TDR (24-26) | INA
Bab 24 – Menculik Serdadu Kelompok Mafia
Ada bagusnya Benja punya ide traktir nonton konser. Setidaknya aku punya alasan untuk pergi, nggak harus bertemu muka lagi dengan Zia, meski cuma beberapa hari. Aku akui segalanya jadi nggak nyaman gara-gara kejadian Zia mabuk waktu itu.
Alva asyik berbincang dengan dirinya sendiri sembari menyimpan tas ranselnya di bagasi pesawat.
Lagipula Tonie sudah kasih perintah untuk membantu Saxon menggarap Oliviero di sana. Aku belum mengiyakan permintaan Saxon, bocah ini pasti bakal habis-habisan membujukku, lanjutnya lagi dalam hati seraya melirik Saxon yang berdiri di belakangnya.
"Hei, Sax, kau di sini bersamaku," tegur Denver Jr. saat melihat Saxon memilih kursi di samping Alva. "Itu kursi Benja."
Saxon menyeringai, lalu menoleh pada Benjamin yang mengekor di belakang. "Ben, tukar kursi, ya? Aku ingin lebih dekat toilet."
"Oh, oke," sahut Benjamin santai, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi samping Denver Jr.
Alva melengos saat Saxon menatapnya dengan seringai lebar. Dia menarik seat belt dan mengaitkannya di pinggang.
"Aku tahu apa tujuanmu," gumam Alva dingin.
"Nah! Jadi aku nggak perlu panjang lebar meyakinkanmu," bisik Saxon. "Lagipula kau ini, semua pesanku dicuekin!"
Alva menghela napas panjang. "Aku nggak merasa perlu merespons rengekanmu."
"Such a cool guy," balas Saxon. "Tapi kau nggak akan cool lagi kalau sampai tega membiarkanku bergerak sendiri."
"Kurasa dengan menyumbang ide saja sudah cukup," kata Alva, masih berakting seolah tak berniat membantu Saxon.
"Aku kan nggak mungkin gotong orang itu sendirian!" Saxon masih berbisik, berharap yang lain tidak menaruh curiga padanya. "Tinggi besar begitu!" katanya lagi sambil melirik Oliviero yang duduk di seberang gang.
"Aku tanya, memang apa rencanamu? Bagaimana kau bisa berharap keadaan bakal mendukung? Ada si B, ada si D," balas Alva sama-sama berbisik, merujuk pada Benjamin dan Denver Jr. "Apa yang akan kau katakan pada mereka?"
"B kita bius juga saja sekalian. Si D, tenanglah."
"Kau bocorkan ini pada D?!"
"Nggak! Santai! Aku tahu D punya rencana pergi seharian untuk mengunjungi kakeknya. Aman."
"Ah. Don Maurice Castellano," gumam Alva.
"Betul. Atau kita atur dadakan saja nanti."
Alva melengos. "Memang aku sudah setuju akan membantumu?"
"Alva ...." Saxon mengerang kesal. "Ayolah. Apa pun yang kau minta, aku akan turuti! Kau masih belum percaya padaku?"
"Let's say," bisik Alva. "Aku membutuhkan tenaga dan posisimu saat sudah menjadi Oliviero, untuk melakukan sesuatu."
"Ahh. Hanya itu?"
Alva memandangi Saxon. "Kau kan nggak tahu 'melakukan sesuatu' itu apa."
"Memangnya apa?"
"Hmm." Alva menimbang sejenak. "Kurasa kau nggak akan mampu. Lupakan saja."
"Al! Kau nggak dengar apa kataku tadi?" balas Saxon sengit. "Apa pun, apa pun kulakukan!"
"Bisa kupegang omonganmu?"
"Sangat bisa!"
"Kau sanggup untuk mengotori tanganmu dengan ... darah?"
Saxon menatap Alva lekat. "Itu maksudnya."
"Kan, kau ragu. Rookie. Makanya aku ragu kau mampu."
"Aku bisa. Aku sanggup lakukan apa pun itu. Siapa pun yang jadi sasaranmu, aku akan membantumu."
"Kau nggak penasaran dengan siapa sasaranku?"
"Penasaran." Saxon mengangguk. "Kita bahas nanti. Selesaikan satu per satu."
"Kalau kau mundur, mangkir dari janjimu, padahal misimu sudah terwujud, aku akan menyelesaikanmu dengan tanganku sendiri."
Saxon menatap Alva dengan takjub.
"Itu peringatan dariku supaya kau nggak bermain-main denganku."
"Aku nggak bermain-main dengan janjiku," sahut Saxon mantap.
Alva menatap matanya sekilas, lalu kembali bersandar sambil mengangguk singkat. Saxon tak sanggup menahan seringai lebarnya.
Setelah semalaman bersenang-senang menonton konser band favorit Benjamin, para pemuda itu baru bangun menjelang tengah hari. Usai mandi dan bersiap, Denver Jr. menyapa Oliviero yang tengah menyesap kopi di ruang makan.
"Lho, kau sudah bangun juga, Ollie?"
Oliviero menatap Denver Jr., lalu mengangguk. "Pagi," sapanya.
"Si Saxon dan Alva masih pulas," kata Denver Jr. seraya mengambil selembar roti. "Tapi aku nggak lihat Benja. Ke mana dia?" tanyanya, kemudian menggigit rotinya.
"Benja pergi dari pagi, katanya mau janjian sama teman barunya," jawab Oliviero.
"Lho, aneh. Kau nggak kawal dia?"
Oliviero mengangkat bahu. "Dia keras kepala menolak dikawal. Katanya tidak bebas."
"Nggak bebas." Denver Jr. terkekeh. "Pasti ketemuan sama cewek."
"Sepertinya begitu. Ini kesekian kalinya saya dibebastugaskan. Semoga saja semua aman."
Alva yang hanya pura-pura lelap di kamar, mendengarkan pembicaraan Oliviero dan Denver Jr. di ruangan sebelah.
Apaan, Benja ketemuan sama cewek lain? Katanya serius sama Zia. Zia cuma jadi cadangan atau semacam pilihan, gitu? Bangsat juga cowok itu, gerutu Alva dalam hati.
Terdengar lagi suara Denver Jr. menyahuti ucapan Oliviero. "Seharusnya aman, dia butuh bebas sedikit."
"Kau juga mau pergi?" Oliviero bertanya, memandangi penampilan Denver Jr. yang sudah rapi.
"Yeah." Denver Jr. mengangguk. "Aku ingin mengunjungi kerabatku."
"Kau sudah pernah ke sana?"
"Belum. Nggak usah cemas, aku pesan taksi."
"Baik. Hati-hatilah."
"Oke. Aku pamit ya. Kalian bertiga ngobrol aja yang santai."
Di kamar, Saxon membuka matanya begitu mendengar langkah kaki Denver Jr. menjauh, disusul suara pintu kamar suite tertutup. Dia segera menoleh ke arah Alva yang berbaring di ranjang sebelahnya.
"Psst. Alva!" panggil Saxon. Tidak melihat pergerakan, Saxon memanggil lagi, "Alva! Hei! Aku tahu kau sudah bangun dari tadi."
"Apa?" Alva membuka matanya.
"Kau dengar? Denver sudah pergi. Dan thank God, Benjamin juga pergi dari pagi! Ini kesempatan!" bisik Saxon penuh semangat.
Alva terdiam sejenak. "Kau jadi melakukan rencanamu?" tanyanya, menatap Saxon.
"Kenapa kau masih ragu, astaga! Tentu saja jadi!"
"Rupanya kau memang menggebu-gebu. Sudah siap semuanya? Uangnya ada?"
"Pertanyaan apa itu?" Saxon mengernyit. "Kalau aku nggak siap, aku nggak bakal ikut ke sini."
Alva terkekeh. "Aku penasaran, gajimu waktu masih aktif jadi pembalap ... rupanya lebih dari cukup untuk hidup financial freedom," katanya.
"Aku nggak tertarik membahas itu." Saxon bangkit dan segera bersiap.
"Pagi," sapa Oliviero saat melihat Saxon dan Alva keluar dari kamar. "Kalian mau pergi?"
"Hei, Ollie!" sapa Saxon riang. "Kau mau ikut? Alva mau ajak jalan-jalan ke Central Park!"
Oliviero menimbang sejenak.
"Benjamin dan Denver juga udah pergi, kan? Mereka tadi cuma meninggalkan pesan, bukannya basa-basi ngajak kita ikut," kata Saxon, pura-pura menggerutu. "Jadi daripada bengong di sini seharian, mending jalan-jalan, kan? Untung si Alva mau nemenin!"
Alva terkekeh. "Kayaknya kau yang maksa," kelakarnya. "Berhubung aku tour guide, jadi mau pergi ke mana terserah aku, ya. Selain ke Central Park, aku juga harus menengok rumah tanteku di sini. Jadi jangan protes."
"Mana mungkin aku protes!" balas Saxon. Dia menoleh pada Oliviero. "Ayo, Ollie! Ikut nggak?"
"Euh." Oliviero tampak bimbang. "Bolehkah saya request ... sekalian kita cari keberadaan Benjamin? Dia menolak memberitahu akan pergi ke mana. Saya berusaha tidak cemas, tapi tetap kepikiran."
Saxon dan Alva saling memandang.
"Atau kalau kalian keberatan, tidak apa. Saya akan cari tempat persewaan motor, lalu pergi mencarinya. Setidaknya saya bisa mengawasinya dari jauh. Apakah kau tahu di mana saya bisa sewa motor, Alva?" Oliviero menatap Alva.
Alva menggoyangkan tangan di depan wajah. "Untuk apa sewa motor? Kau bareng kita saja! Kita ikut cari si Benja," katanya.
"Lho, tapi katanya kalian mau jalan-jalan," sahut Oliviero, canggung.
"Santai saja, toh kita nggak ada agenda sama sekali. Ya kan, Sax? Setelah kita temukan Benja, drop Ollie di sana, lalu baru kita ke Central Park." Alva memandangi Saxon sambil melakukan isyarat samar dengan matanya.
Saxon mengangguk setuju. "Boleh! Boleh!"
"Ollie ini memang pengawal setia. Dia sampai kepikiran gara-gara ditinggal tuannya," ujar Alva santai.
"Benar. Pengawal jempolan!" Saxon merangkul Oliviero hangat, lalu mereka bertiga pun segera beranjak pergi.
“Saya jadi merasa tidak enak, disupiri seperti ini,” ujar Oliviero begitu mobil yang Benjamin sewa selama di New Yord meluncur perlahan melewati gerbang hotel.
“Biar kau sesekali merasakan duduk di kursi penumpang, Ollie,” jawab Saxon, tertawa ringan sambil menatap mata Oliviero dari kaca spion. “Lagipula biarkan saja tour guide kita yang menyetir, dia hafal jalan.”
"Kalau mau kebut-kebutan, biar aku saja yang menyetir," imbuh Saxon, menepuk bahu Alva.
"Ini bukan sirkuit," sahut Alva santai. "Kita nikmati perjalanan saja, kan?"
Saxon tertawa lepas. "Astaga, kau ini! Aku cuma bercanda!"
"Daripada bercanda, pegang ponselku, siapa tahu Benja sudah membalas pesanku," kata Alva sambil menyerahkan ponselnya kepada Saxon.
Saxon menatapnya bingung, tapi segera menangkap maksud tersembunyi dari gerakan mata Alva. Begitu menyalakan layar, dia melihat sebuah catatan di sana:
"Akting seolah Benja yang kirim share loc alamat ini."
Di bawahnya, tertaut alamat laboratorium kloning. Saxon tersenyum kecil, kagum pada kecerdikan pemuda di sampingnya.
"Oh!" Saxon berpura-pura terkejut, memulai akting sesuai rencana Alva. "Ini Benja balas!"
"Apa katanya?" tanya Alva tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Dia kirim share loc." Saxon segera mengaktifkan navigasi ke alamat tersebut. Tak lama, suara robot dari aplikasi petunjuk arah mulai berbicara.
"Sedang di mana sebenarnya si Benja?" gumam Alva.
"Sebentar," potong Oliviero tiba-tiba. "Benja balas pesan dan kirim share loc?"
Saxon mengangguk mantap. "Iya, dia yang kirim," jawabnya berbohong.
"Dasar orang itu," gerutu Oliviero. "Pesan kalian dibalas, tapi pesan saya bahkan tidak dibaca."
"Ya sudahlah, Ollie," sahut Alva menenangkan. "Yang penting sekarang kita tahu lokasinya."
Beberapa belas menit kemudian, mereka tiba di tujuan. Alva memilih parkir di bagian paling ujung. Area laboratorium itu luas, hanya ada kurang dari sepuluh mobil yang mengisi tempat parkir. Di tengah-tengah, berdiri bangunan besar berwarna abu-abu dengan tiga lantai menjulang tanpa jendela atau ventilasi, tanpa papan nama apa pun. Pepohonan yang mengelilinginya menciptakan kesan terisolasi.
"Tempat apa ini?" Oliviero bertanya curiga, matanya menyapu sekeliling begitu dia turun dari mobil.
"Entahlah," sahut Alva, berpura-pura sama bingungnya.
"Benar Benja yang mengirim share loc ke sini?"
"Benar, kok. Aku juga nggak tahu ini tempat apa," jawab Saxon. "Apa yang dia lakukan di sini? Ketemuan sama teman kok di tempat aneh seperti ini?"
Alva mulai berjalan menjauh, diikuti Saxon. Sesuai rencana, Saxon tiba-tiba berhenti dan menunduk, menatap sesuatu di antara celah paving block dan rerumputan.
"Ollie! Sini! Ini bukannya barangnya Benja?"
Oliviero buru-buru menghampiri, ekspresinya langsung berubah cemas. "Apa itu? Mana?"
Begitu Oliviero menunduk, Alva dengan sigap menghantam tengkuknya. Oliviero roboh seketika, nyaris mencium tanah jika saja Saxon tidak cepat menangkapnya.
"Geez! Kupikir kau mau pakai obat bius?!" bisik Saxon dengan nada protes.
"Kelamaan," jawab Alva santai. "Aku ambil kursi roda dulu."
"Cepatlah. Jangan sampai dia keburu bangun."
Bab 25 – Daddy Salvatore
Sementara itu di Sivily, Antonella berdiri di depan pintu kamar Zia, menunggu setelah mengetuk dua kali. Sudah beberapa hari ia tidak melihat Zia, baik saat sarapan, makan siang, maupun makan malam. Terlebih, ia sudah mendengar niat keponakannya untuk mundur dari Alva. Antonella membutuhkan penjelasan.
Zia akhirnya membuka pintu. Wajahnya suram. "Ada apa, Aunty?" tanyanya dengan suara lesu.
"Kamu kenapa, Zia? Sakit?" Antonella bertanya lembut. Tangannya terangkat hendak menyentuh dahi Zia, tetapi gadis itu cepat-cepat menghindar.
Zia melangkah mundur, membiarkan Antonella masuk sebelum menutup pintu.
"Aku nggak apa-apa, Aunty," jawabnya datar, lalu menjatuhkan diri ke sofa.
"Kamu nggak kelihatan beberapa hari ini. Nggak makan juga," kata Antonella, mengambil tempat di sampingnya.
"Aku makan, kok. Pesan di luar."
"Benar?"
Zia hanya menggumam singkat.
Antonella menatapnya dalam diam. "Kamu mundur?" tanyanya akhirnya, suaranya lembut.
Zia meliriknya sekilas. "Alva udah cerita, ya?"
Antonella tidak menjawab, hanya terus menatap keponakannya dengan sorot mata penuh pemahaman.
"Nggak masalah kalau kamu mundur," lanjutnya. "Kita sudah sejauh ini, dan semua berkat partisipasi kamu. Aku sangat menghargai usahamu, Zia. Terima kasih."
Zia mengangguk kecil.
"Sebenarnya ... tanpa Alva perlu cerita pun, aku tahu apa yang kalian bicarakan malam itu."
Zia tersentak. Kenangan malam itu kembali terputar dalam benaknya. Napasnya tercekat, ia spontan menatap Antonella dengan ekspresi horor.
"Aku lihat apa yang kamu lakukan pada Alva," bisik Antonella, suaranya sarat keprihatinan.
"A-aku ... aku nggak ...." Zia tergagap.
"Kenapa, Zia?"
Zia kehilangan kata-kata. Napasnya memburu.
"Kenapa kamu lakukan itu?"
Wajah Zia mengeras. "Kenapa Aunty nggak muncul aja? Aunty malah nggak datang, kan? Kalau Aunty muncul, setidaknya aku bisa sadar! Aku nggak akan kebawa pengaruh alkohol dan-"
"Dan mencium Alva?"
Zia melengos, menolak menjawab.
"Jawab aku, Zia."
"Sudah aku bilang, karena alkohol!"
"Semabuk apa pun seseorang, dia nggak akan sampai melakukan itu pada saudara kandungnya sendiri."
Zia mengepalkan tangan. Wajahnya semakin tegang.
"Dulu kamu pernah cerita ... pernah dikatai hal buruk sama cowok yang kamu suka," kata Antonella pelan. "Anehnya, beberapa hari kemudian, Alva datang padaku, mengaku bersalah karena telah mengatai kamu dengan sebutan yang nggak pantas. Kenapa bisa sekebetulan itu, Zia?"
Zia menahan napas, jantungnya berdebar tak menentu.
"Saat itu aku sempat curiga," lanjut Antonella. "Tapi aku menepisnya. Kupikir, kamu cuma ingin melindungi Alva supaya aku nggak memarahinya."
Ruangan terasa semakin sempit bagi Zia.
"Dan semua itu terjawab saat aku melihatmu mencium Alva." Antonella mengucapkannya tanpa intonasi berlebihan, seolah hanya menyampaikan fakta. "Kamu memang menaruh perasaan padanya, kan?"
Zia diam. Mulutnya terkunci rapat, meski pikirannya gaduh.
"Kenapa, Zia?" suara Antonella tetap tenang, tapi ada ketegasan di sana. "Kamu sadar siapa Alva."
Zia masih membisu.
"Dari bayi kalian selalu bersama. Tumbuh besar bersama." Antonella menatapnya tajam. "Sejak kapan kamu menyukai Alva lebih dari sekadar saudara? Apa kamu benar-benar berharap lebih padanya?"
Zia mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.
"Apa kamu nggak pernah berpikir kalau yang kamu rasakan ini salah? Kenapa kamu nggak coba lupakan Alva?"
Dan saat itu juga, sesuatu dalam diri Zia meledak.
"Aunty nggak berhak menasihati aku!" bentaknya. "Aunty nggak tahu apa-apa! Aku udah coba segalanya buat melupakan Alva!" Suaranya bergetar, penuh emosi. "Jangan ngomong seolah aku nggak melakukan apa-apa! Aunty pikir aku senang dengan kenyataan ini?!"
Antonella menarik napas panjang, berusaha tetap berpikir jernih. "Zia, tenang. Kita bisa bicara baik-baik. Kamu tahu kamu bisa percaya padaku. Apa pun yang kamu rasakan, apa pun yang ingin kamu sampaikan, Aunty akan dengarkan."
"Nggak perlu!" Zia berteriak. Matanya memerah, tubuhnya gemetar. "Aunty cuma mau menghakimi aku karena aku suka Alva, kan?! Aku juga nggak mau begini! Aku juga nggak mau!"
"Zia, dengar dulu-"
"Nggak!" Zia tidak memberi Antonella kesempatan bicara. "Aku lebih baik pulang ke New Yord! Aku akan pulang sendirian!"
Setelah berteriak, Zia berbalik dan berlari meninggalkan Antonella yang terkejut. Wanita itu buru-buru mengejar, tapi terlambat, lift sudah tertutup sebelum ia sempat menghentikan Zia. Saat tiba di lobi, keponakannya itu sudah tidak terlihat di mana pun.
Astaga, kenapa dia jadi begini? Antonella mengusap wajahnya, menghela napas panjang. Baru kemarin aku memuji dia sudah dewasa ... tapi sekarang?
Tatapannya menyapu setiap sudut halaman hotel, mencari sosok Zia di antara orang-orang yang berlalu lalang.
Mungkin karena terlalu lama menahan perasaannya pada Alva ... Zia jadi lebih mudah terpancing emosi. Dia tahu itu salah, dia berusaha melupakan, tapi gagal. Ditambah lagi, dia harus bergulat dengan perasaannya pada Benjamin. Aku tahu Zia nggak tega terus membohongi Benja. Aku yakin dia menyukai Benja. Tapi bagaimana dia bisa bersama Benja, kalau tahu aku berniat mencelakakan ayahnya?
Antonella menghela napas berat.
Kasihan kamu, Zia. Kamu pergi ke mana??
Tanpa peduli tatapan orang-orang, Zia terus berlari, air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan.
Aunty nggak bakalan mengerti! teriaknya dalam hati. Pasti cuma mau menghakimi aku!
Aunty yang cuma fokus balas dendam, nggak akan bisa paham apa yang aku rasakan! Lalu bagaimana kalau dia tahu aku mulai goyah karena perhatian Benja? Aku dan Benja seharusnya bisa jadi pasangan ... tapi gimana aku bisa mencintai Benja kalau tahu Aunty mau membunuh papanya? Aku juga benci papanya Benja, tapi ... aku suka Benja.
Aku galau gara-gara Benja, lalu ingat Alva ... tapi itu lebih nggak mungkin lagi! Aku harus gimana?!
Pikiran yang kusut membuatnya lengah. Tanpa sadar, ia melangkah ke persimpangan jalan tanpa memperhatikan lampu lalu lintas.
Suara klakson menggema, diikuti decitan rem yang memekakkan telinga.
Zia tersentak, tubuhnya kaku. Teriakan orang-orang bercampur dengan dengung di kepalanya. Ia terduduk di jalan, hanya beberapa sentimeter dari mobil hitam yang nyaris menabraknya.
"Nona? Nona tidak apa-apa?" Suara seorang pria terdengar panik.
Sopir mobil itu buru-buru turun. Dari pintu belakang, seseorang ikut keluar. Seorang pria dewasa dengan jubah panjang yang berkibar seiring gerak langkahnya.
"Rocco! Kau tidak berhati-hati!" tegurnya kepada si sopir.
Lalu dia berjongkok di dekat Zia.
"Nona tidak apa? Apa yang sakit?" tanyanya penuh perhatian.
Zia, masih setengah linglung, mengangkat tangannya, memperlihatkan telapak yang lecet akibat terbentur aspal.
"Maafkan supir saya," kata pria itu. "Dia tidak berhati-hati. Apa ada luka lain?"
Zia tak menolak saat pria itu meraih tangannya, membantunya berdiri. Matanya menangkap lecet lain di betisnya.
"Kaki Anda juga terluka," katanya lembut. "Izinkan saya membawa Anda ke rumah sakit, ya?"
Pada detik itu, saat tatapan mereka bertemu, kesadaran Zia pulih sepenuhnya.
Mata Zia membesar saat menyadari siapa pria yang masih memegangi lengannya itu.
Salvatore Corvino.
Salvatore! desisnya dalam hati.
"Bagaimana? Kita ke rumah sakit?" tanya Salvatore lagi, suaranya tetap tenang.
Zia spontan menarik diri, melepaskan tangannya dari genggaman pria itu. Ia menggeleng pelan, berusaha menguasai diri. "N-nggak usah," jawabnya terbata.
"Tapi Anda terluka."
Suara klakson bersahutan di belakang mereka, menambah hiruk-pikuk suasana.
"Lihat, saya malah bikin macet," kata Salvatore sambil melirik antrean mobil yang tertahan. "Bagaimana kalau saya antar Anda? Sambil diobati juga lukanya di dalam."
Zia semakin gamang.
"Anda tidak perlu khawatir," lanjut Salvatore. "Saya hanya ingin bertanggung jawab."
Melihat raut wajah pria itu yang terlihat tulus, Zia ragu sejenak. Namun, sebelum pikirannya memutuskan, tubuhnya sudah lebih dulu bergerak. Salvatore membimbingnya masuk ke dalam mobil.
"Tak apa-apa, Nona. Maafkan kami, ya?" katanya lembut.
Di dalam mobil berlapis anti peluru dengan interior mewah itu, Zia merasa seperti anak kucing yang terluka, terjebak di tempat asing yang seharusnya tidak ia masuki.
Ini mobil Salvatore. Aku ditabrak Salvatore. Papanya Benja. Papanya Benja ....
Pikirannya terus mengulang kata-kata itu.
Mobil melaju perlahan. Salvatore menerima kotak obat dari sopirnya lalu menoleh ke arah Zia. "Apakah hanya dua tempat yang luka?"
Zia mengangguk kecil. "Iya," jawabnya hampir tak terdengar.
"Maaf ya, saya obati." Salvatore meraih kapas yang telah dibasahi obat merah dan hendak menempelkannya ke luka Zia.
Zia buru-buru menolak. "Nggak ... nggak usah, saya bisa sendiri," katanya canggung.
Salvatore tersenyum tipis, lalu menyerahkan kapas dan obat merah kepadanya.
Desir perasaan aneh tiba-tiba menyergap Salvatore saat memerhatikan gadis yang tengah mengobati lukanya itu.
Mirip seseorang, batin Salvatore dalam hati.
Salvatore mengalihkan pandangan dan kembali bertanya, "Anda hendak ke mana, Nona?"
Zia menunduk. "Nggak tahu ...," bisiknya lirih.
Bekas air yang mengering di sudut mata gadis itu menjadi perhatian Salvatore kemudian.
Dia baru menangis.
"Anda dari mana? Tinggal di mana?"
"Amerida," jawab Zia singkat.
Salvatore terdiam sesaat. "Anda turis rupanya," gumamnya. "Biasanya turis bersenang-senang, tapi Anda malah menangis. Maaf kalau saya lancang. Apakah Anda sedang butuh bantuan?"
Zia akhirnya menoleh, menatap mata Salvatore. Tidak ada tipu daya di sana. Tatapannya hangat, penuh ketulusan.
"A-antarkan saya ke bandara saja ...."
Salvatore mengangkat alis. "Anda ingin ke mana? Sudah selesai liburannya?"
Zia mengangguk.
"Anda ke sini sendirian?"
Zia menggeleng.
"Lalu, kenapa kembali sendirian? Saya lihat Anda juga tidak membawa koper atau barang lainnya." Salvatore menatapnya dengan cermat. "Maaf kalau saya terlalu banyak bertanya, tapi saya hanya khawatir."
Zia tidak menjawab.
"Siapa nama Anda?"
Zia menelan ludah, menimbang sejenak sebelum menjawab, "F-Felizia Agnelli."
Darah Salvatore berdesir mendengar nama itu.
Pacar Benja, katanya dalam hati. Sekaligus keponakan Antonia.
Ada apa dengannya? Kenapa sampai menangis begitu, lalu nyaris tertabrak?
"Jadi rupanya kamu ... Felizia," ucapnya pelan.
Zia menatapnya dengan bingung.
"Dunia ini sempit, ya, Nak?" Salvatore tersenyum hangat. "Kamu teman spesial anak saya. Benjamin."
Zia mengerjap.
Entah bagian mana yang lebih mengganggunya, 'teman spesial anak saya' atau cara Salvatore menyebutnya ‘Nak’.
"A-Anda ... papanya Benjamin," gumam Zia, berpura-pura baru menyadari hal itu.
"Benar." Salvatore mengangguk. "Saya pernah minta Benja untuk mengajakmu ke rumah, supaya kita bisa kenalan. Tapi ternyata kita bertemu secara tidak sengaja seperti ini, ya."
Salvatore kembali menatap Zia dengan lembut.
"Apa yang membuatmu begitu sedih, Nak? Sampai berlarian di jalan seperti itu?"
Zia menatap dalam mata pria itu, berharap menemukan jejak dinginnya seorang pria kejam. Berharap menemukan sosok yang bersembunyi di balik topeng kebaikan.
Namun yang ia lihat hanyalah ketulusan.
Kenapa dia peduli padaku? Apa sifat Benja yang hangat juga dia miliki? Like father, like son? Zia bertanya-tanya dalam hati.
Tidak. Ingat, Zia. Dia musuhmu.
Dia orang yang sudah membuat Papa celaka.
Dia peduli hanya karena dikiranya aku pacar Benja. Itu saja.
Jangan terkecoh!
"Gimana, Nak?"
Suara Salvatore menyentaknya kembali ke realitas.
Please, jangan sebut aku seperti itu .... Kamu itu bukan siapa-siapa aku! Kamu musuh! teriak Zia dalam hati.
"Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Zia menunduk, berpikir cepat.
Lalu ia menyadari sesuatu.
Tidak ada salahnya ... memanfaatkan ini. Kalau aku bisa mendekati Salvatore, aku bisa menemukan kelemahannya. Anggap dia seperti seorang ayah. Seperti dulu aku menganggap Kevin sebagai Daddy.
Jika aku bisa dekat dengannya ... pasti lebih mudah untuk menyerangnya.
Meski aku nggak tahu apakah aku sanggup melakukan itu … dan lagi, perasaan bersalahku pasti akan berlipat ganda. Di kemudian hari, aku nggak akan bisa menatap Benjamin seperti biasa.
Tapi mungkin memang ini jalan ceritaku dan Benja. Buktinya, aku malah dipertemukan langsung dengan musuh besarku … musuh besar kami.
Semesta seperti memberiku jalan untuk melakukan ini.
Salvatore menyadari gadis di sampingnya masih saja diam. Dia lalu berkata, "Kamu nggak perlu canggung, Felizia. Saya hanya ingin bisa berteman denganmu."
Aku nggak perlu canggung, batin Zia.
Benar, jadikan saja dia sugar daddy. Tapi aku nggak boleh ada kontak fisik dengannya. Aku nggak mau. Aku nggak akan biarkan hal itu terjadi lagi.
Aku nggak mau mengalami kejadian seperti Kevin … lebih dari itu, aku bahkan nggak bisa membayangkan rasanya ditiduri ayah dan anak sekaligus. Mengerikan. Jijik.
Aku harus menetapkan batasan.
"Kenapa … kenapa Anda baik sekali? Anda kan nggak kenal saya …." Suara Zia terdengar ragu.
Salvatore tersenyum tipis. "Justru kita sedang berkenalan sekarang, kan? Saya selalu percaya, siapa pun yang Benja anggap spesial, maka dia juga spesial buat saya."
Zia kembali terdiam.
"Bagaimana kalau saya traktir kamu makan gelato? Kamu suka?" tawar Salvatore. "Anggap saja ini ucapan maaf saya karena nyaris membuatmu celaka."
Ketegangan di wajah Zia perlahan mengendur. Ia mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia membalas senyuman pria itu.
"Aku sedang bertengkar dengan tanteku." Zia akhirnya mengangkat suara di sela menyendok gelato dari mangkuknya.
Salvatore menatapnya penuh perhatian.
"Makanya aku kabur dari hotel … mau pulang ke Amerida," lanjut Zia.
Bertengkar dengan Antonia? gumam Salvatore dalam hati. Sampai kabur segala. Kelihatannya serius.
"Kamu masih emosi, Felizia," sahut Salvatore tenang. "Keputusan yang diambil saat kepala panas jarang berakhir baik."
Zia menunduk, mengaduk es krimnya tanpa semangat.
"Pas juga, ya, kita makan es krim seperti ini," lanjut Salvatore, berusaha mencairkan suasana. "Lumayan ampuh untuk mendinginkan kepala, kan?"
Zia menghela napas panjang. "Aku cuma punya satu aunty … tapi malah bertengkar begini. Dia cuma mau menghakimi aku atas kesalahanku."
"Benarkah?" Salvatore mengangkat alis. "Itu mungkin asumsi kamu saja, Felizia."
Zia mengangkat bahu. "Mm. Panggil Zia saja, Uncle," katanya, mengoreksi panggilan Salvatore.
Salvatore mengangguk. "Baiklah, Zia. Saya senang kamu mulai percaya pada saya. Terima kasih."
Zia menyendok es krimnya lagi, membiarkan sensasi dinginnya memenuhi rongga mulutnya, seolah ikut menenangkan hatinya.
"Bagaimana dengan orang tuamu, Zia? Mungkin mereka bisa membantu meluruskan masalahmu dengan tantemu," tanya Salvatore hati-hati.
Zia tersenyum kecil, samar. "Aku tumbuh besar karena jasa aunty."
Salvatore tertegun.
"Aunty yang merawat aku dan kakakku sejak bayi. Beliau yang menggantikan peran papa, membantu mama mengasuhku. Sebenarnya sih, nggak bisa disebut menggantikan peran papa, ya … aunty kan perempuan. Tapi aku menganggapnya seperti itu."
Salvatore menatapnya serius. "Peran seorang ayah itu tidak bisa digantikan oleh lawan jenis."
Hening sejenak.
"Bolehkah saya bertanya … di mana papamu?"
Zia menatap Salvatore tepat di mata.
Kamu yang membuat papa terdesak .…
Kamu yang menyebabkan dia harus naik pesawat itu … yang akhirnya merenggut nyawanya.
Kamu sendiri yang menghilangkan eksistensi papaku!
Tapi yang keluar dari mulutnya berbeda.
Zia menunduk dalam. "Papa nggak ada sejak aku belum lahir … kecelakaan tragis …," ujarnya lirih.
Tercekat, Salvatore menahan napas. "Maafkan saya, Zia. Saya malah membuatmu semakin sedih."
Tangannya terulur, menggenggam jemari Zia erat.
Zia hanya tersenyum tipis.
Salvatore menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kenapa Antonia tidak pernah cerita apa-apa? Ah, kenapa aku harus bingung? Aku dan dia hanya punya urusan yang lain. Mana ada waktu berbincang hal pribadi seperti ini?
"Kalau saya tangkap dari ceritamu, kelihatannya aunty sangat menyayangimu, kan?" ujar Salvatore akhirnya. "Dia yang merawatmu, membesarkanmu, seperti anaknya sendiri?"
Zia mengangguk pelan. "Aku tahu aunty memang sayang sama aku .…"
"Saya rasa kamu hanya salah paham dengan maksudnya," kata Salvatore, yakin. "Kamu berasumsi dia ingin menghakimimu … padahal bisa saja dia hanya ingin menjadi tempatmu bercerita. Tapi rasa bersalahmu terlalu besar, dan itu membuatmu defensif, seolah dia adalah musuh yang akan menyerangmu."
Zia termenung.
"Makes sense?"
Zia menarik napas panjang, lalu kembali menyendok es krimnya.
"Kamu butuh waktu untuk menenangkan diri," ujar Salvatore lagi, seolah menyimpulkan. "Kalau kamu bersedia, kamu boleh menginap sementara di rumah saya. Benja pasti senang kalau ada kamu."
Zia terperangah, menatap Salvatore dengan takjub.
"Tapi itu kalau kamu bersedia," lanjut Salvatore. "Karena dari yang saya dengar, kamu belum mau berkomitmen dengan Benja."
"Eum. Terima kasih atas tawarannya, Uncle. Tapi … sepertinya aku akan kembali ke hotel saja nanti," jawab Zia dengan sopan.
"Begitu lebih baik," sahut Salvatore sambil tersenyum. "Semoga kamu dan tantemu segera rukun seperti sediakala."
Zia mengangguk, lalu menatap pria itu penuh rasa ingin tahu. "Uncle, kenapa baik sekali, sih?"
Salvatore tersenyum tipis. "Sudah saya katakan, bukan? Saya menganggap spesial siapa pun yang dianggap spesial oleh Benja."
Zia menatapnya lama sebelum berbisik pelan, "Uncle ayah yang baik .…"
Tatapannya meredup seiring dengan kata-kata yang mengalir dari bibirnya. "Aku jadi iri … Benja dan Emmeline sangat beruntung memiliki ayah seperti Uncle. Nggak seperti aku. Papaku bahkan nggak pernah tahu kalau aku ada .…"
Salvatore termenung.
Zia menahan senyum kecil saat melihat reaksi pria itu, pergolakan pikirannya tampak jelas di wajahnya. Ia ingat, dulu Kevin juga langsung iba begitu mendengar hal serupa.
"Aku nggak pernah tahu bagaimana rasanya punya papa," lanjutnya lirih. "Nggak pernah dipeluk papa. Nggak tahu bagaimana wangi seorang papa. Nggak pernah dimarahi kalau aku nakal. Nggak pernah diajari perkalian. Nggak tahu rasanya bermanja-manja pada papa .… Anak-anak Uncle beruntung."
Salvatore menatapnya lekat, ekspresinya sulit diterjemahkan.
"Kamu seumuran dengan Emmeline," ujarnya pelan.
Zia tersenyum kecil. "Aku merasa cocok dan nyaman bisa ngobrol lama dengan Uncle di sini .… Bolehkah aku menganggap Uncle sebagai papa?"
Mata bening Zia penuh harap, bercampur cemas dan gugup.
Salvatore sedikit terkejut.
"Euh … aku nggak sopan, ya, Uncle?" Zia buru-buru meralat dengan gelagapan. "Masa tiba-tiba aja minta Uncle hal seperti itu. Maaf ya, Uncle, jangan dihiraukan kata-kataku barusan. Aku cuma-"
"Dengan senang hati, Zia," sela Salvatore tiba-tiba, suaranya hangat.
Zia terdiam, menatapnya dengan mata membesar.
"Saya justru merasa senang dan tersanjung kamu meminta ini," lanjut Salvatore, mantap. "Saya tidak mungkin menolak memiliki seorang putri sepertimu. Kamu boleh memanggil saya Papa."
Bola mata Zia berbinar seolah sengaja ia biarkan terlihat penuh kebahagiaan. "Terima kasih … terima kasih banyak, Daddy," ujarnya dengan suara bergetar. "Kalau panggilnya Daddy boleh, kan?"
Salvatore mengangguk. "Boleh."
Bab 26 – Serdadu yang Ternyata Putra Mahkota
Sementara itu di New Yord ….
"What a day, huh?" Saxon menghela napas lega saat mobil mereka melaju membelah jalanan.
Alva melirik Saxon, mengulum senyum sebelum kembali fokus pada kemudi. "Terkabul juga keinginanmu," sahutnya ringan.
"Semua lancar! Dunia berpihak padaku!" seru Saxon penuh semangat.
"Bagaimana keadaanmu, Oliviero alias Saxon?" Alva menatap duplikat Saxon dalam tubuh Oliviero di bangku belakang lewat kaca spion.
Oliviero menyeringai lebar. "I've never felt this good! Jadi seperti ini rasanya membajak tubuh orang, huh?!"
Saxon tertawa keras, lalu mengajak Oliviero ber-high five. "Mulai sekarang aku punya duplikat! Dan lebih hebatnya lagi, duplikatku itu berdarah Iralia murni! Damnn!!"
Alva menghela napas panjang. "Kalian harus ingat untuk jaga sikap di depan semua orang," ujarnya tajam. "Hanya aku yang tahu soal ini, dan kujamin, selamanya akan tetap begitu. Jadi kalau sampai bocor keluar, itu murni kelalaian kalian sendiri."
"Tenang!" sahut Saxon, percaya diri.
"Kau nggak perlu cemas, Al! Dengar, aku berhutang budi padamu," sambung Oliviero cepat.
Alva mengernyit, lalu berdecak. "Ollie masih careless," gumamnya.
Suaranya kembali tegas. "Sax, kuharap kau sudah mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan lingkungan klan Corvino. Kau tahu kan, tugas utamamu? Mengawal Benjamin."
Oliviero mengangguk yakin. "Tentu!"
"Dan kau nggak bisa bersikap seperti Saxon dalam tubuh Oliviero," lanjut Alva tajam. "Orang bakal langsung curiga. Oliviero itu tenang, dingin, penuh perhitungan. Dia nggak pernah terlihat berapi-api seperti kau barusan."
Oliviero terdiam.
"Dia hampir selalu menggunakan bahasa baku, bukan prokem seperti yang kau pakai tadi," imbuh Alva lagi. "Dan satu hal yang paling penting, dia sangat mengabdikan diri pada Benjamin dan keluarganya. Apa pun akan dia lakukan demi keselamatan Benjamin. Kau paham?"
Saxon menatap duplikatnya itu dengan cemas. "Kau bisa, Ollie? Harus bisa. Udah sampai sini!"
Oliviero mengangguk perlahan. Tapi keraguan masih tampak di matanya.
"Kalian sudah terlanjur basah. Main all out! Jangan lengah!" Alva memperingatkan sekali lagi.
"Ollie, jadilah Oliviero. Oke?! Jangan sampai ada yang curiga. Nyawa kita berdua taruhannya, tahu?!" ujar Saxon, nyaris panik.
Alva melengos malas. "Kurasa aku harus jadi baby sitter," gumamnya.
"Bukan baby sitter lah, Al. Kau itu mentor," sahut Saxon, mengoreksi dengan nada bercanda.
Oliviero tiba-tiba menyela, suaranya lebih hati-hati, "Ngomong-ngomong, saya belum mengetahui seperti apa latar belakang Oliviero. Apakah kedua orang tuanya masih ada? Bagaimana hubungannya dengan mereka?"
Alva meliriknya sekilas melalui kaca spion dan mengulum senyum kecil, menyadari bahwa Oliviero kini mulai lebih cermat memilih kata-kata.
Saxon menimpali, "Benar juga! Kita belum tahu! Kau tahu sesuatu, Al?"
Alva mendengus. "Kalian ini cuma fokus dengan event mind transfer, ya?" sindirnya. "Hal-hal lain seperti latar belakang, daftar keluarga korban tumbal, nggak kalian pikirkan sama sekali?"
Alva menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Berterima kasihlah padaku, karena aku yang mengerjakan tugas kalian ini. Oliviero hidup sebatang kara sejak umur sebelas. Ibunya meninggalkannya … rumornya, dia seorang mantan stripper. Dia juga nggak pernah tahu siapa ayahnya."
"Sebuah keberuntungan baginya …." Alva menarik napas untuk memberi jeda, matanya menerawang sejenak. "Sejak awal mula dia memang sudah akrab dengan Benjamin. Jadi saat Benja menemukan Ollie merana di jalanan, dia langsung membawanya pulang. Salvatore menerima Ollie, bukan sebagai anak angkat resmi, tapi tetap mengasuh dan mendidiknya seperti bagian dari keluarga. Ollie dilatih, ditempa, sampai akhirnya dia diangkat sebagai prajurit. Sejak saat itu, tugasnya hanya satu: menjaga Benjamin."
Baik Saxon maupun duplikatnya, Oliviero, terdiam, mencerna kisah itu.
"Makanya, jangan heran kalau Oliviero sangat mengabdi pada Benjamin, huh? Benja menghilang beberapa jam saja, Ollie seperti kebakaran jenggot," imbuh Alva, menutup ceritanya dengan nada datar.
"Jadi begitu .…" Saxon mengangguk-angguk, lalu menatap Alva dengan tatapan penuh selidik. "Kau ini … kapan kau cari tahunya, huh? Tiba-tiba saja tahu semuanya."
Alva hanya mengangkat bahu. "Aku terbiasa bekerja mencari tahu semua hal."
Oliviero menggumam, "Ibunya seorang stripper .…" Ada nada miris dalam suaranya. "Rupanya Salvatore sangat dermawan, bersedia mengasuh anak jalanan yang asal-usulnya tidak jelas seperti itu."
"Karena Benja yang meminta," balas Alva.
Saxon terkekeh. "Benjamin, sang anak kesayangan."
Alva menghela napas panjang. "Buat mafioso seperti Salvatore, anak lelaki adalah harta tak ternilai."
Saxon mengangguk, lalu menyeringai kecil. "Aku lupa. Kalian menjunjung tinggi budaya patriarki." Dia melirik Alva. "Berarti kau juga, Al? Harta tak ternilai buat ayahmu?"
Alva seketika menegang.
Oliviero langsung menyikut Saxon, berbisik pelan, "Kau lupa? Ayah Zia dan Alva kan … sudah tidak ada."
Saxon meringis, menyadari kealpaannya. "Shit. Maaf, Alva. Aku benar-benar lupa."
Alih-alih marah, Alva justru tersenyum sinis. "Kau, Sax, adalah harta tak ternilai buat Isaac Renauld."
Saxon melengos, enggan membahas lebih lanjut.
"Sudahlah." Oliviero memotong, berusaha mencairkan suasana. "Kenapa hawanya jadi kaku seperti ini?"
Alva mengabaikan dan kembali ke topik utama. "Jadi, kau sudah paham apa yang harus kau lakukan saat pertama kali bertemu Benja, Ollie?"
Oliviero mengangguk mantap. "Tentu. Tinggal copycat perilaku dan sikap Oliviero selama ini. Saya harap tidak ada yang luput. Kau bantu saya, Sax. Tolong ingatkan kalau saya melupakan sesuatu."
Saxon mengangkat jempol sebagai jawaban.
Alva melirik ke kaca spion, lalu bertanya, "Sudah terbiasa dengan tubuh baru, eh, Ollie?"
Oliviero menyandarkan punggungnya, menggerakkan bahu sejenak. "Lumayan. Ollie ternyata rutin nge-gym juga, jadi tidak terasa beda jauh dengan tubuh Saxonku. Tapi .…"
Dia menunduk, meneliti tangannya, jemarinya, lalu melirik kedua kakinya.
Saxon menatapnya, menunggu. "Apa? Ada yang aneh??" tanyanya cemas.
Oliviero menyeringai lebar. "Tapi milik Ollie lebih ekstra daripada milik Saxon," ujarnya puas. "Bisa kurasakan benda satu itu."
Alva langsung meringis, menangkap maksudnya dalam sekejap.
Saxon merengut jijik. "Oh. Begitu?"
Oliviero tertawa kecil melihat reaksi Saxon. "Saya dapat tiket emas! Kau, Sax, terimalah milikmu apa adanya."
"Shut up!" Saxon mendengus kesal.
"Oh iya, Ollie," panggil Alva, suaranya mengandung peringatan. "Oliviero nggak pernah ikut dalam obrolan cabul seperti ini."
"Saya tahu," sahut Oliviero santai. "Tenang saja. Ini cuma sekarang. Lagipula, hanya ada kalian berdua di sini."
Saxon terkekeh. "Benar juga," gumamnya, sebelum tiba-tiba teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong, aku nggak pernah tahu, Ollie punya pacar atau nggak. Dia bukan perjaka, kan?"
"Aneh kalau dia masih perjaka," sahut Alva. "Tapi dari penyelidikanku kemarin, kurasa dia memang sedang nggak punya pacar."
Saxon menatapnya penuh selidik. "Serius?"
Alva mengangguk. "Bagaimana bisa pacaran kalau dia harus jadi Benja sitter 24/7?"
Saxon tertawa lepas. "Ollie, kau banggakan milikmu yang ekstra, tapi untuk apa semua itu? Kau nggak punya pacar! Lebih lagi, kau harus jaga Benja terus-terusan! Rasakan!"
"Sialan kau," sungut Oliviero, menatap Saxon dengan kesal.
Suatu malam di kediaman Corvino, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan gerimis turun di luar jendela, membasahi halaman luas yang dikelilingi pepohonan rindang. Di dalam ruang kerja berpanel kayu, Salvatore duduk di belakang meja besar dari mahoni, menyesap anggur merah dalam diam. Tatapan matanya kosong, pikirannya melayang jauh.
Sebuah denting notifikasi mengalihkan perhatiannya. Salvatore meraih ponselnya dan melihat layar. Sebuah pesan dari Zia.
Zia:
Zia senang hari ini bisa lunch sama Daddy!
Terima kasih Daddy, udah temani Zia!
Tapi Daddy kelihatannya sedang gundah, ya?
Daddy nggak cerita apa-apa, Zia tahu artinya Zia nggak perlu tahu.
Apa pun yang Daddy hadapi, semoga cepat selesai, ya Dad!
Jangan lupa makan, Daddy, jangan lupa istirahat juga!
Daddy harus tetap sehat supaya selalu bersemangat menyambut hari. Selamat istirahat, Daddy aku!
Senyum tipis terulas di wajah Salvatore. Kata-kata manis dari gadis itu berhasil mencairkan sedikit kekakuan di hatinya. Zia, anak gadis orang yang kini menganggapnya sebagai ayah, memiliki cara tersendiri untuk menyentuh perasaannya.
Salvatore tahu, kesepakatan antara dirinya dan Zia sebagai daddy-daughter bisa memicu protes keras dari Benjamin. Namun, dia tak sanggup menolak keinginan Zia, gadis yang begitu jelas haus akan kasih sayang seorang ayah. Salvatore hanya ingin memberinya kehangatan yang selama ini tak ia dapatkan, tanpa maksud lain. Begitu pula Zia, yang tampaknya memang benar-benar menganggapnya sebagai sosok ayah.
Setidaknya, meskipun kegundahan tengah melanda Salvatore beberapa hari terakhir ini, di sisi lain ada sosok Zia yang manis, yang bisa mengembalikan semangatnya.
Pintu diketuk pelan. Sesaat kemudian, Luigi Lombardo masuk, membawa sebuah amplop cokelat dengan segel laboratorium di bagian depannya. Dia tampak ragu sejenak, tetapi kemudian melangkah maju dan menyodorkan amplop itu.
"Hasil tes Anda sudah keluar, Don," ucapnya dengan suara rendah.
Salvatore menatap amplop itu selama beberapa detik, seolah-olah benda kecil itu lebih berat dari yang seharusnya. Tangannya perlahan meraihnya, tetapi gerakannya sedikit tertahan. Dadanya berdegup lebih kencang dari yang dia harapkan. Dia menelan ludah, lalu merobek segel dengan hati-hati.
Kertas di dalam amplop terasa dingin di ujung jarinya. Matanya menyusuri baris demi baris hasil tes DNA itu, membaca dengan saksama. Setiap kata, setiap angka, setiap persentase terasa seperti paku yang menancap dalam ke pikirannya. Napasnya tertahan di tenggorokan. Perlahan, dia menggeleng, lalu mengembuskan napas panjang dan berat.
Luigi, yang berdiri tak jauh darinya, mengamati perubahan ekspresi bosnya. Dia membaca segalanya dari sorot mata Salvatore. Keraguan, penyangkalan, lalu sesuatu yang mirip dengan kelelahan.
Luigi menatap amplop yang kini tergeletak di atas meja, seolah benda itu menyimpan lebih banyak beban daripada yang mampu dia tanggung. Dia melihat Salvatore yang masih terdiam, tatapannya menerawang ke balik jendela ruang kerja.
Hujan di luar mulai mereda, menyisakan suara rintik-rintik halus di kaca. Waktu seakan melambat di dalam ruangan itu. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar, menemani kesunyian yang menyesakkan.
"Maafkan bila saya lancang, Don." Luigi akhirnya membuka suara, nadanya hati-hati. "Kalau boleh saya bertanya ... apakah Anda bermaksud memberitahukan soal ini padanya?"
Salvatore mengangkat kepalanya, menatap Luigi dalam-dalam, seolah mencari jawaban dalam pertanyaan anak buahnya sendiri. Dia menutup matanya sesaat, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Bukan soal memberitahu atau tidak," katanya pelan. "Tapi ... bagaimana aku harus menatapnya sekarang? Seumur hidupnya, dia tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Dan seumur hidupku, aku tidak pernah mengira dia adalah darah dagingku sendiri."
Luigi mengangguk pelan. "Saya paham, Don."
"Tidak, kau tidak paham," potong Salvatore, suaranya sedikit bergetar. "Aku ada di sana saat dia butuh perlindungan. Aku membesarkannya, melatihnya, menjadikannya seseorang yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Tapi aku melakukannya bukan sebagai ayahnya. Aku melakukannya sebagai seseorang yang hanya ... peduli. Dan sekarang?" Salvatore tertawa kecil, tapi tanpa kegembiraan. "Sekarang aku tahu kebenarannya. Lalu apa? Aku datang padanya dan berkata, 'Hei, ternyata aku ayahmu. Maaf karena aku tidak pernah tahu’?"
Luigi tak bisa menjawab. Dia tahu, ini bukan sekadar hal memberitahu atau tidak. Ini adalah perihal mengubah hidup seseorang dalam satu kalimat. Dan itu adalah beban yang tidak bisa diangkat kembali begitu saja.
Setelah beberapa saat, Salvatore bangkit dari kursinya, meraih gelas anggur miliknya yang telah berkurang separuh. Dia menatap cairan merah tua itu sebelum akhirnya menyesapnya sedikit.
"Luigi," katanya kemudian, nadanya kembali tenang meski masih terdengar lelah. "Untuk saat ini, biarkan segalanya tetap seperti ini. Oliviero tidak perlu tahu. Tidak sekarang."
"Dan nanti?"
Salvatore terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku belum tahu."
Luigi menerima jawaban itu tanpa banyak kata. Dia tahu, Salvatore butuh waktu untuk mencerna semuanya.
"Di mana mereka? Sudah kembali ke rumah?" tanya Salvatore dengan nada datar.
Luigi menggeleng. "Benjamin dan Oliviero masih dalam perjalanan dari bandara ke sini, Don. Baru saja mereka landing. Ada sedikit delay," jawabnya.
Salvatore mengangguk. "Benja dengan siapa saja? Apa dia mengajak teman-teman sekolahnya?"
"Tidak, Don. Benjamin membawa teman-teman barunya. Denver Jr., Saxon, dan satu orang lagi yang rupanya ikut. Matteo masih berusaha mendapatkan foto anak ini."
Salvatore mengernyit. "Namanya?"
"Alvaro Agnelli, kakak dari Felizia Agnelli."
Salvatore mengangguk kecil. "Agnelli. Tidak perlu diburu-buru, bukan prioritas. Aku kenal Agnelli."
Berkat hubungannya dengan Antonia Agnelli yang kini resmi menjadi simpanannya, serta kedekatannya dengan Felizia yang menganggapnya sebagai sosok ayah, Salvatore merasa Alvaro Agnelli bukan seseorang yang patut dicurigai.
Luigi mengangguk patuh. "Baik, Don. Lalu mengenai Denver Jr., apakah Anda masih ingin kami terus mengawasinya?"
Salvatore berpikir sejenak. "Selama ini tidak ada gerakan mencurigakan darinya, kan? Tetap pantau, tapi jangan jadikan prioritas."
"Siap laksanakan."
"Ada update lain?"
"Untuk sementara ini, tidak, Don."
Salvatore mengangguk. "Baik. Kau bisa pergi sekarang."
Malam itu, saat Salvatore akhirnya sendirian, dia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah foto lama—foto saat Benjamin dan Oliviero masih remaja, tertawa bersama di halaman rumah ini. Salvatore menatapnya lama, sebelum akhirnya menghela napas berat dan menyandarkan kepalanya ke kursi.
Sejak awal memang ada ikatan batin antara Ollie dan Benja, makanya mereka berdua bisa seakrab ini ... hingga Benja merengek memintaku menjadi orang tua asuh untuk Ollie.
Senyum getir menghiasi wajahnya.
Benja … rupanya yang kamu bawa pulang hari itu tidak lain adalah adikmu sendiri ....
Malam semakin larut. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Salvatore merasa dirinya benar-benar lelah.
Comments
Post a Comment