TVE (1-2) | INA
The Violet Echo
Bab 1 – Nine Paintings
Mobil hitam itu melaju tanpa suara, menyusuri jalur belakang yang tak bertanda. Tak ada plat nomor. Tak ada rombongan pengawal. Hanya satu kendaraan, satu misi. Sopirnya tak banyak bicara, dia memang bukan ditugaskan untuk itu. Dia hanya tahu ke mana harus membawa Isaac, dan kapan harus berhenti.
Di dalam, Isaac Renauld duduk di baris belakang. Tangan kirinya bersandar di bingkai jendela, jari-jarinya mengetuk pelan kaca yang berembun. Leighryn sedang kelabu, seperti biasa. Awan menggantung berat di atas horizon, seolah ikut menyimpan rahasia yang belum selesai.
Isaac memandang kosong ke luar. Tidak ada musik, tidak ada suara dari sistem hiburan. Hanya denting halus jam di pergelangan tangan kirinya, yang berdetak seperti hitungan mundur.
Beberapa detik kemudian, gerbang hanggar terbuka perlahan. Sorotan lampu putih menyapu bagian depan mobil, lalu ke sisi-sisi sayap pesawat yang sudah menyala. Jet pribadinya, satu-satunya tempat di dunia yang tidak menuntutnya untuk menjelaskan apa-apa.
Mobil masuk ke dalam hanggar seperti biasa, langsung ke titik boarding. Roda-roda berhenti dengan presisi di garis tak terlihat yang hanya kru senior di bandara ini yang tahu.
Pintu belakang terbuka.
Isaac turun tanpa tergesa. Diikuti asisten setianya yang tampak agak kerepotan menjinjing nyaris selusin lukisan yang terbungkus rapi. Angin dari ventilasi hanggar membuat coat hitam panjangnya berkibar perlahan, seperti sulur asap yang tahu ke mana harus pergi. Di kakinya, sneakers gelap yang tidak menyala, tidak berisik. Hanya meninggalkan langkah-langkah sunyi di lantai baja dingin.
Pilot berdiri di bawah tangga jet, memberi anggukan ringan. Tidak ada kalimat sambutan. Tidak perlu.
Isaac membalas dengan satu lirikan, lalu menaiki tangga jet. Empat langkah. Lima. Enam. Satu tangan menyentuh pagar, tapi tidak menggenggam. Ia berhenti sejenak di anak tangga terakhir, menoleh sekilas ke langit Leighryn yang masih muram.
"Parice," katanya pelan, seperti bukan pada siapa-siapa.
Interior jet pribadi menyambutnya dengan kehangatan warna walnut yang elegan, menciptakan kesan tenang namun berat. Isaac menanggapi sapaan pramugari dengan senyum tipis, lalu melangkah pelan menuju kursi di dekat jendela. Di sisi kabin, sembilan lukisan tertutup rapi telah ditata sesuai instruksinya. Barang-barang itu tak pernah boleh jauh dari pandangan mata.
Asistennya mengangguk penuh pengertian, dan Isaac membalas dengan anggukan singkat. Pandangannya tertumbuk pada tumpukan kanvas yang tertutup, masing-masing mengandung bukan hanya nilai artistik, tapi juga potensi kehancuran yang tak terukur. Lukisan-lukisan itu seperti bom waktu dalam bingkai kayu … indah, misterius, sekaligus berbahaya.
Bahunya turun perlahan, seolah-olah beban tak terlihat menempel dan tak ingin pergi. Ia menarik napas panjang, berat, mencoba menenangkan pikirannya yang bergejolak. Dari saku mantelnya, ia mengeluarkan selembar surat yang telah terlipat rapi. Dalam diam, Isaac mulai membacanya. Huruf demi huruf, seolah mencari petunjuk atau penghiburan di antara baris-barisnya.
"Leighryn, 1 September 2020.
Hei, Ike. Bagaimana kabarmu?
Kuharap kau sudah pulih dari duka dan sudah kembali bersemangat menjalani hidup. Semangatlah! Masih ada sirkuit yang belum mampu kau taklukkan. Kau harus bisa menaklukkan semua sirkuit yang ada di dunia. Kau harus terus membalap, Ike. Menjadi pembalap papan atas yang bergengsi, disegani dan dikenal di seluruh dunia ... itulah tugasmu. Ukirlah namamu dalam catatan sejarah sebagai seorang tokoh, sebagai pembalap kenamaan yang namanya akan selalu dikenang bahkan sampai seratus tahun ke depan.
Jangan nodai nama baik Renauldmu seperti yang telah kulakukan. Dan atas dasar ini pula, sekali lagi, aku memohon padamu untuk mendidik dan mengawasi anakku ... jangan sampai dia menjadi sepertiku. Dia harus tumbuh dengan baik, dalam lingkungan yang penuh kasih ... jangan sampai ada hal yang merusak dirinya. Sebagai turunan seorang jahat sepertiku, aku sungguh cemas dia akan mewarisi DNA-ku yang buruk — semoga tidak, aku sungguh berdoa semoga dia tidak mewarisi DNA jelek. Sementara kau, kau adalah pria baik yang memiliki semua sifat positif yang bahkan aku sendiri terkadang iri dengan yang kau miliki.
Aku berharap kaulah yang menjadi sosok panutan anakku kelak. Hollie selalu menolak tiap kali membahas permintaanku agar ia menikahi pria yang baik, agar anakku juga mendapatkan kasih sayang ayah secara utuh dan tulus. Karena ia tidak pernah mau membahas itu, itu membuatku sedikit cemas, apa yang akan terjadi nanti? Masa Hollie akan menjadi single mom selamanya?
Sempat terpikir olehku, mengapa bukan kau saja yang mendampingi Hollie? Kurasa kau pantas untuknya, dan kurasa ia pantas untukmu. Kalau saja demikian, kecemasanku sirna. Aku tahu aku bisa mengandalkan dirimu untuk segala hal. Tapi, kalau misal pun kau tidak berminat padanya ... ya, aku juga tidak bisa memaksa. Semua hal yang dilakukan secara terpaksa tidak akan pernah berakhir baik.
Aku hanya bisa berharap yang terbaik. Maka dari itu, sebagai permintaanku yang terakhir, kuharap kau bersedia membantu Hollie mendidik anakku kelak.
Kalau dipikir, aku terlalu banyak permintaan ya? Ini itu semuanya kau yang urus. Tak apalah, kapan lagi aku bisa merepotkanmu? Hahaha.
Thanks ya, Isaac. Thanks, atas kesediaanmu direpotkan olehku. Thanks, atas bantuanmu selama ini. Thanks, atas penerimaanmu, tak peduli senegatif apa aku, tapi kau masih mau menerimaku dan menganggapku sebagai saudara. Thanks, atas semua perhatianmu. Thanks, telah membuatku menyadari kesalahanku. Thanks, atas waktumu yang berharga. Thanks, atas semua kenangan ... kau masih ingat saat-saat mendebarkan ketika kita side by side di sirkuit? Saat kita beradu otot memperebutkan trofi Juara Dunia Pembalap? Aku tidak akan pernah lupa! Thanks atas semuanya, Isaac.
Kuharap kau berbahagia selalu.
Regards,
Fez."
Seulas tipis senyum terukir di wajah Isaac. Senyum yang menyimpan sedih, getir, kecewa, marah, juga luka.
Drama kelam yang dipelopori Ferris Rutherford memang telah resmi berakhir, tapi jejaknya masih membekas. Luka dan trauma yang ditinggalkan tak serta-merta menghilang.
Di luar jendela, kerlip lampu kota bersaing dengan gelap yang perlahan merambat di langit. Indah, kontras. Nyaris seperti lukisan. Sesaat, Isaac nyaris lupa pada luka yang baru saja menyeruak. Warisan pedih dan beban wasiat dari Fez yang kini berada di pundaknya.
"Isaac, izin melapor. Manajer Claire sudah kirim lokasi pertemuan. Claire setuju bertemu malam ini," kata asistennya, Steve Barlow, sambil sedikit membungkuk, menunjukkan isi pesan di layar ponselnya.
Isaac melirik sekilas dan mengangguk. “Good. Lebih cepat selesai, lebih baik.”
“Saya siapkan dulu barang yang harus Anda bawa,” ujar Steve, melangkah ke arah tumpukan lukisan.
Namun tangan Isaac lebih dulu bergerak, menghentikannya. Gerakannya cepat, nyaris tak terlihat, refleks khas seorang pembalap kelas dunia.
“Biar aku ambil sendiri nanti,” katanya tenang.
Steve terdiam, terpukau, sekaligus heran. Ada sesuatu pada cara Isaac memperlakukan lukisan-lukisan itu. Seolah bukan sekadar karya seni, tapi artefak berharga milik negara yang tak ternilai.
“Kau ... yakin? Saya cuma ingin membantu, jangan sampai lukisan tertukar,” ujar Steve, ragu-ragu. “Atau, kalau Anda izinkan, saya bisa bantu mencocokkan obyek-obyek lukisan ini dengan daftar nama yang saya pegang.”
Isaac menoleh spontan. Tatapannya menusuk, tajam, namun hanya sesaat sebelum ia kembali memalingkan wajah.
“Semuanya sudah kubungkus rapi dan kuberi label. Tak ada yang keliru,” jawabnya datar. “Dan kau tidak boleh melihatnya. Kau terlalu muda. Terlalu polos. Terlalu penuh harapan.”
Steve mengerjap, tertegun. “Saya tiga tahun lebih tua dari Anda, sebenarnya …,” gumamnya pelan. “Tapi baiklah. Noted.”
Beberapa saat kemudian, Steve kembali. Kali ini ia menepuk pelan bahu Isaac, lalu berbisik, suaranya lebih lembut, nyaris bersahabat.
“Hey, Isaac. Anggap saja sekarang aku bukan asistenmu. Aku cuma teman bicara. Orang yang kau percaya selama ini.”
Isaac menoleh, bingung menatapnya.
“Ceritakan, apa sebenarnya isi lukisan-lukisan itu? Kenapa kau bersikeras menjelajahi dunia hanya untuk menyerahkannya langsung ke para model? Kalau hanya lukisan biasa, bukankah kau bisa kirim pakai ekspedisi?”
Isaac menarik napas panjang. Pandangannya menerobos jendela, menatap kosong ke arah langit malam yang mulai menelan cahaya.
“Melihat caramu memperlakukan lukisan-lukisan itu … melihat destinasi ‘wisata’ kita yang nggak biasa ini … dan sembilan nama perempuan yang ada di daftar yang aku pegang .…” Steve menatap Isaac dengan ekspresi penuh teka-teki. “Aku nggak bisa menahan diri untuk nggak mikir yang aneh-aneh. Mungkinkah … itu lukisan yang menampilkan ... kulit seratus persen?”
Rahang Isaac menegang. Tapi ia tetap diam, memilih bersandar dan memejamkan mata, seolah tertidur.
Tak menyerah, Steve mengguncang pelan bahunya. “Ayolah! Kau bisa percaya padaku!” bisiknya penuh semangat, matanya berbinar seperti baru menemukan harta karun tersembunyi. Wajahnya berseri, mirip remaja yang bertemu idolanya untuk pertama kali.
Isaac berdecak keras, kesal. “Kau berniat menjadi seperti media? Menguliti aku habis-habisan selama setengah tahun terakhir ini?”
Pertanyaan itu langsung memukul rasa bersalah di dada Steve. Ia tahu betul tekanan yang dialami Isaac sejak penangkapan Ferris Rutherford. Sebagai asisten yang selalu berada di sisinya, Steve menyaksikan sendiri bagaimana media massa dan publik haus akan drama keluarga itu. Obsesi yang berlebihan, penuh spekulasi dan gosip, membuat trauma Isaac semakin dalam.
Belum lagi ulah netizen yang membumbui tragedi itu dengan teori konspirasi dan glorifikasi tak masuk akal terhadap Ferris, membangun bola salju fitnah yang tak bisa dihentikan.
Steve menunduk. “Baiklah.”
Isaac membuka mata, menatap lurus ke depannya. Suaranya terdengar dingin dan mantap. “Asal kau tahu, Steve ... yang tahu soal ini cuma aku. Sampai orang lain tahu ... taruhannya adalah reputasi mereka di mata dunia. Kalau hidup mereka hancur, dan kehancuran itu datang dari mulutku, apa kau sanggup tanggung jawab?”
Kata-kata itu bukannya membantah pertanyaan Steve. Justru sebaliknya, kalimat itu cukup jadi jawaban. Jawaban yang tegas, diam-diam mengiyakan.
Steve terdiam. Semua itu masuk akal. Isaac tidak akan pernah mengonfirmasi secara langsung. Tapi dari nada suaranya, dari pilihan katanya, Steve tahu ia harus berhenti bertanya.
Ini bukan sekadar perjalanan pribadi. Ini adalah misi global dengan taruhan harga diri sembilan perempuan. Selebriti yang selama ini dikenal sebagai ikon sempurna: dicintai publik, panutan banyak orang, tanpa cela di mata media.
Steve melirik daftarnya sekilas. Nama-nama besar. Beberapa dari mereka bahkan pemenang penghargaan bergengsi. Kehidupan mereka selalu tampak bahagia dan terjaga. Jika lukisan-lukisan ini bocor, satu saja, bukan hanya reputasi mereka yang hancur, tapi juga beban Isaac akan makin tak tertanggungkan.
“Aku paham, Isaac. Maaf, aku sempat terlalu kepo.”
Isaac hanya mengangguk pelan. Ia membiarkan Steve kembali ke tempat duduknya sendiri, tanpa kata.
Dan saat keheningan kembali menyelimuti kabin, pikiran Isaac melayang. Tanpa permisi, kenangan beberapa hari lalu datang menyergap ketika ia menceritakan pada Hollie bagaimana hubungannya dengan Amy gagal
FLASHBACK
Suara lembut Hollie terngiang di telinganya.
"Kamu kelihatannya lelah sekali, Ike. Kenapa kamu tidak pergi berlibur? Senangkan dirimu sendiri."
"Benarkah aku terlihat seperti itu?"
"Iya, terlihat jelas sekali." Hollie mengangguk.
"Kamu sudah melewati tahun-tahun yang melelahkan. Yang menyita banyak waktu dan terutama menyita pikiranmu. Aku bisa merasakan betapa sulitnya melewati kejadian-kejadian yang terjadi padamu ... karena sedikit banyak aku juga merasakannya. Tapi aku bisa melewatinya dengan baik, karena kehadiran Orlando mungil di sampingku bisa menghibur aku dan menghangatkan hatiku. Tapi kamu? Kamu sendirian melewati itu semua. Kehadiran Amy sebagai pacar bukannya membuatmu jadi lebih baik, tapi malah sebaliknya. Kupikir kamu harus liburan, Ikey. Supaya kamu bisa bersantai sejenak. Toh, masih masa liburan, kan?"
Isaac tersenyum tipis. "Kurasa kamu benar, Hollie. Berjemur di pantai tropis sepertinya menyenangkan."
"Wah, pasti asyik!" sahut Hollie. "Pergilah, Ike! Berlibur dan bersenang-senang merupakan obat stres yang paling mujarab!"
Isaac teringat sesuatu. "Sepertinya ... ini memang saat yang tepat, sekalian aku pergi berlibur," gumamnya. "Hollie, kamu ingat lukisan-lukisan yang Fez buat? Yang membuatmu sempat marah besar padanya?"
Hollie terdiam, ia merengut. "Iya, kenapa?"
Isaac merasa tidak enak begitu menyadari perubahan mood Hollie. "Maaf, bukannya ingin mengingatkanmu pada hal yang tidak mengenakkan untuk kamu. Tapi kamu tahu kan, Fez menyerahkan semua lukisan itu padaku, dan memintaku untuk mengembalikannya pada pemiliknya?" tanyanya.
"Kamu ... masih simpan lukisan-lukisan itu?"
"Tentu. Masih ada di ruang studio lukis Fez di mansionnya. Selama ini keadaan tidak memungkinkan untuk bergerak dan mengirim lukisan-lukisan itu kembali pada yang punya. Dan ... kupikir ada baiknya aku bergerak sekarang, hitung-hitung aku sekalian berlibur. Mencari suasana baru."
Hollie mengangguk. "Aku mengerti," katanya. "Lalu ... itu berarti kamu akan keliling dunia? .... Dan ... dan bertemu dengan wanita-wanita telanjang yang dilukis Fez?"
Isaac tak berkata apa-apa. Rahangnya mengeras, tapi kilatan samar di pipinya membocorkan apa yang tak ingin dia tunjukkan. Dia membetulkan posisi duduknya, berusaha tetap tenang.
Hollie mengulum senyum. "Sepertinya akan menjadi perjalanan yang menyenangkan, Ikey," godanya.
"Hei, aku tidak punya pilihan! Mau bagaimana lagi?"
"Hobby Fez memang aneh-aneh saja ... dia malahan melibatkan kamu juga. Aku sangsi kamu kuat iman menghadapi wanita-wanita itu, Ike."
Isaac menghela napas panjang. "Aku bukan pria yang mudah tergoda pada wanita. Akan kubuktikan hal itu padamu, Hollie, supaya kamu berhenti menggodaku."
"Ookay, kita lihat saja nanti." Hollie mengedipkan sebelah mata pada Isaac, lalu duduk bersandar sambil menyilangkan kaki.
"Perlu bantuanku atau tidak? Kamu berhasil mengenali lukisan-lukisan itu?"
"Terima kasih, masih bisa kutangani sendiri kok." Isaac tersenyum.
"Oh! Tololnya aku ... tentu saja kamu tidak perlu bantuan siapa pun. Mengamati lukisan erotis adalah sebuah kenikmatan tersendiri dan tentu saja orang lain tidak boleh ikut campur!" Hollie melempar kerlingan mata pada Isaac.
Isaac melengos dan tertawa. "Hollie! Kamu ini kenapa tidak percaya padaku?"
"Aku percaya ... bukan masalah percaya atau tidak, Ikey. Hanya persoalan primer yang aku tidak yakin seorang Isaac Renauld yang terkenal kolot dalam hal seks bisa menahan diri ketika harus bertemu secara langsung dengan wanita-wanita yang dilukis telanjang oleh Fez," ujar Hollie.
"Lagi pula ... Fez adalah seorang seniman yang sangat berbakat. Lukisanku saja hasilnya seperti hasil foto, bukan seperti lukisan. Sangat nyata, jelas, permainan warna yang begitu hidup sehingga tampak seperti sungguhan. Kurasa orang seperti Fez dengan bakat yang seperti itu hanya ada satu orang saja di dunia ini."
"Kamu benar, Hollie. Bakat alami Fez memang tidak perlu diragukan."
"Lalu bagaimana denganmu, Ikey? Kamu yakin akan survive selama menempuh perjalanan keliling duniamu?" Lagi-lagi Hollie mengerling.
"Fez itu ... sangat tampan dan bujuk rayunya begitu membuai. Apa yang dimintanya itulah yang dia dapatkan. Kurasa keadaan yang kualami ketika Fez merayuku untuk melukis diriku, juga dialami oleh wanita-wanita itu. Terbuai akan bujuk rayu ... akan perlakuan Fez yang begitu piawai dalam menyentuh wanita."
"Cukup, Hollie. Aku tidak ingin mendengar hal itu."
Namun Hollie tetap melanjutkan, "Lalu coba bayangkan, Ike. Begitu Fez selesai melukis mereka, Fez langsung menghilang atau langsung memutuskan hubungan dengan mereka, lalu pergi begitu saja. Tidak ada kabar sama sekali ... sementara mereka pasti cemas juga karena mengetahui lukisan tubuh mereka entah ada di mana. Lalu tanpa disangka-sangka, ada seorang pria baik hati yang mau mengantarkan lukisan-lukisan itu kembali pada yang punya! Dan pria baik hati itu tidak lain adalah saudara kembar Fez sendiri ... yang memiliki kemiripan fisik yang hampir 100% dengan Fez. Yang dengan rela menempuh ribuan mil untuk bertemu dengan mereka dan menyerahkan lukisan itu masing-masing. Aku berani jamin, hanya ada dua macam reaksi yang akan mereka tunjukkan padamu, Ike."
Isaac diam memandangi Hollie, menunggu Hollie menyelesaikan ceramahnya.
"Satu. Dia yang muak karena tidak terima diperlakukan sedemikian rupa oleh Fez. Yang sakit hati karena ulah Fez. Yang pasti akan menyambut kamu dengan jutek dan kasar. Lalu, dua. Dia yang masih terjerat hatinya pada Fez. Yang merindukan kedatangan Fez dalam hidupnya lagi. Yang mungkin, mungkin tanpa ragu akan maju duluan dan merayu kamu, Ikey. Mengajak kamu tidur dengannya. Demi wajah Fez yang terpampang nyata pada wajahmu."
Rasa tak nyaman menghinggapi Isaac, duduk pun terasa canggung. Sesekali dia mengusap wajah, mencoba menjernihkan pikirannya.
Bab 2 – Grand Tour (of Regret)
PRESENT TIME
Isaac menggeleng pelan, seolah mencoba menepis gugup yang diam-diam mencengkeram. Di benaknya berkelindan segala kemungkinan. Absurd, berat, dan tak terdefinisi … yang menantinya begitu pesawat ini mendarat di Parice.
Dia menolak larut dalam bayangan itu. Ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Ia butuh pengalih.
Saat itulah ia teringat. Dua hari lalu, dia sengaja membiarkan satu email tak tersentuh. Dari Friedrich Sheppard, prinsipal tim Glauber. Isaac mengambil tablet, membuka kotak masuk, dan menemukan pesan itu dengan mudah. Nama pengirimnya saja sudah cukup untuk membuat otot rahangnya mengencang.
Friedrich, pria berambut abu-abu dengan sorot mata tajam seperti pisau bedah. Kacamata hanya menambah kesan intelektual, bukan menyamarkan ancaman yang ia bawa dalam setiap kalimatnya.
Subjeknya jelas dan seperti biasa. Dingin, efisien, dan bernada perintah:
Subjek: Pra-Musim & Komitmen Teknis 2021
Dengan malas, ia klik.
Halo Isaac,
Saya harap liburanmu berjalan cukup menyenangkan. Meski seperti yang kamu tahu, tidak semua orang punya waktu sebanyak itu untuk beristirahat.
Isaac mendengus pelan. Tentu saja itu kalimat pembuka favorit Friedrich. Sopan tapi menyindir, tipikal pria dengan ego sebesar monumen kemenangan timnya sendiri.
Beberapa hal perlu diperhatikan agar kita tidak mengulang kesalahan kecil musim lalu:
🔹 Sesi Simulator
Jadwal sim awal telah disiapkan untuk tanggal 8–12 Januari. Kehadiran kamu dianggap sebagai hal yang sudah pasti, jadi mohon atur ulang hal-hal pribadi yang mungkin bentrok.
🔹 Perubahan Teknis
Akan ada penyesuaian pada sistem brake-by-wire dan mapping unit daya. Kita semua tahu kamu sensitif soal ini, jadi lebih baik kamu pelajari data awal yang dikirim oleh Chief Engineer minggu depan. Harap tidak ada kejutan saat tes pramusim.
🔹 Struktur Debrief Baru
Karena beberapa insiden komunikasi musim lalu, debrief akan dibagi ulang. cc ke Fabio Ortolani agar kalian bisa saling memahami batasan masing-masing. Kita butuh performa, bukan opini.
🔹 Kegiatan Media & Komitmen Tim
Rilis livery 2021 direncanakan 10 Februari. Wajib hadir, tanpa kecuali. Tim komunikasi akan menghubungi kamu setelah Tahun Baru.
(Dan ya, ini bukan sekadar formalitas.)
Kalau kamu ada kendala logistik atau ingin berdiskusi, silakan—tapi mohon lakukan itu jauh sebelum Januari.
Isaac hampir menutup email ketika matanya menangkap bagian paling menjijikkan di ujungnya.
NB: Isaac, seharusnya sudah tak ada lagi alasan buatmu untuk mangkir dari acara media atau malah absen dari race week. Benar? Si pembunuh yang mencoreng reputasi dunia motorsport itu akhirnya membusuk di neraka. Hal yang memang sungguh layak dan sepantasnya. Kau tidak bisa bayangkan sehancur apa rekan sesama prinsipal, yang sebelum ini berjasa membangun karier seseorang, namun kemudian berubah jadi saksi tragedi. Bagaimana reputasi dirinya dan tim yang beliau kembangkan dengan keringat dan darah selama ini? Runtuh. Meski saya sering bersitegang dengannya, tetap itu tidak mengubah respek saya terhadapnya. Kau sangat paham siapa yang saya maksud.
Sekarang kau tidak ada keharusan menemani orang itu lagi, atau menemani orang tua, atau siapapun. Jadi saya minta, alihkan atensimu sepenuhnya pada tim. Glauber butuh pembalap yang punya rasa urgensi. Jangan buat tim ini terlihat seperti sedang menyesuaikan diri denganmu. Mulai sekarang, kamu yang menyesuaikan diri dengan Glauber.
Sampai jumpa di jalur simulator.
Kita lihat siapa yang siap lebih dulu.
Salam,
Friedrich Sheppard
Team Principal
Glauber FP
Sekali baca.
Isaac tidak berkedip.
Lalu dia mendengus. Pelan. Hampir menyerupai tawa, tapi getir.
This bastard ….
Matanya kembali ke satu baris: “kau sangat paham siapa yang saya maksud.”
Garis rahangnya mengeras, kaku. Dia tahu Friedrich sepenuhnya benar.
Gerhard Brautovich, prinsipal GT Forrier, tim yang pernah menaungi Ferris Rutherford sebelum tragedi itu, kini tengah sibuk membereskan reruntuhan reputasi. Bukan karena bersalah, tapi karena setiap kali nama Ferris disebut media, nama tim ikut terseret. Satu kalimat saja: “Ferris Rutherford, mantan pembalap GT Forrier,” cukup untuk membuat sponsor mundur dan citra tim hancur pelan-pelan.
Isaac menghela napas. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Matanya tetap tajam. Tapi dadanya perlahan naik-turun, mengatur tempo. Menahan dorongan emosi yang ingin meledak.
Kau pikir dengan nulis begini aku bakal terpancing?
Aku bakal ngemis validasi?
“Steve,” panggil Isaac, masih menatap layar, tak menoleh sedikit pun. “Segera kirim pesan ke bosmu, satu kalimat saja: Akan hadir, jangan panik.”
Nada suaranya dingin, singkat, mengandung keputusan bulat. Steve langsung tahu. Dia pernah mendengar nada itu sebelumnya, dan selalu berarti, jangan banyak tanya.
“Baik, saya kirim sekarang,” sahut Steve cepat, menjalankan perintah tanpa perlu penjelasan.
***"Nona Claire akan menemui Anda sesaat lagi. Mohon menunggu."
Beberapa menit lalu, pelayan pribadi Claire menyampaikan itu dengan nada sopan, lalu mempersilakan Isaac duduk di ruang tamu bergaya klasik berlantai marmer. Lampu kristal tergantung dari langit-langit, memancarkan cahaya hangat ke seisi ruangan.
Di atas meja marmer sudah tersaji teh dalam cangkir porselen. Aromanya samar, elegan, dan Isaac tahu betul, itu bukan teh yang bisa ditemukan di rak supermarket biasa.
Alih-alih berdiam di ruangan orang asing, dia memilih melipir keluar dari pintu samping, menuju balkon.
Meski angin malam menampar tajam, Isaac merasa pemandangan dari balkon ini jauh lebih berharga daripada sekadar menghiraukan dingin.
Balkon lantai lima itu memberinya pandangan sempurna ke kaki menara Eivel, tempat lampu-lampu kota bertemu dengan suara manusia.
Matanya menatap ke bawah tanpa maksud.
Sampai sebuah gerakan menarik perhatiannya. Seorang pria, mengenakan coat hitam, turun berlutut di tengah lingkaran kecil orang-orang.
Isaac menyipitkan mata.
Cahaya menara Eivel memantul dari sesuatu yang kecil ... cincin.
Wanita di hadapan pria itu tertegun, lalu menutup mulutnya sambil berseru histeris. Di sekitar mereka, teman-teman bersorak. Ada yang menepuk tangan, ada yang memotret. Ada yang memeluk satu sama lain meski bukan mereka yang dilamar.
Sorot lampu kota, suara tawa, pelukan hangat. Malam yang sempurna untuk dua orang yang mungkin berpikir … mereka tak akan pernah kehilangan satu sama lain.
Isaac hanya diam, pandangan matanya tak bergeser dari pasangan itu, tapi pikirannya entah di mana.
Ia juga pernah berlutut di hadapan seorang wanita dan disaksikan banyak orang, seraya memamerkan cincin hasil pilihannya sendiri dan mengucapkan kalimat yang dilatih berhari-hari. Dan Margee tertawa seperti perempuan itu juga.
Senyum, tangis, pelukan, hingga jarak yang tak bisa dijembatani lagi terasa semakin nyata.
Isaac menarik napas panjang, seolah paru-parunya lupa caranya bernapas perlahan.
Sorakan di bawah makin nyaring. Seseorang meneriakkan nama pasangan itu, namun Isaac mengalihkan pandangan, mencari apa pun di langit yang bisa mengalihkan matanya dari kegembiraan yang terasa terlalu hidup untuk malam seperti ini.
Parice tetap merayakan sementara ia tetap tak bisa merasa. Momen paling hangat di bawah sana hanya menegaskan betapa beku dirinya malam ini.
Isaac masih berdiri di balkon ketika pintu geser di belakangnya terbuka pelan, disusul bunyi klik hak sepatu yang memecah keheningan.
Aroma parfum melati dan sesuatu yang lebih tajam seperti lada hitam, menguar cepat.
"Kau tahu," suara itu ringan, nyaris main-main, "kalau berdiri terlalu lama di luar, kau bisa membeku. Tapi … kau tetap terlihat tampan, jadi mungkin itu sepadan."
Isaac menoleh ke belakang.
Di sanalah ia, berdiri di ambang pintu kaca, seorang wanita bertubuh tinggi, anggun, mengenakan gaun satin merah anggur dengan belahan dada rendah yang membalut tubuh rampingnya. Rambutnya bergelombang, cokelat berkilau, membingkai wajah dengan proporsi nyaris simetris. Bibir berlipstik tegas, sewarna dengan gaunnya, melengkungkan senyuman yang, di mata siapa pun, terlalu siap untuk sekadar basa-basi.
"Halo," sapa Isaac ramah, berjalan mendekat dan mengulurkan tangan. "Saya Isaac. Anda pasti Claire Deveraux?"
Claire menyambut jabatan tangannya tanpa ragu, hangat dan sedikit terlalu lama. "Hai, Isaac. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu," katanya dengan nada lembut yang nyaris bernyanyi.
Ada senyum samar di suaranya, sugesti lembut bahwa segala sesuatu bisa menjadi permainan, asalkan kau izinkan. Tatapannya tetap tajam, namun senyumnya hangat, seolah musim dingin di balkon sama sekali tak menyentuhnya.
"Kau datang jauh-jauh cuma untuk mengembalikan lukisan?" Claire mencondongkan tubuh ke sisi pintu, main-main. "Atau ... kau memang ingin bertemu langsung sama yang ada di kanvas itu?"
Isaac menahan napas. Dia baru saja menyaksikan dua orang asing bertunangan, sebuah pantulan hidup yang tidak lagi ia miliki. Dan sekarang, Claire, dunia lama Fez, berdiri di depannya, membawakan sesuatu yang lain. Godaan.
"Saya hanya mengantarkan lukisan." Suaranya datar, tapi matanya mulai menyesuaikan diri. Claire terlalu terang untuk diabaikan. Claire terlalu ... indah.
Claire tertawa pelan, lalu melangkah mendekat.
Jari-jarinya, dingin tapi lembut, menyentuh lengan Isaac sebentar. "Sayang sekali. Aku berharap kau datang untuk hal yang lebih pribadi."
Bibir itu ... tatapan itu .... Isaac menangkap sinyalnya dengan jelas.
Bahaya tak selalu datang dalam bentuk ancaman. Kadang-kadang, ia mengenakan gaun merah dan menatapmu seolah kau satu-satunya alasan Parice bersinar malam ini.
Isaac mengerjapkan mata, memaksa pikirannya bersiap. Mode bertahan hidup: aktif.
Isaac tahu dia harus menolak.
Tapi sebelum dia bisa berkata apa-apa, jantungnya sudah berdetak lebih cepat.
Dari mati rasa … ke jantung yang berdetak. Dari sunyi … ke detik yang terasa hidup.
“Ehm.” Isaac berdeham, otaknya berpacu cepat mencari jalan keluar. “Kamu tidak ingin memastikan lukisan itu benar-benar milikmu? Sebelum saya kembali ke Leighryn.”
Claire sempat menatapnya dengan alis terangkat, agak sebal. Belum apa-apa sudah bilang mau pulang. Tapi tatapan itu cepat berubah jadi senyum kecil, sebab yang Isaac katakan masuk akal.
“Ayo,” ucapnya santai, sambil menarik tangan Isaac ringan, tak memberinya ruang untuk menolak. “Temani aku mengecek.”
Di dalam, lukisan itu sudah bersandar di dinding sejak awal, masih terbungkus rapi dengan kertas cokelat. Claire mendekatinya, lalu tanpa ragu merobek lapisan pembungkus.
Begitu terbuka, lukisan itu langsung mengisi ruangan dengan kehadirannya.
Potret tubuh Claire … tanpa sehelai kain pun, dengan pose menggoda dan warna-warna sensual yang ditata penuh intensi. Sebuah karya yang hanya bisa dibuat oleh seseorang yang mengenal tubuh manusia seperti mengenal pikirannya sendiri. Detailnya menyilaukan. Jujur. Liar.
Isaac sengaja mengalihkan pandangan. Tangannya masuk ke saku, punggungnya dibalikkan dari lukisan.
“Hmm .…” Claire menggumam pelan. “Aku hampir lupa kalau lukisanku seindah ini.”
Ia menoleh pada Isaac yang berdiri beberapa langkah dari situ, membelakangi. Ia tersenyum.
Claire melangkah mendekat, pelan tapi pasti. Jemarinya menyentuh bahu Isaac. Sentuhan yang ringan, tapi terasa seperti isyarat. “Jujur saja … aku kira kamu nggak bakal datang.”
Isaac menjawab singkat, datar. “Saya sudah bilang akan datang.”
Claire tertawa kecil, tawa yang manis, dan tentu saja, ada godaan samar di sana. “Ya, tapi banyak pria yang janji. Sedikit yang muncul.”
Ia menarik napas perlahan, lalu dengan nada lebih lembut berkata, “Lucu ya … dia yang melukis tubuhku, tapi sekarang justru kamu yang membawanya kembali.”
Isaac sempat membuka mulut untuk membalas, tapi urung. Pikirannya tersendat sepersekian detik, seolah ada celah kosong yang menelan kata-katanya. Entah mengapa, justru dia yang merasa malu, padahal tak ada satu pun kesalahan yang ia lakukan.
Claire berdiri lebih dekat lagi. Tangannya menyentuh lengan Isaac, hangat dan lembut.
“Kamu pasti sempat lihat lukisan itu, kan? Gimana menurutmu?” Suaranya melunak. “Aku … cantik, nggak?”
Isaac masih diam. Tapi dia tahu Claire pasti mendengar napasnya yang mulai berat.
Seolah tanpa sengaja, satu tali gaun Claire melorot dari bahunya. Ia menatap Isaac lembut. “Mungkin … kamu juga tipe yang suka perempuan seperti aku, hmm?”
Kemudian, senyumnya berubah, lebih bermain-main. “Atau kamu lebih suka yang dingin-dingin dan tak terjamah?”
Isaac tidak menjawab. Pandangannya jatuh pada bibir Claire. Berkilau, merah, sepertinya kenyal … dan manis. Dalam hati, dia mengumpat lirih. Tuhan ... tolong jauhkan aku dari bibir ini.
Dengan sedikit tenaga sisa untuk tetap waras, Isaac menjawab cepat, datar. “Saya nggak ... terlalu suka membahas preferensi pribadi.”
Claire tertawa lagi. Tawa yang tahu dirinya sedang menang. Ia mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Jemarinya perlahan naik dari perut ke dada Isaac, seolah ingin tahu apakah pria itu benar-benar terbuat dari baja.
Isaac makin kaku.
“Isaac,” bisik Claire sambil tersenyum. “Kamu tegang banget. Aku bukan pembalap lawan, kok.”
Isaac segera menggeser dirinya menjauh, berusaha menarik jarak. “Tegang karena angin dingin dari balkon.”
Claire memiringkan kepalanya. Senyumnya kini berbahaya. “Kalau begitu … gimana kalau kita ke kamar aja?”
Ia berkata dengan nada manis yang nyaris berbisik. “Aku punya wine, pemanas ruangan, dan di sana … kamu bisa memastikan, apakah tubuh yang ada di kanvas itu masih sama seperti yang sekarang.”
Isaac menarik napas berat.
Pikirannya memutar ulang lukisan itu. Kemudian membandingkannya dengan bentuk tubuh Claire di balik gaun satinnya.
Dia menelan ludah.
Aku baru saja pulih dari badai batin … kenapa sekarang harus diuji batin yang lain??
Satu sisi otaknya berkata, Iyakan saja. Dia sendiri yang menawarkan.
Sisi lain, keras kepala menolak. NOPE. Kau gila?!
Akhirnya, dia mundur satu langkah.
“Thanks untuk tawarannya,” katanya pelan. “Tapi aku harus pulang sekarang. Asistenku menunggu di bawah.”
Claire berkedip pelan. Sedikit kaget. Sedikit terhibur. "Cowok se-cool kamu, kabur dari godaan. Harus aku puji … atau sayangkan?"
Isaac menoleh sebentar, senyum tipis terangkat di ujung bibirnya. "Mungkin keduanya."
Lalu melangkah pergi dengan jantung yang masih berdetak terlalu cepat untuk malam sedingin ini.
Claire tidak menahan. Hanya berkata pelan, cukup untuk terdengar saat dia pergi. "Kapan-kapan mampir lagi, Isaac. Tanpa lukisan."
Isaac tidak menjawab. Tapi dia tahu … wajahnya memanas. Dan untuk pertama kalinya malam itu, dia merasa hidup, walau sedikit.
Claire berdiri di ambang pintu, memperhatikan punggung Isaac yang makin menjauh. Senyum kecil mengembang di bibirnya, lalu menghilang setengah, menjadi sesuatu yang lebih reflektif. Matanya menyipit pelan, dan pikirannya mulai berbicara sendiri.
Dia menarik, ya .... Lebih sulit ditaklukkan daripada yang kupikir. Kalau Fez ... pasti nggak akan lewatkan undanganku. Tapi dia ....
Claire menggeleng kecil, masih dengan senyum tersisa. Oh, kayaknya kamu ketambahan fans seorang lagi, Isaac. Nanti saat kamu balapan di Parice ... aku akan datang mengunjungi. Kita lihat … masih bisa bertahan nggak, pria sekeras kamu.
Sementara itu, di koridor menuju lift, Isaac nyaris berlari kecil. Begitu pintu tertutup, dia bersandar ke dinding lift dan menghela napas berat, seperti seseorang yang baru saja lolos dari pusaran parfum memabukkan.
“Okay,” gumamnya pelan, mengelus dadanya sendiri. “Satu selesai. Delapan lagi. Fokus.”
Isaac menarik napas panjang, berusaha mengembalikan ritme napas dan pikirannya yang sempat kacau.
Lift meluncur turun perlahan. Lampu di langit-langitnya redup, membuat pantulan samar wajahnya muncul di pintu logam di depan.
Isaac menatap refleksi itu. Mata yang nyaris kosong, garis rahang yang mengeras, dan sisa napas yang belum stabil.
Matanya melirik ke arah jam di pergelangan tangan.
Baru beberapa jam sejak ia mendarat. Parice belum sempat menyambutnya dengan hangat. Tapi ia sudah ingin pergi.
Isaac mendongak, menutup mata sejenak. Dalam gelap di balik kelopak, menara Eivel masih menyala di ingatannya. Pasangan yang tengah berbahagia. Sorak bahagia dan pelukan.
Dan dirinya berdiri diam seperti bayangan, tak tersentuh, tak terlibat, tak benar-benar hidup.
Bibirnya bergerak pelan, nyaris tidak terdengar. “Percuma tiga hari di setiap kota kalau yang ikut ke mana-mana cuma rasa hampa.”
Bunyi denting pelan mengiringi pintu lift yang terbuka. Isaac melangkah keluar, pandangannya lurus, tubuhnya masih tegap, tapi kini ada sesuatu yang sedikit lebih ringan, atau mungkin lebih dingin.
Isaac meraih ponsel dari saku coat. Menekan kontak yang sudah hafal di jari.
“Steve.” Suaranya tenang, nyaris seperti biasa. “Batalkan semua reservasi hotel. Kita ubah rute. Transit seperlunya saja. Kita percepat semuanya.”
Hening sejenak di ujung sana.
Isaac menambahkan, nadanya tetap rata, tapi tak lagi menyisakan ruang untuk diskusi.
“Bukan karena ingin cepat pulang. Tapi karena aku tahu … aku nggak bisa menikmati ini semua. Kita selesaikan dulu semuanya sebelum sesuatu yang lain dalam diriku ikut rusak.”
Ia mematikan panggilan. Langkahnya mantap menuju mobil yang sudah menunggu.
Langit Parice di atas sana masih menyala, namun Isaac tak lagi menoleh.
Comments
Post a Comment