TDR (15-17) | INA

Bab 15 –  Hantu Masa Lalu

Denver Sr. tengah menonton di ruang keluarga malam itu, namun perhatiannya terpecah. Kakinya bergoyang-goyang sejak tadi, kegelisahan terlihat jelas di wajahnya. Pria berusia 40 tahun yang memiliki struktur fisik hampir serupa dengan Denver Jr. itu sesekali menghela napas berat.

Cerita Denver tadi membuatku kepikiran, ujarnya dalam hati. Kapan anak itu bisa kirimkan foto yang kuminta?

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar, tanda pesan masuk. Denver Sr. segera mengecek, dan seketika wajahnya terlihat menegang. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pesan yang ditunggu-tunggu. Foto-foto yang diambil secara candid menunjukkan tiga orang sedang makan bersama di sebuah restoran: dua wanita dan satu pria muda. Pada pesan berikutnya, Denver Jr. mencantumkan nama-nama mereka yang menjadi objek foto: Antonia Agnelli, Alvaro Agnelli, dan Felizia Agnelli.

Denver Jr:
  Yang berteman denganku si Zia, Dad. Aku juga kenal Alva, tapi jarang ngobrol. Nah, tante mereka, yang namanya Antonia itu, pernah dikenalkan juga oleh Zia beberapa waktu lalu. Apa foto ini cukup, Dad?

Denver Sr. tidak langsung membalas. Dengan cermat, dia meneliti wajah-wajah yang terpampang di foto itu. Perasaan familiar perlahan merayap, terutama saat matanya terfokus pada wajah pria muda yang bernama Alvaro itu. Tanpa disadari, bulu kuduknya meremang.

Anak ini ... anak ini persis sekali dengan .... pikirnya, namun kalimat itu terhenti begitu saja di benaknya.

Lamunannya terpecah saat layar ponselnya berubah, sebuah panggilan masuk dari anaknya.

"Halo?" jawab Denver Sr. cepat, mencoba menyembunyikan ketegangan di suaranya.

Suara Denver Jr. terdengar dari seberang telepon. "Dad, kau sudah lihat? Aku kirimkan beberapa foto. Foto Zia, kakaknya Alvaro, mereka di sini bersama tante mereka, namanya Antonia Agnelli," kata anaknya.

"Yeah, sudah kulihat." Denver Sr. menjawab sambil menarik napas panjang. "Benar dugaanku, mereka memalsukan identitas."

"Hah??"

Denver Sr. segera menjelaskan, "Aku pernah beberapa kali bertemu dengan wanita yang kau bilang tante mereka. Dia adalah adik Flavio Maranzano, nama aslinya Antonella."

"Hah ...."

"Kurasa Zia dan Alvaro ini memang anak-anak Flavio. Bisa kulihat wajah Flavio, terutama di wajah Alvaro ini. Persis," ujar Denver Sr. sambil mengulas senyum licik di wajahnya. "Mereka bertiga dari New Yord, ada angin apa tinggal di Sivily selama ini? Aku semakin yakin mereka memiliki maksud."

"Jadi mereka ... adalah Maranzano? Maranzano temanmu itu?? Yang jadi korban kecelakaan pesawat?? Lalu apa maksud mereka memalsukan identitas?"

Benak Denver Sr. dipenuhi berbagai macam skenario dan kemungkinan. Tak lama, sebuah pemikiran terlintas di sana. "Kurasa aku harus mendekati Antonella Maranzano ini. Kenapa juga Antonella dan keponakan-keponakannya sampai harus memalsukan identitas? Kalau aku baca situasi ... bisa jadi mereka memang berkomplot untuk membalas kematian Flavio. Pertanyaan lainnya, kenapa di Sivily? Aku yakin mereka sudah memegang informasi tertentu," katanya dengan tenang.

Terdengar nada cemas dari suara Denver Jr. "Dad ... jangan bilang kau ... juga mau membalas ...."

Hela napas berat Denver Sr. menjadi jawaban. "Hmm. Ini hal yang tidak pernah kusinggung di depan ibumu. Ibumu nggak pernah ingin melakukan apa pun pada apa yang terjadi selama ini. Dia hanya ingin hidup damai. Aku juga setuju, tapi itu nggak menghapus keinginanku menuntut keadilan .... Bagaimanapun, aku kehilangan 14 tahun yang berharga, bahkan pernah amnesia meski sesaat. Kalau sekarang ada jalan untuk mengejar mantan temanku, Reeve, aku tidak akan ragu."

Usai berbincang dengan anaknya, seorang wanita berperawakan langsing dengan rambut ikal hitam sebahu, Jessica, duduk di samping Denver sambil menyuguhkan secangkir kopi untuknya. “Ini kopimu, Sayang,” ujarnya lembut.

Denver menyambut kehadiran wanita itu dengan senyuman hangat. “Thanks, Jessy.”

“Kamu mengobrol dengan siapa tadi?” tanya Jessica, wanita keturunan Iralia yang kini telah resmi menjadi warga negara Eastland, sembari memandangi sang suami. Matanya yang gelap tampak penuh pertanyaan.

Bukannya menjawab, Denver malah balas menatap mata Jessica dalam-dalam.

Begitu Jessica hendak mengangkat suara untuk bertanya lebih lanjut, Denver bergumam pelan, “Jess, aku ingin tahu pendapatmu.”

Jessica mengerjapkan mata, bingung sekaligus penasaran dengan suasana yang terasa aneh. “Oke … apa itu?”

“Bagaimana kalau ada titik terang … kalau ada petunjuk untuk membalas kelakuan mantan teman kita 20 tahun lalu?” bisik Denver dengan hati-hati, memilih kata-kata dengan teliti.

“M-maksudnya …?” Ekspresi Jessica yang semula datar langsung berubah tegang begitu Denver menyebut kejadian 20 tahun yang lalu.

Denver menghela napas berat, mencoba menenangkan dirinya sebelum akhirnya mengungkapkan, “Kamu ingat adik Flav, Antonella, kan? Kita pernah dikenalkan dengannya beberapa saat sebelum hari bersejarah itu.”

Jessica hanya terdiam, namun ketegangan jelas terlihat di wajahnya. Matanya menatap Denver, penuh tanda tanya yang tak terucapkan.

Tanpa menunggu jawaban, Denver melanjutkan, “Antonella ada di Sivily sejak Natal kemarin, bersama dengan dua keponakannya yang terlihat mirip dengan Flav. Yang, aku yakin, salah satu dari keponakannya itu memang benar-benar keturunan Flavio, saking mirip wajah dan perawakannya. Aku curiga mereka berada di sana bukan sekedar berlibur … mereka memiliki maksud lain, yang berkaitan dengan keberadaan Reeve. Aku ingin memastikan benarkah dugaanku ini.”

Wajah Jessica semakin pias, namun bibirnya tetap terkatup rapat.

“Kalau dugaanku benar, dan ternyata ada jalan untuk membalas perbuatan Reeve pada kita …. Kamu setuju, kan, kalau dia tetap harus bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi?” Denver mencari kepastian dalam bening mata sang istri.

Jessica berdesis pelan, “Nggak ….”

Kening Denver berkerut heran. “Kamu-”

“Nggak!!!” Jessica tiba-tiba memekik keras, suaranya penuh penolakan yang tegas terhadap ucapan Denver. “Kamu mau apa? Balas dendam? Kamu punya dendam? Masih belum move on dari kejadian menyakitkan itu??” cecarnya dengan nada semakin meninggi.

“Jessy, tenang dulu-”

Namun Jessica mengangkat tangannya, menolak disentuh, menolak dibujuk. “Kenapa kamu nggak kubur saja kejadian itu dalam-dalam?? Lupakan! Anggap nggak terjadi!” teriaknya marah. “Denver, kamu sadar nggak, sih? Kita sudah hidup nyaman dan tenang di sini, kamu cari apa lagi?? Move on, Denver!”

Emosi Denver terpancing. “Bagaimana aku bisa move on, Jess? Aku kehilangan 14 tahun yang berharga!” balasnya dengan nada sama tinggi. “Kita berpisah demikian lama, aku menyangka kamu tewas, kamu menyangka aku tewas, padahal sama-sama survive! Aku amnesia di tengah hutan! Dan kamu, kamu melahirkan sendirian di tengah hutan! Apa kamu layak mendapatkan itu? Apa aku pantas mengalami hal yang seperti itu?!” 

Justru Jessica semakin dalam menekan pedal gas. “Kamu nggak usah macam-macam, aku nggak mau dengar kamu nekat mengejar hal yang nggak jelas seperti ini!! Kamu cari penyakit, cari masalah! Kejadian yang lalu ya sudah, buat apa kamu utak atik lagi, apalagi belum tentu juga kamu beneran ketemu dengan sahabat lama kamu itu! Move on, Denver! Cuma ini satu-satunya jalan!”

“Ini bukan hal yang bisa dilupakan begitu saja, Jess! Kenapa kamu nggak paham juga, sih?” Denver hampir tak bisa menahan emosinya.

“Kamu yang nggak mau mengerti!!” Jessica membalas dengan keras, suaranya dipenuhi amarah. Air mata mulai membasahi pipinya, dan dengan cepat ia bangkit berdiri, meninggalkan Denver begitu saja.


Sudah beberapa hari terakhir ini Massimiliano menginap di sebuah guest house tak jauh dari kediaman Corvino, membawa niat berbaur dengan penduduk setempat. Di sebelah guest house tempatnya menginap terdapat coffee shop yang kerap ramai pelanggan. Dari hasil pemantauan Max, orang-orang yang sering menghabiskan waktu di sana adalah masyarakat setempat, merupakan tempat yang bagus baginya untuk menjalankan tugas. 

Maka di sanalah dia berada, sengaja mengambil tempat di tengah-tengah kumpulan pelanggan, duduk santai dengan secangkir espresso di sampingnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, yang diharapkannya benar terjadi. Tiga lelaki paruh baya yang menempati meja di sampingnya rupanya tengah asyik berbincang mengenai Salvatore Corvino. Max menajamkan pendengarannya sekaligus sesekali memindai penampilan para lelaki itu. Tampaknya mereka hanya orang biasa, bukan bagian dari kelompok keluarga Corvino. 

"Bukankah kalian sempat menduga anak sulung Don Corvino itu tipe anak sombong? Aku sudah buktikan dugaan kalian salah," kata salah satu dari tiga lelaki tersebut.

Max merasa bersyukur pernah mempelajari bahasa Sivily jauh sebelum ini, membuatnya bisa memahami pembicaraan ketiga lelaki di sampingnya. Meski obrolan mereka diwarnai dialek yang kental, namun bukan sebuah masalah bagi Max.

"Benarkah? Kenapa?" sahut yang lain. 

"Kalian tentu tahu aku tengah dalam kesusahan, usahaku nyaris bangkrut. Di saat aku sedang pusing kemana aku harus mencari tambahan modal, kalian memberitahuku untuk meminjam pada Don, sementara kalian juga tahu aku pernah kapok meminjam pada mereka, rentenir-rentenir rakus. Aku memberanikan diri maju menemui Don ... karena kalian meyakinkanku bahwa Don tidak seperti para rentenir itu. Dan kalian tahu siapa yang menyambutku? Anak sang Don, Benjamin. Dia sama sekali tidak sombong, saudaraku! Malahan, dia sangat atentif mendengarkan ceritaku. Menurutku dia anak yang sopan dan tidak pernah memandang rendah orang lain," tutur si pria pertama. 

"Woah, bagus dong kalau begitu!"

"Lalu, kau berhasil dapat pinjaman?"

"Tentu! Aku keluar dari rumah sang Don dengan senyum lebar dan kepala mendongak. Don benar-benar penyelamatku."

Max tidak tahan ingin menimbrung pembicaraan mereka. "Maaf," selanya. "Maafkan, saya mencuri dengar obrolan kalian," lanjutnya dengan bahasa Sivily yang agak terpatah-patah. 

Ketiga pria itu memandangi Max.

"Perkenalkan, nama saya Massimiliano, turis dari New Yord. Saya tertarik dengan orang paling terpandang di Iralia ini, Don Salvatore Corvino. Saya mengaguminya. Benarkah beliau seperti yang mereka bilang, terpercaya, dermawan dan murah hati?" Max sangat menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat meyakinkan saat mengungkapkan kekagumannya pada sosok yang mereka bicarakan. "Anda bertiga sepertinya telah mengenal baik sang Don," imbuhnya.

Ketiga laki-laki itu mengangguk-angguk. "Memang. Aku menjadi saksi kedermawanan Don selama separuh usiaku. Yang kau dengar itu benar, anak muda," jawab salah seorang dari mereka. 

"Benar. Tidak ada hal tercela yang Don lakukan. Beliau adalah sosok penuh kharisma yang dihormati semua orang, terutama di seantero pulau Sivily ini!" seru yang lain.

"Wah ... benarkah? Kekaguman saya bertambah," balas Max berpura-pura antusias. 

"Kau berasal dari mana?"

"New Yord," jawab Max cepat. 

"Bahasa Sivilymu bagus juga," puji mereka.

"Yeah. Kurasa belum terlalu lancar, malah," sahut Max, berpura-pura merasa tersanjung. "Hanya kebetulan pernah diajari oleh ibuku ... ibu berasal dari Catamia, yang merantau ke Amerida bersama dengan mendiang kakek nenek saya."

"Ooh, bagus sekali!"

"Benar, tidak ada salahnya kau mengagumi Don Corvino, karena memang beliau penuh kehormatan."

Sepertinya orang-orang di sini hanya tahu memuja Salvatore alias Reeve itu. Mereka tidak tahu sama sekali bahwa justru Salvatore adalah musuh publik? Memalukan .... Reeve bertindak sewenang-wenang saat mudanya, lalu sekarang malahan mendapatkan respek dan cinta dari semua orang, bukannya membayar kesalahannya. Sangat, sangat memalukan. Kurasa tugasku mencari titik lemah manusia pengkhianat ini bakal sulit, ujar Max dalam hati. 

"Senang sekali bisa mengobrol denganmu, anak muda," kata salah seorang dari mereka. "Kau sudah makan? Mari bergabunglah bersama kami, kita bahas semua yang ingin kau tahu!"

Max memaksa dirinya untuk terus mempertahankan akting, lantas menyunggingkan senyum lebar. "Terima kasih! Saya traktir kalian, ya!" balasnya, sebelum mengangkat diri dan berpindah meja, bergabung bersama orang-orang tersebut. 


Wajah ceria Zia dan Saxon memenuhi layar ponsel saat mengakhiri siaran langsung yang dilakukan di balkon kamar hotel. 

"Thank you, Saxon!" Zia melempar senyum manisnya pada Saxon usai memastikan rekaman telah berhenti. "Banyak lho, yang nonton! Pasti karena kamu yang jadi bintang tamuku."

"Bukanlah, siaran live kamu kan emang selalu ramai. Mereka nontonin kamu, bukan aku," sahut Saxon santai sambil melepas mikrofon dari kerah bajunya. 

Zia segera menyanggah, "Nggak, beneran karena kamu. Buktinya, tadi banyak banget pertanyaan buat kamu, kan? Yang tadinya kupikir kita cuma bakal take satu jam, eh, mulur sampai dua jam sendiri ngejawabin pertanyaan buatmu."

"Tapi siaran langsung seperti ini seru juga ya, yang bukan berasal dari dalam lingkup duniaku sebelumnya," kata Saxon.

"Podcast spesial ini sih ... pembicaranya mantan pembalap yang menggemparkan," guyon Zia, membuat Saxon terkekeh. "Sampai ada yang nanya juga tadi kan, apa kamu benar-benar nggak bakal balik ke FP, yang kamu jawab, nggak bakal. Fix nggak bakal? Kelihatannya banyak yang mengharapkan kamu batal pensiun, lho."

"Yeah, well. Aku nggak punya urusan dengan harapan orang yang nggak kukenal," jawab Saxon. "Aku sudah memutuskan untuk banting setir, dan nggak ada maksud untuk kembali lagi."

Zia memandangi Saxon, diam-diam menyimpan rasa heran dalam hati. "Kamu nggak pernah spill ke publik minat baru kamu itu apa. Karena kita udah selesai siaran, off the record nih, kamu nggak mau spill ke aku? Sebenarnya apa yang mau kamu kejar, sih? Sampai rela membuang semua prestasi kamu selama ini."

Saxon hanya mengulum senyum, tidak menjawab.

"Ayolaah, kasih tahu aku ...," rajuk Zia, menyenggol bahu Saxon dengan bahunya sendiri. "Pleease?"

Alis Saxon terangkat, pandangannya tertuju pada Zia, seolah mencari kepastian bisakah dia mempercayai gadis cantik ini.

"Kasih tahu," rajuk Zia lagi, "sedikiiiit, aja."

"Aku bisa percaya kamu nggak, nih?"

"Aduh, ya jelas dong, kamu bisa percaya sama aku," balas Zia lekas. "Aku janji nggak bakal khianati kepercayaan kamu."

"Baiklah," kata Saxon akhirnya. "Tapi mungkin bahasannya agak berat. Nggak apa?"

"Wih ... seberat itu? Kalau begitu, di dalam kamar aja yuk? Di sini dingin ... aku juga tadi sempat beli snack dan minuman ringan sih buat kamu," ujar Zia sambil bangkit berdiri, mengajak teman laki-lakinya yang baru itu mengikuti dirinya. 

Zia terus saja mengulum senyum menyadari Saxon tidak menolak ajakannya, mengikutinya masuk ke dalam kamar, menerima minuman ringan yang ia suguhkan. Sebentar lagi, dengan satu dua jurus lagi, Zia berkeyakinan, Saxon akan segera luluh dan mengikuti alur permainan selanjutnya.

Ia mengambil tempat di sebelah Saxon, duduk menyilangkan kaki. "Go on, I'm listening," katanya. 

Saxon mengambil napas beberapa kali. "Hanya orang terdekat dan keluargaku yang kuberi tahu hal ini," ucapnya memulai dongeng. "Jadi, aku percaya kamu. Kamu janji nggak bakal spill ini ke follower kamu? Atau ke siapa pun?"

"Janji," jawab Zia yakin. 

"Oke. Sebenarnya minatku sederhana ... tapi karena aku nggak memiliki darah Iralia ... minatku nggak bisa dibilang sederhana," ujar Saxon perlahan. Menyadari selebriti media sosial di sebelahnya itu memandanginya dengan tatapan bertanya, dia melempar senyum. 

"A-apa hubungannya dengan kamu bukan seorang Iralia?" tanya Zia.

"Aku memiliki keinginan bergabung dengan keluarga Corvino," jawab Saxon lugas. "Seperti Oliviero, teman barumu. Dia seorang made man, kan? Aku ingin sepertinya."

Zia tampak terpukau mendengar penuturan Saxon. "Jadi kamu ... memangnya ... euh, apa kamu tahu apa yang harus seorang calon prajurit lakukan untuk bisa bergabung dengan keluarga mafia seperti Corvino?"

Saxon mengangguk. "Aku tahu, aku sadar, aku aware. Aku bersedia lakukan apa pun agar bisa bergabung," jawabnya.

"Tapi kan ...."

"Kalau ditanya kenapa, apa kamu sanggup .... Yaa, aku sudah memantapkan hati untuk itu. Kalau tanganku harus kotor, ya kotorlah, asal aku bisa bergabung. Dunia yang kata orang, penuh hal yang mengerikan sekaligus menjijikkan ini ... gimana ya, memiliki daya pikat tersendiri buatku. Minatku aneh, kan? Sederhana tapi tidak sederhana. Apalagi, karena aku bukan Iralia, minat ini tampaknya hanya akan menemui jalan buntu. Tapi aku nggak ingin menyerah begitu saja. Aku akan tetap memelihara keinginan ini sampai aku menemukan jalan untuk bisa bergabung."

Zia masih belum pulih dari keterkejutannya. "A-apakah itu alasan kenapa kamu dekati Emmeline?"

Hela napas berat Saxon mengikuti pertanyaan Zia. "Jelas terlihat, ya?"

Zia mengangguk kaku. "Begitulah ...."

"Seandainya aku berhasil masuk dengan langkah seperti Oliviero, berbakti dan ambil sumpah secara resmi, aku bakal puas ... nggak jadi dengan Emmeline pun nggak apa. Tapi faktanya, aku seorang Brish, dilihat dari sudut mana pun aku nggak akan bisa bergabung dengan Cosa Nostra. Jalanku tertutup hanya karena aku bukan Iralia. Jadi satu-satunya jalan, ya ... berhubungan serius dengan Emmeline, sampai akhirnya resmi menikahinya. Aku akan dengan senang hati melakukannya ... Emmeline gadis yang lovable."

"Kamu benar ... minat barumu itu sederhana, tapi sekaligus juga tidak sederhana," sahut Zia menyimpulkan.

"I told you so," balas Saxon. "Kumohon, pembicaraan ini hanya berada di sini, Zia. Jangan sampai kamu kelepasan omong, apalagi di depan Emmeline."

Zia mengedipkan sebelah mata. "Tenaang! Aku ini trustworthy, percayalah padaku."

"Thanks."

"Aku amaze juga ... kamu udah utarakan ini pada keluarga kamu di Eastland, kan? Dan mereka merestuimu ambil langkah pensiun untuk mengejar Cosa Nostra?"

Saxon menggeleng. "Keluargaku menentang, terutama ayahku. Tapi itu nggak akan menjadi penghalang ... sekali kuputuskan, itulah yang kulakukan," jawabnya. 

"Aku nggak sangka bakal dengar pengakuan seperti ini darimu," aku Zia. 

"Well. Sebenarnya ada hal lain yang membuatku jadi semakin pesimis ...," gumam Saxon. 

"Eh?"

"Kalau kamu mau tahu, Zia, baru-baru ini aku mengalami sesuatu yang membuat harapanku mendekati Emmeline menguap habis tak bersisa," ujar Saxon datar. 

"Ehh? Kenapa, kenapa?" Zia terburu bertanya, rasa penasaran membuncah. "Emmeline menolak kamu?? Masa iya sih??"

Saxon merespon pertanyaan Zia dengan senyum miris.

"Serius??" Zia terbelalak memandang Saxon. "Kupikir Emmeline suka sama kamu juga?"

"Emmeline nggak menolakku, kata siapa dia menolakku?"

"Lho ... jadi ...?"

Saxon menghela napas berat. "Sudahlah. Hal ini biar kusimpan untuk diriku sendiri. Yang bikin kamu penasaran kan soal minat baruku, dan kamu sudah peroleh jawabannya langsung dariku. Untuk hal lain ... kamu nggak perlu tahu," katanya datar.

"Ihh. Kamu sengaja kasih spoiler, tapi malah kamu menolak cerita," keluh Zia kesal.

"Cukup itu saja yang kamu tahu," balas Saxon. Dia membuka kaleng minuman ringan yang sedari tadi hanya dipegangnya, lalu meneguk isinya. 

Kasih info cuma setengah-setengah ... niat nggak sih? Apakah mungkin dia juga tahu banyak soal kejadian lalu, makanya tertarik dunia mafia? Seorang Brish seperti dia, punya apa yang bisa ditawarkan untuk bergabung dengan keluarga mafia? Kamu punya info apa, Saxon ... kenapa kamu nggak mau beritahu? Apa kamu berniat membantu sahabatmu Denver meluruskan sejarah kejadian masa lalu, makanya kamu tertarik mafia? Ah! Tapi ini cuma asumsi saja! Aku harus menggali semua informasi yang kamu punya. Hummm. Kelihatannya aku harus pakai jurus pamungkas, batin Zia. 

Zia mengamati Saxon yang tengah menikmati minumannya dalam diam. Tangan pemuda itu tampak kekar, terlebih area lehernya, kokoh, tangguh. Seorang mantan atlet yang pastinya sering melakukan training saat masih aktif sebelum ini. Meski tidak memahami seutuhnya, namun Zia tahu, salah satu latihan yang biasa dilakukan seorang pembalap adalah melatih kekuatan otot leher lantaran adanya tuntutan menahan kuatnya daya gravitasi saat memacu mobil berkecepatan 300km/jam. 

Otot mana lagi yang kuat dan tangguh, yah? Zia bertanya dalam hati. Rasa penasaran tiba-tiba memuncak, membuatnya merasa gelisah. 

Maka Zia kemudian berdeham, menyibakkan rambut indahnya. "Beneran, nggak mau spill, nih? Kalau kamu mau cerita ... aku bakal kasih sesuatu buat kamu, lho ...," rayunya, perlahan namun pasti ia memangkas jarak antara dirinya dengan Saxon. 

Penuh keheranan Saxon memandangi Zia, namun berkat insting, dia bisa langsung membaca niat gadis itu yang kini menempel agresif pada tubuhnya. Perlakuan Zia spontan mengobarkan semangat sekaligus rasa penasaran Saxon. "Hei, hei, apa ini?" tanyanya berpura-pura polos. 

"Cuma ada kita berdua, Sax .... Kamu nggak mau ...." Zia sengaja menggantung kalimatnya. "Kamu pasti berpengalaman ya ...? Cowok yang seganteng kamu, berprestasi ... pasti pernah punya banyak pacar," rayunya seraya menyusuri anak-anak rambut di lengan Saxon dengan jemarinya yang lentik. 

"Wah, Zia, kamu bikin aku kagum," sahut Saxon dengan suara berat. Sebagai seorang pria, tentu saja dia merasa senang mendapatkan perhatian dari lawan jenis. Dia melingkarkan lengan di bahu Zia sebagai tanggapan, menunggu tindakan lanjutan dari gadis itu dengan tak sabar.

"Kagum aja ...? Aku menunggu reaksi lainnya, lho ...." Zia mengerling genit, menempelkan pipi dengan Saxon. Sementara itu jemarinya membuat gerakan memutar di atas lutut Saxon, perlahan namun pasti semakin mengarah ke arah perut bawah pemuda yang kelihatannya semakin excited tersebut. 

Saat jari Zia nyaris mendarat di ritsleting jeans yang dikenakannya, Saxon gesit menangkap tangan nakal itu. Lalu, tanpa memberikan kesempatan bagi Zia untuk sekedar merasa bingung, Saxon merangkum bibir Zia dengan bibirnya sendiri, melumatnya penuh nafsu ....


Bab 16 –  Third Party

"Salvatore itu anak baik ... aku ingat dia selalu mau dimintai tolong. Tiap kali dia melihatku membawa banyak barang belanjaan, dia pasti turun tangan, bantu bawakan sampai rumahku ...." Seorang wanita lanjut usia bercerita pada Massimiliano sembari duduk santai di teras rumahnya.

"Begitu ya, Nek," sahut Max, memberikan atensi penuh pada cerita wanita tersebut. Hasil beredar di sekeliling kediaman Corvino, membawanya berkenalan dengan penduduk setempat, termasuk wanita yang dengan ramah menyuguhkannya secangkir kopi hitam itu.

Wanita itu mengangguk, tatapan matanya menerawang, menggali memori masa lalu. "Hanya saja ... setelah orang tuanya meninggal, dan Salvatore diangkat anak oleh mendiang Don Alfredo Lucchetto ... Salvatore berubah drastis. Dia seperti tidak mau mengenaliku lagi," tuturnya, menghela napas panjang. 

"Siapa yang peduli pada janda tanpa anak sepertiku? Sejauh yang bisa kuingat ... hanya keluarga Corvino yang masih mau peduli. Salvatore ... dan kedua orang tuanya itu, Giuseppe dan Carmela," imbuh si wanita tua. "Tapi yah ... siapa pun bisa berubah perangai dan sikapnya. Tidak mengapa Salvatore tidak mau mengenaliku lagi, toh, aku bukan siapa-siapanya."

Baru kali ini Max mendengar testimoni yang berbeda dari yang lain. Ketertarikannya semakin memuncak, dengan sabar menunggu penjelasan lebih lanjut. "Kenapa dia bisa berubah seperti itu, Nek?" tanyanya.

"Karena kematian orang tuanya di saat yang berdekatan, mungkin? Mana aku tahu ... atau dia terlampau dibutakan gelimang materi ... bisa jadi ...."

Max mengangguk-angguk.

"Kurasa aku masih simpan foto Salvatore dan kedua orang tuanya itu. Mereka sangat baik dan akrab denganku ... jadi aku meminta mereka untuk berfoto bersamaku .... Sebentar aku ambilkan," ujar si wanita tua, dengan hati-hati mengangkat tubuhnya berdiri.

"Euh, tidak usah Nek," ujar Max, merasa tidak tega melihat wanita itu tertatih berjalan masuk menuju rumah.

"Tidak apa, aku ingin berbagi," jawab wanita tersebut.

Tak lama, wanita itu kembali menemani Max di teras, membawa album berisi foto-foto yang sudah termakan waktu. Nenek itu membuka lembaran demi lembaran album, mencari yang ia maksud. "Nah, lihatlah. Kurasa saat itu Salvatore masih 16 tahun, masih anak-anak. Orang tuanya, lihat, mereka jelas-jelas orang baik, bisa kamu lihat dari paras wajah mereka ...." 

Max mengamati foto yang diunjukkan wanita tersebut, dalam hati menyetujui komentar yang dia dengar. Tampak empat orang berfoto bersama, si wanita tua yang tentunya masih belum terlalu tua saat foto diambil, sepasang suami istri kira-kira berusia 40-an, dan seorang remaja laki-laki yang tampak mirip dengan foto Salvatore Corvino yang Max tahu. Wajah Salvatore versi remaja.

Jadi ini Salvatore waktu masih muda ...? Lalu bagaimana bisa dia ternyata adalah Reeve Galante?? Max mengernyitkan dahi, bertanya-tanya dalam hati. Lalu, dia berfoto bersama orang tuanya juga. Apa benar Salvatore adalah Reeve??

"Saat suami istri Corvino ini meninggal ... lalu Salvatore diangkat anak oleh mendiang Don .... Aku seperti kehilangan keluarga. Tapi sekali lagi, siapalah yang mau ambil peduli padaku," rintih wanita tersebut.

Sebuah insting berkelebatan dalam benak Max. Dia mengambil ponsel, bertanya, "Nek, saya izin ambil gambar foto ini, boleh?"

"Silakan."

Ini barang bukti yang harus kubawa diskusi dengan Antonella dan yang lain, batin Max seraya mengambil gambar dari foto tersebut.


Zia menahan senyumnya mendapati Saxon membaringkan tubuh di sebelahnya dengan ekspresi wajah terpuaskan. Dengan sengaja ia memeluk pinggang Saxon, bersandar manja di bahunya. 

"That was great," puji Zia. 

Saxon balik memujinya, "Kamu memang mengagumkan, Zia. Aku amaze juga ternyata kamu sebebas ini ya."

Dengan manja Zia terkikih. "Nggak masalah kan, buatmu? Kalau kita friends with benefits?"

"Nope." Saxon cepat menggeleng. "Kalau kamu nggak masalah, aku juga nggak masalah. Asal kamu jangan bocorkan ini ke Emmeline."

"Tentu saja nggak bakal!" sahut Zia. "Ngapain juga Emmeline tahu, kurang kerjaan. Yang punya urusan kan antara kita berdua ajaa."

Saxon terkekeh.

"Kamu kayaknya serius banget mau mendapatkan Emmeline. Aku bantu doa agar semuanya lancar ya," kata Zia sambil mengubah posisi bertelungkup, memandangi wajah pemuda yang baru saja terjerat pesonanya itu. 

Ekspresi Saxon perlahan berubah. "Inginnya sih ... semuanya lancar. Seandainya saja ...." Ucapan Saxon terhenti di udara. 

"Kenapa? Oh iya, kamu janji mau lanjutkan cerita ... kenapa kamu malah jadi pesimis mendekati Emmeline?" Zia bertanya penuh perhatian. 

Saxon tampak ragu, mungkin tengah menimbang sesuatu dalam benaknya. "Akan kuceritakan kejadian pada hari menjelang tahun baru kemarin .... Hari yang buruk buatku," tuturnya dengan pandangan menerawang. 


Saxon menarik napas dalam beberapa kali, meredakan rasa gugup yang membuat jantungnya berdebar kencang. Sekali lagi, dia mematut diri melalui pantulan bayangan dirinya di kaca mobil, memastikan penampilannya sempurna. Jaket berwarna krem dengan dalaman putih, sebentuk kalung perak menjuntai di atasnya. Celana panjang berwarna senada dengan atasan, dan sepatu tertutup berwarna coklat. Rambut cokelatnya masih rapi berpoles gel, wajahnya tetap tampan seperti biasa, namun secercah rasa gugup tetap terpancar dari matanya. 

Maka Saxon melangkahkan kaki, menyusuri jalan setapak yang menghubungkan area carport dan teras rumah Corvino. Setibanya di depan pintu, dia menarik napas terakhir kalinya, lalu mengetuk. Tanpa menunggu lama, wajah cantik dengan senyum kekanakan milik Emmeline muncul dari balik pintu.

"Hai," sapa Saxon sembari tersenyum hangat.

"Hai ...." Emmeline membalas, senyumnya kini berubah, terlihat malu-malu. "Ganteng banget hari ini," pujinya. 

"Oh, selalu." Saxon menyeringai. Dia melangkah saat Emmeline membuka pintu lebar-lebar, mempersilakannya masuk. 

"Kamu pun manis banget, Emm. Jangan sampai aku diabetes ...," rayu Saxon santai, tetap mempertahankan seringai gemasnya.

"Ihh. Saxon," rajuk Emmeline yang jelas terlihat kesenangan dirayu. "Oh, aku ke dalam dulu yah, panggil papa. Kamu duduk aja .... Kamu udah siap, kan?" tanyanya sambil memandangi Saxon penuh arti.

Saxon mengembuskan napas kuat. "Siap. Buat kamu, siap," jawabnya pasti. 

Rona di wajah Emmeline semakin memerah, sebelum kemudian dengan setengah berlari masuk ke dalam mendapatkan ayahnya. Tak lama ia kembali menemui tamunya seraya menggandeng sesosok pria jangkung setengah baya. Kharisma kuat terpancar dari aura pria tersebut, yang menyambut kehadiran Saxon dengan senyuman tipis. 

"Oh. Jadi inikah, teman spesialmu, Emmeline?" Suara berat pria itu, Salvatore Corvino, bergema di sekeliling ruangan. 

"Iya ... Papa," jawab Emmeline malu-malu. 

"Mr. Salvatore Corvino, senang sekali bisa memiliki kesempatan bertemu dengan Anda," sambut Saxon mantap, membawa dirinya berdiri di hadapan Salvatore. "Perkenalkan, saya Saxon, teman Emmeline," imbuhnya lagi seraya mengulurkan tangan.

Salvatore menjabat hangat tangan Saxon. "Selamat datang di rumah ini, Saxon. Kata putri kesayanganku, kamu orang Eastland?"

Saxon mengangguk penuh hormat. "Benar, saya berasal dari Leighryn," jawabnya.

"Saxon ... siapa?" Salvatore mengangkat alis saat menanyakan nama keluarga Saxon.

Saxon segera menjawab, "Saxon Renauld."

Senyum di wajah Salvatore seketika menghilang. "Renauld?" tanyanya memastikan.

"Benar," jawab Saxon, seketika perasaan cemas melanda begitu menyadari perubahan ekspresi pria yang terlihat ramah tersebut.

"Ada hubungannya dengan pembalap Eastland yang bernama ... Renauld? Atau hanya kebetulan nama belakangnya sama?" Salvatore bertanya menyelidik. 

"Ah. Saxon ini memang pernah menjadi pembalap FP, Papa," sahut Emmeline menjawabkan untuk Saxon. "Dan juga anak dari pembalap FP legendaris Isaac Renauld," lanjutnya.

Wajah Salvatore yang semula terlihat tegang, memudar perlahan seiring dengan terbitnya seringai licik di sana. "Anak Isaac Renauld, huh," ujarnya dingin.

Seringai pria tersebut semakin memperkuat perasaan cemas Saxon, terlebih dia merasakan hawa di sekelilingnya berubah drastis.

Salvatore menyilangkan tangan di depan dada lalu dengan datar berkata, "Anak muda, mengapa kau tidak kembali pulang saja ke Eastland? Di sini bukan tempatmu."

Ditatap sedemikian rupa oleh pria beraura kuat tersebut membuat lutut Saxon terasa lemas, terlebih begitu menangkap maksud perkataannya. Tuan rumah mengusirnya begitu dia menyebutkan nama Renauld. Saxon hanya berdiri termangu, tak sanggup memberikan respon.

"P-Papa, kok begitu, sih?" Emmeline seketika panik, merajuk.

"Emmeline, maafkan aku, Sayang," ujar Salvatore beralih pada Emmeline. "Papa nggak akan beri kamu izin merayakan tahun baru bersama anak muda ini."

Salvatore kembali menatap tajam Saxon, melanjutkan, "Dan untuk selanjutnya, jangan pernah berani mendekati putriku. Kuharap kau cukup cerdas untuk menangkap maksudku."

"Papa!!" Air bening berkumpul di pelupuk mata Emmeline, kekesalan terpancar dari raut wajahnya. Kecewa, mungkin juga malu, ia lantas berbalik badan meninggalkan kedua pria tersebut.

Berada di bawah tatapan tajam seorang bos mafia yang membuat nyalinya ciut, Saxon mengumpulkan segenap keberanian untuk  bertanya, "A-apakah ... ada masalah dengan nama belakang saya, Mr. Corvino? Anda langsung berubah sikap saat saya menyebutkan itu."

Seringai yang terkesan culas masih menghiasi wajah Salvatore. Dengan santai dia menjawab, "Saya tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan apa pun padamu. Silakan angkat kaki." 


Zia terperangah tak menyangka usai mendengar kisah yang dialami Saxon beberapa hari yang lalu itu. "Kok ... serius ...?" sahutnya terbata. 

Saxon menghela napas berat. "Makanya kubilang, aku pesimis mendekati Emmeline," balasnya.

"Kok aneh, sih? Awalnya ramah ke kamu, terus berubah 180 derajat begitu dengar nama keluarga kamu?" Zia tampak masih belum bisa mencerna.

"Mana kutahu," sahut Saxon sewot. "Kamu saja bingung, apalagi aku!"

"Mungkin ... mungkin ayah Emmeline dan ayahmu saling kenal? Atau malah saling bermusuhan? Nggak ada yang lebih masuk akal selain dua kemungkinan itu."

Saxon terdiam sesaat. "Gimana cerita Dad punya teman atau musuh seorang bos mafia, masa iya aku nggak tahu sama sekali," gumamnya kemudian. 

"Coba kamu tanyakan aja, Sax," usul Zia.

Saxon segera menggeleng. "Aku nggak mungkin hubungi orang itu, yang ada aku disuruh balik ke sana," sanggahnya. 

Dering telepon seketika menginterupsi pembicaraan keduanya. Zia hanya menyaksikan dalam diam saat Saxon bergegas bangun dan menyambar ponsel dari atas meja nakas. Dilihatnya pemuda itu terkejut menyadari nama penelepon yang muncul di layar ponselnya. 

"Emmeline," gumam Saxon. Ada ekspresi panik, cemas, sekaligus penuh harap tercermin di wajahnya. Dia segera menjawab panggilan, "Halo, Emm?"

Terdengar suara sengau dari balik sambungan telepon. "Saxon ...," rintih suara itu, Emmeline.

"Emm, ka-kamu kenapa? Kok kayak habis nangis?"

"Aku sebel ... aku marah ...." Emmeline berkata sembari terisak. "Aku kecewa sama semua orang!"

"Ada apa? Ada apa, sih, Emmeline? Euh ... kamu udah jadi bertanya baik-baik pada papamu ... kenapa dia tiba-tiba melarang kita berteman?"

"Justru itu!" sahut Emmeline kesal. "Aku bujuk papa, aku juga nanya apa alasan papa melakukan itu ke kamu, tapi papa nggak beri aku penjelasan sama sekali ...! Intinya dia kukuh melarang aku dekat sama kamu ...."

Saxon menghela napas panjang. Kepalanya terasa pening seketika.

Emmeline melanjutkan, "Lalu aku nangis-nangis mengadu ke mama soal ini .... Mamaku ... mamaku malah akhirnya ngaku kalau ...."

Saxon terlihat tegang menunggu Emmeline menyelesaikan ucapannya. 

Mengaku? Mama Emmeline mengaku ... mengaku apa?? teriak Saxon dalam hati. Segenap hal negatif membuat pikirannya keruh. Apa ... apa jangan-jangan ....

"Mamaku mengaku kalau dulu papa pernah ada slack dengan Isaac Renauld, papa kamu ... gara-gara mama pernah akrab dengan dia!"

Mulut Saxon menganga lebar, jelas terperanjat tak menyangka kecurigaannya terjawab. "Holy sh*t!!!" Saxon berteriak lantang, tak mampu mengendalikan emosi. "Kamu serius, Emmeline?? Kamu bilang ... mama kamu pernah akrab dengan papaku?! Mereka pernah selingkuh??!"

Zia yang hanya menjadi penonton turut terperangah. 

Wuah ... selingkuh .... Ini bakal seru. Tumpahkan teh lebih banyak lagi, Emmeline, pinta Zia dalam hati, diam-diam berharap. 

"Nggak ...." Emmeline masih terisak dari seberang line. "Aku udah paksa mama buat cerita sejujurnya ... mamaku bilang nggak sampai selingkuh, katanya mereka cuma sekedar berteman biasa ...."

"Berteman biasa, mana ada laki-laki berteman dengan perempuan tanpa ada sesuatu di dalamnya!" sanggah Saxon penuh emosi. Terkuaknya cerita lama di antara sang ayah dengan perempuan lain yang melahirkan Emmeline, gadis yang diincarnya, tentu saja membuat Saxon meradang. 

Ini seru banget, batin Zia, nyaris tak mampu menahan senyum. Ups, aku harus pasang wajah prihatin, jangan sampai Saxon tahu aku kesenengan dengar gosip panas seperti ini, lanjutnya lagi dalam hati seraya mengubah ekspresi di wajahnya.

"Aku juga maunya percaya kalau di antara mereka nggak terjadi apa-apa .... Tapi aku juga curiga kalau mamaku bohong .... Kalau dipikir, siapa sih yang mau mengakui aib di masa lalu pada anak kandungnya? Nggak ada!"

"Ya memang! Kamu lihat sendiri reaksi papa kamu begitu dengar nama papaku. Papa kamu langsung marah, kan? Langsung emosi, kan? Itu bukti kalau Isaac Renauld memang pernah berbuat macam-macam pada mamamu!" Saxon berseru kesal. 

"Arrgh!!" Saxon menarik-narik rambutnya sendiri. "Aku nggak sangka kenapa malah jadi begini ceritanya!! A-aku ... Emm, sungguh, aku nggak tahu bagaimana harus bersikap padamu .... Aku nggak enak hati sama kamu .... Orang yang disebut papaku ternyata pernah menjadi orang ketiga di antara papa mama kamu. Maaf. Maaf, aku nggak tahu kenapa aku yang meminta maaf, tapi ...."

"Kamu nggak salah, Saxon, jangan minta maaf ...," balas Emmeline. "Yang bersalah udah jelas siapa .... Dan kita sebagai keturunan mereka yang berbuat nggak salah apa-apa ... cuma efeknya yang kita terima .... Makanya aku sebel banget sama mama ... aku kecewa!"

Sesuatu tiba-tiba melintas di benak Saxon. Jangan-jangan ... bisa jadi ... bisa jadi Emmeline ternyata adalah anak si Isaac itu?! tanyanya kalut dalam hati. 

"Emmeline ... kamu sempat tanya, kapan aib itu terjadi?" tanya Saxon kemudian.

"Aku udah nanya ... mama bilang, pas sedang hamil aku .... Udah lama banget ...."

"Pas sedang hamil kamu ... bukan SEBELUM hamil kamu ... kan?" Saxon memberi penekanan pada kata sebelum, sangat berharap kehamilan ibu Emmeline bukanlah hasil hubungannya dengan sang ayah.

Terdengar Emmeline mendesah dari seberang. "Aku tahu kamu curiga ... aku juga sempat curiga seperti itu. Apalagi kamu tahu kalau aku sama Benja nggak ada yang mirip papa dan mama .... Saat aku tanya, mamaku malah marah dan sedih karena aku curiga seperti itu. Dia meyakinkan aku kalau aku memang berasal dari papa mama .... Aku percaya mamaku," tuturnya.

Saxon menghela napas berat. Kuharap mamanya Emmeline mengatakan yang sejujurnya, batinnya dalam hati. Dia membalas, "Begitu. Jadi aku nggak perlu cemas kamu adikku ya."

"Iya, Saxon ... hanya saja ... karena ternyata ada kejadian masa lalu antara orang tua kita, jadi ... kita ...."

"Ini membuatku kesal, Emm. Padahal yang punya masalah antara mereka saja, kenapa anak-anak mereka jadi terlibat?" Kening Saxon berkerut dalam, ekspresi murka jelas terlihat dari wajahnya.

Zia tetap anteng memperhatikan saat Saxon menyudahi pembicaraan dengan lawan bicaranya. Ia tampak ragu berucap, namun keingintahuan yang membuncah membuatnya nekat bertanya, "Sax ... benarkah yang kudengar tadi? Papa kamu ... sama mama Emmeline ...?"

Saxon memandang Zia sekilas, mengangguk tanpa bersuara. Pemuda itu jelas tidak berminat membahas hal yang baru dia dengar ini dengan orang lain. Dia kembali fokus pada benda pipih yang berada di tangannya, lalu menelepon seseorang. 

"Saxon! Gosh, akhirnya kau muncul juga!" sambut suara di seberang. "Kau di mana?? Kau baik-baik saja??"

"Mana Orlando? Dia belum jawab," sahut Saxon dingin. Rupanya tidak hanya seorang yang dia telepon, melainkan dua orang. Terence dan Orlando, kakak-kakaknya. 

"Kau ini, kebiasaan! Aku menanyakan kabarmu, bukannya dijawab," tegur Terence. 

"Nggak butuh basa-basi," jawab Saxon. 

"Saxon?" panggil suara lain lagi. "Hei, kamu di mana? Papa mencarimu."

"Good. Kalian sudah berkumpul," kata Saxon. "Aku punya kabar mengejutkan yang harus kalian berdua tahu."

"Kabar apa? Tapi kau baik-baik saja, kan? Kapan kau pulang?" tanya Orlando.

"Dengar, Tee, Orl. Kalian selama ini selalu membela Isaac, padahal aku pernah menunjukkan sesuatu yang sangat mencurigakan tentang dia. Kalian terlalu polos dan naif karena selalu menyangka bahwa Isaac adalah orang baik ... kukatakan, kalian salah. Salah besar," tutur Saxon, berupaya menahan emosi. 

"Apa ini? Apa yang salah?"

"Apa yang mau kamu sampaikan, Sax? Kenapa kamu nggak pulang saja, sih? Di mana kamu sebenarnya?"

Saxon berdecak. Merasa bahwa kedua kakaknya itu akan tetap menanyakan kabar, dia pun menjawab, "Aku di Castelverano, di pulau Sivily. Jangan mencariku. Aku menelepon karena kalian wajib tahu hal yang baru saja kudengar ini. Isaac Renauld, ayah yang sangat kalian agung-agungkan itu, ternyata memang seorang peselingkuh. Dia bukan suami yang baik untuk mom! Aku sudah mengonfirmasi perselingkuhan itu!"

"Hah?"

"Jangan bicara macam-macam, kid!"

"Aku nggak asal bicara, aku punya testimoni dari yang bisa dipercaya," sanggah Saxon cepat. "Baru saja aku menguak kabar bahwa beberapa tahun lalu Isaac pernah dekat dengan istri orang ... bukan sembarang orang tepatnya ... istri bos mafia! Dia beraninya mendekati istri orang, cari ribut dengan mafia pula! Aku heran kenapa Isaac masih saja hidup sampai sekarang!"

Baik Terence maupun Orlando tidak ada yang menyahut aduannya.

Saxon semakin dalam menginjak pedal gas. "Kalian seharusnya punya bibit curiga pada Isaac sejak dulu, sepertiku. Sejak aku memberi tahu kalian soal email-email mencurigakan dari wanita lain yang isinya foto dan video anak laki-laki sepantaran Terence. Aku yakin anak itu adalah anak Isaac. Dia sudah pernah berselingkuh jauh sebelum ini, maka nggak heran kalau di kemudian hari dia melakukan perselingkuhan lagi! Kali ini dengan istri bos mafia! Gila, kan?!" teriaknya kesal. "Sekarang makin terbukti kalau dia itu player! Kalian masih nggak percaya juga??"

"Dari mana kau dengar kabar itu, Sax?" tanya Terence, terdengar berusaha tetap kalem.

"Benar, kau bilang sudah dapat konfirmasi. Konfirmasi macam apa, dari siapa?" Orlando menambahkan. 

"Aku sedang pendekatan dengan seorang gadis, anak bos mafia Corvino," jawab Saxon menjelaskan. "Kalau kalian asing dengan nama Corvino segera cari info tentangnya di mesin pencari. Anak orang besar. Bos besar. Corvino ini sentimen padaku begitu tahu aku seorang Renauld! Lalu anaknya, gadis yang kudekati ini, mendapat pengakuan dari ibunya kalau dulu ibunya pernah berhubungan dengan Isaac Renauld. Kurang meyakinkan apa hal itu, huh?! Sampai pasangan selingkuh Isaac pun mengakui!"

Tidak ada sahutan dari seberang.

"Kalian percaya sekarang??" Saxon mendesak. "Jangan tertipu penampilan luar Isaac yang terlihat seperti ayah dan suami yang baik .... Sampah! Peselingkuh! Ini baru yang ketahuan, yang nggak ketahuan? Berapa kali dia selingkuh? Berapa kali dia berkhianat pada mom?! Diam-diam begitu ternyata player juga! Mungkin sama player seperti Ferris Rutherford, kembarannya itu!"

"Jangan bawa-bawa ayahku!" hardik Orlando spontan.

"Realistis saja, Orl!" Saxon menyahut tak mau kalah.

"Saxon, apa pun yang kau dengar di sana, kau simpan untuk dirimu sendiri. Pulang sekarang, lalu kau bisa tanyakan hal itu pada yang bersangkutan. Jangan selalu mengambil kesimpulan sendiri," ujar Terence.

Saxon membalas, "Memang sudah jelas! Hal apa lagi yang bisa menyanggah kesimpulanku?? Sampai bos Corvino itu bersikap sentimen padaku, kurang apa lagi?? Sudah kuduga, menyandang nama Renauld itu nggak ada untungnya!"

"Pulang kamu. Sekarang!" perintah Terence. "Bicarakan ini baik-baik di rumah!"

"Pulang? Bertemu dengan peselingkuh itu? Over my dead body," jawab Saxon lalu segera memutus sambungan telepon. 

Saxon jelas terlihat kewalahan dengan informasi membludak yang memenuhi pikirannya. Dengan tergesa dia merapikan kembali pakaiannya, bersiap segera angkat kaki dari kamar Zia.

“Zia, aku pulang dulu,” ujarnya datar tanpa menoleh pada Zia.

Zia berusaha memahami gejolak yang Saxon rasakan saat ini. Ia hanya menggumam pelan mengiyakan. 

Kasihan juga sebenarnya, sih …, ujar Zia dalam hati, matanya mengikuti gerak tubuh Saxon yang dalam sekejap menghilang dari kamarnya. Lagi dekati cewek, punya harapan tinggi, punya cita-cita tinggi juga kalau sampai berhasil resmi sama cewek itu … Eh, malah dapet kabar nggak enak yang bikin keduanya jadi krisis identitas. Jadi perang juga sama orang tua mereka masing-masing. 

Zia menghela napas panjang, lalu turun dari ranjang, merapikan bantal sekedarnya. Ini cerita yang seru … kasihan, tapi seru. Mungkin ada sesuatu yang bisa kami manfaatkan berhubung Saxon memiliki keinginan besar untuk bisa bergabung dengan keluarga Corvino. Hummm. Aku harus sampaikan ini pada aunty secepatnya, batinnya lagi.

Getaran ponsel di atas meja nakas mengalihkan perhatiannya. Sebuah pesan masuk.


Bab 17 –  Is It Really Him?

Antonella:
  Zia, bisa ikut meeting sekarang? Urgent. Max bawa kabar penting.

Eh. Ada apa ini? Pas banget, aku laporkan sekarang aja perihal Saxon, ujar Zia dalam hati, kemudian bergegas keluar menuju kamar Antonella.

Begitu tiba di kamar sang tante, Zia mendapati Alvaro dan Max sudah lebih dulu ada di sana. 

“Hai, Zia,” sapa Max hangat. 

Di seberangnya, Alva tetap diam, namun matanya menatap tajam ke arah Max dan Zia, bergantian, seolah menimbang sesuatu. 

“Sini, Zia.” Antonella menyambutnya, menepuk tempat di sebelahnya sebagai isyarat agar Zia duduk. Setelah itu, ia beralih pada Max. “Kita langsung mulai saja. Ada berita apa?”

Max mengangguk, lalu bangkit berdiri. Dengan penuh kepercayaan diri dia berkata, “Antonella dan kawan-kawan. Sebenarnya berat mengatakan hal ini, berhubung kita sudah lama di sini, namun kemajuan belum seberapa. Ada baiknya kita mundur dulu selangkah, dan pertimbangkan lagi rencana kita ini.”

Ucapan Max seketika membuat dahi tiga orang lainnya berkerut dalam.

“Maksudmu apa, Max?” tanya Antonella, nada suaranya datar namun tajam.

“Max, kamu aneh,” sahut Zia dengan tatapan tak percaya. “Baru kemarin kamu bilang, we’re on the right track!”

Sementara itu, Alva hanya diam, tapi tatapannya semakin tajam tertuju pada Max. Ketidaksukaan jelas tergambar di wajahnya.

“Tenang, sabar dulu, ladies,” sahut Max. “Aku hanya menyampaikan kekuatiranku. Beberapa hari membaur di lingkungan kediaman Corvino … aku menemukan hal yang membuatku bertanya-tanya benarkah Salvatore yang kita incar itu, adalah Reeve Galante. Apakah benar dia? Bagaimana kalau sampai salah? Jangan sampai kita mengincar orang yang salah!”

Alva spontan menoleh ke arah Antonella, matanya yang hitam kini beralih fokus.

“Nggak mungkin,” desis Antonella, merasa seolah ada beban tak kasatmata yang tiba-tiba menekan bahunya. 

“A-apa Kevin berbohong, Aunty?”  Zia bertanya dengan nada panik, dadanya ikut diliputi kegelisahan.

“Apa yang membuatmu berpikir demikian?” Suara berat Alva menggema di seluruh ruangan, kali ini ditujukan langsung pada Max.

Tanpa banyak bicara, Max meraih remote dan menyalakan proyektor. Seketika, sebuah foto lawas yang tampak usang terpampang di whiteboard, mengundang ketegangan baru di antara mereka. 

“Aku mendapatkan foto ini dari seorang wanita lansia yang hidup sendiri di perbatasan kota. Wanita ini bercerita banyak padaku tentang hubungannya dengan Salvatore Corvino, beliau selalu menganggap Salvatore sebagai anak. Saking akrab wanita ini dengan Salvatore dan keluarganya, mereka sempat mengabadikan momen dengan berfoto,” tutur Max dengan jelas dan tenang. 

Tangan Max terulur menunjuk figur yang ada di dalam foto satu per satu. “Ini wanita yang menjadi informanku. Sebelahnya, Salvatore Corvino saat masih berumur 16 tahun. Dan dua orang di sebelah Salvatore, adalah kedua orang tuanya,” lanjut Max.

Aura tegang semakin pekat menyelimuti ruangan, menciptakan keheningan yang mencekam. Tak ada satu pun yang segera angkat suara.

Max menyapu pandangan ke sekeliling, menatap satu per satu wajah di hadapannya. “Salvatore Corvino itu orang nyata! Dia sudah eksis sejak dulu, bahkan punya orang tua dengan nama belakang Corvino! Jadi, bagaimana bisa dia disebut sebagai Reeve Galante?” tanyanya retoris, tanpa mengharapkan jawaban.

Max melanjutkan, “Wanita itu bilang, saat Salvatore berusia 20 tahun, dia diangkat anak oleh Don Alfredo Lucchetto, penguasa Iralia saat itu. Sejak saat itu, hidupnya berubah drastis. Sekarang, coba jelaskan padaku, bagaimana mungkin Reeve menjadi Salvatore, kalau sejak awal sudah ada seseorang yang benar-benar memiliki identitas Salvatore Corvino?”

“Bajingan satu itu,” desis Antonella, ekspresinya mencerminkan kebencian mendalam. Wajah Kevin Castellano melintas di benaknya tanpa diundang, membuat amarahnya semakin membara.

Alva mendengus kesal, menyugar rambutnya dengan gerakan kasar. “Kevin dengan segala omong kosongnya. Kau baru sadar sekarang, Tonie? Kau diperalat, tahu? Di matanya, kau itu cuma jadi jamban, objek pemuas,” sindirnya sadis.

“Alva, kau itu bisa sopan sedikit nggak?” Zia langsung memasang badan membela sang tante. “Mulutmu emang wajib dipasangi filter.”

“Lihat situasinya sekarang! Kita ini buang-buang waktu di sini! Kalau sampai salah langkah, kita semua bakal balik ke New Yord dalam kantong mayat! Itu pun kalau mayat kita masih utuh!” rutuk Alva, emosinya memuncak.

“Diam kalian semua!” bentak Antonella tegas. Seketika ruangan kembali sunyi. Tanpa membuang waktu, jemarinya dengan cepat menari di atas layar ponsel, mencari kontak seseorang. 

“Aunty mau video call si Kevin?” tanya Zia memastikan, melihat Antonella mengangkat ponselnya dan sekilas merapikan rambut. 

Antonella tidak mau repot menjawab. Wajahnya sudah cukup berbicara—ia terbakar amarah. Tak butuh waktu lama, panggilannya dijawab. 

“My beautiful angel,” sapa Kevin dari seberang layar, suaranya terdengar lembut dan menggoda. “Apa kabarmu, Sayang?”

Zia meringis jijik. Mendengar nada genit itu, ia merasa mual. Sulit dipercaya dulu ia pernah dimabuk cinta oleh pria ini, bahkan sempat membiarkan Kevin menyentuhnya. Sekarang, ia bertanya-tanya, mungkinkah perubahan drastis ini terjadi karena ia mengikuti saran Antonella—untuk menumpulkan hati dengan ‘bermain’ sebanyak mungkin? Rupanya, metode itu benar-benar efektif.

“Jangan main-main denganku. Aku sedang marah padamu,” balas Antonella dingin. 

Kevin mengangkat alis. “Lho …. lama nggak ketemu, kok tiba-tiba marah padaku? Apa salahku? Kamu kapan pulang, Tonie? Aku kangen.”

Antonella mendengus sebal. “Langsung saja, Kevin. Kau bohong padaku soal identitas Salvatore Corvino, kan? Kau kira aku bodoh?! Katamu kau mendukung rencana ini karena kau juga membenci Reeve, tapi ternyata kau memperdayaku! Lihat saja nanti, aku akan buat perhitungan denganmu!”

Dahi Kevin berkerut dalam. “Siapa yang berbohong? Orang itu memang Reeve. Kenapa kamu tiba-tiba meragukannya?”

“Salvatore Corvino yang asli itu sudah eksis sejak dulu! Sejak awal mula sudah ada seseorang yang benar-benar memiliki identitas Salvatore! Bahkan ada bukti foto yang menunjukkan keberadaan Salvatore dengan kedua orang tuanya! Jadi bagaimana mungkin dia adalah Reeve?!”

Kevin terdiam sesaat. “Tonie, tenang dulu,” katanya kemudian. “Aku nggak berbohong padamu. Apa kamu nggak kepikiran? Sangat mungkin, Salvatore yang asli itu sudah tamat riwayatnya. Lalu dengan berbagai trik, identitas Salvatore yang seharusnya sudah tewas itu, digunakan oleh Reeve.”

Antonella mengerjap, mulai mengurai benang kusut di kepalanya. Di sebelahnya, Zia dan Max saling berpandangan, mulai memahami arah pembicaraan.

“Jadi memang ada Salvatore yang asli … tapi identitasnya digunakan oleh Reeve,” sahut Antonella pelan.

“Kurasa memang seperti itu skenarionya, Tonie,” balas Kevin. “Kamu tahu, sejak dulu, aku nggak pernah peduli dari mana identitas baru yang Reeve dapatkan dari Don Lucchetto. Klan Lucchetto pasti memang memegang identitas Corvino tersebut dan menggantinya supaya bisa Reeve gunakan untuk bersembunyi. Reeve selamat berkat Don Lucchetto, itu kenyataan yang nggak bisa disanggah siapa pun, karena aku mendengarnya dari mulut Reeve alias Salvatore sendiri.”

“Memang masuk akal …. Salvatore Corvino yang asli memang akrab dengan Don Lucchetto, bahkan sampai diangkat anak,” gumam Antonella.

“Nah! Diangkat anak, tapi apakah memang diperlakukan sebagai anak? Itu kan, yang kita nggak akan pernah tahu. Mana tahu, Salvatore memang sengaja dienyahkan … atau mungkin tewas karena hal lain? Yah, untuk hal ini aku nggak bisa mengonfirmasi. Reeve nggak pernah membahas soal ini, aku pun nggak bertanya, karena yang di kepalaku hanya kebencian tiap bertemu muka dengannya.”

Antonella terdiam, mencerna informasi yang baru saja ia terima. Zia dan Max tampak mengangguk-angguk, sementara Alva masih memasang ekspresi skeptis.

Kevin tersenyum kecil. “Aku nggak bohong, Angel. Jangan marah-marah begitu, dong. Kamu nggak kangen padaku?” godanya. “Cepat selesaikan urusanmu di sana, lalu pulang.”

Antonella mendengus muak. “Oke, cukup. Sudah dulu, ya. Thanks infonya.” Tanpa menunggu balasan, ia langsung memutus panggilan video. 

"Jangan percaya omongannya, Tonie. Aku peringatkan kau," ujar Alva, suaranya terdengar dingin dan penuh ketegasan. "Kevin itu penuh tipu daya. Bukan nggak mungkin dia sengaja memberikan informasi palsu, supaya kita malah terseret masalah besar. Kau sadar, kan? Kita sedang cari ribut dengan klan terkuat di Iralia! Yang kita hadapi bukan orang sembarangan, Tonie. Ini bos besar. Nyawa kita taruhannya! Kalau kau masih berpikir kita bisa baik-baik saja setelah sengaja menyenggol klan Corvino, kau benar-benar naif."  

"Alva—"  

"Aku serius!" Alva memotong tajam, tak memberi Antonella kesempatan untuk menyela. Rahangnya mengeras, matanya membara. "Aku yakin Kevin sengaja menyesatkanmu. Kau pikir dia peduli padamu? Tidak! Yang dia inginkan cuma satu, menyingkirkanmu untuk selamanya. Bukankah itu memang tujuannya sejak awal?"  

Antonella terdiam. Rahangnya mengatup rapat, ekspresinya sulit dibaca. Sementara itu, Zia dan Max saling bertukar pandang, sama-sama terpaku dalam keheningan yang kaku dan menyesakkan. Udara di ruangan terasa semakin dingin, seolah dibekap ketegangan yang menggantung di antara mereka.  

"Dari dulu aku sudah nggak setuju kau mengorek info dari orang yang tugas utamanya menyingkirkan Maranzano! Itu tindakan bodoh!" Alva terus melontarkan protes, suaranya penuh tekanan.  

Antonella menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya sementara keponakannya masih berusaha mempersuasi dirinya dengan nada tajam.  

Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Antonella berkata pada Max, "Teruskan membaur di sekitar kompleks Corvino, Max. Kumpulkan lebih banyak informasi. Kalau perlu, ikuti Salvatore ... tapi tetap berhati-hati, jangan sampai dia menyadari keberadaanmu."  

Alva terbelalak, mulutnya menganga seolah tak percaya bahwa Antonella sama sekali tidak menggubris peringatannya.  

"Siap laksanakan," sahut Max tegas, mengangguk mantap.  

"Tonie! Kau tuli? Kau anggap peringatanku ini apa? Angin? Kentut?!" serang Alva, emosinya meluap.  

Antonella mendengus kesal, berusaha menahan diri. "Bukan aku tidak mendengarkanmu, Al. Aku hanya ingin memastikan sekali lagi, apakah Salvatore memang benar Reeve, ataukah dia benar-benar Salvatore. Bisa, kan?" Nada suaranya tetap terkontrol, meskipun jelas ada ketegangan yang menahan amarah di baliknya.  

"Oh." Alva mendengus sinis. "Jadi kau masih lebih memilih percaya pada cecunguk satu itu. Aku jadi bertanya-tanya, sehebat apa dia di ranjang sampai kau bisa percaya banget sama dia seperti ini?" 

Wajah Antonella seketika merah padam, emosinya melesak naik. Kedua tangannya mengepal, rahangnya mengatup erat menahan ledakan amarah yang hampir tak terbendung.   

"Alva! Apa susahnya menjaga mulutmu?!" Zia kembali maju membela Antonella, suaranya penuh tekanan.  

"Kakakmu itu cuma cemburu, Zia. Wajar kalau ngamuk," celetuk Max santai, terkekeh geli.  

"Diam kau! Jangan ikut campur!!" hardik Alva, kini melampiaskan emosinya pada Max.  

"Sekali lagi, DIAM!!" Antonella membentak lantang. Seketika, ruangan diliputi keheningan.  

Antonella mengembuskan napas panjang, jemarinya memijat kening, berusaha meredam ketegangan. Setelah beberapa saat, ia kembali bersuara dengan nada dingin, "Terserah apa pun anggapanmu, Alvaro. Aku tetap melanjutkan penyelidikan ini. Kalau kau tidak berkenan ikut, kau boleh pulang duluan ke New Yord."  

Alva merengut, memilih diam di kursinya.  

"Silakan, kau tahu harus keluar lewat mana," ujar Antonella lagi, menunjuk pintu tanpa ekspresi.  

Tak ada pergerakan dari Alva. Pemuda itu hanya melengos, lalu menyilangkan tangan di depan dada. "Kalau aku absen, siapa yang akan menjagamu? Si Max? Seolah dia cukup kompeten," gerutunya.  

"Cari ribut, Al?" Max menanggapi santai, melempar senyum penuh arti yang terkesan menantang.

"Udah, ih! Ribut terus kerjaannya," sungut Zia kesal. "Kita putuskan saja, penyelidikan tetap lanjut. Alva tetap ikut, toh jelas dia nggak berniat pergi."  

Antonella mengangguk setuju meski wajahnya masih masam.  

"Nah, karena kita sudah sepakat, saatnya ganti topik," ujar Zia, berusaha mencairkan suasana. 

Antonella menatapnya dengan minat. "Kamu punya berita apa, Zia?" tanyanya.  

Sesaat, Zia tampak bergumul dengan dirinya sendiri, ragu apakah akan mengungkapkan apa yang telah ia ketahui sejauh ini. Namun, mereka semua berhak tahu. Misi mereka di Sivily tak bisa berjalan dengan informasi setengah-setengah.

Mengambil napas panjang, ia akhirnya berkata dengan suara lirih, “Oke. Pertama … ada kabar yang bakal bikin kalian kaget. A-aku sendiri kaget, sekaligus sedih, begitu mendengar ini ….”

Tiga pasang mata langsung tertuju padanya, menunggu dengan penuh antisipasi.

“Denver Granville Sr. … rupanya juga selamat dari kecelakaan pesawat itu,” sambung Zia akhirnya.

Seuntai kalimat itu seketika membuat Antonella membelalak tak percaya. Di sebelahnya, Alva juga tampak terkejut, keningnya berkerut dalam. Hanya Max yang terlihat sedikit lebih tenang menyikapi berita tersebut.

“Tunggu, Zia … maksudmu, Denver temanmu itu?” Maxlah yang pertama kali angkat suara.

Zia menggeleng. “Bukan. Ayahnya. Selama ini, kita semua tahu Denver Granville adalah salah satu korban tewas dalam kecelakaan pesawat itu. Tapi dari cerita Denver Jr., aku baru tahu kalau ayahnya ternyata masih hidup. Jadi nggak cuma Jessica yang selamat … suami-istri itu sama-sama selamat!”

“Denver Jr. sendiri yang bilang itu ke kamu?” tanya Alva, nadanya menyelidik.

Zia mengangguk. “Aku memang ingin mengorek info dari dia, jadi aku mengarang cerita. Aku bilang kalau sahabatku adalah keponakan Alyssa. Dia percaya, dan akhirnya kami ngobrol soal kecelakaan itu .… Lalu dia cerita kalau ayahnya ternyata survive. Hanya saja, mereka baru bisa bertemu kembali saat Denver Jr. berusia 14 tahun.”

Ia menelan ludah, suaranya bergetar saat melanjutkan, “Saat pertama kali aku dengar ada korban lain yang selamat … aku sedih. Aku marah! Kenapa yang selamat harus Denver Sr.? Kenapa bukan Flavio Maranzano?! Kenapa bukan ayahku yang sempat melompat sebelum pesawat itu jatuh?! Kenapa harus ayah orang lain?!”

Suaranya pecah, mencerminkan gejolak di hatinya. “Ibunya selamat sejak awal, sekarang ayahnya juga ternyata selamat .… Kenapa nggak semuanya aja yang selamat?! Kenapa Flavio harus tewas?! Kenapa harus ayahku?!”

Tak ada yang berbicara. Ruangan dipenuhi keheningan yang berat. Antonella, Max, dan Alva hanya bisa duduk membeku, merasakan kemarahan dan kesedihan yang menyelimuti Zia.

Antonella akhirnya berdiri, mendekati Zia yang mulai terisak, lalu merengkuh keponakannya dari belakang. Ia mengecup puncak kepala Zia dengan lembut, tangannya mengusap punggung gadis itu, berharap bisa sedikit menenangkan.

Sekilas, Antonella melirik ke arah Alva. Alva mungkin tidak menangis, tapi sorot matanya berkata lain. Pemuda itu sama sedihnya. Dia hanya lebih piawai menyembunyikan luka itu.

“Kita nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam pesawat itu saat menukik jatuh …,” ucap Antonella pelan, suaranya nyaris serak. “Mungkin saja Flav berusaha keluar … hanya saja, dia nggak seberuntung Denver dan Jessica ….”

Tangannya masih mengusap punggung Zia, berusaha meredakan tangisnya. Tapi di lubuk hatinya, ia tahu, kesedihan ini tidak akan hilang begitu saja.

“Aku turut merasakan kesedihanmu, Zia,” ujar Max kemudian dengan lembut. “Aku jadi merasa beruntung lantaran masih memiliki ayah, meski dia terkurung di dalam penjara. Tapi justru karena kenyataan yang kita dengar hari ini, bukankah itu seharusnya jadi bahan bakar semangat kita? Jangan sampai kita patah arang dalam mengejar keadilan."

Ketiga orang lainnya terdiam, membiarkan kata-kata Max meresap.

"Terlepas dari apakah Salvatore benar-benar Reeve atau bukan," lanjut Max setelah menarik napas panjang, "satu yang kita yakini … Reeve asli memang masih hidup di luar sana, menghirup udara bebas tanpa pernah menunjukkan itikad baik untuk bertanggung jawab. Aku akan membaur lagi, menyelusup lebih dalam lagi dan menggali info sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benarkah perkataan Kevin Castellano itu. Jika memang benar, ada baiknya kita bahas strategi langkah selanjutnya sekarang.”

Ruangan kembali hening sejenak.

Kemudian, Alva menyunggingkan senyum miring, lalu bersuara, "Terkadang kau ada gunanya juga."

Antonella menghela napas. "Alva," tegurnya, mengantisipasi potensi keributan antara Alva dan Max. Ia kembali duduk dan menatap Max. "Aku setuju denganmu. Tapi kurasa strategi menghadapi orang itu baru bisa kita bahas kalau sudah terbukti Salvatore memang benar Reeve."

“Yeah, harus dibuktikan dulu. Kalau informasi dari Kevin itu keliru, semua rencana bakal sia-sia belaka,” timpal Alva.

“Benar,” balas Max sambil mengangguk setuju. “Baiklah, kalau begitu lebih baik aku kembali ke guest house sekarang, nanti aku kabari la-”

“Tunggu!” seru Zia tiba-tiba, suaranya terdengar mantap. Rupanya ia sudah kembali tenang. “Aku masih punya satu info lagi yang belum kusampaikan.”

Max mengurungkan niatnya untuk berdiri, kini menatap Zia dengan penuh rasa ingin tahu.

"Kamu sudah nggak apa-apa, Zia Sayang?" tanya Antonella lembut, penuh perhatian. "Kita bisa lanjutkan meeting ini nanti kalau kamu masih butuh waktu."

Zia menggeleng kecil, bibirnya melengkung tipis. "Aku nggak apa-apa," jawabnya tenang. "Tadi cuma kebawa emosi sebentar. Aunty nggak usah cemas."

Antonella mengangguk, diam-diam merasa kagum melihat perkembangan Zia yang semakin matang dan dewasa dalam menghadapi situasi sulit. "Oke, ada berita apa lagi, Zia?" tanyanya.

Zia menghela napas sebelum berkata, “Kali ini aku mau cerita tentang Saxon Renauld.”

“Si pembalap rookie yang pensiun dini itu?” tanya Max memastikan.

Zia melanjutkan, “Yes. Tadinya aku skeptis Saxon ini punya cerita yang menarik, tapi rupanya aku keliru. Kalian percaya nggak, Saxon ini punya keinginan untuk masuk di keluarga Corvino sebagai made man!”

Dengus geli lolos dari bibir Max, sementara Alva menyeringai sinis. 

“Made man, dia bercanda,” cibir Alva.

“Beneran, dia nggak bercanda!” sanggah Zia cepat. “Itulah alasan kenapa dia sampai nekat membuang karier cemerlangnya di dunia balap. Karier yang nggak semua orang bisa raih!”

“Seriously?” Max terkekeh. “Terus, dia ngomong apa ke kamu?”

“Saxon sadar kalau sampai kapan pun dia nggak akan bisa jadi made man,” balas Zia. “Dia tahu itu mustahil. Dia bukan orang Iralia. Buat orang luar seperti dia, masuk ke lingkup keluarga mafia Sivily cuma mimpi. Makanya, dia gigih mendekati Emmeline, anak Salvatore ….”

“Ahh, aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.” Max menyeringai.

Zia mengangguk. “Ketebak, ya? Saxon berniat menikahi Emmeline supaya bisa masuk ke dalam keluarga Corvino.”

“Konyol,” ejek Alva, ikut terkekeh geli seperti Max. “Apa sih, yang dia cari? Freak.”

“Buat dia, itu bukan sesuatu yang konyol … itu impiannya,” balas Zia. “Tapi impiannya itu lagi-lagi terhalang. Salvatore nggak mengizinkan Emmeline bergaul dengan Saxon. Bayangin! Dia nggak bisa masuk sebagai made man seperti Oliviero, dan sekarang dia juga nggak bisa masuk lewat Emmeline karena Salvatore nggak merestui! Dan kalian tahu kenapa? Karena ternyata … di masa lalu, ada sesuatu antara mamanya Emmeline dan Isaac Renauld, papanya Saxon!” serunya.

Antonella semakin merasa tertarik. “Tunggu … jangan bilang ….”

“Gosip semacam ini selalu bikin kaum cewek jadi heboh,” gumam Alva malas.

“Saxon juga sempat curiga kalau Emmeline adiknya! Tapi nggak. Emmeline keliatannya udah memastikan ke mamanya … kalau pertemuan antara mamanya dan Isaac itu terjadi setelah Emmeline berada di dalam kandungan. Jadi mereka bukan saudara,” tutur Zia.

“Jadi, Salvatore melarang Saxon mendekati Emmeline karena istrinya pernah punya hubungan dengan Isaac Renauld?” tanya Antonella.

Zia mengangguk cepat. “Dengar-dengar sih, mereka cuma berteman. Tapi siapa yang percaya? Buktinya, begitu tahu Saxon anak Isaac, Salvatore langsung berubah sentimen! Dari awalnya menyambut Saxon dengan baik, tiba-tiba langsung mengusirnya! Jelas banget ada sesuatu yang terjadi di masa lalu.”

Antonella mengangguk-angguk, sementara Alva memijat keningnya. “Meskipun gosip ini seru … seru buat perempuan, maksudku. Tapi ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan misi, Zia,” tegur Alva kemudian.

“Tapi-”

Sebelum Zia sempat menyanggah, Max menyela, “Saxon sangat bernafsu masuk ke dalam lingkup keluarga inti Corvino. Kita bisa memanfaatkannya.”

“Itu maksud akuu!” seru Zia antusias.

Alva mengernyit, menatap Max dengan penuh selidik. 

“Pikirkan baik-baik. Saxon sampai rela pensiun dini sebagai pembalap FP, padahal keluarga Renauld terkenal sebagai pembalap turun-temurun. Dia sudah menjadi bagian dari dunia itu, lalu tiba-tiba banting setir sedrastis ini? Jelas dia punya tekad yang sangat kuat. Dia berambisi, Alva,” tutur Max dengan nada tenang.

“Oke. Tapi apa maksudmu memanfaatkannya?” Alva masih belum sepenuhnya yakin. “Kau mau bocorkan misi ini ke orang asing seperti Saxon? Kita yang menyetir gerakannya? Gila, ya? Kalau cuma urusan mendekati keluarga Corvino, bukannya Zia udah intens dekati Benjamin?”

“Setidaknya kita punya opsi lain,” sahut Zia. “Aku cerita ini supaya kita punya gambaran. Siapa tahu di kemudian hari kita bisa menemukan celah untuk memanfaatkan Saxon. Kalau kita bisa menambah satu pion lagi, kenapa nggak?”

Alva terdiam, mencerna ucapan Zia.

“Nggak harus sekarang, maksudku,” imbuh Zia. “Tapi setidaknya, sekarang kita tahu kelemahan Saxon. Dan itu bisa jadi kartu kita di kemudian hari.”

Alva mendengus pelan sebelum akhirnya berkata, “Fine.”


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.