TLC (14-16) | INA
14 – Anak Hilang
Aku
Isaac Renauld.
Aku
dan orang tuaku sudah sampai di Henry’s Cafe tempat kami janjian dengan Fez 15
menit lebih awal. Sedari tadi aku tidak mengajak bicara mereka, aku sedang
melancarkan sebuah silent treatment. Ya, aku tahu mereka orang tuaku sendiri,
dan mereka baru saja tiba tadi malam dari Birgham. Mereka ingin berbicara
denganku sebagaimana normalnya antara anak dan orang tua, tapi saat ini aku
benar-benar tidak mau berkomunikasi dengan mereka sedikit pun. Aku merasakan
kekecewaan yang teramat sangat pada mereka. Masih teringat kejadian kemarin
sore yang membuatku menjadi seperti sekarang ini.
"Yeah. Dad, Mum, aku sudah bicara dengan Ferris. Dan dia setuju bertemu dengan kalian
besok siang," kataku pada mereka via telepon.
Terdengar
jawaban dari dad. "Oke, thanks, Ike. Dia bilang apa?"
"Yaa,
dia sedikit heran, tapi fine. Dia sudah setuju, kok. Kalian besok mau langsung
ke kafe atau mau bareng? Kalau bareng, lebih baik kalian sekarang segera ke
sini."
"Euh,
bareng saja. Boleh?"
Aku
tersenyum. "Ya bolehlah, Dad. Langsung ke tempatku saja, kalian menginap di
sini. Dan, euh ... karena aku sudah mengabulkan permintaan kalian, sekarang
giliran kalian yang menjelaskan kepadaku kenapa kalian ingin sekali bertemu
dengan Ferris. Jujur ya Dad, aku heran, sebenarnya apa yang aneh, sih, hanya
karena wajah kami mirip, lalu apa? Kenapa kalian sepertinya penasaran sekali
dengan kemiripan kami. Tidak ada yang aneh ah, hanya kebetulan saja,
kurasa."
Dad terdiam cukup lama. "Tapi kami merasa, itu bukanlah kebetulan,
Isaac."
Aku
mengernyitkan kening. "Maksudmu, Dad?"
"Kami
sudah menyembunyikan ini sedari dulu. Sekarang memang sudah saatnya kamu tahu
semuanya. Rahasia kelam keluarga kita."
Giliranku
yang terdiam lama. Berusaha mencerna perkataan dad, yang nyata-nyata tak bisa
kucerna. "Maksudnya apa? Aku tidak mengerti sama sekali. "
"Isaac
...." Dad terdiam lama. "Kamu sebenarnya punya saudara kembar."
Hah?
"Kami
pernah membuat kesalahan besar dulu, Ike. Kamu tahu kan, dulu kami miskin. Kami
tak kuat menahan himpitan ekonomi, apalagi ada tanggungan dua bayi yang harus
cukup gizi ... maka kami melepaskan salah satu dari kalian ... kami
menitipkannya di panti asuhan. Sungguh, kami tidak akan melakukan hal itu jika
kami tidak terpaksa. Tapi kami sudah tidak tahu lagi apa yang harus kami
lakukan ... Isaac .... Itu adalah kesalahan kami yang terbesar. Setelah kami
menyadari bahwa tindakan kami salah, kami mencarinya. Mati-matian kami
mencarinya setelah kami mengetahui bahwa saudara kamu ternyata sudah diadopsi
oleh keluarga lain. Bahkan kakekmu yang akhirnya mengetahui keadaan kami ikut
membantu mencari sebisanya .... Tapi nihil. Kami tidak pernah berhasil selama ini.
Entah di mana dia sekarang, apakah dia masih hidup, kami bahkan tidak
mengetahuinya. Tapi kemarin ibumu baru melihat foto Rutherford. Dan ibumu
langsung yakin bahwa dia adalah saudara kamu, Isaac. Maka kami memintamu untuk
mempertemukan kami dengannya."
Aku
speechless. Benarkah yang kudengar tadi? Apa mereka bercanda??
"Maaf
kami baru memberitahumu sekarang, Ike .... Kami sebenarnya tak ingin
menyembunyikan hal ini dari kamu, tapi kami tidak tahu harus mulai dari mana.
Kami telah melakukan kesalahan tolol yang tak terlupakan seumur hidup, dan kami
menderita karenanya."
"Ya
dan kalian memang pantas menerimanya!" Spontan kuhardik dad. "Kalian
memang orang tua tolol yang tega membuang anaknya sendiri! Apa-apaan kalian,
apa kalian tidak punya otak, ya? Kok bisa sih kalian melakukan hal itu,
hah?"
"Kami
terpaksa melakukan itu, Isaac. Masalah ekonomi membuat kami terpaksa melakukan
itu ...."
"Itu
bukan alasan! Tidak ada alasan apa pun yang bisa menolerir perbuatan tolol
kalian itu!! Dan kalian menyesal, hah, kalian menderita karena tidak bisa
menemukannya sampai sekarang, ya memang itu yang pantas kalian dapatkan!! Lalu
untuk apa kalian mencarinya? Sudah 23 tahun, untuk apa kalian mencarinya? Untuk
minta maaf? Untuk memintanya kembali menjadi anak kalian? Pernahkah terpikirkan
apa yang dia rasakan?! Dia bisa sakit hati, Dad! Dia sudah menjalani hidupnya
sendiri selama ini, lalu kalian ingin datang secara tiba-tiba dalam hidupnya
dan mengaku sebagai orang tua kandungnya! Kalian tidak ingin melakukan
kesalahan tolol lagi, kan???"
Dad tidak berkomentar.
Dan
aku melanjutkan lagi. "Lalu apa gunanya aku? Aku dibiarkan tolol begitu
saja, selama ini, tak pernah tahu bahwa aku sebenarnya punya saudara. Kalau
saja selama ini aku tahu cerita tolol kalian tadi itu, sudah dari dulu aku
bantu mencari dia! Bahkan kalau memang Rutherford itu saudaraku, sudah dari
dulu kuselidiki! Tapi aku sekarang bisa apa??!"
"Enough,
Isaac. Kami tidak ingin mendengar kemarahan kamu pada kami, kami sudah cukup
menderita karena kesalahan yang kami lakukan sendiri." Dad berkata pelan.
Aku
menarik napas panjang. "Kalian segeralah ke sini," kataku datar.
Dan
ketika mereka tiba beberapa jam kemudian, aku tidak mengacuhkan mereka. Hanya
menyapa mereka seperlunya dan menawarkan makan dan minum. Itu saja. Tidak ada
pembicaraan apa-apa lagi dia antara kami. Mereka sepertinya menyesal sekali,
mereka berusaha mengajakku bicara, tapi aku tetap bersikap dingin dan tidak
acuh. Sampai pada siang hari ini aku masih bersikap seperti itu pada mereka.
Yea, aku masih butuh waktu menerima kenyataan yang mengejutkan ini. Biar mereka
juga sadar, bahwa tidak hanya kepada saudara kembarku saja mereka bersalah,
tapi juga padaku dengan menyembunyikan kenyataan ini seumur hidup!
Aku
menarik napas panjang. Melirik arloji, masih lima menit dari waktu yang
dijanjikan, Fez belum datang. Kulihat orang tuaku pun sedari tadi terdiam dan
melamun. Akh, apa peduliku.
Yang
kupedulikan hanyalah, semoga Fez bukanlah saudara kembarku, walaupun aku
sendiri sekarang curiga dia memang saudara kembarku setelah mendengar sejarah
keluargaku yang kelam itu. Tapi yaah, semoga kemiripanku dan Fez memang
hanyalah kebetulan semata. Jangan sampai dia benar saudara kembarku. Jangan
sampai, aku atau orang tuaku menemukan saudara kembarku yang hilang itu.
Bukannya apa-apa, aku sebenarnya antusias mengetahui bahwa aku punya saudara,
sungguh aku antusias. Bisa bayangkan, selama ini aku kesepian sebagai anak
tunggal, aku sangat ingin merasakan punya saudara. Tapi yang lebih membuatku
berpikir adalah apa yang saudaraku rasakan? Apa yang akan dia rasakan jika
tiba-tiba dia mengetahui keadaan dirinya yang pernah dibuang oleh orang tua
kandungnya? Tentu sakit hati.
Maka
daripada itu, lebih baik bagi kami untuk tidak pernah bertemu dengan saudara
kembarku itu, aku hanya tidak ingin melihat saudaraku itu sakit hati. Lebih
baik baginya untuk terus menjalani hidupnya sendiri dan menemukan
kebahagiaannya sendiri ....
Aku
melihat berkeliling. Kafe siang itu tidak begitu ramai, hanya ada beberapa
orang tengah menikmati santapannya dan ada pula yang sedang berdiskusi.
Baguslah, tidak ramai. Agar pembicaraan nanti tidak terganggu oleh keadaan
sekitar. Kemudian kulihat Fez akhirnya datang. Dia terlihat celingukan,
mencari-cari keberadaan kami. Maka kutegakkan tubuh, dan melambaikan tangan
padanya. Dia langsung melihat ke arahku, melempar senyum lalu menghampiri meja
kami.
Masih
dengan senyum mengembang, dia menyapa orang tuaku dengan sopan. "Selamat
siang, Mr. & Mrs. Renauld? Maaf, apa saya datang terlambat?"
Kulihat
sekilas keterkejutan dari mata orang tuaku begitu melihat Fez. Tapi kemudian
dad bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Fez. "Halo, Nak.
Kamilah yang tiba lebih cepat. Silahkan duduk," kata dad.
Fez
menyambut uluran tangan dad dengan hangat, dan setelah bersalaman dengan mum dan menyapaku, dia duduk di sebelahku.
Kami
memesan makanan, dan sembari bersantap, Fez mengajak bicara hal-hal yang ringan
pada orang tuaku. Dia bersikap simpatik, seperti Fez yang memang selama ini
kukenal. Sudahlah! Kenapa mereka mengulur-ulur waktu seperti ini? Jauh lebih
baik katakan saja apa maksud mereka sebenarnya memanggil Fez ke sini. Kuamati
ekspresi wajah kedua orang tuaku yang penuh pengharapan itu. Mereka menatap Fez
seperti tengah menatap sebuah berlian langka yang sangat ingin mereka miliki,
namun mereka tidak mampu. Lalu aku memandangi dad berjenak-jenak. Dad sadar
kuperhatikan, dan seakan mengerti arti tatapanku, dia mengernyitkan kening dan
menggeleng pelan.
Akh,
brengsek. Lalu untuk apa pertemuan ini kalau kalian urung mencari tahu benarkah
Fez itu anak kalian? Sudah sampai sini, kalian memutuskan mundur? Sumpah, aku
benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka!
Maka
aku memberanikan diri angkat bicara. "Fez, kau tentu penasaran, apa maksud
orang tuaku memintamu untuk bertemu, lalu kenapa tidak kau tanyakan?"
Pertanyaanku membuat Fez terlihat sedikit terkejut. Sementara dad malah
terlihat panik dan menegurku.
Fez
mengangkat alis. "Bukankah berbasa-basi merupakan bentuk sopan
santun?"
Aku
mendengus. "Lupakan sopan santun sekarang. Ada hal yang harusnya mereka
tanyakan dari tadi padamu. Pertanyaan yang tidak pernah terjawab karena mereka
terlalu takut untuk bertanya. Dan biarkan aku mewakili mereka."
Aku
sadar diri, nada suaraku memang tidak terdengar mengenakkan. Apa boleh buat,
moodku memang sangat buruk akibat kejutan yang baru kudengar semalam.
"Isaac!
Cukup!" tegur dad.
But it
doesn't stop me. "Mereka ingin tahu ... latar belakangmu, Fez. Mereka
menduga kau adalah saudara kembarku," kataku datar.
"Maaf?"
sahut Fez. Sepertinya hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya sekarang ini.
Dan
aku beralih pada orang tuaku. "Dad. Mum. Cukup basa basinya. Utarakan
tujuan kalian ingin bertemu dengan Ferris. Aku capek melihat kalian hanya bisa
memandang Ferris dengan ekspresi harap, tanpa ada langkah lebih lanjut."
Dad menarik napas panjang, sementara mum terlihat gugup.
"Sorry,
apa maksud perkataan kau tadi, Ike?" tanya Fez.
"Mereka
yang akan menjelaskannya padamu, Fez," jawabku.
"Ya.
Ferris," akhirnya dad memberanikan diri. "Sebelumnya, kami meminta
maaf yang sebesar-besarnya, apabila ternyata dugaan kami salah. Kami memang
mendugamu sebagai anak kami, yaitu saudara kembar Isaac ...."
Dapat
kurasakan Fez menegang. Dia tidak berbicara apa-apa, hanya menatap orang tuaku
bergantian. Namun sejurus kemudian dia tersenyum tipis. “Hmh, bagaimana
mungkin, Tn. Renauld? Saya akui, memang saya dan Isaac mempunyai kemiripan
fisik. Tapi ... manusia yang mirip di dunia ini jumlahnya tidak sedikit, bukan?
Dan lagi pula, saya mempunyai keluarga sendiri, saya mempunyai orang tua yang
menyayangi saya,” ujarnya.
“Memang
benar katamu itu. Tapi ... tapi kalian berdua sangat mirip! Maka kami memintamu
untuk kemari ... sekedar untuk membuktikan .....” Mum terhenti.
“Membuktikan?”
Fez menunggu lanjutan perkataan mum.
“Untuk
membuktikan benarkah kau adalah anak kami yang hilang. Anak kami yang kami
cari-cari selama dua puluh tahun ini ....”
15 – Anak
Dibuang
Hey.
Ini masih denganku, Isaac. Saat kata-kata mutiara indah itu keluar dari mulut
mum, aku dapat melihat kegelisahan semakin terpancar dari bahasa tubuh Fez.
“A-aku
tidak mengerti. Aku sama sekali tidak mengerti. Bagaimana bisa kalian
kehilangan anak kalian sendiri? Dan apa alasan kalian menganggap bahwa anak
kalian yang hilang itu adalah aku?” sahut Fez.
“Karena
kalian sangat mirip! Dan apa kau meragukan naluri seorang ibu?” tanya mum dengan suara keras yang bergetar, hampir menghardik. Entah kenapa mum tiba-tiba menginjak gas. Dad segera menenangkannya.
Fez
menatap dalam-dalam dad dan mum, juga menatapku, bergantian. Lalu katanya,
“Hari yang aneh, bukan? Tiba-tiba aku bertemu dengan sepasang suami istri yang
tanpa alasan yang jelas, mengira aku sebagai anaknya.”
Kusaksikan
dad memandangi Fez seperti yang sedang merangkai kata-kata dalam benaknya.
Setelah sekian lama dia pun berkata lirih, suaranya terdengar bergetar. “Dulu,
kami tinggal di Stockbort, dan kami sangat miskin. Kami tidak mempunyai uang
sama sekali. Saat itu, istriku, Evelyn hamil. Kami berpikir ... kalau untuk
menghidupi seorang anak saja, kami masih mampu. Tapi ternyata yang lahir dua
orang. Selama beberapa bulan, kami mencoba untuk bertahan dan berupaya sekeras
mungkin agar kedua anak kami bisa makan. Tapi akhirnya kami tidak mampu lagi
menjalani kehidupan yang begitu berat. Aku ingin menitipkan kedua anak kami di
panti asuhan ... lalu memperbaiki hidup kami, mencari pekerjaan tetap agar bisa
menghidupi keluarga, dan mengambil kembali mereka agar bisa bersama kami lagi.
Tapi Evelyn menentang keinginanku. Ia tidak bisa berpisah dengan kedua
putranya. Maka setelah membicarakannya panjang lebar, dengan berat hati ...
kami melepaskan salah seorang putra kami. Kami menitipkannya di panti. Dan yang
kami titipkan, adalah anak kami yang pertama. Dia lebih sehat, kuat dan tidak
rewel. Pikiran kami ... jika dia sudah besar kelak, dia mau mengerti mengapa
kami melakukan hal ini padanya. Kami benar-benar terpaksa ....”
Dia
melanjutkan dengan susah payah menahan emosi. “Beberapa bulan kemudian, orang
tua kami menemukan kami dalam kemelaratan, dan karena mereka mungkin tidak tega
melihat kami dan cucu mereka seperti itu keadaannya, mereka menolong kami.
Mereka memarahi kami habis-habisan begitu mengetahui kami telah melepaskan
salah satu anak kami di panti asuhan. Kami bermaksud mengambil anak kami
kembali. Namun yang terjadi adalah ... anak kami sudah diadopsi oleh orang
lain! Menyesal, sungguh kami menyesali kejadian itu ... ditambah pihak panti
tidak mau memberitahukan identitas dan alamat keluarga yang mengadopsi anak
kami. Setelah itu kami tidak pernah berhenti mencari keberadaan anak kami itu.
Juga dengan orang tua kami, yang mengerahkan segala cara untuk menemukan anak
kami yang hilang itu. Kami ingin sekali menemukannya ... sekadar untuk melihat
dan memastikan ... apakah dia baik-baik saja! Dan jika memungkinkan ... kami
ingin membawanya pulang, kembali ke rumah, ke tengah-tengah keluarga kami.”
Fez
mendengus. “Hmmh, cerita yang memalukan. Sangat memalukan. Bisa-bisanya kalian
membuang anak kalian sendiri?"
Hmm,
aku 100% setuju denganmu, Fez. Ini memang cerita tolol yang sangat memalukan.
Apa jadinya jika pers tahu soal ini? Mau ditaruh mana mukaku, apalagi sudah
melibatkan orang ini, sang pemuncak klasemen sementara pembalap? Huh,
salah-salah bisa jadi skandal.
Fez
masih melanjutkan. "Meninggalkan bayi yang tidak berdosa di depan pintu
panti asuhan tengah malam? Sementara dia sebenarnya masih mempunyai orang tua
kandung yang seharusnya merawatnya dan melindunginya.”
Aku
terkejut menatap Fez. Tengah malam? Siapa yang bilang?
Mum pun menatap Fez heran. “Dari mana kau tahu ... bahwa kami meletakkannya di
depan pintu panti asuhan di tengah malam?”
Fez
tersentak. Dia tergagap menjawab, “Euh, aku hanya menerka-nerka. Apa memang
benar seperti itu? Aku sulit menerima dan memahami cerita kalian tadi. Aku
tidak bisa memercayainya, terutama begitu kalian mengatakan bahwa kalian dulu
sangat miskin. Kupikir ... kalian mempunyai hubungan darah dengan Elliot
Renauld, pembalap kawakan zaman dulu?”
Huh.
Memang.
Dad terdiam sesaat. “Ya, dia memang ayahku. Tapi, dulu aku dan dia kerap
bersitegang, kami tidak pernah cocok dan tidak pernah akur.”
“Lalu
kalian seenaknya saja melepaskan anak kalian. Membuang anak kalian ke panti
asuhan. Bukankah kalian bisa menitipkan anak itu pada orang tua kalian? Seburuk
apa pun hubungan kalian dengan orang tua kalian, mereka tidak mungkin menolak
cucu mereka, bukan?” ujar Fez tajam.
Itulah
yang sejak semalam kupikirkan. Kenapa, kenapa dan beribu kenapa lainnya. Kenapa
yang tidak terjawab.
“Dulu
kami masih sangat muda, naif dan bodoh. Aku pun baru menyadari mengapa dulu aku
tidak melakukan seperti apa yang kamu katakan tadi," jawab dad.
Ya
Tuhan, jawaban tolol apa lagi itu??
Fez
mendengus kesal. Ha-ha, bahkan orang luar seperti Fez pun kesal mendengar
cerita dan ketololan orang tuaku di masa lalu. Memang benar-benar memalukan.
“Lalu?
Sekarang apa? Kalian masih menyangka aku adalah anak malang dalam cerita kalian
tadi?” tanya Fez galak.
Mum menjawab, “Naluriku mengatakan seperti itu ....”
“Apa
kalian mengenal putra kalian itu? Jangan asal bicara, kita baru saja bertemu
dan kalian langsung mengira bahwa aku adalah anak kalian! Kalian tidak
mengenalku, sama sekali!”
Mum terdiam sesaat. “Aku ... masih ingat dengan jelas .... Anakku itu mempunyai
tanda lahir di paha kirinya ...,” ujarnya seraya tersenyum tipis.
Fez
terlihat terkejut tidak percaya.
“Isaac
sendiri ... mempunyai tanda lahir di paha sebelah kanan. Benar kan, Ike?"
Mum bertanya. Dan untuk apa kujawab?
Mum tersenyum tipis dan melanjutkan. "Ya, kedua anak kami memang kompak ....
Kemudian seingatku ... anak kami yang hilang itu, mempunyai dua tahi lalat di
dada, dan di belakang telinga kanannya. Aku masih mengingatnya dengan jelas,
karena sebelum dia ... dititipkan ... seharian aku memeluknya dan
menciuminya," ujar mum sambil terisak.
Mum masih melanjutkan, “Dan ... aku memasangi dia sebuah kalung berliontinkan huruf
‘F’, inisial namanya ......”
Oh.
Kalung itu. Kalung mainan berukuran kecil sekali, seukuran leher bayi,
berliontinkan sebuah huruf. Yang kumiliki berliontin huruf 'I', sesuai inisial
namaku. Seingatku mum pernah berpesan agar aku terus menyimpan kalung kenangan
semasa bayi itu. Entah kenapa mum memintaku untuk terus menyimpannya, dan
ternyata ini alasannya? Karena kalung itu adalah satu-satunya benda yang
menghubungkan aku dan saudara kembarku. Satu-satunya saksi bisu yang bisa
membuktikan bahwa aku dan orang itu bersaudara. Dan ... apa, punya kembaranku
itu berliontin huruf 'F'? Memang namanya siapa? Kenapa nama Fez juga berinisial
huruf F?
Fez
menatap mum tidak bersuara. “Inisial namanya?” ulangnya.
Mum mengangguk dan tersenyum. Pipinya basah oleh air mata. “Ya ... Frayne ... nama
sebenarnya anak kami."
Frayne?
Nama yang bagus. Jadi itu, nama saudara kembarku? Huh, lucu kan, aku saja baru
tahu nama asli saudara kembarku sendiri. Siapa yang salah?
Aku
memerhatikan Fez yang terdiam menundukkan kepala. Dia menopang wajahnya dengan
satu tangan, seakan enggan beradu pandang dengan kedua orang yang duduk di
depannya itu. Setelah beberapa saat lamanya dia terdiam, dengan tangan yang
terlihat bergetar dia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan seuntai kalung,
dan meletakkannya di atas meja. “Inikah kalung itu?”
Oh
Tuhan, itu benar-benar serupa dengan kalung yang kumiliki! Dan kalung yang Fez
keluarkan itu berliontinkan huruf 'F'! Aku tidak bisa menyembunyikan
keterkejutanku. Jadi ... Fez adalah? Oh, Tuhan.
Aku
lihat dad dan mum terhenyak begitu melihat kalung yang ditunjukkan Fez tadi.
Dad terbata menjawab, “Ya ... ya, itu adalah kalung yang kami berikan untuk
anak kami! Jadi benar kau adalah ....”
Fez
memotong, “Tidak! Aku tidak percaya semua ini. Me-memang semua ciri-ciri yang
kalian sebutkan tadi ada padaku. Bahkan aku mempunyai kalung ‘F’ sialan itu.
Tapi ini semua cuma kebetulan belaka! Kalian tidak mungkin orang tuaku! Aku
tidak percaya semua omong kosong ini!”
Mum mengambil kalung yang diletakkan Fez di atas meja, dan menelitinya. Semakin ia
meneliti kalung itu, semakin deras air matanya mengalir. Ia menggeser tempatnya
duduk, mendekati Fez. Lalu ia menyentuh pipi Fez, menatap matanya lekat-lekat
sambil terus mengusap kening, mata, hidung dan pipi Fez. “Oh ... Frayne ...
benar kau adalah Frayne anakku .... Percayalah, kami adalah orang tua
kandungmu, Nak ...,” ujar mum sambil terisak-isak.
Sementara
Fez hanya terdiam dan menatap mata mum dalam-dalam. Beberapa saat lamanya Fez
terdiam, lalu membuang muka. “Cukup! Aku muak dengan semua ini. Aku mau
pulang,” ujar Fez melompat berdiri dan bermaksud segera pergi meninggalkan
kami.
“Apa
golongan darahmu, Nak?” Dad tiba-tiba bertanya, menahan kepergian Fez.
Fez
berdiri terdiam. Tidak menjawab.
“B?
Isaac bergolongan darah B. Jika benar golongan darahmu adalah B ... berarti kau
memang benar ... putra kami. Atau, bagaimana jika kita mengadakan tes DNA untuk
memastikan? Apa kamu bersedia?”
Fez
menghela napas panjang, “Aku B. Tapi untuk lebih memastikan ... lebih baik kita
ke rumah sakit. Tes DNA adalah cara terbaik untuk mengetahui kebenaran dari
semua ini.”
16 – Rivalku,
Kembaranku
Dan
kami berempat pun menunggu dengan gelisah di sofa di ruang tunggu rumah sakit
beberapa waktu kemudian. Masing-masing terdiam, hening dengan berbagai macam
perasaan yang bercampur aduk.
Jika
benar ... Fez itu saudaraku, lalu apa? Apa yang harus kulakukan? Apa yang bisa
kuperbuat untuknya? Dia tentu sakit hati pada James dan Evelyn, lalu apa yang
bisa kulakukan sebagai saudaranya? Aku menengadah, dan mendapati Fez berdiri
bersandar pada dinding, tak jauh dari kami, sedang melamun. Wajahnya pucat
sedari tadi.
Dokter
yang menangani tes DNA aku dan Fez pun muncul untuk menyampaikan kabar. Kami
berempat segera mengerubungi dokter itu dan meminta jawaban dari hasil tes.
Begitu
dokter tersebut mengatakan bahwa DNA kami memiliki kecocokan satu sama lain,
tangis Evelyn meledak. Tangis yang terdengar lega dan juga bahagia. James
menangis tak bersuara, sementara Fez berdiri terpaku dan terdiam. Dia tetap
terdiam ketika orang tuaku - orang tuanya - memeluknya dan meminta maaf
padanya.
Fez
memejamkan mata kuat-kuat. Evelyn menciuminya penuh rasa rindu dan masih
mengucapkan kata maaf, namun Fez masih tetap diam bergeming. Tidak membalas
pelukan Evelyn, ibunya sendiri. Fez membuka mata, ketika ditanya, “.... Lalu
orang tua angkatmu ... apakah mereka selalu memperhatikanmu ...? Mereka
mengurusmu dengan baik, kan?”
Fez
terlihat memaksakan diri tersenyum, lalu mengangguk. Dia membuang muka, seperti
berusaha menghindari kontak mata dengan Evelyn. Ketika pandangan mata kami
bertemu, dia melepaskan pelukan lalu berjalan menghampiriku, orang yang mulai
saat itu harus dia terima sebagai saudara kembarnya.
Kini
kami berdiri berhadap-hadapan, saling menatap satu sama lain, namun tak
terlontar satu patah kata pun dari mulut kami. Kubuka tanganku lebar-lebar dan
kami pun berpelukan.
Ya
Tuhan, inilah saudara yang selama ini aku angan-angankan! Aku yang selama masa
anak-anak dan remaja kerap membayangkan punya seorang kakak ... kini terkabul?
Punya seorang kakak kembar, yang ternyata adalah salah seorang rivalku sendiri
di sirkuit! Orang yang kukagumi prestasinya dan menjadi panutanku ... ternyata
memiliki hubungan darah yang begitu kental denganku! Inikah, saudara yang
memang seharusnya kumiliki sejak dulu? Begitu nyata, ada di hadapanku dan bisa
kupeluk. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang bisa melukiskan betapa
senangnya dan beruntungnya aku bisa kembali bertemu dengan satu-satunya
saudaraku, orang yang dikandung bersama-sama denganku. Orang yang menjadi
rivalku di sirkuit ... dan juga orang yang menjadi inspirator dan panutanku selama
ini. Thank God.
Tapi
bagaimana denganmu, Fez? Apakah kau sakit hati dengan James dan Evelyn? Apakah
kau pun sakit hati denganku? Apa yang kau rasakan setelah bertemu kembali
dengan kami, keluarga biologismu?
Aku
melepaskan pelukan seraya tersenyum, mengambil jarak untuk memandangi Fez dan
berusaha mencari apa yang dirasakannya lewat sinar matanya. Tapi dia balas
tersenyum dan menyapa, "Hai, Ike."
***
Beberapa
saat kemudian, kami semua bersama-sama mengunjungi orang tua angkat Fez, yang
tinggal di kawasan elit Highgate.
Gale
Rutherford dan Phedra Rutherford, istrinya, adalah sepasang suami istri low
profile. Mereka ramah dan bersikap hangat ketika menyambut kami di rumahnya.
Namun wajah ramah itu memudar ketika Fez memperkenalkan kami bertiga sebagai
keluarga kandungnya.
Gale
dan Phedra terlihat shock. Mereka seperti kehilangan kata-kata, dan hanya mampu
memandangi wajah James dan Evelyn dengan ekspresi kaget dan bingung. Sementara
Fez terlihat gugup dan gelisah.
Well,
aku maklum, Fez, kau selama ini adalah anak tunggal Rutherford, anak kesayangan
semata wayang. Belum pernah sekalipun dalam hidupmu, orang tua kandungmu datang
mengunjungimu dan menemui orang tua angkatmu, kan?
James
mencoba mencairkan suasana yang tegang, “Mungkin Anda berdua kaget, kenapa kami
tiba-tiba datang menemui Anda berdua, Gale, Phedra. Tapi kedatangan kami ke
sini dengan maksud baik, kami hanya ingin berkenalan dengan Anda berdua, dan
jika memungkinkan alangkah baiknya bila kita menjalin hubungan erat selayaknya
famili sendiri. Karena bagaimanapun, Anda berdualah yang telah berjasa merawat
dan mendidik Ferris sampai dia dewasa.” James menarik napas panjang. “Kami
sungguh berhutang budi pada Anda berdua," lanjutnya.
“Well,
James,” sahut Gale. “Maafkan, saya hanya merasa bingung, bagaimana ceritanya
Anda bisa bertemu dengan Ferris? Sejak kapan kalian saling mengenal?”
Fez
menyahut, “Mereka penasaran karena wajahku mirip dengan Isaac, Dad, Mum. Ya
singkat kata, mereka menemukanku. Kami baru berkenalan hari ini.”
“Wah,
ini benar-benar mengejutkan ...,” komentar Gale.
Such
an awkward moment. Huh.
“Ada
alasan kenapa semua ini terjadi. Tapi buatku, yang paling penting adalah
bagaimana agar orang lain tidak perlu mengetahui hal ini. Jadikanlah ini
rahasia, hanya antara kita berenam saja yang tahu. Karena kurasa, kalau sampai
hal ini bocor ke luar ... wartawan pasti akan mulai mengejar-ngejar kita,
mengorek informasi sebanyak mungkin dari kita. Apa pun bisa mereka jadikan
berita besar kok! Apalagi hal semacam ini. Hal yang aku rasa hampir tidak
pernah terjadi di dunia balap Formula Prime. Bayangkan, seandainya berita
mengenai keluarga kita ini menjadi headline media cetak .... Ferris Rutherford
dan Isaac Renauld, ternyata saudara kembar yang terpisahkan! Kemiripan wajah
mereka akhirnya terungkap! Bla bla bla bla ... mereka pasti mengulas habis apa
dan bagaimana penyebab kenapa semua hal itu bisa terjadi. Aku hanya
membayangkan, hal itu akan berdampak cukup buruk .... Apalagi Gale dan Phedra sekarang sudah tidak muda lagi, kalian tidak ingin merasakan
ganasnya pers kalau sedang mencari berita kan? Dan lagi pula, kurasa ini
privacy, kita tidak akan membiarkan orang luar mengetahui semua hal tentang
keluarga kita kan? Bagaimana menurut pendapat kalian?” tutur Fez panjang lebar.
Tepat,
Fez. Aku juga tidak ingin selalu dikejar pers. “Aku setuju. Kita rahasiakan hal
ini.”
Orang
tuaku, dan juga Gale dan Phedra, juga mengangguk-angguk setuju.
“Baiklah,
kita semua setuju bahwa hal ini lebih baik dirahasiakan,” kata Gale. “Tapi ...
rupanya memang benar berita itu. Isaac, kamu memang sangat mirip dengan Ferris.
Di foto-fotomu tidak terlalu terlihat jelas kemiripan kalian, tapi setelah
bertemu muka secara langsung sekarang ini, saya benar-benar terpukau menyadari
bahwa ... kalian berdua memang mirip satu sama lain!”
Aku
melempar senyum. “Kalau begitu, jika Anda bersedia, Anda berdua bisa menganggap
saya seperti anak sendiri. Saya sendiri sangat senang, karena akhirnya bisa
bertemu kembali dengan Ferris, plus bisa mendapat sepasang orang tua lagi.
Tidakkah keluarga kita terberkati? Kita menjadi keluarga besar, lho.”
Gale
membalas senyumku dengan simpatik. “Oh ya, Ferris, Isaac, bolehkah saya
berbicara dengan James dan Evelyn? Ada beberapa hal yang kalian tidak perlu
tahu ... Jadi ....”
Fez
melengos sambil bangkit berdiri. “Ayo, Ike. Kuantar kau keliling rumah.”
Kuikuti
Fez, walaupun dalam hati aku merasa penasaran apa yang hendak dibicarakan oleh
orang tua kami.
Fez
mengantarku berkeliling rumahnya. Rumah yang nyaman dan bagus, syukurlah Fez
dibesarkan di keluarga yang mapan, dan rendah hati seperti Gale dan Phedra.
Seandainya saja ... dulu Fez diadopsi keluarga yang kurang harmonis, entah
seperti apa nasibmu dulu.
Kupandangi
Fez yang sedari tadi tidak banyak bicara. Ekspresi wajah yang datar, sungguh
aku ingin tahu apa yang ada di benaknya. Coba kuajak bicara dia. “Kau tidak
terlihat kaget begitu dad dan mum bilang kau adalah anak mereka.”
“Kata
siapa? Aku kaget.”
“Bukan,
maksudku, apa kau sudah tahu sebelumnya bahwa kau bukan anak kandung orang
tuamu yang sekarang, begitu? Karena kalau kau belum tahu, kurasa kau pasti
bakal lebih shock lagi .... Cuma pendapatku aja sih.”
Fez
terdiam sejenak. “Aku memang sudah tahu kalau aku bukanlah anak kandung
Rutherford. Sudah lama kutahu.”
“Jadi
....”
“Dulu,
waktu masih kelas 8. Aku penasaran setengah mati kenapa golongan darahku beda
dari Gale dan Phedra. Kutanyakan hal itu berkali-kali pada mereka, dan akhirnya
ya seperti yang bisa kau tebak. Mereka akhirnya dengan berat hati memberitahuku
kalau aku sebenarnya anak adopsi. Siapa orang tua kandungku, di mana mereka,
seperti apa mereka, masih hidup atau tidak, tidak kupikirkan lagi karena toh
aku merasa sangat berkecukupan dengan kasih sayang Gale dan Phedra.”
Walaupun
aku merasa miris padamu Fez, setidaknya aku bersyukur karena orang tua angkatmu
sangat baik padamu.
“Kau
sendiri, Ike? Sudah lama tahu, kalau kau punya kembaran?”
Aku
tertawa sumbang. “Aku malah baru tahu semalam. Baru semalam James dan Evelyn
memberitahuku soal itu. Jadi kau tidak usah heran kenapa tadi siang aku
bersikap dingin pada mereka. Kau bayangkan saja, gila ya! Sudah berapa puluh
tahun, kenapa baru sekarang mereka mengakui hal itu padaku! Kenapa tidak dari
dulu mereka menemukanmu, Fez! Aku bukan main terkejut begitu tahu.”
“Yah,
mungkin berat menceritakannya. Tidak seberat waktu melepasku.” Fez tersenyum
masam.
“Kau
pasti sakit hati.”
Fez
tertawa. “Aku cuma belum terbiasa. Plus masih shock juga. Semula kupikir
kemiripan kita tuh cuma kebetulan belaka, Ike. Mana pernah kepikiran kalau kau
ternyata saudaraku. Saudara kembar lagi.”
“Aku
juga kaget, Fez. Tapi aku senang mengetahui kau ternyata kakakku.”
“Kau
tanya alasan kenapa mereka tidak memberitahumu sejak dulu kalau kau punya
kembaran?”
Kutatap
Fez, lalu aku menggeleng. “Kuyakin bukan jawaban yang masuk akal. Seperti
alasan mereka melepasmu .... Tidak masuk akal.”
Fez
menghela napas. “Yah, seandainya aku tidak dilepas, aku mungkin tidak akan
bertemu dengan Gale dan Phedra. Mereka orang tua yang baik. Mereka adopsi aku
karena katanya, aku mirip dengan anak mereka yang sudah lama meninggal. Jadi
mereka memberiku nama sama seperti anak mereka itu. Ferris.”
“Oh,
jadi mereka punya anak kandung?”
“Ya.
Mati muda karena kecelakaan, umurnya baru 24 tahun.”
“Kasihan.
Semoga dia beristirahat dalam damai.”
“Pasca
meninggalnya anak mereka, mereka pengen punya anak lagi, tapi sayangnya mum Phedra sudah divonis tidak bisa lagi punya anak, karena dulu pernah keguguran.
Jadi ... mereka memutuskan mengasuh anak, dan akulah anak yang beruntung itu.”
“Lalu
setelah kau bertemu denganku, dad dan mum, apa rencanamu?”
Fez
mengangkat bahu. “Yang sudah pasti sih, aku akan membuatmu semakin tertinggal
jauh di belakang, dan makan asapku,” katanya sambil menyeringai lebar.
Aku
tergelak, kutinju bahunya. “Haha, coba saja kalau bisa!”
“Bisalah!
Paling baru berapa putaran mobilmu juga meleduk. Seperti biasa.”
“Oke,
kau bisa tindas aku selama aku masih di Purvance. Tapi ....” Aku menyeringai.
“Tapi tidak untuk tahun depan. Tolong rahasiakan, oke, aku sudah teken kontrak
dengan Glauber mulai tahun depan.”
Mata
Fez terbelalak. Dia menatapku dengan pandangan tidak percaya. “Kau direkrut
Glauber?”
“Yap.”
“Maksudmu,
kau jadi third driver?”
“Oh
bukan, aku mengisi posisi setelah Fabio Ortolani, apa kau sangka aku masih
harus jadi third driver? Kau kan tahu sendiri tahun ini tahun terakhir untuk
Alvarez.”
“Ehm.
Oke. Well. Congrats. Aku baru dengar soal ini. Hari yang penuh kejutan.”
Aku
tersenyum. "Ini peluang terbaik untukku. Aku tahu kemampuanku, dan kurasa
aku pantas mendapatkannya. Kau bergabung dengan tim sekelas Forrier, sementara
aku Glauber. Dua tim yang sama-sama kuat! Dan kuharap kita bisa bersaing secara
sehat. Bukankah menyenangkan jika kita bisa berdiri di podium bersama-sama,
Fez?"
"Ya,
ya tentu saja menyenangkan," sahut Fez. "Asalkan aku selalu di podium
1, sementara kau, cukup podium 3 saja," katanya lagi seraya menyeringai
lebar.
"Hahahahaha!
Kau ini! Kita lihat nanti!" balasku.
Comments
Post a Comment