TVE (3-4) | INA

 Bab 3 — Timebomb

Suara mesin jet menderu lembut, membelah udara di atas awan. Di dalam kabin, lampu redup menciptakan suasana tenang yang kontras dengan isi kepala dua penumpangnya. Steve duduk bersandar dengan iPad di pangkuan, jemarinya sibuk menekan layar.

“Oke, selesai.” Ia mendesah pelan, lalu meneguk kopi dingin yang sejak tadi tak disentuh. “Semua reservasi hotel di delapan negara sudah kubatalkan. Beberapa bisa refund, beberapa keras kepala menolak. Kau ini ....” Ia menoleh pada pria di seberangnya. “… nggak masalah bakar uang sebanyak ini?”

Isaac tidak menjawab. Tatapannya kosong menembus jendela, seolah lebih tertarik pada bentangan langit kelam di luar daripada jumlah angka yang tersirat dari ucapan sang asisten.

Steve mengusap kening, lalu memberanikan diri. “Boleh kasih saran?”

“Hmm?” Isaac menoleh sebentar, ekspresinya datar.

“Disclaimer dulu.” Steve mengangkat tangan, seolah memberi tanda agar jangan langsung tersinggung. “Pertama, aku cuma mengutarakan fakta di pasar gelap. Kedua, ini sekadar opsi. Opsi yang, kalau dilihat dari kacamata lelaki modern dan materialistik, adalah langkah paling logis sekaligus menguntungkan.”

Isaac mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Steve menyandarkan tubuhnya, menimbang kata-kata. “Sepupuku hobi berburu barang di black market. Beberapa waktu lalu dia menunjukkan padaku … ada lukisan karya Ferris Rutherford yang dilelang dengan harga fantastis.”

Topik itu membuat Isaac spontan menatap Steve lebih serius.

“Beneran, lukisan Fez.” Steve mengangguk mantap. “Ironis, kan? Setelah kasusnya meledak, nilai lukisan dia justru melonjak sepuluh kali lipat. Lukisan yang dulu orang beli dengan santai, sekarang bisa terjual sampai belasan juta pounds.”

Isaac diam. Senyum getir sempat berkelebat, tapi segera hilang.

“Bukan bermaksud kurang ajar,” lanjut Steve hati-hati, “tapi faktanya, tragedi Fez adalah mesin uang bagi mereka yang sempat membeli karyanya.”

“Dan maksudmu?” Suara Isaac dingin.

Steve merogoh tas, lalu mengeluarkan selembar kertas terlipat. Di atasnya tertera nama-nama. “Ada sembilan selebriti yang menjadi muse Fez. Kalau kau melepaskan lukisan-lukisan itu di pasar gelap … boom. Nilainya bisa meroket lebih gila lagi. Jadi karya super langka, sekaligus penuh cerita. Murderabilia plus celebrity nude.” Ia menatap Isaac lekat-lekat. “Kombinasi maut. Aku berani tafsir harga. Masing-masing minimal bisa tembus puluhan juta pounds.”

Isaac menyandarkan punggung. Senyum pahitnya makin jelas. Ia hanya menggeleng pelan.

Steve tidak menyerah. “Aku tahu, ini terdengar eksploitatif. Tapi come on, man, ini uang. Kau bahkan nggak perlu terlibat langsung. Banyak broker yang siap menangani. Pertama, kau tak kenal para selebriti itu. Kedua, kau tidak akan menanggung beban apa pun. Ini murni memanfaatkan kesempatan. Ketiga—”

“Cukup.” Isaac memotong tajam. “Pertama, aku punya janji. Janji pada Fez untuk mengembalikan apa yang menjadi hak mereka. Kedua, aku tidak ingin kasus Fez jadi makin sensasional. Semakin banyak karyanya diperdagangkan, semakin buruk stigma yang melekat pada namanya. Dia akan makin dikutuk. Ketiga ….” Isaac menarik napas panjang. “… aku tidak ingin hidupku tersiksa karena mengeruk keuntungan dari semua ini.”

Hening sesaat. Hanya suara mesin jet yang mengisi ruang.

Steve akhirnya tertawa pendek, getir. “Jadi rupanya ini perjalanan menegakkan moralitas.” Ia melirik angka di catatan iPadnya. “Seharga 150 juta pounds.”

Isaac memandang lurus ke depan, menahan penat. “Aku hanya memikirkan janji yang harus ditepati,” katanya pelan. “Bukan memusingkan harga lukisan.”

Steve menghela napas, lalu bersandar, jari-jarinya mengetuk ringan meja kecil di depannya. “Kau yakin para selebriti itu bakal tetap menyimpan lukisan scandalicious mereka? Kau terlalu mudah percaya orang. Siapa tahu mereka tergiur begitu tahu nilainya. Niatmu melindungi privasi mereka … bisa saja sia-sia, Ike.”

Isaac terdiam sesaat, menimbang kata-kata itu. Lalu ia menarik napas panjang. “Yang penting, aku sudah melakukan yang kuanggap benar. Selebihnya, apa yang mereka lakukan terhadap lukisan masing-masing … itu di luar kendaliku.”

Steve mengangguk-angguk kecil, walau matanya berbinar dengan rasa penasaran yang sulit ditahan. “Aku sih bisa membayangkan. Dunia bakal ‘meledak’ sekali lagi kalau ada selebriti yang menjual lukisan Fez. Reputasi Fez jadi paradoks. Makin dikutuk, tapi karyanya justru makin laku.”

Isaac tersenyum hambar. “Lukisan-lukisan ini bom waktu, ya?”

“Persis.” Steve mencondongkan tubuh. “Tapi karena kau memilih untuk mengembalikannya, ya sudah. Biar bom-bom itu dipegang lagi oleh orang-orang yang memang jadi alasan lukisan itu ada.” Ia berhenti sebentar, tapi rasa penasarannya kembali mendesak. “Kalau boleh tanya … apa masih ada lukisan Fez yang kau simpan di rumah?”

Isaac menunduk sebentar, lalu mengangguk pelan. “Ada beberapa. Tersimpan rapi, sampai berdebu, di rumah orangtuanya.”

“Lukisan biasa atau lukisan scandalicious?”

“Lukisan biasa. Nggak ada skandal.”

Steve tertawa pendek. “Itu pun bisa jadi lahan profit! Kau sadar nggak, sih?”

Isaac berdecak, malas menanggapi.

Steve tidak berhenti. “Bukan maksudku nggak hormati kondisi keluarga kalian. Aku tahu, semua ini meninggalkan trauma. Dan ya, lukisan Fez bisa memantik trauma-trauma itu. Tapi kalau mau realistis, kau bisa raup banyak profit di pasar gelap. Bayangkan, kau kasih nama koleksi itu ‘Sepuluh Lukisan Terakhir The Fallen Champion’. Branding, Ike. Makin langka, makin gila harga pasarnya. Percaya padaku.”

Isaac menoleh pelan, tatapannya dingin. “Jadi aku memerah pundi-pundi uang lewat murderabilia, begitu? Mengeksploitasi kasus Fez.”

Steve mengangkat bahu. “Kau sudah dieksploitasi dunia selama ini gara-gara kasus keluargamu yang super juicy. Kenapa nggak kau balikkan keadaan? Raup keuntungan balik. Jangan bilang pagar moralmu juga berlaku untuk lukisan-lukisan biasa itu.”

Isaac menatapnya lelah. “Kenapa kau gigih sekali membujukku menjual lukisan?”

Steve tersenyum tipis. “Karena kalau kau hanya menyimpannya, ironisnya, puluhan tahun kemudian lukisan-lukisan itu bisa jadi artefak bersejarah. Nilainya justru bisa meledak makin gila-gilaan kalau ditemukan ulang.”

Isaac hanya menarik napas panjang, lalu menyandarkan kepala ke kursi. “Aku ngantuk,” katanya singkat. Kelopak matanya terpejam, seolah menutup percakapan.

Steve menatapnya tak puas. “Aku belum selesai.”

Tak ada sahutan.

“Isaac?” Ia mencoba lagi.

Hening.

Steve mendecak gemas, lalu bersandar dengan kesal. “Kau ini …,” gumamnya pelan, tapi pria di hadapannya sudah terlelap … atau setidaknya berpura-pura.

Suara mesin jet kembali jadi satu-satunya musik di kabin, seakan menelan seluruh perdebatan yang baru saja terjadi.



Bab 4 – Five Cities, Five Women, One Isaac Going Downhill 

Mereka tidak pernah bersentuhan satu sama lain. Tapi semuanya meninggalkan jejak yang sama di kulit dan kepala Isaac.


Berlyn

Isaac masih ingat cara Sabine Gründgens memerintahkannya duduk, bukan meminta. Kalimatnya meluncur tanpa tatapan langsung, hanya dengan nada dingin dan percaya diri yang menusuk. Seolah ia adalah jenderal di medan perang, dan Isaac hanyalah prajurit bayangan yang kebetulan melewati teritorinya. Wanita itu bahkan tidak menggubris Isaac ketika ia menyerahkan lukisan yang dibawanya. Lukisan potret Sabine dengan sapuan kuas agresif dan warna-warna dalam gradasi abu kebiruan. Ia hanya melirik sejenak, lalu menyuruh, "Sandarkan saja di sana." Tak ada “terima kasih”, tak ada basa-basi.

Kemudian, tanpa memberi waktu bagi Isaac untuk merasa nyaman, Sabine berbalik. Langkahnya teratur, sepatu hak tingginya menciptakan ketukan monoton di lantai parket. Ia berdiri di hadapan Isaac dan melontarkan satu instruksi lagi, kali ini dengan suara rendah tapi tajam.

“Lepaskan jam tanganmu. Aku ingin melihat kulitmu, bukan Ralex.”

Isaac menoleh, sejenak tidak yakin apakah ia mendengar dengan benar. Tapi mata Sabine tidak menyiratkan bahwa ia sedang bercanda. Mata itu bukan hanya memerintah, mereka menelanjangi

Jadi ia membuka tali jam tangannya, dan meletakkannya perlahan di atas meja samping. Jari-jarinya terasa lebih dingin dari seharusnya, dan ia belum sepenuhnya paham kenapa. Mungkin karena parfum wanita itu, aroma campuran jeruk pahit, vetiver, dan sesuatu yang seperti rempah beracun, tercium seperti ancaman. Bahkan aromanya terasa seperti perintah militer, mengatur irama napas Isaac tanpa ia sadari.

Lutut Isaac goyah, membuatnya jatuh terduduk dengan pasrah. Ada energi asing di dalam ruang tamu modern bernuansa industrial itu. Tak ada suara musik, hanya suara detak jam dinding dan bunyi lembut napas mereka masing-masing. Dan Sabine tidak memberi ruang untuk basa-basi. Tidak ada belaian. Tidak ada senyum hangat. Tidak ada pendekatan emosional seperti muse sebelumnya.

Tapi justru itu yang membuat darah Isaac mendidih.

Sabine tidak sedang menggoda. Ia sedang menguasai. Tatapannya penuh perhitungan, tapi tak sedikit pun membeku. Ia seperti menari dengan pisau yang disembunyikan di balik rok pensil hitamnya, dan setiap langkah mendekat membuat udara di sekitar mereka makin tipis.

Lalu, tanpa peringatan, wanita itu berlutut di antara kedua paha Isaac. Roknya yang ketat melorot sedikit ke atas, menampakkan pahanya yang kencang dan pucat. Isaac nyaris mundur, tapi ia tak sempat bergerak sebelum jemari Sabine yang dingin, ramping, dan terawat itu menyentuh dagunya.

Ia mengangkat dagu Isaac dengan dua jari seperti hendak memeriksa kualitas binatang buruan.

"Jangan terlalu tegang," bisiknya, nyaris tak terdengar. "Kecuali kalau kau memang suka dikendalikan."

Isaac menatap matanya. Mata tajam berwarna kelabu yang tampak tak memerlukan jawaban. Ia tahu ia bisa tergelincir saat itu juga. Sekali saja ia membiarkan jari-jari Sabine naik sedikit, sekali saja ia miringkan kepala untuk menyentuh bibir wanita itu … maka ia selesai.

Tapi sebelum semuanya terlanjur goyah, Isaac mengerahkan semua kekuatan dari sisa kesadarannya. Dengan satu gerakan cepat tapi masih sopan, ia menyentuh lengan Sabine, lalu mendorongnya perlahan ke belakang. Sebuah penolakan yang tak frontal, tapi cukup untuk menyampaikan maksudnya.

“Maaf,” katanya pelan, suaranya sedikit serak. “Aku tidak datang ke Berlyn untuk itu.”

Sabine menatapnya, lama. Lalu tertawa kecil, pelan, tanpa senyum. “Tentu saja tidak,” balasnya. “Tapi tubuhmu berkata lain.”

Isaac berdiri, mengenakan kembali jam tangannya dengan tangan sedikit gemetar. Ia tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit, sebagai tanda sopan, lalu melangkah pergi ke arah pintu.

Sabine tidak menahan.

Ia hanya berkata, seperti melemparkan pisau terakhir dari jauh. “Kau tahu, Fez tidak pernah menolak. Tapi kau … kau menarik, Isaac. Karena kau masih mencoba bertahan.”

Di luar, di lorong apartemen yang sunyi dan dingin, Isaac akhirnya bisa menghela napas panjang. Udara terasa menusuk, tapi pelan-pelan ia mulai sadar, ia selamat. Untuk saat ini.

Lututnya masih gemetar, dan napasnya belum sepenuhnya stabil. Tapi setidaknya … ia berhasil keluar tanpa luka permanen. Secara fisik, setidaknya.

Sambil menyandarkan punggung ke dinding, Isaac mengusap wajahnya yang hangat karena tegang. “Astaga, Fez … cewek yang itu juga sempat jadi pacarmu? Serius?”

Ia memejamkan mata, menggeleng-geleng pelan. “Kalau Adolf Heinzter punya cucu perempuan … ya itu tadi,” gumamnya. “Sangar, sadis, dan mengintimidasi dalam satu paket.”

Lalu ia tertawa kecil. Tawa orang selamat dari neraka kecil berdurasi satu jam.



Miran

Alessia Donati hanya tersenyum dan mengangguk lembut saat Isaac meletakkan lukisan dirinya di dekat meja bundar dari marmer yang mencerminkan kemewahan apartemen penthouse di pusat kota. Ia tidak mendekat, tidak menyentuh Isaac, bahkan tidak menawarkan tangan untuk bersalaman. Namun anehnya, seisi ruang terasa seperti disentuh olehnya. Seolah udara pun punya aroma yang mengikuti gerakannya. Entah apa yang membuat Isaac tetap berdiri kaku di tempat, seperti ada kabel tak kasatmata yang mengikat pergelangan kakinya.

Alessia melangkah mendekati jendela besar, punggungnya menghadap Isaac. Cahaya lampu kota Miran menyentuh siluet tubuhnya, membingkainya seperti lukisan yang baru saja Isaac serahkan. Gaun merah lembutnya membingkai setiap inci tubuhnya dengan presisi yang sempurna, dan geraknya yang nyaris tak terdengar, mengingatkan Isaac pada para peragawati haute couture di panggung tertutup. Ia tidak perlu berbicara keras, karena suaranya seperti kain satin yang cukup menyentuh udara untuk meninggalkan jejak. Kalimatnya menggema lembut, tapi penuh kepercayaan diri. Setiap nada yang keluar darinya seperti parfum … mahal, tahan lama, dan sulit dilupakan.

Isaac mengatupkan jemari di belakang punggungnya. Napasnya perlahan, mencoba tetap stabil, meski pikirannya tahu ke mana arah situasi ini mengalir. Ia melangkah satu langkah maju dan, dengan sopan, berkata, “Kalau berkenan … sebaiknya Anda cek dulu isi lukisannya. Sekadar memastikan, itu memang benar potret Anda.”

Alessia menoleh hanya sedikit, senyumnya tak bergeser, matanya memandang Isaac dari balik bahunya seperti peluru yang tidak berniat menembak, tapi tahu persis letak jantung lawan. “Tidak perlu,” jawabnya pelan, dengan logat Iralia yang membuat setiap huruf terdengar seperti bisikan dalam mimpi. “Aku percaya kamu.”

Lalu ia berbalik penuh, menyandarkan tubuh dan kedua tangannya pada tepian jendela. “Kalau kamu tinggal malam ini … aku pastikan kamu tidak akan menyesal.”

Suaranya tidak berubah. Tenang, tidak terburu-buru. Namun justru karena itu, tawarannya terasa seperti ujian yang disodorkan tanpa tekanan, namun mustahil ditolak. Tidak ada embel-embel romantis. Tidak ada pelukan atau ciuman tiba-tiba. Tidak ada sentuhan di tangan atau tatapan yang memohon. Tapi Isaac bisa merasakannya. Aura itu adalah penguasaan panggung tanpa panggung. Kecantikan yang tidak menawarkan diri, tapi tahu dia akan diinginkan.

Dan Isaac tahu ini terjadi lagi.

Yang ketiga kalinya. Claire di Parice. Sabine di Berlyn. Sekarang Alessia di Miran. Ketiganya tak saling mengenal. Tapi semuanya seolah dipanggil oleh semesta untuk menguji satu hal yang belum tuntas di dalam dirinya.

Dia harus keluar. Harus menemukan jalan pulang sebelum dia benar-benar lupa jalannya.

Satu langkah mundur. Lalu satu tarikan napas panjang. “Terima kasih atas penerimaannya, Alessia,” ucapnya perlahan, sedikit menunduk. “Tapi aku harus mengejar jadwal pesawat.”

Alessia hanya tersenyum lagi, sedikit lebih lebar dari sebelumnya. Seperti seseorang yang tahu dia bukan penolakan pertama, dan barangkali bukan yang terakhir. Tapi siapa tahu … dia yang akan paling lama membekas.


Barceluna

"Kalau kamu terus menatapku kayak gitu, aku bakal nyangka kamu jatuh cinta," goda Aracely Blanco sambil menyenggol ringan bahu Isaac, seperti gadis remaja yang terlalu percaya diri di lorong kampus, tapi aura dan cara bicaranya terlalu terlatih untuk sekadar iseng. 

Mereka sedang duduk di rooftop bar yang menghadap laut Barceluna, lampu-lampu kota di kejauhan menyala seperti konstelasi palsu, dan angin laut membelai rambut Aracely yang merah anggur seperti api kecil yang tak padam. 

Isaac tersenyum waktu itu. Senyum pertamanya sejak meninggalkan Parice, sejak emosinya membeku dalam perjalanan dari satu negara ke negara lain, dari satu wajah ke wajah berikutnya. Tapi Aracely, dengan caranya yang ceroboh tapi mematikan, berhasil mematahkan pertahanan itu dalam satu kalimat, satu senyuman, satu bahu yang sengaja menyentuhnya lebih lama dari seharusnya.

Namun tawa Aracely berbahaya. Ada nada manis di sana, tapi juga terlalu tajam. Tawa itu seperti pisau yang dilapisi madu. Karena Isaac tahu ... di balik senyuman itu, ada jebakan. Dan bukan jebakan biasa. Ini bukan jebakan yang menyamar sebagai rayuan manja atau pura-pura malu. Ini jebakan yang seolah bilang ‘ayo main-main, tapi jangan jatuh hati. Ayo dekat, tapi jangan menyentuh lebih dari yang diperbolehkan.’ 

Aracely adalah permainan yang tahu dirinya permainan, dan itu justru yang membuatnya berbahaya. Setiap gerakannya seperti potongan koreografi yang telah ia ulang di cermin ribuan kali, tapi tetap terasa alami. Ia seperti mengundang seseorang untuk masuk ke dalam arena yang sudah ia kuasai sepenuhnya.

Aracely kembali tertawa polos, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi bar, lalu menyilangkan kakinya. Gaunnya, yang terlalu tipis untuk angin malam, hanya mempertegas bahwa ia memang tak pernah berniat bermain aman. “Jangan terlalu serius. Aku nggak akan gigit ... kecuali kamu minta,” bisiknya, matanya membelalak kecil seolah baru saja berbagi rahasia. Di bawah meja, sepatu hak tingginya menyentuh sepatu Isaac. Sengaja atau tidak, Isaac tidak tahu. Dan dia tidak ingin tahu.

Isaac balas tertawa. Tawa kecil, pendek, lebih sebagai refleks daripada niat. Lalu terdiam. Karena kenyataannya, Aracely memang akan menggigit. Bukan dengan gigi, melainkan dengan cara perempuan yang tahu kelemahan lelaki di hadapannya. Dan Isaac, meski telah belajar banyak dari luka dan kehilangan, dari pelarian demi pelarian, tetap manusia. Jantungnya tetap berdetak lebih cepat saat bahunya disentuh, saat kalimat-kalimat ringan berubah jadi tantangan tersembunyi. Ia meneguk minumannya pelan, berharap rasa pahitnya cukup untuk mengingatkan siapa dirinya, dan di mana batas yang harus tetap dijaga. 


Mondreal

Elodie Hartley hanya berkata ingin ‘ngobrol di dapur’. Tapi yang terjadi beberapa menit kemudian jauh dari sekadar obrolan santai.

Ia berjalan lebih dulu, tanpa menoleh, menuju dapur kecil bergaya art-deco di penthouse itu. Semua serba putih hangat, dengan aksen emas pucat dan jendela setinggi langit-langit yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota dan puncak menara jam di kejauhan. Big Ben versi Keneda, pikir Isaac sekilas, sampai ia sadar bahwa pandangannya lebih tertarik pada sosok di depannya daripada pemandangan di balik kaca.

Ia mengenakan sweater krem yang kebesaran, tergantung malas dari satu bahu hingga memperlihatkan lekuk tulang selangka dan pundak kirinya yang telanjang. Rambutnya digelung sembarangan, ada helaian-helaian nakal yang terlepas dan menari di sekitar wajahnya. Ia berjalan tanpa alas kaki, kulitnya menyentuh lantai marmer dingin dengan bunyi nyaris tak terdengar. 

Elodie tidak menyuruhnya duduk. Ia hanya mengeluarkan dua gelas tinggi dari rak kaca, memutar sendok logam dalam genggamannya, dan mengambil sebotol susu dingin dari kulkas. Isaac mengamati, berdiri tegak hanya beberapa meter darinya. Terlalu tak sopan untuk pergi … dan terlalu tertarik untuk tidak bertanya-tanya apa yang sedang dimainkan wanita ini.

“Milkshake,” ujar Elodie ringan. “Aku sedang craving yang dingin, manis, dan ... agak memabukkan.”

“Sounds like trouble,” gumam Isaac tanpa sadar.

Elodie tersenyum, matanya menyapu wajah Isaac dari balik bahunya. “Oh, Isaac. Segala sesuatu yang menyenangkan selalu terdengar seperti masalah.”

Ia menuangkan susu ke dalam blender, menambahkan es, cokelat bubuk, es krim vanila, lalu dengan tenang menekan tombol blend. Suara mesin memenuhi ruang hening. Isaac memperhatikan setiap gerakannya. Bukan karena dia ingin, namun karena tubuhnya seolah bereaksi sendiri.

Tapi Elodie belum selesai. Ia mengambil whipped cream dari kulkas, menghias puncak milkshake itu dengan putaran spiral yang terlalu rapi untuk dibilang “iseng.”

Lalu, tanpa peringatan, Elodie mencolek sedikit whipped cream itu dengan jari telunjuknya, mengangkatnya pelan ke depan wajahnya, dan … memasukkan jarinya ke dalam mulut.

Gerakan itu lambat. Seolah-olah ia benar-benar sedang mencoba rasa, tapi cukup jelas kalau ia tahu ia sedang diperhatikan. Lidahnya menyapu ujung jarinya sebelum ia tersenyum tipis, setipis niat baik yang menggantung samar di balik tatapannya.

Isaac merasa seperti menonton film slow motion. Hanya saja, ia adalah aktor utama yang tidak diberi naskah. Tubuhnya otomatis menegang … waspada tingkat tinggi. Ia mundur satu langkah kecil, seperti seseorang yang tak sengaja menapaki ranjau emosional dan tidak yakin langkah berikutnya akan meledakkan segalanya atau tidak.

Tapi Elodie hanya tertawa pelan. Tawa ringan, seperti helaan napas yang nyaris tidak terdengar.

“Aku lupa bilang ya .…” Elodie menjilat ujung jarinya, sambil menatap Isaac lurus. “Aku suka membuat orang gugup. Terutama pria yang biasanya terlalu tenang.”

Isaac tidak tertawa. Ia hanya mengernyit pelan, menahan diri untuk tidak menanggapi permainan itu secara frontal.

“Kau tahu,” lanjut Elodie, sambil menyuguhkan milkshake milik Isaac, “di dalam dirimu ada bagian yang ingin tahu apa yang akan terjadi kalau kamu ... tidak menahan diri.”

Isaac menerima gelas yang diberikan padanya. Cairan cokelat kental dan manis, dihiasi putaran sempurna whipped cream yang kini terasa lebih dari sekadar topping.

“Dan kau tahu,” sahut Isaac akhirnya, suaranya rendah dan tajam, “di dalam dirimu ada bagian yang ingin tahu apakah aku akan jatuh dalam permainanmu atau tidak.”

Elodie terdiam sejenak. Lalu tersenyum pelan.

“Touché,” bisiknya. Ia menyandarkan pinggul ke meja, lalu pelan berkata, “Tapi aku tidak bermain, Isaac. Aku hanya ... jujur, dan jadi diriku sendiri.”

“Kalau ini yang kau sebut jujur, aku penasaran seperti apa kamu saat mulai berbohong.”

“Kamu takut padaku?”

Isaac meneguk milkshake-nya, lalu menatap Elodie tanpa berkedip. “Aku lebih takut pada diriku sendiri saat aku mulai menikmatinya.”

Untuk pertama kalinya, Elodie tampak sedikit terusik, sebab Isaac hampir berhasil membalikkan situasi.

“Good,” katanya akhirnya. “Berarti kamu masih punya kendali. Untuk sekarang.”

Mereka tidak bicara setelah itu. Hanya saling menatap, saling menyimpan rahasia, dan saling menahan. Tapi Isaac tahu, malam itu bukan hanya tentang chocolate milkshake. Itu adalah percakapan diam antara dua orang dewasa yang mengerti permainan api dan batas moral.

Isaac merasa panas. Bukan karena suhu atau hasrat, melainkan karena medan tak terlihat yang diciptakan Elodie hanya dengan kata dan jarinya yang bernoda krim.

Bukan kopi, bukan alkohol, bukan ciuman. Hanya dua gelas milkshake dan satu wanita yang membuat pria sekuat Isaac merasa seperti sedang berjalan di atas kawat tipis, tanpa jaring pengaman.


Los Aneles

Selena Vale tidak menyentuhnya. Tak satu sentuhan pun diberikan wanita itu sejak Isaac menyerahkan lukisan yang ia bawa. 

Ia hanya berdiri sebentar di ambang pintu, menerima kanvas yang dibungkus kertas cokelat tebal, lalu mengajak Isaac masuk ke ruang duduk. Tanpa suara, hanya dengan isyarat tangan yang anggun dan tidak tergesa-gesa. 

Di dalam, Selena tak banyak bicara. Ia membuka bungkusan lukisan perlahan, seperti membuka kenangan yang telah ia kubur. Lukisan itu memantulkan dirinya dalam sorot yang hangat. Senyum separuh, rambut sedikit berantakan, dan tatapan mata yang tampak tahu banyak tapi memilih diam. Lukisan itu begitu jujur, seperti mewakili bagian dari Selena yang hanya muncul di hadapan kanvas dan seniman. 

Ia menyandarkan lukisan itu di sisi dinding, sengaja tidak memperlihatkan isi lukisan pada tamu yang tengah berkunjung. Ia lalu duduk di samping Isaac di sofa beludru berwarna pirus, dengan postur yang tenang namun tak tertebak.

Hening. Waktu seperti berhenti di ruangan itu. Lampu temaram membuat ruangan terasa lebih sempit, lebih intim. Lalu, dengan suara pelan, namun tanpa keraguan, Selena menoleh padanya. Ia menatap Isaac cukup lama. Bukan seperti orang menilai wajah seseorang, tapi seperti seseorang yang mencoba memahami labirin dalam kepala orang lain. 

“Aku bisa melihat kamu menanggung terlalu banyak, Isaac,” katanya, masih dengan suara tenang, hampir seperti nyanyian duka. “Kamu pantas merasa dicintai tanpa harus membayar apa pun.”

Kalimat itu seperti racun berlapis pelukan. Lembut, menghangatkan, dan justru karena itulah ia berbahaya. Kata-kata itu seolah masuk pelan-pelan ke celah paling rapuh dalam dada Isaac. 

Mata Isaac terasa memanas, karena untuk sepersekian detik, dia nyaris percaya. Nyaris membiarkan dirinya percaya bahwa mungkin ada orang yang benar-benar melihat dirinya. Bukan hanya ketenaran, bukan nama keluarga, bukan sejarahnya, juga bukan tubuhnya yang selalu tampak kuat meski rapuh.

Dan justru karena itu, dia harus segera pergi. Harus menyelamatkan dirinya sendiri dari kemungkinan lain. Dari harapan yang terlalu indah untuk didekati. Karena Isaac tahu, yang paling berbahaya bukanlah yang menggoda atau merayu, namun yang menatapmu lembut dan berkata, “Kamu pantas dicintai”… dan kejujuran yang terlalu dalam.


Di dalam jet, Isaac memejamkan mata, berharap tubuhnya bisa menukar kelelahan dengan tidur. 

Tapi begitu kelopak matanya turun, satu per satu wajah itu datang menghampiri. Seperti kota-kota yang tak bisa ia tinggalkan begitu saja. 

Berlyn, Barceluna, Miran, Mondreal, Los Aneles. 

Sabine. Aracely. Alessia. Elodie. Selena. 

Lima kota. Lima wanita. Lima cara berbeda untuk menggoda dan menghancurkan pertahanan. 

Ada yang dingin dan memerintah, ada yang riang seperti matahari sore, ada yang lembut hingga nyaris tak terdengar, ada yang manis namun memabukkan, dan ada yang terlalu dalam untuk ditolak. 

Isaac menghela napas, pelan tapi panjang, seperti paru-parunya tak siap menanggung beban memori yang begitu padat. 

Setidaknya aku tidak tidur dengan siapa pun, ujarnya dalam hati. Mantra yang ia bisikkan sejak Parice. 

Tapi bahkan ia tahu, godaan bukan selalu tentang tubuh. Kadang, godaan adalah ketika seseorang berhasil membuatmu ingin bertahan satu malam lebih lama. Dan itu, justru yang paling berbahaya.


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.