TDR (5-6) | INA

Bab 5 – Sugar Baby and Sugar Daddy

"Vince, ke mana mereka??" Alva menerobos masuk ke dalam ruangan tempat dirinya dan Vincenzo memantau pertemuan Antonella dan Kevin melalui kamera pengawas. Belum ada lima menit berlalu semenjak Alva keluar untuk mengawal pasca pertemuan Antonella dan Kevin usai, namun pemuda itu kembali lagi lengkap dengan ekspresi panik di wajahnya.

"Apa maksudmu? Mereka nggak ada di luar?" Vince balik bertanya.

"Nggak ada! Coba cek!!" perintah Alva diburu panik. 

"Santai, Alva," saran Vince seraya memindah saluran rekaman video pengawas, memutar ulang rekaman, mencari keberadaan Antonella dan Kevin terakhir kali. 

"Mana mungkin aku bisa santai?!" jerit Alva.

"Ini," sahut Vince, menunjukkan tampilan di layar, keberadaan dua orang itu saat keluar dari ruang kerja Antonella tempat pertemuan hari ini. Dalam rekaman terlihat baik Antonella dan Kevin tampak terburu-buru berpindah ke ruangan lain, masih masuk dalam cakupan intaian kamera. Ruangan yang mereka tuju tidak lain adalah kamar pribadi Antonella, tentu saja tidak ada kamera pengawas di dalam kamar tersebut.

Vince mencerna semuanya hanya dalam sekejap, kemudian mengulum senyum. Di sampingnya, Alva justru bak cacing kepanasan melihat rekaman tersebut. 

"Kok mereka malah masuk ke kamar Antonella?!!" teriak Alva. "Aku harus ke sana dan mengecek!!"

Gerak Alva rupanya kalah gesit dengan kesigapan Vince yang kini memegang tangannya erat, menahan dirinya. 

"Duduk." Vince memberi perintah dengan nada datar.

"Wha- .... Tapi?!"

Vince menarik kuat tangan Alva, memaksanya duduk kembali di sampingnya. "Duduk, kataku."

"Vince, kau nggak lihat kalau mereka .... Jangan sampai kita hilang pengawasan!!"

"Kalau kau lihat di sini ...." Vince memutar ulang rekaman yang baru saja mereka saksikan. "Tidak terlihat ada pemaksaan dari Kevin terhadap Antonella, malah Antonella yang menarik tangan Kevin," ujarnya menjelaskan. Jemarinya bergerak di layar yang telah diperbesar, memperlihatkan yang dia maksud. 

"Kau lihat, kan? .... Tidak ada yang perlu kau cemaskan, cukup berikan mereka waktu untuk menyelesaikan urusan mereka," lanjut Vince.

"Ma-maksudmu ... mereka ....?" Mata Alva membelalak lebar, memandangi Vince dengan tatapan penuh pertanyaan, mencari kepastian.

Vince membalas tatapan Alva dengan ekspresi menggelitik, berharap pemuda berambut gondrong itu mengerti tanpa harus ada penjelasan verbal.

Sekali lagi, Alva mencari kepastian dari tatapan Vince dengan mengangkat alis dan menggerakkan kepalanya. Vince merespon dengan mengangguk singkat, tersenyum tipis. 

Alva lantas mengerang, menumpukan kepalanya pada kedua tangan. "Are they having sex right now?!" serunya.

Vince spontan meringis, dengan cepat mengedarkan pandangan, memastikan beberapa anak buah yang berada di ruangan itu tidak terpengaruh seruan Alva. 

Vince berdecak. "Sudah kuusahakan supaya kata-kata itu nggak keluar, malah kau katakan juga. Sekarang semua orang mendengarnya," sungutnya kesal.

"Eeerrrgghhh! Kenapa sih mereka malah ... kenapa Antonella malah ...," gerutu Alva. 

"Kau dengar sendiri saat itu, Antonella bermaksud mengadakan perjanjian dengan Kevin dengan harapan Kevin membocorkan informasi si pengkhianat itu. Kalau untuk mendapatkan itu Antonella harus berhubungan dengan Kevin, ya apa boleh buat? Toh, Antonella sendiri yang berinisiatif, dia juga melarang kita mendengar isi percakapan mereka .... Saya yakin, memang seperti itulah keadaannya," tutur Vince.

Lagi-lagi, Alva mengerang panjang, namun tiba-tiba dia tersentak, seperti tersengat. "Justru itu lebih berbahaya, Vince! Kita nggak tahu yang terjadi di dalam! Bagaimana kalau Kevin menghabisi Antonella?!"

Vince menghela napas berat. "Kevin sudah kita geledah begitu masuk ke rumah ini, kau sendiri yang menggeledah, ingat? Apakah dia membawa senjata api atau senjata tajam? Selain senjata yang sedang dia pergunakan saat ini untuk bersenang-senang dengan Antonella."

Alva meringis jijik. "Y-ya ... dia bersih, memang. Nggak bawa apa-apa selain yang satu itu," jawabnya.

"Dan Antonella juga bukannya nggak bisa apa-apa, pandai bela diri, kan? Kurasa Kevin seorang, hanya tangan kosong, berada di dalam sarang Antonella sendiri ...." Vince mengedikkan bahu. "Kurasa itu kurang cukup untuk melumpuhkan Antonella."

"Errgh!" Untuk kesekian kalinya Alva mengerang gemas. "Aku hanya nggak habis pikir kenapa sih ...."

"Alva ... Alva. Kau seperti nggak pernah bermain-main dengan lawan jenis saja," ledek Vince.

Alva terperanjat, wajahnya seketika terasa panas. Dengan kikuk dia kemudian bangkit berdiri. "A-aku akan stand by di dekat kamar Antonella. Supaya tahu kapan mereka selesai," ujarnya terburu-buru.

"Jangan menguping!" balas Vince sebelum Alva menghilang di balik pintu.

"I won't!" seru Alva sambil membanting pintu, membuat Vince terkekeh geli.


Berulang kali Alva berjalan mondar-mandir tak jauh dari kamar Antonella, terus saja memandangi ke arah kamar, berharap daun pintu itu segera terbuka dari dalam.

Deduksi yang diungkapkan oleh Vince tadi benar-benar membuat keruh pikirannya. Antonella dan Kevin? Kevin dan Antonella?? 

Gelombang perasaan marah bercampur iri dan cemburu mendera Alva. Hanya saja, begitu dia menyadari ada rasa iri dan cemburu di dalam emosinya saat ini, membuatnya justru semakin uring-uringan.

Perasaan macam apa itu? Tidak wajar! Tentu saja Alva tidak boleh memiliki perasaan yang lain terhadap Antonella, wanita itu tantenya sendiri. Adik dari ayahnya. Malahan, wanita itulah yang berjasa menafkahi dan membesarkan dirinya dan Zia semenjak bayi! Antonella sudah seperti ibu kedua baginya, bagaimana bisa ada perasaan cemburu menyergap begitu tahu ada pria lain yang menghabiskan waktu bersama dengan tante kesayangannya?

Alva menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan kesal. 

Kenapa mereka lama sekali, sih?! Ergh! Terus kenapa aku seuring-uringan seperti ini, yang bener aja! Udah kubilang, jangan mikir aneh-aneh pada Antonella! Gilakah?! Tapi ... tapi .... Dammit! Aku cemburu, aku MEMANG cemburu!! Masalah buatmu?! 

Alva terus saja menggerutu dalam hati, sementara kakinya melangkah tak tentu arah, hanya mondar-mandir di tempat yang sama. Sesekali dia memberi kesempatan kedua kakinya untuk beristirahat, duduk di sofa bench yang tersedia sepanjang koridor, namun tak lama dia berdiri lagi, mondar-mandir lagi, demikian berulang-ulang. Tiap beberapa menit sekali matanya tajam tertuju pada daun pintu kamar Antonella, masih terus mengharap sang empunya kamar segera muncul.

Batinnya pun terus menerus mengucapkan untaian caci maki indah sekaligus rasa bingung mengapa Antonella mengambil jalan demikian. Apakah, jangan-jangan, Antonella memang telah menaruh hati pada Kevin selama ini? 

Apa bagusnya Kevin? Bukannya udah nikah, udah punya anak?! Antonella ... kenapa sih kamu mau-maunya?? Kenapa dari rekaman cctv tadi justru kamu yang narik tangan Kevin?! Kayak nggak ada laki-laki lain aja! Kamu pikir aku selalu di sampingmu selama ini buat apa?! 

Alva melirik arloji di pergelangan tangan.

Gila!! Lama banget!! Aku harus nunggu berapa jam?! teriak Alva dalam hati. 

Sejenak dia terdiam, mempertimbangkan sesuatu.

That's it! Ini udah kelamaan! Aku bakal masuk ke kamar Tonie dan mengecek! 

Alva mengayun langkah selebar mungkin menuju kamar Antonella, namun tepat sebelum Alva menyentuh handle pintu, dia mendengar suara anak kunci bersinggungan dengan silindernya. Secara spontan Alva berhenti bergerak. 

Begitu pintu kamar terbuka, Antonella terkejut mendapati Alva berdiri di sana. Ekspresi pemuda itu tampak masam, terlebih saat melihat Kevin mengekor di belakang Antonella. 

"Al, kamu ngapain di sini?" 

Kevin melewati keduanya, melempar senyum sekilas pada Alva sembari mengenakan jas yang sedari tadi dijinjingnya. "Tonie, aku pulang dulu. Kamu nggak usah antar juga nggak apa," pamitnya pada Antonella.

Alva hanya menyaksikan Antonella mengangguk dan membalas senyum Kevin. Senyum itu tampak indah mengantar kepergian Kevin, namun di sisi lain, sangat mujarab membuat hati Alva semakin membara terbakar api cemburu.

"Take care, Kevin," jawab Antonella. 

"See you later, Angel," sahut Kevin sebelum berbalik badan, menjauh dari Antonella dan Alva.

"Nah, kamu ngapain, Al? Ngintip? Nguping?" tegur Antonella galak.

"Buat apa aku melakukan itu?!" seru Alva tertahan. "Harusnya aku yang nanya, kamu ngapain sama Kevin, kenapa kok sama Kevin?! Udah seintim itu sampai ada panggilan Angel segala??" 

Antonella mengernyit, namun sebelum sempat merespon, Alva terus saja mencecar, "Jadi ini yang kamu maksud mengadakan penawaran dengan imbalan informasi tentang orang itu?! Emang kamu yakin dia emang punya informasi itu? Bisa jadi kamu ditipu sama dia! Bagus kamu nggak kenapa-kenapa, kamu tuh bisa aja diserang sama dia, dihabisi langsung! Kamu kan sasarannya! Kenapa sih kamu nggak pernah paham kalau kamu tuh dalam bahaya!"

Antonella mengambil napas panjang, meredakan emosi yang nyaris terpancing. "Al, everything's fine. Ok? Aku udah pastikan dia emang punya informasi itu, jadi kalau ini jalannya, ya udah, aku berkorban sedikit nggak apa," sahutnya.

"Berkorban," sindir Alva. "Emang kamu menikmati, apanya yang disebut berkorban?"

"Kamu kenapa sih? Kalau aku emang menikmati, apa urusannya sama kamu? Kamu tuh lama-lama nggak sopan ya sama aku."

Alva merengut. "Terus? Mana hasilnya? Dia udah kasih info apa aja ke kamu?"

"Belum." Antonella menyilangkan tangannya di depan dada. "Sabar. Nggak langsung."

"Tuh kan! Dia tuh cuma ambil kesempatan doang," tukas Alva.

"Ini perjanjian aku sama dia, kamu percaya aja kenapa sih? Pake ngomel-ngomel segala sama aku. Ingat kamu harus hormati boundaries, Al, nggak semua hal yang kulakukan harus kamu tahu! Nggak sopan juga kamu ikut campur kayak begini!"

Bola mata Alva bergerak-gerak cepat. Betapa inginnya dia menjawab semua perkataan Antonella, namun dia juga sadar, dia tidak memiliki hak untuk turut campur dalam semua urusan Antonella. Namun perasaan cemburu yang membakar itu, pada siapa Alva harus lampiaskan? Terlebih, samar Alva dapat menangkap bercak kemerahan di leher jenjang Antonella, sebagian tertutupi rambut. Suasana hatinya semakin memburuk, ingin rasanya berlari mendapatkan Kevin, lalu memberi peringatan keras padanya agar tidak lagi mendekati Antonella. Lagi-lagi, Alva tahu, dia tidak bisa melakukan itu.

"Kembali ke kamar sana," perintah Antonella. "Aku mau istirahat."

Alva masih saja merengut, enggan memberi sahutan.


Kevin baru menginjakkan kaki di lantai dasar saat melihat seorang gadis muda berparas manis sibuk berbicara di depan layar ponselnya penuh semangat. 

"Okeey! Gitu aja guys, besok kita lanjut lagi yaa! Bye byeee semuanyaa!" Zia tersenyum lebar sembari melambaikan tangan pada para penonton siaran langsungnya, lalu menekan tombol off. 

Zia terkejut ketika berbalik dan pandangannya tertumbuk pada Kevin. Sejenak Zia terbelalak, tersapu oleh pesona yang tak terduga. Kharisma Kevin memancarkan aura yang menghipnotis, dari rambut hitamnya yang masai hingga mata gelapnya yang dalam. 

Kevin mendekat, langkahnya penuh kepercayaan diri, bermaksud menyapa gadis tersebut. Senyum lembut terlukis di wajahnya. "Halo," sapanya ramah.

Zia terdiam, terseret oleh daya tarik yang tidak dapat dijelaskan. Namun ia segera menguasai dirinya kembali. "Hai ...," balasnya.

"Kamu ... pasti Fabrizia, keponakan Antonella?" 

"Eh? I-iya."

"Sudah kuduga, kamu keponakan Antonella," sahut Kevin. "Like aunty like niece, sama-sama cantik."

Senyum Kevin lembut dan hangat tertuju hanya pada Zia, ditambah pujian yang tak disangka, membuat pipi Zia merona merah. 

Zia berupaya menahan detak jantungnya yang berdegup kencang. "Umm. Makasih, pujiannya .... Kamu temannya aunty?" tanyanya, berharap agar rasa gugupnya tidak terlalu kentara.

"Yah, bisa dibilang begitu," jawab Kevin. "Namaku Kevin Castellano."

Zia terhenyak mendengar pria matang di hadapannya itu menyebutkan namanya. Jadi ini Kevin Castellano ... orang ini kan, yang selama ini menjadikan Aunty Antonella sasaran? Yang pernah culik aunty? .... Tapi dia nggak terlihat kayak orang jahat. Apa bener dia yang menyasar kami selama ini? Zia asyik dengan pikirannya sendiri. 

Atau mungkin semua hanya salah paham? Ini buktinya, dia bilang kalau dia temennya aunty. Terus, keliaran di sini, nggak ada tindakan yang mencurigakan. Atau ada perubahan situasi ... ah, entahlah. Yang jelas, kok ternyata ganteng banget ....

Alis Kevin terangkat, menyadari gadis tersebut tak lepas memandangi dirinya, binar kagum terpancar di sana. 

Mature ... dewasa ... berkharisma ... ganteng .... Ini sih paket lengkap .... Kriteria DILF banget, batin Zia.

"Fabrizia?" panggil Kevin bingung, melambaikan tangan di depan wajah Zia.

"Ah. Eh!" Zia kembali dari dunia angan-angan. "Hehe ... maaf, aku melamun ...." Gadis itu menyeringai malu. 

Kevin turut terkekeh. "Apa yang kamu lamunkan?"

"Euh, Uncle Kevin udah mau pulang?" Zia terburu mengalihkan topik. "Stay dulu, Uncle, aku buatkan espresso untukmu," ajaknya penuh harap.

"Sepertinya menarik," sahut Kevin, mengangguk. "Tidak sopan menolak undangan tuan rumah."

Maka tak lama kemudian, Kevin duduk di pantry, menonton aksi Zia meracik espresso. Tangan gadis berambut berombak itu terampil menakar, menyeduh menggunakan moka pot, sampai membuat buih krim. 

Kevin mengangguk-anggukkan kepala, mengulum senyum. "Keluarga Maranzano memiliki barista sendiri, rupanya," godanya.

"Ah. Ini kan simple, Uncle," timpal Zia. "Aunty yang ajarkan aku ... tapi sejak itu selalu aku yang buatkan espresso untuk aunty, untuk kakakku juga."

Dengan penuh atensi Kevin mendengarkan cerita Zia. 

"Kebetulan aku juga anaknya nggak bisa diam ... aunty dulu sering ngomelin kalau aku nggak mau tidur siang," ungkap Zia, sesekali terkekeh mengenang masa lalu. "Udah gedean dikit, aku sering di dapur, belajar masak, bikin kue, dari aunty dan mamaku. Memasak jadi hobbyku sekarang, Uncle, selain dandan dan cobain produk-produk skincare."

"Wah," sahut Kevin takjub. Dia terlihat sangat menikmati obrolan ringan dengan gadis muda seumuran putrinya itu. 

"Salut sama kamu, Zia. Meski hidup berkecukupan, mau apa-apa mudah ... kamu tetap nggak ragu turun ke dapur dan memasak," puji Kevin.

Zia menyeringai senang. 

"Berbeda jauh dari anakku, dia itu princess banget," sambung Kevin. "Sifatnya manja. Masak? Mana bisa? Makanya, saya bilang kamu hebat."

"Anak Uncle umurnya berapa?" tanya Zia penasaran. 

"18 tahun."

"Nggak jauh dari aku dong ya? Aku 20 ...."

Kevin mengangguk. "Seandainya saja putriku itu seperti kamu, pandai membuat espresso .... Hmm. Mungkin memang salah saya juga. Sejak dulu saya terlalu memanjakan. Istri saya sempat protes karena memang terlihat sekali perbedaan perlakuan saya pada anak perempuan, dengan dua anak lelaki saya. Padahal, saya sudah berusaha untuk adil memberikan kasih sayang, tapi sepertinya karena pengaruh alam bawah sadar membuat saya tetap memanjakan yang perempuan," tutur Kevin santai, sesekali dia melempar senyum pada Zia. 

Meski tangan Zia sibuk meracik, namun pandangan matanya tertuju lurus pada Kevin. Telinganya mendengar, otaknya mencerna dan membayangkan kehidupan Kevin sebagai seorang ayah. Membayangkan betapa beruntungnya anak perempuan Kevin, hidup bergelimang kasih sayang orang tua yang lengkap, bisa selalu bermanja pada ayahnya.

Orang bilang, cinta pertama seorang anak perempuan adalah pada ayahnya. Zia tidak pernah tahu seperti apa rasanya  memiliki seorang ayah. Ayah yang ia tahu sudah tiada bahkan sejak sebelum ia lahir.

Seperti apa rasanya dipeluk ayah? Seperti apa rasanya dimanja oleh ayah? Seperti apa harum seorang ayah? Seperti apa suara ayah? Memiliki seorang ayah adalah sesuatu yang tidak pernah ia alami seumur hidupnya. 

"Buatku, anak Uncle sangat beruntung ... dia punya ayah yang memanjakannya ...," ujar Zia lirih.

Ucapan Zia barusan membuat Kevin tersentuh. Dia menyadari, gadis manis itu tidak pernah tahu rasanya memiliki seorang ayah. Tumbuh besar tanpa kehadiran sosok ayah, pastilah berat baginya. Siapa yang dengan sepenuh hati melindungi dirinya? Siapa yang akan memasang badan, menjadi tameng atas segala lika-liku kehidupan seorang putri? Bagaimana bila anak perempuan ini didekati laki-laki entah dari mana, siapa yang akan menjaganya? 

"Aku nggak seberuntung anak Uncle. Meski mamaku sayang banget sama aku ... meski perhatian aunty berlebih untukku ... tapi, kadang aku suka kepikiran bagaimana rasanya bermanja pada ayah," keluh Zia pelan. 

"Mamaku pernah bilang, bahkan ayahku nggak pernah tahu kalau mama hamil. Ayah udah keburu mengalami kecelakaan itu .... Seandainya saja ... hmmm. Ah, sudahlah." Zia menuangkan espresso yang diraciknya ke dalam dua cangkir kecil.

Zia menghidangkan secangkir untuk Kevin, dalam sekejap mengubah ekspresi sedihnya lalu berkata riang, "Silakan diminum, Uncle Kevin. Semoga suka dengan racikan aku ...!"

Kevin tersenyum tipis, mengangguk sebagai tanda terima kasih. Mendadak dia tidak terlalu berselera mencicipi espresso racikan Zia. Hati Kevin terasa sesak membayangkan kehidupan Zia yang terpaksa tumbuh besar tanpa sosok ayah di sampingnya.

"Aku prihatin padamu, Fabrizia," kata Kevin kemudian. "Semua anak berhak mendapatkan perhatian ayah ibunya. Tapi kamu, kamu tumbuh tanpa sosok ayah, pasti berat buatmu."

"Mmm. I've learned to accept that, Uncle," jawab Zia. Tangannya mengaduk pelan espresso di cangkirnya sendiri.

Kevin menimbang sesuatu dalam benaknya sesaat, lalu berkata, "Dengar, Fabrizia .... Kalau kamu mau, kalau kamu bersedia ... kamu boleh menganggapku sebagai ayah."

"Eh?" Zia spontan memandang Kevin dengan tatapan bertanya. Di hadapannya, pria penuh kharisma itu juga balas memandanginya sambil tersenyum. Senyum itu tampak tulus, demikian pula dengan sorot matanya. Perasaan hangat menjalar, menyelimuti hati Zia.

"Benar, nggak apa-apa. Kamu boleh anggap aku ayah," lanjut Kevin, berusaha menyibak keraguan dalam hati Zia.

"Euh ...." Zia dilanda perasaan bingung. "Tapi kan ... tapi Uncle bukannya musuhan sama Aunty Antonella? Masa ... masa aku anggap ayah musuhnya aunty?"

"Antonella dan aku sekarang adalah teman," jawab Kevin pasti. "Memang sebelumnya di antara kami ada konflik, tapi semua itu sudah clear. Kami sepakat untuk berteman dengan baik."

"Emang iya?" Zia mencerna perkataan Kevin. 

"Apa yang kamu ragukan? Aku senang kalau kamu bersedia menganggapku ayah. Punya anak angkat perempuan yang manis dan baik hati seperti kamu, aku akan merasa sangat beruntung," kata Kevin lembut. "Kalau kamu mau, aku bisa temani kamu jalan-jalan, hang out, shopping, atau sekedar makan siang bersama. Aku tergerak ingin membagikan rasa sayang yang kumiliki, as a daddy, pada kamu."

Jantung Zia berdegup semakin kencang mendengar niat Kevin, bersamaan dengan itu, sebuah perasaan yang asing namun hangat menyergap.

"Tapi," lanjut Kevin lekas memberi disclaimer. "Tapi itu pun kalau kamu bersedia, ingat. Aku sadar ini adalah penawaran yang aneh, kita baru sekali berkenalan tapi aku malah berbuat lancang. Jadi-"

"Aku bersedia," sela Zia cepat. "Aku percaya maksud Uncle baik, bisa kulihat itu dari mata Uncle ...."

Kevin merespon ucapan Zia dengan tersenyum lembut.

"Lagipula, aku nggak dalam posisi menolak kehadiran sosok ayah ... sekali seumur hidup, aku memang ingin merasakan indahnya menjadi seorang putri yang dimanja ayahnya."

"Aku tidak akan membuat putriku kecewa," sahut Kevin membalas pengakuan Zia. Terdengar mantap, terdengar yakin, seakan memang Kevin memiliki intensi yang positif terhadap Zia.

Uhh. Si DILF ini ucapannya manis banget, bisa jadi emang punya maksud aneh-aneh sama aku. Tapi ... nggak masalah sih, kalau dia emang mau aneh-aneh. Aku nggak akan nolak juga. Habisnya ganteng banget ... bikin melting, ujar Zia dalam hati.

Zia mengangguk antusias. "Daddy," panggilnya seraya tersenyum lebar. 

"Yes, Fabrizia, my daughter," jawab Kevin, membalas senyum Zia.

"Mulai sekarang panggil nama kecilku aja, Daddy. Zia."

Alis Kevin terangkat, mengangguk. "Alright then," sahutnya. "Luangkan waktumu ya untuk daddy-daughter-date. Aku akan sering ke sini untuk meeting dengan Antonella, akan kukabari sehari sebelumnya."

"Dengan senang hati, Daddy."

Kevin mengangguk sebelum mengangkat cangkir, menyesap isinya. Begitu cairan hitam tersebut bertemu dengan indera perasanya, menjalar di lehernya, Kevin terlihat puas. 

"Ini espresso paling enak yang pernah aku nikmati," puji Kevin. "Wah, dear Zia ... kurasa kamu sudah siap untuk menjadi istri. Siapa pun yang akan menjadi suamimu di masa depan, wow, he's such a lucky guy."

Pipi Zia kembali merona merah. "Apaa sih, Daddy? Aku nggak pernah kepikiran ke sana, ih," protesnya. 

Kevin mengangkat jemari telunjuknya di udara. "Nah, lihat, ini salah satu momen di mana kehadiran sosok ayah itu penting bagi seorang anak perempuan. Ayahmu inilah yang memiliki kewajiban untuk menjaga permata hatinya supaya tidak jatuh diperdaya laki-laki yang tidak pantas."

Mengapa pria ini gemar sekali membuat hati Zia meledak kesenangan? "Awwh, Daddy ... jaga aku yah ...," pintanya, menatap Kevin dengan penuh haru.

"Oh, I will."


Bab 6 – DILF: Daddy I’d Like To F

Berulang kali Zia mengeluarkan cermin mungil dari tas jinjing miliknya, mematut penampilannya siang itu. Sapuan bedak tipis di wajah, eye shadow, blush on, serta lipbalm berwarna muda, semua masih menempel di wajahnya. Tidak ada yang perlu di-touch up. Rambut hitam berombaknya yang halus hanya disisir ke samping, sederhana, namun manis memikat siapa pun yang bertemu pandang dengannya. 

Dari pantulan dinding kaca sebuah outlet retail waralaba di dalam pusat perbelanjaan, Zia mengecek yang dikenakannya dari atas sampai bawah. Dress sabrina berpotongan a-line pink selutut tampak manis dan anggun menempel di tubuh mungilnya. High heel berwarna senada dengan tas, ia yakin penampilannya telah sempurna. 

Ia memutar pergelangan tangan, mengintip angka di arlojinya, masih kurang lima menit dari waktu janjian. Kenyataan bahwa Zia telah tiba jauh sebelum waktu yang disepakati, menandakan betapa ia merasa excited menyambut kencan kesekian kalinya siang ini ... dengan Kevin Castellano. Kencan yang Kevin sebut sebagai "daddy-daughter-date", Zia perlakukan selayaknya seolah ia tengah menyambut kencan dengan kekasih pujaannya. 

Namun meski excited tiap kali pergi berkencan dengan Kevin, selalu ada rasa gugup menyeruak di dalam hati Zia. Akan berakhir seperti apa kencan ia dan Kevin hari ini? Apakah Kevin akan mengajaknya pulang, seperti kesempatan sebelum-sebelumnya, atau mungkin hari ini ada ajakan bermalam? Apakah Kevin akhirnya berinisiatif mendekati dirinya? Ataukah justru Zia yang harus memberanikan diri mendekati Kevin? Bagaimana cara mendekati pria 25 tahun lebih tua darinya itu tanpa terlihat seperti gadis murahan? Padahal selama ini Zia kerap memberikan tanda bahwa ia mengharapkan sesuatu yang "lebih" dari Kevin, sesuatu yang berhubungan dengan sentuhan fisik dan lain-lain yang menyertainya. Lalu misalnya nanti mereka memang memilih bermalam di suatu tempat, alasan apa yang harus Zia katakan pada Alva dan Antonella tanpa membuat mereka curiga? Karena sejak Zia dan Kevin sepakat untuk menjadi "daddy" dan "daughter", Zia menekankan bahwa ia tidak ingin Alva dan Antonella tahu mengenai hubungan mereka. 

"Zia!" 

Suara berat seorang pria membuat Zia menoleh. Senyum gadis itu mengembang lebar menyambut kehadiran sosok yang ia tunggu. Kevin, dengan senyum penuh kharisma, berjalan anggun mendekati dirinya, sendirian, tanpa pengawalan. Kepala keluarga dari klan Castellano yang gemar mengenakan setelan berwarna gelap ini kerap menolak pengawalan tiap kali mengadakan janji temu dengan Zia. 

"Daddy ...!" panggil Zia antusias.

"Kamu sudah lama menunggu?" Tangan Kevin mendarat ringan di bahu Zia, mengajaknya berjalan.

Dari sudut mata, Zia memastikan kulit hangat yang menempel di bahunya yang telanjang itu benar-benar tangan kokoh Kevin. Diam-diam ia tersenyum, merasa pilihan gaunnya tepat hari ini. Setelah sekian kali berjumpa dengan Kevin, akhirnya Zia bisa merasakan sentuhan fisik yang telah lama ia dambakan. Karena memang selama ini Kevin tidak pernah menyentuh dirinya, bahkan berpegangan tangan pun tidak. Seolah Kevin memang sengaja menciptakan batasan yang aman, padahal Zia berharap sebaliknya.

"Mm, nggak kok, aku juga baru sampai, Daddy," jawab Zia manja. Sengaja ia menyandarkan kepalanya di bahu Kevin, menikmati hangatnya keberadaan pria itu. Semerbak lembut aroma maskulin terhirup Zia, perasaan nyaman semakin menyelimuti hatinya.

"Hari ini kamu manis sekali, Zia," puji Kevin. "Daddy senang lho tiap kali kamu bersedia temani Daddy jalan-jalan. Punya teman ngobrol semanis dan sepintar kamu. Daddy bisa bebas mau cerita apa pun, tanpa ada yang harus ditutupi. Terima kasih, Sayang."

"Ah, Daddy," rajuk Zia. "Justru Zia yang senang bisa spending time sama Daddy. Zia nyaman sama Daddy ...," akunya lirih. 

"Sama, Zia, Daddy juga nyaman sama kamu." Tangan Kevin merambah naik, membelai-belai rambut halus Zia. 

Mereka berdua melewati outlet butik ternama, beberapa manekin display memamerkan setelan dress wanita kasual berbagai model dengan satu tema warna yang senada, tosca, menarik perhatian Zia. 

"Mau masuk?" Kevin menghentikan langkah, menyadari gadis yang dirangkulnya itu tidak berhenti memandangi display. 

Zia menyeringai, mengangguk. "Ayo, Dad," ajaknya bersemangat. Mereka berdua pun masuk ke dalam outlet tersebut, asyik memilih model dress.

"Cocok," puji Kevin tiap kali Zia mengambil sebuah dress dan menempelkannya di depan tubuhnya. 

"Ini cocok, itu cocok, semuanya aja Daddy bilang cocok. Yang mana doong?" Zia merajuk. 

"Ya habis gimana, emang cocok semua di kamu," kilah Kevin. "Kalau kamu suka, ambil aja. Pilih semua yang kamu mau. Daddy yang belanjain."

"Ihh Daddy baik banget sihh?" Zia terkekeh senang. "Tapi hari ini nggak usah, Dad. Kan baru kemarin Daddy beliin aku high heel ... ini, aku pakai hari ini," katanya sambil memamerkan sepatu yang ia kenakan. Zia masih terus berceloteh, "Trus baru kemarin juga Daddy transfer aku banyak. Daddy tuh kelebihan duit banget yah? Sering banget transfer aku."

"Apa salahnya?" sahut Kevin. "Daddy senang kalau kamu senang. Bukannya memang tugas Daddy manjain kamu?"

"Iyaa sih ... tapi aku kan juga bukannya nggak dapet uang jajan dari aunty. Daddy rutin transfer aku, aku beneran jadi sugar baby. Kamu, sugar daddy," canda Zia, memancing gelak tawa Kevin. 

"Oh, ada istilah seperti itu?" Kevin menyahut di sela-sela tawanya. 

Zia segera membalas, "Adaa! Bohong banget Daddy nggak tahu. Pasti pura-pura nggak tahu, deh. Aku sugar babynya Daddy yang keberapa, nih?"

"Nggak ngerti," jawab Kevin. "Dengar istilah itu aja baru sekarang."

"Masa sih?"

"Buat apa Daddy bohong," sahut Kevin. "Nggak pernah ada anak gadis lain yang Daddy berikan perhatian, selain kamu, dan selain anak Daddy, tentunya."

"Emang iya?" Zia memandangi Kevin takjub. 

"Ya iya, beneran."

"Kalau begitu aku beruntung, dong .... Anak Daddy pasti bakalan ngambek kalau tahu ada aku, berbagi perhatian Daddy."

"Lenice nggak perlu tahu, untuk apa? Bukannya kita sepakat nggak ada yang tahu hubungan kita?" Kevin menyunggingkan senyum lembut. "Jujur saja, Daddy sebenarnya kesepian sejak Lenice, anak perempuan Daddy, pergi kuliah di Sivily. Kebetulan kenalan sama kamu ... kamu yang kekurangan perhatian ayah ... Daddy jadi tergerak untuk berikan kamu perhatian. Makes sense?"

Zia merasa tersentuh mendengar ucapan Kevin. "Daddy baik banget sih?" sahutnya lirih. Ia beranikan diri untuk maju, memeluk Kevin, bersandar di dadanya. Sebuah berkah, ternyata Kevin tidak menolak pelukannya. Malahan Kevin balas memeluk Zia, meski tidak erat. Tangan Kevin menepuk-nepuk bahu Zia. 

"Kamu itu berhak mendapat kasih sayang seorang ayah, sungguh," bisik Kevin. "Aku hanya bermaksud membagikan itu ... anggap saja, aku ini perpanjangan tangan ayahmu, Flavio."

"Daddy kenal ayahku nggak?" Zia mendangak dari dada Kevin, mencari jawaban lewat sorot mata pria itu.

"Daddy nggak pernah bertemu ayahmu secara langsung, tapi siapa pun tahu Flavio."

"Mmhm," gumam Zia. 

Ada satu hal yang mengganggu pikiran Zia, yang membuatnya kerap menyimpan rasa heran terhadap Kevin. Ia ragu mengutarakan itu, namun, rasa penasaran membuatnya tidak tahan untuk bertanya, "Apa ... jangan-jangan karena Daddy memosisikan diri sebagai pengganti ayahku, makanya Daddy nggak pernah macam-macam sama aku?"

"Eh?"

"Iyaa. Aku kan selama ini selalu kasih kode ke Daddy ... kode ... euh, maksudku, Daddy tuh nggak pernah ambil kesempatan .... Padahal aku nggak bakal nolak," imbuh Zia. Semburat warna merah mewarnai kedua pipinya.

"Oh." Kevin akhirnya menangkap maksud Zia. "Ya nggak mungkinlah Daddy berbuat macam-macam," katanya, "Daddy anggap kamu anak sendiri, ini sungguhan. Daddy nggak mungkin tega sama kamu, masa Daddy merusak kamu? Daddy nggak punya hak untuk itu. Tapi ... serius, nih, kamu berpikiran begitu sama Daddy? Selama ini?"

Penuturan Kevin membuat Zia tersadar, menciptakan perasaan canggung nan kikuk. Zia spontan mengambil jarak dari Kevin. "Ehm. Iya ...," akunya lirih. "Maaf, Daddy, kalau Daddy jadi nggak nyaman .... Bukannya aku ngarep atau gimana ... tapi, laki-laki sedewasa Daddy, perhatian banget sama anak perempuan orang, siapa pun bakal mikir negatif terhadap hubungan kita. Daddy keluar banyak uang tapi nggak ambil apa-apa dari aku ...?"

Kevin mengulum senyum penuh pengertian. "Stereotip. Jangan terbawa yang seperti itu, apalagi anggap itu kebenaran. Kamu masih meragukan niat Daddy rupanya, ya? Daddy nggak punya niatan lain padamu, selain menyayangi kamu seperti anak sendiri. Seperti yang tadi kubilang, anggap Daddy sebagai perpanjangan tangan ayahmu ... that's it. Daddy sungguh-sungguh mengatakan ini," ungkapnya. 

Astagaa .... Melting banget ..., teriak Zia dalam hati. Kok bisa ada om-om sebaik ini?! Nggak pegang-pegang, nggak ambil kesempatan apa pun, nggak merayu ... tapi royal banget sama aku ...! Dia kelihatan tulus banget anggap aku anak ... oh my gosh! Terus mungkin dia juga mengira aku masih suci, yah? Makanya dia bilang nggak mau merusak aku? .... Aduh, bapaknya siapa sih ini, kok bisa di luar nalar baik hatinya? Ketulusan Daddy malah makin bikin aku jatuh cinta ....

"Zia?" panggil Kevin.

Zia tersadar dari lamunannya, kembali menguasai diri. "Ehm. Okey," sahut Zia sambil tersenyum. "Biar sama-sama jelas ... jadi kita berdua murni daddy and daughter, ya, Dad? Nggak ada yang menjurus-jurus, yah?"

"Tentu." Kevin membalas dengan senyuman lembut.


Sementara itu di kediaman Maranzano, Alva duduk menyilangkan kaki di hadapan Antonella yang tengah mempelajari setumpuk dokumen. 

"Kau sudah baca dokumen-dokumen itu berkali-kali, memang ada yang terlewat?" Alva tak sabar bertanya.

"Yeah. Siapa tahu ada yang luput. Aku nggak percaya sama sekali nggak ada petunjuk apa pun tentang Reeve," jawab Antonella dengan nada datar.

Alva mendengus keras. Salah paham antara keduanya tempo hari lalu masih menyisakan bekas kekesalan dalam hati Alva. Rasa kesal itu selalu muncul tiap kali melihat Kevin Castellano datang berkunjung, di mana dialah yang memiliki tugas menggeledah Kevin. Kenyataan bahwa dia tidak bisa berbuat banyak semakin menumpuk perasaan itu. 

"Mana, info yang orang itu janjikan? Belum ada, kan? Sudah berapa minggu kamu bertemu privat dengan dia, nggak ada hasilnya! Kau ini membuang-buang waktu percuma, Tonie. Lihat dirimu, bukannya dapat pencerahan, malahan masuk perangkap orang itu. Sekarang kau lagi-lagi mempelajari dokumen lama, buat apa? Seperti terjebak dalam lingkaran setan, tahu," sungut Alva.

Antonella berdecak, namun memilih diam. 

Kevin memang aji mumpung, sih, batin Antonella dalam hati, menyetujui ucapan Alva. Diberi kesempatan menjadikan aku kekasih ... huh. 'Kekasih'. Gundik. Sudah kuberikan kepuasan berkali-kali, tapi dia malah sengaja mengulur-ulur waktu. Kapan dia bakal spill info tentang Reeve?! 

Lagi, Antonella berdecak keras. Kepalanya pening memikirkan bagaimana lagi caranya membuat Kevin membocorkan informasi identitas Reeve Galante yang baru.

Padahal tiap kali dia datang, kupastikan dia terpuaskan. Malahan seringkali memuji-muji aku .... Tapi mana? Mulutnya tetap tertutup rapat kalau soal Reeve! Tiap kali aku tagih, dia selalu cuma iya-iya aja. Sampai berapa lama lagi aku harus bersabar memuaskan nafsunya? Memang sih, aku sendiri menikmati berhubungan dengannya ... dia hebat di ranjang ... tampan, atletis. Aku akui, aku selalu menunggu-nunggu kehadiran Kevin .... Tapi, aku kan juga punya tugas besar yang menanti! Aku cuma ingin tahu identitas baru Reeve, itu saja! Kevin sialan .... 

Kurasa aku harus berupaya lebih lagi, bikin Kevin nggak sekedar terpuaskan ... kalau perlu sampai pingsan. Oke. Kalau begitu aku harus benar-benar all out menghadapinya, batin Antonella menguatkan tekad.

Alva hanya menggelengkan kepala memandangi Antonella yang malah melamun, bukannya menanggapi omelannya tadi.

Antonella ini sadar nggak, sih?! Yang dia lakukan sia-sia! Udah aja, cukup. Cut si Kevin, as soon as possible! Terbukti nggak membantu apa-apa! Yang ada malah aku yang selalu memendam kesal tiap kali dia datang! sungut Alva dalam hati. Hoki banget selalu dapat enak dari Tonie ... laki-laki busuk.

Semakin Alva mengingat Kevin, semakin buruk suasana hatinya. Daripada menumpuk dosa, lebih baik cari kegiatan lain, demikian pikir Alva. Maka dia mengeluarkan ponsel, mencari sesuatu yang menarik di sana. Sebuah platform sosial media berwarna gradasi ungu yang baru beberapa hari ini dia unduh, tampak menarik. Dibukanya platform tersebut, masih kosong lantaran dia belum mengikuti siapa pun. 

Oh ya. Follow si Zia, ah. Seseru apa sih video livenya yang tiap hari dia bikin? 

Akun milik Zia langsung muncul begitu Alva mengetik username adiknya tersebut. Tampak wajah manis tengah tersenyum lebar sembari memegang kamera menjadi gambar profil Zia. Di sekeliling gambar profil muncul outline berwarna yang menandakan gadis tersebut memiliki story yang diunggah selama 24 jam terakhir, Alva mengetuk gambar profil tersebut. 

Story pertama berupa foto spaghetti bolognese yang menjadi menu makan malam mereka semalam. 

Story berikutnya, video singkat Zia menyibak gorden kamarnya begitu bangun tadi pagi, lengkap dengan ucapan "good morning world" disematkan di dalamnya.

Story berikutnya, foto kaki Zia mengenakan high heel, dibubuhi caption "lovely day".

Satu story terakhir, membuat kening Alva berkerut. Zia mengunggah foto seorang pria mengenakan jas berwarna biru dongker dengan dalaman kemeja biru muda polos, kancing atas tidak dikaitkan, dan tanpa dasi. Pria itu kelihatannya seperti tengah duduk bersama Zia di sebuah restoran, ada secangkir kopi di dekat lengan pria itu. Foto pria tersebut hanya dari bagian bahu dan badan atas, sepertinya Zia sengaja tidak memotret leher ke atas, seolah tidak ingin identitas pria itu terbongkar. Sebuah arloji bermerek terkenal melingkar di pergelangan tangan kiri. Dari tekstur kulit tangan serta penampilannya, Alva bisa menerka, pria tersebut tidak lagi berusia muda. Pria berumur.

Ekspresi Alva semakin tampak serius.

Sebuah caption menyertai foto tersebut, "Definisi DILF yang sebenarnya."

"Tonie, DILF itu apa?" tanya Alva spontan pada Antonella. 

Antonella mengangkat pandangan dari dokumen yang tengah dipegangnya. "Huh? Kamu lihat di mana?" 

"Ini ... euh ...." Alva mencari alasan. "Lihat di sosmed. Ada temanku menulis, definisi DILF yang sebenarnya. Apa itu?" 

"Wow. Temanmu liar juga ya."

"Maksudnya??"

"DILF, itu singkatan dari Daddy I'd Like to F ...." Antonella enggan menjabarkan huruf terakhir.

"F? F-nya apa??" desak Alva.

"Menurutmu?" Antonella memandangi Alva penuh arti. "F-nya itu berarti sesuatu yang ... hmm, gimana aku jelasinnya? Sesuatu yang biasa dilakukan sepasang manusia dewasa, biasanya antara pria dan wanita. Yang akan jauh lebih baik bila dilakukan di dalam ikatan pernikahan yang sah. Well, kalau dilakukan suami istri sih, kurang pantas disebut huruf F itu. F yang ini sering dipakai untuk umpatan kasar."

Wajah Alva pucat pasi mendengar penjelasan Antonella, mata membelalak lebar, demikian pula dengan bibirnya, melongo tak menyangka. 

"Kenapa kamu?" tanya Antonella menyadari keadaan Alva.

"F ... F dari F*ck?" Alva menuntut konfirmasi.

"Yeah."

Menyadari isi pesan story Zia membuat Alva semakin kalang kabut. Siapa yang Zia maksud?? 

Daddy I'd Like to F*ck?! Siapa laki-laki ini?! Zia sedang di mana sih?! teriak Alva dalam hati.

"Ngomong-ngomong ... Zia lagi di mana, Tonie?" tanya Alva kemudian.

"Hmm. Emang nggak bilang ke kamu? Dia tadi pamit mau ketemu temannya di mall," jawab Antonella.

"Mall? Mall mana?"

"Faramond Circle, kenapa sih?" 

"Nggak. Kepo aja. Oke thanks," sahut Alva, lantas segera bangun dan berlari keluar, meninggalkan Antonella terbengong.


Perkara foto pria yang muncul dalam story Zia membuat Alva uring-uringan. Tentu saja, mana pantas seorang gadis muda seperti Zia pergi berkencan dengan seorang pria berumur? Lebih lagi, Zia menyematkan sebutan DILF untuk pria itu, hal yang wajar bila Alva terpancing.

Maka tanpa membuang waktu, Alva segera meminta beberapa anak buah Antonella untuk pergi ke Mall Faramond Circle dan mencari Zia. Alva hanya meminta agar mereka mengambil foto Zia dan siapa pun yang sedang bersamanya. Sebuah foto seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan benarkah Zia sedang berkencan dengan pria yang tidak layak untuknya.

Beruntung, Alva tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan laporan dari para anak buah yang diutusnya. Beberapa foto dari berbagai sudut pengambilan segera masuk ke dalam aplikasi pesan Alva. 

Bulu kuduk Alva meremang begitu melihat foto-foto tersebut. Zia sedang berjalan-jalan di mall, berduaan dengan sosok yang sangat familiar bagi Alva. Kevin Castellano. Zia terlihat tersenyum ceria menggandeng Kevin, demikian pula dengan pria itu, tampak senang digelayuti. Pakaian yang dikenakan Kevin juga sama persis seperti yang tadi Alva lihat di story Zia, seolah mengonfirmasi semua praduga yang Alva miliki terhadap Zia.

Anj*ng!!! umpat Alva dalam hati. Zia jalan sama si Kevin busuk ini?! Zia ... Zia jalan sama orang ini??? Kok bisa?! Sejak kapan???

Segera saja jemari Alva bergerak cepat mengetik pesan pada Zia. Bertanya di mana dirinya, dan memintanya untuk segera pulang. Namun meskipun pesannya sudah terbaca, jawaban Zia tidak kunjung tiba, membuat emosi Alva semakin memuncak. 

Terus sekarang beraninya cuekin pesan?! Ada apa dengan anak ini??!

Beberapa puluh menit setelahnya Alva habiskan dengan menahan mangkel dalam hati, menunggu Zia kembali.

Begitu adiknya itu tiba, Alva segera menarik paksa tangan Zia, menyeretnya masuk ke dalam kamar, menghiraukan segala protes yang didengarnya.

"Aduh ...! Apaan sih, Alva??" teriak Zia, langkahnya terseok mengikuti gerak Alva yang terbakar emosi.

Setibanya di kamar, Alva mengentakkan tangan kasar, melepas cengkeramannya pada Zia. Wajah pemuda itu berkerut marah, merah menahan murka. 

"Apaan, sih?? Baru dateng udah ditarik-tarik??" Zia misuh-misuh memijat pergelangan tangannya yang nyeri saking kuatnya cengkeraman Alva. 

"Dari mana kamu? Kenapa nggak balas pesan?" Alva bertanya dingin. 

"Ya elah, perkara nggak balas pesan doang!! Toh, ini aku udah sampai di rumah, apa masalahmu sih??" pekik Zia kesal.

"Dari mana kamu?!"

"Apaan sih?? Cuma habis ketemu temen di mall!" jawab Zia, tentu saja ia bingung mengapa Alva menyambutnya dengan perlakuan yang sangat manis seperti ini, tidak seperti biasanya.

"Temen?" Alva memandangi Zia lekat, berkacak pinggang.

"Iya, temen!"

Alva menggelengkan kepala, melengos. "Kamu sekarang udah mulai macam-macam ya, Zia," ujarnya datar. 

"Maksudnya apa sih? Kamu tuh kenapa sih, Al?? Aneh banget!"

Alva merogoh saku, mengeluarkan ponsel, lalu memperlihatkan foto Zia bersama dengan Kevin. 

Zia terhenyak melihat foto yang diperlihatkan Alva, wajahnya memucat. 

Gawat! Ketahuan! Kok ... kok Alva bisa punya foto ituu?? Zia berteriak panik dalam hati.

"Dari sekian banyak cowok yang bisa kamu deketin, kamu malah jalan sama orang ini?" Alva perlahan mendekati Zia, mempertahankan tatapan mata pada gadis itu. Terlihat jelas sorot kemarahan dari tatapannya, sangat ampuh membuat Zia beringsut ketakutan. 

"Beraninya kamu jalan sama Kevin?!!" pekik Alva marah. "Kamu tahu nggak sih siapa orang ini?? Tahu nggak?!! Dia orang yang selama ini memburu kita, keluarga Maranzano!! Sejak kapan kamu jalan sama dia, hah?!"

"Nggak ... nggak seperti yang kamu sangka ... Alva ...," rintih Zia, berusaha mengumpulkan keberanian yang sempat porak poranda sesaat setelah menyadari yang ia lakukan terbongkar.

"Apa maksudnya itu?! Nggak seperti yang kusangka, apa maksudnya??" teriak Alva. "Kamu, cewek baik-baik, jalan sama orang yang lebih pantas jadi ayahmu sendiri! Apa yang kamu cari dari dia, hah?!"

"Alva ... tenang dulu ...," pinta Zia lemah.

"Kamu sebut dia DILF juga, kamu pikir aku nggak tahu???"

Zia terbelalak. Lututnya terasa semakin lemas. "Kok ... kok kamu ... tahu juga ...?"

"Oh! Surprise! Aku ternyata punya akun juga di Insagram! Tadinya mau follow kamu, tapi apa yang kulihat di story kamu?! Foto suami orang! Bapak orang! Kamu bilang dia apa? DILF? Daddy I'd Like to F*ck?! What's wrong with you???"

Zia menggigit bibir, sekuat tenaga menahan air bening yang mengendap di pelupuk mata. 

Meski menyadari adiknya itu hampir menangis, Alva tidak berniat mengerem emosinya. "Kamu ada maksud apa deketin dia? Emang kamu ada tugas tertentu makanya mau jalan sama dia? Bukannya urusan Kevin murni dihandle Antonella? Terus kamu ngapain ikut-ikutan?! Siapa yang suruh kamu ikutan?! Nggak ada, kan! Terus kenapa? Naksir? Suka? Nafsu? Naksir orang pilih-pilih dong! Bisa mikir nggak, sih??!"

"A-Alva, please ... tenang dulu dong ...," rintih Zia. "Aku tuh ... nggak ada niat aneh-aneh sama dia .... Nggak ada. Cuma jalan bareng aja ... makan bareng ... ya udah, itu aja ...! Nggak pernah ada apa-apa yang di luar batas ...."

"Kamu pikir aku percaya?"

"Aku cuma berusaha jelasin dari sudut pandang aku ...!" pekik Zia. "Sebelum kamu makin ngegas ... kamu dengerin dulu ...!"

"I'm all ears. Ngomong sekarang!" Alva menyilangkan tangan di depan dada.

"Iya ... iya, aku emang sebut dia DILF .... Tapi itu cuma celotehan aku aja ... aku asal ngomong aja .... A-aku sama dia udah sepakat nggak bakal ada yang aneh-aneh, yang kayak kamu pikirkan ...! Aku anggap dia ayah ... dan dia anggap aku anak .... Karena katanya, dia kasihan sama aku," tutur Zia pelan, nyaris terisak.

Alva mendengus sinis. "Anggep ayah. Anggep anak. Omong kosong dari mana itu?" 

Pandangan Alva kemudian tertuju pada beberapa tas belanjaan yang terjatuh di dekat kaki Zia. Rupanya tadi saat Alva menyeret Zia, barang-barang itu juga terbawa. Dia membungkuk, mengambil salah satu tas, membongkar isinya. Sebuah dress berwarna tosca. 

"Ini dibelikan sama dia? Semua ini, belanjaanmu ini, dibayari dia, kan?" Alva meremas dress tosca itu di depan wajah Zia. "Dibelanjakan macem-macem. Ditraktir. Apa tujuannya manjain kamu kalau bukan pengen tidurin kamu?! Itu cuma cara dia memperdaya kamu, tahu?! Siapa pun bakal mikir kalau kalian tidur bareng! Kamunya juga mungkin mau-mau aja, malah mungkin mancing!"

"Nggak ...! Nggak ...," jawab Zia lemah. Luruh sudah air mata, membasahi pipinya. "Di-dia belanjain ... karena memang dia anggap aku anak ...! Beneran, Al ...."

"Siapa yang bakal percaya? Kamu itu anak Flavio Maranzano, bukan anak Kevin Castellano! Ngapain anggap dia ayah?! Lagipula kamu udah dewasa, ngapain masih cari-cari sosok ayah?? Permainan macam apa ini, Zia?! Gila! Aku nggak sangka kamu bakal jadi liar kayak begini!" 

"Alvaro, please .... Please, percaya sama aku ...."

"Masih nggak mau ngaku juga?? Fine! Terserah! Tidurin tuh, daddy ketemu gede kamu itu! Puas-puasin sana! Tidur sama suami orang cuma karena dibelanjain macam-macam .... Kamu tahu apa sebutan untuk itu? Pelacur," maki Alva sadis, kemudian beranjak keluar dari kamar Zia.

Zia membeku di tempatnya. Perkataan menyakitkan Alva yang baru saja didengarnya itu bagaikan petir menyambar di siang bolong, melumpuhkan fisik dan mentalnya.

"Oh. Tenang saja, aku memutuskan untuk nggak akan ikut campur lagi dengan semua urusanmu. Kamu mau berbuat apa, terserah. Aku nggak akan peduli lagi," kata Alva dingin sebelum melewati pintu. 

Rasanya ada ribuan belati menancap begitu dalam, membuat hati Zia terkoyak-koyak. Semua ucapan dan makian yang keluar dari mulut sosok yang spesial baginya benar-benar sebuah pukulan. Telak menghantam, meluluhlantakkan hati Zia yang kini membiarkan dirinya merosot jatuh ke lantai, menangis sesenggukan.

Mengapa hanya sekedar salah paham, Alva tega mengucapkan banyak hal menyakitkan? Tidak bisakah Alva menahan apa yang keluar dari mulutnya? Tidak tahukah Alva, bahwa perkataan bisa membunuh seseorang? 

Mengapa dikatai pelacur? Benarkah dirinya adalah pelacur? 

Hanya karena haus kasih sayang ayah dan bermanja pada ayah orang lain, sedemikian marahnya Alva, bahkan berkata tidak akan peduli lagi padanya? Apakah Alva kini membenci atau bahkan jijik padanya? Mengapa rasanya sakit sekali?

Tanpa diinginkan, kelebatan memori masa kecil terlintas di benaknya. 

Zia kecil, masih enam tahun, menangis kencang di sebuah taman dekat rumah, di hadapannya berdiri tiga anak lelaki sebayanya, menertawakan dirinya. Rupanya tiga bocah itu tadi melempar balon berisi air berlumpur pada Zia, tepat mendarat di badan, mengotori pakaian dan boneka Barbie yang dibawanya.

Pada saat itu Alva kecil muncul dengan heroiknya, memasang badan di depan Zia. Dengan galak Alva memarahi tiga bocah pengganggu, yang lantas membuat mereka ketakutan lalu kabur melarikan diri. 

Kemudian dengan penuh perhatian Alva menenangkan Zia yang masih menangis. Noda lumpur kotor di baju dan boneka Zia dibersihkan sekedarnya oleh Alva, lalu membujuknya pulang. Perlakuan hangat Alva mujarab membuat Zia merasa nyaman dan aman ... sejak saat itulah Zia selalu bergantung pada Alva. 

Termasuk saat zaman sekolah, Zia pernah terlibat pertengkaran dengan teman sekelas. Alvalah yang selalu membelanya, menemani dan menenangkan Zia. Sungguh, tidak ada orang yang lebih mengerti Zia selain Alva, kakaknya sendiri. 

Beranjak remaja, hubungan keduanya masih tetap manis, akrab, sebuah contoh yang disebut "sibling goals". Hanya ada satu hal yang berubah, yakni tumbuhnya perasaan tertentu yang Zia rasakan terhadap Alva. Zia kerap menekan perasaan tersebut hingga saat ini, tidak menceritakannya pada siapa pun, bahkan tidak pada sahabat terdekatnya. 

Alva adalah kakak terbaik sekaligus orang terfavorit bagi Zia. Jadi mendengar Alva mengatakan hal-hal sadis padanya sungguh membuat Zia hancur ....


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.