TDR (18-20) | INA
Bab 18 – Rahasia Kelam di Basement Corvino
"Emm?" Untuk kesekian kalinya, Benjamin mengetuk pintu kamar Emmeline, tapi tetap tak ada jawaban. "Mama bikin pie panggang kesukaanmu, beneran nggak mau? Kalau nanti keburu habis sama aku, jangan protes!" bujuknya.
Hening.
Benjamin mendesah, merasa seperti berbicara dengan daun pintu. Dia kembali mengetuk, kali ini sedikit lebih keras. "Oi, Emm!"
Terdengar suara lirih dari dalam. "Pergi!"
Benjamin mendengar nada sengau dalam suara adiknya. Emmeline pasti masih bersedih setelah hubungannya dengan Saxon menemui jalan buntu. Diam-diam, Benjamin merasa prihatin. Kenapa semuanya jadi rumit dan malah mengorbankan hati Emmeline?
Dia menghela napas panjang, akhirnya memutuskan untuk menyerah dan melangkah pergi.
"Adikmu masih ngambek, ya?"
Suara lembut di belakangnya membuat Benjamin menoleh. Nicoleta Corvino, ibunya, berdiri di sana dengan ekspresi tenang. Meski sudah berusia kepala empat, ia masih terlihat menawan. Gaun floral selutut tanpa lengan membalut tubuhnya dengan anggun, sementara rambut hitam berkilau terjalin rapi di satu sisi, membingkai wajah ovalnya yang selalu dihiasi senyuman hangat.
"Biar nanti Mama yang coba bicara lagi dengan Emmeline," lanjutnya, sebelum melangkah menuju ruang keluarga dan duduk di samping Salvatore.
Di atas meja, sepiring kecil pie panggang dan secangkir espresso tersaji untuk sang kepala keluarga, tapi keduanya belum disentuh. Salvatore sendiri tampak sibuk dengan tabletnya, seolah tak terganggu oleh keheningan yang menyelimuti rumah mereka.
Benjamin menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tak percaya, lalu menyipitkan mata. "Aku heran … kenapa Papa dan Mama masih bisa santai seperti ini, padahal anak-anak kalian baru saja mengetahui sesuatu yang mengerikan!" Dia berusaha menahan emosinya. "Kami butuh penjelasan."
Salvatore akhirnya mengalihkan perhatian dari tabletnya. Dia melirik Benjamin sekilas, lalu meletakkan gawai itu di atas meja. "Here we go again," gumamnya.
Nicoleta menghela napas panjang. "Penjelasan apa lagi, sih, Ben?" sahutnya, lelah. "Mama sudah cerita semuanya ke Emmeline dan kamu. Apa lagi yang kurang?"
Benjamin menatap ibunya tajam. "Aku belum dengar versi Papa," ujarnya tegas. "Aku mau dengar langsung dari Papa."
Salvatore memijat pelipisnya, lalu menatap Benjamin dengan ekspresi jengah. “Cerita apa, sih?” tanyanya datar.
Benjamin mendecak kesal. “Tentang Isaac Renauld yang dulu pernah ketemuan dengan Mama, waktu sedang hamil Emmeline. Lalu Papa melabrak Isaac sampai terjadi keributan di restoran.”
Salvatore mengangkat bahu. “Nah, itu kamu sudah tahu. Kenapa tanya lagi? Cerita dari saya bakalan sama seperti cerita Mama.”
Benjamin mendengus, masih belum puas. “Iya, tapi lanjutannya bagaimana? Ada peristiwa lain setelah itu? Papa pernah ketemu Isaac lagi?”
Salvatore menggeleng. “Tidak,” jawabnya singkat.
“Tapi-”
Benjamin buru-buru menutup mulutnya, menahan kata-kata yang hampir meluncur begitu saja.
Kenapa aku merasa ada banyak hal yang mereka sembunyikan dari aku dan Emmeline? teriak Benjamin dalam hati. Kalau memang kami, atau salah satu dari kami bukan anak kandung mereka, kenapa nggak jujur saja? Aku menunggu kejujuran itu! Apalagi wajahku dan Emmeline sama-sama nggak ada yang mirip mereka berdua. Bagaimana aku nggak curiga, sih, terlebih setelah ada cerita pihak ketiga di masa lalu seperti ini?
Pikirannya berputar cepat. Dia tahu, bertanya secara blak-blakan bukanlah pilihan cerdas. Tidak peduli seberapa besar rasa penasarannya, ada batas yang tidak boleh dilanggar.
Benjamin menarik napas dalam sebelum akhirnya berkata, “Kalau memang nggak ada perselingkuhan dan kejadian itu sudah lama lewat, kenapa Papa masih sentimen pada Saxon? Dia salah apa? Aku ngomong begini karena aku kasihan sama Emmeline. Emm dan Saxon saling sayang. Apa yang membuatmu sesentimen itu, Papa?”
Nicoleta melirik sang suami, ikut menunggu jawaban.
Salvatore menatap Benjamin tajam. “Benjamin,” suaranya rendah, nyaris dingin. “Tidak semua urusan orang tua harus diketahui anaknya. Tidak semua keputusan orang tua perlu diperdebatkan. Perintah saya tetap sama. Apa pun yang kamu katakan untuk membujuk saya, lupakan saja. Kamu hanya buang-buang waktu.”
Benjamin mengepalkan tangan kuat-kuat, rahangnya mengeras menahan amarah. Tanpa kata, dia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan kedua orang tuanya dalam keheningan.
Setengah jam kemudian, Benjamin sudah duduk di coffee shop langganannya, tak jauh dari rumah. Secangkir cokelat panas mengepul di hadapannya, tapi ia nyaris tak menyentuhnya. Di antara pengunjung yang sibuk berdiskusi atau tenggelam dalam layar gawai masing-masing, hanya Benjamin yang memasang wajah masam, hanyut dalam pikirannya sendiri.
Lonceng di atas pintu berdenting pelan saat seseorang masuk. Sosok tinggi tegap itu melangkah masuk dengan percaya diri, pandangannya menyapu ruangan sejenak sebelum menemukan Benjamin.
Benjamin mengangkat wajah dan melambaikan tangan pada orang itu, Oliviero.
Tidak sekejap pun ekspresi masam di wajah Benjamin memudar, sementara matanya mengikuti gerak tubuh Oliviero yang menarik kursi di hadapannya.
“Kupikir kau di rumah,” sapa Oliviero, menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan gerakan santai.
“Suntuk,” sahut Benjamin sekenanya. Dia menggerakkan dagu, memberi isyarat pada Oliviero. “Kalau kau mau minum, pesanlah. Biar kutraktir.”
Oliviero menggeleng. “Thanks, Ben. Kebetulan saya tidak terlalu haus. Kau saja yang minum,” tolaknya.
“Kau ini masih saja nggak enakan,” gumam Benjamin. Segera saja dia mengambil ponsel, selama beberapa saat perhatiannya tertuju pada benda pipihnya tersebut. “Done. Kupesankan kopi,” ujarnya kemudian.
Oliviero memandangi Benjamin sejenak, lalu terkekeh sambil menggelengkan kepala. “Baiklah. Sepertinya ini bakal jadi sesi panjang.”
Benjamin menyandarkan punggung ke kursi, menghela napas panjang. “Yeah. Sorry, aku mengganggu waktu liburmu. Seharusnya hari ini kau bisa beristirahat tanpa perlu melihat wajahku. Malah aku memintamu datang,” ujarnya.
Oliviero menautkan alis. “Kenapa bicaramu jadi kaku begitu? Kita sudah bersahabat sejak kecil. Kau bisa memanggil saya kapan pun.”
Benjamin tertawa kecil, tapi terdengar hambar. “Benar. Hari ini kau berfungsi sebagai sahabat baikku, bukan sebagai pengawal.”
Oliviero mengangguk pelan. “Jadi, apa yang ingin kau ceritakan? Saya mendengarkan.”
“Aku makin kepikiran soal masa lalu orang tuaku,” ungkap Benjamin dengan nada lesu. “Sampai sekarang aku masih berusaha memancing mereka bicara, berharap ada cerita lain yang mereka sembunyikan … tapi nihil. Mereka tetap bungkam. Aku nggak tahu apakah mereka sengaja menutupi sesuatu atau memang benar-benar nggak ada lagi yang perlu aku ketahui.”
Seorang pelayan datang, menginterupsi sejenak untuk mengantarkan kopi. Setelah berterima kasih, Oliviero kembali memusatkan perhatiannya pada Benjamin.
“Aku cuma ingin kepastian,” lanjut Benjamin, mengaduk-aduk cangkirnya tanpa niat meminumnya. “Sebenarnya ada berapa orang yang pernah jadi pihak ketiga dalam hubungan mereka? Hanya Isaac Renauld, papanya Saxon itu? Atau ada orang lain? Bahkan … mungkin Salvatore juga pernah punya pacar di luar sana?”
Oliviero menggeleng, raut wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan. “Maaf, Ben, tapi saya harus menyela. Hal seperti ini bukan sesuatu yang seharusnya kau ketahui,” ujarnya tegas.
Benjamin mendecak, kesal.
“Itu urusan orang tuamu,” lanjut Oliviero. “Kalaupun memang ada nama lain selain Isaac Renauld, itu tetap urusan mereka. Bagaimana mereka menyikapi dan menyelesaikan badai dalam hubungan mereka tanpa mengorbankan yang lain, itu tanggung jawab mereka. Anak tidak seharusnya ikut campur.”
Benjamin mendengus, matanya menyipit tajam. “Kau sama saja seperti ayahku,” gerutunya. “Selalu bilang anak nggak boleh tahu urusan orang tua.”
“Karena memang seperti itu,” sahut Oliviero cepat. “Dan kau bukan orang yang naif, Ben. Kau pasti sudah menyadari ini sejak dulu. Di kalangan mafioso, memiliki gundik bukanlah hal yang aneh.”
Sebuah geraman marah lolos dari tenggorokan Benjamin. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di atas meja.
“Apalagi bos besar yang rupawan seperti ayahmu.” Oliviero mengangkat bahu. “Maaf, ya, bukan bermaksud apa-apa. Saya cuma menyatakan fakta.”
Benjamin semakin mengernyit.
“Jadi buat apa kau memusingkan semua ini?” lanjut Oliviero. “Kita sama-sama tahu, sama-sama sudah dewasa, sama-sama punya kebutuhan. Ya sudah, bersikap cuek saja, apa susahnya?”
Benjamin mengetukkan jemarinya di atas meja, mencoba menahan emosi. Sayangnya, dia tak bisa membantah ucapan Oliviero, karena sialnya, ada benarnya juga.
“Fine.” Suaranya terdengar datar. “Kau bilang anak nggak sepantasnya ikut campur dalam urusan orang tua?”
Oliviero mengangguk.
“Tapi pernahkah kau benar-benar memperhatikan aku dan Emmeline?” Benjamin menatapnya tajam. “Dari sudut mana pun kau melihat, aku dan Emmeline sama sekali nggak mirip Salvatore dan Nicoleta! Aku mirip siapa? Emmeline mirip siapa? Kami ini anak siapa? Anak kandung, anak angkat, atau anak pungut?”
Benjamin terkekeh, tapi nada suaranya getir. “Orang-orang juga berbisik di belakangku, menyebut aku dan Salvatore nggak ada mirip-miripnya. Bukan cuma aku yang merasa begitu. Lalu apakah aku masih nggak pantas mencari tahu di mana saja kelamin ayahku pernah bersarang?”
Oliviero membelalak. “Ssh! Gila kau!” tegurnya, buru-buru melirik sekitar.
Benjamin mengembuskan napas panjang, berusaha meredakan gemuruh dalam dadanya.
“Tenang dulu, Benja,” saran Oliviero. Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Oke, mungkin secara fisik kau dan Emmeline tidak mirip Don dan istri. Tapi secara sifat, bisa saya pastikan kalian memang anak kandung mereka.”
Benjamin menatapnya tanpa ekspresi, seolah masih belum yakin.
“Saya serius,” kata Oliviero, mengangguk mantap. “Atau kalau kau masih ragu, kenapa tidak sekalian tes DNA saja? Seberapa sulit, sih? Diam-diam ambil rambut ayahmu atau ibumu dari sisir mereka, cocokkan dengan punyamu. Setelah itu, kau bisa tenang karena punya bukti kuat.”
Benjamin mendengus. “Seperti sinetron saja,” balasnya.
“Daripada kau spaneng seperti ini!” kelit Oliviero. “Lakukan saja tes itu, biar kau tenang.”
“Lihat nanti,” sahut Benjamin. “Aku malah berpikiran cari tahu sendiri ….”
“Kenapa jadi kembali ke soal mencari tahu, sih?” potong Oliviero. “Sudah saya bilang-”
“KARENA AKU PENASARAN SETENGAH MATI!” Benjamin menyela dengan nada tajam. “Kalau kau nggak mau bantu, ya sudah.”
Oliviero menghela napas, lalu berdecak pelan. “Seolah saya punya pilihan,” gumamnya.
“Bagus. Itu baru sahabatku.” Benjamin menyeringai puas. “Kau masih ingat soal ruang bawah tanah yang terlarang itu? Dulu kita sering bermain di dekat pintu masuknya … lalu langsung kena tegur begitu iseng mencoba membuka gemboknya.”
“Basement terbengkalai itu?” Oliviero mulai menangkap maksud Benjamin.
Benjamin mengangguk mantap. “Kita dilarang keras masuk ke sana, bahkan kuncinya pun disembunyikan. Ayahku bilang, itu cuma gudang penuh barang rongsokan dan debu. Tapi kalau memang cuma itu alasannya, kenapa sampai segitunya? Kenapa harus menyembunyikan kunci? Kenapa pintunya sampai dirantai segala? Logis nggak menurutmu?”
“Kau mau masuk ke sana untuk mencari tahu? Kau pikir jawabannya ada di sana?” Oliviero menantang.
“Kalau nggak dicoba, aku nggak akan tahu.”
“Kau cuma buang-buang tenaga dan waktu.”
“Kalau kau enggan membantu, terserah. Aku tetap akan masuk ke sana.”
Oliviero mengerang, lalu berdecak sekali lagi. “Kau pikir saya bakal membiarkanmu masuk sendirian? Kalau sampai terjadi apa-apa padamu, saya yang bakal kena murka Don, tahu!”
Benjamin menyeringai lebar. “Makanya, kau memang wajib ikut.”
Oliviero menggeleng, setengah pasrah. “Lalu apa rencanamu? Gimana cara kita mendapatkan kuncinya?”
Benjamin mengangkat bahu santai. “Siapa bilang kita butuh kunci?”
Oliviero menyipitkan mata curiga. “Maksudmu?”
“Kita nggak harus masuk lewat pintu yang terlarang itu,” jawab Benjamin enteng. “Kau lupa? Kita bisa masuk lewat pintu lain yang bisa diakses dari pekarangan belakang. Sekarang mungkin sudah tertutup tanaman liar … tapi menurutku itu bukan masalah besar.”
“Baik. Kapan?”
“Nanti malam.”
“Malam??”
“Ya iyalah malam. Kalau siang bakal rentan ketahuan, bagaimana sih?”
“Fine, fine,” sahut Oliviero mengalah. “Saya ikut rencanamu saja.”
Menjelang tengah malam, kedua pemuda itu mengendap-endap di pekarangan belakang rumah Corvino. Mereka sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Setelan serba hitam, sarung tangan, kacamata pelindung debu, serta masker menutupi separuh wajah mereka. Helm bersenter pun telah terpasang di kepala, siap menerangi jalan di dalam kegelapan.
Dengan gerakan lincah dan terukur, mereka berhasil lolos dari pantauan para anak buah Corvino yang berjaga di pos masing-masing. Berbekal ingatan yang masih tajam, mereka melangkah mantap menuju tujuan mereka, sebuah sudut pekarangan yang selama ini sengaja dibiarkan tak terawat.
Di sana, tanaman liar setinggi badan orang dewasa tumbuh lebat, menutupi sesuatu yang tersembunyi di bawahnya. Dengan penuh kehati-hatian, keduanya menyibak dedaunan dan rerumputan tebal, hingga akhirnya menemukan sebuah pintu ganda yang posisinya hampir rata dengan tanah.
Pintu itu tampak reyot, kayunya sudah lapuk dimakan usia, dan yang menguntungkan, tidak ada kunci yang mengamankannya.
Oliviero menarik tuas pintu tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga. Engsel tua itu berderit pelan, lalu terbuka sepenuhnya, memperlihatkan jalan masuk ke dalam kegelapan.
"Nyalakan sentermu, Ben," bisik Oliviero mengingatkan. "Hati-hati, ini langsung tangga turun."
"Aku tahu." Benjamin menyalakan senter di helmnya dan melangkah masuk dengan hati-hati. Oliviero menyusul di belakangnya.
"Jangan tutup pintunya. Biarkan saja," ujar Benjamin pelan, suaranya hampir tenggelam di dalam keheningan ruang bawah tanah yang kini menyambut mereka.
"Lho?"
“Nggak bakal ada yang lihat kalau pintunya terbuka,” sahut Benjamin yakin. “Tanaman liar itu cukup menutupi kita. Biarkan saja. Lagipula, aku nggak mau ambil risiko kalau nanti pintunya malah nggak bisa dibuka dari dalam.”
“Alright, as you wish,” balas Oliviero, mengangkat bahu.
Semakin dalam mereka melangkah ke perut bumi, udara terasa semakin pengap dan sesak. Debu menari di udara setiap kali mereka bergerak, bercampur dengan aroma lembap yang menusuk hidung. Setelah menuruni tangga, mereka menemukan lorong gelap yang berkelok, dipenuhi sarang laba-laba di setiap sudutnya.
Tak butuh waktu lama sebelum mereka tiba di ujung lorong, di mana sebuah pintu tua menyambut kedatangan mereka.
“Aku nggak tahu ada pintu di sini!” desis Benjamin tak percaya. “Bisa dibuka nggak, ya?”
“Semoga tidak dikunci,” sahut Oliviero, mendahului Benjamin untuk menekan tuas pintu.
Pintu itu terbuka sedikit, namun tertahan sesuatu di baliknya. Dengan satu dorongan kuat menggunakan bahunya, Oliviero akhirnya berhasil membukanya lebar. Mereka melangkah masuk, disambut ruangan yang dipenuhi lusinan perabotan usang yang bertumpuk tak beraturan.
Lapisan debu tebal menyelimuti hampir setiap benda, bercampur dengan jejak kotoran tikus yang mengotori lantai.
“Nah, kau mau mulai dari mana?” Oliviero melayangkan pandang ke sekeliling, lalu menoleh pada Benjamin dengan ekspresi ogah-ogahan. “Sebanyak ini barangnya. Sekotor ini. Serius, Ben, apa kau masih yakin?”
Benjamin menatap isi ruangan dengan rahang mengatup rapat. Mata tajamnya menelusuri setiap sudut, berusaha menemukan sesuatu yang tersembunyi di antara tumpukan barang. Tanpa menjawab pertanyaan Oliviero, dia melangkah masuk lebih dalam.
Ruangan itu tidak berbentuk persegi, Benjamin baru menyadari. Ada kelokan di ujung sana. Tanpa ragu, dia mengikuti intuisinya, melangkah lebih jauh ke dalam.
Di sisi lain ruangan, sebuah ranjang besar tergeletak begitu saja. Kasurnya sudah rusak, lapuk dimakan waktu. Benjamin menatap Oliviero dengan bingung.
"Ada ranjang di sini ... siapa yang pernah menempatinya?" tanyanya, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.
Oliviero, yang sama bingungnya, hanya menggeleng pelan.
Di sisi lain, tumpukan perabotan tua memenuhi ruangan. Buffet, lemari, bahkan peralatan dapur seperti termos, microwave, dan dispenser air yang bentuknya sudah ketinggalan zaman, berdebu dan tertutup sarang laba-laba.
"Serius, ada yang tinggal di sini!" Benjamin mendesis ngeri. "Apa ini … semacam penjara?"
Oliviero tak menjawab. Dia menarik pintu salah satu lemari, dan yang ditemukannya membuat bulu kuduknya meremang. Bahan makanan instan yang sudah membusuk, berubah bentuk hingga nyaris tak bisa dikenali lagi.
"Benar, kan, kataku! Ini penjara!" Benjamin semakin gelisah, pikirannya berlari ke segala kemungkinan.
Oliviero mengambil salah satu bungkus makanan yang sudah rusak itu, meneliti sisa-sisa tulisan yang masih terbaca. Di bagian bawah, samar-samar tertera tanggal kedaluwarsa: 28-04-2028.
"Fosil," gumamnya singkat. "Kedaluwarsa dua puluh tahun lalu."
Benjamin mengusap wajahnya, perasaan tak enak semakin menyesaki dadanya. "Gila ... ini benar-benar gila. Siapa yang pernah Salvatore penjarakan di sini?" desisnya tertahan.
Oliviero membuka mulut, hendak menanggapi, namun urung.
Benjamin mengalihkan pandangannya ke sudut lain ruangan. "Ada ruangan lain di sana. Ayo, Ollie!" ajaknya, langsung melangkah tanpa menunggu jawaban.
Mereka masuk ke ruangan berikutnya. Situasinya tak jauh berbeda, tumpukan perabotan usang tersebar di sana-sini. Namun, ada satu hal yang mencolok: di sisi terjauh, sebuah tangga naik menuju pintu ganda yang bentuknya terasa familiar bagi Benjamin.
"Ini ... pintu yang digembok itu," gumamnya, otaknya langsung bekerja menghubungkan layout ruang bawah tanah ini dengan denah rumah di atasnya.
"Oh. Kau benar," sahut Oliviero, matanya menatap pintu di ujung tangga.
"Ayo, kita mulai mencari sesuatu," ujar Benjamin mantap.
"Kau yang punya ide. Saya bahkan tidak tahu apa yang harus dicari," balas Oliviero datar.
Benjamin berdecak. "Apa pun. Bongkar saja lemari-lemari itu!" perintahnya. "Kau cari di ruangan yang ada bahan makanan tadi. Aku akan periksa di sini."
"Baik." Tanpa banyak tanya, Oliviero berbalik, melangkah menuju ruangan sebelumnya.
Begitu Oliviero menghilang di balik pintu, Benjamin merasakan sesuatu yang aneh.
Angin dingin tiba-tiba berembus di tengkuknya, menusuk kulitnya hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Dia menoleh cepat, mengamati sekeliling. Kegelapan yang sedari tadi menyelubungi ruangan kini terasa lebih pekat, lebih menekan.
Jantungnya mulai berdegup lebih kencang.
Samar-samar, Benjamin menangkap sebuah suara. Ia menajamkan pendengarannya, memastikan dirinya tidak salah dengar.
Tangisan.
Suara tangisan wanita, terdengar lirih, pilu.
"Halo?" panggilnya ragu. "Ada orang di sini?"
Tak ada yang menjawab, namun suara itu justru semakin jelas. Tangisan yang menyayat hati, seolah pemiliknya tengah dirundung duka yang begitu dalam.
Benjamin menelan ludah. Sialan. Siapa yang menangis?? pikirnya. Tahanan yang pernah menghuni basement ini??
Lalu, tiba-tiba, suara tangisan itu mereda, hanya untuk digantikan dengan suara lain. Kali ini, tangisan seorang pria.
Benjamin merinding.
Anj*r, apa-apaan sih? Sekarang cowok yang nangis! rutuk Benjamin dalam hati.
Namun, suara itu bukan sekadar tangisan. Pria itu menggerung, marah, penuh keputusasaan.
"Ollie?" panggil Benjamin, berharap mendapat sahutan dari ruangan sebelah.
Tak ada jawaban.
"Ollie!!" serunya lagi, lebih keras.
Oliviero muncul tergopoh-gopoh. "Ada apa?"
"Kau yang nangis barusan?" tanya Benjamin, napasnya sedikit memburu.
"Ha?" Oliviero terperangah. "Nangis? Tidak. Kau-"
"Kau nggak dengar?! Sebelum ini, ada suara perempuan menangis, lalu laki-laki!" potong Benjamin, suaranya tegang.
Oliviero terdiam sesaat, menajamkan telinga.
"Saya tidak mendengar apa-apa ...," ujar Oliviero kemudian.
"Kau bercanda, kan? Suaranya masih ada!" Benjamin semakin panik.
Namun, tepat setelah dia berkata demikian, suara itu perlahan memudar.
"Oh. Hilang sekarang," ujar Benjamin lagi.
Hening.
"Hilang," ulangnya.
Oliviero menghela napas. "Come on, Benja. Kau tidak bermaksud mengatakan ini ulah makhluk astral, kan? Saya tidak percaya."
"Kalau ada, kenapa?” Benjamin balas menatapnya. "Tempat ini ... jelas aneh. Bisa jadi itu suara tahanan yang pernah ada di sini. Entah siapa pun itu."
Oliviero mendecak pelan. "Ya sudah. Anggap saja memang ada. Lalu? Itu artinya kita lebih baik kembali ke rumah, kan?" harapnya.
Benjamin menggeleng mantap. "Nope. Udah sejauh ini, masa batal?"
Ketika Benjamin menengadah, matanya membelalak.
Sebuah tali usang tergantung di plafon, menjulur ke bawah. Ujungnya tampak terpotong, meninggalkan bekas kasar seolah sesuatu pernah menggantung di sana.
Darah Benjamin berdesir.
Tanpa sadar, dia melangkah mundur, menjauh dari titik di mana dia berdiri, tepat di bawah tali itu.
"Ollie," desisnya, nyaris tanpa suara. Matanya tetap terpaku pada tali tersebut. "Lihat ...."
Oliviero mengikuti arah pandang Benjamin dan langsung terperangah.
Mereka saling bertatapan, seolah bisa membaca isi kepala masing-masing.
"Bunuh ... diri ...?" Benjamin akhirnya berbisik.
"This is wild," umpat Oliviero pelan.
"Siapa yang bunuh diri, Ollie??" Suara Benjamin terdengar putus asa.
"Kau pikir saya tahu??"
"Kenapa aku mendengar suara perempuan dan laki-laki menangis?? Ada berapa korban??"
Oliviero tak menjawab. Alih-alih, dia meraih tangan Benjamin dan menariknya menjauh dari titik menyeramkan itu. "Tarik napas dalam, Ben," katanya datar.
Benjamin menuruti, meski dadanya masih bergemuruh.
"Pulang saja," bujuk Oliviero.
Benjamin menggeleng. "Nggak .... Udah kubilang, kita udah di sini. Masa nggak dapat apa-apa."
"Apa masalahnya kalau tidak dapat apa-apa??" timpal Oliviero cepat. "Dengar, sejak awal kita dilarang keras masuk ke basement. Ayahmu sendiri yang memberi larangan itu! Dilarang masuk! Sekarang kau nekat masuk, dan malah mengalami kejadian aneh seperti tadi. Ini salah, Benja. Sangat salah. Kita harus pergi."
"Justru karena kejadian barusan, aku makin yakin ada sesuatu yang disembunyikan di sini," tukas Benjamin keras kepala. "Ayahku memberi larangan keras, menyembunyikan kunci, merantai pintu, lalu kita menemukan semua ini? Ranjang. Bahan makanan. Termos. Microwave! Dan sekarang, tali yang jelas bekas gantung diri?! Kau nggak berpikir itu aneh?!"
"Saya tahu!" Oliviero membalas dengan nada sama sengitnya. "Tapi bukan berarti kau bisa bertingkah seperti detektif! Kau mencari petunjuk, petunjuk apa?! Kalau yang kau temukan malah membawamu ke dalam masalah yang lebih besar, apa yang akan kau lakukan, huh? Saya peringatkan, curiosity kills the cat."
Benjamin memicingkan mata, menatap Oliviero tajam. "Dari tadi kau nggak henti-hentinya membujukku pulang. Kenapa, sih? Kau takut? Menghindari masalah? Kupikir kau, seorang made man, sudah terlatih menumpulkan rasa takut. Aku keliru rupanya."
"Tidak ada hubungannya!" seru Oliviero, ekspresinya mengeras. "Dammit! Saya cuma melindungimu, Benjamin! Itu tugasku!"
“Kalau begitu, pulang saja sendiri.” Benjamin berujar dingin, mengabaikannya, lalu mulai membuka satu per satu laci buffet tua di hadapannya.
Oliviero mendengus gemas, tapi tak membalas. Sejenak dia menimbang-nimbang, sebelum akhirnya mengikuti Benjamin dan mulai membongkar lemari lain.
Diam-diam, Benjamin tersenyum lega. “Lho, nggak jadi pulang?” godanya.
"Cepat temukan apa yang kau cari," sahut Oliviero, tak menggubris. "Saya bantu sebisanya. Tapi lebih baik kita mencari bersama, jangan terpisah."
Benjamin terkekeh. “Nah, itu baru sahabatku!”
Dia kembali sibuk menggeledah. Di dalam laci yang dia buka, kertas-kertas lapuk tersimpan berantakan, tintanya sudah memudar. Benjamin hanya melirik sekilas, sebelum beralih ke laci berikutnya.
Di sebelahnya, Oliviero tiba-tiba menghentikan gerakannya. Dia memungut sesuatu dari dalam lemari, ekspresinya berubah ragu. “Hei,” panggilnya.
Benjamin menoleh cepat. "Apa yang kau temukan?"
Oliviero menyerahkan selembar foto usang. “Lihat ini. Ini ... kau?”
Benjamin mengernyit bingung. Dia mengambil foto itu dan menelitinya.
Seorang pemuda dalam foto menatap tajam ke arah kamera. Bentuk hidung bangir seperti milik Benjamin, sepasang mata tajam di bawah naungan alis tebal. Sekilas, wajah itu memang menyerupai dirinya.
"Mirip denganmu, Ben. Tapi mana mungkin fotomu ada di basement terbengkalai seperti ini?" tanya Oliviero heran. "Lagipula, lihat, kertas fotonya sudah usang begini."
Benjamin semakin serius mengamati. Perlahan, dia menggeleng. "Ini bukan aku. Lihat, orang ini punya bekas luka panjang di pipinya."
Dia membalik foto itu, mencari petunjuk lain. Kosong.
"Siapa orang ini?" gumamnya. Sebersit perasaan aneh menggelayut di benak Benjamin saat melihat foto itu. Tanpa banyak pikir, dia menyelipkannya ke dalam saku.
“Di mana kau menemukannya? Ada lagi mungkin?” tanyanya sambil mendekati lemari yang tengah dibongkar Oliviero.
Di dalam lemari, beberapa amplop tertutup tampak mencurigakan. Tanpa sabar, Benjamin meraihnya dan segera mengeluarkan isinya. Lusinan foto berwarna yang telah pudar akibat usia tersebar di tangannya.
“Ini Don waktu muda,” gumam Oliviero sambil meneliti salah satu foto.
“Kau benar,” sahut Benjamin, memperhatikan lebih saksama. “Ini semua foto ayah. Tapi kenapa ada di sini?”
Benjamin membolak-balik beberapa foto lain. Di dalamnya, Salvatore Corvino muda berpose bersama sepasang suami istri yang sama sekali tidak dikenalnya. Beberapa foto tampak kasual, diambil dalam suasana santai, sementara yang lain lebih formal, ketiganya mengenakan pakaian rapi, layaknya foto keluarga.
“Lalu dengan siapa ayah berfoto?” tanya Benjamin, kebingungan.
“Ini kan foto keluarga. Apa bukan ini kakek dan nenekmu? Masa kau tidak mengenali?”
“Nggak, nggak.” Benjamin menggeleng cepat. “Wajah kakek dan nenek nggak seperti ini. Nggak mirip sama sekali. Beda jauh.”
“Mungkin karena di foto ini mereka masih jauh lebih muda, makanya kau gagal mengenali,” ujar Oliviero.
“Itu nggak mungkin. Di rumah kakek dan nenek juga ada beberapa foto mereka saat muda … wajah mereka nggak seperti di foto ini.”
Oliviero terdiam sejenak, kini ikut bingung.
“Jadi ini siapa?”
"Kau foto saja. Nanti baru kau cari tahu lebih lanjut," usul Oliviero.
Benjamin mengangguk setuju, lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil gambar foto-foto tersebut. "Bongkar lagi, Ollie. Masih ada amplop yang belum kita buka," pintanya tanpa mengalihkan perhatian dari layar.
Saat hendak memasukkan kembali foto-foto ke dalam amplop, Benjamin merasakan ada sesuatu yang tertinggal di dalam. Dia membalik amplop itu, dan sebuah benda kecil jatuh, menggelinding ke kolong buffet.
"Sial," sungutnya pelan. Dia segera berlutut dan mengintip ke bawah. Benda itu tampak berkilauan samar, memantulkan cahaya senter. Namun, tak jauh dari sana, ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya, selembar kertas berlipat-lipat, tertutup lapisan debu tebal.
Entah kenapa, kertas itu terasa penting.
Benjamin mengulurkan tangan, mengambil benda kecil keemasan yang tadi jatuh. Lalu, tanpa ragu, dia menggapai lebih jauh ke dalam kolong, mencoba meraih kertas tersebut. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya benda itu berpindah ke genggamannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Oliviero, masih sibuk membuka amplop satu per satu.
Benjamin berdiri, menunjukkan dua benda yang baru saja dia temukan.
Oliviero mengambil benda kecil berbentuk bulat pipih dengan sebuah kaitan di bagian atas. Dia meneliti sebentar sebelum berkata, "Ini seperti liontin."
"Maksudmu?"
Oliviero menyelipkan kuku di sisi benda itu dan perlahan membukanya. Di dalamnya, terdapat dua foto saling berhadapan, foto Salvatore saat muda dan seorang wanita muda yang wajahnya tak asing. Nicoleta.
"Ini foto papa dan mama!" seru Benjamin tertahan.
"Liontin kenangan seperti ini, kenapa ada di sini?" Oliviero ikut heran. "Kau bawa saja, mungkin orang tuamu luput atau lupa menyimpannya."
Benjamin menggeleng pelan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. "Kau nggak merasa aneh? Normalnya, orang akan menyimpan barang seperti ini baik-baik, apalagi kalau mereka masih rukun dan saling cinta. Masa iya sampai lupa?"
"Oke. Satu keanehan lagi," gumam Oliviero, mengembalikan liontin pada Benjamin.
Benjamin memasukkan liontin itu ke dalam sakunya, ekspresinya semakin masam, pikirannya berkecamuk.
Perhatiannya kemudian beralih pada kertas berdebu yang tadi dia ambil. Perlahan, Benjamin membuka lipatan kertas itu, matanya menyusuri baris-baris tulisan cakar ayam dalam bahasa Sivily.
Bersama Oliviero, dia membaca isi tulisan tersebut:
"Saya hanya ingin hidup tenang bersama Nicoleta. Kenapa saya ada di sini? Kenapa saya harus mengangkat beban seberat ini?"
Oliviero mengernyit. "Nicoleta? Maksudnya ibumu?"
"Kurasa iya," gumam Benjamin ragu.
"Don Salvatore yang menulis ini?"
Benjamin menggeleng, yakin dengan jawabannya. "Ini bukan tulisan ayahku. Papa nyaris nggak pernah menulis dalam bahasa Sivily. Lagipula aku hafal gaya tulisannya. Selalu rapi, lurus, dan tegas. Sedangkan ini ...." Benjamin menunjuk guratan kasar di tiap huruf. "Lihat, ada bekas gesekan tinta. Sepertinya orang yang menulis ini kidal."
Oliviero memperhatikan lebih saksama, menyadari kebenaran ucapan Benjamin. Hampir di setiap kata, ada noda tinta tercoreng seolah tangan si penulis menyentuhnya sebelum kering. "Kau benar. Ayahmu bukan kidal."
"Maka dari itu." Suara Benjamin merendah, tetapi nadanya sarat kecurigaan. "Siapa yang menulis ini? Dan kenapa menyebut nama ibuku?"
Oliviero menghela napas panjang, menatap Benjamin lekat-lekat. "Simpan itu," usulnya sebelum kembali membongkar isi buffet.
Benjamin menuruti perkataan Oliviero tanpa banyak bicara. Ketegangan di raut wajahnya semakin jelas.
Di antara tumpukan barang, mata Oliviero menangkap sesuatu, sebuah amplop putih yang telah menguning dimakan waktu, dengan logo bertuliskan "DNA Testing Laboratory" di bagian depannya. Matanya membesar.
"Benja," panggilnya dengan nada ragu, menyodorkan amplop itu pada Benjamin.
Rasa penasaran yang tiba-tiba menggelegak membuat Benjamin buru-buru membuka amplop dan mengeluarkan isinya. Selembar kertas hasil tes DNA kini ada di tangannya. Dia membaca cepat, napasnya tertahan.
Tes tersebut menunjukkan analisis paternal antara Alfredo Lucchetto dan Salvatore Corvino. Di bagian bawah, tertulis angka 99%, menegaskan bahwa Alfredo adalah ayah biologis Salvatore.
"Apa-apaan ini?!" seru Benjamin, suaranya sedikit bergetar.
"Ini benar-benar sesuatu yang baru," ujar Oliviero, wajahnya tegang.
"A-Alfredo Lucchetto, kan ...." Benjamin tercekat, tak sanggup melanjutkan.
"Don yang terdahulu. Pemilik rumah ini sebelum keluarga Corvino," sahut Oliviero, menggeleng pelan. "Saya tak pernah menyangka ... ternyata mendiang Don Lucchetto adalah ayah kandung ayahmu?"
"Tapi ... tapi ... kenapa disembunyikan??" Benjamin masih sulit mencerna fakta di depan matanya. "Selama ini aku yang aku tahu kakekku masih hidup! Aku sering mengunjunginya!"
Oliviero mengangkat bahu. "Mungkin ada sesuatu di masa lalu yang tak ingin diungkit. Bisa jadi pria yang kau panggil kakek selama ini sebenarnya hanya ayah angkat Don. Tapi ini hanya prasangka belaka.”
Benjamin mengusap wajahnya, frustrasi. "Tapi ... kenapa harus dirahasiakan sejauh ini?"
"Sudah saya bilang, ini bukan hal yang seharusnya kau cari tahu," ujar Oliviero tegas. "Sekarang pertanyaannya, apa yang akan kau lakukan? Kau tak mungkin langsung menanyakan hal ini pada ayahmu. Don bisa murka kalau tahu kau melanggar perintahnya dan masuk ke sini."
Benjamin terdiam, pikirannya berkecamuk.
"I told you so." Oliviero menatapnya tajam. "Kau menemukan hal yang tak seharusnya, dan sekarang malah menambah beban pikiranmu sendiri."
Benjamin menggeleng cepat. "Justru ini bukti kalau aku tidak salah. Ayah memang menyembunyikan sesuatu, dan sekarang aku semakin yakin ada banyak rahasia lain yang belum terungkap." Dia menyelipkan lembaran hasil tes DNA ke dalam sakunya.
“Aku pasti akan mengungkap semuanya, apalagi perihal tes DNA sialan yang bikin jantungan ini,” gumamnya lagi.
"Kau masih mau lanjut mengobrak-abrik basement ini?" Oliviero menatapnya tak percaya.
"Memang kau punya ide lain?" Benjamin balik bertanya.
Oliviero termenung sejenak. "Kau tidak mungkin bertanya langsung pada Don," gumamnya. "Dan saya juga tak bisa membiarkanmu mencari tahu sendirian. Saya harus membantu ... meskipun jujur saja, saya enggan."
Benjamin memperhatikan sahabatnya yang terlihat larut dalam pikirannya sendiri.
"Ah." Oliviero mendadak teringat sesuatu. "Ini kan, rumah peninggalan Don Alfredo Lucchetto. Bukankah beliau punya seorang anak perempuan yang sekarang tinggal di Sviss? Dia pasti tahu sesuatu."
Mata Benjamin melebar, teringat hal yang sama. "Kau benar," desisnya. "Aunty Valeria Lucchetto."
"Yeah. Biasanya dia pulang ke Sivily setahun sekali, kan? Untuk mengunjungi makam Don Alfredo? Dan bukankah itu sebentar lagi?"
Benjamin mengangguk pelan. "Aunty selalu mampir ke sini, menyapa papa dan mama. Lalu mereka mengobrol lama di ruang kerja papa. Tapi aku sendiri nggak terlalu akrab dengannya. Bahkan nggak pernah ngobrol berdua. Kau yakin dia tahu akan keanehan di sini?"
Oliviero mengangguk mantap. "Kecuali dia benar-benar apatis, saya yakin dia tahu sesuatu. Kau bisa menanyakannya diam-diam."
Bab 19 – The Real Reeve Galante
Siang itu, Salvatore tengah berkumpul bersama para kapten dan wakilnya di ruang kerja, membahas kabar terbaru di lingkup internal klan Corvino. Para peserta pertemuan rata-rata seumuran dengannya, orang-orang yang telah bertahun-tahun mengabdi dan membuktikan kesetiaan mereka.
Di antara mereka, dua sosok yang paling dipercayai Salvatore adalah wakil dan penasihatnya. Matteo Bianchi, sang wakil, adalah pria bertubuh tinggi dengan hidung bengkok dan postur sedikit membungkuk. Sementara Luigi Lombardo, penasihatnya, memiliki tubuh gempal dan wajah bundar. Sekilas, dia tidak tampak seperti seseorang yang terlibat dalam organisasi kejahatan paling berpengaruh di Iralia.
Menjelang akhir pertemuan, Matteo Bianchi maju mendekati Salvatore, menyerahkan sebuah map kulit berisi berkas laporan.
“Sebelum pertemuan berakhir, izinkan saya menyampaikan laporan tambahan, Don," ujarnya. "Dari hasil pencarian yang Anda minta, kami telah menemukan informasi mengenai teman-teman baru Tuan Benjamin dan Nona Emmeline. Mereka adalah Saxon Renauld, Felizia Agnelli, dan Denver Granville Jr. Foto-foto mereka sudah Anda terima sebelum ini."
Matteo berhenti sejenak sebelum melanjutkan, suaranya lebih serius.
"Selain itu, sesuai perintah Anda, kami telah menggali lebih dalam mengenai Denver Granville Jr. Inilah hasilnya, Don."
Tak sabar, Salvatore membuka map dan mulai membaca. Matanya berlari menelusuri setiap kata, dan seiring berjalannya waktu, ekspresinya semakin menegang. Apa yang tertulis di sana adalah sesuatu yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Matteo Bianchi dengan nada tenang namun serius menjelaskan, “Ibu dari Denver Jr., Jessica Castellano, yang juga sepupu Don Kevin Castellano, ternyata selamat secara ajaib dari kecelakaan pesawat di hutan Eastland. Ia melahirkan Denver Jr. di tengah hutan, seorang diri. Mereka kemudian ditemukan dan diselamatkan oleh sepasang suami istri yang membantu menyokong hidupnya bersama bayinya.
Sementara itu, sang ayah, Denver Granville Sr., juga selamat dari kecelakaan tersebut setelah sempat melompat dari pesawat sebelum jatuh dan terbakar. Namun, dia baru bertemu kembali dengan Jessica dan anaknya setelah 14 tahun terpisah. Saat ini, keduanya tinggal di kota Leighryn.”
Matteo berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Yang perlu Anda perhatikan, Don, selamatnya Jessica dan Denver Sr. tidak pernah tercatat dalam laporan resmi. Hingga kini, mereka masih terdaftar sebagai korban meninggal.”
Luigi Lombardo, yang sejak tadi menyimak, menyuarakan analisanya. “Saya berani berasumsi ada campur tangan Don Maurice, bos Castellano terdahulu. Bisa jadi dia sengaja menghapus catatan keberadaan putrinya untuk melindunginya.”
Salvatore tak segera menanggapi. Tatapannya tetap terpaku pada dokumen di tangannya, sementara pikirannya berputar cepat. Setelah beberapa jenak, dia menarik napas dalam dan mengembuskannya berat. Dia lantas meraih dua lembar foto yang terjepit di dalam paper clip, satu foto Denver Granville Sr., satu lagi Denver Granville Jr., lalu melemparkannya ke atas meja.
“Ikuti pergerakan senior dan junior ini,” titahnya tegas. “Terutama si junior. Dia sudah ada di sini sejak lama.”
“Siap laksanakan, Don,” jawab Matteo sigap.
Salvatore masih tampak tegang. Namun, dia segera bangkit, mengancingkan jasnya, lalu menatap sekeliling ruangan. Dengan suara penuh wibawa, dia berkata, “Gentlemen, terima kasih atas waktu kalian. Kita bertemu kembali Jumat depan.”
Usai berkata demikian, Salvatore beranjak keluar ruangan dengan langkah mantap. Dari sudut mata, dia melihat Luigi tergopoh-gopoh menghampiri, lalu dengan cepat menyesuaikan langkah di sisinya.
"Don, apakah Anda akan berkunjung ke San Leona sore ini?" tanya Luigi.
Salvatore mengangguk singkat. "Siapkan mobil, Luigi. Tanya anak-anakku juga, apakah mereka ingin ikut ke sana."
Tak jauh dari gerbang rumah Corvino, di kamar guest house yang disewanya, Max menguap lebar, bosan setengah mati menunggu pergerakan. Sudah beberapa minggu terakhir dia fokus mengintai rumah Corvino, menaati perintah terakhir Donna Antonella. Setiap kali Salvatore keluar, Max selalu mengikuti, menjaga jarak aman. Dia bergerak dengan sangat hati-hati, atau mungkin hanya beruntung, sebab sejauh ini keberadaannya tidak pernah memicu kecurigaan para pengawal setia Don Salvatore.
Gerbang besi besar yang menjadi satu-satunya akses kendaraan ke rumah itu menjulang kokoh, dihiasi emblem siluet gagak hitam berparuh tajam yang mencengkeram sebuah rantai patah, lambang keluarga Corvino. Nama Corvino sendiri berarti "gagak" dalam bahasa Iralia, dan di dunia bawah tanah, itu bukan sekadar nama, melainkan sebuah peringatan. Sebab semua orang tahu satu hal: jangan macam-macam dengan mereka yang membawa lambang gagak. Mereka jarang terlihat, tapi bayangannya ada di mana-mana … mengintai dari kejauhan, menghakimi dalam diam. Bila kau membuat salah satu dari mereka tersinggung, kau tak akan mendengar ancaman. Yang akan datang hanyalah senyap ... lalu kematian.
Menjelang pukul empat, ada pergerakan dari arah rumah Corvino. Max menyambar binokular dan segera mengintip dari balik lensa. Dua mobil hitam berlapis anti peluru meluncur perlahan melewati gerbang.
Max segera melompat dari tempatnya, meraih kunci lalu keluar dari kamar, menaiki motornya. Selama kurang lebih 90 menit, dia disiplin menjaga jarak dengan rombongan mobil Corvino. Hingga akhirnya mereka tiba di San Leona, sebuah kawasan di ujung pulau Sivily.
Orang itu ke sini lagi, batin Max. Jika diperhatikan, Salvatore selalu datang ke tempat ini setiap Jumat sore. Ke rumah di ujung jalan, yang ditumbuhi pohon bougainville biru. Rumah siapa sebenarnya?
Benar saja, mobil yang membawa Salvatore berhenti di depan rumah dengan pekarangan luas yang penuh tanaman bougainville biru. Rumah itu tidak mewah, lebih cenderung sederhana, namun memiliki daya tarik tersendiri dengan pemandangan laut lepas tepat di belakangnya.
Max memarkirkan motornya di depan sebuah minimarket yang terletak di posisi strategis, menghadap langsung ke jalan masuk rumah tersebut. Dengan sikap santai, dia mengambil minuman kemasan dari lemari pendingin, sesekali melirik ke arah rumah di ujung jalan. Dia menyaksikan Salvatore turun dari mobil, sendirian, lalu masuk ke dalam rumah.
Biasanya Salvatore menghabiskan waktu hingga malam di sini, pikir Max, mengingat pengamatannya selama beberapa pekan terakhir.
Maka dia mengambil beberapa camilan kecil, membayar di kasir, lalu duduk di area outdoor minimarket. Topi yang dikenakannya dia atur sedemikian rupa agar lebih menutupi wajahnya. Dengan begitu, dia bisa tetap mengamati sekitar tanpa menarik perhatian, berpura-pura sebagai turis asing yang tengah menikmati suasana sore.
Bagaimana cara mencari tahu rumah siapa yang Salvatore datangi? Max memutar otak.
Pandangannya bertumbuk pada seorang pria paruh baya di meja sebelah, sibuk dengan ponsel dan rokoknya. Saat pria itu meletakkan ponselnya dan tanpa sengaja bertemu pandang dengannya, Max memanfaatkan kesempatan.
Dia tersenyum ramah. "Cuaca yang bagus, ya?" sapanya dalam bahasa Sivily.
Pria itu menoleh sekilas dan menjawab cuek, "Ya."
"Maaf kalau saya mengganggu," lanjut Max, menjaga nada suaranya tetap sopan. "Anda sudah lama tinggal di sini?"
"Seumur hidup saya," jawab pria itu singkat, tampak enggan berbasa-basi.
"Beruntung sekali!" Max berpura-pura antusias. "Saya tertarik mencari rumah di daerah ini. Apakah Anda tahu ada rumah yang dijual?"
Pria itu menatap Max lebih lama, curiga di matanya mulai mengendur. "Anda bukan orang sini?"
Max menggeleng. "Bukan. Tapi saya ingin sekali bisa tinggal di sini," ujarnya.
Pria itu mengembuskan asap rokoknya pelan. "Sayang sekali, Anda mungkin harus mencari di tempat lain. Di sini tidak ada rumah yang sedang atau akan dijual. Wilayah ini sejak dulu milik mendiang Don Alfredo Lucchetto. Anda tahu orang besar itu, kan?"
Alfredo Lucchetto, pendahulu Salvatore Corvino. Nama ini semakin sering muncul. Max mengingat kembali informasi yang pernah didapatnya. "Tentu saya tahu siapa beliau. Jadi seluruh kawasan ini adalah miliknya?"
"Benar. Salah satu dari banyak propertinya. Taman umum di depan sana, sampai batas laut, juga miliknya. Beliau membagi-bagikan wilayah ini kepada orang-orang yang pernah mengabdi padanya, bahkan membangun rumah untuk mereka." Ada nada bangga dalam suara pria itu.
Max memasang ekspresi kagum. "Jadi ... Anda sendiri pernah mengabdi pada mendiang Don Lucchetto?"
"Tentu. Keluarga saya sudah mengabdi turun-temurun. Saat ini posisinya sudah digantikan Don Salvatore Corvino, yang sama bijaknya. Tapi saya sendiri sudah tidak lagi mengabdikan diri ... karena satu dan lain hal."
Max mengangguk-angguk, menyerap informasi.
"Itu, mobil Don Corvino," ujar pria itu tiba-tiba, menggerakkan dagunya ke arah rumah di ujung jalan. "Beliau sedang berkunjung ke sana."
Max melirik sekilas ke arah yang ditunjuk. "Ah, iya, saya melihat mobil itu lewat tadi. Rumah indah yang beliau kunjungi itu ... juga tidak ada niat untuk dijual?"
Pria itu tertawa kecil, nada bicaranya meremehkan. "Sudah saya bilang, di sini tidak ada rumah yang akan dijual. Apalagi rumah di ujung itu! Itu rumah yang Don Lucchetto buatkan untuk kakaknya. Tidak mungkin berpindah tangan."
"Ah, begitu." Max berpura-pura kecewa.
"Meski Tuan Michael Lucchetto, kakak Don itu, sudah lanjut usia ... kurasa pihak keluarga tetap tidak akan membiarkan rumah itu dijual."
"Saya mengerti," kata Max, lalu berpura-pura berpikir sejenak sebelum menambahkan, "Tapi apakah tidak membuat khawatir, lansia menghuni rumah sebesar itu sendirian?"
Pria itu menggeleng. "Tidak sendirian. Istrinya masih sehat, namanya Corinna, seingat saya. Dan ada dua asisten sekaligus penjaga rumah. Selain itu, kami para tetangga juga sering membantu jika dibutuhkan. Mereka aman. Don Corvino sendiri rutin menjenguk, persis seperti anak menjaga orang tuanya. Kurasa karena Don Lucchetto sudah mempercayakan Michael Lucchetto kepada Don Corvino."
Ini aneh, pikir Max. Kalau bukan orang tua sendiri, kenapa harus repot-repot berkunjung setiap minggu? Kalau memang hanya sekedar menjaga kepercayaan dari pendahulunya, bukankah cukup dengan hanya mendengar laporan dari para asisten dan penjaga rumah? Sepertinya ini bisa jadi petunjuk.
Malam mulai turun, namun Salvatore masih belum keluar dari rumah tersebut. Max sudah menghabiskan beberapa botol minuman dan melihat banyak orang datang serta pergi dari minimarket ini. Dia sudah muak menunggu.
Saat itu juga, dia mengambil keputusan. Saatnya mengintai lebih dekat.
Memanfaatkan bayangan pepohonan yang gelap, Max bergerak tanpa suara, memperpendek jarak ke rumah yang dikunjungi Salvatore. Dia bersembunyi di balik pagar bercelah, cukup untuk mengawasi keadaan tanpa terlihat.
Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka. Salvatore keluar, diantar sepasang suami istri lanjut usia yang tersenyum cerah melepas kepergiannya.
Max segera mengangkat kameranya. Dalam sekejap, dia mengambil beberapa foto pasangan suami istri lanjut usia itu.
Max menahan napas saat dua mobil hitam berlapis anti peluru milik Salvatore melintas di sampingnya. Dia tetap diam di tempat, memastikan tidak ada yang menyadari kehadirannya. Begitu mobil-mobil itu berlalu, dia menghela napas lega dan segera beranjak kembali ke minimarket untuk mengambil motornya.
Sebelum menaiki motor, Max merogoh saku, mengeluarkan ponsel, lalu menekan nomor Antonella.
“Halo,” jawab suara di seberang.
Max langsung mengernyit. Ini bukan suara Antonella.
"Alvaro?" tebaknya.
"Ada apa?" sahut pria di ujung sana, datar.
"Kenapa kau yang angkat? Mana Antonella?"
"Antonella sedang meeting online dengan orang-orang kami di New Yord. Kalau kau ada perlu, katakan saja, nanti kusampaikan.”
Max mendengus pelan. "Aku minta waktu untuk meeting. Ada hal yang harus Antonella ketahui."
"Baik. Kau ke sini saja sekarang," jawab Alva. "Setelah meeting dengan New Yord, Tonie nggak ada agenda lain."
Max menyeringai, nada suaranya berubah iseng. “Kau ini seperti asisten pribadinya saja. Merangkap, ya? Atau … apa pun dilakukan demi Antonella tersayang?” godanya.
Sejenak tidak ada jawaban dari seberang. Lalu Alvaro akhirnya berkata, “Terserah apa katamu. Nanti sebelum bertemu Antonella, temui aku dulu. Ada yang ingin kubicarakan juga.”
"Tumben."
"Aku tunggu."
Sambungan terputus.
Max menatap layar ponselnya, mengernyit kecil. Apa yang sedang direncanakan Alvaro?
“Aku hanya akan mengatakan sekali ini padamu. Jauhi Zia.”
Alva menyambut kedatangan Max tanpa basa-basi, suaranya dingin dan tajam.
“Huh?” Max melongo, bingung.
“Aku tahu kau sering memanfaatkan kesempatan dengan Zia. Dia juga bodoh, seharusnya menolakmu dari awal supaya kau nggak kebiasaan. Cukup! Sudahi permainanmu. Aku nggak mau Zia ketularan sifat tengilmu itu.”
Nada suara Alva tetap datar, tapi sorot matanya menusuk. Tangannya bersedekap di depan dada, tubuhnya sedikit condong ke depan, seolah siap menghadapi apa pun reaksi Max.
Max mengerjapkan mata sebelum akhirnya menangkap maksud Alva. Alih-alih tersinggung, dia justru tertawa sinis. “Apa yang terjadi antara aku dan Zia itu urusan kami. Apa hakmu ikut campur?”
“Aku kakaknya. Jelas aku punya hak, tolol.”
Max menyeringai. “Kau cuma berlindung di balik status kakak. Padahal aslinya kau iri, kan?”
Dia menatap Alva dengan ekspresi mengejek. “Kau lagi spaneng, ya? Mau main-main dengan Tonie pun … wah, nggak mungkin. Wajar sih, kalau kau di ujung kepala. Cari di luar saja, Al. Atau mau aku carikan? Tipemu yang seperti Tonie, ya? Nggak ada alternatif lain? Yang beda jenis, misalnya?”
Wajah Alva menegang. Dengan gerakan cepat, dia mencengkeram kerah baju Max, nyaris menghantam wajah pemuda itu dengan tinjunya—
Namun langkah kaki terdengar mendekat.
“Alva? Max?”
Keduanya menoleh bersamaan. Zia berdiri di ujung koridor, melangkah santai ke arah mereka.
Alva melepaskan cengkeramannya dengan enggan, sementara Max justru semakin menyeringai lebar.
“Aunty masih meeting di dalam?” tanya Zia.
Alva menggeleng. “Sudah selesai. Masuk saja,” jawabnya sambil memberi jalan pada Zia.
Zia mengamati mereka sekilas. “Kalian lagi ngapain? Gelut lagi?”
“Nggak. Ayo masuk.” Alva buru-buru mendorong punggung Zia pelan, menggiringnya melewati pintu menuju kamar Antonella.
Mau tak mau, Alva menelan bulat-bulat rasa kesalnya pada Max. Meski rasanya ingin sekali menghajar pemuda itu sampai lebam, dia masih ingat ancaman Antonella jika mereka sampai bertengkar.
Dan Max tahu itu. Namun, bukannya menjaga sikap, dia justru bersiul riang, sengaja duduk di sebelah Zia, bahkan merangkul gadis itu tanpa ragu.
Alva hanya menatapnya dingin.
“Hai, guys, kalian sudah berkumpul.”
Antonella menyapa mereka tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya. Beberapa detik kemudian, ia menyerahkan tablet itu pada Alva.
“Al, tolong baca laporan dari Vince nanti. Aku baru sempat membaca sebagian.”
Alva mengangguk, menerima tablet, lalu mulai menggulir layar.
Antonella menoleh ke arah Max. “Jadi, ada laporan urgent apa malam ini?”
Max menarik napas panjang sebelum mulai berbicara. “Aku baru menyadari pola rutinitas Salvatore. Setiap Jumat sore, dia selalu pergi ke San Leona, sekitar 90 menit dari sini. Dia mengunjungi rumah yang dihuni oleh sepasang suami istri lansia … dan selalu sampai malam.”
Antonella dan yang lain memasang ekspresi serius.
“Menurut warga lokal,” lanjut Max, “kawasan San Leona adalah properti milik mendiang Don Lucchetto. Dia bermurah hati membagikan tanah di sana untuk orang-orang yang pernah mengabdi padanya, bahkan membangunkan rumah bagi mereka. Rumah yang dikunjungi Salvatore juga miliknya. Saat ini ditempati kakak Don Lucchetto, Michael Lucchetto, beserta istrinya, Corinna. Mereka tinggal bersama dua asisten rumah tangga dan penjaga.”
Antonella menyipitkan mata. “Kakak dari mendiang Don Lucchetto?”
“Benar.” Max mengangguk mantap. “Menurut warga, Don Lucchetto mempercayakan Michael Lucchetto pada Salvatore Corvino. Tapi, menurutku agak aneh ya …. Seorang Don yang sibuk seperti Salvatore Corvino seharusnya cukup menerima laporan bahwa Michael dan istrinya masih sehat–sehat. Itu saja intinya, kan? Kenapa Salvatore sampai harus repot mengunjungi Michael dan istrinya setiap Jumat sore? Dan selalu sampai malam?”
Antonella terdiam sejenak, berpikir. “Apa kamu sempat mengambil foto? Bisa kamu perlihatkan atau kirim padaku?”
Max mengangguk. “Yap.”
Dia menyalakan proyektor dan mulai menampilkan isi galeri ponselnya. Foto pasangan lansia yang dia intai tadi sore terproyeksikan di layar. Dia juga mengirim foto-foto itu ke ponsel Antonella.
“Sudah kukirim, Tonie.”
“Oke, thanks. Sudah kuterima,” sahut Antonella, matanya terpaku pada layar ponselnya.
Beberapa saat, tak ada yang bersuara.
Lalu, Alva membuka suara. “Bagaimana pendapatmu, Tonie?”
Antonella menghela napas. “Aku curiga mereka ini orang tua Salvatore.” Ia mengamati foto itu lebih saksama. “Tapi … kenapa wajah mereka berbeda dari foto yang tempo hari kau tunjukkan, Max?”
Max langsung menyahut, “Benar, kan? Aku juga curiga begitu!”
Antonella mengangguk. “Aneh memang. Kalau bukan orang tuanya, apa alasannya sampai menghabiskan waktu di sana tiap minggu?” katanya. “Aku sudah minta Vince cari tahu nama orang tua kandung Reeve Galante. Sebentar lagi dia akan mengabari.”
Tidak beberapa lama kemudian ponsel Antonella berdering nyaring. Ia mengaktifkan loudspeaker setelah menjawab, “Gimana, Vince? Ketemu?”
Suara berat di seberang menyahut, “Yeah, aku sudah menemukannya. Orang tua kandung Reeve bernama Michael Galante dan Corinna.”
Desis lega spontan meluncur dari bibir ketiga anak muda yang bersama Antonella.
Vince melanjutkan, “Mereka menghilang lebih dari 20 tahun lalu, tanpa ada laporan. Michael Galante berasal dari Patermo, lalu pindah ke Amerida setelah orang tuanya tewas. Dia meninggalkan adik angkatnya, Alfredo Lucchetto … kau tahu siapa dia, kan?”
Max langsung merinding. Nama Alfredo Lucchetto semakin sering muncul dalam penyelidikan mereka. Dia menoleh ke Antonella, yang jelas berpikiran sama.
“Alfredo Lucchetto? Pendahulu Salvatore Corvino itu?” tanya Antonella kemudian. “Kau yakin, Vince?”
“Ini informasi dari mulut ke mulut. Sumbernya berasal dari Sivily, tentu saja. Kau ingin aku menyelidiki lebih lanjut mengenai ini?”
“Ah. Kau sudah repot dengan urusan di sana, fokus sajalah dengan itu. Nanti kalau aku butuh sesuatu lagi, aku akan menghubungimu,” jawab Antonella.
“Baik. Aku sudah kirimkan foto Michael Galante dan Corinna ke nomormu dan Alva. Siapa tahu kalian membutuhkan fotonya juga,” ujar Vince.
“Oke. Kau sudah sangat membantu, Vince. Terima kasih.”
Tanpa diperintah, Alva sudah memperlihatkan foto Michael Galante dan Corinna melalui proyektor, berdampingan dengan foto Michael Lucchetto dan Corinna yang Max tampilkan.
“Damn,” Max berseru pelan. “Mereka orang yang sama! Fix!”
Antonella mengangguk puas.
“Jadi artinya, Salvatore Corvino itu benar-benar Reeve Galante, kan, Aunty?” Zia memandangi Antonella, mencari konfirmasi.
Antonella tersenyum tipis. “Confirmed.”
“Berarti Kevin nggak berbohong,” sahut Zia.
Alva spontan meringis. Ucapan itu terdengar seperti pembelaan terhadap Kevin Castellano, dan jelas dia tidak suka.
“Konyol,” sahutnya kemudian, memilih untuk tetap menyetir arah pembicaraan pada orang tua Salvatore. “Orang tua Salvatore alias Reeve ini sama sekali nggak totalitas. Kalau memang mau mengubur jejak keberadaan Reeve, seharusnya mereka sekalian rekonstruksi wajah seperti yang Salvatore lakukan.”
“Atau, Salvatore berhenti mengunjungi orang tuanya itu, supaya nggak ada mata-mata seperti aku yang berhasil mengikuti rutinitasnya,” sambung Max dengan bangga.
“Sudah 20 tahun, mungkin kewaspadaannya sudah jauh menurun sekarang,” balas Alva.
Antonella menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum. “Kalian semua sudah bekerja dengan sangat baik. Good job! Sekarang, kita bisa melangkah lebih jauh tanpa keraguan.”
Max mencondongkan tubuh. “Jadi, langkah selanjutnya apa?”
Tak ada yang langsung menjawab. Seisi ruangan terdiam.
“Entah ini bisa dijadikan bahan pertimbangan atau tidak,” celetuk Alva kemudian, matanya tak lepas dari layar tablet di tangannya. “Ada berita menarik dari New Yord. Bisnis kloning beroperasi lagi saat ini.”
“Kloning?” Zia membeo.
“Klon,” gumam Antonella. “Cyborg yang membuat hidup banyak orang menjadi hancur. Bisnis itu berjalan lagi?”
“Ada di laporan yang Vince kirim,” jawab Alva. “Mungkin ini absurd. Tapi, apakah mungkin, kita manfaatkan kloning untuk menghasut Saxon Renauld? Laboratorium kloning itu juga menawarkan operasi Mind Transfer, namun untuk operasi ini, dibutuhkan dua individu. Satu si klien yang ingin pemikirannya dikopi, dan satu lagi, relawan yang bersedia memberikan otaknya untuk dihapus dan menerima pikiran si klien. Aku akui operasi ini sangat absurd, gila. Dan daripada disebut relawan, jauh lebih baik disebut korban, sebab ini bentuk lain dari pembunuhan.”
Antonella tampak serius mendengarkan Alva. “Mereka yang berada di balik bisnis kloning itu benar-benar semakin serakah dan gila,” sahutnya. “Kurang nir-etika apa, menciptakan cyborg untuk klien? Sekarang, ada Mind Transfer, dan harus mengorbankan orang lain pula? Sinting.”
“Ini menarik, lho,” balas Max. “Lanjut, Al, jadi apa rencanamu pada Saxon?”
Alva menatap Max lekat-lekat. Semakin lama, semakin jelas baginya bahwa Max memiliki bakat psikopat yang hanya menunggu pemicunya untuk muncul ke permukaan.
“Oke, anggap operasi semacam ini adalah hal wajar dan nggak absurd sekaligus gila. Yang ada di kepalaku … Saxon sangat berambisi untuk menjadi made man, benar? Tapi dia bukan Iralian, sampai kapan pun dia nggak akan bisa menjadi made man. Kita hasut Saxon, supaya dia mau menjalankan operasi Mind Transfer, dan mengorbankan pemuda Iralia. Ini contoh saja ya. Misalnya dia mengorbankan Oliviero, yang sudah menjadi made man sesungguhnya. Oliviero menjadi kloningan Saxon, yang nantinya bisa kita setir supaya mau mendekati Salvatore dengan menculiknya, atau langsung menghabisinya, atau bagaimanalah. Dan untuk melakukan hal ini, kita harus intens mendekati Saxon dan mendapatkan kepercayaan darinya, sampai dia loyal pada kita,” tutur Alva.
Mata Max berbinar mendengar ide gila yang terlontar dari Alva. Ekspresi wajahnya berubah seketika, penuh ketertarikan. Tanpa dia sadari, Alva mengamati perubahan itu dengan saksama, semakin yakin bahwa ada sesuatu yang melenceng dalam diri Max, sesuatu yang selalu terselubung di balik sikapnya yang santai dan menyebalkan.
Max terkekeh pelan. “Menarik. Sangat menarik.”
“Ini adalah praktik orang makan orang. Malang banget siapa pun yang bakal jadi tumbal,” ujar Antonella.
“Psikopat sih, menurutku,” balas Alva. “Aku nggak menganjurkan, tapi bisa jadi jalan ekstrem demi mencapai misi. Tinggal bagaimana pilihan kita, tempuh cara cantik, atau cara ekstrem?”
“Psikopat.” Max mendengus geli. “Kau sudah hilangkan nyawa berapa orang? Zia pernah? Antonella pernah? Aku meragukan kalian ladies pernah mengotori tangan kalian. Alva yang kupertanyakan. Aku ingin tahu seberapa tinggi level psikopatmu.”
Alva hanya memasang wajah dingin, ekspresinya datar, enggan menanggapi lebih jauh. Tatapannya tetap tajam mengunci Max, seolah membaca isi pikirannya.
“Realistis sajalah. Kita blak-blakan saja sekarang,” tantang Max. “Kau punya darah psikopat, dari ayahmu. Berapa banyak korban ayahmu, Flavio Maranzano yang melegenda itu? Aku sendiri, aku berbesar hati mengakui kalau aku psikopat. Ayahku Roman Burgueno pernah menghasut para tetua Komisi Tinggi untuk memberikan persetujuan agar kakekku, Alphonse Burgueno dilenyapkan. Dan berlusin-lusin perintah agar melenyapkan nyawa orang lain pernah dia berikan pada anak buahnya. Kita semua berada di level psikopat yang kurang lebih sama, bukan? Nggak usah sok memilih bermain cantik. Kalau bisa ekstrem, ya ekstrem sekalian.”
Hening. Tidak ada yang berani menyela maupun mendebat, entah karena enggan terlibat atau karena tahu bahwa percakapan ini bisa dengan mudah berubah menjadi sesuatu yang lebih kelam.
“Damn, guys.” Max akhirnya bersuara lagi, tampak tak senang dengan keheningan yang tercipta.
“Kita berempat bisa berada di sini, sama-sama berambisi menuntut balas pada Reeve Galante pun, adalah salah satu bentuk tindakan psikopat. Manipulatif? Aku dan Zia yang terjun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan orang lain, checked. Melanggar norma sosial, pelanggaran hukum serius? Pada akhirnya kita akan melakukan sesuatu yang melanggar, benar? Checked! Terlepas dari dosa si Reeve itu, dia tetap manusia yang memiliki hak asasi, dan tidak boleh ada yang dengan sengaja melenyapkan nyawanya. Di mata kita, sesuai justifikasi perbuatan kita, dia adalah sasaran. Benar, kan? Sekarang apa bedanya kalau kita jalani ide brilian Alvaro, hanya perkara kita nggak perlu peduli pada nasib siapa pun yang jadi tumbal, dalam hal ini, Oliviero.”
Zia, yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara. “Kamu sebenarnya thoughtful ya, Max.” Ada nada ironis dalam suaranya. “Yaah … suka nggak suka, aku sendiri harus mengakui ada bakat itu. Perbuatan Flav, ayahku … sudah jelas. Ditambah ibuku.”
Antonella terperanjat. “Apa … apa maksudmu, Zia?”
“Aunty dan Alva nggak akan pernah tahu karena Ibu nggak akan cerita pada kalian. Tapi … ibu pernah melakukan hal yang sama. Ibu sendiri yang mengatakannya padaku,” ujar Zia tenang.
Antonella membelalak. “Anja … Anja pernah …?” Suaranya terdengar tidak percaya. “Siapa?”
Zia menggeleng pelan, menolak menjawab. “Soal siapa dan penyebabnya, aku nggak akan spill. Ini rahasia ibu. Aku sadar aku salah karena mengungkit ini, tapi cukup sampai di sini saja. Aku hanya ingin kalian tahu bahwa aku juga punya warisan bakat yang sama, baik dari ayah maupun ibu.”
“See? Kita semua psikopat, hanya berbeda level,” timpal Max. “Nggak usah pikirkan gengsi. Akui saja, biar lepas dan enak. Jadi, masih mau bermain cantik?”
“Aku hanya ingin membalas dendam atas kematian ayahku. Aku menolak disamakan denganmu, psikopat,” cetus Alva.
“Itu! Bukankah tadi sudah kusebutkan? Balas dendam juga adalah bentuk dari psikopat, karena nggak memikirkan hak asasi orang lain, terlepas dari kesalahan orang itu,” sahut Max cepat. Dia memandangi Alva penuh arti. “Kau ini sibuk menyangkal diri, Alva, padahal kau sendiri yang mengutarakan ide brilian namun di luar nalar seperti tadi.”
Alva terlihat gelisah di kursinya.
Max masih mencecar, “Kutanya, apakah Flavio Maranzano pernah memintamu untuk membalas dendam? Aku yakin tidak, beliau sudah meninggal. Keinginan itu dari kau sendiri, Alva. Egomu terluka, dan kau membutuhkan pelampiasan agar luka itu terobati, dan agar egomu terpuaskan. Kau akan melanggar hak asasi orang lain, meski sebenarnya dia juga bersalah. Kau akan melanggar hukum secara serius. Kau akan melanggar norma, itu sudah pasti. Kau bisa sampai titik ini karena kau mengizinkan itu semua untuk terjadi, karena dorongan untuk membunuh sedemikian besarnya dalam dirimu. Jadi, kalau memang kalian punya ‘bakat alami’, kenapa masih ada perlawanan batin? Bukannya seharusnya ini menjadi sesuatu yang lebih mudah untuk diterima?”
Max masih belum puas berbicara. “Aku sendiri psikopat, ayahku psikopat, dan ayahku pun mendukungku untuk balas dendam. Setidaknya aku masih punya ayah yang masih hidup, yang memang menginginkan pembalasan itu terjadi.”
Alva mendengus, tak tahu harus menjawab apa.
Max menyeringai, semakin menikmati situasi. “Lihat, akhirnya Alva mulai goyah.”
Antonella akhirnya angkat bicara. “Baik, Max, aku sudah menangkap semua maksudmu,” katanya tenang. “Kita semua ada di titik yang sama karena telah membuat pilihan. So be it.”
Alva menoleh tajam. “Kau setuju, Tonie?!” Nada suaranya terdengar marah dan tak percaya. “Kok?!”
“Alva ini makin lama makin lucu,” ledek Max. “Dia sendiri yang punya ide, tapi dia juga yang nggak setuju pada ide yang dia lontarkan.”
Zia terkekeh. “Alva kalah suara, terima saja.”
Perhatian Zia teralihkan begitu ponsel miliknya bergetar, sebuah panggilan yang membuat keningnya berkerut heran.
“Baik, kita putuskan,” ujar Antonella tegas. “Tugas untuk mendekati dan mempersuasi Saxon soal Mind Transfer kuserahkan padamu, Alva.”
“Lho??”
“Kau itu ogah-ogahan bergaul dengan Benjamin dkk … harus dipaksa,” sahut Antonella kalem.
"Yeah." Max tertawa ringan. "Siapa tahu kau bisa lebih dekat dengan cewek-cewek. Jadi nggak spaneng terus. Itu pun kalau kau tahu cara mengambil kesempatan." Dia menyeringai. "Masa masih perlu diajari?"
Alva menatapnya dingin, tetapi Max justru semakin menikmati reaksinya.
"Hei! Cukup, Max," tegur Antonella tajam, menyadari perubahan ekspresi di wajah Alva.
Alva menghela napas dalam, lalu mengangkat suaranya. "Kau tahu, Max?" katanya dengan nada berbahaya. "Saat ini, tidak ada yang lebih memuaskan daripada menghancurkan wajahmu."
"Sudah, Alva!" Antonella kembali menegur, suaranya lebih tegas. "Kalian ini benar-benar …."
Tiba-tiba, Zia menyela. "Aunty," panggilnya ragu, menoleh ke arah Antonella dengan ekspresi kebingungan. Ia menggenggam ponselnya erat.
Antonella menatapnya heran. "Ada apa, Zia?"
“D-Denver Jr. menelepon … dia bilang, ayahnya tertarik untuk ikut operasi kita ini.”
Antonella membelalak. “Maksudmu apa?”
“Penyamaran kita terbongkar, Aunty!” seru Zia panik. “Dia tahu aku Maranzano, dia juga tahu aunty adalah adik Flavio Maranzano!”
Wajah Antonella langsung pucat, sementara Alva memicingkan mata tajam. "Dia memata-matai kita?"
"A-aku nggak tahu!" Zia menggeleng panik. "Mungkin saja ... mungkin waktu aku menanyakan banyak hal aneh tentang kejadian itu pada Denver Jr., dia mulai curiga."
Alva mendengus, jelas tidak senang. "Rookie mistake."
Antonella berusaha tetap tenang. "Dia bilang apa lagi, Zia?"
Zia menarik napas dalam, mengingat kembali percakapannya dengan Denver Jr. beberapa menit lalu. "Dia bilang, dia tahu siapa kita, tapi tidak akan mengganggu rencana kita. Dan ... dia juga menyampaikan bahwa ayahnya, Denver Sr., tertarik bergabung karena ingin menyapa Reeve Galante, mantan sahabatnya."
Antonella terdiam, mempertimbangkan situasi. Setelah beberapa saat, ia akhirnya berkata, "Coba telepon balik, Zia. Minta sambungkan dengan ayahnya. Aku yang akan bicara langsung."
Bab 20 – Pertemuan Pertama yang Penuh Gelora
Keesokan paginya, Antonella sudah bersiap dengan penampilan terbaiknya. Ia duduk bersandar di kursinya, kakinya disilangkan dengan anggun. Matanya fokus ke arah pintu, menunggu kedatangan tamu yang sama sekali tidak ia sangka akan hadir. Seseorang yang tiba-tiba muncul di tengah upayanya menuntut pembalasan.
Pintu terbuka.
Seorang pria sedikit lebih tua dari Antonella melangkah masuk. Tingginya rata-rata, berperawakan sedang, dengan rambut cokelat yang tertata rapi. Dia mengenakan kemeja polos dan jas berwarna gelap. Sebuah tanda lahir terlihat samar di lehernya, ciri khas yang mudah dikenali.
Denver Sr. melangkah mantap ke dalam ruangan, lalu melemparkan senyum ramah ke arah Antonella, yang menyambutnya dengan senyum tipis.
"Senang bertemu lagi denganmu, Antonella," sapanya, mengulurkan tangan dengan hangat.
Antonella membalas jabatannya. "Kunjungan yang sama sekali nggak kuduga, Denver," katanya, lalu menunjuk kursi di depannya. "Silakan duduk."
"Terima kasih, sudah mau menerimaku," balas Denver Sr. seraya duduk dan bersandar santai. "Sudah lama sekali, ya?"
Antonella tersenyum samar. "Kita cuma pernah bertemu sekali, di rumah Flav. Aku ingat. Saat itu kau datang bersama Jessica."
“Yeah.”
“Setelah itu, Flav mengirim aku ke Miani. Lalu … peristiwa itu terjadi.”
Denver Sr. mengangguk, menarik napas panjang. "Tragedi luar biasa."
Antonella menatapnya dengan ekspresi campur aduk. "Aku benar-benar nggak menyangka ... kau dan Jessica bisa selamat dari kejadian itu. Kalian benar-benar dilindungi Tuhan."
"Puji Tuhan, aku dan Jessy bisa bertahan," sahut Denver Sr. "Tapi ... kurasa aku kurang pantas mengatakan ini. Kamu kehilangan kakakmu karena tragedi itu. Aku turut berduka, Tonie."
Antonella tersenyum tipis. "It’s okay, Denver. Ceritakanlah, apa yang terjadi padamu saat itu?"
Denver Sr. menghela napas sebelum mulai bercerita. "Aku dan Jessica selamat ... mungkin karena ada faktor lain juga. Kami terpacu untuk bertahan, karena anak kami belum lahir, dan terancam nggak selamat karena kejadian. Mungkin itu yang membuat Jessica bisa menjadi wonder woman dan bahkan sampai berhasil melahirkan sendirian di tengah hutan.”
Antonella mendengarkan dengan serius.
"Tapi sayangnya," lanjut Denver Sr., "saat mencoba menyelamatkan diri, aku terjatuh dan kepalaku cedera. Aku pingsan selama berhari-hari. Saat sadar ... aku nggak ingat apa-apa." Dia terkekeh getir. "Selama beberapa bulan, aku bertahan hidup hanya dengan air dan buah-buahan yang kutemukan di hutan, tanpa tahu siapa diriku. Sampai akhirnya ... ingatanku kembali."
Antonella mengerutkan kening. "Lalu?"
"Saat semuanya kembali dalam benakku, hal pertama yang kulakukan adalah mencari Jessica. Tapi nggak kutemukan jejaknya di mana pun."
Antonella terdiam, membayangkan betapa sulitnya perjalanan Denver.
"Aku keluar dari hutan," lanjutnya, "masuk ke kota demi kota, berharap bisa menemukan Jessy. Tapi semua usahaku sia-sia. Dari berita yang beredar, namanya masuk dalam daftar korban tewas. Aku terus mencari, terus berharap ... meskipun kemungkinan ia masih hidup sangat kecil." Denver Sr. tersenyum tipis. "Sampai akhirnya, 14 tahun kemudian, takdir mempertemukanku kembali dengan Jessy, dan juniorku. Happy ending.”
Antonella menghela napas, lalu mengangguk pelan. "Luar biasa, Denver …," katanya dengan decak kagum. "Kalian berdua benar-benar tangguh. Dan yang lebih mengharukan, kalian masih berjodoh."
Denver Sr. tersenyum. "Benar."
“Lalu, apa yang membawamu ke sini? Bukankah kisahmu sudah happy ending? Hidup bahagia bersama cinta sejati dan buah hati kalian. Life goals, kan?” Antonella bertanya dengan nada memancing.
Denver Sr. terdiam sejenak, lalu menjawab, “Di satu sisi, ya, aku memang sudah mencapai life goals. Tapi di sisi lain … rasa dendam itu masih ada, Tonie. Kamu mungkin nggak bisa bayangkan betapa beratnya 14 tahun setelah kejadian itu. Aku sempat jadi tunawisma, kehilangan ingatan, hidup tanpa tujuan, tanpa arah. Empat belas tahun yang seharusnya berharga bagiku … lenyap begitu saja. Aku kehilangan masa-masa melihat anakku tumbuh. Aku kehilangan segalanya. Dan semua itu karena siapa? Reeve. Apa alasan itu masih belum cukup?”
Antonella tidak langsung menjawab.
“Awalnya aku nggak ada pemikiran untuk membalas dendam. Aku menelan rasa benci ini pada Reeve, dan mungkin akan membawanya sampai liang lahat. Tapi kemudian juniorku bercerita mengenai teman barunya yang aneh … yang menyebut-nyebut soal Reeve,” lanjut Denver.
Antonella bisa menebak arah perkataan pria di hadapannya tersebut.
“Hal ini seperti angin segar buatku. Aku minta juniorku mengawasi dan mengambil gambar kalian. Maaf kalau itu membuat kalian nggak nyaman. Dari situ aku mengenali wajahmu. Aku juga melihat Flav di wajah Alvaro. Nggak salah lagi, dia pasti keturunannya.”
Antonella menyunggingkan senyum tipis.
“Sementara keponakanmu yang satu lagi, Zia? Benarkah dia anak Flav juga?”
Antonella mengangguk. “Keduanya anak Flav yang aku rawat sejak bayi … mereka sudah kuanggap seperti anak-anakku sendiri. Alva anak Flav dengan Karsten, kurasa kau ingat siapa dia.”
“Ah.” Denver mengangguk-angguk. “Karsten mantan penyanyi itu. Nggak kusangka ….”
“Kamu bakal lebih nggak nyangka lagi kalau tahu siapa ibu Zia.” Antonella berkata penuh arti.
Denver menatapnya dengan ekspresi bertanya-tanya.
“Zia anak Flav dengan Anja. Temanmu juga, kan?”
“Anja?!” Denver Sr. terbelalak. “Damn! Bukankah kalian sepupu?”
“Betul,” jawab Antonella tenang. “Tapi kamu tahu sendiri gimana kelakuan Flav. Lahirlah Zia … untungnya dia sehat dan normal.”
“Damn ….” Denver mengumpat pelan, masih berusaha mencerna informasi itu. “Kelakuan kakakmu itu memang benar-benar …. Tapi seharusnya aku nggak perlu heran. Flav itu maniak seks.”
“Banyak orang yang lega dengan kematian Flav,” ujar Antonella. “Aku sadar diri juga, Flav memang orang yang gemar mencari musuh dan seenaknya sendiri. Tapi bagaimanapun, dia tetap kakak satu-satunya buatku. Dia adalah sosok kakak ideal yang selalu melindungiku bahkan sampai akhir hayatnya. Sementara anak-anaknya? Mereka harus tumbuh tanpa sosok ayah. Ini alasanku nekat mengatur rencana balas dendam pada orang itu.”
“Dan sekarang kamu sudah punya informasi tentang Reeve.”
Antonella mengangguk.
“Dia ada di Sivily, kan?”
“Sebelum aku menjawab itu,” kata Antonella sambil mengamati Denver lekat. “Bagaimana aku bisa yakin kamu benar-benar mendukungku? Bagaimana kalau kamu cuma ingin reuni dengan Reeve, kembali berteman dengannya? Kalian kan dulu sangat akrab.”
“Tonie .…” Denver mendesah kesal, keningnya mengernyit. “Aku harus bilang berapa kali? Mana mungkin aku mau berteman lagi dengan si bangsat itu? Dia yang membuatku kehilangan istri dan anakku selama 14 tahun! Aku tahu, yang sebenarnya bersalah adalah klonnya, tapi klon itu nggak akan ada kalau bukan karena Reeve! Jadi, dia tetap harus menanggung akibatnya. Klonnya memang sudah lenyap, tapi Reeve? Dia melenggang bebas, hidup tanpa beban. Apa dia pernah merasakan yang aku alami? Terlunta-lunta di negara asing, bertahan hidup tanpa tujuan?”
Antonella terdiam, membiarkan Denver Sr. melampiaskan emosinya.
“Kamu tentu tahu tentang kematian tragis Christopher Burgueno," ujar Denver Sr. dengan nada datar.
Mata Antonella membesar, tapi ia tetap diam, tak memberi sahutan.
"Kematian anak itu menjadi pemicu perang antar keluarga. Roman mengamuk, murka karena kehilangan putranya, dan memerintahkan pembunuhan terhadap siapa pun yang dia anggap bertanggung jawab. Tapi semua itu omong kosong. Sebenarnya, Flav dan Reeve yang berada di balik semua itu. Mereka memfitnah pihak lain agar menjadi sasaran kemarahan Roman. Dan mereka berhasil. Roman meledak, membabi buta, menyebabkan kematian di mana-mana."
Denver Sr. menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Chaos itu berbuntut panjang. Orang-orang yang nggak terima dengan kelakuan Roman akhirnya bersumpah akan mengejarnya, juga siapa pun yang terlibat dalam kekacauan ini. Mereka bergabung, membentuk kekuatan baru ... dan Klon Reeve adalah salah satunya. Itulah yang terjadi, Antonella. Kakakmu dan Reeve-lah yang memulai segalanya."
Wajah Antonella menegang.
"Aku mendengar pengakuan ini langsung dari Flav, tepat sebelum pesawat itu menukik turun. Saat itu, aku benar-benar murka padanya," lanjut Denver Sr., matanya penuh kenangan pahit. "Bagaimana mungkin dia tega melakukan itu pada bocah yang bahkan belum berusia lima tahun? Pria macam apa kakakmu itu?"
Antonella menggigit bibirnya, menahan emosi yang berkecamuk.
"Flav berteriak, mengatakan bahwa semua itu ide Reeve. Dia hanya mengikuti, entah dengan alasan apa. Tapi satu hal yang jelas, semua masalah ini bersumber dari satu orang: Reeve Galante."
Denver Sr. menatap Antonella tajam, nadanya semakin dalam. "Sekarang, jawab aku, Antonella. Kau tahu di mana dia sekarang. Bagaimana kehidupannya?"
Sekuat tenaga, Antonella mengumpulkan keberanian untuk menjawab, “Reeve sekarang sudah menjadi bos mafia yang disegani. Dia punya keluarga yang utuh dengan istri yang setia … dan mereka dianugerahi sepasang anak yang tampan dan cantik. Hidupnya bahagia, Denver.”
Denver tertawa kecil, tapi terdengar sinis. “Jadi, 20 tahun ini dia nggak pernah menderita.”
“Kurasa demikian.”
“Menjadi bos mafia … impiannya waktu muda benar tercapai.” Denver mendengus. “Aku muak mendengar betapa sempurna hidupnya, Tonie. Sementara aku? Aku masih bukan siapa-siapa, karena kehilangan 14 tahun yang berharga. Kau masih belum percaya padaku?”
Antonella menghela napas panjang. “Aku tahu … sebenarnya, kamu yang paling berhak membalas dendam. Kamu nyaris mati dalam kejadian itu. Istri dan anakmu pun terancam. Dan kamu sangat menderita belasan tahun karenanya.”
“Memang.” Denver mengangguk kalem.
“Reeve Galante berlindung di balik identitas palsu demi menghindari konsekuensi yang seharusnya ditanggung olehnya. Wajahnya juga sudah berubah jauh,” kata Antonella.
“Sudah kuduga,” sahut Denver Sr.
“Sekarang, dia dikenal dengan nama Salvatore Corvino.”
“Salvatore Corvino,” gumam Denver Sr. dengan ekspresi datar.
“Dia orang besar, Denver. Nggak semua orang bisa dengan mudah mendekatinya,” lanjut Antonella.
“Aku tahu,” jawab Denver Sr., menyunggingkan sebuah senyum sinis. “Mantan sahabatku rupanya sehebat itu. Reeve bukan sekedar bos mafia, tapi bos dari para bos. Luar biasa ….” Dia menghela napas, lalu menatap Antonella tajam. "Jadi, apa rencanamu, Tonie?"
“Aku berencana menyusup ke dalam lingkaran keluarganya. Zia intens mendekati anak laki-lakinya, Benjamin, dan Alva mencoba memperalat pacar anak perempuannya, Emmeline.”
Denver Sr. mengerutkan kening. “Terlalu banyak rencana,” sahutnya.
“Maksudmu?”
“Rencanamu terlalu panjang dan rumit. Kapan Alva dan Zia bisa benar-benar mencapai target? Bagaimana anak muda seperti mereka bisa mendekati seseorang yang pantas jadi ayah mereka?”
Antonella menatap Denver Sr. dengan tatapan serius. “Namanya juga proses, Denver, nggak ada yang instan.”
“Kenapa nggak kamu saja yang maju, Tonie? Kamu bisa mendapatkan Salvatore hanya dalam sekali langkah. Kenapa harus berbelit-belit?”
Antonella mengerjap, sedikit bingung.
“Kuberi tahu kamu, Antonella,” ujar Denver Sr., tubuhnya condong ke depan seraya mempertahankan tatapan mata. “Aku kenal Reeve dengan sangat baik. Kami teman sekolah sejak kecil. Aku juga sering menghabiskan waktu bersamanya saat dia masih menjadi wakil Roman Burgueno. Dia itu sama seperti kakakmu, buaya, maniak seks. Aku berani bertaruh, dia masih seorang maniak sampai sekarang.”
Antonella termenung. Pikiran Antonella langsung melayang ke masa lalu, saat Flav memarahinya karena mendekati klon Reeve. Kata-kata Flav saat itu sama persis seperti yang diucapkan Denver sekarang.
“Reeve nggak akan menolak wanita secantik kamu, Tonie. Kamu bisa dengan mudah membuatnya jatuh ke dalam perangkapmu. Rayu dia, buat dia terbuai dengan pesonamu. Setelah itu, bawa dia ke tempat yang kita inginkan. Lalu … selesai.”
Terdengar sangat mudah. Antonella merasakan bara api menyala dalam dadanya, membuatnya terpicu melakukan yang disarankan Denver.
“T-tapi … bagaimana kalau dia mengenaliku? Kamu sendiri, begitu melihat foto terbaruku, langsung ingat wajahku, langsung ingat kalau aku adik Flav,” ujar Antonella kemudian.
Agak lama, Denver Sr. terdiam. “Kamu pernah berkenalan langsung dengan Reeve?” tanyanya.
Antonella menggeleng. “Aku hanya berkenalan dengan klonnya. Kalau orang aslinya, belum pernah bertemu. Mana tahu, siapa pun yang pernah bertemu dengan si Klon Reeve, Reeve juga mengetahuinya.”
“Jangan konyol.” Denver Sr. tertawa kecil. “Reeve dan klonnya memang berbagi memori yang sama, tapi hanya sampai sebelum kelahiran si klon. Setelah mereka menjadi dua sosok yang berbeda, jalan masing-masing. Kurasa Reeve nggak akan mengenalimu, Tonie, dia pasti langsung terpikat pesonamu. Itu juga kalau kau mahir menggodanya. Atau kalau kau paranoid, ubah gaya dandananmu dan rambutmu. Menurutku, semua wanita punya kemampuan spesial bisa berubah 180 derajat hanya dengan menggunakan make up yang berbeda.”
“Kamu benar, Denver,” balas Antonella kemudian. “Kamu bersedia membantuku?”
Denver Sr. tersenyum penuh keyakinan. “Dengan senang hati.”
Gemerlap lampu warna-warni menari di tengah alunan musik yang menghentak. Puluhan, bahkan ratusan anak muda larut dalam irama, tubuh mereka bergerak seirama di lantai dansa. Namun, pemandangan itu tak sedikit pun menarik perhatian Salvatore. Dengan langkah mantap, dia melintasi kerumunan tanpa peduli, menuju ruangan VIP di lantai atas. Beberapa pengawalnya mengikuti dari belakang, menjaga jarak namun tetap waspada.
Begitu tiba, seorang pria paruh baya dengan setelan rapi langsung menyambutnya dengan penuh hormat. Manajer klub malam itu membungkuk sedikit sebelum memberi isyarat pada pelayan yang dengan sigap menyajikan aneka minuman dan kudapan mewah di meja.
"Saya punya sesuatu yang spesial malam ini, Bos. Saya yakin Bos pasti suka," bisik sang manajer, penuh semangat.
Salvatore baru saja hendak duduk ketika mendengar ucapan itu. "Hm?" gumamnya tanpa minat. "Yang seperti biasa saja.”
"Yang ini lain, Bos," balas si manajer tak menyerah. "Dia punya kemampuan di atas rata-rata. Percaya sama saya, Bos. Biasanya Bos butuh tiga, tapi dengan yang satu ini? Cukup satu saja, Bos pasti sudah terpuaskan!"
Salvatore menatap pria itu dengan ekspresi geli. "Kau terdengar terlalu percaya diri,” timpalnya enteng.
"Saya berani sumpah! Mana mungkin saya berani main-main dengan Bos?" Manajer itu semakin bersemangat. "Coba dilihat dulu, Bos. Kalau nggak suka, bisa langsung tukar dengan yang biasa."
Salvatore menghela napas pendek, mulai kehilangan kesabaran. "Jangan buang waktuku. Cepat tunjukkan."
Sang manajer mengangguk, lalu menepukkan tangannya beberapa kali.
Gorden panjang di sisi ruangan tersibak perlahan, memperlihatkan sosok wanita yang melangkah masuk dengan anggun. Kimono satin merah yang membalut tubuhnya berkilauan di bawah temaram lampu, mengikuti lekukan tubuhnya yang sempurna. Bibirnya yang sensual melengkung membentuk senyum menggoda, matanya memancarkan rasa percaya diri yang berbahaya.
Salvatore bersandar pada sofa, ekspresinya berubah. Dia menatap wanita itu dengan intens, jelas tertarik.
Antonella, wanita itu, menahan senyum puas saat melihat reaksinya. Dengan gerakan perlahan, ia mulai melepas ikatan kimono di pinggangnya, membuat pria di depannya menunggu dengan antisipasi. Ia menikmati setiap detik bagaimana mata Salvatore membelalak, memperhatikan setiap detail yang tersingkap.
Ketika akhirnya kimono itu merosot jatuh ke lantai, Antonella berdiri dalam balutan lingerie hitam menerawang yang mengekspos sebagian besar kulitnya yang halus dan kencang. Corset berenda berpadu dengan garter dan panty senada membentuk tiap detail lekuk, menciptakan tampilan yang sangat menggoda. Berkat testimoni Denver Sr. yang bersahabat lama dengan Salvatore alias Reeve, Antonella tahu tipe lingerie seperti apa yang menjadi favoritnya.
Ruangan itu hening sejenak. Salvatore memandangi Antonella lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki, tatapannya tajam seolah ingin melahapnya bulat-bulat.
Bahkan, para pengawal Salvatore pun tak bisa menyembunyikan reaksi mereka. Meski samar, Antonella mendengar helaan napas tertahan dari belakang, tanda bahwa penampilannya sukses mencuri perhatian.
Dengan langkah percaya diri, ia menyibakkan rambut panjangnya, lalu bergerak menggoda di sekitar tiang dansa yang ada di tengah ruangan. Gerakannya lembut namun penuh tantangan, sementara matanya terus mengunci tatapan Salvatore.
Pria itu menarik sudut bibirnya, jelas menunjukkan ketertarikan.
"Oke, Bos?" Dari ujung ruangan, sang manajer bertanya dengan nada penuh keyakinan, jempolnya terangkat.
Salvatore tidak menjawab. Dia hanya mengangkat jempolnya kembali, masih tanpa mengalihkan pandangan dari Antonella.
"Tinggalkan kami," titah Salvatore pada para pengawal.
Antonella tersenyum puas.
Usai memastikan hanya ada dirinya dan Salvatore di dalam ruangan, Antonella melangkah mendekat. Ia menaiki sofa, berlutut di sisi luar paha Salvatore. Jemari lentiknya menyentuh leher pria itu, menggoda, mengundang.
Salvatore menyeringai lebar sebelum menarik pinggang Antonella, tangannya mulai menjelajah, sementara bibir mereka saling bertaut penuh nafsu.
Antonella terengah meladeni Salvatore yang terasa sangat menuntut. Ia mendesah saat bibir pria itu turun ke lehernya yang jenjang. Di sela-sela panasnya momen itu, ia mengangkat kelopak matanya sedikit, mencuri pandang ke arah jendela di belakang Salvatore. Dari lantai bawah, di tengah keramaian dance floor, dua pasang mata tertuju padanya.
Alva dan Denver Sr.
Antonella menahan senyum, lalu perlahan mengangkat jempolnya ke arah mereka. Sinyal bahwa rencana malam ini berjalan sesuai harapan.
Setelah itu, ia kembali meladeni Salvatore yang semakin berhasrat menjamah tubuhnya.
Entah sudah berapa kali Alva mendecak kesal sebelum akhirnya menenggak minumannya hingga tandas.
Gimana, sih?? Mau-maunya Tonie mengiyakan ide orang ini! batin Alva sambil melirik Denver Sr. dengan tatapan tidak suka. Lagipula orang ini berani banget ngide supaya Antonella berbuat seperti itu! Antonella itu Donna, kepala keluarga, tahu! Masa harus merendahkan diri hanya demi menjebak Reeve?!
"Nice, sudah kuduga Reeve masih sama seperti yang dulu," ujar Denver Sr. santai. Senyum puas terukir di wajahnya saat dia mengangkat gelas, mengajak Alva bersulang. "Cheers, Alva."
Alva sengaja melengos, menolak ajakan itu.
Denver Sr. menaikkan alis sebelum akhirnya meletakkan kembali gelasnya. "Ada apa? Bukankah ini langkah maju?"
"Dengar, aku masih nggak terima! Kau menyuruh Antonella jadi stripper seperti ini! Dia itu kepala keluarga Maranzano!"
"Hanya kedok, kan? Kenapa kau marah sekali?"
"Ya gimana aku nggak marah, tanteku berpenampilan vulgar dan menggoda laki-laki hidung belang itu!"
"Sabar, Alva," sahut Denver Sr. tetap tenang. "Kadang kau harus berpikir out of the box demi mencapai tujuan. Lagipula tantemu setuju, kenapa dipermasalahkan?"
Alva masih merengut, tapi tidak membantah.
Denver Sr. menyunggingkan senyum simpul. "Aku benar-benar terkesima melihatmu, kau sangat mirip dengan Flav," katanya. "Sepertinya Flav hidup kembali."
Alva masih tetap terdiam.
"Kenakan lagi kacamata hitammu," perintah Denver Sr. memberi peringatan.
Alva menghela napas, tapi menurut. Setelah sekian lama diam, akhirnya dia bertanya, "Aku benar-benar mirip dengan ayahku?"
"80% mirip," jawab Denver Sr. mantap. "Maka dari itu, hindari bertemu langsung dengan Reeve tanpa kacamata, atau masker, atau apa pun. Kalau dia melihatmu, aku yakin dia akan langsung mengenalimu, Alva."
Alva tak menjawab.
"Tapi mungkin wajah Reeve bakal pucat kalau melihat Flavio Jr. ...," gumam Denver Sr., terkekeh pelan.
"Aku juga nggak berminat bertemu dengan orang itu. Kecuali dia sudah di tangan kita," balas Alva.
"Ya, begitu juga bagus."
"Katakan, kau sedekat itu dengan ayahku?" tanya Alva, menoleh ke lelaki di sampingnya.
Denver Sr. mengangguk sekilas. "Hampir tiap minggu kami minum-minum bersama," jawabnya. "Aku, Flav, dan Reeve."
"Tiga serangkai."
"Benar. Makanya aku tahu selera Reeve. Antonella adalah tipe favoritnya," tutur Denver Sr. sambil meneguk minumannya.
Alva meringis. "Aku kaget, ternyata kau kenal baik dengan manajer klub ini ... si germo."
"Selama ada niat, selalu ada jalan," sahut Denver Sr. ringan.
Alva mengangguk pelan.
Denver Sr. menghela napas panjang. "Flav itu sebenarnya teman yang baik dan seru. Party animal, kuat minum, jadi bintang di tiap pesta. Setia kawan, royal, dan loyal. Memang kata-katanya sering kasar, tapi lama-lama terbiasa. Sayang, umurnya pendek."
Alva mencerna perkataan itu sebelum akhirnya bertanya, "Kenapa kalian semua nggak sama-sama melompat menyelamatkan diri? Kenapa kau yang selamat, ayahku nggak?"
Mata Denver Sr. menerawang jauh. "Semua terjadi sangat cepat," ujarnya pelan. "Saat aku dan Jessica hendak melompat, aku mendengar Alyssa panik karena nggak bisa melepas seat belt. Flav mungkin berusaha menolong pacarnya itu, hingga terlambat untuk melompat."
Alva memandang Denver Sr. serius. "Jadi begitu," desisnya.
"Seandainya Flav masih hidup, aku yakin dia yang paling bersemangat memburu Reeve Galante."
"Sudah seharusnya …."
Keheningan menyergap mereka. Sorak-sorai para pengunjung pesta seakan tak mampu menepis suasana yang mendadak sunyi.
"Alyssa itu seperti apa orangnya?" tanya Alva kemudian.
"Aly adalah model terkenal. Sudah pasti cantik. Pembawaannya anggun, feminin. Sangat bergantung pada Flav. Kurasa ia sangat mencintai ayahmu. Aku yakin dia nggak pernah tahu kelakuan Flav yang promiscuous … jadi saat ada pesan dari Karsten, mengabari bahwa dia hamil, Alyssa meledak dan bertengkar dengan Flav."
"Ibuku?" Alva membelalak.
Denver Sr. mengangguk. "Pada saat itulah ... pesawat kami ...." Dia menghela napas panjang.
Alva terdiam.
"Kalau diingat lagi, Flav selalu mendapatkan wanita-wanita cantik kelas model. Dia dianugerahi pesona fisik dan kemampuan di atas rata-rata … bukankah itu juga menurun padamu?" Denver Sr. menepuk bahu Alva. "Punya pacar berapa?"
Wajah Alva spontan memerah. "Apa—… a-aku nggak seperti itu," jawabnya gugup. "Nggak. Aku nggak punya pacar."
Denver Sr. menatap Alva lekat-lekat. "Ah. Kau tumbuh dikelilingi wanita … nggak ada sosok pria dewasa yang membimbingmu," katanya dengan nada prihatin. "Terutama saat kau puber …."
Alva tak menyahut.
"Semua anak berhak mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibu yang lengkap," ujar Denver Sr. pelan. "Kejadian itu merenggut hakmu, Alva. Aku turut menyesal."
Alva tersenyum tipis. "Aku sudah lama menerima itu," sahutnya. "Yang paling penting sekarang adalah membalas dendam pada orang yang selama ini bersembunyi seperti pengecut ... yang sekarang sedang bersenang-senang dengan Antonella."
Antonella mendesah lamat-lamat, menikmati tiap isapan dan gigitan nakal Salvatore di area payudaranya, sementara tangan pria itu menjelajahi bokongnya dengan gerakan penuh kepemilikan. Cara Salvatore bermain dengan jari dan bibirnya terasa begitu familiar, persis seperti yang dilakukan Klon Reeve dua dekade lalu. Sentuhan itu yang dulu membuatnya jatuh teramat dalam.
Kenapa aku harus heran, batin Antonella dalam hati.
Klon itu kan Reeve juga ... dalam bentuk cyborg .... Wajar kalau sama.
Akhirnya aku bertemu juga denganmu, Reeve yang asli .... Aku merindukanmu sejak lama ....
Dengan jemarinya, Antonella menarik rambut Salvatore, menengadahkan wajah pria itu, lalu melumat bibirnya dalam ciuman panas.
Kenapa harus kamu yang aku cintai?
Antonella bertanya dalam hati, berharap sang pejantan bisa mendengar jerit hatinya. Pagutan mereka semakin dalam, pertukaran napas makin memburu seiring dengan gelora yang membakar di antara mereka.
Apakah ini gairah cinta? Atau gairah dendam?
Mereka bilang, cinta dan benci itu hanya sejauh selembar rambut dibelah tujuh ....
Antonella larut dalam pikirannya sendiri, sementara tubuhnya menyerahkan kendali pada hasrat hewani yang mendesak keluar.
Salvatore perlahan melepaskan ciuman mereka. "Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya dengan suara berat, napasnya masih belum teratur.
Reeve tahu aku memikirkan sesuatu.
Antonella mendesah kecil, menggeleng pelan. "Nggak, kok," kilahnya, berusaha terdengar santai.
Salvatore tersenyum tipis, lalu menjentik dagunya lembut. "Kamu cantik," pujinya. "Kenapa aku baru melihatmu sekarang?"
Sebagaimana layaknya perempuan yang dipuji, terlebih oleh pria yang ia sukai, Antonella tak bisa menahan senyum. "Eum … aku baru kembali ke tanah leluhur," jawabnya.
"Ah." Salvatore mengangguk. "Jadi sebelumnya kamu tinggal di mana?"
Jangan jawab New Yord. Jangan jawab Miani juga.
Otaknya berpikir cepat.
"Wheaton," jawabnya akhirnya.
"Oh ... kamu dari Amerida?"
Antonella mengangguk.
"Kenapa pindah ke sini? Di sana membosankan?"
"Hmm ... bisa dibilang begitu. Lagipula aku lebih nyaman dengan suasana di Sivily."
"Semoga kamu betah tinggal di sini. Kamu tinggal sendiri?"
Antonella menggeleng. "Aku bersama keponakan-keponakanku."
"Nice." Senyum Salvatore tampak lebih lembut kini. "Sudah jalan-jalan ke mana saja? Kalau mau, aku temani."
Antonella menatapnya dengan ekspresi geli. "Bukankah menemani adalah tugasku?"
Salvatore tertawa kecil. "Kamu sepertinya bisa menjadi teman yang menyenangkan."
"Seriously?" Antonella terkekeh. "Baru kali ini aku dengar ada klien kelas kakap yang ingin berteman dengan pelacurnya."
Salvatore langsung menggeleng cepat. "No … jangan katakan seperti itu. Tidak enak didengar," sahutnya tegas. "Kamu tidak ingin berteman denganku?"
Antonella tertawa dalam hati. Sepertinya ciumanku demikian dahsyat sampai Reeve menawarkan pertemanan! Gosh. I nailed it!
"Tentu aku mau," ujarnya, menyunggingkan senyum paling menawan. "Mana mungkin aku menolak kamu … It's such an honor to me."
"Kamu tahu siapa aku?"
Antonella mengangguk perlahan. "Kamu bukan sembarang orang .... Penguasa Iralia dari balik panggung ... dan juga penguasa dunia bawah tanah."
Salvatore menatapnya dengan intens, seolah tengah menelanjangi jiwanya. Tak sedetik pun matanya teralih dari wajah Antonella, membuktikan betapa dia telah terjerat pesona wanita itu.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Antonia Agnelli." Antonella menyebutkan nama aliasnya, sengaja menatap Salvatore dengan sorot mata yang paling memabukkan.
"Salam kenal, Antonia. Berikan nomormu, kita atur waktu untuk berkeliling Sivily."
"Senangnya!" Antonella tersenyum lebar, lalu kembali menyambar bibir Salvatore dalam ciuman panjang yang menjanjikan lebih banyak gairah malam ini.
Comments
Post a Comment