TDR (7-8) | INA
Bab 7 – Hasrat Tak Terbendung Sang Don
Kevin tiba di rumah Maranzano kira-kira satu jam kemudian. Seperti biasa dia bersikap kooperatif saat melewati proses protokol keamanan, membiarkan anak buah Maranzano menggeledah dirinya. Namun hari ini tidak seperti biasanya, dia tidak melihat kehadiran Alvaro Maranzano saat penggeledahan. Bukan hal yang istimewa, namun Kevin tetap merasa heran. Bukankah anak laki-laki Flavio Maranzano itu yang paling disiplin?
Usai diizinkan masuk, Kevin melangkah santai menuju ruang kerja Antonella di lantai dua. Namun di tengah jalan, saat melewati sebuah ruangan dengan pintu terbuka, entah mengapa dia merasakan ada dorongan kuat untuk menoleh ke dalam ruangan itu. Di dalam ruang kamar itu, dilihatnya seorang perempuan duduk di lantai, memeluk lutut sambil terisak-isak. Kevin merasa familiar dengan perempuan itu.
"Z-Zia?" panggil Kevin ragu.
Dress pink selutut dengan bahu terbuka dan rambut bergelombang .... Kevin menyibak keraguan setelah memastikan siapa yang dilihatnya. Gadis itu benar Fabrizia.
"Zia!" Kevin tergesa menerobos masuk ke dalam kamar, menghampiri Zia, berjongkok di sampingnya. "Zia, Zia ... kamu kenapa menangis? Ada masalah apa?" tanyanya penuh perhatian, tangannya menyentuh bahu Zia.
Perlahan Zia mengangkat wajah, memandangi Kevin sayu. "D-Daddy ...," panggilnya dengan suara sengau.
Rasa cemas Kevin semakin menjadi menyadari wajah Zia basah, riasan matanya luntur tersapu air yang terus menerus meleleh. "Zia ... a-ada apa denganmu? Kenapa, apa yang bikin kamu sedih?"
Zia hanya sanggup menggeleng lemah. Ia membiarkan lelaki yang selama ini memanjakannya itu membantunya bangun, memapah lalu mendudukkannya di atas ranjang. Kevin duduk di sampingnya, masih terus memandanginya dengan tatapan iba bercampur khawatir.
"Kamu nangis-nangis sampai seperti ini ada apa ...?" tanya Kevin lagi seraya menggenggam erat tangan Zia.
Tidak ada sahutan, hanya isakan samar yang terdengar.
Kevin tidak menyerah. Suaranya lembut dan hangat saat membujuk, "Kamu bisa cerita sama Daddy .... Kamu percaya sama Daddy, kan?"
Betapa Zia ingin menceritakan, mengeluarkan segala uneg-uneg yang ditanggungnya pada Kevin. Namun permasalahan yang dihadapinya belum tentu bisa diterima siapa pun yang mendengar. Mungkin Kevin juga akan kaget dan memandangnya lain bila sampai tahu bahwa ia memendam perasaan terlarang pada kakaknya sendiri. Zia menelan ludah, menahan kata-kata meluncur keluar dari bibirnya.
Berjenak-jenak Kevin memandangi gadis tersebut. Kevin sempat menangkap sedetik perubahan dalam gerak minor otot di wajah Zia, yang kemudian berubah kembali seperti semula. Kevin menyadari ada keraguan dalam diri Zia, mencegahnya untuk bercerita. Dia harus mengubah taktiknya membujuk.
"Siang ini ... Daddy happy banget, bisa jalan, bisa cerita macam-macam sama Zia, putri favorit Daddy. Sampai kita berpisah tadi, kamu juga baik-baik saja," ungkap Kevin. "Daddy ikut tersiksa melihat kamu seperti ini. Cemas sama kamu .... Apa yang mengganggumu? Care to share? Siapa tahu Daddy bisa bantu menyelesaikan masalahmu .... Please?"
Perhatian Zia teralih pada jemari hangat Kevin yang membelai pipinya, dengan lembut menghapus air mata di sana. Mata merah Zia terus memandang Kevin, sementara hatinya bergulat haruskah ia mempercayai pria itu.
"Ada yang menyakitimu? Memukulmu? Atau kekerasan fisik lainnya?" tanya Kevin nyaris berbisik, mempertahankan kontak dengan mata Zia, mencari jawaban di sana.
Zia hanya menggeleng lemah.
"Begitu .... Ada yang menyakiti hatimu?"
Zia mengangguk, lagi-lagi air mata meleleh keluar membasahi pipinya.
"Hatimu sakit, Sayang ...? Daddy minta maaf ... maaf, kamu harus merasakan ini," bisik Kevin, menghapus air mata Zia. "Boleh Daddy tanya lagi, ya? Siapa yang lakukan itu? Pacarmukah ...?"
Zia menggeleng.
"Tapi harusnya Daddy tahu kalau kamu udah punya pacar. Kamu pernah bilang kalau belum punya. Jadi ... apa yang menyakitimu ini, cowok? Cowok yang kamu suka?" tanya Kevin, perlahan namun pasti menggali informasi.
Zia mengangguk berkali-kali dengan lemah.
"Begitu ... kamu disakiti cowok yang kamu senangi .... Kamu ditolak ...?"
Zia tidak merespon, terlihat bingung.
"Atau cowok itu mengatakan hal yang tidak baik padamu?"
Tangis Zia kembali pecah. Ia berusaha menyampaikan di sela-sela tangisnya, "D-dia ... dia bilang ... aku pelacur ...."
"Astaga, ya Tuhan!" Kevin mendesis ngeri. "Kasihan kamu, Sayang!" Lekas direngkuhnya Zia, memeluknya erat.
Kevin membelai rambut dan punggung Zia, membiarkan Zia menangis sepuasnya di dadanya.
"Sssh ... ssshh. Daddy's here. Daddy's here ...." Berulang kali Kevin membisikkan ini di telinga Zia, sesekali bibirnya mendarat ringan di puncak kepala Zia. Mungkin ini adalah saat pertama Kevin dan Zia selekat itu, tak ada jarak sama sekali.
"Kamu boleh menangis sekarang .... Menangislah sepuasnya, Zia .... Tapi setelah ini, kamu harus bangun. Bangun, dan jangan biarkan ucapan negatif dari orang lain, termasuk dari cowok yang kamu suka, mempengaruhi kamu. Kamu bukanlah yang dikatakan oleh orang lain. Siapa kamu, identitas kamu, nggak ditentukan oleh pendapat orang lain! .... Do you get what I'm saying?"
Zia mengangguk pelan di dada Kevin. Isakannya mulai mereda.
Kevin menepuk-nepuk bahu Zia. "Bagus, kamu sepakat ya, jangan biarkan omongan orang membuatmu jadi down. Akan tiba saatnya kamu berdiri dengan kokoh, di depan orang yang mengata-ngatai kamu. Kamu tunjukkan pada mereka kalau kamu bukan seperti yang mereka katakan. Bukankah itu cara membalas dendam yang paling memuaskan ...?"
"Mmhmm," gumam Zia.
"Setuju?"
Zia kembali mengangguk.
Kevin tersenyum, mengusap-usap punggung Zia, berharap gadis itu cepat pulih dari rundungan emosi yang membebani. "Daddy bakal di sini terus sampai Zia tenang ... Daddy di sini," ujarnya lembut.
Memang hanya itulah yang sebenarnya dibutuhkan oleh Zia. Perhatian yang hangat dan lembut dari sosok pria dewasa yang sanggup melindunginya senantiasa.
Zia menengadah, memandangi Kevin dalam diam. Ekspresi gadis itu terlihat takjub, seolah tengah mengamati lukisan terkenal bernilai selangit. Mengapa ada saja anak perempuan beruntung yang bisa memiliki ayah sebaik dan sehangat Kevin? Mengapa bukan dirinya yang memiliki keberuntungan sebesar itu?
Merasa gadis dalam pelukannya itu memandangi dirinya cukup lama, Kevin menunduk, mencari mata Zia.
Langkah yang salah.
Jarak yang sangat minim antara wajah keduanya membuat segala sesuatunya terasa samar, blur. Entah siapa yang terlebih dahulu maju, atau malah keduanya, dalam sepersekian detik yang sama, saling tarik menarik bagaikan kutub magnet. Sejurus kemudian bibir keduanya saling bertemu, menempel ringan satu sama lain. Bukannya lantas eling, baik Zia maupun Kevin berbagi kecupan demi kecupan. Manis terasa, indah terasa. Hingga tanpa disadari kecupan keduanya semakin dalam, semakin penuh penghayatan.
Seiring dengan semakin meningkatnya intensitas pertautan antara keduanya, Kevin membaringkan tubuh Zia. Dengan lembut namun sedikit menuntut, dia menyesap, menghirup sebanyak mungkin madu yang menempel di bibir gadis itu. Kevin tidak memiliki niat untuk berhenti, terlebih saat dirasakannya tangan halus Zia meremas rambutnya, yang dia artikan sebagai undangan untuk terus melakukan itu. Kevin tidak mungkin menolak. Pasangan yang usianya bertaut 24 tahun tersebut saling berbagi cumbuan yang panjang, memabukkan keduanya. Tangan Kevin kini merambah, menjamah leher dan bahu Zia, kemudian perlahan turun, menuju bagian tubuh yang menjadi salah satu daya tarik Zia sebagai seorang wanita. Dengan gerakan lembut dia meremas, memijat bagian tubuh si gadis yang tertangkup penuh di tangannya. Erangan samar tertangkap indera Kevin, menciptakan suasana semakin erotis antara keduanya. Kevin semakin lupa memijak bumi.
Bibir Kevin mencari tempat pendaratan lain yang lebih memacu hasrat. Leher Zia menjadi tujuannya, yang langsung mendapat respon positif. Zia menggerakkan kepala ke samping, memberikan akses tak terbatas yang Kevin tanggapi dengan senang hati. Saraf di tangan Kevin menuntut lebih, mendambakan kulit halus lebih banyak lagi. Maka tangan itu bergerak menuju bagian bawah, menyingkap dress hingga dia bisa membelai paha Zia yang halus.
Zia tampak sangat menikmati kebersamaannya dengan Kevin, rona merah di wajahnya jelas menandakan hal itu. Cumbuan yang lehernya terima, ditambah belaian di pinggul dan pahanya membuat sesuatu yang ia miliki bereaksi. Ia mengharap yang lebih lagi. Sekarang.
Sebuah desahan Zia biarkan lolos dari bibirnya. "Kevin .... Daddy ...," rintihnya.
Namun bersamaan dengan itu, Kevin justru seperti tersengat listrik. Refleks dia beringsut menjauh dari Zia.
"Nggak nggak nggak," racau Kevin, merasa kacau. "M-maaf. Maaf, Zia. Maaf," ujarnya terburu.
Zia, menahan napasnya yang memburu terbakar nafsu, hanya bisa melongo melihat reaksi Kevin.
"Nggak, Zia. Maafkan aku," kata Kevin lagi seraya turun dari ranjang.
Tak lepas pandangan Zia tertuju pada Kevin, mempertanyakan apa yang terjadi. "Kenapa ... kok ...?" tanyanya sambil mengangkat dirinya bangun.
"Zia, ini salah," ujar Kevin tegas. Segenap pemikiran logisnya tampak telah kembali di sel-sel otaknya setelah sekian menit terlumpuhkan nafsu. Sekuat tenaga Kevin memberanikan diri menatap Zia. "Maafkan aku, Zia. Aku nggak bermaksud seperti ini. Bukankah kita udah sepakat? Aku salah. Aku sangat bersalah padamu, maafkan aku. Aku nggak sepatutnya menodaimu, maaf."
"T-tapi ... Kevin ... nggak apa, kok ...," gumam Zia lirih.
"Look, Zia," sela Kevin. "Aku nggak akan pernah merenggut kegadisan siapa pun, dan itu termasuk kamu."
"I'm not a ...." Zia tidak sanggup menyelesaikan ucapannya.
"Maafkan. Maaf banget .... Dan ... dan ... kurasa aku nggak bisa lagi bertemu denganmu .... A-aku pasti akan teringat hal tadi, hal yang nggak seharusnya terjadi tadi. Jadi ... kurasa kita tidak usah lagi bertemu setelah ini. Maafkan aku."
Usai mengucapkan hal itu, Kevin lantas beranjak pergi meninggalkan Zia sendirian. Tersisa Zia yang duduk termangu mencerna perkataan Kevin. Kevin tidak akan menemuinya lagi ...? Tidak akan ada lagi momen bermanja-manja pada "Daddy" yang dalam sekejap mampu membuat dirinya merasa nyaman?
Hari ini adalah hari yang sangat mengerikan bagi Zia. Dimaki, dimarahi, diabaikan oleh Alva. Sekarang, Kevin pun menolak menemuinya lagi oleh karena sesuatu telah terjadi antara mereka. Dalam sekejap, dua orang yang menjadi favoritnya menjauh secara bersamaan. Pada siapa lagi Zia bisa berpegangan?
Rupanya Kevinlah yang paling berusaha keras mengalihkan pikiran dan hawa nafsunya. Peristiwa singkat yang baru saja terjadi sukses membangunkan yang dia miliki. Disetir hawa nafsu tak tertampung, Kevin melangkah lebar menuju kamar Antonella. Setelah mendengar sahutan dari dalam kamar setelah mengetuk pintu beberapa kali, Kevin menghela napas lega, harapannya terkabul. Antonella ada di dalam kamar. Dia segera menerobos masuk, mendapati wanita itu tengah menata bantal di atas ranjang. Tak lupa dia mengunci pintu di belakangnya.
"Hai, Kev," sapa Antonella ramah. "Orangku bilang kamu udah dari tadi sampai, kok baru muncul?"
"Hmm." Kevin tidak berniat menjelaskan. Lalu lantaran masih didera hasrat tak terbendung, dia mendekati Antonella. Dari belakang, tangan Kevin gesit membungkukkan tubuh Antonella, lalu menyingkap dan melucuti pakaian dalamnya.
Antonella bahkan tidak sempat untuk merasa terkejut, benda milik Kevin yang keras dan berukuran ekstra tersebut sudah lebih dulu menjajah miliknya tanpa permisi, membuatnya tersungkur ke atas ranjang. Dengan ganas Kevin memompanya dari belakang, sementara tangan Kevin menahan pinggul dan bobot tubuhnya. Antonella hanya bisa melenguh, membiarkan Kevin mendominasi pertemuan intim mereka sore itu.
Kevin menghempaskan tubuh di sisi Antonella, mengatur napasnya yang memburu usai hasrat tuntas. Ekspresi wajahnya kini jauh lebih lempeng, santai, jelas merasa terpuaskan telah mengerjai Antonella sedemikian rupa. Meski tanpa pemanasan, rupanya Antonella tetap sanggup meladeninya, hingga membuatnya terkapar seperti saat ini.
Sementara di sebelahnya, Antonella dengan tenang membersihkan diri sekedarnya, merapikan pakaiannya kembali lalu turun dari ranjang. Ia menyilangkan tangan di depan dada, menatap Kevin yang masih rebahan sambil mendengus, antara kesal sekaligus heran apa yang membuat Kevin bertindak seperti tadi.
"Tumben quickie, lagi buru-buru?" tanya Antonella dingin.
"Nggak." Kevin menggumam singkat.
"Nggak terpuaskan sama istri?" sindir Antonella.
"Nggak usah tanya-tanya ... males jawabnya."
Alis Antonella terangkat. "Oh, kamu pikir aku bakal berhenti bertanya? Tumben-tumbenan kamu nggak ketampung gitu ... biasanya manis." Antonella mengambil jeda sejenak. "Jujur aku suka foreplay kamu," ungkapnya.
"Oh." Energi Kevin mendadak pulih seketika. Dia duduk di ranjang, memandangi Antonella sambil menyeringai senang. "Ya udah, ronde dua yuk," ajaknya genit.
"Siap tempur banget kamu, tuan cabul," sahut Antonella gemas. "Puaskan dulu pertanyaanku dengan jawaban jujur," desaknya.
Kevin menghela napas panjang. Sontak raut wajahnya berubah, seperti tengah menanggung beban berat. Dia turun dari ranjang, mencari tempat yang dirasa nyaman. Sofa berlengan di samping jendela menjadi tujuannya, dan duduklah dia di sana. Dia mengusap wajah, seolah dengan cara itu bisa mengusir keraguannya untuk bercerita.
"Tough day?" Antonella menerka seraya melangkah menuju jendela, mengambil tempat di sana. Dalam hati ia bertanya-tanya, sesulit apa hari ini bagi Kevin, hingga membuatnya terbawa nafsu sampai seperti itu. "Aku nggak sangka, seorang Kevin, bos mafia, bisa mengalami hari sulit juga," imbuhnya.
Lagi, Kevin menghela napas panjang. "Hari sulitku, sayangnya, nggak ada hubungannya dengan status. Aku hanya merasa dikejar perasaan bersalah pada seorang remaja nggak berdosa," ujarnya datar.
"Huh? Ada banyak hal aneh yang baru kali ini kudengar ... dikejar perasaan bersalah, dan ... remaja nggak berdosa. Kamu lama-lama lucu," sahut Antonella.
Kevin tersenyum masam. "Sebenarnya aku juga berutang maaf padamu, Tonie," katanya.
"Kok makin lama makin aneh? Ada apa sih?"
Kevin menguatkan tekad sejenak. "Sejujurnya, selama ini ... selama ini aku juga dekat dengan Zia," ujarnya pelan.
Mata Antonella tampak seperti hendak melompat keluar mendengar pengakuan Kevin. "K-kamu sama Zia??!" pekiknya tak percaya. Ia berkacak pinggang, dengan marah memandangi Kevin.
Melihat Kevin mengangguk, Antonella berdesis, "Oh, Lord!" Untaian protes penuh kemarahan meluncur begitu saja dari mulutnya. "Terus kamu udah ngapain aja sama Zia? Kamu rayu dia, huh? Jerat dia dengan kata-kata manis? Kamu tuh bener-bener aji mumpung, Kevin! Serakah! Mentang-mentang ada kesempatan, tante dan keponakan digarap sekaligus!" hardiknya.
Kevin memejamkan mata. "Percayalah, sebelum ini aku dan Zia tidak terjadi apa-apa. Hubungan kami murni sebatas ayah dan anak ...," akunya.
"Huh?? Ayah anak? Omong kosong."
"Tonie ... tadinya aku hanya tergerak insting kebapakan melihat Zia," sanggah Kevin. "Zia tumbuh tanpa sosok ayah, kan? Kamu harusnya sadar, keberadaan seorang ayah itu sangat krusial dalam tumbuh kembang anak. Apalagi untuk anak perempuan, seperti Zia. Bagaimana dia bisa bersosialisasi dengan lawan jenis, terlebih di usianya yang sekarang, figur ayah memiliki peran yang sangat penting. Siapa yang melindungi? Siapa yang menjadi temannya bercerita? Siapa yang memanjakan? Peran ayah itu penting. Aku bisa mengatakan ini karena aku sendiri memiliki anak perempuan."
"Ayahnya sudah lama meninggal," sahut Antonella datar.
"Maka dari itu, Tonie," sahut Kevin cepat. "Aku menaruh belas kasihan pada Zia. Kami beberapa kali bertemu, sekedar jalan, lunch .... Meski baru sebentar, tapi rasa sayangku tumbuh subur. Aku sayang Zia, sebagai anak."
Antonella memandangi Kevin dengan ekspresi semakin serius.
Lantas Kevin melanjutkan, "Tapi hari ini, sebelum bertemu denganmu di sini, aku memergoki Zia menangis sesenggukan di kamarnya. Aku nggak mungkin berpangku tangan melihatnya menangis. Aku hanya berusaha menghiburnya, menemaninya. Tapi ...."
"Tapi sesuatu terjadi," sela Antonella cepat.
Kevin memejamkan mata. "Ya," desisnya pelan.
"Dear, Lord!"
"Aku nggak tahu apa yang melintas di pikiranku!" Kevin mengepalkan tangan kuat-kuat, merasa gemas mengapa peristiwa mengerikan tadi bisa sampai terjadi. "Aku terbawa suasana .... Ya, aku terbawa suasana. Untungnya, puji Tuhan, aku segera sadar dan menjauh. Belum terjadi yang sejauh itu. Tapi tetap saja aku dihantui perasaan bersalah. Aku menyesal."
Antonella mencerna penjelasan Kevin dalam hati. "Sudah selayaknya kamu menyesal," sahutnya lirih.
"Aku bersalah karena sempat terlena dan menyentuhnya. Lebih bersalah karena aku nggak akan bisa lagi menjadi temannya, menjadi ayahnya ...," ujar Kevin dengan suara tertahan, perasaan sesal mendalam terpancar dari wajahnya. "Ini salahku. Kasihan Zia."
Sedikit banyak Antonella merasa terganggu mengetahui ternyata Kevin mendatanginya dengan nafsu berkobar, menyetubuhinya tanpa permisi, lantaran telah mencumbu perempuan lain tepat sebelum bertemu dengannya. "Jadi ... kamu terbawa suasana saat bersama Zia sampai terangsang, lalu karena keburu eling kamu tinggalkan Zia, makanya mencariku?" tanyanya tepat sasaran.
Kevin meringis menyadari tak ada yang salah dari kesimpulan Antonella.
"Wah, aku merasa seperti pemadam kebakaran," sindir Antonella.
"Please, Tonie, jangan terlalu to the point. Aku malu dan marah pada diriku sendiri. Zia sudah kuanggap seperti anak, tapi aku malah berbuat seperti itu."
Antonella mengangkat bahu.
Kevin berusaha mengubah arah pembicaraan. "Tidakkah kamu penasaran apa alasan Zia menangis pada awalnya? Yang kutangkap dari cerita Zia, dia sakit hati karena slack dengan laki-laki yang disukainya. Ada perkataan tidak pantas yang laki-laki itu ucapkan, makanya Zia sakit hati. Mungkin kamu bisa bantu Zia menghadapi ini," ujarnya.
Antonella tidak menjawab.
"Please, Tonie?" Kevin menatap Antonella dengan pandangan memohon. "Aku nggak bisa lagi mendekati Zia gara-gara kejadian tadi."
"Hmm. Kurasa Zia tangguh, nggak akan semudah itu hancur karena perkataan orang nggak bertanggung jawab," ujar Antonella.
Cepat Kevin menyanggah, "Kalau dia memang tangguh, dia nggak akan menangis sampai seperti itu. Zia masih remaja, Tonie, emosinya belum stabil. Masih masa pencarian jati diri. Kamu orang terdekatnya sekarang, hanya kamu yang bisa membantunya. Please."
"Alright. We'll see," sahut Antonella.
Kevin sampai dua kali memohon ... sebesar itukah rasa sayang pria ini pada Fabrizia? Antonella bertanya-tanya dalam hati. Padahal Zia sudah dewasa, apanya yang masih masa pencarian jati diri? Zia sudah dewasa, dia pasti sadar akan hal itu, Atau mungkin, mungkin di matanya, Zia memang masih remaja, belum dewasa.
Tapi ... kurasa hal ini bisa kumanfaatkan, batinnya kemudian.
Lantas Antonella mengambil tempat di samping Kevin, duduk bersandar menyilangkan kaki. "Rupanya kamu sesayang itu pada Zia," katanya.
Kevin tersenyum masam. "Memang. Tapi malah keadaannya jadi seperti ini."
"Nggak sangka yah." Antonella mengambil jeda sejenak. "Katamu, kamu kasihan pada Zia karena kekurangan figur ayah?"
Kevin mengangguk. "Benar."
"Well. Ayahnya seharusnya masih sehat dan bisa memanjakan Zia sebagaimana kamu memanjakan putrimu sendiri .... Aku yakin, Flavio akan menjadi ayah yang baik, terlepas dari apa pandangan orang-orang terhadapnya. Seandainya ada satu kesempatan yang bisa membuktikan keyakinanku ini. Tapi sayangnya ... ayahnya mati mendadak, secara tragis pula," tutur Antonella.
Kevin diam mendengarkan.
"Kematian Flav yang nggak diduga itu ada pencetusnya. Ada orang yang seharusnya bertanggung jawab atas semua yang terjadi," ujar Antonella datar. "Kamu masih nggak mau spill identitas baru si pengkhianat itu?"
Kevin menatap Antonella sekilas, kemudian tersenyum. "Aku tahu maksudmu," jawab Kevin. "Kurasa memang sudah saatnya aku membuka ini."
Antonella bagai mendapat angin segar. Didorong rasa penasaran ia menegakkan tubuh seraya memandangi Kevin, menunggu penjelasannya.
"Reeve memang wajib bertanggung jawab. Aku sendiri tidak menyangka bisa terlihat hubungan emosional yang dalam dengan Zia ... yang harus berakhir dengan canggung seperti ini."
Antonella masih menunggu dengan sabar.
"Tidak perlu kuperlihatkan wajah barunya. Kamu cukup mengetik nama barunya di mesin pencari ... boom. Wajah baru Reeve yang ingin kamu lihat pasti muncul dalam berbagai angle," kata Kevin tenang.
"Huh?" Antonella terpukau mendengar penjelasan Kevin. "Apa maksudmu? Dia publik figur?"
"Semacam itu."
"Bernyali!"
Kevin mendengus pelan. "Aku juga tidak mengerti jalan pikiran orang yang dengan sengaja menyeret kakakku ke dalam jurang kehidupannya yang suram. Dia telah berbuat lancang mengubah wajah dan identitas kakakku. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan perbuatannya."
"Kamu itu berbuat terlalu baik, terlalu dermawan, dengan menyembunyikan Reeve selama ini," kata Antonella.
"Baik. Atau tolol," balas Kevin.
Tak sabar, Antonella bertanya, "Jadi siapa nama barunya?"
"Aku yakin kamu juga tidak akan merasa asing dengan nama barunya. Salvatore Corvino," jawab Kevin.
Antonella terperangah kaget. "Sa-Salvatore Corvino?? Bos Cosa Nostra di Sivily itu??"
Kevin mengangguk. "Tepat," jawabnya pasti.
Antonella masih tampak tidak percaya. "Jadi Salvatore Corvino adalah Reeve Galante??"
"Yeah. The one and only Reeve Galante." Kevin menghela napas panjang. "Kau tahu ... Reeve mengambil langkah yang bagus dengan melarikan diri ke Sivily, berlindung di bawah ketiak mendiang Alfredo Lucchetto, penguasa Iraly saat itu. Alfredo yang melindunginya, maka tidak mengherankan bila semua orang yang mencarinya hanya akan pulang dengan tangan hampa ... selain karena wajah dan namanya sudah berubah drastis. Sekarang, dia menggantikan si legendaris Alfredo Lucchetto. Tidak akan ada yang menyangka bahwa Salvatore sebenarnya adalah Reeve ... selain orang tertentu. Seperti aku," ungkapnya.
"Hanya kamu seorang yang memegang rahasia ini," sahut Antonella.
"Tadinya. But now you know."
Rasa penasaran Antonella masih belum terpuaskan. "Apakah sejak awal banget kamu tahu identitasnya? Dia yang memberi tahu? Kenapa dia percaya kamu?" tanyanya beruntun.
Kevin mengulas sebuah senyum singkat. "Kalau diingat, alasannya cukup menggelitik ...," katanya. Pandangan Kevin menerawang, menelusuri kembali kejadian yang telah lama berlalu.
2028, Castelverano, Pulau Sivily.
Salvatore Corvino, pria berperawakan tinggi langsing yang gemar mengenakan long coat hitam berkerah tinggi, melangkah santai di halaman belakang rumahnya yang dipenuhi tanaman hias. Semilir angin musim gugur sedikit mengacak rambut hitamnya yang berpotongan pendek. Pria ini memiliki garis wajah dan rahang yang tegas, hidung mancung dan bibir tipis. Anak-anak rambut di rahang serta dagunya menambah kesan maskulin.
Di balik punggung Salvatore, Kevin mengekor tak jauh darinya. Aura penuh kebencian terpancar jelas dari tatapan mata Kevin, ditujukan tepat kepada Salvatore. Salvatore bukannya tidak menyadari tatapan mata itu, dia hanya memilih untuk tidak ambil peduli.
Pria yang terpaut tiga tahun lebih tua dari Kevin itu kemudian berbalik badan, melempar senyum pada Kevin. "Long time no see, Kevin. Sebenarnya aku tidak setuju kakakmu membocorkan hal ini, tapi aku tidak tega melihatnya merindukanmu," ujarnya tenang. Dia menarik napas panjang, melanjutkan, "Kuharap kita sama-sama tahu, bahwa bila identitasku sampai bocor ke luar, kakakmu yang akan ikut terkena imbasnya."
Kevin tidak bermaksud menyembunyikan apa yang dia rasakan terhadap Salvatore. Senyum sinis terukir di wajahnya, lalu dengan dingin menyahut, "Akhirnya kudapatkan pengkhianat terbesar abad ini."
Salvatore menggeleng singkat. "Aku tidak pernah berkhianat. Aku tidak melanggar omerta sedikit pun. Klonku," sanggahnya.
Lekas Kevin mencecar, "Ya, dan siapa yang menghadirkan robot sialan itu? Orang lain selain dirimu?"
Senyum penuh pengertian Salvatore menjadi reaksi atas perkataan Kevin. "Aku mengerti, kau, kalian semua, tentu dendam padaku sebagai orang yang menghadirkan robot pengkhianat itu. Aku sendiri menyesalinya, kau pikir aku enjoy dengan identitas baru yang bukan diriku?"
Kevin mendengus. "Kau ini sangat beruntung ya. Ada seorang yang sangat berkuasa, yang dengan rela hati melindungimu. Padahal seharusnya dia mementingkan kesejahteraan sesama Sivilian. Padahal seharusnya dia tidak perlu repot berbuat banyak padamu. Kau juga menyeret Camila terlalu jauh," katanya penuh penekanan.
"Nicoleta aman di sini bersamaku. Ia sendiri yang memilih untuk terus ikut bersamaku. Kau tidak percaya? Sesaat sebelum kami berganti identitas, aku menanyainya berkali-kali apakah akan kembali ke New Yord, kembali pada ayahnya? Relakah ia mengganti penampilan serta identitasnya dan tinggal di sini bersamaku selamanya? Ia tahu betul, hidupnya sebagai Camila Castellano sama sekali tidak terancam. Ia tidak diburu semua orang, tidak sepertiku," tutur Salvatore. Dia mengambil jeda sejenak. "Tapi ia memilih meninggalkan identitasnya demi bersamaku," lanjutnya.
Kevin tidak menyahut, malahan matanya semakin nyalang menatap Salvatore.
Salvatore menambahkan, "Tanyakan pada istriku benarkah ceritaku tadi. Ia yang akan mengonfirmasi semuanya."
Kevin melengos. Ketegangan di wajahnya perlahan memudar. "Well. Yeah. Aku tadi sudah mengobrol banyak dengan Camila. Ia menyampaikan hal yang sama. Aku marah. Tentu saja aku marah kenapa Camila membuang identitasnya demi kau seorang. Demi cecunguk pengkhianat terkutuk seperti kau," makinya.
Salvatore hanya tersenyum tenang mendengar makian Kevin.
"Kenapa? Kau pikir aku harus takut padamu, sebagai penerus Don Lucchetto? Sama sekali tidak. Kalau saja aku tidak memandang Camila, saat ini kau sudah habis di tanganku. Akan kupamerkan mayatmu di hadapan semua saudara Sivilian yang terkena imbas kelakuan klonmu," kata Kevin penuh keyakinan.
"Kepalamu masih panas, Kevin," sahut Salvatore.
Kevin menyanggah, "Dingin atau panas, aku tidak akan ragu melakukannya."
"Well." Salvatore menghela napas. "Padahal aku bermaksud menjalin hubungan yang baik. Aku memang beruntung karena mewarisi kedudukan Don Alfredo Lucchetto yang sangat kuhormati. Sementara kau, sebentar lagi menggantikan posisi Don Maurice Castellano. Bukankah ke depannya akan banyak benefit bila hubungan kita baik?"
"Tetap saja itu tidak akan menghapus kenyataan bahwa kau adalah seorang pengkhianat busuk," sahut Kevin.
Senyum di wajah Salvatore berangsur menghilang, tampaknya dia sudah cukup muak meladeni kebencian Kevin terhadapnya. "Bukan hanya cyborg sialan itu saja yang berulah," kelitnya kesal. "Adik kandung Roman Burgueno, juga anak laki-laki Roscoe Valachi, keduanya sama-sama orang dalam yang menusuk dan menghancurkan keluarga Burgueno. Lebih dari itu, ayahmu sendiri yang berprestasi menjebloskan banyak mafioso ke dalam penjara. Kau sudah berbuat apa untuk membalas mereka? Kenapa hanya aku seorang yang diharapkan kematiannya?"
"Oh, please, pengkhianat," sahut Kevin cepat. "Jangan pura-pura bodoh! Lucas Valachi, Vanessa Burgueno, keduanya bukan individu yang terlibat secara langsung dalam urusan dapur organisasi, beda denganmu. Mereka bisa bergerak lantaran dibantu klonmu sebagai yang tahu segalanya. Semua kesaksian di pengadilan meluncur keluar dari mulutnya! Lalu kau masih berkelit tidak ada andil apa-apa terhadap kejadian kemarin? Seperti yang tadi kukatakan, siapa yang menghadirkan klon itu? Seharusnya kau juga dihukum seperti teman-temanmu itu, tapi kau malah cuci tangan, berlindung di balik identitas baru. Pengecut!"
Salvatore mengencangkan rahang kuat-kuat, menahan diri untuk tidak membalas perkataan Kevin. "Well .... Katamu kau memandang Camila? Tidakkah kau kasihan padanya, bila sesuatu terjadi padaku? Tidakkah kau kasihan pada calon keponakanmu yang sebentar lagi lahir? Demi ngidam bertemu denganmulah, aku mengizinkan kau datang ke sini. Kalau bukan untuk menyenangkan istriku dan calon anakku, aku tidak akan pernah membiarkanmu tahu mengenai ini," ujarnya berusaha sabar.
Setelah terdiam lama, Kevin akhirnya menjawab, "Baiklah. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Tapi perbuatan baikku ini bukan untukmu." Dia menudingkan telunjuk mengarah pada wajah Salvatore, lalu dengan tegas dan penuh penekanan melanjutkan, "Kau dengar kataku? Kulakukan ini semua hanya demi Camila dan keponakanku."
Kevin menggeleng-gelengkan kepala mengingat kejadian saat itu. Di sampingnya, Antonella terlihat terpukau mendengar kisah Kevin dan Salvatore, yang ternyata adalah Reeve Galante.
Kevin berseru tertahan, "Sampai sekarang aku masih merasa gemas tiap mengingat percakapan kami saat itu. Betapa aku ingin menghabisi Reeve, tapi aku tidak tega pada Camila!"
"Aku bisa memahami posisimu, Kev," sahut Antonella. "Kamu terlalu memikirkan Camila, karena kamu sayang dia. Dan rasa sayang itu harus kamu bayar mahal dengan menahan keinginanmu menghabisi Reeve."
"Tepat." Kevin mengangguk pasti. "Untunglah sekarang ada kamu, Tonie. Kamu yang memang menyasar Reeve pengkhianat itu, demi apa pun tujuanmu. Semua rencanamu terhadap Reeve akan kudukung. Tidak ada yang lebih membuat kalangan kita puas selain melihat Reeve berubah menjadi seonggok mayat. Apa yang dilakukannya adalah infamita, memalukan."
Antonella termenung. Sebuah pemikiran yang sempat mengganggunya semenjak bersua dengan Roman Burgueno tiba-tiba kembali menghantuinya. Ia memberanikan diri bertanya, "Selain perbuatan infamita mengkhianati sesama mafioso ... apakah kamu tahu soal siapa sebenarnya dalang di balik peristiwa Christopher Burgueno? Benarkah rumor bahwa Reeve juga yang melakukan itu? Apakah Flavio terlibat?"
"Ah. Itu," sahut Kevin sambil menghela napas berat. "Perbuatan infamita lainnya. Si Klon Reeve memang menyampaikan itu, tapi apa yang dia dengar dari Reeve asli dinilai hanya asumsi, jadi tidak ada dakwaan untuk Reeve. Para Don di Komisi juga sering membahas ini sebelumnya, mereka yakin rumor tersebut memang benar. Reeve dan Flavio akrab dan sering mengadakan pertemuan, kudengar ada yang menyaksikan Reeve keluar dari rumah Flavio di hari Roman menerima paket berisi kepala anaknya. Melihat bibit pengkhianat yang Reeve miliki, melihat sifat Flav ... mungkin keduanya memiliki tujuan masing-masing ... hanya mereka berdua yang tahu. Kalau kamu berhasil melumpuhkan Reeve, bisa sekalian kamu tanyakan padanya," ungkapnya.
Segunung perasaan kecewa sontak membebani Antonella, menciptakan suasana hening. Bahunya terkulai lemas.
Kevin peka menyadari keadaan Antonella yang tiba-tiba berubah. "Maafkan, tapi aku hanya mengutarakan yang kutahu. Kamu pasti kecewa mendengar kelakuan Flav," ujarnya lembut.
"Anak lima tahun ...," desis Antonella tak percaya. "Dipenggal ... dan Flavio terlibat ...."
"Jangan bilang ... kamu ingin membatalkan niat membalas Reeve," kata Kevin.
Antonella tersenyum masam. "Flav memang gila ... aku nggak pernah sangka dia bisa segila itu. Tapi itu nggak akan membatalkan niatku. Kesalahan Reeve terlalu banyak."
"Senang mendengarnya," balas Kevin. "Tapi ... kalau mengacu pada hukum rimba, di mana mata ganti mata, gigi ganti gigi, pembalasan yang pas untuk perbuatan memalukan Reeve pada Christopher adalah dengan menyasar anaknya. F*ck, no, kuharap kamu nggak berpikiran demikian, Tonie. Bagaimanapun anak Reeve adalah keponakanku, dia nggak ada sangkut pautnya dengan yang ayahnya lakukan," katanya lagi seraya mempertahankan pandangan matanya pada Antonella, mencari kepastian.
Antonella menggelengkan kepala, dengan yakin menjawab, "Aku nggak akan menyasar anak Reeve. Hanya Reeve yang aku jadikan sasaran."
Bab 8 – A Message From The Other World
"Aunty memanggilku?"
Antonella yang tengah menorehkan spidol di papan tulis menoleh, mendapati Zia berdiri di dekat pintu. Papan tulis di ruang kerjanya itu telah penuh tulisan, tempelan foto serta garis-garis penghubung. Segala informasi berkaitan dengan intensi Antonella yang telah berhasil ia kumpulkan selama ini tertera di sana. Ia melempar senyum pada keponakannya itu, menyahut, "Hai, Zia. Sini, duduklah."
Mata Antonella mengikuti gerak tubuh Zia yang patuh menuruti perkataannya. Gadis itu terlihat lesu, membuat Antonella menyadari apa yang dikatakan Kevin benar adanya. Diletakkannya kembali spidol lalu mengambil tempat di samping Zia. "Udah lama kita berdua nggak ngobrol," ujarnya membuka percakapan.
"Mmhmm." Zia menjawab tak acuh.
"Aku dengar kamu sedang broken heart?"
Zia spontan menoleh pada sang tante, pandangan matanya terlihat heran. "Siapa yang bilang?"
"Nggak penting siapa ...," kata Antonella. "Benar?"
Bukannya menjawab, Zia terdiam memandangi Antonella, menerka yang ada di dalam pikirannya. "Pasti Kevin," sahutnya malas. "Ngapain dia bilang-bilang segala sih?"
"Tentu karena dia peduli sama kamu," jawab Antonella. "Kaget juga, kamu ternyata dekat dengan Kevin selama ini."
"Apa maksud obrolan ini, Aunty?" Zia mulai tidak sabar, nada suaranya meninggi.
"Woah. Kamu lagi bad mood banget rupanya," timpal Antonella santai. "Kamu bisa cerita padaku, Zia. Apa gunanya aku sebagai tante kamu? Toh kita sama-sama cewek ... Aunty pasti bisa memahami gimana perasaan kamu."
Zia terdiam lama, menimbang dalam hati. "Aunty masih bakal ketemu sama Kevin itu?" tanyanya pelan.
"Euh ...." Tujuan mendekati Kevin sebenarnya hanya untuk mendapatkan informasi mengenai identitas baru Reeve. Berhubung informasi itu sudah Antonella dapatkan, seharusnya tidak perlu lagi mengadakan pertemuan dengan Kevin. Namun rasanya ia belum terlalu rela menjauhi pria itu.
Saat ini muncul pertanyaan semacam itu dari Zia, Antonella mencoba mendalami maksudnya. Mungkinkah Zia merasa keberatan bertemu muka lagi dengan Kevin bila pria itu masih saja mengunjunginya?
"Entahlah ... kurasa tidak," jawab Antonella gamang.
"Syukur deh. Jangan ya, Aunty," sahut Zia cepat. "Aku males kalau ketemu dia ...," akunya.
"Sebelum ini kamu santai aja tuh? Dekat juga sama dia, malah bisa cerita macam-macam. Apa yang terjadi?" Antonella memancing jawaban.
"Emangnya Kevin nggak cerita sampai situ?"
"Cerita, sih," jawab Antonella. "Soal Kevin anggap kamu anak .... Tapi kemudian malah terjadi sesuatu. Jujur sih, Aunty kaget tahu kalian seintim itu. Menurut kamu sendiri gimana, Aunty pengen dengar juga cerita versi kamu."
Zia menghela napas panjang. "Iya gara-gara terjadi sesuatu ... makanya aku jadi males ketemu dia. Padahal aku sebenarnya nggak masalahin hal itu, tapi dianya yang nggak mau ada urusan lagi sama aku. Aneh kan, Aunty! .... Kan, namanya juga kebawa suasana ... khilaf, apa pun istilahnya. Meski pernah khilaf nggak berarti terus nggak bisa lagi berteman, kan? Aku udah ngomong seperti ini ke Kevin, tapi dianya kukuh, nggak bisa lagi ketemuan sama aku. Kan jadinya kesel ... sedih. Aku cuma pengen ngerasain punya papa ...," keluhnya.
Mendengar itu Antonella turut merasakan kesedihan Zia. Ia membelai rambut keponakannya itu lembut, berusaha menenangkannya. "Kasihan Ziaku sayang ...," gumamnya. "Menurutku ... Kevin nggak mau lagi ketemu sama kamu, murni karena dia nggak ingin teringat lagi kejadian khilaf antara kalian berdua. Nggak peduli pernah seakrab apa hubungan ayah-anak antara kalian, tapi bagaimanapun, sudah terjadi sesuatu, itu fakta. Dia mungkin nggak nyaman. Lebih baik kamu relakan saja ... nggak usah diingat-ingat lagi."
"Iya ngerti, sih ...." Zia menyahut lesu. "Tapi kan ...."
"Kalau kalian tetap ketemuan, menganggap kejadian kemarin nggak pernah terjadi, takutnya ... takutnya suatu hari nanti ada adegan khilaf lainnya. Kurasa itu yang dihindari Kevin," ungkap Antonella.
"Padahal akunya nggak masalah kalau emang kejadian ...," ujar Zia pelan.
"Ooh. Kamu juga pengen rupanya?" goda Antonella.
"Yah, habisnya dia ganteng. Memahami aku banget. Bikin aku nyaman ...," aku Zia dengan nada lirih. "Aunty sendiri juga kelihatan happy banget tiap Kevin dateng."
Antonella meringis ngeri. "Kenapa kita jadi berbagi laki-laki?"
Zia merespon dengan tertawa ringan. "Dia menang banyak yah, Aunty."
"Memang. Makanya jangan kasih dia enak. Udah, lupain dia aja. Nggak penting juga kamu galaukan setiap hari," balas Antonella cepat.
"Iya sih ya ... lupain om-om nyebelin itu," sahut Zia mengamini ucapan Antonella. "Dengan begitu kan, beban pikiranku jadi berkurang."
"Nah itu," sela Antonella. "Sebelum kejadian dengan Kevin, katanya kamu nangis-nangis sesenggukan. Itu kenapa? Sebenarnya siapa yang bikin kamu broken heart?"
Raut wajah Zia kembali muram. Pelan ia menjawab, "Ada ... orang yang aku suka ...."
"Dia ngomong apa ke kamu sampai bikin kamu nangis?" tanya Antonella lembut.
Zia menggelengkan kepala. "Aku nggak mau bahas ... sakit rasanya, Aunty."
"Ceritalah, come on .... Aunty janji, setelah kamu ceritain semuanya, kamu pasti bakal lebih plong, lebih tenang. Karena beban kamu udah kamu bagi ke Aunty," pinta Antonella berusaha membujuk.
"Mmm." Setelah menimbang beberapa saat, Zia akhirnya membuka mulut. "Dia jahat .... Aku nggak tahu salahku di mana, tapi dia mengataiku pelacur."
"Beraninya!" desis Antonella.
"Iya kan? Jahat banget, kan, Aunty," rajuk Zia mengharap pembelaan.
"Jahat. Sekarang kamu udah tahu kalau dia jahat, udah nggak ada alasan untuk tetap memelihara perasaan apa pun padanya, kan, Zia? Kurasa ini cara semesta menjauhkan kamu dari cowok yang mulutnya jahat seperti itu. Belum pacaran aja dia berani mengatai kamu, apalagi kalau kalian pacaran ... bisa lebih lagi. Bisa lebih jahat lagi omongannya. Mungkin bisa ada kekerasan nantinya. Duh, Zia, jauh-jauh darinya," ujar Antonella serius.
Dengan tegas dan penuh penekanan, Antonella melanjutkan, "Jangan pernah, dengar kata Aunty, jangan pernah kamu jadi budak atas nama cinta. Secinta apa pun kamu sama orang, jangan biarkan logikamu lumpuh. Jangan mewajarkan perilaku seseorang hanya karena kamu memiliki afeksi pada orang itu. Kamu sendiri yang bakal rugi."
Zia termenung lama, meresapi dalam hati wejangan yang didengarnya.
"Aunty tahu kamu gadis baik-baik, cantik menawan, lovable ... kamu pasti bakal menemukan cowok lain yang jauh, jauh, jauh lebih layak buatmu," ujar Antonella. "Jadi, lupakan aja cowok yang mulutnya ringan seperti itu. Oke?"
Akhirnya sebuah senyum terulas di bibir Zia. "Aunty benar," sahutnya, seperti berhasil menemukan kembali semangat yang pernah menghilang. "Iya. Aunty benar banget," ulangnya.
"Nah. That's my girl," puji Antonella seraya mengusap puncak kepala Zia.
"Tapi Aunty ... aku tuh penasaran .... Aunty sebenarnya cinta nggak sih, sama Kevin? Kalian kan ... mmm ... udah beberapa bulan berhubungan. Apa nggak merasa sesuatu?" tanya Zia seraya memandangi Antonella dengan tatapan ingin tahu.
"Merasa apa? Cinta?"
Zia mengangguk, menunggu jawaban.
"Ya nggaklah," sahut Antonella sambil tertawa renyah. "Hello? Kevin, suami orang? Kalau nggak ada urusan tertentu sama Kevin, aku males banget deket-deket sama dia. Jatuh cinta pada suami orang itu bakal jadi bom waktu, pasti."
"Jadi ... meskipun udah berkali-kali bercinta sama Kevin, Aunty nggak ngerasa apa-apa?" Zia semakin tertarik.
"Nggak," jawab Antonella yakin.
Zia tampak terpukau. "Kok bisa sih ... Aunty? Aku ... aku yang cuma dirangkul, diajak jalan, ditemenin ... itu aja udah bikin aku jatuh cinta. Kok Aunty lempeng banget?" tanyanya.
Antonella mengulum senyum. "Yah ... gimana ya? Pengaruh dari jam terbang, sepertinya."
Zia tampak kesulitan mencerna.
Antonella merasakan dorongan untuk berbagi kisah masa lalunya, agar menjadi bahan pelajaran untuk sang keponakan. "Dulu saat baru mengenal laki-laki ... Aunty juga sama kok kayak kamu," ungkapnya kemudian. "Aunty jatuh cinta pada dia yang ambil keperawanan Aunty. Tapi setelah disadarkan kenyataan, ya udah, move on. Setelahnya, Aunty nggak mudah jatuh cinta lagi. Bawa asyik aja, bawa santai. Jadi bisa dibilang, kalau sedang tertarik pada laki-laki, Aunty cuma biarkan urat yang berbicara. Hati, nggak. Aunty mengharamkan hati ikut campur dalam urusan nafsu."
Mata Zia membelalak lebar. "Hebat ... aku juga mau seperti Aunty .... Aunty bisa heartless makanya selalu lempeng! Kalau aku ... aku sih, nggak cinta sama cowok pertama aku. Tapi sama si cowok yang mulutnya ringan ini, terus sama Kevin ... nah ... aku jatuh cinta sama keduanya ...."
"Cowok ringan mulut, red flag, lupakan. Kevin, suami orang, red flag, lupakan. As simple as that. Yuk, move on, Zia, kamu pasti sanggup." Antonella mengedipkan sebelah matanya. "Bisa, kamu bisa. Kamu tuh tangguh," imbuhnya.
Zia merasakan semangatnya semakin berkobar. "Aku wajib berguru pada Aunty," katanya.
"My pleasure, keponakanku yang cantik." Antonella tersenyum lega, merasa telah berhasil mencuci otak Zia. "Supaya nggak gampang main hati, kamu harus perbanyak latihan, Zia. Latihan menghadapi laki-laki."
"Mmm. Tapi suka males kalau ketemu yang aneh-aneh, kan, Aunty ...." Zia menyandarkan punggung di sofa. Suatu ketika, matanya tertuju pada sebuah foto yang menyembul dari tumpukan dokumen di atas meja dekat kakinya. Zia mengambil foto tersebut, mengamatinya baik-baik.
Antonella mengintip dari balik bahu Zia, rupanya foto Massimiliano Ricci yang sempat diambil Alva secara candid saat pertemuan pertama mereka. "Foto itu ingin kutempel di papan," ucapnya menjelaskan tanpa diminta, sembari menunjuk papan tulis dengan gerakan kepala. "Sebagai bagian dari rencana kita."
"Kita menyasar orang ini?" Zia bertanya penasaran.
"Oh, nggak. Justru dia ally kita. Dikenalkan oleh papanya sendiri. Dia bilang anak itu bisa memberikan bantuan yang kita butuhkan nanti," jawab Antonella.
"Oh." Zia meneliti foto Max sekali lagi. "Siapa ini, Aunty? Namanya siapa?"
Antonella menatap Zia sekilas, menangkap sesuatu yang terpancar dari pandangan Zia yang penuh arti. "Ohh. Kamu tertarik? Mau kukenalkan sekarang?" tanyanya menggoda.
"Ah, apa sih, Aunty," rajuk Zia.
"It's alright, Zia. Aku pikir dia cocok buat kamu jadikan bahan latihan. Kamu menangkap maksudku, kan?"
Zia tidak menyahut, masih asyik dengan yang berada di tangannya.
"Namanya Max, lebih tua dari kamu, paling hanya beda berapa tahun. Dia cukup ganteng, kan? Brewoknya menggoda. Badannya juga jadi," puji Antonella bermaksud menggoda Zia.
Zia menjawab, "Aunty benar .... Emm ... boleh juga. Aku mau dikenalkan."
Kurasa Max cocok untuk jadi teman Zia belajar menumpulkan hati. Max itu tipe heartless, bisa kulihat dari matanya. Semoga Zia bisa segera berubah dan nggak lagi gampang terbuai cinta laki-laki. Di tengah keadaan seperti ini, persoalan cinta-cintaan kesampingkan dulu jauh-jauh, batin Antonella.
Meladeni ratusan komentar yang masuk di aplikasi media sosialnya adalah hal yang rutin Zia lakukan, terlebih bila baru saja mengunggah sebuah konten atau tayangan langsung. Rutinitas yang ia nikmati seiring dengan semakin meningkatnya popularitas Zia di dunia maya. Beberapa hari terakhir ini Zia merasa agak malas membalas tiap komentar yang masuk, hanya sedikit yang ia berikan respon, berhubung suasana hatinya kurang mendukung. Namun usai berbincang dari hati ke hati dengan sang tante sore ini, Zia kembali bersemangat meladeni para penggemarnya.
Zia terlampau asyik bermain di ponselnya hingga tidak menyadari kemunculan anak buah Antonella bersama dengan seorang pemuda berambut cokelat dan brewok memenuhi rahang serta dagunya. Massimiliano Ricci.
"Thanks, Aldo, kamu boleh kembali berjaga," kata Antonella pada anak buahnya. "Hai, Max, cepat sekali kamu datang? Baru juga sejam yang lalu kutelepon," sapanya.
Saat Antonella bangun untuk menyambut tamu, barulah perhatian Zia teralihkan. Ia mengangkat wajah, langsung bertemu pandang dengan sepasang mata yang bersinar tajam dari bawah naungan alis yang menukik. Pemuda itu, Max, melempar senyum padanya.
Zia tersipu, balas tersenyum. Lebih ganteng dari yang di foto! Jadi ini yang namanya Max? batinnya.
Max membalas sambutan Antonella dengan kecupan di kedua pipi. "Well, Antonella, aku punya feeling akan segera bertemu kembali denganmu dalam waktu dekat. Makanya aku sengaja ke New Yord untuk bermain, kebetulan banyak temanku juga di sini. Sudah dari kemarin aku di Manhatten," ungkapnya.
"Wow, waktunya pas banget ya!"
"Yeah. Ternyata benar, kan, kamu menghubungiku. Mungkin kita berinteraksi lewat telepati," gurau Max, disambut tawa ringan Antonella. "Jadi, apa yang mau kita bahas hari ini? Apa kamu sudah punya info sasaran kita?" tanyanya.
"Sebelum itu, aku mau kamu berkenalan dulu dengan keponakanku yang satunya," kata Antonella lantas menoleh dan menggerakkan tangan pada Zia. "Sini, Zia," pintanya.
Zia segera bangun, mendekati Antonella dan tamu tampan tersebut.
"Nah, Zia, ini Massimiliano alias Max. Max, ini keponakanku yang perempuan, Fabrizia," kata Antonella memberi ruang bagi kedua anak muda tersebut untuk saling berjabat tangan.
"Panggil saja Zia," imbuh Zia mengulurkan tangan, sengaja melempar senyuman manis pada Max.
"Senang berkenalan denganmu, Zia," balas Max.
Antonella berkata, "Kuharap kalian bisa berteman baik ya, ke depannya kalian harus saling membantu."
Hati Zia berbunga saat Max balas menggenggam tangannya, sehangat senyum penuh pesona yang terukir di wajah sang pemuda.
Alva berjalan tak tentu arah di sebuah tempat yang asing baginya. Sekelilingnya dinding bermotif gelap yang sebagian lapisannya telah mengelupas. Minimnya penerangan menciptakan suasana temaram sekaligus dingin. Perasaan tak nyaman mengikis keberanian Alva, namun cepat dia kalahkan rasa takut itu, dan terus melangkah meski tidak tahu hendak ke mana.
Tiba-tiba, entah dari mana, segerombolan sosok hitam muncul dan langsung menyergap dirinya. Alva yang terkejut berusaha kuat memberontak, meninju, menendang, namun entah mengapa dia seperti tidak lagi memiliki kekuatan. Tiap gerakannya bagai memukul angin, sia-sia belaka, hingga akhirnya Alva terpaksa pasrah. Gerombolan itu mengikat tangan dan kakinya, mendudukkannya di sebuah kursi.
Saat Alva menengadah ingin melihat seperti apa rupa mereka yang menyerangnya itu, dia terkesiap. Perasaan ngeri merayap, menyadari mereka semua bermata merah. Merah menyala, seolah ada lampu di area rongga mata. Mereka juga tidak memiliki wajah, hanya hitam pekat menyelubungi tubuh mereka dari atas sampai bawah.
"K-kalian siapa??" Alva mencoba berteriak, namun suaranya seolah tertelan, hanya terdengar seperti sebuah gumaman.
Sosok-sosok hitam tersebut kini berdiri di hadapannya, membuat keberanian Alva semakin terpangkas. Mereka terlihat hendak memukul, dan pada saat itulah, seorang pria berperawakan mirip Alva muncul. Tanpa membuang waktu, pria tersebut gesit menyingkirkan sosok-sosok hitam di sekeliling Alva. Mereka lenyap, menghilang begitu saja.
Alva yang masih tidak mengerti apa yang terjadi, hanya sanggup memandangi pria yang menolongnya tersebut. Setidaknya si penolong ini memiliki rupa dan bentuk tubuh yang jelas, tidak seperti sosok-sosok aneh yang menyergap Alva tadi. Sayang, Alva tidak berhasil mengenali siapa penolong ini, namun dia merasakan sesuatu yang aneh tiap kali bertemu pandang dengan si penolong. Perasaan seolah pernah mengenal, seolah tidak asing.
Pria penolong itu kira-kira berusia sekitar 20-an, memiliki tubuh tinggi kekar seperti tubuhnya, rambut hitam sebahu seperti miliknya, namun memiliki bentuk wajah yang agak berbeda, meski bentuk mata dan hidung terlihat serupa seperti milik Alva.
Didera perasaan ingin tahu, dengan lebih seksama Alva meneliti rupa penolong itu, berusaha menggali ingatan di mana pernah berjumpa dengannya. Sementara itu, si penolong, tanpa bersuara sedikit pun, melepaskan ikatan di tangan dan kaki Alva, membebaskan dirinya.
"T-terima kasih," ujar Alva terbata seraya bangkit berdiri. "Kau ... kau siapa?"
Si penolong hanya terdiam, balas memandangi Alva. Dia tiba-tiba saja melempar senyum, namun bibirnya tetap terkatup, tidak jua memberikan jawaban yang Alva tunggu.
Senyum si penolong memantik percikan memori yang Alva miliki. Dia teringat, pernah mengamati foto yang dikirimkan Antonella di ponselnya. Foto seseorang tengah tersenyum persis seperti senyum si penolong, dengan penampilan yang sama persis juga .... Itu adalah foto Flavio Maranzano.
"Flav ... kau Flav?" desis Alva tidak percaya.
Si penolong masih terus tersenyum, seolah berat baginya untuk merespon Alva.
"A-ayah?" Alva memanggil penuh harap. "Tapi ... tapi bagaimana mungkin ...."
Si penolong tetap tidak menyahut, malahan dia berbalik badan, lalu melangkah menuju pintu.
Alva terperanjat menyadari orang itu hendak pergi meninggalkannya. "Ayah!!" panggilnya nyaris berteriak. Tergopoh dia melangkahkan kaki lebar-lebar, bermaksud menyusul. "Ayah, tunggu!"
Si penolong menekan tuas pintu, namun kemudian gerakannya terhenti, lalu menoleh pada Alva.
Suara berat tiba-tiba menyelusup ke dalam telinga Alva, membuatnya terpaku. Entah mengapa Alva merasa yakin bahwa si penolong itu yang bersuara, meski tidak ada gerakan sama sekali di bibirnya. "Alvaro, kau harus ingat ini. Apa pun yang terjadi dalam hidupmu, seorang Maranzano tidak pernah mengabaikan, atau malah membenci sesama Maranzano. Aku hanya ingin kau memegang teguh hal ini. Jaga dirimu baik-baik, Alva."
"Ayah!!" Alva sontak terbangun dengan peluh bercucuran di sekujur tubuhnya.
Napas Alva tersengal, pucat pula wajahnya, begitu tersadar dari alam mimpi.
Anj*ng .... Mimpi? Itu tadi ... mimpi??! Alva berseru dalam hati. Perlahan dia mengatur napas hingga kembali normal, sementara benaknya sibuk berpacu mengingat detail kejadian dalam mimpi yang baru saja dia alami.
Mimpi ....
Alva mengedarkan pandangan memindai isi ruangan. Dia berada di kamar, di atas ranjangnya sendiri. Masih belum yakin, Alva meneliti tangan dan sekujur tubuhnya, utuh. Dia menggenggam tangannya sendiri, menekan kuat-kuat telapaknya dengan kuku. Sakit. Kali ini dia tidak bermimpi.
Mimpi ... jadi itu tadi mimpi .... Alva berusaha meyakinkan diri.
Sesuatu membuatnya teringat. Tergesa Alva mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja nakas, samping tempat tidurnya. Dia membuka galeri foto, mencari foto Flavio yang pernah Antonella kirimkan.
Alva menemukan foto dalam sekejap. Foto Flavio yang muncul dalam mimpi, yang memang telah lama dia miliki. Sosok dalam foto inilah yang muncul dalam mimpinya barusan, menjadi figur yang menyelamatkan dirinya dari kepungan makhluk hitam yang entah manusia atau bukan.
Flavio dalam foto benar-benar serupa dengan penyelamat dalam mimpi. Tanpa disadari, bulu kuduknya meremang.
Ayah ... jadi benar yang tadi adalah ayah .... Ayah muncul di mimpi, batin Alva. Setelah sekian lama ... nggak pernah-pernahnya aku memimpikan ayah. Meskipun foto ini pernah menjadi temanku tidur setiap malam ... berharap ayah muncul di mimpiku ... tapi nggak pernah sama sekali. Baru sekarang. Baru sekarang aku bertemu dengan ayah.
Ayah ... apa kau bahagia di alam sana? Apakah kau selalu mengawasiku selama ini? Kuharap demikian .... Mengapa kau muncul cuma sebentar? Bisakah kau hadir lebih sering? Aku ingin mengobrol denganmu. I miss you so much, Papa.
Selama ini, nyaris tidak pernah Alva bersikap sentimental, terbawa kegundahan lantaran merindukan figur ayah. Baru kali ini dia membiarkan dirinya terhanyut dalam gelombang kerinduan. Biarlah untuk saat ini dia seperti itu, nanti, dia pasti kembali menjadi Alva yang tegar begitu keluar dari kamar.
Satu-satunya pesan yang sempat Flavio tinggalkan kembali bergema dalam kepala Alva. Pesan agar dia tidak mengabaikan sesama Maranzano. Mungkinkah Flavio tidak ingin melihat dirinya bersikap abai, tak acuh pada Zia? Karena memang itulah yang Alva lakukan selama beberapa hari ini, mengabaikan Zia, sesama Maranzano.
Ayah ... maafkan aku. Kurasa kau kecewa melihatku bersikap dingin pada Zia ... adikku sendiri.
Alva menghela napas panjang.
Aku memang sadar sudah berbuat kelewatan. Aku sampai hati memaki dan mengatai Zia ... kata itu. Kata yang nggak sepantasnya keluar dari mulutku. Aku tahu aku salah .... Aku harus segera meminta maaf pada Zia, katanya lagi dalam hati, memantapkan niat.
Setelah mengelilingi rumah, Alva tampak kecewa lantaran tidak menemukan Zia. Sepertinya gadis itu sedang berada di luar. Dia bermaksud kembali ke kamar, namun kakinya malah melangkah menuju ruang kerja Antonella.
Kenapa aku malah ke sini? Ah. Tapi barangkali Tonie tahu di mana Zia, batin Alva.
Dia mengetuk pintu beberapa kali lalu mengintip dari celah yang terbuka. Dilihatnya Antonella sedang asyik menulis sesuatu di papan. "Tonie?" panggilnya.
Antonella menoleh sekilas ke arah pintu. "Hai, Alva, ada apa? Masuklah," ajak Antonella seraya kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Nggak, cuma mau nanya. Kau tahu Zia pergi ke mana?" Alva tetap berdiri di ambang pintu.
"Sedang main keluar, sama temannya. Nanti juga balik," jawab Antonella tanpa mengalihkan perhatian dari papan di hadapannya.
Sama temannya, ulang Alva dalam hati. Bukan sama si Kevin itu kan? .... Semoga bukan, deh.
"Oh. Oke," sahut Alva.
"Oh iya. Alva, nanti malam kita meeting ya. Saatnya membahas rencana kita," kata Antonella.
"Wow, sudah ada titik terangkah?"
"Yes. Persiapkan dirimu."
Alva mengangguk-angguk. Kelihatannya misi Tonie berhasil. Nggak percuma dia dekati Kevin selama ini, baguslah.
"Oke. Sampai jumpa nanti malam," ujar Alva sebelum menutup pintu.
"Kamu tahu apa sebutan untuk itu? Pelacur .... Aku memutuskan untuk nggak akan ikut campur lagi dengan semua urusanmu .... Aku nggak akan peduli lagi."
Untaian kata-kata indah itu terus menerus terulang dalam benak Alva. Semakin Alva mengingat, semakin buruk yang dia rasakan. Perasaan bersalah pada Zia, sekaligus marah pada dirinya sendiri mengapa bisa-bisanya tega mengatakan hal itu. Segalanya bercampur aduk, menambah beban berat pikiran Alva.
Bagaimana mungkin bisa memutar balik waktu? Semua yang telah terucap tidak bisa dia koreksi. Hanya satu hal yang bisa dia lakukan sekarang, yaitu meminta maaf. Apakah Zia akan memaafkannya? Apakah hubungan mereka bisa kembali seperti semula?
Entah sudah berapa lama Alva berdiri melamun dengan tatapan kosong di pantry, membiarkan segala perasaan merundung dirinya. Tangan Alva bergerak meraih gelas berisi cairan berwarna keemasan, meneguk isinya perlahan.
Tak berselang lama, seseorang berjalan menuju ke arahnya. Alva refleks menegakkan tubuh begitu menangkap sosok Zia.
Zia memandang Alva sekilas, lalu melewati kakaknya itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia membuka pintu kulkas, mengambil sebuah botol berisi smoothies berwarna pink keunguan.
Mata Alva hanya mengikuti gerak Zia sedari tadi, bermaksud mencari celah untuk bisa mengajaknya bicara, sekaligus mengumpulkan keberanian. Zia biasanya kemudian mengambil gelas kosong lalu duduk santai menikmati smoothies. Seharusnya Alva bisa mempergunakan kesempatan itu.
Tapi tidak. Bukannya mengambil gelas kosong ataupun duduk, Zia malahan melangkah menjauh dari pantry, membuat Alva terkejut. Tergesa ditahannya Zia.
"Zia! Sebentar," panggil Alva seraya mendekati Zia.
Zia menyambut Alva dengan wajah datar seolah tidak tertarik, bahkan, ia sengaja tidak membalas senyum yang dialamatkan padanya.
"Zia ... bisa kita bicara?" tanya Alva lembut.
Zia melengos, namun kemudian mengangguk singkat.
Tentu Alva merasakan perubahan sikap Zia yang drastis, namun memaklumi. Wajar bila Zia membalas sikap dingin Alva selama ini. Alva merangkai kata dengan cepat. "Zia, aku minta maaf," katanya tulus sambil mempertahankan tatapan dengan Zia.
"Aku tahu aku sudah salah ucap ... menyinggung kamu. Nggak sepantasnya aku berkata demikian. Maafkan aku," lanjut Alva, matanya memandang lekat pada wajah Zia, menunggu gadis itu memberikan respon, atau setidaknya, mengubah ekspresi dingin di wajahnya.
"Kamu mau memaafkanku? Please," ujar Alva lagi, tak jua mendapatkan respon.
Zia kemudian melempar senyum, namun tidak ada kehangatan dalam senyuman di wajah dingin itu. Senyum basa basi. "Simpan saja. Aku nggak terima permintaan maafmu," sahutnya.
Mendapatkan jawaban yang tidak diinginkan membuat Alva semakin merasa bersalah. Air muka pemuda itu terlihat semakin kusut. "Serius ...?"
Zia mengangkat bahu tidak peduli. "Ya seriuslah."
"Kenapa kamu nggak ngerti ... kemarin itu aku hanya terbawa emosi, Zia. Aku nggak sungguh-sungguh mengatakan hal sejahat itu. Maaf."
"Kok maksa?" Zia mengernyitkan dahi. "Jujur aja, aku sulit memberi maaf untuk orang yang membuat hatiku sakit. Nggak pernah aku sesakit ini. Jadi, ya udah, urus aja urusanmu sendiri. Nggak usah ajak ngomong aku lagi, bukannya kamu bilang nggak akan peduli sama aku? Aku juga nggak akan peduli lagi sama kamu," tuturnya tenang.
Yang Zia ungkapkan telak menusuk Alva. Rupanya memang terasa sakit mendengar hal itu dari orang terdekat. Alva hanya terdiam menunduk.
"Oke, kita sepakat? Bye," pamit Zia lantas menjauhi Alva.
Comments
Post a Comment