TDR (32-34) | INA

Bab 32 – Keadaan Berbalik Bagi Sang Penguasa 

Malam itu, Zia kembali ke hotel dalam keadaan cemas tak terkira. Pesan dari Antonella masih terpampang jelas di layar ponselnya.

Antonella
  Terlambat. Salvatore sudah di tanganku sekarang. Siap untuk dihakimi.
  Lupakan saja, Zia. Kamu terlalu berharga untuk menangisi si brengsek Salvatore.

Pesan itu cukup membuatnya panik. Ia tahu maksud di balik kalimat dingin itu lebih dari sekadar penangkapan. Dan jika Antonella serta Denver Sr. yang turun tangan langsung, artinya nyawa Salvatore benar-benar terancam.

Tanpa pikir panjang, Zia langsung menuju kamar yang biasa ditempati Antonella. Ia mengetuk pintu dengan tergesa. Pintu itu dibuka oleh Alva, yang tampak kaget melihatnya.

“Zia? Kamu dari mana aja?” tanya Alva dengan nada heran.

Zia tak menjawab. Ia langsung melangkah masuk, matanya menyapu seluruh ruangan. Namun yang ia temukan hanya Max, duduk santai di sofa sambil melambaikan tangan.

“Hai, Zia. Akhirnya balik juga. Kangen aku, kan?”

Zia hanya meringis kecil, geli tak pada tempatnya. Tatapannya langsung beralih pada Alva. “Aunty mana?”

“Sedang sibuk. Nggak bisa diganggu.”

“Di mana? Nggak di sini?” desaknya.

“Apa sih? Dia lagi jebak Reeve. Kamu ada urusan apa cari Aunty?”

Jantung Zia seolah berdetak tiga kali lebih cepat. “Iya, di mana?!” tanyanya lagi, nyaris histeris.

Max yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya bangkit dan berjalan mendekat. “Di kamar suite lantai dua belas,” jawabnya datar.

“Bukan di kamar ini? Ayo, anterin aku ke sana!” Zia bersikeras.

Max mengangkat alis, heran. “Kenapa panik gitu, Zia? Kamu di sini aja, tunggu kabar dari Antonella. Kurasa sebentar lagi dia telepon, minta kita bantu bawa Reeve.”

“Gak bisa gitu! Aku harus cegah!”

Alva mengernyit. “Cegah? Apa maksudmu? Ini udah klimaks dari rencana besar kita.”

Zia menatap mereka dengan emosi campur aduk. “Kalian nggak ngerti! Salvatore … maksudku, Reeve, itu nggak seburuk yang kalian sangka! Dia bukan orang jahat … nggak pantas kalian siksa!”

Alva dan Max saling berpandangan, terdiam sejenak.

“... Kepalamu habis kebentur ya?” kata Alva akhirnya, tak yakin dengan ucapan Zia barusan.

Namun sebelum Zia bisa menjawab, pintu terbuka dengan keras. Antonella masuk dengan wajah tegang, langkahnya cepat dan penuh urgensi.

“Guys ….”

Alva langsung menyambutnya. “Tonie, gimana? Kenapa malah ke sini?”

Antonella memandang ruangan sekilas, lalu matanya tertuju pada Zia. “Zia. Kamu di sini.”

“Aunty! Please, bebaskan Salvatore! A-aunty belum apa-apakan dia, kan?”

Alva memutar bola mata. “Kau ini kenapa sih, Zia??”

Antonella menarik napas panjang. “Reeve berhasil kabur. Aku dan Denver bermaksud kejar, tapi … Denver tiba-tiba dapat kabar. Junior-nya masuk IGD. Korban penganiayaan.”

“Hah?!” Alva melotot.

Zia menahan napas. Ia bingung, tapi di saat yang sama, ada rasa lega yang menguar. Salvatore kabur. Itu kabar baik, bukan?

Max tampak tak mengerti. “Apa maksudnya itu?”

“Jadi Denver pergi? Lalu gimana rencana dia tangkap Salvatore dan bawa orang itu ke New Yord?” tanya Alva cepat.

“Kurasa itu bukan fokus Denver lagi sekarang,” jawab Antonella datar. “Orang tua mana yang bakal pangku tangan dengar anaknya tiba-tiba dianiaya, sampai masuk IGD.” Ia menghela napas. “Kuharap Denver Jr. baik-baik saja.”

Alva terlihat frustrasi. Tapi Antonella tak memberinya waktu untuk merenung.

“Kita dalam kondisi gawat. Salvatore tahu aku di pihak Denver, musuhnya. Dia pasti cari kita. Kita harus segera pergi dari sini. Ayo segera berkemas!”

Max hanya mengepalkan tangan, diam-diam. Rahangnya mengeras, seperti sedang menahan sesuatu. Tanpa berkata apa-apa, dia pergi ke kamarnya untuk bersiap check out.

Sementara itu, Zia hanya diam menatap Antonella dan Alva yang mulai sibuk merapikan barang. Namun matanya tertumbuk pada sesuatu di sofa, tempat Max duduk tadi. Sebuah ponsel dengan casing pink pastel dan gantungan kura-kura kecil warna senada.

Wajah Zia menegang. Ia langsung mengenali benda itu. “Ini kan ponsel Lenice … kok ada di sini?”

Alva menoleh. “Zia? Kamu nggak beresin barangmu di kamar?”

Zia tak menggubris. Ia mengambil ponsel itu dan menunjukkan pada Alva. “Kenapa ponsel Lenice ada di sini?”

Alva menyipitkan mata, mengambil ponsel itu. “Mana kutahu? Kau yakin ini punya Lenice?”

“Yakin! Gantungan turtle itu baru dia beli kemarin di mal. Dia suka banget dan langsung digantung di ponsel ini, di depan mataku.”

Alva mulai terlihat waspada. “Di mana kamu temukan ini?”

Zia menunjuk. “Di celah sofa tempat Max tadi duduk.”

Wajah Alva mengeras. Dia langsung menyalakan layar ponsel. Untungnya, tidak terkunci. Dia membuka aplikasi pesan, dan seketika wajahnya memucat.

Nama Denver Jr. berada di baris paling atas. Pesan terakhir yang dikirim dari ponsel itu terbaca:

Lenice:
  Denver, please help me ... aku digangguin orang di ujung jalan dekat toko bakery yang udah lama tutup 😭

Terkirim hari ini, pukul 20.08.

Zia mengintip layar, ekspresinya ngeri. “Apa ... Max yang jebak Denver?”

Alva mendesis. “Max sudah di sini sejak jam enam sore … Jadi sejak itu ponsel ini sudah ada sama dia. Jadi … dia yang kirim ini?”

Antonella menoleh. “Kalian sedang apa? Udah siap semua?”

Alva balik menatap Antonella, bertanya, “Tonie, apa Denver Sr. bilang, di mana lokasi kejadian anaknya dianiaya?”

Antonella menggeleng, bingung. “Nggak. Dia panik, aku ikut panik. Jadi nggak sempat nanya macam-macam. Kenapa sih?”

Alva menunjukkan layar ponsel padanya. “Ini ponsel Lenice. Keliatannya jatuh dari saku Max. Dan isi pesannya ke Denver Jr. mencurigakan.”

Antonella membaca cepat. Wajahnya mulai tegang.

Sementara itu, Zia hanya berdiri di tengah ruangan dengan tubuh gemetar. Ada sesuatu yang lebih besar sedang berlangsung, dan kali ini, bukan hanya Salvatore yang dalam bahaya.

 

Max kembali masuk ke kamar suite tempat Antonella dan yang lain berkumpul, sebuah tas ransel tergantung di bahunya. Dia menegakkan bahu seolah tak terjadi apa-apa, lalu berkata datar, “Kalian udah siap? Jadi check out?”

Namun, suasana dalam ruangan sudah jauh dari normal. Ketegangan membatu di udara, seperti badai yang menahan diri sebelum mengamuk.

Antonella menatapnya tajam. Tanpa sepatah kata, ia melangkah maju dan mengangkat sebuah ponsel ber-casing pink pastel dengan gantungan kura-kura kecil.

“Ini ponsel Lenice,” ujarnya dingin. “Kau yang kirim pesan itu ke Denver Jr. menggunakan ini?”

Wajah Max langsung memucat. Tatapannya membelalak, tubuhnya menegang seperti binatang yang baru saja tertangkap basah. Dalam sepersekian detik, dia berbalik dan lari keluar ruangan tanpa sepatah kata.

Alva, yang sejak tadi menahan amarahnya, menggeram kasar. “That son of a bitch …,” desisnya, lalu menyusul Max dengan langkah panjang dan liar.

Antonella berdiri terpaku, tangannya bergetar ringan. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa Max sanggup berbuat sejauh itu.

Zia menatap kosong ke arah pintu yang masih terbuka. “Max emang obsesi banget sama Lenice … tapi aku nggak sangka dia sampai nekat kayak gini … sampai bikin celaka Denver Jr.”

Antonella menunduk. “Ini salahku. Seharusnya aku awasi anak itu lebih ketat.”

Zia menggeleng cepat. “Max yang gila, Aunty. Bukan salahmu.”

Antonella menarik napas panjang, seolah sedang menenggelamkan rasa bersalah yang mendidih dalam dadanya. “Kau mau ikut aku ke rumah sakit? Aku harus lihat anak Denver dengan mata kepala sendiri.”

Zia mengangguk. “Ayo, Aunty.”

 

Rumah sakit penuh ketegangan. Di ruang tunggu ICU, Denver Sr. duduk membisu di pojok ruangan, tangannya menggenggam gelas kopi yang sudah lama dingin. Wajahnya sayu, nyaris tidak mengenali kehadiran siapa pun.

Lenice duduk di samping Saxon, tangannya gemetar di pangkuan. Ketika Antonella dan Zia tiba, keduanya langsung berdiri. Wajah mereka penuh kecemasan, namun mereka tetap menyambut dengan sopan.

Saxon berbicara dengan berat. “Denver ... koma. Pendarahan di bagian belakang kepala. Dokter bilang ... kita harus menunggu 24 jam pertama.”

Antonella menunduk, rasa bersalah menggerogoti. “Aku minta maaf, Denver ... ini semua salahku. Seharusnya aku lebih mengawasi Max.”

Denver Sr. hanya menatap Antonella dengan kebingungan yang samar. Masih terpaku oleh berita buruk, dia tidak bisa merespons dengan jelas.

Antonella melirik Lenice, lalu menyerahkan ponsel pastel itu. “Max gunakan ponselmu, Lenice. Untuk menjebak Denver Jr.”

Lenice mematung, lalu tangisnya pecah seketika. Ia jatuh terduduk di kursi, menutup wajah dengan kedua tangan. “Jadi ... ini alasannya dia datang tiba-tiba …. Dia curi ponselku diam-diam ....”

Saxon berdiri kaku, rahangnya mengeras. Napasnya pendek dan penuh tekanan.

Pintu terbuka mendadak. Alva muncul, terengah-engah, wajahnya kusut penuh keringat.

Zia langsung menoleh. “Al! Mana Max? Ketangkep, kan?”

Alva menggeleng, wajahnya suram. “Dia lolos.”

Terdengar erangan frustrasi dari Lenice dan Saxon.

Saxon melangkah maju, wajahnya gelap. “Ini nggak bisa dibiarkan! Dia udah bikin Denver koma! Aku akan cari orang itu sekarang juga!”

Alva menahan lengannya. “Kau mau cari di mana?”

Saxon menepis dengan kasar. “Di mana pun! Kau ikut aku atau tidak, Alva?!”

Alva menatapnya lurus. “Max sedang dalam mode siaga sekarang. Dia hafal wajahku, hafal wajahmu. Kalau dia lihat kita, dia pasti sembunyi lebih dalam.”

Saxon terdiam, tapi sorot matanya masih berkobar.

“Kita butuh bantuan,” lanjut Alva. “Minta Oliviero gerakkan teman-temannya. Suruh mereka cari Massimiliano Ricci. Bisa kau lakukan itu?”

Saxon menatap Alva beberapa detik, lalu mengangguk. “Tentu.”

“Bagus,” kata Alva dengan suara rendah. “Untuk orang gila seperti Max, kita butuh banyak tangan.”

Hening menyelimuti ruang tunggu. Aura kesedihan dan tekanan menggantung, tak ada yang bicara.

Zia menunduk memeriksa ponselnya saat sebuah pesan masuk.

Salvatore
  Zia, kamu di mana? Besok temani Daddy sarapan.

Jantungnya mencelos. Salvatore sudah tahu bahwa Antonia selama ini bersekongkol dengan Denver Sr. Itu artinya dia sudah sadar bahwa Antonia mengetahui identitas aslinya. Besar kemungkinan Salvatore tengah memburu keberadaan Antonia. Tapi kenapa ... kenapa dia masih mengajak sarapan?

Zia menggigit bibirnya. Mungkin ... dalam pandangan Salvatore, Zia tetap gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Dan ia bisa menggunakan itu untuk tetap dekat.

Ia mengetik balasan cepat.

Zia
  Oke, Daddy. Daddy kok belum tidur? Jangan begadang ya, Daddy, nanti sakit. Good night, Daddy aku sayang.

Tangannya sedikit gemetar saat menekan kirim. Tapi wajahnya tetap tenang. Dalam permainan berbahaya ini, kepolosan adalah satu-satunya senjatanya yang tersisa.

 

Pagi itu di kafe kecil langganan mereka.

Zia duduk sambil menyeruput cappuccino hangat, sesekali mencuri pandang ke arah pria di hadapannya. Wajah Salvatore terlihat pucat dan lelah, ada bayangan gelap menggantung di bawah matanya. Piring sarapannya masih utuh, tak tersentuh, meskipun mereka sudah duduk hampir setengah jam lamanya.

Zia tak bicara apa-apa. Ia tahu, ketika Daddy-nya diam seperti ini, pikirannya pasti sedang sesak.

Di sisi lain meja, Salvatore diam-diam menahan gejolak.

Dia belum tidur semalam. Otaknya bekerja keras menyusun rencana: bagaimana menyingkirkan Antonia Agnelli dan Denver Granville Sr. tanpa menimbulkan kecurigaan. Tapi tidak ada satu pun skenario yang terasa aman. Kepalanya serasa mau meledak.

Yang lebih parah, kenangan lama kembali mengusik.

Bayangan Reeve Galante, nama lamanya, menari-nari di benaknya. Wajah Christopher kecil muncul ... lalu lenyap dalam semburan darah.

Dia masih ingat jelas … bagaimana tangannya mengayunkan kapak besar itu, menghantam leher bocah lima tahun yang tak tahu apa-apa. Darah bermuncratan, membasahi wajah dan pakaiannya. Bahkan Flavio Maranzano yang saat itu berdiri di sampingnya ikut terpercik.

Salvatore menutup mata sejenak. Dia ingin muntah.

Suara ponsel memecah keheningan. Pesan masuk.

Luigi Lombardo
  Denver Jr. koma. Diserang preman di gang kota.*

Salvatore mengembuskan napas panjang.

Itu sebabnya Denver tidak mengejarku semalam, batinnya.

Ada rasa kasihan ... tapi juga kelegaan. Denver Sr. akan kehilangan fokus. Setidaknya untuk sementara.

Sekarang, tinggal Antonia Agnelli.

Pandangan Salvatore mengarah ke Zia. Dia sangat ingin bertanya, di mana tantenya sekarang? Tapi itu akan menimbulkan kecurigaan.

Bisikan lain muncul di kepalanya.
Sekap saja Zia. Paksa dia bicara. Dia anak baik, terlalu polos ... gampang dibohongi.

Salvatore buru-buru menggeleng. Dia tidak bisa.

Zia tidak tahu apa-apa. Kalau aku berbuat sesuatu padanya, hubungan kami akan hancur.

Zia menatapnya, lembut. “Daddy? Kok hari ini Daddy kelihatan aneh ... Daddy nggak apa-apa?”

Salvatore tersentak. Dia cepat-cepat pasang senyum. “Daddy nggak apa-apa.”

“Tapi makanannya dari tadi belum disentuh, Daddy.”

“Iya, iya ... ini Daddy makan,” katanya sambil menusuk roti panggang tanpa selera.

Zia meraih tangannya di atas meja. “Zia cemas sama Daddy. Kalau ada yang bisa Zia bantu, bilang aja ya, Dad.”

Senyum Salvatore mulai melunak. “Everything’s good, Zia.”

“Daddy terlalu keras bekerja. Materi penting, tapi menikmati hidup jauh lebih penting. Apalagi menghabiskan waktu bersama orang-orang yang Daddy sayang ....”

Salvatore tersenyum tulus. “Seperti menghabiskan waktu bersama kamu, ya.” Dia balas menggenggam tangan Zia dengan hangat.

Zia nyengir, pipinya memerah. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan di sana.

“Daddy beruntung bisa memiliki anak angkat seperti kamu, Zia. Siapa pun ayah kandungmu, dia rugi besar .... Semoga dia beristirahat dalam damai.”

Zia menunduk. Dalam hatinya, kalimat itu menggema. Apa Daddy akan tetap bisa berkata seperti itu ... kalau tahu aku adalah anak Flavio?

Tiba-tiba, sebuah suara memecah keintiman pagi itu.

“Papa? … Zia??”

Keduanya menoleh bersamaan. Benjamin berdiri tak jauh dari mereka, wajahnya terpaku.

Salvatore spontan melepaskan genggaman tangannya dan berdiri.

“Benja ...,” gumamnya pelan, sedikit panik.

Zia membelalak, jantungnya berdetak tak karuan.

Apa yang dilihat Benjamin barusan?

 

Bab 33 – Bayangan Masa Lalu yang Tak Pernah Mati  

Sementara itu, di koridor ICU rumah sakit .…

Oliviero berdiri bersama Alva dan Saxon, berbicara pelan nyaris berbisik.

“Teman-teman saya berhasil melacak gerakan Max. Ternyata semalam dia mengadakan pertemuan dengan beberapa preman,” kata Oliviero. “Salah satu dari mereka tertangkap. Dari interogasi, kami tahu ... Max berencana menculik Benjamin.”

Saxon langsung membatu. “Apa? Benjamin jadi sasaran sekarang?!”

Alva mendesis geram. “Max makin gila. Apa motivasinya? Mereka berhasil korek itu?”

“Preman itu ngotot bilang tidak tahu. Cuma disuruh ikut,” jawab Oliviero cepat. “Saya tidak bisa lama di sini. Saya harus jaga Benja.”

Alva menatap Oliviero. “Hei, lihat kamu sekarang. Udah terbiasa banget ya dengan identitas baru. Dari caramu bicara, dari niatmu ... kau sudah jadi Oliviero sungguhan.”

“Itu tugas saya,” jawab Oliviero pelan.

Saxon menyeringai kecil, bangga. Tapi Alva tampak termenung.

“Sebentar. Max dendam pada Salvatore demi membela ayahnya, Roman Burgueno. Anak Roman yang lain pernah dicelakai Salvatore dengan sadis .... Kurasa Max ingin balas perbuatan Salvatore ...."

Saxon terperangah. 

Oliviero mengepalkan tangan. “Oh. Shit."

Alva menepuk bahunya. “Kau benar, Ollie. Kau harus jaga Benja."

Saxon menatap keduanya dengan mata gelisah. “Semoga orang gila itu berubah pikiran.”

Alva menggeleng. “Massimiliano? Aku ragu. Pergilah, Ollie. Keselamatan Benja di tanganmu."

Oliviero tak bertanya lagi. Dia segera berlari menyusuri lorong, hingga punggungnya menghilang di kelokan.

Tiba-tiba—PLAK!

Suara tamparan keras menggema, memecah keheningan. Alva dan Saxon sama-sama menoleh kaget ke arah suara.

Di ujung lain, Jessica Castellano berdiri dengan dada naik-turun, wajah basah oleh air mata. Tangannya masih menggantung di udara, baru saja menampar suaminya sendiri, Denver Sr.

Tanpa memberi waktu siapa pun bicara, Jessica menampar Denver sekali lagi.

Wajah Denver hanya tertunduk, menahan semuanya dalam diam. Tak satu kata pun keluar dari mulutnya.

“Aku sudah minta kamu,” desis Jessica dengan suara pecah, telunjuknya terarah ke wajah suaminya, “untuk berhenti mengejar masa lalu! Aku sudah minta kamu untuk move on! Fokus dengan masa depan kita ... dengan anakmu! Masa depan junior kamu!” Suaranya meninggi, gemetar oleh emosi yang menumpuk lama.

Kakinya bergetar, tapi ia masih berdiri tegar. Marah, kecewa, dan hancur di saat bersamaan.

“Kamu masih nekat terbang ke sini ... cuma buat kejar Reeve Galante? Lalu sekarang APA yang kamu dapat?!”

Lenice, yang berdiri tak jauh darinya, langsung maju dengan panik. “A-aunty ... sabar, Aunty ....”

Namun Jessica menghentakkan tangan Lenice, menolak disentuh. Ia terus berteriak pada Denver. “Kamu tahu aku hampir mati melahirkan junior kamu, sendirian! Di tengah hutan!!” Suaranya pecah lagi, dan air mata makin deras mengalir. “Kalau sampai dia kenapa-kenapa .... Kalau sampai dia .... Aku nggak akan pernah maafkan kamu, Denver!!”

Suasana beku. Semua terdiam. Bahkan napas pun seolah tertahan di udara.

Antonella buru-buru maju, menyentuh punggung Jessica dengan lembut. “Jessy ... tarik napas dulu, dear. Aku bisa merasakan kemarahan dan kecemasanmu .... Tapi tenang dulu, ya? Please ....” Ia membimbing Jessica ke sofa terdekat, perlahan menurunkannya agar duduk.

Saxon masih berdiri di tempat, menyaksikan semua yang terjadi di depan matanya dalam diam. 

Alva menarik napas panjang. Dalam, berat. Lalu bergumam seperti bicara untuk dirinya sendiri, “Max ... Max. Apa susahnya jadi orang waras? Padahal kau pintar. Tapi kau malah terobsesi pada Lenice, dan pilih jalan salah. Sekarang semuanya makin rumit.”

Saxon melirik ke arahnya. Dia mencondongkan tubuh sedikit, bicara pelan. “Katakan padaku .... Aku belum pernah dengar, kau dan tante-mu akrab dengan ayahnya Denver. Ada urusan apa kalian sebenarnya? Dari yang kudengar tadi ... mengejar Reeve Galante? For real?”

Alva tak langsung menjawab. Matanya melirik Saxon, sejenak, tapi tak berkata apa-apa.

Saxon melanjutkan, “Reeve Galante ... yang kalian sebut pengkhianat besar dari kejadian dua puluh tahun lalu itu? Apa dia pernah menyakitimu?”

Alva menjawab datar, tanpa menoleh. “Karena ulah klonnya, ayahku terpaksa melarikan diri. Naik pesawat pribadi. Naasnya, pesawat itu jatuh di Eastland.”

Saxon membelalak. “Kau?! Jadi kau anak ... tunggu, tunggu. Ayahmu ... satu pesawat dengan ayah dan ibunya Denver?!”

Alva mengangguk pelan. “Suami istri itu sangat beruntung. Mereka selamat. Ayahku tidak seberuntung mereka.”

Saxon terdiam, menyatukan semua potongan puzzle dalam kepalanya. “Jadi kau ... dan Zia ....”

“Kami hanya menuntut tanggung jawab,” potong Alva dingin.

Beberapa detik berlalu dalam hening. Saxon akhirnya bersuara lagi, pelan. “Apa kau tahu ... di mana mencari sasaran kalian sekarang?”

Alva mengangguk. “That’s why we’re here.”

Saxon menatapnya, lebih serius dari sebelumnya. Dia memilih kata dengan hati-hati. “Jadi kau tahu siapa Reeve itu sekarang?”

Alva menoleh sedikit, dan mengangguk lagi. “Kami hampir menangkap ekornya semalam. Tapi ... malah terjadi kekacauan seperti ini.”

Saxon tampak sedikit lega. “Berarti aman kalau kubilang ... aku juga tahu siapa Reeve sebenarnya.”

Tatapan Alva langsung tajam. “Kau?”

Saxon mengangguk. “Oliviero cerita semuanya. Dia dan Benjamin bertemu dengan anak dari pendahulu Salvatore Corvino, Valeria Lucchetto. Valeria yang mengungkap bahwa Salvatore yang sekarang ... bukan Salvatore yang asli. Dia menolak menyebut nama, tapi Benjamin yakin, pria yang memakai identitas Salvatore sekarang adalah Reeve Galante. Orang yang kalian cari.”

Alva mencerna sejenak.

“Gila. Rupanya orang itu menyimpan rahasia sebesar ini, yang bahkan anak-anaknya pun nggak tahu! Kalau saja Benja nggak cari tahu … selamanya dia nggak akan pernah tahu kalau ayahnya adalah sosok terkenal yang disebut pengkhianat! Kalau ingat dia pernah perlakukan aku nggak adil hanya karena nama belakangku … ergh. Aku jadi semakin hilang respek padanya. Kenapa orang seperti itu harus jadi ayahnya Emmeline?” gumam Saxon, meracau, mengeluhkan hal yang tidak bisa dia ubah.

Sebuah senyum melengkung di bibir Alva, senyum yang terkesan licik dan penuh kemenangan. “Selamat datang. Kau semakin terlibat terlalu dalam,” ujarnya.

Saxon menghela napas panjang, senyum kecut di wajahnya. “Yeah ... this whole thing is so f**kin' complicated.”

 

Benjamin berdiri mematung di depan meja kafe itu, napasnya tercekat, matanya membulat tak percaya. Wajahnya diliputi amarah dan kekecewaan yang sulit dibendung.

"Aku nggak pernah sangka ...," katanya dengan suara gemetar. "Di belakangku, kalian …?" Dia menggeleng pelan, mata tak lepas dari dua sosok di hadapannya. "Zia. Apa jangan-jangan ... kamu menolakku karena lebih memilih laki-laki ini?!"

Zia langsung berdiri, panik. "Nggak! Nggak, bukan begitu, Ben—"

Salvatore buru-buru memotong. "Aku dan Zia tidak seperti yang kamu bayangkan, Benja! Kau salah paham!"

Benjamin terkekeh sinis. "Salah paham?" ujarnya pelan, tapi nadanya tajam. "Berpegangan tangan di kafe terpencil seperti ini?! Mengelaklah terus! Tapi kalian tenang saja ...." Dia melangkah mundur, lirih. "Aku nggak bermaksud mengganggu. Lanjutkan saja."

Tanpa menunggu jawaban, Benjamin membalikkan badan dan melangkah pergi. Salvatore refleks mengejarnya.

"Benja! Benja, dengarkan aku dulu! Aku bisa jelaskan semuanya!"

Namun Benjamin terus berjalan cepat, hingga akhirnya, lantaran tak tahan dengan suara sang ayah yang terus menerus memanggilnya, dia berhenti di trotoar, berbalik dengan wajah merah padam.

"Papa!" bentaknya. "Stop your bullshit! Mau berapa lama dan berapa banyak lagi kebohongan yang kau lakukan?! Kau nggak capek hidup dalam kebohongan terus-menerus?"

Salvatore tercekat. "Apa maksudmu?"

"Aku sudah tahu!" teriak Benjamin. "Kau bukanlah Salvatore Corvino. Salvatore yang asli ... sudah lama meninggal karena gantung diri, kan? Aku tahu semuanya."

Salvatore membeku. Wajahnya seketika pucat. Dia menoleh cepat ke kanan-kiri, memastikan tak ada orang lain yang mendengar.

"Benja ...," bisiknya. "Dari mana kau tahu ...?"

"Itu nggak penting!" Benjamin menyentakkan suara. "Kau gunakan identitas orang lain karena kau lari dari masa lalu seperti pengecut! Dan kalau aku mau, aku bisa cari tahu siapa kau sebenarnya. Tapi aku nggak lakukan itu. Kenapa? Karena aku ingin mempercayaimu! Kau ayah terbaik di dunia buatku! Ayah yang kuhormati. Ayah yang kubanggakan!" 

Suaranya pecah. "Tapi hari ini ... yang kulihat ... justru laki-laki itu, ayah terbaik versi hidupku ... berkencan dengan pacar anaknya sendiri!"

"Benja …." Salvatore maju selangkah, mencoba meraih bahunya. "Sudah kubilang, kau salah paham. Bisakah kau kesampingkan dulu emosimu, dengarkan aku?"

Benjamin mundur selangkah, matanya berkaca. "Simpan penjelasan nggak bergunamu itu. Kau membuatku kecewa."

Lalu dia lari. Menjauh. Meninggalkan Salvatore yang hanya bisa mematung, napas memburu, seluruh tubuh gemetar karena tekanan bertubi-tubi dari segala arah.

 

Benjamin berlari tanpa arah, matanya nyalang, pikirannya kusut tak karuan. Tanpa sadar, tubuhnya menabrak seorang pria yang berjalan dari arah berlawanan. Pria itu meminta maaf dengan tergesa, menyentuh bahu Benja sejenak untuk menstabilkan tubuhnya, dan saat itulah, alat kecil sebesar uang koin dengan permukaan matte hitam sudah berpindah dan menempel di balik bahunya. Benjamin tidak menyadari apa pun.

Dia mengeluarkan ponsel, menekan nomor yang sudah terlalu sering dia hubungi akhir-akhir ini.

"Ollie?"

"Benja! Kau di mana? Kenapa pesanku tidak kau respon?"

"Segera siap-siap," kata Benjamin cepat. "Temui aku di rumah. Aku ingin kau temani aku hiking."

Oliviero terdengar ragu. "H-hiking? Sekarang juga? Kurasa ini bukan saat yang te—"

"Benar-benar bukan saatnya," potong Benja dingin. "Makanya aku butuh udara."

Telepon ditutup sepihak. 

Sementara itu, Salvatore yang wajahnya semakin pucat dan mata dipenuhi lingkar hitam kembali menuju kafe, berharap bisa menemukan Zia dan menjelaskan situasi sebelum semuanya makin hancur.

Namun langkahnya terhenti ketika melihat Zia keluar dari gerbang kafe, menoleh ke sekeliling, lalu memanggil seseorang.

"Alva!"

Seorang pemuda duduk di atas motor, membuka helmnya dan menatap tajam ke arah Zia. Salvatore tersentak. Wajah pemuda itu … sangat mirip .... 

Flavio? Salvatore membeku.

Dia spontan sembunyi di balik dinding kafe, mengintip dengan napas tercekat.

“Kau ini gimana sih?” bentak Alva dari atas motor. “Udah tahu kondisi lagi gawat, kau malah keliaran! Habis ketemu siapa?”

Zia tertawa kecut. "Ketemu teman."

Alva melempar helm cadangan ke arah Zia. "Teman, teman .... Teman siapa? Kau ini harus diawasi!"

"Udah sih, Alvaro," keluh Zia sambil mengenakan helm. "Nggak ada yang harus kau curigai dari aku. Kenapa kau jadi kakak galak banget sih?"

"Karena kau ini emang nggak ngerti situasi!" Alva memakai kembali helmnya, menurunkan visor. "Cepat naik."

Zia naik ke motor tanpa protes. Dalam hitungan detik, motor itu melesat meninggalkan kafe. 

Anak itu ... kakaknya Zia. Alvaro Agnelli? Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Flavio?!

Salvatore masih terpaku di tempatnya, gemetar oleh satu pertanyaan besar yang menumbuk di dadanya. Napasnya tercekat, jantungnya berdegup keras seperti hendak menerobos keluar dari dadanya sendiri.

Tiba-tiba, terngiang kembali percakapan semalam dengan Denver Sr. Pernyataan yang saat itu dia anggap sebagai ancaman samar. Denver menyebut bahwa Flavio memiliki setidaknya satu anak laki-laki. Seorang anak yang, menurut Denver, tumbuh seperti yatim piatu. Kalimat itu sempat membuat Salvatore resah, tapi kini, dengan apa yang baru saja dilihatnya, rasa resah itu berubah menjadi alarm.

Dia juga teringat sesuatu dari pertemuan-pertemuannya dengan Antonia. Wanita itu tinggal di kota ini bersama dua keponakan ... begitu yang pernah dia dengar. Dua nama yang waktu itu tak terlalu dia perhatikan: Zia dan Alvaro.

Sekarang, setelah melihat langsung wajah Alvaro, yang sangat mirip dengan Flavio, sahabat lamanya, satu-satunya orang yang paling dia rindukan sekaligus paling dia hindari, Salvatore seperti tersambar petir. Wajah itu, sorot mata itu, garis rahang dan cara bicaranya … terlalu familiar untuk bisa dianggap kebetulan semata.

Benih curiga itu tumbuh cepat, liar, dan tak terkendali dalam benaknya. 

Mustahil ini hanya kebetulan, ujarnya dalam hati.

Dan jika dugaannya benar ... berarti Alvaro bukan hanya keponakan Antonia.

Tangannya bergerak gemetar ke saku jas. Mengeluarkan ponsel, menekan satu nomor dengan jari yang tak stabil.

"Segera selidiki latar belakang keluarga Agnelli," ucapnya pelan tapi tegas. "Cari tahu segalanya. Termasuk siapa orang tua kandung Zia dan Alvaro. Aku ingin laporan lengkap ... secepatnya."

Lalu dia menutup telepon dengan tangan dingin, berdiri kaku di balik dinding, sementara pikirannya terus-menerus disergap oleh bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar mati.

 

Bab 34 – Neraka Bagi Benjamin 

Taman Nebrodi, Sivilia Utara.

Udara pagi terasa bersih, tapi bukan jenis kesegaran yang menenangkan. Heningnya hutan justru membuat segala yang ada di kepala Benjamin terdengar lebih keras, lebih tajam. Langkahnya menyusuri jalan setapak yang lengang, dikelilingi pepohonan tinggi yang menua dalam diam. Tidak ada kabut, tidak ada angin, hanya sunyi yang menggantung seperti kalimat yang tak sanggup diucapkan.

Setiap ranting kering yang patah di bawah sepatunya seolah menegaskan bahwa dia dan Oliviero memang sendirian di sini. Jauh dari siapa pun, tapi tak juga bebas dari apa pun. Punggungnya terasa berat, meski tidak sedang membawa apa-apa selain ransel dan sebuah nama yang kini terdengar asing di telinganya: ayahnya.

Ayah yang selama ini dia banggakan, idolakan, puja. Ayah yang selalu bicara tentang kehormatan dan tanggung jawab, ternyata orang yang sama yang menjalin hubungan diam-diam dengan Zia. Dan lebih dari itu, ayah yang sama pula yang dituduh sebagai pengecut, seorang pengkhianat yang memilih melarikan diri ketika darah harus dibayar dengan darah.

Mereka menyebutnya pengkhianat terbesar sesama Sivilian.

Benjamin tak bisa membantah.

Dan itu justru yang paling menyakitkan.

Langkahnya melambat saat sinar matahari menerobos celah di antara dahan-dahan pinus, menciptakan garis-garis cahaya hangat di tanah basah. Dia berhenti sejenak, menatap pantulan cahaya itu seakan mencari makna. Mungkin hari ini tetap datang bukan untuk memberi jawaban, tapi untuk memberi ruang. Ruang untuk kecewa. Ruang untuk marah. Ruang untuk memutuskan apakah dia akan terus membenci, atau mencoba memahami. Meski belum ada keputusan, setidaknya dia tahu, beban ini tak akan selamanya.

Dia menarik napas dalam. Masih sesak. Tapi tidak sepenuhnya gelap.

Langkah-langkah sepatu menekan tanah basah, menciptakan irama pelan yang tak seragam. Di depan sana, Benjamin berjalan tanpa suara, tanpa menoleh, seolah tak butuh siapa-siapa hari ini. Tapi Oliviero tahu, diam bukan berarti tidak butuh. Kadang justru sebaliknya.

Oliviero tetap menjaga jarak. Satu-dua meter di belakang Benjamin, cukup dekat untuk berjaga kalau-kalau ada apa-apa, cukup jauh untuk memberi ruang. Hening di antara mereka bukan karena tak ada yang ingin dikatakan, tapi karena terlalu banyak yang ingin ditanyakan.

Tadi pagi saat Oliviero menjemputnya, wajah Benjamin seperti baru selesai tenggelam di laut dalam, kering, tapi kosong. Dan ketika ponsel di tangannya bergetar untuk kesekian kalinya, Oliviero sempat melirik. Sebutan “Papa” menyala di layar. Tapi Benjamin hanya menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya membiarkannya mati sendiri. Tak sekali, tak dua kali.

Sikapnya begitu ... hancur. Bahkan lebih parah dari saat Valeria Lucchetto mengungkapkan semuanya.

Oliviero ingin bertanya. Tentang Salvatore, tentang wajah Benjamin yang seperti baru saja kehilangan seluruh tenaga hidupnya. Tapi mulutnya tak kunjung terbuka. Ada rasa segan yang aneh, semacam keinginan untuk menghormati luka yang belum sanggup dibicarakan.

Dan satu hal yang terus berputar di benaknya sejak tadi: lindungi Benja.

Apa pun yang terjadi, jangan sampai Max menemukannya.

Oliviero menghela napas pelan. Dia tak tahu pasti apa yang sedang dipikirkan Benjamin saat ini, tapi satu hal yang jelas, beban itu nyata dan berat.

Oliviero mempercepat langkah, menyamakan posisi di samping Benjamin walau hanya sebentar.

“Saya tadinya berpikir kau mengajak jalan-jalan santai, Ben. Ternyata ini ... tur introspeksi hidup ya?”

Benjamin masih menatap lurus ke depan, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit. “Jalan santai aja, nanti pas sampai puncak kau dapet pencerahan.

“Saya takut keburu encok,” sahut Oliviero, separuh mengeluh, separuh bercanda.

Diam kembali melingkupi mereka, tapi kini tidak setegang tadi. Dan meski hanya sedetik, Oliviero yakin, tadi itu senyum. Sedikit. 

 

Malam itu, mereka duduk mengelilingi api unggun. Cahaya api yang menari-nari menerangi wajah-wajah mereka, memberi sentuhan hangat di tengah udara malam yang dingin. Suasana hening, hanya suara api yang terkadang meledak, menambah kesan sepi yang memenuhi hutan.

Benjamin tiba-tiba memecah keheningan dengan suara rendah, hampir seperti bisikan. "Kau pernah mencurigai sesuatu di hidupmu?"

Oliviero menoleh, agak bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba. “Hah?”

Benjamin menatap api unggun, matanya menerawang jauh, seakan-akan berbicara pada bayangan di depannya.

"Kayak ... kau selama ini berpikir, ini memang jalan hidupmu, dan kebenaran adalah apa yang bisa kau lihat. Tapi sebenarnya ... jauh dari itu."

Oliviero mengernyitkan dahi, berusaha membaca raut wajah Benjamin yang penuh ketegangan. "Kau masih kepikiran soal identitas asli ayahmu?"

Benjamin menarik napas panjang, menghela udara dingin. "Sedikit banyak."

Oliviero mendesah, merasa sedikit gelisah. "Ayolah. Bukannya kau selama ini santai saja dengan semua ini?"

Benjamin mengerutkan bibir, terlihat sedikit kesal. "Ya, tapi itu sebelum aku memergoki dia sarapan berdua sama Zia, saling pegangan tangan."

Oliviero hampir terjatuh dari tempat duduknya. "Astaga! Kau ... serius?"

Benjamin menatap Oliviero dengan tatapan yang penuh kebingungan dan sedikit amarah. "Kalau aku nggak serius, ngapain aku ngajak ke sini? Siapa tahu aku celaka, jatuh ke jurang."

Oliviero terkejut mendengar kata-kata Benjamin, dan langsung meninju pelan bahu temannya, menegur dengan cepat, "Hei! Sssh!! Kau ini, bicara sembarangan di hutan! Jangan ngomong seperti itu! Hidupmu berharga."

Benjamin terdiam sesaat, seolah mencoba mencerna kata-kata Oliviero, lalu akhirnya suara hatinya keluar. "Pasca lihat yang nggak ingin kulihat tadi pagi itu, semua rasa kecewaku terhadap dia karena udah berbohong seumur hidupnya, jadi semakin menjadi-jadi. Makanya aku butuh udara."

Oliviero terdiam, memikirkan kata-kata Benjamin. Setelah beberapa detik, dia mencoba untuk menenangkan sang sahabat. "Mungkin ... mereka hanya sekali itu bertemu, atau kau salah menduga ...."

Benjamin menatap Oliviero dengan mata tajam, seakan menantang. "Gak usah bela. Aku bisa lihat dari bahasa tubuh mereka. Ada sesuatu. Anak mana yang bakal terima?"

Benjamin menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Ada lagi. Baru kemarin Emmeline cerita padaku ….”

Oliviero menatapnya penuh antisipasi, menunggu.

“Saat Emmeline membantu ibuku memisahkan laundry, mama menemukan bekas lipstik di kemeja papa. Emmeline bilang, sikap mama tetap tenang … sangat tenang, seolah itu bukan hal yang mengejutkan. Yeah, betul, pria-pria Sivily yang terlibat di dunia gelap ini hampir pasti punya simpanan. Aku tahu itu, dan kau pun pernah menegaskan hal yang sama padaku. Itu saja sebenarnya sudah cukup menyakitkan. Tapi ternyata, papa dan mama punya kesepakatan diam-diam. Mama membebaskan papa melakukan apa pun, asal dia selalu pulang saat hari berakhir. Sementara saat mama sekadar menjalin pertemanan dengan ayahnya Saxon, malah dibawa ribut sama papa. Itu—”

Oliviero sontak menegakkan punggung begitu nama lamanya disebut.

Benjamin berdecak, suaranya keras dan geram. “Hubungan macam apa itu?! Emmeline bilang, sekarang dia nggak bisa lagi melihat papa dengan cara yang sama. Lalu sekarang papa malah mendekati Zia, perempuan yang lebih pantas jadi anaknya! Merebut Zia dariku demi kepuasannya sendiri! Lelaki tua itu kebanyakan berulah, jadi jangan heran kalau anak-anaknya mulai kehilangan rasa hormat.”

Oliviero menelan ludah. Ada kecemasan yang membungkamnya, dan dia tak tahu harus menjawab apa. “Jadi, kau benar-benar kecewa … sama beliau.”

Benjamin mengangguk pelan, wajahnya tegang. "Aku malas melihatnya lagi."

Oliviero tak bisa menahan diri. Dia menatap api unggun, berusaha merenung. Dalam hatinya, dia bergumam, Sama sepertiku. Aku juga enggan melihat ayahku lagi. I can relate to that, Ben.

Oliviero menatap Benjamin, lalu mengeluarkan kata-kata dengan nada rendah. “Saya pikir kau kesayangan beliau ….”

Benjamin tertawa pahit. "Sampah. Aku gak ingin jadi kesayangan seorang pembohong sekaligus pengecut yang datang dalam satu paket."

Keheningan merayap kembali, hanya terdengar suara api yang terus terbakar, menambah sunyi yang mengerikan. Tak ada lagi yang bisa dikatakan. Semua yang tertahan dalam hati mereka masing-masing, hanya terpendam dalam keheningan malam yang dalam.

 

Tanpa disadari oleh keduanya, keberadaan Benjamin dan Oliviero telah lama diawasi. Di balik rimbun pepohonan dan gelap malam yang menggulung, beberapa pasang mata mengintai dari kejauhan. Max berdiri di antara mereka. Dingin, sabar, seperti pemburu yang menunggu waktu tepat. Di sisinya, orang-orang bayaran yang dia bawa mulai gelisah.

“Bos, kenapa kita sampai harus nunggu semalam ini? Padahal tinggal serang saja dari tadi. Gampang,” keluh salah satu.

“Benar,” timpal yang lain. “Mereka cuma berdua.”

Max menggeleng pelan, tak mengalihkan pandangan dari dua siluet yang samar tertangkap cahaya api unggun. “Berisiko. Yang paling tinggi besar itu ... aku khawatir dia terlalu tangguh. Salah langkah, kita yang jadi bulan-bulanan.”

Di kejauhan, Benjamin tampak rebahan, hanya setengah sadar, tidur-tidur ayam. Sementara Oliviero masih duduk menghadap api, menatap bara dengan sorot mata yang sulit ditebak.

“Sekarang mereka sedang lengah,” bisik salah satu orang bayaran. “Mau kita serang sekarang, Bos?”

Max menyeringai kecil. “Ya. Alihkan perhatiannya.”

Beberapa detik kemudian, suara gemeretak terdengar di kegelapan. Seolah ranting patah, atau batu terguling pelan. Disusul suara samar lainnya.

Oliviero segera menajamkan telinga. Dia menengok ke kanan, lalu ke kiri. Mungkin suara hewan, tapi ... mungkin juga bukan.

“Ben,” katanya pelan sambil bangkit, “saya lihat dulu ada apa di sana.”

Setengah malas, Benjamin menjawab, “Biarkan saja.”

Tapi suara-suara itu makin jelas. Insting Oliviero terpicu. “Saya nggak bisa tenang … Kau di sini saja, Ben. Tapi jangan tidur!” katanya sebelum pergi menyusuri gelap, mengikuti suara dari semak-semak.

Benjamin mendengus, tapi tetap duduk. Udara terasa lebih dingin. Entah karena malam yang semakin larut, atau karena sesuatu yang lain. Beberapa menit berlalu, dan cahaya senter dari helm Oliviero tak lagi terlihat.

Perasaan tidak enak mulai merayapi dada Benjamin.

Lalu—

Sesuatu bergerak cepat dari balik semak. Benjamin hanya sempat berteriak setengah kata sebelum sebuah karung besar meluncur menutupi tubuhnya. Dia disergap dalam sekejap, ditarik dan diseret. Benjamin meronta sekuat tenaga sambil berteriak-teriak tak jelas dari dalam karung.

“Bikin dia diam!” desis Max.

Orang-orangnya segera menendang dan memukul sekuat tenaga dari luar karung, hingga suara Benjamin melemah, nyaris lenyap.

Dengan cekatan, mereka mengangkat karung itu, membawa tubuh yang sudah tak melawan lagi menuju rumah reyot di pinggir danau yang sudah lama terbengkalai.

 

Beberapa menit kemudian, Oliviero kembali ke tenda. Keningnya berkeringat, bahu terangkat. Dia melihat sekeliling.

“Benja?” panggilnya.

Tak ada jawaban.

Dia melongok ke dalam tenda. Kosong.

Jantung Oliviero mendadak menghantam rusuknya. “Benja?! Kau di mana??” teriaknya, lebih keras. Kepanikan menguap dari nada suaranya.

Oliviero mengedarkan pandangan ke segala arah, lalu mencengkeram rambutnya dengan gemetar.

"Anj*ng!!" erangnya keras, sadar bahwa kecurigaannya sejak awal benar … Max pasti mengikuti mereka.

 

Di rumah reyot itu, Benjamin kini berbaring menyamping di lantai berdebu. Tangannya diikat ke belakang, tubuhnya masih dalam posisi setengah tergulung. Karungnya baru saja dibuka. Mulutnya kini disumpal dan dilakban.

Max menunduk di depannya, menepuk-nepuk wajah Benjamin agar bangun.

“Bangun. Bangun, woi.”

Benjamin membuka mata perlahan. Sekelilingnya gelap dan lembap, bau tanah basah bercampur kayu lapuk. Dia melihat wajah Max, dan langsung mengenalinya. Sosok yang mengatur penganiayaan yang dialami Denver Jr. hingga terbaring koma.

Matanya membelalak. Dia ingin bicara, tapi hanya suara sengau yang keluar dari balik lakban.

Max tersenyum bengis. “Akhirnya, kudapatkan juga anak sulung si pengkhianat. Anak Reeve Galante.”

Benjamin menatapnya dalam-dalam. Tubuhnya bergetar. Antara takut, bingung, dan marah. Tapi yang paling besar adalah keterkejutan: Max tahu siapa ayahnya.

“Kau kaget, huh?” Max menyeringai. “Kau nggak pernah sangka, kan? Ayah yang kau banggakan selama ini, rupanya adalah orang yang pernah mengkhianati semua orang di New Yord.”

Benjamin hanya menatap, mulutnya tetap terbungkam. Dia gemetar, tak tahu apakah lebih baik melawan atau mendengarkan.

Max mendekat. Matanya tajam seperti silet.

“Kau tahu apa lagi dosa Reeve di masa lalu?” Dia mencondongkan badan. “Tentu saja kau nggak tahu. Kau terlalu polos. Bodoh. Kukatakan ya ... ayahmu pernah melenyapkan nyawa seorang anak kecil. Seorang anak yang bahkan tak berdosa! Memalukan, bukan? Namanya Christopher Burgueno. Dia mati dengan tragis. Kepalanya ... terpisah dari tubuhnya," bisik Max, tenang namun mengerikan, sambil menarik garis tipis dengan telunjuknya di sepanjang leher Benjamin, seolah menggambarkan akhir yang sama.

Benjamin membelalak. Napasnya seperti terhenti di tenggorokan.

“Dan siapa yang lakukan itu?” Max tersenyum penuh racun. “Reeve. Yeah. Reeve yang sekarang beridentitas Salvatore Corvino, ayahmu.”

Max menegakkan tubuh. “Christopher adalah kakak seayahku. Aku bahkan nggak pernah bertemu dengannya, lantaran umurnya yang sangat singkat. Tapi sekarang aku di sini ... sebagai perpanjangan tangan dari ayah Christopher. Roman Burgueno.”

"Hari ini, akan kubalaskan dendam Roman dan Christopher. Dengan cara yang sama.”

Max menatap ke arah anak buahnya sambil mengangkat tangan. “Mulai rekam pakai ponselku. Rekaman itu akan kukirim ke Roman. Supaya dia tahu ... anak musuhnya sudah mati terpenggal.”

Tawa bengisnya menggema, menggetarkan ruangan tua itu.

Salah seorang anak buah Max mulai merekam. Beberapa berpencar, memegang tubuh Benjamin agar tak bergerak. Salah satunya menyerahkan kapak ke tangan Max.

Benjamin hanya bisa menatap tajam. Tubuhnya memberontak, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia terikat. Mulut dibungkam. Dan dunia seperti berubah jadi mimpi buruk yang tak masuk akal.


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.