TLC (1-4) | INA
The Last Champagne
Bab 1
PENYUSUP
Cakrawala yang menjadi
singgasana sang surya berpendar keemasan dari sebelah timur kota Leighryn,
pertengahan bulan Januari 2017.
Ada yang terasa berbeda
begitu Isaac Renauld (24 tahun) terjaga dari tidurnya. Pemuda bermata sendu itu
mengerjap beberapa kali, lalu menoleh ke samping. Dilihatnya Tanya, sang
kekasih masih tertidur pulas di sebelahnya. Perlahan Isaac pun bangun, berupaya
menjaga tiap gerakannya sepelan mungkin, agar tidak membangunkan gadis
itu.
Malam tadi memang Isaac
terpaksa menolak ajakan Tanya untuk bermesraan, lantaran dia tidak mau sampai
kesiangan menyambut hari ini. Hari ini, adalah hari besar bagi dirinya dan tim
mobil tempatnya bernaung. Dia tidak ingin terlambat, tapi juga dia tidak enak
hati telah menolak ajakan Tanya. Maka wajar jika saat ini dia tidak mau membuat
sang kekasih tersayangnya itu semakin cemberut lantaran tidurnya terganggu.
Istimewa sekali posisi
Tanya bagi Isaac. Mereka memang sudah menjalin hubungan selama hampir delapan
tahun, bukan waktu yang singkat. Dan selama bertahun-tahun itu, rasa yang
tumbuh dalam hati seperti tiada pernah berkurang. Malahan semakin besar, semakin
dalam. Bukan hal yang mengherankan lagi jika Isaac sudah memiliki rencana untuk
segera meminang Tanya menjadi istrinya.
Langkah Isaac
mengantarnya menuju dapur, berniat mengambil minum. Namun saat melewati ruang
tengah, bulu kuduknya meremang seketika. Pintu masuknya terbuka lebar seakan
memberi akses mudah bagi semua orang untuk masuk!
Lekas pemuda bertubuh
langsing itu menghampiri, benaknya keruh memperkirakan apa dia telah lalai,
lupa mengunci pintu semalam?
Ekspresi cemas jelas
terpancar di wajahnya. Dia yakin. Dia sangat yakin, semalam tidak lupa mengunci
pintu sebelum masuk ke dalam kamar! Tidak mungkin salah ingat, sebab semalam
Tanya menggelayut manja padanya saat Isaac baru saja mengunci pintu.
Mungkinkah ....
Jangan-jangan ada orang masuk, ujar Isaac dalam hati. Matanya terbelalak lebar saat
menyadari sesuatu.
Ada yang membongkar
paksa kunci! Siapa pun itu, dia berhasil masuk dan pasti telah menjelajah isi
rumah saat dirinya tidur!
Rampok sialan! Apa saja
yang hilang?? batin Isaac geram begitu menyadari kunci pintunya telah rusak sampai ke
engsel-engselnya.
Isaac segera menyusuri
isi rumah. Sembari menahan jantungnya yang berdebar kencang, matanya nyalang
menyapu seluruh tempat. Mengamati, mencari apa saja barang yang sekiranya telah
raib dari tempatnya.
Orang dengan niat jahat
zaman sekarang pastilah menyasar barang yang mudah dibawa. Tiba-tiba saja
terbersit demikian dalam benak Isaac. Dompet! Ponsel??
Napas Isaac semakin
memburu saat kembali ke dalam kamar, tergesa membuka laci nakas. Dompet, ada.
Ponsel, ada. Setidaknya dua benda ini tidak hilang, Isaac menghela napas
lega.
Tapi mungkin ponsel
Tanya yang hilang? Setengah berlari Isaac menuju sisi ranjang tempat Tanya
berbaring lalu membuka laci nakas. Ponsel Tanya pun aman.
"Mmm." Tanya
rupanya terbangun. "Apa sih .... Kamu ngapain, Ike?" tanyanya sambil
menggosok mata.
"Maaf. Terbangun
ya? Ada orang masuk ke rumah semalam, Tanya. Aku sedang cari apa saja yang
hilang," jawab Isaac kalut, yang sontak membuat Tanya terperanjat.
"Hah?! Ada maling
masuk??" Tanya histeris. "Serius kamu, Ike?? Terus .... Terus, apa
yang diambil? Apa yang hilang?"
"Iya. Tenang ya,
aku juga sedang cari tahu."
"Duh!
Jangan-jangan malingnya masih ada di dalam, Ike ... dia sembunyi! Sembunyi
karena kamu keburu bangun!"
Isaac terhenyak
mendengar perkataan Tanya. Benar juga. Bukan tidak mungkin orang itu masih ada
di dalam. Maka Isaac pun segera bangkit berdiri, berniat menyisir rumah.
"Ike! Ike, ikut
...," pinta Tanya.
"Ssh. Sudah, kamu
di sini saja, Sayang. Biar aku yang hadapi," ujar Isaac.
"Bawa tongkat,
Ike! Pentungan .... Oh, atau bawa tongkat besi yang ada di perapian! Atau
pistol sekalian! Kamu simpan itu, kan?"
"Pistol. Mau bunuh
orang?" sahut Isaac.
"Ih! Aku serius!
Paling nggak bawa tongkat besi deh, Ike! Bawa senjata buat jaga-jaga, mana tahu
dia juga bersenjata!"
"Oke. Kamu di sini
saja."
"Aku telepon
polisi ya!"
Isaac tidak menjawab.
Dapat didengarnya Tanya berseru tertahan agar dia berhati-hati sebelum melewati
pintu kamar.
Ruang tamu, kosong.
Teringat pesan Tanya tadi, Isaac menyambar tongkat besi di perapian, lalu
menyisir seluruh ruangan dengan lebih berhati-hati. Ruang keluarga. Ruang
makan. Dapur. Ruang laundry. Kosong semua. Pintu menuju basement masih
tertutup, terkunci dari luar, Isaac tidak ambil pusing mengecek ke dalam.
Tinggal beberapa kamar di lantai atas, Isaac pun segera menaiki tangga dengan
langkah lebar.
Dua kamar di sisi kiri
dan kanan koridor masih tertutup juga pintunya. Namun, pintu ruang kerja di
ujung sana, terbuka separuh. Sungguh, Isaac bukanlah tipe orang yang senang
membiarkan pintu terbuka. Apalagi ruang kerja itu adalah ruangan keramat bagi Isaac.
Tempat dia menyimpan dan memajang seluruh hasil prestasi dan pencapaiannya
selama ini.
Isaac menerobos
masuk.
Lututnya terasa lemas
seketika saat melihat kekacauan di dalam ruangan itu. Porak poranda bagai kapal
pecah. Lemari kaca terbuka, seluruh isinya sudah berpindah tempat ke lantai,
dalam keadaan tidak lagi berbentuk. Hancur berkeping-keping.
"Ya Tuhan
...," desis Isaac tidak percaya dengan semua yang dia lihat.
Beberapa piala dan
plakat kristal, yang disabetnya saat memenangi balap jet darat di beberapa
negara, kini sudah berubah bentuk menjadi serpihan tak berbentuk. Puluhan trofi
yang menjadi kenangan saat berhasil menaiki podium, alias berhasil meraih
posisi tiga besar, penyok di sana sini. Puluhan pigura berisi foto yang semula
menempel di dinding, sudah mencium lantai semua. Dan parahnya lagi, semua
foto-foto itu juga telah robek tak berbentuk. Semua ini adalah momen-momen
berharga Isaac sebagai pembalap Formula Prime yang diabadikan dalam foto.
Semuanya hancur.
Isaac memang belum
menjadi pembalap papan atas. Koleksi trofi dan pialanya masih bisa dihitung
dengan jari, tidak bisa dibandingkan dengan pembalap lain yang lebih tinggi
pamornya. Namun trofi yang 'masih bisa dihitung dengan jari' inilah yang
menjadi kebanggaan dan harta tak ternilai bagi Isaac. Yang bisa dia banggakan
pada anak cucunya kelak. Yang bisa memacu semangatnya untuk bisa meraih lebih
banyak lagi trofi dan piala!
Namun harta tak
ternilai itu sudah tidak lagi bernilai. Semua sudah berubah bentuk. Hancur
berkeping-keping. Sama seperti hati Isaac yang juga terasa hancur lebur
meratapi semua itu.
"Ya Tuhan ini
kenapa bisa hancur begini??? Ike??"
Seruan Tanya yang
tiba-tiba menyusul Isaac seakan tidak tertangkap di pendengarannya. Pemuda
malang itu masih terpekur, nelangsa memandangi semua serpihan kenangan yang
berserakan di lantai.
Menyadari sang kekasih
dalam keadaan yang menyedihkan, Tanya maju mendekat. "Ikey ...,"
tegurnya pelan sembari memegang lengan Isaac.
Tidak ada air bening
mengalir di pipi pria itu, padahal Tanya berpikir demikian. Tapi rasa duka
serta kekecewaan yang menyangat tampak jelas terpancar dari sorot mata Isaac.
Hal itu jauh lebih menyakitkan, Tanya merasakan kepedihan sang partner.
"Si-siapa ... yang
berbuat begini, Ike? Maling itu nggak ambil barang berharga, tapi malah
menghancurkan trofi-trofi kamu ...," ujar Tanya pelan.
Tidak ada sahutan.
"Aku tadi udah
panggil polisi. Biar mereka yang urus ya .... Semoga aja mereka bisa lacak
siapa pelakunya. Oh, seandainya aja ada CCTV ...."
Isaac masih tidak
menjawab.
"Kenapa sih mereka
harus bikin hancur rumah orang. Kalau mau maling ya ambil apa yang perlu, kan
nggak usah berbuat seperti ini," ujar Tanya lagi.
"Mereka bukan
maling," sahut Isaac parau. "Mungkin ini perbuatan orang yang dendam
padaku."
"Dendam? Siapa?
Kayaknya benci banget sama kamu, Ikey, semua foto kamu hancur .... Kamu tahu
siapa yang memusuhi kamu?" Tanya terdiam sesaat. "Tapi kamu kan orang
baik, masa iya sih ada yang dendam sama kamu?"
"Hmm." Isaac
mencoba tersenyum. "Siapa pun bisa bersikap ramah dan hangat di depan,
nggak ada yang bisa tahu apa isi hati seseorang."
Bab 2
DUA PEMBALAP
Kejadian pagi ini
sungguh menyita perhatian dan energi Isaac. Dia yang semula bersemangat
menyambut hari launching mobil balap terbaru Llinos Purvance yang akan dia
gunakan untuk musim Formula Prime tahun 2017 ini, malah hilang semangat, hilang
asa.
Sebenarnya tidak bisa
disebut hilang seluruhnya. Isaac tidak akan membiarkan apa pun merenggut
harapannya menyambut musim balap tahun ini. Piala-piala yang sudah hancur
memang tidak akan kembali berbentuk seperti semula, tapi toh dia masih bisa
berjuang sekali lagi, mengumpulkan trofi demi trofi, piala demi piala, poin
demi poin, agar bisa segera beranjak menyabet status pembalap papan atas dan
bersaing dengan sederet pembalap terkenal lainnya.
Seperti yang saat ini
juga tengah menghadiri launching mobil balap terbaru untuk timnya. Seseorang
yang sama seperti Isaac, membawa pamor dan kebesaran nama negara Eastland di
ajang dunia balap Formula Prime.
***
Sirkuit Catalona di
negara tetangga, Slocean, siang hari itu telah dipenuhi oleh ratusan jurnalis
dan reporter yang meliput peluncuran mobil balap Formula Prime terbaru dari tim
mobil GT Forrier. Meski cuaca panas menyengat, namun sama sekali tak menyurutkan
semangat para personel tim mobil yang terlibat, juga semangat keingintahuan
para jurnalis yang penasaran akan taji mobil balap tersebut.
GT17, nama mobil itu,
akan menjadi saingan terberat tim mobil Glauber, sama seperti tahun lalu. Namun
team principal GT Forrier, Gerhard Brautovich, pria paruh baya berambut putih,
mengatakan bahwa GT17 merupakan mahakarya sempurna yang tercipta berkat kolaborasi
antara insinyur-insinyur terkemuka. Sehingga, Brautovich menambahkan, tidak
akan ada yang mampu menandingi kecepatan dan ketahanan GT17, bahkan Glauber
sekalipun. GT Forrier akan menjadi mobil Formula Prime tercepat dan tertangguh
sepanjang masa!
Para jurnalis sibuk
mencatat dan mengambil gambar. Mereka tahu pasti bahwa ucapan-ucapan Brautovich
yang sering kontroversial bisa mendatangkan banyak keuntungan bagi mereka.
Mereka pun tahu pasti, setelah mendengar sesumbar Brautovich, Friedrich Sheppard
selaku team principal Glauber akan membalas sesumbar itu, dan terjadilah perang
urat syaraf pra-kompetisi, seperti yang biasanya terjadi sebelum-sebelum ini.
Sementara itu Ferris
Rutherford (24 tahun), pembalap nomor satu tim mobil GT Forrier, tersenyum
percaya diri saat mendengar sesumbar sang bos yang pernah secara
terang-terangan mengaku bahwa dia menganggap Ferris Rutherford sebagai anak
emasnya, dan pada Ferris-lah, seluruh keberuntungan GT Forrier berada. Dan bagi
Fez, nama kecil Ferris Rutherford, menyandang status sebagai anak emas sama
sekali tidak membebani dirinya. Malahan semangat dan rasa cintanya pada GT
Forrier terus bertumbuh di dalam dirinya. Dia telah menemukan tempatnya yang
nyaman untuk mengembangkan karir dan hidupnya di dunia balap jet darat itu.
Dan kini, menyambut
musim kompetisi tahun 2017, Fez bertekad untuk merebut gelar juara dunia
konstruktor bagi tim, bila perlu gelar dunia pembalap sekaligus diraihnya.
Tekad Fez sangat kuat tahun ini, lantaran dia juga termotivasi oleh
keinginannya membalas 'dendam' pada Jose Rudolpho Alvarez, pembalap utama tim
Glauber, yang telah menikmati singgasana juara dunia pembalap sebanyak empat
kali. Tahun lalu Fez dan Alvarez bertarung habis-habisan di tiap seri Grand
Prix, namun pada akhirnya Alvarezlah yang memenangkan musim kompetisi 2016, dan
Fez menempati peringkat kedua pada klasemen akhir pembalap.
Peringkat kedua pada
klasemen akhir pembalap, itulah prestasi terbaiknya setelah empat tahun
berkiprah sebagai pembalap di kancah Formula Prime. Banyak yang memuji dan
menyaluti Fez, sebab empat tahun adalah waktu yang singkat bagi pembalap pemula
menjelma menjadi pembalap profesional seperti dirinya sekarang ini. Pers pun
banyak menulis hal-hal positif tentang dirinya, dan prestasi runner-up yang
diraihnya tahun lalu. Namun, Fez tidak menganggap hal itu sebagai prestasi;
justru dia malahan beranggapan dirinya adalah pecundang. Kekalahannya dari
Alvarez disebutnya sebagai kegagalan terbesar sepanjang hidupnya. Sehingga kini
dia bertekad akan menuntaskan 'dendam'nya pada Alvarez dan berniat akan
memberikan gelar tertinggi pada timnya.
Usai konferensi pers,
sesi pemotretan, dan unjuk kebolehan GT17 yang digeber Fez di depan ratusan
kamera, Fez bermaksud segera kembali ke hotel tempatnya menginap ketika
sahabatnya sejak kecil meneleponnya.
"Hey, Royce,"
sapa Fez.
"Belum selesai,
launching mobilnya?" tanya Royce Beauregard (24 tahun), seraya menempelkan
earphone yang tersambung pada ponselnya di telinga. Pria berperawakan jangkung
dengan rambut pirang ikal sebahu itu duduk di bangku tepi lapangan seraya mengusap
keringat di wajahnya dengan handuk. Alisnya yang tebal serta mata hijaunya yang
teduh, membuatnya tampak semakin menawan. Pria berdarah campuran ini baru saja
selesai mengikuti latihan intensif klub yang dibelanya sejak beranjak dewasa,
Brandt, sebuah klub sepak bola yang berlaga di Liga Primer Eastland, liga
internasional yang terbilang eksklusif dan terpanas di dunia.
"Udah, ini baru
mau balik. Gimana persiapan Brandt menjelang big match lawan Slochney besok
malam? Feeling good about that, Bro?" tanya Fez.
Royce menghela napas
panjang lalu menjawab, "Ya begitulah. Ini hidup mati Brandt. Kalau sampai
Brandt kalah, peluang Brandt untuk menjuarai liga primer semakin kecil."
Fez tergelak mendengar
jawaban Royce. "Bro, masa harus aku yang ingatkan? Klub Slochney sedang
krisis sekarang ini! Banyak pemain yang cedera dan mereka belum pernah menang
dalam tiga laga terakhir. Apa susahnya buat Brandt untuk memenangkan pertandingan
besok? Kalau dibandingkan dengan Slochney, Brandt sedang dalam kondisi on fire,
sedang panas-panasnya, kau tahu itu! Kalau diandalkan, persis seperti kalau aku
tengah membawa pacarku berlibur ke Maldines, berdua saja. Panas! Seperti itulah
kondisi Brandt!"
Royce tertawa lepas
mendengar perandaian asal bunyi yang diucapkan oleh Fez. Memang sang sahabatnya
yang satu ini jarang menggunakan filter saat berucap. Semua asal lolos dari
mulut, seenaknya, semaunya sendiri. Tapi Royce sudah sangat terbiasa dengan sifat
Fez yang seperti itu.
"Astaga, Fez! Masa
iya sepanas adegan aneh-anehmu dengan wanita!" sahutnya masih terus
tertawa terbahak.
"Lho! Apa yang
kukatakan itu benar adanya! Oh iya! Jangan lupa, juga ditambah dengan
keberadaanmu sebagai striker serba bisa yang selalu membawa kemenangan buat
Brandt. Bukankah kau bintang keberuntungan Brandt dan tim nasional Eastland??
Kutegaskan ya, Brandt pasti menang!"
Royce tersenyum.
"Kau memang optimis. Itulah sifat yang paling positif yang kau miliki.
Baiklah, kau juga bantu doa, ya. Lalu ngomong-ngomong, apa kau sungguh nggak
bisa datang dan menontonku besok?"
"Ah, sayangnya aku
nggak bisa berjanji. Tapi kuusahakan datang. Jujur, nggak ada yang lebih seru
selain menonton secara langsung big match Brandt vs Slochney, aku ingin datang
dan menyaksikan kemenanganmu. Tapi aku nggak bisa berjanji, I'm sorry, Bro."
"It's ok! Aku
paham, kau pasti sibuk di Forrier."
"Ya, pokoknya
nanti kukabari lagi. Oke?" Fez memutus hubungan telepon, lalu
tersenyum.
Bab 3
DUA SAHABAT
Halo, aku Royce
Beauregard, yang tadi berbincang seru dengan Ferris Rutherford lewat sambungan
ponsel.
Aku dan Fez bersahabat
sejak kecil. Sejak hampir dua puluh tahun yang lalu. Hmm. Sembilan belas tahun,
tepatnya. Sudah sangat lama, kan? Dan aku jadi teringat masa-masa ketika kami
berkenalan dulu.
Waktu itu, aku yang
baru saja berulang tahun yang kelima, diajak oleh orang tuaku pergi berlibur ke
Borseaux, kota kecil di sebelah selatan negara Frenchye, tempat kakek dan
nenekku tinggal dan mengurus kebun anggur mereka. Di Borseaux itulah, aku
diperkenalkan pada Fez, anaknya sahabat kakek, yang juga seorang juragan anggur
seperti kakek. Karena aku dan Fez seumuran, kami menjadi akrab dalam sekejap.
Main-main dan berlarian di kebun anggur, mengusili para pekerja kakek atau
ayahnya Fez ... haha, kami berdua memang sama-sama bocah usil.
Dan ternyata, Fez dan
keluarganya pun sebenarnya tinggal di Leighryn. Di kompleks yang sama seperti
keluargaku juga! Rumah kami hanya beda beberapa blok, benar-benar tetanggaku!
Sungguh, aku baru tahu soal itu begitu sudah tiba kembali di Leighryn. Pun dengan
Fez yang baru menyadari bahwa kami bertetangga. Makin akrablah kami, apalagi
setelah aku dan Fez masuk ke sekolah yang sama.
Kami setiap hari
bermain dan belajar bersama, bermain baseball, bersepeda menjelajah semua sudut
kota, bahkan sampai mencuri apel tetangga! Bukan main badungnya. Kami memang
disebut perusuh-perusuh kecil! Makanya kami sering dimarahi dan dihukum tidak
boleh keluar rumah. Tapi setiap malam selama masa hukuman, aku dan Fez malah
mengendap-endap keluar rumah dan duduk-duduk di atas atap! Benar-benar
keterlaluan.
Masa-masa sekolah,
masa-masa remaja kami lewati bersama. Mendekati cewek-cewek di sekolah, kencan
dengan mereka .... Tidak lupa saling bertukar jawaban saat ujian dan masih
banyak lagi. Tapi kenakalan-kenakalan yang kami buat, masih dalam taraf wajar.
Biasalah, namanya juga remaja.
Sebagai sahabat sejati,
sangat wajar jika kami saling mendukung kemajuan karir dan bakat kami
masing-masing.
Fez, yang sejak umur
lima tahun tertarik sudah sangat tertarik pada balap gokart, berkat kemampuan
dan kerja kerasnya, dia selalu memenangi kejuaraan-kejuaraan karting, F3 dan
GP2 hingga dilirik oleh salah satu pabrikan mobil yang berlaga di Formula Prime,
Protone Racing. Dia direkrut menjadi test driver sebelum kemudian menjadi test
driver Ferrau Racing setelah melihat kemampuan dan kapabilitas Fez menjuarai
ajang GP2 pada musim balap 2011. Tidak butuh waktu lama bagi Fez untuk
menunjukkan kebolehannya. Dia dipercaya menjadi second driver Ferrau yang saat
itu tengah menggebrak papan menengah Formula Prime.
Dan kini namanya
melejit, setelah dipercaya menjadi pembalap pertama dari sebuah tim papan atas
yang mumpuni; GT Forrier. Yang kerap berebut tampuk singgasana juara dunia
konstruktor dengan seteru abadi, Glauber FP.
Nama Fez semakin
melejit setelah tahun kemarin berhasil mengukuhkan diri di posisi dua klasemen
akhir pembalap, tepat di bawah Jose Rudolpho Alvarez yang sudah berkali-kali
menjadi juara dunia. Pembalap muda yang baru empat musim di Formula Prime
menantang pembalap senior yang sudah mengantungi gelar juara dunia sebanyak
empat kali. Menurutku itu suatu hal yang fenomenal. Apalagi Alvarez itu pernah
mengakui kapabilitas Fez dan tidak memandangnya sebelah mata, ketika dia
diwawancara pers belum lama ini. Tapi apa komentar Fez sendiri? Dia bilang
prestasi runner up-nya tahun lalu adalah musibah. Seharusnya dia bisa
memanfaatkan kesempatan menyalip Alvarez saat seri terakhir musim lalu dan
merebut podium tertinggi darinya. Dan Fezlah sang juara dunia 2016. Tapi dia
telah gagal, menurutnya. Dan bukannya merayakan posisi runner up yang
diperolehnya, dia malahan merayakan kekalahannya dari Alvarez. Duh, temanku
yang satu itu memang terlalu ambisius dan perfeksionis!
Meski tadinya kupikir
Fez akan terjun ke dunia seni. Dunia seni. Yeah. Lukisan. Sejak sekolah sudah
sangat terlihat bakat Fez yang satu itu. Dia sungguhan seorang pelukis andal.
Semua karya lukisannya terlihat natural, alami, dengan sentuhan detail yang mengagumkan,
bahkan hingga detail yang paling kecil! Aku selalu terkagum-kagum dengan semua
hasil karyanya, dan yah, bisa dibilang sedikit banyak aku merasa iri dengan
bakatnya yang banyak dan menjanjikan itu. Tidak sepertiku, yang hanya bisa
bermain bola. Tapi sebenarnya buat apa perasaan iri itu, semua itu kan ada yang
mengatur. Benar kan?
Sementara aku sendiri,
tadinya kupikir akan menjalani karir yang biasa saja, seperti orang-orang pada
umumnya. Berkutat di kubikel kantor dari hari Senin sampai Jumat, merangkak
dari bawah meraih jabatan setinggi mungkin. Atau mungkin saja aku merintis usaha
sendiri. Sebab, semua orang melakukannya, kupikir wajar jika aku juga ikut
arus. Jujur pada saat itu aku belum memiliki pegangan atau prinsip
sendiri.
Tapi Fez, di tengah
kegalauanku memutuskan jalan hidup, dia datang padaku dengan senyumannya yang
lebar dan hangat. Dialah sosok yang paling mendorongku untuk mencoba masuk ke
sekolah football milik Brandt, klub papan atas liga primer. Itu kira-kira saat
kami kelas lima atau enam. Tadinya aku bersikap skeptis, sepertinya aku tidak
sebegitu hebatnya mengolah si kulit bundar, bisakah aku diterima di situ? Lagi
pula meskipun diterima, belum tentu juga ke depannya aku akan menjadi pemain
bola. Tapi Fez terus mendorong dan menyemangatiku, dia bilang apa salahnya
dicoba. Dan entah kenapa sepertinya dia yakin sekali itulah jalan hidupku. Aku
pun menuruti saran dan dorongannya ....
Maka sampailah aku di
sini. Kini aku sudah menjadi seorang striker yang bisa diandalkan, seperti apa
yang aku impikan sejak kecil! Menjadi seorang idola di klub yang kugandrungi
sejak dulu. Sungguh, ini adalah sesuatu yang tidak pernah kubayangkan akan benar-benar
terjadi padaku. Bahkan, puji Tuhan, aku selalu dipanggil untuk memperkuat tim
nasional Eastland! Aku dipercaya untuk memperkuat timnas demi berbagai gengsi
dan piala itu. Sungguh, aku sangat mensyukuri anugerah dan rahmat yang Tuhan
berikan padaku. Sujud syukur dan rasa terima kasih kupersembahkan untuk Tuhan,
untuk orang tuaku, untuk orang-orang yang selalu mendukung dan mempercayaiku,
dan terutama, untuk Fez. Sahabat sejati yang paling kupercaya dan kuandalkan.
Well, apa yang membuat
aku senang dan nyaman bersahabat dengan Fez? Fez itu teman yang aktif,
bersemangat, pintar bicara, hangat, ramah, dan optimistis. Singkatnya dia
friendly dan terbuka. Aku merasa cocok berteman dan bersahabat dengannya. Maka
dari itu, kami sempat melakukan sebuah perjanjian. Waktu itu –umur kami masih
kurang lebih sembilan tahun– kami sedang sama-sama melewati libur musim panas
di Borseaux, dan kami mengadakan perjanjian jari untuk saling menganggap
saudara. Buatku, perjanjian jari itu masih berlaku sampai sekarang, aku sudah
menganggapnya seperti adik sendiri. Persoalan apakah dia pun masih ingat
perjanjian itu dan menganggapku seperti kakak, sejujurnya aku belum pernah
menanyakannya langsung. Aku hanya berbekal keyakinan, bahwa Fez pun masih
mengingat perjanjian itu.
Bab 4
PENEROR
Pada saat yang sama,
Isaac dan beberapa rekan tim Llinos Purvance asyik menonton tayangan di
platform video online yang menampilkan principal tim GT Forrier dan principal
tim Glauber saling mengucap sesumbar dan menjatuhkan satu sama lain.
"Lawakan rutin
tiap awal tahun," ujar salah seorang sambil tertawa ringan.
"Yeah. Mereka
nggak sadar kalau mereka sama-sama sedang mempermalukan diri sendiri."
"Sudah pembawaan
sejak lahir mungkin, gemar sesumbar dan omong besar."
"Dua principal tim
mobil yang mirip ya."
"Satu
frekuensi."
"Mereka nggak asal
sesumbar, toh memang Forrier dan Glauber yang merajai tiap pertandingan,"
sahut Isaac setelah sekian lama terdiam.
"Karena mereka
yang selalu memimpin, makanya nggak apa kerap sesumbar ya?"
"Bukan begitu juga
maksudku," jawab Isaac sambil tersenyum tipis.
"Tapi benar sih
kata Ike, aku menangkap yang dia maksud. Siapa pun boleh sombong jika memang
kesombongan itu bisa dibuktikan."
"Yeah. Sombong,
sampai hidung mereka naik mencuat ke atas."
"Kalau sombong
tanpa ada yang bisa dibuktikan, itu baru pantas dicela. Artinya dia nggak punya
malu, atau nggak punya kaca di rumahnya."
"Benar,"
sahut Isaac. "Lagi pula, biarkan saja mereka ribut sendiri dengan sesumbar
masing-masing, kita nggak ada urusan selain menonton dan menertawakan mereka
dari jauh. Dan yang paling penting, sebagai tim, kita harus makin solid menyambut
musim balap yang baru tahun ini."
Semua yang ada di sana
mengangguk-angguk setuju mendengar perkataan Isaac.
"Hey. Kami sudah
dengar kabar kejadian di rumahmu, Ike. Are you alright?"
Isaac tersenyum masam,
teringat lagi akan hal itu. "I'll be fine," jawabnya singkat.
"Parah juga ya.
Nggak ada yang diambil, tapi malahan bikin hancur piala orang. Ada maksud apa
berbuat seperti itu?"
"Ada yang kau
curigai, Ike?"
Isaac menggeleng, masih
tersenyum masam.
"Kalau nggak ada
yang kau curigai, bagaimana bisa tahu pelakunya?"
"Dengar Ike, kau
harus cepat bergerak. Minta polisi menyelidiki lebih dalam, supaya ketahuan
siapa pelakunya. Lagipula, kenapa kau nggak pasang alarm? Nggak pasang CCTV
juga? Zaman sekarang, CCTV adalah hal wajib."
"Semula kupikir
nggak penting karena di tempatku aman, nggak pernah ada kejadian apa-apa. Mana
pernah kusangka bakal mengalami hal seperti ini," jawab Isaac.
"Jangan jumawa,
Ike, kau tidak sadar, kriminalitas makin meningkat sekarang! Apalagi ada
pembunuh berantai yang masih berkeliaran bebas di luar sana! Kau harus ekstra
berhati-hati!" tegur seseorang.
"Kita semua wajib
berhati-hati," timpal yang lain.
Isaac tidak menyanggah
sama sekali, yang teman-temannya katakan sangatlah tepat.
"Semoga saja
ketemu pelakunya ya," ujar salah seorang dari mereka sambil menepuk bahu
Isaac. "Be tough, Ike."
"Kuharap demikian.
Thanks guys," jawab Isaac.
Memang, kejadian
semalam sungguh mengganggu pikiran Isaac. Dia berkendara pulang sore itu masih
dengan pemikiran yang berkabut. Siapa yang masuk ke dalam rumahnya? Tidak
mengambil apa-apa, hanya menghancurkan semua pencapaian yang diraihnya? Jelas
tercium aroma dendam dari perbuatan orang itu semalam, sebab apa untungnya
menghancurkan piala milik orang lain? Tidak ada! Tentu ini murni karena ingin
membuat dirinya merasa terancam, dan terganggu.
Baru kali ini Isaac
mengalami kejadian seperti itu. Siapa kira-kira pelakunya? Tentu saja Isaac
penasaran siapa yang berada di balik itu semua. Tapi apa daya, Isaac tidak
punya rekaman apa pun untuk diusut, tidak ada apa-apa yang bisa diselidiki.
Tanpa diinginkannya,
sejumlah nama yang pernah dia kenali berkelebatan, namun sungguh sulit baginya
menuduh nama-nama itu sebagai tersangka pelaku. Isaac adalah tipe pria yang
tidak bisa berpikiran jelek tentang orang lain, sama seperti dia tidak ingin dianggap
atau dinilai jelek di mata orang lain. Tidak, dia tidak bisa berprasangka pada
orang lain.
Isaac menghela napas
panjang. Betapa dia berharap kejadian semalam sudah lebih dari cukup untuk si
pelaku melampiaskan dendam apa pun pada dirinya. Jangan ada lagi kejadian
seperti itu ke depannya. Isaac pun mulai memikirkan agar kelak memasang
pengaman agar tidak sembarangan orang bisa mengakses ruang kerjanya. Kini
saatnya merelakan semua yang sudah hancur, dan mulai mengumpulkan prestasi lagi
dari awal.
Tapi semua itu memang
tidak semudah yang diucapkan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Bagaimana merelakan barang yang telah hancur? Barang yang memiliki nilai
kebanggaan sendiri baginya? Ini sungguh sulit bagi Isaac, tapi Isaac tahu dia
harus mulai belajar merelakan. Jika tidak, sampai kapan pun dia akan terus
terpenjara pemikirannya sendiri.
Jalan bebas hambatan di
pinggiran kota Leighryn sore itu cukup lengang, Isaac melajukan mobilnya dengan
tenang, tidak terburu-buru. Tinggal beberapa kilometer lagi hingga tiba di
rumah.
Di tengah
konsentrasinya mengendarai mobil, tiba-tiba saja sebuah benturan cukup keras
dari arah belakang membuatnya terentak ke depan, terkejut! Beruntunglah Isaac
tidak pernah alpa menggunakan sabuk pengaman! Masih belum pulih dari
keterkejutannya atas kejadian yang tiba-tiba dan begitu cepat itu, Isaac
melihat mobil di belakangnya lantas tancap gas, melewati mobil Isaac dengan
kecepatan tinggi.
Sepertinya benturan
tadi tidak berakibat fatal selain penyok di bagian belakang, Isaac berasumsi.
Tanpa pikir panjang dia pun segera menginjak pedal gas bermaksud mengejar mobil
pelaku.
Mobil pelaku, sedan
berwarna biru gelap dengan kaca berlapis film, tampak melaju kencang di
kejauhan sana, meliuk menyalip tiap mobil lain yang menghalangi jalannya.
Naluri balap Isaac
otomatis terpancing. Dia terus menekan pedal gas, tanpa jeda, hingga bisa
menyamai kecepatan mobil si pelaku.
Kau cari masalah dengan
orang yang salah, kawan. Hanya dengan kecepatan seperti ini bukan hal yang luar
biasa bagiku, batin Isaac. Tunggu sampai aku berhasil mendapatkan ekormu. Sayang ini
bukan sirkuit balap.
Isaac melajukan mobil
dengan tenang namun kencang melesat, lantaran dipenuhi rasa penasaran dan gemas
terhadap pelaku yang tanpa ada angin tanpa ada hujan tahu-tahu menubruk
mobilnya dari belakang. Setidaknya dia harus menggertak pelaku, meminta ganti
rugi. Atau setidaknya mengambil kartu identitasnya sebagai jaminan. Lagi pula,
Isaac penasaran melihat tampang si pelaku.
Jarum di speedometer
telah menunjuk angka 220 km/jam, Isaac masih terus menambah kecepatan. Sebagai
pembalap mobil formula, mencapai angka sekian bukan hal yang aneh. Dia telah
terbiasa melesat dengan kecepatan hingga 300 km/jam selama bertahun-tahun, jadi
wajar jika dia tidak merasakan grogi maupun takut.
Kini Isaac sudah
menempel tepat di belakang sedan biru si pelaku. Tanpa ampun dia terus
membayangi mobil itu, berharap yang dilakukannya membuat si pelaku tertekan.
Tapi sepertinya tidak. Si pelaku malah semakin melesat. Membuat Isaac juga
harus terus menambah kecepatannya.
Yang membuat Isaac
heran adalah, si pelaku juga tampak tidak canggung mengendarai mobil dengan
kecepatan yang sama. Rupanya si pelaku juga memiliki nyali menggeber mobil.
Nyali semacam itu belum tentu dimiliki masyarakat awam. Tentu si pelaku pernah
ikut balap liar sebelumnya, lagi-lagi Isaac berasumsi.
Isaac bermaksud
menyalip mobil tersebut, berulang kali dicobanya, namun tanpa hasil. Si pelaku
tidak memberikan ruang agar Isaac bisa menyalip. Sudah jelas si pelaku memang
tidak mau bertanggung jawab atas kerusakan mobil Isaac.
Isaac semakin gemas,
tapi rupanya semesta tidak mendukung. Keanehan mulai terasa pada mobilnya,
membuat alarm dalam kepalanya berdering nyaring. Pasti akibat benturan tadi.
Dia harus segera memperlambat laju dan keluar dari jalan tol, lalu berhenti.
Tidak mungkin dilanjutkan.
Isaac memaki sambil
memukul setir. "Sialan!!"
Pasrah dibiarkannya
sedan biru itu semakin melesat meninggalkannya. Pelaku bebas tanpa harus
berhadapan dengan dirinya, apa boleh buat. Bagaimanapun Isaac harus tetap
menjaga keselamatan dirinya sendiri.
Siapa orang tadi?
Berani juga adu balap seperti itu .... Apa dia pembalap juga? Tidak mungkin.
Pembalap liar, itu baru mungkin. Sialan, aku terpaksa membiarkannya lepas
lantaran mobilku sudah terasa aneh. Padahal aku masih penasaran! Orang tadi
pasti sengaja menabrakku! Nggak mungkin nggak sengaja! Jalanan lengang! Lebar
dan lapang, dia bisa akrobat sesuka hati! Tapi dia malah memilih menubruk dari
belakang! batin Isaac kalut dalam hati. Dia sudah keluar dari jalan bebas hambatan,
langsung menepi.
Isaac turun dari mobil,
langsung mengecek keadaan bagian belakang mobilnya. Dia berdecak keras. Parah
juga penyoknya, ya Tuhan, batinnya.
Sebuah pemikiran lain
membuat bulu kuduknya meremang seketika. Apa ini ada hubungannya dengan
kejadian semalam di rumah? Ada orang yang dendam padaku sampai menghancurkan
pialaku, lalu sekarang ada niatan mencelakai aku? Itu berarti dia bermaksud
membunuh?!
Comments
Post a Comment