TDR (35-38) | INA
Bab 35 – Gagak Hitam Mulai Bergerak
Ruang kerja Salvatore Corvino.
Salvatore duduk di kursinya, dikelilingi para capo, wakil, dan penasihat yang setia. Tangan kirinya menyangga kepala, wajahnya tampak lelah dan suram.
Seharian ini … ada apa denganku? Gelisah, cemas, dada rasanya mau meledak. Antonia bekerja sama dengan Denver, itu saja sudah cukup membuat kepalaku pecah. Tapi sekarang … Benjamin tahu siapa aku sebenarnya. Identitas asliku. Aku jadi tidak tahu lagi mana yang harus kuselesaikan lebih dulu!
Luigi mencondongkan badan, menyadari guratan kegelisahan di wajah sang Don.
“Don, kau tidak apa-apa? Migrenmu kambuh? Perlu obat?”
Salvatore menggeleng pelan. “Aku tidak apa-apa. Sudah ada kabar dari New Yord?”
“Sebentar lagi mereka akan menghubungi lewat video call, Don,” jawab Luigi cepat.
“Di mana Benja?”
“Belum kembali, Don. Perlu saya panggilkan?”
Salvatore mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk tidak usah. “Biarkan dia bermain.” Tapi perasaan aneh di dadanya semakin menggila.
Ada apa ini? Kenapa rasanya makin campur aduk?!
Luigi menyiapkan sambungan video. “Mereka sudah siap memberi laporan, bila Don sudah siap.”
Salvatore mencoba menepis kegelisahannya. Dia duduk tegak, wajahnya kembali dingin dan penuh wibawa saat menyapa lewat layar.
“Hai, guys. Terima kasih sudah menyempatkan waktu. Bagaimana hasilnya?”
Seseorang dari tim menjawab, “Maaf, Don. Dengan segala hormat, apakah mungkin Anda salah menyebut nama? Spelling-nya sudah benar? Karena … kami tidak menemukan satu pun Agnelli di seluruh Amerida. Kecuali … hampir seratus tahun lalu, ada Agnelli dari Catalia yang sempat merantau ke New Yord.”
Salvatore mengernyit. “Tidak ada? Sudah kalian periksa berkali-kali?”
“Kami pastikan, Don. Nama Agnelli tidak exist.”
Diam sejenak. Lalu suara Salvatore terdengar pelan namun tegas. “Coba kalian cari ... Maranzano. Harusnya ada banyak.”
Dalam sekejap, tim hacker yang berhasil menyusup ke database Social Security Administration menemukan beberapa nama.
“Benar, Don. Ada beberapa. Giuseppe, Giuliana, Gianni, Alessandra, Flavio … semuanya tercatat sudah wafat. Yang masih hidup hanya tiga: Antonella, Alvaro, dan Fabrizia.”
Salvatore langsung pucat pasi. “Tayangkan foto ketiganya.”
Layar menampilkan wajah-wajah itu.
Salvatore mendengus keras. Darahnya mendidih. Antonella ... wajah itu adalah Antonia. Dan Fabrizia ... itu Felizia.
“Hubungan mereka?”
“Alvaro dan Fabrizia tercatat sebagai anak dari Flavio Maranzano, Don. Sementara Antonella adalah adik Flavio.”
Salvatore memejamkan mata. Benar semua kecurigaannya.
Jadi mereka adalah Maranzano … menyusup ke sini dengan nama samaran. Untuk memburuku … demi Flavio?
Dia membuka mata, senyum kecut terbit di bibirnya.
Permainan yang sangat rapi. Terencana. Kau hebat, Antonella. Salut. Aku benar-benar tertipu. Bahkan kau berhasil bekerja sama dengan Denver di belakangku.
Dia menarik napas panjang.
Tapi kamu, Zia … aku menyayangimu seperti anakku sendiri. Dan ini … ini rahasia besar yang kau sembunyikan dariku? Pantas kau selalu menghindar saat kutanya siapa ayahmu. Sekarang semuanya jelas. Kamu anak Flavio. Dan kamu ... dengan wajah manis itu ... sebenarnya mengincar nyawaku.
Tangannya mengepal.
Konspirasi yang luar biasa ….
Luigi bersuara hati-hati. “Don? Apakah perlu kami teruskan pencarian?”
Salvatore menggeleng pelan. “Cukup. Terima kasih, semuanya. Good job.”
Luigi menutup sambungan video.
Salvatore bangkit dari duduknya, menarik napas, lalu berkata datar, “Tiga orang Maranzano itu berada di sini dengan nama Agnelli. Tangkap mereka.”
Nun jauh di antara Gunung Egna dan pantai utara ….
Langit semakin menggelap. Udara dingin merayap ke dalam pori-pori, menembus jaket tipis yang melekat di tubuh Oliviero. Langkahnya terhenti di antara semak belukar yang memisahkan hutan dan sebuah danau sunyi.
Matanya menyipit.
Sebuah rumah tua, lusuh dan hampir runtuh, berdiri bisu di pinggir danau. Terasing.
Mungkin Benja ada di sini …, ujarnya dalam hati.
Oliviero menahan napas. Dia mendekat, perlahan, seakan tanah di bawahnya bisa mengkhianati kapan saja. Dia menempel ke dinding rapuh bangunan itu, mencari celah. Sebuah jendela reyot terbuka sebagian.
Dia mengintip.
Detik pertama ... dia membeku.
Detik kedua ... matanya nyaris mencuat keluar.
Detik ketiga … tubuhnya nyaris rubuh.
Dunia seakan runtuh dalam satu pandangan.
Darah. Terlalu banyak darah.
Max berlutut di lantai, diam. Tangannya masih menggenggam sebuah kapak besar, berlumuran merah pekat. Di hadapannya, terbujur sebuah tubuh … remuk. Dan di dekat kaki Max …
… sebuah kepala.
Kepala Benjamin.
Oliviero menutup mulutnya rapat-rapat. Tubuhnya bergetar hebat.
Jantungnya tak lagi berdetak. Dia hanya mendengar bunyi kosong di kepalanya, seperti pukulan palu yang berulang-ulang.
TIDAK ... TIDAK MUNGKIN ....
Itu bukan mimpi.
Itu nyata.
Benjamin …
Baru tadi siang hiking bersama.
Baru tadi menepuk punggungnya, larut dalam obrolan serius tentang hidup.
Baru tadi ... hidup.
Kini, tubuhnya tak bernyawa.
Kepalanya … terpisah.
Tangannya gemetar saat merogoh saku. Dia keluarkan ponsel dan mulai merekam. Meski air matanya sudah mengaburkan pandangan. Meski tubuhnya ingin kabur sejauh mungkin dari neraka yang dia lihat di dalam ruangan itu.
Suara-suara dalam pikirannya mulai berteriak:
Itu salahmu.
Kenapa kamu tinggalin dia?
Kenapa kamu nggak jaga dia baik-baik?
Segunung penyesalan mencabik-cabik dadanya.
Oliviero ingin teriak. Ingin muntah. Ingin mati saja sekarang juga. Tapi dia tidak bisa.
Tidak boleh.
Dia harus bertahan.
Harus membawa bukti ini.
Harus membuat orang tahu … bahwa Benjamin tidak menghilang. Dia dibunuh. Dihabisi.
Dan pembunuhnya … masih ada di dalam sana.
Alva duduk bersandar di bangku koridor rumah sakit. Wajahnya pucat, matanya sembab.
Dia menarik napas berat dan melirik Saxon yang berdiri menyandar pada dinding, tidak jauh darinya. “Aku cemas sama Benja,” gumamnya kemudian..
Saxon hanya menatapnya sekilas. “Ollie menjaganya.”
Alva menggeleng, frustrasi. “Aku gak habis pikir kenapa Max tiba-tiba jadi segila ini.”
“Kau yang bilang, dia dibutakan obsesi,” jawab Saxon tenang.
“Ya, tapi—apa gitu alasannya?” Alva menengadah. “Dia hajar Denver karena gak terima Denver pacaran sama Lenice. Tapi sekarang, tahu-tahu ubah sasaran, dengan motif yang sangat berbeda pula. Like, what the hell is going on in his head?”
“Ollie jaga Benja,” ulang Saxon, mantap. “Aku yakin semua aman. Kau meragukan duplikatku?”
“Di mana mereka sekarang?”
Saxon menarik napas sebelum menjawab. “Ollie bilang dia diajak hiking berdua sama Benja.”
“Hiking?!” Alva sontak berdiri, wajahnya makin panik. “K-Kenapa gak stay di kota aja, sih?! Lebih aman!”
Saxon mengangkat bahu ringan. “Ollie udah coba bujuk Benja supaya nggak hiking. Katanya lebih baik jalan-jalan aja di kota. Tapi mood Benja waktu itu kacau banget. Dia nggak bisa dibujuk. Maunya hiking, ya harus hiking.”
Alva mulai mondar-mandir. “Gila … GILA! Mereka cuma berdua! Max bisa nyambar mereka kapan aja! Kenapa kamu gak bilang dari kemarin?!”
Saxon hendak membuka mulut, tapi ponselnya mendadak berdering nyaring.
Dia menatap layar. “Ollie,” katanya cepat, lalu menekan tombol loudspeaker. “Ollie? Gimana?”
Dari seberang telepon, terdengar napas tersendat. Tersengal. Suara sengau bercampur tangis dan kemarahan yang ditahan mati-matian.
“Saya ... gagal … gagal .... Dia ... tangkap Benja .…”
Alva langsung pucat. “Max menangkap Benja?!”
Saxon membatu. “O-Ollie … are you alright??”
Oliviero menjawab dengan suara nyaris tak terdengar, tapi hancur total. “Guys … Benja … sudah tewas ....”
Dunia berhenti berputar.
Kaki Saxon goyah. Alva tak mampu berkata apa-apa.
“Saya lengah … sempat lepas pengawasan … dan di saat itulah Max masuk .... Dia culik Benja .… Saya habiskan waktu cari mereka .... Tapi begitu saya temukan jejaknya … Benja udah ....” Suaranya patah. “Saya terlambat. Saya sempat rekam Max … pasca dia lakukan itu ....”
Dia dengan suara semakin gemetar, melanjutkan, “Aku dengar … Max berencana membawa kepala Benja ke hadapan Salvatore Corvino. Guys ... What should I do now … what should I do?!”
Saxon tetap terdiam, seolah suaranya lenyap ditelan kenyataan mengerikan itu.
Alva menggigit bibirnya keras-keras, menahan gemetar. Lalu dia bersuara, lirih tapi tegas. “Kau di mana sekarang? Aku susul kau."
Begitu sambungan telepon terputus, Alvaro langsung bergerak. Dia menyambar jaket kulitnya dari sandaran kursi, gerakannya cepat dan tegas.
“Aku harus pergi,” katanya sambil berjalan melewati Antonella dan Zia.
“Hé, tunggu—Alva?” Antonella menangkap lengan jaketnya. “Wajahmu ... kenapa kamu kelihatan kayak habis lihat hantu?”
Alvaro menoleh, namun matanya tidak fokus. Ada sesuatu yang berat menghantam pikirannya, tapi dia tak sempat menjelaskan. “Aku nggak bisa jelasin sekarang. Tapi aku harus ketemu Oliviero. Malam ini juga.”
Zia melirik Antonella singkat, lalu tanpa kata menyusul langkah Alvaro.
Antonella mendesah, setengah kesal. “Sial ... oke. Tapi kau utang penjelasan.”
Ketiganya turun tergesa ke basement rumah sakit, tempat Alva memarkir mobilnya. Suasana dingin dan sepi menyelimuti area parkir. Lampu-lampu neon menggantung redup, memantulkan bayangan aneh di lantai semen yang lembap.
Alvaro sempat memperlambat langkahnya. Ada sesuatu yang tidak beres. Terlambat.
Dari balik mobil-mobil yang terparkir, suara langkah kaki serempak terdengar. Sosok-sosok bermunculan dari kegelapan. Belasan pria. Semua berpakaian gelap. Semuanya membawa tujuan yang sama.
Di dada beberapa dari mereka, tampak simbol kecil yang nyaris tak terlihat dalam cahaya redup: siluet gagak hitam berparuh tajam.
“Corvino,” gumam Zia, matanya menyipit tajam.
Alva mundur setengah langkah, tubuhnya menegang. “Mereka tahu kita di sini ....”
Antonella mengumpat pelan, menarik napas dalam-dalam.
Alva terpaksa bertindak cepat, terjebak dalam pertempuran yang sudah tak terhindarkan.
Jeritan, dentuman, dan suara benturan keras terdengar, tak terelakkan. Dalam sekejap, lantai basement rumah sakit penuh jejak perkelahian.
Anak buah Corvino berserakan di mana-mana. Ada yang tergeletak pingsan, ada yang merintih kesakitan sambil memegangi rusuk.
Di tengah kekacauan itu, Alvaro Maranzano berdiri dengan napas berat. Baju compang-camping, rambut acak-acakan, satu tangan berlumur darah (bukan darahnya). Matanya liar dan penuh amarah. Dia baru saja melumpuhkan seluruh kelompok yang dikirim Salvatore.
“Kalau mau tangkap aku, kirim yang lebih serius,” desis Alvaro.
Tapi lalu … terdengar derap langkah berat dari arah belakang.
Kelompok berikutnya muncul.
Jumlahnya dua kali lipat. Lengkap dengan senjata kejut dan alat pembungkam.
Alva melangkah mundur, menoleh ke belakang ke arah Zia dan Antonella, yang sama-sama berdiri waspada tapi tahu, ini sudah tak seimbang. Perlawanan kali ini … akan sia-sia.
“Alva, jangan!” seru Zia saat melihat saudaranya mulai menegangkan bahu lagi, bersiap adu jotos.
Tapi terlambat.
Bentrok kedua pun pecah.
Alvaro memang kuat. Tapi jumlah mengalahkan segalanya. Setelah beberapa menit mengamuk, dia akhirnya berhasil dilumpuhkan. Wajahnya babak belur, tapi tatapannya masih menantang sampai detik terakhir.
Bab 36 – Red Sauce
Ketiganya dibawa ke markas Corvino.
Tangan mereka diikat ke belakang, mulut disumpal sementara. Mereka disuruh bersimpuh di lantai beton di sebuah ruangan besar. Seperti penjahat kelas kakap. Seperti buronan politik. Seperti … ancaman pribadi.
Antonella menunduk diam, wajahnya pucat, rambut berantakan. Matanya kosong. Semua pikirannya mengembara … ke Flavio, ke masa lalu, ke rencana yang gagal total.
Zia ... menangis.
Tersedu-sedu di lantai, pipi basah air mata, bahu gemetar. “Enggak mungkin ... Dad ... ini ... Daddy yang perintahkan? Enggak mungkin Daddy tega lakuin ini ke aku ...," racaunya, nyaris seperti bisikan.
Tapi Salvatore tak langsung muncul.
Mereka menunggu.
Hening mencekam, seperti jeda napas sebelum eksekusi.
Alvaro, meski tangannya terikat, masih bisa maki-maki. “Berani kalian nahan aku di sini?! Panggil tuh bos kalian keluar! Kita selesaikan sekarang! Hey! Aku gak takut kalian, ngerti?!”
Beberapa anak buah Corvino hanya menatap dingin. Satunya nyaris menampar, tapi ditahan yang lain.
Hingga akhirnya .…
Pintu terbuka.
Langkah pelan dan berat. Sepatu kulit menapak pelan di beton. Jubah hitam panjang, dan mata sekelam kematian.
Salvatore Corvino muncul.
Wajahnya kusut. Mata cekung. Tapi sorotnya tetap tajam, menusuk. Dingin.
Tatapan seseorang yang merasa kasih sayangnya dikhianati.
Langkahnya berhenti di depan mereka. Dia tidak berkata sepatah kata pun.
Zia mendongak. Tatapan mereka bertemu.
Untuk satu detik ... ada harapan di mata Zia. Harapan bahwa Salvatore akan melepas semuanya demi kenangan, demi kasih sayang, demi … hubungan istimewa mereka dulu.
Tapi yang ia temui hanya wajah dingin, bibir mengatup rapat, dan sorot mata yang tak lagi mengenalinya.
Langkah kaki Salvatore terdengar berat, tapi mantap. Sepatu hitamnya berdentum pelan menyusuri lantai beton saat dia mendekati Alvaro, mata tajamnya tak berkedip.
Alva menatap balik. Tanpa gentar. Bahkan saat wajah Salvatore nyaris sejajar dengannya, dia tak menunduk. Tatapan itu bukan sekadar berani … itu adalah kebencian yang sudah lama dipelihara.
“Jadi kamu,” gumam Salvatore, suaranya datar, rendah, nyaris tanpa emosi, namun cukup untuk membekukan udara di seluruh ruangan, “anak lelaki Flavio Maranzano.”
Alva menyunggingkan senyum miring. “Aku perpanjangan tangan Flavio menuntut tanggung jawab darimu. Pengecut.”
Salvatore mengerjap sekali. Tidak karena terkejut, tapi karena déjà vu yang menghantam seperti gelombang besar. “Sangat persis dengan Flav,” bisiknya. “Sangat. Seperti tidak ada bedanya.”
Dia meninggalkan Alva tanpa sepatah kata lagi, lalu melangkah ke sisi Antonella. Wanita itu masih duduk bersimpuh di lantai, tangan terikat, kepala tertunduk. Tapi saat Salvatore berhenti tepat di depannya, ia perlahan menengadah.
“Antonia,” ucapnya pelan, sinis. “Atau harus kupanggil … Antonella Maranzano? Wanita yang luar biasa cerdik, ya, kamu.”
Antonella tidak menjawab. Tapi sorot matanya goyah. Wajahnya retak. Bukan karena takut, tapi karena hancur. Tak ada kata yang mampu membantah kalimat barusan. Tidak sekarang. Tidak setelah semua kedok terbongkar.
Zia, yang dari tadi menangis terisak, merayap secara emosional ke ujung putus asa. “Daddy ...,” panggilnya lirih, setengah memohon, setengah takut. Tapi Salvatore belum melihatnya.
Barulah saat dia berdiri di hadapan putri angkatnya sendiri, tubuh Zia gemetar. Salvatore tidak berkata apa-apa. Hanya menatap. Dan tatapan itu … seperti tembok dingin yang tak bisa ditembus oleh apapun, bahkan oleh air mata darah sekalipun.
“Dad ….” Suara Zia pecah. “Zia bisa jelaskan semua ini … Zia gak pernah mau Daddy terluka, sungguh ….”
Tangisnya makin pecah. Tapi Salvatore tetap diam. Wajahnya sedingin pecahan es yang tergantung di musim paling mematikan … tajam, tak tersentuh, dan nyaris tak bernyawa.
Hening menegang, seakan seluruh dunia sedang menahan napas. Kemudian, perlahan, Salvatore menarik diri. Dia berdiri tegak di depan mereka bertiga. Alva, Antonella, dan Zia. Wajahnya muram, tapi suaranya tajam seperti vonis.
“Maranzano. Kalian bertiga.”
Nama itu meluncur dari bibirnya bagai duri yang akhirnya dicabut paksa dari dada. Maranzano, nama yang seolah membawa kutuk untuknya. Nama yang sudah dua dekade terakhir berusaha dia hindari, dia kubur, dia hapus dari setiap sudut hidupnya. Tapi kini, nama itu kembali, muncul di depan matanya dalam bentuk tiga wajah yang tak bisa dia abaikan.
“Bukankah kalian ini seharusnya disingkirkan sejak dulu?” Suara Salvatore menggema, tegas dan berat, memenuhi ruang. “Dewan Komisi di New Yord tidak menoleransi nama Maranzano sampai selamanya, bukankah begitu?”
Antonella menggertakkan gigi. Ia masih duduk di lantai, tangan terikat ke belakang, tapi harga dirinya belum menyerah. Tatapannya menusuk ke arah Salvatore.
“Aku juga sudah berbincang dengan Kevin,” lanjut Salvatore dengan senyum miring. “Rupanya dia yang bertugas melenyapkan kalian. Namun, berkat kelihaian dan pesona femininmu, Antonella, Kevin melepaskanmu?” Dia mengangkat satu alis, mengejek. “Betapa bodoh. Dia sedang dalam perjalanan ke mari untuk belajar bagaimana cara melenyapkan wanita yang penuh intrik sepertimu. Kita tunggu dia saja. Oke?”
Antonella mendongak, wajahnya tegang. Tapi suaranya tetap tenang. “Salvatore. Setidaknya … tolong lepaskan Fabrizia. Dia menyayangimu, itu sungguhan. Dia bahkan membujukku untuk membatalkan misiku di sini. Kau ingat saat di hotel itu? Ada pesan bertubi-tubi ke ponselku … itu dari Zia. Dia memohon padaku untuk membatalkan semuanya.”
Salvatore menyipitkan mata.
Antonella menambahkan, lirih. “Aku tahu kau juga menyayanginya. Jadi … tolong bebaskan dia.”
Zia menatap Antonella dengan mata basah. Di balik luka batin dan kehidupan keras yang penuh intrik, masih ada jejak hubungan mereka sebagai tante dan keponakan. Dan sekarang, satu-satunya yang meminta ampunan adalah sang tante.
Namun Salvatore menatap kosong. “Ada kalanya aku tidak menyertakan hati saat membuat keputusan. Aku tidak berniat menyanggupi permintaanmu.”
Tepat saat itu, seorang pengawal mendekat dan membisikkan sesuatu. “Don Kevin Castellano sudah tiba.”
Salvatore mengangguk. “Suruh dia ke sini.” Dia lalu menatap tiga Maranzano di depannya, senyum licik menyentuh sudut bibirnya. “Yang kita tunggu sudah tiba. Bersiaplah.”
Kevin pun masuk, auranya tenang tapi berwibawa. Sama dinginnya dengan Salvatore. Dia menatap sekilas ke arah Alva dan Zia, lalu matanya terhenti di Antonella. Tatapan mereka bertabrakan. Ada sejarah panjang dan rahasia yang belum selesai dalam sorot mata itu.
Kevin tersenyum aneh, lalu menepuk Salvatore dengan pelukan ringan. “Banyak tamu tak diundang rupanya, Sal.”
Antonella menelan ludah. Apa Kevin sebenarnya selama ini berada di pihak Salvatore? tanyanya dalam hati.
Alva menoleh ke Kevin dengan penuh kebencian. Si brengsek yang satu lagi. Bukankah sudah kubilang berkali-kali? Kevin itu licik!
Salvatore menggeleng pelan. “Pekerjaanmu nggak tuntas, Kevin, sampai mereka bisa-bisanya menggangguku di sini.”
Kevin hanya tersenyum datar. “Kau mau mulai dari mana dulu?”
Tiba-tiba suasana yang semula tenang pecah dihantam suara gaduh dari luar. Seruan-seruan kasar mulai bersahut-sahutan, makin lama makin nyaring, seperti pertengkaran yang meledak tak terbendung. Langkah-langkah berat menghentak tanah, disusul suara seekor anjing menggonggong histeris dari rumah sebelah. Dari tengah-tengah keributan yang makin menjadi-jadi itu, terdengar teriakan paling lantang, paling memekakkan telinga, menembus segala batas kesabaran:
“Salvatore!! Keluar kau!!”
Salvatore mengernyit. Dia melirik ke pengawalnya. “Coba kau lihat ada apa di luar.”
Beberapa menit kemudian, pengawal itu kembali dengan wajah resah. “Ada pemuda congkak bersikeras ingin bertemu denganmu, Don. Oliviero dan yang lain sedang mengusirnya.”
Teriakan itu masih terdengar. Bahkan makin lantang.
“Salvatore! Cepat keluar! Atau perlukah aku panggil nama aslimu supaya kau keluar sekarang?!”
Tubuh Salvatore menegang. Pucat. Hanya sedetik, tapi cukup terlihat oleh Kevin.
Apa dia bilang? Nama asli …? pikirnya. Siapa yang berani menyentuh nama itu?
“Bawa orang itu ke sini,” perintahnya pelan. Tapi nadanya tajam.
Tak lama kemudian, seseorang masuk. Pemuda dengan senyum menjengkelkan dan kotak besar berlogo bakery di tangannya.
Max.
Di belakangnya, Oliviero ikut masuk. Wajahnya pucat pasi, seolah baru melihat iblis sendiri.
Alva langsung berdiri setengah tubuh, jika saja tak terikat. Napasnya memburu. Dia tahu apa isi kotak itu. Dan dari ekspresi Oliviero, dia juga tahu.
Max menyebarkan senyumnya. “Sebuah kehormatan bisa bertemu muka dengan Don Salvatore Corvino yang agung,” katanya dengan nada mengejek. “Ah. Rupanya ada Don Kevin Castellano juga di sini ... dan teman-temanku selama ini! Wow. Sedang pesta, rupanya."
Tatapan Salvatore menajam. “Kalian keluarlah,” perintahnya pada seluruh anak buah yang masih di ruangan.
Mereka langsung keluar. Kecuali satu orang.
“Ollie. Kau juga,” tegas Salvatore.
Namun Oliviero tetap berdiri di tempatnya. Meski kakinya gemetar, dia tidak bergeming.
“Maaf, Don,” ucapnya pelan. “Saya tidak bermaksud tidak menghiraukan perintah Anda. Tapi … tapi saya hanya mengawal Benjamin .…”
Salvatore menyipitkan mata. “Apa maksudmu? Mana Benja?”
Oliviero menunduk dalam. Wajahnya tampak seperti mayat hidup.
Max menaruh kotaknya perlahan di atas meja. “Benja ada di sini,” katanya enteng. “Ada salam dari ayahku, Don Salvatore.”
Salvatore dan Kevin saling melirik. Penuh tanya.
Max mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Apa yang kau tunggu?” tanyanya, lalu tersenyum kecil dan menekan tombol panggilan video. “Bukalah hadiah spesial dari ayahku.”
Sejak awal, Salvatore sudah merasa ada yang tidak beres. Sorot mata Oliviero yang tidak fokus, keringat dingin yang membasahi pelipisnya meski ruangan tak panas, dan tentu saja, kehadiran pemuda asing yang mendadak, dengan senyum menyebalkan dan kotak bakery yang terlalu besar untuk sekadar berisi roti.
Dengan tangan yang mulai bergetar halus, Salvatore membuka tutup kotak itu. Dalam sekejap, aroma anyir yang menusuk tajam menyelusup ke seluruh ruangan.
Kevin langsung menoleh, mencium bau itu, dan wajahnya ikut memucat.
Salvatore melongok ke dalam kotak.
Plastik. Berlapis-lapis plastik yang basah oleh bercak merah. Beberapa bagian sudah mulai menghitam di sudutnya, tanda darah yang mulai mengering. Tapi di bagian tengah, lebih basah, lebih segar, lebih baru, seonggok benda bulat tampak terbungkus sebagian.
Rambut hitam berantakan terlihat pertama kali. Lalu, setelah Salvatore membuka lapisan terakhir plastik dengan gerakan perlahan, seolah tubuhnya enggan mengikuti perintah otaknya, segala yang tersisa dari Benjamin tampak jelas.
Kepala.
Hanya kepala.
Darah mengalir dari dasar kotak, menetes ke meja dan membuat suara pelan seperti tetesan air hujan pertama di musim kemarau. Tapi yang terdengar di telinga Salvatore justru suara detak jantungnya yang memburu dan menggelegar seperti genderang perang.
Kevin terhuyung mundur. Matanya membelalak, mulut terbuka tanpa suara. Dunia seperti berhenti berputar di sekelilingnya.
“Benja …,” desis Kevin, nyaris tak terdengar. Suaranya pecah, seakan seluruh udara tersedot dari paru-parunya.
Antonella terpekur di tempat. Meski ia sempat mendengar kabar mengerikan itu dari Alva, tentang kemungkinan Benjamin tewas di tangan Max, tetap saja, melihatnya langsung adalah mimpi buruk yang jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia bayangkan. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Tubuh Zia gemetar tak terkendali melihat pemandangan mengerikan di depan matanya. Matanya melebar, basah, penuh kengerian yang terlalu berat untuk ditampung oleh seorang gadis muda. “Tuhan …,” gumamnya lirih. Pemandangan itu, kepala Benjamin yang menghuni hatinya belakangan ini, kini tak lagi menyatu dengan tubuhnya, terlalu kejam, terlalu sadis.
Alvaro terpaku, pupil matanya membesar. Dia biasa menghadapi kekerasan. Dia memiliki DNA kuat untuk bertarung, di mana darah adalah harga hidup. Tapi ini … ini melampaui semua batas. Dia tak pernah menyangka bahwa Benjamin, pemuda berkarakter hangat dan yang dia hormati meski dari pihak lawan, akan tinggal kepalanya saja.
Oliviero menunduk, menekuk lutut perlahan, nyaris jatuh. Bahunya berguncang, dan suara napasnya menjadi berat seperti orang tercekik. Dia hampir muntah, hampir menangis. Tapi tak satu pun air mata keluar. Tubuhnya terasa beku. Dalam hatinya, hanya ada satu gema yang menggema berulang-ulang. Ini salahku. Ini semua salahku. Aku lengah. Aku gagal.
Salvatore berdiri kaku, matanya terpaku pada wajah Benjamin, yang kini tak lagi hidup, hanya ekspresi kosong yang membeku dalam kematian mengerikan.
Untuk sejenak, pria sekuat dan setangguh Salvatore Corvino seperti kehilangan napas. Seperti ada sesuatu yang menyedot seluruh kekuatannya dari dalam. Kakinya limbung, nyaris jatuh jika tidak berpegangan pada sisi meja. Napasnya tercekat. Matanya memerah, bukan karena air mata, tapi karena kemarahan yang begitu besar meledak dari dadanya.
Max yang masih memegang ponselnya dalam posisi video call, perlahan menggeser layar agar orang di seberang bisa menyaksikan lebih dekat pemandangan penuh penderitaan ini.
“Lihat,” katanya dengan mata tetap terpaku pada layar. “Kau tidak mau say hi pada ayahku? Ayahku yang malang, yang harus menunggu puluhan tahun lamanya … hanya agar bisa membuatmu merasakan sedikit saja dari apa yang dia rasakan dulu.”
Salvatore mematung.
Suara Max menggema di kepalanya. Ayahku ... menunggu puluhan tahun ....
Dan dalam sepersekian detik, segala potongan masa lalu yang sudah dikuburnya rapat muncul kembali. Nama. Wajah. Sumpah. Darah.
Suara Salvatore keluar parau, hampir tidak terdengar, tapi menyayat ruang dengan kekuatan emosional yang mencekik.
“… Kau … anak Roman .…”
Max menunduk sedikit, tersenyum simpul penuh kepuasan. Wajahnya tak lagi sekadar menampilkan kesombongan, tapi kebencian yang diwariskan, mendarah daging. “Benar,” katanya dengan nada senang, seolah baru saja mengumumkan kemenangannya pada dunia. “Aku keturunan Roman Burgueno. Aku sengaja datang ke sini untuk membalaskan dendam ayahku.”
Dia menoleh ke arah Antonella dan Alva yang masih duduk bersimpuh di lantai. Bibirnya menyeringai lebih lebar. “Oh. Dan mereka ... mereka membalaskan dendam Flavio Maranzano. Tentu Don Salvatore yang agung masih ingat nama-nama yang kusebutkan, bukan?”
Antonella menggeleng-geleng, pelan tapi putus asa. Napasnya mulai memburu, rahangnya menegang, dan jantungnya seakan berdegup terlalu cepat untuk bisa dikejar logikanya.
Benar-benar gila anak Roman ... beraninya bertindak gila seperti ini!! batinnya, nyaris panik. Ia mendongak, suaranya serak tapi tegas, “I got nothing to do with this.”
Salvatore menoleh perlahan ke arahnya, sorot matanya tajam tapi berisi pemahaman mendalam. Tidak ada yang bisa lolos dari sorotan mata seorang Don, terlebih Don yang sedang berduka. “Jadi kamu selama ini … juga mengincar anakku?” Suaranya datar, namun menggigit, seperti silet yang menyayat pelan.
Antonella membalas tatapannya. Ada kilatan sakit, dan rasa bersalah, tapi juga kejujuran. “Aku gak menginginkan ini, Reeve,” katanya pelan. “Tujuanku memang untuk membunuhmu ... bukan untuk membunuh anakmu.”
Max terkekeh kecil, suaranya pahit. “Alah, sama aja!” katanya lantang. “Meski Benja yang mati pun, sang Don akan tetap mati. Mati dalam arti lain. Siapa yang bisa terima anak lelakinya, yang sulung, dipenggal seperti ini?”
Dia melangkah mendekati kotak berisi kepala Benjamin dan menepuk-nepuknya pelan, seolah sedang memamerkan karya seni berdarah. “Oh. Ayahku akan sangat bangga padaku bisa membuatmu seperti ini.”
Tatapan Salvatore kini tak lagi hanya dingin. Dia telah mencapai titik diam paling mematikan. Dia menatap Max seperti seekor harimau tua yang siap menerkam apa pun yang menyentuh lukanya. Tapi dia belum bergerak.
Mungkin belum.
Salvatore berdiri kaku. Tangannya yang berlumuran bercak darah Benjamin masih bergetar halus. Napasnya terdengar berat, nyaris seperti tercekik di tenggorokannya sendiri.
"Roman ...," desisnya, nyaris tak terdengar, lebih kepada dirinya sendiri. "Ini pembalasan yang setimpal, huh?"
Kevin, yang tadi sempat pucat karena shock, kini telah menguasai dirinya kembali. Tatapannya lurus mengarah pada sosok kakak iparnya yang terlihat seperti baru kehilangan sebagian jiwanya. Dia melangkah maju, perlahan, kemudian meraih bahu Salvatore dengan satu tangan penuh empati dan kendali. “Kau istirahat saja,” ujarnya pelan tapi tegas. “Biar aku yang handle.”
Salvatore tidak langsung menjawab. Dia hanya memandang Kevin dengan mata kosong yang masih berkabut oleh kehilangan, sorot pasrah dari seorang raja tua yang akhirnya tersungkur di tengah medan perangnya sendiri.
Kevin membaca sorot itu dengan jelas. Dia tahu, Salvatore tidak akan mampu lagi berpura-pura kuat lebih lama.
“Pergilah,” ulang Kevin, lebih pelan kali ini.
Salvatore akhirnya menarik napas pelan, menunduk tipis sebagai isyarat bahwa dia menyerahkan segalanya. Lalu dia memutar tubuhnya, menyeret langkah keluar dari ruangan. Punggungnya membungkuk sedikit, bahunya berat. Seolah bertahun-tahun dosa dan kematian kini bertumpuk dan menimpanya sekaligus.
“Lho … filmnya kelar?” Suara Max meluncur sinis, menembus sunyi yang tersisa.
Kevin tak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, misterius. Senyum milik predator yang baru saja diberi izin untuk berburu. Perlahan, dia menunduk, menutup kembali kotak bakery itu dengan dua tangan. Bahkan dia sendiri sedikit terkejut betapa tenangnya tangannya bergerak. Tapi mungkin, kemarahan yang terpendam ... kehilangan yang terlalu dalam ... membuat setiap tindakannya kini jadi nyaris mekanis. Penuh perhitungan. Penuh niat.
“Yah, nggak seru ah.” Max mencibir, mencoba tetap terlihat dominan. “Cuma segini aja, nih?”
Kevin mengangkat kepalanya. Tatapannya tajam, dingin, dan ... mematikan. Dia memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya. Dan seolah sudah mengatur semuanya sejak awal, pada saat bersamaan, pintu belakang terbuka lebar.
Selusin pria berbadan besar dan bersetelan gelap masuk dengan cepat. Anak buah Kevin. Mereka tidak bicara sepatah kata pun, langsung bertindak. Dua orang memelintir tangan Max ke belakang dengan kasar, membuat si pemuda itu tersentak kaget.
Sekilas, tak ada yang mencolok dari mereka. Hanya para eksekutor profesional yang sudah terbiasa bekerja dalam diam. Tapi bila diperhatikan lebih dekat, ada simbol yang tampak berulang: seekor phoenix merah berselubung api, terselip halus di manset jas salah satu dari mereka. Simbol yang sama tampak lebih jelas di lengan seorang pria yang sengaja mengenakan lengan pendek, memperlihatkan tato phoenix merah menyala yang melilit lengan seperti peringatan hidup.
“Hei! Apa-apaan ini?! Lepas! Lepas!!”
Teriakan Max tenggelam dalam suara desahan Antonella dan Zia yang masih syok. Oliviero, yang sedari tadi berdiri terpaku seperti zombie, juga langsung ditarik ke tengah ruangan. Tangan diikat ke belakang, dipaksa berlutut. Wajahnya masih terlihat kosong, nyaris beku. Seolah baru sekarang rasa bersalahnya menghantam sepenuhnya. Dia tidak melawan. Tidak bisa.
Kini mereka semua sejajar di lantai. Antonella, Zia, Alva, Oliviero … dan Max.
Kevin melangkah pelan ke arah Max. Salah satu anak buahnya menyodorkan ponsel Max, yang tadi digunakan untuk video call. Tanpa sepatah kata pun, Kevin menatap layar yang sudah gelap itu … lalu membanting ponsel itu ke lantai keras-keras hingga pecah menjadi serpihan.
“Permainan selesai, anak Roman,” gumamnya datar. Tapi justru karena nadanya yang dingin, kalimat itu terdengar seperti vonis dari neraka.
Kemudian dia menoleh ke anak buahnya, masih dengan wajah tanpa ekspresi.
“Ikat dia,” perintahnya.
Max memberontak. “Hei! Kau pikir ini semua bisa berhenti gitu aja?! Ayahku masih hidup! Dia akan—”
Sebuah hantaman senapan dari belakang membuatnya ambruk berlutut.
Kevin tidak menoleh lagi. Dia sudah mengambil alih pertunjukan. Dan pertunjukan ini … baru saja dimulai.
Bab 37 – Pengadilan
Langkah Salvatore terseok memasuki rumah. Sepatu kulitnya yang mahal kini kotor bercampur debu dan darah, tapi dia tak peduli. Kepalanya tertunduk, napasnya pendek-pendek. Tangannya yang masih bergetar menekan dada, seolah rasa sesak itu bukan cuma dari kesedihan, tapi dari sesuatu yang jauh lebih dalam … kehancuran.
Begitu melewati lorong, dia mendapati Nicoleta berdiri di dekat pilar marmer, wajahnya tegang. Suara-suara di luar tadi membuatnya keluar dari kamar, dan kini ia berdiri tepat di tengah jalan Salvatore, dengan alis bertaut dan sorot mata yang penuh kecemasan.
“Sayang, ada apa?” tanyanya langsung. “Kenapa di luar ribut sekali?”
Salvatore menatapnya sekilas. Mata pria itu merah dan kosong. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya, hanya satu tarikan napas panjang yang tidak berhasil menjernihkan pikirannya. Dia sempat membuka mulut, seperti hendak bicara … tapi tak ada suara.
“Salvatore?” Nicoleta melangkah maju, menatap lebih lekat. Baru kali ini ia melihat suaminya seperti ini. Bukan marah, bukan kalap … tapi benar-benar kehilangan kekuatan hidup. “Apa yang terjadi di luar?” tanyanya lagi, lebih pelan, sembari memegang tangan suaminya. “Kenapa bajumu ... ada darah? Apa yang terjadi??"
Salvatore mengerjap, lalu buru-buru menunduk, seperti baru sadar bahwa tubuhnya masih membawa jejak tragedi. Dia mencoba mengangkat tangannya, mungkin untuk menyentuh pipi Nicoleta, atau sekadar menenangkan dirinya sendiri, tapi hanya separuh jalan. Ujung jarinya nyaris menyentuh, sebelum akhirnya cengkramannya pada tangan Nicoleta perlahan terlepas.
“Aku ...,” gumamnya, nyaris tak terdengar.
Namun kata itu tidak pernah selesai.
Dia mundur. Pelan. Lalu melewati Nicoleta dan menuju ruang kerja.
“Sayang ...,” panggil Nicoleta, ikut mengejar.
Salvatore tidak menjawab. Dia hanya membuka pintu ruangannya dan masuk, tapi sebelum bisa menutupnya sepenuhnya, suara Nicoleta kembali terdengar. Kali ini lebih mendesak, lebih bergetar.
“Sayang, kamu tahu ... sejak tadi pagi aku merasa tidak enak. Jantungku gelisah, aku cemas tanpa tahu kenapa. Aku berusaha mengabaikannya, tapi sekarang … setelah melihatmu seperti ini ….” suaranya tercekat, “aku tahu, sesuatu yang buruk telah terjadi.”
Pintu itu masih setengah terbuka.
“Kalau ada yang harus aku ketahui … please,” suara Nicoleta kini hampir berbisik, “bicaralah padaku.”
Salvatore berhenti sejenak di balik pintu. Punggungnya menegang, tubuhnya tak bergerak, seolah menahan tsunami emosi yang belum sempat keluar sejak tadi.
Dia sadar ... istrinya pun merasakan firasat yang sama.
Dan itu justru membuatnya semakin tidak kuat.
Dia hanya menggeleng pelan, lalu mendorong pintu ruang kerja perlahan. Tanpa kata, tanpa isyarat, dan menutupnya rapat dari dalam.
Klik.
Suara kunci diputar.
Nicoleta menatap pintu yang kini terkunci dengan tatapan berkabut. Ada sesuatu di luar sana yang telah mengoyak hidup mereka … dan Salvatore memilih memendamnya sendiri.
Tapi satu hal kini ia yakini sepenuhnya: Apa pun yang terjadi di luar … itu bukan hal kecil.
---
Di ruang penyekapan yang kini hening bagai ruang penghakiman, Kevin melangkah perlahan, mata tajamnya menyapu barisan orang-orang yang duduk bersimpuh di lantai, tangan terikat ke belakang. Seolah satu per satu wajah itu akan dia kuliti tanpa perlu menyentuh mereka. Pandangannya berhenti pada Antonella.
Dia berjongkok di depannya.
“Nggak seperti yang kita bicarakan,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Kau menipuku.”
Antonella menyipitkan mata. Napasnya masih memburu karena adrenalin, tapi sorotnya tetap tajam. “Aku menipu? Kau yang penipu di sini. Selama ini kau sebenarnya di pihak Salvatore, kan? Aku bisa lihat dari caramu bersikap padanya. Kau tampak seperti mendukungku, tapi ternyata semua ini cuma trik menjebakku.”
Kevin mendengus pelan. “Itu basa-basi. Strategi. Hal remeh yang bahkan tak layak kujelaskan. Aku mendukungmu untuk menaklukkan dia, Antonella. Tapi sekarang? Malah kau yang ditaklukkan.”
Antonella menelan ludah.
Kevin menggeleng pelan, kecewa. “Bisa apa kau sekarang? Katamu tak akan menyentuh Benja. Tapi lihat ... lihat apa yang terjadi."
Dia menunjuk ke arah kotak penuh darah di tengah ruangan. "Dia keponakanku. Anak dari kakakku! Kamu pikir aku akan tinggal diam setelah melihat dia tidak utuh lagi? Kamu pikir aku akan tetap bermain cantik?”
Suaranya mulai naik, dan Antonella mulai goyah. Wajahnya penuh tekanan.
“Ini bukan aku ...,” bisiknya nyaris putus napas. “Kevin, aku tidak bohong. Aku memang tidak pernah menjadikan Benja sebagai target ....”
Suara Alva terdengar dari sisi lain. “She’s telling the truth, Kevin.”
Kevin melirik sekilas ke arah Alva. “Lalu?”
Antonella menatap Max dengan penuh kemarahan dan rasa dikhianati. “Aku gak pernah suruh Max! Aku bahkan nggak tahu dia punya rencana segila ini!” Suaranya pecah jadi teriakan. “Max! Bukankah kita sepakat? Jangan sentuh Benja! Kenapa kau malah ...!”
Max menatap Antonella dengan senyum licik yang menyesakkan dada siapa pun yang melihatnya. “Aku tidak harus menurutimu. Aku hanya menjalankan perintah dari Roman Burgueno.”
Antonella nyaris histeris, menyadari ternyata Roman memberi perintah lain pada Max, tanpa sepengetahuannya. “Kau dan Roman memang sama gilanya! Aku menyesal membawamu ke sini!”
Max mengangkat bahu santai, lalu menyeringai. “Oh, va fangool.”
“Enough!!” Kevin membentak keras. Suara rendahnya menggema, memotong semua yang ada di ruangan.
Dia menghela napas panjang, lalu menatap Alva. “Kau sendiri? Tahu soal rencana Max?”
Alva menggeleng cepat. “Seandainya aku tahu,” gumamnya tajam, “sudah kubuat Max sleeping with the fishes.”
Kevin menatapnya lekat. “Kau sadar situasinya, anak muda? Sebaiknya kau berkata jujur."
“Untuk apa aku bohong?! Aku total mendukung Antonella. Apa pun yang dia perintahkan, aku turuti. Dia bilang targetnya hanya Salvatore, ya cuma itu yang kupikirkan.”
Kevin menatapnya lama, dan dia tahu Alva tak berbohong. Anak muda itu punya kebencian, tapi bukan pada Benjamin. Bukan yang bisa sampai membuatnya merancang penyiksaan seperti itu.
Kini Kevin menoleh pada Zia. Nada suaranya sedikit melunak. “Aku nggak sangka akan bertemu lagi denganmu dalam situasi seperti ini, Zia. Ada yang ingin kau sampaikan?”
Zia terisak, tubuhnya sedikit gemetar. “Benjamin ... sedang menunggu jawaban apakah aku mau jadi pacarnya atau tidak. Aku ... mengulur waktu karena aku belum yakin .... Tapi belakangan aku sadar, aku juga cinta Benja ....” Suaranya pecah. “Apa aku kelihatan seperti orang yang tega melakukan hal sekeji itu padanya?!”
Kevin menarik napas dalam. Kata-kata Zia menghantam sisi hatinya yang masih punya sisa kasih.
“Jadi ... kau kehilangan Benja.” Nada suaranya kini berat.
Zia menjawab nyaris berteriak, “Menurutmu?!”
Tanpa sadar, Kevin meraih puncak kepala Zia dan mengelusnya perlahan. Gerakan itu begitu hangat, seperti seorang ayah yang tak ingin putrinya larut dalam rasa duka yang mendalam. “Please be strong, sweety.”
Antonella ikut bicara, suaranya kali ini lebih tenang, seperti seseorang yang tahu hidupnya akan berakhir tapi ingin menyelamatkan satu nyawa. “Bebaskan Zia, Kev. Dia terlalu innocent. Iparmu menolak membebaskannya padahal dia bilang anggap Zia seperti anak ....”
Kevin mengangkat alis, lalu menatap Zia. “Sudah dapat papa baru rupanya?”
“Will you please?” tanya Antonella sekali lagi.
Kevin mendengus, tidak menjawab, tapi juga tidak menolak. Dia lalu beralih pada Oliviero.
“Kamu? Apa peranmu? Bukankah tugasmu melindungi Benjamin?”
Oliviero mengangguk pelan, wajahnya menegang. “Saya bersalah ... telah lengah," ujarnya dengan nada sedikit bergetar.
“Jadi kau mengaku?” Nada Kevin kembali keras.
“Saya mengakui saya lengah,” ulang Oliviero, menunduk. “Max memanfaatkan kelengahan saya, tapi saya tidak terlibat dalam rencananya. Saya bersumpah.”
“Kenapa kau bisa lengah?” Suara Kevin tajam seperti pisau. “Sel otakmu kurang? Tidak tahukah kau, seorang pria tidak bisa ceroboh! Kelengahanmu menyebabkan gugurnya seorang anak laki-laki yang punya masa depan!”
Oliviero mengepal tangannya kuat-kuat dari balik punggung. “Saya berutang budi pada Benja ... dan pada Don. Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benak saya untuk mengkhianati mereka! Tapi ... ya, saya bersalah karena lengah. Saya terima apa pun hukumannya.”
Alva, yang sedari tadi diam, menatap Oliviero lekat. Kali ini, untuk pertama kalinya, dia menyadari identitas "Saxon" yang menghuni kesadaran Oliviero sudah terfusi menjadi the real Oliviero. Sosok yang menyesal ... tapi jujur.
Oliviero mengangkat wajahnya, napasnya masih belum teratur sejak tadi. Suaranya serak, pelan, tapi jelas. “Saya terlambat menemukan Benja … itulah yang terjadi. A-Anda bisa mengecek ponsel saya .... Saya sempat merekam kejadian pasca Max melakukan itu.”
Kevin menatapnya tajam. Tanpa perlu memberi aba-aba, dua orang anak buahnya langsung bergerak, merogoh saku celana Oliviero. Mereka menemukan ponsel itu, dan segera menyerahkannya kepada Kevin.
Pria itu menerima perangkat tersebut, mengusap layarnya dengan ibu jari sebelum membuka galeri. Video yang dimaksud langsung terpampang di hadapannya. Goyangan gambar, suara napas terengah-engah, dan adegan yang sempat terekam cukup untuk menyesakkan dada siapa pun yang menontonnya. Meski gemetar dan panik, si perekam tetap menjaga akal sehatnya agar kejadian itu bisa terdokumentasi.
Kevin menghela napas panjang, menahan amarah sekaligus rasa getir yang tak bisa dia sembunyikan. Tangannya menurunkan ponsel perlahan.
Max, yang bersimpuh di sebelahnya, menyeringai tipis. “Pintar juga kau, Oliviero.”
Alva menimpali dengan nada tajam. “Ollie memang pintar. Tidak seperti seseorang yang dengan tololnya malah membawa hasil kejahatannya sendiri ke ayah korban.”
Max tak kehilangan senyum sinisnya. “Setidaknya ayahku bangga padaku. Kau? Ayah saja nggak punya.”
Alva menggeleng, menatap Max seolah menyaksikan spesimen aneh dari spesies yang seharusnya punah. “Lihat. Ketololan yang hakiki saat nyawanya di ujung tanduk.”
“Cukup!!” bentak Kevin, gusar. Dia kembali menatap Oliviero. “Hukuman spesial untukmu. Hanya Salvatore yang berhak memutuskan nasibmu.”
Oliviero menunduk dalam. Tak membantah. Tak membela diri.
Kevin lalu mengalihkan pandangannya ke Max, mendengus pelan. Tatapannya tajam, penuh muak, seolah kehadiran pria muda itu sendiri sudah merupakan penghinaan bagi tempat itu. “Bintang kejahatan utama kali ini datang dari keturunan Burgueno.”
Max menatap balik, matanya menantang.
“Bukankah kau juga yang berada di balik penganiayaan Denver Jr.?” lanjut Kevin. “Karena putriku menolakmu, lalu kau bertindak di luar nalar. Jejak DNA Burgueno nyata terlihat.”
“Kau tak pantas menghakimi orang sepertiku,” jawab Max, suaranya tenang tapi mengandung bisa.
Kevin tertawa kecil, sinis, mencemooh. “Biarkan aku bertanya, pernahkah kau, sekali saja, menyadari apa yang kau perbuat? Denver Jr., keponakanku itu, sekarang terbaring koma. Entah kapan dia akan bangun. Atau apakah dia bisa bangun lagi atau tidak ….” Dia menunjuk dada sendiri, menahan emosi yang menggelegak. “Dan putriku, Lenice, berduka gara-gara itu. Lalu sekarang, kau menghilangkan nyawa keponakanku yang lain. What a piece of shit.”
Dengan geram, dia menudingkan jarinya ke wajah Max. “Tampaknya menyenangkan bisa menyiksamu sesaat lagi. Anak tengil congkak sepertimu wajib kuberi pelajaran khusus.”
Kevin bangkit dari jongkoknya. Dia bersedekap, sikapnya mengeras. Aura penguasa melekat kuat. “Para begundal yang terlibat dalam kejadian ini nggak akan bisa melihat lagi matahari terbit. Dan kalian,” dia menunjuk satu per satu—Alva, Oliviero, lalu Max—“bocah-bocah cecunguk nggak tahu adat, bersiaplah menyambut neraka dunia.”
“Tunggu!” Antonella berseru lantang. “Alva nggak punya kesalahan. Oliviero juga. Jelas yang bertingkah hanya Max. Dan aku juga menyumbang sekian persen karena membawa Max ke sini. Kalau kau mau menghukum, hukumlah aku.”
Kevin tersenyum miring. “Tentu, kesayanganku. Kamulah yang akan kuberi hukuman paling spesial ….” Dia melangkah mendekati wanita itu. “Kalau dipikir, sampai sekarang aku belum menggenapi perintah Komisi untuk take the woman out of business. Kurasa sekaranglah saatnya.”
Dia memberi isyarat. Anak buahnya segera melepaskan ikatan di tangan Antonella. Dalam sekejap, Kevin mencengkeram pergelangan Antonella dan menariknya pergi.
“Jangan hukum Antonella!” teriak Alva. “Dia nggak bersalah! Aku saja yang terima hukuman!”
“Diamlah, Alva!” Antonella menoleh, mata dan suaranya penuh ketegasan. “Jangan dengarkan dia, Kevin.”
Namun Alva semakin kalap saat melihat Antonella benar-benar dibawa paksa.
Dia melangkah maju setengah badan. Napasnya tak beraturan, kedua tangan terikat, tapi matanya tak kehilangan nyala. Dengan suara serak tertahan, ia berteriak.
"Jangan sakiti dia … Kevin, lepaskan Antonellaku!"
Teriakan itu membuat Antonella mendongak refleks, menatap Alva seolah tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Matanya membelalak, bibirnya sedikit terbuka, sementara Kevin menghentikan langkahnya dan menoleh. Alisnya terangkat heran, dahi mengernyit, menyelidiki kebodohan macam apa yang barusan dilontarkan bocah itu.
Alva menunduk sesaat, lalu menatap lurus ke arah Antonella. Tak ada lagi yang bisa disangkal. Tak ada lagi yang bisa disimpan.
"Aku mencintaimu, Antonella … aku tahu kamu tanteku. Tapi … tapi aku nggak peduli."
Antonella bergeming. Wajahnya memucat, tubuhnya limbung. Zia menatap Alva dengan ekspresi horor, matanya tak berkedip, seolah baru saja menyaksikan sebuah kesalahan fatal yang tak akan bisa diperbaiki.
Kevin bersiul pelan, lalu menatap Antonella dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kamu ini memang adorable dan lovable …. Bahkan sampai bisa dicintai keponakan sendiri," ujarnya dingin, lalu mencengkeram tangan Antonella lebih keras dan menariknya dengan kasar.
"Antonella!" Alva meraung, tubuhnya menegang, "Jangan bawa dia, bajingan kau! Lepaskan dia! Kevin! Kalau kau berani menyentuh dia, aku bersumpah akan membalas semuanya!"
Kevin menghentikan langkahnya, lalu menoleh pelan. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Bukan senyum ramah, lebih seperti cemoohan yang berbalut kekuasaan.
"Woah. Bocah ini memang punya nyali, ya? Nggak mengherankan. Keturunan Flavio."
Bab 38 – Benjamin …?
Langkah mereka kembali berlanjut. Koridor itu terasa lebih dingin daripada biasanya, temaram, sunyi. Suara sepatu yang menapak lantai marmer menggema dalam ketegangan. Tapi baru beberapa langkah dari ruang interogasi, sosok Salvatore muncul dari balik lorong, berjalan seperti mayat hidup yang kehilangan arah.
Wajahnya pucat, matanya kosong, tubuhnya seperti ditarik oleh rasa duka yang belum sempat dirasakan sepenuhnya. Tapi saat melihat Antonella diseret Kevin, dia agak tersadar.
"Kenapa wanita ini kau lepaskan?" tanyanya pelan, nyaris tanpa emosi.
Kevin menatapnya sebentar, lalu menjawab dengan suara tegas, tenang, tapi tetap mematikan. "Aku yang akan urus ini. Kau istirahat saja. Percayalah padaku."
Salvatore hanya berdiri diam. Sorot matanya seperti kaca pecah. Rapuh, tapi masih berusaha menahan. Dia menggeleng pelan, nyaris tidak terlihat.
"Camila belum tahu …," katanya lirih. "Aku nggak sanggup memberitahunya soal ini."
Kevin langsung terdiam. Sorot matanya berubah. Dia terlalu sibuk dengan hukuman dan interogasi, sampai lupa bahwa masih ada luka yang lebih besar, yang akan muncul begitu Camila tahu. Kakaknya. Ibu Benjamin.
"Kalau Camila sampai tahu … dia bisa hancur," gumamnya, nyaris tak terdengar.
Salvatore menatap lurus ke depan, tapi fokus matanya entah ke mana.
"Aku tahu. Benja itu segalanya buat Cami. Mana mungkin aku tega membiarkannya melihat keadaan anaknya seperti itu?"
Kevin mengembuskan napas panjang. Perlahan. Lelah.
"Aku juga nggak ingin melihat Camila hancur. Tapi ini semua udah terjadi. Kita bisa apa?"
Tak ada yang menjawab. Hanya keheningan meresahkan yang menggantung di antara dua pria yang sama-sama kalah dalam perang ini. Bukan karena mereka tak berkuasa, tapi karena mereka manusia yang sedang dihantam kehilangan yang tak bisa ditebus.
Antonella berdiri membisu. Matanya menyapu dua pria yang berdiri berhadapan tapi begitu berbeda, Salvatore dengan wajah pasi dan jiwa yang separuh mati, Kevin dengan sorot dan logika tajam yang kini berbagi beban yang sama dengan Salvatore.
Ia menghela napas pelan, lalu berbisik, seperti mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak pernah dikatakan manusia waras. "Hidupkan Benja kembali."
Salvatore menoleh cepat, seolah barusan mendengar kalimat paling absurd dalam hidupnya. Dia menatap Antonella lama, menanti penjelasan, atau barangkali pengakuan bahwa itu hanya lelucon buruk.
Kevin malah berdecak sambil menyandarkan tangan ke pinggang. "Come on now. Bisa nggak sih, sekali saja, kamu nggak ikut campur urusan keluarga? Ini urusan laki-laki."
Antonella menggeleng, bibirnya tersenyum miris. "Bukan saatnya mengeluarkan kartu patriarki padaku, Kevin. Dan aku serius. Kalian tahu sendiri itu bisa dilakukan. Dicopy. Klon."
Ada jeda. Sejenak hanya ada suara jam dinding dan napas tertahan.
Mata Kevin menyipit, lalu berbinar. Otaknya bergerak cepat, memindai kemungkinan.
Salvatore memicingkan mata, dingin. "What are you saying? Klon? Over my dead body."
Antonella tertawa kecil, tanpa humor. "Yaa yaa, memang seharusnya saat ini kamu yang mati, Reeve. Bukan anakmu."
Kevin mengangkat tangan pelan, berpikir keras. "Untuk fisik, oke lah … bisa direka-reka. Tapi bukankah butuh mind transfer agar klon bisa 'hidup'? Sementara yang asli … kita tahu sendiri, kurasa nggak akan bisa."
Antonella menatap Kevin tajam, lalu dengan dingin menjawab, "Coba ajukan. Tanyakan dulu. Siapa tahu bisa kalau induk sudah nggak bernyawa, atau siapa tahu mereka punya solusi lain. Kecuali kalian memang berniat memberitahu Camila bahwa di luar ada kepala anak kesayangannya ... di dalam kotak kue."
Salvatore mendengus marah. "Terima kasih atas saran yang sangat tidak membantu. Dan kalau dipikir-pikir, ini semua berkatmu."
"Sasaranku cuma kamu," sahut Antonella cepat. "Bukan Benja. Kau tahu itu."
Kevin menatap Salvatore, nadanya berubah lebih tajam, nyaris seperti ultimatum. "Reeve, kau nggak ingin mencoba? Aku lebih baik mencari jalan lain daripada harus melihat kakakku remuk. Hancur. Camila bukan tipe yang bisa bertahan dengan kehilangan seperti ini."
Antonella mendongak, suara lirihnya berubah pelan-pelan menjadi luka yang terucap. "Camila pasti kena mental …. Aku memang belum pernah punya anak sendiri, tapi aku pernah merawat dua anak peninggalan kakakku. Mereka kupanggil anak. Mereka kusekolahkan. Mereka kutangisi. Kalau anak yang selama ini kuasuh dan kusayang ditemukan dalam keadaan seperti Benja …." Ia berhenti, mengatupkan bibir, matanya berkaca. "Duniaku pasti runtuh. Dan mungkin … aku nggak akan pernah bisa pulih."
Ia menoleh pada Salvatore, menatap pria itu dalam-dalam. "Kalau kalian tahu seperti apa nasib Olivia Campbell sekarang. Sejak Christopher tewas, dia bukan manusia lagi. Hanya tubuh bernapas. Tidak hidup. Dan kau, Reeve … kau memang benar-benar keji."
Salvatore hanya diam. Wajahnya tak berekspresi, tapi matanya … kosong.
"Memang," katanya akhirnya, suaranya pelan. "Apa pun katamu. Ini pembalasan ideal dari Roman buatku."
Kevin menatap mereka bergantian, frustrasi. "Yang jelas, aku nggak akan biarkan Camila berubah jadi Olivia kedua, oke? Kau mau melihat istrimu jadi mayat hidup seperti itu? Kau lihat dirimu sekarang. Kau bahkan sudah setengah jalan ke sana. Kau zombie, Reeve. Tanpa jiwa."
Salvatore tetap diam. Bahkan mungkin sudah tidak ada ruang di dalam dirinya untuk menjawab.
Kevin mengembuskan napas kasar. "Pertimbangkan sekali lagi. Putuskan segera. Kita nggak bisa menyembunyikan Benja lama-lama."
Tiba-tiba, ponsel Kevin bergetar. Dia menoleh, melirik layar sebentar, lalu melangkah menjauh tanpa banyak bicara. Sisa dari percakapan ini … dibiarkan menggantung di udara, seperti ancaman yang belum selesai ditagih takdir.
Dia menggeser layar dan menyandarkan ponsel ke telinga. Suaranya tetap tenang, meski pikirannya masih penuh dengan perdebatan yang belum selesai.
“Hey, sweetheart … Daddy sedang repot, nanti Daddy telepon lagi, ok?”
“Daddy … sebentar sajaa,” rengek suara di seberang sana, lembut tapi manja, seperti biasanya.
Kevin tersenyum kecil meski lelah. “Baiklah. Ada apa?”
“Transferin aku, Dad …. Aku mau traktir teman-teman sarapan. Mereka udah baik banget mau temenin aku di rumah sakit.”
Kevin mengernyit pelan. “Lenice, sweety … kamu masih aja standby di sana? Bagaimana kabar Denver Jr.?”
“Masih belum ada perubahan, Dad. Aku juga gak tega tinggalin sepupu Daddy, Aunty Jessica. Aunty cuma mau bicara sama aku. Daddy ingat kan, waktu aku cerita, Aunty Jessy marah bukan main sama Uncle Denver?”
Kevin menghela napas panjang, berat. Dia melirik ke lantai, kosong, seolah mencari jawaban di antara debu yang tak terlihat. Hatinya mulai disesaki kesadaran pahit yang tak bisa dia sangkal.
Tidak sepupuku, tidak kakakku sendiri … sama-sama tertimpa musibah berat. Anak dan keponakan-keponakanku terkena imbas. Roman … gen macam apa yang kau wariskan ke monster itu?
“Hallo? Dad? Do you hear me?” Suara Lenice kembali memanggil.
Kevin tersentak dari pikirannya. “Yeah. Daddy dengar, Sayang. Lalu, kamu semalam ditemani teman-teman? Dan sekarang mau traktir mereka? Boleh, Sayang, sekalian cari udara segar. Sebentar lagi Daddy transfer, ya. Mereka teman kampus?”
“Bukan, Dad. Geng baru aku. Dad udah familiar kok. Saxon, Benja, Emmeline.”
Kevin membeku.
Untuk sesaat, waktu seperti berhenti berdetak.
Dia menelan ludah, lambat, dingin. “Tunggu. Apa katamu? Dengan … Benja?”
“Iyaa,” jawab Lenice santai. “Sebenarnya kurang lengkap sih, nggak ada Alva dan Zia. Aku telepon mereka tapi nggak angkat. Tapi ya nggak apa-apa, yang ada aja.”
Napas Kevin tercekat.
“B-Benjamin ada di sana??”
Pertanyaannya terdengar jauh lebih keras daripada niat awalnya. Dia spontan berbalik, menatap Salvatore dan Antonella yang kini berdiri kaku seperti patung. Mereka menatap tanpa kedip, seakan apa yang mereka dengar terlalu mustahil untuk menjadi nyata.
“Kenapa sih, Dad? Kayak kaget gitu?” tanya Lenice polos.
Kevin mencoba menguasai suaranya yang mulai gemetar. “Lenice … nyalakan videomu. Daddy mau lihat Benjamin.”
Tanpa curiga, Lenice mengaktifkan video. Kamera bergoyang sebentar sebelum akhirnya menangkap suasana sekitar. Ada deretan kursi tunggu rumah sakit, cahaya pagi, dan beberapa dewasa muda yang duduk bercanda pelan. Lalu, satu wajah muncul di layar.
“Daddy … jangan-jangan Daddy pikir aku bohong, ya?” Lenice mengernyit. “Daddy gak percaya kalau aku mau jalan sama mereka?”
“Bukan begitu, Sayang,” gumam Kevin sambil perlahan mengunjukkan layar ponselnya pada Salvatore dan Antonella.
Antonella membeku. Napasnya tercekat, wajahnya sekilas memucat, seperti melihat hantu di siang bolong. Bibirnya bergerak nyaris tanpa suara.
“How come … tadi kan … tadi kan yang …,” bisiknya, matanya perlahan menoleh ke arah Salvatore, penuh kebingungan yang menusuk.
Salvatore tak menjawab. Wajahnya kosong. Lalu perlahan, tubuhnya bergetar, bibirnya mengatup keras.
“Itu … itu kepala anakku ….” Suaranya parau, nyaris tercekat di tenggorokan. “Kepala asli. Aku memegangnya. Aku menghidu anyir darah dari paket itu … A-apa-apaan ini ….”
Kevin mengerjap cepat. Otaknya bekerja lebih cepat dari biasanya.
“Lenice … can I talk to Benja for a minute?” pintanya setelah mengarahkan lensa kembali pada dirinya sendiri.
“Okay, Dad,” sahut gadis itu ceria. Layar berganti, berpindah wajah.
Seseorang muncul di balik kamera, tersenyum cerah.
“Hi, Uncle Kev! What’s up?”
Kevin membatu.
Wajah yang baru saja dia lihat terpenggal dalam kotak kini muncul hidup-hidup di layar ponsel. Tak hanya hidup. Wajah itu tersenyum, ramah, berbicara seolah tak terjadi apa-apa.
Di sampingnya, Antonella dan Salvatore ikut mengintip layar. Mata mereka terpaku, pupil membesar. Tak ada satu pun kata keluar dari mulut mereka.
Hanya keheningan yang tertinggal, begitu tebal sampai bisa mengiris udara.
Dan senyum Benjamin … tetap tak berubah.
“Wah, Papa?” Suara Benja terdengar ceria lewat layar ponsel. “Kalian lagi ketemuan, ya?”
Salvatore tak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik. Matanya berkaca-kaca, rahangnya mengatup erat, antara harapan dan trauma yang baru saja dia hadapi. Tubuhnya sempat oleng sedikit, namun dia cepat menegakkan punggungnya, mencoba menyalakan nyala di matanya yang sempat padam.
“Benja …,” bisiknya dengan suara parau. “Is it really you?”
Benja mengerutkan dahi, lalu tertawa kecil. “Why … what happened, Pa?”
Salvatore maju selangkah, menatap layar seolah jarak fisik bisa runtuh hanya dengan keyakinan. “Ben … Benja. Kalau kau memang benar Benja putraku, tentu kau ingat pesanku saat kita berdua terakhir berdiskusi di ruanganku. Kau ingat … saat aku menceritakan masa laluku?”
Benja diam sebentar, terlihat berpikir. Lalu dia mengangguk pelan. “Tentu. Papa bilang ... If I don't have respect, it means I have nothing. And respect is earned, not given.”
Salvatore langsung lemas. Seluruh tubuhnya lunglai, tapi bukan karena lelah, melainkan lega. Rasa lega yang menyerbu hingga membuatnya sulit berdiri tegak. “You are my son ….”
Namun Benja mulai menyipitkan mata. Pandangannya berubah sedikit serius, lalu dia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan teman-temannya tidak mendengarkan.
“Pa,” bisiknya, menjauh dari keramaian. “Apa … kau baru saja bertemu sosokku yang lain?”
Salvatore mengerutkan alis. “Apa … maksudmu? Sosok lain? Jelaskan.”
Benja menarik napas pelan. Tatapannya menyesal, tapi juga seolah sudah siap dengan respons apa pun yang akan muncul. “Yah … aku udah tahu, pasti nggak akan bisa lama menyembunyikan ini dari Papa ….”
“Jelaskan sekarang, Benjamin.”
“Maaf, Pa. Aku minta maaf sebelumnya. Aku tahu Papa nggak suka dengan segala bentuk perkloningan. Tapi … aku malah bikin satu klon buat diriku sendiri.”
Hening.
Sangat hening, bahkan napas Salvatore terdengar seperti badai.
“Aku cuma penasaran seperti apa rasanya punya klon. Bukan maksud apa-apa ….”
Salvatore hanya menatap layar, tak berkedip. Tak berkata.
“Pa … are you mad?”
Masih belum ada reaksi.
Salvatore akhirnya bersuara, datar. “Jadi kamu membuat klon. Kapan?”
“Pas aku ke New Yord kemarin,” jawab Benja dengan sedikit cengengesan.
“Kamu bilang izin ke sana untuk nonton konser.” Suara Salvatore mulai meninggi, pelan namun mengancam.
“Yah, aku memang nonton konser. Foto-fotonya juga Papa like di IG aku, kan?” Benja mencoba senyum, namun jelas rasa bersalahnya tak bisa ditutupi. “Tapi … selain itu … aku sekalian ... euh ….”
Salvatore menarik napas panjang, menahan amarah yang sudah mulai menggumpal di dada.
“Begitu,” gumamnya, seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Pa, please lah … jangan marah. Aku bikin klon cuma buat have fun.”
“Naif,” desis Salvatore. “Kita bicara lagi nanti.”
“Siap,” ucap Benja cepat, seperti anak kecil yang tahu akan dimarahi setelah bermain hingga terlalu larut.
“Siapa saja yang tahu soal ini?” tanya Salvatore lagi.
“Baru Papa seorang. Tapi karena Papa lagi sama Uncle Kevin … ya berarti dia masuk hitungan.”
“Jadi belum ada yang tahu.”
“Aku belum kasih tahu siapa pun. Tapi karena Papa udah tahu, sekarang aku nggak perlu main kucing-kucingan lagi. Palingan aku sekalian ngetroll temen-temen aja! Biar seru!” Benja tertawa sendiri. “Mereka pasti surprise lihat Benja ada dua! Woahh!”
Salvatore memejamkan mata sejenak. Lalu satu pertanyaan terakhir keluar dari mulutnya, berat seperti batu. “Kamu anakku … atau klon?”
Benja mengangkat alis dan menyeringai. “Keliatannya gimana?”
Salvatore mendesis, wajahnya dingin. “Saya sedang nggak selera bercanda. Jawab.”
Benja terdiam. Lalu mengangguk pelan. “Pa, kau sedang sensitif. Oke. Aku klon.”
Salvatore mengembuskan napas panjang, namun kali ini tak lagi lega. Yang tersisa hanya kekecewaan.
“Benja yang asli lagi piknik hiking. Katanya mau tiga harian. Nah … selama dia nggak ada, aku deh yang take over.”
“Hiking?” Salvatore mengulang, seolah kata itu terdengar asing di telinganya.
“Hiking. Bareng sama si Oliviero, kok. Aman.”
Kevin hanya bisa geleng-geleng kepala. Di sampingnya, Antonella menghela napas panjang seperti baru saja lari maraton emosional.
Salvatore menekan pelipisnya, kepala terasa pening.
“Kamu pulang sekarang.”
Benja mengerutkan kening. “Eh? Ada apa sih? Papa terlihat aneh.”
“Kamu. Pulang. Detik ini juga.”
Benja menegang, lalu menjawab pelan. “A-alright ….”
Comments
Post a Comment