TLC (17-20) | INA
17 – Iri
Fez
menarik napas lega saat mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Akhirnya dia bisa
sendirian kali ini. Seharian menghabiskan waktu bersama dengan ketiga orang itu
benar-benar menguras energinya. Yang sangat mengganggu pikirannya adalah
kenyataan bahwa Isaac telah direkrut oleh Glauber, tim mobil saingan terberat
Forrier. Tentu saja dia terganggu akan hal itu. Selama ini Fez kerap memandang
enteng Isaac di lintasan balap, karena dia tahu, tim Llinos Purvance bukanlah
saingan yang patut diperhitungkan. Namun meskipun begitu, Fez sepertinya juga
sudah menyadari kemampuan balap Isaac yang mungkin saja setara dengannya. Kini,
dengan kondisi Isaac akan membalap bersama Glauber mulai tahun depan, bisa
diterka Isaac akan segera menjadi pembalap papan atas yang tidak bisa Fez
anggap enteng.
Sialan,
kenapa Glauber bisa-bisanya tertarik padanya??! Apa Glauber sudah hilang akal
sehatnya?! rutuk Fez dalam hati. Dia meninju dinding di sebelahnya
dengan tangan terkepal. Brengsek! Dia itu beruntung sekali rupanya, ya?!
rutuknya lagi penuh kesal dan amarah.
Fez
kini benar-benar dipenuhi oleh amarah. Amarah karena mengetahui karir Isaac
yang tentunya akan lebih cerah setelah direkrut oleh tim mobil paling bergengsi
di dunia, marah karena rasa irinya pada Isaac yang menurutnya sangat beruntung
karena dilirik oleh tim mobil sekelas Glauber, juga marah karena Isaac tidak
pernah merasakan menjadi dirinya, tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya
mengetahui kenyataan bahwa dirinya pernah ‘dibuang’ oleh orang tua kandung di
panti asuhan!
Suara
hatinya menegur dengan halus, Apa kau tidak terlalu membesar-besarkan hal
ini? Persaingan itu hal yang biasa, dan kenapa kau jadi orang yang sirikan
seperti itu? Isaac itu saudaramu, saudara kembarmu, malah! Apa tidak ada
sedikit rasa rindu karena selama ini kau tidak pernah bertemu dengan mereka?
Dan
Fez terdiam, memikirkan bisikan yang halus itu. Apakah aku terlalu
berlebihan? ujarnya dalam hati.
***
“Hee
... kusangka kau ditelan bumi, Bro. Kemana saja?” sapa Royce lewat telepon,
ketika ditelepon Fez sore itu.
“Maaf
aku tidak segera memberi kabar, padahal sebelumnya aku sudah berjanji akan
segera mengabarimu, setelah bertemu orang tuanya Isaac. Kurasa otakku sedang
kacau. Aku bahkan tidak ingat ini hari apa."
“Ini
hari Minggu, Dude. Kurasa kau terlalu banyak meracuni otakmu dengan pornografi,
jadi kau linglung begitu." Royce terbahak.
"Haha.
Ya mungkin juga, salah satu faktor."
"Tumben,
kau lagi waras?"
“Tidak.
Kurasa aku malah semakin gila. Oh ya. Sekali lagi maaf Royce, aku bahkan tidak
sempat menonton pertandinganmu kemarin. Jadi bagaimana hasilnya?”
Royce
tersenyum. “Yea ... well ....”
“Dari
suaramu, pasti hasil kemarin bagus! Ya kan? Congrats, Bro! Sudah kuduga kau
pasti menang, Berapa-berapa skornya?”
“Hhm,
2-0.”
“Cool!
Brandt bener-bener solid! Invincible! Kalian lolos ke final Liga Champions
sekarang, aku benar-benar yakin Brandt bisa menang nanti di final!”
“Tim
terbaiklah yang akan menang nanti, tapi kuamini kata-katamu tadi. Jadi,
bagaimana?”
“Ha?”
“Ada
kabar apa darimu?”
“Oh.
Sebuah kejutan besar untukku.”
“Maksudmu?”
“Kejutan
karena ... akhirnya aku bertemu dengan orang-orang yang telah membuatku ada di
dunia ini.”
“Maksudmu
....”
“Hm
... yah, aku dan mereka rupanya masih berjodoh.”
“Jadi
... Isaac itu, benar dia saudaramu?”
Fez
tersenyum hambar. “Adik kembar, tepatnya. Misteri kemiripan wajahku dan Isaac
terjawab juga. Rupanya dia adik kembarku sendiri."
Royce
diam tidak menjawab.
"Selama
ini kupikir ulang tahunku setiap Oktober. Begitu aku bertemu dengan orang tua
kandungku, jadi jelas semuanya. Haha." Fez tertawa sumbang. "Aku
lahir tahun 1993, tanggal 14 November. Berarti kita cuma beda beberapa bulan
Royce, jadi kau jangan bersikap sok tua lagi padaku.”
“Oh,
Christ. Fez, bagaimana ceritanya? Kenapa kau bisa terpisah dari orang tua
kandungmu sendiri??”
Fez
terdiam. “Huh, cerita yang memalukan! Kuceritakan nanti saja, ya. Tidak nyaman
bercerita lewat telepon seperti ini.”
“Oke.
Kuharap kau tabah, Bro.”
***
Mei
2017.
Sirkuit
Indianarolls, Amerida. Satu setengah jam sebelum Grand Prix seri keenam
dimulai.
Fez
yang pada sesi kualifikasi hari sebelumnya menempati pole position, kini sudah
berada motorhome, melakukan technical briefing dengan tim. Dia yang biasanya
selalu berambisi dan bersemangat sebelum race, kini menjadi lebih pendiam dan
memasang wajah suntuk. Teman-teman timnya tidak ada satu pun yang mengetahui
alasan perubahan sikap Fez yang tidak biasanya itu. Namun mereka percaya, Fez
adalah seorang pembalap profesional yang tidak akan membiarkan perubahan
moodnya dan kehidupan pribadinya turut mempengaruhi penampilan dan kualitasnya
dalam race tingkat dunia kali itu.
Tidak
ada yang tahu, bahwa saat itu sebenarnya Fez terus saja teringat mengenai Isaac
yang sudah menerima dan teken kontrak dengan Glauber mulai musim 2018
mendatang. Betapa ceria Isaac saat menceritakan hal itu, dia berharap bisa
bersaing dengan sehat dengan saudaranya sendiri. Itu menyenangkan, menurutnya.
Bahkan kalau bisa, mereka selalu naik podium bersama-sama. Dan Fez
menanggapinya dengan senyum dan antusiasme yang dibuat-buat, sekedar untuk
menyenangkan hati Isaac. Tidak ada yang tahu betapa hal ini sangat mengganggu
pikiran Fez.
***
Dan
mereka pun bertemu ketika parade pembalap dimulai. Isaac mendekati Fez dan
melempar senyum. "Hai, Fez," sapanya.
Fez
balas tersenyum, dengan berbagai macam emosi yang bercampur aduk dengan
perasaan iri. "Hei."
"Sudah
siap? Hari ini cerah, tidak ada kemungkinan akan turun hujan. Dan kau bisa
mengawali race hari ini dari posisi pole. Jangan sia-siakan kemenangan yang
sudah di depan mata," ujar Isaac.
Fez
tersenyum tipis. "Pasti."
"Kenapa
kau, tumben tidak semangat seperti itu?"
"Kata
siapa tidak semangat, mungkin perasaanmu saja. Oh ya, berapa tahun kau
dikontrak Glauber?"
"Tiga
tahun."
"Well,
congrats, then. Kita bakal jadi rival berat, rupanya," ujar Fez seraya
memaksakan diri tersenyum lebar, berupaya terlihat antusias dan positif.
Isaac
membalas senyum Fez. "Thanks."
"Tapi
mana gaungnya? Biasanya berita seperti ini langsung menjadi berita besar. Pers
belum tahu?"
Isaac
menggeleng. "Pers belum waktunya tahu. Nanti. Bahkan teman-teman pembalap
yang lain juga belum tahu. Baru kau saja yang tahu."
Fez
mengerutkan kening heran, namun memilih diam tak berkomentar.
***
Isaac
tengah menaiki tangga di motorhome seusai parade pembalap, hendak
melakukan pertemuan terakhir dengan tim dan para mekanik sebelum race dimulai.
Namun ketika dia tiba di lantai dua, dia melihat seorang gadis berjalan
sempoyongan dan terhuyung hampir jatuh, tidak jauh darinya. Refleks dia
merentangkan tangan dan menahan tubuh gadis itu sebelum sempat ambruk ke
lantai, "Nona!" serunya. "Nona, Anda tidak apa-apa?"
tanyanya concern seraya menegakkan tubuh gadis itu.
Gadis
itu tersenyum. "Tidak apa-apa, kok. Cuma sedikit pusing," jawabnya.
Gadis itu adalah seorang gadis cantik berusia sekitar 15 tahun yang tadi sempat
bertemu dan berfoto dengan Isaac ketika Isaac melakukan kunjungan paddock club.
Nama gadis itu Camila Castellano. Gadis muda yang sangat menawan hati. Berparas
begitu cantik dan berambut hitam legam, membuat siapa pun yang memandangnya tak
akan mampu melepaskan pandangan daripadanya. Begitu pula Isaac, yang terpesona
akan kecantikan gadis remaja yang saat ini berada dalam dekapannya itu.
Dan
Isaac pun teringat bahwa dia pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya, yakni
pada saat dia melakukan kunjungan paddock club siang tadi. "Lho, kamu kan
yang tadi di paddock club? Kamu tidak apa-apa? Tentu kamu pusing karena
temperatur di sini. Ayo, lebih baik kamu istirahat dulu," tawarnya ramah.
Camila
tersenyum. "Trims ya Ike, kamu sudah menolong dan mengkhawatirkan aku.
Tapi aku tidak apa-apa, kok. Setelah melihat kamu, pusing aku hilang ...,"
ujarnya seraya menatap mata cokelat Isaac.
Isaac
terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Siapa namamu tadi?"
"Camila.
Camila Castellano."
"Camila,
nama yang manis," puji Isaac.
"Thanks."
Camila tersenyum manis.
"Kamu
sendirian, di sini? Mana temanmu yang tadi?"
"Tidak
usah pikirkan dia." Camila memandangi Isaac dengan pandangan penuh pesona.
"Demi Tuhan ...," ujarnya.
"Lho,
ada apa?"
"Kamu
benar-benar makhluk Tuhan yang tercipta paling sempurna, Ike! Kamu tahu berapa
banyak cewek-cewek di luar sana yang memuja kamu, terpesona akan kamu?"
Isaac
tergelak. Tawanya begitu renyah. "Kamu naif, tidak ada manusia yang
sempurna!"
"Aku
tak peduli. Buatku, kamu sempurna. Aku tergila-gila sama kamu. Beneran! Rela
deh diapain aja sama idola setampan kamu ...."
Sejenak
Isaac terpukau menyadari keberanian gadis remaja itu. "Camila, Camila!
Dengar, Sayang, kamu masih terlalu muda. Jalan hidupmu masih panjang, banyak
hal yang bisa kamu lakukan ketimbang tergila-gila dengan orang yang tidak
pantas untuk kamu."
Camila
mengangkat alis. "Kenapa tidak pantas! Dan kenapa mempermasalahkan
umur?"
"Karena
jalan hidupmu masih panjang, dan, aku yakin sekali, di luar sana ada seseorang
yang jauh lebih pantas untuk melindungi kamu ketimbang orang seperti aku. Kamu
sangat cantik, Cami. Dan hanya pria yang berkualitas terbaik yang pantas
memiliki kamu," ujar Isaac seraya mengusap lembut pipi Camila.
"Bukankah
pria berkualitas terbaik itu ada di hadapanku, sekarang?"
Isaac
tersenyum. "Sayang, kamu hanya terpesona akan keindahan fisik semata. Yang
paling banyak berperan dalam suatu hubungan tidak lain adalah kasih sayang yang
murni, yang tidak melihat fisik semata."
"Kupikir
itu cuma teori belaka. Dalam kehidupan nyata, cowok-cowok hanya melihat fisik!
Mereka tidur dengan cewek-cewek yang mereka anggap menarik, lalu setelah itu
baru melakukan penjajakan! Kalau cocok, terus ... kalau tidak cocok, mereka
pergi begitu saja. Apalagi bagi yang sudah dewasa, selingkuh, one night stand
atau semacamnya bisa terjadi karena manusia zaman sekarang ini hanya melihat
fisik, kan?"
Isaac
terdiam memandangi Camila. "Argumen yang hebat."
"Benar,
kan!"
"Tapi
jika aku adalah salah seorang dari tipe cowok semacam itu, kamu tidak perlu
bersusah payah berdebat denganku di sini. Cami, aku menghormati wanita, aku
menghormati kaum kamu dan aku menghormati kamu juga. Aku tidak mau menyakiti
dan menodai kamu dengan hubungan yang hanya didasarkan pada ketertarikan
seksual ...." Isaac tampak terkejut mendengar perkataannya sendiri.
Wajahnya agak tersipu, lalu tersenyum. “Well, aku jadi malu sendiri kenapa
membicarakan hal yang sensitif."
"Apa
aku tak cukup menarik untuk kamu, ya?"
"Cami,
sudah kukatakan, kamu cantik dan menarik. Tapi bukan aku yang pantas memiliki
kamu."
"Seharusnya
kamu tidak mengatakan hal itu. Bukankah kita tidak pernah tahu siapa jodoh
kita, sampai kita menemukannya? Siapa tahu?"
Isaac
menjawab Camila dengan secercah senyum. "Jodoh yang diperuntukkan bagimu
bukan aku, Cami. Aku tidak berhak melakukan itu."
Camila
mulai kehilangan kata-kata untuk merayu Isaac. "Isaac ...."
"Hey,
ayolah! Saat ini aku sudah ditunggu kru dan tim mekanik untuk meeting, agar
performa kami lebih optimal pada saat race nanti. Sebagai pendukungku, kamu
tidak ingin aku mendapat hasil buruk, kan?" tegur Isaac.
Camila
merengut, merasa kesal dan gemas. "Oke, oke! Aku tidak akan ganggu kamu
lagi. Susah sekali ya, merayu kamu!" ujarnya. Ia terdiam sejenak seraya
memandangi Isaac. "Kamu sangat menggemaskan," katanya lagi seraya
berjinjit dan mengecup kedua pipi Isaac dengan gemas.
Sementara
yang dikecup terdiam tidak menyangka, tapi juga tidak menolak. Dia tersenyum
pada Camila. "Aku tidak akan pernah lupa dengan fans yang 'bandel' seperti
kamu. Gadis yang cerdas, nekat, dan pemberani,” ujarnya.
Camila
menyeringai.
"Semoga
kamu tidak pernah bosan mendukung aku. Bye, Cami," pamit Isaac.
"Bye
bye! Sukses ya, Ike!"
Dan
Isaac meninggalkan Camila sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum.
Tidak bisa disangkalnya dia menikmati pertemuan kocaknya dengan fans yang
'bandel' seperti Camila itu, dan tidak bisa disangkalnya pula dia menikmati
kecupan gratis yang diterimanya. Diam-diam dia berharap kecupan itu merupakan
pertanda bagus yang membuatnya bisa meraup poin dalam race yang akan dimulai
sebentar lagi.
18 – Keberuntungan
Dalam Kesialan
Dua
menit menjelang pertandingan dimulai. Semua pembalap sudah berada di dalam
kokpit mobil masing-masing, bersiap menghadapi race keenam musim itu. Fez yang
sedari tadi terdiam dan melamun, masih teringat akan kejadian yang membuatnya
panas dan iri hati pada adiknya sendiri. Fez mengakui diri bahwa dia tidak bisa
menerima kenyataan mengetahui Isaac akan segera bergabung dengan tim Glauber,
tim Formula Prime yang paling kuat dan solid, musuh terbesar tim GT Forrier.
Dia bagai terbangun dari tidur ketika menyadari race akan segera dimulai, dan
segera memusatkan pikiran pada race yang akan segera dijalaninya. Dia bersiap
dan melajukan mobilnya perlahan ketika lampu merah sudah padam, sementara
mobil-mobil lainnya mengikuti di belakangnya. Parade lap, mereka mengitari
sirkuit terlebih dulu sebagai pemanasan sebelum race yang sebenarnya dimulai.
Selama
pemanasan, Fez berupaya melupakan segala kemarahan-kemarahan dan
masalah-masalah yang ditanggungnya barang sejenak, agar dirinya dapat
berkonsentrasi penuh pada race. Dia tidak ingin dan tidak akan pernah menodai
penampilannya yang cemerlang di dunia balap jet darat itu dengan adanya
masalah-masalah pribadi yang terus mengganggunya.
Fez
tiba di starting grid pertama kali. Mobil-mobil di belakangnya pun tiba dan
mereka segera menempati posisi start masing-masing. Fez memejamkan mata,
menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Dilakukannya itu
berulang kali hingga dia merasa lebih tenang dan siap untuk berkonsentrasi
penuh pada race dan mengerahkan segala daya upayanya untuk meraih hasil
terbaik.
Lampu
merah padam, dan race pun dimulai. Fez segera melajukan mobilnya dengan
kecepatan penuh, dia tidak membiarkan siapa pun merebut posisi pertamanya pada
race kali itu. Dan dia berhasil. Tapi tidak hanya sampai di situ saja. Dia
harus bisa mempertahankan posisi terdepannya, hingga akhir race. Maka dia
melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal, berusaha membuat jarak yang jauh
dengan ‘penguntit-penguntit’nya di belakang, agar mereka kesulitan mendekatinya
dan bahkan mendahuluinya.
Saingan
terberatnya, Alvarez, berada tepat di belakangnya sejak awal lomba. Namun
hingga saat itu Alvarez belum berhasil menyalip Fez, pembalap muda berbakat
yang menjadi saingan terberatnya sejak tahun lalu.
Hingga
pertengahan lomba, Fez tetap terdepan. Dia sudah masuk pit sekali, dan dia
tetap bisa mempertahankan posisinya. Menurutnya hal itu sangat bagus, mengingat
Alvarez terus berada di belakangnya dan sebetulnya mempunyai cukup peluang
untuk merebut posisi terdepan pada saat Fez masuk pit.
Fez
merasa, sepertinya pada race kali itu dewi fortuna kembali berpihak padanya.
Dia merasa senang dan bangga, walaupun sebenarnya dia belum berhak untuk merasa
bangga, karena race belum selesai.
Dan
benar saja. Pada lap ke-32, tiba-tiba mesin mobil Fez meleduk dan mengeluarkan
asap tebal. Praktis Fez tidak bisa lagi melanjutkan lomba. Dengan perasaan
kacau Fez keluar dari kokpit dan berjalan menuju paddock, tempat timnya
menunggu.
Dia
marah dan kesal, tentu saja. Dia sudah berharap terlalu banyak pada dewi
fortuna yang dikiranya akan menaunginya hingga race usai. Namun pada
kenyataannya dewi fortuna meninggalkannya dan membiarkan mesin mobilnya
meleduk!
Fez
melihat mobil Isaac melewatinya, dan keadaan hatinya menjadi semakin buruk. Dia
teringat bahwa mulai musim depan, Isaac akan menjadi pembalap utama Glauber,
menggantikan posisi Alvarez saingan terberatnya kini. Dia tidak mau menerima
kenyataan bahwa saudaranya sendiri memiliki keberuntungan yang lebih besar
dalam karir.
Dan
dia semakin merasa kesal dan marah. Fez melepas helm serta penutup kepalanya,
dan tampaklah seraut wajah yang ditekuk penuh amarah dan kekesalan yang
menjadi-jadi. Teman-teman timnya menyambut kedatangannya di paddock namun Fez
tidak mengacuhkan mereka, dia segera berlalu dan menyelinap ke ruang ganti. Di
sana dia membanting helmnya keras-keras dan melontarkan segala macam sumpah
serapah dan kata-kata kotor dari mulutnya.
Setelah
puas menyumpahserapahi segala hal yang membuatnya kesal, dia merasa sedikit
lebih lega. Terasa sedikit penyesalan di hatinya karena terlalu terbawa emosi,
yang dia tahu dia tidak boleh melakukannya.
Fez
berdiam diri beberapa jenak guna menetralkan emosinya, lalu dia keluar menuju
pit wall, hendak mengikuti jalannya race secara lebih intensif bersama sang bos
dan para perancang strategi tim. Saat ini, Alvarez turun posisi ke posisi dua
setelah sempat melakukan sedikit kesalahan di tikungan pertama, dan rekan setim
Fez, Shawn Renan mempergunakan kesempatan emas itu untuk menyalip Alvarez dan
hingga kini Renan memimpin lomba. Setelah Fez retire, konsentrasi tertuju penuh
pada Renan dan semua anggota tim ingin mengusahakan yang terbaik agar Renan
dapat mempertahankan posisinya hingga akhir race.
Setelah
memberikan informasi tentang apa yang terjadi pada mobilnya tadi pada sang bos,
Gerhard Brautovich, dan memberikan sepatah dua patah kata pada pers yang
mencegatnya di motorhome, Fez memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di
sekitar motorhome. Berusaha menghibur dirinya sendiri dengan melepaskan diri
sejenak dari pekerjaan yang ada di tangannya. Dia mengurungkan niat untuk
mengikuti jalannya race di pit wall; bukannya dia tidak peduli, dia percaya
pada kemampuan Renan dan dia percaya Renan akan dapat mempertahankan posisinya
hingga akhir race. Dia hanya sedang merasa sedikit jenuh dan suntuk
memerhatikan mobil-mobil yang berseliweran di depan hidungnya sementara
seharusnya dia juga masih berkutat dalam pertarungan hari itu, jika saja mesin
mobilnya tidak meleduk!
Maka
dia berjalan-jalan santai sejenak, memerhatikan orang-orang yang ada di sekitar
paddock club timnya. Seketika dia melihat seorang gadis cantik yang tengah
memerhatikan dirinya. Seorang gadis berkulit kemerahan dan berambut sebahu
hitam legam.
Gadis
itu, Camila, memang tengah memerhatikan Fez. Ia tidak begitu bersemangat
menonton jalannya race karena Isaac masih terjebak di posisi kesepuluh. Merasa
bahwa jagoannya itu tidak bisa meraih hasil yang lebih bagus lagi, ia
memutuskan untuk menghilangkan kejenuhan dengan berjalan-jalan di sekitar
paddock club. Tak disangkanya ia kini melihat Ferris Rutherford, pembalap yang
berwajah sangat mirip dengan Isaac; pembalap GT Forrier yang prestasinya lebih
mentereng dibanding Isaac. Dipenuhi rasa penasaran mengapa Ferris dan Isaac
berwajah mirip, ia memerhatikan Ferris. Berusaha mencari-cari letak perbedaan
fisik yang ada pada diri Ferris dan pada Isaac yang ia puja. Tidak menemukan
yang dicarinya, ia hanya menemukan kenyataan bahwa Ferris dan Isaac benar-benar
mirip, bagaikan sepasang kembar identik. Hanya tinggi badan, serta facial hair
saja yang membedakan. Dan Camila tersenyum.
Fez
yang tampaknya terpesona akan kecantikan gadis remaja itu, mendekati Camila dan
menyapanya. "Hai," sapanya ramah.
Camila
tersenyum manis. "Hai. Kamu pasti Ferris Rutherford, senang berkenalan
denganmu. Namaku Camila Castellano," katanya seraya mengulurkan tangan.
Fez
menyambut uluran tangan Camila dengan hangat. "Camila? Nama yang manis,
senang berkenalan denganmu."
"Wah!
Senangnya hari ini, aku bertemu dua pembalap ganteng yang sama-sama memuji
namaku," kata Camila riang.
Fez
tersenyum. "Oh ya?"
"Ya!
Tadi Isaac juga memuji namaku."
Fez
mengangkat alis. "Isaac? Well, kurasa kamu salah satu pengagum Isaac,
ya?"
Camila
tertawa ringan. "Tentu! Siapa sih yang tidak terpesona pada Isaac
...?"
Fez
tersenyum tipis. "Aku tidak. Karena aku laki-laki," katanya, disambut
gelak Camila.
"Oh
iya ya!"
"By
the way, kenapa kamu ada di sini? Tidak menonton?"
"Ah,
aku bosan. Dan panas, pula. Lebih baik jalan-jalan ke sini. Kamu sendiri,
kenapa ada di sini?"
Fez
tersenyum. "Sedang menenangkan pikiran, mendapat kejadian mesin meleduk
setelah memimpin 30 lap bukan hal yang menyenangkan, bukan?"
"I
see," sahut Camila. Wajahnya berubah murung seakan turut merasakan
kekecewaan Fez.
"Keberatan,
jika aku memintamu menemaniku sebentar, Camila?" tawar Fez.
Camila
tersenyum. "Tentu tidak! Dengan senang hati. Kapan lagi ada kesempatan
bisa menemani pembalap ganteng seperti kamu ...?"
"Kamu
gadis yang ekspresif, aku senang dengan cewek seperti kamu."
"Thank
you!"
"Sopankah
kalau aku menanyakan umurmu? Kamu sepertinya masih muda sekali."
"15
tahun," jawab Camila cepat. "Memang kenapa?"
Fez
mengangguk. "Oh, benar dugaanku. Kamu masih remaja. Masih muda, dan sangat
cantik."
Camila
tersipu. "Thanks ...."
"Dan
kamu tahu? Aku terpesona sama kamu. Sungguh, keelokan parasmu membuatku tidak
bisa memalingkan wajah daripadamu. Apa kamu ini model, atau semacamnya?"
Camila
tertawa. "Aku hanya gadis biasa. Aku bukan model atau aktris."
"Sayang
sekali, padahal kupikir kamu cocok menjadi model."
"Akh,
aku tidak punya bakat melenggak lenggok di atas catwalk atau berakting. Aku
tidak suka seperti itu."
Fez
mengangguk. "I see. Apa kamu sendirian, ke sini?"
"Tidak.
Aku bersama sepupuku, Jessica. Ia yang membuat akses masuk paddock club dan
motorhome Purvance jadi sangat mudah."
"Oh
ya?"
"Ya!
Pemilik Purvance merupakan salah satu anak buah ayah Jessica. Jadi kami bebas
keluar masuk motorhome Purvance."
Fez
terdiam sejenak. "I got it. Sepertinya pamanmu itu orang yang berkuasa,
ya. Orang penting di Amerida. Apa kamu berasal dari New Yord?"
Camila
tersenyum. "Ya. Memang. Dan memang pamanku orang yang berkuasa, tapi itu
tidak penting untuk dibanggakanlah, walaupun berkatnya aku jadi bisa bebas
keluar masuk tempat yang tidak semua orang bisa kunjungi. Aku lebih bangga pada
ayahku sendiri."
Fez
balas tersenyum. "Ah, aku semakin yakin, siapa gadis manis yang ada di
hadapanku sekarang ini."
"He?
Memang kamu tahu siapa ayahku?"
"Kenapa
mesti tidak tahu, Cami? Aku tertarik dengan kasus ayah dan pamanmu itu. Dua
orang Castellano yang saling mencari-cari kesalahan agar bisa menjatuhkan satu
dan yang lainnya. Aku benar, kan?"
Camila
tersenyum. "Tepat."
"Lalu?
Mana sepupumu itu?"
"Dia
ada di dalam. Asyik menonton sendirian. Biar sajalah, aku sedang kesal
dengannya. Dia terlalu percaya diri dan selalu sesumbar bahwa Isaac akan jadi
miliknya. Padahal kenal sama Isaac saja tidak."
"Kalian
sama-sama mengidolakan Isaac Renauld? Kenapa tidak mendukung pembalap lainnya,
seperti aku, begitu? Apa prestasiku kurang menarik buat kalian para
gadis?"
Camila
menggeleng. "Bukan begitu. Kamu hebat, Fez. Kamu sebenarnya lebih jago
ketimbang Isaac, aku tahu itu, mobilmu juga excellent. Dan kalian berdua mirip,
tapi ...."
"Tapi?"
"Tapi
... bukankah kamu itu senang bermain cewek ya?"
Fez
terbahak. "Cami, Cami! Kamu terlalu banyak membaca infotainment atau
semacamnya. Aku tidak seperti yang mereka tulis, Sayang. Mereka terlalu jauh
berkreasi dengan pikirannya hingga bisa menciptakan berita-berita miring
tentang aku."
"Jadi,
semua itu bohong?"
Fez
menatap Camila tepat di mata. "Aku pria baik-baik yang simpatik. Aku
selalu memperlakukan wanita dengan penuh cinta. Aku tidak pernah dengan sengaja
menyakiti hati mereka. Kamu, lebih percaya aku, atau lebih percaya pada
kata-kata pers?" tanyanya seraya mengusap pipi Camila dengan lembut.
Dan,
seperti yang memang menjadi kelebihan Fez dalam memesona banyak wanita, Camila
terbius oleh kata-kata manis Fez dan tatapan matanya ....
19 – Man
of The Match
"Kau
punya fans yang sangat manis ya, Ike," kata Fez pada Isaac via telepon,
malam itu.
"He?"
"Camila.
Katanya tadi siang kalian ketemu di paddock club?"
"Camila?
Tahu dari mana kau, kau berkenalan dengannya? Kapan?"
"Ya
tadi siang lah. Kau pikir apa yang kulakukan pasca dnf ( *dnf = did not
finished* )? Stuck, tidak melakukan apa-apa di motorhome? Untuk apa, lebih baik
aku jalan-jalan. Lalu aku bertemu dengan yang namanya Camila itu. Manis,
ya."
Terdengar
gelak Isaac. "Dasar kau, cepat sekali reaksimu kalau melihat ada cewek
manis menganggur sendirian. Terus? Kau sudah menjadikan dia sebagai
pendukungmu, bukan pendukungku lagi?"
"Wah,
kurang tahu ya, sekarang dia lebih mendukungku atau mendukungmu. Tapi yang
jelas, dia itu cewek yang sangat manis, masih muda dan masih polos. Belum
pernah tersentuh siapa pun."
Isaac
terkejut. "Heh, kau tidak berbuat macam-macam dengan cewek itu, kan?"
Giliran
Fez yang tergelak. "Kenapa aku mesti tidak berbuat yang macam-macam, kalau
dia juga mau denganku?"
"Fez!
Bangsat kau, dia masih anak kecil! Masih 15 tahun! Belum cukup umur untuk kau
permainkan!"
"Ah,
15 tahun sudah cukup dewasa. Kenapa kau, marah, tahu fansmu kukerjai?"
"Ya
bukan begitu. Tapi Camila kan masih abg, apa yang merasukimu, sampai kau tega
seperti itu? Kau perawani dia??"
Fez
tertawa. "Inti dari semua itu kan yang penting 'mau sama mau', tidak ada
hubungannya dengan tega atau tidak."
"Damn.
Bukan main bangsatnya kau. Sadar sedikitlah, kelakuanmu itu sangat
negatif."
"Hm,
apa pun katamu. Kau tidak tahu sesuntuk apa aku tadi. Bahkan sampai sekarang
pun kalau ingat kejadian tadi siang aku masih suntuk. Apa salahnya sih kalau
aku mencari kesenangan pribadi?"
Isaac
menggeleng-gelengkan kepala, Fez sepertinya tidak akan pernah sadar dari
kelakuan negatifnya, pikirnya. Bahkan anak gadis yang masih perawan pun, yang
tidak dia kenal, disambar juga!
***
Juni
2017 Madrige, Slocean.
Sudah
hampir sebulan lebih Royce dan rekan-rekan tim nasional Eastland berada di
Slocean, mengikuti serangkaian pertandingan Piala Euro 2017. Berkat kerja keras
mereka dan juga keberuntungan yang besar, tim nasional Eastland berhasil
memasuki babak semifinal. Peluang mereka untuk mempertahankan trofi Piala Euro
terbuka lebar, dan mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan
peluang tersebut.
Pagi
itu Royce sedang sarapan bersama dengan teman-teman timnas seraya membicarakan
hal-hal ringan dan sedikit bersenda gurau, melepaskan sedikit beban sebelum
memulai latihan intensif yang akan mereka jalani sebagai persiapan menghadapi
tuan rumah, Slocean, di partai semifinal mendatang.
Ponsel
Royce berdering. Royce segera menjawab, “Halo?”
“Hey,
Royce!” sapa suara di seberang. Fez.
"Hei,
Fez. Apa kabar?”
“Fine,
thanks. Congrat, Bro, sudah kuduga sejak awal, Eastland pasti bisa masuk
semifinal, dan final, tentunya! Aku menonton siaran langsung pertandinganmu
tadi malam lawan Frenchye. 1-0. Pencetak golnya lagi-lagi kau. Makin
spektakuler saja gol yang kau cetak? Kau itu memang benar-benar ‘ujung tombak’
Eastland” cerocos Fez, seakan tidak memberikan kesempatan pada Royce untuk
menyela maupun menjawab.
“Sudah?
Sekarang giliranku bicara?”
Fez
tertawa. “Sorry, aku cerewet ya?”
“Kedengarannya
kau sudah ceria sekarang? Syukur deh. Bukankah kau akhir-akhir ini suntuk
berat?”
“Ah,
ayolah, aku sedang tidak ingin mengingat persoalan-persoalanku. Hari ini aku
sedang senang karena sobatku menjadi ‘man of the match’ dalam pertandingan tadi
malam. Kau memang terlahir untuk menjadi pemain bola sejati. Pertahankan
prestasimu, Bro.”
“Thanks.
Aku sedang beruntung saja tadi malam. Di mana kau sekarang?”
“Broena.”
“Lho,
belum balik? Oh ya, bagaimana hasil race kemarin?”
“Well,
aku masih beruntung karena aku bisa meraih podium ketiga. Padahal kemarin
benar-benar penghabisan untukku. Bayangkan, aku dikenai penalti pengurangan dua
detik! Aku terpaksa start dari posisi 15! Belum lagi aku harus terus
konsentrasi penuh pada race, sementara persoalan yang harus kutanggung seakan
tidak mau lepas dari otakku!”
“Sebenarnya
persoalan apa yang memberatkanmu? Kalau kau bersedia, kau bisa mengandalkanku
untuk cerita. Daripada ditanggung sendiri, bisa berefek ke penampilanmu di
race, kan? Seperti waktu bulan lalu, FP seri ke-6. Kudengar kau marah-marah di
sirkuit. Juga waktu seri ketujuh dan kedelapan awal bulan ini.”
“Sorry,
Royce. Bukannya aku tidak percaya denganmu. Tapi ini terlalu pribadi. I can
handle it.”
“It’s
oke, I believe that you can. Hey, kau belum pernah sekali pun menonton secara
langsung pertandingan Eastland di sini, kan? Kemarin kau berjanji akan datang.”
“Man,
aku pasti datang! Tanggal 28 nanti kupastikan datang dan menonton kalian
bertanding. Kemarin-kemarin aku benar tidak bisa menonton langsung. Kau tahu,
kan, seri Formula Prime bulan Juni ini sangat padat. Oh ya, pas final juga aku
pasti datang kok. Sampai ketemu di final.”
“Hei,
Eastland kan belum tentu masuk final.”
“Pasti!
Pasti masuk final. Percaya padaku.”
“Sejak
kapan kau jadi peramal? Sudah bosan jadi pelukis?”
“Sialan.
Serius nih.”
“Bukannya
awal Juli kau ada race? Tanggal berapa? Tanggal 7 ya? Sementara partai final
dan perebutan tempat ketiga dan keempat diadakan tanggal 2 dan 3 Juli. Apa
tidak berbenturan dengan kegiatanmu?”
“Tidak.
Race tanggal 7 di Cataluna, Bro.”
“Oh,
pantas. Grand Prix Slocean, rupanya.”
“Nah,
tanggal 7 Juli nanti giliran kau yang menonton aksiku secara langsung di
sirkuit.”
Royce
tergelak. “Tenang! Kalau perlu kubawa seluruh teman-teman tim dan suporter
Eastland ke Cataluna.”
***
3
Juli, partai final Piala Euro 2017.
Eastland
tampil cemerlang pada saat semifinal beberapa hari sebelumnya melawan Slocean,
sang tuan rumah. Mereka secara mengesankan berhasil menundukkan Slocean 2-0,
dan itu membuat Eastland berhak melaju ke babak final, yang diadakan pada hari
ini, melawan finalis lainnya, Iralia.
Seperti
biasa, stadion penuh dengan para penonton dan suporter setia kesebelasan
Eastland dan Iralia. Event besar seperti Piala Euro memang selalu mengubah
stadion menjadi lautan manusia. Di salah satu tribun eksklusif, tempat Fez dan
teman-teman tim GT Forriernya sudah duduk dengan manis, menunggu pertandingan
final itu dimulai.
“Sudah
kuduga sebelumnya, Eastland pasti masuk final!!” ujar Fez berapi-api pada
teman-teman timnya.
“Hey
kau sudah berkali-kali berbicara seperti itu,” sahut Dan.
Kedua
skuad yang akan saling memperebutkan trofi Piala Euro itu pun keluar. Mereka
berdiri berjajar, dan lagu nasional kedua negara pun berkumandang di udara.
Kemudian para pemain bersalaman, dan langsung mengambil posisi masing-masing.
Royce
menyapukan pandangan, melihat berkeliling. Teman-teman setimnya tampak sudah
siap tempur sedari tadi. Kapten tim Eastland dan kapten tim lawan tampak masih
menyalami para wasit yang bertugas. Dia melihat ke arah tribun penonton
eksklusif di depannya, dan menemukan sosok sahabatnya, Fez, duduk bersama
dengan teman-temannya. Dia memicingkan mata, berusaha memastikan benarkah yang
dilihatnya itu adalah Fez.
Fez
melambai pada Royce, ketika menyadari Royce melihatnya dan teman-temannya.
Royce membalas lambaian tangan Fez dengan tersenyum lebar. Fez memberikan
semangat pada Royce dengan mengepalkan tangan erat-erat dan mengacungkannya ke
atas. Royce membalas kepalan tangan itu.
Peluit
berbunyi.
Pertandingan
pun dimulai, diiringi riuh rendah penonton yang begitu antusias. Kedua negara
itu masing-masing mempertahankan negaranya sendiri agar tidak kebobolan lebih
dulu dan saling menyerang, berusaha mencetak gol. Beberapa kesempatan baik bagi
skuad Eastland untuk mencetak gol, selalu dipatahkan oleh Iralia.
Babak
pertama berlalu tanpa gol.
Di
babak kedua, pertandingan kian memanas, kedua tim berusaha keras mencetak gol
ke gawang lawan. Namun keduanya merupakan tim yang kokoh dalam pertahanan dan
juga gencar dalam menyerang, sehingga pertandingan final kali itu merupakan
pertandingan yang apik dan sungguh menarik.
Hingga
pada menit ke-82, skor kedua tim tetap 0-0. Para penonton tak henti-hentinya
meneriakkan yel-yel pemberi semangat pada kedua tim yang sedang berlaga.
Menit
demi menit berlalu dengan cepat. Saat itu Iralia sedang gencarnya melakukan
serangan pada Eastland. Ketika serangan itu berlangsung di daerah kotak penalti
Eastland, Salah seorang pemain Eastland melakukan tackling pada salah seorang
pemain Iralia yang pada saat itu sedang membawa bola. Wasit meniup peluit dan
menunjuk titik penalti. Pendukung Iralia serentak bersorak gembira.
Seorang
pemain muda berbakat dari Iralia, yang mendapat kesempatan untuk mengeksekusi
tendangan penalti kali itu, sudah berdiri kokoh di sana, siap melakukan
tendangan penalti. Tendangan yang berkemungkinan besar dapat mengantarkan
timnya merebut trofi Piala Euro. Sementara itu, kiper Eastland, berusia sekitar
28 tahunan, yang disebut-sebut sebagai kiper termahal karena kemampuannya yang
tidak usah diragukan lagi, bersiap di mulut gawang, berusaha meningkatkan
ke-awas-annya dan kejeliannya dalam membaca arah bola.
Peluit
berbunyi. Pemain Iralia itu terdiam sesaat, sebelum kemudian mengambil
ancang-ancang dan menendang bola tepat menuju ke arah gawang. Kiper Eastland
yang sudah menduga arah bola itu sejak awal, melentingkan tubuh dan mengangkat
tangannya tinggi-tinggi, berusaha menjangkau bola..
Namun
bola itu melewatinya. Walaupun dia sudah berusaha merentangkan tangannya sejauh
yang dia bisa, bola yang hanya berjarak beberapa inchi saja darinya itu lolos
... dan membuahkan gol.
Pemain
Iralia yang berhasil mengeksekusi tendangan penalti itu berlari mengekpresikan
kesenangannya, sementara teman-temannya yang lain memeluk dan menciuminya.
Seluruh pendukung Iralia pun turut larut dalam suasana gembira tersebut.
Pertandingan
belum selesai, dan kini Eastland berusaha semaksimal mungkin untuk membalas
ketertinggalan mereka. Berkali-kali gawang Iralia terancam oleh serangan
Eastland yang kian gencar dan tajam, namun sayangnya keadaan tidak berubah.
Hingga wasit meniup peluit tanda pertandingan telah usai, skor tetap 1-0 untuk
Iralia.
Serentak
ofisial dan seluruh pemain Iralia tenggelam dalam kegembiraan. Puluhan ribu
suporter Iralia juga turut larut dalam kegembiraan menyambut kemenangan mereka.
Para
pemain bersalaman dan memberi hormat kepada para suporter dan penonton.
Penyerahan Piala Euro dilaksanakan dengan begitu meriah.
“Lagi-lagi
... runners up,” ujar Fez.
Yang
lain menyahut, “Yeah, sayang sekali. Harusnya Eastland bisa tetap
mempertahankan trofi, dan harusnya penalti itu tidak usah terjadi.”
“Apa
Royce masih bisa tersenyum, kalah dalam event besar seperti ini?” tanya Dan.
Fez
dan yang lainnya serentak memperhatikan Royce yang masih berada di lapangan.
Mereka menyaksikan sendiri wajah Royce yang seolah tanpa beban, menyalami dan
memberi selamat dengan senyum di wajah – pada para pemain Iralia. Hal yang sama
tidak mereka jumpai pada segelintir pemain Eastland, kiper Eastland dan juga
pelatih timnas Eastland.
“Well,
dia memang pemain bola sejati,” ujar Fez.
“Yeah,
setuju. Dia kesayangan publik Eastland. Aku jadi tidak sabar menunggu aksi dia
di Piala Dunia 2019 nanti.”
“Royce
cs pasti bisa menunjukkan bahwa Eastland adalah tim tuan rumah yang solid dan
tidak terkalahkan.”
20 –
Pembalap Sekaligus Pelukis Handal
Hey!
Bertemu lagi denganku, Royce Beauregard.
Sudah
hampir dua minggu ini Fez menghabiskan waktu di mansionnya, asyik melukis.
Entah angin apa yang merasukinya, karena biasanya jika jadwal sedang kosong dia
pasti pergi berlibur dengan teman-temannya, entah traveling, atau bermain di
Maldines. Dan hari ini, aku bermaksud mengunjunginya di mansion. Mansion Fez
terletak cukup jauh dari Leighryn, jauh dari keramaian kota, dan tempatnya
memang memberikan rasa nyaman, mungkin karena itu Fez betah berlama-lama
mengurung diri di dalam rumah.
Ketika
aku tiba di sana, benarlah, Fez ada di ruang lukisnya, dia bahkan sepertinya
tidak menyadari kedatanganku.
"Hei,
Fez!"
Fez
menoleh. "Hai Royce! Kok aku tidak mendengar kau datang?"
"Kau
mana mungkin sadar aku datang. Barangkali kalau ada penyusup yang masuk ke sini
kau juga tidak bakal tahu, Fez." Aku menarik kursi, lalu duduk tak jauh
darinya. "Tumben. Liburan begini tidak kemana-mana. Tidak bosan?"
“Aku
sedang ingin melukis dan membuat banyak karya. Lebih memuaskan dan membuatku
rileks.”
“Pelampiasan
beban pikiranmu, huh?”
Fez
tersenyum. “Yeah. Aku bisa gila karena stress memikirkan bagaimana cara
menyelesaikan semua persoalanku.”
“Dan
hal itu sangat berefek pada penampilanmu di Grand Prix, kan?”
“Aku
juga menyesal kenapa bisa berefek ke penampilanku. Padahal aku tidak pernah
punya niat untuk menodai penampilanku. Apalagi ... hasil empat seri kemarin
yang jauh dari lumayan, dan tidak membantu menaikkan poinku di klasemen
sementara. Semua ini gara-gara penampilan dan peruntunganku yang buruk semenjak
seri keenam, Mei lalu. Well, ini adalah masa-masa terburuk untukku. Aku tidak
tahu apakah aku masih bisa mengejar ketertinggalan poinku dari Alvarez, dan
juga dari yang lainnya. "
Fez
menarik napas, sepertinya dia belum selesai mengeluh. "Huh, padahal di
awal tahun ini rencanaku adalah membalas kekalahanku dari Alvarez di tahun
2016. Tapi pada kenyataannya sekarang? Selisih poinku dan dia semakin jauh! Dia
selalu fix di posisi pertama klasemen, sementara aku terus terlempar jauh ke
belakang. Aku tidak bisa maksimal, sementara penampilan Alvarez selalu
konsisten dan maksimal! Rupanya aku sudah menjadi seorang pecundang,” ujar Fez
datar. “Ditambah lagi, aku selalu mendapat banyak tekanan terselubung dari tim
mobilku sendiri, yang mengharap agar aku selalu memenangi tiap seri. Yang
mengharap ... ah, bukan, yang seakan memaksa agar aku mampu meraih dan
mempertahankan posisi di puncak klasemen sementara pembalap, dan juga di puncak
klasemen sementara konstruktornya. Damn, Royce. Aku tidak bisa bekerja di bawah
tekanan seperti itu, apalagi tekanan itu berasal dari dalam!”
Keningku
berkerut mendengar perkataan Fez. “Ini musim kelima kau berkecimpung di dalam
Formula Prime, Fez. Harusnya kau sudah biasa menghadapi tekanan-tekanan seperti
itu. Entah tekanan dari timmu, atau tekanan yang muncul pada saat kau tanding!
Kau masih bisa mengatasi segala macam tekanan seperti itu, kan?”
“Setiap
orang punya batas kesabaran dan batas kemampuan.”
Huh?
Fez berubah. Lama kupandangi dirinya. “Ini bukan Fez yang kukenal. Fez yang
kukenal selalu optimis! Tidak pernah menyerah dan selalu mau berusaha! Kau juga
bukan tipe orang yang cepat menyerah jika sedang berada di bawah tekanan! Itu
sebabnya kau eksis dan bertahan selama ini!”
Fez
menghela napas panjang. “Royce, dengar ....”
Aku
tidak memberinya kesempatan untuk bicara. “Look, Fez! Setelah lima tahun kau
berkutat di Formula Prime, dan belasan tahun kau habiskan di ajang gokart, F3
dan segala macam itu, kau mau menyerah, hanya demi alasan ‘setiap orang punya
batas kemampuan dan kesabaran’?!”
Fez
memandangiku tidak bersuara. “Yaa ... mungkin bisa jadi catatan buatmu, jika
Fez yang sekarang sudah tidak sama lagi dengan Fez yang dulu."
“Aku
tidak percaya dan tidak pernah menyangka kau bisa jadi seperti ini. Apa kau
rela, karirmu yang cemerlang ini rusak gara-gara beban persoalanmu yang tidak
kunjung usai? Fez, kau tahu aku sangat ingin membantumu.”
“Aku
tahu maksudmu baik, Royce. Tapi thanks, aku bisa mengatasinya sendiri.”
Aku
sahabatmu sejak lama, Fez. Rahasia apa tentangmu yang tidak kutahu, busuknya
dirimu pun aku tahu, dan sekarang kau tidak bersedia berbagi masalahmu
denganku? Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?
Fez
bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur. “Kau mau kopi panas?” tawarnya.
“Boleh.”
Aku
bangun, lalu berjalan menuju ruang tempat penyimpanan semua hasil karya Fez.
Dalam sekejap aku asyik melihat-lihat lukisan Fez semenjak sekolah hingga
sekarang ini.
“Nih.”
Fez tiba-tiba sudah berdiri di belakangku seraya menyodorkan secangkir kopi.
“Trims.
Aku boleh melihat-lihat, kan?”
Fez
tersenyum. “Bolehlah, kenapa tidak,” ujarnya ringan sambil kembali fokus pada
lukisan yang tengah digarapnya.
Sedari
tadi aku tidak berhenti berdecak kagum melihat karya-karya lukisan Fez yang
jumlahnya sudah mencapai ratusan itu. Semua lukisan yang dibuatnya, entah itu
lukisan manusia, pemandangan alam, suasana maupun benda mati, membuatku
terpesona. Detail tiap lukisan begitu mengagumkan dan membuat siapa pun yang
melihatnya terpesona dan takkan berhenti menatap. Termasuk aku, sekarang.
“Kenapa
kau tidak mengadakan pameran saja, Fez? Lukisanmu sudah sangat banyak, dan
semuanya, WOW!"
Fez
menyahut, “Apa bagusnya?”
“Ini
bagus, Dude. Keren, cool. Jarang-jarang ada pembalap ambisius yang diam-diam
jago melukis seperti kau.”
“Melukis
cuma hobi untukku.”
“Kan
lumayan kalau lukisanmu laku? Menambah tabungan,” kataku lagi. Kubuka kain
penutup pada salah satu lukisan, dan aku terpana begitu mendapati sebuah
lukisan wanita cantik sedang berdiri di atas batu karang dan terpaan ombak,
seraya menatap langit laut yang mulai beranjak senja. Wanita dalam lukisan
tersebut hanya mengenakan sehelai kain tipis, menampilkan siluet yang indah
berlatar langit senja yang mengagumkan. Wanita itu menatap langit dengan
pandangan dan sinar mata yang misterius, membuat siapa pun yang melihatnya akan
berpikir dan menerka-nerka apa yang sedang dilamunkan oleh wanita dalam lukisan
tersebut. Detail yang mengagumkan, ditambah dengan keindahan langit senja dan
deburan ombak ... Jesus Christ. Ini masterpiece.
Fez
rupanya menyadari aku terpikat pada salah satu lukisannya. “Itu kubuat tiga
tahun yang lalu. Kau tertarik? Ambil saja,” tawarnya.
“Siapa
modelnya, Fez? Aku tidak pernah liat.”
"Kau
tidak perlu tahulah.”
“Ayolah!”
“Bukan
siapa-siapa. Karanganku sendiri.”
“Tidak
percaya. Lukisan seindah ini karangan sendiri? Minimal kau memotret suasana
pantai seperti ini terlebih dahulu, baru kemudian melukisnya. Benar begitu? Apa
kau melukis langsung? Kok bisa sangat detail seperti ini? Apalagi waktu senja
hari itu kan cuma sebentar, apa kau melukis secepat itu? Kau memang sangat
berbakat.”
“Aku
tidak seartistik itulah.”
“He?
Tumben kau merendah. Ayolah Fez, katakan siapa modelnya?”
“Kubilang
karanganku sendiri.”
“Tidak
percaya.”
“Ya
sudah,” jawab Fez tak acuh sambil menyapukan kuas pada kanvasnya. “Kudengar kau
ditawari kontrak oleh klub Slochney dan klub dari Slocean, La Varente?”
Aku
tersenyum. Dia sudah dengar juga berita itu. “Yeah.”
“Dengan
harga seberapa tinggi mereka berani menawarimu kontrak?”
Aku
menarik napas. Rasanya tidak nyaman membicarakan soal 'harga', maka aku
berusaha mengalihkan pembicaraan. "Entahlah, aku lupa," jawabku
singkat.
“Hm,
tidak mungkin kau lupa. Nilai kontrakmu pastinya setinggi langit. Bagaimana,
kau mau terima tawaran salah satu dari mereka, atau kau memilih tetap di
Brandt?”
“Aku
tidak akan pindah klub. Berapa pun kontrak yang mereka tawarkan. Aku sudah
memutuskan kelak akan gantung sepatu sebagai pemain Brandt.”
“Senang
mendengarnya.”
Aku
menyesap kopi perlahan. “Kau ikuti berita terkini? Si pembunuh berantai itu
berulah lagi," ujarku.
"Oh
ya?"
"Serius,
kau nggak tahu beritanya?" Aku terbelalak. "Baru tiga hari yang lalu
ada penemuan dua mayat di rawa-rawa, di ujung jalan pinggir kota Leighryn!
Korbannya sepasang suami istri, masih muda, nggak seperti korban-korban si
pembunuh itu sebelumnya. Mereka tewas dengan cara dibacok di leher sebelum
dibuang di rawa-rawa .... Cara pembunuhannya mirip seperti yang sudah-sudah,
sepertinya jelas pelakunya adalah orang yang sama. Hanya saja, kenapa sekarang
incaran korbannya jadi lebih melebar? Dia itu memilih korban berdasar apa sih?
Murni acak? Jiwanya sungguhan sakit! Apa dia sengaja menciptakan teror supaya
banyak orang ketakutan? Apa tujuannya?"
Fez
sepertinya tidak mendengarkan ocehanku, malah fokus menyapukan kuas di
kanvasnya. Tapi tak lama dia menyahut, "Belum berhasil tertangkap juga,
ya."
"Aku
juga heran kenapa sampai sekarang masih belum juga tertangkap, Fez. Jejak
sedikit pun nggak ada, nggak tercium oleh polisi. Ada kabar yang santer
beredar, peristiwa tiga hari lalu itu, ada saksi mata yang nggak sengaja sedang
berada di sekitar rawa-rawa tempat mayat ditemukan. Dia lihat ada sebuah mobil
dari arah utara melaju dengan kecepatan jauh di atas rata-rata di tengah malam
itu. Berhenti sebentar di sekitar mayat ditemukan, lalu kembali tancap gas.
Orang yang ada di dalam mobil sama sekali nggak keluar! Entah bagaimana caranya
dia menyeret dua mayat dari dalam mobil langsung dilemparkan keluar. Sepertinya
memang sekuat itu tenaganya. Si saksi mata ini sama sekali nggak kepikiran
kalau mobil itu berhenti untuk membuang mayat, dia udah keburu terpesona karena
si pengemudi mobil itu ... sangat lihai mengendarai mobil. dia juga nggak
perhatikan plat mobil itu, hanya tahu bahwa mobil itu berwarna hitam. Hanya itu
keterangan yang bisa polisi dapatkan."
Fez
sepertinya mendengarkan ceritaku.
Aku
melanjutkan. "Anehnya lagi, seluruh CCTV yang dipasang di tiap ruas jalan,
nggak ada yang berhasil menangkap pergerakan mobil si pembunuh. Disebut apa
kalau seperti itu, Fez? Beruntung? Atau dia juga sengaja menyabotase CCTV di
jalanan?"
"Well,
dia terlalu pintar," sahut Fez.
"Dia
terlalu licin. Siapa pun orang itu, kurasa dia layak menjadi legenda. Bukan
legenda dalam arti baik, melainkan sebaliknya. Seburuk-buruknya pembunuh ...
yang menyerang tanpa pandang bulu dan tanpa belas kasihan. Kuharap dia akan
segera tertangkap dan membusuk di penjara," ucapku.
"Kalau
menurutku, kurasa dia hanya akan lebih berhati-hati lagi ke depannya agar tidak
ada saksi mata. Apa dia akan membiarkan dirinya tertangkap? Tidak akan. Kecuali
dia mau mengakhiri hidupnya di penjara," ujar Fez santai.
"Sepandai-pandainya
tupai melompat, dia akan jatuh juga."
"Royce,
dia bukan tupai. Hanya seorang begundal yang memiliki sel otak berlebih di
kepalanya."
Comments
Post a Comment