TDR (3-4) | INA
Bab 3 – Kesumat Membara di Balik Tirai Besi
Di sebuah lembaga pemasyarakatan kota Evenston, Chivago, Antonella dan Alvaro duduk berdampingan di sebuah ruangan tertutup, atmosfer dingin menyelimuti ruangan itu semenjak mereka tiba. Antonella bersikap santai sembari menyilangkan kaki, sementara Alva sedari tadi hanya menggoyang-goyangkan kaki, tak sabar menunggu.
"Aku heran kenapa kau tiba-tiba kepikiran untuk menemui salah satu mantan bos mafia New Yord." Alva memecah keheningan. "Kenapa mesti dia? Apa info yang bisa kau dapat? Lagipula memangnya dia mau spill info ke kamu, kamu kan orang asing?"
"Alva," panggil Antonella kalem. "Kamu rupanya belum mempelajari sejarah tercetusnya perang mafia 20 tahun lalu? Atau informasi ini luput kamu pelajari?"
Alva memandangi Antonella, tak menjawab.
"Roman Burgueno itu salah satu bos besar yang paling merasa dirugikan atas perbuatan si pengkhianat. Bayangkan, dikhianati oleh orang yang paling dia percayai. Reeve, si pengkhianat itu nggak lain adalah wakil Roman sendiri. Reeve memegang semua informasi kejahatan yang dilakukan seluruh anggota keluarga Burgueno, termasuk Roman. Aku berani bertaruh, saat ini Roman pasti masih memelihara dendam pada pengkhianat itu. Dan aku yakin, dia pasti akan mendukung kita untuk mengejar Reeve. Aku hanya harus mengorek banyak informasi dari Roman ... kamu diam dan menonton saja. Oke?" Antonella mengerling pada sang keponakan.
Suara anak kunci beradu, Antonella menegakkan tubuh, menanti sosok yang muncul dari balik pintu. Seorang tahanan berwajah bengis masuk diantar seorang sipir. Tahanan itu memandangi Antonella dan Alvaro bergantian dengan tatapan tajam. Anak-anak rambut kasar yang menghiasi dagunya semakin menambah kesan mengerikan. Sipir menuntun tahanan itu, Roman Burgueno, duduk di kursi berseberangan dengan Antonella lalu mengaitkan borgol di tangan kiri Roman pada rantai menjuntai yang menempel di sisi meja besi.
Setelah sipir pergi dari ruangan, Roman menyugar rambut gondrongnya dengan tangannya yang bebas. Tatapan tajam pria berusia 40-an itu tetap tertuju pada Antonella. "Kunjungan yang mengejutkan. Kau adik Flavio?" tanyanya dengan nada datar.
"Halo, Roman," sapa Antonella seraya tersenyum ramah. "Perkenalkan, aku Antonella Maranzano. Benar, aku adik Flav. Di sampingku, dia Alvaro, anak laki-laki Flav."
"Skip perkenalan tidak penting ini," sahut Roman cepat, memotong ucapan Antonella. "Katakan ada maksud apa kalian datang ke sini."
Rupanya benar perkataan banyak orang mengenai Roman Burgueno. Kasar, tidak ramah, tidak simpatik. Dari aura yang menguar saja, kehadiran orang ini tidak membawa pengaruh positif. Tidak mengherankan bila tidak ada yang menginginkan Roman bebas dari penjara.
"Baik, aku akan to the point," ujar Antonella. "Aku ke sini ingin membahas tentang kejadian yang terjadi 20 tahun lalu."
Roman mendengus sinis. "Kejadian 20 tahun lalu," ulangnya dingin.
"Ya." Antonella mengangguk. "Mungkin kamu nggak tahu, kami, orang-orang yang menyayangi Flavio sangat terpukul atas kepergian Flav yang sangat tiba-tiba, sangat nggak disangka. Flav nggak seharusnya berada di pesawat naas itu, Flav nggak seharusnya melarikan diri lantaran posisinya terjepit .... Tujuanku ke sini nggak lain karena ingin mencari tahu lebih banyak lagi fakta yang terjadi saat itu. Apa kamu-"
"Flav mati, itu layak untuknya," potong Roman, memancing reaksi Alva yang spontan menegakkan punggung sembari menatap Roman tajam.
"Sudah sejauh apa kau mencari tahu? Sebanyak apa info yang kau dapat?" Roman bertanya datar.
"Aku-"
Lagi-lagi, Roman memotong Antonella, "Kau tahu siapa dalang di balik peristiwa tragis yang menimpa anakku? Reeve. Reeve dan Flavio. Dua bajingan itu yang memulai semua ini! Flav mati, aku bersyukur! Setidaknya satu makhluk menjijikkan yang bisa-bisanya melakukan hal keji pada bocah innocent itu sudah lenyap, mati terbakar, lalu membusuk dimakan cacing. Itu pantas untuknya!"
"Kenapa kau dari tadi mengatakan hal jelek tentang ayahku?!" protes Alva.
"Alva," tegur Antonella.
Roman mendengus. "Karena ayahmu memang layak dicaci maki."
Antonella sigap menahan gerak Alva yang hendak menerjang Roman lantaran terbakar emosi. "Alva, sudah kubilang, kau diam dan menonton saja," tegurnya lagi.
"Tapi orang ini-"
"Diam!"
"Benar-benar anak Flav ya," ujar Roman memandangi Alva dengan tatapan mencemooh. "Persis."
"Roman," panggil Antonella. "Semua yang kau katakan tadi hanyalah rumor. Tak ada dakwaan demikian untuk Reeve. Kamu nggak bisa menyalahkan kakakku, menempatkan kakakku di posisi yang sama seperti Reeve."
Roman melengos panjang. "Lihat. Orang luar ikut campur urusan yang sama sekali tidak dia pahami."
"Kita kesampingkan perihal Flav, oke? Kenyataannya, Flav sudah meninggal. Kalaupun rumor itu benar, apa yang bisa kau lakukan? Orangnya sudah nggak ada," tutur Antonella menegaskan. Sebisa mungkin ia menahan gejolak dalam dada, sedikit banyak tentu emosinya ikut terpancing akibat ujaran Roman yang seenak perutnya sendiri.
"Hm. Lalu?"
"Aku ingin membahas tentang Reeve.”
Mata Roman berkilat tajam begitu mendengar ucapan Antonella.
“Aku ingin mencari keberadaan Reeve Galante, pengkhianat itu,” ulang Antonella, nyaris berbisik, seakan apa yang terlontar dari bibirnya adalah hal berbahaya. “Dialah penyebab kakakku tewas mengenaskan,” imbuhnya.
Satu sudut bibir Roman terangkat, tersenyum sinis. “Apa yang bisa kau lakukan? Seorang wanita sepertimu, bisa apa kamu?”
Gantian Antonella melengos malas. “Kenapa kalian, para lelaki Sivily, gemar sekali mengeluarkan kartu patriarki padaku? Tidak kamu, tidak para anggota Dewan Komisi New Yord yang terhormat itu, kalian semua kebiasaan memandang rendah kaum wanita,” timpalnya.
“Apa hubungannya dengan Komisi?” Kening Roman berkerut heran.
Alva buru-buru menyela, “Kau orang goa, belasan tahun mendekam di busuknya ruangan penjara. Wajar kalau kau ketinggalan berita.” Dia menyilangkan tangan di depan dada, melanjutkan, “For your information, Antonella adalah kepala keluarga Maranzano saat ini. Penguasa Brookine.”
“Wow.” Roman nyaris tidak sempat menyembunyikan keterkejutannya mendengar informasi yang baru dia dengar kali ini. “Oke, jadi kau punya posisi,” sambungnya.
Alva tersenyum puas memandangi tahanan yang berada di seberangnya. Setidaknya ada satu hal yang bisa membuatnya membungkam mulut orang itu.
“Begitulah, sedikit banyak,” sahut Antonella, mengangkat bahu. “Tapi aku terganggu lantaran para tetua Komisi menentang keberadaanku, hanya karena aku seorang wanita.”
Roman mengangguk-angguk, matanya tak lepas dari sosok cantik di hadapannya. “Kurasa aku mulai menyukaimu, Antonella,” godanya.
Alva membelalakkan mata, terperanjat. “Hei! Jangan macam-macam kau!”
“Seharusnya kau tidak membawa herdermu ke sini, Tonie,” imbuh Roman tanpa mengangkat pandangan dari Antonella.
Antonella berdecak sebal. “Apakah kita akan menghabiskan waktu dengan membahas hal yang nggak penting seperti ini? Kupikir kamu dendam pada Reeve? Atau, dendam itu menguap lantaran sudah terlalu lama di sini?” tanyanya datar.
Roman melengos. Dia lalu maju mencondongkan tubuh mendekat, dengan suara berat berkata, “Tidak sedetik pun terlewat, selama aku berada di balik jeruji kotor karatan, tidak sekalipun aku lupa mencaci maki Reeve Galante. Kau tanya dendamku? Kau bawa Reeve terkutuk itu ke hadapanku, aku tidak akan ragu menyiksanya dengan tangan kosong maupun dengan peralatan apa pun, menyundutnya, membakarnya, memotongnya, tiap inchi dari ujung kepala sampai ujung kaki, akan kuperlakukan dengan spesial. Sama spesial seperti yang dia lakukan terhadapku. Dia bukan hanya seorang pengkhianat untukku. Dia menusukku dari belakang, dia membalas semua perbuatan baikku dengan sedemikian busuk. Orang yang paling aku percayai. Wakilku. Tahu semua hal tentangku dan keluarga yang kupimpin, sampai ke layer yang paling dalam. Dia malah bernyanyi di hadapan penegak hukum. Pada saat itulah aku mendengar siapa dalang di balik mutilasi anak lelakiku. That same person. Lalu kau mempertanyakan seberapa besar dendamku?”
Rasa dingin menjalar di tengkuk Antonella, pori-porinya meremang, menyaksikan ekspresi Roman yang sungguh berbahaya. Wajah penuh dendam, angkara murka. Tersirat dari ekspresi itu, dia tidak akan pernah puas ataupun beristirahat dengan tenang bila dendamnya belum tersalurkan.
Tampaknya Alva juga tercengang menyaksikan hal yang sama, membuatnya menyadari betapa besarnya rasa benci yang dipendam mantan bos mafia itu selama ini.
“Satu hal yang ingin kutanyakan, Antonella,” desis Roman. “Kau bilang ingin mencari Reeve, menuntut balas kematian Flav. Di mana kau bisa mencarinya?”
Antonella tidak menjawab.
“20 tahun yang lalu, sekian banyak tenaga profesional dikerahkan selama berbulan-bulan mencari tempat persembunyian Reeve Galante. Semua tanpa hasil. Tanpa. Hasil. Apa yang bisa kau lakukan? Sendirian mencarinya? Berdua dengan keponakanmu? Apa yang akan kau dapat? Sementara mereka yang mencari dengan jorjoran saja pulang dengan tangan hampa!” seru Roman tertahan. “Bukan maksudku mengecilkan semangatmu mencari pengkhianat itu. Tapi, coba kau realistis saja. Apa yang kau miliki sehingga bisa mengungguli semua orang yang pernah mencari orang itu?”
Antonella menundukkan kepala, bergumam, “Aku memang nggak memiliki kekuatan sebesar itu ….”
“Lihat. Bagus, kau menyadari keadaanmu sendiri. Dari pada membuang waktu mencari sesuatu yang kau tahu bakalan sia-sia, lebih baik kau nikmati hidup,” saran Roman.
Gelengan kuat Antonella menjadi jawaban. “Nggak, aku nggak bisa berpangku tangan lagi seperti sebelumnya. Aku nggak bisa tenang kalau belum menemukan orang itu. Meskipun aku nggak memiliki kekuatan sebesar itu, tapi aku tahu, aku yakin akan menemukannya. Hidup-hidup.”
“Bagaimana kau akan menemukannya?”
“Maka dari itu aku mengunjungimu di sini, Roman. Aku ingin mencari tahu mengenai Reeve sedetail mungkin. Terutama kejadian pada hari itu,” sahut Antonella cepat.
“Aku pesimis. Selain kau hanya buang-buang waktu, kau juga-”
“Selama dia masih hidup, selalu ada harapan!” potong Antonella. “Kau tidak ingin melihatnya untuk terakhir kali, eh? Ingin ludahi, atau apa kek. Katamu kau ingin memotong-motong badannya.”
Roman terdiam.
“Biarkan aku mencoba,” lanjut Antonella. “Apa ruginya buatmu?”
Setelah beberapa saat menimbang, akhirnya Roman berujar, “Fine. Berbuatlah sesukamu. Sebenarnya aku tidak punya urusan melarangmu. Hanya saja, karena ada kamu yang juga mendendam pada Reeve … kurasa aku bisa mengandalkanmu.”
Antonella mengangguk, tersenyum tipis.
“Aku ingin Reeve menderita. Sama seperti derita yang dulu kurasakan. Bagaimana rasanya … saat kau mengangkat bongkahan kepala anak lelakimu … tanpa anggota badannya yang lain. Tanpa nyawa. Aku ingin dia juga merasakan pahitnya kehilangan anak dengan cara demikian,” desis Roman. Lagi, pandangan matanya tajam menyiratkan kesumat yang menjadi-jadi.
Antonella memilih diam, tak berkomentar. Ia menyadari betapa berat situasi Roman 20 tahun lalu. Sebagai seseorang yang pernah menikmati pahit manisnya mengasuh dan membesarkan seorang anak, tentu Antonella memahami kemarahan Roman.
Benar yang tadi Roman ucapkan, hanya makhluk menjijikkan yang bisa-bisanya berbuat sedemikian keji dan brutal pada anak kecil yang tidak berdaya. Mengetahui nama Reeve sebagai dalang kejadian mutilasi anak Roman, menambahkan kebencian di hati Antonella. Bagaimana bisa, sosok yang pernah Antonella puja ternyata memiliki track record sedemikian nista?
“Segera temukan Reeve keparat itu, Tonie,” pinta Roman. “Temukan dia! Atau … atau lebih bagus lagi jika ternyata Reeve sudah punya anak. Jadikan anak itu sasaranmu. Kau bisa enyahkan anak itu sebagai bentuk pembalasan dendam,” sarannya.
Lekas Antonella menggeleng. “Nggak, Roman. Jangan bawa-bawa anaknya. Aku cuma punya masalah dengan Reeve, bukan anaknya. Kamu pun, jangan bawa-bawa anak yang nggak tahu apa-apa ke dalam hal ini. Sebesar apa pun dendammu pada Reeve, jangan sekali-kali menyeret anaknya, karena anak itu nggak ada sangkut pautnya,” sahutnya memberi teguran.
Roman mengernyitkan kening. Jelas dia merasa terganggu imajinasinya dirusak begitu saja oleh Antonella. Tapi dia menjawab, “Fine.”
“Ah. Tonie,” panggil Roman tak lama kemudian. “Jujur, aku tidak bisa membayangkan bagaimana cara kalian mencari seekor pengkhianat, di dunia yang sangat luas ini. Hanya kalian berdua saja??”
Antonella mengangguk. “Memang kenapa?”
“Entah kapan dendammu itu terbalaskan,” sahut Roman cepat. “Aku berikan satu tenaga lagi untukmu, kalau kau bersedia. Dia ada di luar sana, tapi kurasa mencarinya tidak sulit.”
“Satu tenaga lagi, apa maksudmu, Roman?”
“Kuberi tahu, Tonie,” kata Roman. “Sebenarnya aku memiliki anak lain di luar sana.”
Bola mata Antonella membesar. “Jadi … kamu punya anak lain lagi, selain Christopher …?” tanyanya memastikan.
Roman mengangguk pasti. “Tidak ada yang tahu. Biasalah, kau tentu paham. Anak itu adalah hasil kelakuanku sewaktu masih seumur keponakanmu ini.”
Melihat reaksi kedua tamunya yang tampak sama-sama terperangah, Roman melanjutkan, “Anak itu beberapa kali menjengukku di sini. Terakhir kali sepertinya dia marah padaku, karena niatnya melacak keberadaan Reeve kutolak mentah-mentah. Kupikir, bisa apa anak itu? Sendirian, sama sekali tidak punya power, tidak punya koneksi. Berhubung saat ini ada kalian, yang memiliki tujuan sama dengan anakku itu, kupikir lebih baik kalian bekerja sama.”
“Well ….” Antonella tampak bingung merespon.
“Kami tidak pernah kenal anakmu itu, kenapa harus bekerja sama? Salah-salah malah dia yang membawa bencana. Bertindak semaunya sendiri, mungkin? Kami mempertaruhkan usaha keras kami jika mengajaknya bekerja sama,” sahut Alva tanpa ragu.
“Alva, kubilang diam,” tegur Antonella.
Alva spontan memprotes, “Kenapa kamu selalu menyuruhku diam?”
“Dia anak baik, berdedikasi,” ujar Roman menjelaskan tanpa diminta. “Dia membenci ketidakadilan. Bukankah kalian dan anak itu sepemikiran? Lebih banyak kepala lebih baik, tidakkah kau berpikir demikian, Tonie?”
Antonella terdiam sesaat, menimbang.
Di sampingnya, Alva berbisik, “Jangan, Tonie.”
“Siapa nama anakmu? Biar kucari dia,” jawab Antonella, tidak memedulikan reaksi Alva.
Roman menyunggingkan senyum. “Massimiliano Ricci. Biasa dipanggil Max. Tinggal di Wheaton, satu jam perjalanan dari sini,” tuturnya.
“Ah. Iralian murni, rupanya?” tanya Antonella penasaran.
“Yeah. Kalau dibandingkan dengan Christopher, darahnya campuran. Max lebih pantas berkecimpung dalam dunia La Cosa Nostra,” jawab Roman.
“Aku penasaran … bagaimana kabar Olivia setelah kejadian itu? Setelah perang mafia?”
Roman mematung, matanya tertuju lurus pada Antonella. Tak lama, dia pun menjawab, “Aku tidak tahu. Yang kudengar, dia dijemput ayahnya, Campbell, untuk kembali ke rumahnya. Mungkin sejak saat itu dia tinggal bersama ayahnya.”
Pria yang pada awalnya memilih bersikap bermusuhan dengan Antonella dan Alvaro itu lambat laun, mungkin tanpa disadari, berubah lebih santai dan terbuka. Hawa kehadiran Antonella rupanya mampu mengikis sedikit sifat arogannya.
Dia tampak asyik dengan pikirannya sendiri sejenak, sebelum melanjutkan, “Kurasa aku memang bersikap terlampau keras pada Olivia saat itu. Aku bukan main kecewa dan marah atas tragedi Christopher, dan aku memproyeksikan kemarahanku pada Olive, tanpa menghiraukan bagaimana perasaannya. Dia ibu Christopher, tentu dia juga sama hancur dan sedihnya seperti yang kualami. Aku tidak pernah tahu kabarnya secara pasti, dan tidak pernah ingin tahu. Entahlah.” Roman mengangkat bahu.
“Kurasa kisah romansa antara Roman Burgueno dan Olivia Campbell penuh warna yang menyedihkan, aku menolak mengingat Olive lagi. Meskipun kuakui, aku pernah mencintainya,” imbuh Roman datar, senyum yang terkesan getir terukir di bibirnya.
Terharu, Antonella mengerjap-ngerjapkan mata. Testimoni dari mereka yang mengenal Roman memang tepat, Roman adalah sosok yang kasar dan semaunya sendiri. Tapi, apakah mereka mengenal Roman sejauh itu? Pernahkah mereka menyaksikan pandangan mata kosong Roman tatkala mengingat wanita yang pernah dicintainya, seperti yang saat ini disaksikan oleh Antonella? Antonella dapat melihat cinta yang penuh kepahitan terpancar dari wajah pria yang pernah menuai banyak kontroversi, yang menjadi public enemy di kalangan sesama Sivily. Roman memang bukan sosok manusia panutan, namun, di balik semua nilai negatifnya, tetap ada setitik nilai positif yang mengubah persepsi Antonella.
Alva melirik sang tante dalam diam, lalu menggeleng pelan.
“Sampah macam apa yang keluar dari mulutku?” Roman menegur dirinya sendiri. “Aku terlalu banyak membuka mulut. Lalu? Ada pertanyaan lain lagi?” tanyanya pada Antonella.
“Euh. Nggak.” Antonella menggeleng bingung. “Aku akan ke sini lagi, mengajak Max, anakmu. Lalu kita diskusi lagi nanti …. Is that okay, Roman?”
“Sounds good.”
“Aku merasakan hawa ruangan banyak berubah saat si Roman membual tentang cinta,” celetuk Alva saat menyetir. Mereka dalam perjalanan menuju Wheaton, tempat anak Roman tinggal.
“Membual? Menurutmu dia membual?” Antonella menoleh, memandangi Alva bingung.
“Ya jelaslah. Bullshit doang itu!” sahut Alva cepat. “Dia cuma mau sok-sokan aja di depan kamu. Dan siasatnya berhasil. Aku bisa lihat kamu terharu mendengar omongannya. Padahal cuma bualan belaka. Kamu nggak sadar itu?”
Antonella mengernyit. “Kurasa nggak. Mungkin kamu terlalu terbawa persepsi buruk mengenai Roman, makanya langsung menilai dia membual.”
“Eh, aku nggak salah menilai!”
“Kamu nggak lihat sorot matanya tadi … kurasa dia jujur. Mata nggak akan pernah bisa berbohong.”
Alva mendengus. “Benar dugaanku. Kamu termakan bualan Roman, sampai bisa membela orang itu. Jangan-jangan setelah ini ada benih cinta mulai bersemi,” cemoohnya.
“Alva, please, deh. Aku berurusan dengan Roman karena ingin mencari info tentang Reeve, itu aja, nggak lebih. Apalagi ada benih cinta … ew, apaan sih?”
“Yah, bagus kalau begitu,” gumam Alva.
“Tapi, ada yang harus kamu ingat, Alva …. Nggak selamanya hitam harus terus menjadi hitam, dan nggak selamanya putih menjadi putih. Ada kalanya mereka bercampur, ada noda hitam dalam kehidupan serba putih seseorang … juga kebalikannya, ada setitik sifat putih dalam kehidupan seseorang yang serba hitam. Seperti yang kamu saksikan tadi. Meskipun Roman terkenal menjadi public enemy di kalangan kita, tapi di balik sifatnya yang kurang elok, dia tetap memiliki sisi yang baik. Dia mengerti cinta, aku bisa pastikan dia berkata jujur mengenai rasa cintanya pada Olivia. Dan itu … yeah, memang, aku terharu,” ungkap Antonella.
Alva tidak membantah, fokus mengemudi.
“Sama seperti ayahmu.”
Cetusan terakhir Antonella refleks membuat Alva menoleh sekilas. “Apa maksudnya?” tanyanya.
“Realistis aja,” ujar Antonella. “Kita harus bisa besar hati mengakui kelemahan yang ayahmu miliki semasa hidupnya. Orang-orang berkomentar bahwa Flav dan Roman itu mirip. Sama-sama kasar, brutal, buas, menabrak semua aturan, pemberontak … dan serangkaian sifat negatif lain. Roman dan Flav sama-sama menjadi public enemy di kalangan para tetua Komisi saat itu. Kurasa Dewan Komisi sengaja menyelamatkan diri, membiarkan keluarga Burgueno dan Maranzano yang terkena imbas paling besar dari kejadian 20 tahun lalu. Mereka menumbalkan klan Burgueno dan Maranzano demi keamanan mereka sendiri! Everything is starting to make sense, now. Kenapa tiga keluarga lain aman-aman saja dari perang … ya karena itu tadi alasannya. Kenapa mereka antipati padaku … well, selain karena mereka adalah penganut patriarki garis keras, juga karena aku Maranzano. Kamu juga seorang Maranzano, Al, kamu dan Zia adalah keturunan Flav yang nggak disangka bermunculan dua dekade kemudian. Kalau mereka sebegitu antipatinya pada nama Maranzano, kamu dan Zia juga dalam incaran. Terlebih kamu, mungkin, karena kamu laki-laki.”
“Aku juga berpikiran sama,” sahut Alva datar.
Antonella mengangguk. “Makanya aku membanding-bandingkan Roman dan Flav. Meskipun keduanya sama-sama berperangai keras, tapi aku bisa melihat sesuatu yang unik dari keduanya. Roman, di balik sifatnya yang demikian, ternyata percaya cinta. Dia jelas mencintai Olivia dan bahkan pernah menikahinya. Tapi meski begitu, Roman nggak pernah menghargai keluarga biologisnya sendiri. Dia otak di balik pembunuhan ayahnya. Selain itu dia juga berseberangan dengan adiknya … adiknya, Vanessa, justru menjadi penggerak utama tercetusnya perang mafia saat itu. Vanessa bekerja sama dengan Lucas Valachi dan Reeve, keduanya orang dalam organisasi yang Roman pimpin,” tuturnya merunut peristiwa yang telah lalu.
“Jadi … perang saat itu bukan hanya milik Castellano bersaudara? Antara Wayne si penegak hukum dengan Maurice salah satu bos mafia?”
“Itu skenario yang mungkin diinginkan Wayne Castellano. Tapi pada kenyataannya, klan Castellano aman dari sapuan Wayne, dua keluarga lain pun aman. Hanya klan Maranzano dan Burgueno yang jadi tumbal. Jadi, kurasa lebih tepat bila perang dulu itu disebut milik Burgueno bersaudara. Antara Roman si bos dan Vanessa.”
“Menarik.”
“Sementara, kalau ayahmu ….” Antonella mengambil jeda sejenak. “Perangai keras, nggak percaya cinta. Kalau kamu mau tahu, aku spill sekalian sekarang. Flav itu pejantan yang punya banyak koleksi teman tidur di mana-mana. Nggak ada yang diseriusi … mungkin si Alyssa, tapi aku ragu Flav serius dengannya atau nggak. Dulu, saat masih menjadi underboss, Flav pernah menikahi seorang Donna, tapi itu hanya taktik licik agar dia bisa merebut kursi Don. Flav merekayasa kematian istrinya itu dengan sangat rapi.”
Alva terbelalak lebar mendengar kisah masa lalu ayah yang tidak pernah dikenalnya itu. “A-aku nggak pernah tahu ayah pernah menikah …,” sahutnya parau.
“Anja nggak akan ceritakan itu. Tapi aku beritahu kamu sekarang, supaya kamu juga nggak terlalu buta memuja Flav,” sahut Antonella.
“Kok? Kamu sekarang udah nggak sayang lagi sama ayahku?”
“Aku sayang Flav. Tapi seperti yang kukatakan tadi, realistis aja. Memang kenyataannya demikian. Lagipula, ceritaku tentang Flav kan belum selesai.”
“I’m all ears.”
“Yeah. Meskipun yang kusebutkan tadi belum seberapa … udah terbayang kan, sifat Flav saat masih hidup? Karena, walaupun dia seperti itu, Flav justru tipe yang sangat menghargai keluarga biologisnya. Mungkin nggak berlaku pada Gianni Maranzano, ayahku … karena mereka slack saat Flav masih 11 tahun, yang membuatnya kabur dari rumah. Tapi yang jelas, Flav sangat menyayangi aku, adik kandungnya. Dan itu yang menjadi nilai lebihnya. Aku ingat … saat aku baru pertama kali mengenal pria … ohh. Pria itu nggak lain adalah Reeve yang kita cari-cari sekarang. Saat aku baru pertama kali mengetahui bagaimana rasanya diperlakukan pria yang aku puja, aku dimabuk cinta. Flav menegurku, memarahiku habis-habisan, dengan keras melarangku bergaul lagi dengan Reeve … simple karena dia hanya ingin melindungiku dari terkaman buaya semacam Reeve. Aku pernah dengar kabar kalau Flav bahkan sempat menghajar Reeve begitu dia tahu Reeve berbuat aneh-aneh padaku. Aku selalu mengatakan Flav itu kakak idaman. Kakak terbaik. Karena memang itulah yang kurasakan. Aku bersyukur pernah merasakan hangatnya perlindungan kakak laki-laki yang sangat kusayangi ….”
“Manis sekali,” sahut Alva. “Kurasa aku juga mewarisi sifat ayah yang seperti itu. Aku sayang Zia. Meski waktu lahir kami cuma beda beberapa hari, tapi aku merasa ada tanggung jawab untuk selalu melindungi Zia. Tapi kamu tenang saja, aku bakal selalu prioritaskan kamu untuk aku lindungi. Zia bisa nomor dua.”
“Terbalik dong,” balas Antonella. “Seharusnya yang kamu prioritaskan itu Zia, bukan aku.”
“Aku udah berjanji seperti itu, masih harus dijelaskan?” sanggah Alva cepat, terdengar nada kesal dari suaranya.
“Iya deh,” jawab Antonella. Terkadang ketegasan Alva membawa aura mengintimidasi yang membuat Antonella merasa lebih baik segera mengalah.
Bakat mengintimidasi bawaan dari ayahnya, pasti, batin Antonella. Tapi anak ini juga makin dewasa ya … ngomong ke aku, orang yang merawat dia dari bayi aja bisa seperti itu, berasa kayak lagi ngomelin pacar. Alva … Alva. Kayaknya baru kemarin kamu belajar jalan, pakai popok. Sekarang udah jadi bodyguard tantenya, mengawal aku kemana pun. Time flies so fast.
“Tapi ada kemajuan nih,” sambung Alva. “Biasanya kalau lagi mengingat Flav, kamu selalu mewek,” ejeknya.
Ponsel Antonella berdering, menginterupsi pembicaraan mereka. Antonella segera menjawab usai menekan sesuatu di benda pipih miliknya. “Halo?”
Alva melirik Antonella sekilas. Ekspresi wajah wanita yang dikawalnya itu tampak tegang dan serius, rupanya pembicaraan yang penting.
“Belum ada titik terang di mana keberadaan orang itu?!” Antonella melengos kesal. “Astaga, kamu kan udah berbulan-bulan di Iralia, masa iya sih nggak ada satu petunjuk pun? …. Memangnya selain di Iralia kira-kira dia di mana? Selama ini kita udah menghabiskan banyak sekali waktu dan biaya untuk melacak keberadaan orang itu … di semua negara bagian Amerida. Nihil. Di Irali, kamu mau bilang, nihil juga? Nggak mungkin kan, orang itu lenyap menghilang begitu saja? Coba deh, kamu hubungi Vince, diskusi sama dia. Aku penasaran kenapa orang itu nggak ada di mana pun! …. Iya, aku juga aware kalau pencarian orang itu 20 tahun lalu juga nggak ada hasil sama sekali. Makanya aku minta tolong kamu untuk lakukan pencarian lagi. Sudah 20 tahun, sudah lama sekali, bisa jadi orang itu jadi lengah sekarang ini, dan mulai menunjukkan ekornya. …. Ya. Kamu diskusi lagi dulu dengan Vince, baru nanti kalian berdua video call denganku. Agak malaman juga nggak apa, aku masih ada urusan.”
Helaan napas berat Antonella menutup pembicaraannya di telepon.
“Kabar yang kurang bagus,” sahut Alva.
Lagi-lagi Antonella melengos kesal. “Heran, orang itu bersembunyi di mana sih?! Masa iya, dia menguap begitu saja?” gerutunya.
“Kalau dipikir dulu kamu pernah memujanya,” balas Alva.
“Itu kesalahan terbesar.”
“Sampai sejauh apa? …. Beneran, bener-bener cinta banget? Atau gimana?” tanya Alva menyelidik. Tentu saja ada faktor kecemburuan dalam pertanyaan tersebut, meski Alva berkeras menyangkal dalam hati.
Antonella melirik Alva judes. “Nggak usah dibahas. Nggak penting juga,” jawabnya asal.
Alva merengut, namun tak menyerah. “Pria pertama buatmu, kan?”
“Apa, sih?”
"Jawab aja ... aku penasaran soalnya," desak Alva. "Kalau emang ayahku menjagamu dengan baik, masa bisa ada laki-laki brengsek yang deketin kamu?"
"Ya bisa aja," jawab Antonella malas. "Gimana pun, Flav nggak sempurna, bisa kecolongan juga. Lagipula, aku yang deketin makhluk itu duluan, bukan dia."
"Oh. Wow, jadi kamu yang punya inisiatif? .... Eh. Segitu bencinya kamu sama orang itu, sebut dia makhluk."
"Menurutmu? Lagian emang bener dia cuma makhluk. Makhluk buatan."
Dari sudut mata, Antonella menyadari dirinya menjadi objek tatapan penuh pertanyaan dari Alva. Maka ia melanjutkan, "Yang bertemu denganku saat itu, dia hanya sebuah klon. Cyborg."
Alva terbelalak mendengar jawaban Antonella. "Klon?? Ja-jadi ...."
"Teknologi dan kejeniusan orang-orang yang berada di belakang bisnis kloning saat itu memang sungguh canggih. Cyborg buatan mereka benar-benar seperti manusia biasa, seperti makhluk biologis alami," tutur Antonella. "Memiliki semua skill yang sama seperti tubuh induknya. Memiliki kesadaran juga ... betapa canggihnya, huh? Dan tentunya, punya kemampuan untuk melakukan hubungan seksual. Aku rupanya cukup beruntung pernah merasakan sendiri sensasi bermain dengan cyborg super sophisticated. Huh, cukup beruntung? Beruntung atau malah sial, sepertinya."
Antonella mengambil napas panjang, kembali melanjutkan, "Robot seks, atau alat bantu seperti dildo ... kalah jauh, beda kelas. Makanya aku nggak pernah sangka kalau yang bertemu denganku itu adalah sebuah klon. Makanya Flav sedemikian murkanya begitu tahu dia kecolongan ... makanya aku dikirim ke Miani."
Alva terlampau terkesima untuk merespon.
"Kalau saja aku tahu, saat aku bertemu dengan klon itu, rupanya dia tengah dalam misi menanam sedemikian banyak alat penyadap di rumah Flav ... yang membuat Flav terpaksa kabur dari New Yord ... dan malahan mengalami kecelakaan pesawat. Seandainya aku nggak mendekati cyborg itu ... aku nggak akan merasa sebersalah ini," ujar Antonella pelan.
"Tuh, kan-"
"Tenang, aku nggak nangis," sela Antonella cepat. "Aku kan udah janji nggak bakalan nangis lagi. Aku hanya mengatakan yang ada di pikiranku."
"Baguslah ...," sahut Alva. "Ngomong-ngomong aku speechless tahu kamu ternyata pernah jatuh cinta pada sebuah klon. Klon!"
Senyum getir terulas di bibir Antonella.
"Tapi dengan Reeve yang asli, kamu pernah ketemu juga?"
Antonella menggeleng. "Justru aku belum pernah bertemu dengan Reeve yang asli. Tapi yang pasti nggak ada bedanya dengan klonnya ... cuma beda yang satu cyborg, yang asli benar-benar manusia biasa," jawabnya.
"Berarti yang berkhianat, yang bersaksi di pengadilan, adalah klon?"
"Yeah. Yang menikam semua anggota Burgueno dan Maranzano dari belakang adalah Klon Reeve."
"Lalu Reeve yang asli? Dia di mana saat itu? Atau mungkin dia juga yang berada di balik pengkhianatan itu?" tanya Alva memberondong.
"Dia kabur," jawab Antonella. "Saat itu Reeve yang asli dan sekian banyak mafioso lainnya sedang berada di Moskov. Mengetahui status mereka berubah jadi buron, mereka menyelamatkan diri masing-masing. Ada yang berhasil kabur tapi kemudian tertangkap, seperti yang dialami Roman dan penasihatnya, Roscoe Valachi. Ada juga yang berhasil kabur sampai sekarang nggak terendus keberadaannya, seperti Reeve Galante yang asli. Aku mengikuti kabar semua rangkaian pengadilan saat itu ... yang bisa kutangkap, Klon Reeve itu sepertinya menyasar Reeve yang asli. Jadi kalau dibilang Reeve asli berada di balik pengkhianatan klonnya, sepertinya mustahil."
Alva diam mencerna.
"Funny. Dari semua hal ironis yang terjadi … perseteruan Castellano bersaudara, atau Burgueno bersaudara … perseteruan Reeve dan klonnya adalah yang paling plot twist. Karena Reeve berseteru dengan dirinya sendiri, dalam bentuk klon. Bisa dibilang Reeve sendirilah yang menciptakan semua kekacauan saat itu. Siapa yang punya ide bikin klon? Kan, dia sendiri. Makanya semua orang menyalahkan Reeve,” imbuh Antonella menutup ceritanya.
Alva mengangguk. “Betul. Sangat wajar kalau dia jadi public enemy,” sahutnya.
Tak berselang lama, penunjuk jalan di aplikasi ponsel Alvaro memberi notifikasi bahwa mereka telah tiba di lokasi tujuan. “Kita udah sampai,” ujarnya, menunjuk sebuah rumah di sisi jalan dengan gerakan dagu.
Sejenak, Antonella mengamati rumah bercat putih yang dimaksud. Di area carport tampak seorang pemuda bertubuh atletis seumuran Alva tengah melempar bola basket ke dalam ring, tampak asyik sendiri.
“Mungkin itu orangnya,” gumam Antonella.
“Kau yakin, ajak anak Roman bergabung? Kita kan, nggak kenal dia,” kata Alva seraya mematikan mesin mobil. “Apa nggak lebih baik cukup kita berdua aja yang bergerak?”
“Makanya kita kenalan dulu,” jawab Antonella. Tanpa menunggu sahutan lagi, ia menarik tuas pintu lalu keluar dari mobil.
Alva meringis, merasa percuma mempersuasi sang tante. Mau tak mau dia ikut keluar, menemani.
“Sore …,” sapa Antonella, tersenyum ramah.
Pemuda itu menoleh, memicingkan mata menyadari dua tamu tak diundang di depan rumahnya. “Sore,” sahutnya tanpa membalas senyum.
Alva memandangi objek di hadapannya dari atas sampai bawah, seolah tengah memberi penilaian dalam hati. Pemuda itu setinggi dirinya, 185 cm, rambut ikal pendek berwarna coklat, sewarna dengan lebatnya anak-anak rambut yang menutupi area rahang dan dagu. Dua garis tebal alis menukik tajam ke bawah nyaris bertemu di pangkal hidung, menaungi kedua bola mata yang selalu menyorot tajam. Leher kokoh dengan bahu kekar, lengan menggelembung berisi, meski tidak terlalu. Butiran keringat terlihat menetes dari kulit lengannya yang telanjang. Perawakan mereka berdua nyaris sama. Alva menyimpulkan, mungkin pemuda itu juga rajin melatih otot seperti dirinya.
“Cari siapa?” tanya pemuda itu.
“Maaf mengganggu, kami mencari orang yang bernama Massimiliano Ricci. Menurut info, di sini rumahnya. Apa betul? Bisakah kami bertemu dengannya?” tanya Antonella masih mempertahankan senyumannya.
Kini giliran pemuda itu yang memindai Antonella dari atas sampai bawah, menghiraukan keberadaan Alva yang tidak begitu menarik perhatiannya. Puas memandangi wanita itu, dia bertanya, “Kalian siapa? Ada keperluan apa mencari saya?”
“Ahh, jadi kamu Massimiliano. Max,” sahut Antonella, merasa lega berhasil menemukan yang ia cari dengan mudah. “Perkenalkan aku Antonella Maranzano, dan ini keponakanku, Alvaro Maranzano,” katanya lagi seraya mengulurkan tangan.
Max menyambut uluran tangan kedua tamunya masih dengan kening berkerut, mungkin bingung.
“Maaf ya, kami tiba-tiba datang,” ujar Antonella seakan mengerti kebingungan pemuda di hadapannya itu. “Kami ke sini memang untuk berkenalan denganmu … dan ingin mengajakmu bertemu dengan Roman Burgueno. Apakah kamu bersedia, Max?”
“Roman? Kalian kenal Roman?” Max tampak mulai menunjukkan ketertarikan.
Antonella mengangguk. “Tentu, kami baru saja mengunjungi Roman. Dia meminta kami untuk membawamu juga … ada beberapa hal yang, menurut pendapat Roman, akan sangat memudahkan dan saling menguntungkan bila kita bertiga bisa bekerja sama,” tuturnya.
“Bekerja sama? Maksudnya?”
Sorot mata Max tampak lebih tajam saat berbincang serius dengan Antonella. Ada sesuatu dari Max yang tertangkap oleh indera Alva, yang semakin menambah keraguannya. Sinar yang terpancar dari mata pemuda itu tampak buas, penuh obsesi, bahkan mungkin lebih berbahaya dari Roman sekalipun.
Didengarnya Antonella terus saja berbincang dengan Max.
“Bekerja sama, kita menghimpun kekuatan untuk mencari keberadaan Reeve Galante. Kamu ingin menuntut balas atas perbuatannya pada ayahmu, kan?”
Terlihat kilatan di mata Max begitu nama Reeve Galante disebut. Pemuda itu jelas sangat tertarik.
“Reeve. Benar,” jawab Max, tersenyum sinis. “Aku mencarinya, tapi Roman selalu melarangku. Katanya, aku nggak punya koneksi dan kekuatan.”
“Ya … Roman juga menceritakan hal itu. Katanya kamu ngambek karena dia kerap melarangmu,” imbuh Antonella.
“Ngambek??” Max terbahak-bahak. “That old man dengan segala delusinya! Aku penasaran, dia ngomong apa lagi ke kamu? Kamu dirayu nggak? Kamu nggak tertarik pada ayahku? Ganteng, lho. Atau mungkin kamu lebih berminat padaku, Roman versi 2.0? Bukannya sombong, tapi aku fasih bagaimana harus memperlakukan wanita … tidakkah kamu penasaran?”
Antonella mengangkat alis, namun memilih untuk tidak merespon.
Sementara Alva berdecak keras, keningnya berkerut-kerut menahan kesal. Jelas dia tampak terganggu dengan reaksi Max. “Barangkali Roman selalu melarangmu mencari Reeve karena tidak percaya denganmu. Wajar sih, kalau dilihat-lihat, sifatmu bisa lebih buruk dari Roman. Salah-salah malah menimbulkan masalah baru, bukannya menyelesaikan permasalahan,” sahutnya pedas.
“Alva,” tegur Antonella.
“Oh. Bisa bicara juga kau, kupikir bisu,” balas Max. “Memangnya kalian sendiri gimana? Punya koneksi? Punya kekuatan? Kamu, perempuan cantik lemah gemulai seperti kamu bisa apa? Ponakanmu ini juga, bisa apa selain berbesar mulut dan mencari ribut?”
“Siapa yang cari ribut?! Kau duluan yang menggoda Antonella, lalu kau berharap aku harus diam saja??” hardik Alva.
“I’m just being friendly!” sanggah Max.
“Friendly my ass!” teriak Alva. “Kau itu sama seperti ayahmu yang sudah lumutan di penjara! Nggak bisa diam kalau lihat wanita cantik, jelalatan! Merayu!”
Max memicingkan mata. “Jangan bawa-bawa ayahku. Lagipula kalaupun aku menggoda Antonella, memang kenapa? Kamu siapanya? Ingin digoda juga? Maaf, saya masih normal.”
Ucapan Max membuat emosi Alva semakin terpancing. “Kau!!”
“Begini, bro, zaman sekarang nggak aneh kok, kalau orientasi berbeda. Nggak usah malu mengakui, kebetulan saya orangnya open-minded. Hanya jujur saja, saya memang nggak tertarik padamu.”
“ANJ-”
Melihat situasi semakin memanas, Antonella lekas mendorong bahu Alva dan Max, membentak keduanya, “Cukup! Baru juga berkenalan, udah saling meledek, ribut! Apa yang bisa kalian dapatkan kalau ribut terus, huh?!”
“Si Max yang brengsek!” timpal Alva.
Sementara Max berkelit, “Aku sih, cuma meladeni dia-”
“Diam! Kalian berdua sama saja!” hardik Antonella galak.
Ia menarik napas panjang beberapa kali, kemudian berkata, “Dengar, kalian berdua. Ke depannya, aku menolak menjadi baby sitter kalian. Harus menjaga kalian cuma supaya nggak bertengkar? Buang-buang waktu saja. Misiku kali ini hanyalah, agar aku bisa menemukan Reeve Galante itu dan menyeretnya kembali ke Amerida. Untuk mencapai misi itu aku harus bekerja sama dengan Roman … dan Roman memintaku membawa Max. Max, kalau kamu sendiri nggak tertarik bekerja sama dengan kami juga nggak apa, malah lebih bagus, katakan saja.”
Antonella kemudian beralih pada Alva, dengan dingin berkata, “Alvaro, kalau kamu ingin membalaskan dendam Flavio, tentu kamu paham harus melakukan apa.”
Alva menunduk, tidak membantah.
Max menggaruk dagunya dengan cuek.
“Max? Kamu jadi ingin bergabung atau tidak?” desak Antonella.
“Hei, dengar ya. Yang dendam pada Reeve itu bukan cuma kamu. Aku. Lihat aku. Lihat ayahku. Dipenjara sekian puluh tahun, semua itu akibat perbuatan Reeve! Selama ini aku ingin membalas dendam tapi Roman nggak izinkan aku, dan sekarang izin itu turun kalau harus terlibat dengan kalian. Apa aku punya pilihan?” sungut Max.
Antonella memandangi Max lekat, tangannya bersilang di depan dada.
“Aku bergabung,” jawab Max kemudian.
“Great. Jadi kalian berdua harus tahu diri dan jangan berulah. Bertemanlah! Aku nggak mau dengar kalian ribut-ribut lagi!” perintah Antonella, yang sesaat sempat merasa pening menyadari ada dua kepala batu yang harus ia awasi mulai sekarang.
Antonella masih merasakan hawa permusuhan yang pekat saat dirinya, Alva dan Max duduk berdampingan di ruang kunjungan Lembaga Pemasyarakatan Evenston, keesokan harinya. Kedua pemuda berperangai keras itu duduk mengapit dirinya, sama-sama menyilangkan tangan dan bersikap tidak acuh.
Untunglah situasi saling diam-diaman yang canggung di antara ketiganya tidak berlangsung lama, begitu sipir penjara mengantar Roman masuk ke dalam ruangan.
“Wah, surprise,” kata Roman begitu sipir menghilang di balik pintu. “Cepat sekali kalian bisa mengajak Max ke sini.”
Antonella hanya mengangguk.
“Papa. Apa kabar?” Max bertanya penuh perhatian pada Roman.
“Hari ini aku merasa bersemangat, melihatmu akhirnya mau mengunjungiku lagi,” jawab Roman, tangannya menepuk-nepuk ringan tangan Max.
“Papa pikir aku ngambek? Nggaklah. Bocah amat. Aku memang agak sedikit sibuk akhir-akhir ini … makanya nggak sempat mengunjungimu,” sahut Max.
“It’s alright, son,” balas Roman.
“Maaf, bisakah reunian kalian disimpan untuk kesempatan lain kali?” sela Antonella. “Ada banyak hal yang harus kita bahas … supaya tujuan kita bisa segera terlaksana.”
“Antonella benar,” sahut Roman. “Ayo, kita mulai.”
Antonella menarik napas panjang sebelum berkata, “Pertama, aku ingin meluruskan dan mencapai kesepakatan bahwa yang kita sasar adalah Reeve Galante seorang, benar?”
“Benar,” jawab Roman.
Max menatap Roman dengan bingung. “Pa. Terakhir kali bukannya kau kepikiran untuk menyasar anak Reeve?” tanyanya.
“Well … yeah. Setelah dipikir lagi, urusan kita hanya dengan Reeve, bukan anaknya. Kalau dia punya anak,” jawab Roman.
“Sepakat, hanya Reeve Galante yang kita celakai?” Antonella bertanya sekali lagi.
Roman mengangguk, menjawab, “Sepakat.”
Max mengernyit, tampak tidak setuju, namun memilih diam.
“Kedua,” lanjut Antonella. “Orang yang kutugaskan mencari Reeve di seluruh pelosok Iralia baru semalam mengabarkan kalau usahanya selama ini gagal. Dia gagal menemukan petunjuk mengenai Reeve. Jangankan menemukan di mana keberadaannya, apakah orang itu ada di sana atau tidak saja, tidak ada petunjuk sama sekali!”
Roman melengos, terkekeh pelan. “Kan sudah kukatakan, usaha para profesional mencari si pengkhianat itu 20 tahun lalu saja tidak membuahkan hasil, apalagi kamu?”
Antonella berdecak. “Kamu punya informasi apa, Roman? Kalau dipikir, aku belum juga mendengar cerita versimu tentang apa yang terjadi saat kamu ditangkap.”
“Apa yang harus kuceritakan? Pengalaman yang sangat buruk yang ingin kulupakan selamanya. Ingin kuenyahkan. Kusingkirkan bersama dengan mayat Reeve Galante yang tergeletak di bawah telapak kakiku,” ujar Roman datar.
Senyum licik terukir di wajah Max mendengar ucapan ayahnya.
Antonella memutar otak, mencari taktik pertanyaan lain. “Kamu saat itu … sedang di Moskov, kan? Bersama dengan Reeve dan Roscoe Valachi?”
“Yeah.” Roman mengangguk.
“Itu terakhir kalinya kau bertemu dengan Reeve?”
Roman menimbang sejenak. “Reeve yang asli. Yeah. Itu terakhir kalinya aku bertemu dengan Reeve yang asli. Pasca ditangkap, yang kutemui adalah si klon Reeve. Si robot murahan itu,” jawabnya.
“Kenapa kalian bisa berpisah? Kamu satu pesawat dengan Roscoe … kenapa nggak dengan Reeve juga?”
“Karena aku termakan keyakinan Roscoe bahwa tempat yang kami tuju aman!” jawab Roman sengit. “Seandainya saja aku tahu bahwa justru anaknya sendiri biang dari semuanya. Selain si klon. Selain adikku yang jalang, Vanessa.”
Antonella bergidik ngeri menyaksikan hawa penuh kebencian menguar dari tubuh dan terutama, dari sorot mata Roman. Ia menarik napas, menguatkan hati, lalu bertanya lagi, “Oke … jadi seperti itu. Nah, saat itu, Reeve terbang ke mana?”
Roman terdiam sejenak, mengingat memori yang telah lama berlalu. “Saat itu aku, Roscoe dan Reeve sempat adu pendapat ke mana sebaiknya kami melarikan diri. Roscoe berkeras kembali ke Mapu Island, vilanya, karena katanya di sana sudah diamankan oleh Lucas. Sementara Reeve berkeras mengajakku dan Roscoe terbang ke Sivily, dia bilang, Don Lucchetto akan melindungi kami. Tololnya, aku malah percaya Roscoe, dan ikut dia ke Mapu. Seandainya aku ikut Reeve, mungkin ceritanya akan lain,” tuturnya perlahan.
“Jadi Reeve terbang ke pulau Sivily …,” gumam Antonella.
“Sepertinya. Yang jadi masalah, semua orang ubek-ubek pulau Sivily saat mencari Reeve, berbulan-bulan tanpa hasil. Bisa jadi Reeve kemudian pergi lagi entah ke planet mana, makanya seperti menguap tanpa jejak.”
“Aku juga udah menyusuri pulau Sivily, tapi sama juga, nggak ada hasil,” keluh Antonella. “Nggak ada jejak nama Reeve sedikit pun … nggak ada orang yang berwajah mirip Reeve juga … sama sekali nggak ada!”
Roman memandangi Antonella yang tampak putus asa di hadapannya itu, lalu terkekeh sinis. “Antonella … Antonella,” panggilnya.
Antonella mendangak, balas memandang Roman dengan tatapan bingung.
“Kamu ini terlalu poloskah? Atau … sel otak di kepalamu kurang? Tidak adakah orang sekitarmu yang memberi pencerahan padamu?” tanya Roman dengan nada sinis.
“Apa … apa maksudmu, Roman?”
Roman menggeleng-gelengkan kepala, berkata, “Honey, tentu saja kamu nggak bakalan menemukan nama Reeve atau orang yang berwajah mirip Reeve di mana pun! Di belahan dunia mana pun, nggak akan ada. Kenapa? Sudah pasti Reeve itu berganti identitas sekaligus operasi wajahnya. Kalau dia nggak mengubah wajah dan identitasnya, nggak mungkin Reeve nggak ditemukan saat dulu dicari sekian lusin orang!”
Antonella mengerjap-ngerjapkan mata. Mengapa tidak terbersit pemikiran semacam itu sebelumnya? Tidak mungkin ada banyak tenaga yang dikerahkan untuk mencari dan semuanya tanpa hasil. Tentu saja karena wajah si pengkhianat itu sudah berubah, bukan lagi wajah Reeve yang dikenali banyak orang.
“A-apa kamu tahu … identitasnya yang baru? Wajah barunya seperti apa?” tanya Antonella kemudian.
Roman mendengus. “Itu tugasmu untuk mencari tahu identitas baru Reeve, dan seperti apa wajah barunya. Good luck,” balasnya.
Helaan napas Antonella menjadi jawaban. Alva yang sedari tadi duduk diam di sampingnya dan hanya mendengarkan, turut merasakan kegelisahan sang tante yang pasti merasa bingung bagaimana cara menguak identitas baru si pengkhianat.
“Aku ingin bertanya,” ujar Alva memecah keheningan. “Apakah Reeve itu terbang sendiri ke pulau Sivily? Apa ada yang ikut dengannya?”
“Reeve bersama dengan Camila, pacarnya,” jawab Roman. “Aku ingat, saat itu aku sempat membentak Camila karena dia anak Wayne Castellano keparat yang menjebloskan kami semua.”
Antonella menyadari sesuatu. “Camila … Camila anak Wayne, yang dikabarkan menghilang itu?” tanyanya memastikan.
“Siapa lagi? Bisa jadi sampai sekarang Camila masih bersama Reeve. Mungkin ikutan berganti identitas, makanya nggak ada kabar lagi,” ujar Roman.
Antonella tampak bergelut dengan pemikirannya sendiri.
“Wayne itu seharusnya disingkirkan sejak dulu,” imbuh Roman. “Tapi untuk sekarang ini, lebih baik kau tangkap si Reeve. Penemuan Reeve akan jauh lebih melegakan untuk semua pihak yang dirugikan. Termasuk aku.”
“Well ….” Antonella tersadar dari lamunan. “Baiklah. Kurasa aku akan segera mencari tahu siapa identitas baru Reeve, entah bagaimana caranya. Kalau nggak segera bertindak, dendam semua orang akan selamanya menggantung tak terpuaskan,” katanya.
Roman mengangguk. “Aku suka dedikasimu. Semoga beruntung, Tonie,” sahutnya. Dalam diam dia memerhatikan Antonella berkemas, mengajak Max dan Alva pulang.
Namun saat Max hendak bangkit berdiri, Roman menahannya. “Max, stay di sini dulu.”
Antonella memandangi Max dan Roman bergantian dengan bingung.
“Kami ingin melanjutkan reuni kami, Tonie. Kalian pulang saja,” kata Roman seakan mengerti kebingungan Antonella.
“Ah.”
“Yeah, kalian pulang duluan saja. Toh aku juga bawa mobil sendiri ke sini,” imbuh Max.
“Baiklah. Nanti kita berkabar lagi, Max. Aku akan mengabari perkembangan selanjutnya, Rome, semoga segera ada kabar baik,” pamit Antonella sebelum menghilang di balik pintu.
“Melanjutkan reuni?” Max bertanya sembari menatap Roman dengan ekspresi mencemooh. “Aku kenal Papa … yang seperti ini tuh nggak ada.”
Roman mendengus sinis. “Memang,” jawabnya.
“Katakan apa yang ada di benakmu, Pop.”
“Straight to the point. Sejujurnya aku senang, ada wanita itu yang mau repot-repot mencari si pengkhianat. Tapi ada satu hal yang berseberangan denganku,” kata Roman dengan nada rendah. “Wanita itu hanya fokus balas dendam pada satu orang, pada Reeve. Aku setuju. Reeve memang harus disingkirkan, kalau perlu disiksa terlebih dahulu atas perbuatannya yang infamità. Tapi … ada hal lain yang aku ingin kau lakukan, untuk membalas dendam pribadiku pada Reeve.”
Max tampak semakin tertarik. “Apa itu?”
“Antonella nggak perlu tahu kamu mengemban misi khusus dariku. Supaya nggak ribet, kamu iyakan saja semua yang wanita itu katakan, bersikaplah pro padanya. Nanti, kalau kalian berhasil mengendus keberadaan Reeve, aku ingin kau menyasar anaknya juga,” pinta Roman. Senyum sinis terukir di wajahnya, memandangi sang anak penuh arti.
“Ohh.” Max mengangkat alis, balas tersenyum. “Ternyata Papa tetap menginginkan kematian anak Reeve juga.”
Terdengar nada geram dalam suara Roman saat berkata, “Sebisa mungkin, anaknya duluan yang mati, daripada Reeve. Supaya dia tahu … supaya dia merasakan sendiri bagaimana rasanya kehilangan anak.”
Max mengangguk paham, dengan serius mencermati setiap kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya.
“Dan aku ingin, anak itu nggak sekedar mati begitu saja …. Aku ingin kau memenggal kepala anak itu, Max. Sama seperti yang Reeve lakukan pada saudaramu, Christopher,” imbuh Roman.
“Aku paham, Pop. Reeve memang wajib membayar perbuatannya dengan ganjaran yang setimpal,” sahut Max.
Roman tersenyum sekilas. “Aku senang kau memahamiku,” pujinya.
“Kita saling memahami, kan? Jadikan hal itu tugas utamamu, misi rahasia dariku. Aku ingin melihat seperti apa pucatnya wajah Reeve saat mengangkat bongkahan kepala anaknya sendiri ….” Pandangan Roman kemudian menerawang, hanyut dalam bayang imajinasi yang selama ini dia dambakan.
Max tetap berdiam diri, menunggu hingga Roman puas mengutarakan keinginannya.
“Aku tidak akan meminta apa pun lagi selain melihat hal itu. Itulah keinginan terakhirku,” kata Roman kemudian.
Bibir tipis di wajah Max menyunggingkan sebuah senyuman sinis, matanya tajam menatap lurus pada ayahnya. Dengan penuh keyakinan dia menganggukkan kepala. “Ini baru seru. Challenge accepted, Pop. Aku suka yang seperti ini!”
Alva memecah keheningan dalam mobil usai pertemuan dengan Roman dan Max. “Kita langsung kembali ke Miani, kan? Vince mengabariku tadi, kalau heli sudah stand by di hotel.”
Tidak ada sahutan.
Alva melirik ke samping, dilihatnya Antonella malah asyik melamun.
“Tonie?” panggil Alva sembari mencolek lengan Antonella. “Tonie!”
“Eh!” Antonella tersentak kaget. “Apa? Gimana?”
“Aku bilang, kita langsung balik ke Miani, heli sudah stand by,” ulang Alva.
Antonella lagi-lagi tidak merespon. “Hmm ….”
“Apa sih yang kamu lamunkan? Apa yang kamu pikirkan?”
Antonella memijat keningnya. “Aku bingung, Al. Dari tadi aku kepikiran, bagaimana cara menguak identitas baru Reeve, tanpa petunjuk satu pun,” keluhnya.
“Yah … kita bicarakan lagi nanti. Diskusi bareng dengan Vince,” saran Alva.
“Nggak bisa.” Antonella menggeleng. “Aku diburu penasaran. Dan sesuatu mengganjal pikiranku juga …. Jujur, aku tadi kaget begitu sadar kalau pacarnya Reeve itu ternyata adalah Camila, Camila Castellano. Anak Wayne Castellano yang menghilang selama ini. Kenapa aku baru tahu sekarang?”
Alva mencerna ujaran Antonella dalam hati. “Kalau dipikir, si Reeve itu hebat juga bisa memacari anak penegak hukum,” sahutnya kemudian. “Bawa lari anak Wayne Castellano saat tengah terjadi perang mafia. Satu sisi ada hal yang bisa dikagumi dari si Reeve itu. Ada alasan lain?”
“Al, kamu lupa? Kevin, kan, anak Wayne juga! Kevin dan Camila itu bersaudara ….” Antonella menimbang sejenak. “Bukan nggak mungkin justru Kevin memegang informasi keberadaan Reeve, karena Reeve pacar kakaknya!”
“Lho. Aneh,” sahut Alva. “Kalau Kevin tahu perihal Reeve, masa dia diam saja? Reeve itu dicari-cari sejak 20 tahun lalu, oleh semua orang. Masa iya, dia bakal diam saja kalau memang tahu keberadaan Reeve?”
“Bagaimana kalau Kevin sengaja menyembunyikan informasi itu dari semua orang? Karena dia nggak mau membuat Camila bersedih?”
Alva menggeleng cepat-cepat. “Aku ragu, Tonie. Kita nggak tahu hubungan Kevin dan Camila seperti apa. Apakah seperti kamu dan Flav, yang saling sayang, saling melindungi? Atau malah jangan-jangan seperti Roman dan Vanessa, saling tikam?”
Ucapan Alva sungguh masuk akal, Antonella mengangguk pelan. “Iya … iya sih, kita nggak tahu hubungan mereka seperti apa. Tapi kemungkinan yang aku sebutkan … cukup masuk akal juga, kan? Katakanlah, Kevin dan Camila saling melindungi. Kalau Kevin sayang banget sama Camila, bisa jadi dia bakal tutup mata soal informasi identitas baru Reeve … supaya Camila tetap bisa berbahagia dengan pria pilihannya sendiri … meski hal itu juga pasti membuat Kevin dilema,” tuturnya perlahan, dalam benaknya merangkai berbagai skenario yang kemungkinan terjadi antara Camila dan Kevin Castellano.
“Lalu maksud kamu gimana, Tonie? Kamu mau mencari informasi itu dari Kevin?”
Antonella mengangkat bahu. “Nggak ada jalan lain.”
“No way. Lebih baik jangan ambil resiko. Kamu sadar, kan, saat ini kamu masih dicari-cari Kevin! Untuk apa? Untuk disingkirkan. Masa kamu mempertaruhkan nyawamu sendiri hanya demi mencari tahu sesuatu yang belum tentu? Kemarin kamu bilang, jangan main api dengan Kevin, sekarang malah kamu sendiri yang berniat memantik api,” tegur Alva.
Decakan lolos dari bibir Antonella merespon teguran Alva, namun ia memilih untuk tidak berkomentar lebih lanjut.
Bab 4 – An Offer Kevin Couldn’t Refuse: Antonella from Head to Toe
Kevin Castellano tampak fokus mempelajari isi dokumen yang tengah dipegangnya. Marco, tangan kanannya yang setia, siaga berdiri di sampingnya.
“Hmm. Jadi pasca perang saat itu, Antonella tinggal serumah dengan sepupunya, Anja Fohlberg, dan … Karsten Salisbury, mantan selebriti, yang sama-sama sedang mengandung anak Flavio Maranzano,” gumam Kevin membaca rangkaian huruf di dalam dokumen.
“Antonella yang siaga menggantikan fungsi Flavio, merawat Anja dan bayinya, juga Karsten dan bayinya. Antonella yang mengasuh dan membesarkan kedua anak Flavio dengan telaten dan sungguh-sungguh. Saat ini, baik Alvaro maupun Fabrizia tetap tinggal bersama Antonella, sementara Anja dan Karsten sudah dua tahun ini tidak lagi tinggal bersama mereka. Setahun yang lalu, Vincenzo Corti, satu-satunya petinggi dari klan Maranzano yang luput dari sapuan perang, ditengarai melakukan pertemuan dengan Antonella di Miani. Tak lama setelah pertemuan itu, Antonella memboyong Alvaro dan Fabrizia menempati kembali kediaman Flavio di New Yord, sekaligus mengangkat diri sebagai kepala keluarga Maranzano yang baru.”
Kevin melengos geli. Dilemparnya dokumen berisi latar belakang Donna Antonella Maranzano itu ke atas meja. “Seorang wanita single, mau-maunya repot mengurusi dua anak kakaknya? Apa yang memotivasi wanita itu? Atau dia memang sengaja membesarkan anak-anak itu untuk dijadikan minions, bidak catur? Makanya setelah anak-anak itu dewasa dan kuat, dia membawa mereka ke New Yord?” Kevin meracau, bertanya-tanya sendiri. “Bagaimana menurutmu, Marc?”
“Saya sangat setuju dengan penilaian Anda, Don. Jelas sekali disebutkan bahwa Antonella kembali ke New Yord setelah pertemuan dengan Corti, dia salah satu kapten kepercayaan mendiang Flavio Maranzano,” jawab Marco lugas.
“Aku tahu.” Kevin mengangguk. “Tidak diragukan lagi, Antonella memiliki agenda tersendiri.”
“Saya rasa, tidak jauh dari upaya pencarian Reeve Galante … atau mungkin juga bermaksud menuntut jawaban mengapa hanya Maranzano dan Burgueno yang terimbas perang itu.”
“Yeah. Mungkin keduanya,” sahut Kevin. “Tidak heran Antonella itu keras kepala dan tangguh, bahkan bisa melumpuhkanku. Aspek maskulin yang dia miliki cukup besar.”
Entah disengaja atau tidak, Marco terbatuk, membuat Kevin spontan menoleh padanya. “Kau meledekku? Gara-gara aku, Antonella berhasil kabur?”
“Ti-tidak, Don,” jawab Marco terbata. “Saya tidak akan selancang itu pada Anda.”
“Tapi memang benar, kan? Akibat ulahku, usaha Tommy menangkap wanita itu sia-sia,” sanggah Kevin. “Kau sudah turunkan perintah untuk berhenti mengejar wanita itu?”
“Sudah, Don, dari kemarin,” jawab Marco. “Meski sebenarnya saya masih menyimpan rasa heran, ada maksud apa Anda menarik semua usaha pengejaran wanita itu. Bukankah Anda ingin segera menyelesaikan misi yang dipercayakan Komisi?”
Kevin menarik napas panjang. “Intinya, aku mendapat pencerahan dari Don Maurice untuk mengubah taktik …. Perubahannya seperti apa, saat ini masih kupertimbangkan masak-masak,” jawabnya seraya menyandarkan punggung di kursi kebesarannya.
“Oh. Ada email masuk dari Nona Lenice, Don,” ujar Marco memberikan laporan, dari balik kaca matanya dia memindai semua pesan elektronik yang masuk ke gawai milik Kevin.
“Lenice? Apa katanya?”
“Hanya menyapa Anda, sekaligus foto-foto terbaru beliau di kampus. Silakan, Anda bisa scrolling ke samping untuk melihat,” saran Marco seraya menyerahkan tablet pada Kevin, membiarkan bosnya itu mengamati tiap foto yang muncul.
Kevin mengulum senyum. “Lenice … anakku itu sudah dewasa saja, tidak terasa. Sekarang malah sudah kuliah,” gumamnya, mengagumi wajah manis yang terpampang di layar. “Rasanya baru kemarin dia bermanja-manja padaku merengek dibelikan rumah barbie ….”
Lenice, putri sulung Kevin, saat ini tengah berkuliah di Patermo, ibukota region Sivily Island di Iralia. Sebagai anak perempuan satu-satunya, Kevin merasa wajar bila mencurahkan perhatian berlebih pada putrinya tersebut. Bukan berarti dia tidak memedulikan anak-anaknya yang lain, hanya saja, adik Lenice laki-laki semua, dan sama-sama sedang menginjak usia remaja, masa-masa rentan penuh pemberontakan. Kevin pribadi lebih menyenangi anak perempuan yang manis, anteng, serta tidak gemar bertingkah.
Kevin masih asyik menonton video tur kamar asrama yang Lenice kirimkan, sampai tidak menyadari telepon di mejanya sempat berdering tadi, sebelum dijawab dengan sigap oleh Marco.
“Don,” bisik Marco memanggil, badannya membungkuk sopan di samping Kevin, mendekatkan gagang telepon padanya. Satu tangannya menangkup tepat di corong telepon.
“Orang dari klan Maranzano menghubungi Anda,” bisik Marco lagi.
Kevin tersentak kaget begitu mendengar nama keluarga yang menjadi sasarannya disebut-sebut. “Maranzano? Siapa yang menelepon?” tanyanya.
“Mereka berkeras ingin berbicara langsung dengan Anda ….”
“Kemarikan.” Kevin lekas merebut gagang telepon dari tangan Marco. “Halo?”
“Don Kevin Castellano,” panggil suara di seberang line telepon. Suara berat seorang laki-laki. “Akhirnya. Saya sempat berpikir tidak bisa berbicara langsung dengan Anda.”
“Dengan siapa saya bicara?” tanya Kevin datar.
“Saya hanya ingin menyampaikan, Donna Antonella Maranzano ingin berjumpa dengan Anda.”
Kening Kevin berkerut dalam.
Suara di seberang berkata lagi, “Donna kami ingin menyampaikan penawaran menarik untuk Anda. Jika Anda bersedia, Donna menunggu kedatangan Anda. Tanpa ada kekerasan, tanpa ada pengejaran, tanpa ada tindakan kriminal apa pun.”
“Penawaran?” balas Kevin. “Penawaran macam apa yang Donna-mu bisa ajukan pada saya?”
“Kami menyadari, beberapa waktu belakangan ini, Anda menarik semua upaya pengejaran terhadap Donna Antonella, jadi kami pikir, niat kami untuk melakukan gencatan senjata sejalan dengan tindakan Anda.”
Kevin berdecak. “Pertanyaan saya tidak ada yang Anda jawab. Siapa kau sebenarnya? Ada maksud apa Antonella menunggu saya?”
“Anda tidak perlu cemas, Don Castellano. Donna Antonella sama sekali tidak memiliki niat buruk pada Anda … beliau hanya ingin bertemu dan bicara empat mata,” ujar suara di seberang.
“Kalian ini lucu. Seharusnya yang patut merasa cemas adalah Donna-mu itu. Tidakkah dia ingat, kepalanya sedang dipertaruhkan saat ini?”
“Tentu beliau menyadari itu. Makanya beliau ingin bertemu dengan Anda.”
Kevin tidak merespon. Dari sudut mata dilihatnya Marco menggoyangkan tangan padanya, pertanda agar Kevin tidak menyetujui permintaan tersebut.
Padahal aku belum merampungkan strategi baruku mendekati Antonella, tidak disangka wanita ini malah meminta bertemu denganku. Apa yang harus kulakukan padanya? Balas menyiksanya karena pernah membuatku tersiksa berminggu-minggu? Menghabisinya langsung? Tapi kalau dia langsung kuhabisi … sayang juga, aku belum sempat melakukan apa-apa padanya. Dia terlalu cantik untuk mati cepat … dan aku masih penasaran ingin memilikinya.
Sekelebatan memori terlintas di benak Kevin tanpa izin. Terbayang olehnya suara merdu desahan yang berasal dari bibir merah sensual Antonella, memanggili namanya. Tatapan Antonella yang manja merayu, memandangi dirinya penuh damba. Kulit halus yang baru sempat Kevin jamah, namun belum pernah dia lihat secara keseluruhan. Gelombang rasa penasaran melanda, membelenggu Kevin. Secantik apa, semolek apa tubuh wanita itu? Bisakah Kevin memiliki Antonella seutuhnya? Suara merdu wanita itu lagi-lagi memenuhi isi kepalanya.
Hmmm. Kevin menimbang berbagai hal dalam hati selama beberapa saat. Eliminasi setidaknya satu hal dulu, supaya tidak terlalu bingung. Baiklah. Lupakan perbuatannya menyiksa alat vitalku, toh, saat ini sudah sembuh total dan tidak ada efek yang harus dicemaskan. Berarti pilihanku tersisa dua, antara menghabisinya langsung, agar misiku lekas tuntas … atau …. Atau aku bersenang-senang dulu dengannya. Sepertinya menarik.
Suara di seberang line telepon kini berkata, “Tampaknya Anda ragu. Apa yang Anda cemaskan, Don? Apakah Anda pikir, kami sudah memiliki kekuatan sebesar itu untuk menyerang Anda? Ada tiga keluarga besar lain yang berada di belakang Anda … jika kami berani menyentuh Anda, bukankah itu berarti kami menandatangani surat kontrak kematian kami sendiri?”
“Kau benar,” jawab Kevin.
“Kami tidak melarang Anda membawa pasukan untuk melindungi Anda. Hanya saja, yang tidak kami inginkan adalah penyerangan dari Anda. Harap Anda mengerti.”
Setelah mengambil napas beberapa kali, akhirnya Kevin bertanya, “Di mana saya bisa bertemu Antonella?”
Kening Alva berkerut dalam, ekspresi bingung sekaligus stress terpancar jelas di raut wajahnya saat menyaksikan Vincenzo Corti meletakkan gagang telepon di tempatnya kembali.
“Done. Don Castellano bersedia menemui Anda dalam waktu dekat,” ujar Vince memberi laporan pada Antonella yang duduk di hadapannya.
Antonella mengangguk. “Trims, Vince,” sahutnya.
Alva yang berdiri di samping Antonella tidak sanggup lagi menahan diri. Dengan setengah membungkuk, dia menumpukan kedua tangannya di sisi meja, berkata pada sang tante, “Aku nggak setuju ini. Berbahaya banget, Tonie!”
“Sesekali kita harus berani mengambil risiko,” sahut Antonella tak acuh.
“Kau mempertaruhkan nyawamu sendiri!”
Antonella segera menyanggah, “Alva, kamu dengar sendiri tadi, persyaratan yang harus dipenuhi Kevin saat datang ke sini. Tanpa kekerasan, tanpa pengejaran, atau kriminal apa pun. Aku hanya akan berbicara empat mata dengannya di sini … dan aku jamin dia nggak akan macam-macam.”
“Bagaimana kau bisa mengatakan seperti itu? Dari mana kamu bisa menjamin dia nggak akan mencelakaimu?” cecar Alva tidak sabar.
“Tenanglah, Alva,” balas Antonella. “Aku tahu yang kulakukan.”
“Tonie!”
“Al, kau kan bisa memantau secara langsung,” sela Vincenzo santai. “Apa gunanya ada CCTV di ruangan ini?”
Alva terdiam.
“Benar,” sahut Antonella. “Tapi, saat aku bertemu dengan Kevin, aku minta kalian hanya bisa memantau, tanpa bisa mendengar isi percakapan kami,” perintahnya.
“Baik,” jawab Vince.
“Apa-apaan itu??” sergah Alva cepat. “Kau mau main rahasia-rahasiaan sekarang? Dengan kepala keluarga dari klan lain??”
Antonella berdecak sebal. “Turuti perintahku,” sahutnya dingin.
“Katakan dulu kenapa?? Kenapa kamu malah minta bertemu dengan Kevin empat mata, kenapa kamu minta yang aneh-aneh, ini kan menyangkut keselamatanmu!”
“Cukup, Alva!” hardik Antonella. “Bisa nggak sih, kamu percaya saja padaku?”
Menyadari Alva masih saja memandangi dirinya dengan tatapan yang menuntut penjelasan, Antonella mengalah, berkata, “Baiklah. Kamu nggak akan diam kalau nggak mendengar apa yang ada di otakku. Aku yakin Kevin memegang informasi mengenai Reeve Galante. Aku akan mengajukan suatu penawaran padanya, yang kamu nggak perlu tahu apa itu. Dan yang pasti, dia nggak mungkin menolak penawaran itu. Sebagai imbalan, dia harus memberitahu informasi tentang Reeve.”
“Astaga, penawaran apa sih?? Kamu tuh, kenapa bisa yakin banget kalau Kevin punya info tentang Reeve?”
“Aku sudah memastikan dari testimoni Anja tentang Kevin dan Camila. Menurut Anja, hubungan mereka adalah sibling goals … persis seperti aku dan Flav,” jawab Antonella penuh kepastian.
“Aunty Anja?” ulang Alva.
“Yeah. Anja dan Camila adalah teman semasa sekolah. Hanya saja Anja memang nggak pernah mengatakan nama pacar Reeve selama ini. Kalau saja aku tahu dari dulu, mungkin saat ini kita bisa selangkah lebih maju,” ungkap Antonella.
Wanita itu melanjutkan, “Nah, kau bisa bernalar sendiri? Flav dan aku saling melindungi, demikian juga dengan Kevin dan Camila. Menurut cerita Anja, saat kecil Camila selalu menjadi tempat mengadu dan tempat berlindung Kevin. Bukan nggak mungkin kalau sekarang Kevin balas melindungi Camila …. Ditambah dengan intuisiku, aku yakin Kevin memang memegang informasi mengenai Reeve selama ini, dan dia nggak mengatakan hal itu pada siapa pun … murni karena ingin melindungi Camila.”
Alva terdiam lama, tampak mencerna informasi.
“Kuharap penjelasanku cukup. Percaya padaku, Alva.”
Seringai puas terpampang di wajah Kevin begitu duduk berhadapan dengan Antonella, beberapa hari kemudian. Dengan santai dia duduk bersandar, menyilangkan kaki. Pandangan matanya tak lepas dari objek yang selama ini menyita pikirannya.
Hari itu Antonella tampak cantik dan bersinar di mata Kevin. Ia mengenakan blazer semi formal berwarna merah darah dipadukan dengan dress hitam selutut bercorak, menciptakan penampilan yang rapi namun tetap santai. Aura kecantikan dan keanggunan Antonella memancarkan ketenangan dan kepercayaan diri, Kevin jelas-jelas terbius pada pesona wanita itu.
Sementara itu, meski terlihat tenang, Antonella sebenarnya berusaha menahan debaran jantungnya sendiri ditatap sedemikian rupa oleh sang mantan penculik yang pernah membuatnya terbawa pikiran tersebut. Sembari menguatkan hati, Antonella membalas tatapan Kevin seolah menunjukkan bahwa ia tidak takut ataupun galau berhadapan dengannya.
Tapi garis wajah tegas yang membingkai wajah tampan itu …. Anak-anak rambut kasar yang tumbuh di sana …. Matanya yang tajam namun membuai …. Tahi lalat di bawah mata kirinya itu …. Jika sampai lupa memijak bumi, barangkali Antonella akan segera lumer bagai coklat yang mencair.
“Tak kusangka ternyata bisa semudah ini bertemu denganmu, Donna Antonella yang terhormat.” Kevin memecah keheningan di antara keduanya.
Sebuah senyum terlukis di wajah Antonella. “Aku sangat berterima kasih Don Kevin Castellano yang terhormat bersedia menemuiku di sini. Aku sangat menghargai waktu yang telah Anda luangkan, aku tahu Anda sibuk,” katanya.
“Sesibuk apa pun, aku akan selalu ada waktu untukmu,” balas Kevin, masih terus mempertahankan pandangan matanya pada Antonella.
“Nah.” Antonella mengoreksi posisi duduknya. “Orang yang kamu cari selama ini ada di hadapanmu sekarang. Kamu beneran mau bunuh aku? Hanya karena perintah Komisi, take the woman out? Aku heran kenapa kalian alergi sekali melihat wanita memimpin sebuah keluarga. Patriarki garis keras. Kalian takut akan woman's power ya? Aku yakin kalian itu hanya takut terlihat lemah. Gengsi kalau harus menerima wanita ikut campur dalam urusan semacam ini,” tuduhnya. Dari nada suaranya terdengar jelas bahwa ia menyimpan kekesalan tersendiri dijadikan sasaran hanya karena dirinya seorang wanita.
Bukannya merespon, Kevin malah berdecak kagum. “Damn. Sweety. Kenapa kamu malah terlihat semakin cantik kalau ngomel-ngomel? Aku iyakan saja biar cepat, ya?”
“Ih. Nyebelin banget,” sungut Antonella, mengerucutkan bibir. Ia mengibaskan rambutnya yang berombak ke belakang bahu, mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan, seakan menghindari terjadinya kontak mata dengan pria di hadapannya itu.
Gerak-gerik Antonella terekam dengan baik di dalam memori Kevin. Instingnya menangkap bahasa tubuh sang lawan bicara yang menyiratkan rasa grogi, ada unsur usaha merayu juga di sana. Hampir saja Kevin menyeringai kesenangan, namun spontan mengendalikan gerak otot di wajahnya. Pria ini semakin mantap menekan pedal gas lebih dalam.
Kevin menggeleng-gelengkan kepala dan memandang Antonella dengan tatapan berbinar, penuh kekaguman. Dia mencondongkan tubuh ke depan, memangkas jaraknya dengan wanita itu. “Aku tidak sabar ingin memilikimu, Antonella …. Your lips are mine. Your hair. Your sparkling beautiful eyes. Your silky skin. Your …,” ujarnya setengah berbisik, sengaja berhenti mengabsen apa yang ada di tubuh Antonella.
“Geez. Bagaimana bisa ada malaikat secantik kamu, sih?” tanya Kevin takjub.
Antonella merasa wajahnya memanas, pipinya merona merah. Ia menggigit bibir bawahnya, setengah malu setengah bingung dengan pujian beruntun itu. Tangannya gemetar ringan saat ia menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinganya, berusaha menyembunyikan kegugupan yang mulai muncul.
"A-apaan, sih?" Antonella tersenyum kikuk, matanya sesekali melirik ke arah lain. Namun, senyum di wajahnya menunjukkan bahwa ia merasa tersanjung.
Dalam hatinya, Antonella merasa senang dengan perhatian Kevin, namun ada rasa canggung yang membuatnya salah tingkah. Ia menggeser posisi duduknya, mencoba mengalihkan perasaan campur aduk yang berkecamuk di dadanya.
Sementara itu, Kevin tertawa kecil melihat Antonella yang salah tingkah. Senyum puas terlukis di wajahnya mendapati reaksi Antonella tepat persis seperti yang diharapkannya. “Did it hurt?” tanyanya tiba-tiba.
“Huh?” tanya Antonella bingung.
“When you fell from heaven?” sambung Kevin.
Antonella semakin merasa salah tingkah, ia nyaris dapat mendengar debar jantungnya sendiri memacu semakin kencang di dalam sana. Ia menggigit bibir dan berusaha menahan tawa, tapi tak bisa menahan senyum lebar yang muncul di wajahnya.
"Tolong yah, bisa nggak berhenti ngegombal dulu? Kita di sini bahas bisnis," tegur Antonella, mencoba terdengar tegas meski suaranya sedikit bergetar. Senyuman kecil di bibirnya tetap tak bisa disembunyikan, memperlihatkan perasaan campur aduk antara senang namun juga sebal.
Kevin pura-pura terkejut, sengaja membelalakkan mata. “Oh, so you're asking to be paid?” candanya.
“Kevin!” hardik Antonella, kini berhasil menguasai diri seutuhnya. “Kalau kamu tetap kurang ajar kayak gini, aku bakal seret kamu keluar!”
“Apa sih, sayangku? Apa yang mau kamu omongkan? Daripada ngomong bacot nggak jelas, kan mendingan kita langsung aja to the point,” timpal Kevin.
“Ya, let's get to the point,” balas Antonella.
Kevin mengangkat bahu. “You know what I mean.”
“No, we're discussing it first.”
Seringai Kevin terukir di wajahnya. “Fine. Ajukan penawaranmu,” pintanya.
Antonella berdecak singkat. “Itu dialog aku. Ajukan penawaranmu. Kamu punya apa sampai aku harus mau tidur denganmu?”
Kevin kembali duduk bersandar, jemari tangannya saling bertautan di atas perut. “Gimana ya? Hidupmu di tanganku, kamu sadar itu, kan?”
“Aku sadar.” Antonella mengangguk. “Tapi aku cukup percaya diri kamu nggak akan pernah bisa menghabisiku. Aku punya tangan kanan yang sangat bisa kuandalkan. Dia selalu melindungiku. Untuk pertemuan privat ini saja, tangan kananku itu memastikan segala sesuatunya dalam keadaan paripurna, agar keamananku tetap terjamin.”
Kevin mengulum senyum. “Yeah, aku bisa memahami itu. Siapa pun nggak bakal menolak untuk melindungi kamu, Angel. Siapa tangan kananmu itu, bikin iri saja.”
“Aku takut kamu bakal menyesal kalau sampai ketemu dengan tangan kananku. Dia bukan sembarang bodyguard,” sahut Antonella.
Kevin mengangguk singkat, senyum yang terkesan menyebalkan masih terlukis di wajahnya. “Baiklah,” katanya kemudian. “Penawaranku lainnya ... aku tahu ada tujuan apa kamu tiba-tiba menyanggupi menjabat posisi kepala keluarga. Setelah 20 tahun, kamu baru sanggup sekarang.”
Tanpa dikomando, tubuh Antonella menegang. “Apa maksudmu? Tujuanku cuma agar klan Maranzano tetap exist,” jawabnya meyakinkan.
“Omong kosong.” Kevin mendengus geli. “Kalau itu tujuanmu, kamu tidak akan membiarkan klan Maranzano idle selama 20 tahun.”
Antonella merasakan aliran dingin menyusuri punggungnya. Ia mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya, tapi matanya yang melebar mengkhianati ketakutannya. "Kevin, kamu tidak tahu apa-apa," katanya, suaranya terdengar lebih lemah dari yang ia inginkan.
"Oh, aku tahu lebih banyak dari yang kamu kira," balas Kevin dengan nada penuh kemenangan. Dia memandangi Antonella lekat-lekat. “Kamu ingin mengejar seseorang ... yang menjadi cikal bakal meletusnya perang mafia saat itu, kan?”
Kevin mencondongkan tubuh kembali mendekat pada Antonella, tatapannya tajam dan penuh selidik. “Reeve Galante. Aku berani bertaruh, kamu mati-matian mengejar orang ini karena ingin membalas dendam Flavio.”
Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Antonella. Ia menggigit bibirnya, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menyangkal tuduhan Kevin. Namun, benaknya dipenuhi oleh bayangan rahasianya yang terbongkar, mengancam segala yang telah ia bangun selama ini. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," ujarnya, tapi nada gemetar dalam suaranya jelas menunjukkan sebaliknya.
Lengosan napas serta gelengan kepala Kevin merespon balasan Antonella. “Sudahlah, tidak perlu berpura-pura. Satu hal yang harus kamu tahu, Antonella sayang, aku tahu di mana incaranmu itu berada,” tuturnya, nyaris berbisik.
Salah satu alis Kevin terangkat, bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti. “Dan untuk satu informasi yang terlarang itu ... tentu saja aku mengharapkan yang setimpal. Yaitu dengan kamu menjadi milikku,” sambungnya.
Antonella tidak kuasa menahan keterkejutannya, namun segera mengendalikan diri. Tuh kan benar, kataku, Kevin tahu di mana Reeve! Tapi dia bisa tahu aku cari Reeve, dia pasti mengumpulkan info tentangku juga selama ini. Hmm. Rupanya maksudku mengundangnya ke sini dan tawaran yang Kevin ajukan selaras. Tapi sebelumnya … aku harus pastikan dia nggak membual soal keberadaan Reeve.
“A-aku tidak harus mempercayai kata-katamu. Siapa yang bisa jamin kalau klaimmu benar?” sanggah Antonella mengeraskan hati.
Kevin menimbang sejenak. “Tentu kamu tidak akan langsung percaya,” sahutnya penuh pengertian. “Aku bertemu dengannya beberapa kali. Wajar dong, aku kan ingin menengok kakak dan keponakan-keponakanku. Reeve sekarang bukan bernama Reeve lagi. Wajahnya pun sudah berubah berkat rekonstruksi yang dia lakukan. Kamu tidak akan bisa menemukannya tanpa informasi dariku.”
Antonella diam mengamati Kevin yang kemudian mengeluarkan ponsel, jemarinya menari di atas layar ponsel, sibuk mencari sesuatu di sana. Tak lama, Kevin mengunjukkan ponselnya pada Antonella, memperlihatkan isi aplikasi pesan dengan seseorang yang diberi nama “Sis”. Barisan chat dua arah mendominasi layar, percakapan terakhir di aplikasi tersebut tercatat dua hari yang lalu.
Yang sempat terbaca oleh Antonella adalah beberapa pesan terbawah.
Kevin:
Aku sudah sempatkan diri janjian dengan Mum, traktir Mum gelato kesukaannya.
Sulit juga tiap kali Mum nanyain apa aku punya info keberadaanmu, Sis.
Betapa aku berharap kamu nggak memilih hidup bersamanya.
Sis:
Yah. What’s done is done. Tapi Mum sehat, kan, Kev?
Antonella masih mencerna yang ia baca, namun sesaat tersentak kaget begitu Kevin menarik kembali ponsel miliknya.
“Percaya sekarang?” tanya Kevin, senyum penuh kemenangan menghiasi wajahnya. Dimasukkannya kembali ponsel ke dalam saku. “Satu-satunya kakak perempuanku. Aku masih berhubungan dengannya bahkan sampai dua hari yang lalu. Sekarang kamu meragukan apa aku memiliki informasi valid tentang keberadaan Reeve Galante?” imbuhnya lagi.
Antonella terdiam beberapa saat, tampak menimbang dalam hati.
“Kalau masih tidak yakin sih, tidak masalah. Yang jelas, satu informasi yang sangat berharga itu, yang bahkan aku sembunyikan dari para tetua Komisi … dan bahkan kusembunyikan dari paman dan ibuku sendiri … tidak akan bocor keluar sampai selamanya,” ujar Kevin, kali ini senyumnya terkesan sinis. “Kecuali padamu mungkin, tapi itu tergantung keputusanmu.”
Chat Kevin dengan yang dia panggil ‘Sis’ tadi sepertinya memang valid …. Berarti dia memang tahu keberadaan Reeve, confirmed, ujar Antonella dalam hati.
“Well,” sahut Antonella setelah beberapa saat terdiam. “Kamu sembunyikan informasi sepenting itu selama ini, bertahun-tahun? Lalu sekarang kamu ada maksud membocorkannya padaku hanya demi bisa tidur denganku? Adik yang sangat berbakti, huh,” ejeknya.
“Tidak serta merta demi bisa tidur denganmu, Tonie,” sanggah Kevin. “Memang, kuakui faktor itu ada. Tapi setelah merasakan sendiri beratnya menanggung beban menutupi keberadaan seseorang yang sangat dicari kalangan kita … apa salah kalau aku kini merasa penat dan muak? Toh, aku sudah menjamin ketentraman hidup kakakku dan orang itu selama 20 tahun ini dengan menjaga informasi itu rapat-rapat. Sudah cukup yang kulakukan.”
“Aku terpaksa menjaga rahasia ini, kamu tahu, Tonie? Aku terpaksa memberikan perlindungan … semua itu hanya demi kakakku semata. Kamu pikir bagaimana hubunganku dengan orang itu? Tiap kali berkunjung menengok keponakan-keponakanku, sudah pasti aku bertemu dengan orang itu. Berapa lama lagi aku harus menahan rasa ingin menyeretnya, memamerkan mayatnya pada mereka yang dirugikan. Skenario itu berulang-ulang terbayang dalam otakku. Hanya saja, tidak pernah kuwujudkan. Kenapa? Karena aku hanya ingin kakakku berbahagia. Tapi kurasa, kebahagiaan 20 tahun sudah cukup untuknya. Riwayat orang itu memang harus tamat, suatu saat nanti, dan aku sebagai pendukung mereka yang menjadi korban … aku berharap riwayatnya tamat setelah dia membayar lunas semua perbuatannya,” ungkap Kevin. Dari nada suara jelas terdengar pergumulan emosi yang dirasakannya selama ini.
Kevin benar, sih. Siapa yang tahan jaga rahasia sebesar itu terus menerus? Apalagi dia harus terus menahan kesal karena terpaksa melindungi orang yang nggak layak dilindungi, batin Antonella.
Kevin menghela napas kasar. “Cukup pembicaraan mengenai Reeve. Aku muak hanya dengan mengingatnya,” katanya. “Jadi bagaimana dengan tawaranku? Kamu nggak akan menyesal, Angel. Aku akan perlakukan kamu seperti ratu.”
Antonella mendengus. “Ratu? Sebelum kamu terpuaskan, kamu perlakukanku seperti ratu. Setelah kamu mendapatkan yang kamu inginkan, mungkin aku akan berakhir di tanganmu. Misi yang dipercayakan Komisi berhasil kamu jalankan, informasi yang kamu pegang tetap aman di tanganmu …. Wah, menang banyak,” sahutnya.
Kevin terpukau memandangi Antonella. “Astaga,” desisnya. “Baiklah, aku tidak menyalahkanmu karena berpikir demikian. Tapi, Antonella … biarkan aku berkata jujur. Sebelum bertemu denganmu, di ruang bawah tanah saat itu, aku memang sangat berdedikasi untuk menyingkirkanmu dengan tanganku sendiri. Aku menginginkan wilayahmu. There, I said it. Tapi setelah sekian lama berbincang denganmu, terutama hari ini, keinginan itu perlahan menghilang. Aku tidak ingin melihatmu menjadi mayat. Aku ingin kamu tetap hidup … dan menjadi kekasihku,” lanjutnya.
“Komisi akan merasa bangga telah mempercayakan kematianku padamu,” sindir Antonella kemudian.
“Percayalah padaku,” timpal Kevin. Dia mencondongkan tubuh, menatap mata Antonella. “Tatap mataku, Tonie. Biarkan perihal para Dewan Komisi menjadi urusan dan tanggung jawabku. Yang jelas, saat ini aku hanya ingin kamu, hidup, sehat, dan membalas cintaku,” ujarnya sungguh-sungguh.
Antonella balas menatap mata Kevin lekat. Tidak terlihat keraguan maupun secercah tipu daya terpancar di sana. Wanita itu perlahan mengendurkan otot di wajahnya, menunduk.
“Kamu masih ragu?” tanya Kevin, tersenyum lembut penuh pengertian. “Bukankah akan sangat menyenangkan kalau kita bisa menghabiskan waktu yang indah bersama-sama? Aku tahu kamu masih penasaran denganku … sama seperti yang kurasakan juga. Daripada saling bunuh, bukankah jauh lebih baik kalau kita saling memadu cinta?”
“Well … aku keberatan disebut gundik,” jawab Antonella, memalingkan wajah.
Kevin membalas, “Siapa yang bilang kamu gundik?”
Antonella memutar bola mata. “Please, deh. Selama kamu punya istri, wanita manapun yang kamu ajak tidur otomatis jadi gundik,” sahutnya.
Kevin menggeleng. “Aku tidak melihatnya seperti itu. Aku sebut kamu kekasih kesayanganku ... karena aku punya feeling kita akan menghabiskan banyak waktu yang sangat menyenangkan bersama-sama.”
“Gundik.”
Kevin menghela napas panjang. “Kalau kamu berkeras menggunakan istilah itu sih, terserah. Yang jelas, informasi Reeve akan tetap aman bersamaku ... selama kamu tidak bersedia menjadi kekasihku,” ujarnya sambil bersandar kembali di kursinya. Senyum di wajah serta gerakan alisnya seolah menggoda Antonella.
Antonella melengos. “Uff. Aku kehabisan alasan …,” desisnya pasrah.
“Alleluia!”
Comments
Post a Comment