TVE (5-7) | INA

Bab 5 – Sweet and Comforting Like A Hot Chocolate

Di dalam jet pribadi, menjelang malam, di udara antara Los Aneles dan Bogutá.

Lampu kabin redup. Deru mesin nyaris tak terdengar dari dalam, menyisakan ruang hening yang lebih terasa seperti perpustakaan kelas bisnis daripada perjalanan lintas benua. Steve duduk di kursi kerja kecil di dekat jendela, mengetik sesuatu sambil sesekali melirik layar iPad dengan wajah kecut. Di seberangnya, Isaac duduk bersandar santai, menggenggam secangkir teh hitam. Pandangannya kosong, tertuju pada jendela gelap yang hanya memantulkan bayangan samar wajahnya sendiri.

Steve menghela napas. Panjang, seperti baru saja menyerah pada sesuatu yang sudah terlalu lama dipaksakan. Ia meletakkan iPad-nya pelan-pelan di atas meja kecil di hadapannya.

“Boleh nanya sesuatu, gak?”

Isaac menoleh pelan. Mengangkat satu alis, sedikit malas. “Tergantung.”

Steve menunjuk ke layar iPad-nya seolah ingin menggarisbawahi absurditas yang baru saja ia sadari.

“Ini aku baru nyadar … kita udah di hari keenam dari rute sebulan, dan kita … udah menyelesaikan enam negara.”

Isaac menyesap tehnya. “Ya.”

Steve mengedip, menunggu penjelasan yang tak kunjung datang. “Jadi maksudnya ... sisa tiga negara bakal kelar dalam … dua hari ke depan?”

“Kurang lebih.”

Steve memijit pelipisnya dengan dua jari. “Oke. Baik. Gak ada yang salah dengan itu. Maksudku … selain fakta bahwa kita udah bakar lebih dari lima ratus ribu dolar per hari hanya untuk ... mengantarkan lukisan sambil bilang ‘terima kasih dan semoga bahagia’.”

Isaac menoleh lagi, lebih tenang daripada seharusnya. “Setidaknya aku nggak tidur sama siapa-siapa.”

Steve mengangkat dua jempol ke udara. “Luar biasa. Moral integrity on a jet-powered express tour. Kita udah kayak FedEx spiritual, Bos.”

Isaac menyeringai tipis. “Bikin slogan baru aja. ‘Isaac Renauld: cepat, tepat, tidak sempat jatuh cinta.’”

“Dan tidak sempat jet lag,” sambung Steve. “Karena tidak sempat tidur juga.”

Isaac tertawa kecil, tulus, sebelum pandangannya kembali jatuh ke jendela. Pandangan itu melayang jauh, mungkin ke daratan gelap ribuan kaki di bawah sana, mungkin ke dalam dirinya sendiri.

“Aku kira … kalau dikasih cukup waktu, aku bisa menenangkan diri.”

Steve ikut menoleh ke luar. Langit pekat tanpa bintang. “Dan ternyata, semakin lama kau diam, semakin ribut isi kepalamu, ya?”

Isaac tidak menjawab. Tapi senyumnya, tipis dan pahit, mengiyakan segalanya.

Steve berdiri, membuka kulkas kecil di sisi kabin, dan mengeluarkan satu kaleng sparkling water. Ia kembali duduk, lalu mengangkat kaleng itu ke udara, seperti bersulang.

“Baiklah. Gini aja.” Ia mengangguk ringan. “Untuk liburan paling cepat, paling mahal, dan paling banyak menolak godaan wanita dalam sejarah perjalanan manusia.”

Isaac mengangkat cangkir tehnya, menyentuhkan dengan kaleng Steve. Clink.

“Dan semoga … pulangnya aku masih jadi manusia.”

Steve meneguk minumannya. “Atau paling nggak, masih bisa tidur delapan jam kayak manusia biasa.”

Isaac menatap lurus ke depan, suaranya pelan, hampir tak terdengar. “Aku tidur empat jam tiap malam.”

Steve menoleh cepat. “Wah, luar biasa. Tahu nggak, itu cukup buat … ngebakar 50.000 dolar dalam mimpi.”


Udara siang itu sejuk dan bersih, matahari menyusup lembut di antara bayang-bayang pohon guayacán yang bermekaran di pinggir jalan. Isaac mendongak dari bawah gedung kondominium, sambil mencengkram bingkai besar berbalut kertas coklat di lengannya. Dalam hati, ia mengumpat pelan. Kenapa sih, Fez, kamu nggak bisa suka hal normal kayak memancing atau main game? Kenapa harus lukisan nudis dan 130 mantan?

Ia masuk ke dalam lift, menekan lantai tertinggi, dan berdiri menatap angka-angka yang menyala naik satu per satu. Masih untung cuma sembilan lukisan yang harus aku kembalikan, gerutunya dalam hati. Baru sampai sini saja aku sudah muak. Bayangkan kalau dia benar-benar melukis 130 wanita? Lalu aku yang kebagian getah paling pahit? That bastard. Kurasa Fez tertawa dari sana lihat aku kelimpungan dirayu pacar-pacarnya.

Denting lift berbunyi. Pintu terbuka.

Isaac menyesal tidak mempersiapkan mentalnya lebih baik.

Pintu unit di depannya terbuka perlahan, dan cahaya siang dari luar langsung jatuh menyinari sosok Luna Estrada. Gaun satin tipis berwarna tembaga pucat membalut tubuhnya, nyaris menyatu dengan kulit hangatnya yang kecokelatan. Gaun itu panjang, tapi belahan di kakinya hampir mencapai pinggul, dan bagian belakangnya terbuka lebar sampai ke batas pinggang, membentuk lengkungan yang mustahil tak diikuti pandangan mata. Bahannya ringan, jatuh seperti air, dan saat ia bergerak, gaun itu tampak ikut bernapas. Lebih menyiratkan tubuh daripada menutupinya.

Tanpa perhiasan. Hanya lipstik merah karang dan rambut bergelombang yang tergerai lembut di bahu. Sederhana, tapi justru karena itulah ia terlihat berbahaya.

For real, lady?! Isaac mengumpat dalam hati. Kau kenakan pakaian seperti itu untuk menyambut tamu? Otaknya langsung menyusun ulang pertahanan. Godaan dari Luna tampaknya akan jauh lebih berbahaya dibanding enam wanita sebelumnya.

Luna pun menatapnya untuk pertama kalinya. Ia sempat bingung. Isaac atau Fez? Tapi kemudian ia menangkap bedanya. Ada sesuatu yang lebih dalam pada pria ini. Cara berdirinya, matanya, rahangnya ... mirip, ya. Tapi ini bukan Fez.

Isaac menarik napas perlahan, berusaha tetap tenang. “Halo, Luna. Saya Isaac. Ini lukisan Anda yang saya janjikan, warisan dari Fez.”

Ia menyerahkan lukisan dengan tangan setegas mungkin, seolah benda itu bisa melindunginya dari energi sensual di depan pintu.

Luna menerimanya sambil mengangkat satu alis. “Jadi kamu udah lihat semua bagian tubuhku sebelum kita salaman, ya?” Suaranya terdengar sinis, tapi ada nada manja yang sulit diabaikan.

Isaac salah tingkah. Sekilas, ia tampak seperti pria dewasa yang sudah kenyang pengalaman, namun satu kalimat dari Luna mengikis semua ketenangan itu.

Luna tersenyum. Manis. Gemas. Seolah senang melihat pria yang begitu mirip dengan Fez kini berdiri kikuk di hadapannya, kehilangan kata-kata.

“Mari masuk dulu, Isaac,” katanya sambil mundur ke dalam ruangan. “Kamu dari Leighryn pasti lelah. Biar aku buatkan cokelat panas khas Bogutá. Pasti belum pernah, kan?”

Isaac merasa tidak sopan jika menolak, jadi ia mengikuti langkah Luna masuk ke dalam apartemen. Ruangan itu tenang, pencahayaannya temaram dan lembut, seperti galeri seni pribadi yang dipenuhi cahaya sore dari jendela besar. Bahkan cahaya lampu pun tampak dipilih khusus. Hangat, keemasan, membelai dinding dan lantai kayu dengan estetika yang nyaris terlalu tepat. Isaac menghela napas pendek. Kenapa pencahayaan di ruangan ini se-estetik galeri seni, sih? Ini jebakan! Fez … kamu tuh iblis berkuota seni tinggi. Menuruti wasiatmu bikin aku harus berada di sini?!

Ia duduk, meski matanya berusaha keras tidak melirik ke arah Luna yang berjalan menjauh ke dapur. Gaun itu terlalu jujur. Belahan setinggi pinggul, punggung terbuka hingga pinggang, dan setiap langkahnya seolah membuat kain satin itu bernapas. Tolong, jangan gerak terlalu banyak, batin Isaac sambil menggenggam lututnya sendiri, seperti anak sekolah takut dihukum.

Luna kembali dengan dua cangkir cokelat panas. Uap mengepul dari permukaan cokelat santafereño, menyebarkan aroma kakao yang kaya dengan sentuhan kayu manis yang hangat. Ia tersenyum manis, menawarkan salah satu cangkir padanya. “Cobain deh,” katanya ringan. “Di sini, kami mencelupkan keju ke dalamnya.”

Isaac menaikkan alis. Perpaduan yang tidak lazim bagi lidahnya, tapi ia menerima. Dunia baru selalu dimulai dari cangkir pertama. Saat ia menyesapnya, rasa manis pekat dan tekstur lembut cokelat mencair di lidah, dengan kejutan asin lembut dari keju. “Manis. Comforting. I like it. Thanks.”

Luna memperhatikannya saat ia minum. Ada sesuatu yang menghitung dalam tatapannya, seperti menunggu Isaac membuka kartu pertama.

“Sejak kamu hubungi manajerku, aku pikir … jadi lukisan telanjangku masih eksis? Dan dia mau balikin. Good. Tapi kenapa privat banget cara nyerahinnya?” Luna menatapnya tajam, senyumnya setengah tertarik, setengah mencurigai. “Jangan-jangan ... ini ujian. Kamu sebenarnya cuma ingin tahu kan, aku masih punya rasa atau enggak sama Fez?”

Isaac menggeleng cepat. “Anda salah paham, Luna.”

“Kenapa harus salah paham?” Luna menyeringai manja. “Aku nggak masalah kasih lihat kamu kalau aku emang masih belum move on dari Fez.”

Isaac menelan ludah. “For real? A-anda belum move on? Setelah sekian tahun?”

Luna mengangkat bahu, mengulum senyum seolah mengatakan: apa salahnya?

“Daripada bahas itu …,” lanjutnya pelan, “gimana pendapatmu soal lukisan tubuhku? Kamu kan pasti pernah lihat ... cantik? Kamu suka?”

Isaac mengatur napas. "… Saya cuma pengantar lukisan, bukan pengantar godaan."

Luna tertawa kecil. Tapi tawa itu mengandung sesuatu. Kehangatan, misteri, dan undangan yang berbahaya. Ia berdiri, meraih lukisan yang sejak tadi bersandar di meja, lalu dengan santai merobek pembungkusnya. Seketika, lukisan itu terbuka, menampilkan sosok Luna dengan pose menggoda, telanjang sepenuhnya. Cahaya dan bayangan pada sapuan kuas Fez membentuk tubuh yang tidak hanya sensual, tapi juga intim.

“Lihat,” katanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan, “dia menggambarkanku dengan rasa yang sangat … telanjang.”

Isaac menegang. Matanya, meski berniat menghindar, tetap terseret menatap lukisan itu. Oke ... oke ... ini bukan dosa. Ini … seni. Aku cuma kurir. Kurir budaya. Kurir rasa malu.

“Saya … nggak bisa menilai. Saya cuma—” ucap Isaac buru-buru, lalu langsung berpaling ketika matanya tanpa sengaja nyasar ke bagian yang tidak ingin ia komentari. “... maaf, refleks.”

Luna mendekat. Ia menunduk, mencolek dagu Isaac dengan jemari lentik. “Jangan khawatir. Banyak pria kehilangan fokus di hadapanku,” ucapnya lirih. “Tapi kamu beda. Ada luka di matamu. Mau kututup sebentar ... dengan ciuman?”

Isaac belum sempat menjawab.

Luna tanpa aba-aba duduk menyamping di pangkuannya. Gaunnya tersingkap, tungkai kakinya halus dan kencang menekuk, memberikan akses bebas ke arah tubuh yang hampir tak tertutup. Tangannya menyisir rahang Isaac, mengelus dengan lembut. Wajahnya mendekat, dan bibir yang merah karang itu hanya berjarak beberapa senti dari milik Isaac.

Isaac membeku. Kepalanya penuh alarm, tapi tubuhnya tidak bergerak. Yah … dia emang cantik sih …, batinnya teredam. Yang di lukisan … dengan yang di depanku sekarang ... hmm .... Apa aku jahat kalau sempat membandingkan?

Ia tahu ini saatnya menarik garis. Namun sayang, garisnya kabur. Dan Luna tahu persis bagaimana caranya menghapus batas.

Napas Isaac dan Luna beradu. Panas. Berat. Jarak antara mereka menipis, hanya beberapa senti antara bibir yang hampir bersentuhan. Tangan kanannya sudah hinggap di atas paha Luna yang telanjang, sementara tangan kirinya menopang tubuh ramping itu, bersentuhan dengan kulit punggung yang hangat dan terbuka. Matanya setengah terpejam, menatap bibir Luna yang berkilau dan sedikit basah.

Luna menyambut. Bibirnya menempel pada bibir Isaac, mengulum pelan seperti menjawab keheningan. Isaac membalas, pertama ragu, lalu larut. Ada rasa cokelat yang masih tertinggal di bibirnya. Manis, pahit, comforting. Ia tidak tahu apakah rasa itu datang dari Luna atau dari cangkir tadi. Tapi tubuhnya percaya, ini adalah candu.

Luna mendesah pelan, hampir seperti tawa. “Bibirku manis dan comforting juga … kan? Kamu suka?”

Isaac tidak menjawab. Ia hanya menarik napas lewat hidung dan mencium Luna lagi, lebih dalam, lebih liar. Tangannya mulai bergerilya, menyusuri kontur tubuh yang terbuka tanpa batas. Paha, pinggang, punggung—semua seperti garis yang mengajak tersesat. Luna memiringkan kepala, melepaskan bibir mereka untuk memberi ruang pada Isaac turun ke lehernya. Napas Isaac menjadi lebih berat. Ia mengecup, menggigit pelan, lalu menelusuri kulit itu seperti mencari jalan pulang dalam kegelapan.

Luna meremas rambutnya dengan manja, mengerang pelan. Ia merebahkan tubuhnya, mengajak Isaac ikut tenggelam bersamanya. Di atasnya, pria Eastland itu kembali menekuk tubuh, mencumbu bibirnya lagi, kali ini dengan nafsu yang lebih haus. Tangannya menyentuh segalanya, dan Luna tahu, hanya tinggal selangkah lagi.

Namun saat itulah—di tengah napas yang berpacu, kulit yang saling bergesek, dan desahan yang mengisi ruangan—Isaac tersentak. Seperti seseorang yang baru saja ditampar oleh dirinya sendiri. Ia menarik tubuhnya menjauh, lalu bangkit berdiri secepat mungkin, mengusap wajah dan rambutnya dengan kedua tangan. Napasnya terengah, dadanya naik turun seperti habis bertarung. 

Sadar, bastard! makinya dalam hati. Sadar!

Luna hanya bisa menatap bingung dari sofa. Gaunnya setengah terbuka, rambutnya berantakan, bibirnya memerah karena ciuman. Wajahnya bertanya tanpa suara. Apa yang salah?

Isaac tidak menoleh. Ia tidak sanggup melihat lagi. “Maafkan saya, Luna. Bukan maksud saya ambil kesempatan. Saya … saya pamit sekarang. Have a good day.”

Ia buru-buru melangkah, nyaris berlari menuju pintu keluar.

Luna mengedip pelan. Masih bingung. Masih sebal. Sudah tinggal sedikit lagi, malah gagal. Tapi di sela rasa kesal, ia tak bisa menahan senyum kecil saat mengingat pagutan bibir Isaac yang dalam, canggung, tapi juga penuh kerinduan yang anehnya terasa jujur. Sayang nggak pernah ada jadwal race FP di Boguta ... atau aku harus cari alasan main ke Bresil tahun depan pas dia di sana. Kamu bikin aku penasaran, Isaac.

Sementara itu, Isaac masuk lift dengan napas masih belum stabil. Dalam kepalanya, bibir, leher, dan paha Luna masih menempel seperti cap api. Ia mengutuk dalam hati. Sialan … sialan!! Ini lebih buruk dari yang kubayangkan!

Di dalam mobil yang melaju menuju hanggar VIP Bandara Bogutá, Isaac duduk seperti orang linglung. Jarinya mengetuk-ngetuk paha tanpa irama, dan pikirannya berputar seperti jet turbofan yang kepanasan. Tolong. Cukup. Aku bukan Fez. Aku bukan Fez. Aku bukan Fez. … Apa mereka semua anggap aku Fez? Fez yang hidup lagi?! Cukup … cukup!

Tapi yang terasa paling menakutkan, adalah karena dia nyaris jadi Fez  .. dan dia tidak bisa menerima itu.


Di dalam jet pribadi, dalam perjalanan panjang dari Bogutá ke Vangkok, kabin terasa seperti dunia kecil yang mengambang di antara dua benua. Sunyi, dingin, dan terlalu bersih.

Isaac duduk terpaku di kursi, tubuhnya condong ke belakang, lehernya bersandar pada sandaran kepala dengan mata terpejam setengah. Tapi jelas ia tidak tidur. Jemarinya mengetuk pelan sisi armrest, sementara napasnya dangkal, teratur … tapi tidak tenang.

Steve memperhatikannya dari seberang kabin, tanpa suara. Sudah dua puluh menit bosnya itu belum bergerak, dengan tatapan kosong dan ekspresi beku. Semua itu bukan Isaac yang biasa ia kenal. Tapi Steve tahu kapan harus ambil inisiatif, dan ini salah satunya.

Ia berdiri pelan, berjalan ke kulkas kecil di sisi kabin, dan mengeluarkan sekaleng sparkling water. Tanpa berkata-kata, ia menaruh kaleng dingin itu di meja kecil di samping Isaac.

Isaac menoleh sekilas. Wajahnya tampak pucat, matanya merah. “Kau punya aspirin?”

Steve mendongak sedikit. Sekarang ia makin yakin, bosnya itu bukan cuma kelelahan. Ada sesuatu yang lain. Dan bukan fisik.

Ia membungkuk ke arah kompartemen di bawah tempat duduknya, membuka kotak P3K, dan mengeluarkan dua butir aspirin dari bungkusnya.

“Minum satu kalau sakitnya mild,” katanya sambil menyodorkan obat. “Minum dua kalau mau lupa semuanya.”

Nada suaranya santai, sedikit bercanda, seperti biasa. Tapi dia cukup peka untuk tidak tertawa. Wajah Isaac bukan wajah orang yang bisa ditertawakan sekarang.

Isaac hanya menerima obat itu dengan anggukan kecil. “... Thanks.”

Steve kembali ke kursinya, pura-pura sibuk dengan iPad, padahal diam-diam masih mencuri pandang ke arah Isaac. Tapi Isaac tidak bergerak lagi. Ia hanya duduk diam, memandangi kaleng di depannya, lalu menutup mata. Menarik napas panjang dan berat, seperti seseorang yang mencoba menelan sesuatu yang pahit tanpa harus mengecapnya.

Hollie, kamu sangat benar. Tipe nomor dua. They almost got me. Bagaimana kamu bisa tahu? Apa karena kamu di posisi yang sama seperti mereka?

Isaac mengembuskan napas dalam.

Ingat, Isaac. Kau di sini bukan buat menikmati. Ini misi. Ini warisan. Ini ... yah ... bentuk penebusan juga, kali.

Pikirannya berputar, berusaha menutup kembali pintu yang hampir terbuka terlalu lebar beberapa jam lalu. Senyum Luna masih tersisa di sudut matanya, di pangkal lehernya, di ujung jari-jarinya yang gemetar saat ia memutuskan mundur … detik terakhir sebelum jatuh.

Dan sekarang, yang tersisa cuma denyut nyeri di pelipis, dan rasa dingin yang merambat dari kaleng ke telapak tangan.


Bab 6 – Final Boss 

Perjalanan panjang dari Boguta ke Vangkok.
Isaac duduk diam di kursinya, satu tangan menopang kepala, tangan lainnya menggenggam ponsel. Ia membuka layar—dan wallpaper itu muncul. Wajah baby Orlando, keponakannya, tertidur pulas dengan bibir kecil yang menganga sedikit, napasnya tenang. Wajah polos dan damai itu membuat Isaac tersenyum tipis. Tak ada suara, tapi di dalam kepalanya… segalanya ramai.

FLASHBACK

Isaac tidak menyangka hari itu akan datang secepat ini.

Sore itu dia duduk santai di ruang tengah, menggulir video-video random sambil mengunyah keripik. Suara dari dapur memecah keheningan. Hollie muncul dengan langkah berat, satu tangan menopang pinggangnya, wajahnya meringis.

“Aku … perutku rasanya aneh, Isaac. Kayak ...,” gumamnya pelan, napasnya tak beraturan.

Isaac langsung meletakkan bungkus keripik. Refleks berdiri. “Jangan bilang—”

Belum sempat kalimatnya selesai, mata Isaac menangkap sesuatu di bagian bawah. Lantai basah. Cairan mengalir di antara kedua kaki Hollie.

Isaac membeku. Matanya membelalak.

“ASTAGA! Ketuban kamu pecah?! Sekarang?!”

Hollie hanya mengangguk panik sambil mencengkeram lengan Isaac.

Isaac langsung siaga. Sekejap, ruangan itu berubah menjadi zona perang. Dia meraih kunci mobil, jaket Hollie, tas bayi yang sudah disiapkan sejak minggu lalu, dan entah bagaimana juga berhasil menemukan ponselnya lagi.

“Ayo! Napas, napas! Kamu masih bisa jalan? Pegang aku ya, pelan-pelan… Jangan tegang, Hollie, kita bisa! Kamu pernah nonton Fast & Furious, kan? Ya, bayangkan aku Dom Toretto sekarang!”

“Dom Toretto nggak pernah nganter orang lahiran,” keluh Hollie sambil nyengir kesakitan.

“Ya makanya, ini reboot-nya. Fast & Fatherly.”


Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di ruang bersalin di rumah sakit.
Segalanya terasa seperti potongan adegan yang kabur: suara bidan, aroma disinfektan, tangan Hollie yang menggenggam erat, keringatnya membasahi bantal. Isaac berusaha tetap tenang, meski jantungnya berdebar seperti genderang perang.

“Aku nggak mau sendirian, Ike...” bisik Hollie tercekat.

Isaac menggenggam tangannya lebih erat. “Aku di sini, Hollie. Aku di sini. Pegang tanganku, ya…”

Hollie meringis, berusaha mengejan. Tapi di tengah rasa sakitnya, matanya justru mengarah ke sudut ruangan. Pandangannya melebar… lalu mengerut lembut. Ia tersenyum tipis, berlinang air mata.

“Fez…” gumamnya, seolah memanggil seseorang yang sangat ia kenal. “Kamu datang juga…”

Isaac menoleh, bingung. “Hollie? Kamu ngomong sama siapa?”

Hollie tak menjawab. Tatapannya tetap terpaku ke pojok ruangan itu. Napasnya masih tersengal, tapi wajahnya tampak tenang. Seolah benar-benar ada seseorang berdiri di sana, menemaninya.

“Fez ada di sini dari tadi…” lirih Hollie. “Dia lihat kita…”

Isaac merinding. Bulu kuduknya berdiri. Ia mengikuti arah pandang Hollie—dan entah mengapa, dadanya terasa ditarik ke dalam. Ruangan yang semula putih dan remang itu, kini terasa... penuh.

Ada sesuatu di sana. Bukan bayangan. Bukan ilusi.

Fez berdiri diam. Dalam wujud yang begitu nyata di mata Isaac—penuh ketenangan, dengan tatapan hangat dan senyum khas yang tak akan pernah ia lupa. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi suara itu… terdengar jelas di dalam kepala Isaac.

Aku titip anakku, Ike. Tolong bantu Hollie rawat dia.

Isaac menahan napas. Matanya memerah. Ia mengangguk nyaris tak terlihat. Suaranya tercekat. “Aku janji, Fez…”

Dan tepat saat itu, tangis bayi pecah di dalam ruangan. Nyaring. Hidup.

Hollie terisak, kelelahan, tapi wajahnya bersinar. “Lihat, Fez… anak kamu… mirip banget sama kamu…”

Isaac menoleh ke arah bayi mungil yang baru lahir itu—kulitnya masih kemerahan, tangan kecilnya menggenggam udara. Lalu ia kembali menatap sudut ruangan tempat Fez berdiri.

Tapi Fez sudah tidak ada.

Yang tersisa hanya keheningan. Bukan kosong, melainkan damai. Seolah ada sesuatu yang berpindah—sebuah restu, pesan terakhir, dan cinta yang belum selesai… kini tersambung lewat kelahiran.

Isaac duduk perlahan di sisi Hollie. Tangannya tetap menggenggam tangan perempuan itu. Tapi pandangannya mengarah jauh, ke tempat yang beberapa detik lalu begitu penuh makna.

Ia tersenyum pilu, mengangguk pelan. “Selamat jadi ayah, Fez…”

Dan untuk pertama kalinya setelah semua masa sulit itu, Isaac merasa… tidak sendirian.
Orlando lahir ke dunia seperti kilat di malam hujan—terang, mengejutkan, dan tak bisa dilupakan.

Isaac tak tahu harus tertawa, menangis, atau bersujud syukur. Yang ia tahu hanya satu: makhluk kecil itu, dibalut selimut putih, menggeliat dengan wajah yang mengingatkannya pada seseorang yang telah pergi. Dan dalam satu tarikan napas yang panjang, dunia Isaac berubah selamanya.

PRESENT TIME

Isaac menyandarkan kepala ke kursi jet yang terasa lebih sempit dari biasanya, padahal ukurannya tak pernah berubah. Napasnya berat. Dalam. Seolah paru-parunya butuh meyakinkan jiwanya untuk tetap di tempat.

Aku harus tetap grounded. Harus.
Meski rasanya udah di ubun-ubun begini.
Aku harus jadi contoh. Aku pamannya Orlando, for God’s sake.
Masa iya, anak sekecil itu nanti tumbuh besar dan dengar gosip pamannya tukang main cewek?
Pikirkan itu, Isaac. Orlando pantas dapat panutan yang waras.

Tangannya mengepal perlahan di atas paha. Lalu mengendur lagi.

Aku bukan Fez.
Aku bukan Fez.
Aku. Bukan. Fez.

Ia menarik napas sekali lagi, kali ini lebih lambat. Berharap bisa mengusir kabut di kepalanya, meski tahu, kabut itu datang bukan dari luar—melainkan dari dalam dirinya sendiri.

Isaac menoleh ke jendela. Cahaya pagi menyinari ujung sayap pesawat. Di bawah sana, daratan Asia Tenggara mulai terlihat—seperti mosaik hijau dan cokelat yang mengapung di atas laut kabur. Satu jam lagi mereka mendarat.

Napas panjang, Isaac. Fokus. Tinggal dua lagi.

Dua nama terlintas di kepalanya. Dua wajah. Dua medan perang berbeda.

Vivian. Alexis. Be nice to me, please.


Vangkok.

Vivian Pramoj tak menyangka akan melihat seorang pria berdiri di depan pintu kondominiumnya dengan senyum ramah dan sorot mata tenang.

"Halo, Ms. Pramoj. Saya Isaac, yang beberapa waktu lalu menelepon Anda. Senang akhirnya bisa bertemu."

Isaac mengulurkan tangan. Sikapnya sopan, suaranya tenang, dan senyum itu... membuat waktu seolah menarik Vivian ke masa lalu.

Vivian menyambut jabatannya, matanya menelusuri wajah pria itu tanpa ragu. Jantungnya melambat. Terpukau.

Wajah itu... bukan hanya mirip. Yang di hadapannya sekarang adalah wajah yang pernah ia cintai dengan segenap jiwa.

"Oh, halo... aku juga senang berkenalan denganmu, Isaac. Panggil saja aku Vivian, biar lebih akrab."

Dengan langkah ringan, ia mempersilakan Isaac masuk.

"Kamu dari Leighryn langsung ke sini...?"

"Ya, bisa dibilang begitu." Isaac tak ingin menjelaskan lebih jauh. Terlalu banyak negara, terlalu banyak cerita yang tak relevan.

“Saya minta maaf kalau kedatangan saya terlalu mendadak.”

Vivian tersenyum kecil. "Nggak usah minta maaf, Isaac... kebetulan aku memang sedang senggang."

Isaac mengangguk. “Kalau begitu, bagus.” Ia menyerahkan lukisan yang terbungkus kertas cokelat.

“Silakan dicek dulu... mungkin kamu mau pastikan bahwa ini memang punyamu.”

Vivian menatap bungkusan itu sejenak, lalu menggigit bibir. Jemarinya pelan-pelan merobek kertas pembungkusnya, dan dari sela-selanya, muncullah warna-warna yang familiar—garis-garis yang ia kenali tanpa ragu.

Dirinya, dalam sapuan kuas Fez yang paling jujur. Tubuh telanjangnya, disandingkan dengan ekspresi setengah malu, setengah percaya diri. Seolah ia tahu: aku milik orang yang kucinta.

Vivian menahan napas.

Lukisan ini... terakhir kali ia lihat, adalah saat Fez menyelesaikannya bertahun-tahun lalu.

Ia menatap Isaac, samar. Pria ini pasti sudah melihat isi lukisan.

Apa dia sama seperti Fez?

Isaac seperti membaca pikirannya.

“Aku sudah pernah lihat lukisannya, Vian. Maaf kalau itu terasa tak nyaman. Fez menitipkannya padaku saat dia sudah di penjara. Dia ingin aku yang mengembalikannya padamu. Dan kamu tahu sendiri... dia nggak mungkin bisa melakukannya sendiri.”

Vivian menghela napas panjang.

“Dia menyimpan lukisan ini selama bertahun-tahun, padahal dia bisa saja mengembalikan lukisan ini sejak dulu, tapi kurasa sebelum dia tertangkap dan di penjara, dia memang nggak berniat mengembalikan lukisan ini. Hanya untuk koleksi pribadinya saja .... Benar kan? Dia kan maniak ...," ujarnya pelan.

“Dia sudah meninggal.”

Vivian mengangguk perlahan. “… Dia nggak akan pernah kembali.”

Ia menatap lukisannya lekat-lekat.

“Sejujurnya... aku berharap, dia sendiri yang mengembalikan ini padaku. Tapi ya... mungkin aku harus bersyukur sekarang lukisan ini kembali. Terima kasih ya, Isaac.”

Ia menoleh padanya dengan tatapan sayu. “Aku benar-benar berterima kasih.”

“Santai aja,” sahut Isaac ringan. Tapi sorot matanya tetap dalam.

Vivian melengkungkan senyum kecil. “Ayo duduk. Ngobrol dulu, ya? Aku pengin tahu lebih banyak soal kamu. Kamu nggak buru-buru, kan...?”

Isaac sempat ragu. Tapi ia mengangguk. “Dengan senang hati.”

Tak lama kemudian, Vivian menyodorkan secangkir teh panas pada Isaac, lalu duduk di sampingnya.

“…Fez nggak pernah bilang kalau dia punya saudara kembar,” kata Vivian akhirnya, membuka percakapan. “Dari berita yang kubaca, kalian baru ketemu lagi setelah dewasa?”

Isaac tersenyum tipis. "Benar. Karena satu hal kami terpisah, dan baru saling menyadari bahwa kami berhubungan darah baru 4 tahun yang lalu. Waktu yang sangat singkat, sekarang kami terpisah lagi dalam dunia yang berbeda." 

Isaac menarik napas panjang. "Kamu sendiri, pacaran sama Fez berapa tahun yang lalu, Vian?"

"Oh ... kamu nggak akan menyangka. Kami pacaran tahun 2011, 9 tahun yang lalu, Ike."

"2011. Wow.” Isaac mengangguk pelan.

“Kamu tahu, waktu itu aku bukan siapa-siapa. Tapi dia… bantu aku. Dia percaya aku bisa bersinar. Dia yang kritik laguku, gaya panggungku, bahkan seleraku dalam berpakaian. Dia bentuk aku.”

Isaac mendengarkan dalam diam.

“Dia begitu perhatian. Dan saat dia minta izin buat melukis aku tanpa apa-apa, aku setuju.” Vivian tertawa kecil, getir.

“Karena aku pikir, ya... kami saling cinta. Dan cinta itu bikin aku nggak malu. Tapi kamu tahu apa yang bikin aku lebih malu? Bukan karena tubuhku tergambar tanpa sehelai kain... tapi karena aku masih cinta sama dia. Sampai sekarang.”

Senyumnya memudar.

“Aku nggak bisa lupa. Dan waktu dia pergi… dia nggak kasih satu pun alasan. Nggak ada pamit, nggak ada penjelasan. Habis begitu aja. Aku nunggu, nunggu, dan akhirnya tahu dari media kalau dia jalan sama penyanyi Vilipina. Aku…”

Suara Vivian pecah. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan luka yang belum sembuh.

“Kalau dia bilang aku jelek, atau dia bosan... aku bisa terima. Tapi diam-diam menghilang begitu aja...? Isaac, kamu tahu rasanya digantung bertahun-tahun?”

Isaac mengangguk perlahan, tapi ia tetap diam.

Kadang, diam adalah bentuk simpati yang paling tulus—karena kata-kata tak akan bisa menyentuh luka yang begitu dalam dan tak selesai.

"Ingin rasanya aku membencinya..." suara Vivian lirih, nyaris seperti gumaman di udara.

"...karena dia sudah bikin aku kecewa... teramat sangat. Tapi aku nggak bisa. Fez itu... dia pria terbaik yang pernah aku kenal."

Matanya berkaca-kaca. Jemarinya mengepal pelan di pangkuannya.

"Dia tahu semua kesukaan aku. Dia tahu gimana cara memperlakukan aku... bikin aku merasa seperti putri raja, tahu nggak? Setiap aku bersamanya, aku selalu merasa ... istimewa."

Isaac hanya diam, menyimak.

"Aku nggak bisa lupakan semua kenangan itu... bahkan setelah hampir sembilan tahun berlalu. Masih terus kepikiran. Setiap malam. Dan sekarang..." Vivian menunduk. Bahunya mulai berguncang.

"...sekarang dia malah udah nggak ada. Meninggal. Gimana aku bisa move on...? Kami bahkan nggak sempat benar-benar berpisah. Nggak ada kata-kata terakhir. Nggak ada penutup. Kenapa...?"

Air mata akhirnya jatuh juga dari pelupuknya.

Isaac spontan bergeser mendekat, mengambil kotak tisu yang ada di meja, dan menyerahkannya pada Vivian.

Vivian mengambilnya tanpa bicara, tapi isaknya belum reda.

"...Aku bahkan nggak tahu harus menyebut diriku apa, Ike," katanya pelan. "Tolol? Bodoh? Dungu...?"

Tangannya menggenggam tisu erat-erat.

"Aku sering kepikiran mau nemuin dia, terutama waktu dia kecelakaan dan lumpuh. Tapi aku nggak berani. Aku takut dia tolak aku mentah-mentah. Takut dia pura-pura nggak kenal aku lagi."

Isaac mengangguk perlahan. Ada luka yang terasa familiar di situ. Ia pernah lihat ini sebelumnya, dalam versi lain.

"Teman-temanku semua bilang aku ini bodoh. Untuk apa terus-terusan mikirin cowok yang udah ninggalin aku tanpa kabar. Dan mereka benar. Tapi perasaanku... nggak semudah itu. Aku tetap nggak bisa benci Fez. Nggak bisa."

Tangis Vivian mengalir lagi, lebih tenang tapi lebih dalam.

"Sebegitunya ya... pesona dia? Sampai aku gini banget sekarang. Dia... terlalu berkesan. Dan sekarang dia udah nggak ada... Aku harus gimana, Isaac...?"

Isaac menarik napas panjang. Di hadapannya, seorang wanita dengan luka yang sama seperti banyak orang di orbit kehidupan Fez. Luka yang menggantung, tak pernah sempat ditutup rapi.

"Hanya satu hal, Vian..." suara Isaac rendah.

"Terimalah kenyataan bahwa dia sudah meninggal. Itu awal dari semuanya. Kamu masih muda, masih banyak hal yang bisa kamu capai. Banyak pria baik di luar sana, kamu layak bahagia."

Vivian mengangguk pelan, lalu mengusap air matanya dengan tisu.

"Kamu tahu..." katanya lirih, "Kamu mengingatkan aku sama Holden. Pacar Fez yang beberapa bulan terakhir ini banyak disorot media massa karena mengandung anak Fez. Kamu persis dia. Hollie pun sama seperti kamu, sewaktu putus dari Fez, mengaku nggak bisa move on saking cintanya pada Fez."

Isaac menunduk sebentar, menyembunyikan sesuatu di sorot matanya.

"Hollie ...," sahut Vivian. "Dia beruntung banget. Dia nyimpen kenangan paling berharga dari Fez... di dalam tubuhnya. Di rahimnya. Kamu tahu nggak kabar dia sekarang? Anaknya udah lahir, ya?"

"Ya."

Jawaban Isaac pendek. Padat. Namun mengandung lebih banyak emosi.

Vivian mengangguk. "Kalau aku bisa... aku juga ingin. Punya kenangan seperti itu dari dia. Satu bagian dari Fez... yang hidup bersamaku. Tapi sekarang... yah." Ia mendesah.

"Sungguh, Hollie benar-benar beruntung. Sampai akhir hayatnya Fez pun, dia masih jadi pasangannya, kan?"

"Ya."

Vivian menunduk lagi.

"Setiap malam, kenangan kami muter-muter terus di kepala. Dan delapan tahun terakhir ini... aku ngerasa kayak nggak punya arah. Aku cuma mau satu: bisa lepas dari bayangannya. Bisa bebas."

Isaac menatap Vivian dengan pandangan penuh empati.

"Seperti yang aku bilang tadi, Vian. Terima kenyataan. Itu langkah pertama. Aku tahu itu nggak mudah, tapi kamu bisa."

Vivian tidak menjawab. Ia hanya memiringkan tubuhnya pelan dan bersandar ke bahu Isaac.

"Maaf... tapi aku butuh bahu untuk bersandar."

Isaac sempat ragu. Tapi kemudian ia mengangkat tangan dan memeluk Vivian perlahan, mengusap pelan bahunya.

"Menangislah sampai puas, Vian. Habis itu... bangkitlah."

Mereka diam cukup lama. Isak tangis berganti dengan helaan napas yang panjang. Lalu—dengan suara pelan nyaris seperti bisikan, Vivian berkata:

"...Boleh aku minta satu hal dari kamu, Ike?"

Isaac tak langsung menjawab. Ada rasa was-was yang merayap perlahan di dada. Tapi menatap wajah Vivian yang masih dibasahi air mata, ia tak sanggup menolak tanpa tahu dulu apa permintaannya.

"Selama aku bisa, katakan saja, Vian."

Suara Isaac tenang. Tapi hatinya mulai bersiap.

"...Kamu sangat mirip dengan Fez... dan aku... aku kangen banget sama dia."

Vivian menatap Isaac dari jarak begitu dekat, suaranya lirih namun penuh bobot.

"Bolehkah aku... menganggap kamu Fez, untuk semalam saja?"

Isaac terdiam. Jantungnya berdetak tak karuan. Permintaan itu pelan ... tapi membakar.

Dari 7 wanita yang dikunjunginya, semua merayu dan mengajaknya tidur. Tempo hari Isaac nyaris gagal menahan godaan dari Luna. Sebelumnya, dia sukses menolak rayuan-rayuan maut para wanita lainnya, tapi untuk sekarang ini Isaac ragu, bisakah dia menolak ajakan Vivian? Vivian yang sejak semula sudah mencuri perhatiannya karena lukisan tubuhnya di atas kanvas begitu membuatnya tergugah, kini ditambah dengan naluri seorang pria yang dimilikinya, yang membuatnya tidak mungkin membiarkan seorang wanita menangis tersedu-sedu di sisinya tanpa berbuat sesuatu .... Ditambah lagi ajakan spontan dari Vivian, Isaac nyaris runtuh .... 

Tapi tidak. Serendah itukah dirinya sampai dia rela dianggap sebagai Ferris di mata Vivian? Fez memang saudara kembarnya, namun Fez dan dirinya benar-benar dua orang yang berbeda. Dialah Isaac, sementara Fez sudah meninggal dan sudah dikubur di dalam tanah, mengapa Isaac mau menuruti permintaan Vivian yang ingin menganggapnya sebagai Fez? 

Isaac menunduk, ingin berkata "tidak." Tapi lidahnya kelu.

Vivian tak memberinya waktu untuk menghindar.

"...Kumohon, Ike. Hanya semalam. Aku nggak minta kamu jadi Fez yang aku kenal... Aku cuma... masih ingin menatap wajah itu, wajah yang sangat kurindukan. Karena kalian sangat mirip. Kamu ngerti kan? Jangan tersinggung... Aku hanya ingin mengisi ruang yang hampa ini... meski cuma sebentar."

Tangannya naik, mengusap pipi Isaac perlahan. Pandangannya begitu rapuh, namun penuh keinginan.

"Aku mohon..."

Sebelum Isaac sempat menarik napas, bibir Vivian sudah menempel di bibirnya.

Lembut. Menyentuh tapi ragu. Seakan menunggu izin.

Isaac seharusnya menahan diri. Tapi sesuatu di dalam dirinya—entah luka lama, entah kerinduan yang tak bernama—merespons. Ia membalas kecupan itu. Perlahan. Lalu tenggelam.

Ciuman mereka memanas. Rasa bersalah melintas sekilas di kepala Isaac, tapi tak cukup kuat untuk menghentikannya. Vivian menggenggam tangannya, meletakkannya di tempat yang penuh makna, penuh hasrat, dan Isaac tak mampu menolak. Ia menelusuri, meremas bagian tubuh yang kenyal milik Vivian itu. Napasnya semakin berat memburu. Tanpa sabar, tangan itu kini membuka lapisan demi lapisan hambatan di antara mereka. Vivian merespons dengan bisikan lirih dan tubuh yang menjemput. Tak pernah ia sangka nafsu Isaac begitu mudah terbakar, sama seperti Fez dulu.

Isaac mengungkungi Vivian yang telah rebah di atas sofa, dan tangan Vivian melingkar di leher dan bahunya yang bidang. Dahaga yang terakumulasi dan tak kunjung terpuaskan membuat pria itu terhanyut gelombang besar nafsu. Logika? Akal sehat? Eksistensi mereka punah sementara. Isaac mencumbu, meraba, dan tenggelam, semakin dalam. Bukan hanya dalam tubuh Vivian, tapi juga dalam pusaran emosi dan bayangan masa lalu. Ia tahu ini salah, karena Vivian melihatnya sebagai bayangan pria lain. Tapi malam itu, keduanya membiarkan diri terlarut. Vivian dalam kenangan. Isaac dalam pelarian.


---


Pagi harinya, sinar mentari menyusup lewat tirai.

Isaac berdiri di depan cermin kamar mandi. Tubuhnya masih hangat oleh uap air, tapi pikirannya justru dingin. Ia baru saja menyeka wajahnya ketika terdengar langkah kaki dari luar. Ia membuka pintu, dan mendapati Vivian tengah berdiri di walk-in closet, mengenakan handuk tipis yang membingkai tubuhnya dengan cara yang terlalu menggoda untuk diabaikan.

Isaac hanya memandanginya sebentar. Tapi itu cukup. Pikirannya kembali dipenuhi ingatan semalam. Sentuhan, desahan, ciuman-ciuman membara, dan kerinduan yang ia tahu bukan miliknya. Terlebih, sensasi luar biasa yang dia nikmati saat berulang kali menyatu dengan wanita itu. 

Dan meski ia tahu semua ini seharusnya berakhir saat fajar, tubuhnya berkata lain.

Ia melangkah mendekat. Memeluk dari belakang. Melucuti satu-satunya hambatan yang menutup. Menciumi kulit telanjang itu lagi, kali ini tanpa kata. Vivian mendesah pelan, menyerahkan diri. Sejenak, waktu berhenti lagi. Ruangan kecil itu menjadi saksi dua manusia terhanyut dalam pusaran nafsu liar, tak terkendali.


Menjelang siang, Vivian berdiri di dapur, menyiapkan sarapan. Wajahnya tampak puas, tenang, sedikit lelah.

Di balik senyum samar yang bermain di bibirnya, Vivian mengingat tiap detail perlakuan Isaac yang membuatnya menjerit tanpa suara, berulang kali. Terlebih yang baru saja terjadi ... permainan lidah pria itu sama nakalnya seperti Fez. Jantung Vivian berdebar kencang hanya dengan mengingatnya lagi. Isaac persis seperti barang mainannya yang ia monopoli sesuka hati. 

Ia bahkan tidak bisa memutuskan siapa pria yang paling menggairahkan dan paling hebat ... apakah Fez, atau Isaac saudaranya. Keduanya benar-benar pejantan tangguh yang pasti menjadi idaman tiap wanita. 

Vivian menghela napas panjang, dengan pipi merona dan senyum melengkung tipis. Sejak kemarin sore hingga pagi tadi, ia merasa sesuatu yang telah lama hilang, akhirnya kembali. Untuk sesaat.


Satu jam kemudian, setelah sarapan dan berkemas, Isaac berdiri di ambang pintu. Tas kecilnya sudah di tangan. Saatnya pamit.

Ia menoleh ke arah Vivian yang berdiri di ruang tamu, bersandar di dinding dengan senyum sendu.

"Terima kasih sudah menyambutku dengan begitu hangat, Vian," ucap Isaac pelan, menatap wajah perempuan itu sekali lagi.

Vivian tersenyum kecil. "Ah... harusnya aku yang bilang begitu, Ikey. Terima kasih sudah repot-repot membawakan lukisan itu langsung ke sini. Kamu beneran mau pulang...? Apa... kita masih akan ketemu lagi?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Isaac terdiam sejenak. Senyumnya memudar. Ia menarik napas sebelum menjawab perlahan, tapi pasti.

"Vian… aku harap kamu nggak menunggu telepon dariku. Atau mengharap pertemuan lain setelah ini. Kita berdua tahu... apa yang terjadi semalam seharusnya tidak terjadi."

Vivian menunduk, tak langsung merespons. Tapi tak lama, ia mendekat.

"Aku telah mengambil kesempatan darimu. Maafkan a-"

Sebelum Isaac bisa menambahkan sesuatu, jari telunjuknya sudah menempel lembut di bibir pria itu.

"Kamu nggak perlu minta maaf," bisiknya. "Aku yang meminta. Dan kamu... juga tidak menolak."

Isaac tersenyum kembali, kali ini lebih hangat. Ada pengakuan diam-diam dalam senyumnya. Bukan penyesalan, hanya kejujuran. Vivian membalas senyum itu, meski matanya tampak sedikit berkabut.

"Semoga kamu bahagia selalu, Ikey... Thank you so much," ucapnya lirih sebelum menarik Isaac ke dalam pelukan.

Isaac membalas pelukan itu dengan tulus. Lalu berkata pelan di dekat telinganya, "Kamu juga, Vian. Masih banyak pria baik di luar sana... yang jauh lebih pantas mencintaimu. Aku doakan kamu menemukan kebahagiaan yang utuh."

Vivian mengangguk kecil. Tapi sebelum Isaac bisa benar-benar berbalik, ia menarik napas dan berkata manja,

"Give me your last kiss, Ikey… would you? Please?"

Isaac menatapnya, lalu menatap jam tangannya sekilas. Dalam hati ia mengeluh, Kalau tiap lima menit cewek ini minta dicium, bisa-bisa aku nggak pulang-pulang.

Ia menyahut suara hatinya sendiri, Sudahlah, Ike. Dasar bajingan. Toh kau nikmati juga dosa liar yang kau kira bisa kau hindari.

Tanpa berkata-kata, Isaac membungkuk dan memberi Vivian satu kecupan singkat di bibir, cukup untuk jadi tanda perpisahan.

Vivian menutup matanya sejenak, seolah menyimpan rasa itu baik-baik, sebelum akhirnya tersenyum.

Dan Isaac pun melangkah pergi, tanpa menoleh ke belakang.


Bab 7 – Post-final Boss

Di hanggar VIP bandara Vangkok.
Jet pribadi milik Isaac sudah bersiap untuk lepas landas. Mesin mulai dinyalakan perlahan, mengeluarkan dengungan halus yang menggema di hanggar. Seorang pramugari sibuk memeriksa ulang snack tray, mengganti gelas kristal di kabin, memastikan setiap detail tampak tak bercela.

Steve berdiri di bawah sayap jet, tangannya melipat sambil melirik jam. Hidungnya menghirup udara hanggar yang dingin dan mengandung aroma bahan bakar jet. Tak lama, sang pilot berjalan mendekat dan berdiri di sebelahnya.

“Udah nyaris 24 jam lho, kita di sini. Padahal biasanya, Bosmu itu paling lama transit empat jam. Ada apa ya?”

Steve mengangkat alis santai. “Vangkok, Bro,” jawabnya pendek. “Final boss.”

Dari belakang, salah satu teknisi menyahut dengan nada menggoda, “Kayaknya yang di sini paling susah ditolak, tuh.”

Pilot mengangguk khidmat, seperti habis menyaksikan adegan sakral. “Pasti... pertempuran sengit semalaman. Persenjataan lengkap. Dua arah. Gak ada pit stop.”

Kru lain ikut berkelakar, "Box, box, box this lap, mate!"

Pilot langsung membalas, "No box this time, mate! Nanggung!"

Steve nyaris terbahak, harus menahan tawa sambil menutup mulutnya.

Pramugari lewat sambil membawa daftar stok, memutar bola mata ke arah mereka. “Hush. Geli. Kalian cowok semua tapi hobinya gosip kayak cewek.” Tapi senyum geli di wajahnya tak bisa disembunyikan.

Beberapa menit kemudian, sedan hitam meluncur masuk, berhenti tak jauh dari mereka. 

Semua sontak diam.

Isaac turun perlahan dari kursi belakang, mengenakan coat abu-abu panjang dan kacamata hitam. Langkahnya tenang. Terlalu tenang. Wajahnya… sedikit lebih merona. Rambutnya acak-acakan, tapi dengan cara yang tak disengaja yang justru terlihat memesona—seolah baru bangun setelah tidur nyenyak di awan. 

Para kru refleks masuk ke mode patung. Fokus ke kabel, fokus ke clipboard, pura-pura sibuk dengan iPad. Namun diam-diam mereka kompak menahan senyum, persis seperti staf wedding menyaksikan mempelai keluar dari kamar hotel.

Steve menyusul Isaac yang sedang mendekati tangga jet. Ia menyambut dengan senyum sekilas. “Bagaimana… transitnya?”

Isaac membuka kacamata dan menatap Steve sebentar. Satu detik. Dua detik. 

Lalu menjawab, pelan tapi penuh makna. “Kondisi hangat. Fasilitas lengkap.”

Steve mengangguk, wajahnya penuh ekspresi: Oh, tentu lengkap sekali...

“Kalau begitu,” ujarnya sambil menoleh ke arah tangga jet, “siap take off ke negara terakhir?”

Isaac menghela napas, lalu naik tangga jet sambil bergumam pelan, “Terakhir… sebelum aku disidang oleh moral dan ingatan.”

Steve mengikuti dari belakang, naik tangga jet sambil cengengesan. “Kamu kelihatan jauh lebih damai sekarang. Atau ... udah diserahkan semua ke Tuhan semalam?”

Isaac melirik tajam tanpa kata. Steve buru-buru angkat tangan, senyum setengah bercanda, setengah minta ampun. “Eh. Nggak apa-apa. Kadang … jet pribadi juga butuh parkir lebih lama.”

Isaac menghela napas, menggeleng pelan, lalu masuk ke kabin tanpa menoleh lagi. Tak ada jawaban. Tapi sebelum ia benar-benar duduk, ada satu senyum kecil—nyaris tak kasatmata—yang mencungkil keluar dari sudut bibir. Bukan lega. Tapi lelah. Seperti sisa nyawa yang berhasil kabur dari reruntuhan.

38.000 kaki di atas laut. Ia duduk di kursi dekat jendela, menyandar dalam diam. Kacamata hitam masih terpasang, meski lampu kabin telah diredupkan. Langit di luar cerah, tapi tak sebanding dengan sorotan dari dalam: pantulan wajahnya sendiri di jendela. Datar. Tapi hancur.

Isaac menarik napas panjang, lalu memejam sebentar. Masih terngiang. Masih terasa. Masih panas. Ini bukan soal selimut. Tubuhnya memang sudah tenang—terlalu tenang. Tapi pikirannya masih gaduh. Seperti bekas perang yang belum dibersihkan. Urat nadinya mungkin kembali normal. Tapi jiwanya? Hampa. Seperti pecahan kaca di lantai marmer: tak bersuara, tapi bikin luka dalam.

Dari kursi seberang, Steve sibuk mengetik. Terlalu sibuk untuk penerbangan santai. Isaac sudah curiga. Benar saja.

“Kemarin itu kamu keluar kamar jam berapa sih?” suara Steve terdengar malas, datar. “Pilot sampai sempat baca The Art of War dua bab.”

Isaac menelan ludah. “Aku nggak lihat jam.”

Steve mengangguk pelan, masih pura-pura sibuk. “Yah... emang di medan perang itu biasanya nggak sempat liat jam, sih.”

Isaac tetap menatap ke luar. “Kamu pengen saya transfer ke jet lain, Steve?”

Steve tak bergeming. “Kamu pengen aku bikin mural di dinding jet ini? Tulisannya: Vivian Was Here.”

Isaac menoleh pelan, menatap tajam. Tapi kalah juga. Sudut bibirnya goyah, nyaris tersenyum.

Steve menang telak. “Akhirnya. Lelaki ini senyum juga.”

Isaac menanggapi dengan desahan pelan, lalu melepas kacamatanya, mengusap wajah dengan telapak terbuka. “Kamu pikir ini bikin saya lega?” gumamnya. “Enggak. Tubuh saya saja yang merespon. Jiwa saya mengungsi ke bawah laut. Kepala saya... kayak hard drive rusak. Lag. Crash. File lama dari sepuluh tahun lalu kebuka semua tanpa permisi, corrupted pula.”

Steve menutup laptopnya, menatap sejenak, kali ini tanpa kelakar. “Tapi seenggaknya sekarang kamu tahu. Kamu masih hidup.”

Isaac tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela, langit biru tampak bersih. Tapi ekspresinya berubah perlahan, bukan bingung, bukan lega. Lebih seperti... jijik. Pada dirinya sendiri. 

Sesuatu di dalam dirinya bergolak tak karuan. Ia menahan napas, lalu menghembuskannya dengan getir. Dan sejenak, ia seperti ingin muntah, tapi tak bisa. Hanya rasa pahit yang memenuhi mulutnya. Pahit yang datang bukan dari Vivian, bukan dari tubuh asing yang semalam ia peluk, tapi dari dirinya sendiri.

Pikirannya masih menolak. Menolak mengakui apa yang baru saja terjadi. Ia mencoba menyusun kembali runtutan peristiwa dari kemarin sore hingga tadi pagi, mencoba mencari celah untuk membantah, untuk membela diri. Tapi tidak ada. Tidak ada pembelaan. 

Tidak ada dalih yang bisa membenarkan, kenyataan bahwa ia telah melanggar prinsipnya sendiri.

"Aku bukan Fez," katanya dulu, berkali-kali, hampir seperti mantra. "Aku nggak akan pernah kayak dia."

Dan kini, sumpah itu terasa seperti lelucon konyol yang diludahi semalam. Karena semalam... dia bukan cuma menyerupai Fez. Dia melampaui Fez. 

Fez mungkin pecundang, tapi setidaknya dia tidak pernah pura-pura suci dalam hal ini. Sementara Isaac—Isaac kerap memakai topeng moralitas, yang pada akhirnya dia sendiri yang merobek topeng itu, di bawah cahaya redup dan aroma napas hangat dari tubuh yang menghapus batas.

Ia menutup mata. Mencoba meredam kegaduhan di kepalanya. Tapi tubuhnya tetap tegang. Diam. Namun dalam diam itu, ribuan alarm berdentang memekakkan. 

Frustrasi. 

Malu. 

Shock. 

Ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Sosok yang duduk di dalam kabin pesawat ini bukanlah Isaac yang dia kenal. Bukan Isaac yang tenang, terkendali, yang tahu batas. Isaac yang dia banggakan—yang seharusnya bisa menjaga garis antara hasrat dan kehormatan—telah digulingkan. Oleh satu malam. Oleh satu pilihan tolol yang tak bisa dia tarik kembali.

Dan sekarang, yang tersisa hanyalah kekosongan. Hampa. Dingin. Ia menatap tangannya sendiri, seolah berharap bisa mencuci dosa dari kulitnya. Tapi itu tidak akan cukup. Tidak pernah cukup.

Yang paling menyakitkan bukan Vivian. Bukan seks. Bukan rasa bersalah terhadap sosok Fez yang telah meninggal. Tapi kesadaran telanjang bahwa dalam dirinya sendiri—di balik semua prinsip dan kendali—selalu ada bagian kecil yang menyerupai Fez. Bagian yang selama ini terkubur. Terkontrol. Tapi tidak pernah benar-benar hilang.

Semalam... bagian itu bangkit. Bagian yang selama ini ia biarkan kelaparan, tersingkir di balik citra “the nicest guy.” Tak butuh banyak pemicu—cukup satu celah kecil, satu momen rapuh. 

Dan ketika bagian itu menyeruak ke permukaan, ia bukan hanya liar. Ia buas. Ganas, seperti monster. Dan yang paling mengerikan: ia mengambil alih sepenuhnya.

Semalam, Isaac memang masih Isaac. Tapi ia juga... sesuatu yang lain. Sebuah versi dirinya yang selama ini ia tolak mati-matian. Yang diam-diam ia takuti. Dan kini, setelah semuanya terjadi, ia harus menatap wajah itu—wajah yang masih miliknya—dan harus mengakui satu hal mengerikan:

Ia sanggup menjadi bejat. Ia mampu bertingkah sebajingan itu. Dan kenyataan itu saja sudah cukup untuk menghancurkan apa pun yang dulu ia percayai tentang dirinya sendiri.

Jet terus melaju menembus langit. Kabin hening. Tapi di dalam kepala Isaac, badai belum berhenti.


Guezon City, Vilipina.

Isaac berdiri di depan sebuah rumah dua lantai bergaya kolonial-modern. Tangannya gemetar halus saat menekan napas panjang ke dada.

Ini yang terakhir, batinnya. Selesai dari sini, beres sudah semua janjiku pada Fez. Lukisan terakhir. Wajah terakhir. God, semoga wanita di rumah ini nggak seganas yang lain. Please… satu kali ini aja, jangan beri aku ujian hormon lagi. Kejadian semalam dengan Vivian benar-benar membuatku gila tiap mengingatnya. Brengsek. Kenapa mesti ada wanita secantik itu di dunia ini?! Dan kenapa aku begitu mudahnya roboh?

Isaac menekan bel. Suaranya nyaring tapi tajam.

Beberapa menit kemudian, pintu dibuka oleh seorang perempuan muda berwajah datar dan sorot mata skeptis. Tapi ketika matanya menangkap wajah Isaac, ia mendadak menyeringai sinis.

“Datang juga,” gumamnya, lalu memalingkan wajah seperti enggan terlalu lama melihat Isaac.

“...Nona Velasco?” tanya Isaac, hati-hati.

Perempuan itu menoleh setengah. “Kurang yakin kalau itu namaku? Masuklah.”

Isaac menelan napas dan mengikuti langkah Alexis Velasco ke dalam rumah. Di ruang tengah, aroma rokok, ampli gitar, dan kabel berserakan menyambutnya. Empat perempuan lain sedang duduk santai—satu memegang gitar listrik, satu duduk di belakang keyboard, dua lainnya di dekat drum dan mixer. 

Mereka berpenampilan serba cuek, namun entah bagaimana mereka tampak sedap dipandang. Menarik. Dengan cara liar yang berbeda dari wanita mana pun yang sudah Isaac temui. 

Wanita-wanita itu memerhatikan tiap langkah Isaac, menatapnya tajam. Seolah Isaac adalah bahan latihan tembak sore ini.

“Eh, halo …,” sapanya sambil melempar senyum canggung.

Alexis menjatuhkan diri ke sandaran sofa, melirik ke teman-temannya. “Guys, ini dia yang aku ceritain tempo hari.”

Lalu katanya pada Isaac, "Isaac, ini teman-teman bandku. Kami sedang latihan tadi."

"Wow, sorry saya tidak tahu sudah mengganggu waktu latihan kalian," jawab Isaac.

“Fez 2.0,” celetuk cewek berambut pendek, pirang pucat, sambil mengisap rokok. “Pantes aja kau dulu klepek-klepek, Lex. Yang ini juga ... luar biasa.”

Alexis mendengus sambil meraih kaleng bir dari kulkas. “Begitulah. Masa-masa aku masih tolol."

Isaac makin tak nyaman. Ia berdiri kikuk, seperti patung pajangan yang salah tempat. Tangannya tetap mencengkeram lukisan yang dibawanya.

"Santai saja, Isaac. Duduklah. Taruh saja lukisan keparat itu di pojokan. Kita ngobrol-ngobrol dulu," ucap Alexis sambil menaruh bir di meja di hadapan Isaac.

“Terima kasih,” gumam Isaac. Ia menuruti, menaruh lukisan itu perlahan di dekat rak amplifier, lalu duduk di kursi terdekat. Tegang.

Ini dikeroyok namanya. Lima wanita. Cantik semua. Satir semua. Tuhan, salah apa aku hari ini...

“Kamu tahu, Isaac?” suara Alexis terdengar datar. “Kalau saja manusia satu itu—Fez—masih hidup dan berdiri di sini sekarang... mungkin aku udah bikin dia pingsan.”

“Dendam banget ya kamu sama dia,” jawab Isaac, berusaha tetap sopan.

“YA GIMANA NGGAK DENDAM?!” potong salah satu cewek di drum. “Dia tuh, bajingan kelas berat. Sudah rayu Alex mati-matian, giliran dapet—ditinggalin kayak tisu bekas!”

“Lempari batu aja kurang,” sahut yang lain. “Harusnya dilempari amplifier, biar tahu rasa.”

“Bukan batu, bukan ampli,” kata yang pirang sambil nyengir. “Asbak beling di teras itu, bro. Paling sakti buat ngebuka kepala cowok tolol.”

“Hey, hey,” Alexis mengangkat tangan. “Yang berhak nyiksa dia cuma aku. Kalian cukup jadi penonton berdarah.”

Isaac menegang. Keringat dingin mulai terasa.

Kenapa ini rasanya kayak forum pengadilan khusus untuk Fez, dan aku adalah bukti hidupnya?

Alexis meneguk bir, lalu berkata ringan, “Tapi sekarang... ada kamu. Mirip dia. Dan entah kenapa... tanganku gatal.”

Isaac berdeham. “Saya sungguh datang dengan maksud baik. Hanya ingin mengembalikan lukisanmu, Alex.”

“Cuma itu?”

“Cuma itu.”

“Yakin?” Mata Alexis menyipit curiga.

Isaac mengernyit. “Kenapa mesti nggak yakin?”

Alexis mencondongkan tubuh, menatap Isaac seperti menantang. “Karena kamu aneh. Pulang-pergi Vilipina–Eastland cuma buat nganterin lukisan? Emang kamu nggak ada kerjaan lain? Kirim pos aja kelar, tapi kamu dateng langsung? Aku tahu banget gaya-gaya begini. Kamu bukan cuma mau ngembaliin lukisan, kamu juga pengen rayu aku, kan? Niat jelek kamu tuh kebaca! Saudara kembar, cara pikir sama. Benar, kan?”

Isaac terdiam. Lalu menatap Alexis lurus-lurus.

Ia tahu, ini belum selesai. Dan dari tatapan wanita itu, sepertinya… belum akan dimaafkan.

Tapi satu hal yang pasti, Alexis bukan tipe yang gampang dibuat jatuh hati. Dia adalah luka yang tumbuh duri, bukan nostalgia yang meneteskan air mata.

Isaac kemudian menggeleng perlahan sambil tersenyum kecil. “Nona-nona sekalian … sepertinya kalian semua agak ge-er, ya.”

Matanya tertuju pada Alexis. Nada suaranya mulai mantap, tidak terburu-buru, tapi cukup tegas.

“Alex, pikirkan saja. Siapa yang bisa menjamin lukisan kamu bakal aman kalau cuma dikirim lewat pos? Siapa yang tahu apakah lukisan itu akan sampai utuh, atau justru dibajak orang, dijual, disebar ke internet? Riwayatmu bisa tamat kalau sampai itu terjadi. Dan saya nggak mau ambil risiko itu.”

Dia berhenti sejenak, mengukur respons yang masih diam.

“Memang, saya akui, rasanya konyol. Repot-repot mengarungi ribuan mil, hanya untuk menemui wanita yang saya bahkan belum pernah lihat langsung sebelumnya. Tapi, Alex .... Sebelum Fez dihukum mati, dia sempat meminta tolong pada saya untuk mengembalikan lukisan kamu itu. Dan saya sudah berjanji untuk memenuhi permintaannya. Janji itu bukan hal remeh. Maka saya membulatkan tekad untuk menemui kamu di sini. Tolong, jangan berprasangka buruk pada saya. Niat saya ke sini memang hanya untuk mengembalikan lukisan kamu, Alex."

Keheningan sempat mengendap di ruangan. Lalu, dari sudut ruangan terdengar suara centil penuh tawa.

“Aww... such a cute guy,” gumam salah satu anggota band, sambil melirik Alexis.

“Sayang banget,” celetuk si tomboy pirang. “Kita pikir kamu ke sini buat jadi menu makan malam kita, Ike. Si Lauren bahkan udah sengaja pakai lingerie merah seksi lho, khusus buat nyambut kamu.”

Yang dipanggil “Lauren” tak menanggapi, hanya memutar bola matanya dengan ekspresi ‘duh’.

Wajah Isaac langsung merah padam.

Alexis tergelak. “Sabar ya, Ike. Salah kamu juga kenapa kamu good looking. Sex appeal kamu kuat, sikap kamu sopan, dan kamu punya hati … nggak kayak si kembaran kamu itu. Dan sekarang kamu kebetulan berada di sarang perawan haus belaian pria ... ya, terima aja nasibmu!” Ia tertawa, menepuk lutut. “Kamu kayak yang ketakutan gitu, sih? Sudah, girls, kasihan juga ini anak orang.”

Isaac hanya bisa menghela napas, setengah geli, setengah pasrah. Setidaknya, candaan para wanita rocker itu benar-benar cuma candaan. Meski tajam dan tanpa sensor, dia tahu: nada mereka sudah bergeser. Dari curiga … menjadi respek.

Lalu, Alexis tiba-tiba berdiri. "Ike, ikut yuk," ajaknya.

Isaac menatap heran, tapi menuruti. Mereka keluar menuju teras belakang rumah.

Angin sore menyapu rambut Alexis yang setengah diikat sembarangan. Ia menyalakan rokok, lalu mengulurkannya ke Isaac. “Mau?”

Isaac tersenyum halus, menggeleng. “Terima kasih. Saya nggak merokok.”

“Fez juga nggak,” gumam Alexis, menyeringai. “Dia lebih suka … dihisap.”

Isaac tersedak udara, menoleh spontan.

Ya Tuhan. Wanita ini ... terlalu jujur.

Alexis tertawa pelan, kemudian menatap langit. Matanya jadi sayu. “Aku nggak suka nostalgia. Apalagi soal masa lalu yang pahit. Tapi sayangnya, masa lalu itu terwujud dalam bentuk lukisan. Mau nggak mau aku diingatkan lagi—betapa tololnya aku dulu.”

Ia menghembuskan asap.

“Kenapa juga aku mau-maunya dilukis bugil, pose sok sensual, kayak pelacur kelas galeri. Tapi ya... Fez emang hebat. Dari semua laki-laki yang pernah aku kenal, dia yang paling bisa bikin aku hilang logika. Rayuannya gila ... dan performanya …” Alexis melirik Isaac sekilas, “… juga gila. Sampai sekarang, nggak ada yang nyamain.”

Isaac hanya menatap lurus ke depan. Ia tahu lebih baik diam.

Alexis mengalihkan pandangan padanya. “Dan kamu. Kamu pasti udah lihat lukisan itu, kan? Jadi ... ya kamu tahu dong, kayak apa bentuk tubuhku tanpa sehelai benang.”

Isaac baru mau membuka mulut untuk menjawab, tapi Alexis menyambung cepat, suaranya tajam.

“Berapa banyak lukisan yang kamu kembalikan, Ike?”

Isaac sedikit terkejut. “... Jadi kamu tahu kalau Fez nggak hanya melukis kamu?”

Alexis tertawa pendek, sinis. “Emangnya aku bego? Dulu iya. Tapi sekarang? Come on. Fez itu ... playboy multinasional. Tiap beberapa bulan kepergok jalan bareng seleb mana, model mana, penyanyi mana. Dimana ada sepaket pinggul montok dan dada padat, di situlah dia hinggap. Kamu pikir cuma aku yang jadi 'muse'-nya?”

Isaac menarik napas dalam. Matanya menatap ke langit yang mulai jingga.

“Cepat bilang,” ucap Alexis, matanya tajam. “Aku penasaran. Ada berapa wanita yang jadi model lukisan sialan itu? Kamu pasti tahu.”

Isaac menarik napas panjang, untuk kesekian kalinya hari itu. “… Sepuluh. Termasuk kamu, Lex.”

“Hah?” alis Alexis terangkat. “Cuma sepuluh? Kamu yakin?”

“Setidaknya, itu yang Fez katakan padaku. Dan saya sudah mengembalikan semuanya. Lukisanmu adalah yang terakhir," jawab Isaac dengan nada datar.

Alexis menggeleng pelan, mulutnya mendesis. “… Entah kenapa aku nggak yakin cuma sepuluh. Tapi ya sudahlah … setidaknya terbukti aku bukan satu-satunya model telanjang dia. Ada teman sepenanggungan.”

Ia membuang napas. “Jadi, kamu benar-benar datang ke rumah mereka satu per satu? Karena kasihan sama nasib mereka kalau lukisan itu sampai bocor ke luar?”

Isaac mengangguk. “Benar. Karena kesepuluh wanita itu, termasuk kamu, semuanya adalah figur publik. Saya nggak sanggup membayangkan apa jadinya seandainya saya lepas tangan pada lukisan-lukisan itu dan membiarkannya tersebar luas. Nasibmu dan nasib sembilan wanita lainnya entah akan seperti apa. Karier hancur, reputasi rusak. Dan saya merasa ada tanggung jawab moral karenanya. Saya nggak ingin nantinya merasa bersalah .... Terlebih karena Fez sudah mempercayakan semua lukisan itu pada saya."

Alexis tertawa singkat. “Manis banget. Yakin motivasimu cuma itu? Bukan karena kamu mau ... mencicipi sedikit tiap cewek yang kamu datangi itu?”

Wajah Isaac mengeras. “Bukankah tadi sudah saya jelaskan, saya datang karena permintaan terakhir Fez?”

“Yah, kamu tetap pria biasa, Ike. Kamu suka perempuan, kan? Kamu lihat sepuluh tubuh bugil wanita-wanita cantik, lalu kamu temui mereka satu per satu. Tanggung amat. Kenapa nggak sekalian kamu koleksi semua?”

Isaac menahan diri. Nadanya kini lebih dingin.

“Kalau saja lukisan-lukisan itu boleh saya bakar, saya akan lakukan. Daripada harus memandangi tubuh perempuan-perempuan itu dan menyimpan imajinasi yang tidak pantas. Atau lebih parah lagi, menyentuh mereka tanpa dasar hubungan yang jelas. Saya memang manusia biasa, Lex. Tapi saya masih bisa mengendalikan diri.”

Alexis terdiam sejenak. Kemudian, dengan nada lebih ringan, ia bertanya, “Dan untuk cewek yang ke-10 ini, kamu nggak minat?”

Isaac menoleh, bingung.

"Maksudku ... aku sendiri nggak tertarik sama kamu, sih. Maaf aja ya, no offense. Wajah kamu terlalu mirip sama bajingan yang satu itu. Tapi temenku tuh,” Alexis melirik ke dalam rumah, “kayaknya naksir kamu. Kalau kamu mau, kamar di atas kosong.”

Isaac menatapnya tak percaya. “Kenapa kamu malah menawarkan temanmu? Kami bahkan nggak saling kenal.”

“Ya siapa tahu. Sekali seumur hidup. Tapi kalau kamu ogah, ya udah.”

Isaac menarik napas panjang, hampir ingin tertawa getir.

"Saya punya prinsip, hanya akan berhubungan badan dengan wanita yang memang menjalin hubungan khusus dengan saya." 

Dan seketika, ia ingin menarik kata-katanya kembali. Wajah dan tubuh Vivian, malam tadi, melintas jelas di benaknya. Isaac nyaris meringis menyadari betapa munafik dirinya sekarang.

Alexis menaikkan alis. "Oh ... so you really are a good guy."

Isaac cuma tersenyum kecil. Lebih ke arah senyum yang terasa pahit. Mungkin miris, menyadari dirinya no longer a good guy.

Alexis tiba-tiba berganti topik. “Eh, itu yang aku lihat di berita ... Holden Bannister itu beneran hamil anak Fez?”

"Hollie sudah melahirkan, tepatnya, Lex."

“Ya ampun. Jadi Fez … ninggalin keturunan juga. Anak laki-laki?”

Isaac mengangguk. “Namanya Orlando. Anak yang lucu dan tampan."

"Hmm ... jadi penasaran seperti apa kalau dia besar nanti."

"Dia akan tumbuh dengan baik. Hollie akan membesarkannya penuh kasih sayang. Dan sebagai pamannya, saya juga akan ikut menjaga."

Alexis menatapnya cukup lama. “Aku yakin kamu bisa jadi figur yang baik buat anak itu.”

Isaac membalas dengan senyum yang hangat dan tulus.

Setelah keheningan singkat, Alexis menghembuskan napas, suaranya agak pelan.

“Yah… terima kasih ya, Ike. Kamu repot-repot terbang ribuan mil buat nganterin lukisan itu sendiri. Lukisan itu biar nanti aku bakar ... nggak penting banget aku simpan juga .…”

Ia terkekeh, sedikit getir.

“Kamu itu cowok yang baik. Kalau saja Fez sebaik kamu, cukup setengahnya … mungkin aku udah nikah sama dia sekarang.”

Isaac tertawa kecil. “Kalau begitu, saya anggap tugasku selesai. Terima kasih sudah mau menerimanya.”

Alexis menatapnya sejenak, lalu tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyum yang tulus.

“Selamat jalan, Ike.”

“Jaga dirimu, Lex.”


Comments

Popular posts from this blog

Cerita yang bisa kamu baca gratis ... dan akhiri dengan dukunganmu | Stories you can read for free — endings you unlock by supporting.