TDR (9-11) | INA
Bab 9 – Keturunan Sang Pengkhianat
Tuntutan tanggung jawab sebagai pengawal sekaligus tangan kanan Antonella, sang Donna keluarga Maranzano, membuat Alva tidak mungkin mempertahankan kondisi hati yang buruk. Maka dia menyingkirkan semua kegundahan, sengaja memasang topeng tegas saat memasuki ruang kerja Antonella, malam itu. Di dalam, Antonella, Zia dan Max sudah menunggu kedatangannya.
"Maaf aku terlambat," sapa Alva, mengambil tempat tak jauh di samping Antonella.
Antonella balas menyapa, "Hai, Alva." Lalu berkata pada semua yang hadir, "Oke, kita mulai sekarang."
Alva menghindari bertemu pandang dengan Zia, namun tidak dengan Max. Dilihatnya Max juga tengah memandangi dirinya, lengkap dengan senyum seolah meremehkan. Alva memutar bola mata, merasa malas masih harus berurusan dengan pemuda brewokan itu.
"Guys, aku punya kabar baik. Identitas baru Reeve sudah kudapatkan sekarang," ungkap Antonella seraya tersenyum bangga.
"Serius, Aunty??" Zia terbelalak, terlihat senang.
"Good news. Spill it now, Antonella," pinta Max.
Antonella kemudian berjalan menuju papan tulis, tempat ia merangkum semua informasi yang selama ini ia kumpulkan. Di sana tertera sejumlah nama, beberapa dilengkapi foto, sebagian tidak. Garis-garis lurus dan saling menyilang menghubungkan tiap nama yang ada.
"Wah, ada foto semua orang. Ada aku juga," ujar Max.
"Tentu, kamu kan bagian dari tim," jawab Antonella menunjuk area yang melingkari nama Antonella, Fabrizia, Alvaro dan Massimiliano.
"Foto kamu ganteng deh," kata Zia centil sambil menyenggol bahu Max.
"Fotonya aja? Orangnya?" Max menyeringai senang.
Alva mengerutkan kening mendengar kedua orang sebayanya ini malah saling merayu. Untungnya dia segera menemukan sesuatu yang tidak dia pahami tertera di papan. "Di daftar korban kecelakaan pesawat itu, kenapa nama Jessica Castellano nggak kamu berikan icon salib, seperti tiga nama lainnya, Tonie?" tanyanya mengalihkan kembali topik pertemuan.
"Ini?" Antonella mengetuk nama Jessica Castellano di papan dengan kukunya. "Kevin pernah mengatakan padaku bahwa Jessica rupanya selamat," jawabnya, yang langsung disambut geremangan para keponakannya.
"J-jadi ada korban yang selamat, Aunty??" Zia terburu bertanya.
"Yes. Menurut Kevin, sepupunya itu satu-satunya yang selamat secara ajaib dari kejadian itu, she's saved by the baby. Tapi namanya tetap tercantum dalam daftar korban resmi ... kurasa ada campur tangan bos Castellano saat itu untuk membuat Jessica tetap disangka sudah meninggal. Atas dasar apa, itu yang belum kuketahui," jawab Antonella.
"Kalau ada yang selamat ... mungkinkah masih ada korban selamat lainnya?" Ada nada penuh harap dari pertanyaan Alva.
Antonella menggeleng pelan seakan memahami pengharapan Alva. "Sayangnya ... hanya Jessica ini. Yang lainnya tewas. Denver Granville suami Jessica, and our beloved Flavio, serta pacar Flav, Alyssa."
Jawaban Antonella membuat situasi hening seketika.
Alva memejamkan mata, menggeleng sekilas, lalu kembali mengamati isi ringkasan di papan.
"Jadi, siapa nama baru Reeve Galante sasaran kita?" Max memecah keheningan.
Antonella bermaksud menjawab namun pernyataan Alva membuatnya mengurungkan niat. "Di bawah nama Reeve Galante ada kode SC, apa itu, Tonie?" tanya pemuda itu.
"SC. Inisial nama barunya," jawab Antonella tenang. Ia mengambil selembar foto dari atas meja, lalu menempelkan foto itu di atas nama Reeve alias SC. Foto seorang pria berusia 40-an yang tampak berwibawa dengan jas formal hitam. "Mungkin kalian familiar dengan foto terbarunya ini. Atau pernah mendengar namanya. Salvatore Corvino," ungkapnya.
"Salvatore Corvino??" Max membelalak. "Kau yakin, Tonie??"
"Salvatore Corvino, penguasa Iralia ... penerus Alfredo Lucchetto yang melegenda zaman dulu itu?" Alva memastikan.
"Benar," jawab Antonella. "Aku yakin sumberku memberikan info yang valid. Dialah sasaran kita, Salvatore Corvino alias Reeve Galante. Wajahnya bukan lagi wajah Reeve, jelas sangat berbeda. Dia sangat niat mengganti identitas, ya? Baik nama maupun wajahnya sudah berganti, wajar saja banyak orang mencarinya namun tanpa hasil."
Zia terdiam mencerna penjelasan Antonella, ekspresinya berubah serius.
"Damn! Salvatore Corvino yang itu!!" desis Max, masih tidak percaya akan hal yang baru saja dia dengar. "Bagaimana kita bisa menyasar orang sebesar Salvatore Corvino? Dia pasti punya kekuatan yang nggak main-main!"
"Salvatore memang orang besar, sebuah tantangan buat kita. Makanya kita semua berkumpul di sini sekarang, untuk brainstorming. Menurut kalian, adakah sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mendekati orang ini?" Antonella melempar pertanyaan sulit pertamanya.
Tidak adanya sahutan, Antonella mengambil spidol dan menarik garis diagonal di bawah nama dan foto Reeve. "Salvatore menikahi kakak Kevin, Camila Castellano, yang sekarang memiliki identitas baru dengan nama Nicoleta Corvino. Lalu ... ada untungnya Salvatore ini orang besar, info mengenai dirinya tersedia banyak sekali di mesin pencari. Info yang sudah kutemukan, adalah dia memiliki dua anak. Anak mereka yang sulung bernama Benjamin Corvino, dan yang kedua, Emmeline Corvino," katanya seraya menuliskan dua nama itu di bawah garis yang tadi ia torehkan.
"Benjamin Corvino?" gumam Zia, refleks mengeluarkan ponsel lalu membuka aplikasi media sosialnya. Selama beberapa saat ia asyik meneliti layar di tangannya.
"Kedua anak ini sepantaran dengan kalian. Kurasa kita bisa masuk lewat anak-anaknya," imbuh Antonella memberikan ide pertama.
"Benjamin Corvino, I got him," kata Zia, membuat semua mata tertuju padanya. Ia tersenyum senang saat memamerkan layar ponsel miliknya pada semua orang, yang menampilkan akun seseorang bernama Benjamin Corvino.
"Ini Benjamin. Dia pengikutku, lho!" lanjut Zia bangga.
"Serius?!" seru Max.
"Tunggu dulu, siapa tahu dia bukan Benjamin Corvino yang dimaksud," sergah Alva.
"Coba kamu lihat dan pelajari isi postingannya, Zia," pinta Antonella, kembali duduk di seberang Max dan Zia.
Zia menurut. Sembari meneliti akun Benjamin ia menyebutkan yang ditemukannya. "Video hang out, video sedang di rumah, titik lokasinya di Castelverano," katanya.
"Castelverano, memang di sana Salvatore tinggal," sahut Antonella antusias.
"Oh. Ada video dia sama ayahnya!!" Zia berseru senang, lalu memperlihatkan video yang ia maksud pada semua orang.
Video tersebut berupa dua buah foto yang diberi efek transisi. Foto pertama menunjukkan Benjamin berusia 2 tahun sedang dipeluk dari belakang oleh sosok pria yang Benjamin sebut sebagai ayahnya. Yang kedua adalah foto Benjamin berusia 18 tahun, dipeluk dari belakang oleh pria yang sama, dan keduanya sama-sama mengenakan pakaian bermotif sama seperti foto 16 tahun sebelumnya. Caption di video tersebut berkata, "Happy fathers day, Papa!"
"Ini Salvatore, kan?" Zia menunjuk foto pria yang memeluk Benjamin tersebut.
"Benar, dia Salvatore. Nice ... nice ...." Antonella tersenyum puas. "Berarti yang berteman dengan Zia memang adalah anak Salvatore."
"Benjamin ini rajin komen loh di postinganku, dia juga selalu muncul di live aku," ujar Zia tanpa diminta. "Aku baru ngeh ... tadi begitu Aunty sebut namanya, aku ingat ada nama Benjamin Corvino juga yang sering muncul di notifikasi."
"Jadi Benjamin itu penggemar setiamu, Zia?" tanya Max, diikuti anggukan Zia. "Wah, memang susah deketin influencer, yang naksir banyak."
"Apa sih, Max?" Zia mendorong pelan bahu Max, namun wajahnya tersipu, jelas senang dirayu. "Nggak sia-sia aku eksis di dunia maya, kan? Dugaanku benar, anak Reeve ada yang nyangkut jadi followerku," ujarnya seraya melirik penuh arti pada Alva.
"Yeah. Kamu berhasil, Zia. Nah sekarang, bisakah kamu dekati Benjamin itu? Kamu ajak ngobrol aja mulai sekarang," pinta Antonella.
"Oh. Tugas mudah, Aunty. Consider it done," sahut Zia sembari bersenandung kecil.
"Berarti sesaat lagi Benjamin akan berada di tangan kita," ujar Max, sebuah senyum aneh terulas di wajahnya. "Anak Reeve Galante dalam genggaman."
Antonella mengernyit menatap Max. "Massimiliano, tidak," sahutnya tegas seraya menggeleng. "Benjamin hanya alat kita agar bisa masuk ke dalam lingkup keluarga Corvino, itu saja. Benjamin bukan sasaran, ingat itu."
Max mengangkat alis, sesaat teringat bahwa 'misi rahasia' yang didelegasikan Roman padanya tidak boleh sampai di telinga Antonella. "Alright, I got it," jawabnya basa basi.
Antonella berkata lagi pada Zia, "Jadi tugasmu dekati Benjamin, sampai dia jadi sahabatmu ya, Zia. Supaya kamu jadi punya alasan untuk bermain ke Sivily. Setelah kamu, kita, berada di sana, kita adakan observasi lanjutan untuk menentukan langkah selanjutnya. Kamu ujung tombak grup ini, Zia, Aunty percaya kamu pasti sanggup."
"Siap, Aunty," jawab Zia ringan.
Jalan menuju kesuksesan membalas dendam Flavio kini telah memiliki titik terang. Agenda pendekatan terhadap Benjamin Corvino sebagai langkah pertama dipercayakan pada Zia, dan hal itu membuatnya bergembira. Bagaimana tidak, yang harus ia dekati merupakan pemuda yang ideal baginya. Paras tampan dengan bentuk wajah tajam dan mata hitam yang tegas, rambut sama hitam, ikal gondrong melebihi bahu. Anak-anak rambut di rahangnya mungkin sama lebatnya seperti brewok Max.
Sudah setengah jam mata Zia terus terpaku pada foto Benjamin Corvino, menonton dan memberi like pada tiap videonya. Zia sadar, dengan begini sudah pasti Benjamin bakalan sadar saat nama Zia muncul di notifikasi. Sebagai penggemar, Benjamin tentu bersuka hati mengetahui dirinya mendapatkan perhatian dari influencer yang dipujanya. Zia terkekeh ringan.
Zia memberikan satu jurus lain, agar Benjamin semakin tersanjung diberi perhatian olehnya. Sengaja ia menekan tombol colek, yang langsung terhubung dengan pesan privat. Kini tinggal menunggu reaksi dari pemuda Iralia tersebut.
Kling.
Notifikasi pertanda pesan masuk di aplikasi media sosial terdengar, Zia segera mengecek. Benjamin mengiriminya pesan.
Cepet banget! Si Benjamin pasti antusias banget liat nama aku muncul di notifikasi dia. Hihihi ..., ujar Zia senang dalam hati.
Benjamin:
Hai, Zia. Thanks for the likes :)
Zia:
Haaai, Benjamin. Salam kenal yah!
Aku sering lihat kamu nontonin live aku. Sering komentar juga, aku kan pernah balas komen kamu yah, kalau nggak salah.
Benjamin:
Salam kenal, Zia.
Iya, aku udah lama jadi follower setiamu. Kaget juga lihat kamu tahu-tahu kasih likes banyak.
Zia:
Hehehe. Iyaa. Nggak apa, kan?
Lagi gabut ... lagi perhatiin daftar followers aku juga.
Kamu yang paling menarik perhatian, sih ....
Benjamin:
Beneran? Wah, aku beruntung dapat perhatian kamu. Kamu nggak live hari ini?
Zia:
Iya, nanti mau live. Kamu jangan lupa nonton yah?
Benjamin:
Pastinya.
Zia:
Seneng deh bisa punya temen baru ... kamu kayaknya anaknya asyik yah.
Mau nggak jadi temen ngobrol aku, Benjamin?
Benjamin:
Panggil aku Benja saja, Zia, biar lebih akrab. Itu nama kecilku.
Dan ... holy shit, mimpi apa aku semalam?? Tentu saja aku mau jadi teman kamu!
Zia:
Aaa. Makasihh, Benja.
Sudah kuduga kamu menyenangkan.
Jangan kaget kalau aku bakal bawel yah, nantinya.
Benjamin:
Aku bakal senang hati ngobrol sama kamu, ngobrol apa pun. Bebas.
Zia
Kalau begitu, aku minta nomer kamu dong? ;) Boleh kann?
Zia menyeringai senang melihat balasan Benjamin berupa rangkaian nomor ponsel.
Ah, mudahnyaaa. Ajak ngobrol dulu yang ringan-ringan ... makin lama makin intens. Kalau dia emang minat sama aku, pasti bakal mau ketemuan, batin Zia.
Zia menulis rangkaian nomor ponselnya juga sebagai balasan.
Zia:
Thanks, Benja! Boleh nggak kalau nanti-nanti kita video call? Biar aku bisa lihat kamu jugaa.
Benjamin:
Woah! Justru itu yang aku inginkan, Zia, malah kamu yang minta duluan. Boleh banget, Zia, kapan pun.
Sementara itu di belahan dunia sana, Benjamin Corvino tengah tersenyum-senyum senang, matanya terpaku pada barisan chat dengan Zia. Berkali-kali dibacanya obrolan singkat yang berakhir dengan bertukar nomor .... Antusiasme Benjamin meningkat drastis.
"Hei! Ngapain kamu, senyum-senyum sendiri?" tegur seorang gadis yang lebih muda dari Benjamin seraya mendorong pelan bahunya. Ia duduk di samping Benjamin, kerlingan matanya menggoda sang kakak. "Dapet pacar baru yaa?"
"Bukan urusanmu, Emm," sahut Benjamin tak acuh, merasa terganggu lamunannya diinterupsi.
Emmeline, gadis berambut hitam ikal sepunggung ini hanya terpaut setahun dari Benjamin. Mata bulat hitam dengan pipi yang mencebil penuh, bentuk bibir sempurna yang selalu menyunggingkan senyum hangat cerah ceria. Perawakannya kecil langsing, lincah. Anak bungsu kesayangan ayahnya, Salvatore Corvino.
"Lihat, ih," rajuk Emmeline memiringkan tubuhnya mendekat pada Benjamin, mengintip isi layar ponselnya.
Benjamin sontak menjauhkan ponsel dari Emmeline. "Kepo banget nih anak. Apa sih?"
"Mau lihat cewek baru kamu kayak apa. Cakep nggak?"
"Cakep dong. Seleb medsos," jawab Benjamin bangga.
"Wihhh! Gaya banget kamu!" seru Emmeline tidak menyangka. "Eh. Jangan-jangan yang namanya Zia itu ya? Aku kan sering lihat kamu nontonin Zia. Semua postingannya kamu like."
"Kamu follow dia juga?"
"Nggak. Emang bener dia?? Tapi cakep sih, pantesan kamu cengar cengir terus dari tadi," ledek Emmeline.
"Follow aja, anaknya asyik kok," saran Benjamin.
"Ciee yang lagi kasmaran! Hebat juga kamu bisa pacaran sama dia."
Benjamin segera menyahut, "Belomlah, gila. Baru juga kenalan."
"Oooh."
"Nggak ada kerjaan, ya, Emm? Mending bantuin mama masak sana. Belajar masak. Gimana bisa dapet cowok kalau nggak bisa masak," ejek Benjamin.
"Hari gini masak? Restoran banyak," sanggah Emmeline.
Benjamin menggeleng-gelengkan kepala. "Aku kasih tahu kamu nih .... Cowok lebih menghargai kalau pasangannya bisa masak, dia bakalan lebih cinta," katanya.
"Masa iya? Bukannya cukup digoyang aja?" timpal Emmeline kenes.
"Heh. Kamu nih kecil-kecil pinter juga rupanya!" sambut Benjamin cepat.
Emmeline terkekeh ringan. "Kan belajar dari kakaknya ...."
"Apaan? Aku anak baik," sanggah Benjamin.
"Ih, siapa yang bakal percaya? Kamu kan udah pacaran berkali-kali, ya kali nggak ngapa-ngapain."
"Dibilang, bukan urusanmu," sahut Benjamin kesal. "Kamu jangan deket-deket sama cowok yang brengsek. Nih, aku ingetin dulu karena aku peduli sama kamu. Kalau perlu, kamu kasih lihat dulu bentukan cowok kamu ke aku. Nggak usah ketemu, dari foto aja. Nanti aku yang selidiki dia pantes nggak buat kamu."
"Duh, baik amat, kakakku?" Emmeline mengerling manja.
"Apa boleh buat, papa pernah minta aku bantu jaga kamu."
"Kalau begitu aku nggak bebas dong," gumam Emmeline.
"Demi kamu, tahu. Coba ngaku, kamu lagi dekat sama siapa?" tanya Benjamin.
"Mmmm ...." Emmeline malah bergumam tidak jelas.
"Emm, santai aja. Kan kamu nggak mau kalau dikerjain cowok."
Emmeline berdalih, "Emang ada cowok yang berani macam-macam sama anak bos besar kayak papa?"
"Jangan salah," sahut Benjamin, "cowok sekarang banyak yang nekat."
Emmeline tampak menimbang.
"Pasti ada, nih. Siapa, siapa?" cecar Benjamin.
"Yaa. Ada sih .... ada yang lagi deketin aku," aku Emmeline kemudian. "Jadi ... dia ini sahabatan sama cowok yang lagi pedekate juga sama Lenice, anaknya Uncle Kevin, temen baik mama."
Bola mata Benjamin melebar. "Wah, wah. Dua sahabat sama-sama deketin anak bos mafia lintas negara. Punya nyali."
"Yang deketin aku juga bukannya nggak punya power atau prestasi, sih ...," sahut Emmeline. Mendapati Benjamin memandanginya dengan tatapan bertanya, ia melanjutkan, "Iya. Kamu pasti hafal dong kesukaanku?"
"Apa? Formula Prime? Liga klub bola Iralia? Yang mana?"
Emmeline terkekeh, senang menyadari Benjamin memang sungguh mengenalnya. "Formula Prime. Kamu ingat juga waktu itu aku dan Lenice heboh banget mau nonton langsung balapan di sirkuit Morza?"
"Ingat. Kalian lagi kemabokan pembalap ganteng. Lagian ya, kalau mau dukung atlet atau pembalap tuh, yang dinilai prestasinya, bukan wajahnya," ledek Benjamin.
"Ih." Emmeline memajukan bibir. "Mau cerita malah diledek, nggak jadi aja ceritanya."
"Lanjut."
"Habisnya emang pembalap-pembalap itu ganteng, sih, mau gimana? Terus, aku dan Lenice mengidolakan pembalap Renauld brothers. Kamu pasti sering dengar juga nama mereka, kan kamu penggemar FP juga. Nah, Lenice naksir Orlando ... aku ngecengin Saxon," ungkap Emmeline.
Benjamin mengangkat alisnya. "Orlando sih oke, juara dunia. Saxon anak baru, banyak yang bilang dia tipe sok dan arogan," sahutnya. "Jadi kalian pacarin mereka? Serius, kamu deket sama si Saxon itu?"
"Bukann. Tapi kamu separuh benar. Orlando nggak begitu ngeh dan tertarik sama kami, tapi beda waktu ketemu Saxon. Dia kayak naksir aku gitu, Ben!" Wajah Emmeline merona merah saat mengakui hal ini.
"Terus kami beberapa kali juga ketemu selama empat hari di sana. Sampai sempet tukeran nomer juga! Makanya aku dan Saxon bisa dekat sekarang karena sering chat .... Lenice iri sama aku, katanya tujuanku gaet idol berhasil," tutur Emmeline antusias.
"Nah, nggak lama setelahnya, aku sama Saxon janjian mau ngedate berempat. Aku ajak Lenice, Saxon ajak sahabatnya. Di sanalah si Lenice sama Denver, sahabatnya Saxon, saling jatuh cinta! Progres Lenice sama Denver malah jauh lebih maju daripada aku dan Saxon, loh! Soalnya gimana yah, Saxon juga kan sibuk banget, jarang bisa balas pesan aku cepet. Tapi, aku sih maklumi aja, namanya juga pembalap. Meskipun masih anak baru, tapi terbukti nggak ada yang menganggap Saxon sebelah mata. Bagaimanapun, dia itu anak legenda, lho. Darah balap kental di badannya, samalah kayak Orlando .... Mungkin dalam beberapa tahun ke depan, kita bakal lihat kakak adik ini berebut gelar Juara Dunia! Seruuu!"
Benjamin tampak sabar mencerna celotehan sang adik, meski sebenarnya terheran-heran, bagaimana bisa dia tidak pernah menyadari bahwa Emmeline tengah intens mendekati seorang pemuda. Kalau saja dia tidak meminta Emmeline bercerita, mungkin Benjamin tidak akan pernah tahu.
"Nah! Jadi gituu ceritanya aku bisa deket sama pembalap! Kaget kan, nggak nyangka, kann?"
Benjamin meringis. "Iya iya, aku nggak nyangka kamu ternyata deket sama pembalap. Tapi dengan begitu aku jadi mudah cari tahu sifatnya .... Nanti kalau aku udah selesai riset, aku kabari kamu cocok apa nggak sama dia."
Bibir Emmeline membentuk huruf O sempurna, melongo mendengar niat sang kakak. "Hah .... Serius, kamu beneran mau riset seperti itu? Udah sih, nggak usaaahh," rajuknya.
"Kecuali kamu mau jadi korban laki-laki, sih, ya udah," balas Benjamin.
"Saxon kan ... anak baik. Keliatannya gitu! Abangnya aja, Orlando, juga anak baik, kan? Nurun dari bapaknya, yang emang terkenal gentle dan charming pas mudanya!"
"Jangan menilai dari covernya aja. Udah deh. Pokoknya, aku kabari lagi nanti," sahut Benjamin seraya bangkit berdiri dan meninggalkan Emmeline di ruang keluarga.
Kelihatannya Emmeline naksir berat si pembalap rookie itu. Padahal sering denger kabar kalau dia tipenya tengil. Apa pantas dengan Emmeline? Well. Daripada susah cari tahu, lebih baik langsung kuhubungi, batin Benjamin.
Bab 10 – Organisasi Berbahaya yang Cenderung Rasis
"Sebagai keturunan Juara Dunia Pembalap lima kali, tentu kamu bisa menyamai atau bahkan melebihi prestasi Isaac Renauld."
"Saxon, bisakah penikmat Formula Prime seluruh dunia menyaksikan lebih banyak lagi perseteruan kamu di lintasan dengan Orlando, kakakmu sendiri?"
"Mengapa sampai sekarang kami belum juga melihat kamu mengalahkan catatan waktu Orlando? Hanya sekali dua kali, tapi bukan saat kualifikasi, yang mana sayang sekali! Bukankah seharusnya kamu memiliki skill yang sama dengan Orlando? Kalian sama-sama keturunan tiga pembalap legendaris."
"Apa alasanmu sebenarnya, menolak dimanajeri oleh Isaac Renauld, ayahmu sendiri? Bukankah kamu bakal mendapat banyak sekali keuntungan bila pembalap legendaris membimbingmu secara langsung?"
"Bangsat!!" Saxon Renauld, pemuda 20 tahun berperawakan jangkung melempar squeeze ball yang sedari tadi diremasnya, sementara ocehan para reporter yang mewawancarainya terus saja terngiang di telinga. Bola karet tersebut memantul ke jendela, lalu menumbuk lemari display di sisi dinding, tempat koleksi helm yang pernah Saxon gunakan selama beberapa kali mengikuti Grand Prix. Di tengah lemari display terdapat tiga trofi mewah yang didapatkannya saat dua kali merangsek di podium ketiga, dan satu kali meraih podium tertinggi. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa, di tahun pertamanya sebagai pembalap Formula Prime dia berhasil naik podium sebanyak tiga kali. Masih tersisa dua seri Grand Prix untuk tahun ini, namun Saxon justru semakin merasa muak dengan semuanya.
Urat di leher kokoh Saxon terlihat menegang, geraman kesal lolos dari bibirnya yang tipis. Alis di atas mata cokelatnya berkerut hingga nyaris bertemu di pangkal hidung. Pemuda berambut cokelat pendek tersebut menggerutu pada dirinya sendiri.
"Kenapa sih, tiap kali selalu disinggung soal Orlando? Selalu singgung Isaac? Iya udah, aku anak Juara Dunia, kan nggak usah diungkit terus?! Apa jangan-jangan mereka pikir aku bisa resmi menjadi pembalap FP karena pengaruh Isaac?? Gimana dengan Orlando? Si sulung yang selalu jadi kebanggaan?? Dia bisa secepat itu ya karena mobilnya yang emang kencang!! Hoki aja dia!! Kalau mobilku secepat tim Orlando, pasti dia bakal tertinggal jauh di belakang! Lagian heran, kenapa makin ke sini mobilku makin nggak kompetitif!! Makin payah! Kalau begini terus, aku bakalan makin nggak bisa kejar si Orlando! Pers bakalan makin mengoceh bikin kepalaku meledak!"
"Aarggh! Bisa nggak sih, orang-orang tuh nggak usah banyak komentar?!"
"Terus aja mereka banggain Orlando! Terus aja Isaac banggain Orlando! Anak kesayangan! Padahal bukan darah dagingnya! Asli, aku capek banget, banget, dibikin kepikiran terus selalu dibanding-bandingkan. Dibandingkan dengan Orlando, dibandingkan dengan Isaac! Anj*nglah! Beban banget bawa-bawa nama Renauld!!"
Saxon melengos. "Mereka juga bilang apa, tadi? .... Keturunan tiga pembalap legendaris," katanya dengan nada meremehkan. "Okelah. Elliot Renauld, buyutku, legendaris. Okelah, Isaac Renauld, papaku ... sekian kali jadi World Champion, oke kalau disebut legenda hidup. Yang satu lagi, aku nggak terima, sih. Papanya si Orlando, disebut legendaris juga? Melegenda karena kelakuan kriminalnya, benar. Melegenda di bidang prestasi balap? Nanti dulu. Dari komentar fans veteran di medsos, nggak ada yang sudi menyanjung orang itu. Bahkan aku sering merasa malu sendiri lantaran orang itu nggak lain adalah saudara kembar papa ... pamanku sendiri. Siapa yang sudi membanggakan orang itu?"
Saxon menghela napas berat. Baru separuh lega hatinya, mengeluarkan keluh kesah yang dipendamnya selama ini. Meski tidak ada yang mendengar maupun menyahuti keluhannya, namun baginya itu sudah cukup.
"Apakah bakal selamanya aku berada di bawah bayang-bayang nama besar Isaac Renauld? Apakah bakal selamanya aku dibanding-bandingkan dengan Orlando? Tekanan macam apa ini? Bagaimana kalau kutinggalkan saja semua omong kosong ini?" gumamnya, mempertanyakan niat yang baru saja melintas di benaknya.
"Kau gila, ya?" sela Denver Granville Jr., sahabat Saxon sejak kecil, begitu mendengar niat Saxon yang dirasanya ngawur tersebut. Mereka berdua tengah bersua di coffee shop langganan. Semula, pemuda berwajah ramah ini dengan kalem dan santai menjadi 'tempat sampah' Saxon, mendengarkan beratus keluhan sang sahabat tanpa menghakimi. Namun, begitu niat Saxon untuk meninggalkan semua yang telah diraihnya selama ini tercetus, Denver merasa wajib menegur.
"Aku nggak tahan. Dari semua yang kuomongkan, apa ada yang nggak kau pahami? Aku berniat seperti itu lantaran nggak tahan lagi selalu dijadikan bahan perbandingan!" sanggah Saxon cepat.
"Iya, kau itu gila," ulang Denver. "Bukankah kau terikat kontrak? Kau bakal kena penalti, lah!"
Saxon mengangkat bahu, menyahut, "That's not a big deal."
"Ergh, aku sering lupa kalau keluargamu mencetak uang sendiri," gerutu Denver. "Oke, begini. Apa kau lupa, kau sudah fokus, berlatih setiap saat, mempersiapkan diri untuk tembus di kancah tertinggi balap formula? Itu kau jalani sejak umur berapa? Sejak kau balita! Sudah berapa belas tahun kau berkutat dengan dunia balap, lalu kau sekarang malah mau melempar semuanya hanya karena ocehan orang lain!"
"Ya, tapi ...."
Denver terus menginjak gas, tidak memberikan kesempatan Saxon menyelesaikan ucapannya. "Aku tahu, aku paham kau nggak suka dibanding-bandingkan, dengan siapa pun. Entah dengan ayahmu atau kakakmu. Tapi come on, Sax, nggak semua orang bisa berada di posisimu! Sadar nggak sih, dari delapan miliar orang di seluruh dunia, hanya ada 20 pembalap Formula Prime tiap tahunnya? Dan kau masuk ke jajaran 20 orang itu, dan sampai saat ini kau berhasil tiga kali merebut podium dari 17 seniormu, you're so fu*king incredible, man!!" serunya bernafsu.
"Ya aku sadarlah soal itu!" balas Saxon tak kalah bernafsu. "Aku ini emang hebat! Tapi ... tapi sampai kapan aku harus di bawah bayang-bayang Isaac dan Orlando?? Kalau saja namaku bukan Renauld, aku nggak akan terbawa pikiran seperti ini, tahu?"
"Kalau kau bukan Renauld? Oh, pastinya kau bakalan menjalani hidup seperti orang biasa pada umumnya," timpal Denver. "Nggak punya mesin pencetak uang sendiri, kau nggak bisa buang-buang uang seperti yang bakal kau lakukan kalau sampai sungguhan pensiun," sindirnya.
Saxon berdecak, lalu balas menyindir, "See? Kau sendiri meragukan kemampuanku? Bahwa aku bisa memiliki posisi ini lantaran Isaac."
"Maksudku bukan seperti itu, astaga," sahut Denver seraya melengos kesal. Dengan gemas dia menyugar rambutnya yang pendek, mata hitamnya menatap tajam sang lawan bicara.
"Kau itu punya semuanya, Sax! Kesempatan. Kekuatan. Kemampuan. Nggak ada yang meragukan kapasitasmu, for godsake! Kau cuma perlu tutup kuping kalau mendengar mereka membanding-bandingkanmu dengan siapa pun. Kau cuma perlu tunjukkan kemampuanmu dan patahkan ocehan mereka dengan bukti! Bikin mereka berbalik dari mempertanyakanmu, jadi mempertanyakan Orlando, simplenya begitu!" tegur Denver, jelas terdengar menahan emosi.
Saxon terdiam lama. "Gosh, how I hate both of them. Orlando and Isaac," gumamnya.
"Isaac itu memperhatikan dan mendukungmu selama ini, aku heran kenapa kau malah membencinya," sahut Denver. "Dia ayah yang baik. Belasan tahun aku bersahabat denganmu, aku tahu Isaac itu sungguh menyayangimu, tahu?"
"Nope." Saxon menggeleng cepat. "Yang dia sayangi hanya Orlando, si anak haram."
Denver melengos pasrah. "Here we go again ...."
"Nggak percaya ya bukan urusanku," sahut Saxon tak acuh. Dia mengalihkan perhatian pada ponsel dan media sosialnya. Seperti biasa, ratusan notifikasi membludak tiap kali mengunggah postingan. Saxon menggulirkan layar, mengecek kolom komentar. Dia tidak pernah benar-benar menaruh perhatian lantaran yakin isi komentar netizen pastilah menyanjung dan memujanya. Namun dua baris komentar yang terlihat seperti sebuah teguran menghentikan gerak jemarinya.
@justbenja Inilah contoh cowok yang mempergunakan popularitasnya untuk mengerjai cewek. Sembarangan merayu anak orang.
"Eh, apaan nih?" Saxon mengernyitkan dahi. Komentar tajam orang itu menuai balasan dari sekian banyak penggemar Saxon, memberikan pernyataan membela.
"Apaan?" Denver bertanya penasaran.
"Lihat, ada orang ngamuk-ngamuk di postinganku," jawab Saxon memperlihatkan layar ponselnya.
Denver membaca yang tertera. "Username, @justbenja, who the hell is this? Coba cek akun orang ini," sarannya, yang langsung dituruti Saxon.
"Benjamin Corvino??" Saxon spontan terperanjat begitu membaca nama di akun tersebut.
"Corvino itu kan ...." Denver memandangi Saxon tanpa menyelesaikan ucapannya.
"Nama belakang Emmeline," jawab Saxon yakin. "Apa yang orang ini maksud adalah Emmeline? Mungkin ini saudaranya?"
Denver memicingkan mata, bertanya, "Memangnya kau apakan si Emmeline? Kamu tinggalkan?"
"Hell, no! Aku dan Emm baik-baik saja, baru tadi ngobrol!" sanggah Saxon cepat.
"Selain Emmeline, mungkin, kau ada dekat dengan yang lain?"
Saxon berpikir sejenak. "Nggak, sih," jawabnya. "Kan kau tahu sendiri aku love at first sight pada Emmeline, nggak ada cewek lain. Lagipula, kenapa Corvino yang muncul? Aku yakin yang dia maksud adalah Emmeline."
"Jadi menurutmu, mungkin kedekatan kamu dengan Emm ketahuan oleh si Benjamin ini, lalu dia pikir kamu punya maksud nggak baik?"
"Kurasa demikian. Lebih baik kukirim pesan pada orang ini," kata Saxon lantas mengetuk fitur pesan di aplikasi tersebut.
"Tanyakan saja pada Emmeline, apa dia kenal dengan Benjamin ini," usul Denver.
"It's ok, aku sudah kirim pesan langsung ke orangnya. Kutanya, kau siapa, apa maksud komentarmu? .... Oh, dia sedang mengetik balasan," sahut Saxon, matanya tak lepas dari layar ponsel. "Hahaha. Dia bilang kalau dia tahu aku mendekati Emmeline ... dia juga bilang ..... Nah. Benar, kan, dia ternyata kakak Emmeline."
Denver terkekeh. "Kau dilabrak kakak Emm. Kakak yang protektif," katanya. "Kau balas apa?"
Saxon tersenyum percaya diri. "Kubilang, aku nggak ada niat jahat pada adiknya, aku benar-benar tertarik dan ingin mengenal Emmeline lebih jauh."
"Kayak dia bakal percaya saja," sahut Denver.
"Dia harus. Aku bersikap baik dan menawarkan menjadi temannya agar dia lebih mengenalku."
Denver terdiam sesaat. "Aku nggak pernah sangka, kita berdua mendekati cewek yang sama-sama anak bos mafia. Lenice anak bos mafia New Yord, sementara Emmeline anak bos mafia dari Sivily. Kau juga malah jadi berteman dengan kakak Emm."
"Mafia ya ...." Pandangan Saxon menerawang. "Tidakkah menurutmu, mafia Iralia itu menarik dan menantang?"
"Itu topik kesukaanku sejak dulu juga!" seru Denver bersemangat. "Tapi kita sama-sama orang Eastland, hanya bisa menyaksikan drama mereka dari jauh."
"La Cosa Nostra ...." Saxon mengetik di ponselnya.
"What are you doing?" Denver memandangi Saxon penasaran, sembari menyeruput teh dalam cangkirnya.
"Cari tahu tentang mafia," jawab Saxon tak acuh.
Layar mesin pencari di ponsel Saxon menampilkan banyak informasi, salah satu headline beritanya berbunyi: "Putri Bos Mafia Besar Maurice Castellano Menjadi Salah Satu Korban Dalam Kecelakaan Pesawat yang Terjatuh di Pedalaman Hutan Eastland", lengkap dengan foto yang familiar bagi Saxon. Keningnya berkerut, lantas mengeklik tautan berita tersebut.
"Ini kan ... ini bukannya ibumu?"
Denver menatap sahabatnya itu bingung. "Mana?"
"Ini Jessica, ibumu, Denv!" Saxon menunjukkan foto dalam berita tersebut.
Denver membaca secara cepat isi berita yang ditunjukkan. Ekspresi wajahnya perlahan memucat, matanya terbelalak lebar.
"Jessica seorang Castellano? Benarkah? Jessica anak dari bos mafia, Maurice Castellano?" tanya Saxon memperjelas.
"M-mana kutahu!" jawab Denver tergagap. "Ibu nggak pernah sebutkan nama gadisnya ... aku nggak tahu apa-apa soal ini!"
Saxon mencecar tak sabar, "Kenapa kamu nggak pernah tanya, kenapa nggak pernah cari tahu soal kecelakaan pesawat sebelum kau lahir? Kan kau sudah tahu soal itu?"
"A-aku nggak pernah kepikiran untuk cari tahu .... Aku hanya tahu ibu melarikan diri dari orang jahat, lalu pesawat jatuh ... dan ibu melahirkanku ...." Denver tampak bingung diterpa informasi yang mengejutkan. "Sungguh, aku ... aku nggak ada pemikiran mencari informasi mengenai hal itu. Buatku, kejadian yang dialami ibu pasti sangat traumatis, aku nggak berminat mencari tahu lebih jauh. Karena tiap aku menyinggung soal peristiwa itu, ibu langsung nggak nyaman, aku nggak ingin membebani ibu dengan pertanyaan-pertanyaanku," lanjutnya lirih.
Saxon merenung sejenak. "Memang sih ... bisa kubayangkan peristiwa semacam itu, dialami ibumu yang sedang hamil besar ... pastilah traumatis," gumamnya. "Tapi seharusnya kau juga cari tahu sih, Denv, gali informasi sebanyak mungkin tentang kejadian itu. Nggak harus dari ibumu, tapi dari internet kan bisa. Apa penyebabnya, siapa yang mengejar ibumu, dan segala macamnya. Kalau kau ternyata benar cucu bos mafia, dan kalau kau ternyata seorang Castellano juga, berarti kau masih saudara dengan Lenice," ujarnya lagi.
Bola mata Denver membesar seketika mendengar kesimpulan Saxon. "Sialan. Kau benar," desisnya seraya tergesa menyambar ponsel miliknya di atas meja. "Aku harus segera tanyakan hal ini. Aku duluan, Sax, nanti kukabari lagi," pamitnya.
Keesokan harinya, mereka berjumpa lagi di tempat yang sama. Saxon bergeming, memandangi Denver yang kali ini terlihat pucat. Lutut pemuda yang duduk di hadapannya itu tidak berhenti bergoyang sedari tadi, pertanda tengah dirundung perasaan gelisah. Dengan sabar Saxon menunggu sang sahabat memulai ceritanya.
"Aku dan Lenice adalah sepupu kedua," desis Denver berat.
"Sepupu kedua, berarti ... Jessica dan ayahnya Lenice adalah sepupu?" Saxon mengonfirmasi, yang hanya ditanggapi dengan sebuah anggukan. "That's not a big deal, santai saja, Denv. Memang kalau di negara-negara lain ada yang melarang hubungan antar sepupu. Tapi di sini, di Iralia ... juga di Amerida, nggak ada larangan. Bukan tabu juga. Lagian sepupu kedua, udah jauh."
"Bukan itu yang membuatku overthinking," sahut Denver dalam sekali hela napas. "Aku masih nggak sangka .... Aku shock, tepatnya, mengetahui aku ternyata cucu dari mantan bos mafia Castellano. Bos mafia Castellano yang sekarang, adalah ayahnya Lenice. Ini ... asli, ini mengejutkan. Kupikir aku Brish! Tapi ternyata campuran Iralia-Amerida!"
Saxon tidak menyahut.
"Aku heran kenapa ibu seolah alergi kalau membahas kakekku ... atau darah Iraliaku. Padahal aku hanya bertanya apakah kakek masih ada? Kalau masih ada, apakah ibu tahu di mana alamatnya?" racau Denver.
"Ibumu benar-benar trauma dengan segala sesuatu mengenai Iralia," sahut Saxon pelan.
"Aku tahu. Aku paham. Aku berusaha mengerti ibu. Bagaimana perasaan ibu selama ini ...," rintih Denver. "Tapi bukan berarti aku nggak boleh tahu tentang kakek, kan? Kalau beliau masih ada ... apa aneh kalau aku ingin mengunjunginya? Aku belum pernah bertemu dengannya."
"Terakhir kucari di internet, Maurice Castellano masih hidup, Denver. Katanya hidup di pedalaman menghabiskan masa tua dengan tenang," tutur Saxon.
"Itulah!" Denver lekas mengangguk. "Setelah kudesak, akhirnya ibu ... ibu dan ayahku, akhirnya membeberkan semua cerita yang terjadi di masa lalu."
Denver mengambil napas panjang sembari menyandarkan punggung di kursi, melipat tangannya, lalu melanjutkan, "Ada bencana terjadi bagi para mafioso New Yord, 20 tahun lalu. Mereka ditangkapi, diadili atas perbuatannya ... dan itu semua dipelopori oleh yang namanya Wayne Castellano. Wayne ini nggak lain kakaknya Maurice, jadi Wayne masih kakekku juga. Semua yang diteror melarikan diri sebisa mungkin, termasuk dengan salah satu bos mafia yang namanya Maranzano. Selain para mafioso ini ... rupanya ayahku juga diincar."
Saxon tampak serius mendengarkan cerita Denver.
"Ayahku ternyata pemasok senjata ilegal yang berurusan langsung dengan para bos mafia yang ditangkapi. Nah, sialnya ... ayah dan ibuku sedang berada di tempat Maranzano itu. Maranzano kabur naik pesawat, mengajak orang tuaku! Sial banget emang, kan? Padahal ayah dan ibu bisa saja menolak. Tapi mungkin keadaan sedang genting ... entahlah. Yang jelas, mereka ikut naik pesawat Maranzano ... yang ternyata malah jatuh di hutan, di pedalaman ...."
Denver mengambil jeda sejenak. "Ibu sempat lompat keluar sebelum pesawat menghantam tanah ... meski begitu, tetap saja ibu jatuh dari ketinggian. Benar-benar mukjizat ibu masih hidup ... dan, lantaran sempat lompat itu, ibu kontraksi. Ia melahirkan sendirian, di tempat asing, di tengah hutan. Aku ini bayi ajaib yang beruntung, huh? Nggak lama ... keberadaan ibu ditemukan sepasang mantan dokter yang mengasingkan diri ...."
Pandangan Denver menerawang jauh, tampak tenggelam dalam pikiran dan ingatannya, melambung ke masa-masa yang menguras emosi. "Merekalah penyelamat ibu dan aku saat itu .... Mereka yang tadinya kupikir adalah kakek nenekku, padahal rupanya bukan ...," katanya pelan.
Denver menarik napas dalam-dalam, melanjutkan, "Mereka merawat ibu dan aku, bahkan sengaja nggak memberi laporan pada siapa pun mengenai kami. Mereka ingin merawat aku, terutama, karena mereka sudah dari dulu mendambakan kehadiran seorang anak. Terjadilah kesepakatan antara ibu dan pasangan itu, lantaran ibu juga membutuhkan tempat tinggal yang baru. Ibu sama sekali nggak mau kembali ke New Yord, mungkin trauma ... mungkin sedih, terguncang, karena disangkanya, Denver ayahku, ikut tewas dalam kecelakaan."
Dari ujung mata, Saxon dapat melihat beberapa pengunjung remaja perempuan mencuri-curi pandang ke arahnya, sesekali menunjuk dirinya. Sepertinya mereka mengenali Saxon. Saxon kerap bersikap ramah terhadap penggemar, sebaliknya, sikapnya dingin dan angkuh pada kolega dan wartawan. Biasanya Saxon akan menyapa tiap penggemar yang bertemu dengannya, namun untuk kali ini, Saxon memilih untuk tidak menghiraukan keberadaan mereka. Sesi diskusi dan sharing dari sang sahabat menjadi prioritas.
"Aku dan ibu tinggal di rumah pasangan itu sampai usiaku lima tahunan," tutur Denver. "Selama masa itu, rupanya kakek kandungku, Maurice, berhasil menemukan kami. Ibu bercerita, Maurice gigih membujuk ibu untuk kembali ke New Yord, tapi ibu terus saja menolak. Ibu bilang, ia benci segala sesuatu tentang mafia. Ia benci ayahnya, ia benci pamannya, ia benci semuanya. Makanya ia memilih untuk memulai hidup baru di sini. Kurasa Maurice menyerah membujuk ibu ... jadi dibiarkannya kami di sini. Sampai akhirnya ibu memboyongku pindah ke Leighryn."
Saxon hanya diam mendengarkan cerita masa lalu Denver yang tidak biasa, untunglah, beberapa remaja perempuan yang tadi sempat heboh sendiri melihat keberadaannya, sudah tidak lagi di sana.
"Lalu saat umur 14, kau ingat saat itu aku bercerita dan mengeluh banyak padamu soal ayahku yang tiba-tiba muncul. Selama ini aku meragukan ceritanya, bagaimana dia bisa selamat juga dari kecelakaan pesawat ... lalu katanya dia selalu mencari keberadaan ibu dan aku, dia nggak pernah tahu kalau ibu sudah diselamatkan. Bertahun-tahun hidup luntang lantung sampai akhirnya tiba di Leighryn, bertemu denganku, lalu reuni dengan ibu ...," ujar Denver sembari menatap Saxon.
Saxon mengangguk, menyahut, "Iya. Aku ingat masa-masa itu."
Denver balas mengangguk. "Saat kemarin aku menuntut cerita yang lebih jelas tentang kejadian lalu, barulah aku menyadari bahwa cerita ayah nggak mengada-ada. Ayah juga bercerita padaku, privat, mengenai bisnis ilegal yang dia lakukan saat muda di New Yord, yang membuatnya terseret sampai harus terpisah dari ibu dan aku belasan tahun ...."
"Kau tahu, kisahmu itu layak dijadikan novel," canda Saxon, mencoba mencairkan suasana.
Denver hanya tersenyum masam. "Yeah. Mungkin."
"Damn, bro! Kau ini rupanya setengah Iralia! Cucu bos mafia! Kurasa kau pantas kalau melibatkan diri dalam dunia mafia."
"Hmm." Denver termenung. "Satu hal yang ibu sempat tekankan padaku ... dia bilang, jangan sekali-kali berhubungan dengan mafia. Bahkan untuk berteman pun, jangan. Begitu katanya! Dengan kata lain, ibu melarangku dekat dengan Lenice juga!" Decakan lolos dari bibirnya.
"Kurasa aku bisa memahami ibumu, Denver. Ibumu trauma dengan fakta bahwa ia seorang Iralia ... bahwa ia besar di lingkungan mafia. Makanya larangan itu turun," sahut Saxon kemudian.
Denver mengangguk singkat. "Kurasa kau benar," sahutnya dalam sekali hela napas. "Biasanya aku selalu menuruti ibu, tapi untuk kali ini ... aku akan meminta maaf padanya."
Seulas seringai licik Saxon menanggapi ujaran Denver. "Kau bermaksud menggali lebih jauh, atau malah bergabung dengan organisasi itu?" tanyanya nyaris berbisik. "Kurasa aku bisa membaca pikiranmu ...."
Denver tersenyum puas. "Nggak percuma kita bersahabat selama ini, kan? Kau mengenalku dengan baik," sahutnya.
"Biarkan aku mendukung pilihan hidupmu, Denv, itulah gunanya sahabat. Biarkan aku mengikutimu juga," pinta Saxon.
Hening sejenak, bersamaan dengan itu pula, senyum Denver memudar. "Untuk satu hal itu ... kau ...." Denver merangkai kata dengan cepat. "Dengar, Sax. Kau harus pikirkan hal itu berulang kali, masak-masak. Jangan karena emosi sesaat, kau memutuskan banting setir seperti ini. Yeah, aku tahu kau sering banting setir tiap membalap, tapi ini kan artiannya lain. Kalau kau buang semua kesempatan dan keberuntungan yang kau dapatkan selama ini, dan malah meraih hal yang benar-benar baru buatmu .... Kau harus memiliki tekad, niat, dedikasi tinggi agar nggak goyah nantinya."
Saxon memutar bola matanya.
Reaksi Saxon bukan hal yang mengejutkan untuk Denver. "Aku cerewet seperti ini karena aku peduli padamu, dan aku sahabatmu, benar? Akulah yang bertugas menampar dan menyadarkanmu kalau kau berpikiran nyeleneh seperti ini. Memang benar, aku memanfaatkan separuh darah Iraliaku untuk mengadu nasib. Tapi kau, kau orang Brish sejati. Masuk ke dalam organisasi berbahaya yang cenderung rasis .... Ditambah lagi kau belum terlalu memahami seluk beluknya. Pikirkan lagi," sarannya.
Saxon menghela napas berat.
"Jangan berbuat tolol, Sax. Karirmu itu cemerlang. Rookie terbaik sepanjang sejarah! Apa pernah ada, rookie yang langsung menang di tahun pertamanya? Baru kau! Kau itu sensasional! Jangan buang yang ada di tanganmu, hanya demi memuaskan rasa penasaran dan demi dekat dengan Emmeline. Pikirkan lagi." Denver memberi penekanan serius pada tiap kata yang terucap.
"Fine. Fine. Aku akan memikirkannya lagi masak-masak. Meski kurasa sia-sia," sahut Saxon akhirnya.
Bab 11 – And How They Met
Menjelang Natal, Saxon dan Denver Jr. telah menginjakkan kaki di Vallone Airport, Patermo, Iralia. Sepasang sahabat itu duduk berdampingan di ruang tunggu. Saxon asyik memerhatikan sekian banyak orang lalu lalang di sekeliling sembari menyeruput cappucino, sementara Denver tampak serius menonton sesuatu di ponselnya.
"Saya, Saxon Emmanuelle Regan Renauld, dengan ini menyatakan pengunduran diri saya dari Formula Prime efektif pada akhir musim 2047. Mungkin banyak dari antara Anda semua yang mengernyitkan kening mendengar niat pengunduran diri saya yang mendadak ini. Mungkin banyak dari antara Anda semua yang langsung berteriak, mengapa??
Benar, saya memang masih pembalap rookie. Saya baru satu tahun resmi menjadi pembalap Formula Prime, memperkuat tim yang memperlakukan saya dengan sangat baik. Laudahn FP Team. Akan ada daftar panjang orang dan pihak yang harus saya ucapkan terima kasih, namun menurut saya lebih penting menjelaskan alasan di balik keputusan saya.
Sesungguhnya saya mencintai olahraga ini, yang telah menjadi pusat hidup saya semenjak saya mulai bisa mengingat. Namun, meskipun kehidupan saya selalu berkutat di lintasan balap, saya juga memiliki kehidupan yang berada di luar lintasan.
Saya terobsesi dengan kesempurnaan. Saya bertoleransi dan merasa kita semua mempunyai hak yang sama untuk hidup, untuk memilih jalan hidup masing-masing. Saya tipe orang yang keras kepala dan tidak sabar, ayah saya sang legenda hidup tentu bisa memberikan kesaksian betapa kepala batunya saya. Saya suka keju dan pasta. Warna favorit saya adalah biru langit. Saya mencintai berjalan di pasir pantai, merasakan hangatnya air laut membilas kaki saya ... menikmati pemandangan menakjubkan laut Mediteranea. Saya seorang yang optimis, percaya pada perubahan dan kemajuan, dan setiap hal kecil akan membawa perbedaan.
Selain balapan, saya telah mengembangkan minat lain di luar Formula Prime. Minat apa itu, mungkin tidak perlu saya ungkapkan.
Kecintaan saya pada balap dan Formula Prime tak dipungkiri, menghabiskan begitu banyak energi. Berkomitmen pada passion membalap seperti yang saya lakukan, sayangnya, tidak lagi sejalan dengan keinginan saya untuk meraih minat lain yang berkembang dalam hati saya belakangan ini. Energi yang diperlukan untuk menyatu dengan mobil dan tim, untuk mengejar kesempurnaan membutuhkan fokus dan komitmen.
Tujuan saya telah berubah dari memperjuangkan poin dan memenangkan Grand Prix, menjadi mengejar impian baru yang membutuhkan tekad yang sungguh kuat. Lebih jauh lagi, saya merasa ada banyak hal yang perlu dijelajahi dan dipelajari tentang kehidupan dan tentang diri saya sendiri.
Saya percaya untuk bergerak maju dan terus maju. Waktu adalah jalan satu arah, dan bagi saya, terlalu sering melihat ke belakang hanya akan memperlambat kemajuan.
Selamat tinggal dan terima kasih telah mengizinkan saya berbagi lintasan dan kegembiraan dengan Anda, saya menikmati semua kenangan yang telah terukir."
Demikian penuturan Saxon di dalam video berdurasi kurang dari lima menit tersebut.
Denver melepas earphone yang menempel di telinganya sembari menghela napas panjang. "Kau ini memang gila," katanya mengomentari video yang baru saja ditontonnya.
Saxon melirik tak acuh pada Denver.
"Lihat, videomu sudah ditonton 15 juta orang. Komentarnya juga banyak sekali! Nyaris semuanya menyayangkan pengunduran dirimu," lanjut Denver.
"Viral dong," sahut Saxon cuek.
"Bagaimana nggak viral, keputusanmu itu nggak masuk akal. Bolehlah kalau kau pensiun setelah sukses meraih gelar juara dunia, atau pensiun setelah belasan tahun jadi pembalap FP lalu berkeinginan fokus pada istri dan anak, seperti mantan-mantan pembalap lainnya. Lah, kamu? Baru juga setahun jadi pembalap FP, langsung pensiun. Gila sih, gila."
"Terserah apa katamu."
"Bagaimana reaksi ayahmu?"
Saxon mengulum senyum. "Wah. Ngamuk-ngamuk," jawabnya, sebelum menceritakan yang terjadi antara dirinya dan Isaac Renauld, sang ayah.
"Waktu itu ibuku mengundang kami semua untuk makan malam di rumah ... kebetulan aku yang pertama datang. Beberapa jam sebelum itu aku sudah menyatakan niat pengunduran diriku dari Laudahn, hal yang pasti langsung jadi berita besar, dan sudah tentu ayahku juga mendengarnya. Di rumah, dia langsung menarik tanganku, menegur dan bertanya kenapa aku nggak memperpanjang kontrak di Laudahn ….”
"Kau dapat tawaran dari tim mana? Kenapa tidak pernah cerita?" tanya Isaac, nadanya mulai mendesak.
Saxon mendengus pelan, tatapannya menghindar. "Memangnya kau harus tahu semua hal tentangku?" gumamnya.
Dia menarik napas, lalu melanjutkan, "Aku tidak menerima tawaran dari mana pun. Aku pensiun."
Isaac membelalakkan mata. "Apa katamu?? Pensiun?!!!"
"Pensiun. Yeah. Aku tidak berminat lagi menjadi pembalap."
Isaac terdiam sejenak, mencoba memproses kata-kata itu. "Kau ... kamu sadar apa yang kau bicarakan ini, Nak? Ke-kenapa kok ... kenapa kamu tiba-tiba memutuskan pensiun? Apa karena dua kejadian terakhir dengan rekan setimmu, saling senggolan? Situasi jadi tidak mengenakkan di Laudahn?"
Saxon menggeleng dengan tenang. "Tidak, sama sekali tidak. Aku sudah mempertimbangkan ini baik-baik. Aku hanya hilang minat."
"Hilang minat ... bagaimana bisa? Apa penyebabnya?"
"Nggak ada. Ya hilang saja."
Isaac melangkah maju, frustrasinya mulai terlihat. "Kamu nggak bisa seenaknya begini, Saxon! Kamu baru satu tahun, bisa-bisanya memutuskan pensiun? Kamu itu sudah bekerja keras selama belasan tahun hingga akhirnya berhasil mendapat kursi di tim Laudahn! Memang saat ini mereka bukan tim mobil terbaik, tapi ini batu loncatan buatmu! Kamu itu dilirik banyak tim, Saxon!"
"Yang udah berlalu ya udah. Sekarang ini aku hilang minat."
"Bagaimana bisa kamu hilang minat dalam semalam?? Sebenarnya apa penyebabnya, sih?"
"Sudah kubilang nggak ada."
Isaac menghela napas berat, nadanya mulai naik. "Nggak mungkin nggak ada penyebab! Ini keputusan besar yang nggak bisa asal kau ambil! Apa yang membuatmu jadi seperti ini?"
Saxon menatap ayahnya lurus-lurus. "Kenapa kau berkeras ingin tahu, Dad?"
"Tentu saja aku harus tahu apa penyebabnya! Cepat katakan apa yang ada di pikiranmu, anak muda!"
Saxon menarik napas dalam, seperti hendak menjatuhkan bom waktu. "Baiklah. Aku memiliki tujuan lain, yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan dunia balap. Kurasa passionku di sana."
Isaac menyipitkan mata, bingung dan khawatir sekaligus. "Di mana? Apa yang kau minati sekarang? Kenapa kau berubah dalam sekejap? Kupikir kau memang menyenangi dunia balap selama ini!"
"Aku senang, tapi tidak lagi. Ada hal baru lain yang lebih menantang buatku."
"Apa itu?"
Saxon mengangkat bahu ringan. "Kau tak perlu tahulah."
"Tak perlu tahu! Aku ayahmu, dan aku tidak perlu tahu, katamu?! Katakan!"
Saxon menghela napas berat. "Aku tertarik mafia, dan berencana pindah ke Iralia dalam waktu dekat."
Isaac terpaku. "Mafia?? Are you out of your mind?? Kau tahu seperti apa mafia Iralia itu??"
"Tentu. Kalau nggak tahu, aku nggak akan tertarik."
"Dan kau seenaknya membuang semua kesempatan dan peluang besar yang ada di hadapanmu begitu saja demi mengejar dunia yang benar-benar asing buatmu?!"
"Tidak akan asing lagi buatku. Aku punya pacar anak bos mafia, lalu berkeinginan untuk menjadi bagian dari dunia itu. Nah, sudah aku ungkap semua yang kuinginkan, bisakah kau terima saja? Take it or leave it."
Wajah Isaac memucat. "Kau pikir aku akan menerima tindakanmu yang kacau ini?! Kau tidak seharusnya membuang karir yang baru kau mulai ini begitu saja!"
"Aku nggak harus terus menurutimu, Dad. Ini hidupku sendiri!"
Isaac memijit pelipisnya, seolah mencoba tetap tenang. "Kamu berprestasi, Saxon, sadarkah kau? Semua orang memujimu! Semua menulis hal yang baik tentangmu! Semua orang mengharapkan sepak terjangmu di tahun depan, di tahun-tahun berikutnya! Kalau kau tidak puas dengan mobilmu, berikan masukan untuk tim! Bekerja samalah yang baik dengan mereka! Bertahan dengan mereka setidaknya satu tahun sampai tim papan atas lain menawarimu kontrak! Kau ini dilirik banyak tim, sudah kukatakan padamu!"
Saxon menegang. Sorot matanya berubah lebih tajam. "Lalu? Setelah jadi pembalap dari tim papan atas, lalu apa? Aku masih harus tetap berhadapan dengan pertanyaan dari pers! Masih harus tetap mendengar mereka membanding-bandingkan aku dengan Isaac Renauld yang seorang legenda hidup! Apalagi, membandingkan aku dengan Orlando! Cukup, buatku! Aku nggak suka dijadikan bahan perbandingan!"
Isaac terdiam, napasnya mulai memburu. "Astaga .... Jadi hanya karena kau selalu merasa jadi bahan perbandingan, lalu kau muak? Lalu kau malah memutuskan pensiun?! Bisakah kau berpikir panjang??"
Dari ujung matanya, Saxon melihat dua sosok mendekat, Orlando muncul dengan wajah masam, dan di belakangnya, Terence, kakak kedua, mengikut dengan langkah berat.
"Oh! Ini dia Orlando, si anak emas kesayangan dan kebanggaan semua orang," sindir Saxon tajam.
Orlando menyipitkan mata. "Sax, kau gila, ya? Baru satu tahun jadi rookie, terus pensiun?"
"Seharusnya kau bisa melihat dari kacamata lain! Mereka membandingkan kalian, jadikan itu pelecut semangat! Patahkan anggapan yang tidak kau senangi dengan prestasi! Namanya anak baru, kau itu masih jadi topik berita yang menarik! Media darling! Malahan kau membuang semuanya hanya demi alasan tidak masuk akal!"
"Tidak masuk akal buatmu. Aku sudah cukup muak mendengar mereka selalu menyebut namamu. Seolah aku tidak bisa mencapai posisi ini kalau bukan karena kau seorang Isaac Renauld."
"Jesus!" Isaac akhirnya berteriak. "Sebenarnya maumu apa, sih?! Pokoknya, aku tidak akan terima kau pensiun dini, Saxon Renauld! End of discussion!"
"Aku tidak harus menurutimu! Ini hidupku sendiri, sudah kubilang!"
"Sax, please, sia-sia semuanya kalau kau memutuskan demikian," sahut Orlando.
Isaac menoleh cepat, menunjuk Saxon dengan geram. "Kau akan terus membalap! Tidak ada tawar menawar!"
Saxon tersenyum dingin. "Kenapa kau malah memaksa?? .... Oh. Atau jangan-jangan ini murni egomu semata, Isaac? Kau menginginkan pertarungan antara keturunan Isaac Renauld dan Ferris Rutherford. Aku, sebagai dirimu, lalu Orlando, sebagai Ferris si pembunuh."
Orlando melangkah maju, terpancing. "Kau—"
"Saxon, jaga bicaramu!" sela suara lembut namun tegas. Hollie, sang ibu, ternyata sedari tadi berada di sana, mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.
Saxon menoleh cepat. Namun kata-katanya sudah terlanjur tumpah. "Atau mungkin kau hanya ingin memastikan ada keturunanmu bersaing di lintasan?"
Isaac menyugar rambutnya dengan kesal, gelisah. "Bukankah persaingan sehat antara kakak beradik adalah hal yang bagus? Aku tidak pernah memintamu atau Orlando bertarung seperti aku dan Fez, dari mana kau dapat narasi semacam itu? Sebenarnya apa yang memberatkanmu, huh? Hanya karena dijadikan bahan perbandingan dengan Orlando atau denganku? Kenapa kamu tidak biarkan saja mereka berkata apa, kenapa harus kamu pusingkan? Perkataan mereka nggak seharusnya mempengaruhimu dan malah mengambil langkah minus logika seperti ini! Please, come to your senses, Son!"
Saxon menggeleng-geleng, seperti menolak seluruh dunia. "Lebih baik sudahi pembicaraan nggak jelas ini. Aku akan tetap pensiun dan mengejar impianku. Tidak peduli kau setuju atau tidak!"
“Don’t walk away from me! Saxon Emanuelle Regan Renauld!”
Saxon masih bisa mendengar suara ayahnya yang menggema keras memanggil namanya, menahan langkahnya dengan nada penuh amarah dan keputusasaan. Namun ia tidak menoleh. Rahangnya mengeras, langkahnya tetap mantap. Tekadnya sudah bulat—tak ada lagi yang mampu membuatnya berhenti atau kembali.
"Alhasil aku batal makan malam di sana. Salah Isaac, harusnya dia nggak tanya-tanya soal itu sebelum acara," cetus Saxon enteng. "Aku nggak tahu apakah mereka tetap dinner tanpa aku, atau batal. Kalau memang batal, kasihan juga ibu, sudah capek masak."
Denver memandangi Saxon dengan aneh. "Kau yang terlalu keras. Padahal bisa kau bicarakan baik-baik, bujuk atau yakinkan ayahmu tentang niatmu itu, bukannya malah walk out," timpalnya.
"Kurasa percuma meyakinkan orang itu," sahut Saxon cepat. "Dia itu jelas cuma mementingkan ego ingin memastikan keturunannya tetap di lintasan."
"Kau ini sentimen banget pada Isaac. Mungkin gara-gara Isaac terlalu memanjakanmu sewaktu kecil."
"Apa katamu? Memanjakan? Mana pernah!"
"Kau nggak merasa karena selalu dicukupkan. Yang bisa menilai itu orang luar, contohnya aku. Jelas sekali Isaac itu memanjakanmu. Kurasa karena kau pernah diculik saat bayi ...."
Saxon mengerutkan kening.
"Dia memanjakanmu berlebihan lantaran kejadian itu, makanya kau jadi keras kepala seperti ini," gumam Denver, merangkai sendiri semua fakta yang dia amati sejak bergaul dengan Saxon.
Saxon berdecak. "Apalah. Ngomong-ngomong mana ini, Lenice dan Emmeline jadi jemput nggak? Kalau nggak jadi, kita jalan aja sekarang."
Denver melirik angka di arlojinya. "Harusnya mereka sudah di sini sih. Tadi pas kita landing, Lenice baru jalan," jawabnya.
"Oh."
Denver mengamati sang sahabat yang tengah menyeruput minumannya. "Apa itu?"
"Cappucino."
Denver menggelengkan kepala mendengar jawaban Saxon. "Cepat, buruan habiskan sebelum teman-teman Iralia kita datang. Cappucino di atas jam 12 itu terlarang, tahu," katanya sambil terkekeh.
"Serius? Kenapa aku nggak pernah tahu!"
Saxon menangkap sesuatu dari kejauhan, lalu menganggukkan kepala sembari melempar senyum lebar. Denver mengikuti arah pandangan Saxon, seorang gadis cantik berwajah ceria, rambut ikal hitamnya yang panjang diikat ekor kuda.
"Siapa tuh? Kayak pernah lihat?" tanya Denver.
"Zia, itu si Zia, Denv!" jawab Saxon antusias. "Seleb insagram! Tadi kebetulan banget ketemu pas beli kopi ... dia mengenaliku, 'coz ... who doesn't? Aku juga sering stalking akun dia kalau lagi senggang."
"Kebetulan banget dia di sini, ngobrol apa kalian?"
"Not much," jawab Saxon. "Dia bilang mau liburan merayakan Natal di sini. Lalu kami sempat bertukar nomor ... katanya dia mau kolaborasi bikin konten denganku."
"Well, that's great!"
Perkataan Denver mengambang lantaran ponsel miliknya berdenting pertanda pesan masuk. "Oh. Dari Lenice, dia sudah di sini. Ayo, Sax," ajaknya sambil bangkit berdiri.
Saxon segera mengemasi barang bawaannya, didengarnya Denver berpesan, "Tinggalkan saja kopimu, daripada ketahuan kau minum cappuccino."
"Ya ya ya," jawab Saxon tak acuh.
Sementara itu tak jauh dari sana, Zia tengah berbicara melalui ponsel sembari berjalan mendorong kopernya. "Iya Aunty, ini aku udah dijemput Benja. Nanti aku siapkan laporan tentang semua yang berkaitan dengan Benja."
"Oke, Zia. Aunty sebentar lagi sampai di hotel, nanti Aunty share lokasi ke kamu, kemungkinan besok kita ketemu ya," sahut suara di seberang.
"Siap, Aunty."
"Dan ingat, Zia, jangan sampai ada yang curiga kalau kamu sebenarnya sedang menggali info ya. Bersikaplah manis, innocent, fokus saja pada Benjamin, tapi tetap aware pada semua yang ada di sekitarnya."
"Oke! Consider it done."
"Kamu ujung tombak Aunty, Aunty percaya sama kamu."
Zia memutus sambungan seraya tersenyum penuh percaya diri. Beberapa meter darinya, seorang pemuda tinggi jangkung berambut hitam sebahu melambaikan tangan padanya. Senyumnya lebar dan hangat menyambut Zia.
Zia mengangkat alis, menyadari pemuda tersebut ternyata jauh lebih tampan, tidak seperti yang terlihat di foto maupun videonya. Tidak nampak brewok lebat di wajahnya, mungkin itulah yang membuat pemuda itu terlihat berbeda.
Beneran itu Benja? Cakep banget gila, batin Zia. Tapi ... lho, kok ada si Saxon juga di sana?
Memang, Benja tidak sendirian menunggunya.
"Zia! Aku bawa pasukan, nih. Kenalan dulu," pinta Benjamin saat Zia tiba di hadapannya.
Wow, selain Benja, ada tiga cowok lain yang sama-sama ganteng .... Berkah banget bisa kenalan, nambah relasi! puji Zia dalam hati.
Bersama Benjamin, ada lima muda mudi lainnya yang seumuran. Emmeline, yang hanya setinggi dada Benjamin sang kakak, tampak paling mungil. Di sebelahnya ada Saxon Renauld, yang sempat bertemu dengan Zia beberapa saat lalu. Mantan pembalap yang menggemparkan karena keputusan mendadaknya itu juga menyambut dirinya dengan senyum lebar.
"Hai, Zia, ketemu lagi," sapa Saxon.
"Hai, Saxon!" balas Zia.
Ia berkata lagi dalam hati, Nggak sangka si pembalap ini ternyata ketemuan sama adiknya Benja. Dunia sempit, ya! Hmm .... Seandainya ada Max dan Alva di sini, bakalan jadi kumpulan cowok ganteng spek model. Boyband. Hihihi. Boleh juga kuajak semuanya buat muncul di live aku nanti!
Di sebelah Saxon, pemuda berambut hitam pendek dengan sopan memperkenalkan dirinya, Denver Granville.
Hah? Denver ... Granville? Bukankah itu nama salah satu korban kecelakaan pesawat bersama dengan ayah? .... Eh. Tapi, mungkin namanya saja yang sama? Zia membatin dalam hati.
"Halo, aku Zia," sahutnya pada Denver.
Tepat di sisi Denver, seorang gadis kira-kira setinggi Zia, berambut lurus pirang dan bermata cokelat. Dengan senyum lembut ia memperkenalkan diri sebagai Lenice Castellano.
Lenice Castellano!!! pekik Zia dalam hati. Ini ... cewek ini anaknya Kevin??
Sungguh, Zia tidak pernah menyangka akan berkenalan dengan anak Kevin yang sempat menjadi objek perasaan irinya lantaran memiliki ayah sebaik Kevin.
Zia membatin, Aduh, awkward nggak sih? Gimana kalau Lenice sampai tahu aku udah pernah ngapa-ngapain sama daddynya .... Lenice, daddy kamu itu spek DILF banget yang bikin aku patah hati! .... Uhh. Lenice nggak boleh tahu, aku harus bersikap santai.
Dengan segera Zia menguasai kembali dirinya. "Hai ... aku Zia," sahutnya seraya balas tersenyum. Berkenalan dengan mereka, tidak sekalipun Zia menyebutkan nama belakangnya, Maranzano, demi mencegah munculnya kecurigaan. Meski kecil kemungkinan keempat orang tersebut mengenali siapa Maranzano, namun, Zia memilih langkah penuh antisipasi. Untunglah mereka semua tidak ada yang menanyakan nama belakangnya.
Hampir saja Zia melontarkan pertanyaan, memastikan benarkah Lenice putri bos mafia Kevin Castellano, namun lagi-lagi, Zia menahan diri. Tidak semua hal harus ia ucapkan, terlebih saat ini ia tengah mengemban tugas maha penting berkaitan dengan tewasnya sang ayah, 20 tahun lalu.
Benjamin memperkenalkan pemuda terakhir. "Nah ini, Oliviero Moretti, sobatku sejak kecil," katanya.
"Panggil saja Ollie," ujar Oliviero seraya menjabat tangan Zia. Tidak seperti yang lain, hanya pemuda ini yang menyambut Zia tanpa ekspresi. Posturnya setinggi Benjamin namun lebih kekar, dan sama-sama berambut hitam sebahu. Sementara yang lain berpenampilan kasual, hanya Oliviero yang tampil semi formal dengan jas berwarna gelap.
Zia lantas teringat para pengawal Antonella yang juga kerap wajib berpenampilan serapi itu, membuatnya menduga Oliviero juga berada di posisi yang sama, bertugas mengawal anak-anak Corvino.
"Halo," sapa Zia hangat.
"Saxon dan Denver kebetulan juga ingin berlibur di sini ... yeah, aku tahu banget tujuan mereka pasti mengunjungi Emmeline dan Lenice ...," ujar Benjamin dengan maksud menggoda, sambil melirik penuh arti pada dua pasangan tersebut. Sementara yang digoda hanya mesam mesem.
"Pas banget kalian bertiga landing di hari yang sama. Sekalian aja jemputnya barengan," tutur Benjamin pada Zia tanpa diminta.
Zia mengangguk setuju. "Lenice ini saudara kamu juga, Benja?" tanyanya sambil menatap Lenice dan Benjamin bergantian.
"Oh, nggak," jawab Lenice dan Benjamin nyaris berbarengan.
"Lenice anaknya teman baik mamaku, tapi yah, emang udah seperti saudara sih," jawab Benjamin, diikuti anggukan kepala Lenice.
Teman baik? Hmm, sudah kuduga ... Benjamin nggak tahu apa-apa soal rahasia kedua orang tuanya, batin Zia. Padahal ibunya Benja dan Emmeline ini kan, Castellano juga. Jadi mereka sebenarnya sepupu. Rupanya Reeve ini benar-benar totalitas menjaga identitas barunya .... Bahkan anak-anaknya sendiri nggak tahu apa-apa. Lenice juga sama, nggak tahu apa-apa. Menurut cerita aunty, Kevin memang sengaja menjaga identitas baru Reeve ... demi kebahagiaan Camila, kakaknya. Padahal Kevin tahu pasti kalau Reeve itu musuh publik. Ada aneh-anehnya uncle yang satu itu. Eh, tapi ... nggak menutup kemungkinan kalau mereka sebenarnya tahu, tapi berpura-pura. Ini harus aku bongkar.
"Yuk, kita jalan sekarang!" ajak Benjamin riang. "Gimana kalau kita makan dulu? Kalian pasti belum makan siang, kan? Baru setelah itu aku antar kalian ke hotel masing-masing."
Di sebuah kafe yang ramai, ketujuh anak muda ini tampak asyik menikmati makan siang bersama. Meski baru hari itu mereka berkenalan, suasana sudah terasa akrab dan penuh canda tawa. Dengan piring-piring berisi hidangan lezat khas Iralia di depan mereka, obrolan pun mengalir ringan, diselingi tawa lepas yang membuat meja mereka menjadi pusat perhatian. Dengan suasana yang riang mereka saling berbagi cerita tentang hobi, impian, dan pengalaman lucu, menciptakan kesan seolah-olah persahabatan ini telah terjalin sejak lama.
"Kelihatannya kita semua nyambung, sefrekuensi, ya! Aku seneng banget lho, bisa kenalan sama kalian!" seru Zia antusias.
"Yeah! Zia, aku pikir kamu tipenya sombong, tapi ternyata sama sekali nggak," sahut Emmeline tak kalah antusias. "Pantesan kakakku tergila-gila sama kamu!"
"Emm!" Benjamin refleks menyentil telinga Emmeline sebagai teguran.
"Aduh! Apaa sih, Benjaa?"
Zia memandangi Benjamin dan Emmeline dengan ekspresi jenaka. "Waah, serius nih?" godanya.
"Tapi kalian emang cocok, sih," sahut Saxon santai. "Kalau dipikir, sekarang ini kita sedang triple date."
Denver mengangguk setuju. "Tepat seperti yang kupikir."
Benjamin segera menegur dengan nada guyon, "Hei, kalau kita triple date, kasihan si Ollie, siapa pasangannya?"
Oliviero yang sedari tadi berdiam diri dan fokus pada hidangan di piringnya, hanya melirik Benjamin, lalu kembali tak acuh.
"Dari tadi aku merasanya kita hanya berenam, sih," sahut Saxon sambil mengangkat bahu.
"Ben, kamu geer deh," celetuk Lenice kemudian. "Siapa tahu Zia lebih pilih Ollie daripada kamu," candanya, disusul tawa renyah Emmeline.
"Heh ...." Benjamin pura-pura tersinggung, lalu beralih pada Zia. "Nggak, kan, Zia? Kuharap nggak! Sorry Ollie, bukan maksud ya," sambungnya lagi pada Oliviero seraya terkekeh.
"Apa sih yang nggak buat Benja?" Zia menyahut seraya dengan genit mengedipkan sebelah mata pada Benjamin, membuat suasana kembali riuh. Kecuali Oliviero, yang tetap mempertahankan ekspresi wajah datarnya.
"Tuh, kan!" Benjamin tersenyum lebar. Dia lalu menumpangkan lengan di bahu Oliviero, katanya, "Guys, jangan heran kalau si Ollie ini diem terus. Bukan berarti dia pendiam, you know, dia cuma sedikit asosial. Kalau udah kenal baik, bakal bocor juga pasti! Ya kan, Ollie?"
"Terserah apa katamu, Ben," sahut Oliviero sambil menyeruput minumannya.
"Tentu temanmu itu wajib jaga jarak, Benja," sahut Denver. "Dia sedang dalam tugas mengawalmu dan adikmu, anak-anak orang besar."
Benjamin memandangi Denver dengan takjub. "Padahal aku nggak pernah katakan kalau Ollie ini pengawal .... Terlihat banget ya?"
"It's pretty obvious," jawab Denver, mengangguk singkat.
"Yea ... well. This guy here, dia baru beberapa minggu ini resmi bergabung di keluargaku. Jadi jangan berani macam-macam," balas Benjamin dengan nada berguyon.
Baru beberapa minggu bergabung di keluarga Corvino, ulang Zia dalam hati. Oliviero sudah menjadi a made man. Seharusnya udah nggak sepolos Benjamin. Tapi sebelumnya aku harus pastikan kepolosan Benja.
Maka Zia memandangi Denver beberapa jenak, menimbang beberapa hal yang berkelebatan di dalam kepalanya. Ia merasa yakin tidak salah mengingat nama-nama korban kecelakaan pesawat 20 tahun lalu di pedalaman hutan Eastland. Nama-nama yang juga tertera di papan tulis Antonella. Flavio Maranzano, Alyssa Griffiths, Jessica Castellano -yang menurut cerita Antonella ternyata selamat-, dan yang terakhir, Denver Granville.
Kalau saat itu Jessica sedang mengandung, bisa jadi dia sudah melahirkan ... bisa jadi juga dia memberi nama anak yang dilahirkannya itu dengan nama suaminya yang tewas. Denver Granville. Mungkinkah orang ini? Kurasa dia seumuran aku, atau lebih tua sedikit. Dilihat dari umur, kurasa besar kemungkinan, batin Zia.
Kurasa aku harus memancing sesuatu.
"Lenice, kamu kan Castellano, ya?" Zia bertanya pada Lenice. "Aku tahu Castellano ... nama bos di New Yord. Apa kamu ... ada hubungan dengan bos Castellano itu?"
Lenice tersenyum lembut menanggapi pertanyaan Zia. "Ya ... dia ayahku," jawabnya.
"Wow," sahut Zia sengaja memasang ekspresi terkejut. "Jadi rupanya saat ini aku duduk semeja dengan anak-anak dari dua bos terkenal di New Yord dan Sivily! Keren .... Tapi, tapi, kayaknya aku juga pernah baca nama Castellano ... salah satu korban kecelakaan pesawat 20 tahun lalu. Apa kamu tahu soal itu? Kamu kenal?"
Dari ujung mata, Zia menangkap sekilas perubahan ekspresi di wajah Denver. Pemuda itu dan Saxon saling melirik.
"Yah ... aku tahu, meski nggak pernah kenal. Papa menceritakan kalau ada sepupunya yang menjadi korban .... Namanya Jessica Castellano. Kata papaku, Jessica selamat, namun memilih tetap tinggal di Eastland. Aku nggak pernah tahu kabarnya," tutur Lenice.
Zia memandangi Lenice prihatin. "Oh my God ... mengerikan sekali. Mukjizat banget dia bisa selamat ...," balasnya.
Ekspresi Denver sempat berubah, tadi .... Kurasa dia tahu siapa sebenarnya orang tuanya. Lalu mendengar pengakuan Lenice, berarti Lenice nggak tahu kalau Denver justru anak dari Jessica? Padahal dari nama Denver Granville saja sudah sama persis dengan salah satu korban lainnya. Atau kurasa Lenice nggak pernah cari tahu soal apa pun terkait kejadian 20 tahun lalu, ujar Zia dalam hati. Mungkin uncle Kevin Castellano juga nggak pernah tahu kalau putrinya dekat dengan anak sepupunya sendiri.
"Iya mukjizat banget," sambung Benjamin. "Nggak sangka ternyata Lenice keponakan dari korban kejadian itu .... Kamu kayaknya tahu banyak ya, Zia?"
Ups, apa aku kebanyakan omong? Zia menegur dirinya sendiri dalam hati. "Oh, nggak juga .... Kebetulan aku pernah penasaran aja sama kejadian besar 20 tahun lalu," kilahnya.
Benjamin mengangguk-angguk. "Itu memang kejadian luar biasa yang menyita perhatian dunia, sih," sahutnya. "Ngomong-ngomong, nama asli kamu siapa sih, Zia? Aku kok nggak pernah tahu. Cari info kamu di mesin pencari juga hanya Zia saja."
Aduh, ditanya nama juga akhirnya. Benja ini kritis juga yah, keluh Zia dalam hati.
"Nama panggilanku emang Zia. Zia dari Felizia Agnelli," jawab Zia meyakinkan. Identitas palsu ini memang sudah ia dan tantenya persiapkan jauh hari, sebagai antisipasi bila seseorang menanyakan namanya. "Please, info ini hanya di antara kita aja yaa ... aku nggak mau orang lain tahu nama asliku," sambungnya lagi.
"I see. Ok, antara kita aja. Trims udah kasih tahu, Zia. Bukan apa-apa sih, cuma penasaran," jawab Benjamin.
Zia mengangguk maklum. "Tapi kalian ada yang pernah cari tahu soal rentetan kejadian 20 tahun yang lalu itu nggak, sih? Umm. Kebetulan kakakku memuja semua tentang mafia, dia cerita banyak soal kejadian besar itu. Banyak mafioso di New Yord yang dipenjara gara-gara itu. Karena kalian juga dari kalangan yang sama, kupikir kalian familiar dengan cerita itu," tutur Zia, akhirnya memberanikan diri mengangkat topik sensitif tersebut.
Baik Lenice, Emmeline dan Benjamin sama-sama memasang ekspresi bingung, tampak tidak tahu bagaimana harus merespon. Terlebih Benjamin, yang menjadi objek perhatian Zia. Dari sorot mata pemuda tersebut tidak terlihat adanya perubahan sekejap pun, yang menandakan bahwa dia memang tidak tahu apa-apa mengenai topik yang Zia tanyakan.
"I-iya memang papaku pernah singgung soal terjadinya perang mafia dua dekade lalu," jawab Benjamin ragu. "Tapi aku cuma tahu permukaannya aja sih, nggak paham banget detailnya."
Tak disangka, justru Oliviero yang mengangkat suara. "Intinya ada beberapa individu yang menjadi pelopor penggerebekan para anggota .... Mereka sebenarnya sesama Iralia juga, dan memilih untuk berkhianat pada saudara-saudaranya. Tokoh utama yang membeberkan semua rahasia keluarga bukanlah manusia biasa, melainkan klon. Orang aslinya, hilang tanpa jejak bahkan sampai sekarang," tuturnya datar, namun efektif menciptakan suasana tegang di sekeliling meja yang seketika menguar. Semua mata memandangi dirinya dengan tatapan antara takjub, kagum sekaligus tidak menyangka, ternyata di balik sikap diamnya, Oliviero memiliki wawasan yang luas.
"Klon," sahut Benjamin, tampak terpukau.
"Yeah. Klon. Coba kau search nama orang itu, Reeve Galante di mesin pencari, banyak info yang bisa kau temukan di sana. Praktek kloning memang sempat booming di New Yord, ada banyak sekali orang yang menggandakan diri. Si klon ini persis kacang yang lupa akan kulit, dia malahan mengkhianati dirinya sendiri dan semua orang di sekitarnya," lanjut Oliviero.
"Bagus banget kelakuannya! Terus, Reeve ini hilang, katamu?" Benjamin dan yang lain tampak serius memandangi Oliviero, menunggu lanjutan cerita.
Oliviero mengangguk singkat. "Hilang sampai sekarang, bagai ditelan bumi. Semua orang mencari keberadaannya tanpa hasil," katanya.
Zia menilai reaksi semua teman barunya itu lalu berkata dalam hati, Humm. Kalau begitu, confirmed. Benja dan yang lain nggak tahu apa-apa. Polos. Benja nggak tahu siapa itu Reeve, padahal ayahnya sendiri. Mengenai klon yang berkhianat itu saja si Benja terlihat kaget ....
"Kau tahu banyak ya, Ollie?" Benjamin mengangguk-angguk.
Oliviero membalas, "Kau sendiri yang bilang peristiwa 20 tahun lalu itu kejadian luar biasa, seharusnya kau tahu lebih banyak."
"Aku hanya diminta fokus belajar dari papa," kilah Benjamin. "Peristiwa yang sudah lewat nggak pernah jadi topik yang papa bahas."
Kelihatannya Benjamin sedang dipersiapkan untuk menggantikan posisi ayahnya, batin Zia. Bagaimana kalau dia tahu bahwa klon pengkhianat yang membuat ayahku tewas sebenarnya ulah ayahnya sendiri?
Segenap rasa rindu dan pilu yang terakumulasi sejak ia mulai bisa mengingat hingga saat ini menyelubungi relung hati Zia.
Aku kehilangan ayah gara-gara kejadian itu ... ayah yang nggak pernah aku lihat ... yang nggak pernah melihatku lahir. Sementara orang yang harusnya bertanggung jawab malah hidup makmur ... bahkan jadi bos di sini ... membangun keluarga yang bahagia pula. Tidak adil.
"Zia, kamu kenapa? Kok pucat?" Saxon tiba-tiba menegur, membuat Benjamin spontan menoleh.
Ekspresi kuatir nyata terlihat dari wajah Benjamin yang duduk di seberang Zia. "Iya, kamu pucat? Nggak enak badankah, Zia?"
Zia terkejut, tergesa mengendalikan emosi. "Oh. Nggak apa ... I'm fine. Euh. Kayaknya asam lambung naik," kilahnya.
"Karena telat makan, ya?" Benjamin tergesa bertanya penuh kecemasan. "Kita emang kesorean makan, sih. Kamu nggak apa, kan? Atau mau aku belikan obat? Atau mau air hangat?"
Zia melambaikan tangan, menolak. "Nggak usah, Benja, trims. Aku bawa obatku, kok," katanya seraya mengambil sesuatu dari dalam tas. Sebuah kotak berukuran kecil berisi berbagai macam pil ia tunjukkan pada Benjamin.
"Baguslah," jawab Benjamin sembari tersenyum, terlihat lega. "Langsung diminum aja, Zia."
"Iya, aku minum sekarang," sahut Zia, mengambil sebutir pil yang sebenarnya adalah vitamin, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Aduh, perhatian banget sihh?" goda Emmeline pada kakaknya.
"Emmeline," sahut Benjamin, dengan galak melirik sang adik.
"Ih, nggak apa, bagus malah!" kelit Emmeline cepat. "Cowok yang perhatian sama ceweknya adalah kriteria cowok idaman."
"Kamu nih ya!" Tangan Benjamin refleks terangkat, bermaksud menjitak ringan kepala Emmeline saking gemasnya.
"Aww! Apa sih Benjaa! Dari tadi bully mulu!" Emmeline melindungi kepalanya dengan tangan lalu beringsut, bersembunyi di balik bahu Saxon.
Entah mengapa adegan menggemaskan antar kakak adik itu membuat Zia merasa seperti tengah menyaksikan interaksi antara dirinya dan Alvaro. Hubungan akrab Benjamin dan Emmeline persis seperti hubungan Zia dan Alva, setidaknya sebelum kemunculan Kevin Castellano.
Zia menunduk dalam, menahan rasa rindu. Seulas penyesalan menyelusup dalam hati, begitu teringat bahwa ia telah menolak permintaan maaf Alva terakhir kali padanya. Siapa pun bisa khilaf, siapa pun bisa salah ucap, Zia menyadari itu. Namun rasa sakit yang terpaksa ia telan akibat ucapan jahat Alva masih membekas dalam hatinya. Apakah interaksi akrab seperti Benjamin dan Emmeline tidak akan pernah terjadi lagi antara dirinya dan Alva?
"Benja, kamu kegeeran lagi," sela Lenice, terkekeh geli. "Emmeline bicara begitu sebenarnya ditujukan pada Saxon, lho, bukan kamu."
Benjamin mengangkat alis, sementara Emmeline tampak tersipu malu.
"Woah, aku?" Saxon menunjuk dirinya sendiri.
"Iyaa! Emmeline tuh antusias banget tiap bahas kamu," sahut Lenice. "Katanya kamu cowok paling perhatian, paling manis, paling semuanya," godanya.
Semburat rona merah mewarnai pipi Saxon, seringai senang terukir di wajahnya.
"Lenice, ih!" Emmeline berusaha memprotes, namun tak mampu menahan senyumnya.
Benjamin berdeham keras. "Hei, ingat ya. Selagi masih dalam radar pengawasanku, dilarang colek-colek!" serunya, sengaja memasang ekspresi galak.
"Wah, gawat," sahut Saxon pura-pura merasa terancam. "Kalau begitu kita harus cari tempat aman, Emm," katanya lagi sambil mengedipkan sebelah mata pada Emmeline.
"Heh-"
"Sax, kau dengar kata Benja tadi? Cuma dilarang colek-colek, bukan berarti dilarang cium-cium juga," sela Denver, tersenyum penuh arti.
"Itu pesan yang kutangkap juga!" balas Saxon bersemangat, dan tawa pun pecah lagi di antara mereka.
"Yang dilarang kan kamu, Sax .... Berarti aku aja yang colek kamu, yah," timpal Emmeline riang.
"Boleh banget!"
"Hais," gumam Benjamin pasrah, meski akhirnya turut larut dalam derai tawa.
"Guys, guys. Serius sedikit," tegur Benjamin usai tawa mereka mereda. "Kalian pasti paham, latar belakang kita semua berbeda. Ada perbedaan kultural juga yang selayaknya dihormati. Euh ... meski sebenarnya ini tradisi lama, tapi keluargaku masih menjunjung tinggi tradisi itu."
Emmeline terlihat bingung. "Kamu mau ngomong apa sih, Ben?" tanyanya.
"Begini ...." Benjamin mengoreksi posisi duduknya. "Kami, orang-orang Sivily, akan sangat menghargai bila pemuda yang tertarik pada gadis di keluarga kami, mendatangi langsung orang tua si gadis untuk meminta restu mendekati putri mereka."
Denver bersiul, lantas melirik Saxon yang rupanya langsung tegang mendengar penuturan Benjamin. Diam-diam dia terkekeh.
"Kalian harus tahu," lanjut Benjamin. "Keluarga selalu menjadi prioritas bagi orang Sivily. Terlebih keluarga kandung. Kuharap kalian memahami maksudku."
"Kau harus langsung ketemu bos besar Corvino, Sax," ujar Denver memperjelas. "Good luck."
Ketegangan masih nyata terlihat di wajah Saxon, namun perlahan berangsur menghilang. "Woah. Oke. Ini hal baru ... tapi ... aku menghormati budaya Sivily, tentu saja," jawabnya, membuat Emmeline kembali tersipu malu.
"Great. Kalau kau siap, kapan saja, datanglah," balas Benjamin. Dia lalu beralih pada Denver, "Berlaku juga untukmu, Denver."
"Yeah, kau harus ketemu langsung bos Castellano," timpal Saxon membalas Denver.
Denver mengangguk santai, seakan hal itu tidak akan menjadi masalah besar baginya.
Cckk. Denver bisa santai karena dia sendiri keturunan Castellano ... cucu dari mantan bos Castellano, umpat Saxon dalam hati. Bisa jadi ayah Lenice malahan menyambut Denver dengan suka cita. Reuni keluarga. Sementara aku? Semoga kakiku kuat berhadapan dengan Salvatore Corvino.
"Nah, kamu juga harus ketemu ayahnya Zia, dong, Ben?" celetuk Emmeline pada Benjamin. "Kan kamu mau dekati Zia ... Zia juga kan seorang Iralian."
Zia tersentak.
"Oh, tentu," jawab Benjamin, lalu menoleh pada Zia. "Kapan aku boleh berkunjung, Zia? Kabari aja ya?"
"Eum ...." Zia berupaya mengusir rasa gugup yang tiba-tiba mendera. "No need, Benja. Aku ... maksudku, ayahku sudah tiada," jawabnya lirih.
"Dear Lord!" desis Benjamin, diikuti pandangan penuh simpati dari semua yang berkumpul.
"Maaf, Zia, aku baru tahu ...," ujar Benjamin lagi.
"Nggak apa, beliau sudah lama meninggal," sahut Zia. "Lagipula ... nggak ada budaya seperti itu di keluargaku. Kami tipe santai, seperti orang Amerida pada umumnya."
Benjamin terus saja memandangi Zia penuh simpati, lalu berkata, "Baru sedikit yang aku tahu tentang kamu ya ... Zia. Kamu jarang cerita tentang kehidupan kamu."
Tatapan tulus dari sinar mata Benjamin memancarkan kehangatan yang justru menciptakan kegelisahan dalam hati Zia. Meski terlihat penuh kejujuran, sorot mata itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Mungkin Benja akan kecewa berat kalau tahu aku mendekatinya murni karena mengincar Salvatore Corvino .... Tapi ... bagaimanapun, ayahnya harus bertanggung jawab atas kematian Flavio Maranzano ..., batin Zia mengeraskan hati.
Comments
Post a Comment