TLC (5-8) | INA

5 - Pembalap Playboy


Ferris Rutherford, sosok pemuda tinggi semampai yang begitu menawan hati. Rambutnya yang cokelat dibiarkan tumbuh hingga melebihi telinga, pun dengan rambut di rahang dan dagunya yang membingkai wajah tirusnya. Alisnya tebal, dia memiliki mata cokelat sewarna batu amber yang selalu bersinar-sinar memancarkan kekuatan dan semangat yang dimilikinya dalam menjalani hidup. Terpancar pula sifat congkak dan keangkuhan yang terpancar melalui sinar matanya.

Pembalap Formula Prime yang sedang naik daun ini, memang menyita perhatian banyak pihak; pecinta olahraga balap di dunia, sponsor-sponsor utama dalam balap mobil Formula Prime, pabrikan-pabrikan mobil Formula Prime bergengsi di benua Euro, para pemburu berita, dan tak lain adalah para gadis di seluruh belahan dunia yang tergila-gila padanya dan mereka mendadak menjadi penggemar balap mobil Formula Prime. Hanya untuk melihat dan mengharap kemenangan Fez di tiap serinya dan menunggu Fez naik podium, mengangkat trofi dan menyemburkan sampanye kemenangan. Pembawaan Fez yang tenang dan cool membuat para penggemarnya, gadis-gadis, semakin tergila-gila padanya.

Wajah rupawan dan juga fisik yang memesona menjadikan Fez diincar oleh berbagai perusahaan ternama di dunia, dan mereka menawarkan diri untuk menjadi sponsor pribadi Fez. Fez menyambutnya dengan antusias, dan teken kontrak pun terjadi. Dia membintangi iklan fashion merk ternama di dunia, arloji bermerk, sepatu bermerk, dan juga yang lainnya, seperti yang baru-baru ini dijalani Fez guna mengisi waktu sebelum musim balap dimulai, yakni menjadi bintang iklan sebuah perusahaan ponsel ternama yang menjadi salah satu sponsor terbesar tim mobilnya. Pekerjaan barunya itu dilakoninya dengan sangat bersemangat dan dia sangat menikmatinya. Wajahnya kini menghiasi billboard, iklan di televisi dan juga iklan di majalah-majalah. Membuat para gadis di seluruh penjuru dunia semakin terpikat pada pesonanya, dan jatuh cinta padanya.

Fez yang memiliki sifat narsistik dalam dirinya, tahu betul dan menyadari bahwa dirinya menjadi sorotan publik di seluruh penjuru dunia dan disukai oleh para gadis. Maka dia terus bersikap cool dan tenang pada saat berhadapan dengan fans-fansnya, dan juga pada saat pers mewawancarainya dan menyorotnya dengan kamera. Dia sungguh menikmati sorotan publik dari seluruh penjuru dunia yang ditujukan padanya.

***

Hari itu, di sebuah lounge mewah di Leighryn, Fez dan teman-teman akrabnya di tim mobil GT Forrier sedang asyik menghabiskan waktu. Mengisi perut seraya membicarakan hal-hal yang menarik.

Fez duduk santai sambil menyilangkan kaki. Kedua tangannya terletak di perut, ujung jemari saling bersisipan. Dia fokus mendengarkan obrolan teman-temannya itu. Walaupun tidak ada pers yang mengerubunginya seperti nyamuk, dia tetap berusaha tampil cool. Dia menyadari sekelompok gadis yang duduk di seberang mereka terpikat pada pesonanya dan selalu mencuri-curi pandang ke arahnya. Fez tertawa dalam hati, kemudian melempar senyum pada salah seorang gadis yang tertangkap basah olehnya sedang mengamati dirinya. Gadis itu membalas senyum Fez malu-malu.

"Heh! Tebar pesona terus!" tegur Shawn Renan, sambil meninju bahu Fez, membuat Fez tersentak kaget. Shawn Renan juga merupakan driver tim GT Forrier, yaitu partner Fez, yang lebih tua empat tahun dari Fez.

"Shit, jangan menggangguku," jawab Fez.

"Sudahlah, Fez. Kau tidak sadar kau sudah punya sekian lusin pacar? Apa kau tidak kasihan pada mereka yang kau isengi?" tanya yang lain, usil.

Fez tampak bosan. "Yeah ... yeah ...."

"Terus? Apa kau kerjai juga wanita itu? Holden Bannister si aktris Hollawood. Sudah berapa kali kau dan dia syuting iklan Forrier yang baru, masa tidak kau incar? She's pretty hot."

"Holden Bannister?" sahut Fez. "Hah, she's not my type! Cakep sih cakep, tapi ...."

Salah seorang dari mereka yang bernama Dan memotong, "Tapi Holden kurang montok. Itu kan maksudmu, Fez? Tidak seperti pacar Fez yang sekarang."

"Hah, ganti lagi? Perasaan baru minggu kemarin kau mengenalkan pacarmu yang orang Frenchye itu? Sudah ganti lagi?"

"Kau seperti tidak mengenal temanmu yang satu ini," sahut Dan. "Mana pernah sih ada gadis yang bertahan di dalam dekapan Fez lebih dari seminggu? Pacar Fez yang sekarang, aktris dari Kolumbia. Wanita itu kuacungi jempol, montok dan seksi luar biasa! Namanya Luna Estrada. Nih, tanyalah sang Don Juan kita tentang pacar barunya itu," ujarnya lagi seraya menyikut Fez.

Fez tersenyum lebar. "Yea ... Luna memang bukan main seksi. Hollie, maksudku, si Holden Bannister itu kalah jauh. Luna punya daya tarik tersendiri. You know, her boobs. Ukuran wanita dari Selatan seperti dia jauh lebih besar daripada ukuran wanita Euro. Yea ... I think I'm addicted to her lumps," ujarnya jujur, tanpa sensor sama sekali, seraya tergelak.

"Bloody hell ... dasar playboy maniak," komentar Shawn.

"Dengan Vivian Pramoj? Wanita Phailand itu juga seksi, kurasa. Apalagi dia pernah dinobatkan 'Sexiest Woman' versi FHM."

"Ah! Cerita lama! Aku sudah lupa dengan Vivian. Pokoknya, mau Maya, Vivian, Sophie, Sabine, err ... dan yang lain-lainnya itu, kukerjai mereka sesuai mood. Hari ini aku mood dengan yang montok, besok mood dengan yang bodynya biasa, tapi berpengalaman. Begitulah, ganti-ganti," terang Fez, seakan sedang menerangkan suatu hal yang paling wajar sedunia.

"Tiap seminggu ganti .... Apa tidak bosan, kawin terus?"

Dan tergelak. "Orang macam Fez ini mana pernah bosan kawin! Cuma yaa, ruginya buat kita adalah, pilihan wanita yang bisa kita kencani jadi berkurang banyak, lantaran kebanyakan dari mereka sudah pernah dihabisi oleh Fez. Memang kau mau mendekati wanita 'bekas' Fez? Aku menolak dengan tegas, terima kasih."

Fez mencibir. "Yah, itu urusanmu. Apa peduliku? Yang jelas, dari semuanya itu, sudah terpilih delapan cewek yang kujadikan mahakarya. Keindahan yang mereka miliki sudah kuabadikan di atas kanvas."

"Kau, melukis mereka?" tanya Dan yang terkejut, melongo tidak percaya.

"Tapi mereka bukan selebritis, kan?"

Fez mengangguk. "Mereka selebritis. Semuanya. Jadi bisa dibilang aku bukan hanya mendapat sekedar guratan tanda tangan dari para selebritis kondang, tapi juga guratan kuas bergambar tubuh molek mereka," jawabnya, sementara teman-temannya hanya menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala. "Hey, memang apa salahnya? Mereka mau-mau saja, kok. Dan lagi, tenang saja, lukisan-lukisan itu tidak untuk dikomersilkan. Hanya untuk koleksi pribadi," ujar Fez enteng.

"Ya iyalah. Kau berbuat kriminal kalau sampai memperlihatkan atau bahkan menjual lukisan-lukisan itu pada orang lain. Pacar-pacarmu bisa menuntutmu," komentar Shawn. "Dan lagi, kasihan mereka," tambahnya.

"Ya ya ya, apa katamu," sahut Fez bosan.

"Yah, sesukamu lah, Fez. Yang paling penting kau tidak menomorduakan karirmu setelah wanita, karena GT Forrier masih memerlukanmu. Kau sudah siap menghadapi musim balap tahun ini, kan?" tanya Steffan Ahlquist, manajer Fez, yang sedari tadi terdiam.

Fez menyeringai lebar. "Oh, sure! Seorang pembalap harus selalu siap tempur, Bro. Dan jangan khawatir, buatku, sex itu urusan kesekian, walaupun dari luar kelihatannya aku menomorsatukan sex. Aku jauh lebih mementingkan karier ... dan uang, tentunya."

Steffan tersenyum. "Glad to hear that."

"You can count on me! Lagi pula, dalam keadaan pertarungan sengit melawan Alvarez, apa kau pikir aku akan menyerah, seperti tahun lalu? Tidak akan!" seru Fez bersemangat.

Shawn berkomentar, "Optimis dan ambisius. Itulah dirimu."



6 - Pembalap Ambisius


Shawn berkomentar, "Optimis dan ambisius. Itulah dirimu."

Salah seorang dari mereka berkata, "Hey, entah kenapa, sejak mobil baru kita di-tes, dan sejak launchingnya, aku punya firasat baik Grand Prix musim ini."

"Semoga firasatmu tidak ngaco," sahut Dan.

Fez menyambung, "Guys, apa yang kurang dari GT Forrier? Ada aku dan Shawn di garis terdepan. Mobil yang akan kita pakai tahun ini, GT17, jauh lebih baik daripada mobil yang kita pakai tahun lalu. Keberuntungan, pasti ada karena Dewi Fortuna pasti akan terpikat padaku. Masalahnya tinggal mematangkan strategi yang akan kita pakai, untuk mengalahkan Glauber sialan, tim mobil saingan terberat kita!" serunya bersemangat, membuat teman-temannya terdiam.

Shawn menimpali, "Sungguh. Semenjak kau bergabung di tim ini, kita selalu bisa tampil yakin dan percaya diri. Ini semua karena sifat optimismu yang menular," ujarnya seraya menepuk-nepuk bahu Fez.

"Ooo, jadi selama ini kalian tidak optimis?" sahut Fez. "Pokoknya, tahun ini kita lakukan yang sebaik-baiknya untuk tim! Kita rancang strategi-strategi jitu agar kita bisa selalu berada di atas Glauber. Terutama dari sang juara dunia bertahan kita, Jose Rudolpho Alvarez. Cukup satu musim dia menjadikanku pecundang. Tidak akan kubiarkan musim ini menjadi miliknya dan milik Glauber lagi. Akan kubuktikan pada dunia," lanjutnya bersemangat.

"Tidak salah sebutan yang dihadiahkan dunia padamu, Fez. Kau memang ambisius."

"Yeah, tidak heran juga si juara dunia bertahan tidak memandangmu sebelah mata."

Fez tersenyum. "Sudah layak dan sepantasnya seperti itu."

"Tapi, sepertinya kau juga mesti berhati-hati terhadap orang itu."

"Orang itu?"

"Isaac Renauld! Orang yang wajahnya mirip dengan Ferris. Dia bisa saja menjadi salah satu saingan berat Ferris."

"Oh tentang Isaac itu, kudengar kemarin ini mobilnya sengaja ditabrak oleh seseorang!"

"Yeah. Sehari sebelumnya juga 'kerampokan'. Kerampokan tapi nggak kehilangan apa-apa, hanya saja piala-pialanya hancur."

"Dia nggak apa-apa? Setelah ditabrak itu?"

"Dia baik-baik saja, kecuali mobilnya."

Fez menyunggingkan senyum licik. "Padahal lebih baik kalau dia kenapa-kenapa ya ...."

"Kejam juga kau, Fez, mentang-mentang dia saingan beratmu."

"Ha! Apa katamu? Kualitas Llinos Purvance di bawah kita! Mustahil dia bisa menjadi saingan berat GT Forrier."

"Ya, memang di atas kertas kualitas Purvance di bawah kita. Tapi seandainya Friedrich Sheppard selaku bos Glauber membidik Isaac Renauld sebagai pembalap pengganti Jose Rudolpho Alvarez, bagaimana?"

"Ya, ya, aku juga mendengar isu itu! Kabarnya Sheppard sering mengadakan pertemuan dengan agennya si Renauld."

"Lho, untuk apa dia repot-repot cari pengganti? Apa gunanya third driver dan test driver mereka?"

"Kau seperti tidak tahu bos Glauber seperti apa orangnya. Sheppard itu perfeksionis. Sepertinya dia tidak begitu mempercayai kemampuan test driver yang dimilikinya, terlebih, test driver mereka sudah mulai menua. Sheppard butuh darah segar dengan merekrut pembalap muda berbakat. Kalau perlu dia rampok pembalap dari tim lain. Saat ini, pembalap-pembalap muda yang bersinar antara lain Ferris, dan si Renauld itu."

"Memang seberapa tangguh sih, orang itu?"

"Apa kau buta? Kau tidak memperhatikan aksi dia musim lalu? Dia tangguh, kegigihannya membuat tim-tim lain kerepotan. Bahkan dia sempat beberapa kali menyusahkan Fez dan Shawn. Kalau bukan karena performa dan ketahanan mobilnya yang jelek, yang sering membuatnya tidak bisa finish, tentu dia bisa meraup banyak poin dan bahkan merebut podium!"

"Yaa, oke, kuakui dia memang gigih dan cepat. Mobilnya saja yang payah. Tapi yang kalian dengar tentang Glauber berpihak padanya itu baru isu saja, kan? Tidak ada konfirmasi yang jelas dari pihak Glauber maupun dari pihak Renauld. At least untuk tahun ini dia tidak akan mejadi saingan berat tim kita, karena dia masih dimiliki Llinos Purvance, bukan Glauber! Kecemasan-kecemasan itu simpan sajalah, sampai ada berita yang jelas mengenai hal itu."

Fez yang sedari tadi duduk diam sambil mendengarkan perdebatan antara teman-temannya, angkat bicara. "Sudahlah, guys. Orang itu tidak akan pernah menjadi saingan beratku. Kalau dilihat-lihat ... menurutku, dia tipe pembalap yang tidak beruntung dan akan selalu menunggangi tim mobil papan menengah ke bawah. Yah, doakan saja begitu."

"Kenapa kau bisa yakin?" tanya temannya.

"Yakin dong," jawab Fez. "Seorang pembalap harus selalu yakin."

Shawn menggeleng-gelengkan kepalanya. "Brengsek. Dari semua pembalap Formula Prime yang kukenal, cuma kau seorang, satu-satunya pembalap yang paling sombong dan paling bermulut besar."

Fez mengangkat bahu. "Sombong itu masih jauh lebih baik ketimbang minder."

"By the way, sampai sekarang aku masih heran, kok bisa ya, Ferris dan Renauld itu punya wajah mirip? Sebenarnya kau merasa seperti itu atau tidak, Fez?"

"Hhm, yahh ... sedikit," jawab Fez malas.

"Kau dan Renauld memang mirip. Itu benar. Kurasa kalian berdua jodoh," gurau Dan.

Fez meremas tisu kertas yang dipegangnya dan melemparkannya pada Dan, "Kau pikir aku gay?!" serunya, sementara Dan serta yang lainnya tergelak.

"Mungkin dia saudaramu, Fez?"

Fez mengernyitkan dahi. "Saudara dari mana. Aku nggak punya saudara."

***

Mansion Ferris.

Ferris tengah terbaring bertelanjang dada di dalam kamar studionya dengan seorang wanita Kolumbia di sampingnya, memeluk tubuhnya manja.

Wanita itu, Luna Estrada, memandangi lukisan nudis dirinya yang ada di seberang ruangan. Lukisan itu belum selesai digarap oleh Fez, Fez masih harus menambahkan efek-efek cahaya dan shadow, juga finishingnya. Namun dengan kemampuan Fez yang sudah menggarap ratusan lukisan semenjak masa sekolahnya itu, menyelesaikan sebuah lukisan tidak membutuhkan waktu lama. Walaupun lukisan itu belum jadi, keindahan lukisan itu sudah terlihat jelas. Luna menyadari, dirinya di lukisan itu tampak begitu cantik dan menawan, seperti apa yang selalu dikatakan Fez pada dirinya. Dan ia merasa yakin, jika lukisan itu selesai, lukisan itu akan menjadi sebuah lukisan yang amat indah, sebuah mahakarya seni.

"Baru kali ini ... aku dilukis nudis. Ternyata seperti ini ya, rasanya," ujar Luna.

Fez tersenyum. "Seperti apa?"

"Aku merasa memilikimu. Karena selama dilukis tadi, hanya aku yang ada di dalam matamu. Hanya aku seorang yang membuatmu terus menatap diriku ... dan aku bahagia. Dan kamu pun memilikiku. Aku ingin waktu berhenti berputar ...."

Fez merasa puas mendengar pengakuan Luna. Dibelainya rambut panjang Luna yang lembut. "Kamu bahagia denganku?" tanyanya.

"Tentu! Tentu ... tapi ada satu hal yang aku kesal."

"Apa?"

"Aku cemburu melihat kamu dengan Holden Bannister. Kamu dan dia juga masih harus syuting bersama. Aku cemburu membayangkan kalian hanya berduaan ... mengobrol dengan akrab, atau sekedar berlatih syuting."

"Lho! Kenapa kamu harus merasa cemburu? Kamu pikir aku bermain mata dengannya?"

Luna menggeleng lalu menengadahkan wajahnya hingga bertatapan dengan Fez. "Bukan kamu ... tapi aku yakin dia menaruh perhatian padamu. Aku tahu dari pandangan matanya! Dia mengharapkan sesuatu yang lebih dari kamu. Kamu jangan tergoda olehnya ya."

Fez tergelak ringan. "Kamu ada-ada saja, kenapa aku harus tergoda pada Holden? Seribu orang Holden pun tidak ada artinya, karena yang aku gila-gilai cuma kamu. Kamu, kamu dan kamu. Kamu selalu membuatku hilang kendali, tapi aku menikmatinya," ujarnya seraya meraih bibir Luna dengan bibirnya sendiri, lalu mencumbunya penuh gairah. Sementara tangannya sibuk berkelana menelusuri tiap inci tubuh molek Luna.



7 - Magnum

Panggil saja aku dengan sebutan Magnum. Magnum, salah satu senjata api mematikan. Karena memang tugasku mematikan sosok yang pantas untuk mati. Haha. Tidak, sayangnya aku tidak bercanda. 

Terdengar obrolan dua orang yang duduk di belakangku, mengganggu ketenanganku menyantap makan siangku hari ini. 

"Polisi masih belum bisa tangkap pembunuh berantai itu ya.” Suara seorang wanita. 

Sahutan dari si pria, "Sepertinya mereka menemui jalan buntu. Nggak ada petunjuk apa pun, nggak ada bukti atau kesaksian apa pun yang mencerahkan."

"Aku jadi cemas .... Si pembunuh itu terakhir beraksi akhir tahun lalu, kan? Dan biasanya tiap beberapa bulan sekali berjatuhan korbannya!" seru si wanita.

"Benar," sahut si pria. "Dia nggak pandang bulu, sadis! Terakhir itu korban dibunuh saat sedang santai di taman! Di ruang terbuka semacam itu! Si pelaku benar-benar punya nyali .... Bayangkan aja, sedang santai, nggak kenal si pelaku, tahu-tahu ditusuk sampai tewas! Padahal nggak ada urusan apa pun dengan si pelaku tapi bisa-bisanya orang itu seenaknya mengambil nyawa orang! Kurasa orang itu murni sakit jiwa!" 

Hmm. Aku meneguk minumanku. Pelaku dibilang punya nyali. Tentu saja. Hanya nyali yang aku punya. 

"Jadi ingat waktu kasus yang mana itu, dia bisa-bisanya membunuh di rumah korban sendiri. Dia ikat tangan korban dan menutup kepalanya dengan plastik, lalu dibiarkan begitu saja di dalam kamar mandi hingga mereka kehabisan napas! Di rumah korban sendiri, padahal!"

Oooh. Yang kejadian itu .... Aku mengangguk-angguk. Rupanya kedua orang di belakangku ini adalah penggemarku. Mereka ingat semua yang kulakukan, lho! 

"Semua korban yang dia bunuh, adalah pasangan suami istri berusia 50-60 tahun. Aku juga heran banget, Sayang. Sebenarnya apa sih yang menjadi motif si pembunuh ...?"

"Dia itu sakit jiwa, kan kamu tadi yang bilang kalau dia sakit jiwa. Makanya keliaran cari mangsa. Aku jadi ketar ketir ... papa dan mama kan seusia itu. Mereka juga sering jalan-jalan di taman. Bagaimana kalau ... kalau suatu saat mereka bertemu dengan pembunuh itu? Dia kan nggak pandang bulu!"

"Kan kita sudah berpesan pada mereka agar nggak pergi-pergi dulu kalau nggak ada urusan penting. Tenanglah, Sayang."

"Iya ya ...."

"Semoga saja si pembunuh berantai yang entah apa alasannya mengincar pasangan suami istri itu segera bertobat. Atau lebih bagus lagi, dia sudah tewas. Jangan sampai keliaran lagi, orang seperti itu! Mengganggu ketentraman dan keamanan semua orang!"

Woah. Aku disumpahi mati. Duh, jadi takut ... haha.

"Iya .... Semoga ya."

"Kita doakan keselamatan orang tua kita, Sayang. Semoga mereka selalu terlindungi. Kekuatan doa sangat manjur, semua orang tahu itu."

Aku menahan tawa sedari tadi mendengarkan percakapan konyol dua orang di belakangku ini. Doa sangat manjur, katanya? Doa kepada siapa? Sosok yang mana? Yang mengeklaim maha segala?

Terdengar lagi olehku suara si pria melanjutkan ceramahnya. "Dan doakan pasangan-pasangan lainnya. Mereka nggak bersalah apa pun tapi terpaksa harus jadi korban kebiadaban si pembunuh!"

Biadab, katamu. Bagaimana kalau setelah ini kuhabisi saja kalian? Aku berasumsi kalian juga pasangan suami istri, meski umur kalian belum sampai usia separuh abad. Tapi tidak mengapa. Sekalian saja kupatahkan rekorku, dan memperlebar range umur yang boleh menjadi korbanku. That's definitely not a big deal for me.

Kalian yang menjadi incaranku, seharusnya banyak-banyak bersyukur dan berterima kasih padaku. Jelas karena aku harus bersusah payah merancang kematian demi kalian! Kalian pikir hanya dengan melenyapkan nyawa saja, sudah cukup? Tugas terberat justru setelah eksekusi. Bagaimana membereskan setiap detail jejakku agar jangan sampai terlacak. Terbukti kan, selama ini aku berhasil? Sama sekali tidak ada dugaan apa pun yang mengarah padaku. Aku membuat para polisi tolol itu seolah mandul dan payah, tidak bisa berbuat apa-apa sementara sebagian kecil masyarakat yang mereka lindungi harus menemui ajal lebih cepat.

Dari jendela aku dapat melihat sepasang suami istri berusia sekitar 50-an melintas. Si wanita tampak asyik berceloteh, sementara suaminya meladeni sambil tersenyum. Pasangan yang tampak bahagia, tapi juga lemah. Tampaknya mereka calon yang cukup mudah kukerjai. Sejenak aku menimbang, apakah harus mengejar pasangan tadi, atau bertahan di sini menunggu pasangan di belakangku pulang? 

Tapi lebih baik aku pilih yang baru saja lewat tadi. Maka aku segera berkemas, hendak mengikuti mereka itu. Dear pasangan di belakang, kalian selamat kali ini.

Hmm. Aku mendengar ada suara-suara protes dari dalam hati kalian atas sikapku. Kenapa, tanya kalian? 

Aku punya alasanku sendiri. Terlepas kalian mau mengetahui alasanku atau tidak, aku tidak peduli. Kukatakan saja terus terang sekarang. Aku memiliki dendam pada sepasang suami istri, warga sipil biasa, yang telah membuat hidupku hancur berantakan karena ulah mereka. Aku melalui masa-masa sulit dengan keringat dan darah, sementara mereka hidup dengan tenang dan bahagia di luar sana. Apakah itu adil? Tidak. Sama sekali tidak. 

Sampai pada korbanku yang terakhir, yang kubunuh di taman, aku tidak mengetahui identitas pasangan suami istri yang menjadi target asliku. Nah lho. Bagaimana bisa aku menjadikan mereka berdua target padahal aku tidak tahu nama dan wajah mereka? Simple. Karena yang kutahu merekalah yang membuangku begitu saja saat aku masih berupa bayi merah yang tidak bisa apa-apa. Yeah. Mereka orang tua kandungku. Aku tidak tertarik mencari identitas mereka dan menemui mereka secara baik-baik, lalu reuni yang manis terjadi. Tidak. Aku hanya mau membuat mereka sengsara, dan melenyapkan mereka selamanya. Jadi sejak saat itu aku berkeliaran mencari mangsa, yakni pasangan suami istri, yang mungkin saja mereka adalah targetku yang asli. Selama ini aku berharap aku telah membunuh target asliku, tapi aku tidak bisa tenang hanya dengan sebuah harapan kosong. Maka aku melanjutkan aktivitasku itu hingga saat ini. 

Dan pada awal tahun, untuk pertama kalinya aku mengetahui nama target asliku itu. Mereka berdua masih hidup sampai sekarang. Hidup tenang di pinggir kota Leighryn. Yeah, aku bahkan sudah mengantongi alamat mereka pula. Sebenarnya aku tinggal melenyapkan mereka berdua saja, kan? Lalu kasus pembunuhan berantai ini pun berhenti sampai di situ. 

Tapi aku tidak minat melakukan itu. Setelah mengotori tanganku berkali-kali dengan darah para korbanku, entah bagaimana aku malah jadi ketagihan. Aku sangat menikmati saat adrenalinku melesak-lesak di dalam sana setiap kali aku mengeksekusi korbanku. Aku menikmati debaran jantungku sendiri saat kejadian, dan aku puas jika berhasil melakukan itu dengan gemilang. Lebih puas lagi saat aku berhasil menghilangkan jejak dan membiarkan mayat korbanku terbujur kaku. 

Aku memutuskan akan terus bersenang-senang dengan caraku ini, sembari aku memikirkan cara terbaik untuk melenyapkan target asliku. Sebagai target utama, kematian mereka haruslah sesuatu yang spesial, benar bukan? 

Kuharap penjelasanku sudah cukup untuk kali ini. Kini saatnya aku fokus pada calon korbanku untuk hari ini. Aku berjalan sekitar sepuluh meter di belakang pasangan itu, mengikuti kemana pun mereka melangkah ....



8 - Good Guy Ike


Halo, ini aku Isaac Renauld. Pembalap Formula Prime untuk tim mobil Llinos Purvance.

Pertandingan balap yang melelahkan untuk hari ini usai sudah. Segera setelah aku memarkirkan mobilku di garasi tim, aku melompat keluar dari kokpit mobil, lalu membuka helm. Dan setelah menimbang berat sesuai regulasi, aku meneguk air mineral sebanyak mungkin.

Udara saat ini masih terasa lembab tapi panas pasca hujan deras yang mengguyur sirkuit sesiangan tadi. Setelah melewati babak kualifikasi kemarin, tak ada yang mengharapkan hari ini hujan akan turun dengan sangat deras, membuat banyak tim mobil, termasuk tim mobil kami, terpaksa mengubah strategi karena sirkuit menjadi basah dan tricky. Tapi bagaimanapun aku bersyukur, karena hari ini aku berhasil finish dengan sukses dan tetap berhasil meraih poin. Yea, walaupun aku hanya berhasil finish di posisi kedelapan dan itu berarti aku cuma berhasil meraih satu poin, tapi ini permulaan yang bagus di seri perdana Grand Prix musim ini. Semoga ke depannya aku bisa meraih lebih banyak poin dan tim kami tidak lagi menjadi tim kuda hitam yang kerap gagal pada saat-saat krusial.

Kulihat tiga peraih podium hari itu, alias tiga pemenang pertandingan. Para peraih kemenangan ini adalah duo tim Glauber, Jose Rudolpho Alvarez dan Fabio Ortolani, serta jagoan tim GT Forrier, Ferris Rutherford. Dengan wajah cerah dan senyuman yang lebar, jelas mereka merasakan euforia kemenangan meluap-luap. Mereka saling menyemburkan sampanye kemenangan satu sama lain usai penyerahan trofi.

Luar biasa, Ferris Rutherford ini. Aku selalu salut pada Rutherford. Dia dan Alvarez benar-benar mendominasi jalannya pertandingan tadi, seakan seluruh sirkuit adalah hanya milik mereka berdua saja. Di tengah pertandingan sepertinya Alvarez sempat melambat dan kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Ferris, yang hingga pertandingan usai tetap berhasil mempertahankan posisi, dia kukuh berada di posisi pertama.

Ferris Rutherford yang konon katanya berwajah persis denganku. Katanya. Tapi sepertinya memang benar, ada kemiripan pada wajah kami berdua. Ada beberapa perbedaan antara kami. Selain karena prestasi Ferris jauh lebih mentereng daripada aku, Ferris selalu tampil di depan publik dengan facial hair yang menjadi ciri khasnya. Hmm, kurasa dia memang tidak pernah bercukur. Berbeda denganku yang tidak pernah sekali pun membiarkan rambut tumbuh di wajahku. Bukan apa-apa, aku hanya selalu ingin tampil rapi dan bersih. Kurasa, jika aku membiarkan rambut tumbuh di wajahku, atau jika Ferris itu mencukur habis rambut di wajahnya, kami berdua memang akan terlihat seperti pinang dibelah dua.

Aku sendiri tidak paham mengapa bisa terjadi kejadian yang kebetulan seperti itu! Bayangkan, ada dua pembalap yang membawa nama Eastland di kancah dunia Formula Prime, memiliki nama keluarga yang beda namun memiliki wajah yang hampir serupa ... dan yang lebih jelasnya, beda nasib. Ferris yang sejak dulu memiliki karir yang mentereng dan sudah didaulat menjadi pembalap papan atas, dibandingkan denganku, Isaac Renauld yang rupanya masih belum bisa menunjukkan pada dunia bahwa aku pun sebenarnya punya taji!

Aku tidak pernah bermain-main dengan karir. Aku selalu melakukan yang terbaik, bahkan aku kerap memberikan masukan yang berharga pada tim agar tim Llinos Purvance ini bisa melakukan pengembangan mesin dan performa mobil, hingga tidak lagi dipandang sebelah mata oleh dunia. Tapi, mungkin memang aku harus berusaha lebih keras lagi.

Antara aku dan Ferris sebenarnya tidak begitu dekat. Kami hanya sekedar saling mengenal, tapi hampir tidak pernah kami berbicara secara empat mata. Namun meski begitu, kesuksesan yang digapai Ferris menginspirasi dan mengobarkan gairah serta semangatku. Yeah, bisa dibilang aku menjadikan Ferris sebagai panutan selama ini.

Sekawanan pemburu berita mencegat langkahku sambil menodongkan mic ketika hendak menuju paddock club menjemput  pacarku. Seperti biasa, pers mencoba mencari berita sebanyak mungkin, termasuk sepatah dua patah kata dariku mengenai jalannya pertandingan tadi. Dan aku seperti biasa selalu meladeni setiap pertanyaan mereka dengan seramah mungkin. Aku paham jika pers memiliki banyak peranan terhadap kemajuan karir seorang atlet. Dalam beberapa hal setiap atlet bergantung pada pemberitaan-pemberitaan yang baik di media melalui pers. Jelas aku merasa keberadaan pers itu sungguh penting. Maka aku selalu berusaha membangun hubungan yang baik dengan mereka, setidaknya aku tidak pernah menolak diwawancara ataupun difoto.

Tanya, pacarku, tiba-tiba datang menghampiri. "Sayang ...," panggilnya manja, langsung bergelayut di lenganku.

"Hey, Sayang, kok jadi kamu yang ke sini?" tanyaku concern. Aku tahu Tanya tidak pernah tahan udara panas, maka setiap kali ia menemaniku tanding, ia selalu berada di paddock club. Di sana nyaman dan berpendingin.

"Ah tidak apa, aku bosan di club ... urusan kamu sudah selesai? Kalau belum aku balik duluan ya ke hotel. Capek," keluh Tanya.

Masa aku ditinggal?

"Hmm. Tidak bisa tunggu aku sebentar?" bujukku.

"Aku jenuh di sini, tidak ada yang bisa aku ajak ngobrol, sementara kamu sibuk banget. Kalau tahu akan begini aku tidak usah ke sini, deh." Tanya cemberut. Matanya yang coklat seperti merajuk, ah pacarku yang satu ini memang agak manja.

"Di hotel kan lebih tidak ada teman ngobrol lagi, Sayang."

"Ya habisan mau gimana? Aku juga kan temani kamu di sini karena nggak mau sendirian di Leighryn. Ingat kan, ada pembunuh berkeliaran di sana? Kemarin ada lagi korbannya yang baru. Kita kan nggak tahu taraf psikopat pembunuh itu. Kemarin-kemarin yang dia incar pasangan berumur, bagaimana kalau untuk selanjutnya dia incar korban lebih random lagi? Incar aku misalnya, karena aku keseringan kamu tinggal sendirian. Kamu sendiri juga, udah dua kejadian kamu jadi incaran orang jahat. Seperti apa wajahnya pun nggak ketahuan, aku bisa aja papasan sama dia atau orang jahat lainnya, atau orang yang menabrak kamu kemarin atau yang mengacak-acak rumah waktu itu. Emangnya kamu mau aku kenapa-kenapa?"

"Ya tentu saja nggak dong," sahutku. "Sudah deh, sabar lagi aja sedikit ya? Sebentar lagi urusanku selesai kok. Besok jadi kan, acara kamu mau jalan-jalan di Miran? Aku temani sampai kamu puas belanja deh," bujukku.

Dan seketika mata Tanya berbinar. "Benar??"

Aku tersenyum, mengangguk. Miran adalah nama kota yang terkenal akan industri fashionnya, nyaris semua perancang fashion ternama sedunia berasal dari kota ini. Dan tentu saja, sebagai wanita yang gemar mengoleksi pakaian indah seperti Tanya, berbelanja di sini adalah salah satu impiannya.

"Janji?"

"Iya, janji."

Senyum lebar terkembang di wajah Tanya, dia makin mengeratkan pelukannya di lenganku, "Okee ... kamu temani aku belanja ... bayarin juga yah. Aku akan tunggu kamu di sini sampai urusan kamu selesai dehh ... janji," katanya.

Ah, dasar Tanya. Memang hobi Tanya satu-satunya adalah belanja dan jalan-jalan, atau foya-foya menghabiskan uang. Namun meski begitu aku sangat menyayangi gadis ini.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.