TDR (29-31) | INA
Bab 29 – Max’s Bunny Girl
Suasana mall sore itu cukup ramai. Aroma parfum dari toko-toko fashion bercampur dengan wangi kopi dari kedai terdekat. Di salah satu sudut butik, Zia, Emmeline, dan Lenice sedang asyik mencoba pakaian. Tawa mereka bersahut-sahutan, membicarakan tren mode terbaru dan bersenda gurau satu sama lain.
Di sela-sela obrolan, Lenice tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Dengan mata berbinar, ia memamerkan gantungan ponsel berbentuk kura-kura berwarna pink pastel, senada dengan ponselnya, yang baru saja ia beli. “Lucu banget, kan?” katanya sambil tersenyum lebar, lalu memasangnya dengan hati-hati di sudut ponselnya. Emmeline langsung berseru, memuji betapa imutnya gantungan itu.
Zia sempat melirik sekilas dan tersenyum kecil, tapi perhatiannya cepat kembali tertarik pada layar ponselnya. Jari-jarinya sibuk menari di atas keyboard virtual, membalas pesan dari seseorang yang jelas jauh lebih menyita pikirannya daripada gantungan kura-kura pastel itu.
Salvatore:
Zia, kamu lagi di mana?
Zia tersenyum kecil membaca pesan itu. Ia buru-buru membalas.
Zia:
Zia lagi di mall, Dad, jalan sama temen-temen aku. Ada Emmeline juga.
Salvatore:
Oh, syukurlah, ada temannya. Jangan sampai kamu nyasar.
Zia mengernyit.
Zia:
Hah? Kenapa nyasar?
Salvatore:
Soalnya dari tadi nggak ada kabar. Biasanya kan kamu kirim pesan tiap pagi. Daddy kira kamu kenapa-kenapa.
Zia mengembuskan napas, merasa sedikit bersalah. Ia memang biasanya mengirim pesan setiap pagi, tetapi tadi ia terlalu asyik menikmati waktu bersama teman-temannya sampai lupa.
Zia:
Iyaa Dad, maaf lupa kirim kabar ya.
Salvatore:
Iya, Daddy nungguin kabarmu. Daddy nggak mau kamu nangis-nangis lagi sambil lari di jalanan.
Mata Zia membesar. Ia menggigit bibir.
Zia:
Ih, Daddy ... Aku kan udah bilang, nggak bakal begitu lagi ....
Salvatore:
Iya, tapi kan trauma Daddy masih ada.
Zia menahan napas. Ia tahu persis apa yang dimaksud oleh Salvatore. Pria itu menyinggung pertemuan pertama mereka saat Zia tengah dirundung perasaannya sendiri hingga berakhir berlari di jalanan dalam keadaan kacau.
Zia:
Daddy gemesin ih. Daddy tenang aja yaa, Zia bisa jaga diri kok.
Salvatore:
Tahu. Tapi tetap aja, kamu kan anak Daddy, udah tugas Daddy untuk cemaskan kamu. Kalau nggak ada kabar, Daddy mikirnya yang aneh-aneh.
Keheningan sejenak. Lalu, Zia mengetik dengan hati yang menghangat.
Zia:
Makasih, Dad .... Zia kangen.
Salvatore:
Tuh kan, makanya sering kasih kabar. Daddy bukan cenayang, nggak bisa baca pikiranmu dari jauh.
Zia tertawa kecil.
Zia:
Iyaa deh. Mulai sekarang nggak bakal missed lagi.
Salvatore:
Daddy anggap itu janji ya. Kamu harus tepati janji. Daddy baru sekarang jadi ayah kamu, jadi ketinggalan banyak. Sekarang tugas Daddy membayar itu semua.
Zia menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Perlahan, kehangatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata menyelimuti dadanya.
Salvatore:
Jadi mulai sekarang, apa pun yang bikin kamu stres, beritahu Daddy segera. Daddy juga ingin dengar kisah kamu selama ini, keluhan kamu ... ceritakan semua. Daddy ingin kenal kamu lebih dalam.
Zia merasakan matanya sedikit memanas.
Zia:
Kan ... Zia udah cerita banyak banget tentang Zia selama ini. Kayaknya udah nggak ada lagi.
Salvatore:
Masa? Kok Daddy merasa masih ada yang mengganjal? Kayak masih ada yang belum kamu ceritakan. Apa Zia belum percaya sama Daddy?
Zia terdiam. Tentu saja ada, Dad .... Soal aku sebenarnya adalah anak dari teman lama sekaligus mungkin musuh Daddy .... Flavio Maranzano, batinnya. Tapi tentu saja, ia tak mungkin mengatakannya.
Zia:
Zia percaya kok sama Daddy ....
Salvatore:
Nah. Terima kasih. Daddy juga percaya sama kamu. Janji ya, cerita semuanya.
Zia menggigit bibirnya. Maaf, Dad. Aku nggak mungkin bocorkan soal ini pada Daddy ....
Zia:
Siap, daddy ketemu gede aku. Apa Daddy juga seperhatian ini ke Emmeline yah?
Salvatore:
Kenapa? Cemburu ya?
Zia:
Ih, Daddy. Aku cuma kepo.
Salvatore:
Nggak ada dari Emmeline yang nggak Daddy ketahui. Daddy juga selalu jadi tempat Emmeline cerita. Sekarang, saatnya Daddy berbagi perhatian yang sama buat kamu. Apalagi, banyak yang harus Daddy tebus gara-gara baru ketemu sama kamunya sekarang.
Zia menatap layar dengan mata berkaca-kaca.
Salvatore:
Nggak perlu cemburu-cemburuan. Daddy sayang semua anak Daddy dengan kadar yang sama. Baik anak kandung, maupun anak angkat, semua sama di mata Daddy.
Zia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Daddy .... Seandainya aja nggak ada kasus mengerikan 20 tahun lalu .... Daddy ... apa nggak bisa aku jadi anak kandung Daddy aja??
Salvatore:
Sesuai permintaan kamu, hubungan kita nggak ada yang tahu, terutama keluarga Daddy. Daddy sebenarnya keberatan, karena takutnya mengundang kecurigaan .... Tapi nggak apalah, Daddy hormati keinginan kamu.
Zia:
Iya ... Daddy. Aku nggak mau nanti Benja sama Emmeline ngambek .... Benja apa lagi ....
Salvatore:
Makanya, udah aja kamu terima Benja. Seriusi. Lalu menikah. Dengan begitu, kan, kamu jadi mantu Daddy.
Zia:
Ih, Daddy ....
Salvatore:
Kenapa sih, masih ragu sama Benja? Ganteng, kan? Anak baik.
Zia:
Zia tahu .... Zia pengennya malah jadi anak kandung Daddy, bukannya menantu.
Salvatore:
Kasihan Benja, dong. Dia kelihatannya berharap banget sama kamu.
Zia:
Huhuhu.
Salvatore:
Lain kali, kamu beritahu lokasi makam papa kamu, ya? Daddy kepikiran mau mengunjungi makam beliau. Biar bisa kasih laporan kalau anak gadisnya terjamin aman Daddy lindungi.
Zia membeku. Nggak mungkin …. Itu paling nggak mungkin terjadi. Aku harus jawab apa?
Salvatore:
Boleh, kan?
Zia:
Eum. Dibawa doa aja, Dad .... Agak ribet kalau harus ke makam. Zia tahu Daddy kan sibuk.
Salvatore:
Seperti itu juga baik, sih. Oke.
Zia memejamkan mata. Semoga Daddy nggak nanya-nanya lagi soal papa .... Gimana reaksi Daddy kalau tahu aku anak Flavio Maranzano? Nanti Daddy malah menjauh dari aku .... Nanti aku kehilangan sosok Daddy lagi .... Nanti nggak ada yang perhatikan aku lagi ....
Ia menatap Emmeline yang tertawa bersama Lenice.
Emmeline, kamu beruntung banget sih .... Aku pikir Lenice udah yang paling beruntung karena punya papa seperti Kevin. Nggak taunya kamu juga beruntung banget punya papa sebaik Reeve. Kata Reeve, nggak ada yang nggak dia ketahui tentang kamu. Pertanda kamu dekat banget sama dia. Aku iri ....
Zia menunduk, menggigit bibirnya.
Seandainya papa kamu adalah papa aku. Seandainya aku nggak perlu terlibat dalam rencana balas dendam pada papa kamu, semuanya pasti baik-baik aja .... Aku kan nggak bisa tetap dekat sama papa kamu sementara aku tahu ada beberapa orang mengumpulkan kekuatan untuk mencelakai papamu. Kalau aku diam saja, artinya aku nggak peduli keselamatan papamu ... Daddy aku.
Zia menutup matanya sesaat.
Kalau aku bocorkan ini pada Daddy, itu artinya aku mempertaruhkan keselamatan Aunty dan kakakku sendiri. Aku nggak bisa memilih, nggak mau memilih! Aku maunya cuma punya papa ... itu aja. Apa itu salah?
Lenice melambai-lambaikan tangan di depan wajah Zia. "Zia! Ih, ngelamunin apa sih?"
Emmeline ikut terkikik. "Iya nih, Zia, ngelamunin siapa, hayoo?"
Zia tersentak dari lamunannya, lalu meringis malu. "Hehe ... iya sorry, aku melamun."
Emmeline melipat tangan di dada, wajahnya penuh selidik. "Pasti cowok deh. Makanya kamu sibuk banget balesin pesan dia! Siapa sih? Spill dongg."
Lenice ikut menyahut, menggoda dengan jahil. "Siapa lagi, paling abangmu, Emmeline. Benjaaa!"
Emmeline berpura-pura serius. "Eh iya, kok kayaknya aku jarang lihat kamu kencan sama Benja, sih, Zia? Kalian udah jadian, kan?"
Zia tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Nggak ... belum."
Emmeline terkejut. "Yaah, kok belum? Kirain udah! Kenapa? Apa Benja diam-diam rese ya? Bilang, Zia, biar aku jewer!"
Zia menggeleng lagi. "Benja nggak rese kok. Dia baik. Cuma ya ... aku emang belum mau serius aja."
Lenice menaikkan alisnya, kembali menggoda. "Iya sih ... banyak ikan di lautan, jangan buru-buru jadian sama cowok, gitu maksudnya yaa, Zia? Aku yakin sih, Zia pasti punya banyak fans, namanya juga selebgram!"
Zia tertawa kecil. "Aduh, nggak gitu juga sih .... Kalian sendiri gimana? Lenice sama Denver kayaknya udah fix jadian, ya? Nggak traktir-traktir nih."
Lenice mendengus kecil sambil menyeringai. "Ih, apaan. Belum. Masih aku gantungin soalnya."
Emmeline membelalakkan mata. "Waah. Kamu yang gantungin? Tapi dia udah nembak? Kenapa kok digantung?"
Zia ikut menimpali dengan nada bercanda. "Iya sih, Lenice. Denver kan bukan baju."
Lenice hanya tersenyum penuh arti. "Pengen nguji aja, dia beneran seserius itu nggak sama aku."
Zia dan Emmeline langsung bersorak menggoda. "Uuuu, Lenice~~"
Namun, tawa mereka tak berlangsung lama. Senyum Emmeline perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi murung. "Iri banget ih sama kamu, Lenice. Nggak ada penghalang kalau mau jadian sama dia."
Lenice yang tadinya santai mendadak merasa nggak enak hati. "Yah ... Emmeline. Sorry kalau aku bikin kamu iri. Aku bisa bantu apa dong?"
Emmeline tersenyum getir, mengangkat bahu. "Eh, Zia udah tahu ceritanya kan?"
Zia mengangguk pelan. "Iya ... aku dengar dari Alva. Prihatin sama kamu, Emm .... Apa sampai sekarang, papa kamu masih teguh nggak izinkan kamu jalan sama Saxon?"
Emmeline mengangguk pasrah.
Lenice mengernyit. "Saxon sendiri gimana? Kalian masih kontak, kan?"
"Masih," jawab Emmeline dengan suara lemah. "Kami ketemuan diam-diam, meski aku nggak yakin bisa backstreet sampai kapan. Sebentar juga ketahuan. Saxon yang marah banget sama papanya. Dia yang dari awal udah ada slack sama papanya, makin menjadi-jadi. Aku sendiri masih kesal sama papa mamaku. Kenapa coba, mamaku berhubungan sama Isaac Renauld itu? Meski katanya nggak selingkuh, cuma temenan, tapi wajar kan kalau aku curiga?"
Zia dan Lenice saling bertatapan, tidak tahu harus bagaimana merespons.
Emmeline menghela napas panjang. "Terus, papaku juga, kenapa nggak bisa move on dari yang udah lalu? Kalau emang mamaku dan Isaac itu nggak selingkuh, kenapa papa masih aja sentimen? Dilampiaskan ke Saxon yang nggak ada sangkut pautnya sama kejadian lalu. Aku masih mogok ngomong sama mereka."
Hening sejenak.
Lenice akhirnya bicara. "Kadang orang tua memang sulit untuk mengubur masa lalu, Emm. Tapi aku yakin mereka tetap sayang sama kamu."
Emmeline mengangguk pelan, tapi sorot matanya masih menyiratkan kekecewaan. "Kadang rasanya pengen nyerah aja gitu. Cari cowok lain."
Lenice menepuk pundaknya ringan. "Jangan buru-buru mutusin sesuatu kalau kamu masih ragu. Kamu masih sayang sama Saxon, kan?"
Emmeline mengembuskan napas panjang, wajahnya tampak semakin murung. "Habis mau gimana?" gumamnya, seolah menyerah pada keadaan.
Zia menatap sahabatnya itu dengan prihatin. "Kadang mengalah juga nggak ada salahnya, Emm," katanya pelan. "Maaf ya, tapi coba bayangkan, kalau kamu jadi sama Saxon, orang tua kamu dan orang tua Saxon otomatis jadi besan. Kalau masih ada 'dendam' di antara mereka, gimana ceritanya?"
Emmeline terdiam sejenak, lalu mengerutkan kening. "Iya, ya. Kalau mamaku dekat lagi sama Isaac, jadi cinta lama bersemi kembali, gitu?" ujarnya setengah bercanda.
Lenice yang sejak tadi mendengarkan langsung menyikut lengan Emmeline. "Hus! Katanya nggak mau mikir jelek tentang mama kamu," tegurnya.
Emmeline memajukan bibirnya, tapi tak membantah.
Zia tersenyum kecil. "Kamu kan cantik, Emm. Pasti cepet dapet cowok yang tergila-gila sama kamu. Seriusin kamu, dan dapat restu dari orang tua kamu."
Emmeline melipat tangan di dada, menghela napas. "Harus cari di mana yah ...."
Lenice tiba-tiba bertepuk tangan. "Ngomong-ngomong, Oliviero ganteng, lho. Irit bicara sih, tapi kesannya jadi cool. Kenapa nggak sama dia aja, Emm?" godanya.
Emmeline langsung memasang ekspresi ngeri. "Aduh, nggak deh. Ollie kan besar bareng sama aku dan Benja. Aku lihat dia kayak kakak sendiri."
Lenice mengangguk-angguk. "Iya sih ya. Aku juga lihat Benja dan Ollie kayak kakak adik."
Namun, alih-alih mengakhiri pembicaraan, mata Emmeline justru mengerling penuh arti ke arah Zia. Ia tersenyum misterius. "Tapi ada sih, yang belakangan menarik perhatianku."
Zia menatapnya waspada. "Siapa?"
Emmeline memeluk ringan lengan Zia. "Kakakmu, Zia. Si Alva itu gimana sih orangnya?" tanyanya dengan nada menggoda.
Lenice langsung berseru, "Oow, Alvaro! Iya bener, dia ganteng juga lho!"
Zia merasakan wajahnya menegang.
Enak aja. Jangan beraninya deket-deket sama Alva! teriaknya dalam hati.
Namun, ia buru-buru menormalkan ekspresinya. "Euh. Wah, kalau Alva sih ... aku nggak tahu deh. Dia tipenya cool juga, tapi cenderung galak, tegas, judes."
Lenice menyeringai jahil. "Yang galak biasanya gahar juga di ranjang," celetuknya sambil terkekeh.
Wajah Emmeline langsung merah. "Duh, apa iya?" tanyanya, setengah tertawa.
Lenice makin menjadi. "Apalagi badannya juga jadi. Kekar. Nggak kebayang kalau lagi sexy time, Emm. Wahh."
Emmeline tertawa kecil, tapi pipinya masih merah. "Lenice, ih. Kan aku jadi ngebayangin yang nggak-nggak."
Lenice mengangkat bahu santai. "Aku aja lagi ngebayangin yang iya-iya. Boleh tuh, kamu gaet!"
Zia, yang dari tadi menahan diri, langsung memerah wajahnya. Nggak bolehhh!!! Apa-apaan cewek-cewek ini! Ngomongin yang seksi soal Alva! Cuma aku yang boleh deket sama Alva!
Lenice tertawa puas melihat ekspresi Emmeline. "Nanti bandingin sama Saxon, Emm. Aku kepo siapa yang badannya paling jadi," godanya lagi.
Emmeline buru-buru menepuk lengan Lenice. "Udah ih, Lenice. Mesum. Zianya ngambek loh," katanya sambil melirik Zia.
Zia tersentak. "Eh? Apa ... nggak kok," elaknya.
Namun, Emmeline mendekat dan menatapnya dengan tatapan penuh selidik. "Serius dikit, ah. Jangan bahas yang mesum dulu. Alva udah punya pacar belum sih, Zia?"
Zia merasakan debar jantungnya semakin kencang. Ihh. Kok masih bahas Alva sih! gerutunya dalam hati.
"Setahu aku belum, ya," jawabnya akhirnya. "Dia kayaknya malah belum pernah pacaran. Tapi nggak mungkin sih ya."
Lenice mengernyit. "Seganteng Alva gitu, nggak mungkin belum pernah pacaran."
Emmeline mengangguk setuju. "Gitu ya. Aku pernah coba kirim pesan, mau deketin ... dianya emang dingin banget. Aku pikir dia punya pacar makanya dingin. Tipenya misterius ya, Zia. Aku ajak ngobrol yang lain pun, dry text gitu deh."
Zia tertawa kecil. "Iya dia emang kayak gitu. Kalau udah dekat sih nggak dingin-dingin amat, malah lebih ke galak. Aku rasa dia punya naluri melindungi, makanya sering galakin aku."
Emmeline berdecak iri. "Aduh, irinyaa. Dilindungi ...."
Lenice menatap Zia dengan pandangan penasaran. "Waktu kami kenalan sama tante kamu, kan tantemu datang bareng Alva, tuh. Sebelumnya aku pikir malah mereka itu pasangan, lho. Tapi ternyata beliau tante kalian. Aku merasa konyol udah mikir begitu."
Zia tersenyum kecut. "Alva emang dekat sama tanteku. Mau gimana, kami diasuh tante sejak bayi."
Lenice dan Emmeline mengangguk-angguk, tampak memahami.
Namun, Zia sendiri malah tenggelam dalam pikirannya. Emmeline, kamu nggak tahu, kan, kalau tanteku sekarang udah resmi jadi selingkuhan papamu ... dan punya niat jahat terhadapnya. Apa aku gagalkan aja rencana Aunty ya? Aku laporkan soal Aunty dan Salvatore ke Emmeline, biar Emmeline ngambek ... lalu Aunty dan Salvatore putus. Aku nggak mau Daddy kenapa-kenapa.
Saat pikirannya masih berkecamuk, ponselnya tiba-tiba bergetar, sebuah pesan masuk.
Max:
Zia, kamu di mana? Kok nggak ada di hotel? Tonie bilang kamu udah berapa hari ini nggak pulang.
Zia mengernyit sebal membaca pesan itu.
Zia:
Iya lagi males sama kalian.
Max:
Kamu di mana? Kangen.
Zia meringis jijik. Max pikir aku objek pemuas ya?! Nyebelin banget! teriaknya dalam hati.
Zia:
Nggak usah cari
Max:
Ayolah. Nggak kangen sama aku?
Zia:
Nggak
Max:
Kalau udah kena sentuhan dan ciumanku paling juga kamu luluh, minta lagi deh.
Kekesalan Zia semakin memuncak.
Zia:
Tahu gitu aku mute pesanmu, atau blok sekalian.
Max:
Kok gitu? Zia, miss you miss you miss you miss you.
Tanpa pikir panjang, Zia langsung memblokir nomor Max.
"Zia!" Emmeline tiba-tiba muncul di hadapannya, membawa dress dari rak display. Dress itu langsung ditempelkan ke badan Zia. "Cobain ini deh! Manis lho!"
Zia, yang masih kesal dengan pesan Max, langsung teralihkan. Ia menatap dress itu dengan mata berbinar.
Lenice ikut berkomentar. "Iya, cocok lho! Aura Zia keluar kalau pakai warna pastel."
Emmeline mengangguk penuh semangat. "Bener! Mau coba?"
Beberapa saat lamanya, mereka bertiga sibuk memilih dan mencoba baju. Hingga akhirnya, Zia keluar dari ruang ganti sambil membawa dua potong dress. "Aku mau beli ini, ah! Kalian udah memutuskan mau beli yang mana aja?"
Emmeline dan Lenice mengangguk bersamaan.
Namun, sebelum mereka sempat berjalan ke kasir, Zia tiba-tiba kaget melihat seseorang berdiri tak jauh darinya.
Max.
Dengan senyum licik di wajahnya.
"Ketemu juga," ujar Max santai.
Zia merasakan seluruh tubuhnya menegang begitu melihat Max berdiri di hadapannya. Bagaimana bisa dia tahu Zia ada di sini?
"Max ... kok, kok kamu tahu aku di sini??" tanyanya, masih syok.
Max hanya mengangkat bahu dengan gaya sok santai, menyunggingkan senyum kecil. "Aku kan terbiasa jadi mata-mata," ujarnya, suaranya terdengar meremehkan. "Mencari kamu di mana, sih, soal kecil."
Lenice dan Emmeline saling berpandangan, kebingungan dengan kehadiran pria asing itu.
Emmeline yang pertama buka suara. "Zia ... siapa nih? Kenalin dong," katanya penasaran.
Zia langsung panik. Tidak mungkin ia memperkenalkan Max sebagai seseorang yang ditugaskan menyelidiki Salvatore Corvino.
Tapi Max lebih cepat mengambil kendali. Pemuda itu mengangkat alis, tersenyum penuh percaya diri ke arah Emmeline. "Iya, Zia, kenalin dong," ucapnya, seolah menantang.
Tanpa menunggu Zia bicara, Max mengulurkan tangannya pada Emmeline. "Kenalkan, aku Max. Temannya Zia."
Emmeline menerima jabatan tangannya dengan ekspresi ramah. "Halo, aku Emmeline. Nice to meet you, Max."
Max tersenyum menawan sebelum akhirnya beralih ke Lenice, mengulurkan tangan dengan gerakan percaya diri. Namun, saat matanya benar-benar menangkap wajah Lenice, dia mendadak membeku sesaat.
Lenice, yang tidak menyadari perubahan sikap Max, tetap menjabat tangannya dengan santai. "Aku Lenice."
Max menggenggam tangan Lenice sedikit lebih erat dari seharusnya, bahkan enggan melepaskan. Tatapan matanya kini menyelidik. "Kita pernah ketemu, kan?" tanyanya pelan, suaranya terdengar seperti seseorang yang baru mengingat sesuatu yang penting.
Lenice mengerutkan kening. "Eh?"
Sementara itu, Emmeline melirik Zia penuh arti, ekspresinya jelas mengatakan, 'modus banget cowok ini!'
Dengan suara penuh keyakinan, Max berkata, “Royalty Square, New Yord, menjelang Paskah tahun lalu. Aku ingat jelas karena dekorasi telur dan kelinci warna-warni di mana-mana. Kamu berdiri di depan display permen, lalu tiba-tiba sebuah boneka kelinci besar jatuh menimpamu.”
Bola mata Lenice melebar.
Max melanjutkan, suaranya lebih lembut, “Aku ada di sana. Aku menangkap kelinci itu sebelum benar-benar menimpa kepalamu. Saat itu, kamu bilang nggak akan lupa kejadian itu—karena kelincinya terlalu lucu. Tapi buatku, kelinci itu jadi simbol kebodohanku. Kenapa aku nggak menanyakan nama dan nomormu waktu itu? Tapi aku percaya, kalau memang ditakdirkan, aku pasti akan bertemu lagi dengan gadis kelinci itu, entah kapan dan di mana.”
Lenice tampak terpesona. Bahkan Emmeline ikut tersipu. Sementara itu, Zia justru melongo, bingung dengan arah pembicaraan.
“Thank God, semesta mempertemukan kita lagi … Lenice.” Max menggenggam tangan Lenice, ekspresinya semakin bersemangat. “Aku senang akhirnya mengetahui nama cantikmu.”
Zia merinding. Tatapan Max begitu tajam, seolah menembus jiwa Lenice hingga relung terdalam, seakan sedang memangsa gadis malang itu dengan kepercayaan diri yang meluap.
Ia tahu ia harus bertindak. Dengan sigap, Zia menarik tangan Lenice dari genggaman Max. “Oke, Max, kau mulai menyeramkan. Modusmu keren juga, ya? Tapi, enyahlah.”
Max mengernyit, tampak tidak terima. “Aku nggak modus. Ini benar-benar terjadi. Tanya Lenice.”
Zia melirik Lenice dengan tatapan bertanya.
Lenice mengangguk pelan, meski tampak ragu. “Iya … kejadian itu memang pernah terjadi di Royalty Square tahun lalu ….”
“That’s my bunny girl!” seru Max penuh semangat.
Zia meringis ngeri. Ia menatap Max tajam, lalu mendorong bahunya. “Denger ya, kami lagi asyik shopping. Jangan ganggu.”
Max tidak bergeming. “Kenapa? Aku bisa jadi bodyguard kalian.”
“Ini girls' time, nggak ada urusan sama cowok,” sela Zia cepat. “Kenapa kamu nggak gabung aja sama Alva dan yang lain, daripada di sini ngerepotin.”
“Gabung sama para cowok ngenes itu? Nggak, makasih. Lebih seru bareng kalian, cantik-cantik.”
“Kami nggak butuh ditemani. Sana pergi!” Zia semakin kasar, mendorong bahu Max. “Jangan maksa, atau aku panggil security.”
Max mendesah, lalu mengangkat tangan seolah menyerah. “Oke, oke. Aku pergi. Tapi … aku baru akan pergi kalau sudah dapat nomor Lenice.” Ia mengedipkan sebelah mata pada Lenice.
Zia menoleh pada Lenice dan menggeleng cepat, memberi isyarat agar gadis itu tidak menuruti kemauan Max.
“Come on, Lenice,” bujuk Max. “Apa kamu nggak merasa aneh, bisa bertemu lagi denganku, si penangkap boneka kelinci? Ini kan artinya pertemuan kita memang direstui semesta. Aku cuma minta kesempatan untuk mengenalmu lebih jauh.”
Lenice terdiam sejenak, ragu.
“Aku bisa jadi teman lelaki terbaik buatmu. Kamu bisa buktikan itu.”
“Ngeri banget. Dasar psikopat,” gumam Zia.
Lenice menghela napas, lalu akhirnya berkata, “Oke … ini nomorku, Max.”
Bab 30 – Merebutkan Putri Bos Mafia
Suatu hari, Lenice mengirimkan serangkaian pesan pada Zia dengan emoji menangis yang menyertainya.
Lenice:
Zia 😭😭
Temen kamu si Max emang gitu ya orangnya??
Maksa banget ngajak ketemuan.
Aku udah cari banyak alasan buat menghindar tapi dianya kayak nggak mau tahu.
Zia menghela napas panjang begitu notifikasi pesan dari Lenice muncul bertubi-tubi di layar ponselnya. Jempolnya bergerak lambat, merangkai balasan.
Zia:
Kan ... makanya aku udah kasih kode ke kamu supaya jangan kasih nomer ke Max, tapi kamu tetap kasih. Ya kesenenganlah dia.
Balasan Zia belum sempat tenggelam, Lenice sudah membalas lagi.
Lenice:
Ya habis kalau aku nggak turuti dia nggak akan berhenti ganggu, kan?
Zia:
Iya sih ....
Zia bisa membayangkan wajah frustrasi Lenice di balik layar. Detik berikutnya, rentetan pesan kembali datang.
Lenice:
Ini gimana dong, aku udah kehabisan ide nolak dia. Dia malahan kemarin nekat dateng ke kampusku, nungguin di lobby!
Untung aku dibantu temen keluar dari pintu lain. Kalau nggak aku nggak bisa pulang.
Zia semakin menghela napas. Kali ini lebih berat.
Lenice:
Bukan maksudnya aku alergi sama dia, tapi jujur aja, cara dia pendekatan bikin aku jengah 😭.
Tiap hari kirim pesan unfaedah, nuntut aku harus cepat balas. Aktifitasku kan nggak cuma pantengin hp!
Zia memijit kening, rasanya antara lelah dan jengkel.
Lenice:
Padahal aku akui, dia lumayan cakep. Tapi sifatnya itu bikin sebel, red flag!
Maaf ya aku bawel ke kamu, habis aku nggak tahu mau ngeluh ke siapaa.
Zia:
Nggak apa, Len. Aku ada salahnya juga karena udah blok dia makanya dia nekat cari aku ... terus malah jadi kenalan sama kamu.
Dia emang orangnya gitu, aku juga jengah.
Makanya aku sering galakin dia biar dia tahu diri dan jaga sikap, tapi kayaknya nggak ngaruh.
Aku bantu tegur dia ya ... tapi ya aku nggak jamin dia bakal berhenti ngejar kamu.
Lenice:
Iya 😭. Baru kali ini aku kenalan sama cowok seobsesif itu. Hilang sudah image tentang dia waktu aku ketiban boneka kelinci.
Zia tersenyum getir membaca bagian terakhir, lalu membalas cepat:
Zia:
Kamu ngadu nggak ke Denver?
Lenice:
Eh? Nggak .... Emang harus? Nanti dia ngambek.
Zia:
Ih, ya kamu laporin dong. Ceritakan semuanya. Aku rasa dia bakalan lindungi kamu, yakin deh. Cowok mana yang mau pacarnya direbut cowok lain. Dia yang bakal maju hadapi Max.
Lenice:
Kamu benar, Zia.
Oke, aku mau cerita dulu ke Denver.
Zia:
Good.
Masalah cowok harus dihadapi oleh sesama cowok.
Semoga cepet kelar ya.
Setelah menutup percakapan dengan Lenice, Zia langsung membuka jendela chat lain. Kali ini, sasarannya jelas: Max.
Zia:
Max, please ya, kalau Lenice nggak kasih kamu lampu hijau buat dekati, kamu jangan maksa dan gaspol. Udah tahu orangnya nggak minat sama kamu, kok masih maksa, sih?
Belum sampai satu menit, pesan itu langsung bercentang biru. Tiga titik pengetikan muncul cepat.
Max:
Jangan cemburu gitu dong, Zia. Aku tahu aku tampan. Nanti kamu tetap dapat giliran, kok.
Zia menggeram, gemas setengah marah. Ia membanting ponselnya ke atas kasur dengan kesal, nyaris ingin menjerit.
"Nggak, nggak mungkin dengan skenario itu, Denver," sergah Antonella cepat, suaranya mengeras begitu mendengar usulan dari Denver Sr. mengenai cara menjebak Salvatore Corvino.
Ia menggeleng tegas, nyaris refleks. "Kamu pikir Reeve nggak bakal merasa aneh, kalau aku tiba-tiba mengundangnya bersenang-senang di gudang? Tempat paling nggak proper untuk bermain. Dia terbiasa dengan kenyamanan, aku yakin dia bakal curiga."
Denver Sr. mendesah pelan, tangannya melipat di depan dada. "Lalu di mana? Masa di sini?" tanyanya, menatap lekat-lekat wajah Antonella, seolah menantang.
"Ya di sini aja, apa masalahnya?" Antonella mengangkat alis, santai.
"Tapi kalau kita lumpuhkan dia, lalu bagaimana membawanya keluar lewat lobi? Siapa yang gotong? Kamu?" Nada suara Denver terdengar setengah mengejek, setengah khawatir.
Antonella hanya melengos, tidak terintimidasi sedikit pun. "Aku punya banyak tangan dengan energi berlebih," sahutnya ringan.
Matanya melirik ke arah Max, yang duduk bersandar santai di kursi bar tak jauh dari mereka. Max tampak asyik sendiri menatap layar ponselnya sambil tersenyum tipis, seolah berada di dunia lain.
"Max," panggil Antonella.
Max mengangkat wajahnya dengan cepat, responsif.
"Kamu ikuti obrolan kami nggak sih? Alva mana?" tanya Antonella, sedikit mencibir, tapi masih dalam nada main-main.
"Alva sibuk bergaul dengan teman-teman barunya," jawab Max santai, lalu meletakkan ponselnya di meja. "Jangan kuatir, Tonie, aku dengerin kok obrolan kalian. Itu perkara mudah, kenapa dibikin ribet? Pasti ada kursi roda yang bisa kita pinjam dari resepsionis. Bikin kamuflase pakai kacamata hitam dan masker. Kelar. Lagipula nggak harus lewati lobi, langsung aja ke basement, bawa dia ke mobil."
Seketika suasana jadi lebih ringan. Denver mengangguk-angguk, wajahnya tampak lebih lega mendengar solusi yang begitu sederhana namun masuk akal.
Antonella memutar tubuhnya kembali ke arah Denver dan menyipitkan mata. "Mudah, kan?"
Denver mengangkat tangan menyerah. "Oke. Aku nervous, nggak bisa mikir jernih dan efisien. Deal, ya. Segera kamu atur kapan waktunya. Biar aku yang urus sewa mobil dan tiket ke New Yord."
Antonella tertawa pelan, geli melihat betapa gugupnya Denver. "Kenapa juga harus nervous, Denv? Karena mau ketemu teman lama?"
Denver mengangguk sambil tersenyum pahit. "Tepat."
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap mata Antonella dengan serius. "Dan kita juga sudah sepakat, ya. Biarkan aku yang bicara terlebih dahulu. Aku ingin memuaskan ego ... untuk menghakimi Reeve."
Antonella mengangguk singkat, kali ini penuh pengertian. "Sepakat. Aku beri kamu kesempatan untuk hakimi Reeve. Lagipula, aku merasa lebih baik tetap menahan kartuku sebagai Maranzano ... biarkan identitas asliku dia ketahui belakangan."
"Setuju," sahut Denver Sr., matanya menerawang jauh, seolah sudah membayangkan konfrontasi yang sebentar lagi akan terjadi.
Malam itu, parkiran hotel terasa lebih sepi dari biasanya. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan panjang dari mobil-mobil mewah yang terparkir rapi. Di tengah udara yang sedikit lembap dan aroma aspal malam, Max berjalan santai seperti biasa—tenang, percaya diri, seolah tidak ada ancaman yang sedang menunggunya di ujung lorong beton itu.
Padahal, sejak beberapa langkah sebelumnya, dia sudah melihat sosok tegap bersedekap menunggunya. Denver Granville Jr., berdiri di sana seperti patung marah yang siap meledak kapan saja. Tapi Max tidak mengubah kecepatannya, tidak juga menyembunyikan senyumnya yang menyebalkan.
Begitu cukup dekat, Max menyapa lebih dulu dengan suara tenang, nyaris santai.
"Kau yang memanggilku? Tahu dari mana nomorku?"
Denver Jr. tidak menjawab pertanyaan itu. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. "Nggak penting tahu dari mana. Aku ke sini cuma mau memberimu peringatan." Dia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya lebih berat. "Jauhi Lenice."
Max terkekeh pelan, kepalanya sedikit dimiringkan. "Kau siapanya Lenice?"
"Menurutmu?!" bentak Denver cepat.
Tawa Max meletup. Lantang dan menyebalkan. "Rasanya aku nggak pernah lihat ada tulisan ‘udah di-tag Denver Granville’ di dahinya Lenice," katanya sambil tersenyum lebar. "Dia single. Bebas kencan sama siapa aja. Kau iri? Atau insecure karena aku punya kualitas yang jauh lebih baik darimu?"
Mata Denver Jr. menyipit, tangan kanannya mengepal. "Kau cari ribut?!"
Max menatapnya lurus, tak mundur sedikit pun. "Ayo. Kenapa harus takut? Kau pikir kau pantas bersanding dengan Lenice? Aku lebih pantas untuknya, that’s the fact."
Denver Jr. menatap Max dengan tatapan sinis, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaketnya seolah menahan diri agar tidak bertindak lebih dari sekadar bicara.
“Kau lebih pantas?” sahut Denver sambil mendengus, suaranya terdengar tajam seperti ujung pisau. “Kau ini lucu ya. Narsis, kepedean, tinggi hati, atau apa?”
Max hanya memutar bola matanya, menahan godaan untuk membalas lebih pedas. Tapi dia tidak sempat membuka mulut, karena Denver sudah lebih dulu menyerang lagi, kali ini dengan nada suara yang lebih tenang tapi lebih menusuk.
“Begini saja. Kalau kau pintar, kau seharusnya sadar bahwa dalam sebuah hubungan itu memerlukan adanya persetujuan kedua belah pihak. Kau pikir, Lenice mengharapkan kau jadi pacarnya?”
Max mengangkat dagu dengan percaya diri, penuh keyakinan, menjawab, “Tentu! Gadis itu juga mencintaiku.”
Ucapan itu membuat Denver tertawa, namun bukan tawa bahagia. Itu tawa mengejek, dingin, penuh ketidakpercayaan. Dia menggeleng pelan sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
“Coba kau dengar sendiri yang Lenice katakan di video ini,” ujarnya, sambil membuka galeri dan memilih satu video yang diambil beberapa jam yang lalu.
Max menatap layar ponsel itu, awalnya masih dengan sikap meremehkan. Tapi sikap itu memudar cepat begitu wajah Lenice muncul di layar, ekspresinya tegang dan kesal. Suaranya terdengar lirih, namun tegas.
“Max, maaf kalau caraku kurang berkenan untukmu. Jujur, aku nggak berani bertatap muka langsung denganmu. Kenapa? Karena … karena buatku, kamu terlalu agresif. Aku takut. Jadi aku minta tolong Denver untuk perlihatkan video ini.” Lenice menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar. “Max, aku juga minta maaf. Minta maaf sebesar-besarnya, kalau aku nggak tertarik untuk melanjutkan hubungan apa pun denganmu. Tidak juga dengan berteman. Aku nggak ingin menyakitimu, tapi, kamu juga butuh ungkapan yang jujur dariku, bukan? Aku harap, kata-kataku nggak menyakitimu, dan aku harap, kamu bisa mengerti. Selamat tinggal, Max, jaga dirimu.”
Seketika wajah Max berubah drastis. Warna merah marun yang tadi mewarnai pipinya karena emosi berubah menjadi pucat pasi. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras, namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Video itu menghantamnya seperti palu godam.
Denver Jr. menyeringai puas. Dia memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu menatap Max dengan tenang, seolah baru saja mengantarkan kebenaran dengan pita emas di atasnya.
“Kau sudah dengar, kan?” katanya, tenang, dingin, dan telak.
Setelah beberapa saat terdiam, Max kemudian melengos, menghela napas panjang seolah lelah dengan kebodohan di depannya. "Sudahlah. Mending kau pulang sekarang. Nggak ada gunanya kau ke sini. Video itu cuma rekayasamu belaka! Hari gini, apa yang nggak mungkin dengan AI. Dan kau dengar ya, aku cuma mau pacari Lenice, bukan berurusan dengan ... anjing peliharaannya."
Seketika, wajah Denver Jr. berubah merah. "Sialan kau!" Dia mengangkat tangan, bersiap melayangkan pukulan.
Namun sebelum sempat tinju itu melayang, langkah cepat dan suara berat menginterupsi mereka.
"Heh! Ada apa ini?!" Seorang petugas keamanan hotel datang tergesa, wajahnya tegang. "Tolong jangan bikin keributan di sini. Ini area tamu! Ayo, bubar!"
Max mundur setengah langkah dan langsung mengangkat tangan seolah menjadi korban. "Lho, saya tamu hotel. Orang ini yang datang tiba-tiba dan mau pukul saya."
Petugas itu menoleh tajam ke Denver Jr. "Anak muda, tolong jangan buat masalah di sini. Dan jangan ganggu tamu kami. Silakan pergi sebelum saya laporkan pada manajemen."
Max menatap Denver dengan senyum puas, tak perlu berkata apa-apa lagi. Matanya penuh kemenangan.
Denver Jr. memandang balik, matanya berkilat penuh amarah. Dia mengumpat pelan, nyaris tak terdengar, lalu berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah berat.
Begitu dia hilang dari pandangan, petugas keamanan beralih ke Max dan menunduk hormat.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu Anda adalah tamu di sini. Anda tidak apa-apa, kan? Saya akan berjaga penuh, dan pastikan tidak ada yang mengganggu Anda lagi."
Max hanya mengangkat bahu, memasang gaya sok yang khas, lalu berbalik dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Seolah peristiwa barusan hanyalah angin malam yang tidak layak disimpan dalam memori.
Bab 31 – Jebakan Untuk Sang Penguasa
Salvatore melangkah keluar dari lift hotel sambil tertawa renyah, tawa yang sarat dengan godaan tak tahu malu, sementara Antonella menempel manja di lengannya, memeluknya seolah dunia hanya milik mereka berdua. Di sela langkah, perempuan itu membisikkan sesuatu di telinganya, suara halusnya terdengar seperti mantra penggoda.
Mendengar itu, Salvatore langsung tersenyum cabul, lalu mendorong Antonella ke dinding koridor hotel yang sepi. Tubuhnya mengimpit, tangan bertumpu di dinding, menjebak Antonella di antara lengannya dan tembok, lalu dengan senyum menawan dan mata yang membakar, dia membisikkan godaannya, “Beraninya kamu memiliki niat berbuat demikian padaku, Antonia? Kamu ingin membuatku melupakan istriku, ya?”
Antonella membalas dengan senyum nakal. “Bukannya itu tugasku? Bikin kamu lupa istri tiap bersamaku .… Karena cuma aku yang bisa bikin kamu … hmmm, bilang nggak ya?”
Tak bisa lagi menahan hasrat, Salvatore langsung menyambar leher Antonella dengan bibirnya. Lidahnya bermain di belakang telinga perempuan itu, membuat Antonella mendesah pelan, matanya setengah terpejam menikmati permainan pria itu.
“Sabar sedikit, Sal …,” gumam Antonella dengan suara berat. “Itu kamarku cuma berapa meter lagi .…”
Namun Salvatore seolah tuli. Napasnya memburu, bibirnya menjelajah makin dalam, tangannya mulai berkelana, menelusuri lekuk tubuh Antonella dengan gairah yang makin liar. Antonella nyaris kewalahan, kedua tangannya refleks menahan dada Salvatore, tapi desahan kecilnya justru terdengar seperti undangan lebih lanjut.
Hingga akhirnya suara notifikasi ponsel berbunyi berulang-ulang, menembus keintiman mereka seperti sirene realita. Pesan masuk bertubi-tubi.
Melihat celah, Antonella langsung mendorong bahu Salvatore dengan cukup kuat. “Sebentar, Sal! Siapa tahu ini pesan penting,” ucapnya sambil mengatur napas dan meraih ponsel dari dalam tas kecilnya.
Ia melangkah menjauh, membuka pesan dengan cepat, sementara Salvatore hanya bisa melengos kesal, diam-diam mengamati perempuan itu dari kejauhan dengan tatapan enggan menerima interupsi yang merusak permainan panas mereka.
‘Sirene’ tersebut ternyata berasal dari pesan Zia.
Zia:
Aunty, apa kabar? Maaf ya, aku nggak pulang berapa hari ini.
Aku menginap di suatu tempat, Aunty nggak perlu kuatir.
Aku cuma mau bilang ke Aunty ….
Please, Aunty, jangan lanjutkan misi Aunty pada Salvatore Corvino.
Aunty pasti kaget kalau tahu aku udah anggap Salvatore sebagai daddy aku.
Gimana bisa begitu, kapan, dan kenapanya, nanti aku cerita lebih dalam lagi pas kita ketemu.
Tapi, aku mau Aunty tahu, Salvatore nggak seburuk yang kita sangka sebelumnya.
Beneran, Aunty. Aku sungguh-sungguh, aku nggak berbohong. Aku menyaksikan sendiri.
Salvatore itu baik banget jadi daddy aku. Perhatian banget, selalu pastiin aku baik-baik aja.
Selalu nanya apa yang mengganggu, karena dia mau aku selalu aman dan bahagia.
Intinya, Salvatore itu sebenarnya orang baik.
Aku sayang Salvatore.
Aku anggap dia real father for me, Aunty.
(Nggak perlu negative thinking seperti waktu aku sama Kevin, beda! Beda jauh, Aunty.)
Salvatore bener-bener gantiin peran papa buatku. Aku sayang dia.
Please ya … Aunty. Please abort your mission.
“What the #*%#*?!” sungut Antonella dengan suara tertahan.
Astaga, Ziaaa!!!! teriak Antonella dalam hati. Kenapa bisa-bisanya dekat sama musuh??!!
Antonella berdiri terpaku beberapa saat setelah membaca pesan terakhir dari Zia. Dengan jemari sedikit bergetar, ia membalas pesan dari Zia.
Antonella merasa ada gemuruh yang menyesakkan dadanya, campuran antara syok, bingung, dan dorongan naluriah untuk segera bertindak. Tapi tidak sekarang. Tidak di tempat ini. Tidak di hadapan pria yang masih menunggunya dengan nafsu setengah teredam. Ia menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Baru kemudian ia membuka mata lagi, memastikan raut wajahnya netral, matanya tenang, bibirnya masih menyimpan lengkung senyum.
Begitu yakin dirinya sudah kembali ke mode "Antonia si perempuan penggoda", ia berbalik badan, kembali menghampiri Salvatore yang berdiri tak jauh darinya dengan ekspresi menyelidik.
“Siapa pengganggu itu?” tanya Salvatore sambil menaikkan sebelah alis, nada suaranya datar tapi jelas mengandung cemburu yang tidak terselubung.
Antonella menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Zia, keponakanku.”
Mendengar nama itu, wajah Salvatore langsung berubah. Guratan kekesalan yang tadi mewarnai wajahnya seketika menghilang, digantikan rona khawatir yang tulus.
“Ada apa dengan Zia? Dia nggak apa-apa, kan?”
Antonella tidak langsung menjawab. Ia menangkap perubahan ekspresi itu. Perubahan yang tidak dibuat-buat. Ada sesuatu di balik kepedulian Salvatore pada Zia. Dan ketika Antonella menyadarinya, jantungnya terasa seperti ditusuk dari dalam.
Dengan bibir mengerucut kecil, ia mendecak pelan. “Zia baik-baik aja,” katanya tenang. “Tapi aku dengar … kamu dan Zia …?”
Salvatore tersenyum kecil, seolah tak mengira topik ini akan muncul dari mulut Antonella. “Rupanya dia udah cerita padamu,” ujarnya. “Ya. Zia putri angkatku sekarang.”
Sejenak, Antonella ingin mundur selangkah. Ingin mengusap tengkuk dan menjerit karena geli dan jijik. Tapi wajahnya tetap manis. Ia menguasai situasi. Tidak ada satu pun dari rasa sebenarnya yang bocor ke ekspresinya. Ia justru tersenyum dan menggandeng Salvatore dengan mesra.
“Kamu punya pe-er besar untuk ceritakan kenapa bisa tiba-tiba dekat dengan ponakanku … dan bahkan sampai anggap dia sebagai putrimu,” bisiknya dengan nada genit. “Tapi nanti, setelah urusan kita selesai.” Ia mengedipkan sebelah mata, lalu menggiring pria itu menuju kamarnya.
Salvatore mengikuti tanpa protes, masih memandangi Antonella dengan penuh minat. “Apa pun untukmu, Antonia,” gumamnya, seolah benar-benar lupa bahwa dunia pernah ada selain tubuh perempuan itu dan godaan di balik pintu kamar.
Salvatore melangkah ringan masuk ke kamar, masih menggandeng Antonella. Senyum menggantung di wajahnya, pikirannya melayang ke berbagai kemungkinan menyenangkan yang mungkin akan terjadi malam ini. Akan terjadi berapa ronde petualangan di balik selimut, malam ini?
Namun langkahnya terhenti mendadak, tangan Antonella terlepas dari genggamannya.
Di depan jendela besar kamar itu, berdiri seorang pria asing. Sosoknya tinggi, tegap, dan tampak begitu familiar hingga dada Salvatore terasa diremas. Bulu kuduknya meremang, senyum di wajahnya lenyap seketika.
Sosok itu membalikkan badan perlahan, menatapnya dengan senyum culas yang membuat udara di dalam ruangan terasa menipis.
“Long time no see, Reeve. Oh. Sorry, seharusnya aku menyebut namamu yang sekarang. Salvatore.”
Jantung Salvatore berdegup kencang. Dunia di sekelilingnya serasa runtuh. Dia terdiam, menatap pria itu seperti melihat hantu dari masa lalu. Napasnya tercekat, tubuhnya kaku. Denver?! batinnya menjerit. Bangsat, ini jebakan!!
Refleks, dia menoleh pada Antonella yang berdiri di dekat pintu, wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi bersalah sedikit pun. Kecurigaan menyembur seperti lava dari dalam dada Salvatore. “Kau …?” bisiknya nyaris tak terdengar.
“Speechless banget, Reeve?” Denver mendekat, langkahnya pelan namun mengancam. “Kaget, melihatku rupanya masih segar bugar ....”
Salvatore menyipitkan mata, mencoba menenangkan napasnya.
“Kau sungguh beruntung. Yang lain tewas, hanya kau dan Jessica yang selamat.”
“Benar. Aku beruntung batal mati konyol.”
Salvatore melirik ke arah Antonella yang masih diam tak bergeming. Ada sesuatu yang aneh dari sikapnya. Dia kembali menatap Denver tajam.
“Jadi, ini semua skenariomu, huh, Denver? Menjebakku menggunakan perempuan.”
“Tentu. Kau sama sekali tidak berubah, Reeve. Gampang sekali memancingmu menggunakan kerlingan mata wanita cantik.”
Salvatore mendengus, kepalanya mengangguk pelan. Tatapannya mulai berubah. Dia mengerti arah pembicaraan ini. Dan dia benci itu.
“Setidaknya yang selamat adalah kau dan Jessy, bukan sahabatmu yang satu lagi.”
Antonella dan Denver saling melirik. Mereka tahu siapa yang dimaksud.
Denver mendekat, matanya tajam dan penuh kemarahan yang telah bertahun-tahun membatu.
“Saatnya kau membayar kesalahanmu, Reeve. Gara-gara kaulah, aku jadi harus terlunta-lunta di tengah hutan, amnesia, terpisah dari istri dan anakku selama 14 tahun. Kau pernah bayangkan bagaimana rasanya? Pernah?! Tentu tidak! Yang kau tahu hanya bagaimana bersembunyi, menghindar dari tanggung jawabmu atas semua yang terjadi!”
Salvatore melengos, wajahnya memerah karena amarah.
“Kau salah alamat, bung.”
“Kau telah puas menikmati hidup selama ini, Reeve. Berkeluarga, punya anak-anak yang tampan dan cantik, bisnismu berkembang pesat, hidup makmur berkelimpahan dalam kemewahan, bahkan kau menuai respek dan penghormatan dari banyak orang di seluruh Iralia ini. Such a life goal! Dan sangat sesuai dengan karakter bawaanmu sebagai Leo, sang pemimpin. Kau ingat masa-masa kau masih sering konyol membanggakan zodiakmu? Namun sayang, life goal yang kau miliki itu kau dapatkan dengan menumbalkan semua yang mati akibat kejadian lalu. Dendam mereka tidak akan pernah luruh, kukatakan padamu, Reeve. Dan aku, sebagai salah satu yang selamat dan masih menghirup udara bebas, aku berkewajiban menuntut balas padamu.”
Salvatore berteriak frustrasi, suaranya bergetar oleh rasa tertekan yang ditahan selama bertahun-tahun.
“Kau salah alamat!! Berapa kali mesti kukatakan? Kenapa kalian semua kompak menudingku sebagai pelaku?!”
“Siapa lagi?”
“Pelaku sebenarnya adalah sosok robot sampah itu, tidak percayakah kau?! Kau pikir aku senang melihat kalian semua menderita gara-gara kelakuan robot yang bernyanyi di pengadilan itu?”
“Yeah, kau benar. Robot. Robot yang eksis lantaran kau yang menghadirkannya.”
“Itu bukan berarti aku yang memiliki kewajiban bertanggung jawab.”
“Semua orang membutuhkan sosok yang dijadikan kambing hitam, Reeve. Klonmu itu melarikan diri dengan menewaskan dirinya sendiri. Meski dia tidak menarik pelatuk pun, dia bakalan tetap dienyahkan sama seperti nasib klon-klon lainnya. Lalu pada siapa lagi para korban klon Reeve ini meminta pertanggungjawaban?”
“Kenapa aku harus bertanggung jawab padahal aku tahu aku tidak pernah mengkhianati sumpah omerta sedikit pun?! Aku menolak bertanggung jawab atas apa yang diperbuat robot sialan itu, kalian move on lah, for f*cksake!”
Denver menggeleng, ekspresi kecewa sekaligus geram mewarnai wajahnya.
“Harus bagaimana membuatmu sadar bahwa kau pun menyumbang sekian persen kesalahan dalam peristiwa itu?!”
“Move on, Denver. Mau sampai kapan kau terperangkap di masa lalu?”
Antonella mengatupkan bibir rapat-rapat. Ingin sekali ia menyahut, membela Flavio, namun Denver sempat meliriknya tajam seolah mengingatkan: bukan sekarang. Ia akhirnya mengangguk pelan, menelan kata-katanya sendiri.
“Kau memintaku move on? Pernah bayangkan apa saja yang kualami? Pernahkah terlintas di pikiranmu yang picik itu, sahabatmu yang mati naas itu ternyata meninggalkan warisan berupa anak-anak di luar sana? Dan mereka, anak-anak itu, terpaksa tumbuh besar tanpa kehadiran ayah mereka. Apa itu yang akan kau katakan pada mereka? MOVE ON?”
Salvatore tercekat. Napasnya nyaris berhenti.
“Flavio punya anak?” tanyanya, dengan suara yang berbeda dari sebelumnya—penuh ketegangan dan kekalutan.
“Who knows?! Terakhir yang kuketahui, salah satu pacar Flav mengaku sedang hamil. Setidaknya, ada satu anak Flavio di luar sana yang terlantar. Kau menyuruhnya move on?”
Antonella mengepalkan tangan, berusaha menahan diri. Tapi matanya mulai memanas. Ia merasa ini sudah ranahnya. Namun, ia tahu, waktunya belum tiba.
Salvatore menunduk. Ketegangan di wajahnya mulai memudar, tergantikan ekspresi murung dan … penyesalan?
Denver mengamati perubahan itu.
“Anak laki-laki?” Suara Salvatore terdengar nyaris lirih setelah beberapa saat terdiam.
“Anak laki-laki.”
Tatapan Salvatore tampak kosong, tersesat dalam pikirannya sendiri. Bayangan tentang Flavio, tentang pengkhianatan, tentang klon—semuanya mendadak terlihat kecil di hadapan isu ini: anak yang ditinggalkan.
“Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali, namun anak itu belum menyadari siapa aku. Dari yang anak itu ceritakan ... dia tumbuh sendirian, persis seperti yatim piatu. Ibunya entah kemana.”
Antonella melirik cepat ke arah Denver, kagum sekaligus bingung. Hebat juga pria itu berimprovisasi. Salvatore tampaknya terpengaruh cukup dalam.
Salvatore masih terdiam, dadanya naik-turun dengan napas berat.
Denver terus menekannya.
“Mungkin ini sisi dari Reeve yang berubah, huh? Bisa kulihat kau sekarang memiliki naluri kebapakan. Tentu karena kau sendiri telah memiliki anak ... sangat wajar kau berubah. Setelah mendengar ceritaku tadi, apa yang akan kau lakukan, Reeve? Kau masih merasa, tanganmu bersih dari semua ini?”
Tidak ada jawaban.
“Bagaimana kalau kusinggung perbuatanmu di masa lalu? Perbuatan nista hasil kolaborasimu dengan Flavio, yaitu memenggal kepala anak Olivia dan Roman?”
Antonella memalingkan wajah. Ia tidak sanggup menatap Salvatore sekarang.
Salvatore menegang, rahangnya mengeras.
“Flav mengakui kolaborasi kalian sesaat sebelum pesawat kami terjun bebas mencium bumi. Flav bilang kalau kaulah otak di balik semuanya, kau yang memiliki ide. Untuk tujuan apa, siapa yang pedulikan itu sekarang. Yang jelas, hasil perbuatan kalian itu yang memantik api di sana sini, yang kemudian memancing pengkhianatan di tubuh organisasi kalian. Yeah. Semua itu terjadi seperti efek domino, Reeve, kau sadar itu?”
Salvatore tetap membisu.
“Kau masih ingin menyangkal bahwa akar dari semua permasalahan di masa lalu adalah kau sendiri? Kuanggap Flavio sudah membayar perbuatan nistanya itu dengan nyawanya sendiri. Dia bahkan melewatkan kesempatan melihat anaknya ... atau anak-anaknya tumbuh. Kau? Aku bertanya padamu, Reeve, bagaimana kau bisa membayar perbuatan gila itu? Anak kecil yang belum lima tahun ... innocent, tanpa dosa ... bisa apa dia padamu? Sama sekali tidak memiliki kekuatan, bukan ancaman buatmu! Tapi malah kau perlakukan persis seperti tengah menjagal domba. Serendah itukah kau?”
Antonella dan Denver saling bertukar pandang. Mereka tahu, Salvatore kini benar-benar terpojok. Tak perlu kekerasan fisik untuk membuatnya menderita. Luka paling dalam adalah yang ditorehkan oleh kebenaran.
Salvatore terlihat rapuh. Wajahnya penuh luka, meski belum satu pun pukulan mendarat di sana.
Antonella memandangi pria itu dengan sorot mata tak percaya. Ini bukan Reeve yang dulu. Bukan Reeve yang mereka kenal. Tapi tetap saja, ia belum bisa memaafkan.
“Cukup, Denver! Kau tidak tahu apa-apa tentangku, jangan bersikap seolah kau maha benar!”
Denver tak mundur.
“Kau kalah, akui saja.”
Tanpa peringatan, Salvatore melayangkan tinjunya tepat ke rahang Denver. Dentuman keras terdengar ketika tubuh Denver terdorong ke belakang, menghantam meja di dekatnya. Tetapi dia cepat bangkit, membalas dengan pukulan ke perut. Pertarungan pecah seketika. Keduanya saling menghajar, seolah semua luka lama, dendam, dan rahasia berdarah menemukan jalannya dalam setiap pukulan.
Denver akhirnya mencengkram kerah baju Salvatore, menariknya begitu dekat hingga napas keduanya saling bersentuhan.
“Sadarlah, Reeve! Jangan cuci tangan begitu saja!!”
“Bangsat!” Salvatore melepaskan diri dengan kasar, lalu berbalik dan berlari keluar kamar.
“Reeve! Kau mau lari lagi, huh?!” teriak Denver lantang, suaranya menggema di sepanjang lorong yang remang. Napasnya memburu, tapi kakinya tetap bersiap mengejar bayangan yang baru saja berbelok cepat di ujung sana. Antonella sigap mengekor, meski sempat terpeleset sedikit karena sepatu haknya menghantam lantai licin.
Namun langkah mereka mendadak terhenti.
Suara telepon berdering keras dari saku Denver—nada dering klasik, tajam, dan menusuk. Ironisnya, suara itu justru membuat suasana ruangan jadi lebih mencekam. Seperti pengingat bahwa dunia luar masih ada dan tidak menunggu siapa pun.
Denver mengerutkan dahi, lalu dengan kasar menarik ponselnya dari saku. “Halo?” katanya cepat, nadanya jelas terganggu.
Di ujung sana, suara seseorang membuat wajah Denver langsung berubah. Wajah itu yang awalnya tegang karena amarah kini mendadak pias. Napasnya tercekat.
“A-apa katamu?” bisiknya, hampir tak terdengar. “Denver … di gawat darurat?! Penganiayaan???”
Antonella sontak menoleh, memandangi Denver dengan bingung, alisnya bertaut. “Denver?” ulangnya pelan, belum mengerti konteks percakapan.
Namun pria di hadapannya itu sudah menyimpan ponsel dengan gerakan gemetar, wajahnya kini pucat pasi.
“Aku harus pergi,” ucap Denver cepat. “Tonie. Kuserahkan ini semua padamu. Anakku … anakku jadi korban penganiayaan. Dia kritis.”
Belum sempat Antonella membuka mulut, pria itu sudah berbalik dan menghilang begitu saja—berlari seperti dikejar maut, meninggalkan udara yang makin dingin dan suasana yang makin penuh tanda tanya.
Comments
Post a Comment