TLC (9-13) | INA

Bab 9 - Konspirasi

Maret 2017.

Birgham, Eastland.

James Renauld, seorang pria paruh baya berambut keabu-abuan, sedang asyik menikmati kopi pahit favoritnya, pagi hari itu, ditemani oleh Evelyn, istrinya yang setia.

Mereka sedang membicarakan putra mereka, Isaac, yang pada Grand Prix kemarin mendapatkan poin perdananya pada musim itu. Mereka sangat bangga pada putra mereka, dan terus mendoakan putra kesayangan mereka itu agar semakin sukses dalam karir dan mendapatkan semua yang dicita-citakannya.

Obrolan itu terhenti ketika telepon di ruang tengah berdering. James bangkit berdiri dan menjawab telepon itu.

Evelyn sedang menuang kopi untuk dirinya sendiri ketika suaminya datang sambil membawa koran pagi. “Siapa yang menelepon?” tanyanya.

James menarik kursi dan duduk. “Isaac. Dia titip salam pada mamanya," jawabnya.

Evelyn menyesap kopinya. “Lalu? Dia menelpon cuma untuk mengatakan itu saja?” tanyanya lagi. Matanya yang coklat tampak bertanya.

“Dia mengatakan akan pulang ke sini, hari Rabu besok," jawab James sambil membolak-balik koran, mencari artikel yang dianggapnya menarik. Tak menemukan apa yang dicarinya, dia kembali pada halaman pertama dan melihat artikel yang mengulas Grand Prix Formula Prime seri pertama kemarin, berikut dengan fotonya, yang menjadi headline koran itu. “Hey, ada artikel tentang Grand Prix kemarin,” ujarnya.

“Oh ya?” sahut Evelyn sambil menggeser duduknya, ingin ikut membaca artikel tersebut.

Artikel itu diberi judul dengan huruf yang dicetak tebal:


Persaingan Ketat yang Tak Pernah Usai, Glauber vs GT Forrier

Apakah seorang Jose Rudolpho Alvarez sebagai juara dunia Formula Prime lima kali merasa gondok karena dipecundangi pembalap muda berbakat, Ferris Rutherford?

Alvarez berkilah, sangat sulit menyalip di sirkuit Morza, dan menurutnya Rutherford sedang bernasib baik hingga bisa menyalipnya. Dan itulah yang membuat dia gagal meraih podium pertama. Pembalap berusia 35 tahun itu bertekad untuk mengerahkan segenap kemampuannya dan merebut posisi juara dunia untuk keenam kalinya. Hal itu dilakukannya untuk Glauber, sebagai kenang-kenangan yang terakhir darinya. Sebab setelah musim 2017 ini, Alvarez memutuskan untuk pensiun dari balap jet darat yang membesarkan namanya .... 

Artikel masih cukup panjang untuk dibaca, namun kemudian Evelyn terpaku begitu melihat foto yang terpampang di sana. Foto Ferris Rutherford sedang mengangkat trofi dengan wajah ceria penuh percaya diri di atas podium, sebagai ekspresi atas kemenangannya di seri pertama itu. Wajah Ferris terlihat begitu jelas di foto itu.

“Jim ...!” desis Evelyn, sambil mencengkeram lengan James erat.

James menoleh. “Ada apa?”

“D-dia ...,” ucap Evelyn terbata sambil menunjuk foto Ferris.

“Oh. Dia kan Ferris Rutherford. Pemenangnya! Dia itu orang yang pernah diceritakan Isaac pada kita, Eve. Orang yang berwajah mirip dengan Isaac. Aku pernah sekali dua kali bertemu dengannya ketika aku menemani Isaac bertanding, dan memang sih, mereka terlihat mirip. Bagaimana menurutmu?”

“Tapi ini bukan hanya mirip, Jim ...! Jim, jangan-jangan dia ....” Evelyn tampak tak sanggup meneruskan perkataannya.

“Kenapa? Ada apa sih, Eve?”

“Jim, Ferris ini begitu mirip ... ! Dia sangat mirip dengan Isaac ...! M-mungkinkah ... mungkinkah orang ini adalah ....”

“Eve, ada apa denganmu? Tenanglah! Sebenarnya apa sih yang ingin kau katakan?” tanya James seraya menenangkan istrinya.

“James! Bagaimana bisa kau tidak menangkap apa maksud perkataanku? Kau lupa? Kau tidak ingat, dosa besar yang dulu kita lakukan? Apa yang kita cari selama dua puluh tahun lebih ini, sampai akhirnya kita putus asa?” tegur Evelyn dengan suara bergetar.

James terdiam berjenak. “T-tapi Eve ... ini tidak mungkin. Tidak mungkin orang yang ada di foto ini, adalah dia! Tidak mungkin sekebetulan ini, Eve!”

“Kenapa tidak? Segala hal mungkin saja terjadi, Jim! Dan  lagi ... naluriku mengatakan, memang inilah dia ....”

“Eve! Jangan terlalu yakin akan intuisimu semata. Orang yang berwajah mirip di dunia ini banyak, aku yakin. Kamu ini lucu. Apa kamu tidak pernah melihat dua orang yang secara kebetulan berwajah mirip? Ini hanya kebetulan, Eve. Mereka berdua memang kebetulan saja mirip," sanggah James.

"Tidak ada yang namanya kebetulan!" seru Evelyn. "Wajah Ferris ini sangat mirip dengan Isaac. Sebelumnya aku juga berpikir seperti kamu, Jim, bahwa mereka memang hanya kebetulan saja mirip. Itu karena aku memang nggak pernah melihatnya langsung. Tapi di foto ini, ini jelas-jelas terlihat kalau orang ini sungguhan mirip dengan anak kita. Dan entah kenapa aku langsung yakin, bahwa .... Bahwa ... duh. Kamu paham maksudku, kan??"

"Jangan terlalu berharap, Eve. Belum tentu dugaanmu benar. Belum tentu Ferris Rutherford ini ... adalah ....” Giliran James yang tidak kuasa melanjutkan perkataannya.

“Kemungkinan selalu ada, Jim. Minta Isaac untuk mempertemukan kita dengan orang ini. Kita akan buktikan apakah naluriku memang salah, atau benar. Kau pikir, dari siapa Isaac mewarisi bakat dalam membalap? Dari ayahmu! Dan sekarang, ada orang yang seumuran dan berwajah mirip dengan Isaac, memiliki bakat yang sama pula, apa kau pikir itu juga sebuah kebetulan?” cecar Evelyn.

James terdiam.

Evelyn menyodorkan ponsel miliknya. "Ini. Telepon Isaac sekarang, Jim. Kumohon!" pintanya.

"Eve, tapi ...." James kebingungan menghadapi permintaan tersebut.

"Kenapa? Kenapa sih kamu ragu? Kamu nggak percaya dengan naluriku? Aku ingin bertemu dengan Ferris itu, supaya aku melihatnya secara langsung! Supaya aku bisa buktikan kalau dugaanku memang benar!"

"Apa yang harus kukatakan pada Ike? Dia pasti bingung, atau curiga akan rasa penasaran kamu yang sampai sedemikian .... Mereka berdua hanya sebatas rival di sirkuit, Eve, kamu paham nggak? Mereka juga nggak dekat. Ike nggak pernah cerita kalau dia berteman dengan Ferris ini, murni hanya sebatas kenal, dan sebatas rival. Bagaimana dia bisa tiba-tiba mengajak Ferris ketemuan dengan kita? Atas alasan apa kita mengundang dia?"

"Yakinkan Ike agar dia mau ajak Ferris!"

"Ya bagaimana caranya? Kamu mau aku ceritakan semuanya?"

Evelyn menatap suaminya, tidak menjawab.

"Betul, kan? Kamu sendiri ragu seperti itu, dan kamu malah ingin agar aku meminta Ike mengundang Ferris untuk bertemu."

"Mungkin memang sudah saatnya kita ceritakan semuanya pada Ike, Jim ...," jawab Evelyn pelan.

James terdiam. "Kamu yakin?" tanyanya memastikan.

"Yakin," jawab Evelyn sambil mengangguk pasti. "Kalau dipikir kita sudah sangat bersalah pada Ike karena kita menutupi kenyataan selama dua puluh tahun lebih. Dia sebenarnya berhak tahu, Jim. Dia yang paling berhak tahu. Kita seenaknya menutupi semuanya selama ini lantaran malu. Tapi kan nggak mungkin sampai selamanya kita menutupi hal ini? Suatu saat Isaac harus tahu. Cepat atau lambat, Isaac harus mengetahui semuanya."

"Eve," panggil James. "Tenangkan dirimu. Cobalah berpikir, sudah dua puluh tahun ini yang kita bicarakan itu menjalani kehidupannya sendiri. Kenapa kita harus tiba-tiba datang dan mengganggu kehidupannya? Hanya atas dasar rasa penasaran? Dia pasti akan terganggu! Jadi sudah, lebih baik biarkan saja. Kalau memang nalurimu benar, ya mau bagaimana? Kita nggak bisa seenaknya datang tiba-tiba padanya!"

Evelyn menatap sang suami dengan tatapan tidak percaya. "Bicara apa kamu? Jadi maksudmu, kita harus diam saja?"

"Maksudku ... kita jangan ganggu kehidupan orang begitu saja."

"Lalu kamu mau sampai selama-lamanya kita nggak akan pernah bertemu dengan yang kita cari? Begitu? Kalau kita berhasil menemukan yang kita cari, Jim, setidaknya kita jadi punya kesempatan untuk meminta maaf padanya, kan? Perkara kita mendapat maaf atau tidak, itu urusan belakangan! Memang, kalau dipikir kelihatannya kita mengganggu kehidupan orang, tapi mau bagaimana lagi? Masa kamu mau menyimpan semua ini rapat-rapat entah sampai kapan?"

James terdiam.

"Jadi ikuti permintaanku. Telepon Ike sekarang," pinta Evelyn lagi. 



Bab 10 - Atlet yang Cedera

Stamord Bridge Stadion, April 2017.

Partai final Piala FA.

Ferris dan teman-teman akrabnya di tim GT Forrier menyempatkan diri untuk menonton pertandingan final itu secara langsung. Pertandingan final antara dua tim besar dari Liga Primer Eastland, Brandt versus Larx United, untuk memperebutkan Piala FA.

“Royce tahu kau datang hari ini, Fez?” tanya Dan, ketika kedua tim sudah memasuki lapangan.

Fez mengangguk. “Tentu. By the way, guys. Entah kenapa aku masih penasaran dengan kekalahanku dari Alvarez di Nürburwing hari Minggu kemarin. Bisa-bisanya dia menekanku habis-habisan sebelum akhirnya dia berhasil merebut posisiku dengan sukses! Sialan,” gerutunya.

“Hey, sudahlah. Toh kau tetap naik podium, kan? Dan kau tetap mendapat poin! Kau sadar, di saat pembalap-pembalap lain sangat mensyukuri dan senang karena bisa meraih poin, apalagi naik podium, kau malah mencak-mencak! Tidak banyak pembalap yang punya keberuntungan sebesar peruntunganmu ...! Dasar ambisius,” sahut salah seorang temannya.

Fez menjawab, “Hmm, apa yang terjadi dengan pembalap-pembalap dari papan bawah sama sekali bukan urusanku! Aku harus terus meraih poin sempurna! Tapi pada kenyataannya sekarang? Aku kalah dalam GP kemarin, dan yang kudapat bukan poin yang sempurna. Dan gara-gara itu, poin Alvarez menjadi bertambah dekat dengan poinku. Damn.”

“Apa sih buruknya podium ketiga?”

“’Apa sih buruknya podium ketiga?’ Gila. Hal seperti itu masih juga kau tanyakan? Buruk. Jelas buruk. Buatku,” ujar Fez.

“Hey, kita sedang menonton bola secara langsung nih! Nikmatilah saat-saat seperti ini. Untuk apa kau masih mengungkit-ungkit yang sudah lewat? Masih tersisa 14 seri lagi buatmu untuk unjuk gigi.”

“Yeah, apalagi seri berikutnya di Goldstone, di kandang kita sendiri. Kau bisa balas ‘meneror’ Alvarez nantinya.”

Fez terdiam sejenak. “Well ...,” sahut Fez sekenanya. Dia melihat kedua skuad bergengsi itu sudah mengambil posisi di tempatnya masing-masing. Royce, sahabatnya, berdiri di garis terdepan timnya, tampak sedang mengambil napas, menenangkan dirinya sendiri.

Peluit berbunyi.

Pertandingan pun dimulai, diiringi riuh rendah penonton yang begitu antusias. Kedua tim ternama itu saling menyerang, dan berusaha mencetak gol. Setelah melalui perjuangan yang sulit, salah seorang gelandang Larx berhasil menceploskan bola ke gawang Brandt melalui tendangan jarak jauh andalan gelandang itu pada menit ke-38. Para pendukung Larx bersorak gembira.

“Wah, satu kosong, sekarang,” gumam Fez.

Namun beberapa menit sebelum babak pertama berakhir, Royce menyamakan kedudukan. Berkat kerja sama yang apik, rekan-rekan Royce memberikan umpan yang sangat bagus pada Royce dan Royce meneruskan umpan itu dengan sempurna, serta mengecoh kiper lawan. Kedudukan 1-1. Pendukung Brandt bersorak. Suasana di stadion kian memanas.

“Memang beda kalau menonton secara langsung di stadion. Menegangkan,” ujar Dan ketika wasit meniup peluit tanda berakhirnya babak pertama.

“Memang. Baru tahu?”

“Kedudukan jadi 1-1, nih. Kira-kira babak kedua nanti gimana, ya?”

“Brandt pasti menang. Yakin, deh.”

“Yeah, ada Royce si ujung tombak.”

Fez hanya tersenyum mendengar obrolan teman-temannya itu.

***

Babak kedua dimulai.

Hingga pada menit ke-75, skor kedua tim yang sama kuat itu tetap 1-1. Saat itu Larx sedang gencarnya melakukan serangan pada Brandt. Ketika serangan itu berlangsung di daerah kotak penalti, bola yang sedang dibawa oleh Larx terkena tangan lawan. Wasit meniup peluit dan menunjuk titik penalti. Pendukung Larx serentak bersorak gembira.

“Wah, alamat buruk nih."

“Well, jika eksekusi ini berhasil, Royce cs harus kerja keras,” sahut Fez.

Seorang pemain muda berbakat dari Larx United, yang mendapat kesempatan untuk mengeksekusi tendangan penalti kali itu, sudah berdiri kokoh di sana, siap melakukan tendangan penalti.

Peluit berbunyi. Pemain Larx itu terdiam sesaat, sebelum kemudian mengambil ancang-ancang dan menendang bola tepat menuju ke arah gawang. Kiper Brandt yang sudah menduga arah bola itu sejak awal, melentingkan tubuh dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berusaha menjangkau bola ....

Namun bola itu melewatinya. Bola yang hanya berjarak beberapa inchi saja darinya itu lolos ... dan membuahkan gol. Para pemain Larx serentak berlari dan bersorak-sorak gembira. Seluruh pendukung Larx pun turut bergembira.

Tinggal sepuluh menit sebelum babak kedua usai. Brandt semakin gigih dan ‘ganas’, berusaha mencetak gol, satu saja, untuk menyamakan kedudukan. Sehingga pertandingan bisa diperpanjang hingga 120 menit.

Salah seorang pemain Brandt saat itu sedang melakukan tendangan pojok, sementara Royce dan pemain lainnya menunggu di depan mulut gawang. Bola melambung tinggi, Royce berusaha memanfaatkan tendangan itu melalui sundulan kepala. Namun ketika dia akan melakukan lompatan, pemain Larx yang berdiri di sampingnya juga melompat, dan mereka bertubrukan. Royce jatuh terjerembab, bertumpukan bahu kanannya. Pertandingan terhenti sesaat, dan Royce pun meninggalkan lapangan lantaran tidak sanggup menahan rasa sakit di bahunya.

Pendukung Brandt kecewa, juga cemas atas Royce. Mereka takut permainan Brandt tidak lagi tajam setelah Royce meninggalkan lapangan. Namun, Brandt adalah tim yang tangguh, salah satu tim yang paling solid di Liga Primer, liga terpanas sejagad. Kepergian Royce dari lapangan tidak membuat serangan mereka melemah. Mereka tetap tajam dan berupaya keras menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Tapi yang kini mereka hadapi juga merupakan tim yang solid, sehingga upaya mereka untuk menciptakan gol tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Kerja keras mereka berakhir setelah wasit meniup peluit panjang tanda pertandigan telah usai, dan skor tetap 2-1, untuk Larx United. Serentak ofisial dan seluruh pemain Larx tenggelam dalam kegembiraan. Puluhan ribu suporter Larx juga turut larut dalam kegembiraan.

“Runner up,” ujar Dan.

“Yeah, kasihan Royce. Benarkah dia cedera?”

Fez menyahut, “Geez, dia tidak apa-apa, kan?”

Acara dilanjutkan dengan penyerahan medali pada tim yang menduduki posisi runner-up, yaitu Brandt. Seluruh pemain Brandt dikalungi medali perak. Pesta penyerahan trofi piala FA pun digelar sesudahnya. Para pemain, pelatih, dan ofisial tim Larx kemudian minum sampanye untuk merayakan kemenangan tersebut.

Royce yang akan kembali ke ruang ganti bersama teman-temannya, menoleh ke arah penonton di tribun, ke arah Fez dan kawan-kawannya, yang seperti biasa berada di tribun eksklusif, dan menggerakkan kepalanya sambil tersenyum.

Fez membalas senyum Royce dan balas menggerakkan kepalanya.

“Masih bisa tersenyum? Kusangka dia tipe yang cepat suntuk sepertimu, Fez,” komentar Dan.

Fez menjawab, “Dia tidak terobsesi untuk menang secara pribadi. Dia bermain karena dia benar-benar hobi dan mencintai dunianya ini. Jadi dia kalah atau menang, dia santai, yang penting dia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya.”

“Wah! Jauh beda denganmu! Kalau kau, kau selalu terobsesi untuk menang dalam tiap seri GP! Apalagi seri keempat hari Minggu kemarin, baru menempati podium ketiga saja sudah mencak-mencak. Ya kan?”

“Yeah ... yeah .... Penting ya, ungkit-ungkit?” sungut Fez.



Bab 11 - Cinta Pertama

Halo, namaku Margot Eglantyne Carol Bainbridge, biasa dipanggil Marg atau Margee.

Hari minggu itu seperti biasa, aku sudah duduk dengan manis di depan layar televisi. Memerhatikan dengan sungguh-sungguh percakapan para pembawa acara yang mengulas tentang perkiraan bagaimana jalannya pertandingan balap Formula Prime kali itu, yang akan dimulai beberapa saat lagi. Ah, tiap kali menonton Formula Prime racing, aku selalu berdebar, berharap yang terbaik untuk jagoanku, Isaac Renauld. Aku tahu mobilnya tidak setangguh tim-tim lawan ... tapi aku tahu, Isaac itu tipe pejuang yang hebat, dia tidak akan menyerah hanya karena mobilnya tidak secepat mobil lainnya ... dan aku selalu berharap yang terbaik untuknya!

Pernah saat itu, sewaktu Isaac pertama kali meraih kemenangannya di kancah Formula Prime, aku sampai menangis saking terharunya ... dan saking senangnya aku karena bisa melihat Isaac berdiri dengan gagahnya di atas podium, mengangkat trofi kemenangannya tinggi-tinggi sambil tersenyum dengan lebar. Dia bukan hanya tampan … tapi juga baik, murah hati, gentle, dan … siapa sih wanita yang akan menolak pria seperti Isaac ...?

Hanya bodohnya aku, aku tidak pernah punya keberanian untuk mendekati dia walaupun aku punya banyak kesempatan untuk melakukannya. Ah-ha, pasti kalian heran mengapa aku bisa berkata seperti itu. Yea, kalian harus tahu .… Sebenarnya aku dan Isaac dulu satu sekolah. Sejak high school aku satu kelas sama dia, dan membentuk kelompok gank sendiri bersama-sama dengan teman-teman kami yang lain. Dan aku sudah menaruh hati pada Isaac sejak aku pertama kali mengenalnya.

Isaac itu, manis dan hangat sikapnya, murah senyum, enak diajak bicara dan berdiskusi, tidak emosian ... aku tidak pernah melihatnya marah soalnya. Terlebih, dia itu tampan, sejak dulu dia sudah terlihat menawan. Apalagi sekarang, semakin dewasa dia semakin terlihat matang!

Seharusnya banyak kesempatan buat aku untuk mendekati Isaac, tapi entah mengapa aku tidak pernah berani ... aku selalu diliputi rasa ragu untuk melakukan pendekatan, walaupun sebenarnya sikap Isaac pada diriku pun hangat, sama seperti sikapnya terhadap teman-teman yang lain .... Dan sekarang aku hanya bisa menyesali kenapa aku selalu tidak pernah mau melakukan pendekatan padanya, karena aku menyadari aku masih menyimpan perasaan khusus terhadapnya sampai sekarang ini .... Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, dari layar televisi, dan hanya bisa menahan rasa cemburuku ketika melihat fotonya bersama dengan pacarnya yang bernama Tanya itu. Uh! Kenapa aku bisa sebodoh itu?

Beberapa kali aku mencoba menjalin hubungan dengan pria, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membuat aku merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan terhadap Isaac. Bukan main ya, manusia satu itu ... teganya membuat gadis manis seperti diriku ini menderita sekian tahun lamanya! Kenapa sih aku tidak pernah sanggup melupakan Isaac? Malahan dari hari ke hari perasaanku itu semakin tumbuh dan semakin dalam. Kenapa? Mau sampai kapan?

"Hei!!"

Aku tersentak kaget ketika Angie datang dan menepuk bahuku.

Angie, ia adalah saudara sepupuku sekaligus juga salah satu anggota gank high school aku dan Isaac. Kami berdua tinggal di rumah yang sama, berhubung tempat kerja kami berdua pun jaraknya tidak begitu jauh. Ia saudara yang manis, tapi juga kadang suka cerewet dan menjengkelkan.

"Apa Ngie, kamu bikin kaget saja," sahutku malas.

"Masih belum bosan, dukung si Ikey?" katanya sambil menghempaskan tubuhnya di sampingku.

"Maksudmu?"

"Ya itu, maksudku, kamu masih mencintai Ike, kan? Padahal kamu tidak pernah mau mendekati dia, untuk apa juga kamu masih menyimpan rasa terhadapnya?"

Aku menghela napas. "Usil banget sih kamu? Suka-suka akulah, aku masih cinta dia kah, atau aku masih setia dukung dia kah, memangnya apa urusanmu?"

"Ya habis kamu tolol sih! Sudah ratusan kali, ribuan kali malahan, aku mendorongmu supaya kamu mau make a move sedikit saja, dia itu baik kok! Dia itu .... aku heran kenapa sih kamu tidak pernah mau mendekati dia? Sekarang dia sudah punya pacar, sudah berapa tahun dia memacari Tanya, kurasa sih mereka sebentar lagi akan segera menikah, lalu kamu? Masih mau stuck begitu-begitu saja, mengharapkan sesuatu yang tidak pernah kamu kejar?"

Uh ... aku malas menanggapi kata-kata Angie yang nyinyir. Jadi aku diam saja.

"Margee," panggilnya.

Aku tetap cuek.

"Margee!" Angie menyenggol aku dengan sikunya.

"Diam ah, sebentar lagi pertandingan mulai!" sahutku akhirnya.

Terdengar Angie menghela napas kesal. "Kamu tuh ya! Lama kelamaan aku benar-benar capek ngomong sama kamu, aku cerewet begini kan demi kamu juga! Kenapa sih kamu seperti itu? Nih, ada hal yang dari kemarin bikin aku penasaran! Pacarmu yang terakhir, si Jo, menurutku dia pantas untuk kamu, Marg. Jo cukup tampan kok, cakep, easy going, sudah mapan pula, kenapa juga kamu malah memutuskan hubungan kalian? Kamu nggak lihat ya gimana ekspresi wajah Jo waktu kamu putuskan? Dia tuh cinta sama kamu, Marg! Sudah jelas terlihat seperti itu! Tapi malahan kamu patahkan hatinya, dan malah lebih mengharapkan cinta pertamamu yang sama sekali tidak pernah kamu perjuangkan! Bingung aku dengan cara pikirmu Marg, benar aku bingung! Juga mantan kamu sebelum-sebelumnya, si Mike, dia pacar pertama kamu, kan? Seharusnya sebagai yang pertama, dia itu spesial buat kamu! Kamu nggak tahu saja kalau sampai sekarang Michael masih suka kirim pesan padaku, menanyakan kamu. Aku bilang kenapa nggak kamu sendiri yang datangi Margee, dekati lagi, tapi dia kelihatannya ragu. Apa kamu sama sekali nggak ada rasa lagi sama dia? Dia juga cowok yang baik, kok. Setaraf sama si Jo! Daripada kamu mengharapkan si Ike yang nggak pernah tahu perasaanmu, bukannya lebih baik kamu pilih antara Mike atau Jo? Mereka pasti dengan senang hati menyambut kamu, Marg! Please lah, maksudku tuh, daripada kamu mengharapkan yang nggak pasti, pilih yang sudah pasti terima kamu, begitu lho. Asli, aku bingung sama kamu!"

Angie malahan menyerocos menyebutkan nama mantan-mantanku. Duh, bisakah dia diam?

"Ya sudah urus saja urusanmu sendiri ...," sahutku kesal.

"Ihh!!" Angie mencubit lenganku keras-keras. "Kalau begitu kenapa kamu tidak pernah menonton langsung pertandingan Formula Prime? Hari ini pertandingan di Goldstone, sejauh apa sih Birgham - Goldstone? Jangan bilang kamu tidak ada uang? Segeralah menabunglah, Marg. Lalu kamu nonton di sana, ajak ketemuan si Ike, tidak mungkin kan dia tidak senang lihat temannya ada yang datang dukung dia tanding. Tempo lalu sewaktu aku dan yang lain ramai-ramai menonton dia tanding, kamu tidak mau ikut sih."

"Ya waktu itu kan aku masih belum dapat pekerjaan Ngie, kamu rese sekali, sih?"

"Nah makanya! Karena kamu sekarang sudah punya, menabunglah! Datangi si Ike, kalau perlu kamu pakai pakaian yang seksi supaya dia gimanaaaa begitu melihatmu ...."

Apa-apaan! Memangnya aku wanita gampangan! Aku memelototi Angie, eh dia malah cengar cengir. Ufff! Gondok rasanya!



Bab 12 - Dukungan Sahabat

Aku Royce Beauregard.

Saat itu aku sedang senggang, dan berhubung pertandingan Formula Prime kali itu berlangsung di Goldstone, aku memutuskan untuk menemani Fez tanding. Ini kesekian kalinya aku menemani Fez di motorhome, dan aku pun sudah hafal dengan anggota-anggota tim GT Forrier yang selalu bersikap hangat menyambut kehadiranku.

Ketika aku baru saja tiba di motorhome, kulihat Fez keluar dari ruang istirahatnya, sudah berpakaian lengkap. Sudah siap tanding, rupanya. Dia langsung sumringah begitu melihatku, dan menyapaku dengan riang. Sahabatku yang satu ini memang selalu terlihat optimis, ceria dan bersemangat, apalagi pada pertandingan hari itu Fez mendapat kesempatan untuk memulai lomba dari posisi terdepan. Sungguh hal yang baik karena dengan begitu peluang Fez untuk bisa menang sangat besar.

"Hey, Bro! I’m glad you could make it today. Thanks!" katanya.

"Tumben sungkan begitu."

"Itu basa basi. Hey, bagaimana bahumu yang cedera, apa masih sakit?"

Aku tersenyum. "Much better, Fez. Tidak usah khawatir. Cuma cedera kecil kok."

"Benar sudah fit? Hari Kamis besok leg kedua semifinal Liga Champions, sayang kalau kau sampai absen, Brandt sudah di ambang kemenangan! Apalagi bulan depan Piala Euro."

"Aku ikut, Fez. Ini cedera kecil, tidak separah yang kau kira."

Fez mengangguk. "Bagus, deh. Well Royce, kau tidak akan menyesal sudah datang ke sini, kuyakin 1000%, aku PASTI berdiri di podium satu!"

"Amin, dan aku merasa bangga padamu."

"Itu sudah seharusnya!" Fez tersenyum lebar. "Alright, kutinggal dulu Royce? Sudah waktunya. Jangan lupa siapkan kamera, kalau sahabatku sendiri yang mengabadikan gambarku ketika aku sukses, rasanya jauh lebih berharga. Oke??"

Aku tertawa ringan. "Tenang, aku akan mencari tempat supaya bisa memotretmu dengan sudut yang paling bagus saat kau nanti berdiri di podium."

"That's cool! Oke, bye, I'll see you later mate!"

"See you Fez!"

Aku memerhatikan Fez bersiap, memakai penutup kepala, helm, lalu masuk ke dalam kokpit. Terlihat dia berbicara sebentar dengan salah satu anggota timnya, lalu tak lama dia membawa tunggangannya keluar, langsung menuju starting grid pertama.

Saingan berat Fez dari tim Glauber, Jose Rudolpho Alvarez, berada di grid keempat. Ada hal istimewa yang sejak kemarin menarik perhatianku. Isaac Renauld, pembalap dari tim Llinos Purvance yang notabene adalah tim kuda hitam, kemarin membuat kejutan pada dunia dengan sempat mencatat fastest lap, catatan waktunya bahkan melebihi catatan Fez, hanya saja catatan waktu Isaac yang tercepat itu terjadi ketika babak kualifikasi kedua. Jika saja dia mencatat waktu terbaik ketika babak kualifikasi ketiga, tentu saat ini Isaaclah yang berada di posisi terdepan! Dan dari hasil babak ketiga kualifikasi kemarin, Isaac hanya bisa menempati posisi ketiga. Tapi menurutku, prestasi Isaac makin ke sini makin mentereng, orang itu rupanya punya taji juga, tidak seperti anggapan Fez yang selalu menganggap rendah Isaac. Aku sebenarnya tidak begitu mengenal si Isaac Renauld ini, tapi karena dia punya wajah yang memang mirip dengan Fez, mau tidak mau aku jadi mengikuti perkembangan beritanya. Aku sendiri heran, bagaimana Ferris dan Isaac itu memiliki wajah yang mirip, apakah mungkin mereka bersaudara? Sementara Fez selalu beranggapan kemiripan wajah mereka hanya kebetulan belaka.

Pertandingan dimulai, Fez mengawali pertandingan dengan sangat mulus. Tanpa halangan berarti dia bisa memertahankan posisinya hingga setengah lap terlewati. Ini bagus, Fez tetap berada di paling depan, dan semakin dia memacu mobilnya semakin jauh jaraknya dengan pembalap di belakangnya, dan jika dia bisa mempertahankan posisi itu hingga 60 lap ke depan, dia tentu akan berdiri di podium satu seperti yang diyakininya. Tuhan memberkatimu, sahabatku.

Tapi rupanya pertandingan tidak semulus yang kukira. 15 lap setelahnya, langit berubah sedikit gelap, dan tak lama turun hujan dengan intensitas ringan. Strategi pit stop yang direncanakan tim bisa berubah, kataku dalam hati. Dan benar saja, Fez masuk ke pit stop dan langsung mengganti bannya dengan ban untuk trek basah, seperti yang dilakukan oleh pembalap lainnya. Tapi Fez dengan sukses bisa kembali ke lintasan dengan tetap memertahankan posisinya. Great work, Fez.

Ada sedikit perubahan di posisi sementara pembalap. Fez, tetap memimpin jalannya pertandingan, Alvarez yang sebelum masuk pit berada di posisi ketiga kini bisa berada di posisi kedua. Isaac Renauld tampaknya mengalami insiden kecil ketika mengganti ban, dia kembali ke lintasan dan menempati posisi keenam. Saat-saat menjelang pit stop dan setelahnya memang saat yang krusial dan menentukan posisi, baguslah Fez melakukan tugasnya dengan luar biasa.

Lap demi lap terlewati dan Fez tetap memimpin ... setidaknya sampai lap ke-58. Kulihat Fez sepertinya lengah sedikit, dia melibas tikungan dengan agak melebar, membuat Alvarez yang semenjak tadi menguntit di belakangnya bisa dengan mudah menyalip Fez. Fez terlihat langsung memacu mobilnya dan terjadilah adegan side by side antara Fez dan Alvarez, sang juara dunia lima kali. Pertarungan dua pembalap itu dimenangkan Alvarez yang dengan mulusnya melesat meninggalkan Fez di posisi kedua. Aha, kuyakin saat ini emosi Fez pasti naik.

Di sisi lain lintasan, kulihat Isaac Renauld di posisi keenam tergelincir dan masuk gravel. Mungkin trek masih licin karena hujan belum lama berhenti, menyebabkan ban mobil Isaac slip, atau bagaimana .... Untungnya kejadian itu tidak membuat mobilnya terbentur, dan selama mesin mobilnya tetap hidup, Isaac bisa tetap melanjutkan pertandingan yang hanya tersisa kurang dari 2 lap lagi. Ayo Isaac, rasanya excited melihat semangat dari tim kuda hitam sepertimu, tunjukkan kemampuanmu!

Tinggal satu putaran lagi, dah wah, kulihat Fez sangat beringas menekan dan menguntit Alvarez dari segala arah. Berusaha membuat Alvarez limbung sehingga Fez bisa mengovertake Alvarez, merebut kembali posisinya seperti semula. Ini merupakan tontonan yang sangat menarik. Dua pemuncak klasemen sementara pembalap, terlibat pertarungan memperebutkan posisi pertama, sementara race hanya tersisa satu putaran lagi.

Dan ... yak, chequered flag berkibar dengan posisi Alvarez tetap di posisi nomor satu, sementara Fez nomor dua. Mungkin memang belum jodohmu, Fez, untuk memenangi pertandingan ini. Tapi coba lihat catatan waktu yang kau buat, luar biasa. Selisih jarakmu dan Alvarez hanya terpaut 0,03 detik! Buatku kau tetap seorang pemenang.

Aku mengikuti tim berjalan ke parc ferme dan menunggu kedatangan tiga pembalap yang berhasil naik podium seri kali itu.

Fez tiba pertama kali di parc ferme, tim menyambutnya dan menyorakinya dengan riang, tapi Fez hanya melambaikan tangan sekadarnya.

Hmm, kulihat dari sorot matamu, ada perasaan kecewa dan marah. Ayolah, kau hanya berjarak 0,03 detik dari Alvarez, tapi hal itu pun tidak membuatmu puas. Setidaknya sapalah timmu yang sudah menunggu di sini. Sahabatku yang satu itu memang penuh obsesi, dan obsesinya harus terwujud, jika tidak, dia pasti akan suntuk berhari-hari. Ah, aku sangat mangenal tabiat Fez yang satu itu.

Ketika akhirnya kulihat secara langsung wajah Fez saat muncul di podium, aku semakin yakin, dia memang suntuk. Tapi sepertinya aku masih bisa mengerti. Selama 58 lap memimpin race, tapi pada akhirnya kau tidak keluar sebagai pemenang, tentu menyesakkan hati.

Selebrasi di podium untuk tiga pembalap tercepat hari itu usai, langsung dilanjutkan dengan gelaran konferensi pers. Aku menunggu Fez di area ruang istirahat pembalap di motorhome GT Forrier.

Tak lama Fez menghampiriku, sepertinya konferensi pers sudah selesai. Tapi wajah suntuk itu tidak akan hilang sampai seminggu ke depan, ya Fez?

"Suntuk sekali kau." Aku langsung berkomentar.

Fez menghempaskan badan di sampingku dan menghela napas. "Ya, hari yang buruk."

Aku lalu mengeluarkan kameraku dan mengunjukkan pada Fez foto dirinya ketika di podium tadi. "Lihat, aku sudah tepati janji akan ambil gambarmu, tapi apa! Wajah asem begitu, bukannya pasang wajah senang. Kapan lagi aku bisa ambil fotomu berdiri di podium?"

Fez menepis kameraku, sepertinya dia enggan melihat fotonya. "Bagaimana bisa tersenyum kalau aku melakukan sepersekian detik kesalahan tolol yang membuatku jadi loser seperti ini? Kampret."

"To err is human! Semua orang kan wajar melakukan kesalahan Bro, dan memang rezekinya Alvarez saja yang tepat waktu menyambut kesempatan yang terbuka di depannya."

Fez melirikku dengan sinis.

"Kau itu terlalu terobsesi, take it easy. Kau terjun ke dalam dunia ini karena kecintaan pada balap kan? Kalau kau selalu bersikap seperti itu, bukannya kau malah terbebani?”

“Kau tidak mengerti, Royce." Fez menghela napas. "Kau ini sudah berapa lama sih bersahabat denganku dan berapa lama kau paham seluk beluk dunia ini? Payah. Poinku dan Alvarez itu susul menyusul terus. Seandainya aku selalu menang, paling tidak Alvarez berada di bawahku, kan? Musim ini aku harus bisa mengalahkannya, itu targetku. Tidak bisa diganggu gugat. Apalagi seri kelima ini dilangsungkan di sini, tanah airku sendiri. Bisa-bisanya aku lengah dan membiarkan orang itu menyalipku tadi??”

Aku menggelengkan kepala, menghela napas. "Yea terserah, Fez. Yang bisa kukatakan, syukuri yang kau dapat .... Lihat kembaranmu, walaupun hasil race ini tidak sesuai dengan ekspektasi, tapi dia tetap bisa merayakannya dengan timnya."

Fez mengerutkan kening. "Siapa maksudmu kembaranku?"

"Renauld, yang mirip denganmu itu. Tadi kulihat dia masih bisa menebar senyum lebar begitu turun dari mobil. Padahal dia start dari posisi tiga, dan finish di posisi ketujuh. Nasibnya tidak sebaikmu, Fez, tapi dia masih bisa tersenyum. Tadinya posisi enam, lalu tergelincir dan jadi posisi kedelapan. Dalam waktu satu lap dia berhasil menyalip dan akhirnya finish di posisi ketujuh. Gigih juga kembaranmu itu kan?"

"Berhenti menyebut orang itu kembaranku, sialan kau. Dia bukan siapa-siapaku, aku tidak kenal."

"Oke, oke, fine."

"Well, ikutlah makan malam dengan tim nanti, Royce. Kau tidak buru-buru mau pulang kan? Toh aku masih ingin mengobrol banyak denganmu setelah urusan di sini selesai."

"Alright, dengan senang hati."



Bab 13 - Permintaan Aneh

Masih dengan Royce Beauregard di sini.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya aku dan tim GT Forrier berangkat menuju kafe yang tidak jauh dari Goldstone. Kafe yang sepertinya sudah menjadi langganan tim GT Forrier. Setibanya di sana, datang lagi rombongan pengunjung, dan setelah diperhatikan, well, itu rupanya rombongan dari tim Llinos Purvance, timnya si Isaac Renauld. Tumben mereka makan di sini, kataku dalam hati. Orang-orang tim Llinos Purvance menyapa tim GT Forrier dengan ramah dan kami balas menyapa mereka. Untungnya kafe yang kami kunjungi ini cukup luas, sehingga tidak ada masalah berarti jika ada puluhan orang dari dua tim mobil tumpah ruah di sini.

Kami makan dan minum sepuasnya. Tim bersulang untuk raihan poin yang diperoleh Fez dan Shawn Renan, yang merupakan hasil kerja sama mereka juga. Sementara Fez bersulang untuk kekalahan yang didapatnya dari Alvarez. Astaga, kupikir, di saat teman-teman timnya merayakan hal positif yang didapat, Fez malah merayakan kekalahan ... manusia satu ini memang rada-rada.

Kulirik Fez yang duduk di sampingku, dia tersenyum-senyum sendiri sambil menatap ponsel. "What the hell, Bro?"

Fez cengar-cengir. Dia menatapku dengan pandangan mata berbinar dan wajah berseri, air mukanya sudah berubah lagi sekarang. "Kau nanti mampir ke tempatku? Mampirlah, malam masih panjang, saatnya bersenang-senang, sahabatku."

Aku mengerutkan kening, menatap sahabatku curiga. "Aku yakin kau pasti memanggil pacarmu. Ah. Atau mungkin pacar-pacarmu, untuk menemanimu malam ini. Ya, kan? No thanks."

Fez terbahak. "Kau ini! Kenapa sih selalu menolak kalau diajak senang-senang, heh? Akan ada tiga wanita seksi malam ini, walaupun aku dengan mudah menaklukkan mereka sendirian, tapi berbagi itu baik, kan? Apalagi kau sahabatku, masa aku senang-senang sendirian, sementara sahabatku kedinginan di rumahnya! Ayolah!" Fez meninju bahuku. "Kapan lagi, mumpung aku lagi murah hati!"

Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tidak pernah berminat bermain seks seperti yang kau lakukan, Fez. Silakan, go ahead, bermainlah sepuasmu, tapi jangan ajak-ajak."

Fez menaikkan alis matanya. "Next time akan kucari yang potongannya seperti Audrey deh ... biar kau minat. Bagaimana?" katanya masih sambil cengengesan.

"Jangan bawa-bawa Audrey."

"Aku bingung denganmu, bisa ya kau tahan? Sudah lima tahun, enam tahun mungkin, tapi sampai sekarang aku tidak pernah lagi melihatmu mendekati wanita?"

"Kau tahu alasannya, Fez, untuk apa diungkit-ungkit."

"Bukannya begitu. Hey Royce, ada milyaran wanita di dunia ini, kenapa tidak ada satu pun yang bisa membuatmu tertarik? Sudahlah, yang sudah pergi diikhlaskan saja, dia kan tidak akan pernah hidup lagi, itu logis! Dan kau, sebagai pria kau pasti suatu saat akan mencari pendamping hidup juga, tapi? Aku takut lama-lama kau malah berubah orientasi."

Aku mendengus. "Ya Tuhan, itu tidak mungkinlah. Bicara apa kau?? Aku tetap normal! Jangan samakan aku denganmu! Aku sekarang sedang cari pasangan yang tepat, tapi bukan dengan cara seperti yang kau lakukan! Bermain seks dengan banyak wanita lalu kau tinggalkan. Sorry, aku tidak suka cara itu."

Fez lagi-lagi menyeringai lebar. "Seks itu terlalu nikmat untuk kutinggalkan, Bro. Seks itu indah. Wanita itu ciptaan yang paling sempurna. Wanita itu surga di atas bumi! Aku mencintai wanita sebagaimana aku mencintai diriku sendiri. Kau paham betul bagaimana pandanganku terhadap wanita!"

"Ya ya ya ya .... Kejar kesenanganmu sendiri."

Fez menghela napas panjang sambil menyebut namaku. “Royce, Royce. Diajak senang-senang malah menolak. Karatan tuh lama-lama ...."

Audrey. Audrey. Kenapa Fez mesti ungkit-ungkit Audrey Wilson? Gadis manis yang menjadi pacarku semenjak high school. Aku sangat menyayangi gadis itu, dan aku berencana menikahinya begitu ia lulus kuliah. Tapi ... baru satu tahun Audrey menjalani masa perkuliahan, ia dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya. Hanya sampai di situ jodoh kami, dan aku sadar aku masih memiliki hidup yang pantang disia-siakan hanya karena kepergiannya yang sempat membuatku down. Dan sampai sekarang, memang benar kata Fez, aku tak pernah lagi berkencan dengan seorang wanita. Itu karena aku masih terbayang Audrey. Aku belum menemukan wanita yang tepat untuk kucintai, seperti rasa cinta yang kurasakan pada Audrey. Katakanlah aku ini manusia masa lalu, ya mungkin memang benar seperti itu. Tapi buatku cinta itu tidak bisa dipaksakan .... Toh aku tidak diburu waktu untuk segera menikah kok, aku tahu jodohku sudah ditentukan oleh Tuhan, dan suatu saat aku pasti akan menemukannya.

***

Seseorang memanggil-manggil Fez ketika aku dan yang lain bersiap kembali ke rumah masing-masing. Aku menoleh, dan mendapati Isaac Renauld tergopoh-gopoh mendekatiku dan Fez.

"Ah, Ferris. Maaf aku menahanmu sebentar, ada yang ingin kutanyakan," kata Isaac. Dia menoleh padaku, lalu mengulurkan tangan, aku menyambut uluran tangannya. "Hai, Royce, apa kabar?"

"Baik, thanks. Apa perlu kutinggal kalian berdua supaya lebih enak mengobrol?" sahutku, agak merasa tidak enak lantaran mungkin saja Isaac bermaksud bicara empat mata dengan Fez.

Isaac tertawa ringan. "Tidak perlu, kau di sini saja, bukan hal istimewa kok."

"Ada apa ya?" tanya Fez kemudian.

"Begini, Fez. Apa kau ada waktu? Aku ingin memastikan kapan kira-kira kau senggang, aku ingin mengajakmu bertemu dengan orang tuaku, mereka sepertinya sangat penasaran dengan kemiripan wajah kita," ujar Isaac.

Heh?

Kutatap Isaac, yang tampaknya salah tingkah usai berkata demikian. 

"Ah, tapi itu pun kalau kau tidak keberatan, Fez," ujar Isaac lagi.

Fez terlihat bingung. "Jadi maksudmu, orang tuamu penasaran denganku karena wajah kita mirip? Dan mereka ingin bertemu? Lucu."

Salah tingkah Isaac makin terlihat jelas. "Maafkan. Aku tahu ini permintaan yang aneh. Kalau bukan orang tuaku yang meminta hal ini, aku tidak akan mengusikmu, Fez."

Kedua orang ini memang sangat mirip. Bentuk wajah, alis, mata, hidung, hingga bibir. Seingatku, setelah semua orang menyadari kemiripan wajah kedua orang ini, kusadari Fez tidak pernah lagi bercukur. Kurasa Fez sendiri sadar kemiripan wajahnya dengan wajah Isaac. Saking miripnya aku merasa semakin yakin, kedua orang ini pasti berhubungan satu sama lain, tidak hanya sekedar kebetulan berwajah mirip. Apalagi, aku tahu latar belakang keluarga Fez, dan rahasia-rahasianya .... Kuyakin Isaac ini adalah kunci dari jawaban semua rahasia Fez. Tapi entahlah, mungkin terlalu cepat berkesimpulan seperti itu.

Fez tersenyum. "Yeah, sebenarnya aku besok dan lusa senggang. Terserah, atur saja kapan dan di mana. Toh tidak ada salahnya berkenalan dengan orang baru."

"Benarkah??" Isaac tersenyum lebar. "Thanks, Fez. Bagaimana kalau lusa, kita makan siang di Henry’s Cafe?"

Fez menaikkan alis, mengangguk. "It's oke."

"Great! I'll see you, Fez, thank you! Royce, aku duluan?"

"Bye, Ike," sahutku.

Aku menoleh pada Fez yang masih terdiam lama memandangi punggung Isaac yang menjauh. Aku tahu dia pasti memikirkan sesuatu. "Apa kecurigaan kita sama?" tanyaku kemudian.

"Apa? Kau sangka apa?"

"Semua orang setuju wajah kalian berdua mirip, bukan hal yang aneh kalau ternyata terbukti kalian berdua bukan hanya sekadar kebetulan mirip, tapi berhubungan satu sama lain. Apa kau tidak pernah berpikir begitu?"

"Ya, kau bisa bicara seperti itu karena kau tahu rahasia kelam hidupku. Tapi aku tidak pernah berani memikirkan soal kemiripan wajahku dan orang itu. Karena semakin berpikir semakin aku merasa tidak tenang. Dan lagi pula kenapa aku harus membuang-buang waktu memikirkan hal yang tidak penting?? Dia bukan siapa-siapaku, itu yang kuyakini."

Dari raut wajah sahabatku ini, aku tahu dia tidak merasa senang menyanggupi permintaan Isaac barusan. 

"You got pissed off," komentarku.

Fez menghela napas, menggeleng-gelengkan kepala. "Screw it. Jangan bahas lagi. Saatnya aku bersenang-senang. Kau benar tidak mau ikut, Royce?? Kutanya terakhir kali, nih!" katanya sambil merangkulku.

Aku meringis. "No thanks, kau habiskan saja sendiri pacar-pacarmu itu. Aku pantang mengganggu kesenanganmu."

"Begitukah?? Oke nanti kusampaikan salam darimu saja ya?" Fez tergelak, sepertinya puas sekali bisa menggodaku.


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.