TLC (14-16) | INA

 14 – Anak Hilang

Aku Isaac Renauld.

Aku dan orang tuaku sudah sampai di Henry’s Cafe tempat kami janjian dengan Fez 15 menit lebih awal. Sedari tadi aku tidak mengajak bicara mereka, aku sedang melancarkan sebuah silent treatment. Ya, aku tahu mereka orang tuaku sendiri, dan mereka baru saja tiba tadi malam dari Birgham. Mereka ingin berbicara denganku sebagaimana normalnya antara anak dan orang tua, tapi saat ini aku benar-benar tidak mau berkomunikasi dengan mereka sedikit pun. Aku merasakan kekecewaan yang teramat sangat pada mereka. Masih teringat kejadian kemarin sore yang membuatku menjadi seperti sekarang ini.

"Yeah. Dad, Mum, aku sudah bicara dengan Ferris. Dan dia setuju bertemu dengan kalian besok siang," kataku pada mereka via telepon.

Terdengar jawaban dari dad. "Oke, thanks, Ike. Dia bilang apa?"

"Yaa, dia sedikit heran, tapi fine. Dia sudah setuju, kok. Kalian besok mau langsung ke kafe atau mau bareng? Kalau bareng, lebih baik kalian sekarang segera ke sini."

"Euh, bareng saja. Boleh?"

Aku tersenyum. "Ya bolehlah, Dad. Langsung ke tempatku saja, kalian menginap di sini. Dan, euh ... karena aku sudah mengabulkan permintaan kalian, sekarang giliran kalian yang menjelaskan kepadaku kenapa kalian ingin sekali bertemu dengan Ferris. Jujur ya Dad, aku heran, sebenarnya apa yang aneh, sih, hanya karena wajah kami mirip, lalu apa? Kenapa kalian sepertinya penasaran sekali dengan kemiripan kami. Tidak ada yang aneh ah, hanya kebetulan saja, kurasa."

Dad terdiam cukup lama. "Tapi kami merasa, itu bukanlah kebetulan, Isaac."

Aku mengernyitkan kening. "Maksudmu, Dad?"

"Kami sudah menyembunyikan ini sedari dulu. Sekarang memang sudah saatnya kamu tahu semuanya. Rahasia kelam keluarga kita."

Giliranku yang terdiam lama. Berusaha mencerna perkataan dad, yang nyata-nyata tak bisa kucerna. "Maksudnya apa? Aku tidak mengerti sama sekali. "

"Isaac ...." Dad terdiam lama. "Kamu sebenarnya punya saudara kembar."

Hah?

"Kami pernah membuat kesalahan besar dulu, Ike. Kamu tahu kan, dulu kami miskin. Kami tak kuat menahan himpitan ekonomi, apalagi ada tanggungan dua bayi yang harus cukup gizi ... maka kami melepaskan salah satu dari kalian ... kami menitipkannya di panti asuhan. Sungguh, kami tidak akan melakukan hal itu jika kami tidak terpaksa. Tapi kami sudah tidak tahu lagi apa yang harus kami lakukan ... Isaac .... Itu adalah kesalahan kami yang terbesar. Setelah kami menyadari bahwa tindakan kami salah, kami mencarinya. Mati-matian kami mencarinya setelah kami mengetahui bahwa saudara kamu ternyata sudah diadopsi oleh keluarga lain. Bahkan kakekmu yang akhirnya mengetahui keadaan kami ikut membantu mencari sebisanya .... Tapi nihil. Kami tidak pernah berhasil selama ini. Entah di mana dia sekarang, apakah dia masih hidup, kami bahkan tidak mengetahuinya. Tapi kemarin ibumu baru melihat foto Rutherford. Dan ibumu langsung yakin bahwa dia adalah saudara kamu, Isaac. Maka kami memintamu untuk mempertemukan kami dengannya."

Aku speechless. Benarkah yang kudengar tadi? Apa mereka bercanda??

"Maaf kami baru memberitahumu sekarang, Ike .... Kami sebenarnya tak ingin menyembunyikan hal ini dari kamu, tapi kami tidak tahu harus mulai dari mana. Kami telah melakukan kesalahan tolol yang tak terlupakan seumur hidup, dan kami menderita karenanya."

"Ya dan kalian memang pantas menerimanya!" Spontan kuhardik dad. "Kalian memang orang tua tolol yang tega membuang anaknya sendiri! Apa-apaan kalian, apa kalian tidak punya otak, ya? Kok bisa sih kalian melakukan hal itu, hah?"

"Kami terpaksa melakukan itu, Isaac. Masalah ekonomi membuat kami terpaksa melakukan itu ...."

"Itu bukan alasan! Tidak ada alasan apa pun yang bisa menolerir perbuatan tolol kalian itu!! Dan kalian menyesal, hah, kalian menderita karena tidak bisa menemukannya sampai sekarang, ya memang itu yang pantas kalian dapatkan!! Lalu untuk apa kalian mencarinya? Sudah 23 tahun, untuk apa kalian mencarinya? Untuk minta maaf? Untuk memintanya kembali menjadi anak kalian? Pernahkah terpikirkan apa yang dia rasakan?! Dia bisa sakit hati, Dad! Dia sudah menjalani hidupnya sendiri selama ini, lalu kalian ingin datang secara tiba-tiba dalam hidupnya dan mengaku sebagai orang tua kandungnya! Kalian tidak ingin melakukan kesalahan tolol lagi, kan???"

Dad tidak berkomentar.

Dan aku melanjutkan lagi. "Lalu apa gunanya aku? Aku dibiarkan tolol begitu saja, selama ini, tak pernah tahu bahwa aku sebenarnya punya saudara. Kalau saja selama ini aku tahu cerita tolol kalian tadi itu, sudah dari dulu aku bantu mencari dia! Bahkan kalau memang Rutherford itu saudaraku, sudah dari dulu kuselidiki! Tapi aku sekarang bisa apa??!"

"Enough, Isaac. Kami tidak ingin mendengar kemarahan kamu pada kami, kami sudah cukup menderita karena kesalahan yang kami lakukan sendiri." Dad berkata pelan.

Aku menarik napas panjang. "Kalian segeralah ke sini," kataku datar.

Dan ketika mereka tiba beberapa jam kemudian, aku tidak mengacuhkan mereka. Hanya menyapa mereka seperlunya dan menawarkan makan dan minum. Itu saja. Tidak ada pembicaraan apa-apa lagi dia antara kami. Mereka sepertinya menyesal sekali, mereka berusaha mengajakku bicara, tapi aku tetap bersikap dingin dan tidak acuh. Sampai pada siang hari ini aku masih bersikap seperti itu pada mereka. Yea, aku masih butuh waktu menerima kenyataan yang mengejutkan ini. Biar mereka juga sadar, bahwa tidak hanya kepada saudara kembarku saja mereka bersalah, tapi juga padaku dengan menyembunyikan kenyataan ini seumur hidup!

Aku menarik napas panjang. Melirik arloji, masih lima menit dari waktu yang dijanjikan, Fez belum datang. Kulihat orang tuaku pun sedari tadi terdiam dan melamun. Akh, apa peduliku.

Yang kupedulikan hanyalah, semoga Fez bukanlah saudara kembarku, walaupun aku sendiri sekarang curiga dia memang saudara kembarku setelah mendengar sejarah keluargaku yang kelam itu. Tapi yaah, semoga kemiripanku dan Fez memang hanyalah kebetulan semata. Jangan sampai dia benar saudara kembarku. Jangan sampai, aku atau orang tuaku menemukan saudara kembarku yang hilang itu. Bukannya apa-apa, aku sebenarnya antusias mengetahui bahwa aku punya saudara, sungguh aku antusias. Bisa bayangkan, selama ini aku kesepian sebagai anak tunggal, aku sangat ingin merasakan punya saudara. Tapi yang lebih membuatku berpikir adalah apa yang saudaraku rasakan? Apa yang akan dia rasakan jika tiba-tiba dia mengetahui keadaan dirinya yang pernah dibuang oleh orang tua kandungnya? Tentu sakit hati.

Maka daripada itu, lebih baik bagi kami untuk tidak pernah bertemu dengan saudara kembarku itu, aku hanya tidak ingin melihat saudaraku itu sakit hati. Lebih baik baginya untuk terus menjalani hidupnya sendiri dan menemukan kebahagiaannya sendiri ....

Aku melihat berkeliling. Kafe siang itu tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang tengah menikmati santapannya dan ada pula yang sedang berdiskusi. Baguslah, tidak ramai. Agar pembicaraan nanti tidak terganggu oleh keadaan sekitar. Kemudian kulihat Fez akhirnya datang. Dia terlihat celingukan, mencari-cari keberadaan kami. Maka kutegakkan tubuh, dan melambaikan tangan padanya. Dia langsung melihat ke arahku, melempar senyum lalu menghampiri meja kami.

Masih dengan senyum mengembang, dia menyapa orang tuaku dengan sopan. "Selamat siang, Mr. & Mrs. Renauld? Maaf, apa saya datang terlambat?"

Kulihat sekilas keterkejutan dari mata orang tuaku begitu melihat Fez. Tapi kemudian dad bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Fez. "Halo, Nak. Kamilah yang tiba lebih cepat. Silahkan duduk," kata dad.

Fez menyambut uluran tangan dad dengan hangat, dan setelah bersalaman dengan mum dan menyapaku, dia duduk di sebelahku.

Kami memesan makanan, dan sembari bersantap, Fez mengajak bicara hal-hal yang ringan pada orang tuaku. Dia bersikap simpatik, seperti Fez yang memang selama ini kukenal. Sudahlah! Kenapa mereka mengulur-ulur waktu seperti ini? Jauh lebih baik katakan saja apa maksud mereka sebenarnya memanggil Fez ke sini. Kuamati ekspresi wajah kedua orang tuaku yang penuh pengharapan itu. Mereka menatap Fez seperti tengah menatap sebuah berlian langka yang sangat ingin mereka miliki, namun mereka tidak mampu. Lalu aku memandangi dad berjenak-jenak. Dad sadar kuperhatikan, dan seakan mengerti arti tatapanku, dia mengernyitkan kening dan menggeleng pelan.

Akh, brengsek. Lalu untuk apa pertemuan ini kalau kalian urung mencari tahu benarkah Fez itu anak kalian? Sudah sampai sini, kalian memutuskan mundur? Sumpah, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka!

Maka aku memberanikan diri angkat bicara. "Fez, kau tentu penasaran, apa maksud orang tuaku memintamu untuk bertemu, lalu kenapa tidak kau tanyakan?" Pertanyaanku membuat Fez terlihat sedikit terkejut. Sementara dad malah terlihat panik dan menegurku.

Fez mengangkat alis. "Bukankah berbasa-basi merupakan bentuk sopan santun?"

Aku mendengus. "Lupakan sopan santun sekarang. Ada hal yang harusnya mereka tanyakan dari tadi padamu. Pertanyaan yang tidak pernah terjawab karena mereka terlalu takut untuk bertanya. Dan biarkan aku mewakili mereka." 

Aku sadar diri, nada suaraku memang tidak terdengar mengenakkan. Apa boleh buat, moodku memang sangat buruk akibat kejutan yang baru kudengar semalam.

"Isaac! Cukup!" tegur dad.

But it doesn't stop me. "Mereka ingin tahu ... latar belakangmu, Fez. Mereka menduga kau adalah saudara kembarku," kataku datar.

"Maaf?" sahut Fez. Sepertinya hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya sekarang ini.

Dan aku beralih pada orang tuaku. "Dad. Mum. Cukup basa basinya. Utarakan tujuan kalian ingin bertemu dengan Ferris. Aku capek melihat kalian hanya bisa memandang Ferris dengan ekspresi harap, tanpa ada langkah lebih lanjut."

Dad menarik napas panjang, sementara mum terlihat gugup.

"Sorry, apa maksud perkataan kau tadi, Ike?" tanya Fez.

"Mereka yang akan menjelaskannya padamu, Fez," jawabku.

"Ya. Ferris," akhirnya dad memberanikan diri. "Sebelumnya, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya, apabila ternyata dugaan kami salah. Kami memang mendugamu sebagai anak kami, yaitu saudara kembar Isaac ...."

Dapat kurasakan Fez menegang. Dia tidak berbicara apa-apa, hanya menatap orang tuaku bergantian. Namun sejurus kemudian dia tersenyum tipis. “Hmh, bagaimana mungkin, Tn. Renauld? Saya akui, memang saya dan Isaac mempunyai kemiripan fisik. Tapi ... manusia yang mirip di dunia ini jumlahnya tidak sedikit, bukan? Dan lagi pula, saya mempunyai keluarga sendiri, saya mempunyai orang tua yang menyayangi saya,” ujarnya.

“Memang benar katamu itu. Tapi ... tapi kalian berdua sangat mirip! Maka kami memintamu untuk kemari ... sekedar untuk membuktikan .....” Mum terhenti.

“Membuktikan?” Fez menunggu lanjutan perkataan mum.

“Untuk membuktikan benarkah kau adalah anak kami yang hilang. Anak kami yang kami cari-cari selama dua puluh tahun ini ....”

 

15 – Anak Dibuang

Hey. Ini masih denganku, Isaac. Saat kata-kata mutiara indah itu keluar dari mulut mum, aku dapat melihat kegelisahan semakin terpancar dari bahasa tubuh Fez.

“A-aku tidak mengerti. Aku sama sekali tidak mengerti. Bagaimana bisa kalian kehilangan anak kalian sendiri? Dan apa alasan kalian menganggap bahwa anak kalian yang hilang itu adalah aku?” sahut Fez.

“Karena kalian sangat mirip! Dan apa kau meragukan naluri seorang ibu?” tanya mum dengan suara keras yang bergetar, hampir menghardik. Entah kenapa mum tiba-tiba menginjak gas. Dad segera menenangkannya.

Fez menatap dalam-dalam dad dan mum, juga menatapku, bergantian. Lalu katanya, “Hari yang aneh, bukan? Tiba-tiba aku bertemu dengan sepasang suami istri yang tanpa alasan yang jelas, mengira aku sebagai anaknya.”

Kusaksikan dad memandangi Fez seperti yang sedang merangkai kata-kata dalam benaknya. Setelah sekian lama dia pun berkata lirih, suaranya terdengar bergetar. “Dulu, kami tinggal di Stockbort, dan kami sangat miskin. Kami tidak mempunyai uang sama sekali. Saat itu, istriku, Evelyn hamil. Kami berpikir ... kalau untuk menghidupi seorang anak saja, kami masih mampu. Tapi ternyata yang lahir dua orang. Selama beberapa bulan, kami mencoba untuk bertahan dan berupaya sekeras mungkin agar kedua anak kami bisa makan. Tapi akhirnya kami tidak mampu lagi menjalani kehidupan yang begitu berat. Aku ingin menitipkan kedua anak kami di panti asuhan ... lalu memperbaiki hidup kami, mencari pekerjaan tetap agar bisa menghidupi keluarga, dan mengambil kembali mereka agar bisa bersama kami lagi. Tapi Evelyn menentang keinginanku. Ia tidak bisa berpisah dengan kedua putranya. Maka setelah membicarakannya panjang lebar, dengan berat hati ... kami melepaskan salah seorang putra kami. Kami menitipkannya di panti. Dan yang kami titipkan, adalah anak kami yang pertama. Dia lebih sehat, kuat dan tidak rewel. Pikiran kami ... jika dia sudah besar kelak, dia mau mengerti mengapa kami melakukan hal ini padanya. Kami benar-benar terpaksa ....”

Dia melanjutkan dengan susah payah menahan emosi. “Beberapa bulan kemudian, orang tua kami menemukan kami dalam kemelaratan, dan karena mereka mungkin tidak tega melihat kami dan cucu mereka seperti itu keadaannya, mereka menolong kami. Mereka memarahi kami habis-habisan begitu mengetahui kami telah melepaskan salah satu anak kami di panti asuhan. Kami bermaksud mengambil anak kami kembali. Namun yang terjadi adalah ... anak kami sudah diadopsi oleh orang lain! Menyesal, sungguh kami menyesali kejadian itu ... ditambah pihak panti tidak mau memberitahukan identitas dan alamat keluarga yang mengadopsi anak kami. Setelah itu kami tidak pernah berhenti mencari keberadaan anak kami itu. Juga dengan orang tua kami, yang mengerahkan segala cara untuk menemukan anak kami yang hilang itu. Kami ingin sekali menemukannya ... sekadar untuk melihat dan memastikan ... apakah dia baik-baik saja! Dan jika memungkinkan ... kami ingin membawanya pulang, kembali ke rumah, ke tengah-tengah keluarga kami.”

Fez mendengus. “Hmmh, cerita yang memalukan. Sangat memalukan. Bisa-bisanya kalian membuang anak kalian sendiri?"

Hmm, aku 100% setuju denganmu, Fez. Ini memang cerita tolol yang sangat memalukan. Apa jadinya jika pers tahu soal ini? Mau ditaruh mana mukaku, apalagi sudah melibatkan orang ini, sang pemuncak klasemen sementara pembalap? Huh, salah-salah bisa jadi skandal.

Fez masih melanjutkan. "Meninggalkan bayi yang tidak berdosa di depan pintu panti asuhan tengah malam? Sementara dia sebenarnya masih mempunyai orang tua kandung yang seharusnya merawatnya dan melindunginya.”

Aku terkejut menatap Fez. Tengah malam? Siapa yang bilang?

Mum pun menatap Fez heran. “Dari mana kau tahu ... bahwa kami meletakkannya di depan pintu panti asuhan di tengah malam?”

Fez tersentak. Dia tergagap menjawab, “Euh, aku hanya menerka-nerka. Apa memang benar seperti itu? Aku sulit menerima dan memahami cerita kalian tadi. Aku tidak bisa memercayainya, terutama begitu kalian mengatakan bahwa kalian dulu sangat miskin. Kupikir ... kalian mempunyai hubungan darah dengan Elliot Renauld, pembalap kawakan zaman dulu?”

Huh. Memang.

Dad terdiam sesaat. “Ya, dia memang ayahku. Tapi, dulu aku dan dia kerap bersitegang, kami tidak pernah cocok dan tidak pernah akur.”

“Lalu kalian seenaknya saja melepaskan anak kalian. Membuang anak kalian ke panti asuhan. Bukankah kalian bisa menitipkan anak itu pada orang tua kalian? Seburuk apa pun hubungan kalian dengan orang tua kalian, mereka tidak mungkin menolak cucu mereka, bukan?” ujar Fez tajam.

Itulah yang sejak semalam kupikirkan. Kenapa, kenapa dan beribu kenapa lainnya. Kenapa yang tidak terjawab.

“Dulu kami masih sangat muda, naif dan bodoh. Aku pun baru menyadari mengapa dulu aku tidak melakukan seperti apa yang kamu katakan tadi," jawab dad.

Ya Tuhan, jawaban tolol apa lagi itu??

Fez mendengus kesal. Ha-ha, bahkan orang luar seperti Fez pun kesal mendengar cerita dan ketololan orang tuaku di masa lalu. Memang benar-benar memalukan.

“Lalu? Sekarang apa? Kalian masih menyangka aku adalah anak malang dalam cerita kalian tadi?” tanya Fez galak.

Mum menjawab, “Naluriku mengatakan seperti itu ....”

“Apa kalian mengenal putra kalian itu? Jangan asal bicara, kita baru saja bertemu dan kalian langsung mengira bahwa aku adalah anak kalian! Kalian tidak mengenalku, sama sekali!”

Mum terdiam sesaat. “Aku ... masih ingat dengan jelas .... Anakku itu mempunyai tanda lahir di paha kirinya ...,” ujarnya seraya tersenyum tipis.

Fez terlihat terkejut tidak percaya.

“Isaac sendiri ... mempunyai tanda lahir di paha sebelah kanan. Benar kan, Ike?" Mum bertanya. Dan untuk apa kujawab?

Mum tersenyum tipis dan melanjutkan. "Ya, kedua anak kami memang kompak .... Kemudian seingatku ... anak kami yang hilang itu, mempunyai dua tahi lalat di dada, dan di belakang telinga kanannya. Aku masih mengingatnya dengan jelas, karena sebelum dia ... dititipkan ... seharian aku memeluknya dan menciuminya," ujar mum sambil terisak.

Mum masih melanjutkan, “Dan ... aku memasangi dia sebuah kalung berliontinkan huruf ‘F’, inisial namanya ......”

Oh. Kalung itu. Kalung mainan berukuran kecil sekali, seukuran leher bayi, berliontinkan sebuah huruf. Yang kumiliki berliontin huruf 'I', sesuai inisial namaku. Seingatku mum pernah berpesan agar aku terus menyimpan kalung kenangan semasa bayi itu. Entah kenapa mum memintaku untuk terus menyimpannya, dan ternyata ini alasannya? Karena kalung itu adalah satu-satunya benda yang menghubungkan aku dan saudara kembarku. Satu-satunya saksi bisu yang bisa membuktikan bahwa aku dan orang itu bersaudara. Dan ... apa, punya kembaranku itu berliontin huruf 'F'? Memang namanya siapa? Kenapa nama Fez juga berinisial huruf F?

Fez menatap mum tidak bersuara. “Inisial namanya?” ulangnya.

Mum mengangguk dan tersenyum. Pipinya basah oleh air mata. “Ya ... Frayne ... nama sebenarnya anak kami."

Frayne? Nama yang bagus. Jadi itu, nama saudara kembarku? Huh, lucu kan, aku saja baru tahu nama asli saudara kembarku sendiri. Siapa yang salah?

Aku memerhatikan Fez yang terdiam menundukkan kepala. Dia menopang wajahnya dengan satu tangan, seakan enggan beradu pandang dengan kedua orang yang duduk di depannya itu. Setelah beberapa saat lamanya dia terdiam, dengan tangan yang terlihat bergetar dia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan seuntai kalung, dan meletakkannya di atas meja. “Inikah kalung itu?”

Oh Tuhan, itu benar-benar serupa dengan kalung yang kumiliki! Dan kalung yang Fez keluarkan itu berliontinkan huruf 'F'! Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Jadi ... Fez adalah? Oh, Tuhan.

Aku lihat dad dan mum terhenyak begitu melihat kalung yang ditunjukkan Fez tadi. Dad terbata menjawab, “Ya ... ya, itu adalah kalung yang kami berikan untuk anak kami! Jadi benar kau adalah ....”

Fez memotong, “Tidak! Aku tidak percaya semua ini. Me-memang semua ciri-ciri yang kalian sebutkan tadi ada padaku. Bahkan aku mempunyai kalung ‘F’ sialan itu. Tapi ini semua cuma kebetulan belaka! Kalian tidak mungkin orang tuaku! Aku tidak percaya semua omong kosong ini!”

Mum mengambil kalung yang diletakkan Fez di atas meja, dan menelitinya. Semakin ia meneliti kalung itu, semakin deras air matanya mengalir. Ia menggeser tempatnya duduk, mendekati Fez. Lalu ia menyentuh pipi Fez, menatap matanya lekat-lekat sambil terus mengusap kening, mata, hidung dan pipi Fez. “Oh ... Frayne ... benar kau adalah Frayne anakku .... Percayalah, kami adalah orang tua kandungmu, Nak ...,” ujar mum sambil terisak-isak.

Sementara Fez hanya terdiam dan menatap mata mum dalam-dalam. Beberapa saat lamanya Fez terdiam, lalu membuang muka. “Cukup! Aku muak dengan semua ini. Aku mau pulang,” ujar Fez melompat berdiri dan bermaksud segera pergi meninggalkan kami.

“Apa golongan darahmu, Nak?” Dad tiba-tiba bertanya, menahan kepergian Fez.

Fez berdiri terdiam. Tidak menjawab.

“B? Isaac bergolongan darah B. Jika benar golongan darahmu adalah B ... berarti kau memang benar ... putra kami. Atau, bagaimana jika kita mengadakan tes DNA untuk memastikan? Apa kamu bersedia?”

Fez menghela napas panjang, “Aku B. Tapi untuk lebih memastikan ... lebih baik kita ke rumah sakit. Tes DNA adalah cara terbaik untuk mengetahui kebenaran dari semua ini.”

 

16 – Rivalku, Kembaranku

Dan kami berempat pun menunggu dengan gelisah di sofa di ruang tunggu rumah sakit beberapa waktu kemudian. Masing-masing terdiam, hening dengan berbagai macam perasaan yang bercampur aduk.

Jika benar ... Fez itu saudaraku, lalu apa? Apa yang harus kulakukan? Apa yang bisa kuperbuat untuknya? Dia tentu sakit hati pada James dan Evelyn, lalu apa yang bisa kulakukan sebagai saudaranya? Aku menengadah, dan mendapati Fez berdiri bersandar pada dinding, tak jauh dari kami, sedang melamun. Wajahnya pucat sedari tadi.

Dokter yang menangani tes DNA aku dan Fez pun muncul untuk menyampaikan kabar. Kami berempat segera mengerubungi dokter itu dan meminta jawaban dari hasil tes.

Begitu dokter tersebut mengatakan bahwa DNA kami memiliki kecocokan satu sama lain, tangis Evelyn meledak. Tangis yang terdengar lega dan juga bahagia. James menangis tak bersuara, sementara Fez berdiri terpaku dan terdiam. Dia tetap terdiam ketika orang tuaku - orang tuanya - memeluknya dan meminta maaf padanya.

Fez memejamkan mata kuat-kuat. Evelyn menciuminya penuh rasa rindu dan masih mengucapkan kata maaf, namun Fez masih tetap diam bergeming. Tidak membalas pelukan Evelyn, ibunya sendiri. Fez membuka mata, ketika ditanya, “.... Lalu orang tua angkatmu ... apakah mereka selalu memperhatikanmu ...? Mereka mengurusmu dengan baik, kan?”

Fez terlihat memaksakan diri tersenyum, lalu mengangguk. Dia membuang muka, seperti berusaha menghindari kontak mata dengan Evelyn. Ketika pandangan mata kami bertemu, dia melepaskan pelukan lalu berjalan menghampiriku, orang yang mulai saat itu harus dia terima sebagai saudara kembarnya.

Kini kami berdiri berhadap-hadapan, saling menatap satu sama lain, namun tak terlontar satu patah kata pun dari mulut kami. Kubuka tanganku lebar-lebar dan kami pun berpelukan.

Ya Tuhan, inilah saudara yang selama ini aku angan-angankan! Aku yang selama masa anak-anak dan remaja kerap membayangkan punya seorang kakak ... kini terkabul? Punya seorang kakak kembar, yang ternyata adalah salah seorang rivalku sendiri di sirkuit! Orang yang kukagumi prestasinya dan menjadi panutanku ... ternyata memiliki hubungan darah yang begitu kental denganku! Inikah, saudara yang memang seharusnya kumiliki sejak dulu? Begitu nyata, ada di hadapanku dan bisa kupeluk. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang bisa melukiskan betapa senangnya dan beruntungnya aku bisa kembali bertemu dengan satu-satunya saudaraku, orang yang dikandung bersama-sama denganku. Orang yang menjadi rivalku di sirkuit ... dan juga orang yang menjadi inspirator dan panutanku selama ini. Thank God.

Tapi bagaimana denganmu, Fez? Apakah kau sakit hati dengan James dan Evelyn? Apakah kau pun sakit hati denganku? Apa yang kau rasakan setelah bertemu kembali dengan kami, keluarga biologismu?

Aku melepaskan pelukan seraya tersenyum, mengambil jarak untuk memandangi Fez dan berusaha mencari apa yang dirasakannya lewat sinar matanya. Tapi dia balas tersenyum dan menyapa, "Hai, Ike."

***

Beberapa saat kemudian, kami semua bersama-sama mengunjungi orang tua angkat Fez, yang tinggal di kawasan elit Highgate.

Gale Rutherford dan Phedra Rutherford, istrinya, adalah sepasang suami istri low profile. Mereka ramah dan bersikap hangat ketika menyambut kami di rumahnya. Namun wajah ramah itu memudar ketika Fez memperkenalkan kami bertiga sebagai keluarga kandungnya.

Gale dan Phedra terlihat shock. Mereka seperti kehilangan kata-kata, dan hanya mampu memandangi wajah James dan Evelyn dengan ekspresi kaget dan bingung. Sementara Fez terlihat gugup dan gelisah.

Well, aku maklum, Fez, kau selama ini adalah anak tunggal Rutherford, anak kesayangan semata wayang. Belum pernah sekalipun dalam hidupmu, orang tua kandungmu datang mengunjungimu dan menemui orang tua angkatmu, kan?

James mencoba mencairkan suasana yang tegang, “Mungkin Anda berdua kaget, kenapa kami tiba-tiba datang menemui Anda berdua, Gale, Phedra. Tapi kedatangan kami ke sini dengan maksud baik, kami hanya ingin berkenalan dengan Anda berdua, dan jika memungkinkan alangkah baiknya bila kita menjalin hubungan erat selayaknya famili sendiri. Karena bagaimanapun, Anda berdualah yang telah berjasa merawat dan mendidik Ferris sampai dia dewasa.” James menarik napas panjang. “Kami sungguh berhutang budi pada Anda berdua," lanjutnya.

“Well, James,” sahut Gale. “Maafkan, saya hanya merasa bingung, bagaimana ceritanya Anda bisa bertemu dengan Ferris? Sejak kapan kalian saling mengenal?”

Fez menyahut, “Mereka penasaran karena wajahku mirip dengan Isaac, Dad, Mum. Ya singkat kata, mereka menemukanku. Kami baru berkenalan hari ini.”

“Wah, ini benar-benar mengejutkan ...,” komentar Gale.

Such an awkward moment. Huh.

“Ada alasan kenapa semua ini terjadi. Tapi buatku, yang paling penting adalah bagaimana agar orang lain tidak perlu mengetahui hal ini. Jadikanlah ini rahasia, hanya antara kita berenam saja yang tahu. Karena kurasa, kalau sampai hal ini bocor ke luar ... wartawan pasti akan mulai mengejar-ngejar kita, mengorek informasi sebanyak mungkin dari kita. Apa pun bisa mereka jadikan berita besar kok! Apalagi hal semacam ini. Hal yang aku rasa hampir tidak pernah terjadi di dunia balap Formula Prime. Bayangkan, seandainya berita mengenai keluarga kita ini menjadi headline media cetak .... Ferris Rutherford dan Isaac Renauld, ternyata saudara kembar yang terpisahkan! Kemiripan wajah mereka akhirnya terungkap! Bla bla bla bla ... mereka pasti mengulas habis apa dan bagaimana penyebab kenapa semua hal itu bisa terjadi. Aku hanya membayangkan, hal itu akan berdampak cukup buruk .... Apalagi Gale dan Phedra sekarang sudah tidak muda lagi, kalian tidak ingin merasakan ganasnya pers kalau sedang mencari berita kan? Dan lagi pula, kurasa ini privacy, kita tidak akan membiarkan orang luar mengetahui semua hal tentang keluarga kita kan? Bagaimana menurut pendapat kalian?” tutur Fez panjang lebar.

Tepat, Fez. Aku juga tidak ingin selalu dikejar pers. “Aku setuju. Kita rahasiakan hal ini.”

Orang tuaku, dan juga Gale dan Phedra, juga mengangguk-angguk setuju.

“Baiklah, kita semua setuju bahwa hal ini lebih baik dirahasiakan,” kata Gale. “Tapi ... rupanya memang benar berita itu. Isaac, kamu memang sangat mirip dengan Ferris. Di foto-fotomu tidak terlalu terlihat jelas kemiripan kalian, tapi setelah bertemu muka secara langsung sekarang ini, saya benar-benar terpukau menyadari bahwa ... kalian berdua memang mirip satu sama lain!”

Aku melempar senyum. “Kalau begitu, jika Anda bersedia, Anda berdua bisa menganggap saya seperti anak sendiri. Saya sendiri sangat senang, karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan Ferris, plus bisa mendapat sepasang orang tua lagi. Tidakkah keluarga kita terberkati? Kita menjadi keluarga besar, lho.”

Gale membalas senyumku dengan simpatik. “Oh ya, Ferris, Isaac, bolehkah saya berbicara dengan James dan Evelyn? Ada beberapa hal yang kalian tidak perlu tahu ... Jadi ....”

Fez melengos sambil bangkit berdiri. “Ayo, Ike. Kuantar kau keliling rumah.”

Kuikuti Fez, walaupun dalam hati aku merasa penasaran apa yang hendak dibicarakan oleh orang tua kami.

Fez mengantarku berkeliling rumahnya. Rumah yang nyaman dan bagus, syukurlah Fez dibesarkan di keluarga yang mapan, dan rendah hati seperti Gale dan Phedra. Seandainya saja ... dulu Fez diadopsi keluarga yang kurang harmonis, entah seperti apa nasibmu dulu.

Kupandangi Fez yang sedari tadi tidak banyak bicara. Ekspresi wajah yang datar, sungguh aku ingin tahu apa yang ada di benaknya. Coba kuajak bicara dia. “Kau tidak terlihat kaget begitu dad dan mum bilang kau adalah anak mereka.”

“Kata siapa? Aku kaget.”

“Bukan, maksudku, apa kau sudah tahu sebelumnya bahwa kau bukan anak kandung orang tuamu yang sekarang, begitu? Karena kalau kau belum tahu, kurasa kau pasti bakal lebih shock lagi .... Cuma pendapatku aja sih.”

Fez terdiam sejenak. “Aku memang sudah tahu kalau aku bukanlah anak kandung Rutherford. Sudah lama kutahu.”

“Jadi ....”

“Dulu, waktu masih kelas 8. Aku penasaran setengah mati kenapa golongan darahku beda dari Gale dan Phedra. Kutanyakan hal itu berkali-kali pada mereka, dan akhirnya ya seperti yang bisa kau tebak. Mereka akhirnya dengan berat hati memberitahuku kalau aku sebenarnya anak adopsi. Siapa orang tua kandungku, di mana mereka, seperti apa mereka, masih hidup atau tidak, tidak kupikirkan lagi karena toh aku merasa sangat berkecukupan dengan kasih sayang Gale dan Phedra.”

Walaupun aku merasa miris padamu Fez, setidaknya aku bersyukur karena orang tua angkatmu sangat baik padamu.

“Kau sendiri, Ike? Sudah lama tahu, kalau kau punya kembaran?”

Aku tertawa sumbang. “Aku malah baru tahu semalam. Baru semalam James dan Evelyn memberitahuku soal itu. Jadi kau tidak usah heran kenapa tadi siang aku bersikap dingin pada mereka. Kau bayangkan saja, gila ya! Sudah berapa puluh tahun, kenapa baru sekarang mereka mengakui hal itu padaku! Kenapa tidak dari dulu mereka menemukanmu, Fez! Aku bukan main terkejut begitu tahu.”

“Yah, mungkin berat menceritakannya. Tidak seberat waktu melepasku.” Fez tersenyum masam.

“Kau pasti sakit hati.”

Fez tertawa. “Aku cuma belum terbiasa. Plus masih shock juga. Semula kupikir kemiripan kita tuh cuma kebetulan belaka, Ike. Mana pernah kepikiran kalau kau ternyata saudaraku. Saudara kembar lagi.”

“Aku juga kaget, Fez. Tapi aku senang mengetahui kau ternyata kakakku.”

“Kau tanya alasan kenapa mereka tidak memberitahumu sejak dulu kalau kau punya kembaran?”

Kutatap Fez, lalu aku menggeleng. “Kuyakin bukan jawaban yang masuk akal. Seperti alasan mereka melepasmu .... Tidak masuk akal.”

Fez menghela napas. “Yah, seandainya aku tidak dilepas, aku mungkin tidak akan bertemu dengan Gale dan Phedra. Mereka orang tua yang baik. Mereka adopsi aku karena katanya, aku mirip dengan anak mereka yang sudah lama meninggal. Jadi mereka memberiku nama sama seperti anak mereka itu. Ferris.”

“Oh, jadi mereka punya anak kandung?”

“Ya. Mati muda karena kecelakaan, umurnya baru 24 tahun.”

“Kasihan. Semoga dia beristirahat dalam damai.”

“Pasca meninggalnya anak mereka, mereka pengen punya anak lagi, tapi sayangnya mum Phedra sudah divonis tidak bisa lagi punya anak, karena dulu pernah keguguran. Jadi ... mereka memutuskan mengasuh anak, dan akulah anak yang beruntung itu.”

“Lalu setelah kau bertemu denganku, dad dan mum, apa rencanamu?”

Fez mengangkat bahu. “Yang sudah pasti sih, aku akan membuatmu semakin tertinggal jauh di belakang, dan makan asapku,” katanya sambil menyeringai lebar.

Aku tergelak, kutinju bahunya. “Haha, coba saja kalau bisa!”

“Bisalah! Paling baru berapa putaran mobilmu juga meleduk. Seperti biasa.”

“Oke, kau bisa tindas aku selama aku masih di Purvance. Tapi ....” Aku menyeringai. “Tapi tidak untuk tahun depan. Tolong rahasiakan, oke, aku sudah teken kontrak dengan Glauber mulai tahun depan.”

Mata Fez terbelalak. Dia menatapku dengan pandangan tidak percaya. “Kau direkrut Glauber?”

“Yap.”

“Maksudmu, kau jadi third driver?”

“Oh bukan, aku mengisi posisi setelah Fabio Ortolani, apa kau sangka aku masih harus jadi third driver? Kau kan tahu sendiri tahun ini tahun terakhir untuk Alvarez.”

“Ehm. Oke. Well. Congrats. Aku baru dengar soal ini. Hari yang penuh kejutan.”

Aku tersenyum. "Ini peluang terbaik untukku. Aku tahu kemampuanku, dan kurasa aku pantas mendapatkannya. Kau bergabung dengan tim sekelas Forrier, sementara aku Glauber. Dua tim yang sama-sama kuat! Dan kuharap kita bisa bersaing secara sehat. Bukankah menyenangkan jika kita bisa berdiri di podium bersama-sama, Fez?"

"Ya, ya tentu saja menyenangkan," sahut Fez. "Asalkan aku selalu di podium 1, sementara kau, cukup podium 3 saja," katanya lagi seraya menyeringai lebar.

"Hahahahaha! Kau ini! Kita lihat nanti!" balasku.

 

Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.