dia mengambil tas miliknya dari tumpukan koper. "Kabari saja jam berapa kita dinner, Tonie," pintanya sebelum membuka pintu.
"Alright, Max. Selamat beristirahat," balas Antonella.
Alva menghela napas lega begitu 'musuh'nya tersebut menghilang di balik pintu. "Finally," gumamnya.
"Alva," panggil Antonella. "Kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Kenapa kamu enggan menemani Zia? Kalian sedang bertengkar juga?"
Alva malah menunduk.
"Aku baru tahu ... bukannya selama ini kamu dan Zia akrab? Kok tiba-tiba berantem? Baru kali ini lho, kalian saling diam-diaman .... Ada masalah apa?" tanya Antonella.
"Nggak ada apa-apa," jawab Alva singkat, berharap tidak harus menjelaskan apa pun.
"Kalau ada masalah, cerita saja. Biasa kamu selalu cerita."
"Nggak ada apa-apa."
"Kalau nggak ada apa-apa, kenapa diam-diaman? Sejak kapan?"
Alva berdecak. "Kamu nggak akan diam kalau aku nggak cerita, kan?"
Antonella mengangguk. "Itu tugasku," jawabnya.
"Fine." Alva akhirnya mengalah. "Sebenarnya ... yah, aku juga yang salah. Aku sempat terbawa emosi dan salah ucap. Kurasa aku menyakiti hati Zia. Aku sadar kesalahanku, lalu meminta maaf ... tapi Zia nggak terima permintaan maafku. Ya ... jadi sejak itu, diam-diaman."
"Oh, no ...." Antonella tampak menaruh simpati. "Kenapa Zia nggak mau maafkan kamu? Bilang saja, kamu khilaf terbawa emosi, kamu nggak akan ulangi lagi."
"Sudah."
"Sebegitu menyakitkan perkataan kamu, rupanya? Memang kamu bilang apa?"
"Kata-kata yang jahat, yang aku sendiri nggak sangka kenapa bisa ada perkataan semacam itu yang keluar dari mulutku," jawab Alva datar.
Antonella mengerjapkan mata, teringat keluhan Zia mengenai sakit hati yang dirasakannya lantaran mendengar perkataan jahat dari orang yang ia sukai. Mengapa Alva juga mengatakan hal yang mirip, hanya sebagai pelaku? Mengapa waktunya bisa bersamaan? Juga, mengapa Antonella merasa yang dimaksud oleh Zia adalah Alva? Tapi, Alva adalah kakak Zia, mengapa Zia bilang dari orang yang ia sukai?
Nggak mungkin, kan .... Antonella membatin, tanpa diinginkannya, pori-pori di kulitnya meremang.
"Kamu bilang apa, sih?"
Alva malah menggeleng. "Please, aku nggak mau sebutkan itu. Pokoknya, jahat."
Kabut tebal kecurigaan sontak semakin memenuhi benak Antonella, seolah timbul keyakinan bahwa memang Alvalah yang Zia maksud saat itu.
"Kata-kata makian? Sebutan binatang? Atau sebutan jahat yang bakal bikin semua perempuan tersinggung, sakit hati?" Antonella masih berusaha memancing.
Alva menunduk dalam, lidahnya terasa kaku. Sungguh berat mengakui hal ini pada Antonella. "Yang ketiga," gumam Alva setelah sekian lama terdiam.
Dammit, batin Antonella, semakin yakin kecurigaannya terkonfirmasi. Hela napas panjang lolos dari bibirnya.
Ah. Tapi, aku yakin asumsiku keliru. Nggak mungkin Zia menyukai Alva, kakaknya sendiri. Kurasa Zia bilang seperti itu karena ingin melindungi Alva, supaya aku nggak marahi Alva, ujar Antonella lagi dalam hati.
Suasana hening yang kaku tercipta dari keduanya selama beberapa saat.
"Kurasa Zia hanya butuh waktu untuk memaafkan kamu," ujar Antonella kemudian. "Berikan dia waktu, Al. Tapi kamunya juga jangan pasif. Kamu harus aktif tunjukkan itikad baik kamu untuk berbaikan. Semoga dia bisa cepat luluh kalau merasa diperlakukan dengan baik olehmu," sarannya.
"Hmm. Yeah. Kurasa kau benar," sahut Alva.
Alva terdiam, tampak menimbang sesuatu. Kemudian katanya, "Aku nggak tahu apakah kamu tahu soal ini, Antonella. Saat itu, aku terbawa emosi lantaran aku membongkar rahasia Zia selama ini. Diam-diam dia pergi berkencan dengan Kevin Castellano! Kevin yang brengsek itu dekati kamu, dekati Zia sekaligus! Makanya aku benci laki-laki itu, selalu ambil kesempatan dalam kesempitan! Mana dia bilang, hubungan mereka sebatas daddy-daughter, siapa yang bakal percaya?"
Jadi karena Alva tahu kedekatan Zia dan Kevin, kata Antonella dalam hati. Dengan sabar ia menunggu hingga Alva puas mengadu.
"Huh. Aku harap mereka nggak ketemuan lagi, deh. Kevin itu benar-benar .... Ergh. Gimana aku harus mengungkapkannya hanya dengan kata-kata? Aku speechless tahu Zia dekat dengan laki-laki nggak tahu diri itu!" seru Alva tertahan.
"Tenanglah, Alva," sahut Antonella kalem.
Alva mengernyitkan dahi, merasa heran mengapa reaksi Antonella kalem seperti itu. "Berarti kamu juga tahu soal hubungan mereka," ujarnya menyimpulkan.
"Yeah." Antonella menghela napas panjang.
"Zia juga ngaku kalau dia anggap Kevin sebagai DILF, makanya aku sempat tanya ke kamu, apa arti DILF! Bayangkan! Daddy I'd Like to F***! Gimana aku nggak murka?"
"Iya ... Alva. Aku paham," jawab Antonella. "Kamu tenang aja ya? Saat ini, Zia kapok berdekatan dengan Kevin lagi. Kevin juga sama, dia menghindari Zia .... Alasannya apa, kamu nggak perlu tahu. Tapi mereka nggak akan ketemuan lagi, aku berani jamin."
Alva memandangi Antonella dengan takjub. "Pasti ... pasti kamu yang berhasil larang Kevin dekati Zia," sahutnya. "Oke. Baguslah kalau begitu. Aku juga nggak perlu tahu apa saja yang kamu lakukan untuk membuat Kevin menjauhi Zia. Aku nggak ingin tahu. Baiklah, aku bisa tenang sekarang."
"Nice," balas Antonella seraya tersenyum lembut.
Zia tampak percaya diri saat pertemuan pertama bersama dengan Antonella, Alvaro dan Max, membahas hasil yang ia peroleh. Ia telah melakukan pemeriksaan silang terhadap semua informasi yang didapatkannya berlandaskan data yang valid. Kini, di hadapan tiga 'partner in crime' yang memandangi dan menunggu penjelasan darinya, Zia memulai presentasi. Ia memperlihatkan foto diri dan keenam teman barunya tengah berpose bersama. Dalam foto sudah tertera nama di masing-masing wajah yang terpampang di layar datar di hadapan mereka itu.
"Jadi sejauh ini aku kenalan dengan anak-anak Corvino, Benjamin dan Emmeline. Benja tengah dalam didikan Salvatore, kurasa dia sedang dipersiapkan untuk menggantikan posisi ayahnya. Lenice, anak Kevin Castellano. Denver, anak dari korban kecelakaan pesawat yang bareng sama ayah ... dia juga cucu dari Maurice Castellano. Saxon, mantan pembalap, yang mendekati Emmeline. Yang terakhir, Oliviero, seorang prajurit keluarga Corvino sekaligus pengawal Benjamin," tutur Zia sembari menunjuk wajah yang dimaksud tiap menyebut nama masing-masing.
"Oh, wow," desis Max, matanya meneliti tiap wajah di foto, menyimpannya dalam memori. "Anak-anak pembunuh berkumpul."
Alva spontan mengernyitkan kening.
"Max," tegur Antonella.
"Lho, benar, kan? Perhatikan saja, semuanya memiliki relasi dengan orang yang pernah membunuh. Sama seperti kita semua di sini," sahut Max.
"Corvino ... Castellano ... checked," gumam Zia. "Demikian juga dengan si Oliviero .... Kecuali Saxon, dia bersih ya," sanggahnya kemudian.
Max mendengus geli. "Zia, Zia. Kamu nggak tertarik dunia sport sih ya, wajar kamu nggak tahu. Coba setelah ini kamu cari nama dan latar belakang Saxon Renauld itu. Kasus yang berkaitan dengan keluarga orang itu pernah menghebohkan dunia! .... Yaah, tapi itu terjadi jauh sebelum perang mafia," jawabnya.
"Meski ucapanmu benar, tapi itu nggak ada hubungannya dengan misi kita," sela Alva tidak sabar. "Lanjut, Zia."
Zia mengangguk. "Oke, aku lanjut ya. Dari perbincangan kami kemarin, aku bisa menyimpulkan bahwa anak-anak Corvino maupun Castellano ini nggak ada yang sadar, nggak ada yang tahu perihal identitas asli Salvatore Corvino."
"Mereka nggak tahu sama sekali?" sela Antonella memastikan.
"Confirmed, mereka nggak tahu sama sekali," jawab Zia sambil mengangguk pasti. "Bahkan cerita perang mafia saat itu saja, mereka masih abu-abu, hanya tahu permukaannya saja. Meski Oliviero yang akhirnya menjelaskan, dia cukup tahu banyak, tapi dari penjelasan darinya juga masih kurang berbobot. Intinya, mereka nggak tahu siapa Reeve Galante yang sebenarnya. Lebih lagi, Benjamin dan Emmeline juga nggak tahu kalau Lenice sebenarnya adalah sepupu mereka sendiri. Yang Benja dan Emmeline ketahui, Lenice adalah anak dari teman baik ibu mereka ... padahal kan, Kevin adik kandung ibu mereka sendiri," imbuhnya.
"Rupanya Reeve strict menjaga rahasianya ya, dan juga rahasia istrinya," gumam Antonella. "Rahasia besar itu sama sekali nggak pernah sampai ke telinga anak-anaknya."
"Benar, Aunty. Mereka sepolos bayi yang baru lahir," sahut Zia, terkekeh ringan.
"Kalau memang sepolos itu, berarti mereka juga nggak familiar dengan nama Maranzano?" tanya Alva seraya menyilangkan tangan di depan dada. Kedua matanya bergantian memandangi foto di layar dan Zia. "Kamu nggak menyebutkan nama asli, kan, Zia?" tanyanya lagi.
Zia menggeleng. "Nggak. Aku sama sekali nggak menyebutkan nama Maranzano. Aku memperkenalkan diri sebagai Felizia Agnelli ... meminjam nama gadis nenek, Agnelli," jawabnya lugas.
Antonella mengangguk-angguk setuju.
"Mereka nggak curiga, kan?" Alva bertanya lagi.
"Semua aman."
"You did a great job, Zia," puji Antonella.
Zia tersenyum lebar. "Thanks, Aunty."
Max masih asyik meneliti tiap wajah yang terpampang di foto. "Hmm. Cantik-cantik ya, teman barumu. Apalagi yang rambutnya pirang itu ... Lenice. Kenapa aku sepertinya nggak asing?"
Alva memutar bola matanya, sementara Zia terkekeh maklum.
"Caramu kuno, deh, Max," canda Zia.
"Aku nggak bohong," kelit Max. "Rasanya pernah ketemu dengan Lenice itu ... hanya saja aku lupa di mana. Ah, sudahlah, kembali ke topik."
Meski berkata demikian, diam-diam perhatian Max tertuju penuh pada wajah Benjamin. Jadi seperti itu, wajah anak laki-laki sulung Reeve Galante .... Orang yang sudah menjebloskan ayah ke dalam penjara. Orang yang pernah menghancurkan ayah dengan bersikap brutal, membunuh saudaraku dengan keji. Bagaimana kalau anak sulung Reeve ini kuperlakukan sama seperti saat dia menebas kepala Christopher .... Aku penasaran bagaimana reaksi Reeve nanti, ujarnya dalam hati, tanpa membiarkan ekspresi di wajahnya berubah meski hanya sedetik.
"Ini saatnya kita membahas rencana selanjutnya," ujar Antonella kemudian. "Apakah kalian memiliki ide?"
"Langsung terabas masuk ke rumah Corvino, lalu lumpuhkan Salvatore," sahut Max cepat, yang lagi-lagi membuat Alva memutar bola matanya, sementara Antonella melengos.
"Lho, kenapa? Ide bagus," lanjut Max begitu menangkap respon yang tidak diharapkannya. "Kita sudah sampai di sini, langsung saja frontal, untuk apa buang waktu?"
"Euh, Max, please hold your horses," balas Antonella.
Max mengerutkan kening. "What?"
Alva segera menyela, "Max, kau tahu kalau cahaya merambat lebih cepat daripada suara? Itulah sebabnya kau terlihat pintar sampai kau mulai berbicara."
Raut wajah Max seketika berubah, menyadari maksud perkataan yang terlontar dari mulut Alva. Pemuda berambut gondrong itu mengatainya bodoh dengan cara yang sopan, sekaligus tak kentara.
"Ingat ini, Max," lanjut Alva lagi seolah belum merasa puas. Seringai licik terulas di wajahnya. "Jika suatu saat nanti sungguhan ada zombie ... kujamin kau bakal aman, karena zombie nggak akan memangsamu. Kenapa? Karena mereka bakal kekurangan nutrisi kalau mengincarmu."
"Oh my goodness," desis Antonella lantas menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangan. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat. "Here we go again ...."
"No way, Alva's roasting Max twice! Please do something, Aunty!" Teriakan Zia tertahan di tenggorokan saat menyadari wajah Max berubah warna, terbakar oleh emosi. Ketegangan memenuhi ruangan, seakan pertengkaran berikutnya hanya menunggu hitungan detik sebelum meledak.
Max menggelengkan kepala, sebuah senyum yang terkesan meremehkan terulas di bibirnya. "Nyalimu besar juga ya, Al? Mungkin kau lupa, kalau-"
"CUKUP!" Bentakan lantang dari Antonella membuat Max terpaksa menelan kalimatnya. "Bukankah kemarin kalian sudah setuju untuk berdamai?? Mana buktinya?! Baik! Batalkan saja semuanya! Teruskan pertengkaran kalian! Aku dan Zia akan pulang sekarang juga!"
"Ehh?" Zia melongo, belum sepenuhnya berhasil mencerna apa yang saat ini terjadi.
Tangan Max gesit menangkap tangan Antonella yang hendak beranjak bangun. "Tenanglah, Aunty .... Maafkan, khilaf," bujuknya kalem.
Antonella menepis tangan Max kasar.
"Alva, kita sudahi dulu untuk sementara, kalau nggak, semua upaya kita bakal sia-sia belaka. Tapi jangan kau anggap aku nggak akan membalasmu," ujar Max pada Alva.
"Hmm. Salahmu sendiri, kenapa kau bodoh," balas Alva tak acuh.
"Mulai lagi."
"Demi tantemu, aku telan dulu perlakuan manismu. Tunggu saja sampai semua ini selesai," sahut Max sengit.
"Alva, kalau kau tidak setuju pendapat Max, it's perfectly fine! Kamu tinggal berikan pernyataan yang membangun, atau berikan alasan kenapa pendapat Max nggak bisa dilakukan. Jangan malah mengatai orang lain dengan sebutan bodoh!" seru Antonella, masih berusaha menahan emosi.
Alva melengos. "Ya ya ya ya. Baik. Aku akan jelaskan sedetail mungkin sampai yang bersangkutan paham," sahutnya, lalu beralih pada Max. "Max, aku berasumsi mungkin kau hanya pura-pura nggak tahu. Orang asing mana yang bisa dengan mudahnya menerobos masuk ke dalam rumah orang, terlebih orang itu memiliki status sebagai kepala keluarga kejahatan seperti Salvatore Corvino? Lalu langsung lumpuhkan dia? Mana ada? Sebelum kau sempat menyentuhnya, semua punggawa orang itu bakalan lebih dulu menahan gerakmu. Malah kau yang tewas duluan diberondong lupara."
Ucapan Alva sangat masuk akal, dan mengandung kebenaran hingga 100%. Max mengutuk dirinya sendiri mengapa bisa-bisanya mengutarakan hal yang naif dan polos seperti tadi.
"Kecuali kau berkeinginan merasakan peluru mereka bersarang di tubuhmu sebelum kau menggelepar meregang nyawa, itu pilihanmu. Mati konyol," imbuh Alva.
Max terdiam seribu bahasa. Perasaan malu yang mendera seolah membuat mulutnya terkunci.
"Baik. Lanjutkan ini ... ada ide lain?" tanya Antonella.
"Kurasa aku akan lebih intensif mendekati Benjamin," ujar Zia. "Sampai dia cinta banget sama aku, bawa aku ke depan orang tuanya .... Sampai aku bisa terlibat lebih jauh dalam keluarga inti Benjamin."
"Benar, itu hal yang wajib kamu lakukan," sahut Antonella memberikan persetujuan. Ia lalu berpaling pada Alva. "Al, kamu nggak berminat dekati anak Reeve yang satu lagi? Emmeline. Siapa tahu kamu bisa sekalian merebut hatinya," usulnya.
"He?" Alva sontak merasa gugup mendengar usul sang tante. "E-Emmeline? Euh ...."
Di lain pihak, Max tidak tertarik mengikuti pembicaraan ketiga partnernya. Matanya terus terpaku pada foto Benjamin Corvino yang masih terpampang di layar, seolah tengah menghafalkan setiap detail wajah pemuda itu. Max membiarkan benaknya melayang-layang dalam dunia imajinasi. Dia membayangkan bagaimana dirinya bisa berhasil masuk ke dalam rumah Salvatore, lalu langsung menerobos masuk ke kamar Benjamin sebagai sasaran utama. Mungkin di tangannya terdapat video kamera sekaligus kapak besar di tangan lain .... Alangkah terberkati dirinya, Benjamin rupanya lengah dan tidak menyadari kehadirannya sama sekali. Betapa mudahnya Max mengayunkan kapak itu ke tubuh Benjamin ... dan dalam sekejap, Benjamin terbelah menjadi dua bagian. Kucuran darah segar dan sinar mata yang meredup mengiringi Benjamin saat jiwanya melayang. Max tak sanggup menahan senyumnya. Dengan penuh kegemilangan berhasil menyelesaikan misi yang Roman percayakan padanya.
Keberhasilanku akan menjadi hadiah paling istimewa untuk papa .... Oh, aku nggak sabar menunggu saat-saat itu tiba! seru Max dalam hati, merasakan semangat yang melesak-lesak.
Sebuah suara membuyarkan lamunan Max.
"Nggak, nggak deh, thanks. Aku nggak bisa kalau harus dekati anak kecil," ujar Alva menolak usul Antonella dan Zia sebelumnya.
"Anak kecil!" Zia menyahut tidak setuju. "Emmeline paling cuma lebih muda tiga tahun, anak kecil dari mana?"
"Ya anak kecillah! Lebih muda dariku, pasti manja. Aku nggak suka tipe manja," balas Alva.
"Tipe cewek Alva itu yang independen, dewasa, kalau bisa umurnya jauh di atas," sela Max seraya menyeringai, yang spontan mendapat pelototan spesial dari Alva. "Apa? Aku benar atau salah? Cuma ada dua pilihan," kelitnya merespon reaksi tersebut.
Alva melengos, merasa malas meladeni Max. Dia beralih pada Zia dan Antonella, katanya, "Pokoknya nggak, deh. Kalau untuk dekati Benjamin, atau si made man Oliviero, atau cowok lainnya, okelah. Aku bisa ajak mereka berteman dengan akrab."
"Boleh, aku setuju," sahut Antonella. "Jadi Alva dan Zia, kalian dekati anak-anak Corvino dan semua yang berada di sekitar mereka. Sementara kamu, Max, aku beri tugas untuk berbaur di sekitar area kediaman Corvino."
"What? Why?" Max menatap Antonella bingung.
"Aku ingin kamu menggali sebanyak mungkin informasi, atau rumor, atau gosip, atau mungkin urban legend yang beredar di sana. Kamu cukup jadi pengamat, Max, dengarkan saja pembicaraan orang-orang di sana," tutur Antonella.
"Seperti nggak ada kerjaan saja. Kenapa Zia dan Alva diberi tugas berteman dengan anak-anak Corvino sementara aku cuma jadi pengamat gosip?"
Karena kamu cenderung gemar memancing keributan, jawab Antonella dalam hati.
Namun tentu bukan itu yang keluar dari mulutnya. Ia melanjutkan, "Karena aku butuh rumor mengenai keluarga Corvino. Seperti yang kukatakan sebelumnya ... kamu nggak mungkin dekat-dekat Zia, supaya Benjamin nggak lantas mundur karena menyangka kamu pacarnya. Sementara keberadaan Alva, nggak akan membuat Benjamin terpelatuk."
Max menghela napas panjang. "I see. Oke oke, aku akan berbaur di sekitar tempat tinggal Corvino," jawabnya.
Bab 13 – The Queen Bee
Rintihan demi rintihan yang lolos dari bibir Zia terdengar begitu merdu di telinga Benjamin, membuatnya semakin bersemangat memompa tubuh sekal gadis itu. Hunjaman kuku jemari lentik Zia tertancap dalam di bahunya, saat Benjamin merasakan tubuh yang dia kungkungi itu menegang, dibarengi sensasi luar biasa seolah gelombang besar menyapu dan menghanyutkan dirinya. Sebuah entakan terakhir mengiringi sesuatu menyembur keluar dari miliknya, hingga kedua individu ini sama-sama terkulai lemas.
Benjamin berusaha memberi Zia sebuah senyum hangat di sela-sela deru napasnya yang tersengal. "Ini ... adalah hari terindah buatku," bisiknya, seraya mendaratkan kecupan ringan di bibir Zia.
Zia yang masih mengatur kembali napas, terkesima begitu mendengar bisikan dan kecupan manis Benjamin. Tak cukup sampai di situ, ia merasakan tangan pemuda itu kini melingkar di pinggang, memeluknya erat seolah tidak mengizinkannya pergi. Meski jam terbangnya belum tinggi, namun ini adalah kali pertama Zia merasakan perlakuan yang sangat berbeda dibandingkan dengan teman laki-lakinya yang lain, yang pernah menghabiskan waktu bersamanya. Perlakuan manis semacam ini mujarab menimbulkan kesan spesial jauh di lubuk hatinya.
No. Zia. Jangan masukkan ke hati! Jangan! Ingat kata-kata aunty!
Zia tergesa menenangkan badai yang berkecamuk dalam hati dengan mengambil napas banyak-banyak. Tak akan ia izinkan ucapan manis Benjamin yang membuai itu bersarang dalam hati.
Lupakan. Lupakan, Zia. Lupaa! Buang jauh-jauh, jangan diingat!
Zia menghela napas berat. Ohh. Benja, kenapa kamu so sweet banget, sih? Aduh ... kalau nggak eling, aku bakalan jatuh hati banget sama kamu .... Damn! Untung aku ingat harus eling!
"Kamu happy nggak?" tanya Benjamin, menyandarkan kepala di bahu Zia.
"Mmhm," gumam Zia.
Benjamin berbisik, "Kalau kamu merasa ada sesuatu yang kurang dariku, please, ngomong aja jujur ya. Aku ingin kamu happy sama aku, aku nggak ingin kecewakan kamu."
Astagaaa! Bisakah dia nggak berbuat semanis ini?? Gawat banget, bisa-bisa aku nggak kuat ini sih! Duh ... Benjamin ini godaan berat rupanya ..., batin Zia, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa anak sulung dari musuh keluarganya ini ternyata tipe pria gentle yang penuh perhatian, tipe idaman Zia. Gemar menghujani wanitanya dengan sentuhan fisik sebagai love language.
"Benja, ih, kamu kok manis banget sih?" Zia merespon dengan nada berguyon.
Didengarnya Benjamin terkekeh ringan. "Emang kenapa?"
"Eum ... jangan manis-manis banget dong."
"Kenapa? Apa kamu nggak nyaman?"
"Bukan begitu ... cuma ...."
"Tenang, sikap manisku nggak akan bikin kamu diabetes."
Tawa Zia berderai renyah. "Benn, aku serius, tahu," rajuknya.
"Apa sih?" balas Benjamin, lagi, bibirnya mendarat di kulit bahu Zia.
"Jangan manis-manis banget," timpal Zia. "Kita ... kita masih sebatas teman, kan?"
Pertanyaan yang Zia lontarkan seketika membuat situasi terasa berbeda. Meski tidak bersuara, namun rona kecewa nyata terlihat dari wajah Benjamin.
"Iya, kan?" Zia menuntut adanya respon. "Kamu belum pernah minta aku secara langsung untuk jadi pacar ... aku juga nggak tahu isi hati kamu. Tapi yang barusan tadi ... emm ... ya kita terbawa suasana aja, iya nggak sih? Kita masih teman, kan? Soalnya-"
"Aku nyaman sama kamu. Aku sayang kamu," sela Benjamin lekas-lekas.
"Please." Zia ganti menyela. "Jujur aja ya ... aku belum mau pacaran sama siapa pun ...."
"Kenapa?"
"Ya ... ya belum mau aja. Aku juga nyaman sama kamu, tapi ... tapi aku belum ingin punya pacar."
"Tapi kita udah bercinta," sanggah Benjamin.
Zia mendesah galau. "I know ...," sahutnya. "Kita teman tapi mesra. Batasi sampai di situ aja dulu ya?"
"Kamu nggak akan rugi punya pacar sepertiku. Aku bahagia kalau kamu mau terima aku dan berkomitmen sama aku," ujar Benjamin penuh harap.
Komitmen itulah yang memberatkan! teriak Zia dalam hati. Kalau buru-buru komitmen sama orang ini, nggak bakal ada ceritanya aku dekati yang lain!
Percakapan dirinya dengan Antonella beberapa hari sebelumnya, kembali terbayang.
"Bagaimana hubunganmu dengan Benja?" tanya Antonella saat hanya ada dirinya dan Zia di dalam kamar hotel.
Zia mengulum senyum bangga. "It's going very well, Aunty," jawabnya. "Kami setiap hari kirim pesan, dan selalu Benja yang cari aku. Ngobrol macem-macem juga, sampai lupa waktu. Kadang dia ajak video call, tapi kelihatannya anaknya sopan sih, nggak pernah minta foto atau video aneh-aneh ...."
Antonella mengangguk-angguk. "Nice. Dari fotonya juga kelihatan seperti anak baik ya," sahutnya.
"Bener!" Zia mengangguk antusias. "Tapi aktif banget merayu aku, selalu puji cantiklah, menyenangkanlah, apalah. Aku yakin sih, Aunty, dia udah jatuh hati sama aku."
"Wow, that's great. Tapi kamunya sendiri, nggak jatuh hati sama dia, kan?"
"Nggak, dong." Zia menggeleng cepat. "Meski ...." Zia terdiam sesaat, merangkai kata dalam hati. "Terkadang aku merasa berat karena harus bermanis-manis pada anak dari orang yang berada di balik tewasnya Daddy .... Jujur, rasanya berat, Aunty. Rasanya ingin teriak di depan mukanya, bawa aku segera ke depan ayahmu, dia harus tanggung jawab ...!!"
Antonella terdiam memandangi sang keponakan yang tampak belum puas menumpahkan isi hati.
"Tapi untungnya aku selalu ingat untuk ikuti langkah Aunty," imbuh Zia kemudian dengan mantap. "Aku selalu disiplinkan diri agar nggak pakai hati tiap berurusan dengan Benjamin. Pokoknya ... bisikan apa pun yang muncul dalam hati, aku langsung redam, nggak aku dengarkan. Aku nggak mau terbawa emosi! Aku tahu kalau aku sampai hanyut karena emosi ... misi kita bakal gagal."
Senyum bangga merekah di bibir Antonella mendengar ucapan Zia yang meyakinkan. "Yes. Jangan pernah bawa ke hati, apa pun itu, siapa pun itu. Hanya itu kuncinya kalau kamu mau tetap mempergunakan logika dalam tiap langkahmu. Lempeng. Lempeng. Lempeng, Zia," ujarnya lembut, tegas menekankan kalimat terakhir.
Zia memandangi Antonella lekat, mengangguk.
Antonella tersenyum, namun kemudian perlahan ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Dengar, Zia. Aunty sengaja ajak kamu ngomong berduaan seperti ini ... karena ada sesuatu yang memang ingin kusampaikan," katanya.
"Apa itu, Aunty?"
"Apa kamu bisa mengorek semua rahasia Benjamin? Apa saja yang dia ketahui, baik tentang dirinya, atau lebih bagus lagi, tentang ayahnya?" tanya Antonella seraya mempertahankan pandangan matanya dengan Zia.
Zia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu terbata menjawab, "Eum ... kurasa aku bisa bujuk dia berbagi rahasia sih ...."
"Bagus," sahut Antonella puas. "Aku sangat berharap kamu bisa, Zia. Karena kupikir, kalau kita memiliki semua, SEMUA informasi mengenai Salvatore dan keluarganya ... aku yakin, tidak akan ada kesalahan nantinya saat kita bertindak."
Zia mengangguk paham.
"Jadi ... tugasmu memancing rahasia Benjamin, setuju?"
"Aku setuju, Aunty," timpal Zia lekas. "Tapi Aunty ... aku kepikiran. Sejak kenalan dengan mereka yang ada di sekitar Benja, aku sering mendapat perasaan aneh kalau mereka itulah yang bakal jadi pembuka jalan kita."
"Begitukah? Kamu merasa seperti itu?"
"Benar, Aunty," jawab Zia sambil mengangguk. "Aku juga bingung. Soalnya, perhatikan saja, gimana ceritanya kok bisa, keturunan orang-orang yang terlibat dalam kejadian 20 tahun lalu tahu-tahu berkumpul, tanpa pernah ngeuh bagaimana kejadian sebenarnya? Dipertemukan denganku, yang punya misi menuntut pertanggungjawaban terhadap ayah salah satu dari mereka. Kok bisa, gitu, dua anak Reeve muncul semua. Anak dari pasangan korban pesawat yang bareng ayah pun muncul. Cucu dari Wayne Castellano yang menjebloskan banyak mafioso pun muncul juga. Aneh kan, kayak udah disetting demikian."
Antonella merenungkan ucapan sang keponakan. "Yang kamu sampaikan benar," timpalnya. "Aku setuju denganmu. Aku pun sempat merinding begitu lihat foto kalian bertujuh tempo hari. Bisa sekebetulan itu."
"Ini emang udah jalan dari semesta, Aunty, aku yakin begitu."
"Lalu, apa rencanamu?"
"Aku nggak hanya harus intens dengan Benjamin ...," jawab Zia penuh keyakinan. "Sebisa mungkin, aku harus akrab dengan Lenice dan juga Emmeline. Dan Denver ... dan Saxon ... dan semuanya pokoknya. Aku punya perasaan masing-masing dari mereka memiliki kepingan puzzle informasi yang berguna untuk kita."
"Aku setuju. Kamu sanggup mendekati semuanya?" tanya Antonella. "Alva pun sudah berkenalan dengan mereka semua, kuharap dia bisa cepat akrab juga supaya tugasmu lebih ringan," imbuhnya.
"Yang cewek-cewek sih, gampang, Aunty. Aunty tenang aja, serahkan padaku," sahut Zia ringan. "Sementara yang cowok-cowok ... well, aku nggak yakin Alva bisa cepat akrab dengan mereka. Dia kan galak, Aunty. Kemarin waktu aku kenalin Alva ke teman-teman baruku itu, Alva kelihatan memaksakan diri untuk bersikap hangat. Untuk sekedar tersenyum aja kelihatan dipaksa."
Antonella menghela napas berat. "Dia memang sulit berbaur sih ya .... Terbukti dugaanku."
"Makanya ... untuk hadapi yang cowok-cowok ... errr .... Kurasa aku harus bersikap liar sedikit," ujar Zia.
"Maksudmu?"
Zia mengerling pada Antonella. "Ah, Aunty, kayak nggak tahu aja," rajuknya.
Dalam sekejap Antonella menangkap maksud perkataan Zia. "Wow ... oke. Kamu serius, Zia? Kamu sanggup?" tanyanya.
"Serius dan sanggup," balas Zia sambil mengangguk penuh keyakinan. "Kenapa nggak? Anggep main-main."
"Kamu nggak masalah berbuat demikian? Kamu yakin?"
"Aku bakal dianggap playgirl, pastinya," timpal Zia, pandangan matanya menerawang sesaat, seperti tengah bergulat dengan dirinya sendiri. "Umm. Tapi nggak apa sih, mereka cute. Kalau mereka nggak good looking pastinya aku nggak mau .... Sayang, mereka spek model."
Antonella bersiul. "Queen bee," godanya.
"Kuharap cowok-cowok itu bukan tipe bocor yang bakal sebarin info satu sama lain. Hummm. Tapi mungkin dengan itu aku bakal jadi legend." Zia terhanyut bayang-bayang imajinasinya sendiri.
"Aunty nggak meminta kamu lakukan itu ya," sahut Antonella, tegas memberi penekanan. "Ini benar keinginanmu? Kalau kamu merasa berat, jangan. Hanya untuk menggali apakah mereka menyimpan rahasia atau nggak ... yang belum bisa dipastikan juga. Kurasa nggak worth it kalau kamu sampai harus jadi queen bee di antara mereka."
Zia menggeleng, menjawab, "It's okay, Aunty. Ini kemauanku sendiri kok. Dan lagi, buat bahan latihan menjadi heartless."
Zia memang keturunan Maranzano. Membanggakan sekali ..., puji Antonella dalam hati.
Antonella tersenyum lembut. "Baiklah kalau begitu," sahutnya. Tak lama ia melanjutkan, "Ngomong-ngomong, Zia .... Kamu dan Max kan sudah akrab selama ini. Apakah ada sesuatu yang menimbulkan kesan di kamu, tentang Max?"
"Max?" Zia membelalakkan matanya sesaat, lalu diam, menggali memorinya. "Kurasa nggak, Aunty. Max itu meski suka seenaknya sendiri, tapi normal-normal aja, kayak cowok pada umumnya."
"Dia nggak pernah beritahu punya rahasia apa, mungkin?"
"Nggak. Aunty curiga dia menyimpan sesuatu?"
"Yeah ... well ...." Antonella mengedikkan bahu. "Bagaimanapun, Max itu orang luar, bukan seorang Maranzano. Wajar rasanya kalau aku menyimpan sedikit kecurigaan padanya,* tuturnya.
Zia mengangguk. "Aku paham, Aunty. Kita memang harus berhati-hati. Kita udah persiapkan langkah serapi mungkin, bakal sia-sia kalau justru dari internal kita sendiri ada yang nggak sejalan ...," sahutnya pelan.
"Benar."
Zia tampak menimbang sejenak. "Kalau begitu aku akan spend time juga sama Max, pancing pendapat jujur dia tentang rencana kita ini," ujarnya kemudian.
Rasa bangga dalam hati Antonella semakin berlipat. "Wow, you're such a busy girl. Aku peringatkan kamu, Zia, jangan pernah lupa bawa pengaman. Safety first! Oke?"
Kamu bukan prioritas aku, Benja, kamu hanya alat .... Maafkan, batin Zia. Aku masih harus dekat dengan cowok-cowok selain kamu, jadi aku belum bisa komitmen sama kamu. Lagipula ... kalau kamu sampai tahu rencana besarku, memang kamu masih mau komitmen sama aku?
"Maaf ya ... Benja," ujar Zia akhirnya. "Aku belum punya keinginan untuk berkomitmen. Aku nggak mau kalau nanti kamu malah kecewa. Kita tetap teman tapi mesra aja ...."
Benjamin tidak menyahut. Saat lengan Benjamin melepaskan pelukan, Zia sadar pemuda itu kecewa, mungkin terluka.
Zia segera melanjutkan, "Aku janji, kalau suatu hari nanti aku siap pacaran, aku akan langsung beritahu kamu. Semoga saat itu tiba, kamu masih minat sama aku ...."
Benjamin masih mendiamkan dirinya.
"Please?" Zia merajuk, gantian memeluk tubuh pemuda itu. Mata beningnya memandangi wajah Benjamin penuh harap.
Hingga akhirnya senyum pun terbit di wajah Benjamin. Dia menghela napas panjang, lalu mengangkat tangan untuk membelai rambut Zia. "Baiklah. Aku akan menunggu sampai kamu siap."
Zia tersenyum ceria mendengar jawaban Benjamin. "Thank you, Ben .... Makasih, kamu udah mau ngertiin aku," katanya manja.
"Hmm. Teman tapi mesra," kata Benjamin, benaknya meresapi istilah tersebut, kemudian terkekeh ringan. "Teman ya teman, kalau mau mesra-mesraan ya harusnya udah resmi berhubungan. Siapa yang ciptakan istilah itu, seenaknya saja," katanya geli.
"Nggak peduli siapa. Bukannya selagi muda, kita puas-puasin bersenang-senang, termasuk coba hal yang punya istilah aneh seperti itu," kilah Zia.
"Ngomong-ngomong soal teman ...." Benjamin teringat sesuatu. "Aku jadi ingat kakakmu, Alvaro."
"Kenapa dengan Alva?"
"Gimana kalau dia tahu aku berteman tapi mesra dengan adiknya? Alva kelihatan seperti kakak yang strict dan galak," kata Benjamin. "Kalau berada di posisi dia ... aku pasti bakalan cari ribut sama cowok yang ambil kesempatan pada adikku, tanpa ada komitmen yang jelas."
Zia terdiam sejenak.
"Aku bisa berkata seperti ini, karena aku berkaca. Aku membayangkan kalau Emmeline yang dijadikan teman tapi mesra sama cowok yang baru dikenal. Aku bakal ngamuk. Makanya di hari pertama aku langsung minta Saxon untuk hadapi orang tuaku, supaya dapat izin mendekati Emmeline. Aku terbantu karena memang budaya itu masih berlaku di lingkunganku ...," tutur Benjamin. "Tapi, aku sekarang malah terlibat hubungan yang kasual banget sama kamu. Kakakmu gimana? Apa tipe seperti itu juga, atau dia strict jaga kamu?"
Zia terkekeh, lalu menggelengkan kepala. "Kamu nggak usah cemas, Ben. Meskipun wajah Alva sering terlihat jutek, galak, tapi dia bebasin aku, kok," jawabnya yakin. "Aku malah ingin minta tolong kamu untuk bisa akrab sama Alva. Kakakku itu emang agak sulit kalau memulai pertemanan baru ... entah apa yang bikin dia kaku. Perihal dia tiba-tiba muncul di sini, bilangnya mau ikut tahun baruan di sini sama aku, itu aja aku kaget, lho. Dia jarang having fun, makanya dia punya inisiatif cari teman baru di sini bikin aku amaze, sekaligus juga pengen banget dukung dia supaya beneran bisa berbaur sama kita semua. Aku jamin, kalau dia udah akrab sama orang, bisa seru juga, kok! Dia itu tipe yang setia berkawan, setia pada apa pun yang baginya layak untuk diberi kesetiaan. Tipenya kayak begitu .... Kamu mau kan, berteman akrab dengan Alva?"
"Yeah, why not? Kalau semua berjalan lancar, pada akhirnya nanti Alva akan jadi keluargaku juga. Benar?"
Zia mengangguk penuh semangat. "Makasih, Ben," ucapnya, tak lupa mendaratkan kecupan ringan di pipi Benjamin sebagai hadiah.
Benjamin menyeringai senang menerima kecupan tak terduga. "Tapi kamu dan Alva nggak mirip, ya. Nggak kayak kakak adik," katanya kemudian.
"Oh, iya, memang," sahut Zia. "Kami mirip dengan ibu masing-masing."
"Oh?"
"Iya. Ayahku punya dua istri. Satu orang Eastland, ibunya Alva. Satu lagi, keturunan Iralia-Frenchye, ibuku. Kalau dipikir, aku punya lebih banyak darah Iralia dibanding Alva," ujar Zia menjelaskan.
"Wah ... aku baru tahu. Hebatnya, ayahmu bisa punya dua istri!"
Zia terkekeh. "Ayahku ganteng, tipe idaman cewek."
"Lalu, beliau meninggal kenapa? Kamu umur berapa saat itu?"
"Kecelakaan .... Aku belum lahir ... Alva juga belum lahir."
Benjamin merasakan perubahan mood Zia. Topik mengenai ayah Zia rupanya merupakan hal yang sensitif baginya. "Pasti sulit ya ... tumbuh tanpa sosok ayah," katanya penuh simpati.
"Ah, udah biasa," kilah Zia. Ia lekas mengubah topik agar pertanyaan Benjamin mengenai ayahnya tidak semakin mendetail. "Aku udah ungkapkan rahasia aku cukup banyak, lho. Sekarang, giliran kamu, Ben. Kamu punya cerita apa?"
"Eh. Cerita apa?"
"Yaa cerita apa aja. Rahasia kamu yang nggak diketahui orang. Tentang kamu ... atau siapa juga boleh."
"Apa ya?" Benjamin berpikir sejenak. "Rahasiaku ... oh, ada nih."
Zia tidak menyembunyikan ketertarikannya. "Apa tuh?"
"Rahasiaku ... aku sayang banget sama kamu."
"Ih, Benja!" Zia mencubit pelan lengan Benjamin. Disangkanya, ia akan mendengar bocoran rahasia terlarang, ternyata malah hal yang jauh dari harapan. "Itu kan aku udah tahu ... kamu tadi bilang, kok .... Yang lain," bujuknya.
"Apa ya? Nggak ada, ah."
"Masa iya?"
"Atau kamu yang nanya, supaya aku tahu harus cerita apa."
"Hmmm. Oh. Kamu bilang, Don Kevin Castellano itu teman baik mama kamu. Kok bisa? Bukannya lebih normal kalau teman baik papa kamu, sesama Don? Emangnya papa kamu nggak cemburu, lihat mama kamu berteman baik sama Don Kevin itu?"
"Uncle Kevin juga berteman dengan papaku, sih, sebenarnya. Tapi memang lebih akrab dengan mamaku. Nggak ada yang harus dicemburui ... mamaku dan Uncle Kevin kayak kakak adik. Kalau memang ada sesuatu, pastinya papaku nggak akan diam saja. Selama ini semuanya baik-baik aja, sih."
Ya iyalah, Kevin kan adik kandung mama kamu, batin Zia. Kamu beneran nggak tahu apa-apa ya, kayak bocah polos.
"Unik ya," sahut Zia. "Aunty aku pernah bilang, berteman antara cewek sama cowok itu nggak mungkin nggak ada apa-apanya. Minimal ada mesra-mesranya gitu, kayak kita sekarang ini. Eh. Bukan maksudku curiga sama mama kamu ya ... jangan salah paham, please. Aku cuma menyampaikan pendapat aunty aku aja."
"Iya juga sih," sahut Benjamin ragu. Segala macam hal berkelebatan di kepalanya. "Hei, kamu bikin aku kepikiran aja."
"Maaf," balas Zia. "Ah, tapi aku yakin, mama kamu wanita terhormat, nggak boleh pikir macam-macam tentang beliau. Berarti bisa diambil kesimpulan kalau ternyata berteman dengan lawan jenis itu ada kok yang memang murni bersahabat!"
"Benar. Ada, pasti ada."
Suasana mendadak hening. Zia menimbang beberapa opsi topik lain, menilainya apakah cukup natural untuk ditanyakan. Apakah mengenai Salvatore Corvino? Pertanyaan macam apa yang harus ia sebutkan? Atau mengenai keluarga besarnya? Atau mengenai latar belakang Corvino?
Tapi kalau terlalu banyak tanya tentang keluarganya, apa nggak malah mencurigakan ya? tanya Zia dalam hati.
"Hobi kamu apa, Ben?" Itulah yang spontan meluncur keluar dari mulut Zia, saking terlalu memikirkan topik apa yang harus ia angkat.
"Hmm?" Benjamin menyahut malas, kelopak matanya terasa semakin berat. "Naik gunung," gumamnya.
"Naik gunung? Serius? Kamu ternyata pecinta alam ya," balas Zia.
"Iya ... apalagi kalau sedang banyak pikiran ... gunung selalu jadi tempat pelarian," jawab Benjamin dengan mata tertutup.
Zia menyadari kondisi pria yang berbaring di sampingnya itu. "Ngantuk ya?"
"Hmmmm ...."
Tak berselang lama, dengkuran halus tertangkap indera Zia, membuatnya terkekeh geli. Betapa cepatnya Benjamin pulas, bahkan sampai mendengkur. Dipandanginya wajah yang tengah terlelap itu, mengaguminya dalam hati.
Kamu emang ganteng, Benja .... Siapa yang nggak ingin punya kekasih sepertimu? Kalau saja aku nggak dalam misi besar, aku pasti akan dengan senang hati menerima kamu sebagai pacar aku.
Zia menghela napas panjang. Tapi sayang, keadaannya seperti ini, Ben ... aku adalah anak dari korban kejadian perang mafia yang didalangi ayahmu. Kenyataan memang selalu jauh dari harapan, ya? Aku menyesal karena harus melibatkan kamu. Melibatkan hatimu. Kamu pasti akan kecewa kalau tahu siapa aku sebenarnya .... Maaf, batinnya dalam hati, kemudian bersandar di bahu Benjamin, memeluk lengannya.
Dua denting pertanda pesan masuk terdengar, membuat Zia menegakkan tubuh lalu mengambil ponselnya dari atas meja nakas.
Ada dua pesan belum terbaca dari Saxon dan Denver.
Saxon mengirimkan foto mikrofon yang kelihatannya baru saja dia beli. Beberapa baris kalimat menyertai foto tersebut.
Saxon:
Hai, Zia! Nih, aku udah beli mikrofon baru, persis seperti milikku yang hilang kemarin. Kabari aja kapan kita jadi mau bikin konten.
Zia mengulum senyum. Sudah terbayang di benaknya, aktifitas membuat konten bersama Saxon akan diikuti dengan kegiatan lainnya. Semoga Saxon bisa ia rayu dengan mudah, sama seperti ia merayu Benjamin tadi.
Zia:
Oke! Hari Minggu bisa ya? Nanti aku kabari lagi di mana.
Sementara itu, pesan dari Denver hanya berupa balasan dari pesan yang Zia kirimkan sebelumnya.
Denver:
Apa maksudmu, tahu rahasiaku?
Zia:
Iya. Aku tahu rahasia kamu. Kamu nggak bilang ke Lenice kalau kamu dan dia sebenarnya masih relasi?
Tiga titik segera muncul di layar ponsel Zia.
Denver:
Itu bukan rahasia, Lenice sudah kuberi tahu. Tapi bagaimana ceritanya kamu bisa tahu?
Oh, dia sudah beritahu Lenice ... nggak asyik, ah, batin Zia, sedikit merasa kecewa, namun ia tidak menganggap itu hal yang krusial.
Zia:
Aku tahu beberapa hal ... yang kurasa bakal bikin kamu tertarik. Mau ketemuan?
Denver:
Hal tentang apa? Kenapa kamu tiba-tiba ajak ketemuan?
Zia:
Tentang kecelakaan pesawat yang bikin kamu lahir di pedalaman hutan. Tertarik?
Denver:
Kapan?
Tuh kan, dia pasti tertarik. Umm. Baiknya ketemu Denver dulu deh, baru Saxon ... Denver pasti punya lebih banyak informasi yang bisa aku korek. Saxon buat main-main aja. Zia memutuskan dalam hati.
Zia:
Hari Sabtu, ya. Di mana, nanti aku kabari.
Saat melihat angka yang menunjukkan waktu di ponselnya, Zia tahu sudah saatnya untuk pulang. Maka Zia beralih pada Benjamin, hanya untuk mendapati pemuda tersebut tampak sangat lelap. Dengkuran halus masih terdengar dari mulutnya.
"Benja," bisik Zia sambil mengguncang lengan Benjamin perlahan. "Aku pulang dulu yah?"
"Hmm?" Benjamin terbangun, mengangkat kelopak matanya yang terasa berat.
"Aku pulang dulu, nanti kita atur jadwal kencan berikutnya ... oke?"
"Hmm. Mau pulang ya ... oke .... Biar Ollie mengantar kamu," gumam Benjamin lalu kembali terlelap.
"Oke. Bye bye," balas Zia lantas segera bersiap pulang.
Begitu Zia keluar dari kamar, tampak tiga pengawal berpakaian formal berdiri siaga di koridor hotel. Salah satu dari mereka, Oliviero, sigap menyambut dirinya.
"Nona Zia, Anda akan pulang?" tanya Oliviero kaku. "Mari ikut saya, saya akan antarkan Anda pulang," lanjutnya lagi. Tanpa menunggu jawaban, dia segera bergegas mendahului Zia menyusuri lorong, menuju elevator.
Zia mengangkat bahu, memaklumi pembawaan Oliviero yang kaku. Ia pun mengekor pemuda berbadan tegap jangkung tersebut. Dari belakang, berulang kali Zia mengagumi dalam hati figur Oliviero yang tampak sangat berwibawa dengan setelan serba hitam. Tidak ada kerutan sama sekali di garmen yang dikenakannya, rapi, licin, mulus total, erat membungkus tubuhnya. Bahunya lebar kokoh, pinggang dan pinggul ramping, serta sepasang kaki yang jenjang. Zia membiarkan angan-angannya berkelana, membayangkan seperti apa rupa Oliviero tanpa balutan busana, namun ia buru-buru menepis pemikiran liar tersebut.
Dalam sekejap Zia dan Oliviero telah berada di dalam mobil yang meluncur tenang membelah jalanan kota. Tidak ada yang bersuara sama sekali di sana, memancing rasa bosan Zia. Dari bangku penumpang, ia asyik mengamati sang supir, Oliviero, yang tampak fokus mengemudikan mobil. Bentuk wajah pemuda itu pun terlihat sempurna di matanya. Hidung bangir, mata hitam tajam, bibir tipis, rahang yang terlihat kuat. Rambutnya sebahu, mengingatkan Zia pada rambut Alva.
Mumpung sedang berduaan aja, kenapa nggak garap Ollie sekalian? Dia kan emang masuk targetku, ujar Zia dalam hati.
Senyum Zia tersungging di wajahnya, lalu mulai membuka suara. "Ollie," panggilnya. "Jadi kamu setiap hari memang menjaga Benjamin ya? 24 jam sehari?"
"Saya hanya menjalankan tugas," jawab Oliviero singkat.
"Kalau memang 24 jam sehari, kapan istirahatnya?"
Tidak ada respon dari Oliviero.
"Pasti nggak 24 jamlah," lanjut Zia menyimpulkan sendiri. "Paling nggak kamu punya spare waktu tujuh jam untuk tidur ... kurang lebih."
Oliviero masih tetap fokus menyetir, membiarkan pertanyaan Zia mengambang di udara.
Merasa gemas lantaran tidak direspon, Zia menghela napas panjang. "Kamu kaku banget yah?" katanya lagi. "Kita kan udah kenalan dan beberapa kali ketemu tiap aku dan Benja ketemuan .... Anggap aja aku teman kamu. Biasa juga sesama teman saling ngobrol, berbagi cerita."
"Maaf, Nona Zia, saya menghormati batasan antara pengawal dan tuannya, serta rekan-rekan dari tuan saya," jawab Oliviero akhirnya.
"Tapi apa kamu nggak terlalu kaku? Bukankah katanya, kamu dan Benja sobat sejak kecil?" Zia mengamati ekspresi di wajah lawan bicaranya.
"Saya menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi," jawab Oliviero. "Bila sedang bertugas, saya tak lebih dari pengawal putra sulung Don Corvino."
"Tapi tugas kamu 24 jam sehari."
"Benar."
"Kapan senang-senangnya?"
"Saya tidak membutuhkan itu."
"Bohong," balas Zia cepat. "Sudahlah, Ollie .... Santai saja sih. Kamu kan sedang nggak bersama Benja, saatnya jadi dirimu sendiri."
"Maksud Nona?"
"Kamu nanti jangan drop aku di lobby. Parkir saja ... lalu ikut aku ke kamar. Gimana?"
Ekspresi wajah Oliviero spontan berubah, ada perasaan gugup yang bercampur baur di sana, namun dalam sekejap kembali terlihat kaku. "Saya tidak mengerti maksud Nona," sahutnya dingin.
"Uhh, masa harus aku jelaskan? Kalau aku lihat ... kurasa kamu tipe romantis yang piawai memanjakan partnernya ...," lirih Zia, sengaja mendesah. "Aku penasaran .... Kamu nggak penasaran sama aku? Nggak ingin melihatku ... eum ... kamu tahulah."
"Nona, kenapa Anda melakukan ini? Anda pacar Benjamin."
"Belum resmi, kok. Siapa pun bebas memutuskan ingin bermain dengan siapa .... Benar, kan? Selagi ada kesempatan, Ollie .... Jangan sia-siakan undanganku," bujuk Zia dengan nada manja. Sesaat ia menyesal mengapa memilih duduk di bangku penumpang di belakang, bukannya di samping Oliviero, membuatnya sulit menyentuh pemuda tersebut.
"Saya pantang mempergunakan kesempatan untuk bersenang-senang," jawab Oliviero tenang.
Zia berdecak pelan, sekali lagi mencoba membujuk, "Ayolah ...."
Beruntung bagi Oliviero, mereka telah tiba di depan hotel tempat Zia menginap. Jelas dia tidak menuruti permintaan Zia untuk berbelok ke parkiran, namun langsung mengarah ke lobby.
"Ahh. Nggak jadi parkir?" rengek Zia begitu Oliviero memberhentikan mobil tepat di depan pintu masuk.
"Selamat beristirahat, Nona Zia," ujar Oliviero tanpa memalingkan wajah.
Zia spontan merengut mendengar ucapan Oliviero.
Huff. Susah juga berhadapan dengan tipe kaku seperti cowok ini. Kuharap dia nggak memegang informasi penting yang bisa membantu aku dalam misi ini, batin Zia dalam hati.
"Okelah. Kamu pasti bakal nyesal udah tolak aku. Pasti bakal kepikiran malam ini, aku jamin. Bye," pamit Zia seraya terkekeh. Ia menarik tuas pintu, lalu turun dari mobil.
Bab 14 – Ketika Kenyataan Lain Terungkap
Perasaan tak nyaman jelas terlihat dari wajah Denver begitu Zia mempersilakannya masuk ke dalam kamar. Seperti yang telah dia duga, tidak ada siapa-siapa di sana, hanya dirinya dan Zia.
Dia menoleh pada Zia yang sedang mengunci pintu, bertanya, "Kenapa harus ngobrol di kamar kamu, Zia? Padahal di bawah juga ada kafe."
"Biar nyaman nggak terganggu orang lain," kilah Zia. "Yang mau kita bicarakan kan, rahasia."
"Rahasia apa sih? Sudah kubilang, aku nggak punya rahasia." Denver masih bersikap ketus dan tak acuh. Dilihatnya Zia lantas mengambil tempat di sofa, duduk menyilangkan kaki.
Tanpa mengindahkan protes Denver, Zia malah bersikap santai lalu bertanya, "Bagaimana reaksi Lenice saat diberi tahu kalau kamu anak Jessica Castellano?"
Denver mengernyitkan dahi. "Itu bukan urusanmu," balasnya. "Bagaimana kamu bisa tahu soal itu, anyway?"
"Santai, Denver .... Kelihatannya kamu curiga padaku ya?" Zia menepuk sofa di sampingnya, mengajak Denver untuk ikut duduk. "Duduk sini yuk, ngapain berdiri terus?" pintanya.
Menyadari Denver masih tetap bergeming, Zia melemparkan senyum. "Jujur ya ... aku kaget begitu tahu nama kamu. Nama kamu persis seperti nama salah satu korban kecelakaan pesawat 20 tahun lalu," ujarnya memulai percakapan, yang direspon Denver dengan tatapan penuh pertanyaan. "Kenapa aku bisa tahu? Tentu aku tahu .... Sahabat baikku, dia keponakan dari orang yang juga menjadi korban kecelakaan itu. Alyssa Griffiths. Apa kamu familiar dengan nama itu?"
Ucapan Zia efektif memancing rasa ingin tahu Denver, yang tampak semakin fokus mendengarkan cerita Zia. "Alyssa ... ya, aku tahu nama itu. Selain dulu adalah seorang model, dia juga menjadi korban kejadian saat itu. Jadi, temanmu adalah keponakannya?"
Zia mengangguk penuh keyakinan. Sengaja ia tidak mengatakan yang sebenarnya, agar tidak malah memancing kecurigaan lebih dalam dari Denver. "Iya ... berkat cerita temanku itu, dan dari kakakku yang menggemari berita tentang mafia, aku tahu cukup banyak," jawabnya. "Yang tercatat sebagai korban adalah Alyssa Griffiths, Jessica Castellano ibumu, Denver Granville ayahmu, dan Flavio Maranzano. Temanku selalu ingin tahu ... mengapa kecelakaan itu bisa terjadi, dan mengapa mereka berempat bisa bersama-sama saat itu."
"Well ...." Denver mengangkat bahu, lalu duduk di samping Zia. "Alasan kenapa Alyssa bisa ikut naik pesawat naas itu, kurasa cukup mudah diterka. Ia pacar Maranzano yang sedang dikejar pihak berwajib. Kurasa sesaat sebelum itu, mereka berdua tengah bersama-sama .... Nah, sialnya, ayah dan ibuku juga kebetulan sedang berada di sana. Maranzano mencoba untuk kabur, dan mengajak mereka semua ...." Denver mengambil napas panjang. "Ayahku, ibuku, juga tante temanmu itu, seharusnya bisa menolak ikut. Sayang, kenyataan berkata lain," tuturnya datar.
Zia sengaja memasang ekspresi prihatin. "Kamu dan ibumu sangat beruntung bisa tetap survive ...," sahutnya.
"Yeah. Aku lahir di pedalaman hutan Eastland, tak lama setelah pesawat menghantam tanah. Nggak ada siapa-siapa di sana, hanya ibu seorang diri, berjuang sendirian melahirkanku. Saxon selalu menggodaku, melabeli aku bayi ajaib."
Zia tersenyum miris. "Aku sependapat. Saat itu pasti berat buat ibumu," katanya.
"Memang," jawab Denver sambil mengangguk. "Makanya aku selalu menghormati ibuku."
"Denver," panggil Zia. "Apa kamu nggak berkeinginan menuntut balas kejadian mengerikan itu? Orang tuamu hanya terseret saja, tapi malah berujung duka. Kamu kehilangan ayahmu."
"Balas dendam?" Denver mengangkat alisnya, lalu terkekeh. "Pada siapa membalas dendam? Dan untuk apa juga? Seperti nggak ada kerjaan saja. Lagipula ... aku nggak kehilangan ayahku. Ayahku, Denver Granville Sr ... dia juga selamat secara ajaib dari kejadian itu."
Bola mata Zia membulat sempurna mendengar penuturan Denver barusan.
Denver Granville selamat??? teriak Zia dalam hati. B-bagaimana bisa .... Jessica selamat, lalu ternyata suaminya juga???
"Kaget banget, Zia?"
Teguran Denver membuat Zia tersentak. "Ah. Euh .... Ka-kamu serius, ayah kamu juga selamat? T-tapi kok ...."
"Yah. Kurasa ada campur tangan Tuhan yang membuat ayah dan ibuku selamat. Keajaiban. Miracle. Atau bisa jadi karena ada aku di dalam rahim ibu, yang membuat orang tuaku terpacu untuk bisa survive. Kudengar mereka memang sempat melompat keluar dari pesawat sebelum menghantam tanah ...," tutur Denver perlahan. "Hanya sayangnya, karena satu dan lain hal, justru Denver ayahku gagal menemukan aku dan ibu setelah kejadian. Kami bertemu kembali baru beberapa tahun lalu ... saat usiaku 14 tahun," lanjutnya.
Zia masih tampak terpukau pada kisah yang baru saja didengarnya.
"Aku akui, kejadian saat itu memang aneh sih," ujar Denver lagi. "Di catatan resmi yang beredar sejak dulu memang tertulis ada lima jasad hangus di sekitar lokasi pesawat jatuh. Empat nama yang kamu sebut tadi, ditambah satu pilot .... Lima jasad itu dalam kondisi tidak bisa dikenali. Hanya rupanya, ada dua orang selamat, yang lolos dari pencarian tim ... mereka adalah orang tuaku. Dua jasad lain yang tim temukan ... well, entah siapa mereka itu. Mungkin warga lokal yang sangat sial lantaran ikut terbakar .... Entahlah."
Tidak adil. Kenapa Jessica dan Denver bisa selamat?? Kenapa ayahku nggak?? Kenapa ayahku nggak melompat juga seperti yang Denver dan Jessica lakukan??? Zia berseru kalut dalam hati. Kenapa ....
"Zia?" panggil Denver, menyadari lagi-lagi lawan bicaranya itu melamun.
"Eh. Hehehe ... maaf, melamun," sahut Zia, memaksa diri tersenyum. Mengetahui fakta lain dari kejadian 20 tahun lalu rupanya sukses merenggut keceriaan dan semangat Zia sore itu.
Denver memandangi Zia, berusaha menyelami isi hati gadis itu. "Yah. Seandainya saja semuanya bisa selamat secara ajaib ya ... mungkin temanmu itu nggak akan kehilangan kerabatnya ...," katanya menaruh simpati.
"Mmhmm," gumam Zia pelan.
"Kamu sahabat yang baik ya. Padahal yang kehilangan kerabat adalah temanmu, tapi reaksimu penuh duka seolah kamu yang kehilangan keluarga gara-gara kejadian itu," kata Denver lagi.
Lagi-lagi Zia memaksakan diri tersenyum. "Bagaimana bisa membalas dendam atas kejadian itu yah? Setahuku ... mereka melarikan diri karena aduan orang dalam yang bernama Reeve Galante," ujarnya, berusaha memancing. "Kamu familiar dengan nama itu? Apa kamu tahu informasi tentang dia?"
Denver mengernyitkan dahi. "Serius, sampai sebegitunya kamu membela sahabat?" Dia mengambil napas panjang. "Sayangnya aku nggak tahu banyak soal nama itu. Ayah maupun ibuku nggak ada yang bersedia membahas lebih jauh perihal penyebab, dan segala macamnya. Ibuku hanya menegaskan, meminta aku agar jauh-jauh dari segala sesuatu tentang mafia. Beliau belum tahu aku justru terlibat dengan Lenice anak bos mafia Castellano, berteman juga dengan anak bos mafia Corvino .... Juga punya niat bertemu dengan kakekku, Maurice Castellano .... Tapi yah, itu urusanku."
Sepertinya hanya itu saja yang Denver ketahui ..., batin Zia. Dia nggak tahu info soal Reeve, ya sudah. Akhiri pembicaraan kali ini, batalkan rencana main-mainnya, aku nggak mood. Aku benar-benar sedih, marah sekaligus iri gara-gara Denver memiliki orang tua yang lengkap, yang berkat keajaiban ternyata selamat. Apalah aku? Nggak pernah kenal ayahku. Nggak pernah ketemu ayahku. Entah kenapa Flavio Maranzano nggak lompat juga dari pesawat, selamatkan dirinya sendiri! Kenapa sih, Dad? Teman-temanmu pada lompat dan selamat, kenapa Daddy malah hangus?! Di mana aku bisa mencari seorang Daddy untuk diriku sendiri? Aku hanya punya satu ayah ... tapi malah kamu hangus di pedalaman hutan negara lain. Kenapa sih? Kenapa bukan Daddy yang selamat?! Kenapa malah ayah orang lain yang selamat? Daddy ... Daddy bahkan nggak tahu aku lahir ke dunia ....
Untuk kesekian kalinya, Denver terheran mendapati Zia lagi-lagi melamun. Air wajah gadis yang duduk di sampingnya itu tampak terluka, seolah telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Perubahan ekspresi dan mood yang sangat terasa memancing rasa penasarannya, mengapa malah Zia yang terlihat berduka?
"Zia?" Denver memanggil lawan bicaranya itu sekali lagi.
Zia melempar senyum sekilas. "Oke ... jadi kamu nggak tahu soal si Reeve itu ya. Sudah kuduga, memang sulit. Aku ngide banget sempat punya keinginan mengungkap tragedi masa lalu cuma demi orang yang nggak kukenal," seloroh Zia, yang ditanggapi Denver dengan secercah senyum.
"Benar, lebih baik kamu cari kesibukan lain, Zia," saran Denver kemudian.
Anggukan kepala Zia menjadi jawaban. "Kamu benar. Benar, buat apa aku repot-repot begitu? Oke deh, Denver,” katanya sembari menarik napas panjang. “Kurasa cukup untuk hari ini, senang mengobrol denganmu,” tuturnya lagi datar.
Perilaku Zia yang tanpa ragu mengajaknya masuk ke dalam kamar sempat membuat Denver curiga, apakah gadis itu punya maksud tertentu terhadapnya? Namun, ucapan Zia barusan, ditambah perubahan drastis mood-nya saat membahas Denver Sr., justru menimbulkan pertanyaan yang lebih besar di benaknya. Meski begitu, Denver memilih diam, berusaha menepis rasa penasaran yang tiba-tiba menyergapnya.
"Oke. Sampai ketemu lagi nanti," balas Denver. Dia terdiam sesaat, menunggu respons. Namun, tak ada jawaban. Zia tetap bergeming, tatapannya kosong menatap lurus ke depan. Merasa tak ada gunanya menunggu lebih lama, Denver memilih pergi, meski rasa penasarannya justru semakin menguat.
Zia tak mampu menahan diri agar tidak larut dalam lamunan. Kenyataan yang baru saja terungkap hari ini benar-benar mengguncang perasaannya.
Ia berniat tidur sejenak ketika suara bel pintu tiba-tiba berdering, membuat keningnya berkerut heran. Dengan enggan, ia bangkit dan melangkah malas menuju pintu, lalu berjinjit sedikit untuk mengecek lewat lubang pengintip. Max.
Di balik pintu, pemuda berambut cepak dan brewokan itu juga menatap lurus ke arah lubang pengintip, seolah tahu Zia sedang mengamatinya. Alisnya terangkat, sudut bibirnya menekuk nakal, jelas niatnya menggoda. Jika suasana hatinya sedang baik, Zia mungkin akan mengakui bahwa Max cukup tampan. Tapi dengan mood hancur seperti sekarang? Max terlihat sangat menyebalkan.
Zia berdecak pelan, mundur sedikit dari pintu, sama sekali tak berniat membukanya.
Namun tanpa disangka, Max memanggil dari seberang. "Zia! Kamu di dalam, kan? Aku tahu kamu di dalam. Buka pintunya, dong," pinta Max.
"Apaan, sih?" desis Zia tidak berkenan.
"Ziaa," panggil Max sekali lagi, menyadari panggilannya tidak diacuhkan. Kali ini tangannya menggedor pelan pintu. "Zia, buka pintunyaa. Ziaa!"
Zia tetap bergeming, menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Zia, kamu mau aku teriak-teriak di sini? Nggak enak sama tamu di kamar lain, lho, apalagi kalau nanti security datang gara-gara ada keributan."
Mata Zia membesar mendengar ucapan Max barusan, terdengar begitu serius hingga sulit untuk diabaikan. Ia berdecak sekali lagi, lalu, dengan enggan, membuka pintu.
"Apa, sih?!" gerutunya begitu berhadapan dengan Max.
Alih-alih menunggu izin, Max menyeringai lebar dan langsung menerobos masuk tanpa ragu.
Zia segera menegur, "Hei! Siapa yang suruh kamu masuk?"
"Kenapa sih, Zia? Biasanya juga santai kalau aku datang," balas Max tenang.
"Kali ini nggak dulu, deh. Sorry, aku lagi bad mood banget. Lain kali aja, ya," ujar Zia, berusaha menolak dengan halus.
Max menggeleng, tak mau menerima jawaban itu. "Lain kali itu kapan? Aku maunya sekarang," sahutnya santai. Dia menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah mendekat tanpa ragu hingga Zia terpojok.
"Nggak ah, Max, aku lagi males," elak Zia, mendorong bahunya agar menjauh.
Max hanya tersenyum tipis. "Aku nggak terima penolakan," ucapnya dengan suara berat.
"Max—"
"Sssh." Max menempelkan telunjuknya di bibir Zia, menghentikan protesnya. "Tahu obat paling mujarab buat bad mood? Bercinta, tentu saja," katanya penuh percaya diri.
Dan dengan kepercayaan diri yang sama, Max mulai melancarkan jurus rayuan mautnya ….
Denver masih berada di lobi hotel ketika ponselnya berdering. Sekilas melirik layar, dia langsung berdecak pelan, ayahnya yang menelepon.
Udah berapa kali ditelepon begini, mau sampai kapan? Mending aku jawab saja kali, biar nggak berisik telepon terus, batin Denver, sebelum menjawab panggilan.
"Halo, Dad?" sapanya.
Terdengar hela napas lega dari seberang. "Akhirnya kamu jawab juga teleponku. Di mana kamu, Nak? Kenapa nggak pulang? Nggak kasih kabar juga? Ibumu tiap hari menanyakanmu."
Denver Jr. berdecak. "Dad, please. Aku sudah dewasa, sudah saatnya tinggal terpisah dari kau dan ibu," balasnya.
"Aku mengerti, alasan itu juga yang kusebutkan pada ibumu. Tidak masalah kau mau tinggal sendiri, tapi kau bahkan tidak berpamitan pada kami," jawab Denver Sr.
"Ya ya ... aku tahu aku salah belum berpamitan. Nanti aku akan pulang sebentar, menengok kalian."
Dari seberang telepon, Denver Sr. tidak terdengar marah atau kesal, malah cenderung santai. "Rupanya kamu sudah dapat tempat tinggal baru yang nyaman, huh? Sampai harus aku kejar seperti ini," katanya.
"Begitulah," balas Denver Jr., diam-diam terkesan dengan intonasi bicara sang ayah.
"Di mana kamu?"
"Kau tidak akan mencariku dan menyeretku pulang kalau kuberi tahu?" Denver Jr. berusaha memancing.
Denver Sr. menjawab, "Tentu tidak, aku hanya penasaran. Tidak aneh kalau aku ingin tahu, kan?"
Mendengar ucapan sang ayah, Denver Jr. merasa ayahnya itu memang tidak memiliki niat menyeretnya pulang. "Aku di Castelverano," katanya kemudian.
Denver Sr. terdengar terkejut. "Pulau Sivily?? Jauhnya! Apa yang membuatmu memilih tinggal di sana? Sudah dapat kerjaan enak di sana? Atau kau sekolah? Atau kamu punya pacar di sana? Kalau kuterka, pasti karena kamu mengejar teman perempuanmu," ucapnya memberondong.
Denver Jr. meringis. "Dugaanmu tepat, Dad."
"Benar, kan."
"Aku sedang pendekatan dengan perempuan ini ... kurasa berjalan lancar,” aku Denver Jr., samar semburat merah mewarnai pipinya.
Denver Sr. menyahut, "Itu berita bagus, Nak. Asalkan itu bisa membuatmu berbahagia, kejarlah."
Ekspresi Denver Jr. semakin santai mendengar kata-kata sang ayah. Dia tersenyum lega, lalu menjawab, "Syukurlah, kupikir kau akan melarang."
"Kenapa aku harus melarang? By the way ... kenal di mana dengan pacarmu ini? Kenapa bisa di Sivily?"
"Yah, mungkin kalau kau tahu, kau akan melarangku."
"Kenapa?"
"Pacarku ini ... orang Iralia."
"Oh. Lantas?"
Denver Jr. mengernyitkan dahi. "Well. Bukankah ibu sempat berkata tegas padaku agar jangan berhubungan dengan orang Iralia ... dengan mafia Iralia. Yang kudekati adalah putri bos besar di New Yord, Castellano. Ayah gadis itu masih sepupu dengan ibu."
Tidak didengarnya sahutan dari seberang.
Denver Jr. melanjutkan, "Aku nggak pernah mengaku pada ibu, karena kupikir ibu pasti akan melarangku dekat dengan anak sepupunya. Ibu pernah bilang dia benci segala sesuatu tentang mafia, jadi pasti dia nggak akan mengizinkanku mengejar anak bos mafia. Tapi, kurasa kau berbeda dari ibu, mungkin kau lebih open minded."
"Wah. Aku kaget juga mendengar kau ternyata berpacaran dengan anak Kevin,” ujar suara di seberang telepon.
"Kau nggak masalah, kan?" tanya Denver Jr. penuh harap.
"Seperti yang tadi kukatakan, asalkan itu bisa membuatmu bahagia, aku tidak mempermasalahkan," jawab Denver Sr. pasti.
Denver Jr. tersenyum lebar mendengar komentar tersebut. "Great!" serunya riang.
"Asalkan kau bisa menjaga diri, Denver. Ibumu hanya tidak ingin kau terlibat dalam bisnis yang berhubungan dengan mafia, yang bisa membuatmu terseret masalah. Itu saja yang memberatkannya. Dia hanya mencemaskan keselamatanmu," ujar sang ayah.
"Aku paham .... Trims, Dad. Kau nggak perlu cemas, aku nggak akan macam-macam dan nggak akan terlibat masalah rumit seperti yang pernah menimpamu dan ibu."
"That's my boy," puji Denver Sr.
"Anyway ... aku juga nggak terbuka pada ibu, soal keinginanku mengunjungi kakek Maurice Castellano. Aku paham ibu ingin memutus segala hal tentang masa lalu dan keluarganya ... tapi, aku tetap punya hak berkenalan dengan kakekku sendiri, kan, Dad? Mumpung kakek masih diberi umur ... masa iya, aku cucunya nggak pernah berjumpa dengannya?"
Denver Sr. menghela napas panjang. "Kamu benar, Nak. Kalau itu keinginanmu, wujudkan. Asalkan kamu tetap pegang teguh prinsipmu, jangan terlibat dalam bisnis. Mungkin kamu akan tergoda untuk terjun langsung begitu bertemu dengan Maurice, itu yang berbahaya, kau harus selalu aware, Denver. Jangan takluk akan godaan itu," katanya.
"Hmm. Aku paham."
Sang ayah masih melanjutkan, "Berbisnis dengan mafia itu memang manis, dalam sekejap kau akan bergelimang materi. Tapi jangan salah, semakin besar materi yang kau raup, semakin besar pula resiko yang harus kamu tanggung. Itu yang ibumu cemaskan. Dan aku juga mencemaskanmu. Aku nggak ingin kamu mengikuti jejakku zaman dulu."
"Aku tahu. Aku hanya akan silaturahmi dengan kakek sebatas karena dia ayah dari ibu."
"Then, go ahead."
"Senang juga mengobrol denganmu, Dad, kau lebih open."
Denver Sr. terbahak. "Hahaha, aku juga senang, terima kasih kamu telah menerimaku seutuhnya ...," ujarnya tulus.
Denver Jr. tersenyum tipis mengingat kelakuannya di masa lalu pada sang ayah. "Iya. Maafkan kalau dulu aku sempat menaruh curiga padamu," balasnya.
"Sudahlah, sudah lama lewat."
Tiba-tiba saja Denver Jr. merasa harus menyampaikan sesuatu mengenai kecelakaan itu dan kaitannya dengan Zia yang baru dia temui hari ini. "Ngomong-ngomong soal kejadian mengerikan itu, Dad .... Kau tahu, aku baru saja berjumpa dengan orang yang memiliki hubungan dengan salah satu korban pesawat itu."
"Apa katamu?"
"Yeah. Jadi aku punya teman, namanya Zia. Dia belakangan mengaku kalau dia bersahabat dengan keponakan Alyssa Griffiths. Dia temanmu, kan, Dad? Yang bersamamu juga saat di pesawat itu?"
"Tunggu. Temanmu itu, sahabat dari keponakan Alyssa?" ulang Denver Sr. memperjelas.
"Benar. Zia bilang selalu kasihan pada temannya itu, keluarga Alyssa merasa sangat kehilangan."
"Tunggu, tunggu. Aku kenal baik Alyssa. Alyssa hanya punya satu adik perempuan ...."
"Ohh. Ya mungkin temannya Zia itu anak dari adik perempuan Alyssa."
"No, Denver," timpal Denver Sr. segera. "Adik Alyssa, Sara, adalah aktivis childfree. Aku tahu ini karena pernah penasaran dengan kabar semua orang yang pernah kukenal semasa di New Yord."
"Aktivis childfree??" Denver Jr. tidak kuasa menahan keterkejutannya. "Jadi dia ... nggak punya anak?"
Denver Sr. menjelaskan lebih lanjut, "Sara menikah dengan salah satu temanku yang lain, Andrew, yang dulunya pernah terkenal sebagai anggota band rock. Kabar mengenai Sara dan Andrew tersebar luas di media, mereka pasangan aktivis childfree. Bisa kupastikan mereka memang nggak memiliki anak."
"Lho! Jadi ... jadi temannya Zia ini ... siapa?"
Denver Sr. terdiam sesaat. "Apakah Zia ini bersikap aneh saat membahas korban kecelakaan pesawat?" tanyanya.
Benak Denver Jr. berpacu cepat, merunut kembali percakapan demi percakapan yang dirinya dan Zia lakukan beberapa saat lalu. "Euh. Oh iya. Dia tiba-tiba sering melamun begitu aku bilang padanya, kalau kau selamat dari kecelakaan itu."
"Begitu. Ada lagi?"
"Oh." Denver Jr. teringat sesuatu. "Dia juga sempat bertanya-tanya, apa aku nggak ada keinginan untuk balas dendam pada yang namanya Reeve Galante ... yang mana aku malah bingung sendiri, dendam gimana, aku nggak tahu apa-apa. Kalaupun punya dendam, ya bisa jadi itu kau sendiri, Dad. Tapi, kan, kau kelihatannya santai, nggak utak atik peristiwa masa lalu. Lalu ... Zia ini tahu banyak soal kejadian itu, yang dia nggak tahu adalah kau, Denver Senior, ternyata selamat. Makanya kubilang padamu, Zia terlihat shock begitu tahu ada lagi yang selamat selain Jessica. Dia juga terlihat sedih banget, kayak yang berharap kalau yang selamat itu harusnya semuanya. Tapi dia nggak bilang seperti itu sih, aku menerka aja dari raut wajahnya. Seperti yang tertekan, sedih, yang kurasa cukup aneh. Dia kan, ngakunya, sahabatan sama keponakan Alyssa, kenapa malah dia yang kepikiran sampai sebegitunya? Sampai kepikiran buat balas dendam juga?"
Tidak ada sahutan dari seberang selama beberapa saat. "Well, kau mau tahu apa yang terbersit di benakku? Temanmu itu tidak ada hubungannya dengan Alyssa, melainkan Flavio Maranzano."
Denver Jr. kesulitan mencerna. "Eh .... Flavio ...."
"Temanku yang lain," jawab Denver Sr. lekas. "Yang membuatku terpaksa ikut naik pesawat naas itu. Mendengar ceritamu, justru aku curiga kalau Zia ada hubungan dengan Flavio. Aku jadi ingat ... sesaat sebelum pesawat celaka, Flav dan Alyssa sempat bertengkar lantaran Alyssa mengetahui Flav berselingkuh di belakangnya, hingga selingkuhannya itu hamil. Berapa umur Zia sekarang?"
"Euh. .... 20."
"Yeah. Waktunya pas. Bisa jadi Zia adalah anak Flavio. Hanya itu alasan kenapa dia bisa merasa sedih dan tertekan mengharapkan ada lagi korban selamat dari pesawat naas itu."
"Yah ... masuk akal, sih .... Tapi ... nama belakang Zia, Agnelli," kata Denver Jr. yang semakin merasa bingung dan aneh dengan keberadaan Zia.
"Itu hanya nama. Selagi kau belum lihat sertifikat kelahirannya, jangan pernah percaya apa katanya. Kau mau membantuku, Denver? Aku jadi penasaran dengan temanmu ini. Kau diam-diam selidiki Zia. Kalau perlu ikuti, kau foto wajahnya, dan wajah orang-orang yang bersamanya. Setelah itu kau kirimkan padaku. Aku yang akan mengonfirmasi."
Denver Jr. mencerna penjelasan sang ayah sedari tadi, dan semakin merasa yakin bahwa Zia memang menyembunyikan sesuatu. "Aku juga jadi curiga pada Zia, Dad .... Karena dia memang mengaku berasal dari New Yord .... Dia di sini sejak natalan kemarin."
"See? Apa yang dia lakukan di Sivily? Kurasa dia di sana karena memiliki tujuan tersendiri,” ucap Denver Sr. lugas.
"Baiklah, aku akan mengirimkan semua yang kau minta."
Max lama-lama menyebalkan, sungut Zia dalam hati. Coerced consent ini namanya! Bener-bener nggak gentle! Zia menatap pemuda di sebelahnya yang tengah sibuk mengatur napas usai berhubungan dengannya.
"Kamu tuh emang luar biasa, Zia," racau Max sembari menarik selimut menutupi tubuhnya. "Kamu punya semua yang lelaki cari dari perempuan."
Zia meringis. "Eh, bukan berarti kamu bisa maksa aku sampai mau ya. Udah aku bilang lagi males malah dirayu," sungutnya.
"Hal kecil aja diributkan," balas Max tidak mau kalah. "Kan, kamu juga menikmati."
"Cih," desis Zia saking tidak tahu lagi bagaimana harus merespon Max yang sering seenaknya.
Tapi karena dia sekarang udah lempeng, harusnya ada nih yang bisa aku korek ..., batin Zia.
"Max," panggil Zia kemudian, seraya mendekat dan menempel di lengan Max. "Kamu punya pendapat apa soal operasi kita di sini, selama ini?"
"Pendapatku? Tumben nanyain itu."
"Nggak apa, dong. Penasaran aja. Apa kamu positif semua rencana kita akan berhasil?"
"We're on the right track, menurutku," jawab Max. "Semua sesuai dengan yang tantemu rancang sejak lama. Aku yakin semua bakal berjalan dengan lancar. Setelah ini aku harus turun ke lapangan … menggali informasi. Itu artinya aku nggak akan ketemu kamu lagi selama beberapa waktu, makanya mampir ke sini.”
"Mmhm."
"Dan jujur aja, aku nggak sabar melihat sendiri kejatuhan si Reeve Galante itu," ujar Max, dengan senyum licik yang tersungging di wajahnya.
"Kamu dendam sama si pengkhianat itu karena dia bikin ayahmu dipenjara," kata Zia, menebak.
"Nggak cuma itu!" sahut Max dengan nada emosional. "Kesalahannya pada ayahku jauh lebih besar dan fatal! Kurasa kamu sudah dengar dari Antonella apa saja kelakuan brengsek orang itu yang merugikan ayahku."
Zia teringat cerita Antonella tentang kesalahan Reeve Galante terhadap Roman Burgueno, ayah Max. Selain berkhianat, pria itu juga diduga sebagai pelaku mutilasi anak Roman yang lain. Tapi seberapa banyak yang sebenarnya Max tahu dari ayahnya?
"Tapi kamu berbakti banget, ya, sama ayahmu," ujar Zia, sengaja memancing. "Apa dia memang ayah yang baik?"
Max menghela napas berat. "Gimana ya? Sejak kecil aku selalu menanyakan pada ibuku, di mana ayah? Seperti apa? Kenapa nggak pernah pulang? Dan aku nggak pernah dapat jawaban yang memuaskan. Lalu saat middle school, akhirnya ibuku memberitahu nama ayah. Roman Burgueno, bos mafia yang dipenjara seumur hidup. Wah, aku langsung cari tahu di mana dia ditahan. Aku langsung temui dia. Beritahu dia identitasku. Dia kaget, tapi aku tahu dia juga merasa senang melihat kehadiranku. Kami cuma bertemu sekian kali dalam setahun ... namun bisa kubilang, Roman ayah yang baik. Kami cocok," jawabnya menjelaskan.
Zia mengangguk-angguk paham. "Yah ... setidaknya kamu kan masih punya ayah kandung. Kamu membela beliau banget pastinya," sahutnya.
"Itu jelas. Apa pun aku lakukan agar Roman berbahagia. Kalau saja hukumannya bisa diringankan ... lalu bebas dalam waktu dekat," harap Max, matanya menerawang jauh ke depan. "Tapi kurasa mustahil," imbuhnya lagi.
"Apakah sebenarnya Roman yang meminta kamu untuk membalas Reeve?"
"Aku yang memiliki ide itu. Roman semula menentangku, berpikir aku nggak punya power. Naif, kan?! Tapi untungnya kemudian datanglah tantemu, dan Roman lantas berubah pikiran dan memintaku untuk bekerja sama dengan Antonella."
"Begitu ...." Zia mengangguk-angguk. "Itu saja permintaannya?"
Sesaat, Max seperti hendak mengatakan sesuatu namun menahan diri. "Yeah, tentu. Hanya itu," jawabnya kemudian.
Max menyembunyikan sesuatu, nggak, sih? Kok aku merasa seperti itu? batin Zia sambil menatapnya lekat-lekat.
"Hei, tumben aku diinterogasi," tukas Max cepat, nada suaranya setengah bercanda, setengah waspada.
Zia langsung mengubah ekspresi wajahnya, berusaha terlihat santai. Ia tertawa ringan. "Ah, interogasi apaan? Cuma cari bahan obrolan aja, Max .... Emang nggak boleh?"
Max ikut tertawa. "Boleh, boleh. Apa sih yang nggak buat Zia?"
Alva:
Turun ke resto sekarang, Tonie ngajak dinner.
Demikian isi pesan singkat yang Alva kirimkan pada Zia sepuluh menit yang lalu.
Nggak dibaca-baca juga sama Zia, sedang apa sih anak itu? Alva bertanya-tanya dalam hati, sebelum akhirnya memutuskan untuk menjemput Zia langsung di kamarnya. Dengan langkah lebar Alva segera menuju kamar Zia, sembari bersungut-sungut dalam hati mengapa hotel berbintang lima seperti ini tidak ada pilihan connecting room. Pihak hotel bahkan tidak memilihkan kamar yang berdekatan untuknya, untuk Zia dan untuk Antonella.
Hotelnya nggak lempeng, nggak asyik. Pesan tiga kamar untuk jangka waktu lama, bukannya dipilihkan yang terbaik! batin Alva lagi.
Begitu Alva berbelok di ujung koridor, langkahnya terhenti. Pintu kamar Zia tiba-tiba terbuka, namun bukan Zia yang keluar. Sebaliknya, seorang pria berambut pirang dengan brewok lebat—yang sudah sangat Alva kenali—yang muncul.
Max?!! Alva berteriak dalam hati, matanya membelalak saat melihat sosok itu keluar dari kamar Zia.
Ngapain Max .... Apa yang Max dan Zia lakukan??
Detik berikutnya, pikirannya langsung berlari. Ya .... Ya apalagi yang bakal dilakukan sepasang anak muda berlainan jenis di dalam kamar?!
Alva menyadari kekanak-kanakannya seketika, namun itu justru semakin memancing emosinya. Jadi mereka masih saja tetap berhubungan? Lanjut?? Padahal apa bagusnya si Max itu? Cuma pembawa masalah, nggak ada positifnya! Kenapa si Zia mau-mau aja sih?!
Perasaan kaget sekaligus kesal bercampur dalam dadanya, Alva merasa dunia tiba-tiba berputar lebih cepat. Namun, tak lama dia segera tersadar.
Yah. Tapi bukankah ini lebih baik daripada Zia berhubungan dengan si Kevin, suami orang itu? Yang dari segi umur juga nggak pantas! Alva berpikir sejenak. Max sepantaran, masih pantas mendekati Zia ….
Kalau dipikir lagi, benar juga, sih. Tapi, aku tetap nggak setuju ya, kalau Zia dengan Max sedekat dan seintim ini! Nggak. Nggak boleh. Zia hanya pantas dengan lelaki yang gentle, pintar, bertanggung jawab, sepadan. Bukan dengan cecunguk seperti Max! Bisa-bisa Max malah menularkan sifat jeleknya pada Zia! Nggak. Nggak akan kubiarkan. Masalahnya sekarang, bagaimana aku bisa cegah Zia bertemu dengan Max, kalau kami saja masih saling irit bicara? Hanya sebatas diskusi saat meeting dengan Antonella saja. Atau lebih baik aku gertak si Max.
Demikian tekad Alva dalam hati, amarah dan kekhawatiran bercampur. Setelah itu, dia kembali melangkah menuju kamar Zia, bertekad mengajaknya makan malam, meski pikirannya masih berkecamuk.
Comments
Post a Comment