TDR (21-23) | INA
Bab 21 – Father and Son Quality Time
Zia kembali ke kamarnya sambil menenteng sebuah paket. Sepanjang perjalanan dari lobi hingga ke pintu, pikirannya dipenuhi tanya. Siapa yang mengirim ini? Isinya apa?
Begitu sampai, ia segera membuka paket itu. Matanya membesar melihat isinya, sebuah kotak dari bakery ternama di Sivily, berisi beberapa potong pastry yang tampak begitu menggoda.
Keningnya berkerut. Siapa sih yang mengirim ini?
Belum sempat ia mencari jawaban, ponselnya bergetar. Pesan masuk.
Benjamin:
Zia! Kirimanku sudah sampai?
Zia tertegun. Oh, astaga, jadi Benja yang ngirim. Kok tumben?
Belum selesai rasa herannya, pesan lain menyusul.
Benja:
Aku lihat di story kamu, lagi nggak nafsu makan dan belum makan dari pagi?
Zia mengerjap, lalu buru-buru membalas.
Zia:
Iya ... aku lagi bad mood, males makan. Ini kamu yang kirim?
Benjamin:
Iya. Sivilian cannoli. Kamu harus paksain makan meski nggak nafsu ... nanti sakit.
Zia menggigit bibir, dadanya terasa hangat.
Zia:
Astaga, Benja .... Kamu repot-repot amat.
Benjamin:
Nggak repot sama sekali.
Lain hari kamu juga posting quote-quote serius ... aku kepikiran mungkin kamu sedang kesulitan, kah?
Aku senang kalau kamu mau berbagi kesulitan kamu sama aku, tapi aku nggak akan maksa kamu buat cerita.
Aku cuma mau kamu tahu kalau aku selalu ada buat dengarin keluh kesah kamu. Atau cuma mau duduk diam juga nggak apa, aku temani kamu melewati masa sulit kamu.
Zia menatap layar, napasnya sedikit tercekat.
Benjamin:
Tapi itu semua kalau kamu bersedia ....
Kalau menurutmu aku hanya mengganggu, aku minta maaf. Aku hanya nggak bisa diam saja lihat kamu menggalau berhari-hari.
Mata Zia terasa panas. Hatinya seakan meleleh.
Oh my God, teriak Zia dalam hati. Kenapa sih ... kenapa Benja sebaik ini?!
Pesan lain masuk.
Benjamin:
Kamu tahu kenapa aku kirim cannoli?
Zia:
Nggak ....
Benjamin:
Cannoli itu terkenal di film lawas yang legendaris banget, sampai sekarang masih ikonik. Kamu bisa cari tahu nanti, film apa itu. Salah satu frasenya yang terkenal, ‘leave the gun, take the cannoli’.
Zia membaca ulang kata-kata Benjamin.
Benjamin:
Cannoli itu metafor. Sebuah pengingat untuk memprioritaskan dan menikmati manisnya hidup daripada memilih sikap negatif. Cannoli melambangkan kebahagiaan, sementara senjata adalah simbol kegelapan.
Jantung Zia berdegup lebih cepat.
Benjamin:
Ada juga yang mengartikan frase itu sebagai peringatan bahwa masa lalu nggak perlu diungkit. Fokus saja pada masa depan dan hal-hal baik dan indah dalam hidup.
Zia membeku. Kenapa Benjamin bisa ngomong begini? Nggak mungkin .... Nggak mungkin dia tahu rencana besar kami. Nggak mungkin dia tahu bahwa aku sedang merencanakan balas dendam pada ayahnya!
Atau ... dia tahu?
Tangannya sedikit gemetar saat mengetik balasan.
Zia:
Ternyata filosofi di balik pastry dalam juga ya.
Benjamin:
Iya! Kamu galau berhari-hari, pasti nggak nyaman terus-terusan terjebak dalam vibrasi negatif. Benar kan? Makanya aku kirim itu.
Lagipula ... enak, kok, cobain deh.
Zia menelan ludah. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis.
Zia:
Iya ... iya nanti aku makan cannoli dari kamu. Terima kasih ya, Benja. Kamu baik.
Benjamin:
Sama-sama, Zia.
Perasaannya semakin tak menentu saat menatap pastry berisi keju di depannya. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Secarik kertas kecil terselip di bawah.
Zia menarik kertas itu, matanya bergerak membaca tulisan tangan yang tertera di sana.
"I look at you, and I know I'm home."
Perasaan Zia semakin kacau.
"Kudengar klan Martinelli dan klan Bellomo dari New Yord menanam saham di bisnis kloning manusia. Benarkah itu, Matteo?" tanya Luigi Lombardo saat pertemuan internal klan Corvino.
Salvatore, yang tengah fokus membaca berkas, hanya melirik sekilas. Tak tertarik.
Matteo Bianchi menjawab, "Benar. Mereka ikut terlibat. Begitu juga kelompok dari Vesas dan Los Aneles."
"Oh, sekarang dari wilayah lain juga tertarik?"
Matteo mengangguk. "Tepat."
"Apakah kita tidak ada rencana untuk berpartisipasi, Don?" Luigi mengalihkan pertanyaan ke Salvatore.
"Tidak akan," jawab Salvatore singkat dan tegas. Dia meletakkan berkas di tangannya ke atas meja, suaranya berat namun penuh kepastian. "Apa yang ada di kepala mereka? Masih belum kapok dengan apa yang terjadi terakhir kali?"
"Permintaan meningkat drastis, wajar kalau banyak yang tergiur." Matteo mengangkat bahu.
Dia melanjutkan, "Mereka yang berada di balik layar telah menetapkan prosedur operasional yang lebih ketat kali ini. Aku yakin semua sudah diperhitungkan dengan matang."
"Tidak." Salvatore menatap Matteo tajam. "Itu bisnis keparat yang melanggar semua norma."
Hawa ruangan seketika berubah drastis. Benjamin, yang sejak awal hanya duduk diam, bisa merasakannya. Dia melirik sang ayah. Ekspresi wajah Salvatore tampak datar, tapi sorot matanya tajam dan penuh ketegasan.
"Anda rupanya sangat antipati terhadap bisnis satu itu, Don.” Luigi akhirnya bersuara lagi.
"Saya tidak ingin mendengar apa pun tentang kloning. Apalagi mempertimbangkan untuk ambil bagian. It's out of the question," ujar Salvatore dingin. "Dan saya tidak akan menoleransi siapa pun dari kalian yang bermain di belakang saya. Peringatan saya cukup jelas.”
Tatapan Salvatore menyapu ruangan. Tanpa perlu menaikkan nada suara, namun setiap kata yang dia ucapkan terasa bagaikan palu godam yang menghantam. Tak ada yang berani membantah.
Papa nggak biasanya semarah ini hanya karena sebuah pertanyaan, batin Benjamin.
Dia memperhatikan wajah setiap orang di ruangan. Semua tampak waspada, beberapa bahkan terlihat menegang.
"Ada laporan lain yang perlu dibahas?" Salvatore mengubah topik.
"Untuk hari ini cukup, Don," jawab Matteo.
"Baik." Salvatore mengangguk. "Terima kasih atas waktunya. Kita bertemu lagi minggu depan. Kalian boleh pergi."
Saat melihat Benjamin juga hendak bangkit, Salvatore menahannya. "Benjamin, tetap di sini."
Benjamin menurut.
Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar, menarik perhatian Salvatore. Sebuah pesan masuk dari seseorang dengan label nama AA.
AA:
Mau lihat sesuatu nggak?
Salvatore mengernyit, memandangi layar menunggu sang pengirim melanjutkan pesannya.
Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya muncul: sebuah foto seronok seorang wanita yang duduk di ranjang, mengenakan lingerie baby doll satin transparan berwarna kulit. Fokus gambar hanya pada tubuhnya, memperlihatkan dengan jelas lekuk indah yang tersembunyi di balik kain tipis itu.
Pesan lain tersemat di bawah foto.
AA:
Kebayang nggak, kalau aku pakai ini sambil berendam? Efek basah di baju bakal bikin semuanya nyeplak jelas .... Mau lihat?
Salvatore membelalak, senyum cabul spontan tersungging di wajahnya. Namun kesadarannya kembali dalam sekejap saat melihat Benjamin masih ada di sana, memperhatikannya.
Dia berdeham, segera mengontrol ekspresinya.
“Jadi, Benjamin,” panggil Salvatore, suaranya tenang namun penuh arti. “Belakangan ini kamu kelihatan lebih sibuk. Punya pacar baru?”
Benjamin, yang sedang menikmati kopi di depannya, tersedak tipis. Pipinya samar memerah. “Papa,” gerutunya, menghela napas. “Kupikir kita bakal bahas sesuatu yang serius.”
Salvatore menyeringai kecil. “Siapa gadis beruntung itu kali ini?”
Benjamin berdeham singkat, berusaha menyembunyikan rasa canggungnya. “Ehm … bukan … belum pacaran. Masih dekat.”
“Kenapa belum resmi?”
Benjamin mengangkat bahu. “Dia belum mau berkomitmen.”
“Hm.” Salvatore mengangguk paham. “Ajak dia main ke rumah. Saya ingin mengenalnya. Siapa namanya?”
Benjamin ragu sejenak, lalu akhirnya menjawab, “Felizia Agnelli.”
Salvatore mendengar nama itu dengan penuh perhatian. “Agnelli,” gumamnya, seolah mengingat sesuatu. “Orang sini?”
“Bukan.” Benjamin menggeleng. “Dia dari Amerida, tapi sepertinya bakal lama di sini. Tinggal bersama kakak dan tantenya.”
Salvatore mengangguk pelan, senyum tipis tersungging di wajahnya, senyum yang sulit ditebak.
Setelah beberapa saat hening, dia berujar santai, “Papa cuma mau berpesan … jangan pernah lupa pakai pengaman. Selalu sediakan itu di dompetmu.”
Benjamin hampir tersedak lagi. “P-Papa?! Apa-apaan, kenapa jadi bahas itu?” protesnya, jelas-jelas canggung.
Salvatore terkekeh. “Tidak perlu malu, Benja. Papa juga pernah seumur kamu,” ujarnya tenang, seolah sedang berbagi kebijaksanaan hidup. “Kadang, kesempatan datang tanpa diundang. Situasi tiba-tiba memanas, dan kalau kamu lupa bawa kondom atau kehabisan stok … wah, gawat.”
Benjamin mengusap wajahnya, menyesali kenapa topik ini harus muncul.
“Apalagi pemuda yang tampan sepertimu,” lanjut Salvatore, nadanya menggoda. “Aku yakin banyak gadis yang mengantre, menunggu perhatian darimu. Atau mungkin ada yang lebih ekstrem, terang-terangan menggoda sampai kamu susah berpaling. Pernah ketemu yang seperti itu? Langsung buka-bukaan padahal bukan siapa-siapa buatmu?”
Benjamin semakin gelisah di kursinya. “Papa .…”
“Bagaimana reaksimu? Langsung tancap gas?”
Benjamin hampir melonjak dari tempat duduknya. “Astaga, Papa!” Wajahnya merah padam. “Iya, iya, aku tahu! Aku bakal selalu stok kondom! Puas?”
Salvatore mengangkat alis, puas melihat reaksi anaknya. “Bagus.”
Benjamin merengut, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengembuskan napas. “Udah, ya. Ganti topik, please,” rajuknya, masih merasa malu.
Keheningan sejenak mengisi ruangan. Salvatore diam-diam menikmati ekspresi canggung si sulung, senyum tipis tertahan di sudut bibir.
Namun suasana perlahan berubah saat Benjamin mengumpulkan keberanian untuk bertanya, kali ini dengan nada lebih serius. “Papa nggak biasanya semarah tadi saat membahas tentang kloning,” ujarnya hati-hati. “Padahal yang Luigi tanyakan cukup masuk akal.”
Senyum di wajah Salvatore menghilang, digantikan ekspresi datar yang sulit ditebak. Dia menyandarkan tubuhnya, lalu dengan tegas berujar, "Ambil bagian dalam bisnis itu adalah tindakan serakah.”
“Memiliki klon,” lanjut Salvatore, “sama saja seperti memegang pedang bermata dua. Orang-orang itu naif, mereka hanya dibutakan oleh uang.”
Dia menghela napas. "Yeah. I've learned it the hard way,” katanya lagi.
Benjamin menegang. "Papa pernah terlibat?"
Salvatore segera menggeleng. "Belajar dari pengalaman orang yang memiliki klon."
"Tapi ... kita nggak pernah tahu isi hati orang," gumam Benjamin. "Bagaimana kalau Luigi dan Matteo nekat tanam saham di sana?"
"Mereka tidak akan lakukan itu," jawab Salvatore yakin. "Bukankah sudah kuberikan larangan?"
"Papa yakin kalau mereka nggak akan diam-diam melakukan itu?"
"Mereka tahu konsekuensinya," sahut Salvatore datar. "Kehilangan nyawa bukan harga yang pantas dibayar hanya demi ambisi konyol mereka."
Benjamin termenung. "Selama ini mereka memang terbukti patuh padamu, Pa."
"Kesetiaan adalah harga mati, Benjamin," ucap Salvatore, menyunggingkan senyum tipis.
"Bagaimana Papa bisa lakukan itu?" tanya Benjamin kemudian. "Selama ini aku selalu bertanya-tanya bagaimana Papa bisa mendapatkan loyalitas dari sekian banyak orang?"
"Jawabannya hanya satu, Benja," jawab Salvatore. "Respek."
Benjamin menatap sang ayah dalam diam.
"Kebetulan sekali," kata Salvatore tiba-tiba. "Saya menahanmu di sini karena memang ingin membicarakan sesuatu."
Benjamin mengangkat alis.
"Kamu pernah memintaku untuk bercerita tentang masa mudaku," lanjut Salvatore, tatapannya melembut. "Bagaimana saya bisa sampai di posisi ini?"
Benjamin mengangguk.
"Baik," ujar Salvatore. "Sudah saatnya kamu mendengar cerita itu langsung dariku. Kuharap kamu bisa mengambil banyak pelajaran berharga darinya."
Maka Salvatore pun mulai bercerita.
"Saya akan menceritakan seseorang dengan nama samaran Gio.
Gio adalah anak laki-laki dari keluarga broken home. Orang tuanya berpisah saat dia berusia 11 tahun, tetapi dia menolak memilih akan ikut dengan siapa. Patah hati, dia lari dan hidup di jalanan. Hidupnya keras, menahan lapar dan dinginnya malam, sendirian tanpa siapa pun. Sekadar untuk mendapatkan sekerat roti, dia harus baku hantam dengan anak-anak jalanan lainnya. Sejak itu, dia belajar satu hal: di jalanan, tidak ada yang memberimu penghormatan secara cuma-cuma.
Anak-anak lain sering meremehkannya, memandangnya sebagai bocah miskin yang tak berharga. Namun, Gio tidak pernah membiarkan penghinaan itu meruntuhkannya. Dia hanya diam, mengamati, dan menunggu saat yang tepat.
Sebelum genap berusia 16 tahun, seorang anggota senior sebuah klan menaruh perhatian padanya dan mempercayakan sebuah tugas. Gio tidak banyak bicara, tidak banyak bertanya ... hanya bekerja dengan ketepatan dan loyalitas tanpa cela. Tugas itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Dia langsung direkrut menjadi prajurit dalam klan tersebut.
Gio sangat bersyukur dan bertekad membuktikan bahwa dirinya layak menjadi bagian dari keluarga. Dia pintar, dan yang lebih penting, dia setia. Dia tidak membungkuk kepada siapa pun, tetapi juga tidak menantang tanpa alasan. Dia menyelesaikan masalah tanpa perlu banyak bicara. Itulah yang membuatnya terus menanjak naik dalam organisasi.
Namun, di balik itu semua, Gio tetaplah anggota yang tengil. Gila hormat. Gila kekuasaan. Dia tidak ragu memakan sesamanya sendiri demi egonya semata.
Hingga suatu hari, sebuah kemelut besar terjadi. Gio kehilangan pegangan yang selama ini menopangnya. Di saat itulah, seorang Don yang agung dan berhati mulia mengulurkan tangan. Don memberinya tempat, mendidiknya dengan keras, dan melecut dirinya hingga menjadi lebih baik. Perlahan, Gio berubah. Cara berpikir dan kharisma sang Don menular padanya. Dia tidak lagi sombong. Tidak lagi tengil.
Namun, waktu tidak bisa dilawan. Don yang agung akhirnya kalah oleh usia. Beliau wafat, meninggalkan kursi kepemimpinan kosong. Banyak yang berebut kekuasaan, tetapi di tengah kekacauan itu, semua mata akhirnya tertuju pada Gio. Dan di antara mereka yang ada, hanya dialah yang dipercayakan untuk menduduki kursi Don.
Gio tidak meminta penghormatan, tetapi orang-orang mengikutinya. Mereka tahu bahwa dia tidak pernah menusuk dari belakang, tidak pernah menjilat, dan tidak pernah lari dari tanggung jawab. Semua kualitas itu dia miliki berkat tangan dingin mendiang Don yang telah membentuknya.
Bertahun-tahun kemudian, Gio bukan lagi bocah jalanan. Bukan lagi mafioso yang tengil. Dia adalah Don Giovanni, pria yang duduk di puncak organisasi. Orang-orang menyebut namanya dengan hormat. Bukan karena takut, tetapi karena mereka tahu satu hal:
Dia telah memperoleh posisinya. Bukan mendapatkannya secara cuma-cuma.
Respek tidak bisa diminta. Tidak bisa dibeli. Tidak bisa dipaksakan.
Respek hanya bisa diperoleh oleh mereka yang pantas menerimanya.”
Keheningan menyelimuti ruangan cukup lama. Benjamin masih mencerna setiap kata yang meluncur jelas dari mulut ayahnya.
“Giovanni … adalah Papa sendiri, kan?” tanyanya, butuh kepastian.
Salvatore tersenyum tipis, lalu mengangguk.
“Don yang berhati mulia itu, Don Alfredo Lucchetto?” tanya Benjamin lagi, yang dijawab dengan anggukan Salvatore.
“Papa adalah remaja broken home, orang tua Papa berpisah,” lanjut Benjamin, suaranya sedikit ragu. “Lalu bagaimana dengan Nonna dan Nonno? Mereka tetap orang tua Papa, kan?”
Salvatore kembali mengangguk, tatapannya menerawang sejenak. “Kemelut besar yang pernah menimpa Papa justru menjadi jembatan bagi mereka untuk rujuk,” katanya pelan. “Papa tidak akan ada di sini kalau bukan karena jasa Nonno.”
Benjamin termenung. Pikirannya melayang ke sesuatu yang pernah dia temukan di basement, foto ayahnya dengan pasangan yang bukan Nonna dan Nonno yang dia kenali selama ini.
Kalau Papa memang anak kandung Nonna dan Nonno, lalu siapa pasangan yang berfoto bersama Papa? Dan kenapa ada lembaran hasil tes DNA antara Papa dan Alfredo Lucchetto? Apa yang terjadi sebenarnya?
Rasa penasaran menggelitik benaknya, namun Benjamin menahan diri. Belum saatnya menanyakan hal itu. Untuk sekarang, dia hanya bisa menyimpan semua pertanyaannya dalam diam.
Bab 22 – Mencuri Kecupan
Antonella tersenyum jahil saat melihat tanda centang biru di pesan terakhirnya. Foto seduktif yang ia kirim pada Salvatore telah terbaca, meski tanpa balasan.
"Sejak hari itu aku dan Reeve rutin bertukar pesan," katanya, menyesap anggur dengan santai. "Kurasa servis yang kuberikan cukup memuaskan buatnya."
Denver Sr., yang tengah berkunjung, mengangguk dengan ekspresi puas. "Semua berjalan lancar sesuai rencana."
"Sangat lancar!" Antonella menyahut antusias. "Kadang aku iseng mengirim foto seksi, biar dia makin tergila-gila. Aku harus menjaga konsistensi ini, memancing rasa hausnya, membuatnya tetap penasaran denganku."
Denver Sr. terkekeh. "Kau terlalu menikmati peranmu, Tonie."
"Kapan lagi bisa mempermainkan pria seperti dia?" Antonella menyeringai. "Senang rasanya bisa menginjak egonya."
"Jangan sampai baper."
"Baper?" Antonella tertawa renyah. "Aku? No way, Denver. Tenang saja!"
"Bagus kalau begitu." Denver Sr. menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Sekarang, tinggal tentukan waktu untuk menjebak Reeve. Apa yang akan kau lakukan padanya?"
Antonella memutar gelas anggurnya, tersenyum. "Lebih tepatnya, apa yang akan kau lakukan padanya?"
Denver Sr. menatapnya.
"Bunuh saja?" Antonella bertanya santai, menyilangkan kaki dengan anggun.
Keheningan menggantung sejenak.
"Harsh word," sahut Denver Sr. pelan. Dia tampak berpikir. "Aku nggak pernah melakukan itu secara langsung."
Antonella menatapnya dengan penuh minat, memperhatikan perubahan ekspresinya.
"Aku membuat senjata yang digunakan untuk membunuh, tapi aku sendiri nggak pernah menarik pelatuk. Atau melakukan metode lain, nope, never."
Antonella mengangkat alis, masih menunggu.
"Kita intimidasi saja, Tonie," lanjut Denver Sr. akhirnya.
"Oh?" Antonella menyandarkan punggungnya, merenung sejenak.
"Sertakan ancaman untuk membongkar rahasianya pada teman-teman mafiamu. Biarkan mereka yang memutuskan nasibnya," kata Denver Sr. dengan nada berpikir. "Ada baiknya kita menjaga agar tangan tetap bersih. Kecuali, tentu saja, kau ingin menghabisinya sendiri."
Antonella terkekeh. "Atau kalau mau lebih sederhana, aku bisa menjebaknya dengan rayuan, membawanya langsung ke hadapan mereka."
"Tepat." Denver Sr. mengangguk, lalu menambahkan, "Tapi jika begitu, aku nggak bisa bicara langsung dengannya. Aku ingin bertemu muka dengan Reeve lebih dulu."
"Kau ingin menemuinya langsung, lalu membiarkannya pergi?" Antonella mengernyit, merasa aneh.
"Bukan." Denver Sr. menggeleng cepat. "Kita intimidasi dia. Aku akan berbicara dengannya lebih dulu, lalu kau bisa mengambil bagian setelahnya. Setelah itu, kita serahkan dia pada teman-temanmu."
Antonella menimbang rencana itu. "Bagus juga," gumamnya. "Selain para Don di New Yord, Roman juga gatal ingin menghajar Reeve. Agenda kita penuh."
"Roman?" Denver Sr. menyipitkan mata. "Kau punya kontak dengan dia juga?"
Antonella mengangguk. "Massimiliano Ricci, yang kemarin kukenalkan, dia anak Roman."
"Ah." Denver Sr. mengangguk paham. "Jadi Roman punya anak lain ...."
"Benar." Antonella meletakkan gelasnya, lalu mengulurkan tangan ke arah Denver Sr. "Jadi, kita sepakat?"
Denver Sr. meraih tangannya, menjabatnya erat. "Sepakat."
Alva membaca pesan dari Antonella sekilas, lalu memasukkan kembali ponselnya tanpa membalas.
Antonella:
Aunty on the way ke sana, Alva.
Dia mendengus pelan, melirik jam di pergelangan tangannya.
“Janjian dinner jam tujuh, baru on the way sekarang,” gerutunya.
Pandangan matanya menyapu seisi restoran. Hanya beberapa meja yang terisi, menyisakan banyak kursi kosong. Di sebelahnya, Zia menopangkan dagu di meja, jemarinya memutar-mutar gelas wine yang berisi cairan merah pekat. Pipi gadis itu nyaris sama merahnya dengan minumannya, bibirnya melengkung dalam senyum kecil, sesekali terkekeh sendiri.
Alva tahu dalam sekejap, Zia sudah mabuk.
"Astaga, Zia!" tegurnya seraya merebut gelas itu dari tangan Zia, menjauhkannya dari jangkauan sang gadis. "Kamu minum berapa banyak?"
Zia hanya tertawa kecil, bahunya terangkat ringan.
Alva melirik botol wine di meja dan menimbangnya. Nyaris kosong. Dia menghela napas panjang.
"Astaga! Sampai habis begini?! Tadi kan masih penuh!" serunya tak percaya. "Bukannya disisakan buat Tonie! Doyan apa haus?"
"Haus … Alva," gumam Zia, tangannya terulur ingin merebut botol dari genggaman Alva. "Nanggung … dikit lagi juga habis," lanjutnya, hendak menuang sisa wine ke dalam gelasnya.
Alva buru-buru menangkap pergelangan tangan Zia, mencegahnya.
"Udah mabuk, masih aja belum puas!" ujarnya tajam.
"Ih, apa sih?" Zia meringis, berusaha melepas pegangan Alva.
"Cukup. Jangan minum wine lagi!"
Zia mendengus keras, tampak kesal.
"Minum ini." Alva menuang air mineral ke dalam gelas, lalu menyodorkannya ke Zia. "Habisin."
Dengan wajah cemberut, Zia meraih gelas itu dan meminumnya sedikit. Setelah beberapa tegukan, ia mendengus lagi.
"Kenapa sih … kamu kok lempeng amat?" gumamnya, menatap Alva.
"Udah better?" tanya Alva, mengabaikan keluhan Zia.
Zia malah menatapnya dengan tajam, seolah-olah Alva telah melakukan sesuatu yang sangat salah.
"Kamu kok lempeng amat sama situasi kita sekarang?" Nada suaranya naik sedikit, menyiratkan kemarahan yang tertahan.
Alva mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Zia menyandarkan tubuhnya, matanya masih menatap Alva dengan penuh emosi.
"Emangnya kamu nggak kepikiran? Kenapa Flavio nggak lompat dari pesawat? Kenapa yang selamat malah orang tuanya orang lain?" katanya dengan suara bergetar. "Aku juga lihat kamu makin sering ngobrol sama Denver Sr. Ngapain? Butuh sosok ayah juga, huh? Katanya udah dewasa, nggak perlu lagi sosok ayah! Tapi sekarang kamu sendiri malah cari hal yang sama!"
"Heh!" Alva menegakkan punggungnya. "Siapa yang cari sosok ayah dari Denver? Aku dan dia ngobrol karena memang ada perlu. Kamu ini kenapa, sih?"
Zia tetap menatapnya dengan sorot tak percaya.
"Flavio terlambat buat lompat, bukannya nggak lompat," ujar Alva akhirnya, suaranya lebih tenang. "Denver sendiri yang cerita."
"Tetap saja." Zia mendengus, suaranya penuh kepahitan. "Kenapa dia yang selamat? Kenapa nggak semuanya aja yang selamat?"
Alva tak menjawab, hanya menarik napas panjang.
Zia melanjutkan, suaranya semakin lirih namun penuh emosi. "Kenapa kita harus capek-capek di sini, ngumpulin informasi … nyusun strategi ini-itu … kenapa harus ngejar orang yang bahkan nggak kita kenal? Kenapa Flavio harus mati gara-gara orang itu?! Kenapa aku sampai harus tidur sama Benjamin, tidur juga sama Saxon buat ngorek informasi?"
Alva terperanjat. Mata hitamnya membelalak lebar.
Zia tertawa kecil, tapi bukan tawa bahagia, melainkan getir.
"Kenapa harus pasang dua muka tiap ketemu Benjamin? Dia itu cowok baik, nggak sepantasnya dimanipulasi kayak begini! Dia perhatian banget sama aku dan mau seriusin aku, tapi masa aku harus terus bersikap manipulatif seperti ini??" Suaranya bergetar. "Aku nggak tahu bisa tahan berapa lama lagi!"
Wajahnya memerah, bukan karena wine, melainkan karena beban yang akhirnya ia tumpahkan.
"Padahal harusnya Flavio bisa selamat," rintihnya. "Bisa jadi papa buat kita berdua. Aku nggak akan kekurangan kasih sayang papa, kamu juga nggak akan kaku bersosialisasi! Harusnya tuh … harusnya semuanya selamat."
Tangannya mengepal di atas meja.
"Aku nggak akan pernah didekati dan sempat bucin sama Kevin. Aku juga nggak akan iri sekaligus kesal sama Denver. Aku nggak akan bohongi Benja dan yang lain. Aku nggak akan didekati si Max yang resek itu. Aku nggak akan pasang topeng tegar padahal aku hancur!"
Zia menatap Alva, matanya berkaca-kaca.
"Aku bukan kamu, Alva," gumamnya. "Kamu nggak pernah mengeluh dan nggak hancur kayak aku."
Alva masih diam, membiarkan Zia meluapkan emosinya.
"Kalau saja Flavio selamat … kita nggak akan berbuat sejauh ini," bisik Zia, sebelum akhirnya wajahnya tenggelam di telapak tangan, bahunya bergetar menahan tangis.
Melihat adiknya seperti itu, Alva tak mungkin hanya duduk diam. Dia bergerak mendekat, merangkul Zia dengan lembut, membiarkan gadis itu bersandar di bahunya. Tangannya terangkat, mengusap punggung Zia dengan penuh ketulusan.
"Zia mau udahan aja?" tanyanya pelan. "Nggak apa kalau kamu mau berhenti. Kamu bisa pulang duluan ke New Yord, atau tinggal di sini buat nemenin kami, terserah kamu."
Zia menggeleng pelan. "Kenapa …? Alva pulang juga .…"
"Nggak bisa, Zia," jawab Alva mantap. "Aku udah terlanjur jauh terlibat. Aku nggak suka kerjaan yang setengah-setengah."
"Alva mau tetap bunuh orang itu …?"
"Aku nggak tahu. Belum ada perintah dari Tonie. Tapi kalau memang harus, aku nggak ragu."
Zia menarik napas tersendat-sendat. "Kalian emang kuat dan tegar … nggak kayak aku."
"Jangan ngomong gitu," ucap Alva lembut. "Kamu udah banyak membantu. Bahkan sampai … harus melakukan itu semua demi cari informasi." Dia menelan ludah. "Udah cukup, Zia. Aku juga nggak mau kamu terus lakukan itu."
Zia semakin erat melingkarkan tangannya di pinggang Alva, menyusupkan wajahnya ke dada pemuda itu.
"Kamu jauh lebih berharga daripada harus berkorban seperti itu," lanjut Alva. "Jadi nggak apa, kamu bebas tugas. Aku bisa jelaskan ke Tonie."
Zia menegang di pelukan Alva. "Al …," panggilnya lirih.
“Gimana? Oke?”
“Al, kamu ternyata bisa nenangin aku juga yah. Kamu baik,” bisik Zia.
Alva mengulum senyum sekilas. “Aku kan kakak kamu,” balasnya.
Zia menggeleng pelan. “Aku nggak mau anggap kamu kakak.”
“Hah?”
Tanpa peringatan, Zia menegakkan tubuh dan tiba-tiba mendaratkan bibirnya di bibir Alva, tangannya melingkar di leher pemuda itu.
Alva membeku. Otaknya kosong beberapa detik sebelum akhirnya tersadar.
Dengan gerakan refleks, dia melonjak menjauh dan menampar pipi Zia keras.
"Kamu gila?!" Suaranya tertahan, penuh keterkejutan.
Zia menatapnya, matanya berkabut. "Alva …."
"Gila kamu! Ketularan Max! Sinting!"
Tanpa menunggu lebih lama, Alva bangkit dan segera meninggalkan restoran, membiarkan Zia sendirian di meja.
Bab 23 – Mempersuasi Sang Mantan Pembalap
Hari sudah berganti, tetapi Alva masih belum bisa menghilangkan bayangan kejadian semalam dari kepalanya. Apa yang Zia lakukan benar-benar di luar nalar. Bagaimana bisa ia mengatakan tidak mau menganggapnya sebagai kakak, lalu malah menciumnya?
Alva menghela napas dalam. Entah karena Zia memang sudah terlalu mabuk atau karena benar-benar ketularan gilanya Max.
Pasti gara-gara Max.
Kakinya melangkah mengikuti Saxon dan Denver Jr. menuju meja pesanan mereka, tetapi pikirannya masih berputar pada satu kesimpulan: Max adalah sumber masalah.
Aku yakin ini semua gara-gara Max. Kentara kan, seperti apa sifat dan perangai Max selama ini! Max gencar dekati Zia karena ada maunya, nah, lama-lama dia jadi menulari Zia. Max mulai jadi sumber masalah! Sialan.
Rahangnya mengatup erat, tetapi dia menahan diri untuk tidak mengumpat.
Tanpa sadar, Alva sudah menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, duduk di seberang Saxon dan Denver Jr.
"Yang mengundang lunch malah belum datang, gimana sih?" celetuk Saxon ringan, matanya menyapu sekeliling kafe. "Malah kita, para turis, yang duluan sampai."
"Sabar," sahut Denver Jr. dengan nada tenang. "Sebentar lagi pasti sampai."
Saxon menghela napas panjang. "Kuharap Benja bawa kabar bagus buatku," gumamnya.
"Soal Emmeline?" goda Denver Jr. dengan seringai usil. "Kau itu jangan berharap. Sudah kubilang, lupakan saja impianmu. Masih belum sadar juga?"
Saxon berdecak kesal, melirik sahabatnya dengan tatapan tajam.
Denver Jr. hanya terkekeh santai. "Jangan salahkan aku atau keadaan, Sax. Aku sudah capek memperingatkanmu kalau impianmu itu absurd .…" Dia mengangkat bahu. "Lalu kau buru-buru pensiun jadi pembalap. Sekarang kau mau kembali? Nggak mungkin. Harga diri dan egomu ketinggian. I know you so well, Saxon Renauld."
Tatapan Saxon semakin tajam, menusuk ke arah Denver Jr. "Puas?"
Percakapan mereka sedikit banyak mengusik lamunan Alva, membuatnya akhirnya menaruh perhatian. Sejujurnya, dia tidak terlalu antusias harus mengakrabkan diri dengan orang-orang ini. Tapi setelah kejadian dengan Zia, dia sadar adiknya itu sedang dalam kondisi labil dan kemungkinan besar akan memutuskan mundur.
Jadi, mau tidak mau, Alva harus mengambil inisiatif menggantikannya.
Dan semua ini gara-gara Max, si keparat itu.
"Jangan bahas ini, sialan kau, Denv," tegur Saxon kesal. "Alva kan nggak tahu!" lanjutnya sambil memberi isyarat halus ke Denver Jr.
Alva tersenyum tipis, lalu dengan nada datar menyela, "Aku nggak tahu detailnya, tapi aku bisa menerka, Saxon."
Saxon membelalak, memandang Alva dengan ekspresi tak percaya.
"Santai," lanjut Alva kalem. "I'm on your side."
Saxon masih menatapnya dengan sorot bingung bercampur ragu, seakan tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Alva, kau nggak perlu repot mendukungnya," sela Denver Jr. santai. "Saxon itu emang absurd. Aneh. Biarkan saja dia tertampar kenyataan."
"Denv, kau ini—" Saxon menatap tajam, tapi ucapannya terhenti di tengah jalan.
Denver Jr. tertawa lepas. "Bercanda, Sax. Kau tahu aku senang mengganggumu!" katanya sebelum bangkit berdiri. "Kalian ngobrol aja dulu. Aku mau ke toilet."
Saxon memandangi punggung Denver Jr. sampai menghilang dari pandangan, menahan kesal. Begitu temannya benar-benar pergi, dia kembali berpaling ke Alva. "Lama-kelamaan dia makin ofensif," keluhnya.
"Kau nggak akan dapat apa-apa kalau terus bergaul dengannya," kata Alva, menyilangkan tangan di depan dada. "Dia nggak berperan apa-apa demi membantumu menyelesaikan semua masalah, kan?"
Saxon terdiam sesaat. "Me-memang sih ... tapi dia tetap sahabatku."
"Aku nggak bilang kau harus memutuskan persahabatan," balas Alva tenang. "Aku tahu kau dan dia cocok. Tapi ada saatnya sahabat nggak selalu sejalan dalam cara pandang. Dalam hal ini, soal niatmu mendekati Emmeline."
Saxon terdiam, merenung sejenak sebelum menatap Alva dengan pandangan menyelidik. "Kau tahu soal Emmeline dari Zia, kan?" tuduhnya.
Alva lekas menggeleng, berpura-pura bingung. "Memang Zia tahu apa?"
Saxon tidak menjawab.
"Aku cuma menerka, Sax. Dan kelihatannya dugaanku tepat." Alva menyandarkan tubuh. "Kau sampai rela meninggalkan dunia balap, menghabiskan banyak waktu di tempat yang bukan asalmu, jauh dari sanak saudara. Berarti kau punya tujuan besar ... tapi sekaligus juga mustahil. Tebakanku, karena kau bukan Iralia, maka nggak ada restu dari papanya Emmeline."
Saxon menghela napas panjang berkali-kali. "Separuh tepat," jawabnya pelan.
"Kau bisa percaya padaku. Aku senang membantu teman baruku."
Selama beberapa saat, Saxon memandangi Alva lekat-lekat, seolah mencari kepastian dari sorot matanya. "Kau kakak Zia ... kurasa aku bisa mempercayaimu," katanya akhirnya.
"Terima kasih."
Saxon tampak memantapkan hati sebelum berujar, "Aku selalu iri sama turunan Iralia sepertimu. Kalian bisa dengan mudah masuk ke keluarga klan mafia mana pun yang kalian minati. Bisa menanjak selangkah demi selangkah di dalam organisasi. Aku ingin seperti itu. Makanya aku mendekati Emmeline."
Alva mengangguk paham.
"Tapi sekarang aku nggak bisa lagi mendekati Emmeline!" Suara Saxon meninggi, penuh frustrasi. "Satu-satunya harapanku buat masuk ke keluarga Corvino pupus, Al! Dan semua itu gara-gara papaku pernah selingkuh sama mamanya Emmeline! Gimana aku nggak murka? Salvatore sentimen sama aku cuma karena nama belakangku Renauld! Hanya karena aku anak dari mantan selingkuhan istrinya! Aku nggak ada sangkut pautnya sama drama rumah tangga itu, tapi kenapa aku yang kena getahnya?!"
"Salvatore sangat nggak bijak," sahut Alva singkat.
"Benar, kan!" Saxon langsung menyambar.
"Ya. Dia malah mengecewakan putrinya sendiri demi dendam nggak jelas. Kekanakan."
Saxon menjentikkan jari. "Persis! Seharusnya siapa pun berpikir seperti itu! Tapi si Denver malah bilang, ini artinya niatku nggak direstui semesta, aku harus menyerah! Dia juga makin sering meledekku! Unbelievable!"
Alva terdiam sesaat, membiarkan Saxon meredakan emosinya. Diam-diam, dia menikmati ekspresi campur aduk di wajah pemuda itu—bingung, galau, dan murka sekaligus.
"Saatnya kau ambil langkah besar, Sax," ujar Alva dengan suara berat. Dia mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya tajam menusuk.
Saxon tampak tertarik. Dia ikut mencondongkan tubuh, seolah menajamkan pendengarannya.
"Kau ingin masuk ke organisasi, kan? Tapi kau bukan Iralia, jadi nggak punya opsi buat masuk dengan cara normal."
Saxon mengangguk.
"Opsi lewat Emmeline juga sudah coret. Kau nggak bisa mengubah pikiran seorang laki-laki setengah baya yang insecure cuma karena nama belakangmu."
Kening Saxon berkerut.
"Tapi sebenarnya, kau bisa kembali ke opsi pertama ... opsi yang sejak awal sebenarnya nggak ada."
Kerutan di kening Saxon semakin dalam. "Lho, tapi—"
"Aku punya cara," ujar Alva mantap, seolah menjawab keraguan di mata Saxon.
"Nggak mungkin!"
Alva tersenyum tipis. "Ada satu hal yang kupelajari dari seseorang yang hidupnya penuh pengalaman luar biasa .... Dia pernah mengatakan bahwa selama ada niat, pasti selalu akan ada jalan."
"Tapi ...." Saxon mengerjap, masih kesulitan mencerna. "Gimana ceritanya ada jalan? Dari lahir aku bukan Iralia! La Cosa Nostra itu rasis! Itu pendapatku."
"Memang. Makanya kau bisa gunakan orang Iralia asli buat masuk ke dalam organisasi. Jadikan orang itu seolah bonekamu, Sax."
Saxon tampak terpaku. "B-boneka ... apa maksudmu sebenarnya, Al?"
"Aku membicarakan tentang kloning. Tahukah kau, di New Yord sedang booming lagi bisnis kloning?"
Saxon menatap Alva dengan ekspresi penuh ketertarikan.
Alva melanjutkan, "Singkat cerita, ini bisnis yang dikembangkan lagi setelah sebelumnya berhenti total selama 20 tahun .... Ini ada keterkaitannya dengan perang mafia. Nah, sekarang ini mereka menjalankan itu lagi, dengan SOP yang lebih strict. Lebih mencengangkan lagi, selain bisa membuat cyborg jadi "bernyawa", mereka juga menawarkan jasa transfer pikiran. Kau tahu apa artinya? Kau bisa menumbalkan seseorang dan membuat orang itu memiliki pikiran dan memorimu! Memiliki cara berpikirmu, memiliki pengalamanmu, memiliki karaktermu, memiliki kesadaranmu. Canggih. Tapi gila."
Mata Saxon semakin membelalak, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Alva. Benaknya berpacu cepat, menyusun kepingan informasi dan menghubungkannya dengan alasan dirinya berada di sini.
"Buatku itu gila," lanjut Alva. "Kau harus menumbalkan orang lain. Tapi kalau niatmu sebesar dugaanku, kurasa itu bisa jadi opsi."
"Itu. Ide. Bagus," gumam Saxon. Dari sorot matanya terlihat jelas dia sangat menyambut baik persuasi yang Alva lakukan.
Alva mengangkat alis. Perkiraannya tepat, Saxon tertarik.
"Tapi ... tapi siapa yang bisa aku korbankan?" bisik Saxon.
Alva mengangkat bahu. "Kau bisa mendekati orang lokal. Atau kalau nekat, garap saja teman barumu ... pengawalnya Benjamin."
"Oliviero," balas Saxon, mendesis.
Alva mengangguk. "Kau kan nggak mungkin tega mengorbankan Denver Jr., sahabatmu, meski dia separuh Iralia. Opsinya adalah orang lokal. Kau harus cari seseorang yang nggak punya keluarga. Opsi lain, Oliviero. Kudengar dia yatim piatu."
Mata Saxon berbinar, seolah baru saja menemukan jawaban dari teka-teki yang selama ini membelenggunya.
"Atau ... kau mau menyasar Benjamin langsung?" Alva terkejut dengan idenya sendiri.
Saxon menggeleng cepat.
"Ah. Kalau kau jadi Benjamin, kau nggak bisa mengawini Emmeline," sambung Alva lagi, bersyukur menemukan alasan kuat untuk menepis idenya barusan.
"Itu benar," jawab Saxon antusias.
Sejenak, keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Hebat. Bagus. Keren!" racau Saxon penuh semangat. "Ini ide paling bagus yang pernah kudengar!"
Alva mengulum senyum.
"Aku bisa langsung punya status sebagai prajurit! Lebih lagi, aku dan klonku bisa berbagi Emmeline! Oh. Gosh!!"
Alva meringis. "Oke. Ternyata fetishmu seperti itu. Terima kasih atas info yang nggak berguna buatku."
Saxon tertawa lepas.
"Kau yakin akan melakukan itu?" Alva mencari kepastian.
"Tentu!" Saxon mengangguk penuh antusias.
Alva menatapnya tajam. "Kau akan menumbalkan orang lain. Itu sama saja dengan pembunuhan. Kau yakin?" bisiknya hati-hati.
"Why not?!" Saxon berseru riang. "Aku nggak peduli. Lagipula aku juga nggak punya attachment dengan si Ollie itu. Biarkan saja dia menghilang! Biarkan aku yang menguasai identitasnya!"
Sedikit banyak, Alva merasa terpukau betapa mudahnya Saxon dihasut hingga berniat melakukan sesuatu yang melanggar norma.
"Melihat ambisimu itu, kurasa kau memang cocok menjadi bagian dari organisasi," ujar Alva tenang.
Saxon menyeringai lebar.
"Entah ke mana perginya Saxon Renauld si rookie terkenal yang digadang-gadang sebagai the next world champion."
"Ah. Persetan!" Saxon menggoyang tangan di depan wajah, enggan membahas masa lalunya. "Saxon Renauld si rookie itu jadi pembalap cuma karena pengaruh lingkungan. Ayahku, kakakku, buyutku, semua pembalap. Wajar kalau aku juga mewarisi darah balap. Tapi kalau digali lebih dalam, keinginan dan passion-ku bukan di sana!"
Alva mengangguk paham. "Bisa kulihat itu ... kau berambisi besar. Sampai rela melenyapkan orang lain. Bolehkah aku berasumsi, itu juga bakat warisan dari seseorang yang pernah menggemparkan Eastland?"
Saxon menatapnya lekat. "Maksudmu si pembunuh berantai ... pamanku sendiri."
Alva mengangguk, satu sudut bibirnya terangkat.
"Benci mengakuinya, tapi kurasa benar," jawab Saxon seraya menghela napas panjang. "Wow. Jadi rupanya aku mewarisi darah dingin Ferris Rutherford. Hmmm."
Alva mengulum senyum, mengamati ekspresi Saxon yang terlihat semakin tenggelam dalam pemikiran kelamnya.
"Nah, Alva," panggil Saxon. "Kuharap kau mau membantuku mewujudkan rencana besar ini."
Alva menimbang sejenak.
Menyadari ada keraguan di wajah lawan bicaranya, Saxon berkata, "Kau nggak perlu takut. Aku pastikan imbalannya sesuai!"
Alva menggeleng. "Aku nggak butuh uang," jawabnya.
"Lalu??" Suara Saxon meninggi. "Untuk apa kau capek-capek memberitahuku soal mind transfer? Memanasiku juga? Kau pasti mengharap imbalan!"
Alva menghela napas panjang, lalu duduk bersandar. "Aku memang nggak butuh uang. Tujuanku lain."
"Apa itu??" cecar Saxon.
"Aku nggak tahu apa aku bisa mempercayaimu, Sax. Maaf."
Saxon menatap Alva dengan ekspresi tak percaya. "Aku percaya padamu, Al! Memang selama ini kita nggak dekat, tapi setelah mengobrol banyak hari ini, aku merasa cocok denganmu! Kau tahu niatku ini, dan itu bisa jadi masalah besar buatku! Kau tahu kebusukanku, jadi akan adil kalau aku juga tahu kebusukanmu!"
"Itu benar," sahut Alva, mengangguk. "Aku nggak akan bocorkan niatmu pada siapa pun. Rahasiamu aman. I mean it."
"Tapi—"
"Tapi aku nggak bisa buka kartuku," sela Alva. "Niatku lebih suram."
Saxon memandangi Alva semakin tak percaya.
"Seru banget, ngobrolin apa kalian?"
Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi percakapan mereka.
Benjamin. Dia datang bersama Oliviero dan Denver Jr.
"Hei! Akhirnya kau datang juga, Ben," sambut Saxon, terpaksa menelan rasa penasarannya atas ucapan Alva barusan. "Kok bisa bareng Denver?"
"Yeah. Kami berpapasan waktu datang," jawab Benjamin, mengambil tempat di samping Alva, sementara Oliviero duduk di meja sebelah.
"Lama amat kau, Denv," kata Saxon pada Denver Jr.
Denver Jr. meringis. "Tadi pagi belum setoran."
Saxon ikut meringis jijik.
"Nah, kalian sedang bahas apa tadi?" Benjamin mengulang pertanyaannya.
"Nothing," jawab Alva cepat. "Cuma gosip panas soal bisnis kloning di New Yord."
Benjamin menatapnya lekat. "Itu bahasan seru," katanya.
"Seru. Mereka nekat menjalankan lagi bisnis yang pernah jadi pemicu perang mafia," ujar Alva. Dari sudut mata, dia menangkap tatapan Oliviero yang mengarah padanya.
Benjamin terdiam sejenak. "Rupanya benar yang waktu itu aku dengar dari pembicaraan ayahku dan anak buahnya," katanya. "Don sangat antipati pada bisnis kloning. Menurutnya itu keparat, nggak bernorma. Makanya dia melarang semua anggota untuk terlibat. Entah apa alasannya dia seketat itu. Katanya karena belajar dari pengalaman seseorang yang memiliki klon."
"Don Salvatore tahu yang terbaik," sahut Oliviero, lalu keadaan menjadi hening sejenak.
Dalam diam, Alva memandangi Benjamin yang tengah menyebutkan pesanan makan siang mereka pada pelayan.
Ya iyalah, ayahmu dulu pernah punya klon, dan dia belajar dari pengalamannya sendiri. Klon itu malah bikin segalanya kacau! Klon macam apa yang mengkhianati dirinya sendiri di kemudian hari? Makanya perang itu meletus. Dan sekarang, Saxon berniat menceburkan diri ke dunia kloning yang pernah menghancurkan hidup Reeve di masa lalu … lalu menyusup ke keluargamu. Reeve akan memakan racunnya sendiri. Balasan yang manis.
Alva tersenyum tipis dalam hati.
"Ah. Guys," panggil Benjamin setelah pelayan menyajikan pesanan mereka. "Aku sengaja ngajak kalian ke sini buat minta kalian nemenin aku nonton konser The Silver Nails di New Yord. Kalian bersedia?"
"Konser The Silver Nails?" Denver Jr. mengulang. "Kau fans mereka?"
"Ya! Mereka lagi tur, tapi Iralia atau negara lain di Euro nggak masuk jadwal mereka. Makanya aku ngejar yang di New Yord. Kalian nggak suka, ya?"
"Aku cukup menikmati musik Silver Nails, sih," jawab Denver Jr. "Aku ikut."
"Tumben kau bawa pasukan, Ben?" tanya Saxon. "Bukannya dikawal Oliviero lebih dari cukup?"
Benjamin mengangkat bahu. "Ayahku bilang ajak lebih banyak teman supaya lebih aman, jadi nggak andalkan Ollie doang. Sebagian besar temanku kuliah di luar negeri. Yang available sekarang ya kalian ini! Please, ikut, yuk?"
"Oh, jadi kami harus jadi babysitter-mu?" kelakar Saxon.
"Heii," sahut Benjamin. "Aku yang tanggung semua akomodasi dan kebutuhan kalian. Bersikaplah lebih baik," gerutunya.
Saxon tertawa ringan. "Aku bercanda, Ben! Aku ikutlah!"
"Nah. Great."
Alva menyadari sejak tadi Saxon terus meliriknya, memberi isyarat ringan. Tapi dia sengaja tak menanggapinya.
"Aku juga mau ajak kau, Al," kata Benjamin, beralih pada Alva. "Kau kan orang New Yord, bisa jadi tour guide."
"Butuh tour guide juga, Ben?" tanya Denver Jr. "Kenapa nggak ajak Zia sekalian?"
"Inginnya sih." Benjamin menyeringai. "Tapi nanti malah sibuk yang lain."
Alva berdeham.
"Nah! Abangnya langsung bereaksi, kan?" seru Benjamin sambil terkekeh. "Makanya aku nggak ajak Zia atau cewek-cewek …. Sesekali boys time, bagus juga kan?"
"Oh." Denver Jr. tampak kecewa. "Padahal aku mau ajak Lenice."
"Lenice sibuk, jadwal kuliahnya padat," sahut Benjamin cepat. "Ayolah, beberapa hari nggak ketemu nggak bakal bikin kau semaput."
"Maklumin ya, si Denver emang tukang bucin," kelakar Saxon, disambut tawa renyah yang lain.
"Jadi gimana, Al? Ikut, kan?" Benjamin kembali bertanya penuh harap.
Alva mengangguk singkat. "Oke." Dari ekor matanya, dia menangkap seringai puas Saxon.
Sementara itu, Denver Jr. mengamati Alva, lalu membatin dalam hati.
Sejak Papa menyusulku ke sini, dia jadi sering bertemu Alva dan tantenya. Dia terlibat misi apa pun itu bersama mereka. Dan Mama marah besar saat tahu Papa ada di sini. Mereka nggak sejalan soal ini, entah bagaimana akhirnya nanti.
Apa benar mereka sudah menemukan lokasi persembunyian Reeve Galante? Lalu apa rencana mereka? Sayangnya, Papa menolak cerita. Katanya, lebih baik aku nggak tahu apa-apa, lebih baik aku nggak terlibat sama sekali. Yah … meski aku sebenarnya penasaran, kurasa memang lebih baik begitu.
Satu-satunya yang kutahu, Alva sebenarnya adalah Maranzano. Dia dan Zia adalah anak-anak Flav Maranzano, sahabat Papa yang tewas dalam kecelakaan pesawat itu. Sementara Aunty Antonia adalah adik Flav. Itu yang Papa tekankan untuk kujaga rapat-rapat. Bahkan Saxon pun tak boleh tahu.
Semoga saja, rencana apa pun yang mereka susun berjalan lancar, tanpa korban. Biar si Reeve saja yang jadi korban, asal jangan mereka. Terutama, jangan sampai Papa.
Denver Jr. menghela napas panjang.
By the way, ada kesempatan ke New Yord nih. Kota kelahiran Mama dan Papa, sekaligus tempat tinggal Grandpa … Don Maurice Castellano. Kuharap Grandpa senang melihat aku datang berkunjung. Lebih baik aku minta Lenice tanyakan pada papanya, alamat Maurice Castellano. Alright.
Sebuah suara menginterupsi lamunannya.
Pelayan datang membawakan seporsi hidangan yang telah terbungkus rapi. Benjamin menerimanya dan berterima kasih, lalu menyerahkan itu pada Alva.
"Al, titip ini buat Zia, ya? Aku tahu dia lagi moody. Kalau udah begitu, dia pasti malas makan. Jadi aku yakin dia belum makan dari pagi."
"Perhatian banget," ledek Saxon.
Alva memandangi Benjamin dengan tatapan bingung. "Dari mana kau tahu dia moody dan malas makan? Kayaknya dia fine-fine aja."
"Dari story-nya! Memangnya kau nggak tahu?"
Alva menggeleng.
"Kau kakaknya sendiri malah nggak tahu. Nggak perhatian," gerutu Benjamin.
"Hei, Zia udah gede, nggak butuh perhatian kakak," balas Alva.
Benjamin balas menatap Alva dengan tatapan tak percaya. "Memperhatikan adik itu tanggung jawab kakak, termasuk memastikan dia sudah makan atau belum."
"Banyak hal yang harus kuurus ketimbang memastikan adikku makan atau nggak," sahut Alva cuek.
"Sudahlah, terima saja! Berikan pada Zia!" pinta Benjamin, menaruh bungkusan makanan itu di depan Alva.
Saxon terkekeh geli, lalu memiringkan badannya ke arah Denver Jr. "Lihat, Denv, sesama abang adu teknik gimana cara memperlakukan adik," godanya.
Denver Jr. mengulum senyum. "Aku nggak relate. Kau juga nggak bakal paham, secara kau si bontot yang masih harus diperhatikan abang-abangmu."
"Sialan! Aku nggak butuh perhatian mereka," sahut Saxon cepat.
Benjamin mengerutkan kening, lalu gantian menatap Saxon. "Kalau buatku, memperhatikan adik itu penting. Untung adikku tipe yang senang diperhatikan kakaknya."
"Ada bagusnya ayahmu sentimen sama Saxon, ya Ben," seloroh Denver Jr. "Bayangkan kalau Saxon jadi adikmu."
"Nah!" Benjamin langsung menjentikkan jarinya, seolah mendapat pencerahan.
Saxon merengut. "Denver … sialan kau," gumamnya.
"Tapi kaget juga, ya." Denver Jr. kembali berbicara, mengabaikan protes Saxon. "Ternyata di masa lalu ada konflik antara ayahnya Saxon dan ayahmu."
Ekspresi Benjamin langsung berubah muram. "Yeah. Dunia sesempit itu."
Saxon mendengus. "Selama ini aku selalu menertawakan kisah-kisah netizen soal perselingkuhan. Atau cerita mereka yang jadi anak dari hubungan gelap orang tua mereka. Nggak sangka, ternyata aku salah satunya."
Benjamin menatap Saxon tajam. "Menurutmu, Sax, antara Isaac dan ibuku … sampai sejauh mana? Benar-benar selingkuh, sampai … tidur bareng?" bisiknya, nyaris tak terdengar. Ada kecemasan dalam suaranya.
Saxon menegang. Tatapannya bertemu dengan Benjamin, tapi dia tak langsung menjawab.
"Maaf, maaf nih ya, Ben, Saxon. Bukan bermaksud nggak hormat," sela Denver Jr. "Tapi coba pikir. Ibu Benja cantik. Ayah Saxon tampan. Mereka bertemu. Sulit untuk percaya kalau nggak ada apa-apa di antara mereka."
Benjamin berdecak, enggan mengakui kemungkinan itu.
"Yeah." Saxon akhirnya angkat suara. "Apalagi kalau ingat Isaac itu kembaran playboy paling legendaris seantero Eastland sepanjang masa. Darah panas pasti mengalir juga di tubuhnya. Kalau menurutku, Ben, mereka memang sejauh itu. Makanya aku udah nggak respek lagi sama Isaac. Sama sekali. Respect, gone!" lanjutnya dengan nada menahan emosi.
Benjamin menggeleng pelan. "Aku menolak percaya …. Masa iya, ibuku, yang waktu itu sedang hamil, malah melakukan itu dengan orang lain?" keluhnya.
"Kenapa nggak?" balas Saxon santai. "Siapa tahu Isaac punya fetish sama wanita hamil."
Denver Jr. spontan menyikut lengan Saxon. "Jaga omongan."
"Kita nggak pernah tahu!" bela Saxon tak kalah cepat.
Benjamin kembali menggeleng. Lalu dengan nada datar, dia berkata, "Kalau kau yakin seperti itu … harapanmu buat menikahi adikku juga sama: gone."
Kata-kata Benjamin barusan langsung membungkam Saxon, membuatnya tak bisa berkata apa-apa.
"Sax, nanya nih. Kau belum apa-apakan Emmeline, kan?" Alva menimbrung, membuat Benjamin ikut memandangi Saxon.
Tak ada jawaban.
Menyadari beberapa pasang mata tertuju padanya, Saxon berdecak kesal. "Al, kau gila? Kau pikir aku bisa jawab itu di depan abangnya yang protektif?"
"Kalau belum, seharusnya kau santai dan bisa menjawab," balas Alva. "Melihat reaksimu ... sepertinya sudah."
Benjamin melengos, wajahnya mengeras.
"Asumsi liar!" seru Saxon.
"Aku nggak bermaksud apa-apa," kata Alva. "Hanya ada kemungkinan kau telah melakukan inses ... hanya kemungkinan."
Suasana semakin tegang.
"Aku juga ... sempat curiga," kata Saxon akhirnya. "Tapi Emmeline bilang ibunya malah marah waktu dia menanyakan soal ini. Katanya nggak ada yang perlu dipertanyakan karena Emmeline anak kandung Salvatore. Aku hanya bisa berharap ibumu berkata jujur, Ben."
"Kalian tes DNA saja, supaya nggak ada prasangka," kata Alva tenang. "Antara kau dan Emmeline, cukup kalian berdua. Kalau hasilnya negatif, seenggaknya kau lega karena nggak pernah inses. Masalah lain, ya ... mau diapakan lagi."
"Tes DNA," gumam Benjamin, mengulang.
"Ya. Masa Saxon perlu tes juga denganmu, Ben? Apa faedahnya?" sahut Alva.
"Yang harus tes DNA itu aku, Emmeline, dan kedua orang tuaku," balas Benjamin pelan.
Menyadari situasi semakin kaku, dan semua yang berkumpul di sekeliling meja memandanginya dengan heran, Benjamin menggoyangkan tangan. "Never mind, guys. Ayo lanjut makan."
Comments
Post a Comment